Anda di halaman 1dari 26

Clinical Science Session

PENATALAKSANAAN LIMFADENOPATI COLI

Oleh :
Fathoni Afif 0910313229
Dita Eka Novriana 0910313218

Pembimbing
dr. Effy Huriyati, Sp. THT - KL

BAGIAN TELINGA HIDUNG TENGGOROK-KEPALA LEHER


RUMAH SAKIT DR. M. DJAMIL PADANG
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ANDALAS
PADANG
2014
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Limfadenopati adalah gejala penyakit yang ditandai dengan pembengkakan
limfonodus (Kelenjar Getah Bening). Limfadenopati atau hyperplasia limfoid merujuk
pada kelenjar getah bening yang abnormal, baik ukuran, konsistensi, dan jumlahnya.
Kelenjar getah bening (KGB) normal biasanya berdiameter kurang dari 1 cm dan
cenderung lebih besar pada dewasa muda. Pembesaran KGB yang abnormal terjadi bila
diameternya >10 mm.1,2
Kelenjar getah bening merupakan bagian dari sistem pertahanan tubuh manusia.
Limfadenopati adalah pembesaran kelenjar limfe sebagai respon terhadap proliferasi sel
T atau limfosit B. Limfadenopati biasanya terjadi setelah infeksi suatu mikroorganisme.
Organ ini sangat penting untuk fungsi sistem kekebalan tubuh yang bertugas untuk
menyerang infeksi dan menyaring cairan getah bening.2
Tubuh manusia memiliki kurang lebih 600 KGB. Pada orang normal, KGB sering
teraba di daerah inguinal karena trauma kronik dan infeksi yang sering terjadi di
ekstremitas bawah. Sekitar 55% pembesaran KGB terjadi di daerah kepala dan leher.2
Sistem aliran kelenjar getah bening leher merupakan hal yang penting untuk
dipelajari karena inflamasi maupun keganasan yang terjadi pada kepala dan leher akan
bermanifestasi ke kelenjar limfe leher. Pada setiap sisi leher terdapat 75 buah kelenjar
limfe, sebagian besar berada pada rangkaian jugularis interna dan spinalis asesorius. 3
Pembesaran kelenjar limfe leher akibat proses metastase keganasan kepala dan leher
merupakan faktor yang berperan penting untuk menentukan prognosis. Jika ditemukan
adanya metastase ke kelenjar limfe leher maka akan menurunkan five years survival rate
sebanyak 50%. 4

1.2 Batasan Penulisan


Referat ini akan membahas mengenai definisi, etiologi, patogenesis, diagnosis , dan
penatalaksanaan limfadenopati colli.
1.3 Tujuan Penulisan
Referat ini bertujuan untuk menambah pengetahuan dan pemahaman mengenai
definisi, etiologi, patogenesis, diagnosis, dan penatalaksanaan limfadenopati colli.

1.4 Metode Penulisan


metode yang dipakai dalam penulisan referat ini berupa tinjauan kepustakaan yang
merujuk kepada berbagai literatur.
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anatomi Leher


Leher merupakan bagian tubuh yang terletak antara thoraks dan caput kepala. Batas
atas adalah basis mandibula. Batas kaudal dari depan kebelakang dibentuk oleh insisura
jugularis sterni, klavikula dan acromion. 5
Otot sternokleidomastoideus membagi daerah leher menjadi 2 segitiga besar yaitu
trigenum colli anterior dan trigonum colli posterior. 5
1. Trigonum colli anterior terbagi menjadi
Trigonum muscular : dibentuk oleh linea mediana,
musculus omohyoid venter superior dan musculus
sternokleidomastoideus.
Trigonum caroticum : dibentuk oleh musculus omohyoid
venter superior, musculus sternokleidomastoideus, musculus
digastricus venter posterior.
Trigonum submentale : dibentuk oleh venter anterior
musculus digastricus, os. hyoid dan linea mediana.
Trigonum submandibulare : dibentuk oleh mandibula, venter
posterior musulus digastricus, dan venter anterior musculus
digastricus
2. Trigonum colli posterior terbagi menjadi

Trigonum supraclavicular : dibentuk oleh venter inferior musculus


omohyoid, clavicula dan musculus sternokleidomastoideus.

Trigonum occipitalis : dibentuk oleh venter inferior musculus


omohyoid, musculus trapezius dan musculus sternokleidomastoideus
Gambar 1. Anatomi Leher 5

Persarafan Daerah Leher 5


Terdapat 4 saraf superfisial yang berhubungan dengan tepi posterior otot
sternokleidomastoid. Saraf-saraf tersebut mempersarafi kulit di daerah yang
bersangkutan. Saraf saraf tersebut adalah sebagai berikut :
1. N. Oksipitalis minor (C2)
2. N. Auricularis magnus (C2 dan C3)
3. N. Cutaneus anterior (cutaneus colli, C2 dan C3)
4. N. Supraklavikularis (C3 dan C4).
Keempat saraf ini berasal dari Nn Servikalis II, III dan IV dan terlindung di bawah
otot. Dalam perjalanan ekstra kranialnya, 4 nervi kranial terletak di daerah M.
Digastricus.
Saraf-saraf cranial yang dimaksud adalah :
1. N. Vagus, keluar melalui Foramen Jugularis, mempersarafi saluran pernafasan dan
saluran pencernaan.
2. N. Glossopharyngeus, keluar bersama N. Vagus , terletak diantara karotis interna dan
jugularis interna. Merupakan saraf motorik untuk M. Stylopharyngeus.
3. N. Asesorius, berasal dari cranial dan C5 atau C6. Merupakan motorik untuk otot
sternokleidomastoideus dan otot trapezius, sedangkan cabang cervicalnya bertugas
sebagai saraf sensorik.
4. N. Hypoglossus, keluar melalui cranial hypoglossus, merupakan motorik untuk lidah.

Gambar 2. Persarafan Leher 5

Otot-otot Leher 5
Otot-otot di bagian ventral leher terdiri dari :
1. M. Digastricus, terdiri dari venter anterior dan posterior. Berjalan dari os temporal ke
arkus mandibula, merupakan landmark yang penting di bagian atas leher. Kedua
venternya dipisahkan oleh tendon intermedius.
2. Mm infrahyoid, yang terdiri dari :
a. M. Sternohyoid :
Otot ini berorigo pada manubrium sterni dan berinsersi di os. hyoid.
b. M. Omohyoid
Otot ini terdiri dari 2 venter (superior dan inferior) yang berjalan mulai dari skapula
dan lig. supraskapula menuju ke atas dan berakhir sebagai tendo intermedius.
c. M. Sternothyroid
Otot ini merupakan landmark penting dalam pembedahan thyroid untuk menemukan
cleavage plane. Origonya terletak di manubrium sterni dan berinsersi di lamina kartilago
thyroid, berjalan menutupi sebagian Glandula Thyroid. Kontraksinya menyebabkan
laryng bergerak ke bawah.
d. M. Thyrohyoid,
Otot ini berorigo di kartilago thyroid dan berinsersi di os hyoid. Otot ini menutupi
membrana thyrohyoid, dan kontraksinya menarik hyoid ke bawah, tetapi bila hyoid
difiksir oleh otot suprahyoid, kontraksinya akan mengangkat laryng.

Gambar 3. Otot Leher 5

Jaringan di leher dibungkus oleh 3 fasia, yaitu: 5


1. Fasia koli superfisialis membungkus muskulus sternokleidomastoideus dan berlanjut ke
garis tengah leher untuk bertemu dengan fasia pada sisi lain.
2. Fasia koli media membungkus otot pretrakeal dan bertemu pula dengan fasia sisi yang
lain di garis tengah yang juga merupakan pertemuan dengan fasia koli superfisialis. Ke
dorsal fasia koli media membungkus arteri karotis komunis, vena jugularis interna dan
nervus vagus menjadi satu.
3. Fasia koli profunda membungkus muskulus prevertebralis dan bertemu ke lateral dengan
fasia koli media. Perlukaan sebelah dalam fasia koli media berbahaya karena
berhubungan langsung ke mediastinum.
2.2 Sistem Aliran Kelenjar Limfe Regio Colli
Sekitar 75 buah kelenjar limfa terdapat pada setiap sisi leher, kebanyakan berada
pada rangkaian jugularis interna dan spinalis asesorius. Kelenjar limfe yang selalu terlibat
dalam metstasis tumor adalah kelenjar limfe pada rangkaian jugularis interna, yang
terbentang antara klavikula sampai dasar tengkorak. Rangkaian jugularis interna ini
dibagi dalam kelompok superior, media dan inferior. Kelompok kelenjar limfe yang lain
adalah submental, submandibula, servikalis superficial, retrofaring, pratrakeal, spinalis
asesorius, skalenus anterior dan supraklavikula. Hampir semua bentuk radang dan
keganasan kepala dan leher akan melibatkan kelenjar getah bening leher. Bila ditemukan
pembesaran kelenjar getah bening di leher, perhatikan ukurannya, apakah nyeri atau
tidak, bagaimana konsistensinya, apakah lunak kenyal atau keras, apakah melekat pada
3,6
dasar atau kulit.

Kelenjar limfe servical dibagi ke dalam gugusan superficial dan gugusan profunda.
Kelenjar limfe superficial menembus lapisan pertama fascia servical masuk kedalam
gugusan kelenjar limfe profunda. Meskipun kelenjar limfe nodus kelompok superficial
lebih sering terlibat dengan metastasis, keistimewaan yang dimiliki kelenjar kelompok ini
adalah sepanjang stadium akhir tumor, kelenjar limfe nodus kelompok ini masih
signifikan terhadap terapi pembedahan. 6

Kelenjar limfe profunda sangat penting sejak kelenjar-kelenjar kelompok ini


menerima aliran limfe dari membran mukosa mulut, faring, laring, glandula saliva dan
glandula thyroidea sama halnya pada kepala dan leher. 6

Aliran kelenjar limfe leher dapat dijabarkan sebagai berikut : 3


- Kelenjar limfa jugularis interna superior menerima aliran limfa yang berasal dari
daerah palatum mole, tonsil, bagian posterior lidah, dasar lidah, sinus piriformis dan
supraglotik laring. Selain itu juga menerima aliran limfa yang berasal dari kelenjar limfa
retrofaring, spinalis asesorius, parotis, servikalis superficial dan kelenjar limfa
submandibula.
- Kelenjar limfa jugularis interna media menerima aliran limfa yang berasal langsung
dari subglotik laring, sinus piriformis bagian inferior dan daerah krikoid posterior. Juga
menerima aliran limfa yang berasal dari kelenjar limfa juguglaris interna superior dan
kelenjar limfa retrofaring bagian bawah.
- Kelenjar limfa jugularis interna inferior menerima aliran limfa yang berasal
langsung dari glandula tiroid, trakea , esophagus bagian servikal. Juga menerima aliran
limfa yang berasal dari kelenjar limfa juguglaris interna superior dan media, dan kelenjar
limfa paratrakea.
- Kelenjar limfa submental, terlenta pada segitiga submental di antara platisma dan m
. omohioid di dalam jaringan lunak. Pembuluh aferen menerima aliran limfa yang berasal
dari dagu, bibir bawah bagian tengah, pipi, gusi, dasar mulut bagian depan dan 1/3 bagian
bawah lidah. Pembuluh eferen mengalirkan limfa ke kelenjar limfa submandibula sisi
homolateral atau ontra lateral, kadang-kadang dapat langsung ke rangkaian kelenjar limfa
juguglaris interna.
- Kelenjar limfa submandibula, terletak di sekitar kelenjar liur submandibula dan di
dalam kelenjar liurnya sendiri. Pembuluh aferen menerima aliran limfa yang berasal dari
kelenjar liur submandibula, bibir atas, bagian lateral bibir bawah, rongga hidung , bagian
anterior rongga mulut, bagian medial elopak mata, palatum mole dan 2/3 depan lidah.
Pembuluh eferen mengalirkan limfa ke kelenjar jugularis interna superior
- Kelenjar limfa serfikal superficial, terletak di sepanjang vena jugularis eksterna,
menerima aliran limfa yang berasal dari kulit muka, sekitar kelenjar parotis dan kelenjar
limfa oksipital. Pembuluh efereen mengalirkan limfa ke kelenjar limfa jugularis interna
superior.
- Kelenjar limfa retrofaring , terletak di antara faring dan fasia prevertebra, mulai
leher dan toraks. Pembuluh aferen menerima aliran limfa dari nasofaring, hipofaring,
telinga tengah dan tuba eustachius. pembuluh eferen megalirkan limfa ke kelenjar limfa
jugularis interna dan kelenjar limfa jugularis interna dan kelenjar limfa spinal asesoris
bagian superior.
- Kelenjar limfa paratrakea, menerima aliran limfa yang berasal dari laring bagian
bawah, hipofaring , esophagus bagian servikal, trakea bagian atas dan tiroid.Pembuluh
eferen mengalirkan limfa ke kelenjar limfa jugularis interna inferior atau kelenjar limfe
mediastinum superior.
- Kelenjar limfa spinal asesoris, terletak di sepanjang saraf spinal asesoris, menerima
aliran limfa yang bersal dari kulit kepala bagian parietal dan bagian belakang leher.
Kelejar limfa parafaring menerima aliran limfa dari nasofaring, orofaring dan sinus
paranasal.pembuluh eferen mengalirkan limfa ke kelnjar limfa supraklavikula.
- Rangkaian kelenjar limfa juguglaris interna mengalirkan limfa ke trunkus jugularis
dan selanjutnya masuk ke duktus torasikus untuk sisi sebelah kiri, dengan untuk sisi yang
sebelah kanan masuk ke duktus limfatius kanan atau langsung ke system vena pada
pertemuan vena jugularis interna dan
vena subklavia. Juga duktus torasikus dan
duktus limfatikus kanan menerima aliran
limfa dari kelenjar limfa supraklavikula.

Gambar 4. Aliran Kelenjar Limfe Kepala dan Leher 6

Menurut Sloan Kattering Memorial Cancer Center Classification, kelenjar getah


bening leher dibagi atas 5 daerah penyebaran. 3

I. Kelenjar yang terletak di segitiga submentale dan submandibulae


II. Kelenjar yang terletak di 1/3 atas dan termasuk kelenjar getah bening jugularis
superior, kelenjar digastrik dan kelenjar servikalis posterior.

III. Kelenjar getah bening jugularis di antara bifurkatio karotis dan persilangan
Musculus omohioid dengan musculus sternokleidomastoideus dan batas
posterior musculus sternokleidomastoideus.

IV. Grup kelenjar getah bening di daerah jugularis inferior dan supraklavikula

V. Kelenjar getah bening yang berada di segitiga posterior servikal.

Gambar 5. Daerah kelenjar limfe leher 3

2.3 Definisi
Limfadenopati merupakan pembesaran kelenjar getah bening dengan ukuran lebih
besar dari 1 cm.7 Kepustakaan lain mendefinisikan limfadenopati sebagai abnormalitas
ukuran atau karakter kelenjar getah bening.8 Limfadenopati adalah hiperplasia limfoid
sebagai respon terhadap proliferasi limfosit T atau limfosit B. Limfadenopati biasanya
terjadi setelah infeksi suatu mikroorganisme.9
2.4 Klasifikasi
Limfadenopati dapat dibagi menjadi dua berdasarkan luas daerah yang terkena,
yaitu sebagai berikut : 8
Generalisata, yaitu limfadenopati pada dua atau lebih regio anatomi yang berbeda.
Lokalisata, yaitu limfadenopati yang terbatas hanya pada satu regio.
Dari semua kasus pasien yang berobat ke sarana layanan kesehatan primer, sekitar
3/4 penderita datang dengan limfadenopati lokalisata dan 1/4 sisanya datang dengan
limfadenopati generalisata. 7

2.5 Epidemiologi
Insiden limfadenopati belum diketahui dengan pasti. Sekitar 38% sampai 45% anak
normal memiliki KGB daerah servikal yang teraba. Limfadenopati adalah salah satu
masalah klinis pada anak-anak. Pada umumnya limfadenopati pada anak dapat hilang
dengan sendirinya apabila disebabkan infeksi virus. 10
Berdasarkan studi yang dilakukan di Amerika Serikat, pada umumnya infeksi virus
ataupun bakteri merupakan penyebab utama limfadenopati. Infeksi mononukeosis dan
cytomegalovirus (CMV) merupakan etiologi yang penting, tetapi kebanyakan disebabkan
oleh infeksi saluran pernafasan bagian atas. Limfadenitis lokalisata lebih banyak
disebabkan infeksi Staphilococcus dan Streptococcus beta-hemoliticus. 8
Salah satu studi yang dilakukan di Belanda, ditemukan 2.556 kasus limadenopati
yang tidak diketahui penyebabnya. Sekitar 10% kasus diantaranya dirujuk ke
subspesialis, 3,2% kasus membutuhkan biopsi dan 1.1% merupakan suatu keganasan.
Penderita limfadenopati usia >40 tahun memiliki risiko keganasan sekitar 4%
dibandingkan dengan penderita limfadenopati usia <40 tahun yang memiliki risiko
keganasan hanya sekitar 0,4%. 8

2.6 Etiologi
Secara umum yang dapat menyebabkan timbulnya limfadenopati dapat disingkat
dengan MIAMI, yaitu Malignancies, Infectins, Autoimune disorders, Miscellaneous and
unusual conditions, dan Iatrogenics. Kelenjar getah bening servikal teraba pada sebagian
besar anak, tetapi ditemukan juga pada 56% orang dewasa. Penyebab utama
limfadenopati servikal adalah infeksi; pada anak, umumnya berupa infeksi virus akut
yang swasirna. Pada infeksi mikobakterium atipikal, cat-scratch disease, toksoplasmosis,
limfadenitis Kikuchi, sarkoidosis, dan penyakit Kawasaki, limfadenopati dapat
berlangsung selama beberapa bulan. Limfadenopati supraklavikula kemungkinan besar
(54%- 85%) disebabkan oleh keganasan.8

Gambar 6. Penyebab Infeksi pada Limfadenopati Colli 10

Kelenjar getah bening servikal yang mengalami inflamasi dalam beberapa hari,
kemudian berfluktuasi (terutama pada anak-anak) khas untuk limfadenopati akibat infeksi
stafi lokokus dan streptokokus. Kelenjar getah bening servikal yang berfluktuasi dalam
beberapa minggu sampai beberapa bulan tanpa tanda-tanda inflamasi atau nyeri yang
signifikan merupakan petunjuk adanya infeksi mikobakterium, mikobakterium atipikal
atau Bartonella henselae (penyebab cat scratch disease). Kelenjar getah bening servikal
yang keras, terutama pada orang usia lanjut dan perokok menunjukkan adanya
kemungkinan metastasis keganasan kepala dan leher (orofaring, nasofaring, laring, tiroid,
dan esofagus). 11

Gambar 7. Aliran Limfe Leher dan Kemungkinan Penyebab Terjadinya Limfadenopati8

2.7 Patofisiologi
Apabila jaringan tubuh manusia terkena rangsangan berupa trauma dan reaksi
imun, maka otomatis sel-sel akan mengalami gangguan fisiologis. Sebagai responnya, sel
tubuh terutama mast sel dan sel basofil akan mengalami granulasi dan mengeluarkan
mediator radang berupa histamin, serotonin, bradikinin, sitokin berupa IL-2, IL-6 dan
lain-lain. Mediator-mediator radang ini terutama histamin akan menyebabkan dilatasi
arteriola dan meningkatkan permeabilitas venula serta pelebaran intraendothelial
junction. Hal ini mengakibatkan cairan yang ada dalam pembuluh darah keluar ke
jaringan sekitarnya sehingga timbul benjolan pada daerah yang terinfeksi ataupun terkena
trauma. Infeksi dapat menimbulkan pembesaran kelenjar limfe karena apabila mekanisme
pertahanan tubuh berfungsi baik, sel-sel pertahanan tubuh seperti makrofag, neutrofil dan
sel T akan berupaya memusnahkan agen infeksius sedangkan agen infeksius itu sendiri
berupaya untuk menghancurkan sel-sel tubuh terutama eritrosit agar mendapatkan nutrisi.
Kedua upaya perlawanan ini akan mengakibatkan pembesaran kelenjar limfe karena
kelenjar limfe harus bekerja keras untuk memproduksi sel limfoid maupun menyaring sel
tubuh yang mengalami kerusakan dan agen infeksius yang masuk agar tidak menyebar ke
organ tubuh lain.12,13
Mekanisme timbulnya benjolan akibat neoplasma, baik yang timbul di otot, sel
limfoid, tulang maupun kelenjar secara umum hampir sama. Awalnya terjadi displasia
dan metaplasia pada sel matur akibat berbagai faktor sehingga diferensiasi sel tidak lagi
sempurna. Displasia ini menimbulkan sejumlah kelainan fisiologis molekuler seperti
peningkatan laju pembelahan sel dan inaktifasi mekanisme bunuh diri sel terprogram. Hal
ini berakibat pada proliferasi sel tak terkendali yang bermanifestasi pada timbulnya
benjolan pada jaringan. Neoplasma dapat terjadi pada semua sel yang ada di leher
maupun akibat dari metastase kanker dari organ di luar leher.12,13

2.8 Diagnosis
Anamnesis
Umur penderita dan lamanya limfadenopati
Kemungkinan penyebab keganasan sangat rendah pada anak dan meningkat seiring
bertambahnya usia. Kelenjar getah bening teraba pada periode neonatal dan sebagian
besar anak sehat mempunyai kelenjar getah bening servikal, inguinal, dan aksila yang
teraba. Sebagian besar penyebab limfadenopati pada anak adalah infeksi atau penyebab
yang bersifat jinak. 8
Pajanan
Anamnesis pajanan penting untuk menentukan penyebab limfadenopati. Pajanan
binatang dan gigitan serangga, penggunaan obat, kontak dengan penderita infeksi dan
riwayat infeksi rekuren penting dalam evaluasi limfadenopati persisten. Pajanan setelah
bepergian dan riwayat vaksinasi penting diketahui karena dapat berkaitan dengan
limfadenopati persisten, seperti tuberkulosis, tripanosomiasis, scrub typhus,
leishmaniasis, tularemia, bruselosis, sampar, dan anthrax. Pajanan rokok, alkohol, dan
radiasi ultraviolet dapat berhubungan dengan metastasis karsinoma organ dalam, kanker
kepala dan leher, atau kanker kulit. Pajanan silikon dan berilium dapat menimbulkan
limfadenopati. Riwayat kontak seksual penting dalam menentukan penyebab
limfadenopati inguinal dan servikal yang ditransmisikan secara seksual. Penderita
acquired immunodeficiency syndrome (AIDS) mempunyai beberapa kemungkinan
penyebab limfadenopati; risiko keganasan, seperti sarkoma Kaposi dan limfoma maligna
non-Hodgkin meningkat pada kelompok ini. Riwayat keganasan pada keluarga, seperti
kanker payudara atau familial dysplastic nevus syndrome dan melanoma, dapat
membantu menduga penyebab limfadenopati.8
Gejala yang menyertai
Gejala konstitusi, seperti fatigue, malaise, dan demam, sering menyertai
limfadenopati servikal dan limfositosis atipikal pada sindrom mononukleosis. Demam,
keringat malam, dan penurunan berat badan lebih dari 10% dapat merupakan gejala
limfoma B symptom. Pada limfoma Hodgkin, B symptom didapatkan pada 8% penderita
stadium I dan 68% penderita stadium IV. B symptom juga didapatkan pada 10% penderita
limfoma non-Hodgkin. Gejala artralgia, kelemahan otot, atau ruam dapat menunjukkan
kemungkinan adanya penyakit autoimun, seperti artritis reumatoid, lupus eritematosus,
atau dermatomiositis. Nyeri pada limfadenopati setelah penggunaan alkohol merupakan
hal yang jarang, tetapi spesifik untuk limfoma Hodgkin.8
Pemeriksaan Fisik
Karakter dan ukuran kelenjar getah bening
Kelenjar getah bening yang keras dan tidak nyeri meningkatkan kemungkinan
penyebab keganasan atau penyakit granulomatosa. Limfadenopati karena virus
mempunyai karakteristik bilateral, dapat digerakkan, tidak nyeri, dan berbatas tegas.
Limfadenopati dengan konsistensi lunak dan nyeri biasanya disebabkan oleh inflamasi
karena infeksi. Pada kasus yang jarang, limfadenopati yang nyeri disebabkan oleh
perdarahan pada kelenjar yang nekrotik atau tekanan dari kapsul kelenjar karena ekspansi
tumor yang cepat.8
Pada umumnya, kelenjar getah bening normal berukuran sampai diameter 1cm,
tetapi beberapa literatur menyatakan bahwa kelenjar epitroklear lebih dari 0,5cm atau
kelenjar getah bening inguinal lebih dari 1,5 cm merupakan hal yang abnormal. Terdapat
laporan bahwa pada 213 penderita dewasa, tidak ada keganasan pada penderita dengan
ukuran kelenjar di bawah 1 cm, keganasan ditemukan pada 8% penderita dengan ukuran
kelenjar 1-2,25 cm dan pada 38% penderita dengan ukuran kelenjar di atas 2,25 cm. Pada
anak, kelenjar getah bening berukuran lebih besar dari 2 cm disertai gambaran radiologi
toraks abnormal tanpa adanya gejala kelainan telinga, hidung, dan tenggorokan
merupakan gambaran prediktif untuk penyakit granulomatosa (tuberkulosis, catscratch
7
disease, atau sarkoidosis) atau kanker (terutama limfoma). Tidak ada ketentuan pasti
mengenai batas ukuran kelenjar yang menjadi tanda kecurigaan keganasan. Ada laporan
bahwa ukuran kelenjar maksimum 2 cm merupakan batas ukuran yang memerlukan
evaluasi lebih lanjut untuk menentukan ada tidaknya keganasan dan penyakit
granulomatosa.8

Lokasi kelenjar getah bening daerah leher dapat dibagi menjadi 6 level. Pembagian
ini berguna untuk memperkirakan sumber keganasan primer yang mungkin bermetastasis
ke kelenjar getah bening tersebut dan tindakan diseksi leher. 15

Gambar 8. Level dan Sublevel Kelenjar Limfe Leher 15


Gambar 9. Kelompok Kelenjar Limfe Leher Berdasarkan Level dan Dugaan Asal
Tumor Primer Kepala Leher 15

Pemeriksaan Penunjang Limfadenopati 7,8


a. Laboratorium :
- Darah lengkap, apusan darah, Laju Endap Darah (LED)
Darah lengkap dan apusan darah berguna untuk melihat adanya kemungkinan
infeksi atau keganasan darah, sedangkan LED untuk melihat adanya tanda
inflamasi.
- Fungsi hati dan analisis urin untuk melihat penyakit sistemik penyebab
limfadenopati, sebagai tambahan dapat diperiksan Laktat Dehiroginase (LDH),
asam urat, kadar kalsium dan fosfat, untuk melihat tanda keganasan.
- Serologi (toxoplasma, EBV, CMV, HIV,dll)
- Tes mantoux jika dicurigai adanya infeksi tuberculosis.
b. Rontgen Thoraks
Foto rontgen dilakukan apabila dicurigai adanya kelainan di paru seperti tuberculosis,
lymphoma dan neuroblastoma.
c. Ultrasonografi (USG)
USG merupakan salah satu teknik yang dapat mendiagnosis limfadenopati servikalis.
Dengan menggunakan USG dapat mengetahui ukuran, bentuk, gambaran mikronodular,
nekrosis intranodular serta ada atau tidaknya kalsifikasi.
d. CT Scan
Pemeriksaan CT Scan dapat mendeteksi adanya pembesaran KGB servikalis dengan
diameter 5 mm atau lebih.
e. Biopsi
Fine Needle Aspiration (FNA) dilakukan untuk menentukan histologi kelenjar limfe.
Pemeriksaan ini cukup akurat karena memiliki angka sensitifitas 94-100% dan
spesifisitas 92-98%. FNA dapat membedakan keganasan yang berasal dari sel limfoid
maupun sel epitelial.16

Anamnesis

Pemeriksaan Fisik

KGB nyeri dan


merah
Limfadenopati Lokal pada KGB
servikal

KGB, tidak keras (bila kenyal


mengarah ke limfoma), tidak nyeri

Curiga keganasan Curiga Infeksi

Periksa dengan seksama KGB yang


membesar.

(kulit kepala, rongga hidung an paranasalis,


mulut dan lidah, Leher,
Terdapat tumor Faring
seperti,dan laring)
karsinoma Tidak terdapat tumor. Periksa lagi
lidah, tumor rongga postnasalis, sebagai limfadenopati umum
tumor laring,
Algoritma 1. Algoritma karsinoma sel
Diagnosis Limfadenopati Colli
Dapat dilakukan
skuamosa
pemeriksaan penunjang
Terdapat infeksi seperti: tonsillitis, Tidak terdapat Infeksi
2.9 Penatalaksanaan
molar ke tiga yang terinfeksi,
faringitis, Pengobatan limfadenopati
infeksi pada kulit kepala KGB leher didasarkan kepada penyebabnya. Banyak
kasus dari pembesaran KGB leher sembuh dengan sendirinya dan tidak membutuhkan
pengobatan apapun selain observasi. Kegagalan untuk mengecil setelah 4-6 minggu dapat
menjadi indikasi untuk dilaksanakan biopsi KGB. Biopsi dilakukan terutama bila terdapat
tanda dan gejala yang mengarahkan kepada keganasan. KGB yang menetap atau
bertambah besar walau dengan pengobatan yang adekuat mengindikasikan diagnosis
yang belum tepat. 8
Antibiotik perlu diberikan apabila terjadi limfadenitis supuratif yang biasa
disebabkan oleh Staphyilococcus. aureus dan Streptococcus pyogenes (group A).
Pemberian antibiotik dalam 10-14 hari dan organisme ini akan memberikan respon positif
dalam 72 jam. Kegagalan terapi menuntut untuk dipertimbangkan kembali diagnosis dan
penanganannya.8
Apabila penyebab dari limfadenopati colli ini adalah akibat dari metastasis
keganasan kepala leher dapat dipertimbangkan untuk melakukan terapi operatif, salah
satunya adalah diseksi leher.8
Diseksi Leher
Diseksi leher merupakan tindakan mengangkat kelenjar limfe leher dan dapat
disertai jaringan sekitarnya dengan tujuan menghilangkan sel-sel kanker yang berada
pada kelenjar limfe tersebut. 16
Ada beberapa tipe dari diseksi leher menurut American Head and Neck Society,
yaitu sebagai berikut : 17

1. Diseksi leher radikal (RND) : melakukan pembuangan kelenjar leher pada level
I-V, termasuk struktur non kelenjar yaitu vena jugularis interna, m.
sternokleidomastoid dan nervus spinasi asesori.

2. Diseksi Leher Modifikasi (MND) : seperti RND masih menyisakan satu atau dua
dianata v. jugularis interna, m. sternokleido mastoid dan nervus aspinalis asesori.

3. Diseksi Leher selektif (SND) : Menyisakan satu atau lebih grup dari kelenjar
limfe leher dan tetap mempertahankan 3 strukur non limfari diatas.

4. Diseksi leher diperluas (Extended ND) : seperti RND namun juga membuang
kelenjar leher diluar grup level I-V dan atau beberapa struktur diluar struktur non
limfatik diatas.

Gambar 10. Diseksi Leher Radikal 17


Gambar 11. Modifikasi Diseksi Leher Radikal 17

Gambar 12. Diseksi Leher Selektif (level II-IV) 17


Gambar 13. Diseksi Leher Diperluas 17
BAB 3

KESIMPULAN

Limfadenopati merupakan pembesaran kelenjar getah bening dengan ukuran lebih


besar dari 1 cm. Limfadenopati adalah hiperplasia limfoid sebagai respon terhadap
proliferasi limfosit T atau limfosit B. Limfadenopati biasanya terjadi setelah infeksi suatu
mikroorganisme. Secara umum yang dapat menyebabkan timbulnya limfadenopati dapat
disingkat dengan MIAMI, yaitu Malignancies, Infectins, Autoimune disorders,
Miscellaneous and unusual conditions, dan Iatrogenics. Kelenjar getah bening servikal
teraba pada sebagian besar anak, tetapi ditemukan juga pada sebagian orang dewasa.
Penyebab utama limfadenopati colli adalah infeksi; pada anak, umumnya berupa infeksi
virus akut yang swasirna. Selain akibat adanya infeksi, limfadenopati colli juga dapat
diakibatkan oleh adanya proses keganasan yang mengenai bagian kepala leher. Kelenjar
limfe regio colli dapat dibagi menjadi 6 level yang masing masing level memiliki aliran
yang berbeda sehingga apabila terjadi keganasan dapat diprediksi darimana asal tumor
primernya. Penegakan diagnosis limfadenopati colli dilakukan dari anamnesis,
pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang. Biopsi memegang peranan penting untuk
mengetahui histologi dari pembesaran kelenjar limfe. Tatalaksana yang dapat dilakukan
untuk limfadenopati colli tergantung dari penyebab yang mendasari. Apabila
penyebabnya adalah infeksi maka tatalaksana yang dapat dilakukan adalah dengan
mengobati infeksi tersebut dengan harapan akan terjadi pengecilan pada kelenjar limfe
jika penyebab infeksinya dihilangkan. Namun apabila penyebab terjadinya limfadenopati
ini adalah akibat keganasan maka terapi operatif dapat dipertimbangkan untuk dilakukan.
DAFTAR PUSTAKA

1. Dorland W, A. N. Kamus Dorland. Terjemahan Huriawati Hartanto. Edisi


pertama. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran. EGC; 2002
2. Sherwood. L., Fisiologi Manusia: dari sel ke Sistem. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran. EGC; 2001
3. Soepardi, Efiaty Arsya, dkk. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga, Hidung,
Tenggorok, Kepala dan Leher Edisi Ketujuh. Jakarta: Badan Penerbit Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia; 2012
4. Chong V. Cervical lymphadenopathy. What Radiologist need to know.
International Cancer Imaging Society; 2004 : 4 : 116 - 120
5. Faiz O, Moffat D, editors. At a Glance Anatomi. Germany; 2002 : 122-57
6. Netter FH. Atlas of Human Anatomy. Summit, NJ : CIBA-GEIGY Corp; 1989
7. Ferrer R. Lymphadenopathy: Differential diagnosis and evaluation. Am Fam
Physician; 1998:58:1315.
8. Bazemore AW. Smucker DR. Lymphadenopathy and malignancy. Am Fam
Physician; 2002:66:2103-10.
9. Elisabeth. J.C., Buku Saku Patofisiologi. Edisi ke 3. Jakarta : Penebit Buku
Kedokteran; 2009.
10. Peters TR, Edwards KM. Cervical Lymphadenopathy and Adenitis. Pediatrics in
Review; 2000 (21) : 12.
11. Fletcher RH. Evaluation of peripheral lymphadenopathy in adults. 2010 Sep [cited
2011 Jan 27]. Available from: www.uptodate.com. Diakses pada 22 November
2014
12. Ballenger, John Jacob. Disease of The Nose Throat Ear Head and Neck. Lea &
Fabiger 14th edition. Philadelphia; 1991.
13. Maran AGD. Benign diseases of the neck. Dalam : Scott-Brown's Otolaryngology.
6th ed. Oxford : Butterworth Heinemann; 1997
14. Price. A. Sylvia.Patofisiologi. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran. EGC; 2007
15. Robbins KT, Clayman G, Levine PA, Medina J, Sessions R. Neck dissetion clasifi
cation update. Revision proposed by the American Head and Neck Society and
the American Academy of Otolaryngology-Head and Neck Surgery. Arch
Otolaryngol Head Neck Surg; 2002:128:751-8
16. Lango MN, Omalley BW, Chalian AA. Neck Dissection. ACS Surgery:
Principles and Practice; 2009: 1(9): 1-10
17. Medina JE. Neck Dissecction. In: Bailey BJ, Johnson JT, editors. Head & Neck
Surgery Otolaryngology. 4th ed. Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins;
2006: p. 1585-605.