Anda di halaman 1dari 5

LOGO PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)

RS

Labioschizis Unilateral

1. Pengertian ( Definisi) a. Celah bibir merupakan suatu kelainan


kongenital/bawaan yang berupa
defek/celah pada bibir atas, defek
tersebut dapat sampai dengan dasar
hidung (komplit) ataupun tidak
mengenai dasar hidung (inkomplit),
serta dapat mengenai satu sisi maupun
kedua sisi bibir.
b. Cacat celah bibir dan celah langit-
langit yang hanya di satu sisi kiri atau
kanan pasien saja.

2. Anamnesis A. Terdapat celah pada bibir atas sejak


lahir, dua sisi, tidak/sampai dengan
dasar hidung
B. Riwayat sering tersedak (+/-)

C. Riwayat gangguan fungsional bibir


berupa kesulitan mengisap (+/-),
menelan (+/-), dan bicara (+) dan
gangguan estetika (+)

D. Riwayat keluarga dengan kelainan


sama (+/-)

E. Riwayat intra uterin seperti malnutrisi


(+/-), infeksi (+/-), trauma (+/-), dan
mengunakan obat-obatan/jamu (+/-)

F. Riwayat sering terjangkit ISPA (+/-),


infeksi telinga (+/-)

G. Penyakit penyerta (+/-)

H. Kelainan di tempat lain/sindroma (+/-)


3. Pemeriksaan Fisik a. Bibir atas terdapat celah unilateral
b. Celah sampai dengan dasar hidung
atau tidak mengenai dasar hidung
c. Celah pada bibir dapat tanpa/disertai
celah pada daerah alveolar/gnatho

d. Asimetris hidung

e. Periksa kemungkinan adanya kelainan


kongenital lainnya (sindroma)

f. Periksa kemungkinan adanya penyakit


penyerta lainnya
4. Kriteria Diagnosis a. Terdapat celah pada bibir atas sejak
lahir
b. Celah unilateral
c. Celah dapat sampai dengan dasar
hidung (komplit) atau tidak mengenai
dasar hidung (inkomplit)
d. Celah bibir dapat merupakan kelainan
kongenital tersendiri/terisolir maupun
sindroma

5. Diagnosis Kerja Labioschizis unilateral

6. Diagnosis Banding 1. Open wound of lip and oral cavity


2. NOMA/cancrum oris

7. Pemeriksaan Penunjang Tidak ada pemeriksaan laboratorium dan


radiologis yang khas untuk pasien dengan
celah bibir:
a. Laboratorium darah lengkap (Hb, Ht,
Leu, Trombo, Eri, LED, PT, APTT,
Gol. Darah, SGOT, SGPT, Na, Ka,
Ureum, Kreatinin)
b. Urine Rutin
c. Thorak foto
d. Bila ada kecurigaan TB dilakukan
pemeriksaan tes Mantoux
e. EKG/echografi dilakukan bila ada
kecurigaan kelainan jantung
8. Tata Laksana a. Assesmen dilakukan pada saat pasien
Tindakan Operatif
Terapi Konservatif datang melalui instalasi rawat jalan
Lama perawatan ataupun rawat inap

b. Bila diperlukan pembuatan Feeding


Plate dan Naso Alveolar Molding
(NAM) pada usia neonatus
pralabioplasti (ICD 24.7)

c. Labioplasty (Repair of cleft lip (ICD


27.54)) pada usia 10 minggu, dengan
syarat Hb > 10 gr/dL, Leu < 10.000,
dan BB > 5 kg

d. Medikamentosa:

a) Antibiotik

b) Analgesik

e. Ganti balutan/verban dilakukan 1x/hari


f. Pembukaan jahitan dilakukan pada
hari ke-5 atau hari ke-7 paska
pembedahan
g. Apabila menggunakan nostril retainer,
dibuka pada minggu ke-2 sampai
dengan 1 bulan paska pembedahan
h. Evaluasi (kontrol) berkelanjutan perlu
dilakukan untuk menilai perlu tidaknya
perbaikan bibir atau hidung serta
koreksi gigi geligi dan rahang

9. Edukasi a. Diagnosis kerja : Labioschizis


(Hospital Health Promotion)
unilateral
b. Tindakan kedokteran : Labioplasty
c. Jenis anestesi : lokal/umum
d. Tujuan : penutupan
defek kongenital bibir atas, sehingga
bibir atas dapat berfungsi normal
(membantu fungsi penelanan dan
bicara), memperbaiki estetika wajah
serta meningkatkan kepercayaan diri
pasien dan/atau keluarga
e. Risiko tindakan :
pembengkakan, rasa sakit
f. Komplikasi : dehiscence,
asimetris hidung, skar, keloid,
kolobom
g. Prognosis : ad bonam
h. Alternatif :-
i. Lain-lain :-

10. Prognosis Advitam : dubia adbonam


Ad Sanationam : dubia adbonam
Ad Fungsionam : dubia adbonam
11. Tingkat Evidens
12. Tingkat Rekomendasi
13. Penelaah Kritis

14. Indikator

15. Kepustakaan a. Standar Pelayanan Medis dari


Ditjen Pelayanan Medis
Depkes RI
b. Standar Prosedur Operasional
RSUP Dr. Hasan Sadikin
Bandung
c. Balaji, SM, 2013, Orofacial
Clefts in Textbook of Oral and
Maxillofacial Surgery, 2nd Ed,
Elservier, India, p: 631-86
d. Ellis III, E; Hupp, JR and
Tucker, MR, 2014,
Management of patients with
Orofacial Clefts in
Contemporary Oral and
Maxillofacial Surgery, 6th Ed,
Mosby Elservier, St Louis, p:
585-604
e. Steinberg, B; Caccamese, J and
Padwa, BL, 2012, Cleft and
Craniofacial Surgery in The
Parameters of Care: Clinical
Practice Guidelines for Oral
and Maxillofacial Surgery
(AAOMS ParCare 2012),
Journal of Oral and
Maxillofacial Surgery, Volume
70, Number 11, Suppl 3, Nov
2012, p: 137-57
f. Laskin, DM and Abubaker, O,
2007, Decision Making in Oral
and Maxillofacial Surgery, 1st
Ed, Quintessence Publishing
Co, Inc, Canada, p: 136-8
g. Chigurupati, R; Heggie, A and
Bonanthaya, K, 2010, Cleft Up
and Palate: An Overview in
Oral and Maxillofacial
Surgery, 1st Ed, Blackwell
Publishing Ltd, Oxford, p: 945-
72
h. Costello, BJ and Ruiz, RL,
2004, Cleft Lip and Palate:
Comprehensive Treatment
Planning and Primary Repair in
Petersons Principles of Oral
and Maxillofacial Surgery, 2nd
Ed, BC Decker Inc, Ontario, p:
839-58

Disetujui oleh:
Ketua Komite Medik Ketua
RSUD Kota Bandung RSUD Kota Bandung

drg. Mulyadi, SpOrt. dr. , SpBM


NIP. 196406161990111002 NIP.