Anda di halaman 1dari 16

MAKALAH UPACARA PERNIKAHAN ADAT SUNDA

Disusun untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah Kebudayaan Sunda

Dosen:
Rio

Oleh :
Nur Hatinah Anggriany 133020411
Lusi Yustiani 133020427
Rifani Nur Fadillah 133020435
Rindy Partriana D 133020442
Fitrotunnisa 143020442
Diki Abdul Gani 143020448
Jerry Herdiana 143020460

Kelompok :
3 (Tiga)

JURUSAN TEKNOLOGI PANGAN


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS PASUNDAN
BANDUNG
2015
BAB III
PERNIKAHAN ADAT SUNDA

3.1 Pernikahan

Pernikahan adalah sebuah momen bersatunya sepasang kekasih dalam ikatan suami istri
yang disahkan dihadapan Tuhan dan diakui oleh negara. Tidak dipungkiri, pernikahan adalah
momen penting dalam kehidupan setiap manusia. Secara individu, pernikahan akan mengubah
sesorang dalam menempuh hidup baru. Dan keluarga yang dibangun perlu dibina agar
mendatangkan suasana yang bahagia, sejahtera, nyaman dan tentram dan juga menciptakan
keluarga yang sakinah, mawadah dan warohmah.

Adapun beberapa pengertian pernikahan antara lain sebagai berikut:


1. Menurut Undang- Undang Nomor 1 Tahun 1974 pengertian pernikahan adalah ikatan lahir
batin antar seorang pria dan seorang wanita sebagai suami isteri dengan tujuan membentuk
keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.
2. Pernikahan adalah salah satu bentuk ibadah yang kesuciannya perlu dijaga oleh kedua belah
pihak baik suami maupun isteri. Pernikahan bertujuan untuk membentuk keluarga yang
bahagia sejahtera dan kekal selamanya. Pernikahan memerlukan kematangan dan kesiapan
fisik dan mental karena menikah/ kawin adalah sesuatu yang sakral dan dapat menentukan
jalan hidup seseorang (Adhim, 2002, 4)
3. Pernikahan adalah sebuah kebersamaan dan persahabatan. Hidup bersama, bekerjasama,
melakukan banyak hal bersama dan tak menginginkan yang lain (Musa, 2006, 10)
4. Pernikahan artinya pengertian, biasanya buta terhadap kesalahan pasangan, biasanya penuh
pengertian atas setiap hal-hal atas waktu, perasaan dan keinginan pasangan (Goodman,
2003,7)
5. Pernikahan artinya berbincang, berdoa, berdialog dan menyetujui bersama. Pernikahan tak
membiarkan dinding apapun terbangun di antara mereka dengan mengabaikan pasangan,
melainkan mencari solusi kreatif (Harville, 2006, 5)

Pernikahan merupakan suatu peristiwa yang sangat sakral dan dinantikan setiap
pasangan. Sakral yaitu memanifestikan diri sebagai sebuah realitas yang secara keseluruhan
berbeda tingkatannya dengan realitas-realitas alami (Eliade, 2002, 2). Sakral sendiri bagi
masyarakat Sunda yaitu sebagai sarana manusia berhubungan dengan ilahi. Oleh karena itu tidak
sedikit pasangan yang melakukan persiapan pernikahan jauh hari sebelumnya, dan yang paling
penting dilakukan oleh pasangan menjelang pernikahan adalah mendekatkan diri kepada Tuhan
dan memohon restu-Nya agar pernikahan yang dilangsungkan sukses, lancar, dan bahagia lahir
batin selamanya.

Perkawinan merupakan salah satu bentuk ibadah yang kesuciannya perlu dijaga oleh
kedua belah pihak baik suami maupun istri. Perkawinan bertujuan untuk membentuk keluarga
yang bahagia sejahtera dan kekal selamanya. Perkawinan memerlukan kematangan dan
persiapan fisik dan mental karena menikah adalah sesuatu yang sakral dan dapat menentukan
jalan hidup seseorang.

Oleh karenanya diperlukan sikap yang penuh tanggung jawab dari masing individu yang
menjalin hubungan dan berlanjut ke tahap 7 pernikahan. Setiap pasangan yang akan menikah
selalu menginginkan pernikahannya berkesan dan tidak terlupakan karena pernikahan diharapkan
menjadi momen sekali seumur hidup.

Prinsip dasar masyarakat Sunda senantiasa dilandasi oleh tiga sifat utama yakni silih asih,
silih asuh, dan silih asah atau secara literal diartikan sebagai saling menyangi, saling menjaga,
dan mengajari. Ketiga sifat itu selalu tampak dalam berbagai upacara adat Sunda.

3.2 Upacara Pernikahan Adat Sunda

Upacara pernikahan adalah termasuk upacara adat yang harus dijaga, karena dari situlah
akan tercermin jati diri, bersatunya sebuah keluarga bisa mencerminkan bersatunya sebuah
negara.

Untuk terlaksananya suatu hubungan antara manusia dalam suatu masyarakat diciptakan
norma-norma, seperti: secara, kebiasaan, tata kelakuan dan adat istiadat. Di dalam prosesi
pernikahan adat Sunda, ada beberapa ritual yang perlu dipahami maknanya bersama, karena
dalam pernikahan atau perkawinan yang ada di Indonesia khususnya adat sunda, memiliki arti
yang sakral, baik penghormatan kepada Tuhan Yang Maha Esa maupun kepada orang tua.
Pernikahan adat Sunda sangat kental dengan penghormatan kaum wanita, suasana pernikahan
dilaksanakan dengan suasana bahagia, penuh dengan humor. Jadi perasaan bahagia akan selalu
mengiringi upacara pernikahan adat Sunda.

Menurut masyarakat Sunda, laki-laki dan perempuan diciptakan oleh Tuhan agar bersatu
menjadi loro-loronong atunggal. Dengan pernikahan, laki-laki dan perempuan dipersatukan oleh
sang pencipta menjadi satu roh, satu jiwa. Karena filosofi pernikahan bagi masyarakat sunda
adalah demikian, maka perceraian tidak boleh dilakukan atau haram hukumnya apabila
dilakukan, kecuali kehendak Tuhan atau salah satunya meninggal (Harsojo, 2003, 45)

Upacara pernikahan adat Sunda di Jawa Barat, ada hal-hal yang masih tetap
dipertahankan, namun ada pula yang sudah mulai tidak dipergunakan atau dikurangi
intensitasnya. Hal itu disebut Profan, menurut Mircea Eliade dalam Sakral dan Profan (2002, 7).
Profan berarti ruang dan waktu bersifat homogeni, tidak ada ruang istimewa, dan tidak ada waktu
istimewa atau bisa dikatakan dengan pengingkaran terhadap adanya sesuatu yang sakral.
Contohnya tahapan upacara melamar, atau nanyaan, nyawer, huap lingkung, seserahan dan
sebagainya. Kalaulah ada, tapi sudah mengalami perubahan atau disesuaikan dengan kondisi
tempat, kemampuan pemangku hajat, dan lingkungan jaman.

3.3 Prosesi Upacara Pernikahan Adat Sunda

3.3.1 Pra Pernikahan

1. Neundeun Omong

Ada neundeun omong (menyimpan ucapan) yaitu pembicaraan orang tua atau pihak pria
yang berminat mempersunting seorang gadis. Bila seorang pria atau orang tua dari pria
bermaksud untuk mempersunting seorang gadis, maka gadis itu akan diselidiki lebih dulu
keadaannya, apakah ia masih bebas atau belum ada yang meminang. Apabila ternyata si gadis
belum ada yang memiliki atau tanda-tanda setuju, maka pembicaraan akan meningkat terus
(serius). Setelah ada persetujuan antara dua belah pihak orang tua barulah anak-anak yang
bersangkutan (pria dan gadis) diberi tahu. Hal ini dilakukan karena pada zaman dahulu
pernikahan dilangsungkan atas kehendak orang tua, sehingga tidak sedikit terjadi pernikahan
dimana kedua mempelai sebelumnya tidak saling mengenal.
Dalam pelaksanaannya neundeun omong biasanya sebagai berikut:

Pihak orang tua calon pengantin bertamu kepada calon besan (calon pengantin
perempuan). Berbincang dalam suasana santai penuh canda tawa, sambil sesekali
diselingi pertanyaan yang bersifat menyelidiki status anak perempuannya apakah sudah
ada yang melamar atau belum.
Pihak orang tua calon besan pun demikian dalam menjawabnya penuh dengan benyolan
penuh dengan siloka.
Walaupun sudah sepakat diantara kedua orang tua itu, pada jaman dahulu kadang-kadang
anak-anak mereka tidak tahu.
Di beberapa daerah di wilayah pasundan, kadang-kadang ada yang menggunakan cara
dengan saling mengirimi barang tertentu. Seperti orang tua anak laki-laki mengirim rokok
cerutu dan orang tua anak perempuan mengerti dengan maksud itu, maka apabila mereka
setuju akan segera membalasnya dengan mengirimkan benih labu siam (binih waluh
siam). Dengan demikian maka anak perempuannya itu sudah diteundeunan omong
(disimpan ucapannya).

Namun zaman telah berubah dan ritual ini pun sedikit demi sedikit mulai ditinggalkan,
dimana sekarang pada umumnya pria dan gadis mencari dan menemukan jodohnya sendiri-
sendiri. Setelah antara keduanya saling bersepakat, baru kemudian membicarakan dengan kedua
orang tua maing-masing. Dan selanjutnya menentukan waktu untuk melamar dan meminang.

2. Narosan (melamar)

Narosan adalah tindak lanjut daripada neundeun omong, pada kunjungan kedua yang
telah ditentukan dan disepakati oleh kedua pihak. Maka orang tua calon pengantin pria beserta
keluarga terdekat. Pada pelaksanaannya orang tua anak laki-laki biasanya sambil membawa
barang-barang, seperti :

Lemareun (seperti daun sirih, gambir, apu)


Pakaian perempuan
Cincin meneng
Beubeur tameuh (ikat pinggang yang suka dipakai kaum perempuan terutama setelah
melahirkan)
Uang yang jumlahnya 1/10 dari jumlah yang akan dibawa pada waktu seserahan.
Barang-barang yang dibawa dalam pelaksanaan upacara ngalamar itu tidak lepas dari simbol dan
makna seperti :

Sirih, bentuknya segi tiga meruncing ke bawah kalau dimakan rasanya pedas. Gambir
rasanya pahit dan kesat. Apu rasanya pahit. Tapi kalau sudah menyatu rasanya jadi enak
dan dapat menyehatkan tubuh dan mencegah bau mulut.
Cincin meneng yaitu cincin tanpa sambungan mengandung makna bahwa rasa kasih dan
sayang tidak ada putusnya.
Pakaian perempuan mengandung makna sebagai tanda mulainyatanggung jawab dari
pihak laki-laki terhadap prempuan.
Beubeur tameuh mengandung makna sebagai tanda adanya ikatan lahir dan bathin antara
kedua belah pihak.

3. Seserahan

Seserahan adalah penyerahan calon pria dengan membawa peralatan atau perlengkapan
untuk pernikahan. Sebagai kelanjutan dari narosan atau ngelamar pihak orang tua calon
pengantin pria mulai mempersiapkan kepada piahak calon mempelai wanita, dilakukan 3-7 hari
sebelum pernikahan, yaitu calon pengantin pria membawa uang sebesar 10 kali lipat dari uang
yang dibawa pada narosan atau ngelamar, pakaian, perabot rumah tangga, perabot dapur,
makanan, dan lainnya. Begitu juga seballiknya dari pihak calon pengantin wanita menyerahkan
sesuatu kepada pihak calon pengantin pria.

4. Ngecangkeun aisan

Ngecagkeun aisan. Calon pengantin wanita keluar dari kamardan secara simbolis
digendong oleh sang ibu, sewmentara ayah calon pengantin wanita berjalan di depan sambil
membawa lilin menuju tempat sungkeman. Upacara ini dilaksanakan sehari sebelum resepsi
pernikahan, sebagai symbol lepasnya tanggung jawab orang tua calon pengantin. Properti yang
digunakan :
1. Palika atau pelita atau menggunakan lilin yang berjumlah tujuh buah. Hal ini
mengandung makna jumlah hari dalam seminggu.
2. Kain putih yang bermakna niat suci
3. Bunga tujuh rupa yang bermakna bahwa perilaku kita, selama tujuh hari dalam
seminggu harus wangi yang artinya baik.
4. Bunga hanjuang yang bermakna bahwa kedua calon pengantin akan memasuki alam
baru yaitu alam rumah tangga.

Langkah-langkah upacara ini adalah :

Orang tua calon pengantin perempuan keluar dari kamar sambil membawa lilin/ palika
yang sudah menyala
Lalu dibelakangnya diikuti oleh calon pengantin perempuan sambil dililit (diais) oleh
ibunya
Setelah sampai ditengah rumah kemudian kedua orang tua calon pengantin perempuan
duduk di kursi yang telah dipersiapkan
Untuk menambah khidmatnya suasana, biasanya sambil diiringi alunan kecapi suling
dalam lagu ayun ambing

5. Ngaras Upacara

Ngaras artinya membasuh kedua telapak kaki orang tua sebagai tanda berbakti kepada
orang tua. Pelaksanaan upacara ini dilaksanakan setelah upacara ngecagkeun aisan.

Permohonan izin calon mempelai wanita kemudian sungkem dan mencuci kaki kedua
orang tua. Upacara ini dilaksanakan setelah upacara ngecagkeun aisan. Pelaksanaannya sebagai
berikut :

Calon pengantin perempuan bersujud dipangkuan orang tuanya sambil berkata :

Ema, Bapa, disuhunkeun wening galihnya, jembar manah ti salira. Ngahapunten kana
sugrining kalepatan sim abdi. Rehing dina dinten enjing pisan sim abdi seja nohonan sunah
rosul. Hapunten Ema, hapunten Bapa hibar pangdua ti salira.

Orang tua calon perempuan menjawab sambil mengelus kapala anaknya :

Anaking, titipan Gusti yang Widi. Ulah salempang hariwang, hidep sieun teu tinemu bagja tio
Ema sareng ti Bap amah, pidua sareng pangampura, dadas keur hidep sorangan geulis.

Selanjutnya kedua orang tua calon pengantin perempuan membawa anaknya ke tempat
siraman untuk melaksanakan upacara siraman.
Pencampuran air siraman. Kedua orang tua menuangkan air siraman ke dalam bokor dan
mengaduknya untuk upacara siraman.
Siraman. Diawali music kecapi suling, calon pengantin wanita dibimbing oleh perias
menuju tempat siraman dengan menginjak 7 helai kain. Siraman calon pengantin wanita
dimulai oleh ibu, kemudian ayah, disusul oleh para sesepuh. Jumlah penyiram ganjil,
misalnya 7, 9 dan paling banyak 11 orang. Secara terpisah, upacara yang samadilakukan
di rumah calon mempelai pria. Perlengkapan yang dilakukan adalah air bunga setaman (7
macam bunga wangi), dua helai kain sarung, satu helai selendang batik, satu helai
handuk, pedupaan, baju kebaya, paying besar, dan lilin.

6. Siraman Upacara

Siraman, artinya memandikan calon pengantin perempuan dengan air yang telah
dicampur dengan air bunga tujuh rupa (7 macam bunga wangi). Maksud dari upacara siraman
adalah sebagai simbol bahwa untuk menuju sebuah mahligai rumah tangga yang suci harus pula
diawali dengan tubuh serta niat yang suci pula. Acara memandikan calon pengantin agar bersih
lahir dan batin ini, berlangsung siang hari di kediaman masing-masing calon mempelai. Bagi
umat muslim, acara ini terlebih dahulu diawali dengan pengajian.

Pelaksanaan upacara siraman seperti berikut:

1. Sesudah membaca doa, ayah calon pengantin langsung menyiramkan air dimulai dari atas
kepala hingga ujung kakinya. Setelah itu diteruskan oleh ibunya sama seperti tadi. Dan
dilanjutkan oleh kerabat harus yang sudah menikah.
2. Pada siraman terakhir biasanya dilakukan dengan melafalkan jangjawokan (mantra)
seperti berikut:

Cai suci cai hurip


Cai rahmat cai nikmat
Hayu diri urang mandi
Nya mandi jeung para Nabi
Nya siram jeung para Malaikat
Kokosok badan rohani
Cur mancur cahayaning Alloh
Cur mancur cahayaning ingsun
Cai suci badan suka
Mulih badan sampurna
Sampurna ku paraniam
Potong rambut atau ngerik. Calon mempelai wanita dipotong rambutnya oleh kedua
orang tua sebagai lambang memperindah diri lahir dan batin. Dilanjutkan prosesi
ngeningan (dikerik dan dirias), yakni menghilangkan semua bulu-bulu halus pada wajah,
kuduk, membentuk amis cau/sinom, membuat godeg, dan kembang turi. Perlengkapan
yang dibutuhkan : pisau cukur, sisir, gunting rambut, pinset, air bunga setaman, lilin atau
pelita, padupaan, dan kain mori/putih. Biasanya sambil dilantunkan jangjawokan juga :
Peso putih ninggang kana kulit putih
Cep tiis taya rasana
Mangka mumpung mangka melung
Maka eunteup kana sieup
Mangka meleng ka awaking, ngeunyeuk seureuh
Rebutan parawanten. Sambil menunggu calon mempelai dirias, para tamu undangan
menikmati acara rebutan hahampangan dan beubeutian. Juga dilakukan acara pembagian
air siraman.
Suapan terakhir. Pemotongan tumpeng oleh kedua orangtua calon mempelai wanita,
dilanjutkan dengan menyuapi sang anak untuk terakhir kali, masing-masing sebanyak
tiga kali.
Tanam rambut. Kedua orangtua menanam potongan rambut calon mempelai wanita di
tempat yang telah ditentukan.

7. Ngeuyeuk Seureuh

Prosesi ngeuyeuk seureuh ini dilakukan setelah prosesi ngerik di lakukan adapun maksud
dan tujuan ngeuyeuk seureuh, yaitu:
Memberikan kesempatan kepada calon mempelai untuk meminta izin kepada orang tua
masingmasing, disertai doa restu dari orang tua kepada putra-putrinya dengan disaksikan oleh
sanak saudaranya dan dilakukan dengan sehidmat-hidamatnya.
Setelah itu kedua orang tua memberikan nasihat kepada calon mempelai melalui benda-
benda yang terdapat pada alat-alat yang ada atau alat-alat ngeuyeuk seureuh.

Kata ngeuyeuk seureuh sendiri berasal dari ngaheuyeuk yang artinya mengolah. Acara ini
biasanya dihadiri oleh kedua calon pengantin beserta keluarganya yang dilaksanakan pada
malam hari sebelum akad nikah. Pandangan hidup orang sunda senantiasa dilandasi oleh tiga
sifat utama yakni silih asih, silih asuh, dan silih asah atau secara literal diartikan sebagai saling
menyayangi, saling menjaga, dan mengajari. Ketiga sifat itu selalu tampak dalam berbagai
upacara adat atau ritual terutama acara ngeuyeuk seureuh. Diharapkan kedua calon pengantin
bisa mengamalkan sebuah peribahasa kawas gula jeung peuet (bagaikan gula dengan nira yang
sudah matang) artinya hidup yang rukun, saling menyayangi dan sebisa mungkin menghindari
perselisihan. Tata cara ngeuyeuk seureuh :

1. Nini pangeuyeuk memberikan 7 belai benang kanteh sepanjang 2 jengkal kepada kedua
calon mempelai. Sambil duduk menghadap dan memegang ujung-ujung benang, kedua
mempelai meminta izin untuk menikah kepada orangtua mereka.
2. Pangeuyeuk membawakan kidung yang berisi permohonan dan doa kepada Tuhansambil
nyawer (menaburkan beras sedikit-sedikit) kepada calon mempelai, simbol harapan hidup
sejahtera bagi sang mempelai.
3. Calon mempelai dikeprak (dipukul pelan-pelan) dengan sapu lidi, diiringi nasihat untuk
saling memupuk kasih sayang.
4. Kain putih penutup pangeuyeukan dibuka, melambangkan rumah tangga yang bersih dan
tak ternoda. Menggotong dua perangkat pakaian diatas kain pelekat, melambangkan kerja
sama pasangan calon suami istri dalam mengelola rumah tangga.
5. Calon pengantin pria membelah mayang jambe dan buah pinang. Mayang jambe
melambangkan hati dan perasaan wanita yang halus, buah pinang melambangkan suami
istri saling mengasihi dan dapat menyesuaikan diri. Selanjutnya calon pengantin pria
menumbuk alu ke dalam lumping yang dipegang oleh calon pengantin wanita.
6. Membuat lungkun, yakni berupa 2 lembarsirih bertangkai berhadapan digulung menjadi
satu memanjang, lalu diikat benang. Kedua orangtua dan tamu melakukan hal yang sama,
melambangkan jika ada rezeki berlebih harus dibagikan.
7. Diabai-abai oleh pangeuyeuk, kedua calon pengantin dan tamuberebut uang yang berada
dibawah tikar sambil disawer. Melambangkan berlomba mencari rezeki dan disayang
keluarga.
8. Kedua calon pengantin dan sesepuh membuang bekas ngeuyeuk seureuh ke perempatan
jalan, simbolisasi membuang yang buruk dan mengharap kebahagiaan dalam menempuh
hidup baru.
9. Menyalakan tujuh buah pelita, sebuah kosmologi sunda akan jumlah hari yang diterangi
matahari dan harapan akan kejujuran dalam membina rumah tangga.

3.3.2 Upacara Pernikahan Adat Sunda (Akad)

Pada hari yang telah ditetapkan oleh kedua keluarga calon pengantin. Rombongan
keluarga calon pengantin pria datang ke kediaman calon pengantin perempuan. Selain membawa
mas kawin, biasanya juga membawa peralatan dapur, perabot kamar tidur, kayu bakar, gentong
(gerabah untuk menyimpan beras). Di daerah priangan susunan acara upacara akad nikah
biasanya sebagai berikut :

1. Penjemputan calon pengantin pria

Penjemputan calon pengantin pria dilakukan oleh utusan dari pihak calon pengantin
wanita, setelah siap segala sesuatunya untuk pelaksanaan akad nikah dan sesuai dengan waktu
yang telah ditentukan, atau disepakati bersama maka pihak calon pengantin wanita mengirim
utusan untuk menjemput calon pengantin pria. Dan tugas ini sebaiknya tidak dibebankan
keapada seorang pemuda (anak muda) karena kurang berwibawa.

Kemudian, calon pengantin pria beserta para pengiring menuju kediaman calon pengantin
wanita, disambut acara mapag pengantin yang dipimpin oleh penari yang disebut mang lengser.
Calon mempelai pria disambut oleh ibu calon mempelai wanita dengan mengalungkan rangkaian
bunga.

2. Penyerahan calon pengantin pria

Yang mewakili pemasrahan calon penganti pria biasanya diwakilkan kepada orang yang
dituakan (ahli berpidato). Dan yang menerima dari perwakilan calon pengantin perempuan juga
biasanya diwakilkan.
3. Akad nikah

Setelah penghulu dan saksi duduk di tempat masing-masing, maka calon pengantin
wanita diambil dari kamar pengantin oleh orang tuanya atau ayahnya dan didudukan disamping
kiri calon pengantin pria. Sebelum ijab (akad nikah) dimulai, kedua calon pengantin dikerudungi
tiung panjang atau tudung berwarna putih, ini melambangkan penyatuan dua insane yang masih
murni, lahir maupun batin.

Kerudung atau tudung berwarna putih boleh dibuka apabila akad nikah sudah selesai,
setelah selesai upacara akad nikah dilakukan kedua calon pengantin yang sudah resmi menjadi
pengantin baru, dipersilahkan berdiri untuk serah terima mas kawin dan menerima buku nikah
masing-masing. Kemudian pengantin pria melakukan pemasangan cincin kawin yang dipakaikan
pada jari manis pengantin wanita dan juga sebaliknya, pengantin wanita memasangkan cincin
pada jari manis pengantin pria.

4. Menyerahkan mas kawin

Mas kawin adalah harta yang diberikan oleh pihak mempelai laki-laki (atau keluarganya)
kepada mempelai perempuan (atau keluarga dari mempelai perempuan) pada saat pernikahan.

5. Sungkeman

Acara selanjutnya adalah munjungan oleh kedua pengantin kepada para petugas KUA,
yang diteruskan dengan sembah sungkem meminta doa restu kepada orang tua pengantin
wanita, lalu kepada orang tua pengantin pria (Thomas Wiyasa Bratawidjadja, Upacara
Pernikahan Adat Sunda, 2002).

3.3.3 Upacara Pernikahan Adat Sunda (setelah akad)

1. Sawer Pengantin

Saweran, merupakan upacara memberi nasihat kepada kedua mempelai yang


dilaksanakan setelah acara akad nikah. Melambangkan mempelai beserta keluarga berbagi rejeki
dan kebahagiaan. Kata sawer berasal dari kata panyaweran, yang dalam bahasa sunda berarti
tempat jatuhnya air dari atap rumah atau ujung genting bagian bawah. Mungkin kata sawer ini
diambil dari tempat berlangsungnya upacara adat tersebut yaitu panyaweran. Berlangsung di
panyaweran (di teras atau halaman). Kedua orang tua menyawer mempelai dengan diiringi
kidung. Untuk menyawer, menggunakan bokor yang diisi uang logam, beras, irisan kunyit tipis,
dan permen. Kedua mempelai duduk berdampingan dengan dinaungi payung, seiring kidung
selesai dilantunkan, isi bokor ditabur, hadirin yang menyaksikan berebut memunguti uang receh
dan permen. Bahan-bahan yang diperlukan dan digunakan dalam upacara sawer ini tidaklah
lepas dari simbol dan maksud yang hendak disampaikan kepada pengantin baru ini, seperti :

1. Beras yang mengandung simbol kemakmuran. Maksudnya, mudah-mudahan setelah


berumah tangga pengantin bisa hidup makmur.
2. Uang recehan mengandung simbol kemakmuran. Maksudnya apabila kita mendapatkan
kemakmuran kita harus ikhlas berbagi dengan fakir dan yatim
3. Kembang gula artinya mudah-mudahan dalam melaksanakan rumah tangga mendapatkan
manisnya hidup berumah tangga.
4. Kunyit sebagai simbol kejayaan mudah-mudahan dalam hidup berumah tangga bisa
meraih kejayaan.

Kemudian semua bahan dan kelengkapan itu dilemparkan, artinya kita harus bersifat dermawan.
Syair-syair yang dinyanyikan pada upacara adat nyawer adalah sebagai berikut :

Kidung sawer

Pangapunten kasadaya

Kanu sami araya

Rehna bade nyawer heula

Ngedalkeun eusi werdaya

Dangukeun ieu piwulang

Tawis nu mikamelang

Teu pisan dek kumalancang

Megatan ngahalang-halang

Bisina tacan kaharti

Tengetkeun masing rastiti


Ucap lampah ati-ati

Kudu silih beuli ati

Lampah ulah pasalia

Singalap hayang waluya

Upama pakiya-kiya

Ahirna matak pasea

2. Nincak endog (menginjak telur)

Mengandung simbol keperawanan dan benih artinya agar pengantin perempuan bisa
memberikan keturunan yang baik. Mempelai pria menginjak telur dibalik apan dan elekan
(batang bambu muda), kemudian mempelai wanita mencuci kaki mempelai pria dengan air di
kendi, mengelapnya sampai kering lalu kendi dipecahkan berdua. Melambangkan pengabdian
istri kepada suamiyang dimulai dari hari itu.

3. Meuleum harupat (membakar lidi)

Mengandung maksud bahwa dalam memecahkan suatu permasalahan jangan punya sifat
seperti harupat yang mudah patah tetapi harus dengan pikiran yang bijaksana. Pelaksanaannya
yaitu kedua mempelai memegang harupat saling berhadapan dan langsung mematahkannya.

Mempelai pria memegang batang harupat, pengantin wanita membakar dengan lilin
sampai menyala. Harupat yang sudah menyala kemudian dimasukan kedalam kendi yang
dipegang mempelai wanita, diangkat kembali dan dipatahkan lalu dibuang jauh-jauh.
Melambangkan nasihat kepada kedua mempelai untuk senantiasa bersama dalam memecahkan
persoalan dalam rumah tangga. Fungsi istri dengan memegang kendi berisi air adalah untuk
mendinginkan setiap persoalan yang membuat pikiran dan hati suami tidak nyaman.

4. Buka pintu

Diawali mengetuk pintu tiga kali. Diadakan tanya jawab dengan pantun bersahutandari
dalam dan luar pintu rumah. Setelah kalimat syahadat dibacakan, pintu dibuka. Pengantin masuk
menuju pelaminan. Dialog pengantin perempuan dengan pengantin laki-laki seperti berikut ini :
Kentar Bayubud

Istri : saha eta anu kumawani

Taya tata taya bemakrama

Ketrak-ketrok kana panto

Laki-laki : geuning bet jadi kitu

Api-api kawas nu pangling

Apan ieu teh engkang

Hayang geura tepung

Tambah teu kuat ku era

Da diluar seueur tamu nu ningali

Istri : euleuh karah panutan

5. Huap lingkung

Setelah buka pintu dilaksanakan kedua mempelai dipertemukan, dan dibawa ke kamar
pengantin untuk melaksanakan upacara huap lingkung. Perlengkapan yang harus disediakan
seperti: bekakak ayam,nasi kuning, dan lain-lain.

1) Pasangan mempelai disuapi oleh kedua orang tua. Dimulai oleh para ibunda yang
dilanjutkan oleh kedua ayahanda.
2) Kedua mempelai saling menyuapi, tersedia 7 bulatan nasi punar (nasi ketan kuning)
diatas piring. Saling menyuap melalui bahu masing-masing kemudian satu bulatan
diperebutkan keduanya untuk kemudian dibelah dua dan disuapkan kepada pasangan.

Melambangkan suapan terakhir dari orang tua karena setelah berkeluarga, kedua anak mereka
harus mencari sendiri sumber kebutuhan hidup mereka dan juga menandakan bahwa kasih
sayang kedua orang tua terhadap anak dan menantu itu sama besarnya.

6. Melepaskan sepasang burung merpati


Upacara ini mengandung maksud bahwa kedua mempelai akan mengarungi dunia baru
yaitu dunia rumah tangga.

Ibunda kedua mempelai berjalan keluar sambil masing-masing membawa burung merpati
yang kemudian dilepaskan terbang di halaman. Melambangkan bahwa peran orangtua sudah
berakhir hari itu karena kedua anak mereka telah mandiri dan memiliki keluarga sendiri.

7. Pabetot Bakakak (menarik ayam bakar)

Kedua mempelai duduk berhadapan sambil tangan kanan mereka memegang kedua paha
ayam bakakak diatas meja, kemudian pemandu acara member aba-aba, kedua mempelai serentak
menarik bakakak ayam tersebut hingga terbelah. Yang mendapat bagian terbesar, harus membagi
dengan pasangannyadengan cara digigit bersama. Melambangkan bahwa berapa pun rejeki yang
didapat, harus dibagi berdua dan dinikmati bersama.

8. Numbas

Upacara numbas biasa dilaksanakan satu minggu setelah akad nikah. Upacara numbas
mengandung maksud untuk memberi tahu kepada keluarga dan tetangga bahwa pengantin
perempuan tidak mengecewakan pengantin laki-laki. Upacara numbas dilakukan dengan cara
membagi-bagikan nasi kuning (Thomas Wiyasa Bratawidjadja, Upacara Pernikahan Adat Sunda,
2002).

DAFTAR PUSTAKA :

Anonim. (Tanpa Tahun). Upacara Pernikahan Adat Sunda. Online Tersedia :


http://elib.unikom.ac.id/files/disk1/620/jbptunikompp-gdl-alangustri-30952-10-
unikom_a-i.pdf (Tanggal akses : 25 Maret 2015)

Salangit. (Tanpa Tahun). Susunan (Tata Cara) Upacara Nikah Adat Sunda. Online Tersedia :
https://salangit.wordpress.com/adat-istiadat-3/susunan-tata-cara-upacara-nikah-adat-
sunda/ (Tanggal akses : 21 Maret 2015)

Anda mungkin juga menyukai