Anda di halaman 1dari 41

Latar Belakang

Apabila suatu penghantar diberikan potensial yang berbeda diantara kedua ujungnya, maka
dalam penghantar itu akan timbul arus listrik. Hukum Ohm menjelaskan hubungan antara
tegangan listrik dengan kuat arus listrik. Orang yang pertama kali menyatakan hubungan antara
tegangan dengan kuat arus listrik adalah George Simon Ohm.

Pada praktikum kali ini akan dilakukan 4 kegiatan. Yaitu menduga nilai hambatan dalam
rangkaian seri, menduga besar panas disipasi pada hambatan berangkaian seri, menduga nilai
hambatan dari rangkaian paralel, dan menduga bebas panas disipasi pada hambatan berangkaian
paralel. Pada kegiatan menduga nilai hambatan dalam, pertama yang dilakukan adalah menyusun
alat seperti yang telah ditunjukkan pada gambar, naikkan tegangan secara bertahap, catat besar
tegangan dan arus setiap terjadi perubahan. Panas disipasi dapat dihitung dengan merangkai
komponen yang dilakukan pertama kali adalah rangkaian disusun seperti pada gambar yang ada.
Tegangan pada sumber berada pada posisi maksimum lalu cata nilai tegangan (V) dan kuat
arusnya (I).

Hukum Ohm dalam kehidupan sehari-hari sudah sering dijumpai. Seperti pada penggunaan alat-
alat listrik seperti lampu, TV, dan kulkas juga alat elektrik lainnya yang harus disesuaikan
dengan tegangan. Hukum Ohm memberikan informasi mengenai kuat arus atau tegangan suatu
alat listrik. Bila alat listrik diberi tegangan listrik yang lebih kecil dari seharusnya, arus akan
mengecil sehingga alat itu tidak bekerja normal (misalnya lampu akan redup).

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan dengan latar belakang di atas, maka dapat diambil rumusan masalah sebagai berikut
:

1. Bagaimana hubungan antara tegangan dan kuat arus pada rangkaian seri dan paralel?

2. Bagaimanakah perbedaan nilai hambatan antara rangkaian seri dan paralel?

3. Bagaimana pengaruhnya jika posisi Voltmeter (V) dan Amperemeter (A) dipindah?

4. Bagaimana hubungan Voltmeter dan Amperemeter pada rangkaian seri dan paralel?

1.3 Tujuan

Adapun tujuan dalam praktikum ini yang mengacu pada rumusan masalah antara lain :

1. Untuk mengetahui hubungan antara tegangan dan kuat arus pada rangkaian seri dan
paralel.
2. Untuk mengetahui perbedaan nilai hambatan pada rangkaian seri dan paralel.

3. Untuk mengetahui pengaruh jika Voltmeter dan Amperemeter dipindah.

4. Untuk mengetahui hubungan Voltmeter dan Amperemeter pada rangkaian seri dan
paralel.

1.4 Manfaat

Hukum Ohm dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Seperti pada penggunaan alat-alat
listrik yang ada di rumah, misalnya lampu, TV, dan kulkas. Benda-benda tersebut harus
disesuaikan dengan tegangannya. Karena bila benda tadi diberi tegangan yang lebih kecil dari
seharusnya, arus akan mengecil sehingga alat tersebut tidak bekerja secara normal (misalnya
lampu akan mengecil).

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA

Hukum Ohm menjelaskan hubungan antara tegangan listrik dengan kuat arus listrik (Purwoko,
2007).

Bunyi Hukum Ohm : Tegangan (V) pada hambatan yang memenuhi Hukum Ohm berbanding
lurus terhadap kuat arus (I) untuk suhu yang konstan (Sunaryono, 2010).

Perbandingan beda potensial dan kuat arus listrik selalu tetap atau konstan. Semakin besar beda
potensial listrik, semakin besar pula kuat arus yang megalir. Besarnya kuat arus listrik sebanding
dengan beda potensial listrik. Dari beberapa pernyataan di atas, dapat dibuat persamaan sebagai
berikut :

. . . (2.1)

Dengan C adalah kosntanta yang merupakan sebuah hambatan suatu pengahantar yang
disimbolkan dengan hrurf R. Hukum Ohm dapat dituliskan secara matematis sebagai berikut :

atau . . . (2.2)

Nilai hambatan suatu pengahantar dipengaruhi oleh panjang kawat, diameter kawat dan jeis
kawat. Semakin penjang suatu kawat, nilai hambatan kawat makin besar. Semakin besar
diameter kawat, nilai hambatan kawat makin kecil. Jika jenis kawat tidak sama, maka hambatan
juga tidak sama (Purwoko, 2007).

Jadi besar hambatan dirumuskan sebagai berikut :


. . . (2.3)

Dengan R sebagai hambatan, adalah hambat jenis, l panjang kawat dan A luas penampang
kawat.

Pada percobaan a, b, c, dan d digunakan hambatan yang samakarena untuk membandingkan nilai
dari masing-masing percobaan harus menggunakan kontrol atau pembanding yang sejenis
(sama).

Hambatan pengganti rangkaian seri :

. . . (2.4)

Sedangkan hambatan pengganti pada rangkaian paralel adalah :

. . . (2.5)

Hambatan listrik masih ada hubungannya dengan suhu atau temperatur. Karena kawat listrik
sangat memungkinkan mengalami perubahan suhu. Persamaan perubahan hambatan kawat
terhadap perubahan suhu kawat dituliskan sebagai berikut :

Dengan adalah hambatan kawat pada To C, adalah koefisien muai bahan konduktor, adalah
hambatan kawat awal. Serta adalah selisih suhu (Sunaryono, 2010).

NTC dan PTC adalah sebuah thermistor. Termistor adalah salah satu jenis yang mempunyai
koefisien temperature yang sangat tinggi. Fungsi utama dari komponen ini dalam suatu
rangkaian elektronik adalah untuk mengubah nilai resistansi karena adanya perubahan
temperature dalam rangkaian tersebut. Karakteristrik yang demikian ini memungkinkan kita
untuk dapat mengatasi beberapa masalah yang sederhana, seperti yang berkaitan dengan sensor
temperature, kompensasi temperature atau masalah system pengaturan yang lain.

Thermistor ada 2, yaitu NTC (Negative Temperature Coefficient) dan PTC (Positive Temperature
Coefficient). NTC sebagaimana namanya adalah resistor yang mempunyai koefisien temperatur
negative yang sangat tinggi. Thermistor jenis ini dibuat dari oksida logam yang terdapat dalam
golongan transisi. Oksida-oksida ini sebenarnya mempunyai resistansi yang tinggi tetapi dapat
diubah menjadi bahan semikonduktor. Sedangkan thermistor PTC adalah resistor dengan
koefisien temperatur positif yang sangat tinggi. Dalam beberapa hal thermistor PTC berbeda
dengan NTC antara lain : koefisien temperatur dari thermistor PTC bernilai positif hanya dalam
interval temperatur tertentu, pada umumnya, harga mutlak dari koefisien temperatur PTC jauh
lebih besar daripada thermistor NTC (Soeprijanto, 2012).

Amperemeter merupakan alat ukur yang digunakan untuk mengukur kuat arus listrik. Pemakaian
alat ukur ini dihubungkan ke dalam rangkaian sehingga terhubung seri dengan komponen yang
akan dihitung kuat arusnya.
Voltmeter merupakan alat ukur beda potensial antara 2 titik. Pemakaian alat voltmeter dipasang
paralel dengan komponen yang akan diukur beda potensialnya (Sunaryono, 2010).

Arus listrik (I) yang mengalir melalui resistor (R) akan menyebabkan daya yang dikiim baterai
hilang dalam bentuk panas ini disebut daya disipasi (Soeprijanto, 2012).

BAB 3. METODE PERCOBAAN

3.1 Alat dan Bahan

Adapun alat dan bahan yang akan digunakan dalam praktikum ini antara lain :

1. Catu daya DC berfungsi mengstabilkan arus listrik atau power supply.

2. Voltmeter DC berfungsi untuk mengukur tegangan.


3. Amperemeter DC berfungsi untuk mengukur kuat arus.

4. R 100/5W, 100/5W berfungsi sebagai hambatan yang akan diukur.

5. Connector berfungsi menghubungkan komponen.

6. Kabel-kabel berfungsi untuk menyambungkan komponen-komponen.

7. Stopwatch berfungsi untuk mengukur waktu.

3.2 Design

Adapun design alat yang akan digunakan adalah :

(b)

3.2.1 Gambar Design Percobaan Rangkaian Seri

A
A

(Petunjuk Praktikum Fisika Dasar : 2013)


V
V

3.2.2 Gambar Design Percobaan Rangkaian Paralel

(Petunjuk Praktikum Fisika Dasar : 2013)

3.3 Langkah Kerja

Sebelum ada perintah dari asisten, tidak diperkenankan mmenghubungkan rangkaian dengan
sumber arus. Untuk percobaan A, B, C dan D harus menggunakan nilai hambatan yang sama.

3.3.1 Menduga Nilai Hambatan Dalam Rangkaian Seri

1. Rangkaian listrik disusun seperti gambar.

2. Tegangan dinaikkan dari tegangan minimum sampai dengan tegangan


maksimum secara bertahap pada sumber tegangan untuk mengatur besar arus yang diluar.

3. Besar tegangan dan kuat arus listrik pada voltmeter dan amperemeter dicatat setiap ada
perubahan, sehigga didapatkan minimal 5 pasang data tegangan dan arusnya (Usahakan
meminimalkan interval waktu pengamatan untuk memenuhi asumsi bahwa nilai
hambatan yang diukur adalah konstan).

4. Percobaan seperti di atas diulangi untuk gambar 3.2.1 (b), dengan memakai hambatan
yang sama.

3.3.2 Menduga Besar Panas Disipasi pada Hambatan Berangkaian Seri

1. Rangkaian disusun seperti pada gambar 3.2.1 (b).

2. Tegangan listrik pada sumber tegangan berada pada posisi maksimum.


3. Nilai tegangan (V) dan arus listrik (I) pada Voltmeter dan Amperemeter dicatat setiap
interval 2 menit, sehingga didapat 5 pasang data pengamatan.

3.3.3 Menduga Nilai Hambatan Dalam Rangkaian Paralel

1. Rangkaian listrik disusun seperti gambar 3.2.2 (a) dengan tetap memakai hambatan yang
sama seperti percobaan 3.3.1.

2. selanjutnya dilakukan prosedur (2) dan (3) seperti pada percobaan 3.3.1.

3. Percobaan diulangi untuk gambar 3.2.2 (b), dengan tetap memakai hambatan yang sama,
hanya mengubah posisi Voltmeter dan Amperemeter.

3.3.4 Menduga Bebas Panas Disipasi pada Hmabatan Berangkaian Paralel

1. Rangkaian disusun seperti gambar 3.2.2 (b)

2. Selanjutnya dilakukan prosedur seperti pada percobaan 3.3.2.

3.4 Analisis Data

Analisis data yang digunakan dalam percobaan ini antara lain :

Besar kuat medan adalah :

. . . (3.4.1)

Karena , maka . . . (3.4.2)

Sehingga : . . . (3.4.3)

Dan persamaan tersebut dapat ditulis sebagai :

. . . (3.4.4)

Sedangkan untuk mencari daya, persamaannya adalah :

, atau . . . (3.4.5)

Untuk mencari hambatan digunakan :

. . . (3.4.6)

. . .(3.4.7)

Sedang untuk ralat digunakan :


Untuk mencari R menggunakan :

BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil

Setelah kegiatan praktikum dilakukan, didapat hasil sebagai berikut :

1. Menduga Nilai Hambatan Dalam Rangkaian Seri

Percobaan I V R () R I (%) K (%) AP


1 28 mA 7,5 V 267,8 110,15 41,13 58,87 1
2 23 mA 5,5 V 239,13 110,19 46,08 53,92 1
3 20 mA 3,5 V 175 110,18 62,96 37,04 1
4 10 mA 1V 100 10,18 10,18 89,82 2
5 9 mA 0,5 V 55,55 11 19,8 80,2 2

1. Menduga Besar Panas Disipasi pada Hambatan Berangkaian Seri.


Percobaan I V R () R I (%) K (%) AP
1 8 mA 6,5 V 62,5 18,5 29,16 70,84 1
2 12 mA 2,25 V 187,5 63,65 33,95 66,05 1
3 16 mA 4,5 V 281,85 35,8 12,7 87,3 1
4 20 mA 7,25 V 362,5 229,1 63,21 36,76 1
5 24 mA 9,5 V 395,8 159,2 40,21 59,8 1

1. Menduga Nilai Hambatan Dalam Rangkaian Paralel

Percobaan I V R () R I (%) K (%) AP


1 64 mA 4V 62,5 17,17 27,48 72,52 2
2 48 mA 3,25 V 67,7 17,2 25,37 74,63 2
3 22 mA 2V 90,9 24,9 27,48 72,52 2
4 26 mA 1,5 V 57,7 17,18 29,77 70,23 2
5 20 mA 0,5 V 25 17,18 68,72 31,28 1

1. Menduga Nilai Panas Disipasi pada Hambatan Berangkaian Paralel

Percobaan I V R () R I (%) K (%) AP


1 8 mA 0,75 V 93,75 50,12 53,47 46,53 1
2 27 mA 4,5 V 166,67 44 26,4 73,6 1
3 44 mA 7,2 V 163,6 16,55 10,12 89,88 1
4 64 mA 9,4 V 146,8 78,3 53,33 46,67 1
5 72 mA 10,75 V 149,3 62,05 41,56 58,44 1

4.2 Pembahasan

Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan pada praktikum kali ini dapat diketahui bahwa nilai
hambatan pada rangkaian seri lebih besar daripada nilai hambatan pada rangkaian paralel.
Seperti yang telah terlihat pada tabel A dan B pada hasil praktikum. Perbedaan atau selisih
nilainya mencapai setengahnya. Misalnya pada tabel terlihat dipercobaan kelima besar tegangan
sama-sama sebesar 0,5 V tetapi kuat arusnya berbeda. Pada rangkaian seri kuat arusnya 9 mA
sedangkan pada rangkaian paralel 24 mA. Hal inilah yang menyebabkan perbedaan nilai
hambatan pada keduanya.

Hubungan antara tegangan dan kuat arus berbanding lurus. Seperti yang terlihat pada tabel hasil
percobaan, jika tegangan bertambah maka kuat arus juga bertambah. Baik itupada rangkaian seri
maupun pada rangkaian paralel, walaupun ada yang pertambahannya hanya sedikit sekali.
Terlihat pada tabel A, pada percobaan 4 tegangan 1 V dan kuat arusnya 10 mA dan dengan
tegangan 0,5 V kuat arusnya 9 mA.
Pada percobaan A dan B, posisi Voltmeter dan Amperemeter dipindah, hal ini menyebabkan
adanya perbedaan kuat arus walaupun tegangannya sama. Kuat arus setelah Amperemeter dan
Voltmeter dipindah menjadi lebih kecil. Seperti terlihat pada percobaan A, ketika tegangannya0,5
V maka kuat arusnya 9 mA. Sedangkan pada percobaan B, ketika diberi tegangan yang sama
yaitu 0,5 V, kuat arus menunjukkan 8 mA. Hal ini kemudian menyebabkan perbedaan nilai
hambatan pada kedua percobaan tersebut. Pada percobaan B, ketika posisi telah dipindah,
hambatannya menjadi lebih besar.

Pada percobaan A, terjadi perubahan pada Voltmeter dan Amperemeter setiap interval waktu
tertentu. Karena disebabkan oleh catu daya yang diubah atau diganti nilainya. Hal itulah yang
menyebabkan perubahan pada Voltmeter dan Amperemeter. Tidak hanya pada percobaan A,
tetapi juga percobaan lainnya yaitu B, C dan D yang juga mengalami perubahan Voltmeter dan
Amperemeter.

BAB 5. PENUTUP
5.1 Kesimpulan

Adapun kesimpulan yang dapat diambil dari hasil praktikum ini, antara lain :

1. Nilai hambatan pada rangkaian seri lebih besar daripada rangkaian paralel.

2. Hubungan antara tegangan dan kuat arus berbanding lurus, jika tegangan bertambah,
maka kuat arus bertambah.

3. Jika posisi amperemeter dan Voltmeter dan Amperemeter dipindah, maka akan
memberikan nilai kuat arus yang berbeda, hingga nilai hambatannya juga berbeda.

4. Hubungan antara Voltmeter dan Amperemeter pada rangkaian seri memberikan kuat arus
yang lebih besar daripada rangkaian paralel.

5.2 Saran

Praktikum pada acara ini telah berjalan dengan lancar walaupun terdapat kendala pada awalnya
di mana Amperemeter tidak menunjukan jarum yang benar. Tetapi akhirnya alat tersebut dapat
digunakan kembali. Saran terhadap praktikan untuk bisa lebih mempelajari apa yang akan
dipraktikumkan.

DAFTAR PUSTAKA

Purwandari, E. 2013. Petunjuk Praktikum Fisika Dasar. Jember : Universitas Jember.

Purwoko dan Fendi. 2007. Fisika SMA / MA Kelas X. Jakarta : Yudhistira.


Soeprijanto, T. 2012. Fisika SMA / MA Kelas X Semester 1. Malang : Universitas Negeri Malang.

Sunaryono dan Ahmad Taufiq. 2010. Super Tips dan Trik Fisika SMA. Jakarta : KAWAHmedia.

HAMBATAN JENIS KAWAT

ABSTRAK
Percobaan tentang hambatan jenis kawat bertujuan untuk menentukan hambatan jenis kawat. Metode yang kami
gunakan pertama kali adalah menghubungkan kawat nikelin dan untuk menentukan panjang kawat kami menggeser
salah satu kutub voltmeter dengan jarak tertentu kemudian kami memperoleh data dengan jarak sepuluh data dan
mencatat skala pada voltmeter pada setiap jarak dan dengan cara yang sama kami mengganti kawat nikelin dengan
diameter yang berbeda dan dengan cara yang sama pula kami mengganti kawat nikelin dengan kawat tembaga
dengan diameter yang berbeda sehingga kami memperoleh data sebanyak empat puluh. Dalam percobaan hasilnya
tidak sesuai dengan teoritis karena disebabkan oleh kurang teliti dalam membaca skala alat dan kurang rata dalam
menghilangkan lapisan tembaga.baterai sebagai sumber tegangan diantara amperemeter dan tahanan geser kemudian
menghubungkan tahanan geser ke kiri kawat dan amperemeter kekanan kawat kemudian menghubungkan voltmeter
kekedua ujung

I. LATAR BELAKANG
Adanya hambatan di sebuah kawat yang berarus dapat diselidiki dengan percobaan hambatan
jenis kawat. Arus yang dihasilkan oleh baterai dialirkan pada kawat penghantar, besarnya arus
dapat dibaca pada amperemeter, kuat arus dapat diatur dengan tahanan geser dan pada besarnya
tegangan dapat dibaca menggunakan voltmeter.
Tujuan dari praktikum ini adalah untuk menentukan hambatan jenis kawat. Rumusan masalah
dari praktikum ini adalah Bagaimana cara mengukur hambatan jenis kawat dengan berbagai
bahan pada panjang dan diameter yang berbeda ? . Dari rumusan masalah itu, rancangan
penyalesaian masalah kami adalah untuk menentukan hambatan jenis kawat di dapat dari
hambatan kawat dikalikan dengan luas permukaan kawat kemudian dibagi dengan panjang
kawat. Dimana hambatan kawat itu di peroleh dari tegangan dibagi kuat arus.
II. DASAR TEORI
Jika semakin panjang sebuah kawat penghantar, maka makin besar hambatannya, hal ini
juga bergatung pada jenis kawat atau bahan kawat. Hambatan jenis dan panjang kawat
berbanding lurus, sedangkan berbanding terbalik dengan luas penampang maka secara
matematis dapat ditukiskan:
R=

Dimana: R =Hambatan kawat ()


= Hambatan jenis (m)
=Panjang kawat (m)

A = Luas penmapang (m)


Nilai hambatan suatu penghantar tidak bergantung pada beda potensial. Beda potensial hanya
dapat mengubah kuat arus yang melalui penghantar. Jika penghantar yang dilalui kuat arus
panjang maka arus tersebut akan berkurang. Hal itu disebabkan oleh diperlikan energi yang besar
untuk mengalirkan arus listrik tersebut, dalam keadaan ini tegangan listrik turun.
Tabel Hambatan Jenis Bahan Pada Suhu 20oC.
Bahan Hambatan Jenis
(m)
Konduktor
Perak 1,59 x 10-8
Tembaga 2,68 x 10-8
Emas 2,44 x 10-8
Aluminium 2,64 x 10-8
Besi 9,71 x 10-8
Semi Konduktor
Karbon (3-60) x 10-5
Germanium (1-500) x 10-5
Isolator
Kaca 109 - 1012
Karet padat 1013- 1015

III. METODE PERCOBAAN


1. Alat dan Bahan:
a. Kawat Nikelin
b. Kawat Tembaga
c. Avometer
d. Tahanan Geser
e. Baterai
f. Micrometer Sekrup
g. Penjepit Buaya
2. Rancangan Percobaan:

S
RTG
Gambar: Rangkaian percobaan hambatan jenis kawat
Dengan: V = Voltmeter
A =Amperemeter
RTG =Tahanan Geser
S =Saklar
B-C=Panjang Kawat

3.Variabel Percobaan
Variabel Manipulasi :Panjang kawat
Kawat yang dipakai menggunakan panjang 4. Langkah Kerja
yang berbeda beda. Merangkai alat pada gambar, menentukan
kuat arus tertentu dan kemudian mengamati
Vaiabel Kontrol :jenis kawat, diameter penunjukan arus dan tegangan untuk kawat dengan
kawat, kuat arus panjang tertentu (L tertentu; L = Jarak B-C).
Definisi : kawat yang digunakan pada percobaan Kemudian menggeser C, sehingga memperoleh
menggunakan diameter dan jenis kawat jarak yang berbeda dengan jumlah data sebanyak
yang sama dan menggunakan kuat arus 10 data untuk Nikelin yang berdiameter kecil.
yang sama. Kemudian mengganti kawat Nikelin yang
berdiameter berbeda, dengan perlakuan yang sama
Variabel Respon : Beda potensial diperoleh 10 data untuk Nikelin (kawat) yang
Definisi : Penunjukan skala pada voltmeter pada diameternya berbeda. Dengan langkah-langkah
panjang kawat tertentu. yang sama kami mengganti kawat Nikelin dengan
kawat tembaga.

IV. Data dan Analisis


Nomor Panjang Kawat
Jenis Kawat
Percobaan (l 1) mm
Nikelin 1 50
2 100
3 150
4 200
5 250
6 300
7 350
8 400
9 450
10 500
1 50
2 100
3 150
4 200
5 250
6 300
7 350
8 400
9 450
10 500

Diameter I
Volt (V)
Kawat (Ampere)
(mV)
(d 0,01) mm mA
161,6
313,1
492,0
651,0
822,0
0,19 75
988,0
1175,0
1325,0
1492,0
1661,0
72,0
147,5
222,1
292,0
369,2
0,27 75
445,0
519,0
594,0
667,0
742,0

Tabel data pada hambatan jenis kawat Nikelin

Panjang
Nomor
Jenis Kawat Kawat
Percobaan
(l 1) mm
1 50
2 100
3 150
4 200
5 250
6 300
7 350
8 400
9 450
10 500
Tembaga
1 50
2 100
3 150
4 200
5 250
6 300
7 350
8 400
9 450
10 500
Diameter Volt (V) I (Ampere)
Kawat (mV) mA
(d 0,01)
mm
0,6
1,3
1,9
0,40 2,6 84
3,3
4,0
4,7
5,4
6,2
6,9

0,2
0,5
0,7
0,9
1,2
1,60 1,5 84
1,7
2,0
2,3
3,5
Tabel data hambatan jenis kawat tembaga
Diperoleh nilai hambatan jenis data pada masing-masing jenis kawat dan diameter tertentu
sebagai berikut:

Hambatan Hambatan
Jenis Jenis
Jenis / Jenis /
Kawat Kawat
( mm) ( mm)
-3
1,20 x 10 1,09 x 10-3
1,16 x 10-3 1,12 x 10-3
-3
1,22 x 10 1,12 x 10-3
Nikelin I 1,21 x 10 Nikelin II 1,10 x 10-3
-3

1,22 x 10-3 1,12 x 10-3


d = (0,19 -3 d = (0,27
1,22 x 10 1,12 x 10-3
0,01) mm 1,23 x 10-3 0,01) mm 1,12 x 10-3
1,23 x 10-3 1,12 x 10-3
1,23 x 10-3 1,12 x 10-3
-3
1,24 x 10 1,12 x 10-3
Hambatan Hambatan
Jenis Jenis Analisis Data
Jenis / Jenis /
Kawat Kawat Dari data yang kami peroleh pada percobaan
( mm) ( mm)
17.9 x 10-6 9,5 x 10-5 hambatan jenis kawat dengan menggunakan
19.4 x 10-6 11,9 x 10-5 persamaan yang diperoleh dari hubungan antara
18.9 x 10-6 11,2 x 10-5 tahanan kawat dengan penampang hambatan
19.4 x 10-6 10,7 x 10-5 jenis yaitu:
19.7 x 10-6 11,5 x 10-5 V =I.R
Tembaga I Tembaga II =I.
d = (0,40 19.9 x 10-6 d = (1,60 11,9 x 10-5
0,01) mm 20.0 x 10-6 0,01) mm 11,6 x 10-5
20.1 x 10-6 11,9 x 10-5
20.5 x 10-6 12,2 x 10-5 =
20.6 x 10-6 11,9 x 10-5

dimana : = Hambatan jenis (ohm m)


V = Beda potensial (Volt)
I = Kuat arus (Ampere)
A = Luas penampang (m2)
= Panjang kawat (m)

Dari data tersebut kami memperoleh nilai hambatan jenis kawat nikelin untuk diameter (0,19
0,01) mm sebesar (1,216 1,640) mm untuk kawat nikelin yang berdiameter (0,27 + 0,01)
mm sebesar (1,115 0,840) mm.
Sedangkan pada kawat tembaga yang berdiameter (0,40 0,01) mm sebesar (1,910 0,075)
x 10-5 mm, untuk tembaga yang berdiameter (1,60 0,01) mm sebesar (11,430 0,609) mm
x 10-5

V. Diskusi
Berdasarkan data yang kami peroleh, terjadi perbedaan dengan teoritis yang ada. Hal itu
disebabkan karena kami memperoleh nilai hambatan jenis untuk diameter (0,19 0,01) mm
kawat nikelin sebesar (1,216 1,640) x 10-5 mm dengan taraf ketelitian 98,66%. Untuk
diameter (0,27 0,01) mm sebesar 1,115 0,840) x 10-5 mm dengan taraf ketelitian 99,25%,
sedangkan untuk kawat tembaga yang berdiameter (0,40 0,01) mm sebesar (1,910 0,075) x
10-5 mm dengan taraf ketelitian 96,7% dan untuk tembaga yang berdiameter (1,60 0,01) mm
hambatan jenisnya mempunyai taraf ketelitian sebesar 94,7%. Hal ini tidak sesuai dengan teoritis
yang ada karena disebabkan kurang bersihnya dalam menghilangkan lapisan tembaga. Selain itu
tidak lurus saat memasang kawat.
VI. Kesimpulan
Berdasarkan dari hasil percobaan hambatan jenis kawat yang kami lakukan dapat diambil
kesimpulan bahwa nilai hambatan dari suatu kawat dengan jenis dan diameter yang berbeda,
maka nilai hambatannya berbeda. Semakin panjang kawat lintasan semakin besar hambatannya.
Semakin besar diameternya, maka semakin kecil hambatannya. Dimana hambatan jenis kawat
berbanding lurus dengan panjang kawat dan hambatan kawat, dan berbanding terbalik dengan
luas penampang suatu kawat.
VII. Daftar Pustaka
-Tim Fisika Dasar II, 2010/2011. Panduan Fisika Dasar II. Surabaya: Unipress Unesa.
-www.duniafisika.com
-Zemansky, Sears-1986, Fisika Untuk Universitas 2 Listrik Magnet. Bandung: Bina Cipta.

Posted 26th October 2014 by nashir athok

Hambatan Pada Kawat Penghantar

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Dalam bidang kelistrikan kita mengenal adanya hambat jenis suatu kawat penghantar. Dari
sanalah kita dapat menentukan mana kawat penghantar listrik yang bagus ataupun sebaliknya.
Misalnya saja muncul pertanyaan, mengapa sebagian besar kawat terbuat dari tembaga?
Alasannya pasti menyangkut hambat jenis berbagai jenis kawat yang memang berbeda. Dari nilai
hambatan jenis tersebut juga, kita dapat menentukan mana saja yang termasuk dalam konduktor
palig baik jika dihubungkan dengan hambat jenis. Kemudian, tingkat kerapatan sehingga
pemakaiannya disukai banyak orang di berbagai situasi, seperti jalur transmisi, karena hambatan
jenis suatu kawat juga. Kita mungkin menyangka bahwa hambatan jenis yang tebal akan lebih
kecil dari yang tipis karena kawat yang lebih tebal memiliki area yang lebih luas untuk lewatnya
electron. Dan mungkin kita berpikir bahwa hambatan akan lebih besar jika panjangnya lebih
besar karena aka nada lebih banyak penghalang untuk aliran electron. Dan, memang ternyata
ditemukan pada eksperimen bahwa hambatan R kawat logam berbanding lurus dengan panjang L
dan berbandaing terbalk dengan luas penampang lintang A. Dari latar belakang itulah kami ingin
membuktikan bahwasannya pernyataan itu benar dan sesuai dengan teori.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, dapat dibuat rumusan masalah sebagai berikut:
1. Bagaimana pengaruh jenis kawat terhadap hambat jenis kawat penghantar?
2. Bagaimana pengaruh panjang kawat terhadap hambat jenis kawat penghantar?
3. Bagaimana pengaruh diameter kawat terhadap hambat jenis kawat penghantar?

C. Hipotesis
Berdasarkan rumusan masalah di atas, dapat dibuat hipotesis sebagai berikut:
1. Jika jenis kawat yang digunakan adalah tembaga, maka hambat jenis kawat tersebut semakin
kecil.
2. Jika panjang suatu kawat penghantar semakin panjang, maka hambat jenis kawat tersebut
semakin kecil.
3. Jika besar diameter suatu kawat penghantar semakin besar, maka hambat jenis kawat tersebut
semakin besar.

D. Tujuan Percobaan
Adapun tujuan dari percobaan ini adalah:
1. Menyelidiki pengaruh jenis kawat terhadap hambat jenis suatu penghantar.
2. Menyelidiki panjang kawat terhadap hambat jenis suatu penghantar.
3. Menyelidiki diameter kawat terhadap hambat jenis suatu penghantar.
BAB II
KAJIAN TEORI

A. Arus Listrik dalam Logam


Kita tinjau suatu kawat listrik yang bertahan karena pengaruh medan listrik dalam
kawat.sehubungan dengan aliran listrik, orang menggunakan pengertian arus listrikuntuk
menyatakan banyaknya muatan yang mengalir melalui suatu penampang tiap satuan waktu. Agar
lebih jelas, perhatikan gambar 2.1. gambar ini melukiskan suatu kawat logam dengan medan
listrik berkekuatan E di dalamnya. Walaupun di dalam logam yang mengalir ialah elektron bebas
yang bermuatan negatif, sudah menjadi kebiasaan orang untuk menyatakan arah arus listrik
berlawanan dengan gerak muatan negatif. Jadi arah arus searah dengan gerak muatan positif
seandainya dapat bergerak.
Jelaslah arus listrik mengalir dari tempat ber-potensial tinggi ke tempat ber-potensial
rendah.
Kebiasaan ini sesuai dengan arah arus bila dalam medium mengalir muatan positif dan
negatif seperti halnya pada arus listrik dalam elektrolit. Pada gambar. 2.1 dilukiskan dalam
muatan positif dq ini memerlukan waktu untuk menyeberang penampang di P. sesuai dengan

definisi arus listrik di atas, kita tuliskan arus i = (2.1).

Dalam bab ini kita hanya membahas arus yang besarnya konstan dan arahnyapun tak
berubah. Arus semacam ini disebut arus dc (direct current). Dari persamaan (2.1) nyata bahwa
satuan arus ialah Cs-1. Satuan ini disebut ampere (A). Jadi 1Cs-1 = 1 A karena muatan elektron 1,6
x 10-19, arus 1 A membawa sebanyak kira-kira 6 x 1018 elektron tiap detik.
Sekarang kita perhatikan gambar 2.2. bila jumlah pembawa muatan tiap satuan

volumadalah n, dan muatannya e, maka rapat muatan bebas dalam logam ialah = n e.

Selanjutnya misalkan pada suatu tempat laju gerak rata-rata pembawa muatan adalah v, maka
dalam waktu dt muatan akan bergerak sejauh v dt. Bila penampangnya A, volum yang disapu

pembawa muatan dalam waktu dt adalah d V = A v dt. Jelaslah dq = dV = (n e) A v dt,

sehingga arus i = = n e A v (2.2)

Gambar 2.2

Persamaan (2.2) menyatakan bahwa arus pada suatu titik pada kawat bergantung pada

luas penampang, kita definisikan rapat arus j sebagai j = , dan dari persamaan (2.2)

dapatlah kita peroleh: j = n e v (2.3)


Jadi rapat arus sebanding dengan laju rata-rata pembawa muatan v.

B. Hukum Ohm
Dalam banyak pemakaian, arus listrik yang mengalir mempunyai harga konstan. Hal ini
berarti rapat arus j juga tetap, dan selanjutnya kecepatan rata-rata pembawa muatan juga tetap
besarnya. Di sini serasa ada keganjilan. Dalam kawat ada medan listrik E, berarti pada pembawa
muatan q bekerja gaya qE, tetapi kecepatan konstant. Bukankah ini melanggar hukum II
Newton? Seharusnya pembawa muatan bergerak dipercepat. Sebetulnya di sini tak ada yang
ganjil. Gaya qE bukanlah satu-satunya gaya yang bekerja pada pembawa muatan. Ada gaya lain,
yaitu gaya gesekan.
Pada waktu bergerak di dalam logam, pembawa muatan tidak bergerak pada satu garis
lurus, tetapi selalu bertumbukan dengan atom logam. Dalam tumbukan ini terjadi perpindahan
energi. Makin cepat gerak pembawa muatan makin banyak pula tumbukan yang dialami tiap
satuan waktu. Secara rata-rata pembawa muatan akan terus kehilangan energi. Ini tak lain akibat
hukum II Thermodinamika.
Akibat tumbukan ini, pembawa muatan bergerak dengan kecepatan rata-rata tetap, dan
logam menjadi panas. Pengaruh tumbukan terhadap gerak pembawa muatan dapat dinyatakan
dengan gaya gesekan yang bekerja pada pembawa muatan. Persoalan ini mirip dengan gerak
peluru yang jatuh di dalam gliserin, seperti pada gambar 2.3. karena gaya gesekan Stokes f
sebanding dengan laju v, pada suatu saat harga f sama dengan gaya berat mg. Setelah keadaan ini
tercapai, peluru bergerak dengan kecepatan konstan, yang kita sebut kecepatan akhir. Makin
besar gaya berat w, makin besar pula kecepatan akhir. Mudah ditunjukkan bahwa kecepatan

akhir sebanding dengan gaya berat w, atau vakhir w.

Gambar 2.3

Marilah kita tinjau kembali gerak pembawa muatan dalam logam. Dari analogi dengan
gerak peluru daam gliserin, kecepan rata-rata akhir pembawa muatan haruslah konstan dan
sebanding dengan kuat medan listrik.
Akibatnya, rapat arus juga sebanding dengan kuat medan listrik E.
Secara matematika ini kita tuliskan J = E (2.4)

Hubungan ini dikenal sebagai Hukum Ohm. Tetapan pembanding

konduktivitas listrik. Suatu bahan dengan harga konduktivitas yang besar akan mengalirkan

arus yang besar pula untuk suatu harga kuat medan listrik E. Bahan seperti ini disebut konduktor
baik.

C. Logam Berpenampang Serba Sama


Suatu kawat serba sama dialiri arus i, seperti pada gambar 2.4.
Gambar 2.4

Misalkan beda potensial pada titik P dan Q adalah V, yaitu V(P) - V(Q) = V. Bila
medan listrik dalam logam dapat dianggap serba sama, kuat medan listrik haruslah E=V/l .

Hukum Ohm yaitu persamaan menyatakan bahwa rapat arus j = E= V/l sehingga

arus I = jA = A/l V (2.5)

Bila tetapan A/l kita tuliskan 1/R , persamaan (2.5) menjadi

V = IR (2.6).
Persamaan (2.6) yang menyatakan arus sebanding dengan beda potensial, ternyata
berlaku dalam banyak keadaan. Hubungan ini mungkin lebih anda kenal daripada persamaan

(2.4). untuk logam berpenampang serba sama R = 1/ l/A= l/A (2.7). Tetepan =

1/ disebut resistivitas atau hambatan jenis. Sedang besaran R disebut hambatan atau

resistansi. Satuan resistansi ialah VA-1 dan disebut ohm, dan seringkali dinyatakan dengan huruf
Yunani Omega, yaitu . Harga hambatan yang sering digunakan ialah 1 kilo ohm = 1 k =
1000 dan mega ohm = 1 M = 1 meg = 10 6 . Dalam rangkaian listrik banyak digunakan
resistor, yaitu suatu komponen yang dibuat agar mempunyai harga resistansi tertentu. (Sutrisno
dan Tan Ik Gie: 1986)
Niliai tipikal , yang satuannya adalah m diberikan untuk berbagai bahan di

kolom hambat jenis pada Tabel 2.1. nilai-nilai tersebut sebagian bergantung pada kemurnian,
perlakuan kalor, temperatur, dan faktor-faktor lainnya. Perhatikan bahwa perak memiliki hambat
jenis paling rendah dan dengan demikian merupakan konduktor paling baik (walaupun mahal).
Tembaga tidak jauh di bawahnya, sehingga jelas mengapa sebagian besar kawat terbuat dari
tembaga. Alumunium, walaupun mempunyai hambat jenis yang lebih tinggi, kurang rapat
dibanding tembaga; sehingga pemakaian tembaga lebih disukai dalam berbagai situasi, seperti
jalur transmisi, karena hambtannya untuk berat yang sama lebih kecil daripada tembaga.

Tabel 2.1 Hambat Jenis dan Koefisien Temperatur (pada 20 )

Hambat Jenis, ( Temperatur, Koefisien


Bahan ( )-1
m)
Konduktor
Perak 1,59 x 10-8 0,0061
Tembaga 1,68 x 10-8 0,0068
Emas 2,44 x 10-8 0,0034
Alumunium 2,65 x 10-8 0,00429
Tungsten 5,6 x 10-8 0,0045
Besi 9,71 x 10-8 0,00651
Platina 10,6 x 10-8 0,003927
Air raksa 98 x 10-8 0,0009
Nikrom (logam 100 x 10-8 0,0004
campuran Ni, Fe, Cr)
Semikonduktor
Karbon (grafit) (3 - 60) x 10-5 -0,0005
Germanium (1-500) x 10-3 -0,05
Silikon 0,1 60 -0,07
Isolator
Kaca 109 - 1012
Karet padatan 1013 - 1015
(Gian Coli: )
Tahan jenis semua konduktor logam bertambah apabila temperatur naik. Dalam daerah
temperatur yang tidak terlalu besar, tahanan jenis logam dapat diungkapkan dengan persamaan
t = 20 [1 + (t 20o)].

Di sini 20 ialah tahanan jenisnya pada 20o dan t tahanan jenisnya pada

temperatur toC. Faktor disebut koefisien temperatur tahan jenis. Dalam tercantum koefisien
temperatur tahanan jenis beberapa bahan. Tahanan jenis karbon (bukan logam) turun bila
temperatur naik dan koefisien temperatur tahanan jenisnya negatif. Tahanan jenis logam
campuran manganin praktis tidak kena pengaruh temperatur. (Francis Weston Sears dan Mark W.
Zemansky: 1994)

BAB III
RANCANGAN PERCOBAAN
A. Alat dan Bahan
1. Basicmeter 1 buah
2. Hambatan Geser 1 buah
3. Power supply 1 buah
4. Micrometer skrup 1 buah
5. Papan slider 1 buah
6. Kawat nikelin seperlunya
7. Kawat tembaga seperlunya
8. Ampelas secukupnya

B. Rancangan Percobaan

Kawat tembaga Micrometer Sekrup Papan slider

Diletakkan pada
papan

Power supply Basic meter


Hambatan geser

Dirangkai secara seri


Dihubungkan menggunakan
konektor / penjepit buaya
Dihitung nilai V yang ditunjukkan oleh
basic meter
Diulangi lagkah yang sama untuk jenis
dan diameter kawat yang berbeda.
C. Variabel
Variabel kontrol : jenis rangkaian, hambatan geser
Definisi operasional variabel :
Jenis Rangkaian : pada percobaan jenis rangkaian yang digunakan adalah sama yakni rangkaian
seri.
Hambatan geser : kami menggunakan hambatan geser sebesar 0 pada semua percobaan.
Variabel manipulasi : panjang kawat, jenis kawat, diameter kawat.
Definisi operasional variabel :
Panjang kawat : pada percobaan ini panjang kawat dimanipulasi / kami buat berbeda, panjang
kawat yang kami gunakan adalah 50 cm, 75 cm, dan 100 cm.
Jenis kawat : Dalam percobaan ini jenis kawat yang kami gunakan pada masing-masing
percobaan dibuat berbeda yakni menggunakan kawat nikrom, kawat tembaga, dan kawat nikel.
Diameter kawat : diameter pada masing-masing kawat adalah berbeda, pada kawat tembaga kami
menggunakan 2 kawat tembaga yang berbeda diameternya yakni
Variabel respon : nilai V dan I
Definisi operasional variabel :
Hasil dari percobaan ini adalah nilai tegangan (V) dan (I) yang ditunjukkan oleh basicmeter.

D. Langkah Percobaan
Mengukur besar diameter kawat menggunakan micrometer sekrup.
Meletakkan kawat pada papan slider.
Merangkai alat yang digunakan secara seri, seperti basic meter, power supply, tahanan geser.
Mengamati penunjukan arus dan tegangan untuk kawat dengan panjang tertentu (100cm, 75 cm,
dan 50cm).
Mengulangi langkah yang sama untuk jenis kawat yang sama namun berbeda diameter, dan jenis
kawat yang berbeda.

BAB IV
DATA DAN ANALISIS

A. Data
Dari percobaan, didapatkan data sebagai berikut :
Tabel 4.1 Hasil Percobaan
Jenis No. Panjang Diameter Tegangan Kuat
Kawat Perc. Kawat Kawat (V1) Arus
(L 0,001) m (D 0,01)m (A1)
Nikel 1. 1,0000 0,31 7 11
2. 0,750 5 11
3. 0,500 3 11
1. 1,0000 0,30 20 9
2. 0,750 12 9
3. 0,500 8 9
Tembaga
1. 1,0000 0,19 9 21
2. 0,750 7 21
3. 0,500 5 21
1. 1,0000 0,26 12 5
2. 0,750 11 5
3. 0,500 8 5
Nikrom
1. 1,0000 0,16 18 3
2. 0,750 16 3
3. 0,500 13 3
Keterangan :
Batas skala : 50
Nikel : V= 1 V; I= 100 mA
Tembaga 1 : V= 100 mV; I= 1 A
Tembaga 2 : V= 1 V; I= 1 A
Nikrom : V= 5 V; I= 1 A

Tabel 4.2 Hasil perhitungan


JENIS KAWAT NILAI HAMBATAN JENISNYA

NIKELIN 48,0.10-8
45,7.10-8
41,0.10-8
TEMBAGA 1,57.10-8
1,26.10-8
1,27.10-8
1,22.10-8
1,26.10-8
1,30.10-8
NIKROM 63,6.10-8
77,8.10-8
84,9.10-8
60,2.10-8
71,4.10-8
87,0.10-8

Analisis
Dari data yang kami peroleh pada percobaan hambatan jenis kawat penghantar, nilai
tegangan pada jenis kawat nikelin yang berdiameter (0,31 0,01) mm berturut-turut adalah
sebesar 7 V, 5 V, dan 3 V serta nilai kuat arus adalah sebesar 11 mA dengan panjang kawat
berturut-turut yakni 1 m, 75 cm, dan 50 cm. Nilai tegangan pada jenis kawat tembaga yang
berdiameter (0,30 0,01) mm berturut-turut adalah sebesar 20 V, 12 V, dan 8 V serta nilai kuat
arus adalah sebesar 9 mA dengan panjang kawat berturut-turut yakni 1 m, 75 cm, dan 50 cm.
Nilai tegangan pada jenis kawat tembaga yang berdiameter (0,19 0,01) mm berturut-turut
adalah sebesar 9 V, 7 V, dan 5 V serta nilai kuat arus adalah sebesar 21 mA dengan panjang
kawat berturut-turut yakni 1 m, 75 cm, dan 50 cm. Nilai tegangan pada jenis kawat nikrom yang
berdiameter (0,26 0,01) mm berturut-turut adalah sebesar 12 V, 11 V, dan 8 V serta nilai kuat
arus adalah sebesar 5 mA dengan panjang kawat berturut-turut yakni 1 m, 75 cm, dan 50 cm.
Nilai tegangan pada jenis kawat nikelin yang berdiameter (0,16 0,01) mm berturut-turut adalah
sebesar 18 V, 16 V, dan 13 V serta nilai kuat arus adalah sebesar 3 mA dengan panjang kawat
berturut-turut yakni 1 m, 75 cm, dan 50 cm.

B. Pembahasan
Dari data tersebut kami memperoleh nilai hambatan jenis kawat nikelin yang berdiameter
(0,31 0,01) mm adalah sebesar (44,9.10-8 4,2.10-8) dengan ketidakpastian 9,45% dan taraf
ketelitian 90,5%. Nilai hambatan jenis pada kawat tembaga yang berdiameter (0,30 0,01) mm
dan (0,19 0,01) mm adalah sebesar (1,31.10-8 0,003.10-8) dengan ketidakpastian 0,21% dan
taraf ketelitian 99,7%. Nilai hambatan jenis pada kawat nikrom yang berdiameter (0,26 0,01)

mm dan (0,16 0,01) mm adalah sebesar (74,15. 19,95.10-8) dengan ketidakpastian

26,91 % dan taraf ketelitian 73,09 %.


Dari percobaan, dapat dinyatakan secara teori bahwa semakin panjang l, maka nilai

semakin kecil (berbanding terbalik). Dan semakin besar diameter, maka nilai semakin

besar (berbanding lurus). Hal ini sesuai dengan hasil praktikum yang telah kami lakukan
berdasarkan manipulasi panjang yakni 1 m; 0,75 m; dan 0,50 m untuk setiap diameter kawat.

BAB V
PENUTUP

a. Kesimpulan
1. Berdasarkan dari hasil percobaan hambatan jenis kawat yang kami lakukan dapat diambil
kesimpulan bahwa nilai hambatan dari suatu kawat dengan jenis dan diameter yang berbeda,
maka nilai hambatannya berbeda pula. Dari percobaan, dapat dinyatakan secara teori bahwa

semakin panjang l, maka nilai semakin kecil (berbanding terbalik). Dan semakin besar

diameter, maka nilai semakin besar (berbanding lurus).


2. Jika jenis kawat yang digunakan adalah tembaga, maka hambat jenis kawat tersebut semakin
kecil.
3. Jika panjang suatu kawat penghantar semakin panjang, maka hambat jenis kawat tersebut
semakin kecil.
4. Jika besar diameter suatu kawat penghantar semakin besar, maka hambat jenis kawat tersebut
semakin besar.
5. Dari data tersebut kami memperoleh nilai hambatan jenis kawat nikelin yang berdiameter (0,31
0,01) mm adalah sebesar (44,9.10-8 4,2.10-8) dengan ketidakpastian 9,45% dan taraf ketelitian
90,5%. Nilai hambatan jenis pada kawat tembaga yang berdiameter (0,30 0,01) mm dan (0,19
0,01) mm adalah sebesar (1,31.10-8 0,003.10-8) dengan ketidakpastian 0,21% dan taraf
ketelitian 99,7%. Nilai hambatan jenis pada kawat nikrom yang berdiameter (0,26 0,01) mm

dan (0,16 0,01) mm adalah sebesar (74,15. 19,95.10-8) dengan ketidakpastian 26,91

% dan taraf ketelitian 73,09 %.

b. Saran
Sebelum percobaan, diharap praktikan mengecek kondisi alat-alat praktikum terlebih
dahulu sehingga tidak mengalami kesulitan saat praktikum. Jika ada kerusakan, segera melapor
ke asisten dosen.

DAFTAR PUSTAKA

Giancoli. Tanpa tahun. Fisika Jilid 2.


Sears, Francis Weston dan Mark W. Zemansky. 1994. Fisika untuk Universitas 2 Listrik, Magnet.
Jakarta: Binacipta.
Sutrisno dan Tan Ik Gie. 1986. Fisika Dasar. Bandung: ITB.
Tim. 2014. Modul Praktikum Kelistrikan dan Kemagnetan. Surabaya : Unipress
Gambar 1. Konektor Gambar 2. Papan slider

Gambar 3. Basicmeter Gambar 4. Tahanan geser

Gambar 5. Power supply Gambar 6. Micrometer sekrup


LAMPIRAN PERHITUNGAN

NIKEL
a.

b.

Vm/A

c.

TEMBAGA
a.

b.
c.

d.

e.

f.

NIKROM
a.

b.
c.

d.

e.

f.

KETELITIAN NIKEL
No. d d2
1. 48,0.10-8 3,1.10-8 9,61.10-16
2. 45,7.10-8 0,8.10-8 0,64.10-16
3. 41,0.10-8 -3,9.10-8 15,21.10-16
134,7.10-8 25,46.10-16
R rata2= 44,9.10-8
SD= = = = 4,2.10-8

X= X = (44,9.10-8 4,2.10-8)

Ketidakpastian= x 100% = 9,45 %

Ketelitian: 100%- 9,45% = 90,55 %

KETELITIAN TEMBAGA
No. d d2
1. 1,57.10-8 0,26.10-8 0,0676.10-16
2. 1,26.10-8 - 0,05.10-8 0,0025.10-16
3. 1,27.10-8 - 0,04.10-8 0,0016.10-16
4. 1,22.10-8 - 0,09.10-8 0,0081.10-16
5. 1,26.10-8 -0,05.10-8 0,0025.10-16
6. 1,30.10-8 -0,01.10-8 0,0001.10-16
7,87.10-8 0,0824.10-16
R rata2= 1,31.10-8

SD= = = = 0,003.10-8

X= X = (1,31.10-80,003.10-8)

Ketidakpastian= 100% = 0,21%

Ketelitian: 100%-0,21 % = 99,79%

KETELITIAN NIKROM
No. d d2
1. 63,6.10-8 -10,55.10-8 111,3025.10-16
2. 77,8.10-8 3,65.10-8 13,3225.10-16
3. 84,9.10-8 10,75.10-8 115,5625.10-16
4. 60,2.10-8 -13,95.10-8 194,6025.10-16
5. 71,4.10-8 -2,75.10-8 7,5625.10-16
6. 87,0.10-8 12,5.10-8 156,25.10-16
444,9.10-8 598,6.10-16
R rata2= 74,15.10-8

SD= = = = 19,95.10-8

X= X = (74,15.10-819,95.10-8)

Ketidakpastian= x 100% = 26,91%

Ketelitian: 100%- 26,9% = 73,09%

PERTANYAAN dan JAWABAN

1. Berikan keterangan fisis tentang hambatan jenis, dapatkan hubungan antara tahanan kawat, luas
penampang, dan hambatan jenis tersebut sesuai dengan pengetahuan anda!
2. Lima buah kawat alumunium menjadi satu masing-masing berdiameter 1 mm dan panjangnya 20
m.
a. Tentukan tahanan dari alumunium tersebut!
b. Bila suhunya 300oC, berapakah t dan Rt?

c. Jika kawat tersebut disambung menjadi satu memanjang, tetukan nilai hambatan kawat tersebut!
Jawab
1. Hambatan jenis dipengaruhi oleh jenis kawat, panjang kawat, dan diameter kawat. Jika jenis
kawat yang digunakan adalah tembaga, maka hambat jenis kawat tersebut semakin kecil. Jika
panjang suatu kawat penghantar semakin panjang, maka hambat jenis kawat tersebut semakin
kecil. Jika besar diameter suatu kawat penghantar semakin besar, maka hambat jenis kawat
tersebut semakin besar.
2. Diketahui: n kawat= 5
D= 1 mm= 1.10-3 m
l= 20 m
a. Ralumunium =

= 2,63.10-8 .
= 2,63.10-8 .

= 2,63.10-8 .

= 2,68.10-2

b. T= 300oC, t dan Rt?

t = 20 [1 + (t 20o)]

= 2,63.10-8 [1 + (300o 20o)]

= 2,63.10-8 [1 + (280o)]

= 2,63.10-8 [1 + ]

= 2,63.10-8 [2,092]
= 2,87196. 10-8 m2
c. Jika kawat disambung menjadi satu
Ralumunium =

= 2,63.10-8 .

= 2,63.10-8 .

= 3,35