Anda di halaman 1dari 10

JOURNAL READING

Effectiveness of Second-Generation Antihistamine for the Treatment of


Morning Symptoms Observed in Patients with Perennial Allergic Rhinitis ;
Comparison Study of Bepotastine Besilate versus Olopatadine Hydrocloride

Disusun Oleh:
Rannissa Puspita Jayanti
110.2012.225

Pembimbing:
dr. Fahmi Attaufany, Sp.THT-KL

KEPANITERAAN KLINIK BAGIAN ILMU KESEHATAN THT


RUMAH SAKIT UMUM DAERAH SOREANG
FEBRUARI - MARET 2017
Efektivitas dari Antihistamin Generasi Kedua untuk Pengobatan Gejala-Gejala di Pagi
Hari Diteliti pada Pasien dengan Rinitis Alergi Perenial ; Penelitian Perbandingan Antara
Bepotastine Besilate dengan Olopatadine Hidroklorida.

Abstrak

Objektif ; Tujuan dari penelitian ini untuk menilai strategi penatalaksanaan berbasis irama
sirkadian dengan tujuan untuk meningkatkan farmakoterapi dari gejala-gejala di pagi hari pada
rinitis alergi perenial. Penulis meneliti efek dari antihistamin generasi kedua dengan parameter
farmakokinetik yang berbeda, bepotastine besilate dan olopatadine hidroklorida, untuk terapi
gejala-gejala di pagi hari.

Metode ; Dua puluh empat subjek dengan rinitis alergi perenial diambil untuk mengikuti
penelitian ini. Mereka secara acak dimasukkan pada kelompok bepotastine (n=10) atau
kelompok olopatadine (n=14). Selama periode satu jam sesudah bangun tidur, pasien dihitung
dan dicatat jumlah bersin dan membersihkan cairan hidung. Laju puncak inspirasi pernapasan
hidung juga diukur. Partisipan penelitian meminum obat tersebut sebanyak dua kali sehari.
Mereka melanjutkan pencatatan perubahan gejala-gejala pada hidung mereka dan laju puncak
inspirasi pernapasan hidung setelah bangun di pagi hari selama 10-14 hari.

Hasil ; Pada kedua kelompok, yang meminum bepotastine dan olopatadine, jumlah rata-rata
bersin dan mengeluarkan cairan dari hidung keduanya berkurang. Tetapi, perubahan signifikan
pada sumbatan hidung tidak diteliti lebih lanjut. Terutama pada kelompok olopatadine, laju
puncak inspirasi pernapasan hidung meningkat setelah dua hari penggunaan dan adanya
peningkatan signifikan setelah diobservasi selama 10 hari.

Kesimpulan ; Gejala pada hidung yang bertambah parah sesudah bangun tidur dihubungkan
dengan rinitis alergi perenial memiliki dampak signifikan pada kualitas hidup pasien.
Antihistamin generasi kedua, bepotastine besilate dan olopatadine hydrocloride dinilai efektif
untuk tatalaksana dari gejala pada pagi hari. Penilaian pada laju puncak pernapasan hidung
sangat berguna untuk evaluasi pribadi dari sumbatan hidung dan efek dari terapi. Sudut pandang
penilaian dengan kronoterapi dapat meningkatkan kepuasan pasien akan hasil dari farmakoterapi.

Pendahuluan

Kronobiologi adalah ilmu dari ritme biologikal dan waktu bilogis yang mengatur
manusia. Irama sirkadian mempengaruhi gejala dari penyakit dan dampak dari farmakokinetik
dan farmakodinamik dari banyak obat-obatan. Karena itu, fenomena ini kadang-kadang sangat
penting untuk tatalaksana rinitis alergi. Irama sirkadian mempengaruhi saluran cerna, hati dan
ginjal, juga berpengaruh pada penyerapan, penyaluran dan pembuangan obat. Karena itu, efek
dari obat dapat berbeda tergantung dari apakah mereka dimakan di pagi hari atau malam hari.

Asma bronkial lebih cenderung bertambah parah dan timbul pada malam hari.
Kronobiologi dan kronoterapi dari asma adalah subjek yang penting untuk diteliti. Irama
sirkadian mempengaruhi sistem saraf otonom, fungsi endokrin dan inflamasi saluran napas,
sehingga dapat berperan pada patogenesis dari asma bronkial. Gejala dari rinitis alergi juga
memiliki dampak pada fenomena ini dan fungsi sirkadian lainnya. Pada pasien dengan rinitis
alergi, gejala-gejala pada hidung yang bertambah parah setelah bangun tidur sering dipantau.
Fenomena ini dinamakan serangan pagi. Pada rinitis alergi, intensitas hidung tersumbat,
rhinorrhea dan bersin adalah gejala terhebat pada pagi hari dan terjadi pada setidaknya 70%
pasien. Satu atau lebih dari faktor-faktor dapat berkontribusi untuk munculnya kongesti hidung
yang hebat di pagi hari, kongesti hidung akan bertambah parah pada pasien dengan posisi
berbaring, akumulasi sekrest selama semalaman, terpapar alergen seperti tungau, debu dan bulu
binatang dapat terjadi ketika tidur, tingkat kortisol yang akan merendah pada malam (ini akan
mengakibatkan mediator inflamasi meningkat), dan aktivitas sistem saraf otonom pada malam
hari akan menyebabkan tonus vagal, cenderung kepada vasodilatasi.

Tujuan dari penelitian ini untuk menilai strategi tatalaksana berdasarkan irama sirkadian
dengan tujuan untuk meningkatkan farmakoterapi pada rinitis alergi. Pada penelitian ini, penulis
menitikberatkan pada pengobatan gejala di pagi hari. Penulis meneliti efek dari antihistamin
generasi kedua, dengan parameter farmakokinetik yang berbeda, bepotastine besilate dan
olopatadine hidrokloride, untuk pengobatan dari gejala-gejala di pagi hari.

Metode

Subjek Penelitian

Dua puluh empat subjek diambil untuk penelitian ini. Seluruh subjek adalah pasien
dengan rinitis alergi perenial berhubungan dengan alergi tungau dan debu rumah (19 wanita, 5
laki-laki; 32 5 tahun). Beberapa pasien memiliki rinitis alergi seasonal. Seluruh pasien dengan
rinitis alergi sudah diuji dan positif pada rinitis alergi karena tungau, sesuai dengan diagnosis
berdasarkan riwayat medis dari rhinosinusitis sedang-berat, pemeriksaan rhinoskopi, apusan
hidung untuk eosinophilia dan tes intradermal atau penentuan antibodi spesifik IgE
menggunakan capsulated hydrophobic carrierr polymer radioallergosorbent test (CAP-RAST).
Kriteria yang termasuk rhinitis alergi menunjukkan hasil CAP-RAST yang positif (bernilai 2
atau lebih) atau skin prick test yang positif (diameter bulatan 5 mm) terhadap debu rumah dan
tungau.

Desain Penelitian

Selama dua minggu sebelum penelitian, tidak ada subjek yang menerima pengobatan anti
alergi, seperti Antihistamin atau kortikosteroid intranasal. Selama periode 1 jam sesudah bangun
di pagi hari, pasien dihitung dan dicatat jumlah bersin dan berapa kali membuang cairan dari
hidungnya menggunakan lembar ceklis mandiri. Sumbatan hidung dievaluasi menggunakan
skala 5 poin (0-4), berdasarkan klasifikasi keparahan gejala yang digunakan oleh orang Jepang
terhadap rhinitis alergi. Laju puncak inspirasi hidung diukur menggunakan alat pengukur laju
inspirasi portable dengan masker anestesi untuk evaluasi sumbatan hidung.

Laju puncak inspirasi pernapasan hidung diukur saat subjek dalam posisi duduk. Tidak
ada celah dari masker dan setiap pasien diinstruksikan untuk membuat usaha inspirasi maksimal
dengan mulut tertutup. Hasil terbaik dari tiga kali kesempatan digunakan, tentunya setelah
latihan yang layak dilakukan terhadap pasien. Tiga hari sebelum pengobatan dimulai, subjek
diminta untuk mencatat gejala dari hidung dan nilai laju puncak inspirasi pernapasan hidung
selama 1 jam sesudah subjek terbangun. Rata-rata dari hitungan dan data yang didapatkan selama
periode tiga hari ini digunakan sebagai nilai kontrol.

Penulis mengadakan penelitian ini untuk evaluasi efek inhibitor dari antihistamin,
Bepotastine besilate (10mg) dan olopatadine hidroklorida (5mg), pada gejala yang timbul di pagi
hari dari hidung pasien dengan rhinitis alergi. Partisipan penelitian mengambil obat yang
diberikan sebanyak dua kali per hari (sesudah sarapan dan sebelum tidur). Mereka terus mencatat
gejala yang timbul pada hidung dan laju puncak inspirasi pernapasan hidung setelah bangun
selama 10-14 hari. Dua puluh empat subjek dibagi secara acak ke dalam kelompok bepotastine
(kelompok B; n=10) dan kelompok olopatadine (kelompok O; n=14).

Analisis Statistik

Data ditunjukkan dalam rata-rata standar eror dari rata-rata. Gejala hidung dan nilai laju
puncak inspirasi pernapasan hidung pada setiap titik pengukuran dibandingkan dengan yang
diteliti sebelum pemberian obat. Wilcoxan signed-rank test digunakan untuk analisis statistik.
Perbedaan dengan nilai P kurang dari 0.05 dianggap signifikan.

Hasil

Tingkat gabungan rata-rata adalah sekitar 92%.


A. Gejala Hidung Setelah 1 Jam Pasien Bangun

1. Bersin

Rata-rata SEM penghitungan bersin sebelum penelitian adalah 1.43 0.45 untuk
kelompok B dan 2.64 1.60 untuk kelompok O. Pada kelompok B, rata-rata penghitungan bersin
menurun secara signifikan pada hari ke tiga, tujuh, sepuluh dan tiga belas. Pada kelompok O,
menurun secara signifikan pada hari ke dua dan berhasil ditekan untuk 10 hari selanjutnya.

*p 0.05 kelompok O vs sebelum pemberian

**P 0.05 kelompok O vs sebelum pemberian

#p 0.05 kelompok B vs sebelum pemberian

2. Rhinorrhea

Rata-rata penghitungan pengeluaran cairan dari hidung sebelum penelitian adalah 2.30
0.5 untuk kelompok B dan 2.71 0.45 untuk kelompok O. Pada kelompok B, rata-rata
penghitungan pengeluaran cairan dari hidung berkurang pada hari ke dua. Tapi jumlahnya
bervariasi dari hari ke hari dan berkurang di hari ke sebelas dan empat belas. Pada kelompok O,
gejala berkurang secara signifikan dari hari kedua dan berhasil ditekan untuk 10 hari selanjutnya.

*p 0.05 kelompok O vs sebelum pemberian

**P 0.05 kelompok O vs sebelum pemberian


#p 0.05 kelompok B vs sebelum pemberian

3. Sumbatan Hidung

Rata-rata nilai sumbatan hidung, menggunakan skala 5 poin sebelum penelitian 1.70
0.26 pada kelompok B dan 1.86 0.21 pada kelompok O. Pada kedua kelompok, perubahan
secara signifikan dari nilai sumbatan hidung tidak terlalu diperhatikan. Dalam perbandingan dan
nilai lain, perubahan signifikan tidak terlihat pada kedua kelompok.

*p 0.05 kelompok O vs sebelum pemberian

B. Pengukuran Laju Puncak Inspirasi Pernapasan Hidung Dalam 1 Jam Sesudah Bangun

Rata-rata SEM dari nilai laju puncak inspirasi pernapasan hidung diukur sebelum
penelitian adalah 73.5 3.80 untuk kelompok B dan 72.1 7.00 untuk kelompok O. Pada
kelompok B, laju puncak inspirasi pernapasan hidung meningkat selama penelitian, tapi
perubahan secara statistik signifikan hanya pada hari ke sebelas. Di kelompok O, laju puncak
inspirasi pernapasan hidung meningkat dari hari ke dua dan meningkat secara signifikan selama
10 hari setelahnya. Terutama di kelompok O, peningkatan signifikan dari laju puncak inspirasi
pernapasan hidung terlihat.

*p 0.05 kelompok O vs sebelum pemberian

**P 0.05 kelompok O vs sebelum pemberian

#p 0.05 kelompok B vs sebelum pemberian


Diskusi

Waktu obat mencapai konsentrasi maksimal dan waktu paruh Bepotastine besilate adalah
1.2 dan 2.4 jam, sedangkan untuk olopatadine hydrocloride adalah 1.0 dan 8.8 jam. Obat dengan
waktu paruh yang panjang dan waktu maksimal yang sebentar akan berguna untuk mengontrol
gejala-gejala pada pagi hari dari rinitis alergi, bila diminum sebelum tidur dan sesudah sarapan.
Hasil dari keilmuan sekarang mengindikasikan bepostatine dan olopatadine akan berguna untuk
meredakan gejala pagi hari dari rhinitis alergi, terutama pada kelompok olopatadine. Laju puncak
inspirasi pernapasan hidung meningkat sejak hari kedua dan terdapat kenaikan yang signifikan
pada 10 hari berikutnya. Waktu paruh dari olopatadine adalah 8.8 jam, dimana ini lebih lama dari
bepotastine. Karena itu, efek dari olopatadine yang diminum saat malam hari akan lebih lama
dan menjanjikan dibanding bepotastine. Di sisi lain, dosis di pagi hari dengan obat-obatan kerja
cepat dapat mengontrol gejala di pagi hari. Waktu untuk mencapai kerja maksimal dari kedua
obat ini adalah 1.0 dan 1.2 jam. Karena itu kedua obat ini dapat diharapkan bekerja dengan cepat
dari segi medis. Walaupun anti leukotrien juga berguna untuk mengobati Rhinitis Alergi,
farmakokinetiknya berbeda dengan anti histamin. Waktu maksimal dan waktu paruh dari
montelukast sodium adalah 3.9 dan 4.6 jam, dimana untuk pranlukast hydrate adalah 5.2 dan 1.2
jam. Penulis menyimpulkan bahwa waktu maksimal mereka terlalu lama untuk mengontrol
gejala pagi dari rhinitis alergi bila dimakan setelah sarapan. Efek dari montelukast bila diminum
di malam hari akan bertahan sampai pagi hari, perbandingan penelitian menggunakan anti
leukotrien juga mendapat perhatian dari penulis.

Pada penelitian ini, penulis mengambil pasien yang bekerja pada jam reguler di tempat
yang sama. Banyak dari mereka yang merupakan anggota staf dari rumah sakit dan wanita.
Karena itu rasio jenis kelamin pada penelitian ini antara laki-laki dan wanita tidak seimbang (5
laki-laki dan 19 perempuan). Serangan pagi hari pada rinitis alergi tidak terkait dengan jenis
kelamin ataupun umur. Walaupun jumlah partisipan tidak banyak, tapi penulis menganalisis
subjek tidak berdasarkan karakteristik pasien.

Bersin dan keluar cairan dari hidung berkurang secara significant dua hari setelah
pengobatan dimulai. Untuk hidung tersumbat, tidak ada perubahan yang signifikan. Mungkin
dikarenakan penelitian ini dilakukan selama 1 jam sesudah subjek bangun. Berdasarkan
Japanese guideline untuk rinitis alergi, tingkat dari hidung tersumbat harus dievaluasi
berdasarkan ada tidaknya pernapasan mulut selama sehari sehingga bila evaluasi dilakukan
dalam periode 1 jam seperti pada penelitian ini tidak dianjurkan.

Laju puncak ekspirasi pernapasan digunakan untuk mengukur tatalaksana dari penyakit
saluran napas bawah seperti asma bronkial. Di sisi lain, laju puncak inspirasi pernapasan hidung
tidak sering digunakan pada penyakit saluran napas atas. Penggunaan secara klimis dari laju
puncak inspirasi pernapasan hidung untuk evaluasi dari hidung tersumbat direkomendasikan oleh
ARIA, dan beberapa penelitian telah mendemonstrasikan kegunaan dari laju puncak inspirasi
pernapasan hidung. Pada penelitian ini, kami menggunakan pengukur laju insipirasi pernapasan
portable, biasa digunakan untuk tatalaksana asma bronkial. Pengggunaan masker wajah yang
dihubungkan ke alat ini, dapat digunakan sebagai alat evaluasi dari hidung tersumbat.

Pada permulaan dari penelitian, penulis melakukan wawancara medis dan


mengkonfirmasi bahwa pasien dengan gejala pagi pada hidung sudah memburuk. Tetapi, tidak
ada subjek yang sebelumnya mendengar dokter menyebutkan fenomena serangan pagi.
Penelitian ini berhubungan dengan rinitis alergi perenial, tetapi banyak pasien juga menderita
dengan serangan rinitis alergi seasonal pada kehidupan sehari-hari mereka. Saat penggunaan anti
histamine generasi kedua digunakan sehari-hari, penulis menyarankan pasien untuk memakannya
sesudah makan pagi atau sebelum tidur dan tidak dijelaskan secara terperinci terhadap perbedaan
kedua cara ini.

Penelitian sebelumnya mempelajari tentang kronoterapi menggunakan antihistamine


meqitazine. Meqitazine (7.5 mg) lebih berguna saat digunakan sesudah makan malam untuk
tatalaksana dari serangan pagi hari dari rinitis alergi perenial. Bepotastine besilate dan
olopatadine hidrocloride biasa digunakan dua kali sehari tapi dengan mempertimbangkan waktu
paruh dan waktu maksimalnya. Kedua obat ini bagus digunakan untuk tatalaksana serangan pagi
hari dan efektif melawan hidung tersumbat.

Hasil dari survei pada 770 pasien menunjukkan bahwa serangan di pagi hari timbul pada
66% rinitis alergi perenial dan 56% rinitis alergi seasonal, penelitian lain yang melibatkan 756
pasien dengan rinitis alergi perenial menunjukkan bahwa bersin, rinorrea dan hidung tersumbat
akan bertambah parah ketika bangun tidur. Pada penelitian sekarang, akan lebih tidak mungkin
untuk meminta kepada seluruh pasien mencatat gejala-gejala yang timbul pada hidung mereka
selama 24 jam dikarenakan pekerjaan mereka. Karena itu, penelitian ini hanya meneliti mengenai
gejala di pagi hari dan bukan serangan pagi, walaupun begitu tujuan dari penelitian ini tetap
tercapai.

Saat ini, hubungan antara rinitis alergi dan gangguan tidur telah menjadi perhatian.
Pengobatan kortikosteroid intra nasal dan atau antagonis resptor leukotrien dapat mengurangi
kongesti nasal pada malam hari dan sebagai hasilnya, meningkatkan kualitas tidur. Antihistamin
generasi pertama tidak efektif untuk kongesti hidung dan menyebabkan mengantuk di siang hari
bertambah parah. Di sisi lain, antihistamin generasi kedua telah membuktikan bahwa dapat
melegakan hidung tersumbat. Tetapi, efek di malam hari dari antihistamin generasi kedua belum
diteliti lebih lanjut.

Survei dari internet pada orang jepang terkait rinitis alergi seasonal melaporkan bahwa
hanya 35% dari pasien merasa puas dengan antihistamine generasi pertama yang diresepkan
kepada mereka, sampai saat ini kronoterapi untuk rinitis alergi belum terlalu dipertimbangkan.
Pengukuran menggunakan nilai laju puncak inspirasi pernapasan hidung disenangi sebagai
evaluasi pribadi terhadap gejala hidung dan efek terapi.

Kesimpulan

Gejala pada hidung yang bertambah parah sesudah bangun tidur dihubungkan dengan
rinitis alergi perenial yang memiliki dampak signifikan pada kualitas hidup pasien. Antihistamin
generasi kedua, bepotastine besilate dan olopatadine hydrocloride dinilai efektif untuk
tatalaksana dari gejala pada pagi hari. Evaluasi dari hidung tersumbat menggunakan nilai
subjektif tidak dapat diterapkan pada waktu observasi yang sebentar, seperti satu jam. Penilaian
pada laju puncak inspirasi pernapasan hidung sangat berguna untuk evaluasi pribadi dari
sumbatan hidung dan efek dari terapi. Sudut pandang penilaian dengan kronoterapi dapat
meningkatkan kepuasan pasien akan hasil dari farmakoterapi.

Referensi

1. Reinberg A, Smolensky MH (1982) Circadian changes of drug

disposition in man. Clin Pharmacokinet 7: 401-420.

2. Vener KJ, Moore JG (1988) Chronobiologic properties of the alimentary

canal affecting xenobiotic absorption. Annu Rev Chronopharmacol 4:

257-281.

3. Smolensky MH, Reinberg A, Labrecque G (1995) Twenty-four hour

pattern in symptom intensity of viral and allergic rhinitis: treatment

implications. J Allergy Clin Immunol 95: 1084-1096.

4. Storms WW (2004) Pharmacologic approaches to daytime and nighttime

symptoms of allergic rhinitis. J Allergy Clin Immunol 114: S146-153.

5. Reinberg A, Gervais P, Ugolini C, Del Cerro L, Ricakova-Rocher A, et al.

(1986) A multicentric chronotherapeutic study of mequitazine in allergic

rhinitis. Ann Rev Chronopharmacol 3: 441-444.

6. Martin RJ (1993) Characteristics and mechanisms of nocturnal asthma.


Allergy Proc 14: 1-4.

7. Martin RJ (1993) Nocturnal asthma: circadian rhythms and therapeutic

interventions. Am Rev Respir Dis 147: S25-28.

8. Meltzer EO (2002) Dose rhinitis compromise night-time sleep and

daytime productivity? Clin Exp Allergy Rev 2:67-72.

9. Binder E, Holopainen E, Malmberg H, Salo O (1982) Anamnestic data in

allergic rhinitis. Allergy 37: 389-396.

10. Okubo K, Kurono Y, Fujieda S, Ogino S, Uchio E, et al. (2011) Japanese

guideline for allergic rhinitis. Allergol Int 60: 171-189.

11. Reinberg A, Gervais P, Levi F, Smolensky M, Del Cerro L, et al. (1988)

Circadian and circannual rhythms of allergic rhinitis: an epidemiologic

study involving chronobiologic methods. J Allergy Clin Immunol 81:

51-62.

12. Bousquet J, Van Cauwenberge P, Khaltaev N; Aria Workshop Group;

World Health Organization (2001) Allergic rhinitis and its impact on

asthma. J Allergy Clin Immunol 108: S147-334.

13. Ottaviano G, Scadding GK, Coles S, Lund VJ (2006) Peak nasal

inspiratory flow; normal range in adult population. Rhinology 44: 32-35.

14. Starling-Schwanz R, Peake HL, Salome CM, Toelle BG, Ng KW, et al.

(2005) Repeatability of peak nasal inspiratory flow measurements and

utility for assessing the severity of rhinitis. Allergy 60: 795-800.

15. Lunn M, Craig T (2011) Rhinitis and sleep. Sleep Med Rev 15: 293-299.