Anda di halaman 1dari 22

BAB 1

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pengikatan ke belakang adalah suatu metode pengukuran data dari tiga buah
titik di lapangan tempat berdiri target (rambu ukur/jalon) untuk memperoleh suatu
titik lain di lapangan tempat berdiri alat yang akan diketahui koordinatnya dari titik
tersebut. Garis antara ketiga titik yang diketahui koordinatnya dinamakan garis
absis. Sudut dalam yang dibentuk antar absis terhadap target di titik A, B, dan C
dinamakan sudut alpha () dan beta (). Sudut alpha dan beta diperoleh dari
lapangan.

Pada metode ini, pengukuran yang dilakukan hanya pengukuran sudut.


Bentuk yang digunakan metode ini adalah bentuk segitiga. Cara Pengikatan ke
belakang dilakukan pada saat kondisi lapangan tidak memungkinkan menggunakan
pengukuran pengikatan ke muka, dikarenakan alat theodolite tidak mudah untuk
berpindah-pindah posisi, dan kondisi lapangan yang terdapat rintangan. Terdapat
dua macam cara yang dapat dipakai dalam menentukan titik koordinat dengan cara
pengikatan ke belakang, yaitu cara pengikatan ke belakang metode Collins dan cara
1
pengikatan ke belakang metode Cassini. Cara pengikatan ke belakang metode
Collins merupakan cara perhitungan dengan menggunakan logaritma, karena pada
saat munculnya teori ini belum terdapat mesin hitung atau kalkulator tetapi pada
saat ini pada proses perhitungannya dapat pula dihitung dengan bantuan kalkulator.
Metode ini di temukan oleh Mr.Collins tahun 1671.
Cara pengikatan ke belakang metode Cassini muncul pada tahun 1979, pada
saat itu teknologi mesin hitung sudah mulai berkembang, sehingga dalam proses
perhitungannya

B. Maksud dan Tujuan


Adapun maksud dan tujuan dari dilaksanakannya kegiatan praktek
pengukuran pengikatan ke belakang ini antara lain adalah sebagai berikut :
1. Untuk memberikan pemahaman terhadap mahasiswa tentang pengukuran
pengikatan ke belakang itu sendiri.
2. Agar mahasiswa mampu dan terampil dalam menggunakan alat Theodolit
sesuai dengan prosedur.
3. Agar mahasiswa mengetahui cara menentukan letak/posisi suatu titik di
permukaan bumi yang selanjutnya titik tersebut digunakan sebagai titik
pengikat pada pengukuran yang lain. Misal pemetaan situasi.

2
BAB II
LANDASAN TEORI

A. Pengukuran Pengikatan Kebelakang


Pengikatan ke belakang adalah suatu metode pengukuran data dari tiga buah
titik di lapangan tempat berdiri target (rambu ukur/jalon) untuk memperoleh suatu
titik lain di lapangan tempat berdiri alat yang akan diketahui koordinatnya dari titik
tersebut. Terdapat dua macam cara yang dapat dipakai dalam menentukan titik
koordinat dengan cara pengikatan ke belakang, yaitu cara pengikatan ke belakang
metode Collins dan cara pengikatan ke belakang metode Cassini.
Dalam laporan ini, perhitungan yang digunakan adalah perhitungan dengan
menggunakan metode Collins. Metode ini di temukan oleh Mr.Collins tahun 1671.
Pada saat itu alat hitung masih belum berkembang sehingga menggunakan bantuan
logaritma dalam perhitungannya. Oleh karena itu cara pengikatan ke belakang yang
dibuat oleh Collins dikenal dengan nama metode logaritma. Akan tetapi pada
pengolahan data perhitungan pada saat ini, dapat dibantu dengan mesin hitung atau
kalkulator, sehingga lebih mudah dalam pengolahannya.
`

3
Adapun langkah-langkah perhitungannya adalah sebagai berikut :
Titik P diikat dengan cara ke belakang pada titik A, B, dan C. Buatlah sekarang
suatu lingkaran sebagai tempat kedudukan melalui titik-titk A, B dan P hubungkanlah
titik P dengan titik C maka garis CP dimisalkan memotong lingkaran tadi di titik H yang
di namakan titik penolong Collins.

besar sudut dan

Untuk menentukan koordinat-koordinat titik H yang telah di gabungkan


dengan titik tertentu C, tariklah garis AH dan BH. Maka sudut BAH = dan sudut ABH
sebagai sudut segiempat tali busur dalam lingkaran sama dengan 180 o - ( + ) dengan
demikian sudut-sudut pada titik pengikat A dan B diketahui, hingga titik H diikat
dengan cara kemuka pada titik-titik A dan B. Sekarang akan dicari koordinat-koordinat
titik P sendiri. Supaya titik P diikat dengan cara ke muka pada titik A dan B, maka
haruslah diketahui sudut BAP dan sudut ABP, ialah sudut-sudut yang ada pada titik
yang telah tentu. Sudut ABP akan dapat di hitung bila diketahui sudut BAP.

Garis bantu metode Collins

4
Untuk menentukan koordinat P dari A, B dan C dipergunakan metoda
perpotongan ke belakang secara numeris Collins dan cara grafis Lingkaran melalui A, B
dan P memotong garis PC di H, yang selanjutnya disebut titik penolong Collins. Titik
penolong Collins ini dapat pula terletak pada garis PB atau PA. Masing-masing
lingkaran. Melalui titik A, C dan P serta melalui titik B, C dan P dengan data pada
segitiga ABH dapat dihitung. Titik A telah diketahui koordinatnya yaitu ( Xa,Ya ).
Selanjutnya akan dicari koordinat titik H. Apabila jarak kedua koordinat tersebut adalah
dah, dan sudut jurusan yang dibentuk oleh kedua titik tersebut adalah ah.
Maka koordinat titik H tersebut adalah
Xh = Xa + dah sin ah dan Yh = Ya + dah cos ah

Penentuan koordinat H dari titik A

ah dapat dicari dengan rumus :


ah = ab +
seperti terlihat pada gambar berikut :

Menentukan sudut ah
Sedangkan sudut jurusan ab sendiri dicari dengan rumus :

5
Untuk mencari dah, diperlukan nilai dab sehingga dah dapat ditentukan dengan
menggunakan perbandingan antara sinus sudut dengan garis sehadap sudut tersebut.

Menentukan rumus dah

Dari gambar di atas dapat dijelaskan bahwa terdapat persamaan sebagai berikut
:

Perhitungan diatas untuk menentukan titik H yang dicari dari titik A, yang
sebetulnya dapat pula dicari dari titik B, yaitu dengan rumus :
Xh = Xb + dbh sin bh dan Yh = Yb + dbh cos bh

6
Penentuan koordinat H dari titik B
bh dapat dicari dengan rumus : bh = ab + ( + ), seperti terlihat pada gambar
berikut :

Menentukan sudut bh
Untuk mencari dbh, diperlukan nilai dab sehingga dbh dapat ditentukan dengan
menggunakan perbandingan antara sinus sudut dengan garis sehadap sudut tersebut.
Dari gambar berikut dapat dijelaskan bahwa terdapat persamaan :

Menentukan rumus dbh

7
Sehingga:

Setelah koordinat titik penolong Collins H diketahui, selanjutnya menentukan


koordinat titik P, yang dapat dicari dari titik A maupun B. Bila dicari dari titik A, maka
rumusnya adalah :
Xp = Xa + dap sin ap dan Yp = Ya + dap cos ap

Penentuan koordinat P dari titik A

ap dapat dicari dengan rumus :


ap = ab + seperti terlihat pada gambar berikut :

Menentukan sudut ap

mengikuti aturan sudut. Maka besarnya sudut sama dengan sudut BHC,
seperti terlihat pada gambar berikut ini

8
Menentukan sudut
Dari gambar diatas besar dapat disusun dengan rumus
= hc - hb
hb didapat dari bh + 180o. Sedangkan
hc didapat dari rumus berikut :

Kembali pada segitiga ABP, dap dapat ditentukan dengan rumus

Menentukan rumus dap

9
Bila menentukan koordinat titik P dari titik B, mempunyai rumus sebagai
berikut
Xp = Xb + dbp sin bp
Yp = Yb + dbp cos bp

Penentuan koordinat P dari titik B

bp dapat dicari dengan rumus : bp = ab + ( + )


seperti terlihat pada gambar berikut :

Menentukan sudut bp
dbp dapat ditentukan dengan rumus

10
Menentukan rumus dbp

B. Keselamatan Kerja

1. Pelajari labsheet ini sebaik baiknya sebelum memulai pekerjaan


2. Periksa alat alat sebelum memulai pekerjaan
3. Perhatikan keadaan lapangan pengukuran supaya tidak terjadi kecelakaan
4. Gunakan alat dan perlengkapan sesuai dengan fungsinya.

11
BAB III
DATA & ANALISA DATA

A. Data Lapangan

Diketahui :
- Koordinat A : (0340122 , 9581526)
- Koordinat B : (0340121 , 9581533)
- Koordinat C : (0340118, 9581535)
- Sudut () : 392010
- Sudut () : 244210

B. Analisa Data

12
1. Menghitung Sudut Jurusan

XB XA = -1 / 7
tg AB= Y B Y A = -0,143
AB = -8,12
=
AZAB = 360 + AB
03401 21 0340122
= 360 + (-8,12)
9581533 9581526
= 351,88

AH = AZAB +
= 351,88 + 244210
= 3763458

= (3763458 - 360)
= 163458

2. Menentukan Jarak AB

XBX A Y B Y A
dab1 = sin ab dab2 = cos ab

= =

0340121 03401 22 9581533 9581526


sin 351,88 cos 351,88

= 7,08 m = 7,071 m

dab = (dab1 + dab2)/2


= (7,08 + 7,071) / 2
= 14,151 / 2
= 7,0755 m

dAB
dAH = sin Sin ( + )

7,0755
= sin39 20 10 Sin (392010 + 244210)

= 11,162 . Sin(640220)
= 10,0356 m

13
3. Menentukan Koordinat titik H terhadap titik A

XH1 = XA + dAH.Sin AZAH


= (0340122) + 10,0356 Sin(163458)
= 0340124,86

YH1 = YA + dAH.Cos AZAH


= (9581526) + 10,0356 Sin(163458)
= 9581528,86

4. Menentukan Koordinat titik H terhadap titik B

BH = AZAB + ( + )
= 351,88 + (392010 + 244210)
= 4155508

= (4155508 - 360)
= 555508

dAB
dBH = sin Sin

7,0755
= sin39 20 10 Sin 244210

= 11,162 . Sin(244210)
= 4,665 m

XH2 = XB + dBH.Sin BH
= (0340121) + 4,665 Sin( 555508 )
= 0340124,86

YH2 = YB + dBH.Cos BH
= (9581533) + 4,665 Cos( 555508 )
= 9581535,6

Koordinat Titik H

X H 1+ X H 2 X Y 1+ X Y 2
XH = 2 YH = 2

= =

0340124,86+0340124,86 9581528,86+9581535,6
2 2

= 0340124,86 = 9581532
= 0340125

14
5. Menentukan Koordinat titik P terhadap titik A

XC X H = -2,3
tg HC= YCY H
HC = -66,5
=
HB = BH - 180
0340118 0340125 = 555508 - 180
9581535 9581532 = -124452

= -7 / 3
= HC - HB
= -66,5 (-124452)
= 573452
AP = AB +
= 351,88 + 573452
= 4092740

= (4092740 - 360 )
= 492740

dAB
dAP = sin Sin ( + )

7,0755
= sin39 20 10 Sin (392010 + 573452 )

= 11,162 . Sin(96552 )
= 11,1 m

XP1 = XA + dAP.Sin AP
= (0340122) + 11,1 Sin(492740)
= 0340130

YP1 = YA + dAP.Cos AP
= (9581526) + 11,1 Cos(492740)
= 9581533

15
6. Menentukan Koordinat titik P terhadap titik B

BP = AB + ( + )
= 351,88 + (392010 + 573452 )
= 4484750

= (4484750 - 360 )
= 884750

dAB
dBP = sin Sin

7,0755
= sin39 20 10 Sin 573452

= 11,162 . Sin(573452)
= 9,4 m

XP2 = XB + dBP.Sin BP
= (0340121) + 9,4 Sin(884750)
= 0340130

YP2 = YB + dBP.Cos BP
= (9581533) + 9,4 Cos(884750)
= 9581533

Koordinat Titik P

X P 1+ X P 2 YP 1+Y P2
XP = 2 YP = 2
0340130+03401 30 9581533+ 9581533
= 2 = 2

= 0340130 = 9581533

16
BAB IV
PEMBAHASAN

A. Theodolith
1. Persyaratan Operasi Theodolith
Syaratsyarat utama yang harus dipenuhi alat theodolite sehingga siap
dipergunakan untuk pengukuran yang benar adalah sebagai berikut :
a. Sumbu I harus tegak lurus dengan sumbu II (dengan menyetel nivo tabung
dan nivo kotaknya).
b. Garis bidik harus tegak lurus dengan sumbu II.
c. Garis jurusan nivo skala tegak, harus sejajar dengan indeks skala tegak.
d. Garis jurusan nivo skala mendatar, harus tegak lurus dengan sumbu II.
(syarat 2, 3, dan 4 sudah dipenuhi oleh pabrik pembuatnya).

2. Mengatur Sumbu Tegak


Langkah-langkah yang harus dilakukan untuk mengatur sumbu tegak adalah
sebagai berikut:
a. Usahakan agar nivo lingkaran mendatar sejajar dengan arah 2 skrup kaki
statif.
b. Tengahkan posisi gelembung nivo dengan cara memutar kedua skrup kaki
statif secara bersamaan dengan arah yang berlawanan.
c. Setelah keadaan gelembung nivo berada di tengah maka putar theodolit 90.
tengahkan posisi gelembung nivo dengan hanya memutar skrup kaki statif
yang ketiga
d. Kemudian kembalikan ke kedudukan semula (sejajar skrup kaki statif 1 dan
2).
e. Tengahkan kembali posisi nivo apabila gelembung nivo belum berada
ditengah.
f. Kemudian putar theodolit 180, sehingga nivo berputar mengelilingi sumbu
tegak dalam kedudukan nivo yang sejajar dengan skrup kaki kiap 1 dan 2.
g. Bila garis arah nivo tegak lurus dengan sumbu tegak, maka gelembung nivo
akan tetap berada ditengah.

3. Penyetelan Alat Theodolith


a. Mendirikan statif sesuai dengan prosedur yang telah ditentukan.
b. Pasang pesawat diatas kepala statif dengan mengikatkan landasan peawat
dan sekrup pengunci di kepala statif.
c. Stel nivo kotak dengan cara:
1) Putarlah sekrup A,B secara bersama-sama hingga gelembung nivo
bergeser kearah garis sekrup C. (lihat gambar 3a)
2) Putarlah sekrup c ke kiri atau ke kanan hingga gelembung nivo
bergeser ketengah (lihat gambar 3b).
3) Setel nivo tabung dengan sekrup penyetel nivo tabung.
d. Bila penyetelan nivo tabung menggunakan tiga sekrup penyetel (A,B,C),
maka caranya adalah:
1) Putar teropong dan sejajarkan dengan dua sekrup A,B (lihat gambar
4a).
2) Putarlah sekrup A, B masuk atau keluar secara bersama-sama, hingga
gelembung nivo bergeser ke tengah (lihat gambar 4a).
3) Putarlah teropong 90 ke arah garis sekrup C (lihat gambar 4b)
4) Putar sekrup C ke kiri atau ke kanan hingga gelembung nivo bergeser
ketengah.

e. Periksalah kembali kedudukan gelembung nivo kotak dan nivo tabung


dengan cara memutar teropong ke segala arah. Bila ternyata posisi
gelembung nivo bergeser, maka ulangi beberapa kali lagi dengan cara yang
sama seperti langkah sebelumnya. penyetelan akan dianggap benar apabila
gelembung nivo kotak dan nivo tabung dapat di tengah-tengah, meskipun
teropong diputar ke segala arah.
B. Pengukuran Pengikatan Kebelakang
Pengikatan ke belakang adalah suatu metode pengukuran data dari tiga buah
titik di lapangan tempat berdiri target (rambu ukur/jalon) untuk memperoleh suatu
titik lain di lapangan tempat berdiri alat yang akan diketahui koordinatnya dari titik
tersebut.
Terdapat dua macam cara yang dapat dipakai dalam menentukan titik
koordinat dengan cara pengikatan ke belakang, yaitu cara pengikatan ke belakang
metode Collins dan cara pengikatan ke belakang metode Cassini. Pada metode ini,
pengukuran yang dilakukan hanya pengukuran sudut. Bentuk yang digunakan
metode ini adalah bentuk segitiga. Cara Pengikatan ke belakang dilakukan pada
saat kondisi lapangan tidak memungkinkan menggunakan pengukuran pengikatan
ke muka, dikarenakan alat theodolite tidak mudah untuk berpindah-pindah posisi,
dan kondisi lapangan yang terdapat rintangan.

C. Keselamatan Kerja
1. Menggunakan pakaian kerja (wearpack) dan helm.
2. Pergunakan alat sesuai dengan kegunaan dan fungsinya.
3. Menggunakan sepatu untuk melindungi kaki.
4. Melindungi PPD dari sinar matahari langsung dengan menggunakan payung.
5. Serius dan tidak bersenda gurau ketika praktek serta melaksanakan praktek
sesuai dengan instruksi dosen dan asisten.

D. Alat & Perlengkapan


1. Pesawat Theodolith
2. Statif
3. Target (Jalon)
4. Rol Meter
5. Unting-Unting untuk alat tanpa sentra optis
6. Kertas dan Alat Hitung
7. Data Board dan Alat Tulis
8. Patok Paku Payung
9. Payung

E. Langkah Kerja

1. Dirikan alat di titik A, target di titik B dan P, atur sehingga siap pakai.
2. Pada posisi teropong biasa (B) arahkan alat ke titik P (sebagai target kiri), baca
dan catat skala lingkaran horizontalnya.
3. Putar teropong alat searah putaran jarum jam. Arahkan ke titik B (sebagai target
kanan), baca dan catat bacaan skala lingkaran horizontalnya.
4. Putar teropong pada posisi luar biasa (LB).
5. Arahkan teropong alat ke titik B (sebagai target kanan), baca dan catat bacaan
skala lingkaran horizontalnya.
6. Putar teropong searah putaran jarum jam, arahkan ke titik P (sebagai target kiri),
baca dan catat bacaan skala lingkaran horizontalnya.
7. Pindahkan alat ke titik B dan target di B dan A dan atur sehingga siap pakai.
8. Pada posisi teropong biasa (B) arahkan alat ke titik A (sebagai target kiri), baca
dan catat bacaan skala lingkaran horizontalnya.
9. Putar teropong alat searah putaran jarum jam. Arahkan ke titik P (sebagai target
kanan), baca dan catat bacaan skala lingkaran horizontalnya.
10. Putar teropong pada posisi luar biasa (LB).
11. Arahkan teropong alat ke titik P (sebagai target kanan), baca dan catat bacaan
skala lingkaran horizontalnya.
12. Putar teropong searah putaran jarum jam, arahkan ke titik A (sebagai target
kiri), baca dan catat bacaan skala lingkaran horizontalnya.
13. Data yang diambil / diukur di lapangan adalah data ukuran sudut (alpha) dan
(beta).
BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan

B. Saran