Anda di halaman 1dari 20

FAKULTAS KEDOKTERAN UKRIDA

UNIVERSITAS KRISTEN KRIDA WACANA


Jl.Arjuna Utara No.6 Kebon Jeruk - Jakarta Barat

KEPANITERAAN KLINIK
STATUS ILMU KEBIDANAN DAN GINEKOLOGI
RUMAH SAKIT UMUM DAERAH CENGKARENG JAKARTA
Periode: 13 Februari 2017 s/d 22 April 2017

Nama : Gizela Yuanita Tanda Tangan


NIM : 11-2015-107
Dr pembimbing / penguji : dr. Yusuf Manga, SpOG

IDENTITAS PASIEN
Nama : Ny. DR Nama Suami : Tn. MF
Usia : 22 tahun Umur : 28 tahun
Pendidikan : SMK Pendidikan : STM
Agama : Islam Agama : Islam
Suku/Bangsa : Jawa Suku/Bangsa : Jawa
Alamat : Jl. Kayu Besar no 8 Alamat : Jl. Kayu Besar no 8

A. ANAMNESIS
Masuk RSUD Cengkareng pada tanggal : 13 Februari 2017
Diambil dari : autoanamnesis , Tanggal: 14 Februari 2017 ; pukul: 15.00 WIB

1. Keluhan utama :
Muntah sejak 4 hari SMRS

Keluhan tambahan :
Nyeri perut, mual sejak 5 hari SMRS, napsu makan berkurang.

2. Riwayat Penyakit Sekarang :


Seorang wanita berusia 22 tahun datang ke RS Cengkareng dengan keluhan muntah-
muntah sejak 4 hari SMRS, sehari muntah lebih dari 10 kali sebanyak kurang lebih 1 kantong
plastik tiap muntah, konsistensi cair dan terdapat ampas makanan. Keluhan timbul tiba-tiba
terutama ketika pasien selesai makan. Keluhan disertai mual dan nyeri perut yang dirasakan
sejak 5 hari yang lalu. pasien juga mengeluh badannya lemas dan tidak memiliki napsu
makan. Satu hari SMRS pasien demam namun pasien tidak mengukur suhunya saat itu.

1
Pasien sekarang sedang dalam masa kehamilan yang pertama dengan usia kehamilan 6
minggu. Pasien tidak memiliki riwayat alergi, hipertensi, diabetes, maupun penyakit jantung.

3. Riwayat Haid
Haid pertama : usia 14 tahun
Siklus : Teratur, 30 hari/bulan
Lamanya : 7 hari

4. Riwayat Perkawinan
Pasien menikah satu kali dengan suami sekarang selama 1 tahun

5. Riwayat Keluarga Berencana


Pasien tidak melakukan program KB

6. Riwayat Kehamilan, Persalinan, dan Nifas yang Lalu


Pasien hingga sekarang belum pernah hamil dan memiliki anak kandung

7. Riwayat Sosial:
Os merupakan kelompok masyarakat menengah ke bawah, dengan status pendidikan sedang.
Os tidak merokok, tidak menggunakan obat-obatan terlarang, dan tidak minum minuman
beralkohol.

B. PEMERIKSAAN JASMANI
1. Pemeriksaan Umum
Keadaan Umum :tampak sakit ringan Mata : CA -/-, SI -/-
Kesadaran : Compos mentis Kulit : Turgor baik
Tekanan darah : 110/80 Telinga : Tidak ada kelainan
Nadi : 88 x/menit Hidung : Tidak ada kelainan
Suhu : 36,4C Mulut : Tidak ada kelainan
Pernapasan : 20 x/menit Leher : Tidak ada kelainan
Tinggi badan : 160 cm Keadaan gizi : Baik
Berat badan : 55 kg Edema umum : tidak ada

Dada
Bentuk : normal, pectus excavatum (-), pectus carinatum (-)
Buah dada : bersih, puting susu menonjol

2
Depan Belakang
Inspeksi Kiri bentuk dada normal, simetris saat bentuk dada normal, simetris saat statis dan
statis dan dinamis, sela iga tidak dinamis, sela iga tidak membesar, jenis
membesar, jenis pernapasan pernapasan torakoabdominal.
torakoabdominal.

Kanan bentuk dada normal, simetris saat bentuk dada normal, simetris saat statis dan
statis dan dinamis, sela iga tidak dinamis, sela iga tidak membesar, jenis
membesar, jenis pernapasan pernapasan torakoabdominal.
torakoabdominal.

Palpasi Kiri sela iga tidak melebar, taktil sela iga tidak melebar, taktil fremitus normal,
fremitus normal, gerakan dada gerakan dada simetris
simetris
Kanan sela iga tidak melebar, taktil sela iga tidak melebar, taktil fremitus normal,
fremitus normal, gerakan dada gerakan dada simetris
simetris
Perkusi Kiri sonor di seluruh lapang paru sonor di seluruh lapang paru
Kanan sonor di seluruh lapang paru sonor di seluruh lapang paru
Auskulta Kiri bunyi paru vesikuler, tidak bunyi paru vesikuler, tidak terdengar ronkhi dan
si terdengar ronkhi dan wheezing wheezing
Kanan bunyi paru vesikuler, tidak bunyi paru vesikuler, tidak terdengar ronkhi dan
terdengar ronkhi dan wheezing wheezing

C. PEMERIKSAAN GINEKOLOGIK
1. Pemeriksaan luar : tidak tampak kelainan
2. Pemeriksaan dalam : tidak dilakukan

D. LABORATORIUM (DATA SEKUNDER)


Tanggal 12 februari 2017
HASIL NILAI NORMAL
Elektrolit
Natrium 139 136 146 mmol/L
Kalium 3,7 3,5 5,0 mmol/L
Chlorida 106 94 111 mmol/L
Hematologi
Hema I
Hemoglobin 13,1 P 13 16, W 12 14 g/dl
Hematokrit 37 P: 40 48; W: 37 43
3
Vol%
Leukosit 8,2 5 10 ribu/L
Trombosit 281 150 400 ribu/ L
Kimia Darah
Diabetes
Glukosa Sure Step 78 < 110 mg/Dl

Pemeriksaan USG belum dilakukan

E. RINGKASAN (RESUME)
Seorang wanita berusia 22 G1P0A0 hamil 6 minggu datang dengan keluhan nyeri
perut, mual 5 hari SMRS. Empat hari SMRS pasien muntah-muntah >10kali/hari, konsistensi
cair, ampas (+). Badan terasa lemas, nafsu makan (-). Pemeriksaan fisik pasien tampak sakit
ringan, kesadaran compos mentis, tekanan darah 110/80 mmHg, suhu 36,4 0C, nadi 88
kali/menit, frekuensi nafas 20 kali/menit. CA -/-, tidak tampak pucat, turgor kulit baik.
Pemeriksaan laboratorium dalam batas normal.

Diagnosis Kerja
G1P0A0 usia gestasi 6 minggu dengan hyperemesis gravidarum tingkat I

F. RENCANA PERMULAAN
Pemeriksaan yang dianjurkan :
1. Observasi
a. Tanda-tanda vital
b. Keadaan umum pasien
c. Elektrolit

Rencana Terapi :
1. Ondansentron 4 mg (3 x 1amp)
2. Asam Folat 300g (1 x 1)
3. Vitamin B1, B2, B6, B12

Edukasi pasien
1. Menjelaskan kepada pasien dan keluarga pasien bahwa pasien harus di rawat inap agar
dapat diobservasi.
2. Pasien diharuskan tirah baring.
3. Meminta pasien tetap makan walau tidak nyaman karena sering muntah dengan porsi
sedikit namun sering.

4
G. PROGNOSIS
Ibu: Ad vitam bonam
Ad functionam bonam
Ad sanationam bonam

Follow up
14 Februari 2017
S: Mual (+), muntah > 5 kali cair, ampas (+), napsu makan (-), pasien merasa
lemas.
O: KU tampak sakit sedang, kesadaran CM, akral hangat. CA-/-, turgor baik.
TD : 110/80 mmHg
Nadi : 86 x/menit
RR : 20 x/ menit
Suhu : 36,60C
Pemeriksaan Laboratorium:
Hematologi
Hemoglobin : 12,2 g/dl
Hematokrit : 35 Vol%
Leukosit : 10,7 ribu/L
Trombosit : 277 ribu/L
A: G1P0A0 hamil 6 minggu dengan Hiperemesis Gravidarum tingkat I
P: - Omeprazole 3 x 4 mg
Obimin AF
Ringer laktat

15 Februari 2017
S: pasien merasa lemas, nyeri perut. Mual dan muntah (+) sudah 3 kali walau
tidak sedang makan.
O: KU tampak sakit sedang, kesadaran CM, akral hangat. CA-/-, turgor kulit baik.
TD : 100/860 mmHg
Nadi : 87 x/menit
RR : 22 x/ menit

5
Suhu : 36,70C
A: G1P0A0 hamil 6 minggu dengan Hiperemesis Gravidarum tingkat I
P: - Omeprazole 3 x 4 mg
Obimin AF
Diet lunak
Ringer laktat : NaCl : D5 = 1:1:1

16 Februari 2017
S: pasien merasa lemas, nyeri perut hilang timbul. Mual dan muntah (+)
O: KU tampak sakit sedang, kesadaran CM, akral hangat, nadi teraba kuat, CA-/-,
turgor kulit baik.
TD : 114/75 mmHg
Nadi : 85 x/menit
RR : 20 x/ menit
Suhu : 36,30C
A: G1P0A0 hamil 6 minggu dengan Hiperemesis Gravidarum tingkat I
P: - Omeprazole 3 x 4 mg
Obimin AF
Diet lunak
Ringer laktat : NaCl : D5 = 1:1:1

17 Februari 2017
S: pasien mengatakan nyeri perut berkurang, mual kadang masih timbul.
O: KU tampak sakit sedang, kesadaran CM, akral hangat, nadi teraba kuat, CA-/-,
turgor kulit baik.
TD : 110/70 mmHg
Nadi : 88 x/menit
RR : 18 x/ menit
Suhu : 36,40C
A: G1P0A0 hamil 6 minggu dengan Hiperemesis Gravidarum tingkat I
P: - Omeprazole 3 x 4 mg
Obimin AF
Diet lunak
Ringer laktat : NaCl : D5 = 1:1:1

18 Februari 2017
6
S: pasien mengatakan nyeri perut berkurang, mual dan muntah berkurang.
O: KU tampak sakit sedang, kesadaran CM, akral hangat, nadi teraba kuat, CA-/-,
turgor kulit baik.
TD : 110/70 mmHg
Nadi : 86 x/menit
RR : 20 x/ menit
Suhu : 36,50C
A: G1P0A0 hamil 6 minggu dengan Hiperemesis Gravidarum tingkat I
P: - Omeprazole 3 x 4 mg IV
Ondansentron 3 x 1 mg IV
Obimin AF
Ranitidin 2 x 1 IV
Ringer laktat : NaCl : D5 = 1:1:1

19 Februari 2017
S: Pasien mengatakan mual dan muntah sudah 4 kali siang ini, napsu makan
berkurang, pusing (+). BAB terakhir kemarin sore, BAK lancar. Nyeri perut
berkurang.
O: KU tampak sakit sedang, kesadaran CM, akral hangat, nadi teraba kuat, CA-/-,
turgor kulit baik.
TD : 118/76 mmHg
Nadi : 88 x/menit
RR : 21 x/ menit
Suhu : 36,50C
A: G1P0A0 hamil 6 minggu dengan Hiperemesis Gravidarum tingkat I
P: - Omeprazole 3 x 4 mg IV
Ondansentron 3 x 1 mg IV
Obimin AF
Ranitidin 2 x 1 IV
Ringer laktat : NaCl : D5 = 1:1:1

20 Februari 2017
S: Pasien mengatakan masih mual namun sudah berkurang, muntah 1 kali, lemas
(+)
O: KU tampak sakit sedang, kesadaran CM, akral hangat, nadi teraba kuat, CA-/-,

7
turgor kulit baik.
TD : 110/80 mmHg
Nadi : 84 x/menit
RR : 20 x/ menit
Suhu : 36,30C
A: G1P0A0 hamil 6 minggu dengan Hiperemesis Gravidarum tingkat I
P: - Omeprazole 3 x 4 mg IV
Ondansentron 3 x 1 mg IV
Obimin AF
Ranitidin 2 x 1 IV
Ringer laktat : NaCl : D5 = 1:1:1

21 Februari 2017
S: Pasien mengatakan keluhan sudah membaik, mual dan muntah berkurang.
Napsu makan lebih baik dari sebelumnya
O: KU tampak sakit sedang, kesadaran CM, akral hangat, nadi teraba kuat, CA-/-,
turgor kulit baik.
TD : 120/70 mmHg
Nadi : 87 x/menit
RR : 20 x/ menit
Suhu : 36,40C
A: G1P0A0 hamil 6 minggu dengan Hiperemesis Gravidarum tingkat I
P: - Omeprazole 3 x 4 mg IV
Ondansentron 3 x 1 mg IV
Obimin AF
Ranitidin 2 x 1 IV
Ringer laktat : NaCl : D5 = 1:1:1
Pasien diperbolehkan pulang

8
TINJAUAN PUSTAKA
Pendahuluan
Mual dan muntah termasuk dalam tanda presumtif kehamilan. Sekitar 50-90%
kehamilan diikuti dengan mual dan muntah. Berdasarkan penelitian pada lebih dari 360
wanita hamil, 2% mengalami mual hanya pada pagi hari, 80% lainnya mengalami mual
sepanjang hari. Puncaknya sekitar pada minggu 9 kehamilan dan akan berhenti dengan
sendirinya. Sekitar 20 minggu kehamilan, gejala ini mereda. Namun, pada sekitar 20% kasus,
mual dan muntah dalam kehamilan berlanjut sampai saat persalinan.1,2
Kondisi mual dan muntah selama kehamilan disebut nausea and vomiting during
pregnancy (NVP) atau emesis gravidarum. Kondisi ini dianggap wajar selama wanita yang
bersangkutan masih merasa baik-baik saja dan tidak mempengaruhi kegiatan rutinnya sehari-
9
hari. Sebuah studi prospektif pada lebih dari 9000 wanita hamil menunjukkan bahwa emesis
gravidarum lebih sering terjadi pada primigravida, wanita dengan tingkat pendidikan rendah,
wanita yang muda, tidak merokok, dan yang obesitas. Insiden emesis gravidarum juga lebih
tinggi pada wanita yang memiliki riwayat mual muntah pada kehamilan sebelumnya. Emesis
gravidarum dibagi menjadi beberapa tingkatan, mulai dari yang ringan yang biasa disebut
dengan morning sickness sampai yang paling berat yaitu hiperemesis gravidarun (HEG).1
HEG merupakan bentuk emesis gravidarum hebat yang disertai dengan penurunan
berat badan lebih dari 5%. Keluhan ini disertai dengan dehidrasi, asidosis, alkalosis,
hipokalemi, ketosis, asetonuria, dan ptialism.2 Angka kejadian HEG berkisar 0,5-2% dari
seluruh kehamilan. HEG dapat mengancam jiwa dan harus ditangani dengan segera.1

Pembahasan
Definisi
HEG adalah mual dan muntah hebat yang disertai dengan penurunan berat badan
lebih dari 5%. Keluhan muntah begitu hebat dimana segala apa yang dimakan dan diminum
dimuntahkan sehingga dapat mempengaruhi keadaan umum, mengganggu pekerjaan,
menyebabkan dehidrasi, asidosis, alkalosis, hipokalemi, ketosis, asetonuria, dan ptialism.
Puncaknya sekitar pada minggu 9 kehamilan dan akan berhenti dengan sendirinya. Sekitar 20
minggu kehamilan, gejala ini mereda. Namun, pada sekitar 20% kasus, mual dan muntah
dalam kehamilan berlanjut sampai saat persalinan1,2

Faktor Risiko
Beberapa faktor risiko penyakit hiperemesis gravdarum antara lain adalah usia ibu,
usia gestasi, jumlah gravida, tingkat sosial ekonomi, kehamilan ganda, kehamilan mola,
kondisi psikologis ibu dan adanya infeksi H.pilory. Usia ibu merupakan faktor risiko dari
hiperemesis gravidarum yang berhubungan dengan kondisi psikologis ibu hamil. Literatur
menyebutkan bahwa ibu dengan usia kurang dari 20 tahun atau lebih dari 35 tahun lebih
sering mengalami hiperemesis gravidarum. Usia gestasi atau usia kehamilan juga merupakan
faktor risiko hiperemesis gravidarum, hal tersebut berhubungan dengan kadar hormon
korionik gonadotropin, estrogen dan progesteron di dalam darah ibu. Kadar hormon korionik
gonadotropin merupakan salah satu etiologi yang dapat menyebabkan hiperemesis
gravidarum. Kadar hormon gonadotropin dalam darah mencapai puncaknya pada trimester
pertama, tepatnya sekitar minggu ke 14-16. Oleh karena itu, mual dan muntah lebih sering

10
terjadi pada trimester pertama.4 Peningkatan kadar hCG mengakibatkan perubahan atau
gangguan (dismotilitas) sistem pencernaan serta gangguan sistem imun humoral yang diduga
sebagai pencetus infeksi H.pilory selama kehamilan.2
Faktor risiko lain adalah jumlah gravida. Hal tersebut berhubungan dengan kondisi
psikologis ibu hamil dimana ibu hamil yang baru pertama kali hamil akan mengalami stress
yang lebih besar dari ibu yang sudah pernah melahirkan dan dapat menyebabkan hiperemesis
gravidarum, ibu primigravida juga belum mampu beradaptasi terhadap perubahan korionik
gonadotropin, hal tersebut menyebabkan ibu yang baru pertama kali hamil lebih sering
mengalami hiperemesis gravidarum. Pekerjaan juga merupakan faktor risiko penyakit
hiperemesis gravidarum. Pekerjaan berhubungan dengan kondisi sosial ekonomi yang juga
mempengaruhi pola makan, aktifitas dan stres pada ibu hamil.2

Etiologi dan Patofisiologi


Etiologi HEG masih belum diketahui secara jelas. Faktor biologis, fisiologis,
psikologis, dan sosiokultural diperkirakan menjadi faktor yang berperan dalam timbulnya
HEG. Menurut teori lain, mual dan muntah selama kehamilan merupakan sebuah adaptasi
tubuh untuk mencegah asupan makanan yang berpotensi berbahaya. Zat yang merugikan itu
dapat berupa mikroorganisme pathogen dan toksin pada sayuran dan minuman yang berbau
menyengat. Bagaimanapun, HEG merupakan sindrom multifaktorial.1
1. Human Chorionic Gonadotropin (hCG)
HCG merupakan faktor endoktrin yang paling mungkin menjadi penyebab HEG. Kesimpulan
ini didasarkan pada hubungan antara peningkatan kadar hCG dan fakta bahwa insiden HEG
tertinggi adalah saat kadar hCG mencapai puncaknya saat kehamilan (sekitar minggu ke-9)
dan dihubungkan dengan kondisi dimana kadar hCG meningkat seperti pada kehamilan mola
dan kehamilan ganda.3
Belum jelas bagaimana hCG menyebabkan HEG, namun diduga hCG merangsang
proses sekretori yang berlebihan pada saluran cerna bagian atas. hCG menyebabkan produksi
cairan yang berlebihan pada saluran cerna bagian atas dengan cara mempengaruhi transport
ion yang diikuti dengan perpindahan cairan secara pasif.1
Tidak semua wanita dengan kadar hCG yang tinggi mengalami mual dan muntah.
Interaksi hormone-reseptor hCG pada kelompok wanita tertentu dapat menyebabkan HEG,
namun belum tentu menyebabkan HEG kelompok wanita lainnya. Hal ini mungkin

11
disebabkan karena variasi aktivitas biologis dari isoform hCG yang berbeda-beda serta
perbedaan sensitivitas tiap individu terhadap stimulus emetogenik.1
2. Infeksi Helicobacter pylori
Sebuah penelitian menggunakan biopsi mukosa telah dilakukan pada pasien HEG. Pada studi
ini didapatkan hasil bahwa pada pasien HEG 95% positif terdapat H. pylori sedangkan pada
kelompok kontrol 50%. Penelitian ini juga menemukan densitas H. pylori yang tinggi pada
antrum dan corpus gaster pasien HEG. Densitas ini dapat dikaitkan dengan keparahan gejala
yang dialami oleh pasien dan menjadi penjelasan perbedaan antara morning sickness biasa
dengan HEG.3
Infeksi H. pylori pada wanita hamil dapat disebabkan oleh perubahan pH lambung
atau perubahan sistem imun karena kehamilan. Perubahan pH lambung disebabkan karena
peningkatan akumulasi cairan di lambung oleh karena peningkatan hormone steroid pada
wanita hamil. Perubahan sistem imun humoral selama kehamilan dapat menyebabkan
peningkatan kerentanan terhadap infeksi H. pylori.3
3. Disfungsi gastric
Selama kehamilan peningkatan progesterone dan estrogen menyebabkan relaksasi sfingter
esophagus menyebabkan mual dan muntah. Progesterone dan estrogen juga menyebabkan
pengosongan lambung lebih lambat, gerakan usus berkurang, penumpukan cairan di saluran
cerna yang menyebabkan mual dan muntah.2,3
4. Defisiensi nutrisi
Sangat sedikit studi tentang defisiensi nutrisi sebagai penyebab HEG dalam literature.
Penelitian yang berkaitan dengan nutrisi terfokus pada elemen tambahan khususnya zinc dan
copper. Bagaimanapun hubungan antara HEG dan tingkat defisiensi nutrisi belum
ditemukan.2
5. Psikologis
Mual dan muntah selama kehamilan dianggap sebagai wujud konflik psokologis. Mual
muntah diyakini sebagai rasa penolakan terhadap kehamilan, ketidaksiapan ibu dalam
menerima kehamilan, kecemasan, dan ketakutan terhadap kehamilan.3

Manifestasi Klinis
Batas jelas antara mual dalam kehamilan yang masih fisiologik dengan hiperemesis
gravidarum tidak ada. Ada yang mengatakan, bisa lebih dari 10 kali muntah; akan tetapi bila
keadaan umum penderita terpengaruh, sebaiknya ini dianggap sebagai hiperemesis
gravidarum.4,5
Hiperemesis gravidarum, menurut berat ringannya gejala dapat dibagi ke dalam 3
tingkatan:

12
Tingkat I. Ringan
Mual muntah terus-menerus yang mempengaruhi keadaan umum penderita, ibu merasa
lemah, nafsu makan tidak ada, berat badan menurun dan nyeri epigastrium. Frekuensi nadi
meningkat sekitar 100 kali per menit, tekanan darah sistolik menurun, turgor kulit berkurang,
lidah kering dan mata cekung.4,5,6
Tingkat II. Sedang
Penderita tampak lebih lemah dan apatis, turgor kulit lebih mengurang lidah mengering dan
tampak kotor, nadi kecil dan cepat, suhu kadang-kadang naik dan mata sedikit ikteris. Berat
badan turun dan mata cekung, tensi turun, hemokonsentrasi, oliguria dan konstipasi. Dapat
pula tercium aseton dalam hawa pernapasan, karena mempunyai aroma yang khas dan dapat
pula ditemukan dalam kencing.4,5,6
Tingkat III. Berat
Keadaan umum lebih parah, muntah berhenti, kesadaran menurun dari somnolen sampai
koma, nadi kecil dan cepat, suhu meningkat dan tensi menurun. Komplikasi fatal terjadi pada
susunan saraf yang dikenal sebagai ensefalopati Wernicke, dengan gejala nistagmus, diplopia
dan perubahan mental. Keadaan ini adalah akibat sangat kekurangan zat makanan, termasuk
vitamin B komplek. Timbulnya ikterus menunjukkan adanya payah hati. Literatur lain
menyebutkan Wernicke encephalopathy dari defisiensi tiamin diikuti tanda-tanda dari
keterlibatan sistem saraf pusat., meliputi bingung, gangguan penglihatan, ataksia, and
nistagmus. Komplikasi ini ditemukan melalui pemeriksaan penunjang MRI.6

Diagnosis
Pemeriksaan fisik pada wanita dengan hiperemesis gravidarum biasanya tidak jelas.
Pemeriksaan fisik meliputi:4
Vital sign, termasuk tekanan darah saat berdiri dan berbaring dan nadi
Volume status (cth: kondisi mukosa, turgor kulit, vena leher dan mental status)
Keadaan umum (cth: nutrisi, berat badan)
Evaluasi tiroid
Pemeriksaan abdomen
Pemeriksaan cardiovaskuler
Pemeriksaan neurologis

Tes laboratorium
Evaluasi laboratorium digunakan untuk mengevaluasi ibu hamil dengan hiperemesis
gravidarum adalah:4

13
Urinalisis untuk memeriksan keton dan specific gravity: keton merupakan tanda tubuh
terhadap kelaparan dan dapat berbahaya bagi janin. Spesifik gravity yang tinggi terjadi
pada kekurangan cairan
Elektrolit dan keton darah: untuk mengetahui keadaan asidosis, alkalosis atau
hiperkloremik,
SGOT dan SGPT serta bilirubin: dapat meningkat pada 50% pasien dengan hiperemesis
gravidarum. Bila meningkat secara signifikat merupakan tanda terdapat infeksi
TSH dan kadar tiroksin bebas: hiperemesis gravidarum sering dikaitkan dengan transien
hipertiroidism dan TSH yang tersupresi pada 50-60% kasus.
Kultur urine: infeksi saluran kemih sering terjadi pada kehamilan dan dapat dikaitkan
dengan mual dan muntah.
Hematocrit level: dapat meningkat karena kurangnya cairan.

Pemeriksaan Radiologis
Pemeriksaan radiologis yang dapat digunakan untuk memeriksan ibu hamil dengan
hiperemesis gravidarum:4
Obstetric ultrasonografi: untuk mengevaluasi gestasi multiple atau penyakit trofoblastik
Ultrasonografi upper abdomen: jika secara klinis dicurigai, digunakan untuk menilai
pancreas dan/atau traktus bilier
CT scan abdomen atau MRI: jika dicurigai apendisitis yang dapat menyebabkan mual dan
muntah pada kehamilan,

PENATALAKSANAAN
Non Farmakologi
Tata laksana awal dan utama untuk mual dan muntah tanpa komplikasi adalah
istirahat dan menghindari makanan yang merangsang, seperti makanan pedas, makanan
berlemak, atau suplemen besi. Perubahan pola diet yang sederhana, yaitu mengkonsumsi
makanan dan minuman dalam porsi yang kecil namun sering cukup efektif untuk mengatasi
mual dan muntah derajat ringan. Jenis makanan yang direkomendasikan adalah makanan
ringan, kacang-kacangan, produk susu, kacang panjang, dan biskuit kering. Minuman
elektrolit dan suplemen nutrisi peroral disarankan sebagai tambahan untuk memastikan
terjaganya keseimbangan elektrolit dan pemenuhan kebutuhan kalori. Menu makanan yang
banyak mengandung protein juga memiliki efek positif karena bersifat eupeptic dan efektif
meredakan mual. Manajemen stres juga dapat berperan dalam menurunkan gejala mual.7

Farmakologi

14
Pasien hiperemesis gravidarum harus dirawat inap dirumah sakit dan dilakukan
rehidrasi dengan cairan natrium klorida atau ringer laktat, penghentian pemberian makanan
per oral selama 24-48 jam, serta pemberian antiemetik jika dibutuhkan. Penambahan glukosa,
multivitamin, magnesium, pyridoxine, atau tiamin perlu dipertimbangkan. Cairan dekstrosa
dapat menghentikan pemecahan lemak. Untuk pasien dengan defisiensi vitamin, tiamin 100
mg diberikan sebelum pemberian cairan dekstrosa. Penatalaksanaan dilanjutkan sampai
pasien dapat mentoleransi cairan per oral dan didapatkan perbaikan hasil laboratorium.7,8
Pemberian obat secara intravena dipertimbangkan jika toleransi oral pasien buruk.
Obat-obatan yang digunakan antara lain adalah vitamin B6 (piridoksin), antihistamin dan
agen-agen prokinetik. American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG)
merekomendasikan 10 mg piridoksin ditambah 12,5 mg doxylamine per oral setiap 8 jam
sebagai farmakoterapi lini pertama yang aman dan efektif. Dalam sebuah randomized trial,
kombinasi piridoksin dan doxylamine terbukti menurunkan 70% mual dan muntah dalam
kehamilan. Suplementasi dengan tiamin dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya
komplikasi berat hiperemesis, yaitu Wernickes encephalopathy. Komplikasi ini jarang
terjadi, tetapi perlu diwaspadai jika terdapat muntah berat yang disertai dengan gejala okular,
seperti perdarahan retina atau hambatan gerakan ekstraokular.7,8
Antiemetik konvensional, seperti fenotiazin dan benzamin, telah terbukti efektif dan
aman bagi ibu. Antiemetik seperti proklorperazin, prometazin, klorpromazin menyembuhkan
mual dan muntah dengan cara menghambat postsynaptic mesolimbic dopamine receptors
melalui efek antikolinergik dan penekanan reticular activating system. Obat-obatan tersebut
dikontraindikasikan terhadap pasien dengan hipersensitivitas terhadap golongan fenotiazin,
penyakit kardiovaskuler berat, penurunan kesadaran berat, depresi sistem saraf pusat, kejang
yang tidak terkendali, dan glaucoma sudut tertutup. Namun, hanya didapatkan sedikit
informasi mengenai efek terapi antiemetik terhadap janin.7,8
Fenotiazin atau metoklopramid diberikan jika pengobatan dengan antihistamin gagal.
Prochlorperazine juga tersedia dalam sediaan tablet bukal dengan efek samping sedasi yang
lebih kecil. Dalam sebuah randomized trial, metoklopramid dan prometazin intravena
memiliki efektivitas yang sama untuk mengatasi hiperemesis, tetapi metoklopramid memiliki
efek samping mengantuk dan pusing yang lebih ringan. Studi kohort telah menunjukkan
bahwa penggunaan metoklopramid tidak berhubungan dengan malformasi kongenital, berat
badan lahir rendah, persalinan preterm, atau kematian perinatal. Namun, metoklopramid

15
memiliki efek samping tardive dyskinesia, tergantung durasi pengobatan dan total dosis
kumulatifnya. Oleh karena itu, penggunaan selama lebih dari 12 minggu harus dihindari.7,8
Antagonis reseptor 5-hydroxytryptamine (5HT3) seperti ondansetron mulai sering
digunakan, tetapi informasi mengenai penggunaannya dalam kehamilan masih terbatas.
Seperti metoklopramid, ondansetron memiliki efektivitas yang sama dengan prometazin,
tetapi efek samping sedasi ondansetron lebih kecil. Ondansetron tidak meningkatkan risiko
malformasi mayor pada penggunaannya dalam trimester pertama kehamilan. Droperidol
efektif untuk mual dan muntah dalam kehamilan, tetapi sekarang jarang digunakan karena
risiko pemanjangan interval QT dan torsades de pointes. Pemeriksaan elektrokardiografi
sebelum, selama dan tiga jam setelah pemberian droperidol perlu dilakukan.7,8
Untuk kasus-kasus refrakter, metilprednisolon dapat menjadi obat pilihan.
Metilprednisolon lebih efektif daripada promethazine untuk penatalaksanaan mual dan
muntah dalam kehamilan. Efek samping metilprednisolon sebagai sebuah glukokortikoid juga
patut diperhatikan. Dalam sebuah metaanalisis dari empat studi, penggunaan glukokortikoid
sebelum usia gestasi 10 minggu berhubungan dengan risiko bibir sumbing dan tergantung
dosis yang diberikan. Oleh karena itu, penggunaan glukokortikoid direkomendasikan hanya
pada usia gestasi lebih dari 10 minggu.7,8

16
Gambar 1. Algoritme Terapi Farmakologi Untuk Mual dan Muntah dalam Kehamilan
Gambar 2. Obat-Obatan untuk Tatalaksana Mual dan Muntah dalam Kehamilan

Edukasi
Setiap wanita hamil dengan HEG memerlukan penanganan yang berbeda-beda antara
wanita satu dengan yang lain. Ada beberapa cara untuk mengurangi gejala-gejala HEG yang
bisa dilakukan pasien dirumah.9
1. Diet9
Makan dalam jumlah sedikit namun sering sehingga di setiap saat pasien merasa tidak
terlalu lapar dan dan tidak terlalu kenyang.
Hindari makanan pedas dan berlemak serta bebau menyengat.
Makan makanan dengan yang mengandung karbohidrat simple seperti nasi putih, cracker,
kentang, roti.
Kombinasikan makanan yang mengandung karbohidrat simple dengan protein.
Sedia cracker di samping tempat tidur untuk mencegah mual dipagi hari.

2. Suplemen9
17
Jika pasien merasa bahwa vitamin prenatalnya memperparah mual, makanlah vitamin
tersebut saat setelah makan, bukan saat perut kosong. Vitamin kunyah terkadang lebih
mudah diterima.
Mengkonsumsi piridoxin (vitamin B6) terbukti dapat mengurangi mual dan muntah.

Komplikasi
Muntah yang terus-menerus disertai dengan kurang minum yang berkepanjangan
dapat menyebabkan dehidrasi. Jika terus berlanjut, pasien dapat mengalami syok. Dehidrasi
yang berkepanjangan juga menghambat tumbuh kembang janin. Oleh karena itu, pada
pemeriksaan fisik harus dicari apakah terdapat abnormalitas tanda-tanda vital, seperti
peningkatan frekuensi nadi (>100 kali per menit), penurunan tekanan darah, kondisi
subfebris, dan penurunan kesadaran. Selanjutnya dalam pemeriksaan fisis lengkap dapat
dicari tanda-tanda dehidrasi, kulit tampak pucat dan sianosis, serta penurunan berat badan.7
Selain dehidrasi, akibat lain muntah yang persisten adalah gangguan keseimbangan
elektrolit seperti penurunan kadar natrium, klor dan kalium, sehingga terjadi keadaan
alkalosis metabolik hipokloremik disertai hiponatremia dan hipokalemia. Hiperemesis
gravidarum yang berat juga dapat membuat pasien tidak dapat makan atau minum sama
sekali, sehingga cadangan karbohidrat dalam tubuh ibu akan habis terpakai untuk pemenuhan
kebutuhan energi jaringan. Akibatnya, lemak akan dioksidasi. Namun, lemak tidak dapat
dioksidasi dengan sempurna dan terjadi penumpukan asam aseton-asetik, asam
hidroksibutirik, dan aseton, sehingga menyebabkan ketosis. Salah satu gejalanya adalah bau
aseton (buah-buahan) pada napas. Pada pemeriksaan laboratorium pasien dengan hiperemesis
gravidarum dapat diperoleh peningkatan relatif hemoglobin dan hematokrit, hiponatremia dan
hipokalemia, badan keton dalam darah dan proteinuria.7
Robekan pada selaput jaringan esofagus dan lambung dapat terjadi bila muntah terlalu
sering. Pada umumnya robekan yang terjadi kecil dan ringan, dan perdarahan yang muncul
dapat berhenti sendiri. Tindakan operatif atau transfusi darah biasanya tidak diperlukan.7
Perempuan hamil dengan hiperemesis gravidarum dan kenaikan berat badan dalam
kehamilan yang kurang (<7 kg) memiliki risiko yang lebih tinggi untuk melahirkan bayi
dengan berat badan lahir rendah, kecil untuk masa kehamilan, prematur, dan nilai APGAR
lima menit kurang dari tujuh.7

Prognosis

18
Dengan penanganan yang baik prognosis hiperemesis gravidarum baik. HEG
termasuk self limiting yang biasanya akan mereda pada minguu ke 20 kehamilan. Namun
demikian pada tingkatan yang berat, penyakit ini dapat mengancam jiwa ibu dan janin
sehingga perlu penanganan segera.

Kesimpulan
Hiperemesis gravidarum adalah muntah yang cukup parah (>10 kali dalam 24 jam)
sebelum usia kehamilan 22 minggu sehingga menyebabkan kehilangan berat badan,
dehidrasi, asidosis dari kelaparan, alkalosis dari kehilangan asam hidroklorid saat muntah dan
hipokalemia. Beberapa penelitian menyebutkan beberapa teori tentang hal yang dapat
menyebabkan hiperemesis gravidarum seperti kadar hormon korionik gonadotropin, hormon
estrogen, infeksi H.pylori dan juga faktor psikologis.
Diagnosis dan penatalaksanaan mual dan muntah dalam kehamilan yang tepat dapat
mencegah komplikasi hiperemesis gravidarum yang membahayakan ibu dan janin. Ketepatan
diagnosis sangat penting, karena terdapat sejumlah kondisi lain yang dapat menyebabkan
mual dan muntah dalam kehamilan. Tata laksana komprehensif dimulai dari istirahat,
modifikasi diet dan menjaga asupan cairan. Jika terjadi komplikasi hiperemesis gravidarum,
penatalaksanaan utama adalah pemberian cairan rehidrasi dan perbaikan elektrolit.
Terapi farmakologi dapat diberikan jika dibutuhkan, seperti piridoksin, doxylamine,
prometazin, dan metoklopramin dengan memperhatikan kontraindikasi dan efek sampingnya.
Beberapa terapi alternatif sudah mulai diteliti untuk penatalaksanaan hiperemesis gravidarum,
seperti ekstrak jahe.

Daftar Pustaka
1. Jueckstock JK, Kaestner R, Mylonas I. Managing hypermesis gravidarum: a multimodal
challenge. United Kingdom: BMC Medicine; 2010. Hal 1-9
2. Mesics S. Hyperemesis Gravidarum. California: NetCe; 2014. Hal 2-8.
3. Verberg MFG, Gillot DJ, Al-Fardan N, Grudzinskas JG. Hyperemesis gravidarum, a
literature review. United State of America: Lipincott Williams & Wilkins Publisher; 2005. 11:
527-39.

19
4. Wibowo B, Soejoenoes A. Hiperemesis Gravidarum. Dalam: Wiknjosastro H. Ilmu
Kebidanan. Edisi ketiga. Cetakan ketujuh. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo. 2005. hal 275-9.
5. Mansjoer A. Kapita Selekta Kedokteran Jilid Pertama. Edisi ketiga. Jakarta: Media
Aesculapius FKUI. 2001. hal 259-60.
6. Mochtar R. Sinopsis Obstetri. Jakarta: EGC. 2004. Hal 278-80.
7. Sastrawinata S, Martaadisoebrata D, Wirakusumah FF. Ilmu Kesehatan Reproduksi: Obstetri
Patologi. Edisi kedua. Jakarta: EGC. 2004. hal 64-67.
8. Achadiat CM. Prosedur tetap Obstetri dan Ginekologi. Jakarta: EGC: 2004. hal 72-74.
9. Moeloek FA. Hiperemesis Gravidarum. Standar Pelayanan Medik: Obstetri dan Ginekologi.
Jakarta: Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia. 2006. hal 21-22.

20