Anda di halaman 1dari 36

BAB 1

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Perawatan kesehatan masyarakat adalah perpaduan antara keperawatan dan
kesehatan masyarakat dengan dukungan peran serta aktif masyarakat mengutamakan
pelayanan promotif dan preventif secara berkesinambungan tanpa mengabaikan
pelayanan kuratif dan rehabilitatif secara menyuluh dan terpadu, ditujukan kepada
individu, keluarga, kelompok dan masyarakat umtuk ikut meningkatkan fungsi
kehidupan manusia secara optimal, sehingga mandiri dalam upaya kesehatan
masyarakat.
Sesuai keputusan menteri kesehatan RI Nomor : 128/Menkes/SK/II/Tahun
2004 tentang kebijakan dasar puskesmas, upaya perawatan kesehatan masyarakat
merupakan upaya program pengembangan yang kegiatannya terintegrasi dalam upaya
kesehatan wajib maupun upaya kesehatan pengembangan. Perawatan kesehatan
masyarakat merupakkan bagian integral dari pelayan kesehatan dasar yang
dilaksanakan oleh puskesmas.
Fokus PERKESMAS yaitu mencakup perawatan kesehatan masyarakat pada
individu, keluarga, kelompok dan masyarakat yang mempunyai massalah kesehatan
akibat faktor ketidaktahuan , ketidakmauan maupun ketidakmampuan dalam
menyelesaikan masalah kesehatannya. Kegiatan PERKESMAS diharapkan mampu
memotivasi masyarakat mengatasi masalah kesehatan secara optimal dan mandiri
melalui pendekatan yang edukatif.
B. Rumusan Masalah
Bagaimanakah konsep perawatan kesehatan masyarakat (PERKESMAS) pada
kelompok-kelompok khusus?
C. Tujuan
1. Tujuan umum
Meningkatkan derajat kesehatan dan kemampuan masyarakat secara
menyeluruh dalam memlihara kesehatannya untuk mencapai derajat kesehatan
yang optimal secara mandiri.
2. Tujuan khusus
a. Dipahaminya pengertian sehat dan sakit oleh masyarakat
b. Meningkkatnya kemampuan individu, keluarga, kelompok dan massyarakat
untuk melaksanakan upaya perawatan dasar dalam rangka mengatasi massalah
keperawatan
c. Tertanganinya kelompok keluarga rawan yang memerlukan pembinaan dan
asuhan keperawatan
d. Tertanganinya kelompok masyarakat rawan /khusus yang memerlukan
pembinaan dan asuhan keperawatan dirumah.
e. Tertanganinya kasus yang memerlukan penanganan tindak lanjut dan asuhan
keperawatan di rumah
f. Terlayaninya kasus tertentu yang termasuk kelompok resiko tinggi yang
memerukan penanganan dan asuhan keperawatan dirumah dan di puskesmas
g. Teratasi dan terkendalinya keadaan lingkungan fisik dan sosial untuk menuju
keadaan sehat yang optimal
BAB 2

KONSEP TEORI

A. Falasfah PERKESMAS
Keyakinan terhadap nilai kemanusiaan yang menjadi pedoman dalam
melaksanakan asuhan keperawatan kesehatan masyarakat baik individu, keluarga,
kelom[pok, dan masyarakat.
1. Perawatan kesehatan masyarakat adalah pekerjaan luhur dan manusiawi yang
di tujukan untuk klien
2. Perawatan kesehatan masyarakat adalah upaya berdasarkan kemanusiaan
untuk meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan bagi terwujudnya
manusia sehat khususnya dan masyarakat yang sehat pada umumnya.
3. Pelayanan perawatan kesehatan masyarakat harus tejangkau dan dapat
diterima semua orang.
4. Upaya promotif dan preventif merupakan upaya pokok tanpa mengabaikan
kuratif dan rehabilitative.
5. Perawat kesehatan masyarakat sebagai provider dan masyarakat sebagai
consumer pelayanan kesehatan,menjamin suatu hubungan yang saling
mendukung dan mempengaruhi perubahan dalam kebijakan dan pelayanan
kearah peningkatan status kesehatan masyarakat.
6. Pengembangan tenaga kesehatan masyarakat secara berkesinambungan
7. Individu alam suatu masyarakat ikut bertanggung jawab atas kesehatan
B. Pengertian PERKESMAS
Perawatan kesehatan masyarakat (PERKESMAS) adalah perpaduan antara
keperawatan dan kesehatan masyarakat dengan dukungan peran serta aktif masyarakat
mengutamakan pelayanan promotif dan preventif secara berkesinambungan tanpa
mengabaikan pelayanan kuratif dan rehabilitatif secara menyuluh dan terpadu
,ditujukan kepada individu,keluarga, kelompok dan masyarakat untuk ikut
meningkatkan fungsi kehidupan manusia secara optimal,sehingga mandiri dalam
upaya kesehatan masyarakat.
Berikut ini beberapa definisi tentang keperawatan komunitas / perawatan
kesehatan masyarakat :
1. WHO (1959)
Lapangan perawatan khusus yang merupakan gabungan ketrampilan ilmu
keperawatan ,ilmu kesehatan masyarakat dan bantuan social,sebagai bagian dari
program kesehatan masyarakat secara penyempurnaan kondisi social ,perbaikan
lingkungan fisik,,rehabilitasi, pencegahan penyakit dan bahaya yang lebih
besar,ditujukan kepada individu,keluarga yang mempunyai masalah dimana hal itu
mempengaruhi mayarakat secara keseluruhan.
2. Ruth B Freeman
Suatu lapangan khusus bidang keperawatan dimana teknik
keperawatan,ketrampilan berorganisasi diterapkan dalam hubungan yang serasi
kepada ketrampilan anggota profesi kesehatan lain dan kepada tenaga social lain
demi untuk memelihara kesehatan masyarakat.
3. Amerikan Nursing Asociation (ANA)
Suatu sintesa dari praktik kesehatan masyarakat yang diterapkan untuk
meningkatkan dan memelihara kesehatan penduduk.
4. Badan Kerja Keperawatan Kesehatan Masyarakat
Suatu bidang dalam keperawatan yang merupakan perpaduan antara
keperawatan dan kesehatan masyarakat dengan dukungan peran serta aktif
masyarakat.
C. Konsep Keperawatan Komunitas
Konsep keperawatan di karakteristikan oleh 4 konsep pokok yaitu :
1. Manusia .
Manusia adalah mahluk bio-psiko-sosial dan spiritual yang utuh dan unik
,dalam arti merupakan satu kesatuan utuh dari aspek jasmani dan rohani dan unik
karena mempunyai berbagai macam kebutuhan sesuai dengan tingkat
perkembangannya. (konkorsium ilmu kesehatan ,1992 )
Manusia selalu berusaha untuk memahami kebutuhannya melalui berbagai
upaya antara lain dengan selalu belajar dan mengembangkan sumber sumber yang
diperlukan sesuai dengan potensi dan kemampuan yang dimilikinya.dalam
kehidupan sehari hari , manusia secara terus menerus menghadapi perubahan
lingkungan dan selalu berusaha beradaptasi terhadap pengaruh lingkungan.
Dimensi manusia sebagai satu kesatuan utuh antara aspek fisik , intelektual
,emosional, social-kultural, spiritual dan lingkungan (taylor C dkk,Fundamental of
Nursing 1989 )
Manusia sebagai sasaran pelayanan atau asuhan keperawatan dalam praktek
keperawatan .sebagai sasaran praktek keperawatan klien dapat dibedakan menjadi
individu, keluarga ,dan masyarakat.
a. Individu sebagai klien .
Individu adalah anggota keluarga yang unik sebagi kesatuan utuh dari
aspek biologi .psikologi, social dan spiritual.peran perawat pada individu
sebagai klien pada dasarnya memenuhi kebutuhan dasarnya mencakup
kebutuhan biologi,social, psikologi,dan spiritual karena adanya kelemahan
fisik dan mental,keterbatasan pengetahuan ,kurang kemauan,menuju
kemandirian pasien/klien.
b. Keluarga sebagai klien
Keluarga merupakan kelompok individu yang berhubungan erat secara
terus menerus dan terjsdi intersksi datu sama lain baik secara perorangan
maupun secara bersama sama,di dalam lingkungannya sendiri atau
masyarakat secara keseluruhan.keluarga dalam fungsinya mempengaruhi
dan lingkup kebutuhan dasar manusia dapat dilihat pada hirarki kebutuhan
dasar maslow yaitu kebutuhan fisiologis,rasa aman dan nyaman ,dicintai
dan mencintai,harga diri dan aktualisasi diri.
Beberapa alasan yang menyebabkan keluarga merupakan salah satu
focus pelayanan keperawatan yaitu :
1) Keluarga sebagai unit utama
Keluaraga merupakan unit utama dalam mayarakat dan merupakan
lembaga yang menyangkut kehidupan masyarakat.
2) Keluarga sebagai suatu kelompok.
Dapat menimbulkan, mencegah, memperbaiki atau mengabaikan
masalah kesehatan dalam kelompoknya sendiri.
3) Masalah kesehatan dalam keluarga saling berkaitan.
Penyakit pada salah satu anggota keluarga akan mempengaruhi
seluruh anggota keluarga tersebut.disisi lain status kesehatan dari
klien juga sebagian akan ditentukan oleh kondisi keluarga.

c. Masyarakat sebagai klien.


Kesatuan hidup manusia yang berinteraksi menurut suatu sistem adat
istiadat tertentu yang bersifat terus menerus dan terikat oleh suatu identitas
besama.
Adapun cirri cirinya antara lain :
1). Interaksi antar warga
2). Diatur oleh adat istiadat,norma,hokum dan peraturan yang khas.
3). Suatu komunitas dalam waktu.
4). Identitas yang kuat mengikat semua warga.
2. kesehatan.
Sehat didefinisikan sebagai kemampuan melaksanakan peran dan fungsi
dengan efektif (parson).kesehatan adalah proses yang berlangsung mengarah
kepada kreatifitas konstruktif dan produktif (peplau).
Menurut HL Bloom ada 4 faktor yang mempengaruhi kesehatan :
a. Keturunan
b. Perilaku
c. Pelayanan kesehatan
d. Lingkungan
3. Keperawatan dan PERKESMAS
Pelayanan esensial yang di berikan perawat terhadap individu
,keluarga,kelompok, dan masyarakat yang mempunyai masalah kesehatan meliputi
promotif,prefentif,kuratif,dan rehabilitative dengan menggunakan proses
keperawatan untuk mencapai tingkay kesehatan yang optimal.
Asuhan keperawatan diberikan karena adanya kelemahan fisik maupun
mental,keterbatasan pengetahuan serta kurang kemauan menuju kepada
kemampuan melaksanakan kegiatan sehari harisecara mandiri.kegiatan ini
dilakukan dalam upaya peningkatan kesehatan ,pencegahan
penyakit,penyembuhan,pemulihan serta pemeliharaankesehatan dengan penekanan
pada upaya pelayanan kesehatan utama (primary healt care) untuk memungkinkan
setiap orang mencapai kemampuan hidup sehat dan produktif.Keperawatan bersifat
unifersal dalam arti tidak membedakan atas ras, jenis kelamin, usia, warna
kulit,etnik, agama,aliran politik dan status ekonomi social.

4. Lingkungan.
Lingkungan dalam paradigm keperawatan berfokus pada lingkungan
masyarakat,dimana lingkungan dapat mempengaruhi status kesehatan
manusia.lingkungan disini melipouti, lingkungan fisik,psikologis, social budaya,
dan lingkungan spiritual.
D. Asumsi dasar PERKESMAS.
1. Sistem pelayanan adalah kompleks
2. Pelayanan kesehatan (primer,sekunder dan tertier ) merupakan komponen dari
pelayanan kesehatan.
3. Keperawatan sebagai subsistem pelayanan kesehatan merupakan hasil produk
pendidikan ,riset yang dilandasi praktek.
4. Focus utama perawatan kesehatan masyarakat adalah primary care
5. Perawatan kesehatan masyarakat terutama terjadi di tatanan kesehatan utama.
E. Pandangan / Keyakinan PERKESMAS
1. Pelayanan kesehatan sebaiknya tersedia ,dapat di jangkau,dapat diterima oleh
semua orang.
2. Penyusunan kebijaksanaan kesehatan seharusnya melibatkan penerima pelayan
kesehatan.
3. Perawat sebagai pemberi pelayanan kesehatan dan klien sebagai penerima
pelayanan kesehatan dapat membentuk kerjasama untuk mendorong dan
mempengaruhi perubahan dalam kebijaksanaan dan pelayanan kesehatan.
4. Lingkungan berpengaruh terhadap kesehatan penduduk ,kelompok,keluarga dan
individu.
5. Pencegahan penyakit sangat diperlukan untuk peningkatan kesehatan.
6. Kesehatan merupakan tanggung jawab individu.
7. Klien merupakan anggota tetap tim kesehatan.individu dalam komunitas
bertanggung jawab untuk kesehatan sendiri dan harus di dorong serta di didik
untuk berperan dalam pelayanan kesehatan.
F. Tujuan PERKESMAS
1. Tujuan umum
Meningkatkan derajat kesehatan dan kemampuan masyarakat secara menyeluruh
dalam memelihara kesehatannya untuk mencapai derajat kesehatan yang optimal
secara mandiri.
2. Tujuan khusus.
a. Dipahaminya pengertian sehat dan sakit oleh masyarakat.
b. Meningkatnya kemampuan individu ,keluarga,kelompok dan masyarakat
untuk melaksanakan upaya perawatan dasar dalam rangka mengatasi masalah
keperawatan.
c. Tertanganinya kelompok keluarga rawan yang memerlukan mpembinaan dan
asuhan keperawatan.
d. Tertanganinya kelompok masyarakat khusus /rawan yang memerlukan
pembinaan dan asuhan keperawatan dirjmah di pandi dan di masyarakat.
e. Tertanganinya kasus kasus yang memerluka penanganan tindak lanjut dan
asuhan keperawatan di rumah.
f. Terlayaninya kasus kasus tertentu yang termasuk kelompok resiko tinggi yang
memerlukan penanganan dan asuhan keperawatan dirumah dan dipuskesmas.
g. Teratasi dan terkendalinya keadaan lingkungan fisik dan social untuk menuju
keadaan sehat yang optimal.
3. Ruang lingkup PERKESMAS
a. Promotif
Upaya promotif dilakukan untuk meningkatkan kesehatan individu
,keluarga,kelompok dan masyarakat dengan jalan :
1). Penyuluhan kesehatan
2). Peningkatan Gizi
3). Pemeliharaan kesehatan perorangan
4). Pemeliharaan kesehatan lingkungan
5). Olah raga teratur
6). Rekreasi
7). Pendidikan seks
b. Preventif
Upaya preventif untuk mencegah terjadinya penyakit dan ganguan
kesehatan terhadap individu ,keluarga,kelompok dan masyarakat,melalui
kegiatan :
1) Imunisasi
2) pemeriksaan kesehatan berkala melalui posyandu,puskesmas dan
kunjungan rumah.
3) Pemberian vitamin A dan iodium

4). Pemeriksaan dan pemeliharaan kehamilan nifas dan menyusui

c. Kuratif
upaya kuratif bertujuan untuk mengobati anggota keluarga yang sakit atau
masalah kesehatan melaluai kegiatan :
1. Perawatan orang sakit di rumah
2. Perawatan orang sakit sebagai tindak lanjut dari puskesmas atau rujmah sakit
3. Perawatan ibu hamil dengan kondisi patologis
4. Perawatan buah dada
5. Perawatan tali pusat bayi baru lahirf
d. Rehabilitatif
upaya pemulihan terhadap pasien yang dirawat dirumah atau kelompok
kelompok yang menderita penyakit tertentu seperti TBC,kusta dan cacat fisik
Lainnya melalui kegiatan :
1. Latihan fisik pada penderita kusta,patah tulang dll.
2. Fisiotherapy pada penderita stroke,batuk efektif pada penderita TBC dll
e. Resosialitatif
Adalah upayanuntuk mengembalikan penderita ke masyarakat yang karena
penyakitnya dikucilkan oleh masyarakat seperti penderita AIDS,kusta dan wanita
tuna susila.
G. sasaran PERKESMAS
Individu,keluarga,kelompok dan masyarakat baik yang sehat atau yang sakit
atau yang mempunyai masalah kesehatan karena ketidak tahuan ,ketidak mauan serta
ketidakmampuan.Prioritas pelayanan perawatan kesehatan masyarakat difokuskan
pada keluarga rawan yaitu :
1. Keluarga yang belum terjangkau pelayanan kesehatan yaitu keluarga dengan :
a. Ibu hamil tertentu yang belum ANC
b. Ibu hamil yang persalinannya di tolong oleh dukun dan neonatusnya
c. Balita tertentu
d. Penyakit kronis menular yang tidak bisa di intervensi oleh program
e. Penyakit endemis
f. Penyakit kronis tidak menular
g. Kecacatan tertentu (mental atau fisik )
2. Keluarga dengan resiko tinggi
a. Ibu hamil dengan masalah gizi
1. Anemia berat,( HB kurang dari 8gr%)
2. Kurang energi kronik (KEK)
b. Ibu hamil dengan resiko tinggi (perdarahan ,infeksi,hipertensi )
c. Balita dengan BGM
d. Neonatus dengan BBLR
e. Usia lanjut,jompo
f. Kasus percobaan bunuh diri
3. Keluarga dengan tindak lanjut perawatan.
a. Drop out tertentu
1. ibu hamil
2. bayi
3. balita dengan keterlambatan tumbuh kembang
4. penyakit kronis atau endemis
b. kasus pasca keperawatan
1. kasus pasca keperawatan yang dirujuk dari institusi pelayanan kesehatan
2. kasus katarak yang dioperasi di puskesmas
3. persalinan dengan tindakan
4. kasus psikotik
5. kasus yang seharusnya di rujuk yang tidak dilaksanakan rujukannya.
4. Pembinan kelompok khusus
Kelompok yang rawan dan rentan terhadap masalah kesehatan:
a. Terikat dalam institusi,misalnya :
Panti, rutan/lapas, pondok pesantren, lokalisasi/WTS
b. Tidak terikat dalam institusi misalnya :
Karang werda, karang balita, KPKIA, kelompok kerja informal,
perkumpulan penyandang penyakit tertentu
(jantung,asma,DM,dll),kelompok remaja.
5. Pembinaan desa atau masyarakat bermasalah
1. Masyarakat di daerah endemis suatu penyakit misalnya endemis
malaria,filariasis,DHF,diare.
2. masyarakat di daerah dengan keadaan lingkungan kehidupan
buruk,misalnya daerah kumuh,di kota besar
3. masyarakat di daerah yang mempunyai masalah kesenjangan pelayanan
kesehatan lebih tinggi dari daerah sekitar, misalnya cakupan ANC
rendah,imunisasi rendah.
4. Masyarakat di daerah pemukiman baru yang di perkirakan akan mengalami
hambatan dalam melaksanakan adapsi kehidupannya,seperti daerah
transmigrasi,pemukiman masyarakat terasing.
H. Kegiatan PERKESMAS
1. Memberikan asuhan keperawatan individu,keluarga,kelompok khusus melalui
home care
2. Penyuluhan kesehatan
3. Konsultasi dan problem soving
4. Bimbingan
5. Melaksanakan rujukan
6. Penemuan kasus
7. Sebagai penghubung antara masyarakat dengan unit kesehatan
8. Melaksanakan asuhan keperawatan komunitas
9. Melakukan koordinasi berbagai kegiatan asuhan keperawatan komunitas
10. Kerjasama lintas program dan lintas sektoral
11. Memberikan tauladan
12. Ikut serta dalam penelitian

Prinsip dasar dalam praktek perawatan kesehatan masyarakat adalah sebagai berikut :
1. Keluarga adalah unit utama dalam pelayana kesehatan masyarakat
2. Sasaran terdiri dari individu,keluarga,kelompok,dan masyarakat.
3. Perawat kesehatan bekerja dengan masyarakat bukan bekerja untuk masyarakat
4. Pelayanan keperawatan yang diberikan lebih menekankan pada upayapromotif
dan preventif dengan tidak melupakan upaya kuratif dan rehabilitative
5. Dasar utama dalam pelayanan perawatan kesehatan masyarakat adalah
menggunakan pendekatan pemecahan masalah yang dituangkan dalam proses
keperawatan
6. Kegiatan utama perawatan kesehatan masyarakat adalah di masyarakat dan bukan
dirumah sakit
7. Pasien adalah masyarakat secara keseluruhan baik yang sakit maupun yang sehat
8. Perawatan kesehatan masyarakat ditekankan pada pembinaan perilaku hidup sehat
masyarakat.
9. Tujuan perawatan kesehatan masyarakat adalah meningkatkan fungsi kehidupan
sehingga dapat meningkatkan derajat kesehatan seoptimal mungkin.
10. Perawat kesehatan masyarakat tidak bekerja secara sendiri tetapi bekerja secara
tim.
11. Sebagian besar waktu dari seorang perawat kesehatan masyarakat di gunakan
untuk kegiatan meningkatkan kesehatan,pencegahan penyakit,melayani
masyarakat yang sehat atau yang sakit,penduduk sakit yang tidak berobat ke
puskesmas,pasien yang baru kembali dari rumah sakit
12. Homevisite sangat penting
13. Pendidikan kesehatan merupakan kegiatan utama
14. Pelayanan perawatan kesehatan masyarakat harus mengacu pada sistem pelayanan
kesehatan yang ada.
15. Pelaksanaan asuhan keperawatan dilakukan di institusi pelayanan kesehatan yaitu
puskesmas,institusi seperti sekolah,panti dan lainnya di mana keluarga sebagai
unit pelayanan.
I. TUJUAN PERKESMAS.
Dalam pelaksanaan kegiatan perkesmas tujuan yang diharapkan adalah
meningkatnya kemandirian individu,keluarga,kelompok/masyarakat(rawan
kesehatan),untuk mengatasi masalah kesehatan/keperawatannya sehingga tercapai
derajat kesehatan masyarakat yang optimal.
J. Dasar Hukum PERKESMAS
Adapun dasar hokum pelaksanaan perkesmas yaitu :
1. UU no 23 thn 1992 tentang kesehatan
2. UU no 32 /2004 tentang pemerintahan daerah
3. Kepmenkes no 1575/menkes/sk/xi/2005 tentang organisasi dan tata kerja
Departemen Kesehatan Republik Indonesia
4. Kepmenkes no 1239/2001 tentang registrasi dan praktik perawat
5. Kepmenkes no 1457/menkes/sk/x/2003 tentang standar pelayanan minimal bidang
kesehatan di kabupaten/kota.
6. Kepmenkes no 128/menkes/sk/ii/2004tentang kebijakan dasar pusat kesehatan
masyarakat.
7. Kepmenkes 836/2005 tentang pengembangan manajemen kinerja perawat/bidan.
8. Kepmenkes no 279/2006 tentang pedoman upaya penyelenggaraan perkesmas di
puskesmas.
K. sasaran PERKESMAS
Adapun yang menjadi sasaran program perkesmas ini adalah seluruh masyarakat yang
dapat terbagi menjadi :
1. Individu khususnya individu resiko tinggi : menderita
penyakit,balita,lansia,masalah mental.
2. Keluarga khususnya ibu hamil,lansia,menderita penyakit,masalah mental/jiwa.
3. Kelompok masyarakat beresiko tinggi,termasuk daerah kumuh.
L. bentuk kegiatan PERKESMAS.
Adapun bentuk kegiatan perkesmas antara lain :
1. Asuhan keperawatan pasien (prioritas) kontak puskesmas yang berada di poliklinik
puskesmas,puskesmas pembantu,puskesmas keliling,posyandu,poskesdes.
a.pengkajian keperawatan pasien sebagai deteksi dinj (sasaran prioritas)
b. penyuluhan kesehatan
c. tindakan keperawatan (direct care)
d. konseling keperawatan
e. pengobatan
f. rujukan pasien/masalah kesehatan
g. dokumentasi keperawatan.
kunjungan rumah oleh perawat (home vosit/home care) terencana,bertujuan untuk
pembinaan keluarga rawan kesehatan.

Mekanisme pelayanan home visit :

a. Proses penerimaan kasus


Home visit menerima pasien dari tiap poliklinik di puskesmas,coordinator
program perkesmas menunjuk perawat pelaksana perkesmas untuk mengelola
kasus dan perawat pelaksana perkesmas membuat surat penjanjian dan proses
pengelolaan kasus.
b. Proses pelayanan home visit
Persiapan terdiri dari memastikan identitas pasien,bawa denah/petunjuk tempat
tinggal pasien,lengkap kartu identitas unit tempat kerja,memastikan perlengkapan
pasien untuk di rumah,menyiapkan file askep ,menyiapkan alat bantu media untuk
pendidikan.
Pelaksanaan terdiri dari perkenalan diri dan jelaskan tujuan, observasi lingkungan
yg berkaitan dengan keluarganya, pelayanan kesehatan diberikan di tempat tinggal
pasien dgn melibatkan pasien dan keluarganya
Sebagai subyek yg berpartisipasi merencanakan kegiatan pelayanan,
Ruang lingkup home visit yaitu memberi askep secara komprehensif, melakukan
pendidikan kesehatan pada pasien dan keluarganya mengembangkan
pemberdayaan pasien dan keluarga.
c. Pembiayaan home visit.
Prinsip penetuan tariff antara lain pemerintah/masyarakat bertanggung jawab
dalam memelihara kesehatan,disesuaikan dengan kemampuan keuangan dan
keadaan social ekonomi ,mempertimbangkan masyarakat berpenghasilan
rendah/gotong royong.
3. Kunjungan perawat ke kelompok prioritas terencana (posyandu usila, posyandu
balita,panti asuhan dll)
pengkajian keperawatan individu di kelompok
pendidikan/penyuluhan kesehatan di kelompok
pengobatan (sesuai kewenangan)
rujukan pasien/masalah kesehatan.
Dokumen keperawatan
4. Asuhan keperawatan pasien di ruang rawat inap puskesmas
a. Pengkajian keperawatan individu
b. Tindakan keperawatan langsung(direct care)dan tidak langsung (lingkungan)
c. Pendidikan /Penyuluhan kesehatan.
d. Pencegahan infeksi di ruangan
e. Pengobatan (sesuai kewenangan )
f. Penanggulangan kasus gawat darurat
g. Rujukan pasien/masalah kesehatan
h. Dokumentasi keperawatan

M. Pelaksana kegiatan PERKESMAS


Perawat coordinator perkesmas di puskesmas harus mempunyai kualifikasi yaitu
minimal D3 keperawatan dan pernah mengikuti pelatihan/sertifikasi perkesmas serta
memiliki pengalaman kerja di puskesmas yang mempunyai tugas sebagai berikut :
a. Pertemuan dengan perawat pelaksana perkesmas /penanggung jawab daerah
binaan (darbin) untuk mengidentifikasi masalah prioritas dengan data
epidemiologi,merencanakan kegiatan perkesmas,memfasilitasi pembahasan
masalah dalam refleksi diskusi kasus (RDK),membahas masalah keuangan.
b. Kunjungan lapangan untuk melkakukan bimbingan kepada perawat pelaksana.
c. Penyusunan laporan yang disusun berdasarkan hasil evaluasi pelaksanaan
perkesmas yang merupakan bahan pertanggung jawaban kepada kepala
puskesmas.
N. Indikator keberhasilan PERKESMAS
a. Indikator kinerja klinik
Ada 4 indikator dalam menilai keberhasilan kinerja klinik perkesmas yaitu :
1) Indicator input
Presentasi perawat coordinator (D3 keperawatan ),presentasi perawat
terlatih keperawatan kesehatan komunitas dan presentasi penanggung jawab
daerah binaan /desa punya PHN kit,presentase puskesmas memiliki
pedoman/standar,tersedia dana operasional untuk pembinaan,tersedia
atandar/pedoman/SOP pelaksana kegiatan,tersedia dukungan administrasi (buku
register,family folder,formulir laporan dll )
2) Indikator proses
Presentase keluarga rawan mempunyai family folder,peta sasaran
perkesmas,pencana kegiatan perkesmas (POA),bukti pembagian tugas
perawat,ada kegiatan koordinasi dengan petugas kesehatan lain,catatan
keperawatan,kegiatan refleksi diskusi kasus,hasil pemantauan dan evaluasi.
3) Indicator output (key indicator)
Presentase keluarga rawan di bina,presentasi keluaga selesai di bina,presentasi
Penderita (prioritas SPM) di lakukan tindak lanjut keperawatan (follow up
care)Presentase kelompok di bina, presentase daerag binaan di suatu wilayah.
4) Indikator hasil (outcome) yang ingin dicapai
Adalah terbentuknya keluarga mandiri dalam memenuhi
kesehatannya/mengatasi masalah kesehatannya.
O. Pemantauan dan penilaian PERKESMAS
Pemantauan dilaksanakan secara periodic setiap bulan oleh kepala puskesmas
dan perawat coordinator perkesmas. Hasil pemantauan terhadap pencapaian indikatoe
kinerja menjadi masukan untuk perbaikan dan peningkatan kinerja perawat
berikutnya, peningkatan cakupan dan mutu pelayanan kesehatan. Sedangkan penilaian
dilaksanakan minimal setiap akhir tahun dan hasilnya digunakan untuk masukan
dalam penyusunan perencanaan kegiatan perkesmas pada tahun berikutnya. Untuk
memudahkan pemantauan dan penilaian kinerja perkesmas maka dilakukan penyajian
hasil dengan menggunakan table, grafik,.
BAB 3

PROFIL PUSKESMAS TELAGA BIRU

Peta Wilayah Kerja Puskesmas Telaga Biru

1. Keadaaan Geografis
Kecamatan Telaga Biru secara administratif terdiri dari 15 Desa. Batas wilayah daerah
dalah sebagai berikut:
Sebelah Utara berbatasan dengan Kecamatan Limboto
Sebelah Timur berbatasan dengan Kecamatan Telaga dan Kab. Bone Bolango
Sebelah Selatan berbatasan dengan Kecamatan Talaga Jaya
Sebelah Barat berbatasan dengan Kecamatan Limboto
Secara geografi wilayah Kecamatan Telaga Biru terletak antara 0,30 Lintang Utara
1, 0 o
Lintang Selatan dan 121 o
Bujur Timur, 123,3 Bujur Barat dengan luas
wilayah daratan seluas 107,40 Km2, Kecamatan Telaga Biru sebagian besar
merupakan daerah dataran, jika dilihat dari luas wilayahnya, maka desa yang
memiliki luas terbesar adalah desa Ulapato B yaitu 27,34 Km dan yang meliki luas
terkecil adalah desa Pantungo yaitu 1,14 Km
2. Iklim
Kecamatan Telaga Biru merupakan daerah tropis yang terdapat 2 musim yaitu musim
penghujan yang berlangsung dari bulan Desember sampai bulan Maret dan musim
kemarau yang berlangsung dari bulan Juni sampai bulan September, iklim ini
bergantian dalam keadaan normal setiap 6 bulan.
2. Kependudukan.
Kebijakan kependudukan diarahkan kepada pembangunan sumber daya manusia yang
berciri mandiri untuk melanjutkan pengembangan kualitas dan peningkatan mobilitas
dengan tetap memberikan dukungan terhadap pengendalian jumlah, struktur,
komposisi serta pertumbuhan dan persebaran penduduk yang ideal, melalui upaya
pengendalian kelahiran, menekan angka kematian dan meningkatkan kualitas program
keluarga berancana. Jumlah penduduk pada tahun 2015 sebanyak 27.938 jiwa, ( data
BPS ) dengan jumlah KK sebanyak 7531 KK. Jumlah penduduk laki-laki sebanyak
13.736 (49,16%) dan penduduk perempuan sebanyak 14.202 (50,83%). Jumlah
penduduk miskin berdasarkan data BPS sebanyak 8190 jiwa (30%). Kepadatan rata
260 jiwa/km2. Desa yang paling padat penduduknya adalah desa Pentadio Barat 2592
jiwa/km sedangkan yang terendah adalah desa Modelidu 32 jiwa/km. Selain suku
asli terdapat suku lain yang yang telah lama menetap, diantaranya suku Jawa, Bugis,
Bali, Minahasa dan suku keturunan diantaranya Cina dan Arab. Sebagian besar
penduduk Kecamatan Telaga Biru bekerja di sektor pertanian.
Proporsi Penduduk menurut Jenis Kelamin
Puskesmas Telaga Biru Tahun 2015

51% 49%
laki laki perempuan

Total Jumlah Penduduk = 27938 jiwa,


Jumlah Penduduk Laki-laki = 13736 jiwa
Jumlah Penduduk Perempuan = 14202 jiwa
Jumlah Kepala Keluarga = 7531 KK

2.1.1 Agama
Mayoritas pemeluk agama di Kecamatan Telaga Biru adalah Islam dengan persentase
98,39%, Kristen Protestan 0,97%, Kristen Katolik 0,62%, Hindu dan Budha 0,02%.
A. Tugas Pokok dan Fungsi Struktur Organisasi
Tugas pokok puskesmas adalah :
1. Sebagai pusat pembangunan berwawasan kesehatan
2. Sebagai pusat pemberdayaan masyarakat
3. Sebagai pusat pelayanan kesehatan dasar
Tugas Puskesmas Telaga Biru berdasarkan Perda Nomor 22 Tahun 2007 dengan
Struktur Organisasi Puskesmas Telaga Biru adalah sebagai berikut :
1. Kepala Puskesmas :
Bertanggung jawab atas seluruh kegiatan Puskesmas.
Memimpin pelaksanaan tugas pokok dan fungsi Puskesmas.
Membina kerajasama karyawan/karyawati dalam pelaksanaan tugas sehari-hari
Melakukan pengawasan melekat bagi seluruh pelaksanaan kegiatan program dan
pengelolaan keuangan.
Mengadakan koordinasi dengan Kepala Kecamatan dan Lintas Sektoral dalam
upaya pembangunan kesehatan di wilayah kerja.
Menjalin kemitraan dengan berbagai pihak dan masyarakat dalam rangka
peningkatan derajat kesehatan masyarakat.
Menyusun perencanaan kegiatan Puskesmas dibantu oleh staf puskesmas
Memonitor dan mengevaluasi kegiatan Puskesmas.
Melaporkan hasil kegiatan program ke Dinas Kesehatan Kabupaten, baik berupa
laporan rutin maupun khusus.
Membina petugas dalam meningkatkan mutu pelayanan.
Melakukan supervise dalam pelaksanaan kegiatan di Puskesmas induk, Pustu,
Puskesling, Polindes dan di Masyarakat
2. Uraian Tugas Pokok Dan Fungsi Kepala Tata Usaha Puskesmas
Menyusun rencana Kegiatan Urusan Tata Usaha berdasarkan data program
Puskesmas
Melaksanakan Pengelolaan Urusan kepegawaian,keuangan perlengkapan,surat
menyurat, hubungan masyarakat dan urusan-urusan umum, perencanaan serta
pencatatan dan pelaporan
Mengevaluasi hasil kegiatan Urusan Tata Usaha secara keseluruhan.
Membuat laporan kegiatan di bidang tugasnya sebagai bahan informasi
Bertanggung jawab kepada atasan.
Melaksanakan tugas lain yang diberikan oleh atasan.
3. Uraian tugas pokok dan fungsi Dokter
Melaksanakan tugas pelayanan kepada pasien
Puskesmas.
Membantu manajemen dalam pelaksanaan tugas
pokok dan fungsi Puskesmas.
Membantu membina karyawan/karyawati dalam
pelaksanaan tugas sehari-hari.
Membina petugas dalam meningkatkan mutu
pelayanan (QA).
Membina perawat / bidan dalam pelaksanaan
MTBS.
Membantu manajemen melakukan supervisi dalam
pelaksanaan kegiatan di Puskesmas induk, Pustu, Puskesling, Polindes, Posyandu
dan di Masyarakat.
Menyusun laporan bulanan.
4. Uraian tugas pokok dan fungsi Bidan Koordinator
Sebagai bidan koordinator kegiatan KIA (Kesehatan Ibu dan Anak).
Melaksanakan kegiatan pemeriksaan/pembinaan kepada ibu hamil, ibu
bersalin, ibu nifas, ibu menyusui, bayi dan balita
Melaksanakan kegiatan pelayanan Keluarga Berencana.
Melaksanakan kegiatan lapangan dalam kegiatan Posyandu,
Pembinaan kader
Bertanggung jawab atas pemeliharaan dan pengamatan alat medis, non
medis KIA.
Membantu Kepala Puskesmas dalam menyusun rencana kegiatan.
Membantu Kepala Puskesmas dalam membuat laporan kegiatan.
Membina unit KIA.KB dalam pelaksanaan Quality Assurance.
Melaksanakan kegiatan Puskesmas.
Bertanggung jawab atas pembuatan laporan KIA bulanan, tahunan
beserta PWSnya.
5. Uraian tugas pokok dan fungsi Bidan
Melaksanakan laporan kegiatan pemeriksaan/pembinaan/pertolongan kepada Ibu
hamil, Ibu bersalin, Ibu nifas, Ibu menyusui bayi dan balita
Melakukan kegiatan pelayanan Keluarga Berencana.
Bertanggung jawab atas pemeliharaan dan pengamanan alat medis dan umum
nonmedis KB.
Bertanggung jawab atas kebersihan dan penataan ruang KIA/KB/RB.
Membantu Kepala Puskesmas dalam menyusun rencana kegiatan.
Membantu Kepala Puskesmas dalam membuat laporan kegiatan.
Melaksanakan kegiatan Puskesmas.
Membantu pelaksanaan dan pelaporan KIA dan KB.
6. Uraian tugas pokok dan fungsi Perawat
Melaksanakan tugas asuhan keperawatan didalam gedung maupun
diluar gedung.
Berkolaborasi dengan Dokter dalam pelayanan pengobatan pasien baik
di Puskesmas maupun di pos-pos Puskeling
Bertanggung jawab atas kebersihan dan penataan ruang BP/Poli
MTBS.
Bertanggung jawab atas pemeliharaan dan pengamanan alat medis dan non medis
di ruang BP/MTBS.
Membantu kegiatan lintas program antara lain dalam kegiatan
pemberantasan penyakit, UKS, Penyuluhan Kesehatan Masyarakat dan kegiatan
lapangan lainnya.
Melaksanakan kegiatan Puskesmas diluar gedung.
Membantu pelaksanaan kegiatan Posyandu balita.
Membantu Kepala Puskesmas dalam membuat perencanaan kegiatan.
Membantu Kepala Puskesmas dalam membuat laporan kegiatan.
Melaksanakan kegiatan pelayanan pos MTBS di Puskesmas.
7. Uraian tugas pokok dan fungsi petugas penyuluhan
Sebagai atingator kegiatan promosi kesehatan, penyuluhan kesehatan (PKM) dan
peningkatan peran serta masyarakat (PSM).
Melaksanakan kegiatan sosialisasi JPKM.
Melakukan pendataan dan upaya-upaya dalam peningkatan PHBS (Perilaku
Hidup Bersih Sehat) baik untuk individu, kelompok, institusi, sekolah maupun
masyarakat.
Membantu Kepala Puskesmas dalam membuat pelaksanaan kegiatan.
Melaksanakan pencatatan dan pelaporan kegiatan PKM dan PSM.
8. Uraian Tugas Pokok Dan Fungsi Petugas Hygiene Sanitasi (Kesehatan
Lingkungan)
Membuat perencanaan kegiatan Kesling (Kesehatan Lingkungan). Melaksanakan
pembinaan dan pemeriksaan TTU ( Tempat Tempat Umum )
Melaksanaan pendataan dan pembinaan SAMIJAGA (Sarana Air Minum dan
Jamban Keluarga) dan SPAL (Sarana Pembuangan Air Limbah).
Melaksanakan Penyuluhan kesehatan lingkungan bersama dengan petugas lintas
program dan lintas sektoral terkait.
Melaksanakan pencatatan dan pelaporan kegiatan kesling.
9. Uraian Tugas Pokok Dan Fungsi Asisten Apoteker
Bertanggung jawab atas kegiatan pelayanan di apotek.
Melaksanakan pelayanan pemberian obat di apotek.
Mencatat petugas gudang obat dalam memonitor obat di apotek (LPLPO).
Bertanggung jawab terhadap gudang obat dalam memonitor obat di Pustu dan Pos
Puskesling.
Membantu Kepala Puskesmas dalam membuat perencanaan kebutuhan obat
Puskesmas.
10.Uraian Tugas Pokok Dan Fungsi Petugas UKS
Membuat perencanaan kegiatan UKS/UKGS,
Melaksanakan kegiatan UKS/UKGS di sekolah (SD,SLTP)
Membantu melaksanakan kegiatan imunisasi anak sekolah (BIAS) bersama
petugas lainnya,
Membuat pencatatan dan pelaporan UKS/UKGS.
. 11. Uraian Tugas Pokok Dan Fungsi Petugas Gigi
Bertanggung jawab atas kegiatan Kesehatan Gigi dan Mulut di lapangan melalui
UKS, UKGS/UKGMD, Posyandu dll,
Membantu pelaksanaan pelayanan Kesehatan Gigi dan Mulut di Puskesmas,
Membantu pencatatan dan pelaporan kegiatan kesehatan Gigi dan Mulut.
Melaksanakan kegiatan penyuluhan Kesehatan Gigi dan Mulut.
12. Uraian Tugas Pokok Dan Fungsi Koordinator SP2TP
Mengkoodinir seluruh laporan puskesmas dan melaporkannya ke Dinas
Kesehatan atau Dinas terkait lainnya,
Membantu kepala Puskesmas dalam pengelolaan data (pengumpulan, pengolahan
dan penyajian data),
Membantu Kepala Puskesmas dalam menyusun Laporan Tahunan
Membantu petugas dalam pengelolaan data di unit masing-masing.
13. Uraian Tugas Pokok Dan Fungsi Petugas Gizi
Menemukan masalah gizi yang ada diwilayah kerjanya meliputi :
Pengamatan sederhana (statistik sederhana).
Pemeriksaan register puskesmas.
Wawancara Pola makan dan menu.
Membaca hasil lab ( Mis : H6).
Membantu perencanaan dan intervensi gizi.
Melaksanakan pelayanan gizi di masyarakat.
Menilai konsumsi makanan.
Menilai status gizi.
Melakukan pelatihan kader.
Melakukan idetifikasi masalah gizi.
Penentuan prioritas masalah gizi.
Penyusunan dan penilaian Alternatif pemecahan masalah.
Pelaksanaan pelayanan Gizi di wilayah kerja puskesmas.
Monitoring dan Evaluasi.
14. Uraian Tugas Pokok Dan Fungsi Petugas Loket Pendaftaran
Mendaftar pasien yang datang berobat,
Mencatat di register,
Mengisi identitas pasien di kartu rawat jalan dan kartu resep,
Mengisi kartu tanda pengenal pasien,
Mengantar kartu rawat jalan ke ruang BP,
Bertanggung jawab atas penerimaan uang retribusi dan pengeluaran karcis.
15.Tugas Pokok Dan Fungsi Koordinator P2P (Program Pemberantasan Penyakit)
Mengkoordinir kegiatan pemberantasan penyalit menular dan tidak menular, yang
meliputi kegiatan P2TB, P2 Malaria, P2 DBD, P2 Diare, P2 ISPA, P2 Kusta, P2
TM, serta penyakit potensial wabah lainnya.
Mengumpulkan data kegiatan pemberantasan penyakit menular dan tidak
menular.
Mengkoordinir kegiatan surveilans pemberantasan penyakit dan mendeteksi
adanya KLB ( Kejadian Luar Biasa )
Mengkoordinir laporan kegiatan pemberantasan penyakit menular dan tidak
menular,
Laporan adanya KLB (W1), laporan PE dan laporan W2 (Laporan Penyakit
Potensial Wabah).
BAB 4

ASUHAN KEPERAWATAN KELOMPOK KHUSUS

( Lansia dengan Hypertensi )

A. Konsep Teori Lansia


1. Definisi
Masa dewasa tua (lansia) dimulai setelah pensiun, biasanya antara usia 65 dan
75 tahun. Jumlah kelompok usia ini meningkat drastic dan ahli demografi
memperhitungkan peningkatan populasi lansia sehat terus menigkat sampai abad
selanjutnya (Potter & Perry, 2005).
Lanjut usia merupakan istilah tahap akhir dari proses penuaan. Dalam
mendefinisikan batasan penduduk lanjut usia menurut Badan Koordinasi Keluarga
Berencana Nasional ada tiga aspek yang perlu dipertimbangkan yaitu aspek
biologi, aspek ekonomi dan aspek sosial. Secara biologis penduduk lanjut usia
adalah penduduk yang mengalami proses penuaan secara terus menerus, yang
ditandai dengan menurunnya daya tahan fisik yaitu semakin rentannya terhadap
serangan penyakit yang dapat menyebabkan kematian. Hal ini disebabkan
terjadinya perubahan dalam struktur dan fungsi sel, jaringan, serta sistem organ.
Secara ekonomi, penduduk lanjut usia lebih dipandang sebagai beban dari pada
sebagai sumber daya. Banyak orang beranggapan bahwa kehidupan masa tua tidak
lagi memberikan banyak manfaat, bahkan ada yang sampai beranggapan bahwa
kehidupan masa tua, seringkali dipersepsikan secara negatif sebagai beban
keluarga dan masyarakat (Ismayadi, 2004).
Menurut Constantinidies menua (menjadi tua) adalah suatu proses
menghilangnya secara perlahan lahan kemampuan jaringan untuk memperbaiki
diri / mengganti diri dan mempertahankan fungsi formalnya sehingga tidak dapat
bertahan terhadap infeksi dan memperbaiki kerusakan yang diderita. Menurut
organisasi dunia (WHO) lanjut usia meliputi usia pertengahan (middleage) adalah
kelompok usia 45-59 tahun, Usia lanjut (elderly) adalah kelompok usia 60-74
tahun, Usia lanjut (old) adalah kelompok usia 75-90 tahun, dan usia sangat tua
(very old) adalah kelompok usia diatas 90 tahun.
Asuhan keperawatan lansia mengahadapi tantangan khusus karena perbedaan
fisiologis, kognitif, dan kesehatan psikososial. Lansia bervariasi pada tingkat
kemampuan fungsional. Mayoritas merupakan anggota komunitas yang aktif,
terlibat, dan produktif. Hanya sedikit yang telah kehilangan kemampuan untuk
merawat diri sendiri, bingung atau merusak diri, dan tidak mampu mebuat
keputusan yang berkaitan dengan kebutuhan mereka.
2. Kebutuhan Hidup Orang Lanjut Usia
Setiap orang memiliki kebutuhan hidup. Orang lanjut usia juga memiliki
kebutuhan hidup yang sama agar dapat hidup sejahtera. Kebutuhan hidup orang
lanjut usia antara lain kebutuhan akan makanan bergizi seimbang, pemeriksaan
kesehatan secara rutin, perumahan yang sehat dan kondisi rumah yang tentram
dan aman, kebutuhan-kebutuhan sosial seperti bersosialisasi dengan semua orang
dalam segala usia, sehingga mereka mempunyai banyak teman yang dapat diajak
berkomunikasi, membagi pengalaman, memberikan pengarahan untuk kehidupan
yang baik. Kebutuhan tersebut diperlukan oleh lanjut usia agar dapat mandiri.
Kebutuhan tersebut sejalan dengan pendapat Maslow menyatakan bahwa
kebutuhan manusia meliputi (1) Kebutuhan fisik (physiological needs) adalah
kebutuhan fisik atau biologis seperti pangan, sandang, papan, seks dan
sebagainya. (2) Kebutuhan ketentraman (safety needs) adalah kebutuhan akan rasa
keamanan dan ketentraman, baik lahiriah maupun batiniah seperti kebutuhan akan
jaminan hari tua, kebebasan, kemandirian dan sebagainya (3) Kebutuhan sosial
(social needs) adalah kebutuhan untuk bermasyarakat atau berkomunikasi dengan
manusia lain melalui paguyuban, organisasi profesi, kesenian, olah raga,
kesamaan hobby dan sebagainya (4) Kebutuhan harga diri (esteem needs) adalah
kebutuhan akan harga diri untuk diakui akan keberadaannya, dan (5) Kebutuhan
aktualisasi diri (self actualization needs) adalah kebutuhan untuk mengungkapkan
kemampuan fisik, rohani maupun daya pikir berdasar pengalamannya masing-
masing, bersemangat untuk hidup, dan berperan dalam kehidupan. Sejak awal
kehidupan sampai berusia lanjut setiap orang memiliki kebutuhan psikologis dasar
(Setiati,2000).Kebutuhan tersebut diantaranya orang lanjut usia membutuhkan
rasa nyaman bagi dirinya sendiri, serta rasa nyaman terhadap lingkungan yang
ada. Tingkat pemenuhan kebutuhan tersebut tergantung pada diri orang lanjut usia,
keluarga dan lingkungannya . Jika kebutuhankebutuhan tersebut tidak terpenuhi
akan timbul masalah-masalah dalam kehidupan orang lanjut usia yang akan
menurunkan kemandiriannya (Ismayadi, 2004).

3. Teori teori Proses Menua


Sebenarnya secara individual
Tahap proses menua terjadi pada orang dengan usia berbeda
Masing masing lanjut usia mempunyai kebiasaan yang berbeda
Tidak ada satu faktorpun ditemukan untuk mencegah proses menua
Ada beberapa teori tentang proses penuaan, antara lain:
Teori Genetic Clock
Menurut teori ini menua telah terprogram secara genetik untuk spesies
tertentu . Setiap spesies mempunyai di dalam nukleinya suatu jam genetik
yang telah di putar menurut suatu replikasi tertentu. Jam ini akan
menghitung mitosis dan menghentikan replikasi sel bila tidak berputar..
Jadi menurut konsep ini jika jam ini berhenti, kita akan mati meskipun
tanpa disertai kecelakaan lingkungan atau penyakit terminal. Konsep
genetic clock didukung oleh kenyatan bahwa ini cara menerangkan
mengapa pada beberapa spesies terlihat adanya perbedaan harapan hidup
yang nyata.
Teori Mutasi Genetik (somatic mutatie theori )
Menua terjadi sebagai akibat dari perubahan biokimia yang diprogram
oleh molekul molekul DNA dan setiap sel pada saatnya akan mengalami
mutasi.
Teori pemakaian dan rusak
1. Kelebihan usaha dan stres menyebabkan se sel tubuh lelah terbakar.
2. Pengumpulan dari pigmen atau lemak dalam tubuh yang disebut teori
akumulasi dari produk sisa.
3. Peningkatan jumlah kolagen dalam jaringan.
4. Tidak ada perlindungan terhadap radiasi, penyakit dan kekurangan
gizi.
5. Reaksi dari kekebaian sendiri ( auto immunne theori)
6. Didalam metabolisme tubuh, suatu saat diproduksi suatu zat khusus.
Ada jaringan tubuh tertentu yang tidak tahan terhadap zat tersebut
sehingga tubuh menjadi lemah dan sakit.
Teori imonologi saw virus
Sistem imun menjadi efektif dengan bertambahnya usia dan masuknya
virus ke dalam tubuh dapat menyebabkan kerusakan organ tubuh.
Teori stres menua
akibat terjadi hilangnya sel sel yang bisa digunakan tubuh. Regenerasi
jaringan tidak dapat mempertahankan kesetabilan lingkungan internal,
kelebihan usaha dan stres menyebabkan sel sel tubuh lelah terpakai.
Teori radikal bebas
Radikal bebas dapat dibentuk dialam bebas, tidak stabil radikal bebas
( kelompok atom ) mengakibatkan oksidasi oksigen bahan bahan organik
seperti karbohidrat dan protein. Radikal ini menyebabkan sel sel tidak
dapat regenerasi.
Teori rantai silang
Sel sel yang tua dan usang, reaksi kimianya menyebabkan ikatan yang
kuat, khususnya jaringan kolagen. Ikatan ini menyebabkan kurangnya
elastis, kekacauan dan hilangnya fungsi.
Theori program
Kemampuan organisme untuk menetapkan jumlah yang membelah setelah
sel- sel mati.
A. Perubahan perubahan yang terjadi pada Lanjut Usia
a. Perubahan perubahan fisik
1. Sel
Lebih sedikit jumlahnya
Berkurangnya jumlah cairan tubuh dan kurangnya cairan intramuskuler
Menurunnya porposi protein di otak, otot,ginjal, darah dan hati
Terganggunya mekanisme perbaikan sel
Otak menjadi atropis beratnya berkurang 5-10%
2. Sistem pernafasan
Cepat menurunnya persarafan
Lambannya dalam respon dan waktu untuk bereaksi khususnya dengan
stres.
Mengecilnya saraf panca indra: berkurangnya penglihatan, hilangnya
pendengaran, mengecilnya saraf penciuman dan rasa,. Lebih sensitif
terhadap perubahan suhu dengan rendahnya ketahanan terhadap dingin.
Kurangnya sensitif pada sentuhan
3. Sistem Pendengaran
Prebiakusis ( gangguan dalam pendengaran ), hilangnya kemampuan atau
daya pendengaran pada telinga dalam, terutama terhadap bunyi dan atau
nada nada tinggi, suara yang tidak jelas, sulit mengerti kata, 50% terjadi
pada usia diatas 65 tahun.
Membran timpani menjadi atropi menyebabkan otosklerosis
Terjadinya pengumpulan serumen dapat mengeras karena meningkanya
kreatin
Pendengaran bertambah menurun pada lanjut usia yang mengalami
ketegangan jiwa atau stres
4. Sistem penglihatan
Spingter pupil timbul sklerosis dan hilangnya respon terhadap sinar
Kornea lebih berbentuk sferis atau bola, lensa lebih suram atau kekeruhan
pada lensa menjadi katarak, jelas menyebabkan gangguan penglihatan
Meningkatnya ambang, pengamatan sinar, daya adaptasi terhadap
kegelapan menjadi lebih lambat, dan susah melihat dalam cahaya gelap
Hilangnya daya akomodasi, menurunya lapang pandang, menurunnya
membedakan warna biru atau hijau.
5. Sistem kardiovaskuler
Elastisitas dinding vaskuler menurun,katup jantung menebal dan
menjadi kaku.
Kemampuan jantung memompa darah menurun 1% setiap tahun
sesudah berumur 20 tahun, menyebabkan kontraksi dan volumenya.
Kehilangan elestisitas pembuluh darah, kurangnya efektifitas pembuluh
darah perifer untuk oksigenasi, perubahan posisi dari tidur ke duduk,
atau dari duduk ke berdiri bisa menyebabkan tekanan darah menurun
menjadi 65 mmHg ( mengakibatkan pusing mendadak).
Tekanan darah meningkat diakibatkan meningkatnya resistensi
pembuluh darah perifer, sistolik normal kurang lebih 170 mmHg,
diastolik normal kurang lebih 90 mmHg
6. Sistem pengaturan temperatur tubuh
Pada pengaturan tuhu, hipotalamus dianggap bekerja sebagai termostat,
yaitu menetapkan suhu teratur, kemunduran terjadi akibat berbagai faktor yang
mempengaruhinya yang sering ditemui antara lain:
Temperatur tubuh menurun atau hipotermi secara fisiologis kurang
lebih 35 derajat celcius ini akibat metabolisme menurun.
Keterbatasan reflek menggigil dan tidak dapat memproduksi panas
banyak sehingga terjadi rendahnya aktifitas otot.
7. Sistem Respirasi
Otot pernafasan kehilangan kekuatan dan menjadi kaku, menurunnya
aktifitas silia
Paru paru kehilangan elastisitas, kapasitas residu meningkat, menarik
nafas lebih berat, kapasitas pernafasan maksimum menurun dan
kedalaman bernafas menurun.
Alveoli ukurannya melebar dari biasa dan jumlahnya berkurang
Oksigen pada arteri menurun menjadi 75 mmHg, karbodioksida pada arteri
tidak berganti
Kemampuan untuk batuk berkurang
Kemampuan pegas, dinding dada dan kekuatan otot pernafasan akan
menurun seiring dengan pertambahan usia.
8. Sistem gastrointestinal
Kehilangan gigi penyebab utama adanya periondontal disease
Indra pengecap menurun dan esofagus melebar
Lambung : rasa lapar menurun asam lambung menurun, waktu
mengosongkan menurun
Peristaltik lemah dan biasanya timbul konstipasi
Liver : makin mengecil dan menurunnya tempat penyimpanan,
berkurangnya aliran darah
Menciutnya ovari dan uterus
Atropi payudara
Pada laki laki testis masih dapat memproduksi spermatozoa, meskipun
adanya penurunan secara berangsur angsur.
Dorongan seksual menetap sampai usia diatas 70 tahun
Selaut lendir menurun
9. Sistem Genitourinaria
Ginjal: mengecil dan nefron menjadi atropi, aliran darah ke ginjal menurun
sampai 50% fungsi tubulus berkurang.
Vesika urinaria : otot otot menjadi lemah, kapasitas menurun sampai
200ml, atau dapat menyebabkan buang air kecil meningkat,
vasikaurinaria susah dikosongkan sehingga mengakibatkan
meningkatnya retensi urin.
Pembesaran prostat kurang lebih 75 % dialami oleh pria diatas 65 %
tahun
Atrofi vulva
10. Sistem Endokrin
Produksi dari hampir semua hormon menurun.
Fungsi paratiroid dan sekresinya tidak berubah.
Pitutari: pertumbuhan hormon ada terapi lebih rendah dan hanya didalam
pembuluh darah,berkurangnya produksi dari ACT,TSH,FSH dan LH.
Menurunnya aktifitas tiroid menurunnya BMR dan daya pertukaran zat
Menurunnya produksi aldosteron
Menurunnya sekresi hormon kelamin, misalnya progesteron, estrogen dan
testosteron
11. Sistem kulit
Kulit keriput atau mengkerut
Permukaan kulit kasar dan bersisik
Menurunnya respon terhadap trauma, mekanisme proteksi kulit menurun.
Kulit kepala dan rambut menipis berwarna kelabu.
Rambut dan hidung dan telinga menebal.
Berkurangnya elastisitas kulit akibat dari menurunnya cairan dan
vaskularitas
Pertumbuhan kuku lebih lambat, kuku jari menjadi keras dan rapuh, kuku
kaki tumbuh secara berlebihan, kuku menjadi pudar dan kurang bercahaya.
Kelenjar keringat berkurang jumlah dan fungsinya.
12. Sistem muskoloskeletal
Tulang kehilangan density ( cairan ) dan makin rapuh
Kiposis, pinggang lutut dan jari jari pergelangan terbatas geraknya.
Discus intervertebralis menipis dan menjadi pendek.
Persendian membesar dan kaku
Tendon mengerut dan mengalami sklerosis
Atropi serabut otot, sehingga gerak menjadi lambat, otot kram dan tremor.
B. Tugas Perkembangan Lansia
Peck mengonseptualisasikan tiga tugas yang berisi pengaruh dari hasil konflik
antara perbedaan integritas dan keputusasaan.
Perbedaan ego versus preokupasi peran kerja. Tugas ini membutuhkan
pergeseran sistem nilai seseorang, yang memungkinkan lansia untuk mengevaluasi
ulang mendefinisikan kembali pekerjaan mereka. Penilaian ulang ini mengrahkan
lansia untuk mengganti peran yang sudah hilang dengan peran dan aktivitas baru.
Selanjutnya, lansia mampu menemukan cara-cara baru memandang diri mereka
sendiri sebagai orangtua dan okupasi.
Body transcendence versus preokupasi tubuh. Sebagian besar lansia
mengalami beberapa penurunan fisik. Untuk beberapa orang, kesenangan dan
kenyamanan berarti kesejahteraan fisik. Orang-orang tersebut mungkin mengalami
kesulitan terbesar dalam mengabaiakan status fisik mereka. Orang lain memiliki
kemampuan untuk terlibat dalam kesenangan psikologi dan aktivitas sosial sekalipun
mereka mengalami perubahan dan ketidaknyamanan fisik. Peck mengemukakan
bahwa dalam sistem nilai mereka, sumber-sumber kesenangan sosial dan mental dan
rasa menghormati diri sendiri mengabaikan kenyamanan fisik semata.
Transendensi ego versus preokupasi ego. Peck mengemukakan bahwa cara
paling konstruktif untuk hidup di tahun-tahun terakhir dapat didefinisikan dengan :
hidup secara dermawan dan tidak egois yang merupakan prospek dari kematian
personal-the night of the ego, yang bisa disebut-paras dan perasaan kurang penting
dibanding pengetahuan yang telah diperoleh seseorang untuk masa depan yang lebih
luas dan lebih panjang daripada yang dapat dicakup oleh ego seseorang. manusia
menyelesaikan hal ini melalui warisan mereka, anak-anak mereka, kontribusi mereka
pada masyarakat, dan persahabatan mereka. Mereka ingin membuat hidup lebih
aman, lebih bermakna, atau lebih bahagia bagi orang-orang yang meneruskan hidup
setelah kematian. Untuk mengklarifikasi, individu yang panjang umur cenderung
lebih khawatir tentang apa yang mereka lakukan daripada tentang siapa mereka
sebenarnya, mereka hidup di luar diri mereka sendiri daripada kepribadian mereka
sendiri secara egosentris.(Stanley & Beare, 2006).
C. Permasalahan yang timbul Pada Lansia
1. Permasalah Umum
a. Bersarnya jumlah penduduk lansia dan tingginya prosentase kenaikan lansia
memerlukan upaya peningkatan kualitas pelayanan dan pembinaan kesehatan
bagi lanjut usia. Jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2000 akan meningkat
menjadi 209.535.49. jiwa dan jumlah lansianya 15.262.199., berarti 7.28%
(Anwar,1994 ). Menurut Kinsilla dan Taeuber ( 1993) peningkatan penduduk
lansia dalam waktu 1990-2000 sebesar 41% dan merupakan yang tertinggi
didunia ( Darmojo, 1999:1)
b. Jumlah lansia miskin makin banyak
c. Nilai perkerabatan melemah, tatanan masyarakat makin individualistik
d. Rendahnya kualitas dan kuantitas tenaga profesional yang melayani lansia
e. Terbatasnya sarana dan fasilitas pelayanan bagi lansia
f. Adanya dampak pembangunan yang merugikan seperti urbanisasi dan
popuilasi pada kehidupan dan penghidupan lansia.
2. Permasalahan Khusus
a. Terjadinya perubahan normal pada fisik lansia
Perubahan normal ( alami ) tidak dihindari cepat dan lambatnya perubahan
dipengaruhi oleh faktor kejiwaan, sosial, ekonomi dan medik. Perubahan akan
terlihat pada jaringan organ tubuh seperti: kulit menjadi kering dan keriput,
rambut beruban dan rontok, penglihatan menurun sebagian dan menyeluruh,
pendengaran juga berkurang, daya penciuman berkurang,tinggi badan
menyusut karena proses ostoporosis yang berakibat badan bungkuk, tulang
keropos masanya berkurang, kekuatan berkurang dan mudah patah, elastisitas
jaringan paru berkurang, nafas menjadi pendek, terjadi pengurangan fungsi
organ di dalam perut, dinding pembuluh darah menebal dan terjadi
peningkatan tekanan darah, otot bekerja tidak efisien, terjadi penurunan fungsi
organ reproduksi terutama ditemukan pada wanita, otak menyusut dan reaksi
menjadi lambat terutama pada pria dan sexsualitas tidak selalu menurun
b. Terjadi perubahan abnormal pada fisik lansia
Perubahan fisik pada lansia dapat diperbaiki dan dapat dihilangkan melalui
nasehat atau tindakan medik. Perubahan yang terjadi misalnya: katarak,
kelainan sendi, kelainan prostat dan inkotenensia
D. Sikap perawat terhadap lansia
Perawatan gerontologi atau gerontik adalah ilmu yang mempelajari dan
memberikan pelayanan kepada orang lanjut usia yang dapat terjadi di berbagai tatanan
dan membantu orang lanjut usia tersebut untuk mencapai dan mempertahankan fungsi
yang optimal. Perawat gerontologi mengaplikasikan dan ahli dalam memberikan
pelayanan kesehatan utama pada lanjut usia dank keluarganya dalam berbagai tatanan
pelayanan. Peran lanjut perawat tersebut independen dan kolaburasi dengan tenaga
kesehatan profesional.
Lingkup praktek keperawatan gerontologi adalah memberikan asuhan
keperawatan, malaksanakan advokasi dan bekerja untuk memaksimalkan kemampuan
atau kemandirian lanjuy usia, meningkatkan dan mempertahankan kesehatan,
mencegah dan meminimalkan kecacatan dan menunjang proses kematian yang
bermartabat. Perawat gerontologi dalam prakteknya menggunakan managemen kasus,
pendidikan, konsultasi , penelitian dan administrasi.
Penting bagi perawat untuk mengkaji sikapnya pada penuaan karena sikap
tersebut mempengaruhi asuhan keperawatan. Untuk memberi asuhan yang efektif,
perawat harus menciptakan sikap positif terhadap lansia. Sikap negatif dapat
mengakibatkan penurunan rasa nyaman, adekuat, dan kesejahteraan klien. Lebih jauh
lagi, sikap tersebut dapat menyebabkan penurunan kualitas asuhan. Klien dalam
fasilitas perawatan jangka panjang memberi tantangan khusus bagi perawat. Klien ini
sering kali memandang diri sendiri sebagai pecundang, dan mungkin masyarakat juga
memandang mereka seperti itu. Perawat dapat meningkatkan kemandirian dan harga
diri klien yang merasa bahwa hidup tidak lagi berharga.
Perawat harus menjelaskan sikap pribadi dan nilai tentang lansia untuk
memberikan perawatan paling efektif. Usia, pendidikan, pengalaman kerja, dan
lembaga pekerjaan seorang perawat mempengaruhi stereotip. Pengalaman pribadi
dengan lansia sebagai anggota keluarga dapat juga mempengaruhi sikap. Karena
lansia menjadi lebih lazim dalam pelayanan kesehatan, maka penting sekali bagi
perawat untuk mengembangkan pendekatan asuhan yang positif bagi klien lansia.
1. Pendekatan perawatan lanjut usia
a. Pendekatan fisik
Perawatan fisik secara umum bagi klien lanjut usia ada 2 bagian yaitu :
Klien lanjut usia yang masih aktif, yang masih mampu bergerak tanpa
bantuan orang lain.
Klien lanjut usia yang pasif atau tidak dapat bangun yang mengalami
kelumpuhan atau sakit.
b. Pendekatan psikis
Perawatan mempunyai peranan yang panjang untuk mengadakan
pendekatan edukatif pada klien lanjut usia, perawat dapat berperan sebagai
supporter, interpreter terhadap segala sesuatu yang asing, sebagai penampung
rahasia pribadi dan sebagai sahabat yang akrab.
c. Pendekatan sosial
Mengadakan diskusi, tukar pikiran, dan bercerita merupakan upaya
perawatan dalam pendekatan sosial. Memberi kesempatan berkumpul bersama
dengan sesama klien lanjut usia untuk menciptakan sosialisasi mereka.
1. Pengkajian pada lansia Binaan
a. Identitas lansia (data dasar anggota kelompok)
Nama : Ny. MN
J.K : Perempuan
Umur : 64 Tahun
Pendidikan : SD ( Sekolah Dasar )
Pekerjaan : URT
Agama : Islam
Keadaan Umum : Cukup
TTV : TD : 140/90 mmHg
N : 84x/Menit
RR : 24x/Menit
SB : 360C
Tinggi Badan : 150 Cm
Berat Badan : 75 Kg
Konjungtiva : Pucat
b. Status kesehatan anggota kelompok
Klien Mengatakan Sering Merasa Pusing dan sakit Kepala, Klien Aktif
mengikuti kegiatan PROLANIS di wilayah kerja Puskesmas Telaga Biru, Saat
Dikaji Klien Mengeluh Kaki Terasa Berat Di Gerakkan.
c. Riwayat kesehatan
Ny MN mengatakan sudah sekitar lebih dari 3 Tahun menderita Hypertensi,
Saat ini Klien Menderita Penyakit lain yaitu hyperthyroid.
2. Pengkajian terhadap upaya peningkatan kesehatan :
Fasilitas Yang tersedia untuk kelompok yakni posyandu lansia / posbindu,
Prolanis yang dilaksanakan Puskesmas Telaga Biru setiap akhir bulan, Di wilayah
kerja Puskesmas Telaga Biru pelayanan kesehatan yang dimanfaatkan oleh kelompok
yakni pelayanan kesehatan untuk lansia. Fasilitas pendidikan yang tersedia untuk
kelompok yakni pada kegiatan PROLANIS, Untuk Masalah lingkungan sekitar
tempat tinggal anggota kelompok kesediaan Air bersih, tempat pembuangan sampah
serta sarana MCK tersedia, akan tetapi SPAL untuk setiap anggota kelompok belum
tersedia di tempat tinggal anggota kelompok.
Jenis pekerjaan rata-rata anggota kelompok adalah URT , rata-rata pendapatan
perbulan setiap anggota kelompok kurang dari Rp. 500.000,00-. Sarana ibadah
tersedia untuk anggota lansia , kegiatan keagamaan kelompok adalah pengajian,
sedangkan untuk kegiatan sosial lain tidak dilakukan oleh kelompok, sebagai sarana
komunikasi yang digunakan kelompok sehari-hari adalah Handphone, komunikasi
antar kelompok kurang efektif dikarenakan masih adanya anggota kelompok yang
belum mempuyai alat komunikasi.
Fasilitas rekreasi yang tersedia untuk anggota kelompok yang mudah dijangkau
yakni menonton TV, Kebiasaan untuk pemeliharaan kebersihan diri anggota
kelompok sebagian besar kegiatan dibantu oleh keluarga dikarenakan
ketidakmampuan lansia dalam melakukan aktivitas secara mandiri serta saat ini klien
menggunakan alat bantu penglihatan.
DIAGNOSA KEPERAWATAN

1. resiko terjadi cedera fisik: jatuh berhubungan dengan penurunan fungsi penglihatan
dan pandangan
2. Kurang pengetahuan tentang penyakit pada keluarga berhubungan dengan
ketidakmampuan keluarga mengenai masalah hypertensi pada anggota keluarga
IMPLEMENTASI & EVALUASI

Hari/Tanggal Implementasi Evaluasi


- Menjelaskan penurunan
fungsi tubuh karena proses
- Klien Sangat Kooperatif
penuaan - Klien tampak serius
- Menjelaskan kebutuhan,
memperhatikan apa
Rabu / 18-01-2017 keamanan, dan keselamatan
yang disampaikan
Pukul : 10.00 WITA akibat penurunan fungsi tubuh - Klien mengatakan
- Mejelaskan cara menciptakan
mengikuti saran yang
lingkungan atau ruangan yang
diberikan mahasiswa
cukup penerangan, lantai
tidak licin dan basah
- Mengkaji pengetahuan
keluarga tentang penyakit
hypertensi
- Mendiskusikan bersama
keluarga tentang karakteristik - Klien Sangat Kooperatif
penyakit hypertensi dan - Klien tampak sangat

perawatannya dengan memperhatikan apa


Rabu / 18-01-2017
menggunakan leaflet yang di jelaskan
Pukul : 10.00 WITA
- Menanyakan kembali tentang - Klien sangat aktif

hal-hal yang telah bertanya tentang

didiskusikan penyakitnya
- Memberikan motivasi
keluarga untuk merawat
anggota keluarga dengan
Hypertensi
BAB 5

PENUTUP

A. Kesimpulan
Perawatan kesehatan masyarakat (PERKESMAS) adalah perpaduan antara
keperawatan dan kesehatan masyarakat dengan dukungan peran serta aktif masyarakat
mengutamakan pelayanan promotif dan preventif secara berkesinambungan tanpa
mengabaikan pelayanan kuratif dan rehabilitatif secara menyuluh dan terpadu
,ditujukan kepada individu,keluarga, kelompok dan masyarakat untuk ikut
meningkatkan fungsi kehidupan manusia secara optimal,sehingga mandiri dalam
upaya kesehatan masyarakat.
Sasaran perawatan kesehatan masyarakat adalah Individu, Keluarga,
Kelompok, dan Masyarakat yang mempunyai masalah kesehatan akibat faktor
ketidaktahuan, ketidakmauan, maupun ketidakmampuan dalam menyelesaikan
masalah kesehatan.
B. SARAN
Program PERKESMAS merupakan program penting dalam menunjang
kesehatan masyarakat, oleh karena itu sangat dperlukan pemantauan dalam program
ini. Pemantauan dilaksanakan secara periodic setiap bulan oleh kepala puskesmas dan
perawat coordinator perkesmas. Hasil pemantauan terhadap pencapaian indikatoe
kinerja menjadi masukan untuk perbaikan dan peningkatan kinerja perawat
berikutnya, peningkatan cakupan dan mutu pelayanan kesehatan. Sedangkan penilaian
dilaksanakan minimal setiap akhir tahun dan hasilnya digunakan untuk masukan
dalam penyusunan perencanaan kegiatan perkesmas pada tahun berikutnya. Untuk
memudahkan pemantauan dan penilaian kinerja perkesmas maka dilakukan penyajian
hasil dengan menggunakan table, grafik.