Anda di halaman 1dari 49

CASE REPORT

DIAGNOSIS HOLISTIK DAN TERAPI KOMPREHENSIF


DALAM LAYANAN KEDOKTERAN KELUARGA
TERHADAP KEJADIAN TYPHOID DI KELURAHAN
SEMBUNGHARJO SEMARANG

Diajukan Guna Memenuhi Salah Satu Syarat Untuk Program Pendidikan


Profesi Dokter Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran
Universitas Islam Sultan Agung Semarang

Periode Kepaniteraan 8 Agustus 2016 8 Oktober 2016

DISUSUN OLEH :
Joko Santosa
01.211.6423

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS ISLAM SULTAN AGUNG

SEMARANG

2016

1
HALAMAN PENGESAHAN
Laporan kasus yang berjudul
DIAGNOSIS HOLISTIK DAN TERAPI KOMPREHENSIF DALAM
LAYANAN KEDOKTERAN KELUARGA TERHADAP KEJADIAN
TYPHOID DI KELURAHAN SEMBUNGHARJO SEMARANG

oleh
Joko Santosa
01.211.6522
Laporan Kasus yang telah diseminarkan, diterima dan disetujui di depan tim
penilai Puskesmas Bangetayu Kota Semarang.

Telah Disahkan
Semarang, September 2016

Kepala Puskesmas Bangetayu Pembimbing

dr. Suryanto Setyo Priyadi dr. Yuni Susanti

Mengetahui
Kepala Bagian IKM FK Unissula

dr. Tjatur Sembodo, MS(PH)

2
3

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami ucapkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, yang telah
memberikan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan Laporan
Kasus Diagnosis Holistik dan Terapi Komprehensif Dalam Layanan Kedokteran
Keluarga Terhadap Kejadian Tyhoid di Kelurahan Sembungharjo Semarang.
Laporan ini disusun untuk memenuhi tugas-tugas dalam rangka menjalankan
kepanitraan Klinik Ilmu Kesehatan Masyarakat. Laporan ini dapat diselesaikan
berkat kerjasama tim dan bantuan dari berbagai pihak, sehingga kami mengucapkan
terimakasih yang sebesar-besarnya kepada :

1. dr. Suryanto Setyo Priyadi, selaku Kepala Puskesmas Bangetayu yang


telah memberikan bimbingan dan pelatihan selama kami menempuh
Kepanitraan Klinik Ilmu Kesehatan Masyarakat di Puskesmas Bangetayu,
Semarang.

2. dr. Yuni Susanti, selaku pembimbing Kepanitraan IKM di Puskesmas


Bangetayu yang telah memberikan bimbingan dan pelatihan selama kami
menempuh Kepanitraan Klinik Ilmu Kesehatan Masyarakat di Puskesmas
Bangetayu, Semarang.

3. Paramedis, beserta Staf Puskesmas Bangetayu atas bimbingan dan kerjasama


yang telah diberikan.

Kami menyadari sepenuhnya bahwa penyusunan laporan ini masih jauh dari
sempurna karena keterbatasan waktu dan kemampuan. Karena itu kami sangat
berterima kasih atas kritik dan saran yang bersifat membangun.

Akhir kata kami berharap semoga hasil Laporan Kasus Diagnosis Holistik dan
Terapi Komprehensif Dalam Layanan Kedokteran Keluarga Terhadap Kejadian
Tyhpoid di Kelurahan Sembungharjo Semarang periode kepaniteraan 8 Agustus
2016 8 Oktober dapat bermanfaat bagi semua pihak.

Semarang, September 2016


4

DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL........................................................................................ i

HALAMAN PENGESAHAN.......................................................................... ii

KATA PENGANTAR....................................................................................... iii

DAFTAR ISI..................................................................................................... iv

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang.......................................................................... 1

B. Rumusan Masalah..................................................................... 2

C. Tujuan ....................................................................................... 2

D. Manfaat..................................................................................... 3

BAB II TINJAUAN PUSTAKA...................................................................... 4

BAB III ANALISA HASIL

A. Cara Pengamatan dan Waktu Pengamatan................................ 15

B. Analisis Penyebab Masalah....................................................... 26

BAB IV PEMBAHASAN

A. Gambaran Proses dan Masalah pada Kelima Aspek................. 30

B. Teori-Teori dari Penelitian........................................................ 34

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan............................................................................... 37

B. Saran.......................................................................................... 38

DAFTAR PUSTAKA........................................................................................ 39
5

LAMPIRAN......................................................................................................

41
1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Typhoid / Typus abdominalis merupakan infeksi sistemik serius yang

disebabkan oleh pathogen Salmonella entericaserovar Typhi yang lazim disebut

Salmonella typhi. Salmonella typhi sebagai penyebab kasus demam tifoid pada

manusia dapat menyebabkan kematian lebih dari 600,000 pertahun yang tersebar

luas di daerah tropik diseluruh dunia. Demam tifoid di Indonesia juga merupakan

masalah kesehatan masyarakat dilihat dari tingginya angka kesakitan dan kematian

akibat typhoid. Angka kesakitan demam tifoid di Indonesia mencapai 500 per

100.000 penduduk dengan kematian 0,65%. Dari data tersebut di atas terlihat

demam tifoid adalah penyakit yang sampai sekarang masih merupakan problema

epidemiologik.
Kota Semarang sebagai salah satu kota besar di Indonesia masih memiliki

angka kejadian demam typhoid yang cukup besar pada tahun 2016. Pada tahun

2015 tercatat sebanyak 4671 kejadian demam typhoid telah terjadi di kota

Semarang. Kasus tersebut berdasarkan data dari 37 puskesmas yang ada di kota

Semarang. Puskesmas Ngaliyan merupakan salah satu wilayah di Semarang yang

memiliki jumlah penderita demam thypoid cukup banyak. Pada bulan januari 2016

hingga bulan September 2016 kejadian typhoid di puskesmas Bangetayu sebanyak

342 kasus.. Demam thypoid ini juga merupakan salah satu penyakit yang

menempati 15 penyakit terbesar di wilayah Puskesmas Bangetayu.


Sumber penularan terutama melalui pencemaran makanan atau minuman oleh

bakteri tersebut yang dikeluarkan melalui tinja penderita demam tifoid. Typhoid
2

diduga erat hubungannya dengan hygiene perorangan yang kurang baik, sanitasi

lingkungan yang jelek (misalnya penyediaan air bersih yang kurang memadai,

pembuangan sampah dan kotoran manusia yang kurang memenuhisyarat

kesehatan, pengawasan makanan dan minuman yang belum sempurna), serta

fasilitas kesehatan yang tidak terjangkau oleh sebagian besar masyarakat.


Kegiatan yang dilakukan oleh kepaniteraan klinik Ilmu Kesehatan Masyarakat

Fakultas Kedokteran Unissula Semarang di Puskesmas Bangetayu selain sebagai

tugas mata kuliah untuk memenuhi syarat pendidikan profesi dokter, juga secara

tak langsung membantu program pemerintah dalam membantu menyelesaikan

masalah kesehatan yang ditemukan di Puskesmas Bangetayu dengan

meningkatkan peran aktif masyarakat.

1.2. Rumusan Masalah

Apa saja faktor-faktor yang berpengaruh terhadap kejadian penyakit tyhpoid di


Kelurahan Sembungharjo Semarang ?

1.3. Tujuan Pengamatan

1.3.1. Tujuan Umum

Untuk memperoleh informasi mengenai faktor-faktor yang

berpengaruh terhadap kejadian penyakit tyhpoid dengan

pendekatan Trilogi Epidemiologi.

1.3.2. Tujuan Khusus

1.3.2.1. Untuk memperoleh informasi mengenai faktor perilaku yang


mempengaruhi terjadinya typhoid.
3

1.3.2.2. Untuk memperoleh informasi mengenai faktor pelayanan


kesehatan yang mempengaruhi terjadinya typhoid.
1.3.2.3. Untuk memperoleh informasi mengenai faktor lingkungan yang
mempengaruhi terjadinya typhoid
1.3.2.4. Mengetahui dan memperbaiki pengetahuan mengenai penyakit
typhoid pada pasien typhoid.

1.4. Manfaat

1.4.1. Bagi Masyarakat


1.4.1.1. Masyarakat mengetahui mengenai typhoid
1.4.1.2. Masyarakat mengetahui manfaat perilaku hidup bersih dan sehat
1.4.1.3. Masyarakat mengetahui tentang kesehatan lingkungan
1.4.1.4. Membangun kesadaran masyarakat tentang pencegahan
terhadap kejadian typhoid
1.4.2. Bagi Mahasiswa
1.4.2.1. Mahasiswa mengetahui secara langsung permasalahan yang ada
di lapangan.
1.4.2.2. Mahasiswa menjadi terbiasa melaporkan masalah mulai
penemuan masalah sampai pembuatan plan of action.
1.4.2.3. Sebagai media yang menambah wawasan pengetahuan tentang
ilmu kesehatan masyarakat.
1.4.2.4. Sebagai media yang dapat mengembangkan ketrampilan sebagai
dokter.
1.4.2.5. Sebagai modal dasar untuk melakukan penelitian bidang ilmu
kesehatan masyarakat pada tataran yang lebih lanjut.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Diare
2.1.1. Definisi
4

Demam typhoid adalah penyakit infeksi akut yang biasanya terdapat


pada saluran pencernaan. Demam Typhoid merupakan infeksi sistemik serius
yang disebabkan oleh patogen Salmonella entericaserovar Typhi yang lazim
disebut Salmonella typhi dengan gejala demam yang disertai gangguan
pencernaan hingga gangguan kesadaran.
2.1.2. Epidemiologi
Demam typhoid merupakan penyakit infeksi yang dijumpai di daerah
tropis dan subtropis terutama dengan kualitas sumber aiur yang tidak memadai
dengan standar hygiene dan sanitasi yang rendah. Demam typhoid disebabkan
oleh Salmonella typhii yang dapat bertahan hidup lama di lingkungan yang
kering dan beku. Organisme tersebut juga mampu bertahan hidup selama 1
minggu dan dapat bertahan serta berkembang biak dalam daging, susu, telur
atau produknya tanpa merubah warna dan bentuknya. Manusia merupakan
satu-satunya sumber penularan alami Salmonella typhii, melalui kontak
langsung maupun tidak langsung dengan seorang penderita demam typhoid
atau carrier kronis. Bisa juga terjadi penularan dari ibu yang mengalami
bakterimia kepada janin yang dikandungnya.
Sumber penularan biasanya tidak dapat ditemukan. Ada dua sumber
penularan yaitu pasien demam typhoid dan yang lebih sering adalah carrier.
Carrier adalah orang yang telah sembuh dari demam typhoid tetapi masih terus
mensekresi Salmonella typhii dalam tinja dan air kemihnya selama lebih dari
satu tahun. Insidensi penyakit typhoid bervariasi dari satu tempat ke tempat
lainnya dan dari waktu ke waktu, tersebar hampir di seluruh dunia.
Sumber Infeksi dari demam typhoid adalah makanan dan minuman
yang terkontaminasi oleh Salmonella typhii diantaranyua adalah :
a. Air yang terkontaminasi dengan tinja
b. Susu dan hasil susu lainnya (es krim, keju, kustard), kontaminasi
dengan tinja atau pasteurisasi yang tidak cukup atau pengepakan
yang tidak tepat
c. Kerang-kerangan akibat air yang terkontaminasi
5

d. Telur dari unggas yang terinfeksi atau daging dan hasil-hasil


lainnya
Konsep lain penyebab penyakit ditinjau dari aspek epidemiolohi tidak
berdiri sendiri, tetapi merupakan suatu rangkaian atau jalinan dari berbagai
penyebab atau faktor risiko yang saling berhubungan satu dengan yang
lainnya, dengan produk akhir adalah penyakit, misalnya faktor ketidak
teraturan penduduk dan faktor lingkungan dengan kebersihan kurang.

2.1.3. Manifestasi Klinis


Masa tunas demam typoid berlangsung antara 10-14 hari. Gejala-gejala
klinis yang timbul sangat bervariasi dari ringan sampai dengan berat, dari
asimtomatik hingga gambaran penyakit yang khas disertai komplikasi hingga
kematian.
Pada minggu pertama setelah melewati masa inkubasi 10-14 hari,
gejala penyakit itu pada awalnya sama dengan penyakit infeksi akut yang lain,
seperti demam tinggi yang berkepanjangan yaitu setinggi 39 C hingga 40 C,
sakit kepala, pusing, pegal - pegal, anoreksia, mual, muntah, batuk, dengan
nadi antara 80-100 kali permenit, denyut lemah, pernapasan semakin cepat
dengan gambaran bronkitis kataral, perut kembung dan merasa tak enak,
sedangkan diare dan sembelit silih berganti. Pada akhir minggu pertama, diare
lebih sering terjadi.Khas lidah pada penderita adalah kotor di tengah, tepi dan
ujung merah serta bergetar atau tremor. Epistaksis dapat dialami oleh penderita
sedangkan tenggorokan terasa kering dan meradang. Jika penderita ke dokter
pada periode tersebut, akan menemukan demam dengan gejala-gejala di atas
yaang bisa sajaterjadi pada penyakit - penyakit lain juga. Ruam kulit (rash)
umumnya terjadi pada hari ketujuh dan terbatas pada abdomen di salah satu
sisi dan tidak merata, bercak-bercak ros (roseola) berlangsung 3-5 hari,
kemudian hilang dengan sempurna. Roseola terjadi terutama pada penderita
golongan kulit putih yaitu berupa makula merah tua ukuran 2-4 mm,
berkelompok, timbul paling sering pada kulit perut, lengan atas atau dada
6

bagian bawah, kelihatan memucat bila ditekan. Pada infeksi yang berat,
purpura kulit yang difus dapat dijumpai. Limpa menjadi teraba dan abdomen
mengalami distensi. Pada minggu pertama, suhu tubuh berangsur - angsur
meningkat setiap hari, yang biasanya menurun pada pagi hari kemudian
meningkat pada sore atau malam hari.
Pada minggu kedua suhu tubuh penderita terus menerus dalam keadaan
tinggi (demam). Suhu badan yang tinggi, dengan penurunan sedikit pada pagi
hari berlangsung. Terjadi perlambatan relatif nadi penderita yang semestinya
nadi meningkat bersama dengan peningkatan suhu, saat ini relatif nadi lebih
lambat dibandingkan peningkatan suhu tubuh. Gejala septicemia semakin berat
yang ditandai dengan keadaan penderita yang mengalami delirium umumnya
terjadi gangguan pendengaran, lidah tampak kering, merah mengkilat nadi
semakin cepat sedangkan tekanan darah menurun, diare yang meningkat
danberwarna gelap, pembesaran hati dan limpa, perut kembung dan sering
berbunyi, gangguan kesadaran, mengantuk terus menerus, dan mulai kacau jika
berkomunikasi.
Pada minggu ketiga suhu tubuh berangsur - angsur turun, dan normal
kembali di akhir minggu. Hal itu terjadi jika tanpa komplikasi atau berhasil
diobati. Bila keadaan membaik, gejala - gejala akan berkurang dan temperatur
mulai turun. Meskipun demikian justru pada saat ini komplikasi perdarahan
dan perforasi cenderung untuk terjadi, akibat lepasnya kerak dari ulkus.
Sebaliknya jika keadaan makin memburuk, dimana septikemia memberat
dengan terjadinya tanda-tanda khas berupa delirium atau stupor, otot - otot
bergerak terus, inkontinensia alvi dan inkontinensia urin. Meteorisme dan
timpani masih terjadi juga tekanan abdomen sangat meningkat diikuti dengan
nyeri perut. Penderita kemudian mengalami kolaps. Jika denyut nadi sangat
meningkat disertai oleh peritonitis lokal maupun umum, maka hal ini
menunjukkan telah terjadinya perforasi usus sedangkan keringat dingin,
gelisah, sukar bernapas, dan kolaps dari nadi yang teraba denyutnya memberi
gambaran adanya perdarahan. Degenerasi miokardial toksik merupakan
7

penyebab umum dari terjadinya kematian penderita demam typoid pada


minggu ketiga.
Gawat abdomen menggambarkan keadaan klinik akibat kegawatan
dirongga perut yang biasanya timbul mendadak dengan nyeri sebagai keluhan
utama. Keadaan ini memerlukan penanggulangan segera yang sering
berupatindakan bedah, misalnya pada perforasi, perdarahan intraabdomen,
infeksi, dan obstruksi. Perforasi usus adalah komplikasi yang cukup serius,
terjadi pada 1 - 3 % kasus. Terdapat lubang di usus, akibatnya isi usus dapat
masuk ke dalam rongga perut dan menimbulkan gejala. Tanda - tanda perforasi
usus adalah nyeri perutyang tidak tertahankan (akut abdomen), atau nyeri perut
yang sudah ada sebelumnya mengalami perburukan, denyut nadi meningkat
dan tekanan darah menurun secara tiba tiba. Gawat abdomen ini
membutuhkan penanganan segera.
Perforasi intestinal dapat dibagi menjadi :
a. Perforasi non trauma, misalnya pada ulkus peptik, typoid dan
apendisitis.
b. Perforasi oleh trauma (tajam dan tumpul)
Minggu keempat merupakan stadium penyembuhan meskipun pada
awal minggu ini dapat dijumpai adanya pneumonia lobar atau tromboflebitis
vena femoralis. Pada mereka yang mendapatkan infeksi ringan dengan
demikian juga hanya menghasilkan kekebalan yang lemah, kekambuhan dapat
terjadi dan berlangsung dalam waktu yang pendek. Kekambuhan dapat lebih
ringan dariserangan primer tetapi dapat menimbulkan gejala lebih berat dari
pada infeksi primer tersebut. Sepuluh persen dari demam typoid yang tidak
diobati akan mengakibatkan timbulnya relaps.
2.1.5. Pengendalian Dan Pencegahan
Demam typhoid yang tersebar di seluruh dunia tidak tergantung pada
iklim. Kebersihan perorangan yang buruk merupakan sumber dari penyakit
usus meskipun lingkungan hidupnya baik. Perbaikan sanitasi dan penyediaan
sarana air yang baik dapat menguirangi penyebaran penyakit ini. Maka
pencegahan typhoid dapat dilakukan dengan :
8

Jangan makan di tempat yang kurang terjamin kebersihannya


Membeli makanan yang masih panas sehingga menjamin
kebersihannya
Penbgawasan produk makanan
Hygiene perorangan yang baik
Pengawasan dan pemeriksaan keadaan sanitasi dan pekerjaan
rumah potong hewan
Edukasi pada para penjual makanan, usaha katering dan masyarakat
luas
Imunisasi dianjurkan pada individu yang berdiam atau bepergian ke
daerah endemik.
Dengan mengetahui cara penyebaran penyakit ini, maka pengendalian
penyakit ini harus dilakukan dengan menerapkan dasar-dasar hygiene dan
kesehatan masyarakat.

2.1.6. Carrier
Setiap orang yang tertular Salmonella, mengekskresi kuman tersebut
pada feses dan air kemih selam beberapa waktu. Bila tidak terjadi keluhan
atau gejala, orang tersebut dinamakan Symtompless excretor. Bila ekskresi
kuman berlangsung terus menerus, orang tersebut dinamakan carrier. Hal
serupa terjadi pada pasien demam typhoid. Pasien demam typhoid berhenti
mengekskresi Salmonella dalam 3 bulan. Pasien yang tetap mengekskresi
setelah 3 bulan dinamakan carrier. Carrier didapatkan terutama pada usia
menengah, lebih sering pada wanita dibandingkan pria dan jarang pada
anak-anak.

2.1.7. Faktor yang berhubungan dengan Kejadian Typhoid


Menurut Hendrik L. Blum, derajat kesehatan dipengaruhi oleh 4 faktor
yaitu faktor lingkungan, faktor perilaku, faktor pelayanan kesehatan, dan faktor
genetik. Pada penyakit menular seperti pada typhoid, faktor genetik tidak
9

terlalu berpengaruh, tetapi faktor demografi seperti karakteristik pasien


memiliki menjadi salah satu faktor dalam terjadinya typhoid. Faktor-faktor
yang dapat mempengaruhi kejadian typhoid tersebut adalah :
A. Faktor Lingkungan
Usaha kesehatan masyarakat menitik beratkan pada pengawasan
terhadap berbagai faktor lingkungan yang mempengaruhi derajat
kesehatan manusia. Berbicara mengenai lingkungan sering kali hanya
meninjau dari kondisi fisik. Lingkungan yang memiliki kondisi sanitasi
buruk dapat menjadi sumber berkembangnya penyakit. Hal ini jelas
membahayakan kesehatan masyarakat. Terjadinya penumpukan sampah
yang tidak dapat dikelola dengan baik, polusi udara, air dan tanah juga
dapat menjadi penyebab.
Upaya menjaga lingkungan menjadi tanggung jawab semua
pihak untuk itulah perlu kesadaran semua pihak. Puskesmas sendiri
memiliki program kesehatan lingkungan dimana berperan besar dalam
mengukur, mengawasi, dan menjaga kesehatan lingkungan masyarakat.
Namun dilematisnya di puskesmas jumlah tenaga kesehatan lingkungan
sangat terbatas padahal banyak penyakit yang berasal dari lingkungan
kita seperti diare, demam typhoid demam berdarah, malaria, TBC,
cacar dan sebagainya.
Disamping lingkungan fisik juga ada lingkungan sosial,
ekonomi dan budaya yang berperan. Sebagai mahluk yang
membutuhkan bantuan orang lain, interaksi individu satu dengan yang
lainnya harus terjalin dengan baik.
B. Perilaku
Perilaku adalah segala bentuk tanggapan dari individu terhadap
lingkungan. Perilaku merupakan perwujudan dari adanya kebutuhan.
Perilaku yang dapat diketahui orang lain tanpa menggunakan alat bantu
disebut dengan perilaku terbuka sedangkan perilaku yang hanya dapat
diketahui atau dimengerti dengan metode tertentu disebut perilaku
tertutup. Perilaku yang mempengaruhi terjadinya typhoid adalah :
10

A. Perilaku makan dan minum di luar rumah


Makan di luar merupakan salah asatu kebiasaan bagi
sebagian besar masyarakat, dari kebiasaan ini tidak jarang
seseorang kurang memperhatikan kebersihan dari makanan
yang dimakan, serta menggunakan air minum tanpa dimasak
terlebih dahulu, misalnya air susu yang terkontaminasi, air es
yang dibuat dari air yang terkontaminasi. Infeksi Salmonella
typhii pada umumnya terjadi karena mengkonsumsi makanan
atau minuman yang tercemar akibat pengolahan makanan /
minuman yang tidak higienis.
B. Perilaku cuci tangan dengan sabun sebelum makan dan
sesudah BAB
Salah satu penularan dari penyakit saluran pencernaan
adalah melalui tangan yang tercemar oleh mikroorganisme
penyebab penyakit seperti Salmonella typhii sebagai penyebab
typhoid. Mencuci tangan dengan sabun sebelum makan dan
setelah buang air besar dapat mencegah penularan typhoid.
Perilaku penjamah makanan berpengaruh terhadap
kontaminasi makanan. Seorang penjamah makanan dianjurkan
untuk melakukan perilaku sehat yang berhubungan dengan
penanganan makanan antara lain cuci tangan sebelum
menjamah atau mengolah makanan. Hal ini dimaksudkan
karena tangan dapat menjadi media perantara bagi penularan
penyakit infeksi dan kulit, dan juga merupakan tempat yang
subur untuk perkembangbiakan bakteri. Alat makan merupakan
salah satu faktor yang memegang peranan di dalam menularkan
penyakit, sebab alat makan yang tidak bersih dan mengandung
mikroorganisme dapat menularkan penyakit lewat makanan,
sehingga proses pencucian alat makan sangat berarti dalam
membuang sisa makanan dari peralatan yang menyokong
11

pertumbuhan mikroorganisme dan melepaskan mikroorganisme


yang hidup.
C.. Pelayanan kesehatan
Kondisi pelayanan kesehatan juga menunjang derajat kesehatan
masyarakat. Pelayanan kesehatan yang berkualitas sangatlah
dibutuhkan. Masyarakat membutuhkan posyandu, puskesmas, rumah
sakit dan pelayanan kesehatan lainnya untuk membantu dalam
mendapatkan pengobatan dan perawatan kesehatan. Terutama untuk
pelayanan kesehatan dasar yang memang banyak dibutuhkan
masyarakat. Kualitas dan kuantitas sumber daya manusia di bidang
kesehatan juga mesti ditingkatkan.
Puskesmas sebagai garda terdepan dalam pelayanan
kesehatan masyarakat sangat besar perananya. sebab di
puskesmaslah akan ditangani masyarakat yang membutuhkan
edukasi dan perawatan primer. Peranan Sarjana Kesehatan
Masyarakat sebagai manager yang memiliki kompetensi di
bidang manajemen kesehatan dibutuhkan dalam menyusun
program-program kesehatan. Utamanya program-program
pencegahan penyakit yang bersifat preventif sehingga
masyarakat tidaka banyak yang jatuh sakit.
Banyak kejadian kematian yang seharusnya dapat dicegah
seperti diare, demam berdarah, malaria, dan penyakit degeneratif yang
berkembang saat ini seperti jantung karoner, stroke, diabetes militus
dan lainnya. penyakit itu dapat dengan mudah dicegah asalkan
masyarakat paham dan melakukan nasehat dalam menjaga kondisi
lingkungan dan kesehatannya.
D..Faktor demografi / karakteristik
Iklim
Tifoid pada masyarakat dengan standar hidup dan
kebersihan rendah, cenderung meningkat dan terjadi secara
12

endemis. Biasanya angka kejadian lebih tinggi pada daerah yang


beriklim tropis daripada daerah yang berhawa dingin.
Umur
Semua kelompok umur dapat tertular demam tifoid,
tetapi paling banyak adalah golongan dewasa muda. Di daerah
endemik demam tifoid, insiden tertinggi didapatkan pada anak-
anak, orang dewasa sering ditemukan telah terinfeksi, sembuh
sendiri dan menjadi kebal.
Jenis kelamin
Distribusi jenis kelamin antara penderita laki-laki dan
perempuan pada demam typhoid tidak ada perbedaan, tetapi
pria lebih banyak terpapar kuman dibandingkan dengan wanita.
Hal ini dimungkinkan karena pria lebih banyak beraktivitas di
luar, sehingga memiliki risiko lebih besar.
Tingkat Ekonomi
Beberapa determinan penyakit menular seperti tifoid,
kebanyakan terjadi pada masyarakat dengan tingkat ekonomi
yang kurang hal ini dimungkinkan berkaitan dengan satus gizi
dan keadaan sanitasi lingkungan rumah yang juga kurang
memenuhi standar. Meskipun demikian tifoid dapat mengenai
siapa saja dan dari semua tingkat ekonomi.
Tingkat pendidikan
Tingkat pendidikan sangat berhubungan dengan
pengetahuan yang dimiliki seseorang. Pengetahuan yang
dimiliki akan mempengaruhi perspsi seseorang akan konsep
sehat dan sakit sehingga pada akhirnya akan mempengaruhi
kebiasaan individu dan keluarga untuk hidup sehat termasuk
upaya individu dan keluarga maupun masyarakat di dalam
melakukan pencegahan penyakit.
2.1.7 Program dan Kegiatan P2M Typhoid di Puskesmas
13

Di Indonesia, kegiatan dari program kegiatan pemberantasan


penyakit menular (P2M) untuk tifoid masih belum ada. Selama ini
puskesmas lebih sering memberikan pelayanan kuratif saja untuk tifoid.
Upaya promotif seperti penyuluhan untuk penyakit menular seperti tifoid
masih jarang dilakukan.
Infeksi usus menimbulkan gejala gastrointestinal serta gejala lainnya
bila terjadi komplikasi ekstra intestinal termasuk manifestasi neurologik.
Gejala gastrointestinal bisa berupa diare, kram perut, dan muntah.
Sedangkan manifestasi sistemik bervariasi tergantung pada penyebabnya.

BAB III

STATUS PRESENT

3.1. Cara dan Waktu Pengamatan

Cara : Wawancara dan kunjungan ke rumah


Waktu : Anamnesa awal kepada pasien dilakukan di Rumah pada 30 Agustus
2016, untuk mengamati kondisi lingkungan dan perilaku pasien. Pada tanggal 2
September 2016, dilakukan intervensi di rumah pasien.

Hasil Pengamatan
3.1.1. Identitas pasien
14

a. Nama : Tn. D
b. Jenis kelamin : Laki-laki
c. Umur : 19 tahun
d. Berat badan : 62 kg
e. Tinggi badan : 160 cm
f. Agama : Islam
g. Alamat : SH RT3/7
h. Tanggal mulai berobat : 24 Agustus 2016
Cara pembayaran : Jamkesmas

3.1.2. Anamnesis Holistik


A. ASPEK 1
Keluhan Utama Demam
Harapan Pasien sembuh sehingga bisa bekerja seperti semula
dan tidak kambuh lagi
Kekhawatiran Sakit yang dialami tidak sembuh dan bertambah
parah

B. ASPEK 2
ANAMNESIS

Riwayat 3 hari sebelum masuk puskesmas penderita merasakan


Penyakit tidak enak badan saat bekerja sesampainya di rumah
pasien merasakan badannya tiba-tiba demam. Demamnya
Sekarang
semakin tinggi pada malam hari hingga pasien kadang
merasa mengigil dan pada pagi hingga sore hari
demamnya terasa turun. Mual (+) muntah (-), diare (-),
konstipasi (-), bab lembek, pusing (+), batuk (-), pilek (-),
nafsu makan menurun (+), perut terasa tak enak (+), lemas
(+).

Riwayat a. Sakit serupa : (+)


b. Influenza : (+)
Penyakit Dahulu
c. DBD : (-)
15

d. Riwayat alergi obat atau makanan : (-)


Riwayat Keluarga satu rumah tidak ada mengalami sakit serupa (-)
Penyakit
Keluarga
Riwayat Sosial Pasien tinggal dengan kedua orang tuanya, istri dan kedua
Ekonomi adiknya, pasien adalah seorang pekerja, kedua orang
tuanya bekerja sebagai buruh. Dirawat dengan
menggunakan bpjs, penghasil orang tua tidak tentu rata-
rata per bulan Rp. 900.000.

Identitas Keluarga

No. Anggota Hub. Jenis Umur Tingkat Pekerjaan Agama


Keluarga Dgn Kelamin Pendidikan
pasien

1 Tn.N Ayah Laki-laki 47 th SD Wiraswasta Islam

2 Ny.S Ibu Perempuan 41 th SD Wiraswasta Islam

3 Tn.D Pasien Laki-laki 19 th SMA Pelajar Islam

4 An. I Adik Laki Laki 10 th - Tidak Islam


Bekerja

5 An.D Adik Laki-Laki 8 th - Tidak Islam


Bekerja

3.2.2.1 Data Genetika

Gambar 1. Data Genetika

Keterangan:
16

Data Rumah

Rumah pasien luasnya 6 m x 7 m = 42 m 2 yang dihuni oleh 6 orang

sehingga didapatkan kepadatan rumah <9 m 2/orang. Rumah pasien disertai

ventilasi dibagian depan, tetapi ventilasi di ruang tengah dan kamar tidur

tidak ada. Lantai rumah bagian depan pakai keramik dan lantai rumah

bagian belakang dengan semen. Di dalam rumah, dan terdapat baju-baju

yang digantung. Jamban di dalam rumah pasien terlihat kotor. Lingkungan

sekitar rumah padat. Pemenuhan air bersih dari air artesis. Pasien memiliki 1

WC di rumah, sehari-hari jika BAB di rumah. Letak dapur bersebelahan

dengan kamar mandi dan untuk tempat cuci piring di dalam kamar mandi

dengan menggunakan ember.

C. ASPEK 3
Faktor Resiko Internal
Pengetahuan pasien tentang typhoid dan penularan typhoid yang masih
kurang.
Kurangnya upaya preventif untuk proteksi diri terhadap agent seperti
mencuci tangan memakai sabun sebelum makan dan setelah BAB,
Suka memakan makanan di pinggir jalan {Menghindari makan dan
minum yang tidak hygienis.}

D. ASPEK 4
Faktor Resiko Eksternal
17

Pengetahuan keluarga pasien tentang typhoid dan penularan typhoid


yang masih kurang.
Sanitasi lingkungan sekitar yang kurang (tidak terdapat penampungan
air untuk memasak dan tempat pembuangan sampah belum terkelola
dengan baik/ tempat sampah tanpa penutup dan diletakkan di dapur)
terdapat penumpukan sampah yang tidak dapat dikelola dengan baik,
polusi udara, air dan tanah juga dapat menjadi penyebab.
Tata letak ruang yang kurang baik (letak dapur bersebelahan dengan
kamar mandi dan untuk tempat cuci piring di dalam kamar mandi
dengan menggunakan ember.)
Lingkungan padat penduduk

E. ASPEK 5
Derajat Fungsional
1 : Mampu melakukan aktivitas seperti sebelum sakit

Bentuk dan Struktur Keluarga

Bentuk keluarga : Keluarga kecil (nuclear family)

Struktur keluarga

Struktur komunikasi : Tidak terbuka.

Struktur peran :

- Pasien yang merupakan suami bekerja sebagai buruh

- Istri pasien sebagai ibu rumah tangga


18

Struktur kekuatan : expert power (pendapat ahli) dan informational

power (pengaruh yang dilalui melalui proses persuasi)

Nilai/norma/budaya keluarga :

- Menurut pasien berobat ke pelayanan kesehatan hanya jika ada

keluhan yang parah

- Menurut istri pasien berobat ke pelayanan kesehatan harus

disegerakan jika timbul keluhan

Fase Kehidupan Keluarga

Keluarga pasien berada di fase kehidupan tinggal bersama orang tua , istri dan

kedua adiknya.

Identifikasi Fungsi Keluarga

Fungsi biologis

- Meneruskan keturunan ()

- Memelihara dan membesarkan anak ()

- Memenuhi kebutuhan gizi keluarga ()

Fungsi psikologis

- Memberi perhatian diantara anggota keluarga ()

Fungsi sosial

- Tn. D sering mengikuti aktivitas warga dan suka bersosialisasi dengan

para tetangga

Fungsi ekonomi
19

- Pasien masih bergantung kepada kedua orang tuanya dan mereka sebagai

tulang punggung keluarga sekarang bekerja sebagai buruh

- Istri sebagai ibu rumah tangga

- Menabung untuk memenuhi kebutuhan keluarga di masa depan (-)

Risiko-Risiko Internal Keluarga

Pengetahuan keluarga pasien tentang typhoid dan penularan typhoid yang


masih kurang.
Kurangnya upaya preventif untuk proteksi diri terhadap agent seperti mencuci
tangan memakai sabun sebelum makan dan setelah BAB, menghindari makan
dan minum yang tidak hygienis.

Risiko-Risiko Eksternal Keluarga

Sanitasi lingkungan sekitar yang kurang (tidak terdapat penampungan air


untuk memasak dan tempat pembuangan sampah belum terkelola dengan baik/
tempat sampah tanpa penutup dan diletakkan di dapur)
Tata letak ruang yang kurang baik (letak dapur bersebelahan dengan kamar
mandi dan untuk tempat cuci piring di dalam kamar mandi dengan
menggunakan ember)
Lingkungan padat penduduk

Skala Fungsional Keluarga

Mampu melakukan pekerjaan ringan sehari-hari di dalam dan luar rumah

PEMERIKSAAN FISIK PASIEN ( 30 Agustus 2016)


20

Tanda Vital
Seorang laki-laki, umur 44 tahun.
Keadaan umum : sadar, tampak lemah, sesak nafas (-), retraksi (-), tidak
sianosis.

Tekanan darah : 150/90 mmHg

Nadi : 82x/menit

RR : 18x/menit

Temperature : 36,3oC

Antropometri : BB 75 kg TB 168 cm BMI 26

Status Presens

Kepala : normocephal

Rambut : hitam, uban (+), tidak mudah dicabut

Kulit kepala : massa (-)

Wajah : simetris, massa (-)

Mata : konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-), refleks

cahaya (+/+)

Telinga: deformitas (-/-), massa (-/-), sekret (-/-)

Hidung : deformitas (-), sekret (-/-)

Mulut : bibir pucat (-)

Leher : pembersaran kelenjar getah bening (-), deviasi trakhea

(-)

Thorax

Inspeksi : simetris, retraksi ruang sela iga (-), massa (-)


21

Palpasi : nyeri tekan (-), massa (-), krepitasi (-), gerakan dinding

dada simetris, fremitus vocal simetris

Perkusi : sonor seluruh lapang paru

Auskultasi : rhonki (+)

Cor : S1 S2 regular, murmur (-), gallop (-)

Pulmo : vesikuler (+) seluruh lapang paru, Rhonki (+/+),

wheezing(-/-)

Abdomen

Inspeksi : datar, tanda-tanda inflamasi (-), massa (-), caput

meducae (-), spider nevy (-), distensi (-)

Auskultasi : bising usus (+) normal, bising pembuluh darah (-)

Perkusi : timpani (+), nyeri ketok (-), nyeri ketok CVA (-/-)

Palpasi : nyeri tekan (-), massa (-), hepar/lien/ren tidak teraba,

tes undulasi (-), shifting dullness (-)

Pelvis : deformitas (-), krepitasi (-), massa (-), nyeri tekan (-)

Musculoskeletal : gerakan bebas (+), deformitas (-), krepitasi (-), nyeri

tekan (-)

Saraf

Kaku kuduk : Tidak ditemukan

Saraf kranialis : Dalam batas normal

Tabel 2.1. Pemeriksaan Saraf Motorik

Motorik Superior Inferior


Gerakan N/N N/N
Kekuatan 5/5 5/5
Tonus N/N N/N
22

Trofi N/N N/N

Refleks fisiologis : ++/++

Refleks patologis : --/--

Kulit : ikterik (-), petekhie (-), turgor kulit < 2

detik

- Pemeriksaan lab : Test Widal Typhi H : (+) 1/ 320


3.1.3. Diagnosis Holistik
ASPEK 1
Keluhan Demam
Harapan Sembuh sehingga pasien bisa sehat seperti semula
dan tidak kambuh lagi.

Kekhawatiran Sakit yang dialami bertambah parah dan adanya


komplikasi

ASPEK 2
Diagnosis kerja Typhoid
Diagnosis DBD
banding
ASPEK 3
Faktor resiko Pengetahuan pasien tentang typhoid dan
internal penularan typhoid yang masih kurang.
Kurangnya upaya preventif untuk proteksi
diri terhadap agent seperti mencuci tangan
memakai sabun sebelum makan dan
setelah BAB,
Suka memakan makanan di pinggir jalan
{menghindari makan dan minum yang
tidak hygienis.}

ASPEK 4
Faktor resiko Pengetahuan keluarga pasien
eksternal tentang typhoid dan penularan
23

typhoid yang masih kurang.


Sanitasi lingkungan sekitar yang
kurang (tidak terdapat
penampungan air untuk memasak
dan tempat pembuangan sampah
belum terkelola dengan baik/
tempat sampah tanpa penutup dan
diletakkan di dapur)

terdapat penumpukan sampah


yang tidak dapat dikelola dengan
baik, polusi udara, air dan tanah
juga dapat menjadi penyebab.
Tata letak ruang yang kurang baik
(letak dapur bersebelahan dengan
kamar mandi dan untuk tempat
cuci piring di dalam kamar mandi
dengan menggunakan ember.)
Lingkungan padat penduduk

ASPEK 5
Derajat 1 : Mampu melakukan aktivitas seperti sebelum
fungsional sakit

3.1.4. Usulan Penatalaksanaan Komprehensif


Identifikasi masalah
1. Pengetahuan pasien dan keluarga pasien tentang typhoid, penularan dan
pencegahan typhoid yang masih kurang
2. Kurangnya upaya preventif untuk proteksi diri terhadap agent
3. Sering makanan di pinggir jalan, ketika di rumah tidak ada makanan.
4. Sanitasi lingkungan sekitar yang kurang (tidak terdapat penampungan
air untuk memasak dan tempat pembuangan sampah belum terkelola
dengan baik/ tempat sampah tanpa penutup dan diletakkan di dapur).
24

5. Tata letak ruang yang kurang baik (letak dapur bersebelahan dengan
kamar mandi dan untuk tempat cuci piring di dalam kamar mandi
dengan menggunakan ember)

6. Pengetahuan masyarakat sekitar tentang penyakit typhoid, penularan


dan pencegahan typhoid yang masih kurang sehingga kesadaran untuk
menjaga kebersihan sanitasi belum berjalan baik.

Analisis Penyebab Masalah

Environment
1. Lingkungan padat penduduk ( lingkungan yang memungkinkan
bakteri penyebab dapat berkembang biak dengan cepat)
2. Makan makanan di pinggir jalan.
3. Sanitasi lingkungan sekitar yang kurang (tidak terdapat
penampungan air untuk memasak dan tempat pembuangan sampah
belum terkelola dengan baik/ tempat sampah tanpa penutup dan
diletakkan di dapur )
4. terdapat penumpukan sampah yang tidak dapat dikelola dengan
baik, polusi udara, air dan tanah juga dapat menjadi penyebab.
5. Tata letak ruang yang kurang baik (letak dapur bersebelahan dengan
kamar mandi dan untuk tempat cuci piring di dalam kamar mandi
dengan menggunakan ember.)
6. Pengetahuan keluarga pasien tentang typhoid, penularan dan
pencegahan typhoid yang masih kurang

Agent Host
Pengetahuan pasien tentang
bakteri typhoid, penularan dan pencegahan typhoid yang masih kurang
Kurangnya upaya preventif untuk proteksi diri terhadap agent seperti mencuci tangan memakai sa
Suka memakan makanan diluar {menghindari makan dan minum yang tidak hygienis }
25

1. Intervensi
SEGITIGA EPIDEMIOLOGI
Promotif
- Patient centered
Memberikan penyuluhan/edukasi tentang penyakit typhoid mulai dari
definisi yang benar tentang typhoid, penyebab, cara penularan, cara
pencegahan terutama mencuci tangan sebelum menyiapkan makanan,
sebelum makan dan setelah BAB.
- Family focused
Memberikan edukasi atau penyuluhan mengenai penyakit typhoid
kepada keluarga mulai dari definisi yang benar tentang typhoid, penyebab,
cara penularan, cara pencegahan terutama mencuci tangan sebelum
menyiapkan makanan, sebelum makan dan setelah BAB.
- Community oriented
Memberikan edukasi atau penyuluhan mengenai penyakit typhoid
kepada masyarakat mulai dari definisi yang benar tentang typhoid, penyebab,
cara penularan, cara pencegahan terutama mencuci tangan sebelum
menyiapkan makanan, sebelum makan dan setelah BAB.

Preventif
Patient centered
- Menggunakan sabun cuci tangan sebelum menyiapkan makanan,
sebelum makan dan setelah BAB.
- Penampungan air dan tempat sampah berpenutup
- Tidak makan makanan yang kurang hygienis
Family focused
- Semua anggota keluarga ikut melaksanakan kegiatan pencegahan
penularan typhoid (typhoid yang disebabkan oleh infeksi bakteri).
- Makan makanan hygienis
26

- Memberi saran untuk mengkonsumsi vitamin untuk menjaga daya tahan


tubuh

- Community oriented : melaksanakan kegiatan pencegahan penularan


typhoid.
Kuratif
Terapi medikamentosa

Infus RL 20 tpm

Kloramfenikol 3 x 500 mg tab. Selama 14 hari

Paracetamol 3 x 500 mg tab.

Antasid 3 x 1 tab.

Family oriented : -
Community oriented :-

Rehabilitatif
Patient centered
- Memotivasi pasien untuk rutin minum obat dan kontrol ke dokter jika
masih ada keluhan
- Perilaku hidup bersih dan sehat
- Menjaga makanan dan minuman tetap hygienis,penderita diberitahukan
untuk menjaga kualitas dan kuantitas makanan di rumah
Family oriented
- Dukungan dari keluarga untuk penyakit pasien agar pasien minum obat
teratur
Community oriented : -

2. Pemantauan/ follow up
27

Kunjungan pertama ke tempat tinggal pasien, dilakukan pada 30


Agustus 2016. Dalam kunjungan pertama ke rumah pasien, didapatkan
gambaran mengenai lingkungan tempat tinggal pasien dan keadaan rumah
tempat tinggal. Pasien dan keluarga tinggal di rumah yang kurang cukup
untuk ditinggali satu keluarga, lantai rumah bagian teras dan ruang tamu
sudah berkeramik dan bagian tengah dan dapur masih berupa semen.
Penataan rumah kurang baik, karena letak dapur bersebelahan dengan kamar
mandi dan untuk tempat cuci piring di dalam kamar mandi dengan
menggunakan ember. Pasien dan keluarga tinggal di rumah yang sanitasinya
kebutuhan air di dapur memakai kran artetis dan tidak terdapat tempat
penampungan air (air untuk memasak diambil langsung dari kran), pada
dapur terdapat satu tempat sampah tanpa penutup yang memungkinkan lalat
untuk hinggap. Ventilasi, higienitas, dan pencahayaan masih harus
ditingkatkan.

Pemantauan/ Follow Up II

Kunjungan kedua dilakukan pada tanggal 2 September 2016, pada


kunjungan ini dilakukan intervensi dari hasil kunjungan pertama berupa
edukasi kepada penderita dan keluarga tentang typhoid, gejala, bahaya,
penularan dan pencegahan, serta edukasi tentang pentingnya kebersihan
tangan dimana tangan merupakan salah satu media penularan kuman dan
sumber bersarangnya bakteri penyakit maka dari itu sangat penting untuk
tahu cara mencuci tangan yang benar dengan menggunakan sabun. Edukasi
supaya tidak sering jajan di pinggir jalan. Pemberian tempat sampah yang
tertutup, dimana tempat sampah sebelumnya diletakkan di dapur dalam
keadaan terbuka sehingga mengundang lalat untuk datang ke dapur.
Pemberian tudung saji makanan, pemberian poster, leaflet dan hand sanitizer.
28

BAB IV
PEMBAHASAN

A. Gambaran Proses dan Masalah pada Kelima Aspek

Aspek 1

Keluhan Demam
Harapan Sembuh sehingga pasien bisa sehat seperti semula dan
tidak kambuh lagi.

Kekhawatiran Sakit yang dialami tidak sembuh atau bertambah parah

Demam yang meningkat pada malam hari, sejal 3 hari yang lalu.
29

Harapan dan kekhawatiran yang disampaikan pasien bisa digunakan untuk

memotivasi pasien agar mau menerima saran/nasihat/pengobatan dari dokter.

ASPEK 2
Diagnosis kerja Typhoid
Diagnosis banding DBD
Typhoid, bila terdapat tanda di bawah ini:
- Keadaan Umum : lemah
- pusing dan perut terasa tidak enak
- Demam meninggi saat malam hari
- mual dan muntah
Tes widal typhi H 1/ 320

ASPEK 3
Faktor resiko internal Pengetahuan pasien tentang typhoid dan
penularan typhoid yang masih kurang.
Kurangnya upaya preventif untuk proteksi diri
terhadap agent seperti mencuci tangan memakai
sabun sebelum makan dan setelah BAB,
Suka memakan makan dipinggir jalan
{menghindari makan dan minum yang tidak
hygienis}.

Faktor internal pasien terdiri dari faktor yang dimodifikasi dan bisa dimodifikasi.

ASPEK 4
Faktor resiko eksternal Pengetahuan keluarga pasien tentang typhoid
dan penularan typhoid yang masih kurang.
Sanitasi lingkungan sekitar yang kurang
(tidak terdapat penampungan air untuk
memasak dan tempat pembuangan sampah
30

belum terkelola dengan baik/ tempat sampah


tanpa penutup dan diletakkan di dapur)

terdapat penumpukan sampah yang tidak


dapat dikelola dengan baik, polusi udara, air
dan tanah juga dapat menjadi penyebab.
Tata letak ruang yang kurang baik (letak
dapur bersebelahan dengan kamar mandi dan
tempat cuci piring di dalam kamar mandi
dengan menggunakan ember)

Lingkungan padat penduduk


Faktor risiko eksternal saling berhubungan dengan faktor risiko internal

ASPEK 5
Derajat Mampu melakukan aktivitas seperti sebelum sakit
fungsional

Derajat fungsional pasien masih seperti biasanya namun mengalami penurunan karena
pasien harus pasien merasa lemah keadaannya.

B. Intervensi
Promotif
- Patient centered
- Memberikan penyuluhan/edukasi tentang penyakit typhoid mulai dari definisi
yang benar tentang typhoid, penyebab, cara penularan, cara pencegahan
terutama mencuci tangan sebelum menyiapkan makanan, sebelum makan
dan setelah BAB dan pengobatan yang benar untuk penderita typhoid.
- Memberikan penyuluhan mengenai PHBS
- Family focused
- Memberikan edukasi atau penyuluhan mengenai penyakit typhoid kepada
keluarga mulai dari definisi yang benar tentang typhoid, penyebab, cara
31

penularan, cara pencegahan terutama mencuci tangan sebelum menyiapkan


makanan, sebelum makan dan setelah BAB dan pengobatan yang benar
untuk penderita diare.
- Memberikan penyuluhan mengenai PHBS
- Community oriented
- Memberikan edukasi atau penyuluhan mengenai penyakit typhoid kepada
masyarakat mulai dari definisi yang benar tentang diare, penyebab, cara
penularan, cara pencegahan terutama mencuci tangan sebelum menyiapkan
makanan, sebelum makan dan setelah BAB dan pengobatan yang benar
untuk penderita typhoid.
- Memberikan penyuluhan mengenai PHBS
Preventif
- Patient centered
- Menggunakan sabun cuci tangan sebelum menyiapkan makanan, sebelum
makan, dan setelah BAB
- Penampungan air dan tempat sampah berpenutup
- Tidak makan makanan yang kurang hygienis
- Family focused
Semua anggota keluarga ikut melaksanakan kegiatan pencegahan penularan
typhoid (yang disebabkan oleh infeksi bakteri).
- Community oriented :-

Kuratif
Patient centered
Infus RL 20 tpm

Kloramfenikol 3 x 500 mg tab. Selama 14 hari

Paracetamol 3 x 500 mg tab.

Antasid 3 x 1 tab.

Family oriented : -
32

Community oriented :-

Rehabilitatif
Patient centered
- memotivasi pasien untuk rutin minum obat dan kontrol ke dokter jika masih
ada keluhan
- perilaku hidup bersih dan sehat
Family oriented
- dukungan dari keluarga untuk penyakit pasien agar pasien minum obat teratur
Community oriented:-

C. TEORI-TEORI DARI PENELITIAN


Trias Epidemiologi
Berdasarkan uraian-uraian sebelumnya, masalah pada pasien dapat
diklasifikasikan dalam masalah pejamu (host), agent, dan lingkungan. Secara
garis besar kejadian diare dipengaruhi oleh faktor individu (host), virus (agent)
yang dibawa oleh virus, bakteri atau parasit dan epidemiologi. Faktor individu
meliputi umur, jenis kelamin, ras, status gizi, adanya infeksi lain dan respon
penderita terhadap virus. Dari aspek epidemiologi diare dipengaruhi oleh
banyaknya orang yang rentan terhadap diare, kepadatan vektor, sirkulasi virus,
bakteri, atau parasit dan endemisitas wilayah. Sedang faktor agent meliput
keganasan (virulence) dan jenis virus (serotype).
Beberapa faktor yang diketahui berkaitan dengan peningkatan transmisi
perkembangbiakan virus, bakteri atau parasit yaitu :
Host
faktor-faktor yang dapat menimbulkan penyakit pada penjamu adalah
a. Daya tahan tubuh terhadap penyakit
Apabila daya tubuh host baik maka virus tidak dapat masuk ke dalam
tubuh,apabila daya tahan tubuh jelek dan host tidak memelihara personal
hygiene yang baik maka virus dengan mudah masuk dalam tubuh host.
33

b. Umur
kebanyakan host yang terkena diare lebih sering pada kelompok usia 21-
40th (51,2%) dan pada anak-anak (75%) jadi diare lebih sering menyerang
pada anak-anak.
c. Jenis kelamin
Jenis kelamin laki-laki mendominasi angka kejadian diare sekitar 86,8%
dan jumlamnya lebih banyak dari pada perempuan sekitar 21%
dikarenakan laki-laki kurang bias memelihara personal hygiene yang
baik.
d. Adat kebiasaan
Bila host kurang bisa memelihara personal hygiene maka sangat mudah
virus masuk dalam tubuh.
Agent
a. Golongan biologi
- Bakteri : Shigella, Salmonella, E. Coli, Gol. Vibrio, Bacillus cereus,
Clostridium perfringens, Stafilokokus aureus, Campylobacter aeromonas

- Virus : Rotavirus, Adenovirus, Norwalk virus, Coronavirus, Astrovirus

- Parasit : Protozoa, Entamoeba histolytica, Giardia lamblia, Balantidium coli,


Trichuris trichiura, Cryptosporidium parvum, Strongyloides stercoralis

b. golongan fisik
Diare disebabkan karena infeksi pada usus
Lingkungan
a. Lingkungan fisik
keadaan lingkungan yang stuktur cuaca kering lebih sering terkena diare.
Daerah dengan stuktur keadaan geografis kurang baik lebih sering
terkena diare dikarenakan kurang pengetahuan.
b. Lingkungan non fisik
Lingkungan dengan sosial ekonomi yang rendah serta adanya kebiasaan
yang kurang baik atau perilaku yang kurang baik dalam memelihara
personal hygiene sangat berpontensial terjadinya diare
34

c. Lingkungan biologis
lingkungan yang dekat dengan hewan-hewan peliharaan yang kurang
terjaga kebersihannya seperti kotoran binatang maka dapat dengan
mudah virus masuk dalam tubuh apabila host tidak menjaga kebersihan.
Virus dari diare dapat dibawa oleh human reservoir.
Pencegahan
Demam typhoid yang tersebar di seluruh dunia tidak tergantung pada
iklim. Kebersihan perorangan yang buruk merupakan sumber dari penyakit
usus meskipun lingkungan hidupnya baik. Perbaikan sanitasi dan penyediaan
sarana air yang baik dapat menguirangi penyebaran penyakit ini. Maka
pencegahan typhoid dapat dilakukan dengan :
Jangan makan di tempat yang kurang terjamin kebersihannya
Membeli makanan yang masih panas sehingga menjamin
kebersihannya
Penbgawasan produk makanan
Hygiene perorangan yang baik
Pengawasan dan pemeriksaan keadaan sanitasi dan pekerjaan
rumah potong hewan
Edukasi pada para penjual makanan, usaha katering dan masyarakat
luas
Imunisasi dianjurkan pada individu yang berdiam atau bepergian ke
daerah endemik.
Dengan mengetahui cara penyebaran penyakit ini, maka pengendalian
penyakit ini harus dilakukan dengan nenerapkan dasar-dasar hygiene dan
kesehatan masyarakat.
35

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

6.1. Kesimpulan
Studi kasus dilakukan pada pasien Tn. D, usia 19 tahun, dengan
diagnosis typhoid dapat diambil kesimpulan bahwa dalam penatalaksannan
kasus typhoid dapat dilakukan dengan diagnosis holistik yang meliputi 5
aspek dan terapi komprehensif meliputi preventif, promotif, kuratif dan
rehabilitatif yang diterapkan dengan cara patient centered, family focused dan
community oriented.

Berdasarkan hasil analisa laporan, maka dapat disimpulkan bahwa faktor-


faktor yang berpengaruh kejadian diare pada kasus ini berdasarkan
pendekatan Trilogi Epidemiologi adalah :

Perilaku

Pengetahuan pasien tentang typhoid dan penularan typhoid yang masih


kurang.
Tidak melaksanakan tindakan preventif untuk proteksi diri terhadap agent
seperti mencuci tangan dengan sabun, sebelum menyiapkan makanan,
sebelum makan dan setelah BAB
Mengkonsumsi makanan dan minuman tanpa memperhatikan hygienitas
Kurangnya kesadaran menjaga kebersihan rumah.

Lingkungan

Pengetahuan keluarga pasien tentang typhoid dan penularan typhoid yang


masih kurang.
Sanitasi lingkungan sekitar yang kurang (tidak terdapat penampungan air
untuk memasak dan tempat pembuangan sampah belum terkelola dengan
baik/ tempat sampah tanpa penutup dan diletakkan di dapur)
36

terdapat penumpukan sampah yang tidak dapat dikelola dengan baik,


polusi udara, air dan tanah juga dapat menjadi penyebab.
Tata letak ruang yang kurang baik (letak dapur bersebelahan dengan kamar
mandi dan tempat cuci piring di dalam kamar mandi dengan
menggunakan ember)
Lingkungan padat penduduk.

6.2. Saran
6.2.a. Untuk Pasien & keluarga
Membersihkan tempat penampungan air minimal seminggu sekali dan
sebaiknya mempunyai bak penampungan air untuk memasak yang
diletakkan jauh dari WC.
Menjaga kebersihan rumah secara rutin dan teratur.

Membiasakan anggota keluarga untuk mencuci tangan dengan sabun


minimal sebanyak 5 kali/hari; yaitu pada saat sebelum makan, setelah
makan, setelah BAB, setelah BAK, sebelum menyusui/menyuapi anak,
dan sebelum berinteraksi dengan anak.
Makan & minum yang hygienis { janga suka memakan jajanan
dipinggir jalan }
6.2.b. Untuk Puskesmas
Memberikan pengobatan medikamentosa untuk typhoid sesuai
dengan guidelines atau pedoman pengobatan yang berlaku
Evaluasi masalah kesehatan secara menyeluruh yang berpengaruh
terhadap masalah kesehatan pasien
Memberikan penyuluhan sederhana mengenai penyakit typhoid
kepada pasien, keluarga pasien dan masyarakat sekitar sehingga
masyarakat dapat mengetahui tentang typhoid mulai dari definisi
yang benar tentang diare, penyebab, cara penularan, pencegahan
terutama kebersihan tangan, dan lingkungan.

6.2.c. Untuk Unissula


37

Bekerjasama dengan puskesmas di sekitar kampus Unissula untuk


lebih meningkatkan kesehatan masyarakat.

DAFTAR PUSTAKA

1. Arief Mansjoer, dkk.2000. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta: Media


Aesculapius

2. Hendrawanto, Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid I Edisi Ketiga


Persatuan Ahli Penyakit Dalam Indonesia.1996

3. Nurtjahyani,SupianaDian.,2007, StudiBiologiMolekulerResistensiSalmonellatyphi
Terhadap Kloramfenikol, http://www.adln.lib.unair.ac.id/go.php?id=gdlhubgdls32007
nurtjahyan3931&PHPSESSID=22131e4ab8f1f44cb5e7400a88f1afe8 dikutip tgl
20.08.2012

4. Sudoyo, dr Aru W. 2006. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid III edisi IV.
Jakarta: PPDIPD FKUI

5. Tumbelaka AR, Retnosari S. Imunodiagnosis Demam Tifoid.Dalam :

Kumpulan NaskahPendidikan Kedokteran Berkelanjutan Ilmu Kesehatan

Anak XLIV. Jakarta : BP FKUI,2001:65-73

6. Typhoid vaccines - Weekly epidemiological record, 11 August 2000; 75:


257-64. http://www.who.int/wer

7. Widodo, D., 2006, Demam Tifoid dalam Buku Ajar Ilmu


Penyakit Dalam, Jilid III Edisi IV, Pusat Penerbitan
Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI, Jakarta, 1774-1779
8. Zulfikri Amin, Azril Bahar, Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam
Jilid II Edisi Keempat Persatuan Ahli Penyakit Dalam
Indonesia.2006
38

LAMPIRAN

Dapur rumah pasien


39

jamban di rumah pasien


Kamar tidur pasien
40

Tempat pembuangan sampah


Tempat pembuangan sampah
daerah pemukiman
rumah
41

INTERVENSI
2
3

PLAN OF ACTION
No Masalah Intervensi Tujuan Indikator Keberhasilan Sasaran Waktu

1 Pengetahuan pasien Edukasi tentang apa Meningkatkan Keluarga mengetahui Pasien dan Jumat, 2
dan keluarga pasien itu diare, gejala, pengetahuan pasien tentang diare, gejala, keluarga September 2016
tentang diare, penularan, dan dan keluarga penularan, dan pencegahan melalui
penularan, dan pencegahan tentang diare, seperti melaksanakan kunjungan rumah
pencegahan diare penularan, dan kegiatan mencuci tangan
yang masih kurang pencegahan diare. dengan sabun sebelum
makan, sebelum memasak
dan setelah BAB

2 Kurangnya upaya Edukasi tentang cuci Pasien mengetahui Pasien melakukan tidakan Pasien dan Jumat, 2
preventif untuk tangan dengan 6 cara mencuci preventif (melakukan cuci keluarga September 2016
proteksi diri terhadap langkah cuci tangan tangan yang benar tangan dengan sabun melalui
agent dan waktu kapan sesuai dengan 6 langkah Kunjungan ke
harus mencuci dan waktu mencuci tangan rumah
tangan seperti sebelum memasak,
sebelum makan, dan
setelah BAB
4

3 Sanitasi lingkungan Anjuran untuk Meningkatkan Rumah selalu dibersihkan Pasien , Selasa, 30
sekitar yang kurang menjaga kebersihan sanitasi lingkungan setiap hari, membuang keluarga Agustus 2016
(tidak terdapat dan sanitasi rumah, sampah pada tempatnya, melalui
penampungan air pengadaan pengadaan dan peletakkan Kunjungan ke
untuk memasak, penampungan air penampungan air untuk rumah
tempat pembuangan untuk memasak dan memasak yang diletakkan
sampah belum tempat sampah tidak bersebelahan dengan
terkelola dengan baik/ berpenutup sebagai WC
tempat sampah tanpa salah satu upaya
penutup dan untuk menjaga
diletakkan di dapur) sanitasi rumah

4 Pengetahuan Edukasi tentang apa Meningkatkan Masyarakat sekitar Masyarakat Jumat, 2


masyarakat sekitar itu diare, gejala, pengtahuan mengetahui tentang diare, sekitar September 2016
penularan,
mengenai diare masih masyarakat sekitar gejala, melalui
pencegahan
rendah mengenai diare, penularan,pencegahan dan Kunjungan ke
gejala, penularan, komplikasi diare. rumah dan
pencegahan dan intervensi
komplikasi diare.