Anda di halaman 1dari 11

BAB I

PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Pemeriksaan fisik merupakan langkah penting dalam diagnosa. Oleh
karenanya pemeriksaan fisik harus di lakukan dengan baik, benar, dan sesuai
prosedur yang berlaku agar diagnosa yang di dapat tidak keliru. Maka tenaga
kesehatan yang melakukan pemeriksaan fisik di tuntut untuk mampu melakukan
pemeriksaan fisik dengan baik, benar, dan sesuai dengan prosedur yang berlaku.
Khusus untuk pemeriksaan fisik dan pemeriksaan diagnostik system
sensori persepsi penglihatan (mata). Di lakukan dengan inspeksi dan palpasi. Dua
langkah ini akan di bahas secara mendetail di makalah ini sehingga dapat di
ketahui langkah-langkah dan prosedur yang benar.
1.2. Rumusan Masalah
Bagaimana cara dan prosedur yang benar pemeriksaan fisik dan
pemeriksaan diagnostik sistem sensori persepsi penglihatan (mata).
1.3. Tujuan Penulisan
Makalah ini di tulis untuk memberikan informasi kepada tenaga kesehatan
bagaimana prosedur yang benar dalam pemeriksaan fisik dan diagnostik sistem
sensori penglihatan.
1.4. Sumber Data
1. Referensi prosedur pemeriksaan fisik sistem sensori persepsi
penglihatan.
2. Referensi prosedur pemeriksaan diagnostik sistem sensori persepsi
penglihatan.
1.5. Metode
Metode yang di gunakan dalam makalah ini adalah dengan menggunakan
metode tinjauan dari beberapa sumber yang berkompeten tentang prosedur
pemeriksaan fisik dan diagnostik sistem sensori persepsi penglihatan
(mata).

BAB II
PEMBAHASAN

1
2.1. Pengertian Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik adalah melakukan pemeriksaan fisik klien untuk
menentukan masalah kesehatan pasien. Pemeriksaan fisik dalam keperawatan di
gunakan untuk mendapatkan data objektif dari riwayat pemeriksaan pasien.
Pemeriksaan fisik merupakan bagian integral dari pengkajian keperawatan.
Pemeriksaan fisik biasanya dilakukan setelah riwayat kesehatan di kumpulkan.
Pemeriksaan fisik lengkap biasanya di lakukan dari ujung kepala sampai ujung
kaki sebagai berikut :
1. Kulit
2. Kepala dan leher
3. Thoraks dan Paru-paru
4. Payudara
5. Sistem kasdiovaskular
6. Abdomen
7. Rektum
8. Genitalia
9. Sistem saraf
10. Sistem muskuloskeletal

2.2. Prosedur Pemeriksaan Fisik


Prosedur Pemeriksaan Fisik dipakai empat proses fundamental dalam
pemeriksaan fisik yaitu Inspeksi, palpasi, perkusi, dan auskultasi.
1. Inspeksi/observasi adalah proses fundamental yang pertama.
Kemampuan untuk obervasi adalah salah satu yang harus di tanamkan.
Inspeksi umum di mulai saat pertama kali kontak dengan pasien.
Memperkenalkan diri pada pasien, berjabat tangan dan saling tukar
salam merpakan pembukaan yang baik. Banyak kesan dapat di peroleh
dari pertukaran ini dan banyak observasi berharga yang dapat
dilakukan. Orang tersebut tua atau muda (berapa usianya? Apakah
penampilannya sesuai dengan usianya?); orang ini kurus atau gemuk;
pasien ini cemas atau depresi;struktur tubuh orang tersebut normal atau
mungkin menyimpang (seperti apa seberapa jauh perbedaannya
dengan normal?). Sangatlah penting di perhatikan detail observasi.
2. Palpasi, merupakan bagian yang fital. Banyak struktur tubuh,
meskipun tidak terlihat tetapi tetap dapat di capai dengan tangan dan
bisa di kaji dengan sentuhan Seperti pembuluh darah supersfisial,

2
kelenjar limfe, kelenjar tiroid, dan organ-organ abdomen dan pelvis
serta rektum. Perlu di catat saat memeriksa organ abdomen, askultasi
harus dilakukan sebelum palpasi dan perkusi untuk mencegah
perubahan bising usus.
3. Perkusi, secara teknis perkusi adalah penerjemahan dari pembebanan
tenaga fisik menjadi suara. Dengan perkusi kita dapat memperoleh
banyak informasi mengenai proses penyakit dalam dada dan abdomen.
Prinsipnya adalah menggetarkan dinding dada atau dinding abdomen
dengan cara mengetuk dengan benda keras. Suara yang dihasilkan
merupakan refleksi densitas.
4. Auskultasi, pemeriksaan bunyi dari dalam tubuh dibantu dengan alat
stetoskop. Bunyi dari dalam tubuh dapat di hasilkan dari gerakan udara
melalui struktur berongga atau oleh tekanan yang di akibatkan gerakan
rongga udara atau cairan yang mengakibatkan strutur solid bergerak.

2.3. Pemeriksaan Fisik Pada Mata.


Di mulai dengan wawancara dengan pasien, saat proses wawancara ini
harus menciptakan suasana yang rileks agar pasien merasa nyaman sehingga data
yang diperlukan untuk pemeriksaan bisa di dapatkan dengan seutuhnya, di
antaranya mengenai keluhannya, riwayat penyakit sekarang, penyakit dahulu, dan
penyakit keluarga. Proses ini akan membantu dalam pembuatan diagnosa.
Kelengkapan dan keluasaan pengkajian mata bergantung pada informasi yang
diperlukan. Secara umum tujuan pengkajian mata adalah mengetahui bentuk dan
fungsi mata. Sebelum melakukan pengkajian, perawat harus menyakinkan tentang
tesedianya sumber penerangan/lampu yang baik dan ruang gelap untuk tujuan
tertentu. Pasien harus diberi tahu sebelumnya sehingga ia dapat bekerja sama.
Untuk mempermudah pengkajian, perawat dapat berdiri atau duduk di hadapan
pasien. Dalam setiap pengkajian, selalu ingat bahwa normalnya mata berbentuk
bulat/sferik. Dalam pengkajian mata, inpeksi merupakan teknik yang paling
penting yang dilakukan sebelum palpasi. Peralatan yang perlu dipersiapkan
bergantung pada tujuan pengkajian yang dilakukan. Secara umum dapat di
persiapkan Oftalmoskop dan Penutup mata.
Inspeksi

3
Hal yang di amati di area mata adalah, bola mata, kelopak mata, konjungtiva,
sklera, dan pupil.
Cara inspeksi mata :
1. Amati bola mata terhadap adanya protrusi, gerakan mata, lapang pandang,
dan visus.
2. Amati kelopak mata, perhatikan bentuk dan setiap kelainan dengan cara
sebagai berikut :
a) Anjurkan pasien melihat ke depan.
b) Bandingkan mata kanan dan mata kiri.
c) Anjurkan pasien menutup kedua mata.
d) Amati bentuk dan keadaan kulit pada kelopak mata, serta pada bagian
pinggir kelopak mata, catat setiap ada kelainan, misalnya adanya
kemerah-merahan.
e) Amati pertumbuhan rambut pada kelopak mata terkait dengan
ada/tidaknya bulu mata, dan posisi bulu mata.
f) Perhatikan keluasaan mata atas, atau dalam membuka atau sewaktu
mata membuka (ptosis).
3. Amati konjungtiva dan sclera dengan cara sebagai berikut

a) Anjurkan pasien untuk melihat lurus ke depan.


b) Amati konjungtiva untuk mengetahui ada/tidaknya kemerah-merahan,
keadaan vaskularisasi, serta lokasinya.
c) Tarik kelopak mata bagian bawah ke bawah dengan mengunakan ibu
jari.

4
d) Amati keadaan konjungtiva dan kantong konjungtiva bagian bawah,
catat bila didapatkan infeksi atau pus atau bila warnanya tidak normal,
misalnya anemic.
e) Bila diperlukan, amati konjungtiva bagian atas, yaitu dengan cara
membuka/membalik kelopak mata atas dengan perawat berdiri di
belakang pasien.
f) Amati warna sklera saat memeriksa konjungtiva yang pada keadaan
tertentu warnanya dapat menjadi ikterik.
g) Amati warna iris serta ukuran dan bentuk pupil. kemudian lanjutkan
dengan mengevaluasi reaksi pupil terhadap cahaya. Normalnya bentuk
pupil adalah sama besar (isokor). Pupil yang mengecil disebut miosis,
amat kecil disebut pinpoint, sedangkan pupil yang melebar/dilatasi
disebut midriasis.
4. Cara inpeksi gerakan mata
a) Anjurkan pasien untuk melihat lurus kedepan.
b) Amati apakah kedua mata tetap diam atau bergerak secar spontan
(nistagmus) yaitu gerakan ritmis bola mata, mula-mula lambat
bergerak ke satu arah, kemudian dengan cepat kembali keposisi
semula.
c) Bila ditemukan adanya nistagmus, amati bentuk, frekuensi (cepat atau
lambat), amplitude (luas/sempit), dan durasinya (hari/minggu).
d) Amati apakah kedua mata memandang lurus ke depan ata salah satu
mengalami deviasi.
e) Luruskan jari telunjuk anda dan dekatkan dengan jarak sekitar 15-30
cm.
f) Beri tahu pasien untuk mengikuti gerakan jari anda dan pertahankan
posisi kepala pasien. Gerakkan jari anda kedelapan arah untuk
mengetahui fungsi 6 otot mata
5. Cara inpeksi lapang pandang.
a) Berdiri di depan pasien.
b) Kaji kedua mata secara terpisah yaitu dengan cara menutup mata yang
tidak diperiksa.
c) Beri tahu pasien untuk melihat lurus kedepan dan menfokuskan pada
satu titik pandang, misalnya hidung anda.
d) Gerakan jari anda pada suatu garis vertikal/dari samping, dekatkan ke
mata pasien secara perlahan lahan.
e) Anjurkan pasien untuk memberi tahu sewaktu mulai melihat jari anda.
f) Keji mata sebelahnya.

5
6. Pemeriksaan visus
a) Siapkan kartu Snellen atau kartu yang lain untuk pasien dewsa atau
kartu gambar untuk anak-anak.

b) Atur kursi tempat duduk pasien dengan jarak 5 atau 6 m dari kartu
Snellen.
c) Atur penerangan yang memadai sehingga kartu dapat di baca dengan
jelas.
d) Beri tahu pasien untuk menutup mata kiri dengan satu tangan.
e) Pemeriksaan mata kanan dilakukan dengan cara pasien disuruh
membaca mulai dari huruf yang paling besar menuju huruf yang kecil
dan catat tulisan terkhir yang masih dapat dibaca oleh pasien.
f) Selanjutnya lakukan pemeriksaan mata kiri.
Kartu Snellen di buat sedemikian rupa sehingga huruf tertentu yang
dibaca dengan pusat optic mata (nodal point) membentuk sudut
sebesar 50 untuk jarak tertentu. Hasil pemeriksaan visus ditulis secara
terpisah antara mata kanan (OD) dan mata kiri (OS) yang dinyatakan
dengan pembilang/penyebut. Pembilang menyatakan jarak antara kartu
Snellen dengan mata, sedangkan penyebut menyatakan jarak suatu
huruf tetentu harus dapat dilihat oleh mata yang normal.

6
Palpasi
Bertujuan mengetahui tekanan bola mata dan mengetahui adanya nyeri
tekan. Untuk mengetahui tekanan mata secara lebih teliti di perlukan alat
Tonometri yang memerlukan keahian khusus. Cara palpasi untuk mengetahui
tekanan bola mata :
1. Beri tahu pasien untuk duduk.
2. Anjurkan pasien untuk memejamkan mata.
3. Lakukan palpasi pada ke dua mata. Bila tekanan bola meninggi, mata
teraba keras.

2.4. Pengertian Pemeriksaan Diagnostik


Pemeriksaan diagnostik adalah penilaian klinis tentang respon individu
terhadap suatu masalah kesehatan. Hasil suatu pemerikasaan sangat penting untuk
membantu diagnosa, memantau perrjalanan penyakit serta menentukan prognosa.
Di lakukan setelah melakukan pemeriksaan fisik.

2.5. Pemeriksaan Diagnostik Pada Mata


1. Pengkajian Funduskopi
Pengkajian ini di kerjakan untuk mengetahui susunan retina dengan
menggunakan alat Oftalmoskop. Untuk melakukan hal ini, di perlukan
pengetahuan anatomi dan fisiologi mata yang memadai serta keterampilan
khusus dalam menggunakan alat. Cara kerja pengkajian funduskopi :
1. Atur posisi pasien duduk di kursi.
2. Beri tahu pasien tentang tindakan yang akan di lakukan.
3. Teteskan 1-2 tetes obat yang dapat melebarkan pupil dalam jangka
pendek, misalnya Tropikamid (bila tidak ada kontradiksi)
4. Atur cahaya ruangan agak redup.
5. Duduk di kursi di hadapan pasien.
6. Beri tahu pasien untuk melihat secara tetap pada titik tertentu dan
anjurkan untuk mempertahankan sudut pandangnya tanpa berkedip.
7. Bila pasien atau anda memakai kacamata, hendaknya di lepas dahulu.
8. Pegang oftalmoskop, atur lensa pada angka 0, nyalakan dan arahkan
pada pupil mata dari jarak sekitar 30 cm sampai anda temukan reed
reflex yang merupakan cahaya pancaran dari retina. Bila letak

7
oftalmoskop tidak tepat, reed reflex tidak akan muncul. Reed reflex
juga tidak akan muncul pada berbagai gangguan, misalnya katarak.
9. Bila reed reflex sudah di temukan, dekatkan oftalmoskop secara
perlahan kemata pasien. Bila pasien myopia, atur control ke arah
negatif (merah). Bila pasien hipertropia, atur control ke arah positif
(hitam).
10. Amati fundus secara sistematis yang di awali dengan mengamati
pembuluh darah besar. Catat bila di temukan kelainan. Lanjutkan
pengamatan dengan membandingkan ukuran arteri dan vena yang
normalnya mempunyai perbandingan 4:5. Kemudian amati warna
macula yang normalnya tampak lebih terang dari pada retina.
Berikutnya amati warna, batas, pigmentasi dan diskus optikus.
Normalnya diskus optikus berbentuk melingkar, berwarna merah muda
agak kuning, batas terang dan tetap dengan jumlah pigmen yang
bervariasi. Lalu amati warna retina, kemungkina ada pendarahan dan
setiap ada kelainan.
11. Bandingkan mata kanan dan kiri.
12. Catat hasil pengkajian dengan jelas.
13. Setelah pengkajian selesai, teteskan pilokarpin 2% untuk menetralisasi
di latasi pada mata yang di amati (pada pasien yang di tetesi
tropikamid)
14. Tunggu/pastikan pasien dapat melihat seperti semula.

Gambar Pengkajian Funduskopi


2. Pemeriksaan Bagian Depan Mata
Pemeriksaan ini untuk melihat beberapa keaadaan di mata depan
yaitu di bagian kornea, konjungtiva, iris, pupil, sklera, dan lensa. Pada
pemeriksaan kornea, biasanya dokter ingin mengetahui apakah ada luka
pada kornea. Dokter akan melakukan tes floresensi. Pasien akan di berikan
obat floresen, kemudian di bilas dengan air suling, dan di lihat dengan

8
lampu kobalt biru. Bila ada luka, maka akan terlihat cahaya berpendar. Tes
ini di lakukan bila terjadi luka pada bola mata.
Namun saat ini pemeriksaan juga di bantu dengan alat slit lamp,
yang lebih mempermudah pemeriksaan bagian depan mata. Yang sering
pula pemeriksaan lensa. Lensa di amati juga di lihat apakah terjadi
kekeruhan, seperti yang sering terjadi pada penderita katarak.
3. Pemeriksaan Bagian Mata Belakang
Pemeriksaan ini untuk mengamati bagian mata belakang dan
dalam, seperti retina dan pembuluh darah mata. Dokter menggunakan alat
yang di sebut oftalmoskop. Biasanya pasien akan di tetesi obat (obat
midriatikum) untuk memperbesar pupil sehingga mempermudah
pemeriksaan.
4. Pemeriksaan Tekanan Bola Mata/Pemeriksaan Tonometri
Ini di lakukan bila pasien di duga menderita glukoma atau perubahan
tekanan bola mata lainnya. Pasien di minta berbaring dan di berikan obat
bisu lokal pada mata. Dokter akan menggunakan alat yang di sebut
Tonometri Schiot. Alat ini di letakkan di atas kornea mata dan dapat di
dapati tekanan bola matanya.
5. Optalmodinamometer (Pengukuran arteri di retina)
6. X-ray : Foto Orbita
7. Comberg Tes
8. FFA (Florecein Fundus Angiografi)
9. USG
10. CT scan
11. MRI
12. Elektroretinografi
13. Metaloloketer
14. Visual Evoked Potensial, untuk menilai transmisi impuls dari retina
sampai korteks oksipital.

BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan

9
Sistem sensori persepsi penglihatan (mata), adalah organ yang sangat
penting dan sensitif. Sehingga apabila terjadi gangguan pada mata maka
penanganannya tidak boleh sembarangan. Penanganan harus sesuai prosedur yaitu
dengan melakukan pemeriksaan fisik terlebih dahulu. Pemeriksaan fisik di sini
meliputi inspeksi dan palpasi karena cara inilah yang dapat di gunakan untuk
mata.
Setelah pemeriksaan fisik selesai di lakukan, maka yang terakhir adalah
pemeriksaan diagnostik. Pemeriksaan ini bertujuan untuk mendapatkan diagnosa
yang tepat gangguan apa yang terjadi pada mata pasien. Pemeriksaan diagnostik
harus di tunjang dengan kemampuan tenaga medis yang terampil dan peralatan
yang memadai. Apabila ke dua langkah ini di lakukan dengan benar dan sesuai
prosedur maka penanganan gangguan pada mata bisa di lakukan dengan
maksimal.

DAFTAR PUSTAKA
Smeltzer, Suzanne C.Bare, Brenda G (1997).Buku Ajar Keperawatan Medikal-
Bedah Brunner & Suddarth.Jakarta: EGC

10
Herman. http://nursingkeperawatanblogspot.in
Akper Kabupaten Malang (2007). Buku Panduan Pemeriksaan Fisik

11