Anda di halaman 1dari 22

Hadits

Keimanan

Disusun Oleh:
Isnania Eliza Putri (14221049)

Dosen Pengampu :
Drs. H. Jumhur, M.A

PROGRAM STUDI MATEMATIKA


FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI RADEN FATAH
PALEMBANG
2017
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Dalam agama Islam memiliki empat tingkatan yaitu iman, Islam, ihsan dan
hari kiamat. Tiap-tiap tingkatan memiliki rukun-rukun yang membangunnya.
Berdasarkan sebuah hadits yang terkenal, keempat istilah itu memberi umat Islam
ide tentang Rukun Iman yang memiliki enam rukun, Rukun Islam yang memiliki
lima rukun dan ajaran tentang penghayatan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
Iman adalah sebuah pengakuan dalam hati, sikap percaya pada masing-
masing rukun iman. Keimanan dalam Islam itu sendiri adalah percaya kepada
Allah, malaikat-malaikatNya, kitab-kitabNya, Rasul-rasulNya, hari akhir dan
beriman kepada takdir baik dan buruk. Iman mencakup perbuatan, ucapan hati dan
lisan, amal hati dan amal lisan serta amal anggota tubuh. Iman bertambah dengan
ketaatan dan berkurang karena kemaksiatan.
Sebagai manusia yang yang hidup,serta dalam menjalani kehidupan manusia
itu sendiri tidak terlepas dari berbagai aspek yang menyelimuti dan
mempengaruhi kehidupannya,seperti adanya penyakit hati yang tumbuh dalam
diri dan jiwa seorang ummat bahkan seorang dai,kyai sekalipun .kita sebagai
makhluk sosial terkadang tanpa disadari penyakit hati seperti ini yang lebih
dominan dalam kehidupan bermasyarakat.

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana hubungan antara iman, Islam, ihsan, dan hari kiamat?
2. Apakah berkurangnya iman dan Islam di sebabkan karena maksiat?
3. Apakah rasa malu sebagai bagian dari iman?

BAB II
PEMBAHASAN

A. HUBUNGAN IMAN, ISLAM, IHSAN, DAN HARI KIAMAT

























{

}






) (




1. Artinya :

(BUKHARI - )48 : Telah menceritakan kepada kami


Musaddad berkata, Telah menceritakan kepada kami Isma'il
bin Ibrahim telah mengabarkan kepada kami Abu Hayyan
At Taimi dari Abu Zur'ah dari Abu Hurairah berkata; bahwa
Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pada suatu hari muncul
kepada para sahabat, lalu datang Malaikat Jibril 'Alaihis
Salam yang kemudian bertanya: "Apakah iman itu?" Nabi
shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: "Iman adalah kamu
beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-
Nya, pertemuan dengan-Nya, Rasul-Rasul-Nya, dan kamu
beriman kepada hari berbangkit". (Jibril 'Alaihis salam)
berkata: "Apakah Islam itu?" Jawab Nabi shallallahu 'alaihi
wasallam: "Islam adalah kamu menyembah Allah dan tidak
menyekutukannya dengan suatu apapun, kamu dirikan
shalat, kamu tunaikan zakat yang diwajibkan, dan
berpuasa di bulan Ramadlan". (Jibril 'Alaihis salam) berkata:
"Apakah ihsan itu?" Nabi shallallahu 'alaihi wasallam
menjawab: "Kamu menyembah Allah seolah-olah melihat-
Nya dan bila kamu tidak melihat-Nya sesungguhnya Dia
melihatmu". (Jibril 'Alaihis salam) berkata lagi: "Kapan
terjadinya hari kiamat?" Nabi shallallahu 'alaihi wasallam
menjawab: "Yang ditanya tentang itu tidak lebih tahu dari
yang bertanya. Tapi aku akan terangkan tanda-tandanya;
(yaitu); jika seorang budak telah melahirkan tuannya, jika
para penggembala unta yang berkulit hitam berlomba-
lomba membangun gedung-gedung selama lima masa,
yang tidak diketahui lamanya kecuali oleh Allah". Kemudian
Nabi shallallahu 'alaihi wasallam membaca: "Sesungguhnya
hanya pada Allah pengetahuan tentang hari kiamat" (QS.
Luqman: 34). Setelah itu Jibril 'Alaihis salam pergi,
kemudian Nabi shallallahu 'alaihi wasallam berkata;
"hadapkan dia ke sini." Tetapi para sahabat tidak melihat
sesuatupun, maka Nabi bersabda; "Dia adalah Malaikat
Jibril datang kepada manusia untuk mengajarkan agama
mereka." Abu Abdullah berkata: "Semua hal yang
diterangkan Beliau shallallahu 'alaihi wasallam dijadikan
sebagai iman.1

2. Penjelasan Singkat
Hadis di atas mengetengahkan 4 (empat) masalah pokok yang saling
berkaitan satu sama lain, yaitu iman, Islam, ihsan, dan hari kiamat.
Pernyataan Nabi saw. di penghujung hadis di atas bahwa itu adalah
Malaikat Jibril datang mengajarkan agama kepada manusia
mengisyaratkan bahwa keempat masalah yang disampaikan oleh malaikat
Jibril dalam hadis di atas terangkum dalam istilah ad-din (baca: agama
Islam). Hal ini menunjukkan bahwa keberagamaan seseorang baru
dikatakan benar jika dibangun di atas pondasi Islam dengan segala
kriterianya, disemangati oleh iman, segala aktifitas dijalankan atas dasar
ihsan, dan orientasi akhir segala aktifitas adalah ukhrawi. Atas dasar
tersebut di atas, maka seseorang yang hanya menganut Islam sebagai
agama belumlah cukup tanpa dibarengi dengan iman. Sebaliknya, iman
tidaklah berarti apa-apa jika tidak didasari dengan Islam. Selanjutnya,
kebermaknaan Islam dan iman akan mencapai kesempurnaan jika
dibarengi dengan ihsan, sebab ihsan mengandung konsep keikhlasan tanpa
pamrih dalam ibadah. Keterkaitan antara ketiga konsep di atas (Islam,
iman, dan ihsan) dengan hari kiamat karena karena hari kiamat merupakan
terminal tujuan dari segala perjalanan manusia tempat menerima ganjaran
dari segala aktifitas manusia yang kepastaian kedatangannya menjadi
rahasia Allah swt. Berikut ini akan dibahas lebih rinci tentang iman, Islam,
ihsan, dan hari kiamat.

a) Iman
Pengertian dasar dari istilah iman ialah memberi ketenangan hati
atau pembenaran hati.2 Jadi makna iman secara umum mengandung
pengertian pembenaran hati yang dapat menggerakkan anggota badan

1 AL BAYAN. Shahih Bukhari Muslim. hadis no. 48, Bab Hubungan


Iman, Islam, Ihsan dan Hari Kiamat dalam Kitab 9 Imam CD kutub al-
Tisah.(Jabal : Bone Pustaka) hlm. 48
memenuhi segala konsekuensi dari apa yang dibenarkan oleh hati. Iman
sering juga dikenal dengan istilah aqidah, yang berarti ikatan, yaitu ikatan
hati. Bahwa seseorang yang beriman mengikatkan hati dan perasaannya
dengan sesuatu kepercayaan yang tidak lagi ditukarnya dengan
kepercayaan lain. Aqidah tersebut akan menjadi pegangan dan pedoman
hidup, mendarah daging dalam diri yang tidak dapat dipisahkan lagi dari
diri seorang mukmin. Bahkan seorang mukmin sanggup berkorban
segalanya, harta dan bahkan jiwa demi mempertahankan aqidahnya.
Adapun pengertian iman secara khusus sebagaimana yang tertera
dalam hadis di atas ialah keyakinan tentang adanya Allah SWT, malaikat-
malaikat-Nya, kitab-kitab yang diturunkan-Nya, Rasul-rasul utusan-Nya,
dan yakin tentang kebenaran adanya hari kebangkitan dari alam kubur.
Dalam hadis lain, yang senada dengan hadis di atas yang diriwayatkan
oleh Kahmas dan Sulaiman al-Tamimi, selain menyebutkan kelima hal di
atas sebagai kriteria iman, terdapat tambahan satu kriteria yaitu: beriman
kepada qadha dan qadar Allah, yang baik maupun yang buruk.3
Berdasarkan kedua redaksi hadis tersebut selanjutnya oleh sebagian
besar ulama dirumuskan bahwa jumlah rukun iman adalah enam, yang
meliputi:4
1) Keyakinan tentang adanya Allah swt.
2) Keyakinan terhadap malaikat-malaikat Allah swt.
3) Keyakinan tentang kebenaran kitab-kitab yang diturunkan-Nya.
4) Keyakinan tentang kebenaran rasul-rasul utusan-Nya.
5) Keyakinan tentang kebenaran adanya hari kebangkitan dari alam kubur.
6) Keyakinan kepada qadha dan qadar Allah, yang baik maupun yang

2H. Masjefuk Judbi. Studi Islam Jilid 1 Akidah. (Bandung : Adiatama, 2007).hlm.
25

3 Hadis tersebut diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam kitab al-Iman,


Abu Dawud dalam kitab awwal kitab al-sunnah, dan Imam dalam
Musnad Umar bin al-Khattab.

4 Muhammad. Pendidikan Agama Islam Untuk Perguruan Tinggi.


(Bandung : Pustaka Media, 2009). hlm.13.
buruk.
Karna keenam hal tersebut sebagaimana dijelaskan mempunyai
korelasi yang demikian besar, maka bila menafikan salah satu unsur dari
keenam itu akan menyebabkan kepincangan dalam iman, dan bahkan pula
akan menyebabkan keingkaran kepada Tuhan. Keingkaran kepada hari
kiamat umpamanya berarti pula keingkaran kepada Allah SWT yang
sekaligus ingkar kepada rasul yang menyampaikan berita tersebut,
termasuk kepada malaikat yang menyampaikan wahyu kepada para rasul,
dan percaya kepada kitab-kitab yang merupakan risalah para rasul itu.

b) Islam
Islam berasal dari akar kata kerja aslama secara harfiyah berarti
kepatuhan atau tindakan penyerahan diri seseorang sepenuhnya kepada
kehendak orang lain.
Islam adalah kepatuhan menjalankan perintah Allah dengan segala
keikhlasan dan kesungguhan hati. Hal itu sesuai dengan arti kata Islam,
yakni penyerahan. Seorang muslim harus menyerahkan dirinya kepada
Allah secara total karena memang manusia diciptakan Allah untuk
mengabdi kepada-Nya.
Intisari Islam sebagai agama adalah keterikatan dan ketundukan pada
Allah swt. yang mempunyai kekuatan-kekuatan yang lebih tinggi dari
manusia dan bersifat gaib yang dapat ditangkap oleh indera tetapi bisa
dirasakan dan diyakini akan adanya. Tauhid (pengesaan Allah) merupakan
seruan pertama dan terakhir dari Islam. Ia adalah suatu kepercayaan
kepada Tuhan yang Maha Esa (faith in the unity of God).
Atas dasar itulah sehingga Rasulullah saw. dalam hadis di atas
menjadikan tauhid (penyembahan hanya kepada Allah semata) sebagai
pilar utama dalam keislaman seorang, selanjutnya disusul dengan
kewajiban-kewajiban yang lain, yaitu mendirikan shalat, menunaikan
zakat yang difardhukan, berpuasa di bulan Ramadhan. Dalam hadis lain
ditambahkan satu kewajiban lagi, yakni menunaikan ibadah haji bagi yang
mampu, sebagaimana dinyatakan dalam hadis berikut:











)

.)
Artinya:
Abdullah ibn Musa telah menceritakan kepada kami, ia berkata bahwa
Hanzhalah ibn Abi Sufyan telah memberitakan kepada kami, dari Ikrimah
ibn Khalid, dari ibn Umar r.a berkata: Rasulullah saw. telah bersabda:
Islam didirikan atas lima perkara, yakni bersaksi bahwa tiada Tuhan
selain Allah swt, dan Muhammad adalah utusan-Nya, mendirikan shalat,
menunaikan zakat, melaksanakan ibadah haji (ke Baitullah), dan berpuasa
dibulan Ramadhan. (H.R. Al-Bukhari)5
Berdasarkan hadis di atas, ditemukan rumusan yang selanjutnya
dikenal dengan rukun Islam, yaitu:
1) Syahadat (persaksian keesaan Allah dan kerasulan Muhammad)
2) Mendirikan salat
3) Menunaikan zakat
4) Puasa pada bulan Ramadhan
5) Menunaikan ibadah haji
Sebagai agama, hanya Islam-lah yang mendapat pengakuan dan
diterima di sisi Allah swt. Sehubungan dengan hal ini Allah berfirman
dalam QS. Ali Imran (3): 19:






.............
Artinya:
Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam.

5 AL BAYAN. Shahih Bukhari Muslim. hadis no. 1. Bab Permulaan


Wahyu, Kitab 9 Imam dalam CD Kutub al-Tisah. (Jabal : Bone Pustaka) hlm. 10
Dan Allah berfirman dalam QS. Ali Imran (3): 85:







Terjemahannya:
Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali
tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat
termasuk orang-orang yang rugi.(Q.S. Ali Imran: 85)

c) Ihsan
Ihsan secara bahasa berasal dari akar kata kerja ahsana-yuhsinu, yang
artinya adalah berbuat baik, sedangkan bentuk mashdarnya adalah ihsan
yang artinya kebaikan. Adapun pengertian ihsan secara khusus yang
disebutkan dalam hadis di atas, yaitu menyembah kepada Allah seakan-
akan engkau melihat-Nya, jika engkau tidak mampu melihatnya,
ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat."
Pernyataan menyembah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-
Nya" , mengandung arti bahwa dalam menyembah kepada-Nya, kita harus
bersungguh-sungguh, serius dan penuh keikhlasan serta melebihi sikap
seorang rakyat jelata ketika menghadap Raja. Dalam hati harus
ditumbuhkan keyakinan bahwa Allah seakan-akan berada di hadapannya,
dan Dia melihat dirinya. Sedangkan pernyataan " jika engkau tidak
mampu melihat-Nya, ketahuilah bahwa Allah melihatmu," maksudnya
kita harus merasa bahwa Allah selamanya hadir dan menyaksikan segala
perbuatannya.
Ihsan merupakan salah satu faktor utama dalam menentukan
diterima atau tidaknya suatu amal oleh Allah SWT. karena orang yang
berlaku ihsan dapat dipastikan akan ikhlas dalam beramal, sedangkan
ikhlas merupakan inti diterimanya suatu amal ibadah. Ihsan meliputi tiga
aspek fundamental, yaitu ibadah, muamalah, dan akhlak.6

6 Muhammad. Pendidikan Agama Islam Untuk Perguruan Tinggi.


(Bandung : Pustaka Media, 2009) . hlm.30
1) Ibadah
Kita berkewajiban ihsan dalam beribadah, yaitu dengan menunaikan
semua jenis ibadah, seperti shalat, puasa, haji, dan sebagainya dengan cara
yang benar, yaitu menyempurnakan syarat, rukun, sunnah, dan adab-
adabnya.
2) Muamalah
Ihsan sebagaimana dijelaskan sebelumnya adalah beribadah kepada
Allah dengan sikap seakan-akan melihat-Nya, dan jika tidak dapat
melihat-Nya, maka Allah melihat kita. Sedangkan ihsan dari segi
muamalah, yang termasuk di dalamnya adalah:
Pertama, Ihsan kepada kedua orang tua
Allah swt. menjelaskan hal ini dalam QS. al-Isra (17): 23-24:





















Artinya:
Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan
menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu
bapakmu dengan sebaik-baiknya. jika salah seorang di antara keduanya
atau Kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, Maka
sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya Perkataan ah
dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka
Perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua
dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: Wahai Tuhanku, kasihilah
mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu
kecil.
Ayat di atas menjelaskan kepada kita bahwa ihsan kepada ibu-bapak
adalah sejajar dengan ibadah kepada Allah. Dalam sebuah hadist riwayat
Turmuzdi, dari Ibnu Amru bin Ash, Rasulullah saw. Bersabda: 7










:






Artinya:
Dari Abdullah bin Amru bin al-Ash r.a dari Nabi saw. bersabda:
Keridhaan Allah berada pada keridhaan orang tua, dan kemurkaan Allah
berada pada kemurkaan orang tua. (H.R. at-Turmudzi)
Kedua, Ihsan kepada kerabat karib
Ihsan kepada kerabat adalah dengan jalan membangun hubungan
yang baik dengan mereka, bahkan Allah swt. menyamakan seseorang yang
memutuskan hubungan silatuhrahmi dengan perusak dimuka bumi.
Silaturahmi adalah kunci untuk mendapatkan keridhaan Allah. Hal
ini dikarenakan sebab paling utama terputusnya hubungan seorang hamba
dengan Tuhannya adalah karena terputusnya hubungan silaturahmi.
Ketiga, Ihsan kepada anak yatim dan fakir miskin
Diriwayatkan oleh Bukhari, Turmudzi, dan Ibnu Hibban bahwa
Rasulullah saw bersabda:8


:






( )
Artinya:
Dari Sahl, Rasulullah saw. bersabda: aku dan orang yang

7 Muhammad bin Ismail m al-Shananiy. Subul al-Salam. Juz IV. (Cet. IV; Beirut:
Dar Ihya al-Turats al-Arabiy, 1379 H.). hlm. 164.

8 Muhammad bin Ismail Abu Abdullah al-Bukhari. Shahih al-Bukhari.


Juz V. (Cet. III; Beirut: Dar Ibnu Katsir, 1987). hlm. 2032
memelihara anak yatim di surga kelak akan seperti ini(seraya
menunjukkan jari telunjuk dan jari tengahnya dan merenggangkan
keduanya).
Keempat, Ihsan kepada tetangga dekat, tetangga jauh, serta teman sejawat.
Ihsan kepada tetangga dekat meliputi tetangga dekat dari kerabat
atau tetangga yang berada di dekat rumah, serta tetangga jauh, baik jauh
karena nasab maupun yang berada jauh dari rumah.
Seorang tetangga kafir mempunyai hak sebagai tetangga saja,
tetapi tetangga muslim mempunyai dua hak, yaitu sebagai tetangga dan
sebagai muslim, sedang tetangga muslim dan kerabat mempunyai tiga hak,
yaitu sebagai tetangga, sebagai muslim dan sebagai kerabat. Rasulullah
saw. menjelaskan hal ini dalam sabdanya: 9



:







) (





Artinya:
Dari Abu Syuraih bahwa Nabi saw. bersabda: demi Allah, tidak
beriman, demi Allah, tidak beriman. Para sahabat bertanya, siapakah yang
tidak beriman, ya Rasulullah? Beliau menjawab, seseorang yang tidak
aman tetangganya dari gangguannya. (HR. Bukhari dan Muslim)
Kelima, Ihsan kepada ibnu sabil dan pelayan
Rasulullah saw. bersabda mengenai hal ini: 10

9 Muhammad bin Ismail Abu Abdullah al-Bukhari. Shahih al-Bukhari.


op.cit. hal. 2240

10 Muhammad bin Ismail Abu Abdullah al-Bukhari. Shahih al-Bukhari.


op.cit. hal. 2273.





:









Artinya:
Dari Abu Hurairah, dari Nabi saw. bersabda: Barangsiapa beriman
kepada dan hari akhiratnya maka janganlah menyakiti tetangganya, dan
barangsiapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah memuliakan
tamunya, dan barangsiapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir,
hendaklah berkata benar atau diam. (HR. Jamaah, kecuali Nasai)
Adapun muamalah terhadap pembantu atau karyawan dilakukan
dengan membayar gajinya sebelum keringatnya kering, tidak
membebaninya dengan sesuatu yang ia tidak sanggup melakukannya,
menjaga kehormatannya, dan menghargai pridainya. Jika ia pembantu
rumah tangga, maka hendaklah ia diberi makan dari apa yang kita makan,
dan diberi pakaian dari apa yang kita pakai.
Keenam, Ihsan dengan perlakuan dan ucapan yang baik kepada manusia.
Rasulullah saw. bersabda, sebagaimana disebutkan di atas bahwa:
Barangsiapa beriman kepada Allah dan Hari Kiamat, hendaklah ia
berkata yang baik atau diam.
Bagi manusia secara umum, hendaklah kita melembutkan ucapan,
saling menghargai dalam pergaulan, menyuruh kepada yang makruf dan
mencegahnya dari kemungkaran, menunjukinya jalan jika ia tersesat,
mengajari mereka yang bodoh, mengakui hak-hak mereka, dan tidak
mengganggu mereka dengan tidak melakukan hal-hal dapat mengusik serta
melukai mereka.
Ketujuh, Ihsan dengan berlaku baik kepada binatang
Berbuat ihsan terhadap binatang adalah dengan memberinya makan
jika ia lapar, mengobatinya jika ia sakit, tidak membebaninya diluar
kemampuannya, tidak menyiksanya jika ia bekerja, dan
mengistirahatkannya jika ia lelah. Bahkan, pada saat menyembelih,
hendaklah dengan menyembelihnya dengan cara yang baik, tidak
menyiksanya, serta menggunakan pisau yang tajam.
3) Akhlak.
Ihsan dalam akhlak sesungguhnya merupakan buah dari ibadah dan
muamalah. Seseorang akan mencapai tingkat ihsan dalam akhlaknya
apabila ia telah melakukan ibadah seperti yang menjadi harapan
Rasulullah dalam hadits yang telah dikemukakan di awal tulisan ini, yaitu
menyembah Allah seakan-akan melihat-Nya, dan jika kita tidak dapat
melihat-Nya, maka sesungguhnya Allah senantiasa melihat kita. Jika hal
ini telah dicapai oleh seorang hamba, maka sesungguhnya itulah puncak
ihsan dalam ibadah. Pada akhirnya, ia akan berbuah menjadi akhlak atau
perilaku, sehingga mereka yang sampai pada tahap ihsan dalam ibadahnya
akan terlihat jelas dalam perilaku dan karakternya.

d) Hari Kiamat
Percaya akan datangnya hari kiamat termasuk salah satu rukun iman
yang harus diyakini oleh semua orang yang beriman meskipun tidak ada
yang tahu kapan saatnya tiba. Bagi mereka yang beriman, misteri
terjadinya hari kiamat tidak akan mengurangi kadar keimanannya. Mereka
justru lebih waspada dan senantiasa meningkatkan amal kebaikan untuk
bekal menghadapi-Nya.11
Namun demikian, Rasulullah saw. memberikan dua tanda terjadinya
kiamat, yakni jika hamba sahaya telah melahirkan majikannya, dan jika
penggembala onta dan ternak lainnya berlomba-lomba membangun
gedung-gedung yang megah dan tinggi.
Menurut sebagian ahli hadis, tanda-tanda kiamat itu lebih dari dua
sebagaimana terdapat dalam hadis lain. Dengan kata lain, kedua tanda

11 H. Masjefuk Judbi. Studi Islam Jilid 1 Akidah. (Bandung : Adiatama,


2007). hlm. 9
kiamat tersebut merupakan tanda jangka panjang. Adapun tanda-tanda
seperti terbitnya matahari dari arah barat merupakan tanda jangka pendek.
Akan tetapi, hanya Allah saja yang tahu mengenai datangnya hari kiamat,
sebagaimana tidak ada yang tahu, kecuali Allah saja tentang turunnya
hujan, apa yang ada dalam rahim seorang ibu, apa yang akan terjadi esok
hari, dan di manakah seseorang akan mati.

B. BERKURANGNYA IMAN DAN ISLAM KARENA MAKSIAT


















( )










1. Artinya
Ahmad ibn Shalih telah menceritakan kepada kami, Ibn Wahbi telah
menceritakan kepada kami, ia berkata bahwa Yunus telah menceritakan
kepadaku dari Abi Syihab, ia berkata bahwa aku telah mendengar Abu
Salamah ibn Abd al-Rahman dan ibn al-Musayyab berkata bahwa Abu
Hurairah r.a berkata bahwa Nabi saw.telah bersabda, tidak akan berzina
seseorang jika ia sedang beriman, dan tidak akan meminum khamar
seseorang jika ia sedang beriman, dan tidak akan mencuri sesseorang jika
ia sedang beriman. Pada riwayat lain ditambahkan, Dan tidak akan
merampas rampasan yang berharga sehingga orang-orang membelalakkan
mata kepadanya ketika merampas jika ia sedang beriman.12

12 AL BAYAN. Shahih Bukhari Muslim. hadis no.86 Bab Penjelasan


Bahwa Iman Berkurang Karena Kemaksiatan, Kitab 9 Imam dalam CD Kutub
al-Tisah. (Jabal : Bone Pustaka) hlm. 86
2. Penjelasan Singkat
Orang yang beriman akan merasa bahwa segala tingkah lakunya
senantiasa diawasi oleh Allah swt. Tidak ada suatu perbuatan yang ia
lakukan luput dari pengawasan Allah swt. Di samping itu, ia selalu sadar
bahwa segala perbuatan yang dilakukannya harus dipertanggung jawabkan
dihadapan-Nya, dan ia sendiri yang akan menerima akibat dari
perbuatannya, baik ataupun buruk, sekecil apapun perbuatan itu.
Hal ini disinyalir Allah dalam QS. az-Zalzalah (99): 7-8:







Terjemahannya:
Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah-pun, niscaya dia
akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan
sebesar dzarrah-pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.
Atas dasar kesadaran tersebut, maka orang yang benar-benar
beriman senantiasa berusaha mengerjakan perbuatan yang baik dan
menghindari perbuatan yang dilarang oleh Allah swt. Seorang yang
beriman tidak mungkin dengan sengaja melakukan maksiat kepada Allah,
karena ia merasa malu dan takut menghadapi azab-Nya serta takut tidak
mendapatkan ridha-Nya. Sebaliknya, orang yang tidak beriman kepada
Allah swt. akan merasa bahwa hidupnya di dunia tidak memiliki beban
apa-apa. Ia hidup semaunya, dan yang penting baginya adalah ia merasa
senang dan bahagia. Ia tidak memikirkan kehidupan setelah mati kelak
karena ia tidak mempercayainya. Dengan demikian, perbuatannya pun
tidak terlalu dipusingkan oleh masalah baik ataupun buruk. Kalaupun ia
melakukan suatu perbuatan baik, maka perbuatannya tersebut bukan
karena mengharapkan ridha Allah swt. karena ia tidak percaya kepada-
Nya.13
Adapun bagi mereka yang menyatakan dirinya beriman, tetapi

13 H. Masjefuk Judbi. Studi Islam Jilid 1 Akidah. (Bandung : Adiatama,


2007). hlm. 15
sering melakukan perbuatan dosa atau maksiat, mereka merasa dan
mengetahui bahwa perbuatan yang dilakukannya adalah perbuatan dosa,
tetapi mereka tidak berusaha untuk mencegah dirinya dari perbuatan
tersebut. Hal itu antara lain karena kuatnya godaan setan dan besarnya
dorongan hawa nafsu untuk melakukan perbuatan maksiat. Dalam keadaan
seperti ini, ia tetap beriman, hanya saja keimanannya lemah (berkurang).
Semakin sering melakukan perbuatan dosa, semakin lemah pula imannya.
Keimanan seseorang ada kalanya bertambah dan ada kalanya
berkurang oleh sebab itu, setiap orang beriman berusaha untuk senantiasa
memperbaharui keimanan dan ke-Islamannya. Hal ini bisa dilakukan
antara lain dengan selalu mengingat Allah dan mengerjakan perbuatan baik
yang dan diridhai-Nya. Dengan demikian, keimanannya relatif akan stabil.
Selain itu, ia pun harus selalu ingat bahwa sekecil apapun perbuatan
maksiat itu, maka ia akan mendapatkan balasan-Nya. Meskipun di dunia
dapat selamat dari akibat kemaksiatan yang dilakukannya, tapi ia tidak
dapat mengelak dari balasan di akhirat kelak. Allah berfirman dalam QS.
an-Nisa (4): 14:









Artinya:
Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan rasul-Nya dan melanggar
ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api
neraka sedang ia kekal di dalamnya; dan baginya siksa yang menghinakan.
Namun demikian, jika seorang hamba mau bertobat, selain ia kan
mendapat ampunan Allah, juga dipastikan imannya akan kembali utuh.
Allah berfirman dalam QS. al-Araf (7): 153:









Artinya:
Orang-orang yang mengerjakan kejahatan, Kemudian bertaubat sesudah
itu dan beriman; Sesungguhnya Tuhan kamu sesudah Taubat yang disertai
dengan iman itu adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Tobat yang akan mendapat ampunan Allah swt. tentu saja tobat
yang dilakukan dengan sungguh-sungguh.

C. RASA MALU SEBAGIAN DARI IMAN





















)

(

1. Artinya :
Abdullah ibn Yusuf telah menceritakan kepada kami, ia berkata bahwa
Malik ibn Anas telah mengabarkan kepada kami dari ibn Syihab dari Salim
ibn Abdillah dari ayahnya bahwa Nabi SAW melewati (melihat) seorang
lelaki kaum Anshar yang sedang menasehati saudaranya karena malu,
maka Nabi SAW telah bersabda: Biarkanlah ia karena sesungguhnya
malu itu sebagian dari iman.14
2. Penjelasan Singkat
Tujuan utama dari Risalah Islamiyah adalah untuk membentuk Insan
Kamil, yaitu manusia yang seluruh aspek hidup dan kehidupannya telah
dijiwai oleh iman, Islam dan ihsan. Missi yang diemban Rasulullah
berorientasi pada prinsipnya merujuk kepada tujuan global, yaitu untuk
menyempurnakan akhlak yang mulia dalam pengertian yang sangat luas.
Rasa malu merupakan salah satu sifat yang dianugerahkan Allah kepada
manusia dan sekaligus merupakan salah satu sifat yang membedakan
manusia dengan binatang. Kadar rasa malu pada tiap-tiap orang berbeda-
beda, dan motif yang menyebabkan orang malu juga sangat variatif.

14 AL BAYAN. Shahih Bukhari Muslim. hadis no.1 Permulaan Wahyu,


Kitab 9 Imam dalam CD Kutub al-Tisa. (Jabal : Bone Pustaka) hlm. 20
Dengan demikian, malu kadang yang dapat dikategorikan sebagai
sifat yang baik, dan adapula kalanya dapat dikategorikan sebagai sifat
tercela. Oleh sebab itu, sifat ini harus ditempatkan secara proporsional.
Malu bukan hanya merupakan sifat dasar manusia, kan tetapi lebih
dari itu termasuk dalam salah satu ciri orang yang beriman dan simbol
keberimanan seseorang. Oleh sebab itulah sehingga Rasulullah dalam
hadis di atas menjadikan rasa malu sebagai bagian dari iman.
Namun demikian, malu yang dimaksud dalam hadis di atas bukan
dalam arti bahasa, tetapi arti malu di sini adalah malu dalam mengerjakan
hal-hal yang jelek dan bertentangan dengan syariat maupun norma-norma
etika Islam. Hal itu dipertegas oleh hadis lain:























( )







Artinya :
Adam telah menceritakan kepada kami, Syubah telah menceritakan
kepada kami, dari Qatadah dari Abi al-Sawwar al-Adawiy ia berkata
bahwa ia telah mendengar Imran bin Husain r.a berkata bahwa Rasulullah
SAW telah telah bersabda: Malu itu tidak aka menimbulkan sesuatu
kecuali kebaikan semata. (H.R. Bukhari dan Muslim)
Menurut Abu al-Qasim (Junaid), perasaan malu akan timbul bila
memandang budi kebaikan dan melihat kekurangan diri. Hampir senada
dengan itu, al-Hulaimy berpendapat bahwa hakikat malu adalah rasa takut
untuk melaksanakan kejelekan. Di antara ulama, ada pula yang
berpendapat, sebagaimana yang dikemukakan oleh Ibnu Hajar dalam kitab
Fathu al-Bary bahwa merasa malu dalam mengerjakan perbuatan haram
adalah wajib , dalam mengerjakan pekerjaan makruh adalah sunnah, dan
dalam mengerjakan perbuatan yang mubah adalah kebiasaan atau adat.
Perasaan malu seperti itulah yang merupakan salah satu cabang iman.
Berdasarkan pengertian-pengertian yang dikemukakan ulama
sebagaimana disebutkan di atas, dapat dipahami bahwa malu dalam
melakukan perbuatan baik tidak termasuk dalam kategori malu pada hadis
ini. Demikian pula, tidak termasuk dalam kategori ini jika malu untuk
melarang orang lain berbuat kejelekan, karena Allah swt. sendiri tidak
malu menerangkan kebenaran. Sehubungan dengan hal ini Allah swt.
berfirman dalam QS. al-Ahzab (33): 53:

(


)
Artinya:
Dan Allah tidak malu (menerangkan) yang benar

Al-Faqih Abu Laits al-Samarqandi mengklasifikasin malu dalam


syariat Islam menjadi dua, yaitu :15
1) Malu kepada Allah swt., maksudnya ialah malu melakukan maksiat
kepada Allah karena menyadari besarnya nikmat Allah swt. yang
dianugerahkan kepadanya.
2) Malu kepada sesama manusia, maksudnya menutup mata dari hal-
hal yang tidak berguna.
Malu merupakan sesuatu yang sangat berharga bagi manusia. Oleh
sebab itu, jika manusia telah kehilangan rasa malunya, maka ia tidak ada
lagi bedanya dengan binatang. Kehilangan rasa malu akan menyebabkan
orang menjadi permissif, sehingga membenarkan segala cara demi untuk
kepuasan naluri kemanusiaannya dan bahkan naluri dan kebinatangan yang
ada pada dirinya.

15 Al-Faqih Abu Laits Samarqandi. Tanhibul Ghafilin (Pembangun Jiwa Moral


Umat) penerjemah Abu Imam Taqiyuddin (Malang: Dar al-Ihya, 1986) hlm.
474.
BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Iman ialah percaya kepada Allah swt, para malaikat-Nya, pertemuan dengan
Allah, para Rasul-Nya, percaya kepada hari berbangkit dari kubur, dan percaya
kepada qadha dan qadar. Islam ialah menyembah kepada Allah dan tidak
menyekutukan-Nya dengan suatu apapun, mendirikan shalat, menunaikan zakat
yang difardhukan, berhaji, dan berpuasa di bulan Ramadhan; dan Ihsan ialah
menyembah kepada Allah seakan-akan kita melihat-Nya, kalau tidak mampu
melihat-Nya, harus diyakini bahwa Allah melihat kita.
Ketiga hal di atas, ditambah mempercayai terjadinya hari kiamat, yang tidak
seorangpun mengetahuinya kecuali Allah swt. merupakan satu kesatuan yang
tidak dapat dipisahkan dalam membentuk jiwa untuk mengabdi kepada Allah
sehingga mendapat keridhaan-Nya
Keimanan seseorang akan terpantul dalam bentuk amal shaleh. Oleh sebab
itu, meningkat atau menurunnya amal shaleh yang diperbuat merupakan indikator
menurun dan berkurangnya iman. Orang yang betul-betul beriman tidak mungkin
secara sengaja mengerjakan maksiat. Dengan demikian, seorang mukmin yang
melakukan perbuatan dosa seperti zina, mencuri, membunuh dan kemaksiatan-
kemaksiatan lainnya, berarti dia sedang tidak beriman atau imannya berada dalam
titik terendah. Oleh karena itu, setiap orang yang beriman selalu memperbaharui
keimanannya dengan selalu mengingat Allah dan melakukan berbagai perintah-
Nya.
Malu dalam arti sebenarnya (menurut pandangan Islam) adalah malu
dalam melakukan hal-hal yang dilarang oleh Allah swt. dan yang dipandang jelek
oleh manusia. Adapun orang yang merasa malu untuk melakukan perbuatan baik
atau malu menegur orang yang melakukan kejelekan tidak termasuk malu dalam
kategori ini, tetapi justru termasuk perbuatan tercela.

DAFTAR PUSTAKA

Al-Faqih Abu Laits Samarqandi. 1986. Tanhibul Ghafilin (Pembangun Jiwa


Moral Umat) penerjemah Abu Imam Taqiyuddin. Malang: Dar al-Ihya.

Bukhari, hadis no.1. Bab Permulaan Wahyu. Kitab 9 Imam dalam CD Kutub al-
Tisah.

Bukhari. hadis no. 48. Bab Hubungan Iman, Islam, Ihsan dan Hari Kiamat. Kitab
9 Imam CD kutub al-Tisah

Masjefuk Judbi. 2007. Studi Islam Jilid 1 Akidah. Bandung : Adiatama..

Muhammad. 2009. Pendidikan Agama Islam Untuk Perguruan Tinggi. Bandung :


Pustaka Media.

Muhammad bin Ismail m al-Shananiy. 1379 H. Subul al-Salam. Juz IV (Cetakan


IV). Beirut: Dar Ihya al-Turats al-Arabiy

Muhammad bin Ismail Abu Abdullah al-Bukhari. 1987. Shahih al-Bukhari. Juz V
(Cetakan III). Beirut: Dar Ibnu Katsir, 1987)

Muslim. hadis no.86. Bab Penjelasan Bahwa Iman Berkurang Karena


Kemaksiatan. Kitab 9 Imam dalam CD Kutub al-Tisah.