Anda di halaman 1dari 27

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Mobilitas dan aktivitas adalah hal yang vital bagi kesehatan total lansia
sehingga perawat harus banyak memiliki pengetahuan dalam pengkajian dan
intervensi muskuloskeletal. Perawat memainkan dua peranan penting. Pertama,
mempraktikkan promosi kesehatan jauh sebelum berusia 65 tahun dapat menunda
dan memperkecil efek degeneratif dari penuaan. Penyakit muskuloskeletal bukan
merupakan konsekuensi penuaan yang tidak dapat dihindari dan karenanya harus
dianggap sebagai suatu proses penyakit spesifik, tidak hanya sebagai akibat dari
penuaan.
Artritis Reumatoid (AR) adalah suatu penyakit otoimun sistemik yang
menyebabkan peradangan pada sendi. Penyakit ini ditandai oleh peradangan
sinovium yang menetap, suatu sinovitis proliferatifa kronik non spesifik. Dengan
berjalannya waktu, dapat terjadi erosi tulang, destruksi (kehancuran) rawan sendi
dan kerusakan total sendi.
Artritis Reumatoid merupakan suatu penyakit yang telah lama dikenal dan
tersebar luas di seluruh dunia serta melibatkan semua ras dan kelompok etnik.
Prevalensi Artritis Reumatoid adalah sekitar 1 persen populasi (berkisar antara 0,3
sampai 2,1 persen). Artritis Reumatoid lebih sering dijumpai pada wanita, dengan
perbandingan wanita dan pria sebesar 3 : 1.7 Perbandingan ini mencapai 5:1 pada
wanita dalam usia subur. Artritis Reumatoid menyerang 2,1 juta orang Amerika,
yang kebanyakan wanita. Serangan pada umumnya terjadi di usia pertengahan,
nampak lebih sering pada orang lanjut usia. 1,5 juta wanita mempunyai artritis
reumatoid yang dibandingkan dengan 600.000 pria.
Penanganan medis pasien dengan artritis reumatoid pada lansia bergantung
pada tahap penyakit ketika diagnosis dibuat dan termasuk dalam kelompok mana
yang sesuai dengan kondisi tersebut. Untuk menghilangkan nyeri dapet
mempergunakan agens antiinflamasi, obat yang dipilih adalah aspirin.
2

B. Rumusan Masalah
1. Definisi Reumatik
2. Jenis-jenis Reumatik
3. Pengertian Artritis Reumatoid
4. Etiologi Artritis Reumatoid
5. Patofisiologi Artritis Rematoid
6. Manifestasi Klinik Artritis Rematoid
7. Penatalaksanaan Artritis Rematoid
C. Tujuan
1. Untuk Mengetahui Definisi Reumatik
2. Untuk Mengetahui Jenis-jenis Reumatik
3. Untuk Mengetahui Pengertian Artritis Reumatoid
4. Untuk Mengetahui Etiologi Artritis Reumatoid
5. Untuk Mengetahui Patofisiologi Artritis Rematoid
6. Untuk Mengetahui Manifestasi Klinik Artritis Rematoid
7. Untuk Mengetahui Penatalaksanaan Artritis Rematoid
3

BAB II

TINJAUAN TEORI

REUMATIK

A. Definisi Reumatik
Rematik adalah orang yang menderita rheumatism (Encok) , arthritis (radang
sendi) ada 3 jenis arthritis yang paling sering diderita adalah osteoarthritis
,arthritis goud, dan rheumatoid artirtis yang menyebabkan pembengkakan
benjolan pada sendi atau radang pada sendi secara serentak.(utomo.2005:60).
Penyakit rematik meliputi cakupan luas dari penyakit yangdikarakteristikkan
oleh kecenderungan untuk mengefek tulang, sendi, dan jaringan lunak (Soumya,
2011). Penyakit rematik dapat digolongkan kepada 2 bagian, yang pertama
diuraikan sebagai penyakit jaringan ikat karena ia mengefek rangkapendukung
(supporting framework) tubuh dan organ-organ internalnya. Antara penyakit yang
dapat digolongkan dalam golongan ini adalah osteoartritis, gout, danfibromialgia.
Golongan yang kedua pula dikenali sebagai penyakit autoimun karenaia terjadi
apabila sistem imun yang biasanya memproteksi tubuh dari infeksi danpenyakit,
mulai merusakkan jaringan-jaringan tubuh yang sehat. Antara penyakityang dapat
digolongkan dalam golongan ini adalah rheumatoid artritis,spondiloartritis, lupus
eritematosus sistemik dan skleroderma. (NIAMS, 2008).
Berdasarkan defenisi di atas, penulis menarik kesimpulan bahwa penyakit
Reumatik adalah penyakit sendi yang disebabkan oleh peradangan pada
persendian sehingga tulang sendi mengalami destruksi dan deformitas serta
menyebabkan jaringan ikat akan mengalami degenerasi yang akhirnya semakin
lama akan semakin parah.

B. Jenis-jenis Reumatik
Ditinjau dari lokasi patologis maka jenis rematik tersebut dapat dibedakan
dalam dua kelompok besar yaitu rematik artikular dan rematik Non artikular .
Rematik artikular atau arthritis (radang sendi) merupakan gangguan rematik yang
berlokasi pada persendian diantarannya meliputi arthritis rheumatoid,
4

osteoarthritis dan gout arthritis. Rematik non artikular atau ekstra artikular yaitu
gangguan rematik yang disebabkan oleh proses diluar persendian diantaranya
bursitis,fibrositis dan sciatica(hembing,2006 dalam Iwayan:9).
Rematik dapat dikelompokan dalam beberapa golongan yaitu :
1. Osteoartritis.
2. Artritis rematoid.
3. Olimialgia Reumatik.
4. Artritis Gout (Pirai).

1) Osteoartritis.
Penyakit ini merupakan penyakit kerusakan tulang rawan sendi yang
berkembang lambat dan berhubungan dengan usia lanjut. Secara klinis
ditandai dengan nyeri, deformitas, pembesaran sendi, dan hambatan gerak
pada sendi sendi tangan dan sendi besar yang menanggung beban.
2) Artritis Rematoid
Artritis rematoid adalah suatu penyakit inflamasi sistemik kronik dengan
manifestasi utama poliartritis progresif dan melibatkan seluruh organ tubuh
Terlibatnya sendi pada pasien artritis rematoid terjadi setelah penyakit ini
berkembang lebih lanjut sesuai dengan sifat progresifitasnya. Pasien dapat
juga menunjukkan gejala berupa kelemahan umum cepat lelah.
3) Olimialgia Reumatik.
Penyakit ini merupakan suatu sindrom yang terdiri dari rasa nyeri dan
kekakuan yang terutama mengenai otot ekstremitas proksimal, leher, bahu dan
panggul. Terutama mengenai usia pertengahan atau usia lanjut sekitar 50 tahun
ke atas.
4) Artritis Gout (Pirai).
Artritis gout adalah suatu sindrom klinik yang mempunyai gambaran
khusus, yaitu artritis akut. Artritis gout lebih banyak terdapat pada pria dari
pada wanita. Pada pria sering mengenai usia pertengahan, sedangkan pada
wanita biasanya mendekati masa menopause.

ATRITIS RHEMATOID
C. Pengertian
5

Atritis Rhematoid adalah penyakit inflamasi sistemik kronik yang


menyebabkan tulang sendi destruksi dan deformitas, serta mengakibatkan
ketidakmampuan (Meiner&Luekenotte, 2006). Rheumathoid Arthritis (RA)
adalah suatu penyakit autoimun dan inflamasi sistemik kronik terutama mengenai
jaringan sinovium sendi dengan manifestasi utama poliarthritis progresif dan
melibatkan seluruh organ tubuh (Manjoer, 1999).
Artritis reumatoid merupakan penyakit inflamasi sistemik kronis yang tidak
diketahui penyebabnya, diakrekteristikkan oleh kerusakan dan proliferasi
membran sinovial yang menyebabkan kerusakan pada tulang sendi, ankilosis, dan
deformitas. (Kusharyadi, 2010).
Artritis reumatoid adalah penyakit inflamasi sistemik yang kronis dan
terutama menyerang persendian, otot-otot, tendon, ligamen, dan pembuluh darah
yang ada disekitarnya. (Kowalak, 2011).

D. Etiologi
Penyebab utama penyakit artritis reumatoid masih belum diketahui secara
pasti. Ada beberapa teori yang dikemukakan sebagai penyebab artritis reumatoid,
yaitu :
1. Infeksi Streptokkus hemolitikus dan Streptococcus non-hemolitikus.
2. Endokrin
Kecenderungan wanita untuk menderita artritis reumatoid dan sering
dijumpainya remisi pada wanita yang sedang hamil menimbulkan dugaan
6

terdapatnya faktor keseimbangan hormonal sebagai salah satu faktor yang


berpengaruh pada penyakit ini. Walaupun demikian karena pemberian
hormon estrogen eksternal tidak pernah menghasilkan perbaikan sebagaimana
yang diharapkan, sehingga kini belum berhasil dipastikan bahwa faktor
hormonal memang merupakan penyebab penyakit ini.
3. Autoimmun
Pada saat ini artritis reumatoid diduga disebabkan oleh faktor autoimun dan
infeksi. Autoimun ini bereaksi terhadap kolagen tipe II, faktor infeksi mungkin
disebabkan oleh karena virus dan organisme mikroplasma atau grup difterioid
yang menghasilkan antigen tipe II kolagen dari tulang rawan sendi penderita.
4. Metabolik
5. Faktor genetik serta pemicu lingkungan
Faktor genetik dan beberapa faktor lingkungan telah lama diduga berperan
dalam timbulnya penyakit ini. Hal ini terbukti dari terdapatnya hubungan antara
produk kompleks histokompatibilitas utama kelas II, khususnya HLA-DR4
dengan artritis reumatoid seropositif. Pengemban HLA-DR4 memiliki resiko
relatif 4:1 untuk menderita penyakit ini.

E. Patofisiologi
Dari penelitian mutakhir diketahui bahwa patogenesis artritis reumatoid
terjadi akibat rantai peristiwa imunologis sebagai berikut : Suatu antigen
penyebab artritis reumatoid yang berada pada membran sinovial, akan diproses
oleh antigen presenting cells (APC) yang terdiri dari berbagai jenis sel seperti sel
sinoviosit A, sel dendritik atau makrofag yang semuanya mengekspresi
determinan HLA-DR pada membran selnya. Antigen yang telah diproses akan
dikenali dan diikat oleh sel CD4+ bersama dengan determinan HLA-DR yang
terdapat pada permukaan membran APC tersebut membentuk suatu kompleks
trimolekular. Kompleks trimolekular ini dengan bantuan interleukin-1 (IL-1) yang
dibebaskan oleh monosit atau makrofag selanjutnya akan menyebabkan terjadinya
aktivasi sel CD4+.
7

Pada tahap selanjutnya kompleks antigen trimolekular tersebut akan


mengekspresi reseptor interleukin-2 (IL-2) Pada permukaan CD4+. IL-2 yang
diekskresi oleh sel CD4+ akan mengikatkan diri pada reseptor spesifik pada
permukaannya sendiri dan akan menyebabkan terjadinya mitosis dan proliferasi
sel tersebut. Proliferasi sel CD4+ ini akan berlangsung terus selama antigen tetap
berada dalam lingkunan tersebut. Selain IL-2, CD4+ yang telah teraktivasi juga
mensekresi berbagai limfokin lain seperti gamma-interferon, tumor necrosis factor
b (TNF-b), interleukin-3 (IL-3), interleukin-4 (IL-4), granulocyte-macrophage
colony stimulating factor (GM-CSF) serta beberapa mediator lain yang bekerja
merangsang makrofag untuk meningkatkan aktivitas fagositosisnya dan
merangsang proliferasi dan aktivasi sel B untuk memproduksi antibodi. Produksi
antibodi oleh sel B ini dibantu oleh IL-1, IL-2, dan IL-4.
Setelah berikatan dengan antigen yang sesuai, antibodi yang dihasilkan akan
membentuk kompleks imun yang akan berdifusi secara bebas ke dalam ruang
sendi. Pengendapan kompleks imun akan mengaktivasi sistem komplemen yang
akan membebaskan komponen-komplemen C5a. Komponen-komplemen C5a
merupakan faktor kemotaktik yang selain meningkatkan permeabilitas vaskular
juga dapat menarik lebih banyak sel polimorfonuklear (PMN) dan monosit ke
arah lokasi tersebut. Pemeriksaan histopatologis membran sinovial menunjukkan
bahwa lesi yang paling dini dijumpai pada artritis reumatoid adalah peningkatan
permeabilitas mikrovaskular membran sinovial, infiltrasi sel PMN dan
pengendapan fibrin pada membran sinovial.
Fagositosis kompleks imun oleh sel radang akan disertai oleh pembentukan
dan pembebasan radikal oksigen bebas, leukotrien, prostaglandin dan protease
neutral (collagenase dan stromelysin) yang akan menyebabkan erosi rawan sendi
dan tulang. Radikal oksigen bebas dapat menyebabkan terjadinya depolimerisasi
hialuronat sehingga mengakibatkan terjadinya penurunan viskositas cairan sendi.
Selain itu radikal oksigen bebas juga merusak kolagen dan proteoglikan rawan
sendi.
Prostaglandin E2 (PGE2) memiliki efek vasodilator yang kuat dan dapat
merangsang terjadinya resorpsi tulang osteoklastik dengan bantuan IL-1 dan TNF-
8

b. Rantai peristiwa imunologis ini sebenarnya akan terhenti bila antigen penyebab
dapat dihilangkan dari lingkungan tersebut. Akan tetapi pada artritis reumatoid,
antigen atau komponen antigen umumnya akan menetap pada struktur persendian,
sehingga proses destruksi sendi akan berlangsung terus. Tidak terhentinya
destruksi persendian pada artritis reumatoid kemungkinan juga disebabkan oleh
terdapatnya faktor reumatoid. Faktor reumatoid adalah suatu autoantibodi
terhadap epitop fraksi Fc IgG yang dijumpai pada 70-90 % pasien artritis
reumatoid. Faktor reumatoid akan berikatan dengan komplemen atau mengalami
agregasi sendiri, sehingga proses peradangan akan berlanjut terus. Pengendapan
kompleks imun juga menyebabkan terjadinya degranulasi mast cell yang
menyebabkan terjadinya pembebasan histamin dan berbagai enzim proteolitik
serta aktivasi jalur asam arakidonat.
Masuknya sel radang ke dalam membran sinovial akibat pengendapan
kompleks imun menyebabkan terbentuknya pannus yang merupakan elemen yang
paling destruktif dalam patogenesis artritis reumatoid. Pannus merupakan jaringan
granulasi yang terdiri dari sel fibroblas yang berproliferasi, mikrovaskular dan
berbagai jenis sel radang. Secara histopatologis pada daerah perbatasan rawan
sendi dan pannus terdapatnya sel mononukleus, umumnya banyak dijumpai
kerusakan jaringan kolagen dan proteoglikan.
9
10

F. Manifestasi Klinik
Jika pasien artritis reumatoid pada lansia tidak diistirahatkan, maka penyakit
ini akan berkembang menjadi empat tahap :
1. Terdapat radang sendi dengan pembengkakan membran sinovial dan
kelebihan produksi cairan sinovial. Tidak ada perubahan yang bersifat
merusak terlihat pada radiografi. Bukti osteoporosis mungkin ada.

2. Secara radiologis, kerusakan tulang pipih atau tulang rawan dapat dilihat.
Pasien mungkin mengalami keterbatasan gerak tetapi tidak ada deformitas
sendi.
3. Jaringan ikat fibrosa yang keras menggantikan pannus, sehingga
mengurangi ruang gerak sendi. Ankilosis fibrosa mengakibatkan
penurunan gerakan sendi, perubahan kesejajaran tubuh, dan deformitas.
Secara radiologis terlihat adanya kerusakan kartilago dan tulang.
4. Ketika jaringan fibrosa mengalami kalsifikasi, ankilosis tulang dapat
mengakibatkan terjadinya imobilisasi sendi secara total. Atrofi otot yang
meluas dan luka pada jaringan lunak seperti medula-nodula mungkin
terjadi.
11

Pada lansia artritis reumatoid dapat digolongkan ke dalam tiga kelompok,


yaitu :
1. Kelompok 1
Artritis reumatoid klasik. Sendi-sendi kecil pada kaki dan tangan
sebagian besar terlibat. Terdapat faktor reumatoid, dan nodula-nodula
reumatoid yang sering terjadi. Penyakit dalam kelompok ini dapat
mendorong ke arah kerusakan sendi yang progresif.
2. Kelompok 2
Termasuk ke dalam klien yang memenuhi syarat dari American
Rheumatologic Association untuk artritis reumatoid karena mereka
mempunyai radang sinovitis yang terus-menerus dan simetris, sering
melibatkan pergelangan tangan dan sendi-sendi jari.
3. Kelompok 3
Sinovitis terutama memengaruhi bagian proksimal sendi, bahu dan
panggul. Awitannya mendadak, sering ditandai dengan kekuatan pada
pagi hari. Pergelangan tangan pasien sering mengalami hal ini, dengan
adanya bengkak, nyeri tekan, penurunan kekuatan genggaman, dan
sindrome karpal tunnel. Kelompok ini mewakili suatu penyakit yang
dapat sembuh sendiri yang dapat dikendalikan secara baik dengan
menggunakan prednison dosis rendah atau agens antiinflamasi dan
memiliki prognosis yang baik.

G. Penatalaksanaan Atritis Rematoid

Rheumatoid Arhtritis (RA) saat ini belum ada obatnya, kecuali dibebabkan
oleh infeksi. Obat yang tersedia hanya mengatasi gejala penyakitnya. Tujuan
pengobatan yang dilakukan adalah untuk mengurangi nyeri, mengurangi
terjadinya proses inflamasi pada sendi, memelihara, dan memperbaiki fungsi
sendi dan mencegah kerusakan tulang (Brunner&Suddarth, 2002).
12

Mengingat keluhan utama penderita Rheumatoid Arhtritis adalah timbulnya


rasa nyeri, inflamasi, kekakuan, maka strategi penetalaksanaanya nyeri
mencangkup pendekatan farmakologi dan non farmakologi (Williams&Wilkins,
1997).

1. Penatalaksanaan Farmakologi
Mengkombinasikan beberapa tipe pengobatan dengan menghilangkan
nyeri. Obat anti infalamasi yang dipilih sebagai pilihan pertama adalah aspirin
dan NSAIDs dan pilihan ke dua adalah kombinasi terapi terutama
Kortikosteroid (Bruke&Laramie, 2000). Pada beberapa kasus pengobatan
bertujuan untuk memperlambat proses dan mengubah perjalanan penyakit dan
obat-obatan yang digunakan untuk mencegah kerusakan lebih lanjut
(Williams&Wilkins, 1997).
Pengobatan dengan Aspirin dan Asetaminofen diberikan untuk
menghindari terjadinya infalamasi pada sendi dan menggunakan obat
NSAIDs untuk menekan prostaglandin yang menyebabkan timbulnya
peradangan dan efek samping obat ini adalah iritasi pada lambung
(Meiner&Leuckenotte, 2006). Penelitian yang dilakukan oleh
Gotzsche&Johansen (1998), penggunaan obat ini dapat menurunkan ambang
nyeri mencapai 0.25% sampai dengan 2.24%, tetapi obat ini mempunyai
suatu efek lebih besar dibanding anti inflamatori selama penggunaan jangka
panjang.
Pemberian kortikosteroid digunakan untuk mengobati gejala Rheumatoid
Arthritis saja seperti nyeri pada sendi, kaku sendi pada pagi hari, lemas, dan
tidak nafsu makan. Cara kerja obat Kortokosteroid dengan menekan sistem
kekebalan tubuh sehingga reaksi radang pada penderita berkurang
(Handono&Isbagyo, 2005). Efek samping jangka pendek menggunakan
Kortikosteroid adalah pembengkakan, emosi menjadi labil, efek jangka
panjang tulang menjadi keropos, tekanan darah menjadi tinggi, kerusakan
arteri pada pembuluh darah, infeksi, dan katarak. Penghentian pemberian obat
ini harus dilakukan secara bertahap dan tidak boleh secara mendadak
(Bruke&Laramie, 2000)
13

Bagi penderita RA erosif, persisten, bedah rekonstruksi merupakan


indikasi jika rasa nyeri tidak dapat diredakan dengan tindakan konservatif.
Prosedur bedah mencangkup tindakan Sinovektomi (eksisi membran sinovial),
Tenorafi (penjahitan tendon), Atrodesis (operasi untuk menyatukan sendi),
dan Artroplasti (operasi untuk memperbaiki sendi). Namun operasi tidak
dilakukan pada saat penyakit masih berada dalam stadium akut
(Brunner&Suddarth, 2002).

2. Penatalaksanaan Non Farmakologi


Tindakan non farmakologi mencangkup intervensi perilaku-kognitif dan
penggunaan agen-agen fisik. Tujuannya adalah mengubah persepsi penderita
tentang penyakit, mengubah perilaku, dan memberikan rasa pengendalian
yang lebih besar (Perry&Potter, 2006). Menggunakan terapi modalitas
maupun terapi komplementer yang digunakan pada kasus dengan Rheumatoid
Arhtritis pada lansia mencangkup :
a. Terapi Modalitas
1) Diit makanan merupakan alternatif pengobatan non farmakologi untuk
penderita Rheumatoid Arhtritis (Burke&Laramie, 2000). Prinsip umum
untuk memperoleh diit seimbang bagi pederita dengan Rheumatoid
Arhtritis adalah penting di mana pengaturan diit seimbang pada
penderita akan menurunkan kadar asam urat dalam darah. Umumya
penderita akan mudah menjadi terlalu gemuk disebabkan oleh aktivitas
penderita rendah. Bertambahnya berat badan dapat menambah tekanan
pada sendi panggul, lutut, dan sendi-sendi pada kaki (Price&Wilson,
1995). Diit dan terapi yang berfungsi sebagai pengobatan bagi
penderita Rheumatoid Arhtritis seperti mengkonsumsi jus seledri dan
daun salada, kubis, bawang putih, bawang merah, dan wortel
(Nainggolan, 2006). Menurut Syamsul (2007) penderita dapat
mengkonsumsi buah musiman yaitu anggur, ceryy, sirsak, aprikort, dan
buah tin serta sebaiknya hindari makanan seperti lobak, buncis, kacang
tanah, adas, dan tomat. Mengkonsumsi minyak ikan yang mengandung
Omega 3 seperti ikan salmon, tuna, sarden, dan makarel akan
14

mengurangi dan menghilangkan kekakuan pada sendi di pagi hari dan


pembengkakan. 1 gram minyak ikan yang dikonsumsi dapat
menurunkan pembengkakan dan nyeri pada sendi. Begitu pula dengan
mengkonsumsi multivitamin setiap hari yang mempunyai sifat anti
inflamasi dan anti oksidan sangat bermanfaat bagi penderita
Rheumatoid Arhtritis (Eliopoulus, 2005).
Adapun makanan yang sebaiknya dihindari oleh penderita
Rheumatoid Arhtritis seperti minuman alkohol, bersoda dan kafein,
tinggi protein, jeroan (hati,ginjal), makanan laut, seafood, gorengan,
emping, dan kuah daging atau daging merah serta merokok. Akan
tetapi makanan yang bersumber dari hewani seperti, ikan tawar sangat
penting dalam mencegah dan mengobati.
2) Kompres panas dan dingin serta massase. Penelitian membuktikan
bahwa kompres panas sama efektifnya dalam mengurangi nyeri
(Brunner&Suddarth. 2002). Pilihan terapi panas dan dingin bervariasi
menurut kondisi penderita, misalnya panas lembab menghilangkan
kekakuan pada pagi hari, tetapi kompres dingin mengurangi nyeri akut
dan sendi yang mengalami peradangan (Perry&Potter, 2006). Namun
pada sebagian penderita, kompres hangat dapat meningkatkan rasa
nyeri, spasme otot, dan volume cairan sinovial. Jika proses inflamsi
bersifat akut, kompres dingin dapat di coba dalam bentuk kantung air
dingin atau kantung es (Doenges&Moorhouse, 2000). Massase dengan
menggunakan es dan kompres menggunakan kantung es sangat efektif
menghilangkan nyeri. Meletakkan es di atas kulit memberikan tekanan
yang kuat, diikuti dengan massase melingkar, tetap, dan perlahan.
Lokasi pengompresan yang paling efektif berada di dekat lokasi aktual
nyeri, serta memakan waktu 5 sampai 10 menit dalam mengkompres
dingin (Perry&Potter, 2006).
3) Olah raga dan istirahat. Penderita Rheumatoid Arhtritis harus
menyeimbangkan kehidupannya dengan istirahat dan beraktivitas. Saat
lansia merasa nyeri atau pegal maka harus beristirahat
(Brunner&Suddarth, 2002). Istirahat tidak boleh berlebihan karena
15

akan mengakibatkan kekakuan pada sendi. Latihan gerak (Range of


Motion) merupakan terapi latihan untuk memelihara atau
meningkatkan kekuatan otot (Brunner&Sudarth,2002). Otot yang kuat
membantu dan menjaga sendi yang terserang penyakit Rheumatoid
Arhtritis (Bruke&Laramie, 2000). Ketidakaktifan penderita dapat
menimbulkan dekondisioning oleh karena itu tindakan untuk
membangun kertahankan fisik harus dilaksanakan dengan latihan
kondisioning seperti berjalan kaki, senam, berenang atau bersepeda,
dan berkebun dilakukan secara bertahap dan dengan pemantauan
(Brunner&Suddarth, 2002). Dengan berolahraga, penderita
Rheumatoid Arhtritis akan menurunkan nyeri sendi, mengurangi
kekauan, meningkatkan kelenturan otot, meningkatkan daya tahan
tubuh, tidur menjadi nyenyak, dan mengurangi kecemasan. Lansia
melakukan olahraga dengan diit secara seimbang berdasarkan
penelitian Jong et al (2000), kepada 217 lansia selama 17 minggu
menemukan terjadi perbedaan antara lansia yang melakukan olahraga
dengan lansia yang tidak berolahraga dapat menurunkan berat badan
0.5 kg sampai dengan 1.2 kg dengan P Value = 0.02 dan dapat
terhindar dari kekauan dan nyeri pada sendi (Syamsul, 2007).
Adanya nyeri, pembatasan gerak, keletihan, maupun malaise dapat
menggangu istirahat oleh karena itu penderita sebaiknya menggunakan
kasur atau matras yang keras dengan meninggikannya sesuai
kebutuhan, mengambil posisi yang nyaman saat tidur atau duduk di
kursi, gunakan bantal untuk menyokong sendi yang sakit dalam
mempertahankan posisi netral, ataupun memberikan massase yang
lembut (Doenges&Moorhouse, 2000). Mencegah ketidaknyamanan
akibat stress aktivitas atau stress akibat menanggung beban berat pada
sendi, penggunaan verban tekan, bidai, dan alat bantu mobilitas seperti
tongkat, kruk, dan tripod dapat membantu mengurangi rasa nyeri
dengan membatasi gerakan (Brunner&Suddarth, 2002).
4) Sinar Inframerah. Cara yang lebih modern untuk menhilangkan rasa
saklit akibat rematik adalah penyinaran menggunakan sinar
16

inframerah. Meskipun umumnya dilakukan di tempat-tempat


fisioterapi, penyinaran tidak boleh melampaui 15 menit dengan jarak
lampu dan bagian tubuh yang disinari sekitar 1 meter. Harus
diperhatikan juga agar kulit di tempat rasa sakit tadi tidak sampai
terbakar (Syamsul, 2007).

b. Terapi Komplementer
1) Menggunakan obat-obatan dari herbal. Brithis Journal of Clinical
Pharmacology melaporkan hasil penelitian menyatakan bahwa 82 %
lansia dengan Rheumatoid Arhtritis mengalami perbedaan nyeri dan
pembengkakan dengan menggunakan obat-obatan dari herbal
(Eliopoulus, 2005). Beberapa jenis herbal yang bisa membuat
mengurangi dan menghilangkan nyeri pada Rheumatoid Arhtritis
misalnya jahe dan kunyit, biji seledri, daun lidah buaya, aroma terapi,
rosemary, atau minyak juniper yang bisa menghilangkan bengkak pada
sendi (Syamsul, 2007).Accupresure. merupakan latihan untuk
mengurangi nyeri pada Rheumatoid Arthritis.
2) Accrupresure memberikan tekanan pada alur energi disepanjang jalur
tubuh. Tekanan yang diberikan pada alur energi yang terkongesti untuk
memberikan kondisi yang sehat pada penderita ketika titik tekanan di
sentuh, maka dirasakan sensasi ringan dengan denyutan di bawah jari-
jari. Mula-mula nadi dibeberapa titik akan terasa berbeda, tetapi karena
terus-menerus dipegang nadi akan menjadi seimbang, setelah titik
tersebut seimbang dilanjutkan dengan menggerakan nadi-nadi tersebut
dengan lembut (Syamsul, 2007).
3) Relaxasi Progresive. Dapat diberikan dengan pergerakan yang
dilakukan pada keseluruhan otot, trauma otot extrim secara berurutan
dengan gerakan peregangan dan pelemasan. Realaxasi progresiv
dilakukan secara berganitan. Terapi ini memilki tujuan untuk
mengurangi ketegangan pada otot khususnya otot-otot extremitas atas,
bawah, pernapasan, dan perut serta melancarkan sistem pembuluh
darah dan mengurangi kecemasan penderita (Syamsul, 2007).
17

BAB III

ASUHAN KEPERAWATAN

A. Pengkajian
Data dasar pengkajian pasien tergantung pada keparahan dan keterlibatan
organ-organ lainnya (misalnya mata, jantung, paru-paru, ginjal), tahapan misalnya
eksaserbasi akut atau remisi dan keberadaaan bersama bentuk-bentuk arthritis
lainnya.
1. Aktivitas/ istirahat
a. Gejala : Nyeri sendi karena gerakan, nyeri tekan, memburuk dengan
stres pada sendi, kekakuan pada pagi hari, biasanya terjadi bilateral
dan simetris. Limitasi fungsional yang berpengaruh pada gaya hidup,
waktu senggang, pekerjaan, keletihan.
b. Tanda : Malaise Keterbatasan rentang gerak, atrofi otot, kulit,
kontraktor/ kelaianan pada sendi.
2. Kardiovaskuler
a. Gejala : Fenomena Raynaud jari tangan/ kaki ( mis: pucat intermitten,
sianosis, kemudian kemerahan pada jari sebelum warna kembali
normal).
3. Integritas ego
a. Gejala : Faktor-faktor stres akut/ kronis: mis : finansial, pekerjaan,
ketidakmampuan, faktor-faktor hubungan. Keputusan dan
ketidakberdayaan ( situasi ketidakmampuan )Ancaman pada konsep
diri, citra tubuh, identitas pribadi ( misalnya ketergantungan pada
orang lain).
4. Makanan/ cairan
a. Gejala : Ketidakmampuan untuk menghasilkan/ mengkonsumsi
makanan/ cairan adekuat: mual, anoreksia Kesulitan untuk
mengunyah.
b. Tanda : Penurunan berat badan Kekeringan pada membran mukosa
5. Hygiene
a. Gejala : Berbagai kesulitan untuk melaksanakan aktivitas perawatan
pribadi. Ketergantungan.
6. Neurosensori
18

a. Gejala : Kebas, semutan pada tangan dan kaki, hilangnya sensasi pada
jari tangan.
b. Tanda : Pembengkakan sendi simetris.
7. Nyeri/ kenyamanan
a. Gejala : Fase akut dari nyeri ( mungkin tidak disertai oleh
pembengkakan jaringan lunak pada sendi ).
8. Keamanan
a. Gejala : Kulit mengkilat, tegang, nodul subkutaneus. Lesi kulit, ulkus
kaki. Kesulitan dalam ringan dalam menangani tugas/ pemeliharaan
rumah tangga. Demam ringan menetap Kekeringan pada meta dan
membran mukosa.

B. Diagnosa Keperawatan
1. Nyeri
2. Gangguan mobilitas fisik
3. Gangguan bodi image
4. Kurang perawatan diri
5. Kurang pengetahuan

C. Intervensi
1. Diagnosa keperawatan
Nyeri (akut)
Berhubungan dengan:
aden pencedera: distensi jaringan oleh akumulasi cairan atau proses
inflamasi destruksi sendi
ditandai dengan:
keluhan nyeri atau ketidaknyamanan, kelelahan.
Berfokus pada diri atau penyempitan fokus
Perilaku distraksi atau respon autonomik
Perilaku berhati hati atau melindungi
Kriteria hasil:
Menunjukkan nyeri hilang atau terkontrol
Terlihat rileks, dapat tidur, atau beristirahat atau
berpartisipasidalam aktifitas sesuai kemampuan.
Mengikuti program farmakologis yang diterapkan
19

Menggabungkan keterampilan relaksasi


Dan aktifitas liburan kedalam program kontrol/nyeri

Intervensi
Mandiri
1) Kaji keluhan nyeri, kualitas, lokasi, intensitas dan waktu. Catat faktor
yang mempercepat dan tanda rasa sakit nonverbal.
R/ Membantu menentukan kebutuhan manajemen nyeri dan
keefektifan program.

2) Pantau TTV pasien.


R/ Mengetahui kondisi umum pasien
3) Berikan posisi nyaman waktu tidur/duduk di kursi. Tingkatkan istirahat
di tempat tidur sesuai indikasi.
R/ Penyakit berat/eksaserbasi, tirah baring diperlukan untuk membatasi
nyeri atau cedera sendi.
4) Pantau penggunaan bantal, karung pasir, bebat, dan brace.
R/ Mengistirahatkan sendi yang sakit dan mempertahankan posisi
netral. Catatan : penggunaan brace menurunkan nyeri dan mengurangi
kerusakan sendi.
5) Berikan masase yang lembut.
R/ Meningkatkan relaksasi atau mengurangi ketegangan otot.
6) Anjurkan mandi air hangat/pancuran pada waktu bangun. Sediakan
waslap hangat untuk mengompres sendi yang sakit beberapa kali
sehari.
R/ Panas meningkatkan relaksasi otot dan mobilitas, menurunkan rasa
sakit dan kekakuan di pagi hari. Sensitivitas pada panas dapat hilang
dan luka dermal dapat sembuh.
Kolaborasi
1) Berikan obat sesuai petunjuk :
Asetilsalisilat (aspirin)
20

R/ ASA bekerja antiinflamasi dan efek analgesik ringan mengurangi


kekakuan dan meningkatkan mobilitas.
D-penisilamin
R/ Mengontrol efek sistemik reumatoid artritis jika terapi lainnya
tidak berhasil.
2) Bantu dengan terapi fisik, misal sarung tangan parafin.
R/ Memberi dukungan panas untuk sendi yang sakit.
3) Siapkan intervensi operasi (sinovektomi).
R/ Pengangkatan sinovium yang meradang mengurangi nyeri dan
membatasi progresif perubahan degeneratif.

2. Diagnosa keperawatan
Kerusakan mobilitas fisik
Berhubungan dengan:
Deformitas skeletal
Nyeri, ketidaknyamanan
Intoleransi terhadap aktivitas, peurunan kekuatan otot

Ditandai dengan:
Keengganan untuk menoba bergerak atau ketidakmampuan untuk
bergerak dalam lingkungan fisisk
Membatasi rentang gerak, ktidakseimbangan koordinasi, penurunan
kekuatan otot/ kotrol dan massa

Kriteria hasil:
Mempertahankan fungsi posisi dengan pembatasan kontaktur
Mempertahankan atau meningkatkan kekuatan dan fugsi dari dan atau
kompensasi bagian tubuh.
Mendemontrasikan teknik atau perilaku yang memungkinkan
melakukan aktifitas

Intervensi
Mandiri
21

1) Evaluasi pemantauan tingkat inflamasi/rasa sakit pada sendi.


R/ Tingkat aktivitas atau latihan tergantung dari perkembangan proses
inflamasi.
2) Pertahankan tirah baring/duduk. Jadwal aktivitas untuk memberikan
periode istirahat terus-menerus dan tidur malam hari.
R/ Istirahant sistemik dianjurkan selama eksaserbasi akut dan seluruh
fase penyakit untuk mencegah kelelahan, mempertahankan kekuatan.
3) Bantu rentang gerak aktif/pasif, latihan resistif dan isometrik.
R/ Meningkatkan fungsi sendi, kekuatan otot dan stamina.
4) Dorong klien mempertahankan postur tegak dan duduk tinggi, berdiri
serta berjalan.
R/ Memaksimalkan fungsi sendi, mempertahankan mobilitas.

Kolaborasi
1) Konsul dengan ahli terapi fisik atau okupasi dan spesialis vokasional.
R/ Memformulasi program latihan berdasarkan kebutuhan individual
dan mengidentifikasi bantuan mobilitas.
2) Berikan obat sesuai indikasi (Steroid)
R/ Menekan inflamasi sistemik

3. Diagnosis keperawatan
Gangguan gambaran diri
Berhubungan dengan:
Perspektif kognitif
Psikososial
Perubahan kemampuan untuk melakukan tugas umum
Peningkatan pengunaan energi, ketidakseimbangan mobilitas
Ditandai dengan:
Respon verbal terhadap perubahan struktur atau fungsi dari bagian
tubuh yang sakit
Bicara negatif tentang diri sendiri, fokus pada kekuatan atau fungsi
masa lalu dan penamplan
Perubahan gaya hidup atau kemampuan fisik untuk melanjutkan peran,
kehilangan pekerjaan, dan ketergatungan pada orang dekat
Perubahan pada keterlibatan sosial, rasa terisolasi
Perasaan tidak berdaya, putus asa
22

Kriteria hasil:
Mengungkapkan peningkatan rasa percaya diri dalam kemampuan
untuk menghadapi penyakit, perubahan gaya hidup, dan kmungkinan
keterbatasan.
Menerima perubahan tubuh dan mengintegrasikan ke dala onsep diri
Menyusun tujuan atau rencana realitas untuk masa depan

Intervensi
Mandiri
1) Dorong pengungkapan mengenai proses penyakit dan harapan masa
depan.
R/ Berikan kesempatan mengidentifiaksi rasa takut/kesalahan konsep
dan menhadapi secara langsung.
2) Bantu pasien mengekspresikan perasaan kehilangan.
R/ Untuk mendapatkan dukungan proses berkabung yang adaptif.
3) Perhatikan perilaku menarik diri, penggunaan menyangkal/terlalu
memperhatikan tubuh.
R/ Menunjukkan emosional/metode koping maladaptif sehingga
membutuhkan intervensi lebih lanjut/dukungan psikologis.
4) Bantu dengan kebutuhan perawatan yang diperlukan.
R/ Mempertahankan penampilan yang meningkatkan citra diri.
Kolaborasi
1) Rujuk pada konseling psikiatri (misal perawat spesialis psikiatri,
psikologi, pekerja sosial)
R/ Pasien/keluarga membutuhkan dukungan selama berhadapan dnegan
proses jangka panjang.
2) Berikan obat sesuai indikasi (misal antiansietas)
R/ Dibutuhkan saat munculnya depresi hebat sampai pasien dapat
menggunakan kemampuan koping efektif.

4. Diagnosis keperawatan
Kurang perawatan diri
23

Berhubungan dengan:
Kerusakan muskuloskeletal, penurunan kekuatan, daya tahan tubuh,
dan nyeri pada waktu bergerak.
Depresi
Pembatasan aktivitas
Ditandai dengan:
Ketidakmampuan mengatur aktivitas kehidupan sehari-hari (makan,
mandi, berpakaian, eleminasi.
Kriteria hasil:
Melaksanakan aktifitas perawatan diri pada tingkat yang konsisten
dengan kemampuan individual
Mendemontrasikan perubahan teknik atau gaya hidup untuk
memenuhi kbutuhan perawatan diri.
Mengidentifikasikan sumber pribadi atau komunitas yang dapat
memenuhi kebutuhan perawatan diri

Intervensi
Mandiri
1) Kaji respons emosional pasien terhadap kemampuan merawat diri
yang menurun dan diberi dukungan emosional.
R/ Perubahan kemampuan merawat diri dapat membangkitkan
perasaan cemas dan frustasi, dimana dapat mengganggu kemampuan
lebih lanjut.
2) Pertahankan mobilitas, kontrol terhadap nyeri dan program latihan
R/ Mendukung kemandirian fisik dan emosional.
3) Kaji hambatan terhadap partisipasi dalam perawatan diri. Identifikasi
modifikasi lingkungan.
R/ Meningkatkan kemandirian yang akan meningkatkan harga diri.
4) Beri dorongan agar berpartisipasi dalam merawat diri. Aktivitas yang
terjadwal memungkinkan waktu untuk merawat diri.
R/ Partisipasi pasien dalam merawat diri meningkatkan harga diri dan
menurunkan perasaan ketergantungan.
24

Kolaborasi
1) Konsultasi dengan ahli terapi okulasi.
R/ Menentukan alat bantu memenuhi kebutuhan individu.

5. Diagnosa kperawatan
Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar), mengenai kondisi, prognosis,
dan pengobatan
Berhubungan dengan:
Kurangnya pemajanan atau mengingat
Kesehatan iterpretasi informasi
Ditandai dengan:
Pertanyaan atau permintaan informasi, pernyataan kesalahan konsep
Tidak dapat mengikuti intruksi atau terjadinya komplikasi yang dapat
dicegah
Kriteria hasil:
Menunjukkan pemahaman tentang kondisi atau prognosis dan perawatan
Mengembangkan rencana untuk perawatan diri, termasuk memodifikasi
gaya hidup yang konsisten dengan mobilitas atau pembatasan waktu
Intervensi
1) Tinjau proses penyakit, prognosis, dan harapan masa depan.
R/ Memberikan pengetahuan dimana pasien dapat membuat pilihan
berdasarkna informasi.
2) Diskusikan kebiasaan pasien dalam penatalaksanaan proses sakit
melalui diet, obat, latihan dan istirahat.
R/ Tujuan kontrol penyakit adalah untuk menekan inflamasi atau
jaringan lain untuk mempertahankan fungsi sendi dan mencegah
deformitas.
3) Tekankan pentingnya melanjutkan manajemen farmakoterapeutik.
R/ Keuntungan dari terpai obat tergantung pada ketepatan dosis, misal
: aspirin diberikan secara reguler untuk mendukung kadar terapeutik
darah 18 - 25 mg.
25

4) Berikan informasi mengenai alat bantu, misal : tongkat atau palang


keamanan.
R/ Mengurangi paksaan untuk menggunakan sendi dan
memungkinkan pasien ikut serta secara lebih nyaman dalam aktivitas
yang dibutuhkan.
5) Diskusikan menghemat energi, misal : duduk daripada berdiri untuk
mempersiapkan makanan dan mandi
R/ Mencegah kepenatan, memberikan kemudahan perawatan diri dan
kemandirian.
26

BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Artritis reumatoid merupakan penyakit inflamasi sistemik kronis yang tidak
diketahui penyebabnya, diakrekteristikkan oleh kerusakan dan proliferasi
membran sinovial yang menyebabkan kerusakan pada tulang sendi, ankilosis, dan
deformitas. (Kusharyadi, 2010)
Penyebab utama penyakit artritis reumatoid masih belum diketahui secara
pasti. Ada beberapa teori yang dikemukakan sebagai penyebab artritis reumatoid,
yaitu : Infeksi Streptokkus hemolitikus dan Streptococcus non-hemolitikus,
endokrin, autoimmun, metabolik, dan faktor genetik serta pemicu lingkungan
Jika pasien artritis reumatoid pada lansia tidak diistirahatkan, maka penyakit
ini akan berkembang menjadi empat tahap yaitu terdapat radang sendi dengan
pembengkakan membran sinovial dan kelebihan produksi cairan sinovial, secara
radiologis, kerusakan tulang pipih atau tulang rawan dapat dilihat, jaringan ikat
fibrosa yang keras menggantikan pannus, sehingga mengurangi ruang gerak sendi,
ankilosis fibrosa mengakibatkan penurunan gerakan sendi, perubahan kesejajaran
tubuh, dan deformitas. Secara radiologis terlihat adanya kerusakan kartilago dan
tulang.
Masalah keperawatan yang mungkin muncul adalah nyeri, gangguan
mobilitas fisik, gangguan bodi image, kurang perawatan diri, risiko cedera, dan
kurang pengetahuan.

B. Saran
Diharapkan mahasiswa memahami tentang asuhan keperawatan atritis
rematoid pada lansia, serta mampu mengaplikasikan intervensi dan
penatalaknanaanya dengan baik.
27

DAFTAR PUSTAKA
Kushariyadi. 2010. Asuhan Keperawatan pada Klien Lanjut Usia. Salemba
Medika : Jakarta.
http://perpus.fkik.uinjkt.ac.id/file_digital/SKRIPSI.pdf
http://eprints.ung.ac.id/5184/5/2013-1-14201-841409078-bab2
25072013090802.pdf