Anda di halaman 1dari 10

Praktek -1 : Cara Kerja dan Fumigasi Mesin Tetas

CARA KERJA DAN FUMIGASI MESIN TETAS

Pokok Bahasan : Tatalaksana Penetasan Telur Unggas


Sub Pokok Bahasan : Cara Kerja dan Fumigasi Mesin Tetas
Alokasi Waktu : 1 x 2 jam

1.1. Maksud dan Tujuan Praktikum


Mahasiswa diharapkan :
1. Mengetahui dan mengerti cara kerja dari mesin tetas.
2. Mengetahui dan melaksanakan cara fumigasi mesin tetas yang benar.

1.2. Landasan Teori


Perbanyakan populasi unggas biasanya ditempuh dengan cara menetaskan
telur yang sudah dibuahi. Penetasan telur ada dua cara, yaitu melalui penetasan
alami (induk ayam) dan melalui penetasan buatan (mesin tetas).
Kekurangan penetasan telur secara alami menggunakan induk ayam atau entog
dibandingkan dengan mesin tetas, yaitu dalam hal kapasitas telur yang dapat
ditetaskan. Telur yang dieramkan dengan menggunakan induk ayam berkisar antara
10 - 15 butir setiap kali pengeraman, sedangkan menggunakan mesin tetas setiap
pengeraman dapat menampung lebih banyak telur.
Keuntungan lainnya dalam penetasan telur dengan menggunakan mesin tetas
yaitu :
1. Tingkat keberhasilan penetasan lebih besar. Kalaupun ada telur yang tidak dapat
menetas, karena bibit mati atau tidak dibuahi oleh pejantan, maak telur tadi dapat
dipisahkan dan masih cukup baik untuk dimakan.
2. Dengan menggunakan mesin tetas, telur dapat ditetaskan terus menerus, tanpa
dipengaruhi musim atau cuaca.
3. Anak ayam yang telah menetas dapat lebih terjamin kelangsungan hidupnya.
4. Induk ayam tidak perlu berhenti dalam memproduksi telurnya yang diakibatkan
oleh masa pengeraman.
Mesin tetas modern ataupun mesin tetas konvensional pada dasarnya terdiri
dari beberapa bagian yaitu lemari (kotak) mesin tetas, tempat menyimpan telur,
sumber panas, pengatur suhu, pengatur kelembaban. Perbedaan kedua bentuk
mesin tetas tersebut terutama kapasitas telur yang dapat ditampung, bahan lemari
(kotak) mesin tetas, sumber panas, tempat pengeraman penetasan, pembalikkan
telur, dan pengatur kelembaban. Secara rinci kedua perbedaan mesin tetas tersebut
dapat dilihat pada Tabel 1.1.

Praktikum Manajemen Ternak Unggas (2014) Prak 1 - Hal 1


Praktek -1 : Cara Kerja dan Fumigasi Mesin Tetas

Tabel 1.1. Perbedaan Spesifikasi Mesin Tetas Modern dan Mesin Tetas
Konvensional

Spesifikasi Mesin Tetas Modern Mesin Tetas Konvensional


Kapasitas Telur 5.000 100.000 butir Rata-rata 100 butir
Bahan Kotak (Lemari) Mesin Stainless steel, kayu Kayu, triplek, melamin
Tetas
Sumber panas Kumparan atau elemen dari Nikelin, lampu, cempor (lampu
arus listrik teplok), kombinasi
Tempat pengeraman penetasan Setter dan hatcher terpisah Setter dan hatcher bersatu
Pembalikkan telur Otomatis Manual
Pengatur suhu Secara electric Thermostat
Pengatur Kelembaban Secara electric dengan Baki air
sprayer

Mesin tetas yang akan dibahas pada praktikum ini yaitu mesin tetas
konvensional yang sering digunakan oleh peternak unggas untuk menetaskan ayam
buras, itik dan puyuh.
Pada prinsipnya mesin tetas konvensional terdiri dari beberapa bagian meliputi
kotak mesin tetas, rak telur, tempat air (pengatur kelembaban), dan pengatur suhu.

Kotak Mesin Tetas


Kotak mesin tetas dapat dibuat dari bahan apa saja, yang terpenting panas yang
dihasilkan dari sumber pemanas tetap stabil dan aman bagi pengguna (user) mesin
tetas. Biasanya kotak mesin tetas dibuat dari bahan kayu, triplek, dan melamin.
Gambar kotak mesin tetas sederhana tertera pada Gambar 1.1.

Gambar 1.1. Kotak Mesin Tetas Sederhana

Praktikum Manajemen Ternak Unggas (2014) Prak 1 - Hal 2


Praktek -1 : Cara Kerja dan Fumigasi Mesin Tetas

Rak Telur
Rak telur merupakan bagian mesin tetas yang sangat berperan terhadap
keberhasilan program penetasan telur. Rak telur dibuat dengan memperhatikan
beberapa syarat, diantaranya adalah panas yang diterima merata, telur tidak
terganggu, mudah dibalikkan dan dikontrol, mudah dikeluarkan dari mesin, dan
kedudukan telur dapat diatur sehingga bagian tumpul menghadap ke atas. Ukuran
dari rak telur untuk semua model rak telur (dijelaskan pada bagian selanjutnya)
disesuaikan dengan bagian dalam kotak.
Berdasarkan syarat-syarat tersebut, model rak telur yaitu : Rak Telur Sederhana
(Gambar 1.2.), Rak Telur Yang Dilipat (Gambar 1.3.), Rak Telur Dengan Dasar Jeruji
(Gambar 1.4.), dan Rak Telur Dengan Pengatur Posisi (Gambar 1.5.)

Gambar 1.3. Rak Telur Dilipat


Gambar 1.2. Rak Telur Sederhana

Gambar 1.4. Rak Telur Dasar Besi Jeruji

Gambar 1.5. Rak Telur Dengan Pengatur


Posisi

Pengatur Kelembaban (Bak Air)


Pengatur kelembaban pada mesin tetas konvensional diatur secara manual
dengan menggunakan bak air. Bak air bisa dibuat dari seng yang ukurannya lebih
kecil dengan ukuran dalam mesin tetas atau bisa juga tempat yang terbuat dari
plastik yang sudah jadi. Bentuk bak air tersaji pada Gambar 1.6. dan 1.7

Praktikum Manajemen Ternak Unggas (2014) Prak 1 - Hal 3


Praktek -1 : Cara Kerja dan Fumigasi Mesin Tetas

Gambar 1.6. Penampungan Air (Bak Air)

Gambar 1.7. Bak Air Dari Plastik

Sumber Pemanas
Mesin tetas yang dibuat merupakan mesin tetas kombinasi menggunakan dua
sumber panas yaitu lampu tempel dan listrik. Penggunaan mesin tetas kombinasi
mempunyai keuntungan yaitu bila listrik mati, bisa menggunakan lampu tempel.

Alat Pengukur Temperatur


Pengukur suhu berupa thermometer khusus untuk penetasan ataupun
thermometer ruangan.

Termoregulator
Termoregulator yang digunakan pada mesin tetas kombinasi yaitu
termoregulator ganda, yang dapat dibeli di Missouri (daerah Bandung).
Termoregulator terdiri dari beberapa bagian yaitu :

Kapsul
Kapsul ini berupa pelat kuningan tipis yang di dalamnya berisi larutan eter. Eter
ini biasnya akan mengembang atau menipis bila terjadi perubahan suhu. Eter
mudah menguap kalau dipanaskan. Kerja eter dimanfaatkan untuk mengangkat atau
menurunkan pen setang termoregulator yang terletak di atasnya. Gambar kapsul
dapat dilihat pada Gambar 1.8.

Praktikum Manajemen Ternak Unggas (2014) Prak 1 - Hal 4


Praktek -1 : Cara Kerja dan Fumigasi Mesin Tetas

Gambar 1.8. Kapsul Thermoregulator

Tombol pengatur
Tombol pengatur berguna untuk mengatur kedudukan termostat pada suhu yang
sudah ditentukan. Tombol ini berhubungan langsung dengan kapsul, sehingga
pengaturan suhu dimulai dari tombol ini.
Setang dimasukkan dalam sebuah pipa yang berlubang. Setang pada pipa
berhubungan langsung dengan tangkai termoregulator. Penampang tombol
pengatur dapat dilihat pada Gambar 1.9.

Gambar 1.9. Penampang Tombol Pengatur

Tangkai Termoregulator
Tangkai ini berguna untuk mengangkat tutup pipa dan berfungsi dengan baik bila
dihubungkan dengan kapsul. Pada tangkai ini digunakan pemberat untuk mengatur
keseimbangan. Penampang tangkai thrmoregulator dapat dilihat pada Gambar 1.10.

Praktikum Manajemen Ternak Unggas (2014) Prak 1 - Hal 5


Praktek -1 : Cara Kerja dan Fumigasi Mesin Tetas

Gambar 1.10. Penampang Tangkai Thermoregulator

1.3. Alat dan Bahan Praktikum


1.3.1. Alat :
Mesin tetas
Cawat petridis
Gelas Ukur
Labu Erlenmeyer
Timbangan O haus
Alat ukur (meteran)
Mesin Tetas

1.3.2. Bahan :
KMnO4
Formalin (H2CO) 40 %

1.4. Cara Kerja


1.4.1. Cara Kerja Mesin Tetas
Pengaturan suhu dilakukan dengan cara mengatur sekrup pada
thermoregulator yang disesuaikan dengan suhu pada thermometer yang
terdapat dalam mesin tetas.
Putaran sekrup searah jarum jam mengakibatkan penurunan suhu,
sedangkan pemutaran sekrup berlawanan arah jarum jam meningkatkan
suhu. Sekrup ini berfungsi untuk menahan kawat (besi) dalam pipa besi
yang berhubungan dengan kapsul.
Pemutaran sekrup harus dilakukan dengan hati-hati, karena bila rotasi
putaran sekrup terlalu banyak baik searah ataupun berlawanan dengan
jarum jam akan menyebabkan temperatur dalam mesin tetas tertalu rendah
ataupun terlalu tinggi.

Praktikum Manajemen Ternak Unggas (2014) Prak 1 - Hal 6


Praktek -1 : Cara Kerja dan Fumigasi Mesin Tetas

Mula-mula panas yang disalurkan ke dalam mesin tetas yang berasal dari
kawat nikelin akan mengembangkan kapsul dan mendorong besi (kawat)
dalam setang besi (pipa besi), sehingga tangkai thermoregulator terangkat
ke atas menyebabkan terputusnya aliran listrik dan panas yang dihantarkan
kawat nikelin terputus pula. Bila suhu mesin tetas turun maka kapsul
mengempis yang mengakibatkan aliran listrik tersambung dan panas
dihantarkan kembali melalui kawat nikelin.
Begitu juga dengan lampu tempel, udara panas yang dialirkan melalui pipa
seng masuk ke dalam ruang mesin tetas, sehingga kapsul mengembang
serta mendorong kawat dalam pipa besi yang mengakibatkan tangkai
thermoregulator terangkat ke atas dan tutup seng terangkat. Dengan
demikian sebagian panas dari lampu tempel dibuang keluar. Bila suhu mesin
tetas turun maka kapsul mengempis yang mengakibatkan tangkai
thermoregulator turun sehingga tutup seng menutup dan panas dihantarkan
kembali melalui pipas seng ke dalam mesin tetas.
Untuk lebih jelas cara kerja mesin tetas dapat dilihat pada Gambar 1.11.

Gambar 1.11. Penampang Melintang Mesin Tetas Kombinasi

Praktikum Manajemen Ternak Unggas (2014) Prak 1 - Hal 7


Praktek -1 : Cara Kerja dan Fumigasi Mesin Tetas

1.4.2. Fumigasi Mesin Tetas


1. Ukur volume mesin tetas dengan alat ukur (meteran) yaitu panjang, lebar
dan tinggi dari mesin tetas bagian dalam. Selanjutnya nilai volume yang
saudara dapatkan konversikan pada Tabel 1.2.
2. Tutup semua ventilasi atau lubang pada mesin tetas dengan menggunakan
kertas bekas atau kertas koran.
3. Hitung kebutuhan KMn04 dan formalin 40 % sesuai dengan volume mesin
tetas pada konsentrasi 3 kali.
4. Timbang KmnO4 dengan menggunakan neraca Ohaus sesuai dengan
perhitungan yang saudara dapatkan, setelah itu tempatkan KmnO 4 pada
cawan petridis.
5. Ukur volume formalin 40 % dengan menggunakan gelas ukur sesuai dengan
perhitungan yang saudara dapatkan, lalu masukkan cairan formalin 40 %
pada labu erlenmeyer.
6. Tempatkan cawan petridis yang berisi KMnO 4 pada tempat penyimpanan
telur tetas dalam mesin tetas, lalu tuangkan larutan formalin 40 % yang
terdapat dalam labu erlenmeyer secara hati-hati ke cawan petridis.
7. Tutup pintu mesin tetas dengan segera, agar gas yang timbul tidak sampai
ke luar dari dalam mesin tetas.

Tabel 1.2. Fumigasi Formaldehide untuk volume ruang 2,83 m 3

Konsentrasi KMnO4 (g) Formalin 40 % (cc/ml)


1 kali 20 40
2 kali 40 80
3 kali 60 120
4 kali 80 160
5 kali 100 200
Sumber : North dan Bell, 1990

Contoh :
Misal mesin tetas mempunyai panjang = 50 cm, lebar = 50 cm, dan tinggi 50 cm,
maka volume mesin tetas yaitu 0,5 x 0,5 x 0,5 = 0,125 m 3.
Untuk fumigasi dilakukan konsentrasi 3 kali, jadi jumlah untuk :

Praktikum Manajemen Ternak Unggas (2014) Prak 1 - Hal 8


Praktek -1 : Cara Kerja dan Fumigasi Mesin Tetas

KMnO4 :

0,125
x 60 2,65 g
2,83

Formalin :

0,125
x 120 5,3 ml
2,83

1.5. Pertanyaan
1. Sebutkan keuntungan menetaskan telur dengan mesin tetas dibandingkan
dengan alami oleh induk ayam, entog ataupun angsa.
2. Berdasarkan aliran udara, mesin tetas yang saudara gunakan di
Laboratorium Produksi Ternak Unggas disebut apa ?
3. Sebutkan sumber panas yang dihasilkan pada mesin tetas ?
4. Apa perbedaan antara mesin tetas konvensional dengan mesin tetas
modern ?
5. Sebutkan kapasitas telur yang dapat di tetaskan dalam mesin tetas?
6. Jelaskan berapa cara fumigasi pada mesin tetas ?
7. Mengapa fumigasi mesin tetas dilakukan dengan konsentrasi 3 kali?
8. Sebutkan ada berapa bentuk rak telur pada mesin tetas konvensional ?
9. Mengapa mesin tetas perlu difumigasi ?
10. Sebutkan perusahaan yang mengeluarkan mesin tetas modern ?

Praktikum Manajemen Ternak Unggas (2014) Prak 1 - Hal 9


Praktek -1 : Cara Kerja dan Fumigasi Mesin Tetas

Lembar Kerja Praktikum

Sub Pokok Bahasan : Cara Kerja dan Fumigasi Mesin Tetas


Tanggal Praktikum :
Nama Mahasiswa :
NPM Mahasiswa :
Kelompok :
Asisten :

Perhitungan
Panjang mesin tetas =. ........ cm3 = ......... m3
Lebar mesin tetas =. ......... cm3 = ......... m3
Tinggi mesin tetas =. ........ cm3 = ......... m3
Volume mesin tetas =. ........................................ m3
Kebutuhan KmnO4 = ........................................................ g
Kebutuhan Formalin = ........................................................ g

Tabel Pengamatan Fumigasi Mesin Tetas

Dosis Fumigasi Lama


Nomor Volume Kekuatan
KmnO4 Formalin 40 % waktu
Mesin Ruangan Fumigasi
fumigasi
Tetas ( cm )3 (kali) (g) (ml) (menit)

Sumedang,
Dosen/Asisten Mahasiswa

Praktikum Manajemen Ternak Unggas (2014) Prak 1 - Hal 10