Anda di halaman 1dari 9

IDENTIFIKASI AKUN BERISIKO PADA

PT NIPPON INDOSARI CORPINDO TBK


UJIAN TENGAH SEMESTER

Untuk memenuhi tugas matakuliah Auditing 2


yang dibina Drs. Muhammad Jusuf Wibisana, M.Ec., Ak.

Glen Grazia Yonadie / 145020301111001

UNIVERSITAS BRAWIJAYA
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
PROGRAM STUDI AKUNTANSI
April 2017

ANALISIS LAPORAN KEUANGAN


PT Nippon Indosari Corpindo, Tbk.
Laporan Keuangan Tahun 2015
Audited by Ernst and Young

Profil Singkat Perusahaan

Nippon Indosari Corpindo Tbk (ROTI) (Sari Roti) didirikan


08 Maret 1995 dengan nama PT Nippon Indosari
Corporation dan mulai beroperasi komersial pada tahun
1996. Kantor pusat dan salah satu pabrik ROTI
berkedudukan di Kawasan Industri MM 2100 Jl. Selayar blok A9, Desa Mekarwangi,
Cikarang Barat, Bekasi 17530 Jawa Barat, dan pabrik lainnya berlokasi di Kawasan
Industri Jababeka Cikarang blok U dan W Bekasi, Pasuruan, Semarang, Makassar,
Purwakarta, Palembang, Cikande dan Medan.

Pemegang saham yang memiliki 5% atau lebih saham Nippon Indosari Corpindo Tbk, antara
lain: Indoritel Makmur Internasional Tbk (DNET) (31,50%), Bonlight Investments., Ltd
(25,03%) dan Pasco Shikishima Corporation (8,50%).

Berdasarkan Anggaran Dasar Perusahaan, ruang lingkup usaha utama ROTI bergerak di
bidang pabrikasi, penjualan dan distribusi roti (roti tawar, roti manis, roti berlapis, cake dan
bread crumb) dengan merek "Sari Roti". Pendapatan utama ROTI berasal dari penjualan roti
tawar dan roti manis.

Pada tanggal 18 Juni 2010, ROTI memperoleh pernyataan efektif dari Bapepam-LK untuk
melakukan Penawaran Umum Perdana Saham ROTI (IPO) kepada masyarakat sebanyak
151.854.000 dengan nilai nominal Rp100,- per saham saham dengan harga penawaran
Rp1.250,- per saham. Saham-saham tersebut dicatatkan pada Bursa Efek Indonesia (BEI)
pada tanggal 28 Juni 2010

1. Akun-akun berisiko

Untuk laporan keuangan milik PT Nippon Indosari Corpindo, ada 2 akun yang menurut saya
menjadi pertimbangan auditor dalam memberikan opini audit. Akun-akun tersebut memiliki
risiko salah saji material yang menurut saya cukup lumrah ditemukan di perusahaan-
perusahaan manufaktur. Akun-akun tersebut antara lain Persediaan dan Aset Tetap.

Persediaan

Persediaan merupakan salah satu akun dari laporan keuangan yang menurut saya memiliki
risiko salah saji material. Akun Persediaan pada Laporan Posisi Keuangan PT Nippon
Indosari Corpindo memiliki nilai yang cukup besar yaitu sebesar Rp. 43.169.425.832. dan
jumlah ini cukup signifikan terhadap jumlah asset lancar yang dimiliki perusahaan ini.
Terdapat juga kenaikan dalam akun persediaan selama 2 tahun. Mengapa saya menganggap
akun ini merupakan akun yang berisiko untuk salah saji material?

Seperti yang kita tahu, persediaan barang merupakan salah satu inti dari perusahaan
manufaktur. Persediaan barang mencerminkan seberapa banyak barang yang akan siap dijual,
seberapa banyak bahan baku yang dibutuhkan oleh perusahaan dalam memproduksi barang
dagangan dan pencatatannya sangat berisiko sekali untuk dilaporkan secara tidak benar.
Faktor pertimbangannya adalah akun persediaan sangat berhubungan erat dengan Harga
Pokok Penjualan perusahaan mengingat juga bahwa akun persediaan di PT Nippon Indosari
Corpindo memiliki angka yang cukup besar. Jika pada suatu kondisi perusahaan ingin
melakukan manipulasi data, misalnya dengan meninggikan pencatatan persediaan akhir,
sehingga membuat Harga Pokok Penjualan berkurang dan pada akhirnya akan membuat laba
kotor semakin tinggi sehingga laporan keuangan akan terlihat lebih bagus.
Akun persediaan juga sangat berhubungan erat dengan penyisihan penurunan nilai persediaan
yang membuat akun ini semakin rentan atas salah saji material. Jika perusahaan gagal dalam
mengestimasi penurunan nilai persediaan, maka dampak yang dapat ditimbulkan dari
kesalahan estimasi tersebut bisa menjadi cukup pervasive. Selain itu, akun persediaan juga
merupakan akun yang sangat rawan terhadap misappropriation asset yaitu penyalahgunaan
asset. Sehingga menurut saya pertimbangan auditor adalah merendahkan tingkat materialitas
bagi akun yang berisiko tinggi seperti ini.

Aset Tetap

Bagi perusahaan manufaktur raksasa seperti PT Nippon Indosari Corpindo Tbk, asset tetap
merupakan salah satu komponen yang vital bagi perusahaan. Bagaimana tidak? Asset tetap
sangat erat kaitannya dengan produktivitas perusahaan. Aset tetap berupa mesin, gedung dan
alat-alat berat sangat berpengaruh terhadap produktivitas perusahaan, apalagi perusahaan
yang memiliki kapasitas produksi yang cukup tinggi seperti Sari Roti. Mengapa saya
memperhitungkan asset tetap sebagai akun yang memiliki risiko salah saji material?

1. Adanya peningkatan jumlah asset tetap yang cukup signifikan pada laporan
posisi keuangan perusahaan

PROPERTY,PLANT AND EQUIPMENT


YEAR BALANCE
31-Dec-14 1,679,981,658,119
31-Dec-15 1,821,378,205,498
Increase in PPE 141,396,547,379
Jumlah peningkatan asset tetap selama setahun mencapai angka hinga 141 Milyar.
Jumlah yang cukup signifikan atas peningkatan asset ini sangat berisiko karena penambahan
asset tetap berarti adanya peningkatan kapasitas produksi. Peningkatan asset tetap jika tidak
dicatat dengan benar dan keberadaanya tidak dapat dipastikan, akan memiliki dampak yang
sangat pervasif. Berkaca kembali pada kasus fraud auditing yang dilakukan HealthSouth pada
tahun 2010, dimana CEO perusahaan ini berusaha meningkatkan laba untuk menyenangkan
hati investor dengan cara mencatat asset tetap fiktif dengan menggunakan bukti-bukti
transaksi fiktif, sehingga mempengaruhi pendapatan yang diperoleh. Sehingga adanya
peningkatan asset tetap yang cukup signifikan menjadi alasan mengapa akun ini berisiko
untuk salah saji material
2. Jumlah asset tetap PT Nippon Indosari Corpindo yang cukup banyak
memungkinkan kesalahan perhitungan beban depresiasi

Aset tetap PT Nippon Indosari Corpindo dicantumkan pada Catatan Atas Laporan Keuangan
yang dilampirkan pada laporan keuangan tahunan. Adapun rincian asset tetap dan dasar
pembebanan penyusutan adalah sebagai berikut.

Penambahan jumlah asset tetap pada perusahaan tentunya akan berpengaruh pada beban
depresiasi yang akan digunakan juga,sehingga asset tetap menjadi akun yang berisiko salah
saji material.

2. Test of Control dan Substantive Test

Menurut ISA 330, test of control adalah An audit procedure designed to evaluate the
operating effectiveness of controls in preventing, or detecting and correcting, material
misstatements at the assertion level. . Sehingga dapat dikatakan bahwa test of control
adalah sebuah uji yang bertujuan untuk menilai keefektivan pengendalian internal.

Sedangkan menurut ISA 330, substantive test adalah An audit procedure designed to
detect material misstatements at the assertion level. Substantive procedures
comprise tests of details and substantive analytical procedures.

Tes pengendalian dan tes substantive akan saya bagi menurut masing-masing akun

Persediaan

Mengacu pada Auditing Standards No. 13 by PCAOB paragraph 24, bahwa bukti yang
diperoleh auditor melalui tes pengendalian dapat dilihat berdasarkan nature , extent dan
timing dari uji pengendalian yang dilakukan, test of control yang dapat dilakukan:

Beberapa pengendalian, berdasarkan nature nya menyediakan bukti audit yang lebih
banyak. Berdasarkan naturenya, uji pengendalian atas persediaan (diurutkan dari yang
paling rendah sampai tinggi) dapat dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut:
o Inquiry, dengan melakukan wawancara dengan manajer untuk melihat apakah
sudah ada otorisasi dalam proses pengadaan barang/persediaan, apakah sistem
pengendalian perusahaan sudah dijalankan dengan baik. Inquiry menyediakan
bukti yang paling sedikit
o Observation. Observasi yaitu dengan melihat proses mengenai akun yang
bersangkutan, apakah persediaan yang datang/dibeli telah dilaksanakan oleh
karyawan yang bersangkutan
o Inspection of document. Dengan melakukan pemeriksaan terhadap dokumen-
dokumen terhadap pembelian persediaan seperti purchase order dan melihat
apakah semua dokumen sudah diotorisasi dan persediaan yang dicatat sesuai
dengan dokumen yang ada
o Reperformance of a control. Melakukan kembali aktivitas pengadaan
barang/persediaan untuk menilai efektivitas dari pengendalian internal
perusahaan
Jika sebuah control testing dilakukan secara lebih ekstensif (extent) dan dilakukan
pada timing yang tepat, maka bukti pengendalian internal yang didapat juga akan
semakin tinggi. Hal ini berlaku pada pengadaan persediaan barang.

Sedangkan untuk substantive test yang dapat dilakukan atas persediaan antara lain:

Asersi valuation, dapat dilakukan auditor dengan melakukan penghtungan ulang atas
metode pencatatan persediaan. Pada PT Nippon Indosari Corpindo, persediaan
dinyatakan dengan menggunakan metode LCNRV dan auditor dapat melakukan
penghitungan ulang apakah penerapan metod ini sudah sesuai dengan jumlah yang
tercatat di laporan keuangan
Asersi completeness, dapat dilakukan auditor dengan cara melakukan cut-off testing
atas pembelian, penjualan, retur penjualan. Auditor juga dapat melakukan rekonsiliasi
antara persediaan fisik yang ada di gudang dengan catatan perpetual perusahaan
(melakukan cek stock opname)
Asersi existence or occurrence dapat dilakukan auditor dengan cara mengecek stok
persediaan yang ada di gudang public atau dengan konfirmasi dengan pihak luar
mengenai stok persediaan

Aset Tetap

Test of Control yang dapat dilakukan atas asset tetap antara lain:
Inquiry, dengan melakukan wawancara dengan manajer untuk melihat apakah sudah
ada pengendalian internal dalam proses pembelian asset tetap, apakah sistem
pengendalian perusahaan sudah dijalankan dengan baik. Inquiry menyediakan bukti
yang paling sedikit
Observation. Observasi yaitu dengan melihat proses mengenai akun yang
bersangkutan, apakah asset tetap yang datang/dibeli telah dilaksanakan oleh karyawan
yang bersangkutan, bagaimana proses pengendalian internal dijalankan
Inspection of document. Dengan melakukan pemeriksaan terhadap dokumen-
dokumen terhadap pembelian asset tetap dan melihat apakah semua dokumen sudah
diotorisasi dan persediaan yang dicatat sesuai dengan dokumen yang ada. Mengingat
pembelian asset tetap merpakan pembelian yang jumlahnya cukup besar dan
membutuhkan otorisasi kas yang sangat ketat, sehingga harus dilihat apakah otorisasi
yang dilakukan sudah dilakukan oleh atasan yang bersangkutan
Reperformance of a control. Melakukan kembali aktivitas pengadaan asset tetap
untuk menilai efektivitas dari pengendalian internal perusahaan

Substantive Test yang dapat dilakukan atas asset tetap antara lain:

Asersi Presentation and Disclosure auditor dapat melihat apakah dasar depresasi
yang digunakan atas asset tetap sudah sesuai dengan standar akuntansi yang berlaku.
Dalam hal ini, PSAK
Asersi Valuation, auditor dapat melakukan pengecekan faktur terhadap pembelian
asset tetap, auditor juga dapat melakukan vouching (melihat bagaimana suatu asset
tetap didapatkan)
Asersi Existence or Occurrence, auditor dapat melihat dan melakukan pengecekan
apakah asset tetap benar-benar ada wujudnya atau tidak dan bukan pencatatan asset
fiktif

3. Rebuttable Presumption of Key Risk


Rebuttable Presumption of Key Risk tentu saja berlaku pada perusahaan terutama
perusahaan manufaktur besar seperti PT Nippon Indosari Corpindo Tbk. Meskipun mungkin
frekuensi penjualan produk sari roti terbilang cukup sering, namun jumlah penjualan yang
ada sangat besar hingga mencapati angka Rp 2.174.501.712.899, Angka penjualan ini
bertambah hingga Rp. 300.000.000 dari tahun sebelumnya yang menandakan adanya
peningkatan penjuaaln yang cukup signifikan. Sehingga apakah akun penjualan bisa dibilang
berisiko? Tentu saja iya, dengan angka penjualan yang cukup tinggi, tidak menutup
kemungkinan akan terdapat salah saji material pada laporan keuangan.
REFERENSI

http://accounting-financial-tax.com/2010/05/substantive-testing-cash-receivables-inventory-
and-fixed-assets/

http://www.accaglobal.com/ie/en/student/exam-support-resources/fundamentals-exams-
study-resources/f8/technical-articles/ISA330-responses-assessed-risks.html

https://pcaobus.org/Standards/Auditing/pages/auditing_standard_13.aspx