Anda di halaman 1dari 4

APLIKASI IMUNOLOGI DIBIDANG KEFARMASIAN

Imunologi merupakan ilmu dasar yang berkaitan dengan bagaimana cara atau mekanisme dan
kemampuan tubuh makhluk hidup dalam upaya mempertahankan terhadap serangan suatu
penyakit atau infeksi. Imunologi memiliki peran yang penting dalam kehidupan karena sistem
imun atau pertahanan tubuh menjadi pertahanan tubuh agar terhindar dari infeksi penyakit.
Imunologi memiliki beberapa peran dalam bidang kefarmasian sebagai imunoterapi, produksi
vaksin dan antibodi, produksi kit reagen, serta keperluan diagnostik. Aplikasi imunologi sebagai
imunoterapi berperan sebagai terapi dalam pengobatan sistem imun. Imunoterapi dalam
kefarmasian seperti imunomodulator yaitu berperan dalam mempengaruhi atau mengatur fungsi
sistem imun terhadap reaksi biologis tubuh. Fungsi sietem imun ini dapat dipacu atau distimulasi
yang biasa disebut imunostimulan maupun ditekan atau disupresi yang biasa disebut
imunosupresan. Pada kasus penyakit tertentu seperti penderita AIDS dan kanker, dimana
memiliki penurunan pertahanan tubuh yang diagnos sehingga rentan sekali terinfeksi yang dapat
menyebabkan kematian akibat infeksi yang parah dikarenakan kondisi sistem imun tubuh yang
lemah sehingga tidak mampu untuk melawan agen infeksi. Imunostimulator secara tidak
langsung disini berperan dalam meningkatkan dan mereaktivasi sistem imun yang rendah dengan
cara meningkatkan respon imun tak spesifik yaitu stimulasi perbanyakan limfo T4, NK cell, dan
makrofag serta pelepasan interleukin dan interferon sehingga akan membentuk reaksi kompleks
fagositosis dimana zat asing ( agen infeksius) dikenali sebagai agen yang harus dimusnahkan.
Contoh imunostimulator yang sekarang digunakan adalah vaksin BCG ( Bacillus Calmette-
Guerin ) sebagai imunostimulator tak- spesifik umum dan imunomodulator spesifik terhadap
penyakit lepra dan TBC serta sebgai antitumor; Interferon alfa, beta, gama yang merupakan
limfokin alamiah umumnya sebagai reaksi terhadap infeksi yang disebabkan virus; Interleukin
yang merupakan glikoprotein yang menstimulasi aktivitas sel-T, NK-cell, limfosit lain, dan
induksi produksi pelepasan sitokin lain akhirnya system imun dapat diaktivasi dan sel tumor
dihancurkan; Levamisol umumnya dikenal sebagai obat cacing, tapi pada dosis tertentu dapat
menstimulasi sistem imun seluler atau mensupresi sistem imun, bermanfaat pada terapi kanker
dengan sitostatika dan diagnosen. Contoh imunostimulator pada terapi komplementer
( diagnosen ) adalah Echinacea yang dapat menstimulasi sistem tangkis spesifik, dan
bioflavonoida quercetin dan genistein yang memberikan efek antitumor dan antioksidan kuat.
Efek imunostimulan ekstrak etanol kelopak bunga Rosella juga dilaporkan pada penelitian yang
dilakukan oleh Dita wulandari dkk dalam Jurnal Farmasi Indonesia vol 7 no 1 Januari 2014.
Ekstrak etanol kelopak bunga rosella mampu meningkatkan respon imun pada konsentrasi
rendah sehingga disimpulkan berpotensi sebagai imunostimulan. Imunosupresan dapat menekan
aktivitas imun dengan cara menghambat transkripsi sitokin yang dapat memutuskan siklus
sehingga respon-imun diperlemah. Contohnya diberikan kortikosteroid berkaitan dengan
antiradang nyapada respon imun dijaringan , azatioprin, siklosporin yang dapat menghambat
secara spesifik respon imun seluler , calcineurinblocker yang merupakan kombinasi siklosporin
dan tacrolimus ini dimanfaatkan untuk mencegah reaksi penolakan tubuh setelah transplantasi
organ. Untuk menekan aktivitas penyakit autoimun seperti rematik dan radang usus dengan
diberikan sulfasazalin dan sitostatika (merkaptopurin dan azatioprin. Pengguanaan sediaan enzim
sebagai terapi komplementer imunosupresan dengan sediaan enzim papain 100 mg, bromelain 60
mg, dan pancreatin 100 mg untuk menghancurkan auto-antibodies dan kompleks-imun sehingga
dapat menghentikan serangan terhadap organ sendiri. Autoantibodies secara normal dibuat oleh
sistem imun dan diinaktifkan oleh makrofag dan limfo-T, kelebihan produksi antibodies ini dapat
menimbulkan peradangan dan merusak jaringan seperti pada kasus rema, Diabetes Mellitus tipe
1( pada orang muda) Multiple sclerosis, dan radang tiroid. Aplikasi lain yaitu produksi vaksin
yang ditujukan merangsang imunitas seluler yang dapat bereaksi langsung dengan antigen
maupun imunitas humoral yang akan memproduksi antibodies tertentu yang khusus diarahkan
terhadap antigen tertentu sehingga dapat melindungi tubuh terhadap antigen atau mikroba yang
membawanya. Vaksin digunakan sebagai upaya preventif dalam dunia kesehatan terhadap suatu
infeksi hebat seperti cacar, polio, rabies dan tetanus araupun pada kasus tertentu digunakn untuk
pengobatan penyakit menahun seperti stafilokok atau gonokok. Penggolongan vaksin
berdasarkan jenis mikroba terdiri atas vaksin bacterial berasal dari bakteri yang dilemahkan,
polisakarida dari kapsel bakteri, atau fragmen yang bersifat antigen; vaksin viral dari virus atau
fragmen virus yang dilemahkan; vaksin parasiter terdiri dari suatu protein yang terdapat
dipermukaan sporozoit seperti vaksin malaria dari Plasmodium falciparum. Produksi vaksin
dilakukan dengan cara beragam yaitu passage telur atau kultur sel jaringan; menggunakan stock-
vaccine mikroba yang ada di laboratorium atau auto-vaccine yang dipisahkan dari tubuh
penderita sendiri. Produksi vaksin dengan cara khusus dimana menggunakan teknik rekayasa
genetic melalui teknik DNA rekombinan sehingga dapat dibuat antigen dari bakteri dan virus
secara masal. Beberapa contoh vaksin yang disebutkan sebelumnya adalah merupakan vaksin
aktif yang ditujukan untuk imunisasi aktif sehingga diharapkan bertahan dalam jangka waktu
panjang, selain itu terdapat vaksin pasif untuk imunisasi pasif yang imunitasnya bertahan agak
singkat tergantung waktu paruh antibodies yang digunakan. Contoh penggunaan vaksin pasif
adalah dengan menggunakan sera dari darah hewan yang mengandung antibodies spesifik
(immunoglobulin) kadar tinggi dimana hewan yang telah di imunisasi aktif sehingga terbentuk
antibodies terhadap antigen, lalu darah hewan di ekstraksi dan dipurifikasi dibuat serum,
terkadang menimbulkan reaksi hipersensitivitas pada manusia karena mengandung sisa protein
hewan. Vaksin pasif diberikan pada saat sudah terjadi infeksi dikombinasi dengan vaksin aktif
sehingga bekerja lebih kuat dan lebih lama, misalnya pada kasus infeksi rabies yang diberikan
immunoglobulin rabies sebagai imunisasi pasif sekaligus vaksin rabies sebagai imunisasi aktif.
Produksi antibodies monoklonal adalah suatu teknik rekayasa genetik dimana antibodies ini
hanya aktif terhadap antigen spesifik yang dibuat dengan teknik rekombinan DNA menggunakan
sel hewani lazimnya menggunakan tikus. Produksi kit reagen adalah salah satu aplikasi
imunologi. Penelitian oleh Sutari dkk tahun 2013 dalam Optimasi Pembuatan Coated Tube
Human Serum Albumin (HAS) untuk Kit Radioimmunoassay (RIA) Mikroalbuminuria, dimana
RIA ini merupakan metode spesifik dan peka untuk mengevaluasi penyakit metabolik seperti
Diabetes Melitus sehingga dilakukan pengembangan teknologi Kit RIA mikroalbuminuria
dengan metode coated tube dan dihasilkan bahwa pelarut larutan dapar karbonat bikarbonat 0,05
M pH 9,6 memberikan hasil yang optimum sebagai pelarut Pab- HAS (poliklonal antibody) pada
titer 1:3000 serta memenuhi persyaratan Kit RIA untuk assay. Aplikasi lainnya dibidang
imunologi adalah untuk diagnostik sebagai metode pemeriksaan untuk mencegah penyakit
infeksi berdasarkan reaksi antara suatu antibodi dengan antigen yang bersangkutan. Ini dilakukan
dengan suntikan intrakutan atau goresan diatas kulit dengan suatu antigen kadar terendah yang
bisa menimbulkan reaksi. Reaksi positif ditandai timbulnya benjolan diatas kulit yang
menandakan sudah mengandung antibodies tertentu dan reaksi negatif yang tidak terjadi reaksi
apapun sehingga menandakan belum terbentuknya antibodi dan perlu diberikan vaksin untuk
perlindungan. Keperluan diagnostic lainnya adalah reaksi tuberkulin pada pasien TBC pada
Mantoux skin test dan Pirquets scarification test. Reaksi lainnya adalah adalah diagnosa
penyakit difteri dengan menggunakan larutan encer toksin difteri ( Toxinum diphtericum
diagnosticum ).
Daftar Pustaka
1. Tjay, Tan Hoan dan Kirana Rahardja, 2007, Obat-Obat Penting edisi ke enam, PT. Elex Media
Komputindo, Jakarta
2. Wulandari, Dita. Putri Ratna Puri Ratna Kurnia W. dan Nurkhasanah, 2014, Efek
Imunostimulan Ekstrak Etanol Kelopak Bunga
Rosella, Jurnal Farmasi Indonesia, Vol.7 No.1
3. Sutari, V.Yulianti S, Triningsih, Gina Mondrida, Agus Ariyanto, Sri Setiyowati, Puji Widayati
dan Wening Lestari, 2013,
Optimasi Pembuatan Coated Tube Human Serum Albumin (HAS) untuk Kit Radioimmunoassay
(RIA) Mikroalbuminuria, Jurnal STTN-BATAN ISSN 1978-0176