Anda di halaman 1dari 43

RESUME

SKENARIO 1
EKSPRESI WAJAH

Oleh kelompok E:

Ariny Mardhotillah
Galih Putri W. (122010101014)
Zuliyatul Masnunah (122010101016)
Edda Rachmadenawanti (122010101018)
Krisnha Dian Ayuningtyas (122010101022)
Monica Bethari Primanesa (122010101029)
Ayu Dwi Mufidah (122010101032)
Farmitalia Nisa Tristianti (122010101037)
Samiyah (122010101060)
Rizka Kartikasari (122010101063)
Ivan Kristantya (122010101064)
Bagus Indra Kusuma (122010101068)
Bagus Dwi Kurniawan (122010101070)
M. Nadzir A (122010101071)
Siti Sarah Hajar (122010101085)

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS JEMBER

2012
SKENARIO 1

Ableh seorang pelawak yang sedang naik daun terkenal karena keahliannya melucu selain
dengan kata-kata juga dengan berekspresi wajah, menirukan wajah seperti orang tua, anak
kecil, dan beberapa binatang, ekspresi sedih serta gembira. Malam itu, Saleh, seorang
mahasiswa FK Unej melihat pertunjukannya di televisi, sambil terpingkal-pingkal karena
kelucuan Ableh, juga terlintas dipikirannya apa saja proses yang terjadi sehingga wajah
pelawak tersebut bisa berubah sedemikian lucunya. Bagaimana sebenarnya proses fisiologi
dan biokimianya serta anatomi dan histologi sel dan otot wajah?

KLARIFIKASI ISTILAH
1. Fisiologi: cabang ilmu biologi, yang merupakan ilmu mekanis, fisik, dan biokimia
fungsi manusia yang sehat, organ-organ dan sel-sel yang tersusun.
2. Biokimia: Ilmu Biokimia adalah ilmu yang mempelajari tentang peranan berbagai
molekul dalam reaksi kimia dan proses yang berlangsung dalam makhluk hidup.
Jangkauan ilmu Biokimia sangat luas sesuai dengan kehidupan itu sendiri. Tidak
hanya mempelajari proses yang berlangsung dalam tubuh manusia, ilmu Biokimia
juga mempelajari berbagai proses pada organisme mulai dari yang sederhana sampai
yang kompleks.
3. Anatomi: berasal dari dua kata yaitu : Ana yang berati menguraikan dan Tomy berarti
memotong. Jadi anatomi adalah ilmu yang mempelajari susunan tubuh manusia dengan jalan
menguraikan dan memotong bagiannya.
4. Histologi: ilmu yang mempelajari tentang struktur jaringan secara detail
menggunakan mikroskop pada sediaan jaringan yang dipotong tipis, salah satu dari
cabang-cabang biologi. Histologi dapat juga disebut sebagai ilmu anatomi
mikroskopis.

MASALAH
TUJUAN BELAJAR
1. Anatomi dari Regio Facei (osteo, muskular, nerves, vaskular)
2. Anatomi dari Regio Coli ( osteo, muskular, nerves, vaskular)
3. Histologi tulang dan otot
4. Fisiologi mekanisme otot berkontraksi dan berelaksasi
5. Biokimia (peran ATP dan hormon) dalam mekanisme fisiologi otot

ANALISIS TUJUAN BELAJAR

1. Anatomi
1.1 Regio Facei
1.1.1 Osteo
Anatomi terdiri dari kata ana yang berarti atas dan tomien yang berarti
memotong. Anatomi berarti memotong dan mengangkat ke atas tubuh bagian
makhluk hidup untuk mengetahui dan menyelidiki bagian yang ada di dalamnya.
Anatomi adalah ilmu yang mempelajari tentang nama bagian tubuh dan susunan
bagian tubuh itu dari bagian yang satu terhadap yang lain.
Tulang (os) adalah organ yang padat, keras, elastis, yang menyusun suatu
rangka yang disebut systema sceleti, sedang rangkanya sendiri disebut sceleton
humanum.
Berikut adalah osteum yang menyusun facei:
Tulang:
- Os Maxillaris
- Sinus maxillaris
- Pars pterygoid os sphenoidalis
- Os palatinum, membentuk palatum durum bersamamaxilla
- Os Zygomaticum
- Os nasale
- Os frontale
- Os lacrimale
- Os mandibularis, terdiri dari corpus dan ramus.
Ramus: proc.coronoideus dan caput, foramen mandibularisa.v.n. alveolaris inferior

Foramina:
- Supraorbitalis
- Infraorbitalis
- Mentalis
- Palatina mayor et minor
- Incisivus a.v.n. nasopalatinus

1.1.2 Muskular
Otot merupakan suatu organ / alat yang dapat bergerak ini adalah suatu penting bagi
organism. Kalau sel otot yang mendapatkan stimulus, maka myofibril akan memendek,
dengan kata lain sel otot akan memendekkan dirinya ke arah tertentu (berkontraksi). Seperti
halnya di wajah kita, wajah kita memilikibanyak otot dan memiliki fungsi masing-masing.
Otot pada wajah dapat di kelompokkan menjadi dua, yaitu: otot pengunyah dan otot-otot
ekpresi wajah.
Dahi, parietal, pelipis
1 M. occipitorfrontalis
Bagian origo:
-Venter frontalis: kulit dahi membentuk anyaman otot bersama dengan Mm.
procerus,corrugator dan depresor superciii, serta M. orbicullaris oculi.
-Venter occipitalis: linea nuchalis suprema.
Bagian insersio: galea aponeurotica.
Fungsi: pergerakan kulit kepala.

1 M. temporoparientalis
Bagian origo: kulit pelipis, Fascia temporalis.
Bagian insersio: Galea aponeurotica.
Fungsi: pergerakan kulit kepala.

2 M. auricularis anterior
Bagian origo: fascia temporalis.
Bagian insersio: spina helicis.
Fungsi: pergerakan daun telinga.

3 M. auricularis superior
Bagian origo: galea aponeurotica.
Bagian insersio: akar daun telinga.
Fungsi: pergerakan daun telinga.
4 M. auricularis posterior
Bagian origo: proc. Mastoideus, tendo M. sternocloidomastoideus.
Bagian insersio: akar daun telinga.
Fungsi: pergerakan daun telinga.

Kelopak mata
1 M. orbicularis oculi
Bagian origo:
-Pars orbitalis: pars nasalis (os. Frontale), proc. Frontalis maxillae, os.
Lacrimale, lig.Pelpebrale mediale, saccus lacrimalis.
-Pars palpebralis: lig. Palpebrale mediale, saccus lacrimalis.
-Pars lacrimalis: crista lacrimalis posterior (os. Lacrimale)Bagian
insersio:Mengelilingi arditus orbitae seperti sfinkter.
-Pars orbitalis: lig. Pelpebrale laterale, di sampingnya merupakan peralihan
menjadisimpul otot berbentuk cincin.
-Pars palpebralis: lig. Palpebrale laterale
-Pars lacrimalis: lubang air mata, tepi kelopak mata.
Fungsi: menutup kelopak mata; menekan kantung air mata, pergerakan alis
mata.

2 M. depresor supercilii
Bagian origo: pars nasalis os frontale, pembelahan pars orbitalis M. orbicularis
oculi.
Bagian insersio: sepertiga medial dahi dan alis mata.
Fungsi: menurunkan kulit mata dan alis mata.

3 M. corrugator supercilii
Bagian origo: pars nasalis (os frontale)
Bagian insersio: sepertiga tengah kulit alis mata. Galea aponeurotica.
Fungsi: menurunkan kulit mata dan alis mata.

4 M. procerus
Bagian origo: os nasale, cartilago nasi lateralis.
Bagian insersio: kulit glabella
Fungsi: menurunkan kulit mata dan alis mata

Otot-otot hidung
1 M. nasalis
Bagian origo:
-Pars alaris: jugum alveolare gigi seri lateral
-Pars transversa: jugum alveolae gigi taring
Bagian insersio:
-Pars alaris: cuping hidung, tepi lubang hidung
-Pars transversa: cartilago nasi lateralis. Lempeng tendo di atas punggung
hidung.
Fungsi: pergerakan cuping hidung dan hidung

2 M. depressor septi nasi


Bagian origo: jugum alvelare gigi seri medial.
Bagian insersio: cartilago alaris major, cartilago septi nasi.
Fungsi: penggerak cuping hidung dan hidung.

Otot-otot mulut
1 M. orbicularis oris
Bagian origo:Pars marginalis dan pars labialis: sebelah lateral Angulus oris.
Bagian insersio: bagian utama bibir.
Fungsi: pergerakan bibir, cuping hidung, pipi dan kulit dagu.
2 M. buccinator
Bagian origo:Bagian belakang proc. Alveolaris maxillae, raphe
ptyerigomandibularis, bagian belakangproc. Alveolaris mandibulae.
Bagian insersio: angulus oris, bibir atas dan bawah; membentuk dasar pipi.
Fungsi: sangat diperlukan sebagai sinergi untuk meningkatkan tekanan dalam
rongga mulut, misalnya pada saat meniup atau mengunyah.

3 M. depressor labiti inferioris


Bagian origo: basis mandibulae medial di bawah foramen mentale.
Bagian insersio: bibir bawah, tonjolan dagu; serabut dalam ke selaput lendir.
Fungsi: pergerakan bibir, cuping hidung, pipi dan kulit dagu.

4 M. levator labii superioris


Bagian origo: margo infraorbitalis dan bagian tepi proc. Zygomaticus maxillae;
berasal dari otot M. orbicularis oculi.
Bagian insersio: bibir atas.
Fungsi: pergerakan bibir, cuping hidung, pipi dan kulit dagu.

5 M. mentalis
Bagian origo: jugum alveolare gigi seri lateral bawah.
Bagian insersio: kulit dagu.
Fungsi: pergerakan bibir, cuping hidung, pipi dan kulit dagu.

6 M. transversus menti
Bagian origo: pembelahan melintang dari M. mentalis.
Bagian insersio: kulit tonjolan dagu.
Fungsi: pergerakan bibir, cuping hidung, pipi dan kulit dagu.

7 M. depressor anguli oris


Bagian origo: basis mandibulae di bawah foramen mentale.
Bagian insersio: bibir bawah, pipi sebelah lateral Angulus ori, bibir atas.
Fungsi: pergerakan bibir, cuping hidung, pipi dan kulit dagu.

8 M. risorius
Bagian origo: fascia parotideomasseterica.
Bagian insersio: bibir atas, Angulus oris.
Fungsi: pergerakan bibir, cuping hidung, pipi dan kulit dagu.

9 M. levator angulus oris


Bagian origo: fossa canina maxillae.
Bagian insersio: Angulus oris.
Fungsi: pergerakan bibir, cuping hidung, pipi dan kulit dagu.

10 M. zygomaticus major
Bagian origo: os zygomaticum dekat sutura zygomaticotemporalis.
Bagian insersio: bibir atas, Angulus oris.
Fungsi: pergerakan bibir, cuping hidung, pipi dan kulit dagu.

11 M. zygomaticus minor
Bagian origo: os zygomaticum dekat sutura zygomaticomaxillaris.
Bagian insersio: bibir atas, Angulus oris.
Fungsi: pergerakan bibir, cuping hidung, pipi dan kulit dagu.

12 M. levator labii superioris alaeque nasi

Bagian origo: proc. Frontalis maxilla; berasal dari massa otot M. orbicularis
oculi.
Bagian insersio: cuping hidung dan bibir atas; serabut dalam: lingkar samping
dan belakang lubang hidung.
Fungsi: pergerakan bibir, cuping hidung, pipi dan kulit dagu.

Leher
1 Platysma
Bagian origo: basis mandibulae, fascia perotidea.
Bagian insersio: kulit di bawah clavicula, fascia pectoralis.
Fungsi: meregangkan kulit leher.

1.1.3 Nerves
a. Tipe dan Lokasi
i. Bagian sensorik : terdiri dari tiga cabang yang berakhir di pons.
- Ophthalmic nerve mengandung axons dari integumen palpebra (kelopak
mata) atas, bulbus oculi (bola mata), lacrimal glands, nasal cavity, sisi nasal,
frons (dahi), dan setengah anterior scalp yang melewati superior orbital
fissure.
- Maxillary nerve mengandung axons dari mucosa nasal, palatum (langit-
langit mulut), bagian pharynx, gigi atas, labium (bibir) atas, dan palpebra
bawah yang lewat melalui foramen rotundum.
- Mandibular nerve mengandung axons dari dua per tiga lingua (lidah)
anterior (somatic sensory axons tapi bukan axons khusus indera perasa),
gigi bawah, integumen di atas mandibula, bucca (pipi) dan mucosa dalam,
dan sisi caput di depan auris (telinga) yang melewati foramen ovale.

ii. Bagian motorik : bagian dari cabang mandibula yang berasal dari pons,
lewat melalui foramen ovale, dan innervasi muscular
pengunyah (masseter, temporalis, medial pterygoideus,
lateral pterygoideus, anterior venter digastricus, dan
mylohyoid integumen, serta tensor veli palatini dan
tensor tympani muscular).

b. Fungsi dan Koneksi Klinis


i. Fungsi sensorik : menyampaikan impuls sentuhan, nyeri, dan sensasi
temperatur dan proprioception.
ii. Fungsi somatik : mengunyah. motorik
iii. Koneksi klinis : neuralgia (nyeri) dari satu atau lebih cabang trigeminal
nerve disebut trigeminal neuralgia (tic duoloureux).
Cedera pada mandibular nerve dapat menyebabkan
kelumpuhan muscular pengunyah dan hilangnya sensasi
sentuhan, temperatur, dan proprioception di bagian
bawah facial. Dokter gigi menerapkan obat anestesi ke
cabang maxillary nerve untuk anestesia gigi atas dan ke
cabang mandibular nerve untuk anestesia gigi bawah.
2. FACIAL (VII) NERVE

a. Tipe dan Lokasi


i. Bagian sensorik : berkembang dari caliculus gustatorius (selera) pada dua
per tiga lingual anterior, lewat melalui foramen
stylomastoideum dan geniculate ganglion (terletak di
samping facial nerve), dan berakhir di pons. Dari sana,
axons meluas ke thalamus, kemudian ke daerah
gustatory dari cerebral cortex. Terdapat juga kandungan
axons dari proprioceptors dalam muscular facial dan
scalp.
ii. Bagian motorik : berasal dari pons dan lewat melalui foramen
stylomastoideum. Axons motorik somatik neurons
menginnervasi facial, scalp, dan muscular colli. Axons
parasimpatik menginnervasi lacrimal, sublingual,
submandibular, nasal, dan palatine glands.

b. Fungsi dan Koneksi Klinis


i. Fungsi sensorik : sentuhan, nyeri, dan sensasi temperatur, proprioception,
dan rasa.
ii. Fungsi somatik : ekspresi facial.
motorik
iii. Fungsi autonomic: sekresi saliva dan lacrima.
motorik
(parasimpatik)
iv Koneksi klinis : kerusakan akibat infeksi virus (shingles) atau infeksi
bakteri (Lyme disease) menghasilkan palsy Bell
(kelumpuhan muscular facial), hilangnya rasa,
menurunnya produksi saliva, dan kehilangan
kemampuan untuk menutup oculi bahkan saat tidur.
1.1.4 Vaskular
ARTERI
- Mekanisme vaskularisasi arteri :

Tidak ada cabang sebelum masuk cra


Arteri Carotis Communis Arteri Carotis Interna

Arteri Carotis Externa

Arteri tyroidea superior


Cabang langsung

Bagian anterior Arteri lingualis

Arteri facialis

Jantung Arteri maxillaris

Arteri temporalis superficialis

Bagian posteriorArteri pharingea ascenden

Arteri occipitalis

Arteri auricularis posterior

Arteri Subclavia Cabang dari truncus brachiocephalicus


Dextra

Sinistra Dari arkus aorta


Arteri utama :
Arteri facialis

Arteri temporalis superficialis

Arteri maxillaries

Arteri Facialis
1. Arteri labial inferior : - dekat sudut mulut, melewati atas dan depan di bawah depressor
anguli oris
- menyuplai darah di bagian inferior labial glans, membrane mukosa,
dan otot berkaitan dengan sesama dari sisi yang berlawanan dan
dengan mental branch dari arteri alveolar inferior
2. Arteri labial superior : - menyuplai bagian atas bibir
- bercabang di cabang septum, yang bercabg-cabang secara anterior-
inferior di septum nasal dan cabang alar
3. Arteri nasal lateral : - menyuplai bagian dorsum dan alae hidung, berkaitan dengan sisi
lainnya yang berlawanan
Arteri Temporal Superficialis
1. Arteri facial tranversal
2. Arteri auricular
3. Arteri zygonatic orbital
4. Arteri temporal medial

Arteria Maxillaris:
I. Pars mandibularis

II. Pars pterygoidea

III. Pars pterygopalatina

Arteri Maxilaris Interna


I. Pars mandibularis :

bagian a.maxillaris interna setelah dipercabangan (pada collum mandibulae)


sampai dengan lig.sphenomandibulare, berjalan sepanjang inferior m.pterygoideus
externa
Cabang-cabang :
- a.auricularis profunda
- a.tympanica anterior
- a.meningea media
- alveolaris inferior : mucosa pipi, dagu, gigi bawah
II. Pars pterygoidea
memvaskularisasi otot-otot mastikasi & m.buccinator.Bercabang menjadi :

1. a.temporalis profunda (ramus anterior & posterior)


2. r.pterygoidei
3. a.masseterica
4. a.bucccalis : vaskularisasi m.buccinator, mucosa mulut, gigi & gingiva RA

III. Pars pterygopalatina


1. a.alveolaris superior posterior: vaskularisasi gigi M & P.
2. a.infraorbitalis: vaskuler orbita, palpebra inferior, saccus lacrimalis, bibir atas &
pipi.
3. a.alveolaris superior anterior & medius, vaskuler. gigi C & I
4. a.palatina descendens, vaskuler palatum.
- a. palatina mayor
- a. palatina minor
5. a.canalis pterygoidea, ke canalis pterygoidea.
6. rr.pharyngealis, menuju atap cavitas nasi & px
7. a.sphenopalatina, ke cavum nasi melalui foramen sphenopalatinum
a.nasalis posterior septi & melalui canalis incisivus sebagai a.nasopalatina.

No. Arteri Distribusi


1. A. Thyroidea superior kel. Tiroid dan struktus di dekatnya
2. A. Lingualis lidah, kel sublingualis, tonsil, epiglotis
3. A. Facialis wajah, tonsil, palatum, kel submandibula
4. A. Maxillaris kedua rahang, gigi, otot pengunyah, telinga,
meningen, hidung, sinus nasalis, palatum
5. A. Temporalis superior daerah parotis dan temporal
6. A. Pharyngea ascenden faring, palatum mole, telinga, meningen
7. A. Occipitalis otot leher, kulit kepala, meningen, sel mastoid
8. A. Auricularis posterior telinga tengah, sel mastoid, aurikula, kel parotis
VENA

a. Vena angularis

b. Vena facialis profunda

Vena Facialis (= v.facialis anterior), :


Terletak di belakang arteri facialis, mulai sebagai v.angularis, v.facialis profunda

Titik denyut pada wajah :

1.a. facialis : yg berjalan melalui incisura antegonial

2.a. temporalis superficialis : tepat di depan lubang telinga

Vena pada regi facei :

V. Supratrochlear

V. Supraorbital

V. Facial (dapat kiriman dari V. Supratrochlear dan V. Supraorbital)

V. Temporal superficial

Tributaris (V. Parotid)

V. Buccal, mental, dan infraorbital

V. Occipital dan V. Auricular posterior


- Mekanisme vascularisasi vena :
Keterangan :
Vena cava superior : mengalirkan darah dari kepala, leher, ektrimiotas atas dan dada

V. jugularis interna : mengalirkan darah kepala dan leher. Sejalan dengan arteri carotis interna

V. jugularis eksterna : penyatuan vena retomandibularis dan v. auricularis posterior


Vena facialis bermuaraVena subclavia
Vena jugularis externa
sebagian

Vena retromandibular bermuara


Vena jugularis interna
sebagian
beranastomosis
Vena lain..

Vena brachiocephalicaa

dextra sinistra

bersatu

Vena cava superior

Jantung
1.2 Regio Coli
1.2.1 Osteo

Bagian-bagian cervical vertebrae


A Bagian-bagian khusus pada cervical vertebratae

1 C1 (atlas) = Merupakan penopang dari cranium serta tempat pertemuan os. Cranium
khususnya os. Occipitale dan os. Vertebratae

2 C2 (axis) = Merupakan penggerak sendi antara os. Cranium dan os. Vertebratae
sehingga bagian cranium dapat bergerak ke kanan dan kiri disebut atlanto-occipitale
joint

3 C7 (prominensia vertebrae) = Memiliki prosessus spinous yang lebih panjang dan


terhubung dengan arteri subclavia dan saraf sehingga sering menyebabkan iskemi
pada otot

B Hubungan antar tulang pada cervical vertebrae

Antar ruas vertebrae dihubungkan oleh ligament interspinosus dan ligament


supraspinosus

Antar ruas juga dihubungkan oleh lempeng kartilago yang bersifat amfiartrosis sehingga
dapat bergerak meskipun terbatas

Pada bagian posterior dihubungkan oleh ligamentum nuchae yang merupakan jaringan
ikat padat teratur
Bagian-bagian ruas cervical vertebrae
1 Prosessus Spinous = Merupakan bentukan ke belakang dan bawah tempat melekatnya
otot-otot vertebra

2 Foramen transversum = Merupakan lubang yang berisikan arteri vertebrae, vena


vertebrae, dan nervus simpatik

3 Foramen vertebrae = Merupakan lubang besar pada ruas vertebrae yang berisikan medulla
spinalis
1.2.2 Muskular
1.2.3 Nerves

Ada 4 syaraf yang ada di colli, yakni nervus IX, X, XI, XII. Semuanya berasal
dari myelencephalon (medula oblongata).
Nevus nervusnya :
1 N.glossopharygeus (IX)

o Syaraf motorik & sensorik, fungsi :

Pada faring menelan, reflek muntah

Pada parotis sekresi saliva

Pada lidah posterior rasa pahit

2 N. Vagus (X)

o Fungsi untuk fonasi/berbicara & menelan

3 N. Accessories (XI)

o Berperan dalam persyarafan otot-otot leher. Ada dua macam


n.accessories, yakni :
Kranialis perpanjangan dari nukleus gabungan dengan
syaraf IX & X. Berperan dalam persyarafan otot laring &
faring, serta bekerja bersamaan dengan syaraf vagus

Spinalis impuls motoris untuk otot di daerah segitiga


posterior dari leher, sternocleidomastoid dan trapezius.

4 N. Hypoglosus (XII)

o Syaraf motoris pada otot otot lidah yang mengatur bentuk dan
gerakan lidah.

Selain itu juga dapat dipengaruhi oleh syaraf otonom yakni simpatis
dan parasimpatis yang kerjanya berlawanan (antagonis)

1.2.4 Vaskular
Arteri utama:
1 A.Carotis Communis
Setinggi artic. Sternoclavicularis (CIII/IV) pecah menjadi:
A. Carotis interna tidak mengeluarkan percabangannya selama perjalanannya menuju
cranii
A. Carotis Externa
Cabang langsung : a.tyroidea sup./ ima
Bagian anterior:
- a.lingualis
- a. facialis
- a. maxillaris
- a. temporalis superficialis sebagai cabang terminal
Bagian posterior:
a.pharingea ascenden
a.occipitalis
a.auricularis posterior
2 A. Subclavia
Dextra cabang dari truncus brachioCranialicus
Sinistra dari arcus aorta
Dibagi 3 oleh M. scaleni anterior
A. Vertebralis terdiri atas 3 bagian:
- pars vertebralis
- pars cervicalis
- pars intercranialis
A. Thoracica interna
Truncus Tyrocervicalis
Truncus costocervicalis
Vena:
Vena superficialis:
1. V.Jugularis externa
2. V. Jugularis anterior
Vena Profundus
- Vena jugularis interna yang mengalirkan vena dari otak , kepala, leher
2. Histologi
2.1 Tulang
2.1.1 Tulang Rawan

Jaringan tulang rawan t.a.:


Sel tulang rawan (kondrosit).

B.A.S. (matriks tulang rawan).

Kondrosit

Berasal dari sel mesenkim kondroblast kondrosit.

Makin ke tengah, sel makin gemuk.

Memproduksi matriks.

Sifat basofil.

Berada dalam lakuna.

Jika dalam satu lakuna terdapat lebih dari 1 kondrosit Cell Nest.

B.A.S. (matriks tulang rawan)

B.A.S.B.: sabut kolagen & sabut elastis.

B.A.S.A.: basofil mengandung proteoglikans (kondroitin sulfat, keratin sulfat, &


asam hyaluronat).

Daerah yang mengelilingi lakuna bersifat basofil.

Daerah kebiruan di sekeliling lakuna: cartilage capsule.

Perikondrium

Jaringan ikat yang membungkus tulang rawan.

Tidak ditemukan pada tulang rawan fibrous.

Terdiri atas:

Fibrous layer: bagian luar, t.a. jaringan ikat padat.

Chondrogenic layer: bagian dalam, jaringan ikat lebih kendor, mengandung


sel-sel kondrogenik (dapat berdiferensiasi menjadi sel kondrosit).

Jenis Tulang
Jaringan tulang rawan hyalin
Indeks bias BASB (t.a. sabut-sabut kolagen halus) = BASA matriks
tampak homogen. (persendian tulang panjang, tulang iga, hidung)
Jaringan tulang rawan elastis
BASB: sabut elastis arah tidak teratur, sedikit sabut kolagen. (daun telinga,
epiglotis).
Jaringan tulang rawan fibrous
B.A.S.B.: sabut-sabut kolagen (lebih kasar daripada tulang rawan hyalin),
tersusun sejajar, kondrosit pipih, terjepit di antara sabut-sabut kolagen, jarang
ditemukan cell nest, tidak ada perikondrium - selalu berdampingan dengan
ligamen, jaringan ikat padat, tendon, atau tulang rawan hyalin.
Contoh: diskus intervertebralis, tulang rawan fibrous penghubung 2 tulang
simphisis

2.1.2 Jaringan Tulang


Jaringan ikat penyangga.

Terdiri atas:

- sel2 tulang: osteoblast, osteosit, osteoklast.


- bahan antar sel: matriks tulang.
Osteoblast

Berasal dari sel mesenkim.

Berderet secara epitelial di permukaan trabekula tulang muda.


Bentuk kuboid sampai piramid.

Inti besar, nukleolus (+).

Sitloplasma basofil.

Memproduksi matriks organik & alkalin fosfatase yang berperan dalam


kalsifikasi.

Osteosit

Merupakan osteoblast yang terpendam dalam matriks sitoplasma.

Sitoplasma basofil.

Inti gelap.

Berada dalam lakuna.

Osteoclast

Sel raksasa, mengakibatkan demineralisasi.

Inti banyak.
Fusi dari sel-sel monosit.

Terletak pada lekukan: lakuna Howship.

Sitoplasma asidofilik (enzim asidofilik), tampak berbuih karena mengandung


vakuol-vakuol.

Pembentukan Kanalikuli
Sel mesenkim mempunyai tonjolan sitoplasma pengendapan bahan mucoid &
sabut kolagen di sekitar tonjolan sitoplasma penonjolan sitoplasma menarik
diri meninggalkan saluran halus (kanalikuli).

Matriks Tulang
Unsur organik 35%, t.a.

serat-serat osteokolagen, dibungkus oleh substansi semen yang t.a.


glikosaminoglikans.

tampak acidofil karena kondroitin sulfat <</(-).

Unsur anorganik 65%, t.a:

kalsium fosfat & sedikit kalsium karbonat.

JENIS JARINGAN TULANG


1 Jaringan tulang muda = immature bone

t.a. trabekulae, di antaranya terdapat jaringan mesenkim yang vaskuler.

Sistem Havers (-), kolagen kasar.


Sel osteoblast di permukaan trabekulae.

Sel osteosit terbenam di dalam matriks, ada di dalam lakuna.

Sel osteoklast dalam lakuna Howship.

Periosteum tebal.

2 Jaringan tulang dewasa = mature bone

Sistem Harvers (+):


Saluran Harvers:

jaringan ikat kendor & pembuluh darah, berbentuk tabung, dinding tebal,
lumen sempit.

Lamel-lamel Harvers:

mengelilingi saluran Harvers secara konsentris, 5-20 lamel.

Lakuna:

ruang berisi osteosit, di sela-sela lamel-lamel Harvers.

Kanalikuli:

saluran halus yg menghubungkan lakuna-lakuna, lakuna-saluran harvers,


lakuna-permukaan tulang.

Lamel-lamel:

Lamel Harvers: melingkupi saluran Harvers secara konsentris.

Lamel Interstitial: antara sistem Harvers satu dengan yang lain (sistem Harvers
yang telah rusak).

Outer circumferential lamel: dekat dengan periosteum.


Inner circumferential lamel: dekat dengan endosteum.

Periosteum tipis.

Memiliki ruang sutul.

Sedikit osteoblast, banyak osteosit, jarang osteoklast.

Saluran volkman:

mengandung pembuluh darah, menghubungkan antar sistem Harvers, tidak


dilingkupi lamel-lamel.

Periosteum:

jaringan ikat yang membungkus jaringan tulang:

Fibrous layer: t.a. sabut kolagen.

Osteogenik layer: t.a. sel-sel yg bersifat osteogenik.

Endosteum:

jaringan ikat yang lebih tipis dari periosteum, melingkupi ruang sutul, bersifat
osteogenik & hemopoietik.

JARINGAN OTOT
Jenis otot:
1. Otot bergaris.
2. Otot polos.
3. Otot jantung.
Jaringan Otot Bergaris
Garis-garis melintang gelap (anisotrop) & terang (isotrop) pada sabut otot otot
bergaris/lurik.

Menggerakkan anggota gerak & melekat pada tulang

jaringan otot skelet.


gerakan dikendalikan kemauan voluntary muscles.

Setiap sabut otot t .a. serabut-serabut (myofibril).

Endomisium: jaringan ikat di antara sabut-sabut otot.

Perimisium: jaringan ikat di antara fascicle-fascicle.

Epimisium: jaringan ikat yang melingkupi fascicle-fascicle.

Inti: di dalam sabut, terletak di tepi.

Jaringan Otot Polos

Involuntary muscle.

Visceral muscle.

Bentuk sel: spindle (gelendong), panjang bervariasi.

Inti di tengah.

Sabutnya halus sehingga tebal inti hampir sama dengan tebal sabut.

Letaknya rapat, di antara sabut-sabut tidak tampak jaringan ikat.


Jaringan Otot Jantung

Mempunyai garis anisotrop & isotrop.

Inti di tengah sabut.

Sabut otot bercabang-cabang, membentuk anyaman.

Garis-garis melintang: intercalated disk.


3. Fisiologi
Kontraksi
A Otot Rangka

Mekanisme Umum Kontraksi dan Relaksasi Otot:


Step 1: Active-site Exposure
Pada saat otot menerima rangsangan, RE sarkoplasma melepaskan Ca dari
Tubulus T ke sarkoplasma. Kemudian Ca akan bergerak menuju dan menempel
pada Troponin yang menutupi active-site dan Ca menggeser troponin dari active-
site. Active-site akan bebas dan kepala myosin akan mempunyai kesempatan
untuk menempel pada active-site yang berdekatan dengannya.
Step 2: Cross-bridge attachment
Kepala myosin yang mempunyai ATP akan memecahnya menjadi ADP dan
Fosfat yang dibutuhkan untuk kontraksi dengan ATP ase yang dipunyai oleh
kepala miosin. ADP dan fosfat tadi akan dilepas sebagai energy pada kepala
myosin untuk menarik aktin menuju garis M. Dan menarik garis-garis Z yang
berhadapan untuk saling mendekat . Pita H akan menghilang pada kontraksi
penuh dan ujung-ujung filament tebal mencapai garis Z.

Step 3: Pivoting
Pada saat kepala myosin masih menempel pada aktin, ADP dan Fosfat (ATP
ditambahkan dari sarkosom) diluar kepala myosin terkumpulkan secara cepat
untuk membentuk ATP agar mengisi kembali kepala myosin. Setelah ATP
terbentuk, ATP akan masuk ke dalam kepala myosin.
Step 4: Cross-bridge detachment
Setelah ATP tersebut masuk ke kepala myosin, kepala myosin akan terlepas dari
active-site pada aktin.

Step 5: Myosin reactivation


Kepala myosin yang sudah terlepas dari active-site itu akan active kembali pada
saat ATP tersebut sudah dipecah menjadi ADP dan Fosfat dan akan melanjutkan
proses kontraksi. Proses pembentukkan ATP ini sangat cepat.

Kontraksi otot secara molecular:


1 ATP berikatan dengan kepala miosin disisi pengikat ATP dan disana ada ATPase
2 ATPase memecah ATP menjadi ADP+P+energi
3 Karena ada energi yang dilepaskan, maka kepala myosin siap menempel pada bagian
sisi aktin dari aktin
4 Ion-ion Ca2+ yang dilepas oleh Retikulum Sarkoplasma berikatan dengan Troponin C
yang melekat pada tropomiosin dan aktin
5 Kompleks sususan Troponin-Ion Ca2+ menyebabkan perubahan susunan yang
memungkinkan tropomiosin menjauhi posisi penghalang aktin
6 Sehingga troponin I terbuka (sisi pengikat antara aktin dan miosin) dan memungkinkan
terjadinya perlekatan miosin ke sisi aktif dari aktin
7 Saat terjadi pengikatan aktin dan miosin, ADP+P yang terbentuk di kepala miosin
dilepaskan dan kepala miosin begerak berputar ke arah yang berlawanan untuk menarik
filamen aktin yang melekat menuju pita H . Proses ini disebut power stroke, yang akan
memendekkan otot sekitar 1% dan filament tebal kira2 mengandung 500 kepala miosin
dan siklus ini akan berulang setiap 5x per detik

Relaksasi Otot
1 Relaksasi otot terjadi ketika stimulasi syaraf berhenti dan ion Ca 2+ ditransfer lagi
ke Retikulum Sarkoplasma sehingga terjadi penghentian interaksi troponin C
antara aktin dan myosin
2 Sewaktu kadar kalsium turun sampai sekitar 10-7 tropomiosin kembali pada posisi
perifer menutupi active-site.
3 Jadi, tropomiosin dan troponin merupakan pengatur mekanisme pengunci
kontraksi dan Calsium sebagai kunci terbukanya mekanisme kontraksi. Sel otot
tidak dapat berkontraksi selain sampai kapasitas maksimal yaitu hukum all or
none dan kekuatan otot bergantung pada jumlah satuan otot yang berkontraksi.
4. Biokimia
Bagaimana hidrolisis ATP menghasilkan gerakan yang dapat terlihat secara kasat
mata? Kontraksi otot pada hakikatnya terdiri dari perlekatan dan pembebasan siklik kepala
miosin ke filamen F-aktin. Proses ini juga disebut sebagai siklus penyusunan dan
perombakan jembatan silang. Pelekatan aktin pada miosin diikuti oleh perubahan konformasi
yang sangat penting di kepala S-1 dan bergantung pada nukleotida mana yang tersedia (ADP
atau ATP) . Perubahan ini menghasilkan power stroke (kayuhan bertenaga) yang mendorong
pergerakan filamen aktin melewati filamen miosin. Energi untuk power stroke pada akhirnya
dipasok oleh ATP yang dihidrolisis menjadi ADP dan P. Namun power stroke itu sendiri
terjadi karena perubahan konformasi di kepala miosin saat ADP meninggalkannya.
Proses proses biokimia utama selama satu siklus kontraksi dan relaksasi otot dapat
disajikan dalam 5 tahap, yaitu :
1 Dalam fase relaksasi kontraksi otot, kepala S-1 pada miosin menghidrolisis ATP
menjadi ADP dan P, tetapi produk produk ini tetap terikat. Kompleks ADP-P-miosin
yang terbentuk telah mengalami penguatan dan disebut konformasi berenergi tinggi.

2 Ketika kontraksi otot distimulasi (melalui proses yang melibatkan Ca2+ , troponin,
tropomiosin dan aktin), aktin dapat diakses dan kepala S-1 miosin menemukannya,
mengikatnya, dan membentuk kompleks aktin miosin ADP P.

3 Pembentukan kompleks ini mendorong pembebasan P, yang memicu power stroke.


Hal ini diikuti oleh perubahan konformasi mencolok di kepala miosin dalam
kaitannya dengan ekornya, yang menarik aktin sekitar 10 nm ke arah pusat sarkomer.
Ini adalah power stroke (kayuhan bertenaga). Miosin sekarang dikatakan berada
dalam keadaan energi terendah yang ditunjukkan sebagai aktin miosin.

4 Molekul ATP lain mengikat kepala S-1 dan membentuk kompleks aktin miosin
ATP.

5 Miosin ATP memiliki afinitas rendah terhadap aktin sehingga aktin terlepas. Langkah
terakhir ini merupakan relaksasi dan bergantung pada pengikatan ATP dengan
kompleks aktin miosin.

Oleh karena itu, hidrolisis ATP digunakan untuk menjalankan siklus, power stroke yang
terjadi karena perubahan konformasi kepala S-1 yang terjadi sewaktu ADP dibebaskan.
Aktin

5
1

4
Jika kadar ATP intrasel turun (misalnya pada kematian), maka ATP tidak tersedia untuk
mengikat kepala S-1 (tahap24), aktin tidak terlepas, dan relaksasi tidak terjadi, ini yang
ATP menyebabkan timbulnya kaku mayat (Rigor mortis) yakni mengerasnya tubuh yang terjadi
3
setelah kematian.

ADP + P
ATP - Miosin

Aktin Miosin - ATP

Aktin - Miosin

Aktin Mio
ADP

Otot adalah transducer (mesin) biokimia utama yang mengubah energi potensial (kimiawi)
menjadi energi kinetik (mekanis). Peran ATP dalam kontraksi otot adalah menjalankan siklus
jembatan silang.
Jembatan silang berfungsi untuk tempat mengikat Aktin dan tempat ATPase serta tempat
enzim yang dapat mengikat pembawa eneregi (ATP) dan memecahnya menjadi ADP dan Pi
yang dalam prosesnya menghasilkan energi.
Siklus Jembatan Silang :
1 ATP diuraikan oleh ATPase myosin ; ADP dan Pi tetap melekat

ke myosin ; Energi tersimpan di jembatan silang

2 Ca2+ dibebaskan pada eksitasi pengaruh inhibitorik dari aktin

lenyap sehingga dapat terjadi ikatan dengan jembatan silang.

3 Kayuhan bertenaga jembatan silang terpicu ketika myosin dan


aktin berkontak ; Pi dibebaskan selama ADP dibebaskan
setelah kayuhan bertenaga.

4 Ikatan antara myosin dan aktin terputus sewaktu molekul

ATP segar berikatan dengan jembatan silang myosin ;


Konformasi jembatan silang kembali ke normal ; ATP terhidrolisis
Dimulai ke tahap 1.

Apabila di tahap 2 tidak terjadi eksitasi , tidak terjadi pelepasan Ca2+ aktin dan
myosin tidak berikatan dan tidak terjadi siklus jembatan , otot sedang beristirahat.

Apabila pada tahap 4 , jika tidak tersedia ATP segar lainnya (setelah kematian) maka
aktin dan myosin tetap terikat sehinggga menimbulkan kaku mayat.

3 jalur yang memberikan tambahan ATP saat kontraksi otot :


1 Transfer fosfat berenergi tinggi dari keratin fosfat ke ADP

Merupakan sumber energy pertama pada awal aktivitas kontraktil , atau sumber
segera. Dalam keadaan istirahat otot menyimpan keratin fosfat 5x lebih banyak drpd
ATP.
Keratin fosfat + ADP (Keratin Kinase) Kreatin + ATP sifat : reversible
2 Fosforilasi Oksidatif

Terjadi di mitokondria otot , transport electron mitokondria , sumber energy dengan


bantuan O2 selain itu juga dibantu dengan glukosa dan asam lemak kemudian
disimpan dalam bentuk glikogen di hati lalu diuraikan menjadi ATP . tetapi apabia
glikogen dalam hati penuh disimpan menjadi lemak. Biasanya digunakan untuk olah
raga daya tahan tubuh.

3 Glikolisis

Sumber utama apabila tidak ada O2.


1 molekul glukosa 2 molekul as.piruvat 2 molekul ATP
Lalu apabila tidak ada oksigen akan diubah menjadi asam laktat. Tetapi kalau ada O2
akan dilanjutkan menjadi proses fosforilasi oksidatif.