Anda di halaman 1dari 20

Tugas Kelompok

Farmakoterapi 2

RHINITIS ALERGI

Oleh
Kelompok 1
Syam febriantara (F1F111038)

Rahmi ardani (F1F111046)

Ardin (F1F112091)

Asman sadino (F1F112092)

Ayu Fitria (F1F112093)

KELAS C 2012

JURUSAN FARMASI

FAKULTAS FARMASI

UNIVERSITAS HALU OLEO

KENDARI

2015
RHINITIS ALERGI

A. DEFINISI RHINITIS ALERGI


Rhinitis alergik merupakan bentuk alergi respiratorius yang paling sering
ditemukan dan diperkirakan diantarai oleh reaksi imunologi cepat (hipersensitive
I). Rhinitis adalah suatu inflamasi ( peradangan ) pada membran mukosa di
hidung. (Dipiro, 2005 ). Rhinitis adalah peradangan selaput lendir hidung.
(Dorland, 2002 )
Rhinitis alergi adalah inflamasi membran mukosa hidung disebabkan oleh
paparan terhadap materi alergenik yang terhirup yang mengawali respon
imunologik spesifik, diperantarai oleh immunoglobulin E (Ig E). Menurut WHO
ARIA (Allergic Rhinitis and its Impact on Asthma) tahun 2001, rinitis alergi
adalah kelainan pada hidung dengan gejala bersin-bersin, rinore, rasa gatal dan
tersumbat setelah mukosa hidung terpapar alergen yang diperantarai oleh IgE.

B. KLASIFIKASI RHINITIS ALERGI


Dahulu rinitis alergi dibedakan dalam 2 macam berdasarkan sifat
berlangsungnya, yaitu:
1. Rinitis alergi musiman (seasonal, hay fever, polinosis) : terjadi sebagai respon
terhadap allergen spesifik (serbuk sari) yang ada pada waktu tertentu dalam
setahun (misalnya saat musim semi) dan secara tipikal menyebabkan gejala
yang lebih akut
2. Rinitis alergi sepanjang tahun (perennial; berselang-selang; menetap) : terjadi
sepanjang tahun sebagai respon terhadap allergen bukan musiman (misalnya
kutu dan jamur) dan biasanya menyebabkan gejala yang tersembunyi dan
kronik.
Gejala keduanya hampir sama, hanya berbeda dalam sifat. Saat ini digunakan
klasifikasi rinitis alergi berdasarkan rekomendasi dari WHO Iniative ARIA
(Allergic Rhinitis and its Impact on Asthma) tahun 2000, yaitu berdasarkan sifat
berlangsungnya dibagi menjadi :
1. Intermiten (kadang-kadang): bila gejala kurang dari 4 hari/minggu atau
kurang dari 4 minggu.
2. Persisten/menetap bila gejala lebih dari 4 hari/minggu dan atau lebih dari 4
minggu.
Sedangkan untuk tingkat berat ringannya penyakit, rinitis alergi dibagi menjadi:
1. Ringan, bila tidak ditemukan gangguan tidur, gangguan aktifitas harian,
bersantai, berolahraga, belajar, bekerja dan hal-hal lain yang mengganggu.
2. Sedang atau berat bila terdapat satu atau lebih dari gangguan tersebut diatas.

C. ETIOLOGI RHINITIS ALERGI


Rinitis alergi melibatkan interaksi antara lingkungan dengan predisposisi
genetik dalam perkembangan penyakitnya. Faktor genetik dan herediter sangat
berperan pada ekspresi rinitis alergi. Penyebab rinitis alergi tersering adalah
alergen inhalan pada dewasa dan ingestan pada anak-anak. Pada anak-anak sering
disertai gejala alergi lain, seperti urtikaria dan gangguan pencernaan. Penyebab
rinitis alergi dapat berbeda tergantung dari klasifikasi. Beberapa pasien sensitif
terhadap beberapa alergen.
Alergen yang menyebabkan rinitis alergi musiman biasanya berupa serbuk
sari atau jamur. Rinitis alergi perenial (sepanjang tahun) diantaranya debu tungau,
terdapat dua spesies utama tungau yaitu Dermatophagoides farinae dan
Dermatophagoides pteronyssinus, jamur, binatang peliharaan seperti kecoa dan
binatang pengerat. Faktor resiko untuk terpaparnya debu tungau biasanya karpet
serta sprai tempat tidur, suhu yang tinggi, dan faktor kelembaban udara.
Kelembaban yang tinggi merupakan faktor resiko untuk untuk tumbuhnya jamur.
Berbagai pemicu yang bisa berperan dan memperberat adalah beberapa faktor
nonspesifik diantaranya asap rokok, polusi udara, bau aroma yang kuat atau
merangsang dan perubahan cuaca.
Berdasarkan cara masuknya allergen dibagi atas:
Alergen Inhalan, yang masuk bersama dengan udara pernafasan, misalnya
debu rumah, tungau, serpihan epitel dari bulu binatang serta jamur.
Alergen Ingestan, yang masuk ke saluran cerna, berupa makanan, misalnya
susu, telur, coklat, ikan dan udang.
Alergen Injektan, yang masuk melalui suntikan atau tusukan, misalnya
penisilin atau sengatan lebah.
Alergen Kontaktan, yang masuk melalui kontak dengan kulit atau jaringan
mukosa, misalnya bahan kosmetik atau perhiasan

Dengan masuknya allergen ke dalam tubuh, reaksi alergi dibagi menjadi


tiga tahap besar :
1. Respon Primer, terjadi eliminasi dan pemakanan antigen, reaksi non
spesifik
2. Respon Sekunder, reaksi yang terjadi spesifik, yang membangkitkan
system humoral, system selular saja atau bisa membangkitkan kedua
system terebut, jika antigen berhasil dihilangkan maka berhenti pada
tahap ini, jika antigen masih ada, karena defek dari ketiga mekanisme
system tersebut maka berlanjut ke respon tersier
3. Respon Tersier , Reaksi imunologik yang tidak meguntungkan

Sedangkan klasifikasi yang lebih baru menurut guideline dari ARIA,


2001 (Allergic Rhinitis and its Impact on Asthma) disdasarkan pada
waktu terjadinya gejala dan keparahannya adalah:
Berdasarkan lamanya terjadi gejala
Klasifikasi Gejala dialami selama
Intermitten Kurang dari 4 hari seminggu, atau kurang dari 4
minggu setiap saat kambuh.
Persisten Lebih dari 4 hari seminggu, atau lebih dari
4 minggu setiap saat kambuh.
Berdasarkan keparahan dan kualitas hidup
Ringan Tidak mengganggu tidur, aktivitas harian,
olahraga, sekolah atau pekerjaan. Tidak ada
gejala yang mengganggu.
Sedang sampai berat Terjadi satu atau lebih kejadian di bawah ini:
1. Gangguan tidur
2. gangguan aktivitas harian, kesenangan, atau
olah raga
3. gangguan pada sekolah atau pekerjaan
4. gejala yang mengganggu

D. PATOFISIOLOGIS RHINITIS ALERGI

Rinitis alergi merupakan suatu penyakit inflamasi yang diawali dengan tahap
sensitisasi dan diikuti dengan reaksi alergi. Reaksi awal terjadi ketika allergen di
udara memasuki hidung selama inhalasi dan kemudian diproses oleh limfosit,
yang menghasilkan antigen spesifik Ig E. Hal ini menyebabkan sensitisasi pada
orang yang secara genetik rentan terhadap allergen tersebut. Pada saat terjadi
paparan ulang melalui hidung, Ig E yang berikatan dengan sel mast berinteraksi
dengan allergen dari udara, dan memicu mediator inflamasi.
Reaksi segera terjadi dalam hitungan menit, yang menyebabkan pelepasan
cepat mediator yang terbentuk sebelumnya serta mediator yang baru dibuat
melalui jalur asam arakidonat. Mediator hipersensitivitas segera meliputi
histamine, leukotrien, prostaglandin, triptase, dan kinin. Mediator ini
menyebabkan vasodilatasi, peningkatan permeabilitas vascular, dan produksi
sekresi nasal. Histamine menyebabkan rinorea, gatal, bersin, dan hidung
tersumbat.
Dari 4 hingga 8 jam setelah paparan terhadap allergen pertama kali, dapat
terjadi reaksi fase lambat, yang diperkirakan disebabkan oleh sitokin yang
dibebaskan terutama oleh sel mast dan limfosit helper yang berasal dari timus.
Respon inflamasi ini dapat menjadi penyebab gejala kronik yang menetap
termasuk kongesti hidung.
Dengan masuknya antigen asing ke dalam tubuh terjadi reaksi yang secara
garis besar terdiri dari:
Respon primer ; Terjadi proses eliminasi dan fagositosis antigen (Ag). Reaksi
ini bersifat non spesifik dan dapat berakhir sampai disini. Bila Ag tidak
berhasil seluruhnya dihilangkan, reaksi berlanjut menjadi respon sekunder.
Respon sekunder ; Reaksi yang terjadi bersifat spesifik, yang mempunyai tiga
kemungkinan ialah sistem imunitas seluler atau humoral atau keduanya
dibangkitkan. Bila Ag berhasil dieliminasi pada tahap ini, reaksi selesai. Bila
Ag masih ada, atau memang sudah ada defek dari sistem imunologik, maka
reaksi berlanjut menjadi respon tersier.
Respon tersier ; Reaksi imunologik yang terjadi tidak menguntungkan tubuh.
Reaksi ini dapat bersifat sementara atau menetap, tergantung dari daya
eliminasi Ag oleh tubuh.

E. PREVALENSI RHINITIS ALERGI

Rinitis alergi merupakan masalah kesehatan global dengan prevalensi yang


terus meningkat serta dapat berdampak pada penurunan kualitas hidup
penderitanya, berkurangnya produktivitas kerja dan prestasi sekolah, serta dapat
mengganggu aktivitas social. Rinitis alergi juga mempengaruhi secara signifikan
terhadap anggaran kesehatan. Di Amerika biaya untuk rinitis alergi saja mencapai
2.7 milyar dolar setahun dan hampir 3.8 juta waktu bekerja dan sekolah hilang
setiap tahunnya akibat rinitis alergi.
Prevalensi rinitis alergi di Amerika Utara mencapai 10-20%, di Eropa sekitar
10-15%, di Thailand sekitar 20% dan Jepang 10%. Prevalensi di negara industri
lebih banyak daripada negara agraria, sedangkan diperkotaan lebih tinggi
daripada di pedesaan. Prevalensi rinitis alergi di Indonesia mencapai 1,5-12,4%
dan cenderung mengalami peningkatan setiap tahunnya. Di Indonesia aeroalergen
yang tersering menyebabkan rinitis alergi yaitu tungau, dan tungau debu rumah.
Rinitis alergi dapat meyebabkan ko-morbiditas antara lain sinusitis, asma
brokhial, konjungtivitis dan otitis media. Kejadian otitis media sangat erat
hubungannya dengan gangguan fungsi tuba Eustachius yang berkaitan dengan
tekanan telinga tengah

F. MANIFESTASI KLINIS (GEJALA/TANDA)

Gejala termasuk :
o Bersin berulangkali
o Hidung berair
(rhinorrhea)
o Tenggorokan, hidung,
kerongkongan gatal
o Mata merah, gatal,
berair
o Post-nasal drip
(keluarnya ingus)
Manifestasi klinis lainnya adalah :
Bersin berulang-ulang, terutama setelah bangun tidur pada pagi hari (umumnya
bersin lebih dari 6 kali).
Berdasarkan gejala yang menonjol, dibedakan atas golongan yang obstruksi
dan rinorea. Pemeriksaan rinoskopi anterior menunjukkan gambaran klasik
berupa edema mukosa hidung, konka berwarna merah gelap atau merah tua,
dapat pula pucat. Permukaanya dapat licin atau berbenjol. Pada rongga hidung
terdapat sekret mukoid, biasanya sedikit, namun pada golongan rinorea, sekret
yang ditemukan biasanya serosa dan dalam jumlah banyak.
Hidung meler. Cairan yang keluar dari hidung meler yang disebabkan alergi
biasanya bening dan encer, tetapi dapat menjadi kental dan putih keruh atau
kekuning-kuningan jika berkembang menjadi infeksi hidung atau infeksi
sinus.
Hidung gatal dan juga sering disertai gatal pada mata, telinga dan tenggorok.
Badan menjadi lemah dan tak bersemangat.
Gejala memburuk pada pagi hari waktu bangun tidur karena perubahan suhu
yang ekstrim, udara lembab, juga karena asap rokok dan sebagainya.
Keluhan subyektif yang sering ditemukan pada pasien biasanya napas berbau
(sementara pasien sendiri menderita anosmia), ingus kental hijau, krusta hijau,
gangguan penciuman, sakit kepala, dan hidung tersumbat.
Pada penderita THT ditemukan ronnga hidung sangat lapang, kinka
inferiordan media hipotrofi atau atrofi, sekret purulen hijau, dan krusta
berwarna hijau
Pasien dapat mengeluh hilangnya penciuman atau pengecapan, yang pada
banyak kasus disebabkan oleh sinusitis. Postnasal drip dapat disertai dengan
batuk dan serak
Gejala rhinitis yang tak ditangani dapat mengakibatkan insomnia, lemas,
lelah, dan memburuknya efisiensi kerja atau sekolah.
Rhinitis alergik merupakan factor resiko asma; sebanyak 78% pasien asma
mempunyai gejala nasal, dan sekitar 38% rhinitis alergik menderita asma
Sinusitis berulang dan kronik serta epistaksis (pendarahan hidung yang hebat)
berulang dan kronik adalah komplikasi dari rhinitis alergik.

G. DIAGNOSIS
Diagnosis rinitis alergi ditegakkan berdasarkan:
1. Anamnesis
Anamnesis sangat penting, karena sering kali serangan tidak terjadi dihadapan
pemeriksa. Hampir 50% diagnosis dapat ditegakkan dari anamnesis saja. Gejala
rinitis alergi yang khas ialah terdapatnya serangan bersin berulang. Gejala lain
ialah keluar hingus (rinore) yang encer dan banyak, hidung tersumbat, hidung dan
mata gatal, yang kadang-kadang disertai dengan banyak air mata keluar
(lakrimasi). Kadang-kadang keluhan hidung tersumbat merupakan keluhan utama
atau satu-satunya gejala yang diutarakan oleh. Perlu ditanyakan pola gejala
(hilang timbul, menetap) beserta onset dan keparahannya, identifikasi faktor
predisposisi karena faktor genetik dan herediter sangat berperan pada ekspresi
rinitis alergi, respon terhadap pengobatan, kondisi lingkungan dan pekerjaan.
Rinitis alergi dapat ditegakkan berdasarkan anamnesis, bila terdapat 2 atau lebih
gejala seperti bersin-bersin lebih 5 kali setiap serangan, hidung dan mata gatal,
ingus encer lebih dari satu jam, hidung tersumbat, dan mata merah serta berair
maka dinyatakan pasien menderita rhinitis alergi.

2. Pemeriksaan Fisik
Pada muka biasanya didapatkan garis Dennie-Morgan dan allergic shinner,
yaitu bayangan gelap di daerah bawah mata karena stasis vena sekunder akibat
obstruksi hidung. Selain itu, dapat ditemukan juga allergic crease yaitu berupa
garis melintang pada dorsum nasi bagian sepertiga bawah. Garis ini timbul akibat
hidung yang sering digosok-gosok oleh punggung tangan (allergic salute). Pada
pemeriksaan rinoskopi ditemukan mukosa hidung basah, berwarna pucat atau
livid dengan konka edema dan sekret yang encer dan banyak. Perlu juga dilihat
adanya kelainan septum atau polip hidung yang dapat memperberat gejala hidung
tersumbat. Selain itu, dapat pula ditemukan konjungtivis bilateral atau penyakit
yang berhubungan lainnya seperti sinusitis dan otitis media.

3. Pemeriksaan Penunjang
a. In vitro
Hitung eosinofil dalam darah tepi dapat normal atau meningkat. Demikian
pula pemeriksaan IgE total (prist-paper radio imunosorbent test) sering kali
menunjukkan nilai normal, kecuali bila tanda alergi pada pasien lebih dari satu
macam penyakit, misalnya selain rinitis alergi juga menderita asma bronkial atau
urtikaria. Lebih bermakna adalah dengan RAST (Radio Immuno Sorbent Test)
atau ELISA (Enzyme Linked Immuno Sorbent Assay Test). Pemeriksaan sitologi
hidung, walaupun tidak dapat memastikan diagnosis, tetap berguna sebagai
pemeriksaan pelengkap. Ditemukannya eosinofil dalam jumlah banyak
menunjukkan kemungkinan alergi inhalan. Jika basofil (5 sel/lap) mungkin
disebabkan alergi makanan, sedangkan jika ditemukan sel PMN menunjukkan
adanya infeksi bakteri.

b. in vivo
Alergen penyebab dapat dicari dengan cara pemeriksaan tes cukit kulit, uji
intrakutan atau intradermal yang tunggal atau berseri (Skin End-point
Titration/SET). SET dilakukan untuk alergen inhalan dengan menyuntikkan
alergen dalam berbagai konsentrasi yang bertingkat kepekatannya. Keuntungan
SET, selain alergen penyebab juga derajat alergi serta dosis inisial untuk
desensitisasi dapat diketahui. Untuk alergi makanan, uji kulit seperti tersebut
diatas kurang dapat diandalkan. Diagnosis biasanya ditegakkan dengan diet
eliminasi dan provokasi (Challenge Test). Alergen ingestan secara tuntas lenyap
dari tubuh dalam waktu lima hari. Karena itu pada Challenge Test, makanan yang
dicurigai diberikan pada pasien setelah berpantang selama 5 hari, selanjutnya
diamati reaksinya. Pada diet eliminasi, jenis makanan setiap kali dihilangkan dari
menu makanan sampai suatu ketika gejala menghilang dengan meniadakan suatu
jenis makanan.

H. PENANGANAN TERAPI
Penanganan terapi rhinitis alergi dapat dilakukan dalam 3 cara yaitu:
1. Non-farmakologi (mengindari allergen)
2. Farmakologi (Menggunakan obat untuk mengurangi gejala )
3. Immunoterapi (Dilakukan jika langkah farmakologi/farmakoterapi tidak
menunjukkan hasil yang optimal)

1. Terapi Non Farmakologi


Untuk terapi non farmakologi penderita rhinitis alergi, maka cara terbaik
adalah dengan menghidari kontak langsung dengan allergen.
Amati benda-benda apa yang menjadi pencetus (debu, serbuk sari, bulu
binatang, an lain-lain)
Jika perlu, pastikan dengan skin test
Jaga kebersihan rumah, jendela ditutup, hindari kegiatan berkebun. Jika
harus berkebun, gunakan masker wajah

2. Terapi Farmakologi
Menggunakan obat untuk mengurangi gejala
Antihistamin
Antihistamin reseptor histamine H1 berikatan dengan reseptor H1
tanpa mengaktivasi reseptor yang mencegah ikatan dan kerja histamine.
Antihistamin lebih efektif dalam mencegah respon histamine daripada
melawannya.
Antihistamin yang sering digunakan adalah antihistamin oral.
Antihistamin oral dibagi menjadi dua yaitu generasi pertama (nonselektif)
dikenal juga sebagai antihistamin sedatif serta generasi kedua (selektif)
dikenal juga sebagai antihistamin nonsedatif. Efek sedative antihistamin
sangat cocok digunakan untuk pasien yang mengalami gangguan tidur
karena rhinitis alergi yang dideritanya. Selain itu efek samping yang biasa
ditimbulkan oleh obat golongan antihistamin adalah efek antikolinergik
seperti mulut kering, susah buang air kecil dan konstipasi. Penggunaan
obat ini perlu diperhatikan untuk pasien yang mengalami kenaikan
tekanan intraokuler, hipertiroidisme, dan penyakit kardiovaskular.
Antihistamin sangat efektif bila digunakan 1 sampai 2 jam sebelum
terpapar allergen. Penggunaan antihistamin harus selalu diperhatikan
terutama mengenai efek sampingnya. Antihistamin generasi kedua
memang memberikan efek sedative yang sangat kecil namun secara
ekonomi lebih mahal.

Dekongestan
Golongan simpatomimetik yang beraksi pada reseptor adrenergik pada
mukosa hidung untuk menyebabkan vasokonstriksi, menciutkan mukosa
yang membengkak, dan memperbaiki pernafasan. Penggunaan
dekongestan topikal tidak menyebabkan atau sedikit sekali menyebabkan
absorpsi sistemik. Penggunaan agen topikal yang lama (lebih dari 3-5
hari) dapat menyebabkan rinitis medikamentosa, di mana hidung kembali
tersumbat akibat vasodilatasi perifer batasi penggunaan
kortikosteroid nasal
kortikosteroid intranasal secara efektif merdakan bersin, rinorea, ruam dan
kongesti nasal dengan efek samping yang minimal. Obat ini mereduksi
inflamasi dengan menghambat pembebasan mediator, penekanan
kemotaksis neutrofil, menyebabkan vasokonstriksi, dan menghambat
reaksi lambat yang diperantarai oleh sel mast.

Kromolyn Sodium
- Kromolyn sodium, penstabil sel mast tersedia sebagai obat bebas
dalam bentuk semprotan hidung untuk pencegahan gejala dan
penanganan rhinitis alergi.
- Zat ini bekerja dengan mencegah degranulasi sel mast yang dipicu
oleh antigen dan pelepasan mediator termasuk histamine.

Ipratropium bromide
- Obat semprot hidung ipatropium bromida merupakan zat
antikolenergik yang berguna dalam rhinitis alergik perennial.
- Zat ini mempunyai sifat antisekretori ketika diberikan secara local dan
meredakan gejala rinorea yang berkaitan dengan alergi dan bentuk lain
rhinitis kronis.
- Larutan 0,03% diberikan sebanyak 2 semprotan 2-3 kali sehari. Efek
sampingnya tergolongan ringan yaitu sakit kepala, epistaksis, dan
hidung kering.
Montelukast
- Montelukast adalah antagonis reseptor leukotrien untuk penanganan
rhinitis alergik musiman. Efektif ketika diberikan tunggal atau dalam
kombinasi dengan antihistamin.
- Dosis untuk dewasa dan remaja berumur lebih dari 15 tahun adalah 1
tablet 10 mg/hari. Anak-anak berusia 6-14 tahun dapat diberikan 1
tablet kunyah 5 mg/hari. Sedangkan anak berusia 2-5 tahun dapat
diberikan tablet kunyah 4 mg/hari atau 1 bungkus serbuk/hari.

3. Imunoterapi
Imunoterapi spesifik sangat efektif untuk Rinitis Alergika terutama jika
penyebabnya terbatas. Seperti penggunaan untuk penyakit lain, sangat penting
dilakukan pemilihan pasien yang tepat. Efektifitas imunoterapi terhadap
Rinitis Alergika musiman (Seasonal Allergic Rhinitis) terutama yang gagal
dengan pengobatan konvensional, telah banyak dibuktikan pada beberapa
penelitian. Data yang telah ada menunjukkan bahwa pemberian imunoterapi
selama 3 tahun pada Rinitis Alergika cukup efektif memberi penyembuhan,
dan kasiatnya masih bertahan sampai 6 tahun setelah imunoterapi dihentikan.
Hal ini sangat kontras dengan pengobatan konvensional yang biasanya
berhenti kasiatnya begitu pengobatan dihentikan.
Kegunaan imunoterapi untuk rinitis alergi perrenial kurang memuaskan
dibanding rinitis alergika musiman. Hal ini mencerminkan lebih kompleksnya
faktor penyebab rinitis alergi perrenial. Selain alergi, ada penyebab lain yaitu
instabilitas vasomotor, infeksi, dan sensitifitas terhadap aspirin. Beberapa
penelitian membuktikan adanya perbaikan toleransi terhadap paparan dengan
bulu kucing, baik melalui uji provokasi maupun klinis.
Jenis Imunoterapi
Local nasal aeroallergen immunotherapy
Merupakan bentuk imunoterapi alternatif yang menggunakan larutan
alergen yang disemprotkan ke mukosa hidung dengan interval waktu
tertentu. Efek samping lokal yang timbul berupa pruritus, kongesti dan
bersin. Belum ada penelitian yang merekomendasikan bentuk ini sebagai
salah satu imunoterapi.

Alum-precipitated allergen extracts


Adalah modifikasi ekstrak alergen cair dengan melakukan presipitasi
protein dengan menggunakan aluminium hidroksida yang didahului
dengan ekstraksi alergen dengan piridin untuk menghasilkan efek sistemik
yang lebih sedikit. Dengan demikian dimungkinkan untuk memberikan
imunoterapi dengan
peningkatan dosis yang lebih cepat sehingga mengurangi jumlah suntikan.
Contoh ekstrak piridin alum-precipitated pada rumput terbukti efektif
tetapi pada ragweed akan mengalami denaturasi sehingga efektivitasnya
berkurang.

Ekstrak alergen dimodifiksi


Agregasi protein dan ekstrak alergen cair akan mengurangi sifat alergen
sedangkan imunogenisitasnya dapat dipertahankan. Terdapat dua metode
modifikasi yaitu formalin-treated allergen (allergoids) dan
glutaraldehyde-treated allergen (polymerized allergen extracts). Regimen
ini memungkinkan
program imunoterapi diselesaikan 10-15 kali suntikan dengan efek
samping reaksi sistemik kurang dari 1%.

Imunoterapi sublingual/oral
Sebagai alternatif pemberian imunoterapi yang lebih aman dan nyaman
bagi pasien adalah ekstrak tumbuhan yang di- campur dengan alergen dan
diberikan secara oral atau sub-lingual. Beberapa studi menyebutkan
keberhasilan imunoterapi pada rhinitis alergi. Cara kerja imunoterapi
sublingual adalah dengan mengubah respons limfosit T terhadap alergen.

Pemberian imunoterapi sublingual ternyata lebih hemat, lebih aman dan


nyaman bagi pasien serta tidak memerlukan supervisi medis dalam
pelaksanaan tetapi efektifitinya lebih rendah daripada imunoterapi
suntikan.

Imunoterapi lokal dengan dosis tinggi telah dipakai pada awal pertengahan
abad 20. Pada tahun 1998 European Academy of Allergy and Clinical
Immunology mengevaluasi publikasi mengenai lokal imunoterapi antara
lain imunoterapi nasal, sublingual, dan intrabronkial. Efek samping lebih
sedikit pada prosedur ini dan efektif pada rinitis alergika. Penelitian di
Indonesia menunjukkan bahwa imunoterapi sublingual dosis rendah juga
efektif pada pengobatan asma pada anak. Pada penelitian ini dibuktikan
tejadi perbaikan variabilitas PEFR dan penurunan penggunaan obat
setelah imunoterapi sublingual selama 3 bulan.

Enzyme-Potentiated Desensitisation.
Pada prosedur ini dosis kecil allergen diberikan bersama enzim beta-
glucuronidase. Dosis alergen hanya 0.1% dari dosis subkutan, efek
samping tidak pernah dilaporkan. Enzim beta-glucuronidase
menyebabkan alergen lebih mudah mencapai sistim imun.dengan efisien
dibanding tanpa enzim.

Desensitisasi Homeopathik.
Konsep homeopati adalah pemberian dosis kecil penyebab penyakit.
Pengobatan ini terbukti efektif pada pemberian dosis kecil pollen untuk
penderita Hay Fever.
I. KASUS

Ny. WA umur 25 th datang ke Puskesmas dengan keluhan batuk yang


awalnya kering dan menjadi sering dan berdahak sejak 2 hari terakhir. Dia
juga mengeluh tidak enak badan, pegal-pegal, sakit kepala, flu dan hidung
berair. Setiap kali batuk terdengar bunyi aneh seperti siulan. Ny WA sudah 3
bulan menggunakan oral kontrasepsi. Ny. WA suaminya merokok 2
bungkus/hari.
Hasil pemeriksaan fisik menunjukan: Suhu 38 C, BB 50 kg, Tb 163 cm. Obat
yang diberikan: Amoksisilin 3x500 mg/hari, Cetirizin 1x1, Dekstrometorfan
3x1, GG 3x1
Hasil Robtgen dada: Normal.

Riwayat Penyakit : keluhan batuk yang awalnya kering dan menjadi sering dan
berdahak sejak 2 hari terakhir. Dia juga mengeluh tidak enak badan, pegal-pegal,
sakit kepala, flu dan hidung berair. Setiap kali batuk terdengar bunyi aneh seperti
siulan.

Riwayat Pengobatan: Ny WA sudah 3 bulan menggunakan oral kontrasepsi,


Amoksisilin 3x500 mg/hari, Cetirizin 1x1, Dekstrometorfan 3x1, GG 3x1

Gejala dan Tanda :

- Tanda Vital : suhu tubuh meningkat, batuk berdahak, tidak enak


badan, pegal-pegal, sakit kepala, flu dan hidung berair.
- Laboratorium : -

TATA LAKSANA
1. Tujuan Terapi
Untuk menghilangkan gejala dan penyebab rhinitis alergi
2. Strategi Terapi
Melakukan skin test care untuk mengetahui sebab terjadinya alergi serta
melakukan terapi non farmakologi dan non farmakologi.
3. Terapi Non Farmakologi
Hindari factor pencetus, disini asap rokok, bila perlu menggunakan masker
selama terdapat asap rokok. Meningkatkan kondisi badan dengan asupan gizi
yang cukup, olahraga serta istirahat yang cukup.
4. Terapi Farmakologi
Amoksisilin 3x500 mg/hari, Cetirizin 1x1, Dekstrometorfan 3x1, GG 3x1

II. KASUS
Ny. TB (36 tahun) Pasien datang ke poliklinik THT dengan keluhan
pilek kambuh-kambuhan kurang lebih 10 tahun, memberat 1 bulan ini.
Pasien sering bersin-bersin apabila menghirup serbuk bunga salak (mata
pencaharian pasien sebagai petani salak), tetapi dirasakan 1 tahun ini lebih
sering dari sebelum-sebelumnya dan membuat pasien berhenti bekerja.
Hidung dirasakan tersumbat, dan keluar ingus cair. Pasien juga mengeluh di
tenggorokan terasa gatal. Mata kadang sampai nrocos. Bila pagi hari dan
udara dingin pilek dirasakan bertambah, bersin-bersin juga dikeluhkan
bertambah. Pasien tidak demam saat datang ke poliklinik, tetapi dalam 1
bulan ini kadang-kadang muncul demam. Pasien bolak-balik berobat ke
puskesmas, tetapi tidak mereda.
Riwayat Penyakit Dahulu :
Keluhan ini muncul kambuh-kambuhan sejak pasien bekerja di kebun salak
kurang lebih 10 tahun, pasien hanya berobat di puskesmas bila berat. Pasien
belum pernah melakukan tes alergi. Riwayat penyakit asma disangkal pasien.

Riwayat Penyakit Keluarga :


Tidak ada yang menderita penyakit serupa dengan pasien

TERAPI
1. Control lingkungan dengan mengusahakan penghindaran terhadap allergen
penyebab (disini pollen bunga salak)
2. Simptomatis
Diperlukan apabila terjadi komplikasi seperti sinusitis, hipertrofi konka atau
polip nasi. Tindakan konkotomi (pemotongan kedua konka inferior) perlu
dipikirkan bila konka inferior hipertrofi berat dan tidak berhasil dikecilkan
dengan cara kauterisasi memakai AgNO3 25% atau triklor asetat

RENCANA TINDAKAN
- Terapi simptomatis karena belum terjadi komplikasi
- Menjaga control lingkungan untuk menghindari allergen
- Test alergi

MASALAH
Pasien tinggal di dekat kebun salak sehingga factor pencetus tetap ada

TES NON FARMAKOLOGI


- Test alergi
- Obat digunakan sesuai aturan
- Apabila obat habis atau keluhan semakin bertambah segera control
- Hindari factor pencetus, disini serbuk bunga salak
- Meningkatkan kondisi badan dengan asupan gizi yang cukup, olahraga serta
istirahat yang cukup

TES FARMAKOLOGI
Antihistamin : Cerini (cetirizine 10mg)
Dekongestan : Pseudoefedrin 3x60 mg
Kortikosteroid : dexamethasone 2x0,5 mg
DAFTAR PUSTAKA

Behrman, dkk. 2000. Ilmu Kesehatan Anak Nelson Vol.1 Edisi 15. Jakarta: EGC

Behrman, dkk. 2000. Ilmu Kesehatan Anak Nelson Vol.2 Edisi 18. Jakarta: EGC-
Carpenito, Lynda Juall.2009. Diagnosis Keperawatan Aplikasi Pada Praktik
Klinis Edisi 9. Jakarta : EGC

Dorland, WA. Newman. 2002. Kamus Kedokteran Dorland Edisi 29. Jakarta: EGC

Doengoes, Mariliynn E. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan, Jakarta : EGC

Hassan, rusepno dkk. 1985. Ilmu Kesehatan Anak Edisi 2. Jakarta: Info Medika

Junadi, purnawan dkk. 1982. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta: Media Aesculapius

Long, barbara C. 1996. Perawatan Medikal Bedah. Bandung: Yayasan IAPK


Pajajaran

Mansjoer, arif dkk. 1993. Kapita Selekta Kedokteran Jilid.1 Edisi 3. jakarta : Media
Aesculapius

Price, silvya A. 1995. Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit Edisi 4.


Jakarta : EGC

Price, Sylvia. 2005. Patofisiologis : Konsep Klinis Proses-proses Penyakit. Jakarta :


EGC

Smeltzer, suzanne C. 2001. Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta: EGC

Soepardi, efiaty arsyad. 1997. Telinga-Hidung-Tenggorok. Jakarta : fakultas


kedokteran universitas indonesia

Yulinah, elin, dkk. 2008. Iso Farmakoterapi. Jakarta: PT ISFI