Anda di halaman 1dari 52

BAB I

PENDAHULUAN

Penggabungan usaha terjadi apabila dua perusahaan atau lebih membentuk


suatu organisasi tunggal untuk menjalan usaha. Penggabungan usaha dapat dilakukan
dalam banyak bentuk yang berbeda. Penggabungan kesatuan-kesatuan usaha ini
sering kali dicapai melalui penyatuan bermacam-macam perusahaan menjadi unit-
unit tunggal yang lebih besar. Pengendalian terhadap kesatuan usaha dapat dicapai
melalui pemilikan saham atau melalui dewan pimpinan yang saling berpautan satu
sama lain. Bermacam-macam tujuan dapat dicapai dalam penggabungan
usaha.Tujuan ini diantaranya adalah perolehan daerah pemasaran yang lebih luas dan
volume penjulan yang lebih besar,perolehan atau pengembangan organisasi yang
lebih kuat dan produksi yang lebih baik serta bakat manajemen,penghematan
biaya,efisiensi pada skala operasi yang lebih besar,peningkatan pengendalian
pasar,perbaikan posisi bersaing dan lainnya.
Akuntansi untuk penggabungan usaha terdiri dari dua metode yaitu
penggabungan usaha berdasarkan penyatuan kepentingan (Pooling of interest) dan
dengan metode pembelian (purchase Method). Metode penyatuan kepemilikan
dianggap kurang relevan dan mengabaikan nilai ekonomis yang ditukar dalam
transaksi sehingga dilarang penggunaannya diberbagai Negara maju, namun di
Indonesia kedua metode ini masih digunakan.
Secara umum, metode pembelian mengikuti prinsip akuntansi yang sama
dalam pencatatan penggabungan usaha yang diikuti dalam akuntansi untuk aktiva dan
kewajiban berdasarkan prinsip akuntansi yang berlaku secara umum.
Biaya perolehan bagi entitas pembeli untuk memperoleh perusahaan lain
dalam suatu penggabungan usaha diukur dengan jumlah kas yang dikeluarkan atau
nilai wajar aktiva lain yang didistribusikan atau surat berharga yang diterbitkan.
Aktiva dinilai sesuai dengan nilai wajarnya pada saat transaksi penggabungan
terjadi,biasanya perusahaan menggunakan jasa independen untuk menilai nilai wajar
atau pun nilai pasar aktiva tersebut.
BAB II
PEMBAHASAN

1
2.1. Pengertian Pengabungan Usaha
Penggabungan usaha (business combination) adalah sebagai penyatuan dua
tau lebih perusahaan yang terpisah menjadi satu entitas ekonomi karena satu
perusahaan menyatu dengan (uniting) perusahaan lain ataupun memperoleh kendali
(control) atas aktiva dan operasi perusahaan lain. Berdasarkan definisi tersebut,
penggabungan tidak hanya terjadi ketika dua atau libih perusahaan yang terpisah
lebur menjadi satu entitas hukum, melainkan kedua atau lebih perusahaan yang
terpisah berada dalam satu pengendalian dimana salah satu perusahaan penjadi pihak
pengendali.

2.1.1. Bentuk Penggabungan Usaha


Adapun bentuk-bentuk penggabungan usaha menurut Arifin S (2002 : 240-
241) dapat dibedakan ke dalam beberapa golongan, antara lain sebagai berikut :
1. Ditinjau dari bentuk penggabungannya, terdapat tiga bentuk penggabungan
usaha sebagai berikut :
- Penggabungan horisontal, yaitu penggabungan perusahaan-perusahaan yang
sejenis yang menjadi satu perusahaan yang lebih besar. Pada umumnya dasar
dibentuknya penggabungan usaha ini adalah untuk menghindari adanya
persaingan diantara perusahaan yang sejenis dan meningkatkan efisiensi
diantara perusahaan-perusahaan yang bersangkutan tersebut.
- Penggabungan vertikal, yaitu penggabungan perusahaan yang sebelumnya,
keduanya mempunyai hubungan yang saling menguntungkan, misalnya suatu
perusahaan lain yang kemudian pemasok (supplier) bahan baku perusahaan
lain yang kemudian bergabung agar dapat terjaga adanya kepastian bahan
baku dan kontinuitas produksi.
- Penggabungan konglomerat, yaitu merupakan kombinasi dari penggabungan
horisontal dan vertikal. Penggabungan konglomerat ini merupakan gabungan
dari perusahaan-perusahaan yang memiliki usaha yang berlainan misalnya
perusahaan angkutan bergabung dengan perusahaan jasa hotel dan perusahaan
makanan (catering).
2. Sedangkan dari segi hukumnya, penggabungan usaha dibagi menjadi :

2
- Merger statutori (merger). Jenis penggabungan usaha dimana hanya ada satu
dari perusahaan yang bergabung yang bertahan dan perusahaan lainnya
dibubarkan. Aktiva dan kewajiban dari perusahaan yang diakuisisi
dipindahkan ke perusahaan pengakuisisi dan perusahaan yang diakuisisi
dibubarkan atau dilikuidasi. Setelah merger operasi dari perusahaan yang
dulunya terpisah sekarang berada di bawah satu entitas.
- Konsolidasi statutori (konsolidasi). Penggabungan usaha di mana kedua
perusahaan yang bergabung dibubarkan serta aktiva dan kewajiban dari
perusahaan perusahaan tersebut dipindahkan ke perusahaan yang baru
dibentuk. Operasi dari perusahaan yang dulunya terpisah sekarang berada di
bawah satu entitas dan tidak satu pun perusahaan yang bergabung masih tetep
berdiri sejak dilakukan konsolidasi.
- Akuisisi saham. Terjadi jika satu perusahaan mengakuisisi saham berhak
suara dari perusahaan lain dan kedua perusahaan tetap beroperasi sebagai dua
entitas yang terpisah, tetapi mempunyai hubungan istimewa (hubungan
afiliasi). Karena tidak ada perusahaan yang dilikuidasi, perusahaan
pengakuisisi memperlakukan kepemilikannya di perusahaan yang diakuisisi
sebagai investasi. Dalam akuisisi saham, perusahaan pengakuisisi tidak perlu
mengakuisisi seluruh saham milik perusahaan yang diakuisisi untuk
memperoleh kendali. Hubungan yang timbul dari akuisisi saham disebut
hubungan induk dan anak perusahaan. Induk perusahaan (parent company)
adalah perusahaan yang mengendalikan perusahaan lain yang disebut sebagai
perusahaan anak (subsidiary), biasanya melalui pemilikian mayoritas di saham
biasa.
2.1.2. Alasan-Alasan Penggabungan Usaha
Jika perluasan adalah sasaran utama dari perusahaan, mengapa usaha diperluas
melalui penggabungan dan bukan dengan melakukan konstruksi fasilitas-fasilitas
baru? Beberapa alasan yang mungkin untuk memilih penggabungan usaha sebagai
alat perluasan adalah:

3
1. Manfaat Biaya (Cost Adventage). Seringkali lebih murah bagi perusahaan
untuk memperoleh fasilitas yang dibutuhkan melalui pengembangan. Hal ini
benar, terutama pada periode inflasi.
2. Risiko Lebih Rendah (Lower Risk). Membeli lini produk dan pasar yang telah
didirikan biasanya lebih kecil risikonya dibandingkan dengan
mengembangkan produk baru dan pasarnya. Penggabungan usaha kurang
berisiko terutama ketika tujuannya adalah diversifikasi.
3. Penundaan Operasi Pengurangan (Fewer Operating Delays). Fasilitas-fasilitas
pabrik yang diperoleh melalui penggabungan usaha dapat diharapkan untuk
segera beroperasi dan memenuhi peraturan yang berhubungan dengan
lingkungan dan peraturan pemerintah yang lainnya.
4. Mencegah Pengambilalihan (Avoidance of Takeovers). Beberapa perusahaan
bergabung untuk mencegah pengakuisisian diantara mereka. Karena
perusahaan-perusahaan yang lebih kecil cenderung lebih mudah diserang
untuk diambilalih, beberapa di antara mereka memakai strategi pembeli yang
agresif sebagai pertahanan terbaik melawan usaha pengambilalihan oleh
perusahaan lain. Perusahaan-perusahaan dengan rasio hutang-terhadap ekuitas
yang tinggi biasanya bukan merupakan calon pengambilalih yang menarik.
Dalam industri perbankan, contohnya, bank-bank yang independent
mengakuisisi bank-bank tetangganya untuk memperluas pangsa pasar (market
share) dan berkembang menjadi bank regional. Bank menggunakan
penggabungan sebagai suatu cara untuk mencegah pengambilalihan oleh bank
asing.
5. Akuisisi Harta Tidak Berwujud (Acquisition of Intangible Assets).
Penggabungan usaha melibatkan penggabungan sumber daya tidak berwujud
maupun berwujud.

2.1.3. Metode Akuntansi untuk Penggabungan Usaha


- Metode Penyatuan Kepentingan (pooling of interest)

4
Suatu penggabungan usaha yang memenuhi kriteria PSAK tahun 2007 No. 22
untuk penyatuan kepemilikan harus dipertanggungjawabkan sesuai dengan metode
penyatuan. Dalam metode penyatuan kepemilikan, diasumsikan bahwa kepemilikan
perusahaan-perusahaan yang bergabung adalah satu kesatuan dan secara relatif tetap
tidak berubah pada entitas akuntansi yang baru. Karena tidak ada salah satupun dari
perusahaan-perusahaan yang bergabung telah dianggap memperoleh perusahaan-
perusahaan yang bergabung lainnya, tidak ada pembelian, tidak ada harga pembelian,
sehingga karenanya tidak ada dasar pertanggungjawaban yang baru.
Pada metode penyatuan, aktiva dan kewajiban dari perusahaan-perusahaan
yang bergabung dimasukkan dalam entitas gabungan sebesar nilai bukunya. Oleh
karena itu setiap goodwill pada buku masing-masing perusahaan yang bergabung
akan dimasukkan sebagai aktiva pada entitas yang masih beroperasi (disatukan). Laba
ditahan dari perusahaan-perusahaan yang bergabung juga dimasukkan dalam entitas
yang disatukan, dan pendapatan yang bergabung untuk seluruh tahun dengan
mengabaikan tanggal penggabungan usaha dilakukan.
Perusahaan-perusahaan terpisah dalam suatu penggabungan usaha masing-
masing dapat menggunakan metode akuntansi yang berbeda untuk mencatat aktiva
dan kewajiabannya. Dalam penggabungan secara penyatuan kepemilikan, jumlah
yang dicatat oleh masing-masing perusahaan dengan menggunakan metode akuntansi
yang berbeda dapat disesuaikan menjadi dasar akuntansi yang sama apabila
perusahaan tersebut diperlukan oleh perusahaan lainnya. Perubahan metode akuntansi
untuk menyesuaikan masing-masing harus berlaku surut, dan laporan-laporan
keuangan yang disajikan untuk periode-periode sebelumnya harus disajikan kembali
(restated).

Prosedur Akuntansi Penggabungan usaha Metode Pooling Of Interest


a) Semua aktiva dan kewajiban milik perusahaan yang bergabung dinilai pada
nilai buku saat diadakan penggabungan
b) Besarnya nilai investasi pada perusahaan yang bergabung sebesar jumlah
modal perusahaan yang digabung atau sebesar aktiva bersih perusahaan
yang digabung

5
c) Bila terjadi selisih antara jumlah yang dibukukan sebagai modal saham
yang diterbitkan ditambah kompensasi pembelian lainnya dalam bentuk kas
ataupun aktiva lainnya dengan jumlah aktiva bersih yang diperoleh, maka
harus diadakan penyesuaian terhadap modal perusahaan yang akan
digabung
d) Laporan keuangan gabungan adalah penjumlahan dari laporan keuangan
milik perusahaan yang bergabung.

- Metode Pembelian (purchase)


Metode pembelian didasarkan pada asumsi bahwa penggabungan usaha
merupakan suatu transaksi yang salah satu entitas memperoleh aktiva bersih dari
perusahaan-perusahaan lain yang bergabung. Berdasarkan metode ini perusahaan
yang memperoleh atau membeli mencatat aktiva yang diterima dan kewajiban yang
ditanggung sebesar nilai wajarnya.
Biaya untuk memperoleh perusahaan (biaya perolehan) ditetapkan dengan
cara yang sama seperti pada transaksi lain. Biaya ini dialokasikan pada aktiva dan
kewajiban yang dapat diidentifikasikan sesuai dengan nilai wajarnya pada tanggal
penggabungan. Menurut PSAK tahun 2007 No.19 setiap kelebihan biaya perolehan
atas nilai wajar aktiva bersih yang diperoleh dialokasikan ke goodwill dan
diamortisasikan selama maksimum 20 tahun.
Prosedur Akuntansi Penggabungan usaha Metode Purchase
a. Menyesuaikan nilai aktiva dan kewajiban milik perusahaan yang akan
digabung sebesar nilai wajarnya
b. Mencatat transaksi penggabungan sebesar nilai investasinya (biaya
perolehan). Jika pengakuisisi mengeluarkan saham, maka nilai wajar
saham tersebut sebesar harga pasar pada tanggal transaksi penggabunga.
Bila harga pasar tidak dapat digunakan sebagai indikator, maka diestimasi
secara proporsional perusahaan pengakuisisi atau yang diakuisisi (mana
yang lebih dapat ditentukan).
c. Membuat jurnal pemilikan aktiva dan kewajiban dari perusahaan yang
digabung. Apabila terjadi selisih antara nilai investasi dengan aktiva bersih

6
yang diterima perusahaan pengakuisisi, maka selisih tersebut dicatat ke
dalam rekening goodwill pada kelompok aktiva.

2.1.4. Penerapan Metode Penyatuan Kepentingan


Dalam metode ini, jumlah yang dicatat berdasarkan metode yang berbeda
harus disesuaikan dan laporan keuangan harus dinyatakan kembali. Disini tidak ada
pembelian oleh salah satu perusahaan yang bergabung terhdap yang lain.
Dalam MERGER
Contoh : Menjelang penggabungan dengan metode penyatuan kepentingan,
ekuitas pemegang saham PT Jala dan PT Keti adalah sebagai berikut.
Keterangan PT Jala PT Keti Jumlah
Modal Saham @Rp 1000 Rp. 10.000.000 Rp. 5.000.000 Rp. 15.000.000
Tambahan Modal Setor Rp. 2.000.000 Rp. 3.000.000 Rp. 5.000.000
Total Modal Setor Rp. 12.000.000 Rp. 8.000.000 Rp. 20.000.00
Saldo Laba Rp. 8.000.000 Rp. 2.000.000 Rp. 10.000.000
Aset Neto dan Ekuitas Rp. 20.000.000 Rp. 10.000.000 Rp. 30.000.000

KASUS 1 (Modal Setor melebihi Modal Saham)


PT. Jala menerbitkan 7000 sahamnya untuk asset neto PT Keti. Dalam hal ini
modal setor Rp. 20.000.000, dan modal saham Rp. 17.000.000. tambahan modal setor
Rp. 3.000.000, dan saldo laba Rp. 10.000.000.
JURNAL PT. JALA
Asset Neto Rp. 10.000.000
Modal Saham @1000 Rp. 7.000.000
Tambahan Modal Setor Rp. 1.000.000
Saldo Laba Rp. 2.000.000
Mencatat penerbitan 7000 saham dengan penyatuan kepentingan dengan PT
Keti

KASUS 2 (Modal Saham melebihi Modal Setor)


PT. Jala menerbitkan 11.000 sahamnya untuk asset neto PT Keti. Disini modal
saham PT. Jala Rp. 21.000.000, dan modal setor Rp. 20.000.000. tidak ada tambahan
modal setor dan saldo laba Rp. 9.000.000. maksimum gabungan saldo laba Rp.
10.000.000 telah berkurang Rp. 1.000.000.

JURNAL PT. JALA


Asset Neto Rp. 10.000.000

7
Saldo Laba Rp. 1.000.000
Modal Saham @1000 Rp. 11.000.000
Mencatat penerbitan 11.000 saham dalam penyatuan kepentingan dengan PT
Keti
Dalam KONSOLIDASI
Contoh : PT Jala dan PT Keti bergabung dengan konsolidasi metode
penyatuan kepentingan. PT Jala dan PT Keti bubar, dan dibentuk PT Pede.
Keterangan PT Jala PT Keti Jumlah
Modal Saham @Rp 1000 Rp. 10.000.000 Rp. 5.000.000 Rp. 15.000.000
Tambahan Modal Setor Rp. 2.000.000 Rp. 3.000.000 Rp. 5.000.000
Total Modal Setor Rp. 12.000.000 Rp. 8.000.000 Rp. 20.000.00
Saldo Laba Rp. 8.000.000 Rp. 2.000.000 Rp. 10.000.000
Aset Neto dan Ekuitas Rp. 20.000.000 Rp. 10.000.000 Rp. 30.000.000

KASUS 3 (Modal Setor melebihi Saham yang diterbitkan)


PT. Pede menerbitkan 17.000 sahamnya Rp. 1000 par; untuk PT Jala 10.000
da untuk PT Keti 7000 atas asset neto mereka. Dalam hal ini modal setor PT. Pede
Rp. 20.000.000 melebihi saham yang diterbitkannya Rp. 17.000.000.
JURNAL PT. PEDE
Asset Neto Rp. 30.000.000
Modal Saham @1000 Rp. 17.000.000
Tambahan Modal Setor Rp. 3.000.000
Saldo Laba Rp. 10.000.000
Mencatat penerbitan 10000 saham untu PT Jala dan 7000 untuk PT Keti
dengan penyatuan kepentingan
KASUS 4 (Saham yang diterbitkan melebihi modal setor)
PT. Pede menerbitkan 21.000 sahamnya Rp. 1000 par; untuk PT Jala 10.000
dan PT Keti 11.000 atas asset neto mereka. Disini saham yang diterbitkan PT Pede
melebihi modal setornya Rp. 20.000.000.
JURNAL PT. PEDE
Asset Neto Rp. 30.000.000
Saldo Laba Rp. 9.000.000
Modal Saham @1000 Rp. 21.000.000
Mencatat penerbitan 10.000 saham untuk PT Jala dan 11.000 untuk PT Keti
dalam penyatuan kepentingan.

Dalam SAHAM PEMBENDAHARAAN

8
Ada dua alternatif pencatatan akuntansi dalam merjer bila salah satu
perusahaan yang bergabung memiliki saham perusahaan lainnya. Jika investasi itu
oleh perusahaan bukan penerus maka pada penggabungan dikembalikan kepada
penerus dan dibukukan sebagai saham pembendaharaan. Kalau investasinya oleh
perusahaan penerus maka saham tersebut dipensiunkan (constructively retired).
Contoh : Pada soal ini, aset bersih perusahaan penerus, lebih rendah Rp.
500.000 dari aset gabungan yang tercatat.
PT Paman memiliki 500 dalam PT Sati pada saat keduanya bergabung . PT
Paman membukukan investasinya tersebut Rp. 500.000. Data PT Paman dan PT Sati
saat bergabung sebagai berikut :
PT Paman PT Sati
Investasi dalam PT Sati Rp. 500.000
Asset lainnya Rp. 19.500.000 Rp. 30.000.000
Total Rp. 20.000.000 Rp. 30.000.000

Modal Saham @Rp1000 par Rp.10.000.000 Rp. 20.000.000


Tambahan Modal Setor Rp. 5.000.000 Rp. 4.000.000
Saldo Laba Rp. 5.000.000 Rp. 6.000.000
Total Rp. 20.000.000 Rp. 30.000.00

KASUS 1 (Jika PT Sati sebagai Penerus)


PT Sati menerbitkan 10.000 sahamnya untuk 10.000 saham PT Paman (rasio
pertukaran 1:1, merjer dengan penyatuan kepentingan)
JURNAL PT. SATI
Asset Neto Rp. 19.500.000
Saham Pembendaharaan Rp. 500.000
Modal Saham @1000 Rp. 10.000.000
Tambahan Modal Setor Rp. 5.000.000
Saldo Laba Rp. 5.000.000
Mencacat merjer dengan PT Paman

KASUS 2 (Jika PT Paman sebagai Penerus)


PT Paman menerbitkan 19.600 sahamnya untuk PT Sati (rasio pertukaran 1:1,
merjer dengan penyatuan kepentingan)

JURNAL PT. SATI


Asset Neto Rp. 30.000.000

9
Investasi dalam PT Sati Rp. 500.000
Modal Saham @1000 Rp. 19.600.000
Tambahan Modal Setor Rp. 3.900.000
Saldo Laba Rp. 6.000.000
Mencacat merjer dengan PT Sati

Dalam PELAPORAN OPERASI GABUNGAN


Laporan keuangan perusahaan penerus dalam penggabungan dengan metode
penyatuan kepentingan, baik yang terjadi awal tahun, tengah tahun atau akhir tahun,
diperlakukan sebagai penggabungan dalam awal tahun. Jurnal untuk mencatat
penggabungan tengah tahun pada 1 Juli 2014 diilustrasikan pada Kasus-kasus berikut:
Neraca saldo kedua perusahaan pada 30 Juni 2014 sebagai berikut:
PT Tomat PT Minat
Asset Lain Rp. 72.000.000 Rp. 28.000.000
Beban Rp. 18.000.000 Rp. 7.000.000
Total Debet Rp. 90.000.000 Rp. 35.000.000

Modal saham Rp. 10.000 par Rp. 50.000.000 Rp. 20.000.000


Saldo Laba Rp. 17.000.000 Rp. 6.000.000
Pendapatan Rp. 23.000.000 Rp. 9.000.000
Total Kredit Rp. 90.000.000 Rp. 35.000.000

KASUS 1 (Merger, PT Tomat sebagai penerus)


PT Tomat menerbitkan 23.000 saham Rp. 1.000 par untuk memperoleh asset
neto PT Minat pada 1 Juli 2014.

JURNAL PT. TOMAT


Asset Lain Rp. 28.000.000
Beban Rp. 7.000.000
Modal saham Rp. 1.000 par Rp. 23.000.000
Saldo Laba Rp. 3.000.000
Penghasilan Rp. 9.000.000
Mencatat penerbitan 23.000 saham dalam merger dengan penyatuan
kepentingan
Setelah Jurnal itu dicatat, neraca saldo PT Tomat menjadi sbb:
Debet Kredit
Asset Lain Rp. 100.000.000
Beban Rp. 25.000.000
Modal saham Rp. 10.000 par Rp. 73.000.000

10
Saldo Laba Rp. 20.000.000
Pendapatan Rp. 32.000.000
Total Rp. 125.000.000 Rp. 125.000.000
Kasus 2 (Konsolidasi)
PT Wali dibentuk untuk mengkonsolidasikan PT Tomat dan PT Minat. Pada 1
Juli 20X4, PT Wali menerbitkan saham 73.000 sahamnya Rp.1000par untuk aset neto
PT Tomat 50.000 dan aset neto PT Minat 23.000.
JURNAL PT. TOMAT

Asset Lain Rp.100.000.000


Beban Rp. 25.000.000
Modal saham Rp. 1.000 par Rp. 73.000.000
Saldo Laba Rp. 20.000.000
Penghasilan Rp. 32.000.000
Mencatat penerbitan 73.000 saham dalam PT Tomat dan Minat dengan
penyatuan kepentingan

Dalam BEBAN PENGGABUNGAN


Dalam penyatuan kepentingan, biaya-biaya registrasi dan pendaftaran sahan,
penyediaan informasi pada pemegang saham, akuntan dan konsultan serta perantara
dicatat sebagai beban. Jurnal yang dibuat untuk mencatat beban :
Beban Rp. xxx
Kas Rp. xxx
2.1.5. Penerapan Metode Pembelian
Metode pembelian didasarkan pada asumsi bahwa penggabungan usaha
merupakan suatu transaksi yang salah satu entitas memperoleh aktiva bersih dari
perusahaan-perusahaan lain yang bergabung. Berdasarkan metode ini perusahaan
yang memperoleh atau membeli mencatat aktiva yang diterima dan kewajiban yang
ditanggung sebesar nilai wajarnya.
Biaya untuk memperoleh perusahaan (biaya perolehan) ditetapkan dengan
cara yang sama seperti pada transaksi lain. Biaya ini dialokasikan pada aktiva dan
kewajiban yang dapat diidentifikasikan sesuai dengan nilai wajarnya pada tanggal
penggabungan. Menurut PSAK tahun 2007 No.19 setiap kelebihan biaya perolehan
atas nilai wajar aktiva bersih yang diperoleh dialokasikan ke goodwill dan
diamortisasikan selama maksimum 20 tahun.

11
Merger, konsolidasi, akuisisi adalah hal yang sangat umum dilakukan agar
perusahaan dapat memenangkan persaingan, serta terus tumbuh dan berkembang.
Merger merupakan salah satu pilihan terbaik untuk memperkuat fondasi bisnis, jika
merger tersebut dapat memberikan sinergi. Dalam makalah ini kami akan lebih
memfokuskan pembahsan terhada penggabungan usaha yang berbentuk
meregr. Sutan Remy Syahdeini dalam makalah berjudul Merger, Konsolidasi dan
Akuisisi Bank memberikan definisi merger atau penggabungan usaha adalah
penggabungan dari dua Bank atau lebih dengan cara tetap mempertahankan
berdirinya salah satu Bank dan melikuidasi Bank-bank lainnya.
Prosedur Akuntansi Penggabungan usaha Metode Purchase :
a. Menyesuaikan nilai aktiva dan kewajiban milik perusahaan yang akan
digabung sebesar nilai wajarnya
b. Mencatat transaksi penggabungan sebesar nilai investasinya (biaya
perolehan). Jika pengakuisisi mengeluarkan saham, maka nilai wajar saham
tersebut sebesar harga pasar pada tanggal transaksi penggabunga. Bila harga
pasar tidak dapat digunakan sebagai indikator, maka diestimasi secara
proporsional perusahaan pengakuisisi atau yang diakuisisi (mana yang lebih
dapat ditentukan).
c. Membuat jurnal pemilikan aktiva dan kewajiban dari perusahaan yang
digabung. Apabila terjadi selisih antara nilai investasi dengan aktiva bersih
yang diterima perusahaan pengakuisisi, maka selisih tersebut dicatat ke dalam
rekening goodwill pada kelompok aktiva.
d. Apabila penggabungan dianggap sebagai pembelian maka harus ada dasar
baru untuk membukukan dan mempertanggungjawabkan aktiva yang
diperoleh. Dalam hal ini, aktiva harus dicatat sebesar harga pokoknya bagi
pembeli sehingga jumlahnya tidak perlu sama dengan nilai yang perlu
dilaporkan pada buku penjual.
e. Ketika transaksi pembelian berlangsung ,kita perlu menyesuaikan atau
menentukan nilai aktiva dan kewajiban milik perusahaan yang akan digabung
sebesar nilai wajarnya pada saat itu.

12
f. Nilai agregat yang diberikan kepada aktiva bersih yang diperoleh (termasuk
goodwill) akan sama dengan biaya yang terpakai dalam transaksi pembelian
tersebut.
g. Pada penggabungan usaha yang tergolong sebagai pembelian ,alat tukar yang
diberikan untuk mengambil alih perusahaan lain bisa berupa uang ,bisa juga
berupa aktiva lain atau surat berharga dari pembeli. Jika aktiva selain kas
digunakan ,maka nilainya saat itu perlu diperhatikan agar total harga beli bisa
ditentukan.
h. Mencatat transaksi penggabungan sebesar nilai investasinya (biaya
perolehan). Jika pengakuisisi mengeluarkan saham, maka nilai wajar saham
tersebut sebesar harga pasar pada tanggal transaksi penggabungan. Bila harga
pasar tidak dapat digunakan sebagai indikator, maka diestimasi secara
proporsional perusahaan pengakuisisi atau yang diakuisisi (mana yang lebih
dapat ditentukan dengan menggali factor-faktor lain dari transaksi
pertukaran).
i. Membuat jurnal pemilikan aktiva dan kewajiban dari perusahaan yang
digabung. Apabila terjadi selisih antara nilai investasi dengan aktiva bersih
yang diterima perusahaan pengakuisisi, maka selisih tersebut dicatat ke dalam
rekening goodwill pada kelompok aktiva.
j. Jika harga beli lebih rendah dari jumlah aktiva bersih yang dapat diidentifikasi
ada beberapa perlakuan akuntansi yang bisa dipertimbangkan untuk
digunakan,mungkin kita berpendapat bahwa penghematan tersebut yang
diperoleh berkat kemampuan pembeli untuk membeli dengan harga lebih
murah harus diakui sebagai laba periode berjalan.Akan tetapi aktiva yang
dibeli lazimnya dicatat sebesar harga pokoknya dan keuntungan pada
umumnya tidak diakui dari pembelian tetapi justru dari penjualan,perlakuan
lain dengan memperlakukan selisih tersebut sebagai goodwill negative dan
memasukkan saldonya bersama-sama dengan ekuitas pada neraca.
Negative Goodwill adalah lawan dari Goodwill, entah kenapa ini lebih dikenal
sebagai goodwill negative dibandingkan dengan BADWILL. Goodwill negative
terjadi apabila suatu perusahaan dibeli oleh perusahaan lain lebih rendah dari net

13
asset-nya. Dengan contoh perhitungan dan pengakuan goodwill di atas, goodwill
negative didapatkan dari beberapa kemungkinan yang tertera pada beberapa kasus
diatas.
Ekses Pembelian dalam Penggabungan
Pada 27 desember 20x4 PT A memperoleh asset neto PT X dalam
penggabungan dengan pembelian. Asset dan liabilitas PT Y saat itu adalah sebagai
berikut.

Keterangan Nilai buku Nilai wajar


Kas 5.000.000 5.000.000
Piutang-net 15.000.000 15.000.000
Persediaan 20.000.000 25.000.000
Tanah 5.000.000 10.000.000
Gedung-net 35.000.000 50.000.000
Peralatan-net 25.000.000 35.000.000
Paten -- 5.000.000
Total asset 100.000.000 145.000.000
Hutang 6.000.000 7.000.000
Hutang 15.000.000 13.500.000
4.000.000 4.500.000
wesel
25.000.000 25.000.000
Hutang lain
75.000.000 120.000.000
Total
liabilitas
Asset neto

Selisih antara biaya perolehan diatas nilai wajar asset neto yang diperoleh
diakui sebagai goodwill. Sebaliknya selisih lebih nilai wajar asset neto yang diperoleh
diatas biaya perolehan diakui sebagai negative goodwill.
Kasus 1 (Goodwill)

14
PT X membayar Rp 40.000.000 kas dan menerbitkan 50.000 sahamnya Rp
1.000 par, harga pasar Rp2.000 /saham untuk asset neto PT Y. Jurnal mencatat
penggabungan pada buku-buku X saat itu sbb:
Jurnal yang dicatat PT X
Investasi dalam Y Rp. 140.000.000
Kas Rp. 40.000.000
Saham Biasa Rp.1000par Rp. 50.000.000
Tambahan Modal Setor Rp. 50.000.000

Mencatat penerbitan 50.000 saham ditambah Rp40.000.000 kas dalam


penggabungan Y dengan metode pembelian.
Jurnal yang dicatat PT X
Kas Rp. 5.000.000
Piutang Net Rp. 15.000.000
Persediaan Rp. 25.000.000
Tanah Rp. 10.000.000
Gedung Rp. 50.000.000
Peralatan Rp. 35.000.000
Paten Rp. 5.000.000
Goodwill Rp. 20.000.000
Hutang Rp. 7.000.000
Hutang Wesel Rp. 13.500.000
Liabilitas Lain Rp. 4.500.000
Investasi dalam Y Rp. 140.000.000
Membebankan biaya Y keaset identifiable yang diperoleh dan liabilitas
berdasarkan nilai wajar dan ke goodwill.
Kasus 2 (Negative Goodwill)
PT X menebitkan 40000 saham Rp 1000 par dengan harga pasar
Rp2000/saham dan juga memberikan wesel bayar 5 tahun bunga 10% Rp 20.000.000
untuk asset neto PT Y. Jurnal pencatatan dengan pembelian saat itu adalah:
Jurnal yang dicatat PT X
Investasi dalam Y Rp. 100.000.000
Wesel Bayar 10% Rp. 20.000.000
Saham Biasa Rp.1000par Rp. 40.000.000
Tambahan Modal Setor Rp. 40.000.000
Mencatat penerbitan 40.000 par ditambah Rp20.000.000 wesel bayar 10%
dalam penggabungan Y dengan pembelian.

15
Jurnal yang dicatat PT X
Kas Rp. 5.000.000
Piutang Net Rp. 14.000.000
Persediaan Rp. 25.000.000
Tanah Rp. 8.000.000
Gedung Rp. 40.000.000
Peralatan Rp. 28.000.000
Paten Rp. 4.000.000
Hutang Rp. 6.000.000
Hutang Wesel Rp. 13.500.000
Liabilitas Lain Rp. 4.500.000
Investasi dalam Y Rp. 100.000.000

Jumlah yang ditetapkan pada tiap-tiap akun aktiva dan kewajiban pada jurnal
diatas ditetapkan sesuai dengan ketetapan PSAK No.22 untuk penggabungan usaha
secara pembelian. Karena nilai sebesar Rp120.000.000 dari aktiva bersih yang
diperoleh dapat diidentifikasi melebihi harga beli Rp 100.000.000 sebesar
Rp20.000.000 jumlah yang ditetapkan atas aktiva tidak lancar dikurangkan sebesar 20
persen (kelebihan sebesar Rp20.000.000/nilai wajar aktiva tidak lancar
Rp100.000.000). Pengurangan pada aktiva tidak lancar adalah sbb:

Nilai wajar Kurang 20% Jumlah yang dapat


Aktiva Tidak Lancar
Pengurangan ditetapkan untuk
Atas Kekurangan Nilai
aktiva Tidak Lancar
wajar terhadap Biaya*
Tanah 10.000.000 2.000.000 8.000.000
Bangunan 50.000.000 10.000.000 40.000.000
Peralatan 35.000.000 7.000.000 28.000.000
Hak paten 5.000.000 1.000.000 4.000.000
Total 100.000.000 20.000.000 80.000.000

2.1.6. Penyatuan dan Pembelian dibandingkan


Pada 31 desember 2014 PT Bulan da PT Wita bergabung. Penerus adalah PT
Bulan menerbitkan 50.000 sahamnya RP. 1000 par dengan harga pasar Rp.90.000.000
untuk aset neo PT Wita. Biaya registrasi dan penerbitan saham Rp. 2.000.000 dan
biaya langsung lainnya Rp. 4.000.000 dibayar PT Bulan.

16
Neraca dalam peraga 7-1 berikut ini neraca perbandingan PT Bulan dan PT
Wita sebelum merger dalam metode penyatuan kepentingan dan metode pembelian.
Nilai buku dan nilai wajar sebelum merger:
Neraca Saldo Komparatif
30 Desember 2014
Nilai buku Nilai Buku Nilai Wajar
PT Bulan PT Wita PT Wita
Kas 46.500.000 12.500.000 12.500.000
Piutang-net 60.000.000 30.000.000 30.000.000
Persediaan 80.000.000 20.000.000 25.000.000
Aset tetap dan penjualan net 120.000.000 35.000.000 45.000.000
Harga pokok penjualan 100.000.000 32.500.000
Beban lain 32.500.000 10.000.000
Total debet 440.000.000 140.000.000
Hutang 30.000.000 18.000.000 18.000.000
Hutang lain 20.000.000 12.000.000 12.000.000
Modal saham Rp.1000 par 150.000.000 50.000.000
Tambahan modal setor 20.000.000 4.000.000
Saldo laba 65.000.000 11.000.000
Penjualan 155.000.000 45.000.000
Total kredit 440.000.000 140.000.000

Jurnal: dibandingkan jurnal pencatatan antara kedua metode.


Kelompok penerbitan saham menunjukan bahwa dalam metode penyatuan, investasi
dalam Wita Rp. 65.000.000, yaitu nilai buku aset neto Wita per 1 januari 2015.
Sedangkan dalam metode pembelian, investasi dalam Wita Rp. 90.000.000, yaitu
harga pasar saham yang di terbitkan PT Bulan pada 31 Desember 2014.
Kelompok biaya langsung penggabungan menunjukan bahwa berdasarkan metode
penyatuan semua tambahan biaya penggabungan dicatat sebagai beban. Sedangkan
dalam metode pembelian, biaya registrasi dan penerbitan saham dibebankan pada
tambahan modal setor dan biaya langsung lainnya ditambahkan pada biaa perolehan
PT Wita.
Kelompok alokas menunjukan bahwa biaya investasi Rp. 94.000.000 lebih besar dari
nilai wajar aset neto yang identifiable Rp. 82.500.000 dibukukan ke goodwill
Rp.11.500.000.
Perbedaan dalam pencatatan dengan metode penyatuan dan pembelian (000 rupiah)

17
Penyatuan
Pembelian
Kepentingan
Dr. Cr. Dr. Cr.
Penerbitan Sekuritas
Investasi dalam Wita 65.000 90.000
Modal saham Rp.1000 par 50.000 50.000
Tambahan modal setor 4.000 40.000
Saldo laba 11.000

Biaya langsung penggabungan


Beban 6000 --
Investasi dalam Wita -- 4.000
Tambahan modal setor -- 2.000
Kas 6000 6.000

Alokasi Investasi
Kas 12.500 12.500
Piutang-neto 30.000 30.000
Persediaan 20.000 25.000
Pabrik dan peralatan neto 35.000 45.000
Goodwill 11.500
Harga pokok penjualan 32.500 --
Beban lain 10.000 --
Hutang 18.000 18.000
Hutang lain 12.000 12.000
Penjualan 45.000 --
Investasi dalam Wita 65.000 94.000

Laporan Keuangan
Pada laporan keuangan gabungan dalam peraga 7-3 berikut ini terdapat
perbedaan-perbedaan ;
Dalam metode penyatuan , penjualan dan beban digabungkan . sedangkan dalam
metode pembelian tidak.
Dalam metode penyatuan, seluruh biaya penggabungkan dibukukan sebagai
beban, sedangkan dalam metode pembelian, biaya tidak langsung penggabungan
dibukukan pada tambahan modal setor dan biaya langsung ke investasi.
Perbedaan total aset PT Bulan antara ke dua metode Rp. 26.500.000 adalah
akibat pengalokasian kelebihan biaya investasi diatas nilai buku yang diperoleh

18
ke persediaan Rp. 5.000.000, aset tetap dan peralatan Rp.10.000.000 dan
goodwill Rp. 11.500.000 dalam metode pembelian..
Tambahan modal setor dalam m etode penyatuan Rp. 24.000.000 adalah selisih
modal setor gabungan Rp. 224.000.000 terhadap modal saham gabungan Rp.
200.000.000. Tambahan modal setor dalam metode pembelianRp.58.000.000
berasal dari saldo awal Rp.20.000.000 ditambah dari penerbitan 50.000 saham
sebesar Rp.40.000.000 ,dikurangi Rp.2.000.000 dari biaya pendaftaran dan
percetakan saham.

Laporan Keuangan Komparatif Bulan dan Wita tahun Penggabungan


PT Bulan
Laporan Keuangan Komparatif
Untuk tahun yang berakhir pada Desember 2014
(dalam 000 rupiah)

Penyatuan Pembelian
Laporan laba rugi
Penjualan 200.000 155.000
Harga pokok penjualan (132.500) (100.000)
Beban lain (48.500) (32.500)
Penghasialan neto 19.000 22.500
Laporan saldo laba
Saldo laba 1 januari 2014 (seperti dilaporkan) 65.000 65.000
Pertambahan dari pooling 11.000
Saldo laba 1 januari 2014 (seperti restated) 76.000
Penghasilan neto 19.000 22.500
Saldo laba 31 desember 2014 95.000 87.500
Neraca
Aset
Kas 54.000 54.000
Piutang-net 90.000 90.000
Persediaan 100.000 105.000
Aset tetap dan peralatan net 155.000 165.000
Goodwill -- 11.500
Total asset 399.000 425.500
Kewajiban dan ekuitas pemegang saham
Hutang 48.000 48.000
Hutang lain 32.000 32.000
Modal saham Rp. 1000 par 200.000 200.000
Tambahan modal setor 24.000 58.000

19
Saldo laba 95.000 87.500
Total kewajiban dan ekuitas pemegang saham 399.000 425.500

2.1.7 Standar Akuntansi Keuangan Yang Terkait


Tidak bisa dipungkiri, sejarah dan perkembangan akuntansi
penggabungan usaha di amerika serikat memberika pengaruh yang
besar terhadap perkembangan teori akuntansi penggabungan usaha
. Diamirika Principle Board (ABP) Opini No 16 tentang business
kombination diberlakukan sejak tahun 1970 hingga awal dekade
2000-an. ABP Opini No 16 merupakan salah satu standar yang
paling lama dipaki berlaku di Amirika Serikat.

APB Opini No 16 ini telah diadobsi oleh Internasional Standart


Accounting Bord (IASB) dengan dikeluarkannya IAS No 22tengan
business combination. Selajutnya IAS No.22 digantikan dengan
IFRS No.3 sejak 31 Maret 2004. Kemudian IAI melakukan
pengadobsian terhadap IAS No 22 dengan dikeluarkannya PSAK No
22 tentangakuntansi penggabungan usaha yang berlaku sejak 1
januari 1995 hingga kini.

Z
IAS No.22 DAN PSAK NO.22 IFRS NO.3 Dasar Perubahan
NO
Memberikan ijin atas Tidak lagi mengijinkan Ketentuan tersebut ditetapkan
1 pengguanaan metode pembelian penggunaan metode karena, walaupun terdapat kreteria
1 dan penyatuan kepemilikan serta penyatuan kepemilikan dan yang ditetapkan oleh IAS No.22
1 menetapkan syarat-syarat menyebutkan bahwa semua dalam mengguanak metode
1 penggunaan metode tersebut. penggabungan usaha harus pembelian dan penyatuan
Metode penyatuan kepemilikan dicatatdengan menggunakan kepemilikan ,managemen sering
digunakan apabila sulit sekali metode pembelian mencari celah agar dapat
mengidentifikasi perusahaan menggunakan sala satu dari dua
pengakuisisi dan terjadi metode tersebut yang
pembagian resiko serta manfaa menguntungkan bagi mereka.
secara seimbang antara Sehingga IFRS No.3

20
perusahaan-perusahaan yang mengharuskan pengidentifikasian
menggabungkan diri. perusahaan pengakuisisi dalam
setiap transaksi penggabungan
usaha

2 Mengharuskan amortisasi Tidak lagi Pengalokasian goodwill melalui


2 goodwill selama satu memperkenankan amortisasi penurunan nilai sianggap sebagai
periodeyang tidak kurang dari 20 atas goodwill yang berasal perlakuan yang paling tepat sebab
tahun dari transaksi penggabungan goodwill adalah cerminan arus kas
2 usaha. Goodwil dianggap yang diharapkan diperoleh pada
2 habis dengan sendirinya masa yang akan datang ,sehingga
seiring dengan terjadinya akan menurun jika arus kas
penurunan nilai aktifa tersebut menurun
yang dilakukan
berdasarkan IAS No.36
tenangimpairment of
asset
3 Berdasarkan PSAK No.22 paragraf 56 mengharuskan Goodwil negative sebenarnya
paragraf 82,sisa goodwil negatif pengakuan laba atau rugi adalah pendapatan yang diperoleh
setelah dilakukan penurunan yang berasal dari sisa sari transaksi penggabungan usaha
nilai aktifa nonmoneter, harus goodwil negatif yang semestinya langsung diakui
3 diakui sebagai pendapatan seluruhnya pada saat transaksi
3 sitangguhkan dan diakui tersebut terjadi
sebagai pendapatan secara
sistimatis tidak boleh lebih dari
20tahun.

2.2 Pengertian Laporan Keuangan Konsolidasi


Berdasarkan Pasal 1 angka 10 UU RI Nomor 40 Tahun 2007, peleburan
(konsolidasi) adalah perbuatan hukum yang dilakukan oleh dua perseroan terbatas
atau lebih, untuk meleburkan diri dengan cara mendirikan satu perseroan tebatas yang
baru yang karena hukum memperoleh akitva dan pasiva dari perseroan terbatas yang

21
meleburkan diri dan status badan hukum perseroan tebatas yang meleburkan diri
berakhir karena hukum. Sementara Pasal 1 angka PP Nomor 27 Tahun 1998,
peleburan (konsolidasi), adalah perbuatan hukum yang dilakukan oleh dua perseroan
terbatas atau lebih untuk meleburkan diri dengan cara membentuk satu perseroan
terbatas baru dan masing-masing perseroan terbatas yang meleburkan diri menjadi
bubar.
Laporan Keuangan Konsolidasi adalah Laporan yang menyajikan posisi
keuangan dan hasil operasi untuk induk perusahaan (entitas pengendali) dan satu atau
lebih anak perusahaan (entitas yang dikendalikan) seakan-akan entitas-entitas
individual tersebut merupakan satu entitas atau perusahaan satu perusahaan. Laporan
Keuangan Konsolidasi diperlukan apabila salah satu perusahaan yang bergabung
memiliki kontrol terhadap perusahaan lain, dan sebaliknya laporan keuangan
konsolidasi tidak diperlukan apabila satu perusahaan tidak memiliki kontrol terhadap
perusahaan lain. Artinya, jika tidak memiliki hak kendali (control) yang lebih, maka
mereka adalah badan usaha (entity) mandiri, artinya mereka masing-masing akan
membuat laporan keuangan yang sendiri-sendiri dan tidak mungkin untuk
digabungkan, ditambahkan atau yang sejenisnya. Jadi, tidak ada maksud untuk
membuat sebuah laporan keuangan konsolidasi.
Adapun maksud dan tujuan Laporan Keuangan Konsolidasi disusun, yaitu:
agar dapat memberikan gambaran yang obyektif dan sesuai atas keseluruhan posisi
dan aktivitas dari satu perusahaan (economic entity) yang terdiri atas sejumlah
perusahaan yang berhubungan istimewa, dimana laporan konsolidasi keuangan
diharapkan tidak boleh menyesatkan pihak-pihak yang berkepentingan dan harus
didasarkan pada substansi atas peristiwa ekonomi juga. Dalam PSAK No. 4, Paragraf
4 penyajian Laporan Keuangan Konsolidasi oleh induk Perusahaan bertujuan untuk
memberikan informasi kepada para pemakai Laporan Keuangan mengenai data
keuangan dari suatu kelompok perusahaaan dalam kelompok tersebut merupakan
suatu entitas hukum yang terpisah satu sama lain. Dalam menyusun laporan keuangan
konsolidasi, laporan keuangan bank dan anak perusahaan digabungkan satu persatu
dengan menjumlahkan unsure-unsur yang sejenis dari asset, kewajiban, ekuitas,

22
pendapatan dan beban. Agar laporan keuangan konsolidasi dapat menyajikan
informasi keuangan dari kelompok perusahaan tersebut sebagai satu kesatuan
ekonomi, maka perlu dilakukan langkah-langkah berikut:
1. Transaksi dan saldo resiprokal antara induk perusahaan dan anak perusahaan
harus dieliminasi
2. Keuntungan dan kerugian yang belum direalialisasi, yang timbul dari
transaksi antara bank dan anak perusahaan harus dieliminasi
3. Untuk tujuan konsolidasi, tanggal laporan keuangan anak perusahaan pada
dasarnya harus sama dengan tanggal laporan keuangan bank. Apabila
tanggal laporan keuangan tersebut berbeda maka laporan keuangan
konsolidasi per tanggal laporan keuangan bank masih dapat dilakukan
sepanjang:
a. Perbedaan tanggal pelaporan tersebut tidak lebih dari 3 bulan
b. Peristiwa atau transaksi material yang terjadi diantara tanggal
pelaporantersebut diungkapkan dalam catatan atas laporan keuangan
konsolidasi.
4. Laporan keuangan konsolidasi disusun dengan menggunakan kebijakan
akuntansi yang sama untuk transaksi, peristiwa dan keadaan yang sama atau
sejenis.
5. Hak minoritas (minority interest) harus disajikan tersendiri dalam neraca
konsolidasi antara kewajiban dan modal sedangkan hak minoritas dalam
laba disajikan dalam laporan laba rugi konsolidasi.
2.2.1. Tujuan dan Manfaat Laporan Keuangan Konsolidasi
1. Tujuan Laporan Keuangan Konsolidasi
Maksud dan tujuan penyusunan Laporan Keuangan Konsolidasi, yaitu agar
dapat memberikan gambaran yang obyektif dan sesuai atas keseluruhan posisi dan
aktivitas dari satu perusahaan (economic entity) yang terdiri atas sejumlah perusahaan
yang berhubungan istimewa, dimana laporan konsolidasi keuangan diharapkan tidak
boleh menyesatkan pihak-pihak yang berkepentingan dan harus didasarkan pada
substansi atas peristiwa ekonomi juga.

23
2. Manfaat Laporan Keuangan Konsolidasi
Diantara manfaat disusunnya Laporan Keuangan Konsolidasi adalah:
a. Untuk kepentingan jangka panjang, efek anak perusahaan terhadap induk
b. Memberikan informasi terkini bagi manajemen induk perusahaan terhadap
kinerja grup (anak) perusahaan
c. Kepentingan informasi pihak luar
d. Keterbatasan Laporan Keuangan Konsolidasi
Disamping memiliki manfaat, Laporan Keuangan Konsolidasi juga memiliki
beberapa keterbatasan, diantaranya:
3. Kinerja keuangan anggota perusahaan yang tidak bagus akan tertutupi
a. Rasio keuangan tidak mencerminkan rasio keuangan perusahaan
b. Ketidaktepatan penyusunan rekening akuntansi seluruh perusahaan
c. Kekurang lengkapan catatan laporan keuangan perusahaan individu
2.2.2 Teknik dan Prosedur Laporan Keuangan Konsolidasi
Prosedur Konsolidasi diatur dalam PSAK No. 4 (Paragraf 8,21 & 23) antara
lain dinyatakan bahwa dalam menyusun Laporan Keuangan Konsolidasi Laporan
Keuangan Induk Perusahaan (Parent Company) dan Anak Perusahaan (Subsidary
Company) digabungkan satu persatu dengan menggabungkan unsure-unsur yang
sejenis dari Aktiva, Kewajiban, Ekuitas, Pendapatan dan Beban.
Adapun prosedur penyusunan Laporan Keuangan Konsolidasi Dijelaskan
lebih terperinci lagi, yaitu:
1. Mempersiapkan kertas kerja penyusunan laporan keuangan konsolidasi
2. Memasukkan laporan keuangan meliputi laporan laba rugi, laporan laba
ditahan dan neraca masing-masing perusahaan induk dan anak pada kolomnya
masing-masing.
3. Jika ada kesalahan-kesalahan pada laporan keuangan induk atau anak (seperti
koreksi terhadap pencatatan investasi dengan metode biaya dikonversi ke
metode ekuitas) perlu dibuatkan jurnal penyesuaian (diposting ke buku besar
perusahaan induk atau anak).

24
4. Memasukkan jurnal eliminasi dalam kertas kerja, seperti: Mengeliminasi laba
atau rugi antar perusahaan (laba atau rugi anak yang telah diakui dalam
laporan laba-rugi perusahaan induk). Mengeliminasi dividen anak perusahaan
yang telah dicatat pada saat perusahaan induk menerima dividen dari anak.
Pendapatan dari perusahaan anak..................xxx
Dividen....................................................... xxx
Investasi pada perusahaan anak................. xxx
Penyesuaian untuk mencatat hak minoritas dalam laba dan dividen perusahaan
anak.
Beban hak minoritas.................................... xxx
Dividen...................................................... xxx
Hak minoritas............................................ xxx
Mengeliminasi akun resiprokal, yaitu akun investasi pada perusahaan anak (di
neraca induk) dan akun ekuitas (di neraca anak) dikali dengan persentase
kepemilikan induk.
Jika NW dari akun investasi pada perusahaan anak = NB dari akun ekuitas
Modal saham................................................. xxx
Tambahan modal (jika ada).......................... xxx
Laba ditahan.................................................. xxx
Investasi pada perusahaan anak................................. xxx
Hak monoritas (% kepemilikan x total ekuitas)........ xxx

Jika NW dari akun investasi pada perusahaan anak > < NB dari akun ekuitas.
(catatan lihat penjelasan selanjutnya)
Modal saham................................................. xxx
Tambahan modal (jika ada).......................... xxx
Laba ditahan.................................................. xxx
Alokasi kelebihan ......................................... xxx
Investasi pada perusahaan anak.............................. xxx
Hak monoritas (% kepemilikan x total ekuitas)..... xxx

25
Mengalokasikan dan mengamortisasi perbedaan nilai wajar dari akun
investasi dengan nilai buku ekuitas (dari langkah ke 5).
Jika ada perbedaan itu dialokasikan ke aktiva tetap, maka perlu dibuatkan
jurnal penyusutan. Demikian pula jika ada hak paten perlu diamortisasi
pertahun.
Mengeliminasi akun resiprokal lainnya (seperti hutang, piutang, pembelian
dan penjualan antar perusahaan.
5. Menjumlah akun-akun pada kedua laporan keuangan untuk akun-akun yang
tidak resiprokal pada kolom laporan konsolidasi.
6. Menjumlahkan akun-akun pada kedua laporan keuangan ditambah dan
dikurangi akun-akundalam kolom jurnal eliminasi.
Dalam penyusunan Laporan Keuangan Konsolidasi antara Induk Perusahaan
dan Anak Perusahaan dapat digunakan 3 (dua) metode yaitu:
a. Konsolidasi dengan Metode Ekuitas (Equity Method)
Konsep dasar dari metode ekuitas pada dasarnya memandang investasi Induk
Perusahaan terhadap Anak Perusahaan sebagai sesuatu penyertaan modal sehingga
jika aktiva bersih Anak Perusahaan berubah karena kegiatan operasionalnya, secara
otomatis akan menyebabkan perubahan pada nilai investasi induk Perusahaan.data.
Pencatatan investasi saham pada Anak Perusahaan dengan metode ekuitas,
didasarkan pada suatu anggapan investasi pada Anak Perusahaan sejajar dan sama
dengan investasi pada perusahaan-perusahaan cabangnya. Alasan diterapkannya
metode ekuitas juga didasarkan atas suatu fakta bahwa Induk Perusahaan dan Anak
Perusahaan merupakan bagian-bagian dari satu kesatuan usaha, seperti halnya
hubungan antara Kantor Pusat dan Cabang-Cabangnya. Oleh sebab itu perubahan-
perubahan yang terjadi didalam hak-hak pemegang saham pada Anak Perusahaan
harus diakui dan dicatat oleh Induk Perusahaan, untuk dapat mengikuti dan
melaporkan posisi keuangan dan perkembangan usahanya secara lengkap.
Nilai investasi Induk Perusahaan terhadap Perusahaan akan meningkat jika
Anak Perusahaan memperoleh laba bersih dan akan menurun atau berkurangnya
nilainya, jika Anak Perusahaan menderita kerugian.

26
Meskipun Laporan Keuangan Konsolidasi hasil penerapan metode ekuitas ini
nantinya akan sama dengan penerapan metode biaya, namun lembar kerja konsolidasi
beserta jurnal untuk penyesuaian dan eliminasi akan berbeda. Harus memperhatikan
pengaruh perubahan modal anak Perusahaan terhadap hak pemilikan Induk
Perusahaan.
Beberapa perkiraan (account) yang perlu diperhatikan antara lain:
- Perkiraan Investasi Saham dalam Anak Perusahaan
Akan berubah jumlahnya apabila Anak Perusahaan melaporkan adanya Laba
Rugi atau pembagian Dividen.
- Perkiraan Kas
Akan berubah jumlahnya apabila Induk Perusahaan melaporkan adanya Laba
Rugi atau pembagian Dividen.
- Perkiraan Piutang Dividen Anak Perusahaan
Timbul karena perusahaan mengumumkan Dividen namun belum
dibayar.Perkiraan ini harus dihapuskan apabila telah dibayar tunai (kas).
- Perkiraan Laba yang ditahan (Retained Earning) Induk Perusahaan
Akan berubah jumlahnya apabila Anak Perusahaan melaporkan adanya Laba
atau Rugi. Selain itu akan berubah juga karena adanya Laba atau Rugi milik
Induk Perusahaan sendiri.
- Perkiraan Laba yang ditahan (Retained Earning) Anak Perusahaan
Akan berubah jumlahnya apabila ada Laba Rugi atau pembagian Dividen
pada Anak Perusahaan sendiri.
Perkiraan-perkiraan diatas, dalam Kertas Kerja (Worksheet) penyusunan
Laporan Keuangan Konsolidasi harus sudah menunjukkan Saldo Akhir pada Laporan
Keuangan Konsolidasi, artinya sudah diperhitungkan perubahan jumlahnya.

b. Konsolidasi dengan Metode Ekuitas Tidak Lengkap


Jika metode ekuitas diterapkan secara benar ,laba bersih perusahan induk
adalah sama dengan laba bersih konsolidasi,dan saldo laba perusahaan induk adalah
sama dengan saldo laba konsolidasi. Persamaan jumlah laba dan saldo laba
perusahaan induk dan konsolidasi ini tidak selalu ada. Persamaan tersebut tidak ada

27
jika metode ekuitas diterapkan tidak secara benar,atau jika akuntansi metode biaya
digunakan untuk investasi perusahaan anak.
Contohnya, perusahaan induk dalam menerapkan akuntansi metode ekuias
mungkin mengamortisasikan perbedaan antara investasi dan nilai buku yang
diperoleh pada buku terpisah perusahaan induk, atau mungkin tidak mengeliminasi
laba atau rugi antar-perusahaan.Kelalaian-kelalaian seperti itu menyebabkan tidak
lengkapnya penerapan akuntansi metode ekuitas. Kesalahan-kesalahan lain dalam
penerapan metode ekuitas menyebabkan salah saji yang seruppa dalam laba dan saldo
laba perusahaan induk.
Masalah yang timbul dari salahnya penerapan metode ekuitas atau
menggunakan metode biaya untuk investasi perusahaan anak mugkin tidak seserius
yang terlihat. Hal ini dikarenakan akuntan harus menyiapkan laporan keuangan
konsolidasi yang benar dengan mengabaikan bagaimana perusahaan induk
mempertanggungjawabkan investasinya pada perusahan anak. Tidak ada pelanggaran
terhadap prinsip akuntansi yang berlaku umum sepanjang laporan keuangan
konsolidasi yang disiapkkan bagi pemegang saham benar dan perusahaan
induk/investor tidak menerbitkan laporan keuangan yang telah diaudit yang lain.
Tetap digunakannya metode biaya atau metode ekuitas tidak lengkap oleh beberapa
perusahaan didasarkan pada asumsi bahwa penerbitan laporan keuangan konsolidasi
hanya sebagai laporan keuangan yang disiapkan bagi para pemegang saham dari
entias utama.
c. Konsolidasi dengan Metode Biaya (Cost Method)
Pada Metode Biaya, yang dipakai untuk mencatat investasi saham-saham
Anak Perusahaan, maka hanya dividen atas saham-saham tersebut (yang telah
dibagikan oleh Anak Perusahaan) yang diakui sebagi pendapatan (revenue) oleh
Induk Perusahaan. Sebaliknya laba atau rugi atas pemilikan modal (saham) hanya
timbul apabila sebagian atau seluruh jumlah saham yang dimiliki tersebut dijual.
Pada metode biaya bagian dividen yang dibagikan oleh Anak Perusahaan
dicatat pada sisi debit dalam rekening Piutang Dividen (Kas), dengan rekening
lawan kredit Penghasilan Dividen.

28
Beberapa hal yang harus diperhatikan pada Metode biaya:
Perkiraan Investasi Saham pada Anak Perusahaan, tidak mengalami
perubahan jumlahnya. Perubahan modal Anak Perusahaan akibat adanya Laba,
Rugi atau pembagian Dividen tidak mempengaruhi Perkiraan Investasi Saham
pada Anak Perusahaan, atau Induk Perusahaan tidak menyesuaikan
Investasinya.
Laba atau rugi dari Anak Perusahaan baru diakui oleh Induk Perusahaan
sebesar Prosentase (%) kepemilikannya pada saat disusun Neraca Konsolidasi
melalui perkiraan Laba yang ditahan (Retained Earning) untuk Induk
Perusahaan. Perkiraan ini hanya tampak pada Worksheet penyusunan neraca
Konsolidasi.
Penghapusan (eliminasi) terhadap perkiraan-perkiraan Modal Saham, Agio
Saham dan Retained Earning Anak Perusahaan hanya didasarkan pada jumlah
awal/Saldo Awal tahun atau Saldo Awal pada saat kepemilikan.
Metode Biaya berdasarkan pada asumsi bahwa investasi Induk terhadap Anak
Perusahaan merupakan bagian dari Aktiva.
Nilai Investasi harus selalu tetap, karena akan dittampakkan dalam neraca
sebesar harga perolehannya saja.
Perubahan nilai aktiva bersih Anak Perusahaan sebagai Konsekuensi dari
kegiatan operasionalnya tidak akan mempengaruhi besaarnya nilai investasi
tersebut.

2.2.3 Konsolidasi Sebelum dan Sesudah Laporan Keuangan


PT. Raihan membeli semua saham PT. Ramadhan dengan kas sebesar
Rp600.000,- tunai. Diasumsikan, nilai wajar/harga pasar PT. Ramadhan sama dengan
nilai bukunya pada tanggal penggabungan.
Neraca kedua perusahaan sebelum tanggal akuisisi adalah sebagai berikut:

29
Dari
neraca diatas,
dapat

diketahui bahwa total saham yang diperoleh adalah 400.000 + 200.000 = 600.000.
Perhitungannya adalah sebagai berikut:

Karena nilai wajar/harga pasar dan nilai bukunya sama, maka tidak ada
selisih, dan tidak ada pengakuan terhadap goodwill. Selanjutnya transaksi pembelian
saham PT. Ramadhan ini dicatat dalam jurnal seperti berikut:
1. Investasi di PT. Ramadhan (Db) 600.000
Kas (Kr) 600.000
(Mencatat pembelian saham PT. Ramadhan)
Dalam hal ini, tidak ada penambahan aset (aktiva) maupun kewajiban,
melainkan dicatat sebagai Investasi saja karena yang diakuisisi hanya sahamnya
saja, dimana nilai saham seharga 600.000 tersebut merupakan cerminan dari nilai net

30
aset atau aktiva bersihnya juga. Disini, hak pengendali diperoleh dengan membeli
saham PT. Ramadhan.

Berikut ini adalah neraca


kedua perusahaan setelah
akuisisi:
Perlu diingat
bahwasannya neraca
konsolidasi ini dibuat oleh
PT. Raihan adalah untuk
menyatukan laporan
keuangan dua perusahaan
yang sebelumnya terpisah. Transaksi investasi ini merupakan transaksi antar
perusahaan yang ada dalam satu grup, maka harus dieliminasi. Sehingga perlu
membuat jurnal sebagai berikut:
1. Saham PT. Ramadhan (Db) 400.000
Laba di Tahan (Db) 200.000
Investasi di PT. Ramadhan (Kr) 600.000
(mencatat eliminasi di PT. Ramadhan)
Kemudian dibuat kerja kertas kerja konsolidasi:

31
Dan setelah kertas kerja selesai dibuat dengan diikutsertakan eliminasi,
Neraca Konsolidasi PT. Raihan akan tampak seperti berikut:

2.2.4 Konsolidasi Pada Tanggal Ekusisi


Pada dasarnya, laporan keuangan keungan konsolidasi disusun dengan
menggunakan prinsip akuntansi yang sama. Akan tetapi, laporan keuangan
konsolidasi melaporkan hasil operasi dan posisi keuangan dua entitas atau lebih yang
memliki hubungan istimewa menjadi sebuah laporan keuangan yang seolah-olah
berasal dari satu entitas, tentu saja setelah mengalami proses eliminasi.

32
1. Kertas kerja konsolidasi
Kertas kerja konsolidasi merupakan mekanisme yang efisien untuk
menggabungkan akun-akun dari perusahaan yang terpisah yang akan dikonsolidasi
dan untuk menyesuaikan saldo gabunganmenjadi angka-angka yang akan dilaporkan
seakan-akan semua perusahaan yang dikonsolidasi adalah satu entitas. Penting untuk
diketahui bahwa entitas konsolidasi tidak mempunyai pembukuannya sendiri, tiap-
tiap perusahaan yang akan dikonsolidasi mempunyai pembukuan mereka sendiri-
sendiri. Kertas kerja konsolidasi berisi dari empat kolom yaitu:
a. Nama pos, berisi nama pos-pos yang merupakan asset,kewajiban maupun
ekuitas entitas.
b. Data neraca, memuat 2 subkolom yaitu data perusahaan induk dan anak . Tiap
subkolom menjelaskan nilai dari pos-pos yang ada disebelah kiri
c. Ayat jurnal eliminasi. Pada kolom ini, total saldo akun perusahaan-
perusahaan terpisah yang akan dikonsolidasi disesuaikan untuk mencerminkan
angka yang akan muncul jika entitas konsolidasi berdiri sendiri sebagai entitas
tunggal dan legal . agar tidak bercampur dengan ayat jurnal umum, ayat jurnal
eliminasi diberi tanda E pada sudut kiri jurnalnya. Ayat jurnal eliminasi
hanya muncul di kertas kerja konsolidasi dan tidak mempengaruhi pembukuan
perusahaan manapun
d. Terakhir adalah kolom konsolidasi yang memuat hasil akhir dari peyesuaian
dari entitas-entitas yang akan dikonsolidasi. Untuk lebih jelasnya perhatikan
gambar berikut:
konsolidas
Data neraca percobaan Ayat jurnal eliminasi
NamaPo i
s Entitas Entitas
Debet Kredit
induk anak

33
2. Penyusunan neraca konsolidasi sesaat setelah akuisisi kepemilikan
penuh
Contoh kasus:
Alim corp. membeli seluruh saham deeny company pada tanggal 1 januari dan sesaat
setelahnya langsung menyusun neraca konsolidasi . Berikut disajikan neraca terpisah
kedua entitas tersebut sebelum akuisisi:
Alim corp. Deeny company
Aktiva
Kas 700.000 100.000
Piutang usaha 150.000 100.000
Sediaan 200.000 120.000
Tanah 350.000 80.000
Bangunan dan
peralatan 1.600.000 1.200.000
Akumulasi penyusuta (800.000) (600.000)
Total aktiva 2.200.000 1.000.000
Kewajiban dan ekuitas
Utang usaha 200.000 200.000
Utang obligasi 400.000 200.000
Saham biasa 1.000.000 400.000
Laba ditahan 600.000 200.000
Total ekuitas & ekuitas 2.200.000 1.000.000

Selanjutnya, semua ayat jurnal dan ayat jurnal eliminasi dalam materi ini akan diberi
nomor berurut. Ayat jurnal eliminasi yang muncul di kertas kerja akan dibahas dalam
teks.
3. Kepemilikan penuh dibeli pada nilai buku
Dari contoh diatas, alim membeli saham deeny 100% saham biasa beredar
seharga $600.000. pada saat penggabungan usaha, nilai wajar yang masing-masing
aktiva dan kewajiban deeny sama dengan nilai buku yang disajikan dalam tabel
diatas. Harga beli saham sebesar $600.000( 400.000+200.000). alim mencatat
akuisisi saham di pembukuannya pada tanggal penggabungan usaha dengan ayat
jurnal sebagai berikut:
1 januari 20X1

34
Investasi saham deny 600.000
Kas 600.000
Berikut neraca kedua entitas sesaat setelah akuisisi:

Alim corp. Deeny company


Aktiva
Kas 100.000 100.000
Piutang usaha 150.000 100.000
Sediaan 200.000 120.000
Tanah 350.000 80.000
Bangunan dan
peralatan 1.600.000 1.200.000
Akumulasi penyusutan (800.000) (600.000)
Investasi-saham deeny 600.000
Total aktiva 2.200.000 1.000.000
Kewajiban dan ekuitas
Utang usaha 200.000 200.000
Utang obligasi 400.000 200.000
Saham biasa 1.000.000 400.000
Laba ditahan 600.000 200.000
Total ekuitas &
ekuitas 2.200.000 1.000.000

Kertas kerja konsolidasinya dapat dibuat sebagai berikut:


Data neraca ayat jurnal eliminasi
Pos Konsolidasi
Alim Deeny Debet Kredit
Kas 100.000 100.000 200.000

Piutang usaha 150.000 100.000 250.000

Sediaan 200.000 120.000 320.000


Tanah 350.000 80.000 430.000

35
Bangunan dan
1.600.000 1.200.000 2.800.000
peralatan

Akumulasi
(800.000) (600.000) 1.400.000
penyusutan

Investasi-
600.000 600.000a
saham deeny

Total aktiva 2.200.000 1.000.000 600.000 3.200.000

Kewajiban
dan ekuitas

Utang usaha 200.000 200.000 400.000

Utang
400.000 200.000 600.000
obligasi

Saham biasa 1.000.000 400.000 400.000a 1.000.000

Laba ditahan 600.000 200.000 200.000a 600.000

Total ekuitas
2.200.000 1.000.000 600.000 3.200.000
& ekuitas

Ayat jurnal eliminasi investasi:


1. Saham biasa-deeny 400.000
Laba ditahan 200.000
Investasi-saham deeny 600.000
Setelah dieliminasi, neraca konsolidasi dapat disajikan sebagai berikut:
Alim corp. and subdiaries
Neraca konsolidasi
1 januari 20X1

36
Aktiva Kewajiban
Kas 200.000 Utang usaha 400.000
Piutang usaha 250.000 Utang obligasi 600.000
Sediaan 320.000 Ekuitas pemegang saham
Tanah 430.000
Bangunan dan Saham Biasa
peralatan 2.800.000 1.000.000
Akumulasi penyusutan 1.400.000 Laba ditahan 600.000

Total aktiva Total kewajiban dan


3.200.000 ekuitas 3.200.000

Kepemilikan penuh dibeli diatas nilai buku


Harga saham suatu persahaan biasanya dipengaruhi banyak factor, termasuk
didalamnya aktiva bersih, profitabilitas perusahaan, dan kondisi pasar secara umum.
Pada saat membeli saham perusahaan lain, tidak beralasan akan mengharapkan harga
beli sama dengan nilai buku saham yang diakuisisi. Berikut beberapa alasan mengapa
harga beli saham suatu perusahaan lebih tinggi dari nilai buku saham tersebut:
1. Kesalahan dan penghilangan dari pembukuan anak perusahaan.
Jika pembukuan anak perusahaan diteliti, sangat mungkin kita akan
menemukan adanya kesalahan dan penghapusan yang mengkibatkan timbilnya
selisih antara nilai buku dengan nilai wajar. Ketidaksesuaian itu biasanya disebabkan
karena anak perusahaan tidak mengikuti prinsip akuntansi berlaku umum untu
aktivitas pencatatannya. Untuk menghapus ketidaksesuaian itu, maka anak
perusahaan dikoreksi dan setelah anakperusahaan dinyatakan sesuai dengan PABU,
maka tidaka ada lagi bagian diferensial yang disebabkan kesalahan dan penghilangan
tersebut.
2. Selisih lebih nilai wajar diatas nilai buku dari aktiva bersih anak perusahaan
yang dapat diidentifikasi
Dalam banyak kasus, nilai wajar suatu aktiva yang diakuisisi lebih tinggi dari
nilai bukunya. Akibatnya, harga beli lebih tinggi dari nilai buku saham yang
diakuisisi. Prosedur konsolidasi mewajibkan menyusu neraca konsolidasi harus

37
berdasakan nilai wajar aktiva tersebut. Untuk mencapai nilai wajar aktiva dapat
digunakan dua cara:(1) aktiva dan kewajiban direvaluasi langsung dari pembukuan
anak perusahaan.(2)dasar akuntansi anak perusahaan dipertahankan dengan
ketentuanrevaluasi dilakukan tiap periode.
Biasanya, perusahaan akan lebih condong untuk melakukan revaluasi aktiva
dan kewajiban karena asas praktisnya, dengan syarat didalam perusahaan tidak ada
hak minoritas yang berpengruh signifikan (karena dari sudut pandang minoritas anak
perusahaan berkelanjutan dan dasar akuntansi tidak boleh berubah). Namun, bila ada
hak minoritas, maka diperlukan ayat jurnal yang merevaluasi aktiva tersebut dan
mengalokasikan dierensial dalam kertas kerja konsolidasi tiap kali laporan keuangan
konsolidasi disusun.
3. Keberadaan goodwill
Pada suatu kondisi perusahaan membeli saham diatas harga total nilai wajar
aktiva anak perusahaan yang dapat diidentifikasi, tambahan pembayaran tersebut
biasanya diperlakukan sebagai pembayaran atas kemampuan laba yang tinggi
perusahaan yang diakuisisi, karena itu sisa diferensial debet akan dialokasikan ke
sebagai goodwill.
Asumsikan bahwa alim membeli saham biasa dee seharga 680.000 tunai pada
tanggal 1 januari 20X1. Dalam pembelian tersebut, dapat kita lihat bahwa alim
membayar $80.000 lebih tinggi dari nilai buku saham tersebut. Terkait hl ini, alim
mencatat pembelian tersebut sebagai berikut:
Investasi-saham dee $680.000
Kas $680.000
Dalam suatu penggabungan usaha, harga beli harus dialokasikan ke aktiva dan
kewajiban yang diakuisisi. Karena itu, jumlah tertentu yang dibayar perusahaan
tersebut harus dialokasikan ke aktiva dan kewajiban tertentu dan juga dialokasikan ke
goodwill bila ada kelebihan (diferensial positif) pada nilai buku anak perusahaan.
Prosedur untuk kertas kerja konsolidasi seharusnya memiliki pola yang sama
dengan kertas kerja biasa, hanya saja ada perlakuan khusus pada selisih nilai buku
dan harga beli tersebut. Pada saat harga beli lebih tinggi, maka pembuatan ayat jurnal

38
eliminasi harus mendebet akun diferensial yang menyamakan posisi jumlah debet
dan kredit pembelian tersebut. Lebih jelas, berikut ayat jurnal eliminasi yang dibuat
entitas konsolidasi:
1. Saham biasadeeny 400.000
Laba ditahan 200.000
Deferensiasi 80.000
Investasi saham deeny 680.000
Saldo yang dialokasikan ke akun deferensial dalam ayat jurnal eliminasi
tersebut selanjutnya akan dinolkan dengan melalui satu atau lebih ayat jurnal
tambahan, tergantung nilai lebih tersebut akan dialokasikan kemana, apakah ke
aktiva( alasan kedua munculnya diferensial positif) atau ke goodwill(syarat ketiga).
Bila dialokasikan ke aktiva seperti syarat kedua ,tanah misalnya, maka akan
muncul ayat jurnal penyesuaian dan neraca sebagai berikut:
2. Tanah 80.000
Diferensial 80.000

Data neraca ayat jurnal eliminasi


Pos Konsolidasi
Alim Deeny Debet Kredit
Kas 20.000 100.000 120.000
Piutang
150.000 100.000 250.000
usaha
Sediaan 200.000 120.000 320.000
Tanah 350.000 80.000 80.000c 430.000
Bangunan
dan 1.600.000 1.200.000 2.800.000
peralatan
Akumulasi
(800.000) (600.000) 1.400.000
penyusutan
Investasi-
680.000 680.000a
saham deny

diferensial 80.000a 80.000c

39
Total aset 2.200.000 1.000.000 3.200.000

Kewajiban
dan ekuitas

Utang usaha 200.000 200.000 400.000

Utang
400.000 200.000 600.000
obligasi

Saham biasa 1.000.000 400.000 400.000a 1.000.000

Laba
600.000 200.000 200.000a 600.000
ditahan

Total pasiva 2.200.000 1000.000 760.000 760.000 3.200.000

4. Ilustrasi Perlakuan diferensial debet


Asumsikan bahwa alim membeli saham deeny seharga $800.000 pada
tanggal 1 januari 20X1 dengan menerbitkan obligasi dengan tingkat bunga 9% dan
nilai nominal $200.000 serta membayar tunai sebesar $600.000. untuk mencatat
pembelian tersebut, alim melakukannya sebagai berikut:
1 jan 20X1
Investasi-saham deeny 800.000
Utang obligasi 200.000
Kas 600.000
Berikut neraca deeny pada 1 jan 20X1
Nilai buku Nilai wajar Perbedaan nilai wajar dan nilai buku
Kas 100.000 100.000
Piutang usaha 100.000 100.000
Sediaan 120.000 150.000 30.000
Tanah 80.000 200.000 120.000
Bangunan dan 1.200.000 580.000
peralatan

40
Akumulasi
penyusutan (600.000) (20.000)
1.000.000 1.130.000
Utang usaha 200.000 200.000
Utang obligasi 200.000 270.000 (70.000)
Saham biasa 400.000
Laba ditahan 200.000
Total ekuitas
& ekuitas 1.000.000 470.000 60.000
Total harga beli sebesar $800.000 lebih tinggi 200.000 dibandingnilai buku
aktiva bersih deeny (nilai total aktiva dikurangi kwajiban) sehingga terdapat
difernsial sebesar itu. Total nilai wajar dari aktiva bersih dan dapat didentifikasi
adalah $ 660.000. jumlah selisih lebih total harga beli dengan nilai wajar aktiva bersih
adalah $140.000 . jumlah tersebut kemudian dialokasikan ke goodwill dalam neraca
konsolidasi.

Data neraca ayat jurnal eliminasi Konsolidas


Pos
Alim Deeny Debet Kredit i
Kas 100.000 100.000 200.000
Piutang
usaha 150.000 100.000 250.000
c
Sediaan 200.000 120.000 30.000 350.000
Tanah 350.000 80.000 120.000c 550.000
Bangunan
dan
peralatan 1.600.000 1.200.000 20.000c 2.780.000
c
Goodwill 140.000 140.000
Investasi-
sahan deny 800.000 800.000d
Diferensial 200.000d 200.000c
Total
debet 3.200.000 1.600.000 4.270.000
Akumulasi
penyusutan 800.000 600.000 1.400.000
Utang 200.000 200.000 400.000

41
usaha
Utang
obligasi 600.000 200.000 800.000
Premi
utang
obligasi 70.000c 70.000
Saham
biasa 1.000.000 400.000 400.000d 1.000.000
Laba
ditahan 600.000 200.000 200.000d 600.000
Total
kredit 3.200.000 1.600.000 1.090.000 1.090.000 4.270.000

Kepemilikan penuh dibeli dibawah nilai buku


Ada beberapa factor yang bias menyebabkan saham dibeli dibawah nilai buku antara
lain:
Kesalahan pembukuan dari anak perusahaan,yang untuk perlakuan
akuntansinya ama dengan pembelian diatas nilai buku yaitu dibuatkan
koreksi.
Selisih lebih nilai buku dengan nilai wajar aktiva yang dapat
didentifikasi. Jika terjadi seperti ini,standar akuntansi mewajibkan adanya
pengakuan penurunan nilai.
Berkurangnya nilai goodwill, jika ini terjadi, maka goodwill harus
dihapusbuku
Pembelian murah karena goodwill negative. Jika terdapat goodwill
negative, maka goodwill negatif tersebut harus dialokasikan kesemua aktiva
yang diakuisisi kecuali kas dan setara kas.

Nilai buku Nilai wajar Perbedaan nilai


wajar dan nilai
buku
Kas 100.000 100.000

42
Piutang usaha 100.000 100.000
Sediaan 120.000 120.000
Tanah 80.000 90.000 10.000
Bangunan dan
peralatan 1.200.000
Akumulasi
penyusutan (600.000) 560.000 (40.000)
1.000.000 970.000
Utang usaha 200.000 200.000
Utang obligasi 200.000 200.000
Saham biasa 400.000
Laba ditahan 200.000
Total ekuitas &
ekuitas 1.000.000 970.000 (30.000)

2.3 INVESTASI PERUSAHAAN ASOSIASI

2.3.1 Pengertian Investasi Perusahaan Asosiasi

Perusahaan asosiasi sebagai suatu perusahaan yang investornya mempunyai


pengaruh yang signifikan (memiliki wewenang untuk berpartisipasi dalam keputusan
yang menyangkut kebijakan keuangan serta operasi investee, tetapi bukan merupakan
pengendalian terhadap kebijakan tersebut) dan bukan merupakan anak
perusahaan maupun joint venture dari investornya.

Sedangkan anak perusahaan (subsidiary) didefinisikan sebagai


perusahaan yang dikendalikan oleh perusahaan lain (yang disebut induk
perusahaan). Jika investor memiliki, baik langsung maupun tidak langsung melalui
anak perusahaan, 20 % atau lebih dari hak suara pada perusahaan investee, maka
dipandang mempunyai pengaruh signifikan. Sebaliknya, jika investor memiliki,
baik langsung maupun tidak langsung melalui anak perusahaan, kurang dari
20 % hak suara, maka dianggap tidak memiliki pengaruh signifikan. Kepemilikan
substansial atau mayoritas oleh investor lain tidak perlu menghalangi investor
memiliki pengaruh signifikan. Apabila investor mempunyai pengaruh yang signifikan,
maka investasi pada investee dicatat dengan menggunakan metode ekuitas.

43
Sebaliknya, apabila investor tidak mempunyai pengaruh yang signifikan, maka
investasi dicatat dengan menggunakan metode biaya.

Jadi, jika penyertaan saham perusahaan pada perusahaan asosiasi kurang dari
20 %, maka penyertaan saham perusahaan dibukukan dengan metode biaya.

2.3.2 Pengaruh Signifikan

Istilah "perusahaan asosiasi" digunakan untuk menggambarkan


suatu perusahaan dimana investor mempunyai pengaruh signifikan. Jika investor
memiliki, baik langsung maupun tidak langsung melalui anak perusahaan,
20% atau lebih dari hak suara pada perusahaan investee, maka investor
dipandang mempunyai pengaruh signifikan. Sebaliknya, jika investor memiliki,
baik langsung maupun tidak langsung melalui anak perusahaan, kurang dari
20% hak suara, dianggap investor tidak memiliki pengaruh signifikan.
Kepemilikan substansial atau mayoritas oleh investor lain tidak perlu
menghalangi investor memiliki pengaruh signifikan. Apabila investor
mempunyai pengaruh yang signifikan maka investasi pada investee dicatat
dengan menggunakan metode ekuitas. Sebaliknya apabila investor tidak
mempunyai pengaruh yang signifikan maka investasi dicatat dengan
menggunakan metode biaya.

2.3.2 Metode Akuntansi

Metode Ekuitas

Menurut metode ekuitas, investasi pada awalnya dicatat sebesar biaya


perolehan dan nilai tercatat ditambahkan atau dikurangi untuk mengakui
bagian investor atas laba atau rugi investee setelah tanggal perolehan.
Distribusi laba (kecuali dividen saham) yang diterima dari investee
mengurangi nilai tercatat (carrying amount) investasi. Penyesuaian terhadap nilai
tercatat tersebut juga diperlukan untuk mengubah hak kepemilikan
proporsional investor pada investee yang timbul dari perubahan dalam ekuitas
investee yang belum diperhitungkan ke dalam laporan laba rugi. Perubahan

44
semacam itu meliputi perubahan yang timbul sebagai akibat dari revaluasi aktiva
tetap, perbedaan dalam penjabaran valuta asing, dan dari penyesuaian selisih
yang timbul dari penggabungan usaha.

Metode Biaya

Menurut metode biaya, investor mencatat investasinya pada


perusahaan investee sebesar biaya perolehan. Investor menyakui penghasilan
hanya sebatas distribusi laba (kecuali dividen saham) yang diterima yang
berasal dari laba bersih yang diakumulasikan oleh investee setelah tanggal
perolehan. Penerimaan dividen yang melebihi laba tersebut dipandang
sebagai pemulihan investasi dan dicatat sebagai pengurangan terhadap biaya
investasi sesuai Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No. 13 tentang Akuntansi
untuk Investasi.

2.3.3 Pilihan Metode Akuntansi dalam Laporan Keuangan Konsolidasi

Pengakuan penghasilan berdasarkan dividen yang diterima tidak dapat


digunakan sebagai ukuran yang memadai untuk merefleksikan penghasilan
yang diperoleh investor dari investasi dalam suatu perusahaan asosiasi karena
distribusi yang diterima tersebut hampir tidak ada hubungannya dengan kinerja
perusahaan asosiasi. Mengingat pengaruhnya yang signifikan terhadap perusahaan
asosiasi, investor memiliki tolok ukur atas kinerja perusahaan asosiasi, yaitu
imbalan investasi (return on investment). Investor melaksanakan tanggungjawab
ini dengan memperluas lingkup laporan keuangan konsolidasi sehingga
mencakup bagiannya atas hasil usaha perusahaan asosiasi dan dengan demikian
menyediakan analisis terhadap penghasilan serta investasi sehingga rasio yang
lebih relevan dapat dihitung. Dengan demikian, penerapan metode
ekuitas memungkinkan pelaporan aktiva bersih dan penghasilan bersih
oleh investor dengan lebih informatif.

Investasi di perusahaan asosiasi dipertanggungjawabkan dengan


menggunakan metode biaya jika perusahaan asosiasi beroperasi dengan

45
pembatasan yang ketat dalam jangka panjang sehingga secara signifikan
mempengaruhi kemampuannya untuk mengalihkan dana kepada investor.
Investasi di perusahaan asosiasi juga dipertanggung jawabkan dengan
menggunakan metode biaya jika investasi diperoleh dan dimiliki secara khusus
dengan tujuan untuk dijual dalam jangka pendek. Investor menghentikan
penggunaan metode ekuitas sejak tanggal dimana:

a) investor tidak lagi memiliki pengaruh signifikan dalam perusahaan


asosiasi tetapi menahan, seluruh atau sebagian, investasinya; atau

b) penggunaan metode ekuitas tidak lagi sesuai karena beberapa alasan

3.5 Penerapan Metode Ekuitas

Terdapat beberapa prosedur dalam penerapan metode ekuitas yang tidak


berbeda dengan prosedur konsolidasi sebagaimana dijelaskan dalam
Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No. 4 tentang Laporan Keuangan
Konsolidasi. Selanjutnya, konsep yang mendasari prosedur konsolidasi yang
digunakan dalam perolehan anak perusahaan digunakan dalam perolehan investasi
dalam perusahaan asosiasi.

Investasi dalam perusahaan asosiasi dipertanggungjawabkan dengan metode


ekuitas sejak tanggal pada saat investasi tersebut memenuhi definisi
perusahaan asosiasi. Selisih (baik positif maupun negatif) antara biaya perolehan
(acquisition cost) dengan bagian investor atas nilai wajar aktiva neto yang dapat
diidentifikasi (net identificable asset) pada tanggal akuisisi harus
dipertanggungjawabkan sesuai dengan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan
No. 22 tentang Akuntansi Penggabungan Usaha.Penyesuaian yang diperlukan
terhadap bagian investor atas laba rugi setelah akuisisi harus dilakukan untuk hal-hal
berikut:

a) Penyusutan aktiva tetap berdasarkan nilai wajarnya.

46
b) Amortisasi atas selisih antara biaya perolehan dan bagian investor atas nilai
wajar aktiva neto yang dapat diidentifikasi (investor's share of the fair value of
net identifiable assets).

Laporan keuangan perusahaan asosiasl yang paling akhir digunakan oleh


investor dalam penerapan metode ekuitas; laporan tersebut biasanya disajikan
pada tanggal yang sama dengan laporan keuangan investor. Jika tanggal
pelaporan tersebut berbeda, perusahaan asosiasi sering menyajikan, untuk
digunakan oleh investor, laporan pada tanggal yang sama dengan laporan keuangan
investor. Jika penyamaan tanggal tidak mungkin dilakukan, dapat digunakan
laporan keuangan yang disusun pada tanggal pelaporan yang berbeda,
akan tetapi prinsip konsistensi mempersyaratkan bahwa jangka waktu
penggunaan tanggal tersebut konsisten dari periode ke periode.

Jika digunakan laporan keuangan dengan tanggal pelaporan yang


berbeda, penyesuaian dilakukan terhadap dampak dari setiap transaksi atau peristiwa
signifikan yang terjadi antara investor dan perusahaan asosiasi antara tanggal
laporan keuangan perusahaan asosiasi dan tanggal laporan keuangan investor.

Laporan keuangan investor lazimnya disusun dengan


menggunakan kebijakan akuntansi untuk transaksi dan peristiwa yang sama dalam
keadaan yang serupa. Apabila perusahaan asosiasi menggunakan kebijakan
akuntansi yang lain daripada yang digunakan investor untuk transaksi dan
peristiwa yang sama, maka penyesuaian tertentu dilakukan terhadap laporan
keuangan perusahaan asosiasi apabila laporan tersebut digunakan oleh
investor dalam penerapan metode ekuitas. Jika penyesuaian semacam itu tidak dapat
dilakukan, fakta adanya perbedaan tersebut harus diungkapkan.

Jika perusahaan asosiasi memiliki saham preferen kumulatif yang dimiliki


oleh pihak luar, investor menghitung bagiannya atas laba atau rugi setelah
penyesuaian untuk dividen saham prioritas dengan mengabaikan apakah
dividen tersebut telah atau belum dideklarasikan.Jika, berdasarkan metode

47
ekuitas, bagian investor atas kerugian perusahaan asosiasi sama atau melebihi nilai
tercatat dari investasi, maka investasi dilaporkan nihil. Kerugian selanjutnya
diakru oleh investor apabila telah timbul kewajiban atau investor
melakukan pembayaran kewajiban perusahaan asosiasi yang dijaminnya.

Jika perusahaan asosiasi selanjutnya laba, investor akan mengakui


penghasilan apabila setelah bagiannya atas laba menyamai bagiannya atas kerugian
bersih yang belum diakui. Jika terjadi penurunan permanen atas nilai investasi dalam
perusahaan asosiasi, nilai tercatat dikurangkan untuk mengakui pentrunan tersebut.
Karena investasi pada perusahaan asosiasi secara individual penting bagi
investor, maka nilai tercatat ditentukan untuk setiap perusahaan asosiasi secara
individual.

2.4 SPECIAL PUPURPOSE ENTITY (SPE)

Special Purpose Entity (SPE) adalah suatu entitas yang dibentuk oleh
perusahaan sponsor/perusahaan induk untuk suatu tujuan tertentu (khusus,
sempit, dan temporary), misalnya untuk membagi atau menghilangkan resiko
finansial. SPV ini merupakan salah satu bentuk off-balance-sheet-financing. Pada
dasarnya, off-balance-sheet entity ini diciptakan oleh suatu pihak (transferor atau
sponsor) yang mentransfer asset ke pihak lain (SPV) untuk melaksanakan aktivitas
bisnis maupun transaksi bisnis tertentu.

2.4.1 Tujuan SPE :

Mendanai aset tertentu atau layanan tertentu dan tetap membuat hutang
perusahaan induk (sponsor) off-balance-sheet.

Mengubah aset finansial tertentu, seperti hutang dagang, pinjaman, atau hipotek
ke dalam bentuk liquid.

Mengurangi besarnya pajak

48
2.4.2 Karakteristik SPE :

Memiliki modal yang terbatas

Biasanya tidak memiliki manajemen yang independen

Fungsi administratifnya sering dijalankan oleh suatu trustee yang


menerima dan mendistribusikan kas sesuai dengan persyaratan kontrak,
sekaligus bertindak sebagai perantara SPV dengan pihak yang membentuk
SPV.

Jika SPV memegang aset, maka salah satu pihak akan memberikan jasa tertentu
sesuai perjanjian.

2.4.3 Alasan pembentukan SPE :

Sekuritisasi

Risk sharing

Keuntungan kompetitif

Financial enginering

Regulatory reasons

2.4.4 Standar akuntansi yang berhubungan:

Accounting Research Bulletin (ARB) 51, Consolidated Financial Statement

SFAS 125 Accounting for Transfer and Servicing of Financial


Assets and Extinguishment of Liabilities

FASB Interpretation 46 (R)

SIC-12

PSAK No 4 Tahun 2002

49
BAB III
PENUTUP

3.1. KESIMPULAN
Penggabungan usaha dilakukan untuk tujuan tertentu dari dua perusahaan atau
lebih menjadi unit-unit tunggal yang lebih besar. penggabungan usaha dapat
dilakukan dalam banyak bentuk yang berbeda. Akuntansi untuk penggabungan usaha
terdiri dari dua metode,antara lain metode penyatuan kepemilikan (pooling of
interest) dan metode pembelian (Purchase Method) dimana kedua-duanya masih
dipakai di Indonesia.
Metode pembelian merupakan suatu metode penggabungan usaha dimana
berupa transaksi yang salah satu entitas memperoleh aktiva bersih dari perusahaan-
perusahaan lain yang bergabung.Berdasarkan metode ini perusahaan yang
memperoleh atau membeli mencatat aktiva yang diterima dan kewajiban yang
ditanggung sebesar nilai wajarnya.
Secara umum,metode pembelian mengikuti prinsip akuntansi yang sama
dalam pencatatan penggabungan usaha yang diikuti dalam akuntansi untuk aktiva-
aktiva dan kewajiban-kewajiban berdasarkan prinsip akuntansi yang berlaku secara
umum.
Ada tiga kelompok biaya yang dikeluarkan pada saat penggabungan usaha
dilakukan yaitu biaya langsung yang berhubungan dengan penerbitan saham,biaya
langsung yang tidak berhubungan dengan penerbitan saham dan biaya tidak langsung
seperti gaji manajemen.
Ada beberapa ketentuan atau poin penting dari metode pembelian, diantaranya
: (a) Apabila penggabungan dianggap sebagai pembelian aktiva harus dicatat sebesar
harga pokoknya bagi pembeli sehingga jumlahnya tidak perlu sama dengan nilai yang

50
perlu dilaporkan pada buku penjual, (b) Ketika transaksi pembelian berlangsung ,kita
perlu menyesuaikan atau menentukan nilai aktiva dan kewajiban milik perusahaan
yang akan digabung sebesar nilai wajarnya pada saat itu, (c) Jika pengakuisisi
mengeluarkan saham, maka nilai wajar saham tersebut sebesar harga pasar pada
tanggal transaksi penggabungan.perusahaan pengakuisisi, (d) Apabila terjadi selisih
antara nilai investasi dengan aktiva bersih yang diterima perusahaan pengakuisisi,
maka selisih tersebut dicatat ke dalam rekening goodwill pada kelompok aktiva dan
Jika harga beli lebih rendah dari jumlah aktiva bersih yang dapat diidentifikasi selisih
tersebut sebagai goodwill negative dan memasukkan saldonya bersama-sama dengan
ekuitas pada neraca.
Dapat disimpulkan bahwa konsolidasi adalah perbuatan hukum yang
dilakukan oleh dua perseroan terbatas atau lebih, untuk meleburkan diri dengan cara
mendirikan satu perseroan tebatas yang baru yang karena hukum memperoleh akitva
dan pasiva dari perseroan terbatas yang meleburkan diri dan status badan hukum
perseroan tebatas yang meleburkan diri berakhir karena hukum.
3.2. SARAN
Indonesia sebaiknya sudah tidak lagi menggunakan metode penyatuan
kepemilikan, karena dianggap kurang relevan dan mengabaikan nilai ekonomis yang
ditukar dalam transaksi. Negara maju telah melarang metode penyatuan kepentingan
ini, dan lebih memilih menggunakan metode pembelian. Namun, di Indonesia kedua
metode ini masih digunakan.

51
DAFTAR PUSTAKA

anamsyaifulnews.blogspot.com 31 Oktober 2016

Putra, L. D. (2008, Mei 14). LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI. Retrieved Oktober


26, 2012, from ACCOUNTING, FINANCE & TAXATION: http://putra-finance-
accounting-taxation.blogspot.com
Putra, W. M. (2011). Modul Akuntansi Keuangan Lanjutan 2. Yogyakarta.

52