Anda di halaman 1dari 78

LINGKUNGAN BISNIS & HUKUM

KOMERSIAL
HUKUM ASURANSI

MAKALAH

Diajukan untuk Memenuhi dan Melengkapi Salah Satu Syarat untuk


Lulus
Mata Kuliah Lingkungan Bisnis & Hukum Komersial Pada Studi
Pendidikan Profesi Akuntansi (PPAk) pada Fakultas Ekonomi Universitas
Widyatama
Dosen Pembimbing : Dr. Nina Nurani, S.H., M.Si.

Disusun oleh:
Kelompok 2

Erma Purwita 15133P037


Anwar Setiawan 15133P044
Ariyo Nur Syuhada 15133P046
Fany Riyantina Oktora 15133P047

FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS WIDYATAMA


Terakreditasi (Accredited)
SK Ketua Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT)

1
2

No. 001/BAN-PT/Ak-I/PP/XII/2009
BANDUNG
2014
BAB I
PENDAHULUAN

Asuransi merupakan salah satu buah peradaban manusia dan merupakan


suatu hasil evaluasi kebutuhan manusia yang sangat hakiki ialah kebutuhan akan
rasa aman dan terlindungi, terhadap kemungkinan menderita kerugian. Salah satu
masalah yang ditakuti manusia adalah kemungkinan terjadinya kecelakaan dan
kehilangan terhadap barang yang akan dikirim salah satunya denga melalui jalur
laut. Terlebih dengan meningkatnya frekuensi pengangkutan barang-barang di
dalam dan dari/ ke luar negeri, maka pertanggungan atas barang-barang yang
diangkut tersebut merupakan suatu kebutuhan yang semakin diperlukan. Dengan
adanya kemungkinan terjadinya kecelakaan atau kehilangan barang maka dengan
mengalihkan atau melimpahkan risiko tersebut kepada pihak lain atau badan
usaha lain yaitu dengan asuransi.
Perkembangan atas permasalahan yang ada dan bermunculan sekarang ini,
maka banyak perusahaan asuransi yang menawarkan berbagai macam produk
keuntungan yang bermacam-macam, keuntungan yang diperoleh dari produk
asuransi tersebut menimbulkan pertanggungan resiko yang berbeda pula.
Hak dan kewajiban dari pihak penanggung dan tertanggung dalam
perjanjian asuransi dicantumkan dalam polis. Perjanjian atau kontrak asuransi ini
merupakan suatu perjanjian timbal balik, yang berarti bahwa masing-masing
pihak berjanji akan melakukan sesuatu bagi pihak lain.
Berkaitan dengan asuransi sebagai suatu perjanjian Pasal 255 KUHD
menyatakan bahwa asuransi harus dibuat secara tertulis dalam bentuk akta yang
disebut polis dimana menurut Pasal 258 ayat (1) KUHD, polis merupakan satu-
satunya alat bukti tertulis untuk membuktikan bahwa asuransi telah terjadi. Di
samping itu, polis juga memuat kesepakatan mengenai syarat-syarat dan janji-janji
3

khusus yang menjadi dasar pemenuhan hak dan kewajiban untuk mencapai tujuan
asuransi. Tumbuhnya kepercayaan masyarakat terhadap asuransi bukan berarti
tidak ada kekecewaan masyarakat terhadap perusahaan asuransi.

Menurut Emmy Pangaribuan Simanjuntak di Indonesia terdapat


bermacam-macam pertanggungan resiko dilihat berdasarkan jenis pertanggungan.
Pada umumnya asuransi dibedakan menjadi :
1. Pertanggungan kerugian
Pertanggungan kerugian adalah perjanjian pertanggungan yang didalam
pengertian yang murni harus mengandung tujuan bahwa kerugian yang sungguh-
sungguh diderita oleh pihak tertanggung akan diganti oleh pihak penanggung,
oleh karena didalamnya terdapat suatu penggantian kerugian.
2. Pertanggungan sejumlah uang.
Pertanggungan sejumlah uang adalah merupakan pertanggungan dimana
penggantian kerugian yang diberikan oleh penanggung sebenarnya tidak dapat
dikatakan sebagai suatu ganti rugi, oleh karena orang yang menerima ganti rugi
itu tidak menerima ganti rugi yang sungguh-sungguh sesuai dengan kerugian yang
dideritanya. Ganti rugi yang diterima itu sebenarnya adalah hasil penentuan
sejumlah uang tertentu yang telah disepakati oleh pihak-pihak (Emmy
Pangaribuan Simanjuntak, 1980 : 8-9).
4

BAB II
TINJAUAN TEORI
2.1 Pengertian Asuransi
Asuransi adalah istilah yang digunakan untuk merujuk pada tindakan,
sistem, atau bisnis dimana perlindungan finansial (atau ganti rugi secara finansial)
untuk jiwa, properti, kesehatan dan lain sebagainya mendapatkan penggantian dari
kejadian-kejadian yang tidak dapat diduga yang dapat terjadi seperti kematian,
kehilangan, kerusakan atau sakit, dimana melibatkan pembayaran premi secara
teratur dalam jangka waktu tertentu sebagai ganti polis yang menjamin
perlindungan tersebut.
Menurut ketentuan pasal 246 KUHD, asuransi atau pertanggungan adalah
perjanjian dengan mana penanggung mengikatkan diri kepada tertanggung
dengan menerima premi untuk memberikan penggantian kepadanya karena
kerugian, kerusakan atau kehilangan keuntungan yang diharapkan yang mungkin
dideritanya akibat dari suatu evenemen (peristiwa tidak pasti).
Pengertian asuransi terdapat pula pada Pasal 861 The Civil and
Commercial Code yang berbunyi :
A contract of insurance is one in which a person agress to make
compensation or to pay a sum of money in case of continget loss or any
other future event specified in the contract, and another person agreess to
pay therefor a sum of many, called premium.
Dari pasal tersebut dapat disimpulkan bahwa unsur-unsur asuransi seperti
yang terdapat pada Pasal 246 KUHD atau Art 7.17.1.1 NBW juga terpenuhi,
unsur-unsur yang dimaksud adalah :
1. Perjanjian
2. Kewajiban tertanggung membayar premi
5

3. Kewajiban penanggung memberikan ganti kerugian atau membayar sejumlah


uang.
4. Adanya peristiwa yang belum pasti terjadi.

Unsur-unsur yuridis asuransi dari suatu asuransi adalah :


1. Adanya pihak tertanggung
2. Adanya pihak penanggung
3. Adanya kontrak asuransi
4. Adanya kerugian, kerusakan atau kehilangan yang diderita tertanggung
5. Adanya peristiwa tertentu yang mungkin akan terjadi
6. Adanya uang premi yang dibayarkan oleh penanggung kepada tertanggung.
Mengenai unsur peristiwa yang belum pasti terjadi dalam The Civil and
Commercial Code tertuang melalui kalimat in case of contingent loss or any other
future event specified in the contract. Apabila dibandingkan dengan rumusan
asuransi pada Pasal 246 KUHD yang lebih menekankan kepada golongan asuransi
kerugian (terbukti dari kalimat, karena suatu kerugian kerusakan, atau kehilangan
keuntungan yang diharapkan), Pasal 861 The Civil and Commercial Code
meliputi baik asuransi kerugian maupun asuransi jumlah.
Menurut undang-undang no. 2 tahun 1992 tentang usaha perasuransian
(UU asuransi), asuransi atau tertanggungan adalah perjanjian antara dua pihak
atau lebih dengan mana pihak penanggung mengikatkan diri kepada tertanggung
dengan menerima premi asuransi untuk memberikan penggantian kepada
tertanggung karena kerugian, kerusakan atau kehilangan keuntungan yang
diharapkan atau tanggung jawab hukum kepada pihak ketiga yang mungkin akan
diderita tertanggung yang timbul dari suatu peristiwa yang tidak pasti, atau untuk
memberikan suatu pembayaran yang didasarkan atas meninggal atau hidupnya
seseorang yang dipertanggungkan.
1. Berdasarkan definisi tersebut, maka dalam asuransi terkandung empat unsur :
6

a. Pihak tertanggung (insured) yang berjanji untuk membayar uang premi


kepada pihak penanggung, sekaliggus atau secara berangsur-angsur
(asuransi kerugian)
b. Pihak penanggung (insure) yang berjanji akan membayar sejumlah uang
(santunan) kepada pihak tertanggung, sekaligus atau secara berangsur-
angsur apabila terjadi sesuatu yang mengandung unsur tak tertentu
(asuransi sejumlah uang).
c. Suatu peristiwa (accident) yang tak tertentu (tidak diketahui sebelumnya).
d. Kepentingan (interest) yang mungkin akan mengalami kerugian karena
peristiwa yang tak tertentu.
Dari definisi diatas, maka asuransi merupakan suatu bentuk perjanjian
dimana harus dipenuhi syarat sebagaimanan dalam pasal 1320 KUH Perdata,
namun karakteristik bahwa asuransi adalah persetujuan yang bersifat untung-
untungan sebagaimana dinyatakan dalam pasal 1774 KUH Perdata.
Dikatakan suatu persetujuan untung-untungan (kans-overeenkomst) karena
suransi dianggap suatu perbuatan yang hasilnya, mengenai untung rugi, baik bagi
semua pihak maupun bagi sementara pihak, bergantung kepada suatu kejadian
yang belum tentu. Beberapa hal penting mengenai asuransi :
1) Merupakan suatu perjanjian yang harus memenuhi Pasal 1320 KUH Perdata.
2) Perjanjian tersebut bersifat adhesif adalah isi perjanjian tersebut sudah
ditentukan oleh Perusahaan Asuransi (Kontrak standar). Namun demikian, hal
ini tidak sejalan dengan ketentuan dalam Undang-Undang No. 8 Tahun 1999
Tertanggal 20 April tentang perlindungan konsumen.
3) Terdapat 2 (dua) pihak didalamnya yaitu penanggung dan tertanggung namun
dapat juga diperjanjikan bahwa tertanggung berbeda pihak dengan yang akan
menerima tanggungan.
4) Adanya premi sebagai yang merupakan bukti bahwa tertanggung setuju untuk
diadakan perjanjian asuransi.
5) Adanya perjanjian asuransi mengakibatkan kedua belah pihak terikat untuk
melaksanakan kewajibannya.
7

Sehingga dapat disimpulkan bahwa unsur-unsur yang harus ada pada


Asuransi adalah :
a. Subyek hukum (penanggung dan tertanggung)
b. Persetujuan bebas antara penanggung dan tertanggung
c. Benda asuransi dan kepentingan tertanggungan
d. Tujuan yang ingin dicapai
e. Resiko dan premi
f. Evenemen (peristiwa yang tidak pasti) dan ganti kerugian.
g. Syarat-syarat yang berlaku
h. Polis asuransi.
2.2 Fungsi Asuransi
1) Sebagai pemindahan resiko
Sebagaimana diketahui bahwa kehidupan manusia selalu dihadapkan
dengan suatu risiko akibat adanya peristiwa yang tidak diharapkan terjadi, berupa
bencana alam, kecelakaan dan akibat lainnya. Oleh sebab itu, manusia berusaha
untuk mengalihkan risiko itu dengan membuat perjanjian pertanggungan.
Tertanggung kemudian mengadakan asuransi dengan tujuan mengalihkan
risiko yang mengancam harta kekayaan atau jiwanya. Dengan membayar
sejumlah premi kepada perusahaan asuransi (penanggung), sejak saat itu risiko
beralih kepada penanggung. Dengan membayar premi yang relatif kecil,
seseorang atau perusahaan dapat memindahkan ketidakpastian atas hidup dan
harta bendanya (risiko) ke perusahaan asuransi.
2) Kumpulan dana
Premi yang diterima kemudian dihimpun oleh perusahaan asuransi sebagai
dana untuk membayar risiko atau pembayaran ganti kerugian yang terjadi.
3) Pembayaran ganti kerugian / Pembagian resiko
Jika suatu ketika sungguh-sungguh terjadi peristiwa yang menimbulkan
kerugian (risiko berubah menjadi kerugian), maka kepada tertanggung akan
dibayarkan ganti kerugian yang besarnya seimbang dengan jumlah asuransinya.
Dalam praktiknya kerugian yang timbul itu dapat bersifat sebagian (partial loss),
tidak semuanya berupa kerugian total (total loss). Dengan demikian, tertanggung
8

mengadakan asuransi bertujuan untuk memperoleh pembayaran ganti kerugian


yang sunguh-sungguh diderita.
Dalam pembayaran ganti kerugian oleh perusahaan asuransi berlaku
prinsip subrogasi (diatur dalam pasal 1400 KUH Perdata) dimana penggantian hak
si berpiutang (tertanggung) oleh seorang pihak ketiga (penanggung/pihak
asuransi) yang membayar kepada si berpiutang (nilai klaim asuransi) terjadi baik
karena persetujuan maupun karena undang-undang.
Ditinjau dari beberapa sudut, maka asuransi mempunyai tujuan dan teknik
pemecahan yang bermacam-macam, antara lain :
a. Dari segi Ekonomi, maka :
Tujuannya : mengurangi ketidakpastian dari hasil usaha yang dilakukan oleh
seseorang atau perusahaan dalam rangka memenuhi kebutuhan atau mencapai
tujuan.
Tekniknya : dengan cara mengalihkan risiko pada pihak lain dan pihak lain
mengombinasikan sejumlah risiko yang cukup besar, sehingga dapat
diperkirakan dengan lebih tepat besarnya kemungkinan terjadinya kerugian.
b. Dari segi Hukum, maka :
Tujuannya : memindahkan risiko yang dihadapi oleh suatu objek atau suatu
kegiatan bisnis kepada pihak lain.
Tekniknya : mellaui pembayaran premi oleh tertanggung kepada penanggung
dalam kontrak ganti rugi (polis asuransi), maka risiko beralih kepada
penanggung.
c. Dari segi Tata Niaga, maka :
Tujuannya : membagi riisko yang dihadapi kepada semua peserta program
asuransi.
Tekniknya : memindahkan risiko dari individu/perusahaan ke lembaga
keuangan yang bergerak dalam pengelelolaan risiko (perusahaan asuransi),
yang akan membagi risiko kepada seluruh peserta asuransi yang ditanganinya.
d. Dari segi Kemasyarakatan, maka :
Tujuannya : menanggung kerugian secara bersama-sama antar semua peserta
program asuransi.
9

Tekniknya : semua anggota kelompok (kelompok anggota) program asuransi


memberikan kontribusinya (berupa premi) untuk menyantuni kerugian yang
dierita oleh seorang/beberapa orang anggotanya.
e. Dari Segi Matematis, maka :
Tujuannya : meramalkan besarnya kemungkinan terjadinya risiko dan hasil
ramalan itu dipakai dasar untuk membagi risiko kepada semua peserta
(sekelompok peserta) program asuransi.
2.3 Asas Kontrak Asuransi
Setiap perjanjian, termasuk perjanjian asuransi harus memenuhi syarat-
syarat umum sebagai berikut :
1. Sepakat mereka yang mengikatkan diri.
2. Kecakapan untuk membuat suatu perikatan
3. Suatu hal tertentu
4. Suatu sebab yang halal.
Syarat khusus bagi perjanjian asuransi harus memenuhi ketentuan-
ketentuan dalam buku I Bab IX KUH Dagang, ialah :
a. Asas indemnitas / principle oleh indemnity
b. Asas kepentingan / principle of insurable interest.
c. Asas kejujuran yang sempurna
Ada beberapa prinsip-prinsip pokok asuransi yang sangat penting yang
harus dipenuhi baik oleh tertanggung maupun penanggung agar kontrak/perjanjian
asuransi berlaku (tidak batal). Adapun prinsip-prinsip pokok asuransi tersebut
sebagai berikut :
a) Utmost good faith
Utmost good faith bisa diberikan arti bahwa para pihak memiliki iktikad
baik untuk saling menguntungkan dan saling melindungi secara jujur. Utmost
good faith adalah suatu tindakan untuk mengungkapkan secara akurat dan
lengkap, semua fakta yang material (material fact) mengenai sesuatu yang akan
diasuransikan baik diminta maupun tidak. Artinya adalah : si penanggung harus
dengan jujur menerangkan dengan jelas segala sesuatu tentang luasnya
10

syarat/kondisi dari asuransi dan si tertanggung juga harus memberikan keterangan


yang jelas dan benar atas objek atau kepentingan yang dipertanggungkan.
KUH Perdata khusus untuk perjanjian asuransi, masih dibutuhkan
penekanan atas iktikad baik sebagaimana diminta oleh Pasal 251 KUH Dagang.
Pasal 251 : Setiap keterangan yang keliru atau tidak benar, ataupun setiap tidak
memberitahukan hal-hal yang diketahui oleh si tertanggung, betapapun iktikad
baik ada apanya, yang demikian sifatnya sehingga seandainya si penanggung
telah mengetahui keadaan yang sebenarnya, perjanjian itu tidak akan ditutup
atau tidak ditutup dengan syarat-syarat yang sama, mengakibatkan batalnya
pertanggungan.
Iktikad baik yang sempurna dapat diartikan bahwa masing-masing pihak
dalam suatu perjanjian yang akan disepakati, menurut hukum mempunyai
kewajiban untuk memberikan keterangan atau informasi yang selengkap-
lengkapnya, yang akan dapat mempengaruhi keputusan pihak yang lain untuk
memasuki perjanjian atau tidak, baik ketenangan yang demikian itu diminta atau
tidak.
Sedangkan pasal 251 KUH Dagang secara sepihak hanya memberi
kewajiban untuk memberikan keterangan dan informasi yang benar kepada pihak
kedua yaitu tertanggung atau pengambil asuransi saja. Sedangkan pihak
penanggung sebaliknya mendapat perlindungan terhadap pelanggaran asas iktikad
baik yang sempurna dari tertanggung.
b) Insurable interest
Insurable interest, yaitu para pihak memiliki kepentingan, baik
kepentingannya sendiri maupun kepentingan keluarganya atau kepentingan lain.
Insurable interest hak untuk mengasuransikan, yang timbul dari suatu hubungan
keuangan, antara tertanggung dengan yang diasuransikan dan diakui secara
hukum.
Insurable interest (kepentingan yang dapat diasuransikan), yaitu setiap
pihak yang bermaksud mengadakan perjanjian asuransi harus mempunyai
kepentingan yang dapat diasuransikan, artinya tertanggung harus mempunyai
11

keterlibatan sedemikian rupa, dengan akibat dari suatu peristiwa yang belum pasti
terjadi dan yang bersangkutan menderita kerugian akibat dari peristiwa itu.
Pasal 250 Kitab Undang-undang Hukum Dagang dinyatakan bahwa
kepentingan yang diasuransikan tersebut harus ada pada saat ditutupnya perjanjian
asuransi. Syarat tersebut tidak dipenuhi maka penanggung akan bebas dari
kewajibannya untuk membayar kerugian. Pasal 268 Kitab Undang-undang
Hukum Dagang mensyaratkan kepentingan yang dapat diasuransikan itu harus
dapat dinilai dengan sejumlah uang.

c) Indemnity
Indemnity adalah suatu mekanisme dimana penanggung menyediakan
kompensasi finansial dalam upayanya menempatkan tertanggung dalam posisi
keuangan yang ia miliki sesaat sebelum terjadinya kerugian (KUHD Pasal 252,
253 dan dipertegas dalam Pasal 278).
Satu asas utama dalam perjanjian asuransi karena merupakan asas yang
mendasari mekanisme kerja dan memberi arah tujuan dari perjanjian asuransi itu
sendiri (khusus untuk asuransi kerugian). Pengertian kerugian itu tidak boleh
menyebabkan posisi keuangan pihak tertanggung menjadi lebih diuntungkan dari
posisi keuangan pihak tertanggung menjadi lebih diuntungkan dari posisi sebelum
menderita kerugian.
Asas indemnitas ini adalah landasan dasar sebagai mana dimaksud diatas
pada hakikatnya mengandung dua aspek, yaitu :
a. Aspek pertama ialah berhubungan dengan tujuan dari perjanjian harus
ditujukan kepada ganti kerugian, yang tidak boleh diarahkan bawah pihak
tertanggung karena pembayaran ganti rugi jelas akan menduduki posisi yang
lebih menguntungkan.
b. Aspek kedua ialah berhubungan dengan pelaksanaan perjanjian asuransi
sebagai keseluruhan yang sah. Untuk keseluruhan atau sebagian tidak boleh
bertentangan dengan aspek pertama.
Yang ingin dicapai oleh asas indemnitas adalah keseimbangan antara
risiko yang dialihkan kepada penanggung dengan kerugian yang diderita oleh
12

tertanggung sebagai akibat dari terjadinya peristiwa yang secara wajar tidak
diharapkan terjadinya.
d) Asas kepentingan yang dapat diasuransikan
Kepentingan yang dapat diasuransikan merupakan asas utama kedua
dalam perjanjian asuransi / pertanggungan. Setiap pihak yang bermaksud
mengadakan perjanjian asuransi, harus mempunyai kepentingan yang dapat
diasuransikan, maksudnya ialah bahwa pihak tertanggung mempunyai keterlibatan
sedemikian rupa dengan akibat dari suatu peristiwa yang belum pasti terjadinya
dan yang bersangkutan menjadi menderita kerugian.
Kitab Undang-Undang Hukum Dagang, mengenai kepentingan,
mengaturnya dalam dua pasal yaitu pasal 250 dan pasal 268.
Pasal 250 : Apabila seorang yang telah mengadakan suatu
pertanggungan untuk diri sendiri, atau apabila seorang yang untuknya telah
diadakan suatu pertanggungan, pada saat diadakannya pertanggungan itu tidak
mempunyai suatu kepentingan terhadap barang yang dipertanggungkan itu, maka
si penanggung tidaklah diwajibkan memberikan ganti rugi. Pasal 250 KUH
dagang mengatur bahwa kepentingan itu harus ada pada saat perjanjian asuransi
ditutup.
Pasal 268 : Suatu pertanggungan dapat mengenai segala kepentingan
yang dapat dinilaikan dengan uang, dapat diancam oleh sesuatu bahaya, dan
tidak dikecualikan oleh undang-undang.
e) Subrogation
Subrogation adalah suatu pengalihan hak tuntut dari tertanggung kepada
penanggung setelah klaim dibayar. Di dalam KUH Dagang, asas ini secara tegas
diatur di dalam Pasal 284 : Seorang penanggung yang telah membayar kerugian
sesuatu barang yang dipertanggungkan, menggantikan si tertanggung dalam
segala hak yang diperolehnya terhadap orang-orang ketiga berhubung dengan
menerbitkan kerugian tersebut; dan si tertanggung itu adalah bertanggung jawab
untuk setiap perbuatan yang dapat merugikan hak si penanggung terhadap
orang-orang ketiga itu.
Subrogasi hanya dapat ditegakkan apabila memenuhi dua syarat berikut :
13

1. Apabila tertanggung di samping mempunyai hak terhadap penanggung


masih mempunyai hak-hak terhadap pihak ketiga.
2. Hak tersebut timbul, karena terjadinya suatu kerugian. Hak subrogasi timbul
dengan sendirinya (ipso facto) sehingga tidak perlu ditentukan dalam polis
sebagai klausula subrogasi.
f) Contibution adalah hak penanggung untuk mengajak penanggung lainnya
yang sama-sama menanggung, tetapi tidak harus sama kewajibannya terhadap
tertanggung untuk ikut memberikan indemnity.
g) Proximate cause adalah suatu penyebab aktif, efisien yang menimbulkan
rantain kejadian yang menimbulkan suatu akibat tanpa adanya intervensi suatu
yang mulai dan secara aktif dari sumber yang baru dan independen.
2.4 Resiko Dalam Asuransi
Adalah suatu kejadian yang terjadi di luar kehendak tertanggung yang
menimbulkan kerugian bagi tertanggung, resiko mana menjadi objek jaminan
asuransi.
a) Resiko Murni (pure risk)
Kejadian yang masih tidak pasti bahwa suatu kerugian akan timbul, dimana
jika kejadian tersebut terjadi, maka timbullah kerugian itu.
b) Resiko Spekulasi (speculative risk)
Kejadian yang terjadi menimbulkan 2 (dua) kemungkinan, akan
menguntungkan atau akan merugikan.
c) Resiko Khusus
Resiko yang terbit dari tindakan individu dengan dampak hanya terhadap
seorang tertentu saja.
d) Resiko Fundamental
Resiko yang bersumber dari masyarakat umum dan/atau yang mempengaruhi
masyarakat luas.
e) Resiko Statis
Resiko yang tidak berubah dari masa ke masa.
f) Resiko Dinamis
Resiko yang berubah-ubah mengikuti perkembangan zaman.
14

2.5 Dasar Hukum Kontrak / Perjanjian Asuransi


Perjanjian asuransi adalah perjanjian untung-untungan/kans-Overenskom
(Pasal 1774 KUH Perdata).
Suatu perjanjian untung-untungan adalah : suatu perbuatan yang hasilnya
mengenai untung ruginya baik bagi semua pihak maupun bagi salah satu pihak
tergantung pada suatu kejadian yang belum tentu.
a. Pasal 246 sampai dengan Pasal 308 Kitab Undang-undang Hukum Dagang.
b. Pasal 1338 Kitab Undang-undang Hukum Perdata.
c. Pasal 1774 Kitab Undang-undang Hukum Perdata.
d. Peraturan perundang-undangan di luar Kitab Undang-undang Hukum Dagang dan
Kitab Undang-undang Hukum Perdata yaitu Undang-undang No. 2 Tahun
1992, tentang Usaha Perasuransian.
2.6 Jenis-Jenis Asuransi
Berdasarkan Undang-undang No. 2 Tahun 1992 tentang Usaha
Perasuransian, dapat digolongkan sebagai berikut :
a. Usaha asuransi
1. Asuransi kerugian (non life insurance) merupakan usaha memberikan jasa
dalam penanggulangan resiko atas kerugian, kehilangan manfaat dan
tanggung jawab hukum kepada pihak ketiga yang timbul dari peristiwa
yang tidak pasti.
2. Asuransi jiwa (life insurance) merupakan suatu jasa yang diberikan oleh
perusahaan asuransi dalam penanggungan resiko yang dikaitkan dengan
jiwa atau meninggalnya seseorang yang dipertanggungkan.
3. Reasuransi (reinsurance) merupakan suatu system penyebaran resiko
dimana penanggung menyebarkan seluruh atau sebagian dari
pertanggungan yang ditutupnya kepada penanggung yang lain.
b. Usaha penunjang
1. Pialang asuransi, merupakan usaha yang memberikan jasa keperantaraan
dalam penutupan asuransi dan penanganan penyelesaiaan ganti kerugian
asuransi dengan bertindak untuk kepentingan tertanggung.
15

2. Pialang reasuransi, memberikan jasa keperantaraan dalam penempatan


reasuransi dan penangganan penyelesaian ganti rugi reasuransi dengan
bertindak untuk kepentingan perusahaan asuransi.
3. Penilai kerugian asuransi, memberikan jasa penilaian terhadap kerugian
pada objek asuransi yang dipertanggungkan.
4. Konsultan aktuaria, merupakan usaha memberikan jasa konsultan aktuaria.
5. Agen asuransi, merupakan pihak yang memberikan jasa keperantaraan
dalam rangka pemasaran jasa asuransi untuk dan atas nama penanggung.
Dalam Undang-undang Nomor 2 Tahun 1992 Pasal 1 ayaat (1) digariskan
ada dua jenis asuransi, yaitu :
1. Asuransi kerugian (loss Insurance) dapat diketahuui dan rumusan :
Untuk memberikan penggantian kepada tertanggung karena kerugian,
kerusakan, atau kehilangan keuntungan yang diharapkan, atau tanggung
jawab hukum kepada pihak ketiga yang mungkin akan diderita oleh
tertanggung.

2. Asuransi jumlah (sum insurance) yang meliputi asuransi jiwa dan asuransi
sosial, dapat diketahui dari rumusan
Untuk memberikan suatu pembayaran yang didasarkan atas meninggal atau
hidupnya seseorang yang dipertanggungkan.
Perbedaan antara asuransi kerugian dan asuransi jumlah diantaranya :
Asuransi Kerugian Asuransi Jumlah
Mengganti kerugian tertentu yang Penanggung berjanji akan membayar
diderita oleh tertanggung sebesar sejumlah uang yang sudah ditentukan
kerugian yang diderita sebelumnya (tidak distandarkan pada
kerugian tertentu)
Berlaku Pasal 246 KUH Dagang Pasal 305 KUH Dagang

Rumusan dalam undang-undang di atas searah dengan praktik Asuransi


pada umunya yang dibagi menjadi dua bagian besar, yaitu Asuransi Kerugian dan
Asuransi Jiwa, yang lebih jauh dijelaskan di bawah ini :
1. Asuransi Kerugian
16

Asuransi kerugian adalah suatu perjanjian yang oleh Tertanggung dan


Penanggung (Perusahaan Asuransi) di mana tertanggung bersedia mewmbeyar
sejumlah uang (premi asuransi) kepada Penanggung untuk jangka waktu tertentu,
dan Penanggung bersedia memberikan ganti kerugian kepada Tertanggung
manakala barang atau obyek yang dipertanggungkan mengalami kerusakan akibat
peristiwa yang tidak diduga-duga.
Inti asuransi kerugian adalah menutup asuransi untuk suatu peristiwa
karena kerusakan atau kemusnahan harta benda yang dipertanggungkan karena
sebab-sebab atau kejadian yang dipertang-gungkan (sebab-sebab atau bahaya-
bahaya yang disebut dalam kontrak atau polis asuransi). Dalam asuransi kerugian
penanggung menerima premi dari tertanggung dan apabila terjadi kerusakan atau
kemusnahan atau harta benda yang dipertangungkan, maka ganti kerugian akan
dibayarkan kepada tertanggung. Adapun jenis asuransi kerugian adalah :
a. Asuransi Kebakaran
b. Asuransi Kehilangan dan Kerusakan
c. Asuransi Laut
d. Asuransi Pengangkutan
e. Asuransi Kredit
Asuransi ini selalu berkaitan dengan dunia perbankan yang menitik
beratkan pada asuransi jaminan kredit berupa benda bergerak maupun benda tidak
bergerak yang sewaktu-waktu dapat tertimpa resiko yang dapat mengakibatkan
kerugian bagi pemilik barang maupun pemberi kredit khususnya bank yang
meliputi : asuransi pengangkutan laut, asuransi kendaraan bermotor, dan
sebagainya. Adapun fungsi daripada asuransi kredit ialah :
1) Melindungi pemberi kredit dari kemungkinan tidak diperolehnya kembali
kredit yang diberikan kepada para nasabahnya.
2) Membantu kegiatan keamanan perkreditan baik kredit perbankan maupun
kredit lainya diluar perbankan (Elisa Kartika Sari dan Edvendi Simangunsong,
2005 : 88-89).
f. Asuransi Kendaraan Bermotor
g. Asuransi Kerangka Kapal
17

h. Contrution All Risk (CAR)


i. Property/Industrial All Risk
j. Asuransi Customs Bond
k. Asuransi Surety Bond
2. Asuransi Jiwa atau Asuransi Jumlah
Asuransi Jiwa diatur dalam Kitab Undang-undang Hukum Dagang
(KUHDagang) hanya dijumpai tujuh (7) pasal yaitu Pasal 302 sampai Pasal 308.
Pasal 302 KUHDagang sebagai dasar asuransi jiwa, yang menyatakan bahwa :
Jika seseorang dapat guna keperluan seseorang yang berkepentingan,
dipertanggungkan, baik untuk selama hidupnya jiwa itu, baik untuk suatu waktu
yang ditetapkan dalam perjanjian.
Pengertian asuransi yang terdapat pada ketentuan Pasal 302 di atas lebih
menekankan kepada suatu waktu yang ditentukan dalam asuransi jiwa. perjanjian.
Selain dari definisi atau pengertian asuransi jiuwa secara formil yang terdapat
dalam undang-undang hukum dagang tersebut, ada juga pendapat para ahli hukum
yang memberikan definisi asuransi jiwa dimaksud.
Berikut pengertian asuransi jiwa menurut Djoko Prakoso dan I Ketut
Murtika yang dikutip dari pendapat Molengraff berpendapat bahwa :
Asuransi jiwa dalam penertian luas memuat semua perjanjian mengenai
pembayaran sejumlah modal atau bunga, yang didasarkan atas
kemungkinan hidup atau mati, dan dripada itu pembayaran premi atau dua-
duanya dengan cara digantungkan pada masa hidupnya atau meninggalnya
seseorang atau lebih.
Pada pasal Ia Bab I Staatsblad 1941-101 pengertian asuransi jiwa sebagai
berikut :
Perjanjian asuransi jiwa ialah perjanjian tentang pembayaran yang dengn
nikmat dari premi dan yang berhubunagn dengan hidup atau matinya
seseorang termasuk juga perjanjian asuransi kembali/uang dengan
pengertian/catatan bahwa perjanjian dimaksud tidak termasuk perjanjian
asuransi kecelakaan
Sedangkan menurut H.M.N Purwosutjipto adalah :
18

Asuransi jiwa dapat diartikan sebagai pertanggungan jiwa adalah


perjanjian timbal balik antara penutup (pengambil) asuransi dengan mana
penutup asuransi mengikat diri selama jalanya pertanggungan membayar
uang premi kepada penanggung, sedangkan penanggung sebagai akibat
langsung dari meninggalnya orang yang jiwanya dipertanggungkan atau
telah lampaunya suatu jangka waktu yang dngiperjanjikan mengikat diri
untuk membayar sejumlah uang tertentu kepada orang yang ditunjuk untuk
penutup asuransi sebagai penikmatnya

Volmar menyebutkan asuransi jiwa itu dengan istillah sommen verzekering


berpendapat bahwa :
Secara luas sommen verzekering itu dapat diartikan sebagai suatu
perjanjian di mana suatu fihak mengikat dirinya untuk membayar sejumlah
uang secara sekaligus atau periodik, sedangkan pihak mengikat dirinya
untuk membayar premi dan pembayaran itu adalah tergantung kepada
hidup atau matinya seseorang tertentu atau lebih
Santoso Poejosoebroto memberikan pengertian asuransi itu sebagai berikut
:
Asuransi pada umumnya adalah suatu perjanjian timbal balik dalam
mana pihak penanggung dengan menerima premi mengikat diri untuk
memberikan pembayaran kepada pengambil asuransi atau orang yang
ditunjuk, karena terjadinya peristiwa yang belum pasti. Yang disebutkan di
dalam perjanjian, baik karena pengambil asuransi atau tertunjuk menderita
kerugian yang disebabkan oleh peristiwa lain, maupun karena peristiwa
tadi mengenai hidup dan kesehatan
Penulis berpendapat bahwa asuransi jiwa adalah suatu perjanjian di mana
Tertanggung menawarkan diri kepada Penanggung untuk membuat perjanjian
pertanggungan, dan Tertanggung bersedia membayar sejumlah uang
pertanggungan kepada Penanggung untuk jangka waktu tertentu demi kepentingan
pihak lain atau tertunjuk bilamana terjadi peristiwa tidak terduga pada diri
Tertanggung.
19

Menutup pertanggungan untuk membayarkan sejumlah santunan karena


meninggal atau tetap hidupnya seseorang dalam jangka waktu pertanggungan.
Dalam asuransi jiwa, penanggung menerima premi dari tertanggung dan apabila
tertanggung meninggal, maka santunan (uang pertanggungan) dibayarkan kepada
ahli waris atau seseorang yang ditunjuk dalam polis sebagai penerima santunan.
Adapun jenis-jenis pertanggungan jiwa/jumlah adalah :
a. Asuransi Kecelakaan
b. Asuransi Kesehatan
c. Asuransi Jiwa Kredit.
Produk asuransi jiwa dalam praktik dijumpai sebagai berikut :
a. Prodak Asuransi Jiwa
1) Asuransi Jiwa Murini (Whole Life Insurance)
2) Asuransi Jiwa Berjangka Panjang

3) Asuransi Jiwa Jangka Pendek (Term Insurance)

b. Prodak Asuransi Jiwa dalam Program Asuransi Sosial


1) Program Dana Pensiun da Tabungan Hari Tua bagi Pegawai Negeri dan
ABRI yang diselenggarakan oleh PT TASPEN dan PT ASABRI.
2) Asuransi Wajib Sosial yang diatur dalam UU NO. 33 Tahun 1964/PP No 17
Tahun 1965 tentang Dana Pertanggungan Wajib Kecelakaan Penumpang
dan UU No 34 Tahun 1964/PP No 18 1965 Dana Kecelakaan Lalu Lintas.
3) JAMSOSTEK
Perbedaan antara Pertanggungan Kerugian dan Pertanggungan Jumlah
(Jiwa) adalah :

No Masalah Pertanggungan Kerugian Pertangungan Jiwa/Jumlah

1 Para Pihak Penanggung dan Penutup Asuransi


Tertanggung (pembayar polis),
Penanggung dan pemikat

2 Obyeknya Barang Jiwa


20

3 Kepentinga Kewajiban Bernilai Hubungan kekeluargaan


n Uang (tidak bernilai uang)

4 Evenemen Peristiwa tertentu yang Hilangnya nyawa


mengakibatkan kerugian

2.7 Cara Mengadakan Kontrak / Perjanjian Asuransi


Syarat sahnya kontrak / perjanjian asuransi
Menurut ketentuan KUH Perdata bahwa perjanjian/kontrak harus
memenuhi syarat sahnya perjanjian yaitu arus memenuhi syarat yang tertuang
dalam pasal 1320 KUH Perdata yaitu :
1. Adanya kesepakatan kehendak antara pihak penanggung dengan tertanggung
2. Adanya kecakapan dari kedua belah pihak baik penanggung maupun
tertanggung.
3. Adanya objek asuransi disebut kepentingan.
Kepentingan adalah kekayaan atau bagian dari kekayaan yang apabila terjadi
musibah akan menimbulkan kerugian. Kepentingan tersebut harus memenuhi
beberapa syarat antara lain :
Kepentingan materiil / materiil belang
a) Asuransi Kerugian
Dapat dinilai dengan uang
Dapat diancam bahaya
Tidak dikecualikan UU
Kepentingan : idiil / idil belang
b) Asuransi Jumlah
Tidak dapat dinilai dengan uang.
4. Adanya causa yang halan dalam perjanjian asuransi disebut bahaya, misalnya :
kebanjiran, kehilangan, kerusakan.
21

Selain keempat syarat tersebut diatas, khusus untuk perjanjian asuransi


perlu dilengkapi dengan persyaratan tambahan yang tertuang dalam pasal 251
KUH Dagang disebut mededelingspicht yaitu memberikan keterangan yang
sebenar-benarnya tentang keadaan objek yang diasuransikan dari pihak
tertanggung.
Bentuk perjanjian asuransi :
1) Formal, dibuat secara tertulis yaitu dalam bentuk akta, walaupun akta di
bawah tangan yang hanya dibuat oleh kedua belah pihak saja yaitu pihak
penanggung dan pihak tertanggung disebut polis.
2) Konsensual artinya perjanjian sudah dinyatakan sah sejak ada kesepakatan
antara pihak penanggung dan tertanggung, bahkan sebelum hak dan kewajiban
timbul sejak ada kesepakatan, walau polis dalam belum ditandatangani.
2.8 Polis Asuransi
1. Fungsi Polis
Menurut ketentuan Pasal 225 KUHD perjanjian asuransi harus dibuat
secara tertulis dalam bentuk akta yang disebut polis yang memuat kesepakatan,
syarat-syarat khusus dan janji-janji khusus yang menjadi dasar pemenuhan hak
dan kewajiban para pihak (penanggung dan tertanggung) dalam mencapai tujuan
asuransi. Dengan demikian, polis merupakan alat bukti tertulis tentang telah
terjadinya perjanjian asuransi antara tertanggung dan penanggung. Akan tetapi
pada Pasal 257 dan Pasal 258 KUH Dagang yang dapat disimpulkan bahwa polis
dalam perjanjian asuransi tidak merupakan syarat multak tetapi hanya merupakan
alat bukti.
Polis sebagai suatu akta yang formalitasnya diatur di dalam undang-
undang, mempunyai arti yang sangat penting pada perjanjian asuransi, baik pada
tahap awal, selama perjanjian berlaku dan dalam masa pelaksanaan perjanjian.
Jadi polis tetap mempunyai arti yang sangat penting di dalam perjanjian asuransi,
meskipun bukan merupakan syarat bagi sahnya perjanjian, karena polis
merupakan satu-satunya alat bukti bagi tertanggung terhadap penanggung.
Undang-undang menentukan bahwa polis dibuat dan ditandatangani oleh
22

penanggung sebagaimana diatur pada pasal 256 ayat 3 ; Polis tersebut harus
ditandatangani oleh tiap-tiap penanggung.
Meskipun kemudian sesuai dengan asas kebebasan berkontrak yang
disimpulkan dari pasal 1338 ayat (1) KUH Perdata diperkenankan saja apabila
para pihak memperjanjikan bahwa perjanjian asueansi baru berlangsung setelah
polis selesai atau setelah diserahkan kepada tertanggung. Dalam hal yang
demikian berarti polis dijadikan sebagai syarat mutlak pada perjanjian asuransi
yang bersangkutan.
Mengingat fungsinya sebagai alat bukti tertulis maka para pihak
(khususnya tertanggung) wajib memerhatikan kejelasan isi polis dimana
sebaiknya tidak mengandung kata-kata atau kalimat yang memungkinkan
perbedaan interpretasi sehingga dapat menimbulkan perselisihan (dispute).
Upaya pembuktian bahwa telah ditutupnya suatu perjanjian
asuransi/pertanggungan dalam hal belum dikeluarkannya polis oleh pihak
penanggung, satu-satunya dasar ialah pasal 258 ayat 1 dan 2. Pasal 258 :
Untuk membuktikan hal ditutupnya perjanjian tersebut, diperlukan
pembuktian dengan tulisan; namun demikian bolehlah lain-lain alat
pembuktian dipergunakan juga manakala sudah ada suatu permulaan
pembuktian dengan tulisan. Namun demikian bolehlah ketetapan-ketetapan
dan syarat-syarat khusus, apabila tentang itu timbul suatu perselisihan,
dalam jangka waktu antara penutupan perjanjian dan penyerahan polisnya,
dibuktikan dengan segala alat bukti; tetapi dengan pengertian bahwa segala
hal yang dalam beberapa macam pertanggungan oleh ketentuan-ketentuan
undang-undang, atas ancaman-ancaman batal, diharuskan dibuktikan dengan
tulisan.
Dalam periode setelah penyerahan polis, alat bukti yang sangat penting ialah
tulisan atau surat serta permulaan pembuktian dengan surat. Dalam arti luas
hal ini yang dimaksud tentu saja polis dengan seluruh persyaratannya. Hal ini
berlaku mengenai diadakannya perjanjian pertanggungan maupun tentang
janji-janji khusus. Keduanya hanya dapat dibuktikan dengan alat bukti tertulis
(perhatikan pasal 258 KUH Dagang).
23

Polis yang dikeluarkan dan ditandatangani oleh penanggung sebenarnya


hanyalah mempunyai kekuatan pembuktian yang sempurna untuk kepentingan
tertanggung atau orang-orang yang memperoleh hak daripadanya dan hanya
mempunyai kekuatan terhadap penanggungan yang bersangkutan saja. Artinya
penanggung dengan siapa tertanggung mengadakan perjanjian
asuransi/pertanggungan.
2. Isi Polis
Menurut ketentuan Pasal 256 KUHD, setiap polis kecuali mengenai
asuransi jiwa harus memuat syarat-syarat khusus berikut ini :
a. Hari dan tanggal pembuatan perjanjian asuransi
b. Nama tertanggung, untuk diri sendiri atau pihak ketiga
c. Uraian yang jelas mengenai benda yang diasuransikan.
d. Jumlah yang diasuransikan (nilai pertanggungan)
e. Bahaya-bahaya/evenemen yang ditanggung oleh penanggung
f. Saat bahaya mulai berjalan dan berakhir yang menjadi tanggungan
penanggung.
g. Premi asuransi.
h. Umumnya semua keadaan yang perlu diketahui oleh penanggung dan
segala janji-janji khusus yang diadakan antara para pihak, antara lain
mencantumkan BANKERS CLAUSE, jika terjadi peristiwa (evenemen)
yang menimbulkan kerugian penanggung dapat berhadapan dengan siapa
pemilik atau pemegang hak.
Beberapa dasar hukum yang menjadi dasar dalam isi polis, diantaranya :
Asuransi ganti rugi : Pasal 564 KUH Dagang
Asuransi Jiwa : Pasal 304 KUH Dagang
Asuransi kebakaran : Pasal 287 KUH Dagang
Asuransi Hasil Pertanian : Pasal 299 KUH Dagang
Asuransi Laut : Pasal 592 KUH Dagang
Asuransi Pertanggungan : Pasal 686 KUH Dagang
24

Untuk jenis asuransi tertentu, misalnya asuransi kebakaran Pasal 287


KUHD menentukan bahwa dalam polisnya harus pula menyebutkan :
a. Letak barang tetap serta batas-batasnya.
b. Pemakaiannya
c. Sifat dan pemakaian gedung-gedung yang berbatasan, sepanjang
berpengaruh terhadap objek pertanggungan.
d. Harga barang-barang yang dipertanggungkan.
e. Letak dan pembatasan gedung-gedung dan tempat-tempat dimana barang-
barang bergerak yang dipertanggungkan itu berada.
Untuk mengetahui perlindungan yang diberikan oleh suatu polis asuransi,
perlu diperhatikan tujuh aspek penutupannya, yaitu :
a. Bencana yang ditutup
b. Yang ditutup
c. Kerugian yang ditutup
d. Orang-orang yang ditutup
e. Lokasi-lokasi yang ditutup
f. Jangka waktu yang ditutup
g. Bahaya-bahaya yang dikecualikan.

Pada dasarnya setiap polis terdiri dari 4 (empat) bagian, yaitu :


1. Deklarasi
Deklarasi merupakan suatu pernyataan yang dibuat oleh calon tertanggung,
yang pada dasarnya memberikan keterangan mengenai beberapa hal baik
mengenai jati dirinya maupun yang mengenai obyek/barang yang
dipertanggungkan atau mengenai segala sesuatu yang berhubungan dengan
penutupan perjanjian asuransi / pertanggungan.
2. Klausula pertanggungan
Klausula pertanggungan merupakan bagian yang utama dari suatu polis.
Pada bagian klausula ini dengan jelas dianut ketentuan mengenai risiko apa saja
dari polis yang bersangkutan, yang ditanggung oleh penanggung, syarat-syarat
yang diminta dan ruang lingkup tanggung jawab penanggung.
25

Perjanjian asuransi memuat janji-janji khusus dirumuskan secara tegas


dalam polis. Jenis atau kesepakatan itu disebut klausula asuransi yang maksudnya
untuk menentukan batas-batas hak dan kewajiban para pihak, tanggung jawab
penanggung dalam pembaayaran ganti kerugian apabila terjadi peristiwa yang
menimbulkan kerugian. Jenis-jenis asuransi tersebut ditentukan oleh sifat obyek
asuransi itu, bahaya yang mengamcam dalam setiap asuransi. Klausula-klausula
yang dimaksud antara lain :
a. Klausula Premier Risque
Klusula ini menyatakan bahwa apabila pada asuransi di bawah nilai benda
terjadi kerugian, penanggung akan membayar ganti kerugian seluruhnya
sampai maksimum jumlah yang diasuransikan (Pasal 253 ayat 3 KUHD).
Klausula ini bisa digunakan pada asuransi pembongkaran dan pencurian,
asuransi tanggung jawab.
b. Klausula All Risk
Klausula ini menentukan bahwa penanggung segala risiko atau benda yang
diasuransikan. Ini berarti penanggung akan mengganti semua kerugian yang
timbul akibat peristiwa apa pun, kecuali kerugian yang timbul karena
kesalahan tertanggung sendiri (Pasal 276 KUHD).
1) Klausula Total Loss Only (TLO)
Klausula ini menentukan bahwa penanggung bahwa menanggung kerugian
yang merupakan kerugian keseluruhan/total atas benda yang
diasuransikan.
2) Klausula Sudah Diketahui (All Seen)
Klausula yang digunakan pada asuransi kebakaran. Klausula ini
menentukan bahwa penanggung sudah mengetahui keadaan.
3) Klausula Renunsiasi (Renunciation)
Menurut Klausula penanggung tidak akan menggugat tertanggung dengan
alasan Pasal 251 KUHD, kecuali jika hakim menetapkan bahwa pasal
tersebut harus diberlakukan secara jujur atau itikad baik dan sesuai dengan
kebiasaan. Berarti apabila timbul kerugian akibat evenemen tertanggung
tidak memberitahukan keadaan benda obyek asuransi kepada penanggung,
26

maka penanggung tidak akan mengajukan Pasal 251 KUHD dan


penanggung akan membayar klaim ganti kerugian kepada tertanggung.
4) Klausula Free Particular Average (FPA)
Bahwa penanggung dibebaskan dari kewajiban membayar ganti kerugian
yang timbul akibat peristiwa khusus di laut (Particular Average) seperti
ditentukan pada Pasal 709 KUHD dengan kata lain penanggung menolak
kerugian yang diklaim oleh tertanggung yang sebenarnya timbul dari
akibat peristiwa khusus yang sudah dibebaskan klausula FPA.
5) Klausula Riot, Strike & Civil Commetion (RSCC)
Riot (kerusuhan) adalah tindakan suatu kelompok orang, minimal
sebanyak 12 orang, yang dalam melaksanakan suatu tujuan bersama
menimbulkan suasana gangguan ketertiban umum dengan kegaduhan dan
menggunakan kekerasan serta pengrusakan harta benda orang lain, yang
belum dianggap sebagai huru-hara.
Strik (pemogokan) adalah tindakan pengrusakan yang disengaja oleh
sekelompok pekerja, minimal 12 orang pekerja atau separuh dari jumlah
pekerja (dalam hal jumlah selutruh pekerja kurang dari 24 orang), yang
menolak bekerja sebagaimana biasanya dalam usaha untuk memaksa
majikan memenuhi tuntutan dari pekerja atau dalam melakukan protes
terhadap peraturan atau persyaratan kerja yang diberlakukan oleh majikan.
Civil Commotion (huru-hara) adalah keadaan di suatu kota di mana
sejumlah besar massa secara bersama-sama atau dalam kelompok-
kelompok kecil menimbulkan suasana gang uan ketertiban dan keamanan
masyarakat dengan kegaduhan menggunakan kekerasan serta rentetan
pengrusakan sejumlah besar harta benda, sedimikian rupa sehingga timbul
ketakutan umum, yang ditandai dengan berhentinya lebih dari separuh
kegiatan normal pusat perdagangan/pertokoan atau perkantoran atau
sekolah atau transportasi umum di kota tersebut selama 24 jam secar terus
menerus yang dimulai sebelum, sedang atau setelah kejadian tersebut.

6) Bankers Clause
27

Bankers Clause atau Klausula Bank adalah suatu klausula yang tercantum
dalam Polis yang hanya dicantumkan atas permintaan pihak Bank di mana
dalam polis secara tegas dinyatakan bahwa Pihak Bank adalah sebagai
penerima ganti rugi atas peristiwa yang terjadi atas obyek pertanggungan
sebagaimana disebutkan dalam perjanjian asuransi (polis). Klausula ini
muncul sebagai akibat adanya hubungan utang piutang antara Debitur dan
Kreditur di mana obyek pertanggungan adalah menjadi jaminan Bank,
sehingga klausula bukan merupakan standar yang pada umumnya
tercantum dalam Polis.
3. Pengecualian-pengecualian
Dalam setiap polis dengan kondisi apapun juga selalu terdapat bagian yang
mengandung pasal-pasal mengenai pengecualian. Dengan tegas polis ini
menentukan terhadap hal-hal apa saja terdapat pengecualian, apakah bencana
atau bahayanya, ataukah mengenai bendanya atau mengenai kerugian tertentu
yang dikecualikan dari perjanjian pertanggungan yang dimaksud.
4. Kondisi-kondisi.
Pada bagian polis ini dijelaskan tentang apa yang menjadi hak dan kewajiban
para pihak baik penanggung atau tertanggung. Kondisi-kondisi termaksud,
biasanya mengenai :
Pembayaran premi
Pertanggungan-pertanggungan lain
Perubahan risiko
Kewajiban tertanggung bila terjadi peristiwa
Laporan kerugian
Ganti rugi
Kerugian atas barang
Ganti rugi pertanggungan rangkap
Pertanggungan di bawah harga
Laporan waktu
Taksiran harga dalam kerugian
28

Biaya yang diganti


Pembayaran ganti rugi
Sisa barang
Sisa jumlah pertanggungan
Subrogasi
Gugurnya hak ganti rugi
Penghentian pertanggungan
Pengembalian premi
Perselisihan
Penutup
2.9 Hak dan Kewajiban Penanggung dan Tertanggung
a) Hak Penanggung
Menerima premi
Menerima mededelingsplicht yaitu (keterangan tentang keadaan benda
yang sebenarnya dari benda yang diasuransikan dari tertanggung).
Hak-hak lain sebagai lawan dari kewajiban Penanggung
b) Kewajiban Penanggung
Memberikan polis
Memberikan ganti rugi terjadi peristiwa yang tidak boleh bertentangan
dengan asas indemtriteit (untuk asuransi ganti rugi).
Memberikan pembayaran sejumlah uang berdasarkan kata sepakat (untuk
asuransi sejumlah uang)
Mengembalikan premi restorno (mengembalikan sebagian atau seluruh
premi berhubungan sebagian/seluruh resiko tak jadi dipertanggungkan).
Syarat premi restorno :
a) Itikad baik
b) Peristiwa belum terjadi
c) Perjanjian seluruh / sebagian tak sah.
c) Kewajiban Tertanggung
29

Membayar premi
Memberikan mededelingsplidat
Mencegah agar kerugian dapat diatasi.
d) Hak Tertanggung
Menerima polis
Mendapat ganti kerugian jika terjadi peristiwa yang belum tentu terjadi
Hak-hak lain sebagai lawan dari kewajiban tertanggung.
2.10 Batal & Sanksi Asuransi
Suatu pertanggungan hakikatnya adalah suatu perjanjian maka ia dapat
pula diancam dengan risiko batal atau dapat dibatalkan apabila tidak memenuhi
syarat sahnya perjanjian sebagaimana ditentukan dalam Pasal 1320 PUH Perdata.
Selain itu KUHD mengatur tentang ancaman batal apabila dalam
perjanjian asuransi apabila :
1. Memuat keterangan yang keliru atau tidak benar atau bila tertanggung tidak
memberitahukan hal-hal yang diketahuinya sehingga apabila hal itu
disampaikan kepada pebanggung akan berakibat tidak ditutupnya perjanjian
asuransi tersebut (Pasal 251 KUHD)
2. Memuat suatu kerugianyang sudah ada sebelum perjanjian asuransi
ditandatangani (Pasal 269 KUHD); memuat ketentuan bahwa tertanggung
dengan pemberitahuan melalui pengadilan membebaskan si penanggung dari
segala kewajibannya yang akan datang (Pasal 272 KUHD)
3. Terdapat suatu penipuan atau kecurangan si tertanggung (Pasal 282 KUHD)
4. Apabila obyek pertanggungan menurut peraturan perundang-undangan tidak
boleh diperdagangkan dan atas sebuah kapal baik kapal Indonesia atau akal
asing yang digunakan untuk mengangkut obyek pertanggungan menurut
peraturan perundang-undangan tidak boeh diperdagangkan (Pasal 599
KUHD).
Di dalam praktik dijumpai banyak sekali perusahaan yang bergerak di
bidang perasuransian. Ini menunjukkan bisnis asuransi merupakan bisnis yang
30

menguntungkan. Akan tetapi, bisnis asuransi dapat juga merugikan masyarakat


apabila perusahaan asuransi dikelola secara tidak profesional.
Untuk itulah pemerintah telah menentukan sanksi bagi perusahaan
asuransi yang melakukan pelanggaran.
1. Sanksi Administratif
Setiap perusahaan perasuransian yang tidak memenuhi ketentuan dalam
Peraturan Pemerintah No, 73 tahun 1992 tertanggal 30 Oktober 1992 tentang
Penyelenggaraan Usaha Perasuransian (PP No 73/1992) serta peraturan
pelaksanaannya yang berkenaan dengan :
a. Perizinan usaha
b. Kesehatan keuangan
c. Penyelenggaraan usaha
d. Penyampaian laporan
e. Pengumuman neraca dan perhitungan laba rugi atau tentang pemeriksaan
langsung.
Dikenakan sanksi peringatan, sanksi pembatasan kegiatanusaha dan sanksi
pencabutan izin usaha (Pasal 37 PP No 73/1992) Tanpa mengurangi ketentuan
Pasal 37, maka terdapat :
1) Perusahaan Asuransi atau Perusahaan Reasurransi yang tidak menyampaikan
laporan keuangan tahunan dan laporan operasional tahunan dan atau tidak
mengumumkan neraca dsan perhuitungan laba rugi, sesuai dengan jangka
waktu yang ditetapkan, dikenakan denda administratif Rp. 1.000.000,- (satu
juta rupiah) untuk setiap hari keterlambatan.

2) Perusahaan Pialang Asuransi atau Perusahaan Pialang Reasuransi yang tidak


menyampaikan laporan operasional tahunan sesuai dengan jangka waktu yang
ditetapkan dikenakan denda administratif Rp. 5.00.000,- (lima ratsu ribu
rupiah) untuk setiuap hari keterlambatan (Pasal 38 PP No 73/1992).
2. Sanksi Pidana
Sanksi pidana dikenakan pada kejahatan perasuransian yang diatur dalam
Pasal 21 UU Asuransi, berikut ini;
31

a. Terhadap pelaku utama


Orang yang menjalankan atau menyuruh menjalankan usaha perasuransian
tanpa izi usaha, menggelapkan premi asuransi, menggelapkan dengan cara
mengalihkan, menjaminkan, dan atau menggunakan tanpa hak kekayaan
Perasuransi Asuransi Kerugian atau Perusahaan Asuransi Jiwa atau Perusahaan
Reasuransi, diancam dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun
dan denda paling banyak Rp 2.500.000.000,- (dua milyar lima ratus juta
rupiah).
b. Terhadap pelaku pembantu
Orang yang menerima, menadah, membeli, atau mengagunkan atau menjual
kembali kekayaan perusahaan hasil penggelapan dengan cara tersebut yang
diketahuinya atau patutu diketahuinya bahwa barang-barang tersebut adalah
kekayaan Perusahaan Asuransi Kerugian atau Perusahaan Asuransi Jiwa atau
Perusahaan Reasuransi, diancam dengan pidana penjara paling lama 5 tahun
dan denda paling banyak Rp 500.000.000,- (lima ratus juta rupiah).
c. Terhadap pemalsu dokumen
Orang yang secara sendiri-sendiri atau bersama-sama melakukan pemalsuan
atas dokumen Perusahaan Asuransi Kerugian atau Perusahaan Asuransi Jiwa
atau Perusahaan Reasuransi diancam dengan pidana penjara paling lama 5
tahun dan denda paling banyak Rp 250.000.000,- (dua ratus lima puluh juta
rupiah).

Hal-hal lain yang perlu dikatahui dalam Asuransi :


a. Tarif Asuransi
Suatu harga satuan dari suatu kontrak Asuransi tertentu, untuk obyek
penanggungan tertentu, terhadap risiko tertentu, dan digunakan untuk masa
depan tertentu pula.
Alat untuk mengukur risiko yang realistis (eality of risk), yang berkisar dan
tertanggung kepada mutunya, makin besar kemungkinan rugi, makin besar pula
tarifnya.

b. Obyek Pertanggungan
32

Yaitu semua obyek (properti dan manusia) yang dapat dipertanggungkan


aturannya karena kemungkinan akan mengalami suatu risiko yang dapat
menimbulkan kerugian ditinjau dari segi keuangan. contoh :
Rumah tinggal, gedung, pabrik, tempat usaha,dan lain-lain.
Mobil, kapal, pesawat, dan lain-lain.
Jiwa manusia, keehatan, dan lain-lain;
Proyek pembangunan dan pemasangan mesian.
Pengangkutan barang dan lain-lain.
c. SPPA (Surat Permintaan Penutupan Asuransi)
SPPA adalah formulir isian yang harus di isi oleh calon tertanggung dalam
rangka Penutupan Asuransi yang akan digunakan oleh penanggung untuk
mengevaluasi tingkat risiko dari obyek pertanggungan tersebut. Adapun data
yang di isi dalam SPPA adalah seputar obyek pertanggungan, kondisi sekitar
onyek pertanggungan, data tertanggung, data tertanggung, perincian obyek
tertanggung, tingkat bahaya, dan lain-lain.
2.11 Tinjauan tentang Tanggung Jawab Hukum Perusahaan Asuransi
2.11.1 Tanggung Jawab Hukum
Menurut kamus bahasa Indonesia, tanggung jawab adalah keadaan wajib
menanggung segala sesuatu kalau ada sesuatu hal, boleh dituntut, dipersalahkan,
diperkarakan dan sebagainya (Novianto HP, 501). Definisi tentang hukum sangat
sulit untuk dibuat, karena tidak mungkin untuk mengadakan yang sesuai dengan
kenyataan. Hampir semua Sarjana Hukum memberikan pembatasan hukum yang
berlainan, diantaranya adalah sebagai berikut:
a. E.M. Meyers mengemukakan hukum ialah semua aturan yang mengandung
pertimbangan kesusilaan, ditunjukan kepada tingkah laku manusia dalam
masyarakat dan yang menjadi pedoman bagi penguasapenguasa negara dalam
melakukan tugasnya.
b. Leon Duguit mengemukakan hukum ialah aturan tingkah laku para anggota
masyarakat, aturan yang daya penggunaanya pada saat tertentu diindahkan
oleh suatu masyarakat sebagai jaminan dari kepentingan bersama dan yang
33

jika dilanggar menimbulkan reaksi bersama terhadap orang yang melakukan


pelanggaran itu.
c. Immanuel Kant mengemukakan hukum ialah keseluruhan syarat-syarat yang
dengan ini kehendak bebas dari orang yang satu dapat menyesuaikan diri
dengan kehendak bebas dari orang yang lain, menuruti peraturan hukum
tentang kemerdekaan (C.S.T. Kansil, 1989 : 36).
Menurut kamus bahasa Indonesia, hukum adalah peraturan yang dibuat
dan disepakati baik secara tertulis maupun tidak tertulis, peraturan, undangundang
yang mengikat prilaku setiap masyarakat tertentu (Novianto HP, 221). Tanggung
jawab hukum dapat disimpulkan sebagai keadaan wajib menanggung segala
sesuatu hal berdasarkan peraturan yang dibuat dan disepakati baik secara tertulis
maupun tidak tertulis.
2.11.2 Perusahaan Asuransi
Perusahaan adalah istilah ekonomi yang dipakai dalam KUHD dan
perundang-undangan di luar Kitab Undang-undang Hukum Dagang, tetapi dalam
Kitab Undang-undang Hukum Dagang sendiri tidak dijelaskan pengertian resmi
istilah perusahaan itu. Rumusan pengertian prusahaan terdapat dalam Pasal 1
Undang-undang No. 3 Tahun 1982 tentang Wajib Daftar Perusahaan (UWPD),
yang berbunyi sebagai berikut: perusahaan adalah setiap bentuk usaha yang
menjalankan setiap jenis usaha yang besifat tetap dan terus-menerus dan didirikan,
bekerja, serta berkedudukan dalam wilayah negara Indonesia untuk tujuan
memperoleh keuntungan dan atau laba. Pengertian asuransi dalam kamus bahasa
Indonesia adalah pertanggungan jiwa maupun benda (Novianto HP, 51).
Pasal 246 Kitab Undang-undang Hukum Dagang menentukan bahwa
asuransi adalah suatu persetujuan atau perjanjian dimana pihak yang menjamin
(penanggung) berjanji terhadap pihak yang dinjamin (tertanggung) untuk dengan
menerima sejumlah uang premi pengganti kerugian, yang mungkin akan diderita
oleh yang dijamin (tertanggung) akibat dari suatu peristiwa yang belum terang
akan terjadinya. Perusahaan asuransi diatur dalam Undang-undang No. 2 Tahun
1992, yang dimaksud perusahaan asuransi adalah perusahaan asuransi kerugian,
perusahaan asuransi jiwa, perusahaan reasuransi, perusahaan pialang asuransi,
34

perusahaan pialang reasuransi, agen asuransi, perusahaan penilai kerugian


asuransi dan purusahaan konsultan akturia. Undang-undang No. 2 Tahun 1992,
perusahaan asuransi ada dua, yaitu:
a. Perusahaan asuransi kerugian, adalah perusahaan yang memberikan jasa
dalam penanggulangan resiko atas kerugian, kehilangan manfaat dan tanggung
jawab hukum kepada pihak ketiga, yang timbul dari peristiwa yang tidak pasti.
b. Perusahaan asuransi jiwa, adalah perusahaan yang memberikan jasa dalam
pertanggungan risiko yang dikaitkan dengan hidup atau meninggalnya
seseorang yang dipertanggungkan.
Kesimpulannya bahwa perusahaan asuransi adalah suatu badan usaha yang
memberikan jaminan pertanggungan jiwa maupun benda atas peristiwa yang
tidak. Pengertian diatas antara definisi tanggung jawab hukum dan perusahan
asuransi, maka tanggung jawab hukum perusahaan asuransi adalah kewajiban
yang harus ditanggung sesuai dengan peraturan atau kesepakatan yang telah
disepakati bersama oleh suatu badan usaha yang memberikan jaminan
pertanggungan jiwa maupun benda atas peristiwa yang tidak pasti.

BAB III
STUDI KASUS

PT. ASURANSI RECAPITAL, atau dikenal dengan nama Reguard


adalah salah satu perusahaan asuransi umum nasional yang bernaung di bawah
Recapital Group. Perusahaan asuransi ini memiliki berbagai macam produk
asuransi, salah satunya adalah produk pengamanan barang barang berharga.
PT. Asuransi Recapital (pihak tergugat) sendiri memiliki perjanjian
dengan salah satu nasbahnya yang bernama Zainuddin Anshori ( pihak penggugat)
35

dengan nomor polis SMG/ CC-6/ 2008/00121 dengan objek pertanggungan


berupa 117 ( seratus tujuh belas) ton konstruksi beton besi tower pemancar
dengan nilai pertanggungan yang telah disepakati antara kedua belah pihak yakni
Rp. 936.000.000 ( Sembilan ratus tiga puluh enam juta rupiah). Objek
pertanggungan berupa konstruksi yang akan diangkut dari pelabuhan searang
dengan tujuan pelabuhan Jambi Kalimantan Barat yang diangkut oleh KLM Sinar
Bunga Perdana dengan tanggal keberangkatan 24 Juni 2013.
Pihak asuransi sendiri adalah pihak yang bertanggung jawab antara lain
menyiapkan logistik, mengasuransikan barang angkutan, dan mengirimkan ke
lokasi proyek di Jambi Kalimantan Barat untuk PT. Citra Aditama Indonesia.
Objek pertanggungan asuransi dalam perkara a quo merupakan sebagian dari
barang-barang proyek yang menjadi tanggung jawab penggungat untuk dikirim
sampai dengan saat di lokasi proyek.
Pada tanggal 29 Juni 2008, KLM Sinar Bunga Perdana tenggelam di
perairan utara Karimun Jawa sebagaimana laporan kecelakaan No
GM.761/01/12 / Ad. Tg 2007 yang dikeluarkan oleh Kepala Kantor Administrator
Pelabuhan Tegal. Ajkibat dari tenggelamnya KLM Sinar Bunga perdana tersebut,
pihak penggugat yakni pihak Bpk. Anshori mengajukan klaim asuransi sebesar
nilai pertanggungan yang telah disepakati sebelumnyaa yakni Rp. 936.000.000,00
sebagaimana surat yang telah diajukan Pak Anshori selaku pihak tergugat
tertanggal 12 Agustus 2008 kepada tergugat.

Berdasarkan surat tersebut, pihak tergugat meninta agar penggugat


melengkapi dokumen-dokumen sebagai berikut :
a. Invoice baarang
b. Packing list

c. Kontrak kerja dengan pihak Excelmindo

d. Kontrak kerja pengiriman barang dengan EMKL

e. Dokumen-dokumen lainnya yang berhubungan dengaan pengiriman


barang tersebut.
36

Lalu, setelah itu, pihak penggugat menanggpi surat tergugat dengan


mengirimkan dokumen-dokumen berupa :

a. Invoice barang

b. Packing list

c. Kontrak kerja dengan pihak Excelmindo

d. Kontrak pengiriman barang dengan EMKL


Namun ternyata, berdasarkan surat No 062/ ARC-HDO/ LM / X/08 pihak
Tergugat menolak klaim yang diajukan penggugat dengan alasan yaitu telah
terjadi perbedaan mengenai waktu keberangkatan yang menurut dalil Tergugat
disebutkan kapal tersebut berangkat pada tanggal 19 Juni 2008 sedangkan
penandatanganan polis pada tanggal 23 Juni 2008. Kemudian, pihak penggugat
menanggapi surat Tergugat sebagaimana bukti penandatanganan polis tanggal 23
Juni 2008 dengan mengirimkan surat tertanggal 3 November 2008 yang
menyampaikan bahwa tidak mungkin kapal tersebut bisa berangkat pada tanggal
19 Juni 2008, fakta ini sesuai degan bukti-bukti lainnya sehingga adalah tidak
mungkin kapal berlayar dengan mengangkut barang milik Penggugat pada tanggal
19 Juni 2008 sedangkan pembayaran dilakukan tanggal 20 Juni 2008.
Pihak tergugat sendiri mengetahui persis bahwa kapal tidak berangkat
tanggal 19 Juni 2008 sebagaimana bukti-bukti yang telah diajukan penggugat
sebelumnya ditambah dengan keterangan dari Kepala Kantor Administrator
Pelabuhan Tegal yang secara jelas menyebutkan bahwa kapal berangkat dari
pelabuhan Tanjung Emas Semarang pada hari Selasa tanggal 24 Juni 2008 jam
04.00 sehingga dalil tergugat yang menyatakan menolak klaim karena
keberangkatan kapal sebelum waktu penandatanganan polis asuransi adalah alasan
yang tidak dapat diterima.
Berdasarkan bukti-bukti yang tidak terbantahkan lagi kebenarannya, maka
sangat beralasan Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan yang
memerika perkara a quo, untuk menjatuhkan putusan, putusan yang dijatuhkan
adalah sebagai berikut :
37

a. Mengabulkan gugatan Penggugat untuk seluruhnya;

b. Menyatakan Tergugat telah melakukan perbuatan ingkar janji/ wanprestasi

c. Menghukum tergugat untuk membayar klaim asuransi kepada Penggugat


beserta kerugan dengan rincian sebagai berikut:

- Materiil : penggantian klaim atas objek asuransi seharga Rp.


936.000.000 ( Sembilan ratus tiga puluh enam juta rupiah) yang menjadi
hak penggugat sebagai pemegang polis.

- Immateriil : Terganggunya roda usaha penggugat serta reputasi dan


kreadibilitas penggugat di mata dunia usaha dapat dinilai sebesar Rp.
10.000.000.000,00 ( sepuluh ilyar rupiah).

d. Menghukum tergugat untuk membayar buga sebesar 10 % per tahun dari nilai
pertanggungan Rp. 936.000.000,00 atau sama dengan Rp. 93.600.000,-

e. Menyatkan sah dan berharga sita jaminan yang diletakkan.

f. Menyatakan putusan ini dapat dijalankan terlebih dahulu meskipun ada


bantahan banding dan kasasi (Uitvoerbaar bji voorraad).

g. Menghukum turut Tergugat untuk tubduk dan patuh terhadap putusan dalam
perkara ini.

h. Menghukum Tergugat untuk membayar biaya perkara


Namun, pihak tergugat yakni pihak asuransi sendiri tidak dapat menerima
putusan hukum yang telah diputuskan oleh Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.
Oleh karena itu, pihak tergugat mengajukan banding dimana telah megajukan
eksepsi pada pokoknya atas dalil-dalil sebagai berikut :
1. Bahwa gugatan Penggugat memiliki cacat formil error in persona dalam bentuk
plurium litis consortium, dimana gugatan Penggugat tidak lengkap (kurang pihak)
dalam menarik dan menempatkan Tergugat sebagai subyek gugatan dalam
gugatan Penggugat.
38

2. Bahwa Tergugat tidak pernah berhubungan dan menerima pengajuan


permohonan /permintaan penutupan pertanggungan/asuransi secara langsung dari
Penggugat yang biasanya dikategorikan sebagai direct business dalam industri
asuransi.
3. Bahwa Penggugat melakukan pengajuan permohonan/permintaan penutupan
pertanggungan/asuransi kepada PT. Ghanie Akbarindo Distributory yang
bergerak di bidang Insurance & Claims Consultans dan berkedudukan hukum di
Jalan Sindoro II No.32 Ungaran. Semarang 51507 melalui saudara Pramudita
yang bekerja sebagai Operational & Marketing Manager di Perusahaan tersebut.
4. Bahwa selanjutnya, Tergugat tidak pernah menerima pembayaran premi
pertanggungan /asuransi secara langsung dari Penggugat, tetapi Penggugat
membayar presmi pertanggungan tersebut kepada PT. Ghanie Akbarindi
Distributory sebagai perusahaan perantara asuransi independent melalui PT. Cahaya
Kalimantan Raya sebagai turut Tergugat setelah permohonan/permintaan
penuntupan pertanggungan /asuransi Penggugat diterima oleh PT.Ghanie Akbarindo
Distributory;
5. Bahwa PT. Ghanie Akbarindo merupakan jasa perantara asuransi
independent dan tidak mempunyai hubungan hukum mengikat atau perjanjian agen
asuransi dengan Tergugat sebagai penanggung;
6. Bahwa PT. Ghanie Akbarindo Distributory sebagai badan hukum
perseroan mempunyai tanggung jawab hukum atas perbuatan hukum dan hubungan
hukum yang telah dilakukannya untuk kepentingan hukum Penggugat, terkait
dengan fakta-fakta hukum yang dicantumkan dalam pengajuan
permohonan/permintaan penutupan pertanggungan/asuransi tersebut.
7. Bahwa Tergugat berpendapat pihak yang ditarik dan ditempatkan sebagai Tergugat
tidak lengkap (kurang pihak/ plurium litis consortium) karena masih terdapat
pihak lain yang harus ikut ditarik dan ditempatkan sebagai Tergugat lain berdasarkan
semua uraian dan dalil yang Tergugat kemukakan di atas. Oleh karena itu, gugatan
Penggugat memiliki cacat formil error in persona dalam bentuk plurium litis
consortium yang berarti bahwa gugatan yang diajukan oleh Penggugat kurang
pihak, sehingga Penggugat seharusnya menarik dan menempatkan Direksi PT.
Ghanie Akbarindo Distributory sebagai Tergugat I (pertama) sebagai subyek
gugatan dalam gugatan Penggugat.
39

Bahwa terhadap gugatan tersebut Pengadilan Negeri Jakarta Selatan telah


mengambil putusan, yaitu putusannya No. 1301/Pdt.G/2009/PN.Jkt.Sel. tanggal
03 Pebruari 2010 yang amarnya sebagai berikut :

DALAM EKSEPSI :

- Menolak eksepsi Tergugat tersebut;

DALAM POKOK PERKARA :

- Menolak gugatan Penggugat untuk seluruhnya;

- Menghukum Penggugat untuk membayar biaya perkara sebesar


Rp.281.000,- (dua ratus delapan puluh satu ribu rupiah);

Menimbang, bahwa dalam tingkat banding atas permohonan Penggugat


putusan Pengadilan Negeri tersebut telah dibatalkan oleh Pengadilan Tinggi
Jakarta dengan putusannya No.290/Pdt/2010/PT.DKI. tanggal 13 Desember 2010
yang amarnya sebagai berikut :

Menerima permohonan banding dari Pembanding semula Penggugat


ZAINUDIN ANSHORI;

Membatalkan putusan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan Nomor :


1301/Pdt.G/2009/PN.Jkt.Sel. tanggal 03 Pebruari 2010 yang dimohonkan
banding tersebut;

MENGADILI SENDIRI :

DALAM EKSEPSI :

Menyatakan eksepsi Tergugat tidak dapat diterima;

DALAM POKOK PERKARA :

Mengabulkan gugatan Penggugat untuk sebagian;


40

Menyatakan Tergugat telah melakukan perbuatan ingkar


janji (wanprestasi) ;

Menghukum Tergugat membayar klaim asuransi kepada Penggugat


sebesar Rp.936.000.000,- (sembilan ratus tiga puluh enam juta rupiah)
yang menjadi hak Penggugat sebagai pemegang Polis Nomor : SMG/CC-
06/2008/00121 tanggal 23 Juni 2008;

Menghukum Tergugat untuk membayar ongkos perkara dalam kedua


tingkat Pengadilan, yang dalam tingkat banding berjumlah Rp.150.000,-
(seratus lima puluh ribu rupiah);

Menolak gugatan Penggugat untuk selebihnya;

Menimbang, bahwa sesudah putusan terakhir ini diberitahukan kepada


Tergugat/Terbanding I pada tanggal 15 Maret 2011 kemudian terhadapnya oleh
Tergugat/Terbanding I dengan perantaraan kuasanya, berdasarkan surat kuasa
khusus tanggal 15 Maret 2011 diajukan permohonan kasasi secara lisan pada
tanggal 28 Maret 2011 sebagaimana ternyata dari akte permohonan kasasi No
1301/PDT.G/2009/PN.JKT.SEL. yang dibuat oleh Panitera Pengadilan Negeri
Jakarta Selatan, permohonan tersebut disertai dengan/diikuti oleh memori kasasi
yang memuat alasan-alasan yang diterima di Kepaniteraan Pengadilan Negeri
tersebut pada tanggal 07 April 2011 ;

Bahwa setelah itu oleh Penggugat/Pembanding yang pada tanggal 3 Mei


2011 telah diberitahu tentang memori kasasi dari Tergugat/Terbanding I diajukan
jawaban memori kasasi yang diterima di Kepaniteraan Pengadilan Negeri di
Jakarta Selatan pada tanggal 05 Mei 2011;

Menimbang, bahwa permohonan kasasi a quo beserta alasan-alasannya


telah diberitahukan kepada pihak lawan dengan saksama, diajukan dalam
tenggang waktu dan dengan cara yang ditentukan dalam undang-undang, maka
oleh karena itu permohonan kasasi tersebut formal dapat diterima ;
41

Menimbang, bahwa alasan-alasan yang diajukan oleh Pemohon


Kasasi/Tergugat dalam memori kasasinya tersebut pada pokoknya ialah :

A.I. BAHWA PERTIMBANGAN HUKUM PUTUSAN JUDEX FACTI TIDAK


DILAKUKAN SECARA SEKSAMA (ONVOLDOENDE
GEMOTIVEERD);

Bahwa Pemohon Kasasi I (Terbanding I) berpendapat putusan judex facti


tersebut tidak secara seksama telah mempertimbangkan semua hal yang relevan
dengan pokok perkara yang bersangkutan, sehingga putusan demikian harus
dikategorikan sebagai putusan yang mengandung kesalahan penerapan hukum
atau bertentangan dengan hukum. Dalam hal putusan judex facti dikategorikan
sebagai putusan judex facti onvoldoende gemotiveerd adalah apabila
pertimbangan hukum putusan judex facti tersebut dilakukan secara singkat, kabur,
dan tidak konkrit, dimana melalui pertimbangan hukum yang singkat dan kabur
dimaksud diambil suatu kesimpulan untuk mengabulkan dalil-dalil Termohon
Kasasi (Pembanding) tanpa didasari dan didukung oleh alat-alat bukti yang
memenuhi batas minimal pembuktian. Pada umumnya putusan yang
dikategorikan sebagai onvoldoende gemotiveerd sering bertitik singgung dengan
kesalahan penerapan hukum pembuktian. Fakta-fakta yang ditemukan dalam
persidangan tidak dipertimbangkan secara menyeluruh dan komprehensif, dimana
yang dipertimbangkan hanya sebagian saja tanpa adanya penilaian dan
pertimbangan alat-alat bukti relevan lainnya;

Hal tersebut dapat terlihat dengan jelas pada bagian pokok perkara untuk
pertimbangan-pertimbangan hukum putusan judex facti di halaman sampai
dengan halaman 5 putusan judex facti dimaksud sebagai berikut :

Menimbang, bahwa Pengadilan Tinggi sependapat dengan Pengadilan


tingkat pertama (halaman 32 alinea ketiga) yang pada pokoknya
menyatakan bahwa berdasarkan laporan Kecelakaan Kapal (bukti P.3),
Berita Acara Pemeriksaan Pendahuluan Nahkoda (bukti P-10), Berita
42

Acara Pemeriksaan Pendahuluan Kamar Mesin (bukti P-11) dan


seterusnya..

Menimbang, bahwa dalam pertimbangan Pengadilan tingkat pertama


(halaman 32 alinea keempat), Pengadilan tingkat pertama juga menyatakan
bahwa berdasarkan bukti-bukti selain dan selebihnya, setelah
menunjukkan formalitas pengiriman barang dan seterusnya..

Menimbang, bahwa berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tersebut


Pengadilan Tinggi berpendapat bahwasannya Penggugat telah
berhasil membuktikan dalil-dalil, yaitu :

Dalam hal ini terlihat dengan jelas bahwa pertimbangan hukum putusan
judex facti tersebut dapat dikategorikan sebagai putusan judex facti onvoldoende
gemotiveerd karena pertimbangan hukum putusan judex facti dimaksud telah
dilakukan secara singkat, kabur dan tidak konkrit, di mana melalui pertimbangan
hukum yang singkat dan kabur itu diambil suatu kesimpulan untuk mengabulkan
dalil-dalil Termohon Kasasi (Pembanding) tanpa di dasari dan didukung oleh alat-
alat bukti yang memenuhi batas minimal pembuktian. Hal tersebut sangat berbeda
dengan pertimbangan-pertimbangan hukum yang terdapat di halaman 29 sampai
dengan halaman 35 putusan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan
No.1301/Pdt.G/2009/PN.Jkt.Sel., apabila Majelis Hakim Agung melihat dan
mencermati pertimbangan-pertimbangan hukum yang dibuat, di mana
pertimbangan-pertimbangan hukumnya dibuat dan dilakukan secara menyeluruh,
serta komprehensif dengan adanya penilaian dan pertimbangan alat-alat bukti
relevan lainnya;

Bahwa selanjutnya, Pemohon Kasasi I (Terbanding I) berpendapat


penerapan onvoldoende gemotiveerd dapat juga bersinggungan dengan kaidah-
kaidah normatif hukum perjanjian apabila putusan judex facti dimaksud juga tidak
mempertimbangkan dengan saksama kaidah-kaidah normatif hukum perjanjian
secara komprehensif;
43

Hal tersebut dapat terlihat jelas pada bagian pokok perkara untuk
pertimbangan-pertimbangan hukum putusan judex facti di halaman 5 sampai
dengan halaman 6 putusan judex facti dimaksud sebagai berikut :

Menimbang, bahwa berdasarkan kenyataan di atas, Pengadilan


Tinggi berpendapat bahwa Penggugat berhak mengajukan klaim
asuransi kepada, dan seterusnya

Menimbang, bahwa akan tetapi Pengadilan tingkat pertama


ternyata menolak gugatan Penggugat berkenaan dengan tidak
dipenuhinya, dan seterusnya

Menimbang, bahwa Pengadilan tingkat pertama berpendapat


bahwa Penggugat telah misrepresentasi yang merupakan
pelanggaran terhadap prinsip, dan seterusnya..

Menimbang, bahwa alasan Pengadilan tingkat pertama tersebut


adalah tidak dan tidak benar karena dalam Polis Asuransi, dan
seterusnya.

Menimbang, hal tersebut ditambah diperkuat lagi dengan


kenyataan bahwa Polis Asuransi, dan seterusnya,.

Menimbang, bahwa sehingga dengan demikian perbedaan


dokumen tanggal pemberangkatan kapal yang mengangkut barang
tertanggung dan seterusnya.

Bahwa Pemohon Kasasi I (Terbanding I) berpendapat pertimbangan-


pertimbangan hukum yang dikemukakan dalam putusan judex facti juga tidak
mempertimbangkan dengan saksama kaidah-kaidah normatif hukum perjanjian
secara kompreshensif sebagai berikut :

1. Bahwa ketentuan Pasal 251 KUHD menganut prinsip iktikad baik


(principle of utmost good faith), dimana perjanjian asuransi harus
dilaksanakan berdasarkan prinsip iktikad baik, sehingga prinsip iktikad
44

baik tersebut merupakan kewajiban yang harus dipenuhi oleh calon


tertanggung atau tertanggung sebelum perjanjian pertanggungan atau
asuransi ditutup, dan bukan merupakan kewajiban calon tertanggung atau
tertanggung yang harus dipenuhi dalam rangka pelaksanaan perjanjian
yang sudah ditutup sebagaimana dimaksud dalam ketentuan Pasal 1338
ayat (3) Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUHPerdata).

Selanjutnya menurut ketentuan Pasal 251 KUHD polis pertanggungan


secara otomatis batal dan penanggung tidak perlu melakukan permintaan
untuk pembatalan dimaksud, baik jika pelanggaran terhadap prinsip
iktikad baik tersebut telah terjadi secara sengaja atau tidak;

2. Bahwa Termohon Kasasi (Pembanding/Tertanggung) memberi keterangan


atau fakta material berbeda di dalam formulir permintaan penutupan
pertanggungan/asuransi yang dibuat oleh PT. Ghanie Akbarindo
Distributory, dimana obyek pertanggungan diangkut oleh KLM Sinar
Bunga Perdana yang berangkat dari Pelabuhan Tanjung Emas Semarang
pada tanggal 24 Juni 2008, sedangkan bukti-bukti yang dimiliki oleh
Pemohon Kasasi I (Terbanding I) termasuk pengakuan Termohon
Kasasi (Pembanding) menerangkan secara jelas bahwa obyek
pertanggungan diangkut oleh KLM Sinar Bunga Perdana yang berangkat
dari Pelabuhan Tanjung Emas Semarang pada tanggal 19 Juni 2008;

3. Bahwa berdasarkan semua bukti yang dimiliki oleh Pemohon Kasasi I


(Terbanding I), Termohon Kasasi (Pembanding/Tertanggung) terbukti
secara sah dan meyakinkan memberikan keterangan yang tidak benar dan
tidak jujur dengan cara memanipulasi data atau Termohon Kasasi
(Pembanding/ Tertanggung) telah melakukan misrepresentasi mengenai
tanggal keberangkatan KLM Sinar Bunga Perdana kepada Pemohon
Kasasi I (Terbanding I/Penanggung);

4. Bahwa Pemohon Kasasi I (Terbanding I/Penanggung) berpendapat


dan mengkualifikasikan perbuatan atau misrepresentasi yang dilakukan
45

oleh Termohon Kasasi (Pembanding /Tertanggung) merupakan pelanggar


terhadap prinsip iktikad baik (principle of utmost good faith) dalam hukum
asuransi, sebagaimana dimaksud dalam ketentuan Pasal 251 KUHD yang
berdampak pada pembatalan polis pertanggungan secara otomatis dan
Pemohon Kasasi I (Terbanding I/Penanggung) tidak mempunyai
kewajiban hukum untuk membayar klaim per tanggungan, sebagaimana
dikabulkan oleh putusan Pengadilan Tinggi DKI Jakarta Nomor :
290/Pdt/2010/PT.DKI;

Bahwa berdasarkan atas hal-hal yang Pemohon Kasasi I


(Terbanding I) telah kemukakan di atas, Pemohon Kasasi I (Terbanding I)
memohon kepada Majelis Hakim Agung untuk mempertimbangkan semua
dalil hukum tersebut, termasuk dan sebagaimana juga telah diperkuat
dengan pertimbangan-pertimbangan hukum dalam putusan Pengadilan
Negeri Jakarta Selatan atas perkara perdata Nomor :
1301/Pdt.G/2009/PN.Jkt.Sel, serta membatalkan putusan Pengadilan
Tinggi DKI Jakarta Nomor : 290/Pdt/2010/PT.DKI, karena putusan judex
facti dimaksud terbukti telah melakukan kesalahan penerapan hukum
pembuktian dengan tidak menilai dan mempertimbangkan secara seksama
dan komprehensif semua fakta yang ditemukan dalam persidangan;

A.II. BAHWA PUTUSAN JUDEX FACTI TELAH SALAH DALAM


MENERAPKAN HUKUM PEMBUKTIAN :

Bahwa Pemohon Kasasi I (Terbanding I) berpendapat kesalahan penerapan


hukum pembuktian dapat terjadi apabila putusan judex facti hanya menilai dan
mempertimbangkan sebagian alat bukti yang diajukan dalam persidangan,
sebagaimana dimuat dalam semua pertimbangan hukum putusan Pengadilan
Tinggi DKI Jakarta Nomor : 290/PDT/2010/PT.DKI.

Pertimbangan-pertimbangan hukum judex facti tersebut tidak dibuat dan


dilakukan secara menyeluruh, serta komprehensif dengan adanya penilaian dan
pertimbangan alat-alat bukti relevan lainnya. Dalam hal ini pembuktian secara
46

tertulis dan keterangan para saksi yang diajukan oleh Pemohon Kasasi I secara
tegas menyatakan sebagai berikut :

A. PEMBANDING TELAH MEMANIPULASI TANGGAL


KEBERANGKATAN KAPAL LAUT MOTOR (KLM) SINAR BUNGA
PERDANA;

1. Bahwa Pemohon Kasasi I (Terbanding I) berpendapat pertimbangan


hukum judex facti tidak memperhatikan secara seksama bahwa
Termohon Kasasi (Pembanding) telah memberi keterangan atau fakta
material berbeda di dalam formulir permintaan penutupan
pertanggungan/asuransi yagn dibuat oleh PT. Ghanie Akbarindo
Distributory, di mana obyek pertanggungan diangkut oleh KLM Sinar
Bunga Perdana yang berangkat dari Pelabuhan Tanjung Emas
Semarang pada tanggal 24 Juni 2008, sedangkan bukti-bukti tertulis
yang dimiliki oleh Pemohon Kasasi I (Terbanding I) termasuk
pengakuan Termohon Kasasi (Pembanding) menerangkan secara jelas
bahwa obyek pertanggungan diangkut oleh KLM Sinar Bunga
Perdana yang berangkat dari Pelabuhan Tanjung Emas Semarang
pada tanggal 19 Juni 2008;

2. Bahwa di dalam pertimbangan hukum putusan Pengadian Negeri


Jakarta Selatan atas perkara perdata Nomor : 1301/PDT.G/2010
/PN.Jkt.Sel. secara tegas menyatakan sebagai berikut :

a. Bahwa berdasarkan bukti T.7 sampai dengan bukti T.42 dan


keterangan saksi Ivandi Yudho Negoro,SE.MM. Direktur PT.
ADJUSTERINDO PRATAMA serta keterangan ahli Captain Otto
K.M. Caloh, Penggugat telah melakukan misrepresentasi
mengenai tanggal keberangkatan KLM Sinar Bunga Perdana
kepada Tergugat (Penanggung), di mana Captain Otto K.M.Caloh
sebagai ahli menerangkan bahwa surat-surat atau dokumen-
dokumen KLM Sinar Bunga Perdana tidak dibuat dan diperoleh
47

berdasarkan prosedur hukum yang benar dan berlaku. Surat atau


dokumen manifest barang-barang yang akan dimuat tidak
pernah dikenal dan atau tidak pernah diakui dalam prosedur
kelengkapan pemuatan barang-barang di kapal laut atau kargo
laut, sebagaimana Penggugat mengajukan bukti mengenai
MANIFEST BARANG-BARANG YANG AKAN DIMUAT
(P-12) yang dikeluarkan oleh PT. Cahaya Kalimantan Raya pada
tanggal 24 Juni 2008, karena pengertian Manifest adalah suatu
dokumen yang menjelaskan tentang daftar barang-barang yang
telah dimuat di dalam kapal dan bukan merupakan daftar barang-
barang yang akan dimuat di dalam kapal;

b. Bahwa ternyata pula surat atau dokumen berupa Surat Ijin


Berlayar (SIB)/Port Clearence No.11.1/KM.17/165/VI/2008 yang
dibuat oleh Departemen Perhubungan Direktorat Jenderal
Perhubungan Laut Kantor Administrator Pelabuhan Tanjung
Emas Semarang yang menetapkan bahwa tanggal keberangkatan
KLM Sinar Bunga Perdana adalah tanggal 19 Juni 2008 (vide
bukti T.15 dan bukti T.7), artinya KLM Sinar Bunga Perdana
seharusnya berangkat pada tanggal 19 Juni 2008 dari dermaga
Pelabuhan Tanjung Emas Semarang dalam jangka waktu 24 (dua
puluh empat) jam setelah Surat Ijin Berlayar diberikan dan
ditandatangani oleh Syahbandar Pelabuhan Tanjung Emas
Semarang;

c. Bahwa dalam hal ini berdasarkan dalil-dalil dan bukti-bukti


Penggugat sebagaimana telah diutarakan di atas, disebutkan
bahwa KLM Sinar Bunga Perdana tidak dapat berangkat pada
tanggal 19 Juni 2008 dari dermaga Pelabuhan Tanjung Emas
Semarang karena alasan cuaca buruk dan baru dapat berangkat
pada tanggal 24 Juni 2008, dimana hal tersebut pula dalam surat
Penggugat kepada Tergugat dalam Menanggapi Surat Ref :
48

042/ARC-HDO/CLM/W/08 tanggal 16 Oktober 2008 (bukti


T.14). Oleh karena itu Nahkoda KLM Sinar Bunga Perdana harus
melaporkan alasan penundaan keberangkatan tersebut kepada
Syahbandar Pelabuhan Tanjung Emas Semarang dan selanjutnya
Pemilik atau Agen KLM Sinar Bunga Perdana harus mengajukan
permohonan pembuatan Surat Ijin Berlayar untuk tanggal
keberangkatan 24 Juni 2008, tetapi hal tersebut tidak dilakukan
oleh Termohon Kasasi (Pembanding) maupun Pemohon Kasasi II
(Terbanding II);

B. SURAT-SURAT DAN DOKUMEN KLM SINAR BUNGA


PERDANA YANG DIKELUARKAN BERTENTANGAN DENGAN
KETENTUAN HUKUM YANG BERLAKU DAN TELAH HABIS
BERLAKUNYA;

1. Bahwa Pemohon Kasasi I (Terbanding I) berpendapat,


pertimbangan hukum judex facti tidak memperhatikan secara
saksama keterangan ahli saudara Captain Otto K.M. Caloh yang
menyatakan bahwa semua surat atau dokumen KLM Sinar Bunga
Perdana tidak dibuat dan diperoleh berdasarkan prosedur hukum
yang benar dan berlaku, seperti:

a. Surat atau dokumen MANIFEST BARANG2 YANG AKAN


DIMUAT tidak pernah dikenal dan atau tidak pernah diakui
dalam prosedur kelengkapan pemuatan barang-barang di kapal
laut atau kargo laut, sebagaimana Termohon Kasasi
(Pembanding) mengajukan bukti P-12 mengenai MANIFES
BARANG YANG AKAN DIMUAT yang dikeluarkan oleh
Pemohon Kasasi II (Terbanding II) PT. Cahaya Kalimantan
Raya pada tanggal 24 Juni 2008, karena pengertian Manifest
menurut saudara Captain Otto K.M. Caloh adalah suatu
dokumen yang menjelaskan tentang daftar barang-barang yang
49

telah dimuat di dalam kapal dan bukan merupakan daftar


barang-barang yang akan dimuat di dalam kapal;

b. Surat atau dokumen Memorandum Surat-surat Kapal


seharusnya memuat keterangan mengenai jenis surat-surat atau
dokumen- dokumen kapal yang masih baik dan layak laut, serta
berlaku (seaworthiness) atau bukti T-41, tetapi beberapa surat
dalam memorandum tersebut, seperti Sertifikat Keselamatan
telah habis masa berlakunya pada tanggal 19 Juni 2008
sedangkan Sertifikat Radio akan berakhir masa berlakunya
pada tanggal 28 Juni 2008.

Oleh karena itu saudara Captain Otto K.M. Caloh berpendapat


seharusnya KLM Sinar Bunga Perdana tidak diijinkan berlayar
menuju Pelabuhan Sukamara Kalimantan Tengahkarena
Departemen Perhubungan Direktorat Jenderal Perhubungan
Laut Kantor Administrasi Pelabuhan Tanjung Emas Semarang
harus memeriksa ulang terhadap semua perlengkapan dan
konstruksi KLM Sinar Bunga Perdana saat pemilik atau agen
KLM Sinar Bunga Perdana memperbaharui kedua jenis surat
tersebut di atas;

c. Surat atau dokumen Daftar Pemeriksaan (Check List) dalam


rangka penerbitan SIB (bukti T.42) seharusnya ditandatangani
sebelum pemberian Surat Ijin Berlayar (SIB) (bukti P-15 dan
bukti T-7), tetapi daftar pemeriksaan (Check List) dalam rangka
Penerbitan SIB ditandatangani oleh Perwira Jaga/Pemeriksa
dari Departemen Perhubungan Direktorat Jenderal
Perhubungan Laut Kantor Administrator Pelabuhan Tanjung
Emas Semarang pada tanggal 20 Juni 2008, sedangkan Surat
Ijin Berlayar (SIB) (bukti P-15 dan bukti T-7) ditandatangani
oleh Syahbandar Pelabuhan Tanjung Emas Semarang pada
tanggal 19 Juni 2008;
50

d. Surat atau dokumen SURAT IJIN BERLAYAR/PORT


CLEARANCE No.11.1/KM.17/165/VI/2008 yang dibuat
oleh Departemen Perhubungan Direktorat Jenderal
Perhubungan Laut Kantor Administratir Pelabuhan Tanjung
Emas Semarang yang menetapkan bahwa tanggal
keberangkatan KLM Sinar Bunga Perdana adalah tanggal 19
Juni 2008 (bukti P-15 dan bukti P.T-7). Hal itu berarti bahwa
KLM Sinar Bunga Perdana harus berangkat pada tanggal 19
Juni 2008 dari dermaga Pelabuhan Tanjung Emas Semarang
dalam jangka waktu 24 (dua puluh empat) jam setelah Surat
Ijin Berlayar diberikan dan ditandatangani oleh Syahbandar
Pelabuhan Tanjung Emas Semarang, sedangkan Termohon
Kasasi (Pembanding) mendalilkan bahwa KLM Sinar Bunga
Perdana tidak dapat berangkat pada tanggal 19 Juni 2008 dari
dermaga Pelabuhan Tanjung Emas Semarang karena alasan
cuaca buruk dan baru dapat berangkat pada tanggal 24 Juni
2008 sebagaimana pengakuan Termohon Kasasi (Pembanding)
dalam Surat Termohon Kasasi (Pembanding) kepada Pemohon
Kasasi I (Terbanding I) perihal Menanggapi Surat Ref :
02/ARC-HDO/CLM/ IX/08 tanggal 16 Oktober 2008 (bukti
T.14). Oleh karena itu Nahkoda KLM Sinar Bunga Perdana
harus melaporkan alasan penundaan keberangkatan tersebut
kepada Syahbandar Pelabuhan Tanjung Emas Semarang dan
selanjutnya pemilik atau Agen KLM Sinar Bunga Perdana
harus mengajukan permohonan pembuatan Surat Ijin Berlayar
untuk tanggal keberangkatan 24 Juni 2008;

e. Bahwa KLM Sinar Bunga Perdana seharusnya tidak diijinkan


untuk berlayar dari dermaga Pelabuhan Tanjung Emas
Semarang menuju Pelabuhan Sukamara Kalimantan Tengah
karena pembuatan dan perolehan surat-surat atau dokumen-
51

dokumen KLM Sinar Bunga Perdana tersebut di atas tidak


dilakukan berdasarkan prosedur hukum yang benar dan berlaku
atau tidak layak dan layak laut (sea worthiness), sehingga
Pemilik dan atau Agen KLM Sinar Bunga Perdana, yaitu PT.
Cahaya Kalimantan Raya sebagai Pemohon Kasasi II
(Terbanding II) mempunyai tanggung jawab hukum atas
kerugian materiil yang dialami oleh Termohon Kasasi
(Pembanding);

2. Bahwa di dalam pertimbangan hukum putusan Pengadilan Negeri


Jakarta Selatan atas perkara perdata Nomor : 1301/Pdt.G/2009/
PN.Jkt.Sel. secara tegas menyatakan bahwa surat-surat
kelengkapan kapal (KLM Sinar Bunga Perdana) telah habis masa
berlakunya, seperti :

a. Bukti T.41 berupa surat atau dokumen Memorandum Surat-


surat Kapal seharusnya memuat keterangan mengenai jenis
surat- surat atau dokumen-dokumen kapal yang masih laik dan
layak laut, serta berlaku (sea worthiness) dihubungkan dengan
bukti T.42, bukti T.7 dan bukti T.15, di mana ternyata bahwa
beberapa surat dalam memorandum tersebut antara lain :

Sertifikat Keselamatan telah habis masa berlakunya pada


tanggal 19 Juni 2008;

Seritifikat Radio akan berakhir masa berlakunya pada


tanggal 28 Juni 2008;

Oleh karena itu seharusnya KLM Sinar Bunga Perdana tidak


diijinkan berlayar menuju Pelabuhan Sukamara Kalimantan
Tengah karena Departemen Perhubungan Direktorat Jenderal
Perhubungan Laut Kantor Administrator Pelabuhan Tanjung
Emas Semarang harus memeriksa ulang terhadap semua
52

perlengkapan dan konstruksi KLM Sinar Bunga Perdana saat


pemilik atau agen KLM Sinar Bunga Perdana
memperbaharuinya;

Di samping itu, ternyata pula bahwa surat atau dokumen daftar


pemeriksaan (Check List)dalam rangka Penerbitan SIB
seharusnya ditandatangani sebelum pemberian Surat Ijin
Berlayar (SIB), tetapi Daftar Pemeriksaan (Check List) dalam
rangka penerbitan SIB ditandatangani oleh Perwira
Jaga/Pemeriksaan dari Departemen Perhubungan Direktorat
Jenderal Perhubungan Laut Kantor Administrator Pelabuhan
Tanjung Emas Semarang pada tanggal 20 Juni 2008, sedangkan
Surat Ijin Berlayar (SIB) ditandatangani oleh Syahbandar
Pelabuhan Tanjung Emas Semarang pada tanggal 19 Juni 2008;

C. BAHWA KLM SINAR BUNGA PERDANA TIDAK MEMILIKI IZIN


UNTUK BERLAYAR KARENA SURAT IZIN BERLAYAR (SIB)
TELAH HABIS MASA BERLAKUNYA PADA TANGGAL 19 JUNI
2008;

1. Bahwa Pemohon Kasasi I (Terbanding I) berpendapat,


pertimbangan hukum judex facti tidak memperhatikan secara
saksama bahwa tanggal keberangkatan KLM Sinar Bunga Perdana
adalah tanggal 19 Juni 2008 berdasarkan bukti T.7 berupa Surat
Ijin Berlayar (Port Clearance) yang dibuat oleh Departemen
Perhubungan Direktorat Jenderal Perhubungan Laut Kantor
Administrator Pelabuhan Tanjung Emas Semarang yang
menetapkan bahwa tanggal keberangkatan KLM Sinar Bunga
Perdana adalah tanggal 19 Juni 2008;

Bahwa didalam ketentuan Pasal 40 ayat (2) Undang-Undang


Nomor.21 tahun 1992 Tentang Pelayaran ditetapkan sebagai
berikut :
53

Setiap kapal yang akan berlayar wajib memiliki Surat Ijin


Berlayar yang dikeluarkan oleh Syahbandar setelah memenuhi
persyaratan kelautan kapal;
Bahwa Surat Ijin Berlayar KLM Sinar Bunga Perdana dibuat oleh
Departemen Perhubungan Direktorat Jenderal Perhubungan Laut
Kantor Administrator Pelabuhan Tanjung Emas Semarang yang
menerangkan bahwa Surat Ijin Berlayar tersebut diberikan di
Semarang pada tanggal 19 Juni 2008. Selanjutnya di dalam Surat
Ijin Berlayar dimaksud terdapat ketentuan yang menetapkan
sebagai berikut :
Jika terdapat perubahan-perubahan atau coretan-coretan atau
apabila dalam jangka waktu 24 jam (Peraturan Bandar 1925
Pasal 8 ayat 3) setelah ditandatangani kapal tidak berlayar, maka
surat izin berlayar ini tidak berlaku;

2. Bahwa ketentuan ini secara tegas menetapkan KLM Sinar Bunga


Perdana harus berangkat pada tanggal 19 Juni 2008 dalam jangka
waktu 24 (dua puluh empat) jam setelah Surat Ijin Berlayar
ditandatangani oleh Departemen Perhubungan Direktorat Jenderal
Perhubungan Laut Kantor Administrator Pelabuhan Tanjung Emas
Semarang karena tidak ada perubahan sama sekali yang telah
dilakukan oleh Termohon Kasasi (Pembanding) dan atau Pemohon
Kasasi II (Terbanding II) atas Surat Ijin Berlayar tersebut sampai
saat ini atau di dalam fakta persidangan;

3. Bahwa di dalam pertimbangan hukum putusan Pengadilan Negeri


Jakarta Selatan atas perkara perdata Nomor : 1301/Pdt.G/2009/
PN.Jkt.Sel secara tegas menyatakan sebagai berikut :

a. Bahwa ternyata pula surat atau dokumen berupa Surat Ijin


Berlayar (SIB)/Port Clearence No.11.1/KM.17/165/VI/2008
yang dibuat oleh Departemen Perhubungan Direktorat Jenderal
Perhubungan Laut Kantor Administrator Pelabuhan Tanjung
54

Emas Semarang yang menetapkan bahwa tanggal


keberangkatan KLM Sinar Bunga Perdana adalah tanggal 19
Juni 2008 (vide bukti T.15 dan bukti T.7), artinya KLM Sinar
Bunga Perdana seharusnya berangkat pada tanggal 19 Juni
2008 dari dermaga Pelabuhan Tanjung Emas Semarang dalam
jangka waktu 24 (dua puluh empat) jam setelah Surat Ijin
Berlayar diberikan dan ditandatangani oleh Syahbandar
Pelabuhan Tanjung Emas Semarang;

b. Bahwa dalam hal ini berdasarkan dalil-dalil dan bukti-bukti


Penggugat sebagaimana telah diutarakan di atas, disebutkan
bahwa KLM sinar Bunga Perdana tidak dapat berangkat pada
tanggal 19 Juni 2008 dari dermaga Pelabuhan Tanjung Emas
Semarang karena alasan cuaca buruk dan baru dapat berangkat
pada tanggal 24 Juni 2008, di mana hal ini tersebut pula dalam
surat Penggugat kepada Tergugat dalam Menanggapi surat
Ref:042/ARC/HDO/CLM/08 tanggal 16 Oktober 2008 (bukti
T.14).

Oleh karena itu Nahkoda KLM Sinar Bunga Perdana harus


melaporkan alasan penundaan keberangkatan tersebut kepada
Syahbandar Pelabuhan Tanjung Emas Semarang dan
selanjutnya pemilik atau Agen KLM Sinar Bunga Perdana
harus mengajukan permohonan pembuatan surat Ijin Berlayar
untuk tanggal keberangkatan 24 Juni 2008;

c. Bahwa fakta tersebut ditegaskan pula oleh saksi Ivandi Yudo


Negoro,SE,MM., Direktur PT. Adjusterindo Pratama selaku
adjuster yang melakukan investigasi di lapangan dengan
mencermati segala dokumen yang berkaitan dengan kapal,
pelayaran, asuransi, serta fakta kecelakaan kapal, dimana
ternyata didapat perbedaan tanggal keberangkatan kapal
tanggal 19 Juni 2008 dan tanggal 24 Juni 2008 dengan alasan
55

tidak mendapat ijin berlayar dari Syahbandar, namun


kenyataannya dokumen yang ada tertera tanggal keberangkatan
kapal pada tanggal 19 Juni 2008 sedangkan untuk
perubahannya ke tanggal 24 Juni 2008 tidak ditemukan adanya
pelaporan lengkap berkenaan dengan dokumen kapal, muatan
dan lain-lain yang berkaitan dengan itu kepada Penanggung.
Hal tersebut dalam hukum asuransi disebut Misrepresentasi dan
merupakan perwujudan dari adanya pelanggaran terhadap
prinsip iktikad baik (principle of utmost good faith);

Bahwa berdasarkan atas hal-hal yang Pemohon Kasasi I


(Terbanding I) telah kemukakan di atas, Pemohon Kasasi I
(Terbanding I) memohon kepada Majelis Hakim Agung untuk
mempertimbangkan semua dalil hukum tersebut, termasuk dan
sebagaimana juga telah diperkuat dengan pertimbangan-
pertimbangan hukum dalam putusan Pengadilan Negeri Jakarta
Selatan atas perkara perdata Nomor : 1301/Pdt.G/2009
/PN.Jkt.Sel. serta membatalkan putusan Pengadilan Tinggi DKI
Jakarta judex facti dimaksud terbukti hanya menilai dan
mempertimbangkan sebagian alat bukti yagn diperoleh dalam
persidangan;

A.III. BAHWA PUTUSAN JUDEX FACTI TELAH MENERAPKAN


KETENTUAN PERATURAN PERUNDANGAN-UNDANGAN SECARA
SEMPIT ATAU MELAKUKAN KESALAHAN PENAFSIRAN HUKUM :

Bahwa Pemohon Kasasi I (Terbanding I) berpendapat prinsip iktikad baik


yang tidak diperhatikan secara seksama di dalam putusan judex facti merupakan
permasalahan hukum yang tunduk pada pemeriksaan kasasi.
Apabila prinsip iktikad baik telah dikemukakan oleh salah satu pihak
dalam persidangan, tetapi putusan judex facti tidak memperhatikan dan
mempertimbangkannya, maka selanjutnya hal tersebut dianggap sebagai suatu
kesalahan penerapan hukum;
56

Bahwa kesalahan putusan judex facti dimaksud dapat terlihat di dalam


pertimbangkan hukum putusan judex facti di halaman 6 sebagai berikut :

Menimbang, bahwa hal tersebut ditambah diperkuat lagi dengan


kenyataan bahwa Polis Asuransi (bukti P1 dan P1-A) baru ditandatangani
oleh Penggugat dan Tergugat pada tanggal 23 Juni 2008, dengan
demikian keberangkatan kapal pada tanggal 24 Juni 2008 adalah benar;

Menimbang, bahwa sehingga dengan demikian perbedaan dokumen


tanggal pemberangkatan kapal yang mengangkut barang tertanggung
antara tanggal 19 Juni 2008 dan tanggal 24 Juni 2008, tidak bisa dinilai
sebagai misrepresentasi yang merupakan pelanggaran ikikad baik dalam
hukum asuransi sebagaimana dimaksud Pasal 251 KUHD, dan terlebih
lagi seandainya benar hal tersebut terbukti, Polis Asuransi tersebut tidak
otomatis batal (batal demi hukum), tetapi dapat dibatalkan oleh
Pengadilan atas permohonan pihak sebagaimana diatur dalam Pasal 1265,
Pasal 1266, Pasal 1267, dan Pasal 1331 KUHPerdata;

Bahwa terkait dengan adanya kesalahan penerapan hukum dimaksud,


khususnya kesalahan penafsiran hukum yang dilakukan di dalam pertimbangan
hukum putusan judex facti di atas, Pemohon Kasasi I:

1. Bahwa pertimbangan hukum putusan judex facti tersebut tidak


memperhatikan dan mempertimbangkan prinsip iktikad baik dalam
norma-norma hukum asuransi di dalam fakta-fakta persidangan perkara a
quo, sebagaimana Pemohon Kasasi I (Terbanding I) telah
mengutarakannya di dalam jawaban Tergugat, duplik Tergugat, bukti-
bukti Tergugat, saksi-saksi Tergugat, kesimpulan Tergugat dan Kontra
Memori banding Terbanding I, termasuk pertimbangan-pertimbangan
hukum yang terdapat di dalam putusan Pengadilan Negeri Jakarta Jakarta
Selatan atas perkara perdata Nomor : 1301/Pdt.G/2009/PN.Jkt. Sel;

2. Bahwa Principle of Utmost Good Faith atau Uberrima Fides atau iktikad
baik merupakan prinsip paling hakiki dalam hukum asuransi yang
57

diterjemahkan sebagai prinsip iktikad baik yang terbaik atau prinsip


kejujuran sempurna. Dalam perjanjian pertanggungan / asuransi, iktikad
baik saja tidak cukup tetapi calon tertanggung atau tertanggung dituntut
untuk memberikan yang terbaik dari iktikad baik atau memiliki kejujuran
sempurna. Artinya calon tertanggung atau tertanggung dianggap lebih
memahami hal-hal yang terkait dengan benda atau obyek yang akan
dipertanggungkan. Aspek utmost menekankan pada insiatif tertanggung
untuk mengungkapkan fakta- fakta penting yang tidak ditanyakan atau
diminta oleh penanggung (underwriter), sedangkan Aspek Good Faith
menekankan pada iktikad baik tertanggung untuk selalu menjawab atau
mengungkapkan secara jujur setiap pertanyaan yang disampaikan oleh
penanggung. Oleh karena itu, tertanggung harus mengungkapkan semua
fakta material terkait dengan obyek pertanggungan tersebut secara jujur,
akurat dan lengkap kepada penanggung baik diminta atau tidak diminta
oleh penanggung;

3. Bahwa apabila semua keterangan dan fakta material yang diberikan oleh
tertanggung tidak benar atau keliru atau tertanggung tidak memberikan
semua keterangan dan fakta material yang diketahuinya, maka
penanggung dapat membatalkan polis pertanggungan dan menolak semua
tuntutan klaim pertanggungan dari tertanggung jika ternyata di kemudian
hari semua keterangan dan fakta material yang disampaikan oleh
tertanggung berbeda dengan keadaan yang sebenarnya;

4. Bahwa Kitab Undang-Undang Hukum Dagang (KUHD) menganut


principle of utmost good faith, dimana perjanjian asuransi harus
dilaksanakan dengan prinsip iktikad baik sebagaimana dimaksud dalam
ketentuan Pasal 251 KUHD sebagai berikut :

Semua pemberitahuan yang keliru atau tidak benar atau semua


penyembunyian keadaan yang diketahui oleh tertanggung meskipun
dilakukannya dengan iktikad baik yang sifat sedemikian rupa sehingga
58

perjanjian itu tidak akan diadakan atau tidak diadakan dengan syarat-
syarat yang sama, bila penanggung mengetahui keadaan yang
sesungguhnya dari semua hal itu membuatpertanggungan itu batal;

5. Bahwa ketentuan Pasal 251 KUHD didasarkan atas suatu asas bahwa
tertanggung wajib memberitahukan segala sesuatu dengan sempurna
mengenai benda pertanggungan kepada penanggung supaya penanggung
dapat mengetahui dengan jelas risiko yang akan dipertanggungkannya.
Risiko ini erat kaitannya dengan klaim ganti kerugian yang akan menjadi
beban penanggung dimana berdasarkan kekeliruan, kesalahan dan kurang
lengkapnya pemberitahuan mengenai benda pertanggungan akan
mengakibatkan gambaran yang keliru, salah atau kurang sempurnanya
tentang berat ringannya risiko yang menjadi beban penanggung. Dengan
adanya gambaran risiko yang salah, keliru atau kurang sempurna akan
mengakibatkan kerugian bagi penanggung, dimana dengan kerugian
penanggung tersebut, tertanggung akan memperoleh keuntungan yang
tidak wajar;

6. Bahwa ketentuan Pasal 251 KUHD merupakan aturan khusus (lex


specialis) dari pengertian kekeliruan (dwaling) dan penipuan (bedrog)
menurut ketentuan Pasal 1321 Kitab Undang-undang Hukum Perdata
(KUHPerdata) (lex generalis) yang selanjutnya dapat diuraikan sebagai
berikut :

6.a. Bahwa menurut ketentuan Pasal 1321 KUHPerdata, kekeliruan yang


dapat mengakibatkan batalnya perjanjian itu adalah jika kekeliruan
itu mengenai hakikat dari benda bersangkutan yang menjadi pokok
dari perjanjian tersebut, sedangkan pada perjanjian asuransi
kekeliruan ini adalah mengenai risiko yang menjadi beban
penanggung;
6.b. Bahwa menurut ketentuan Pasal 1321 KUHPerdata, agar penipuan
itu dapat membatalkan perjanjian harus terdapat perbuatan-perbuatan
yang bersifat menipu, sehingga apabila ketentuan Pasal 1321
59

KUHPerdata itu diberlakukan di dalam perjanjian asuransi maka


penaggung akan kurang memperoleh perlindungan hukum;

7. Bahwa bukti T.14 membuktikan Termohon Kasasi telah mengakui dan


tidak menyangkal sama sekali bahwa benar tanggal keberangkatan KLM
Sinar Bunga Perdana adalah tanggal 19 Juni 2008. Oleh karena itu,
Pemohon Kasasi I (Terbanding I) berpendapat, Termohon Kasasi terbukti
secara sah dan meyakinkan telah melanggar prinsip iktikad baik (principle
of utmost good faith) dalam hukum asuransi, dimana Termohon Kasasi
(Tertanggung) tidak pernah memberikan klarifikasi yang benar atau telah
melakukan misrepresentasi mengenai tanggal keberangkatan KLM Sinar
Bunga Perdana kepada Pemohon Kasasi I (Terbanding I/Penanggung);

8. Bahwa selanjutnya, menurut ketentuan Pasal 251 KUHD polis


pertanggungan secara otomatis langsung batal dan penanggung tidak
perlu melakukan permintaan untuk pembatalan dimaksud, baik jika
pelanggaran terhadap prinsip iktikad baik tersebut telah terjadi secara
sengaja atau tidak karena untuk pembatalan perjanjian asuransi tidak perlu
ditunjukkan adanya hubungan atau relasi antara pemberitahuan yang
keliru dengan sebab-sebab kerugian. Oleh karena itu, Pemohon Kasasi I
(Terbanding I) berpendapat bahwa pembatalan Polis Pertanggungan
Nomor : SMG/CC-06/2008/00121 milik Termohon Kasasi tidak
diperlukan adanya pembatalan dari Pengadilan atas permohonan pihak
seperti yang ditentukan oleh Pasal 1265, Pasal 1266, 1267 dan Pasal 1331
KUHPerdata sebagaimana pertimbangan hukum putusan judex facti di
halaman 6;

Bahwa berdasarkan atas hal-hal yang Pemohon Kasasi I (Terbanding I)


telah kemukakan di atas, Pemohon Kasasi I (Terbanding I) memohon
kepada Majelis Hakim Agung untuk mempertimbangkan semua dalil
hukum tersebut, termasuk dan sebagaimana juga telah diperkuat dengan
pertimbangan-pertimbangan hukum dalam putusan Pengadilan Negeri
Jakarta Selatan atas perkara perdata Nomor : 1301/Pdt.G/2009/PN.Jkt.Sel.
60

serta membatalkan putusan Pengadilan Tinggi DKI Jakarta Nomor :


290/Pdt/2010/PT.DKI, karena pertimbangan hukum putusan judex
facti dimaksud terbukti telah menerapkan ketentuan peraturan perundang-
undangan secara sempit atau melakukan kesalahan penafsiran hukum;

Berdasarkan dalil-dalil alasan kasasi di atas, maka dapat disimpulkan


memori kasasinya sebagai berikut :

1. Bahwa Termohon Kasasi (Pembanding) telah memberikan keterangan


atau fakta material yang berbeda di dalam formulir permintaan penutupan
pertanggungan/asuransi yang dibuat oleh PT.Ghanie Akbarindo Distributory,
dimana obyek pertanggungan diangkut oleh KLM Sinar Bunga Perdana yang
berangkat dari Pelabuhan Tanjung Emas Semarang pada tanggal 24 Juni
2008, sedangkan bukti-bukti tertulis yang dimiliki oleh Pemohon Kasasi I
(Terbanding I) termasuk pengakuan Termohon Kasasi (Pembanding)
menerangkan secara jelas bahwa obyek pertanggungan diangkut oleh KLM
Sinar Bunga Perdana yang berangkat dari Pelabuhan Tanjung Emas Semarang
pada tanggal 19 Juni 2008;

2. Bahwa semua dalil Pemohon Kasai I (Terbanding I) dalam pokok perkara


baik yang terdapat di dalam jawaban, Duplik, dan Kesimpulan Pemohon
Kasasi I/dahulu Tergugat, serta kontra memori banding Terbanding I telah
didukung dan dikuatkan oleh alat-alat bukti berupa Bukti-bukti tertulis atau
Surat dan Bukti saksi atau keterangan saksi-saksi Pemohon Kasasi I/dahulu
Tergugat, sehingga Pemohon Kasasi I (Terbanding I) tetap berpendapat
bahwa Termohon Kasasi (Pembanding/Tertanggung) telah terbukti secara sah
dan meyakinkan memberikan keterangan yang tidak benar dan tidak jujur
dengan cara memanipulasi data atau Termohon Kasasi (Pembanding) telah
melakukan misrepresentasi mengenai tanggal keberangkatan KLM Sinar
Bunga Perdata kepada Pemohon Kasasi I (Terbanding I/Penanggung)
berdasarkan pengajuan dan pemeriksaan bukti-bukti tertulis yang dimiliki
oleh Pemohon Kasasi I/Terbanding I maupun keterangan saksi-saksi
Pemohon Kasasi I/Terbanding I yang telah diperdengarkan dalam acara
61

persidangan keterangan saksi Pemohon Kasasi I/Terbanding I pada hari, Rabu


tanggal 25 Nopember 2009 dan hari Rabu, tanggal 16 Desember 2009;

3. Bahwa surat-surat yang dimiliki oleh KLM Sinar Bunga Perdana telah habis
masa berlakunya dan diragukan keabsahannya, serta tidak memenuhi
persyaratan Kelaiklautan Kapal sebagimana dimaksud dalam ketentuan Pasal
35, Pasal 36, Pasal 37, dan Pasal 38 Undang-Undang Nomor.21 tahun 1992
Tentang Pelayaran, seperti Sertifikat Keselamatan telah habis masa
berlakunya pada tanggal 19 Juni 2008 dan Sertifikat Radio yang akan
berakhir masa berlakunya pada tanggal 28 Juni 2008. Di samping itu, ternyata
pula surat atau dokumen daftar Pemeriksaan (Check List) dalam rangka
penerbitan SIB seharusnya ditandatangani sebelum pemberian Surat Ijin
Berlayar (SIB), tetapi daftar pemeriksaan (Check List) dalam rangka
Penerbitan SIB telah ditandatangani oleh Perwira Jaga/Pemeriksa dari
Departemen Perhubungan Direktorat Jenderal Perhubungan Laut Kantor
Administrator Pelabuhan Tanjung Emas Semarang pada tanggal 20 Juni 2008,
sedangkan Surat Ijin Berlayar (SIB) ditandatangani oleh Syahbandar
Pelabuhan Tanjung Emas Semarang pada tanggal 19 Juni 2008;

4. Bahwa berdasarkan bukti-bukti dan fakta-fakta hukum di persidangan dalam


perkara a quo, Termohon Kasasi (Pembanding) terbukti secara sah dan
meyakinkan telah melanggar ketentuan Pasal 251 Kitab Undang-undang
Hukum Dagang (KUHD), di mana ketentuan Pasal 251 KUHD menganut
prinsip iktikad baik (principle of utmost good faith) ;

Bahwa selanjutnya di dalam pertimbangan hukum putusan Pengadilan


Negeri Jakarta Selatan atas perkara perdata Nomor :
1301/Pdt.G/2009/PN.Jkt.Sel. secara tegas menyatakan sebagai berikut:

a. Bahwa karena Penggugat telah melakukan Misrepresentasi yang


merupakan pelanggaran terhadap prinsip iktikad baik (principle of
utmost good faith) dalam hukum asuransi sebagaimana dimaksud dalam
ketentuan Pasal 251 KUHD yang selanjutnya berdampak pada
62

pembatalan polis pertanggungan secara otomatis dan Tergugat tidak


mempunyai kewajiban hukum berkenaan dengan klaim asuransi yang
diajukan oleh Penggugat;

b. Bahwa oleh karena telah ternyata bahwa Penggugat tidak memenuhi


kewajiban hukum dalam pelaksanaan pertanggungan cq pemenuhan
persyaratan formil dan materil dalam Polis Asuransi No.SMG/CC-
06/2008/00121 tanggal 23 Juni 2008, sehingga oleh karenanya gugatan
Penggugat berkenaan dengan tidak dipenuhinya klaim asuransi a quo
adalah tidak berdasar hukum;

c. Bahwa oleh karena tidak berdasar hukum, maka gugatan Penggugat


sepatutnya ditolak seluruhnya;

5. Bahwa Pemohon Kasasi I (Terbanding I) tetap menolak dengan tegas semua


dalil di dalam gugatan, dan replik Pembanding/dahulu Penggugat, serta
memori banding Pembanding khususnya mengenai kerugian yang timbul
karena semua bukti yang mendukung tuntutan kerugian yang diajukan oleh
Termohon Kasasi/Pembanding tersebut tetap tidak berdasarkan hukum;

6. Bahwa Yurisprudensi Mahkamah Agung RI dalam putusan Mahkamah Agung


RI Nomor : 588 K/Sip/1983 tanggal 28 Mei 1984 menetapkan Tuntutan
Penggugat mengenai ganti rugi karena tidak disertai dengan bukti-bukti
harus ditolak. Oleh karena itu, berdasarkan yurisprudensi tersebut di atas,
Pemohon Kasasi I/Terbanding I berpendapat bahwa tuntutan ganti rugi yang
diajukan oleh Termohon Kasasi (Pembanding) tidak berdasarkan hukum dan
terbukti bertentangan dengan putusan Mahkamah Agung RI sehingga tuntutan
ganti rugi tersebut sepatutnya tidak dapat diterima dan ditolak;

7. Bahwa di dalam jawaban, duplik, dan kesimpulan Pemohon Kasasi I/ dahulu


Tergugat, kontrak memori banding Terbanding I termasuk yang diuraikan
dalam bagian-bagian yang tidak terpisahkan dalam memori kasasi Pemohon
Kasasi I ini, Pemohon Kasasi I (Terbanding I) tetap berpendapat bahwa
perbuatan atau misrepresentasi yang dilakukan oleh Termohon Kasasi
63

(Pembanding) merupakan pelanggaran terhadap prinsip iktikad baik


(principle of utmost good faith) dalam hukum asuransi sebagaimana
dimaksud dalam ketentuan Pasal 251 KUHD yang selanjutnya berdampak
pada pembatalan polis pertanggungan secara otomatis dan Pemohon Kasasi
I/Terbanding I tidak mempunyai kewajiban hukum, serta menolak untuk
membayar klaim pertanggunganyang dituntut oleh Termohon
Kasasi/Pembanding;

8. Bahwa Termohon Kasasi/Pembanding seharusnya mengajukan gugatan klaim


ganti kerugian tersebut kepada pemilik dan atau agen KLM Sinar Bunga
Perdana, yaitu PT. Cahaya Kalimantan Raya sebagai Pemohon Kasasi
II/Terbanding II, terkait dengan tidak adanya kewajiban hukum Pemohon
Kasasi I/Terbanding I membayar klaim pertanggungan yang dituntut oleh
Termohon Kasasi /Pembanding;

9. Bahwa di dalam memori kasasi ini, Pemohon Kasasi I (Terbanding I)


berpendapat bahwa putusan Pengadilan Tinggi DKI Jakarta Nomor :
290/Pdt/2010/PT.DKI telah nyata dan terbukti salah dalam menerapkan
hukum atau merupakan putusan yang bertentangan dengan prinsip-prinsip
hukum yang mengakibatkan putusan itu dianggap tidakmenurut hukum
(wederrecthelijk) karena pertimbangan hukum putusan judex facti tidak
dilakukan secara saksama (onvoldoende gemotiveerd), pertimbangan hukum
putusan judex facti telah salah dalam menerapkan hukum pembuktian, dan
pertimbangan hukum putusan judex facti telah menerapkan ketentuan
peraturan perundangan-undangan secara sempit atau melakukan kesalahan
penafsiran hukum

Alasanalasan Mahkamah Agung menjatuhkan putusan atas kasasi


tersebut berdasarkan sebagai berikut :

a. Bahwa didasarkan bukti-bukti KLM Sinar Bunga Perdana (T.7,T.15)


seharusnya berlayar pada tanggal 19 Juni 2008 namun faktanya baru
berangkat pada tanggal 24 Juni 2008;
64

b. Bahwa ketentuan Pasal 40 ayat (1) Undang-Undang No.21 tahun 1992


Tentang Pelayaran menyebutkan tentang kewajiban memiliki Surat Ijin
Berlayar (SIB) dengan ketentuan bila ada perubahan (Peraturan Bandar 1925
Pasal 8 ayat 3) dan kapal tidak berlayar, maka surat ijin berlayar (SIB) tidak
berlaku lagi, sedangkan Polis asuransi ditandatangani pada tanggal 23 Juni
2008 (bukti P-1, P-1A);
c. Bahwa dengan demikian berdasarkan Pasal 251 KUHD maka pertanggungan
menjadi batal sebab melanggar prinsip iktikad baik (principle of utmost good
faith) dan Penggugat/Termohon Kasasi telah melakukan wanprestasi dan
Tergugat/Pemohon Kasasi tidak mempunyai kewajiban hukum terkait klaim
asuransi Penggugat/Termohon Kasai dan dala gugatan a quo pertimbangan
hukum judex facti/Pengadilan Negeri sudah tepat dan benar;
d. Bahwa alasan tersebut cenderung merupakan alasan yang dicari-cari hanya
untuk melepaskan diri dari tanggung jawab memberikan klaim asuransi yang
di tanggung oleh Tergugat, karena bukan merupakan persyaratan yang
mutlak harus dipenuhi Tertanggung misalnya : tidak membayar premi dan
sebagainya. Kelihatan memang urgen, kalau tentang selisih
waktu keberangkatan kapal, ini sudah masalah tehnisnya si Nakhoda Kapal.
Yang dalam keterangan saksi ahli menyebutkan adalah hak Nakhoda dan
Adpel untuk memberangkatkan atau tidak memberangkatkan kapal bila
misalnya ada cuaca buruk ;
e. Menurut Pendapat Pembaca II : Prof. Dr. Takdir Rahmadi,SH.LLM. Bahwa
hubungan hukum para pihak dalam hal ini antara Pemohon Kasasi/Tergugat
dan Termohon Kasasi/Penggugat harus didasarkan pada perjanjian
asuransi/polis asuransi No.SMG/CC-06/2008/00121. Lampiran Perjanjian
asuransi/polis asuransi tegas menyebutkan bahwa keberangkatan kapal pada
tanggal 24 Juni 2008 (P.1) dan dikuatkan oleh Laporan Kecelakaan yang
dikeluarkan oleh Kepala Administrasi Pelabuhan Tegal yang menyatakan pula
kapal berangkat hari Selasa tanggal 24 Juni 2008 jam 04.00 dan kecelakaan
terjadi tanggal 29 Juni 2008 jam 06.00 (P.3, T.4A). Oleh sebab itu sudah
terdapat konsistensi/kesesuaian antara dokumen hukum dan fakta
65

keberangkatan, serta kecelakaan terjadi dalam rentang waktu setelah


perjanjian dibuat bukan sebelum perjanjian dibuat.
f. Bahwa di dalam polis asuransi tidak ada klausula yang tegas menyatakan
bahwa tanggal keberangkatan sebagai syarat esensial yang dapat dijadikan
alasan batalnya klaim asuransi dari pihak Penggugat/Termohon Kasasi. Lagi
pula kecelakaan terjadi setelah para pihak mengadakan/menandatangani
perjanjian, yaitu tanggal 23 Juni 2008 dan kecelakaan laut terjadi pada
tanggal 29 Juni 2008. Informasi keberangkatan kapal tanggal 19 Juni 2008
diperoleh Pemohon Kasasi/Tergugat/pihak asuransi dari Termohon Kasasi
secara lisan (P.8). Tetapi dokumen-dokumen menyebutkan bahwa kapal
berangkat tanggal 24 Juni 2008 dan dibenarkan oleh Kepala Administrasi
Pelabuhan Tegal, sehingga tidak terdapat perbedaan faktual antara dokumen
hukum dan fakta keberangkatan. Oleh sebab itu secara hukum tidak dapat
dibenarkan jika setelah kecelakaan terjadi tiba-tiba Pemohon Kasasi/Tergugat
menggunakan Pasal 251 KUHD yang intinya memuat norma bahwa
perjanjian dilaksanakan dengan iktikad baik;
Bahwa Pembaca II berpendapat justru Pemohon Kasasi yang beriktikad
tidak baik melaksanakan perjanjian asuransi ini karena setelah kecelakaan terjadi
tiba-tiba mempersoalkan tanggak keberangkatan kapal padahal tidak ada satu
pasal pun dalam perjanjian asuransi yang menyatakan bahwa kebenaran tanggal
keberangkatan kapal adalah syarat esensial yang manakala terjadi ketidak sesuaian
dapat berakibat batalnya perjanjian, sehingga mengusulkan agar permohonan
kasasi yang diajukan oleh Pemohon Kasasi/ Tergugat ditolak;
Menimbang, bahwa oleh karena terjadi perbedaan pendapat (Dissenting
Opinion) dalam Anggota Majelis dan telah diusahakan dengan sungguh-sungguh
tetapi tidak tercapai permufakatan, kemudian sesuai dengan Pasal 30 ayat 3
Undang-undang No. 14 Tahun 1985 sebagaimana telah diubah dengan Undang-
Undang No. 5 Tahun 2004 dan perubahan kedua dengan Undang-Undang Nomor
3 Tahun 2009, maka Majelis Hakim setelah bermusyawarah dan diambil
keputusan dengan suara terbanyak, yaitu mengabulkan permohonan kasasi dari
Pemohon Kasasi : PT. Asuransi Recapital dan membatalkan putusan Pengadilan
66

Tinggi DKI Jakarta No.290/Pdt/2010/PT.DKI tanggal 13 Desember 2010 yang


membatalkan putusan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan
No.1301/Pdt.G/2009/PN.Jkt.Sel. tanggal 03 Februari 2010 serta Mahkamah
Agung mengadili sendiri perkara ini dengan amar putusan sebagaimana yang akan
disebutkan dibawah ini ;

Menimbang, bahwa oleh karena permohonan kasasi di kabulkan, dan


Termohon Kasasi/Penggugat berada di pihak yang kalah, maka harus dihukum
untuk membayar biaya perkara dalam semua tingkat peradilan ;

Memperhatikan pasal-pasal dari Undang-Undang No. 48 Tahun 2009,


Undang-Undang No. 14 Tahun 1985 sebagaimana yang telah diubah dengan
Undang-Undang No 5 Tahun 2004 dan perubahan kedua dengan Undang-Undang
No.3 Tahun 2009 serta peraturan perundang-undangan lain yang bersangkutan ;

MENGADILI :
- Mengabulkan permohonan kasasi dari Pemohon Kasasi : PT. ASURANSI
RECAPITAL tersebut ;
- Membatalkan putusan Pengadilan Tinggi DKI Jakarta No.290/Pdt /
2010/PT.DKI tanggal 13 Desember 2010 yang membatalkan putusan
Pengadilan Negeri Jakarta Selatan No.1301/Pdt.G/2009/PN.Jkt.Sel.
tanggal 03 Februari 2010;
MENGADILI SENDIRI :
DALAM EKSEPSI :
- Menolak eksepsi Tergugat tersebut;
DALAM POKOK PERKARA :
- Menolak gugatan Penggugat untuk seluruhnya;
- Menghukum Termohon Kasasi/Penggugat untuk membayar biaya perkara
sebesar Rp.500. 000,- (lima ratus ribu rupiah);

BAB IV
PEMBAHASAN
67

Berdasarkan kasus yang dibahas merupakan jenis asuransi ganti rugi yaitu
terkait dengan asuransi pengangkutan barang. Sesuai dengan definisi asuransi
Pasal 246 KUH Dagang, dimana suatu perjanjian terdiri dari unsur-unsur yuridis
asuransi yaitu:
a. Pihak tertanggung (insured) yang berjanji untuk membayar uang premi
kepada pihak penanggung, yaitu Bapak Zainuddin Anshori
b. Pihak penanggung (insure) yang berjanji akan membayar sejumlah uang
(santunan) kepada pihak tertanggung, yaitu PT. Asuransi Recapital
c. Suatu peristiwa (accident) yang tak tertentu (tidak diketahui sebelumnya).
objek pertanggungan berupa 117 ( seratus tujuh belas) ton konstruksi beton
besi tower pemancar dengan nilai pertanggungan yang telah disepakati
antara kedua belah pihak yakni Rp. 936.000.000 ( Sembilan ratus tiga
puluh enam juta rupiah). Objek pertanggungan berupa konstruksi yang
akan diangkut dari pelabuhan searang dengan tujuan pelabuhan Jambi
Kalimantan Barat yang diangkut oleh KLM Sinar Bunga Perdana dengan
tanggal keberangkatan 24 Juni 2013. Pada tanggal 29 Juni 2008, KLM
Sinar Bunga Perdana tenggelam di perairan utara Karimun Jawa
sebagaimana laporan kecelakaan No GM.761/01/12 / Ad. Tg 2007 yang
dikeluarkan oleh Kepala Kantor Administrator Pelabuhan Tegal.
d. Kepentingan (interest) yang mungkin akan mengalami kerugian karena
peristiwa yang tak tertentu. Akibat dari tenggelamnya KLM Sinar Bunga
perdana tersebut, pihak penggugat yakni pihak Bapak Anshori mengajukan
klaim asuransi sebesar nilai pertanggungan yang telah disepakati
sebelumnya yakni Rp. 936.000.000,00 sebagaimana surat yang telah
diajukan Pak Anshori selaku pihak tergugat tertanggal 12 Agustus 2008
kepada tergugat.

Dalam hal perkara tersebut pihak penanggung dan tertanggung dalam


rangka melaksanakan asas kebebasan berkontrak, Asas ini mengandung
pengertian bahwa setiap orang dapat mengadakan perjanjian apapun juga, baik
68

yang telah diatur dalam undang-undang, maupun yang belum diatur dalam
undang-undang (lihat Pasal 1338 KUHPerdata). Asas kebebasan berkontrak dapat
dianalisis dari ketentuan Pasal 1338 ayat (1) KUHPerdata, yang berbunyi: Semua
perjanjian yang dibuat secara sah berlaku sebagai undang-undang bagi mereka
yang membuatnya.
Asas ini merupakan suatu asas yang memberikan kebebasan kepada para
pihak untuk:
1. Membuat atau tidak membuat perjanjian;
2. Mengadakan perjanjian dengan siapa pun;
3. Menentukan isi perjanjian, pelaksanaan, dan persyaratannya;
4. Menentukan bentuk perjanjiannya apakah tertulis atau lisan.

Analisis Pada Pengadilan


Putusan Pengadilan:
Bahwa tergugat mengetahui persis bahwa kapal tidak berangkat pada
tanggal 19 juni 2008 ditambah pula dari keterangan Kepala Kantor Administrasi
Tegal yang jelas jelas menyebutkan bahwa kapal berangkat dari pelabuhan
tanjung emas tanggal 24 juni 2008. Sehingga dalil tergugat menyebakan menolak
klaim sebelum penandatanganan polis asuransi adalah alasan yang tidak dapat
diterima.
Tergugat telah melakukan wanprestasi ingkar janji karena tidak membayar
klaim Penggugat padahal semua Syarat dan Ketentuan Telah dipenuhi oleh
Penggugat,
Hal ini diperkuat dengan landasan hukum yang digunakan sebagai berikut :
a. Pasal 1239 KUH Perdata yang menyebutkan : Tiap-tiap perikatan untuk
berbuat sesuatu, apabila si berutang tidak memenuhi kewajibannya
mendapatkan penyelesaiannnya dalam kewajiban memberikan penggantian,
biaya , rugi, dan bunga.

b. Pasal 1234 KUH Perdata yang menyebutkan : Penggantian biaya, rugi, bunga
karena tak dipenuhinya suatu perikatan , barulah mulai diwajibkan, apabila si
69

berutang, setelah dinyatakan lalai memenuhi perikatannya, hanya dapat


diberikan atau dibuat dalam tenggang waktu yang telah dilampaukannya.
Tindakan wanprestasi yang dilakukan tergugat merupakan tindakan yang
menimbulkan kerugian bagi penggugat , berupa :
a. Materiil yaitu hilangnya penggantian klaim atas objek asuransi seharga Rp.
936.000.000 ( Sembilan ratus tiga puluh enam juta rupiah) sebagai hak
penggugat.

b. Immateriil diantaranya terganggunya roda usaha penggugat serta reputasi dan


kreadibilitas penggugat di mata dunia usaha dapat dinilai sebesar Rp.
10.000.000.000,00 ( sepuluh milyar rupiah).

Atas kerugian tersebut, dihitung pula bunga sebesar 10 % dari nilai


penggantian klaim atas objek asuransi dengan memperhatikan aspek inflasi/
kenaikan harga barang. Untuk memberikan kepastian pembayaran ganti rugi oleh
Tergugat kepada Penggugat, maka dilakukan sita jaminan atas seluruh harta benda
milik Terugat.

Sebagaimana telah disebutkan diatas, Bahwa pasal 1239 KUHPerdata


menyebutkan :
Tiap tiap perikatan untuk berbuat sesuatu, atau untuk tidak berbuat
sesuatu, apabila si berutang tidak memenuhi kewajibannya, mendapatkan
penyelesaiannya dalam kewajiban memaberikan penggantian biaya, rugi
dan bunga.
Demikian pula dalam pasal 1243 KUH Perdata menyebutkan :
Penggantian biaya, rugi dan bunga karena tak dipenuhinya suatu
perikatan, barulah mulai diwajibkan, apabila si berutang, barulah mulai
diwajibkan, apabila si berutang, setelah dinyatakan lalai memenuhi
perikatannya, tetap melalaikannya atau jika sesuatu yang harus diberikan
atau dibuatnya, hanya dapat diberikan atau dibuat dalam tenggang waktu
yang telah dilampaukannya.
Menurut kelompok kami, pihak penggugat telah melakukan wanprestasi
terbukti benar. Karena menurut pasal 1239 KUHPerdata dan pasal 1243
70

KUHPerdata yang intinya ialah si terhutang harus mengganti biaya dan kerugian
atas wanprestasi yang telah dilakukan. Tergugat sendiri telah melakukan
wanprestasi karena tidak memenuhi klaim penggugat padahal semua persyaratan
telah dipenuhi oleh penggugat.

Analisis Banding
Alasan Banding:
Menimbang bahwa terhadap gugatan tersebut Tergugat telah mengajukan Eksepsi
pada pokoknya atas dalil-dalil sebagai berikut:
1. Bahwa gugatan Penggugat memiliki cacat formil error in persona dalam bentuk
plurium litis consortium, dimana gugatan Penggugat tidak lengkap (kurang pihak)
dalam menarik dan menempatkan Tergugat sebagai subyek gugatan dalam
gugatan Penggugat.
2. Bahwa Tergugat tidak pernah berhubungan dan menerima pengajuan
permohonan /permintaan penutupan pertanggungan/asuransi secara langsung dari
Penggugat yang biasanya dikategorikan sebagai direct business dalam industri
asuransi.
3. Bahwa Penggugat melakukan pengajuan permohonan/permintaan penutupan
pertanggungan/asuransi kepada PT. Ghanie Akbarindo Distributory yang
bergerak di bidang Insurance & Claims Consultans dan berkedudukan hukum di
Jalan Sindoro II No.32 Ungaran. Semarang 51507 melalui saudara Pramudita
yang bekerja sebagai Operational & Marketing Manager di Perusahaan tersebut.
4. Bahwa selanjutnya, Tergugat tidak pernah menerima pembayaran premi
pertanggungan /asuransi secara langsung dari Penggugat, tetapi Penggugat
membayar presmi pertanggungan tersebut kepada PT. Ghanie Akbarindi
Distributory sebagai perusahaan perantara asuransi independent melalui PT. Cahaya
Kalimantan Raya sebagai turut Tergugat setelah permohonan/permintaan
penuntupan pertanggungan /asuransi Penggugat diterima oleh PT.Ghanie Akbarindo
Distributory;
5. Bahwa PT. Ghanie Akbarindo merupakan jasa perantara asuransi
independent dan tidak mempunyai hubungan hukum mengikat atau perjanjian agen
asuransi dengan Tergugat sebagai penanggung;
71

6. Bahwa PT. Ghanie Akbarindo Distributory sebagai badan hukum


perseroan mempunyai tanggung jawab hukum atas perbuatan hukum dan hubungan
hukum yang telah dilakukannya untuk kepentingan hukum Penggugat, terkait
dengan fakta-fakta hukum yang dicantumkan dalam pengajuan
permohonan/permintaan penutupan pertanggungan/asuransi tersebut.
7. Bahwa Tergugat berpendapat pihak yang ditarik dan ditempatkan sebagai Tergugat
tidak lengkap (kurang pihak/ plurium litis consortium) karena masih terdapat
pihak lain yang harus ikut ditarik dan ditempatkan sebagai Tergugat lain
berdasarkan semua uraian dan dalil yang Tergugat kemukakan di atas. Oleh karena
itu, gugatan Penggugat memiliki cacat formil error in persona dalam bentuk plurium
litis consortium yang berarti bahwa gugatan yang diajukan oleh Penggugat kurang
pihak, sehingga Penggugat seharusnya menarik dan menempatkan Direksi PT.
Ghanie Akbarindo Distributory sebagai Tergugat I (pertama) sebagai subyek
gugatan dalam gugatan Penggugat.
Bahwa terhadap gugatan tersebut Pengadilan Negeri Jakarta Selatan telah
mengambil putusan, yaitu putusannya No. 1301/Pdt.G/2009/PN.Jkt.Sel. tanggal
03 Pebruari 2010 yang amarnya sebagai berikut :

DALAM EKSEPSI :

- Menolak eksepsi Tergugat tersebut;

DALAM POKOK PERKARA :

- Menolak gugatan Penggugat untuk seluruhnya;

- Menghukum Penggugat untuk membayar biaya perkara sebesar


Rp.281.000,- (dua ratus delapan puluh satu ribu rupiah);

Menimbang, bahwa dalam tingkat banding atas permohonan Penggugat


putusan Pengadilan Negeri tersebut telah dibatalkan oleh Pengadilan Tinggi
Jakarta dengan putusannya No.290/Pdt/2010/PT.DKI. tanggal 13 Desember 2010
yang amarnya sebagai berikut :

Menerima permohonan banding dari Pembanding semula Penggugat


ZAINUDIN ANSHORI;
72

Membatalkan putusan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan Nomor :


1301/Pdt.G/2009/PN.Jkt.Sel. tanggal 03 Pebruari 2010 yang dimohonkan
banding tersebut;

MENGADILI SENDIRI :

DALAM EKSEPSI :

Menyatakan eksepsi Tergugat tidak dapat diterima;

DALAM POKOK PERKARA :

Mengabulkan gugatan Penggugat untuk sebagian;

Menyatakan Tergugat telah melakukan perbuatan ingkar


janji (wanprestasi) ;

Menghukum Tergugat membayar klaim asuransi kepada Penggugat


sebesar Rp.936.000.000,- (sembilan ratus tiga puluh enam juta rupiah)
yang menjadi hak Penggugat sebagai pemegang Polis Nomor : SMG/CC-
06/2008/00121 tanggal 23 Juni 2008;

Menghukum Tergugat untuk membayar ongkos perkara dalam kedua


tingkat Pengadilan, yang dalam tingkat banding berjumlah Rp.150.000,-
(seratus lima puluh ribu rupiah);

Menolak gugatan Penggugat untuk selebihnya;

Menimbang, bahwa sesudah putusan terakhir ini diberitahukan kepada


Tergugat/Terbanding I pada tanggal 15 Maret 2011 kemudian terhadapnya oleh
Tergugat/Terbanding I dengan perantaraan kuasanya, berdasarkan surat kuasa
khusus tanggal 15 Maret 2011 diajukan permohonan kasasi secara lisan pada
tanggal 28 Maret 2011 sebagaimana ternyata dari akte permohonan kasasi No
1301/PDT.G/2009/PN.JKT.SEL. yang dibuat oleh Panitera Pengadilan Negeri
Jakarta Selatan, permohonan tersebut disertai dengan/diikuti oleh memori kasasi
73

yang memuat alasan-alasan yang diterima di Kepaniteraan Pengadilan Negeri


tersebut pada tanggal 07 April 2011 ;

Bahwa setelah itu oleh Penggugat/Pembanding yang pada tanggal 3 Mei


2011 telah diberitahu tentang memori kasasi dari Tergugat/Terbanding I diajukan
jawaban memori kasasi yang diterima di Kepaniteraan Pengadilan Negeri di
Jakarta Selatan pada tanggal 05 Mei 2011;

Menimbang, bahwa permohonan kasasi a quo beserta alasan-alasannya


telah diberitahukan kepada pihak lawan dengan saksama, diajukan dalam
tenggang waktu dan dengan cara yang ditentukan dalam undang-undang, maka
oleh karena itu permohonan kasasi tersebut formal dapat diterima.

Analisis pada Kasasi


Putusan Kasasi:
Membatalkan putusan Pengadilan Tinggi DKI Jakarta No.290/Pdt /2010/
PT.DKI tanggal 13 Desember 2010 yang membatalkan putusan Pengadilan Negeri
Jakarta Selatan No.1301/Pdt.G/2009/PN.Jkt.Sel. tanggal 03 Februari 2010; dan
Mengabulkan permohonan kasasi dari Pemohon Kasasi : PT. ASURANSI
RECAPITAL.
Alasan pertimbangan hukum :
Bahwa didasarkan bukti-bukti KLM Sinar Bunga Perdana (T.7,T.15)
seharusnya berlayar pada tanggal 19 Juni 2008 namun faktanya baru
berangkat pada tanggal 24 Juni 2008;
Bahwa ketentuan Pasal 40 ayat (1) Undang-Undang No.21 tahun 1992
Tentang Pelayaran menyebutkan tentang kewajiban memiliki Surat Ijin
Berlayar (SIB) dengan ketentuan bila ada perubahan (Peraturan Bandar 1925
Pasal 8 ayat 3) dan kapal tidak berlayar, maka surat ijin berlayar (SIB) tidak
berlaku lagi, sedangkan Polis asuransi ditandatangani pada tanggal 23 Juni
2008 (bukti P-1, P-1A); Sehingga surat izin yang telah ditentukan.berlayar
yang dikeluarkan oleh departemen perhubungan pada tanggal 19 juni 2008
sudah tidak berlaku lagi, dikarenakan batas waktu surat izin berlayar adalah
74

24jam setelah surat dikeluarkan. Seharusnya pihak KLM Sinar Bunga


Perdana memperbaharui Surat Izin Berlayar dikarenakan kapal berlayar
melewati batas waktu.
Didasarkan pada pasal 604 KUHD yaitu jika dalam hal ini ternyata terdapat
kerugian yang harus diganti, maka pihak tertanggung harus disumpah, bahwa
ia betul-betul tidak mengetahui tentang keberangkatan kapal tersebut. Hal ini
didasarkan pada surat izin berlayar yang dikeluarkan oleh direktorat
perhubungan yang menyatakan bahwa kapal berangkat pada tanggal 19 juni
dan bukan pada tanggal 24 juni sebagaimana fakta yang menyatakan kapal
tersebut berangkat dari pelabuhan. Sehingga pihak Termohon tidak
mengetahui adanya perubahan jadwal keberangkatan kapal.
Bahwa dengan demikian berdasarkan Pasal 251 KUHD maka pertanggungan
menjadi batal sebab melanggar prinsip iktikad baik (principle of utmost
good faith) dan Penggugat/Termohon Kasasi telah melakukan wanprestasi
dan Tergugat/Pemohon Kasasi tidak mempunyai kewajiban hukum terkait
klaim asuransi Penggugat/Termohon Kasasi dan dalam gugatan a quo
pertimbangan hukum judex facti/Pengadilan Negeri sudah tepat dan benar;
Bahwa alasan tersebut cenderung merupakan alasan yang dicari-cari hanya
untuk melepaskan diri dari tanggung jawab memberikan klaim asuransi yang
di tanggung oleh Tergugat, karena bukan merupakan persyaratan yang
mutlak harus dipenuhi Tertanggung misalnya : tidak membayar premi dan
sebagainya. Yang dalam keterangan saksi ahli menyebutkan adalah hak
Nakhoda dan Adpel untuk memberangkatkan atau tidak memberangkatkan
kapal bila misalnya ada cuaca buruk.
Hubungan hukum para pihak dalam hal ini antara Pemohon
Kasasi/Tergugat dan Termohon Kasasi/Penggugat harus didasarkan pada
perjanjian asuransi/polis asuransi No.SMG/CC-06/2008/00121. Lampiran
Perjanjian asuransi/polis asuransi tegas menyebutkan bahwa keberangkatan kapal
pada tanggal 24 Juni 2008 (P.1) dan dikuatkan oleh Laporan Kecelakaan yang
dikeluarkan oleh Kepala Administrasi Pelabuhan Tegal yang menyatakan pula
kapal berangkat hari Selasa tanggal 24 Juni 2008 jam 04.00 dan kecelakaan terjadi
75

tanggal 29 Juni 2008 jam 06.00 (P.3, T.4A). Oleh sebab itu sudah terdapat
konsistensi/kesesuaian antara dokumen hukum dan fakta keberangkatan, serta
kecelakaan terjadi dalam rentang waktu setelah perjanjian dibuat bukan sebelum
perjanjian dibuat.
Dijelaskan bahwa dalam polis asuransi tidak ada klausula yang tegas
menyatakan bahwa tanggal keberangkatan sebagai syarat esensial yang dapat
dijadikan alasan batalnya klaim asuransi dari pihak Penggugat/Termohon Kasasi.
Lagi pula kecelakaan terjadi setelah para pihak mengadakan/menandatangani
perjanjian, yaitu tanggal 23 Juni 2008 dan kecelakaan laut terjadi pada tanggal 29
Juni 2008. Informasi keberangkatan kapal tanggal 19 Juni 2008 diperoleh
Pemohon Kasasi/Tergugat/pihak asuransi dari Termohon Kasasi secara lisan (P.8).
Tetapi dokumen-dokumen menyebutkan bahwa kapal berangkat tanggal 24 Juni
2008 dan dibenarkan oleh Kepala Administrasi Pelabuhan Tegal, sehingga tidak
terdapat perbedaan faktual antara dokumen hukum dan fakta keberangkatan. Oleh
sebab itu secara hukum tidak dapat dibenarkan jika setelah kecelakaan terjadi tiba-
tiba Pemohon Kasasi/Tergugat menggunakan Pasal 251 KUHD yang intinya
memuat norma bahwa perjanjian dilaksanakan dengan iktikad baik;
Termohon Kasasi justru beriktikad tidak baik melaksanakan perjanjian
asuransi ini karena setelah kecelakaan terjadi tiba-tiba mempersoalkan tanggal
keberangkatan kapal padahal tidak ada satu pasal pun dalam perjanjian asuransi
yang menyatakan bahwa kebenaran tanggal keberangkatan kapal adalah syarat
esensial yang manakala terjadi ketidaksesuaian dapat berakibat batalnya
perjanjian, sehingga mengusulkan agar permohonan kasasi yang diajukan oleh
Pemohon Kasasi/ Tergugat ditolak.
Sehingga mengakibatkan bahwa oleh karena permohonan kasasi (PT
ASURANSI RECAPITAL) di kabulkan, dan Termohon Kasasi/Penggugat (Bapak
Zainuddin Anshori) berada di pihak yang kalah, maka harus dihukum untuk
membayar biaya perkara dalam semua tingkat peradilan.
76

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
- Asuransi atau pertanggungan adalah perjanjian dengan mana penanggung
mengikatkan diri kepada tertanggung dengan menerima premi untuk
memberikan penggantian kepadanya karena kerugian, kerusakan dan
kehilangan keuntugan yang diharapkan yang mungkin dideritanya akibat
dari suatu evenemen (peristiwa tidak pasti).
- Pada analisis kasus yaitu Bp. Zainuddin Anshori mengajukan perkara
pedata terhadap PT. ASURANSI RECAPITAL bahwa tergugat mengetahui
persis bahwa kapal tidak berangkat pada tanggal 19 juni 2008 ditambah
pula dari keterangan Kepala Kantor Administrasi Tegal yang jelas jelas
menyebutkan bahwa kapal berangkat dari pelabuhan tanjung emas tanggal
24 juni 2008. Sehingga dalil tergugat menyatakan menolak klaim sebelum
penandatanganan polis asuransi adalah alasan yang tidak dapat diterima.
Pihak penggugat telah melakukan wanprestasi terbukti benar. Karena
menurut pasal 1239 KUHPerdata dan pasal 1243 KUHPerdata yang
intinya ialah si terhutang harus mengganti biaya dan kerugian atas
wanprestasi yang telah dilakukan. Tergugat sendiri telah melakukan
wanprestasi karena tidak memenuhi klaim penggugat padahal semua
persyaratan telah dipenuhi oleh penggugat.
- Namun pihak tergugat yakni pihak asuransi sendiri tidak dapat menerima
putusan hukum yang telah diputuskan oleh Pengadilan Negeri Jakarta
Selatan. Oleh karena itu, pihak tergugat mengajukan banding, dengan
beberapa pertimbangan gugatan. Membatalkan putusan Pengadilan Tinggi
DKI Jakarta No.290/Pdt /2010/ PT.DKI tanggal 13 Desember 2010 yang
membatalkan putusan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan
No.1301/Pdt.G/2009/PN.Jkt.Sel. tanggal 03 Februari 2010; dan
Mengabulkan permohonan kasasi dari Pemohon Kasasi : PT. ASURANSI
RECAPITAL
77

5.2 Saran
Kasus ini dapat terjadi oleh karena adanya itikad baik dari salah satu pihak
yang melakukan sesuatu perikatan perjanjian berasaskan kebebasan berkontrak.
Oleh karena itu perlu adanya itikad baik dari kedua belah pihak yang melakukan
suatu perjanjian dengan berasaskan kebebasan berkontrak agar kasus seperti ini
tidak terjadi.
1. Bagi pihak penggugat yaitu bapak Anshori lebih terbuka dan komunikatif
mengenai kasus klaim asuransi yang sedang dihadapi terhadap PT. Asuransi
Recapital, sehingga meminimalisir kesalahpahaman.
2. Bagi pihak ketiga yakni PT.Cahaya Kalimantan Raya selaku perusahaan yang
bergerak dibidang pelayaran agar dapat mengikuti prosedur Surat Izin
Berlayar agar tidak ada pihak yang dirugikan.
3. Bagi pihak PT. Asuransi Recapital diharapkan untuk memperjelas klausul
dengan pemegang polis.
78

DAFTAR PUSTAKA

Prof. Dr. H. Man Suparman Sastrawidjaja, S.H., S.U,. 2013. Hukum Asuransi.
Penerbit P.T. Alumni : Bandung.

Peraturan Perundang-undangan Asuransi Indonesia

Dr. H. Zainal Asikin, S.H., SU. 2013. Hukum Dagang. PT Rajagrafindo Persada :
Depok.

Dr. Nina Nurani, S.H., M.Si., 2009. Cetakan IV. Hukum Bisnis : Suatu Pengantar.
CV Insan Mandiri : Bandung.

Dr. Sri Rejeki Hartono, S.H. 1995. Hukum Asuransi dan Perusahaan Asuransi.
Sinar Grafika : Jakarta.

Kitab Undang-Undang Hukum Perdata.

Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1992 Tentang Usaha Perasuransiaan.