Anda di halaman 1dari 13

Bed side teaching

Skabies

Oleh:
Muthia Dewi 0910313195

Preseptor :
dr.Ennesta Asri, SpKK

BAGIAN ILMU PENYAKIT KULIT DAN KELAMIN


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ANDALAS
RSUP DR.M.DJAMIL PADANG
2014
BAB I
TINJAUAN PUSTAKA

1.1 Definisi
Menurut Harahap (2000), skabies adalah penyakit menular yang
disebabkan oleh Sarcoptes scabei varian hominis. Menurut Djuanda 2007,
Skabies adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh infestasi dan sensitisasi
terhadap Sarcoptes scabei var hominis dan produknya.

1.2 Epidemiologi
Skabies merupakan penyakit endemi pada banyak masyarakat. Penyakit
ini dapat mengenai semua ras dan golongan di seluruh dunia. Insidens antara pria
dan wanita sama. Penyakit ini banyak dijumpai pada anak dan dewasa muda,
tetapi dapat mengenai semua umur.
Insiden skabies di negara berkembang menunjukkan siklus fluktuasi.
Beberapa faktor yang dapat membantu penyebarannya adalah kemiskinan,
hygiene yang buruk, tidur dalam satu kasur, seksual promiskuitas, demografi,
kurangnya akses ke pelayanan kesehatan, ekologi, dan derajat sensitisasi
individual.

1.3 Etiologi
Skabies disebabkan oleh tungau kecil berkaki delapan, Sarcoptes scabei
var hominis, dan didapatkan melalui kontak fisik yang erat dengan orang yang
menderita. Selain kontak fisik penularannya juga dapat melalui pakaian dalam,
handuk, sprei, tempat tidur, dan perabot rumah. Sarcoptes scabei var hominis ini
termasuk filum Arthropoda, kelas Arachnida, ordo Ackarima, super famili
Sarcoptes. Secara morfologi merupakan tungau kecil berbentuk oval,
punggungnya cembung, dan bagian perut rata. Tungau ini translusen, berwarna
putih kotor, dan tidak bermata. Ukurannya, yang betina berkisar antara 330-450
mikron x 250-350 mikron, sedangkan yang jantan lebih kecil, yakni 200-240
mikron x 150-200 mikron
1.4 Bentuk-bentuk skabies
Terkadang diagnosis skabies sukar ditegakkan karena lesi kulit bisa
bermacam-macam.
Selain bentuk skabies yang klasik, terdapat pula bentuk-bentuk khusus
skabies antara lain:
a. Skabies pada orang bersih
Skabies pada orang yang tingkat kebersihannya cukup bisa salah diagnosis
karena sangat sukar ditemukan terowongan. Tungau biasanya hilang akibat mandi
secara teratur.
b. Skabies Nodula
Bentuk ini merupakan suatu bentuk hipersensitivitas terhadap tungau
skabies. Lesi berupa nodul yang gatal, merah cokelat, terdapat biasanya pada
genitalis laki-laki, inguinal dan ketiak yang dapat menetap selama berbulan-bulan
bahkan hingga satu tahun walaupun mendapatkan pengobatan anti scabies.
c. Skabies Incognito
Gejala dan tanda skabies dapat disamarkan oleh pemberian obat steroid
topikal atau sistemik, sementara infestasi tetap ada. Sebaliknya, pengobatan
dengan steroid topikal yang lama dapat menyebabkan lesi bertambah hebat.
d. Skabies Pada Bayi dan Anak
Lesi skabies pada anak dapat mengenai seluruh tubuh, termasuk seluruh
kepala, leher, telapak tangan, telapak kaki, dan sering terjadi infeksi sekunder.
Pada bayi lesi terdapat di wajah.
e. Skabies Norwegia
Skabies jenis ini sering disebut juga skabies berkrusta (crusted scabies)
yang memiliki karakteristik lesi berskuama tebal yang penuh dengan infestasi
tungau. Bentuk lesi jenis skabies ini ditandai dengan tangan, kaki, kepala, dan
leher penderita ditutupi oleh krusta yang tebal dan retak-retak. Jenis ini sangat
menular, tetapi rasa gatalnya sangat sedikit. Tungau dapat ditemukan dalam
jumlah yang besar. Jenis ini dapat ditemukan pada penderita retardasi mental,
kelemahan fisis, gangguan imunologik, dan psikosis. Skabies berkrusta sering
sukar diobati dengan obat-obatan topikal, dan biasanya memerlukan beberapa kali
pengolesan skabisida. Pengobatan hendaknya diberikan diseluruh tubuh, termasuk
kepala dan leher

1.5 Patogenesis
Siklus hidup tungau ini setelah perkawinan yang terjadi di atas kulit, yang
jantan akan mati, kadang-kadang masih dapat hidup beberapa hari dalam
terowongan yang dibuat betina. Tungau betina yang telah dibuahi menggali
terowongan dalam stratum korneum, dengan kecepatan 2-3 milimeter sehari
sambil meletakkan telurnya 2 atau 4 butir sehari sampai jumlah 40 atau 50.
Bentuk betina yang telah dibuahi ini dapat hidup sebulan lamanya. Telur
akan menetas biasanya dalam waktu 3 sampai 5 hari, dan akan menjadi larva.
Siklus hidup kutu ini dari telur sampai dewasa membutuhkan 8-12 hari. Rasa gatal
yang ditimbulkan oleh sensitisasi tungau akan terasa oleh hospes setelah 4-6
minggu . Menurut james chin, 2000, rasa gatal timbul setelah adanya masa
inkubasi 2 sampai 6 minggu pada orang yang sebelumnya belum pernah terpajan.
Orang yang sebelumnya pernah menderita skabies gejala akan muncul 1 sampai 4
hari setelah infeksi ulang.

1.6 Manifestasi Klinis


Terdapat lesi pada kulit dan dua tipe utama lesi kulit pada skabies adalah
terowongan dan ruam skabies. Terowongan kecil, sedikit meninggi, berwarna
putih keabu-abuan ( bila belum ada infeksi sekunder ), dan panjangnya kurang
lebih 10 mm. Terowongan terutama ditemukan pada tangan dan kaki, bagian
samping jari tangan dan jari kaki, sela-sela jari, pergelangan tangan, dan
punggung kaki. Pada bayi terowongan sering terdapat pada telapak tangan,
telapak kaki, dan bisa juga pada badan, leher, kepala. Terowongan pada badan
biasanya ditemukan pada usia lanjut. Terowongan bisa juga ditemukan pada
genitalia pria dan biasanya tertutupi oleh papula yang meradang. Papula yang
ditemukan pada skrotum dan penis adalah patognomonis untuk skabies. Ruam
skabies berupa erupsi papula kecil yang meradang, yang terutama terdapat
terdapat di daerah aksila, umbilikus, dan paha. Ruam ini merupakan suatu reaksi
alergi tubuh terhadap tungau.
1.7 Diagnosis
Ada 4 tanda kardinal, yaitu :
1. Pruritus nokturna, yaitu gatal pada malam hari.

2. Penyakit ini menyerang manusia secara kelompok. Misalnya dalam sebuah


anggota keluarga biasanya seluruh anggota keluarga terkena infeksi.
Begitu pula dengan sebuah perkampungan yang padat penduduknya,
sebagian besar tetangga yang berdekatan akan diserang oleh tungau
tersebut.

3. Adanya terowongan (kunikulus) pada tempat-tempat predileksi berwarna


putih keabu-abuan

4. Menemukan tungau merupakan hal yang paling diagnostik.

Diagnosis dapat dibuat dengan menemukan 2 dari 4 gejala kardinal


tersebut Menurut Harahap (2000), selain 4 tanda kardinal diatas diagnosis skabies
juga dapat ditegakkan dengan tanda penyembuhan cepat setelah pemberian obat
antiskabies topikal yang efektif. Diagnosis pasti dapat ditegakkan dengan
ditemukannya kutu dewasa, telur, larva dari dalam terowongan. Cara
mendapatkannya dengan membuka terowongan dan mengambil parasit
menggunakan pisau bedah atau jarum steril. Kutu betina akan tampak sebagai
bintik kecil gelap atau keabuan di bawah vesikula. Cara lain dengan meneteskan
minyak immersi pada lesi dan epidermis diatasnya dikerok secara perlahan-lahan.
Tangan dan pergelangan tangan merupakan tempat terbanyak ditemukan kutu.

1.8 Diagnosis Banding


Ada pendapat yang menyatakan penyakit skabies merupakan The great
imitator karena dapat menyerupai banyak penyakit kulit dengan keluhan gatal.
Sebagai diagnosis bandingnya adalah Pyoderma, Pedikulosis korporis, Dermatitis,
Prurigo

1.9 Tatalaksana
Syarat pengobatan yang ideal ialah harus efektif terhadap semua stadium
tungau, harus tidak menimbulkan iritasi dan tidak toksik, tidak berbau atau kotor
serta tidak merusak atau mewarnai pakaian, mudah diperoleh dan harganya
murah. Cara pengobatannya ialah seluruh anggota keluarga harus diobati.
Obat-obatan topikal harus dioleskan mulai dari leher sampai jari kaki, dan
pasien diingatkan untuk tidak membasuh tangannya sesudah melakukan
pengobatan. Pada bayi, orang lanjut usia, dan orang imunokompromasi,
terowongan tungau dapat terjadi di kepala dan leher sehingga pemakaian obat
perlu diperluas pada daerah tersebut. Setelah pengobatan, rasa gatal tidak hilang
segera, tetapi pelan-pelan akan terjadi perbaikan dalam waktu 2-3 minggu, saat
epidermis superfisial yang mengandung tungau terkelupas.
Jenis-jenis obat topikal yang dipakai untuk pengobatan skabies adalah
(Djuanda, 2007)
1. Belerang endap (sulfur presipitatum) dengan kadar 4-20% dalam bentuk
salap atau krim. Kekurangannya adalah berbau dan mengotori pakaian dan
kadang-kadang menimbulkan iritasi. Dapat dipakai pada bayi kurang dari
2 tahun.
2. Emulsi benzil-benzoas dengan kadar 20-25%, efektif terhadap semua
stadium. Diberikan setiap malam selama tiga hari.
3. Gama benzena heksa klorida (Gammexane) kadarnya 1% dalam krim atau
losio. Termasuk obat pilihan karena efektif terhadap semua stadium,
mudah digunakan, dan jarang memberikan iritasi. Obat ini tidak
dianjurkan pada anak dibawah 6 tahun dan wanita hamil karena toksin
terhadap susunan saraf pusat. Pemberiannya cukup sekali, kecuali jika
masih ada gejala diulangi seminggu kemudian.
4. Krotamiton 10% dalam krim atau losio. Mempunyai dua efek yaitu
antiskabies dan atigatal.
5. Permetrin dengan kadar 5% dalam krim. Kurang toksik dibandingkan
dengan gammeksan, efektivitasnya sama dengan gameksan. Aplikasi
hanya sekali dan dihapus setelah 10 jam. Bila belum sembuh diulangi
setelah seminggu.
1.10 Prognosis
Dengan memperhatikan pemilihan dan cara pemakaian obat serta syarat
pengobatan dan dengan menghilangkan faktor predisposisi (antara lain hygiene),
maka penyakit ini dapat di berantas dan memberikan prognosis yang baik
BAB II
ILUSTRASI KASUS

Identitas pasien:
Nama : Tn S
Umur : 49 tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki
Pekerjaan : Usaha Perabotan
Pendidikan : SMP
Alamat : Kampung dalam, Pariaman
No. Telepon : 085374150751
Status Perkawinan : Sudah Menikah
Negeri Asal : Pariaman
Agama : Islam
Suku : Chaniago (minangkabau)

Anamnesis
Keluhan utama:
Bintik- bintik kemerahan yang terasa gatal pada hampir seluruh tubuh
sejak bulan yang lalu

Riwayat penyakit sekarang:


Bintik-bintik kemerahan yang terasa gatal pada hampir seluruh tubuh sejak
1 bulan yang lalu. Bintik merah dan gatal awalnya timbul di sela-sela jari
tangan kanan dan kiri, lalu menyebar ke lengan bawah kiri dan kanan, siku
tangan kiri dan kanan, sela jari kaki kiri dan kanan, punggung kaki kiri dan
kanan, tungkai bawah kiri dan kanan, paha kiri dan kanan, daerah sekitar
pusat.
Gatal terutama dirasakan pasien pada malam hari.
Pasien sering menggaruk-garuk bintik tersebut sehingga menimbulkan
lecet.
Pasien sebelumnya sudah menjalani pengobatan di puskesmas dan
mendapatkan tiga jenis obat, dua tablet berwarna kuning dan putih serta
obat salep. Pasien merasakan adanya perubahan terhadap gatalnya, namun
bintik-bintik merah makin meluas dan tidak kunjung hilang. Pasien
terakhir minum obat 10 hari yang lalu.
Pasien mandi 2x sehari dengan menggunakan sabun dan shampoo
Pasien mengganti bajunya 2 kali sehari
Pasien menggunakan baju khusus kerja, dan menggantungnya saat pulang
kerja. Pasien mengaku menyuci baju kerjanya tiga hari sekali.
Pasien selalu mengganti dan mencuci sprei kasur sekali tiga hari dan
menjemurnya saat cuaca panas.
Pasien tinggal serumah dengan tiga anggota keluarga lainnya, yaitu dua
anak dan satu orang tua.
Pasien tidak ada tidur sekasur dengan anggota keluarga lainnya
Riwayat memakai handuk bersama-sama dalam keluarga tidak ada
Riwayat pemakaian sabun mandi yang berbeda sebelumnya tidak ada
Sumber air untuk mandi berasal dari air sumur
Riwayat teman kerja yang memiliki keluhan bintik-bintik merah yang
terasa gatal terutama pada malam hari tidak ada
Riwayat pasien mengkonsumsi obat-obatan dalam jangka waktu lama
tidak ada
Pasien menggunakan alas kaki saat keluar rumah dan saat bekerja

Riwayat penyakit dahulu:


Pasien tidak pernah memiliki riwayat keluhan bintik-bintik kemerahan
yang gatal sebelumnya
Riwayat bersin-bersin di pagi hari tidak ada
Riwayat alergi makanan ada
Riwayat asma tidak ada

Riwayat penyakit keluarga


Tidak ada anggota keluarga yang menderita bintik-bintik yang merah dan
gatal terutama pada malam hari
Riwayat bersin-bersin di pagi hari tidak ada
Riwayat asma tidak ada

Pemeriksaan fisik:
Status generalis :
Keadaan umum : tidak tampak sakit
Kesadaran : kompos mentis
Status gizi : normoweight
Berat badan : 50 kg
Tinggi badan : 160 kg
Tekanan darah : tidak dilakukan pemeriksaan
Nadi : tidak dilakukan pemeriksaan
Nafas : tidak dilakukan pemeriksaan
Suhu : tidak dilakukan pemeriksaan

Status dermatologikus:
Lokasi: sela-sela jari tangan kiri dan kanan, lengan bawah kiri dan kanan,
siku kanan dan kiri, perut, sela-sela jari kaki dan kanan,tungkai bawah kiri
dan kanan, paha kiri dan kanan, lutut kiri dan kanan, bokong bawah kiri
dan kanan dan skrotum
Distribusi : bilateral, regional (34,9%)
Bentuk : bulat, tidak khas
Susunan : tidak khas
Batas : tegas, tidak tegas
Ukuran : milier, lentikuler, plakat
Efloresensi : makula hiperpigmentasi, papul eritem, krusta, ekskoriasi
Status venereologikus: tidak dilakukan pemeriksaan
Kelainan selaput lendir: tidak ditemukan kelainan.
Kelainan kuku: tidak ditemukan kelainan.
Kelainan rambut: tidak ada kelainan.
Kelainan kelenjar limfe (KGB): tidak ditemukan pembesaran
FOTO PASIEN
RESUME
Bintik-bintik kemerahan yang terasa gatal pada hampir seluruh tubuh sejak
1 bulan yang lalu. Bintik merah dan gatal awalnya timbul di sela-sela jari
tangan kanan dan kiri, lalu menyebar ke lengan bawah kiri dan kanan, siku
tangan kiri dan kanan, sela jari kaki kiri dan kanan, punggung kaki kiri dan
kanan, tungkai bawah kiri dan kanan, paha kiri dan kanan, daerah sekitar
pusat.
Gatal terutama dirasakan pasien pada malam hari.

Diagnosis kerja:
Suspek skabies

Diagnosis banding:
-

Pemeriksaan penunjang:
Menemukan Sarcoptes scabiei dewasa, larva, telur, atau skibala dari dalam
terowongan.

Pemeriksaan anjuran :
Tidak ada

Diagnosis : Skabies

Penatalaksanaan:
Terapi umum:
Kalau terasa gatal jangan digaruk
Teman-teman yang mempunyai gejala yang sama juga harus berobat,
karena jika ada satu orang saja yang menderita penyakit ini bisa
menular ke orang lain. Jadi jika hanya ada 1 orang saja yang berobat,
bisa dikatakan suatu yang sia-sia.
Obat yang diberikan adalah obat oles, jadi penggunaannya dengan
mengoleskan di belakang telinga dan menyeluruh dari leher ke telapak
kaki, terutama pada bagian lipatan-lipatan seperti sela-sela jari tangan
dan kaki, umbilikus, lipat paha, pantat, dan bagian bawah jari tangan
dan kaki.

Terapi khusus:
Sistemik: CTM 3x4 mg
Topikal: permetrin 5 %

Prognosis:
Quo sanationam: bonam
Quo ad vitam: bonam
Quo ad kosmetikum: bonam
Quo ad functionam: bonam