Anda di halaman 1dari 7

Nama Peserta : dr.

Figa Prima Dani


Nama Wahana : RSUD Sawahlunto
Topik : Kasus Medis
Tanggal (kasus) : 18 Mei 2016
Nama Pasien : Tn F
No. RM : 08.52. 01
Tanggal Presentasi : Tempat Presentasi :
Presenter : dr. Figa Prima Dani Pendamping : dr. Sidrati Amir
dr. Afdilla Hamni
Objektif Presentasi : Diagnostik, Manajemen
Deskripsi : Laki-laki, 15 tahun, keluar bintik bintik merah dari badan
Tujuan : Melakukan diagnosis dan penatlaksanaan
Bahan Bahasan : Tinjauan Pustaka, Kasus
Cara Membahas : Presentasi dan Diskusi

LAPORAN KASUS
Data Pasien
Nama : Tn. F
Usia : 15 tahun
Alamat : Durian I
No. Registrasi : 08. 52.01
Nama Bangsal : IGD
Terdaftar Sejak : 18 Mei 2016

Data Utama untuk Bahan Diskusi


1. Diagnosis / Gambaran Klinis

- Demam sejak 2 hari yang lalu


- muncul bintik bitik kemerahan dari seluruh tubuh, pasien tidak tahu muncul pertama
kali dimana
- batuk ada berdahak sejak 2 hari yang lalu, pilek (-)
- sesak nafas (-)
- riwayat asma (+)
- tanda tanda perdarahan tidak ada
- mual (+), muntah (-)
- mata berair ada
- riwayat imunisasi lengkap
- riwayat pemakaian obat sebelumnya tidak ada
- bak dan bab biasa

2. Riwayat Pengobatan
Tidak ada riwayat pengobatan sebelumnya.
3. Riwayat Kesehatan / Penyakit
Riwayat asma (+)
4. Riwayat Keluarga
Tidak ada riwayat keluarga yang memiliki penyakit yang sama.
5. Lain-lain
a. Pemeriksaan Fisik
Keadaan Umum
Kesadaran : CMC
GCS : E4V5M6
Tanda Vital : TD : 120/90 mmHg Pernapasan : 26x/menit
Nadi : 110x/menit Suhu : 38,8
Pemeriksaan Generalis
Kepala : Normocepal

1
Kulit : Dalam batas normal
Mata : Konjuntiva hiperemis +/+, Sklera Ikterik -/-
Leher : tidak ada pembengkakan KGB, JVP 5-2 cm
orofaring : faring hiperemis, T3-T3 hiperemis, tampak bintik bintik merah di
palatum mole
telinga : tampak bercak kemerahan dibelakang telinga
Thorak :
Jantung
o Inspeksi : iktus kordis tidak terlihat
o Palpasi : iktus kordis teraba 1 jari medial linea midclavikula
sinistra RIC V
o Perkusi : Batas kanan linea parasternal dextra, batas kiri 1 jari
medial linea midklavikula sinistra RIC V, batas atas jantung linea
parasternal sinistra RIC II.
o Auskultasi : Bunyi Jantung I-II reguler, murmur (-)
Paru
o Inspeksi : hemitorak kanan-kiri simetris saat statis dan dinamis
o Palpasi : fremitus kiri sama dengan kanan
o Perkusi : Sonor pada kedua lapangan paru
o Auskultasi : suara nafas vesikuler, rh -/-, wh +/+
Abdomen
o Inspeksi : tidak tampak membuncit
o Auskultasi : bising usus (+) normal
o Perkusi : timpani di seluruh kuadran
o Palpasi : supel, hepar dan lien tidak teraba, nyeri tekan epigastrium
(+)
Ektremitas : akral hangat, refilling capiler <2 detik, edema -/-

Status dermatologikus
Lokasi : seluruh tubuh
Distribusi : generalisata
Bentuk : morbili formis
Batas : tidak tegas
Ukuran : lentikular
Efloresensi : makula eritem

Pemeriksaan penunjang
2
Pemeriksaan darah
Hb : 15,9
Ht : 51
Leukosit : 5600
Trombosit : 155.000
Diagnosis : morbili + asma Bronkial

Diagnosis bandingnya
- Roseola : ruam muncul saat demam telah hilang
- Alergi obat : didapatkan riwayat penggunaaan obat tidak lama sebelum ruam muncul
Penatalaksanaan:
IVFD RL 20 tpm
Inj ranitidin 2x1
Parasetamol 4x500 mg
Ambroksol syr 3x1
Salbutamol 2x2mg
Curcuma 3x1

Follow up Subjective Objective Assesment Plan


19 mei demam (+) , KU : sedang -morbili cek urinalisa +
2016 batuk (+) Kesadaran : CMC -CAP rontgen torak
bercak
TD : 120/70
kemerahan (+)
Nadi : 83x/mnt
Nafas : 20x/mnt

Pulmo : vesikuler
, Rh -/-, wh +/+,
ekspirasi
memanjang.
Abd : supel,
BU (+) N
NT (+) di
epigastrium,
NL (-)

20 mei Demam (+) KU : sedang Morbili + CAP


2016 menurun, Kes : CMC Hasil Lab : Terapi lain lanjut
batuk ada : TD : 120/80 urinalisa : dbn inj ceftriaxon 2x1 gr
Nd : 80 x/mnt
Nfs : 20x/mnt

Pulmo :
vesikuler , Rh -/-,
3
wh -/-,
Abd : supel,
BU (+) N
Demam (+) NT (-), NL (-)
21 mei menurun,
2016 batuk ada, KU : sedang Terapi lanjut
bintik Kes : CMC
kemerahan TD : 110/80
berkurang Nd : 80 x/mnt
Nfs : 20x/mnt
Demam (+)
22 mei Morbili
menurun,
2016 CAP Terapi lanjut
batuk ada,
bintik
kemerahan
berkurang

Keluhan (-)
23 mei
Rawat jalan
2016

Hasil Pembelajaran
1. Pengertian morbili
2. Gejala klinis dan patofisologis morbili
3. Diagnosis morbili
4. Penanganan dan terapi pada morbili

Rangkuman Hasil Pembelajaran portofolio

SUBJEKTIF:
Seorang pasien laki laki 15 tahun dating dengan keluhan demam sejak 2 hari yang lalu

muncul bintik bitik kemerahan dari seluruh tubuh, pasien tidak tahu muncul pertama kali dimana
batuk ada berdahak sejak 2 hari yang lalu, pilek (-) sesak nafas (-) riwayat asma (+) tanda tanda
perdarahan tidak ada, mual (+), muntah (-) mata berair ada, riwayat imunisasi lengkap, bak dan
bab biasa, riwayat pemakaian obat sebelumnya tidak ada

OBJEKTIF
Pada kasus ini, diagnosis ditegakkan berdasarkan:
Anamnesis Demam sejak 2 hari sebelum masuk RS, batuk berdahak mata selalu beraii dan
ditemukan munculnya bintik bintik kemerahan diseluruh tubuk termasuk ditemukannya bintik
kemerahan di palatum mole.
4
Pemeriksaan Fisik
Pada pemeriksaan mata ditemukan konjujungtiva hiperemis (+),ditemukan bintik bintik
kemerahan di belakang telinga, palatum mole dan seluruh tubuk berupa macula eritem dengan
ukuran lentikular. Pada pemeriksaan paru ditemukan Wh +/+
Pemeriksaan darah
Hb : 15,9
Ht : 51
Leukosit : 5600
Trombosit : 155.000

ASSESSMENT

Campak adalah penyakit infeksi yang sangat menular yang disebabkan oleh virus, dengan
gejala-gejala eksantem akut, demam, kadang kataral selaput lendir dan saluran pernapasan,
gejala-gejala mata, kemudian diikuti erupsi makulopapula yang berwarna merah dan diakhiri
dengan deskuamasi dari kulit
Agent campak adalah measles virus yang termasuk dalam famili paramyxoviridae anggota
genus morbilivirus.
Penyakit campak terdiri dari 3 stadium, yaitu:
Stadium kataral (prodormal)
Biasanya stadium ini berlangsung selama 4-5 hari dengan gejala demam, malaise,
batuk, fotofobia, konjungtivitis dan koriza. Menjelang akhir stadium kataral dan 24 jam
sebelum timbul eksantema, timbul bercak Koplik. Bercak Koplik berwarna putih kelabu,
sebesar ujung jarum timbul pertama kali pada mukosa bukal yang menghadap gigi molar dan
menjelang kira-kira hari ke 3 atau 4 dari masa prodormal dapat meluas sampai seluruh
mukosa mulut. Secara klinis, gambaran penyakit menyerupai influenza dan sering
didiagnosis sebagai influenza.
Stadium erupsi
Stadium ini berlangsung selama 4-7 hari. Gejala yang biasanya terjadi adalah koriza
dan batuk-batuk bertambah. Timbul eksantema di palatum durum dan palatum mole. Kadang
terlihat pula bercak Koplik. Terjadinya ruam atau eritema yang berbentuk makula-papula
disertai naiknya suhu badan. Mula-mula eritema timbul di belakang telinga, di bagian atas
tengkuk, sepanjang rambut dan bagian belakang bawah. Kadang-kadang terdapat perdarahan
ringan pada kulit. Rasa gatal, muka bengkak. Ruam kemudian akan menyebar ke dada dan
abdomen dan akhirnya mencapai anggota bagian bawah pada hari ketiga dan akan
menghilang dengan urutan seperti terjadinya yang berakhir dalam 2-3 hari.
Stadium konvalesensi
Erupsi berkurang meninggalkan bekas yang berwarna lebih tua (hiperpigmentasi)
yang lama-kelamaan akan menghilang sendiri. Selain hiperpigmentasi pada anak Indonesia
sering ditemukan pula kulit yang bersisik. Selanjutnya suhu menurun sampai menjadi normal
kecuali bila ada komplikasi

5
Pada kasus ini stadium morbili nya tidak begitu jelas, pasien hanya mengatakan
keluhannya muncul dalam 2 hari ini, tidak ada keluhan malaise sebelumnya. awalnya seperti
batuk pilek biasa namun setelah itu muncul ruam merah di seluruh tubuh, lokasi muncul
pertama kalinya pasien tidak tahu, namun dalam pemeriksaan ditemukan adanya ruam
kemerahan di belakang telinga, palatum mole dan seluruh tubuh, kalau dilihat dari
penyebaran ruamnya kemungkinan sudah berlangsung kurang lebih tiga hari.

Epidemiologi Campak
Menurut Orang
Campak adalah penyakit yang sangat menular yang dapat menginfeksi anak-anak
pada usia dibawah 15 bulan, anak usia sekolah atau remaja dan kadang kala orang dewasa.
Campak endemis di masyarakat metropolitan dan mencapai proporsi untuk menjadi epidemi
setiap 2-4 tahun ketika terdapat 30-40% anak yang rentan atau belum mendapat vaksinasi.
Pada kelompok dan masyarakat yang lebih kecil, epidemi cenderung terjadi lebih luas dan
lebih berat. Setiap orang yang telah terkena campak akan memiliki imunitas seumur hidup.
Menurut Tempat
Penyakit campak dapat terjadi dimana saja kecuali di daerah yang sangat terpencil.
Vaksinasi telah menurunkan insiden morbili tetapi upaya eradikasi belum dapat
direalisasikan.
Menurut Waktu
Virus penyebab campak mengalami keadaan yang paling stabil pada kelembaban
dibawah 40%. Udara yang kering menimbulkan efek yang positif pada virus dan
meningkatkan penyebaran di rumah yang memiliki alat penghangat ruangan seperti pada
musim dingin di daerah utara. Sama halnya dengan udara pada musim kemarau di Persia atau
Afrika yang memiliki insiden kejadian campak yang relatif tinggi pada musim-musim
tersebut. Bagaimanapun, kejadian campak akan meningkat karena kecenderungan manusia
untuk berkumpul pada musim-musim yang kurang baik tersebut sehingga efek dari iklim
menjadi tidak langsung dikarenakan kebiasaan manusia.
Kejadian morbili ini memang paling sering pada anak kurang dari 15 bulan, namun
tidak menutup kemungkinan terjadi pada anak dan remaja, meskipun anak tersebut telah
dilakukan vaksin sebelumnya. Imunisasi hanya akan mengurangi dampak yang timbul dari
suatu penyakit. Setelah adanya pelaksanaan imunisasi menghasilkan perubahan dalam
distribusi umur dimana kasus lebih banyak pada anak dengan usia yang lebih tua, remaja, dan
dewasa muda. Dari penelitian didapatkan anak dengan usia rentan < 15 tahun memiliki risiko 4,9
kali lebih besar untuk terinfeksi campak
Komplikasi Penyakit Campak

6
Pada penderita campak dapat terjadi komplikasi yang terjadi sebagai akibat replikasi
virus atau karena superinfeksi bakteri antara lain.

- Otitis Media Akut , Dapat terjadi karena infeksi bakterial sekunder.


- Ensefalitis , Dapat terjadi sebagai komplikasi pada anak yang sedang menderita campak
atau dalam satu bulan setelah mendapat imunisasi dengan vaksin virus campak hidup, pada
penderita yang sedang mendapat pengobatan imunosupresif dan sebagai Subacute sclerosing
panencephalitis (SSPE). Angka kejadian ensefalitis setelah infeksi campak adalah 1 : 1.000
kasus, sedangkan ensefalitis setelah vaksinasi dengan virus campak hidup adalah 1,16 tiap
1.000.000 dosis.
- Bronkopneumonia , Dapat disebabkan oleh virus morbilia atau oleh Pneuomococcus,
Streptococcus, Staphylococcus. Bronkopneumonia ini dapat menyebabkan kematian bayi
yang masih muda, anak dengan malnutrisi energi protein, penderita penyakit menahun
misalnya tuberkulosis, leukemia dan lain-lain.

Penatalaksaan morbili ini adalah suportif, yang paling penting ditingkatkan gizi dan
protein agar daya tahan tubuh meningkat, diberikan pengobatan agar terhindar dari
komplikasi yang bisa muncul. Sedangkan untuk pemberian vitamin A paling sering diberikan
pada anak yang kurang gizi karena cadangan vitamin A nya akan turun secara cepat yang
akan memperburuk imunitasnya.

PLAN
1. Diagnosis
Pasien didiagnosa dengan morbili + asma Bronkial
2. Pendidikan
a. Memberikan penjelasan kepada keluarga pasien tentang penyakitnya.
b. Memberikan penjelasan kepada keluarga pasien tentang perjalanan penyakitnya.
c. Memberikan penjelasan kepada keluarga pasien tentang terapi yang akan, sedang
dan telah diberikan kepada pasien.