Anda di halaman 1dari 35

MANAJEMEN PASSIVA BANK

DISUSUN OLEH:
KELOMPOK 3

Ni Wayan Yulia Krusita (1506205073)


Ni Made Diah Permata Sari (1506205120)
Ayuningtyas Putri Saraswati (1506205141)

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS


UNIVERSITAS UDAYANA
2017
KATA PENGANTAR

Om Swastyastu,

Puji syukur kehadapan Tuhan Yang Maha Esa. Berkat rahmat dan karunia-Nya kami
dapat menyelesaikan makalah ini dengan tepat waktu tanpa menemukan kendala yang berarti.
Kami mengucapkan terima kasih kepada dosen pengampu mata kuliah Manajemen Keuangan
Perbankan, karena telah mempercayakan kami untuk menyusun makalah ini. Kami juga
mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah membantu menyelesaikan
makalah ini.

Kami sadari sepenuhnya bahwa makalah yang kami buat ini tidak luput dari
kesalahan. Maka dari itu kami membutuhkan saran dan kritik yang membangun, untuk
makalah ataupun karya ilmiah kami yang lainnya.

Om Santih, Santih, Santih Om.

Denpasar, 15 April 2017

Penulis

i
DAFTAR ISI

Kata Pengantar...........................................................................................................i
Daftar Isi.....................................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang..................................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah.............................................................................................1
1.3 Tujuan Penulisan...............................................................................................1
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Pengertian dan Ruang Lingkup........................................................................3
2.2 Sumber Dana Pihak Pertama............................................................................4
2.3 Sumber Dana Pihak Kedua..............................................................................16
2.4 Sumber Dana Pihak Ketiga..............................................................................22
2.5 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Sumber Dana Bank..................................26
2.6 Perhitungan Biaya Dana...................................................................................27
2.7 Peraturan Bank Indonesia yang terkait dengan Sumber Dana Bank................31
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan......................................................................................................33
Daftar Pustaka............................................................................................................34

ii
BAB I
PENDAHULUAN
1.1LATAR BALAKANG
Bank pada hakikatnya adalah lembaga intermediasi antar penabung dan investor.
Tabungan hanya akan berguna apabila diinvestasikan, sedangakan para penabung tidak
dapat diharapkan untuk sanggup melakukannya sendiri dengan terampil dan suskses.
Nasabah mau menyimpan dananya di bank karena merasa percaya bahwa bank dapat
memilih alternatif investasi yang menarik.
Proses pemilihan investasi itu harus dilakukan dengan seksama karena kesalahan
dalam pemilihan investasi akan membawa akibat bank tidak bisa memenuhi
kewajibannya kepada para nasabah. Pada umumnya, bank mengkoordinasikan fungsi
tersebut melalui apa yang disebut dengan asset liability management committee.
Fokus management asset dan liability adalah mengkoordinasikan portofolio asset,
liability bank dalam rangka memaksimalkan profit bagi bank dan hasil yang dibagikan
kepada para pemegang saham dalam jangka panjang dengan memperhatikan kebutuhan
liquiditas dan kehati-hatian. Sehingga makalah ini akan membahas mengenai manajemen
passiva bank yang berkaitan dengan proses di mana bank berusaha mendapatkan dana
untuk memenuhi kebutuhan operasional bank itu sendiri.

1.2RUMUSAN MASALAH
Adapun rumusan masalah dari makalah ini adalah:
1. Apa Pengertian dan Ruang Lingkup Manajemen Passiva?
2. Apa saja sumber dana pihak pertama?
3. Apa saja sumber daa pihak kedua?
4. Apa saja umber dana pihak ketiga?
5. Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi sumber dana bank?
6. Bagaimana perhitungan biaya dana
7. Apa saja peraturan Bank Indonesia terkait dengan sumber dana bank?

1.3TUJUAN PENULISAN
Adapun tujuan dari makalah ini adalah:
1. Mengetahui Pengertian dan Ruang Lingkup Manajemen Passiva
2. Mengetahui sumber dana pihak pertama
3. Mengetahui sumber daa pihak kedua
1
4. Mengetahui sumber dana pihak ketiga
5. Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi sumber dana bank
6. Mengetahui perhitungan biaya dana
7. Mengetahui peraturan Bank Indonesia terkait dengan sumber dana bank

BAB II
PEMBAHASAN
2
2.1 PENGERTIAN DAN RUANG LINGKUP
2.1.1 Pengertian
Manajemen Pasiva atau Liability Management (Dahlan Siamat: 1993 hal.142) adalah
suatu proses di mana bank berusaha mengembangkan sumber sumber dana yang non
tradisional melalui pinjaman di pasar uang atau dengan menerbitkan instrumen utang
untuk digunakan secara menguntungkan terutama untuk memenuhi permintaan kredit.
Pendekatan liability management dalam perbankan dewasa ini adalah berkaitan erat
dengan sisi penggunaannya di sisi assets, jadi tidak dapat dipisahkan antara bagaimana
mendapatkan dana dari pihak ketiga dan kemudian mengoptimalkan dana yang
dihimpun tersebut untuk mendapatkan keuntungan bagi bank.
Secara umum dapat diartikan bahwa manajemen pasiva adalah usaha untuk
mendapatkan dana untuk memenuhi kebutuhan operasional bank, baik melalui
penghimpunan dana pihak ketiga (masyarakat), dana pihak kedua yang dihimpun
mellaui pasar uang atau pasar modal maupun yang berasal dari Pihak Pertama (pemilik)
melalui Pasar Modal.
2.1.2 Ruang Lingkup

Kegiatan utama bank secara garis besar meliputi tiga kegiatan utama yaitu, pertama
bagaimana bank dapat menghimpun dana dari masyarakat, kedua setelah dana
terhimpun bagaimana bank tersebut menggunkan dananya dalam arti menyalurkan
kembali kepada masyarakat agar penggunaan dana tersebut mempunyai dampak positif
dan ketiga adalah pelayanan (jasa) yang diberikan oleh bank kepada masyarakat.
Dalam pembahasan manajemen pasiva ini hanya meliputi satu kegiatan utama
bank yang meliputi keseluruhan aktivitas yang tampak pada sisi liabilities atau dineraca
akan tampak pada sisi dibayar.
Sisi pasiva dapat dikelompokkan menjadi tiga bagian utama, yaitu : Dana
Pihak Pertama yang berasal dari Pemilik dan Laba Bank, Dana Pihak Kedua yang
dapat diperoleh melalui Pasar Uang serta Dana Pihak Ketiga yaitu dana yang berasal
dari masyarakat berupa Giro, Tabungan, Deposito Berjangka, Sertifikat Deposito,
Setoran Jaminan serta Kewajiban Lainnya Yang Segera dibayar.
Dengan adanya pengelompokkan sumber dana tersebut dapat dipelajari sifat
masing-snasing kelempok dan bagaimana cara menghimpunnya, sehingga manajemen
bank dalam setiap membuat kebijakan untuk menghimpun dana memiliki strategi yang

3
jitu untuk meningkatkan penghimpunan dananya, apakah yang bersal dari masyarakat,
dari Pasar Uang atau Pasar Modal dan dari Pemilik sendiri atau Modal Saham dengan
cara go public atau perusahaan Tbk atau pemilik lama menyetorkan sejumlah modal
baru kepada bank.
Manajemen Pasiva ini menjadi sangat penting, karena sebagian besar dana
yang dikelola oleh perbankan berasal dari Dana Pihak Ketiga, berupa Giro baik rupiah
maupun valuta asing. Laporan Tahunan Bank Indonesia (2002:156) menunjukkan
bahwa Dana Pihak Ketiga perbankan yang dapat dihimpun pada tahun 2002 mencapai
Rp. 835,8 triliun yang terdiri dari Giro sebesar Rp. 197,0 triliun, Tabungan sebesar Rp.
192,6 triliun dan Deposito Berjangka sebesar Rp. 446,2 triliun. Dibanding tahun 2001
yang mencapai Rp. 797,4 triliun dan tahun 2000 sebesar Rp. 699,1 triliun. Ini berarti
telah terjadi peningkatan penghimpunanan dana masyarakat dari tahun ke tahun,
sekaligus menunjukkan bahwa ini berarti semakin pentingnya arti manajemen pasiva
bagi suatu bank.
2.1.3. Sasaran Manajemen Pasiva
Mengelola pasiva bank menjadi sangat penting hal ini berkaitan dengan usaha usaha
yang harus dilakukan oleh bank untuk.
Meminimumkan biaya bunga atas dana yang dihimpun.
Menjalin hubungan yang baik dengan Kreditur.
Pemeliharaan pergerakan sumber dana akibat kondisi ekonomi dan moneter.
Menciptakan surat surat berharga dalam rangka Purchased Funds, sehingga
kebutuhan likuiditas yang sifatnya sangat mendesak dapat dipenuhi.
Meningkatkan hubungan koresponden dengan lembaga keuangan atau bank lain,
agar money market line yang diperoleh dapat dipertahankan dan setiap saat dapat
digunakan jika bank dalam posisi kesulitan atau menjaga hubungan baik yang
terbina.
2.2. SUMBER DANA PIHAK PERTAMA
Modal merupakan sumber dana pihak pertama, yaitu sejumlah dana yang diinvestasikan
oleh Pemilik untuk pendirian suatu bank. Juka bank tersebut sudah beroperasi maka
Modal merupakan salah satu faktor yang sangat pneting bagi pengembangan usaha dan
menampung risiko kerugian.
Agar perbankan dapat berkembang secara sehat dan mampu bersaing dalam
perbankan internasional maka permodalan bank harus senantiasa mengikuti ukuran yang
berlaku secara internasional, yang ditetapkan oleh Banking for International Settlements

4
atau disingkat BIS yang berkantor pusat di Jeneva, Swiss yaiu besar Capital Adequacy
Ratio adalah 8 %. Namun demikian setiap negara diperkenankan melakukan penyesuaian
penyesuaian dalam penerapannya dengan memperhatikan kondisi perbankan di negara
yang bersangkutan.
Penemuan kewajiban penyediaan modal minimun didasarkan atas risiko aktiva
dalam arti luas, artinya tidak hanya aktiva yang tercantum pada neraca secaraon Balance
Sheets tetapi juga pada aktiva yang bersifat administratif atau secara off Balance Sheets,
sebagaimana yang tampak pada kewajiban yang bersifat kontinjen dan/atau komitmen
yang yang disediakan oleh bank bagi pihak ketiga. Risiko terhadap aktiva dalam bentuk
Risiko Kredit maupun risiko yang terjadi kerana fluktuasi harga surat surat berharga,
dan tingkat bunga serta nilai tukar valuta asing secara teknis, kewajiban penyediaan
Modal Minimun diukur dari persentase tertentu terhadap Aktiva Tertimbang Menurut
Risiko disingkat ATMR, sedangkan pengertian Modal meliputi Modal Inti dan Modal
Pelengkap.
Dalam hal melakukan penilaian untuk pemenuhan Kewajiban Penyediaan
Modal Minimum suatu bank di samping atas dasar perhitungan secara kuantitatif atas
angka angka terdapat pada sisi Assets, dilakukan juga penilaian secara kualitatif yang
didasarkan pada parameter seperti kolektibilitas aktiva produktif. Dengan mengacu pada
prinsip prinsip yang diterapkan di banyak negara, yang pada dasarnya mengacu pada
BIS, maka bila terdapat faktor faktor yang sangat berpengaruh terhadap pada
permodalan bank, diperlukan judgement, baik yang dilakukan oleh bank yang
bersangkutan maupun oleh Bank Sentralnya. Contohnya kasus perbankan di Indonesia
semula besarnya CAR sampai dengan Desember 1999 ditetapkan sebesar 9 %,
sedangkan BIS sebesar 8%, tetapi pada kondisi perbankan yang sedang krisis secara
multi dimensional disesuaikan untuk sementara pada saat itu menjadi 4% dan pada saat
kondisi sudah membaik akan diterapkan peraturan yang berlaku secara internasional,
yaitu sebesar 7%. Dan pada saat jika dipandang perlu dalam rangka penerapan prinsip
prudential banking Bank Indonesia selaku otoritas perbankan dapat menyesuaikan
besarnya CAR, sesuai dengan kondisi perekonoian dan perbankan yang ada.
2.2.1. Modal
Modal adalah dana yang besarasl dari pemilik bank atau pemegang saham ditambah
dengan agio saham dan hasil usaha yang berasal dari kegiatan usaha bank. Modal
terdiri dari Modal Inti dan Modal Pelengkap.

5
Untuk meningkatkan besarnya Modal bank dapat melakukan dengan cara
penambahan dana baru dari pemilik atau meningkatkan hasil usaha bank, sedangkan
bagi bank yang sahamnya sudah dicatatkan di bursa saham tersebut bisa dijual kepada
masyarakat luas.
2.2.1.1. Modal Inti
Modal inti disebut juga Core Capital atau Tier 1 terdiri atas modal disetor, agio
saham, modal sumbangan, cadangan umum, cadangan tujuan, laba ditahan
setelah diperhitungkan pajak, laba tahun tahun lalu setelah diperhitungkan
pajak, dikurangi kerugian tahun lalu, laba tahun berjalan setelah dikurangi pajak
(diperhitungkan 50%), dikurangi rugi tahun berjalan, dikurangi goodwil (jika
ada) dan diperhitungkan kekurangan jumlah penyisihan penghapusan aktiva
produktif dari jumlah yang seharusnya dibentuk
Modal disetor adalah modal yang telah disetorsecara efektif oleh
pemiliknya. Sedangkan di Indonesia bagi bank yang berbentuk hukum
Koperasi, modal disetor terdiri atas simpanan pokok, simpanan wajib dan modal
penyertaan.
Agio Saham adalah selisih lebih setoran modal yang diterima oleh bank
yang dikarenakan harga saham melebihi nilai nominalnya. Modal sumbangan
adalah modal yang diperoleh dari sumbangan saham, termasuk selisih antara
nilai yang tercatat dengan harga jual. Modal yang berasal dari donasi pihak
ketiga yang diterima oleh bank yang berbentuk hukum koperasi juga termasuk
dalam pengertian modal sumbangan.
2.2.1.2. Modal Pelengkap
Modal Pelengkap disebut juga Supplementary Capital atau Tier 2 terdiri atas
Cadangan revaluasi aktiva tetap, penyisihan penghapusan aktiva produktif
(maksimum sebesar 1,25% dari ATMR), modal pinjaman, Pinjaman subordinasi
(maksimum 50% dari jumlah modal inti), jumlah modal; pelengkap tersebut
yang diperhitungkan menjadi komponen modal maksimal sebesar 100% dari
modal inti.
Cadangan revaluasi aktiva tetap adalah cadangan yang dibentuk dari selisih
penilaian kembali aktiva tetap, di Indonesia yang telah mendapat persetujuan
Direktorat Jenderal Pajak.
Penyisihan penghapusan aktiva produktif adalah cadangan yang dibentuk
dengan cara membebani laba rugi tahun berjalan, dengan maksud untuk
6
menampung kerugian yang mungkin timbul sebagai akibat dari tidak
diterimanya kembali sebagian atau seluruh aktiva produktif. Penyisihan
penghapusan aktiva produktif yang dapat diperhitungkan sebagai komponen
modal pelengkap adalah maksimal sebesar 1.25% dari jumlah ATMR.
Modal pinjaman atau modal kuasi adalah uang yang didukung dengan
instrumen atau warkat yang memiliki sifat seperti modal dengan ciri-ciri sebagai
berikut:
Tidak dijamin oleh bank yang bersangkutan, dipersamakan dengan modal
dan telah dibayar penuh.
Tidak dapat dilunasi atau ditarik atas inisitlif pemilik, tanpa persetujuan
Bank Indonesia.
Mempunyai kedudukan yang sama dengan modal dalam hal jumlah
kerugian bank melebihi laba yang dilahan dan cadangan-cadangan yang
temasuk modal inti, meskipun belum dilikuidasi.
Pembayaran bunga dapat dttanggihkan jika bank dalam keadaan rugi atau
labanya tidak mendukung untuk membayar bunga tersebut.
Dalam pengertian modal pinjaman ini termasuk cadangan modal yang berasal
dari penyetoran modal yang belum didukung oleh modal dasar (yang sudah
mendapat pengesahan dari instansi yang berwenang) yang mencukupi, dan tidak
termasuk debt instrument pasar modal beserta semua derivatifnya.
Pinjaman subordinasi adalah pinjaman yang memenuhi kriteria sebagai berikut:
Ada perjanjian tertulis antara bank dengan pemeberi pinjaman.
Mendapat persetujuan terlebih dahulu dari Bank Indonesia. Dalam hal
ini pada saat bank mengajukan permohonan persetujuan, bank harus
menyampaikan program pembayaran kembali pinjman subordinasi
tersebut.
Tidak dijamin oleh bank yang bersangkutan dan telah disetor penuh.
Jangka waktu minimal pinjaman 5 tahun.
Pelunasan sebelum jatuh tempo harus mendapat persetujuan dari Bank
Indonesia, dan dengan pelunasan tersebut permodalan bank tetap sehat.
Hak tagihnya dalam hal terjadi likuidasi berlaku paling akhir dari segala
pinjaman yang ada dalam hal ini kedudukannya sama dengan modal.

Dalam pengertian pinjaman subordinasi termasuk juga taring dalam rangka


kredit yang dananya berasal dan World Bank, Asian Development Bank,

7
Nordic Investment Bank dan Lembaga Keuangan Internasional serupa.
Perlakuan sebagai pinjaman subordinasi tersebut mulai sejak diterimanya dana
tersebut oleh bank sampai dengan saat jatuh tempo menurut perjanjian
penerusan pinjaman tersebut.
Jumlah pinjaman subordinasi yang dapat diperhitungkan sebagai modal
untuk sisa jangka5 (lima) tahun terakhir dikurangi amortisasi yang dihitung
dengan menggunakan metode lama (prorata).
2.2.1.3 Tata Cara Perhitungan Pemenuhan Kebutuhan Modal Minimum
Untuk menentukan besarnya Modal Minimum bagi suatu bank dapat dilakukan
beberapa tahap, yaitu pertama menetapkan Dasar Perhitungan Kebutuhan
Modal dan kedua menetapkan Bobot Risiko Aktiva yang terdapat pada Neraca
bank serta Bobot Risiko Aktiva Administratif.
Dasar Perhitungan Kebutuhan Modal
Perhitungan kebutuhan modal didasarkan pada Aktiva Tertimbang Menurut
Risiko atau ATMR, pengertian aktiva yang dimaksudkan adalah aktiva yang
terdapat pada neraca (on Balance Sheets) dan aktiva yang bersifat administratif
(off Balance Sheets) yang tarcermin pada kewajiban yang masih bersifat
kontijen atau komitmen yang disediakan oleh bank bagi Pihak Ketiga.
Bobot Risiko Aktiva Neraca
Dalam menghitung ATMR, terdapat masing masing pos aktiva yang
besarnya didasarkan pada kadar risiko yang terkandung pada aktiva tersebut
atau bobot ririko yang didasarkan pada golongan nasabah, penjamin serta sifat
agunan. Sedangkan untuk kredit kredit yang penarikannya dilakukan secara
bertahap, maka bobot ririko dihitung berdasarkan besarnya penarikan kredit
pada tahap yang bersangkutan.
Bobot Risiko Aktiva Administratif
Perhitungan bobot risiko untuk aktiva administratif dilakukan melalui 2 tahap.

CONTOH :
POS POS AKTIVA Bobot JUMLAH
Kas 0% 125.500
Giro Pada Bank Indonesia 0% 401.500
Penempatan Pada Bank Lain 20% 1.721.000

8
Penyisihan Penghapusan Penempatan
Pada Bank Lain -21.000
Surat Berharga : SBI 0% 3.050.000
SBPU 20 % 1.101.500
Peny. Penghapusan Srt Berharga -51.500
Kredit Yang Diberikan :
Kredit Modal Kerja 20% 7.900.000
Kredit Ekspor 50% 2.200.000
Kredit Investasi 100% 1.724.000
Penyisihan Penghapusan Kredit -47.500
Investasi (Penyertaan) 100% 1.874.500
Penyisihan Penghapusan Penyertaan -47.500
Aktiva Tetap 100% 2.304.500
Penyisihan Penghapusan Aktiva Tetap -300.500

Jika Bank Budi Luhur memiliki Modal Inti sebesar Rp. 1.016.500.000.000,00
dan Modal Pelnegkap sebesar Rp. 2.000.000.000.000,00, hitung besarnya
CAR yang dimiliki.
Keterangan (hal hal yang perlu diperhatikan) :
Penyisihan Penghapusan (Loan Loss Provision) diperhitungkan
(mengurangi) Assets yang mempunyai bobot risiko lebih tinggi
(tertinggi).

Jawab :
Perhitungan ATMR
Kas 125.500.000.000 X 0% 0
Giro Pada Bank Indonesia 401.500.000.000 X 0% 0
Penempatan Pada Bank Lain 1.700.000.000.000 X 20% 340.000.000.000
Surat Berharga : SBI 3.050.000.000.000 X 20% 0
SBPU 1.050.000.000.000 X 20% 210.000.000.000
Kredit KMK 7.900.000.000.000 X 20% 1.580.000.000.000
Kredit KE 2.200.000.000.000 X 50% 1.100.000.000.000
Kredit KI 1.600.000.000.000 X 100% 1.600.000.000.000
9
Investasi 1.800.000.000.000 X 100% 1.800.000.000.000
Aktiva Tetap 2.040.000.000.000 X 100X 2.040.000.000.000

Total ATMR 8.670.000.000.000

Besarnya Modal yang diperhitungkan :


Modal Inti (Tier I) = Rp. 1.016.500.000.000,00
Modal Pelengkap (Tier 2) = Rp. 1.016.500.000.000,00 (Maksimal
100% dari Modal Inti)
Modal = Rp. 2.033.000.000.000,00

CAR = X 100 % = 23,45 %

2.2.1.4 Tata Cara Perhitungan Modal Rekap


Pada saat terjadi krisis moneter hampir semua bank mengalami negative
spreade, yang berakibat pada posisi keuangan bank menjadi tidak sehat,
karena besarnya kerugian sebagai akibat terjadinya negative spread tersebut
lebih besar dibanding modal yang dimilik bank. Negative spread terjadi karena
biaya bunga yang dibayar oleh bank lebih kecil dibanding dengan pendapatan
bunga yang diterima, ditambah lagi adanya debitur macet, yaitu debitur yang
tidak mampu membayar cicilan pokok dan hutang bunganya kepada bank,
sebagai akibat krisis moneter yang terjadi pada saat itu.
Dalam kondisi seperti itu, modal perbankan tidak dapat memenuhi
persyaratan yang ditentukan oleh Bank Indonesia, yang mengacu pada
Banking For International Settlement (BIS), dimana besarnya Capitacl
Adequacy Ratio (CAR) adalah 8%, jika ini tidak dapat dipenuhi maka dapat
dipastikan bahwa banyak bank yang harus ditutup, yang dampaknya bisa
menimbulkan ketidakpastian di segala aspek kegiatan, baik ekonomi maupun
politik dan keamanan. Untuk mengatasi kondisi seperti ini bank Indonesia
selaku regulator membuat darurat regulation, terutama yang permodalan, yang
mensyaratkan CAR menjadi 4%, untuk mendapatkan predikat Sehat (Sound)

10
bagi suatu bank. Tetapi kondisi inipun belum tentu bisa menolong untuk
sebagian besar bank, terutama bank bank besar karena jumlah modal yang
negatif mencapai total lebih dari Rp. 350 triliun.
Melihat kondisi yang seperti ini, pemerintah cepat mengambil suatu
kebijakan untuk melakukan rekapitulasi di bidang perbankan, agar Modal bank
tidak negatif lagi, tetapi dapat memenuhi ketentuan yang berlaku. Masalah
yang timbul kemudian kemudian adalah bahwa untuk melakukan rekap modal
sebesar itu pemerintah tidak memiliki uang tunai. Solusi yang ditempuh untuk
mengatasinya adalah dengan cara modal bank dipenuhi oleh pemerintah
sejumlah yang dibutuhkan, dan atas setoran modal ini, pada saat yang sama
seolah olah bank yang direkap melakukan pembelian obligasi kepada
pemerintah.
Sejak saat itu, sisi sumber dana bank (sisi pasiva) muncullah yang
namanya Tambahan Modal Disetor, sedang di posisi pengunaan dana (sisi
aktiva) terdapat pengunaan dana dalam bentuk Obligasi Pemerintah.
Secara sederhana metode penentuan besarnya modal rekap yang
dilakukan oleh pemilik bank dapat dilakukan sebagai berikut.
Pertama, menetapkan besarnya total kerugian yang dialami oleh bank yang
akan direkap
Kedua, menghitung total modal yang dimiliki, yaitu modal inti dan modal
pelengkap.
Ketiga, menghitung jumlah Kativa Tertimbang Menurut Risiko, baik yang ada
di neraca bank (on Balance Sheet) maupun yang terdapat pada rekening
administratif bank (of balance sheet), lalu dijumlahkan.
Keempat, berdasarkan perhitungan total ATMR dikalikan dengan besarnya
CAR minimal yaitu 8%.
Kelima, menjumlahkan total kerugian dikurangi modal dan ditambahkan
dengan hasil perhitungan CAR yang dibutuhkan.

Sebagai ilustrasi tata cara perhitungan modal rekap, dapat diberikan


contoh sebagai berikut :
Bank Budi Luhur memiliki neraca yang belum selesai disusun per 31
Desember 2005, sebagaimana tampak pada data neraca di bawah ini, dan
untuk memudahkan pembahasan bentuk neraca disederhanakan, demikian pula
11
untuk rekening administratif tidak dicantumkan dalam perhitungan, dengan
asumsi bahwa bobot risiko seluruh rekening administratif adalah 0%, dengan
demikian tidak akan mempengaruhi perhitungan total ATMR yang dimiliki
bank tersebut, pada akhir periode tahun laporan.

Berdasarkan data-data Neraca di atas diminta:

a. Hitung bearnya CAR (ebelum rekapitulasi), sesuai ketentuan BI CAR saat


itu = 4%
b. Agar Bank Budi Luhur, dapat memenuhi ketentuan permodalan (CAR)
yang berlaku, berapa besarnya nilai rekapitulasi yang seharusnya
dilakukan.
c. Hitung besarnya Laba/rugi Bank Budi Luhur.
d. Berdasarkan hasil rekapitulasi (soal butir b di atas), susun Neraca PT Bank
Budi Luhur setelah adanya rekapitulasi.

Keterangan/hal-hal yang perlu diperhatikan yaitu:

12
Penyisihan Penghapusan (Loan Loss Provision) diperhitungkan
(mengurangi) Assets yang mempunyai bobot risiko lebih tinggi (tertinggi)
Setoran rekapan dimasukan kelompok Modal, sebagai Rekapitulasi Modal.

Rekap dilakukan oleh pemerintah dalam bentuk Obligasi Pemerintah,


dikelompokkan dalam Surat-surat berharga, sebagai Obligasi Pemerintah
(tingkat bunga obligasi 10,5%)

Berdasarkan contoh kasus di atas, maka perhitungan besarnya modal rekap


dapat dilakukan dengan langkah-langkah berikut:

a. Menghitung total ATMR, dengan asumsi Bank Budi Luhur tidak memiliki
ATMR yang Off Balance sheet (rekening administratif), sebagai berikut:

b. CAR Seharunya = 4% X 8.670.000.000.000 = Rp. 346.800.000.000

Perincian Modal:

c. Jumlah Pasiva = Rp23.900.000.000.000


13
Jumlah Aktiva = Rp21.867.000.000.000
Rugi Bank Budi
Luhur = Rp2.033.000.000.000

2.2.2. CADANGAN

Cadangan adalah sejumlah dana yang digunakan untuk memperkuat struktur


permodalan bagi bank dapat dikelompokan menjadi cadangan umum dan cadangan
tujuan.

Cadangan umum adalah cadangan yang dibentuk dari penyisihan laba yang ditahan
atau dari laba bersih setelah dikurangi pajak, dan mendapatkan prsetujuan rapat umum
pemegang saham atau rapat anggota sesuai dengan ketentuan pendirian atau anggaran
dasar masing-masing bank.

14
Cadangan tujuan adalah bagian laba setelah dikurangi pajak yang disisihkan untuk
tujuan tertentu dan telah mendapatkan persetujuan rapat umum pemegang saham atau
rapat anggota.

2.2.3 LABA YANG DITAHAN

Laba tan berjalan atau retained earnings adalah saldo laba bersih setelah dikurangi
pajak yang oleh rapat umum pemegang saham atau rapat anggota diputuskan untuk tida
dibagikan.

Laba tahun lalu adalah seluruh laba bersih tahun-tahun yang lalu setelah
diperhitungkan pajak, dan belum ditetapkan penggunaannya oleh rapat umum
pemegang saham atau rapat anggota.

Jika bank mempunyai saldo rugi pada tahun-tahun sebelumnya, maka seluruh
kerugian tersebut menjadi faktor pengurang modal dari modal ini.

2.2.4 LABA TAHUN BERJALAN

Laba tahun berjalan adalah laba yang diperoleh dalam tahun buku berjalan setelah
dikurangi taksiran utang pajak. Besarnya yang diperhitungkan dalam modal inti
maksimal adalah sebesar 50%.

Dari hasil usaha pada tahun berjalan, maka laba tahun berjalan mencerminkan
tingkat aktivitas kinerja bank dalam melakukan pengelolaan danannya dan
memberikan pelayanan jasa-jasa yang ditawarkannya kepada para nasabahnya.
Karena hasil usaha bank dapat dikelompokkan menjadi hasil usaha yang berasal dari
bunga dan fee base income serta pendapatan non operasional lainnya.

2.3. SUMBER DANA PIHAK KEDUA

Sumber Dana Pihak Kedua adalah sumber dana bank yang diperoleh melalui Pasar Uang
Antarbank dan melalui Pasar Modal dengan cara menerbitkan obligasi atau surat
berharga jangka panjang lainnya.

2.3.1. Pasar Uang

Pasar Uang atau interbank money market adalah pinjam meminjam antarbank yang
dilakukan oleh bank-bank komersial dalam rangka memenuhi kebutuhan likuiditas
15
atau untuk memanfaatkan dana agar tidak terjadi idle fund. Instrumen paar uang
memiliki jangka waktu di bawah satu tahun, dapat berupa promissory notes (PN) atau
Promes, Bankers Acceptance, Commercial Paper (CP)dan surat-surat berharga
sejenis lainnya dalam rangka penghimpunan dana bagi bank.

Agar bank yang membutuhkan dana dapat memanfaatkan pasar uang antarbank, maka
sebelum melakukan transaksi di pasar uang, harus ada perjanjian terlebih dahulu yang
disepakati oleh masing-masing pihak, terutama bagi bank yang membutuhkan dana
(pinjaman) harus mendapat money market line dari bank yang akan memberikan
pinjaman atau menempatkan dana pada bank peminjam.

Money Market Line adalah fasilitas yang diberikan oleh suatu bank kepada bank lain
utuk meminjam sejumlah uang tertentu melalui fasilitas pasar uang antarbank.
Fasilitas yang diberikan ini berbebeda dengan fasilitas kredi, dalam fasilitas money
market line ini sifatnya uncommited artinya tidak mengikat seperti dalam pemberian
kredit. Artinya jika bank yang memperoleh fasilitas membutuhkan uang segera, maka
tidak secara otomatis bank tersebut akan mendapatkan dana melalui pasar uang
antarbank, pemenuhannya tergantung pada saat negosiasi dan tersedia atau tidaknya
dana pada bank yang memberikan fasilitas money market line tersebut.

Jangka waktu pasar uang antarbank dapat bervariasi sebagai berikut:

O/N atau overnight, yaitu penempatan/peminjaman yang berjangka waktu satu malam

O/W atau one week, yaitu penempatan/peminjaman yang mempunyai jangka waktu
satu minggu

O/M atau one month, yaitu penempatan/peminjaman yang mempunyai jangaka waktu
selama satu bulan

3/Ms atau three month, yaitu penempatan/peminjaman yang mempunyai jangka waktu
selama tiga bulan

6/Ms atau six month, yaitu penempatan/peminjaman yang berjangka waktu selama 6
bulan

O/Y atau one year, yaitu penempatan/peminjaman yang berjangka waktu selama 1
tahun

Perhitungan Bunga Pasar Uang


16
Pada umumnya terdapat 2 cara perhitungan yaitu :

Simple Interest

Dalam cara ini yang dihitung adalah besarnya bunga yang akan diterima oleh Lender,
dengan rumus sebagai berikut:

Dimana :

N = Nilai Nominal

I = Tingkat Suku bunga (interest rate) per tahun

T = Jangka waktu dalam hari (lamanya penempatan dana)

360 = satu tahun dihitung 360 hari, jika satu tahun 365/366 hari, maka
pembagiannya menjadi 365/366 hari

Contoh :
Bank Perban menempatkan dananya sebesar IDR 10.000.000.000,00 kepada Bank
Power selama 30 hari dengan tingkat bunga psar 13% - 13,25%.

Karena Bank Perban menempatkan danannya (placement) maka akan mendapatkan


bunga bid sebesar 13%, sehingga bunga yang akan diterima adalah sevagai berikut:

N = IDR 10.000.000.000,00

I = 13%

T = 30 hari

True Discount

Berbeda dengan cara perhitungan simple interest method, dalam true discount yang
dihitung adalah nilai tunai (proceeds) dari surat berharga yang diperjual-belikan,
dengan menggunakan rumus sebagai berikut:
17
Dimana:

N = Nilai Nominal

360 = 1 Tahun dihitung 360 hari

T = Jangka Waktu Surat Berharga

I = Tingkat bunga yang berlaku pertahun

Contoh :

Bank Perban membeli SBI interveni yang berjangka waktu 7 hari sebesar IDR
17.000.000.000,00 bunga 9,875%. Hitung besarnya proceeds dan diskonto

N = IDR 17.000.000.000,00

T = 7 hari

I = 9,875%

Berdasarkan contoh tersebut diatas, maka besarnya diskonto dapat dihitung sebagai
berikut:

Nilai Nominal SBI = IDR 17.000.000.000,00

Diskonto = IDR 32.579.803,36

2.3.1.1 Peserta Pasar Uang

Pihak-pihak yang memanfaatkan keberadaan pasar uang baik untuk memenuhi


likuiditasnya, lender untuk mendapatkan bunga dengan menerbitkan instrumen
Pasar Uang dalam rangka mengoptimalkan manajemen dananya diantaranya
adalah:

a. Perorangan

18
b. Perusahaan-perusahaan besar MNC

c. Lembaga Keuangan (Financial Institutions)

d. Bank-Bank Komersial

e. Bank Sentral

Setiap pihak-pihak tersebut di atas yang memanfaatkan keberadaan pasar uang


mempunyai tujuan yang berbeda, bagi yang kelebihan untuk memaksimalkan
pendapatan agar tidak dana yang idle atau menganggur walaupun hanya satu
malam, karena bila terjadi idle fund berarti bank tersebut telah kehilangan
kesempatan untuk mendapatkan bunga atau mengurangi biaya atas dana yang
idle tersebut. Bagi yang kekurangan likuiditas dapat memanfaatkan fasilitas
pasar uang tersebut untuk memenuhi kebutuhan likuiditas, dalam rangka
menjaga kepercayaan bank terhadap nasabahnya. Karena jika hal tersebut
tidak dapat dipenuhi tepat pada waktunya dapat mengakibatkan bank tersebut
akan menderita kerugian yang lebih besar, bahkan dapat distop untuk
sementara dalam transaksi kliring oleh bank sentralnya.

2.3.1.2 Instrumen Pasar Uang

Warkat atau instrumen yang pada umumnya diperjual-belikan dalam pasar


uang antarbank di Indonesia saat ini baru terdiri atas beberapa jenis yaitu:

a. Sertifikat Deposito Berjangka

b. Call Money

c. Commercial Paper

d. Promissory Notes

Sedangakan instrumen pasar uang ayng diperjual-belikan oleh lembaga


keuangan atau perbankan dunia lebih banyak lagi variasinya, yaitu jenis surat-
surat berharga yang diterbitkan oleh lembaga-lembaga milik pemerintah,
perbankan internasional dan bank sentral suatu negara, yang pada umumnya
berjangka waktu pendek, seperti:

a. T-Bills (Treasury Bills)

19
b. Certificate of deposits

c. Commercial paper

d. Bills of exchange

e. Bankers acceptance

f. Revolving Under Facility

g. Note issuance Facility

2.3.2 Pasar Modal

Pasar modal adalah merupakan sumber dana yang berasal dari surat-surat berharga
yang berjangka panjang seperti penerbitan saham dan obligasi. Secara spesifik pasar
modal dapat diartikan sebagai tempat diperdagangkannya surat-surat berharga, tempat
dalam arti di sini adalah Bursa Efek. Di Indonesia Bursa Efek Jakarta dan Bursa Efek
Surabaya serta Bursa Paralel.

Sedangkan menurut Undang-Undang Pasar Modal Indonesia No.8 tahun 1995


pengertian pasar modal adalah kegiatan yang bersangkutan dengan penawaran umum
dan perdagangan efek, perusahaan publik yang berkaitan dengan efek yang
diterbitkannya, serta lembaga dan profesi yang berkaiatan dengan efek.

Sumber dana bank yang berasal dari emisi saham merupakan sumber dana yang murah
dan paling aman untuk menjaga likuiditas Bank, karena bila ditinjau dari segi biaya
sumber dana ini tidak menimbulkan beban biaya tetap sebagaimana sumber dana
masyarakat atau dana pihak ketiga lainnya.

Sumber dana pihak kedua lainnya adalah obligasi atau bonds, yaitu bukti utang yang
diterbitkan oleh bank kepada para krediturnta. Obligasi diterbitkan untuk jangka waktu
yang cukup lama, lebih dari 1 tahun. Biasanya bisa mencapai 10 tahun.

Instrumen Pasar Modal pada umumnya terdiri dari :


a. Saham (Share)
b. Obligasi (Bonds)
Kedua jenis surat berharga tersebut merupakan instrumen utama di Pasar Modal,
sedangkan jenis jenis atau derivatif dari waktu tersebut sangat banyak.

2.4. SUMBER DANA PIHAK KETIGA


20
Dana yang berasal dari masyarakat biasa disebut dengan sumber dana pihak ketiga
(DPK), sedangkan yang berasal dari Pasar Uang dan Pasar Modal disebut Dana Pihak
Kedua.

Sumber Dana Pihak Ketiga, dari segi mata uangnya dibedakan menjadi :
Sumber Dana Pihak Ketiga Rupiah
Dana Pihak Ketiga Rupiah adalah kewajiban kewajiban bank yang tercatat dalam
rupiah kepada pihak ketiga bukan bank, baik kepada penduduk maupun bukan penduduk.
Komponen DPK ini terdiri dari Giro, Simpanan Berjangka (Deposito dan Sertifikat
Deposito), Tabungan dan kewajiban kewajiban lainnya yang terdiri dari kewajiban
segera yang dapat dibayar, surat surat berharga yang diterbitkan, pinjaman yang
ditermia, setoran jaminan, dan lainnya. Tidak termasuk dana yang berasal dari Bank
Sentral.
Sumber Dana Pihak Ketiga Valuta Asing
Yang dimaksud dengan Dana Pihak Ketiga Valuta Asing adalah kewajiban bank yang
tercatat dalam valuta asing kepada pihak ketiga, baik penduduk maupun bukan
penduduk, termasuk pada Bank Indonesia, bank lain (pinjaman melalui pasar uang).
DPK valuta asing terdiri atas Giro, Call Money, Deposito On Call (DOC),
Deposito Berjangka, Margin Deposito, Setoran Jaminan, Pinjaman Yang Diterima dan
Kewajiban Kewajiban Lainnya dalam valuta asing.
Sedangkan bila ditinjau dari segi biaya yang harus dibayar oleh bank, sumber
dana dapat dikelompokkan menjadi Dana Berbiaya dan Dana Tidak Berbiaya.
2.4.1. Sumber Dana Berbiaya
Sumber dana berbiaya pda umumnya adalah dana dana yang berasal dari masyarakat,
baik dana pihak ketiga maupun dana pihak kedua (tidak termasuk penerbitan saham).
Seumber Dana Berbiaya terdiri atas ;
Giro
Giro atau Demand Deposits adlah simpanan pihak ketiga baik dalam rupiah maupun
valuta asing, yang penarikannya dapat dilakukan setiap saat dengan menggunakan cek,
sarana perintah pembayaran lainnya atau dengan cara pemindahan bukuan. Menurut
ketentuan Bank Indonesia yang dapat dikelompokkan dalam simpanan ini termasuk
kredit yang diberikan yang bersaldo kredit, sedangkan giro ayng dibelokir oleh yang
berwajib karena suatu perkatara asalan lainnya dan giro yang bersaldo debet tidak
termasuk dalam kelompok simpanan ini.
21
Jenis sumber dana inimerupakan dana yang paling bagi bank, tetapi dibalik
kemurannya sifatnya juga sangat fluktuatif, karena pada umumnya lembaga/perusahaan
atau perorangan yang menyimpan uangnya dalam bentuk rekening giro hanya untuk
memenuhi kebutuhan operasional perusahaan yang bersangkutan.

Tabungan
Tabungan adalah simpanan yang penarikannya hanya dapat dilakukan menurut syarat
tertentu yang disepakati, tetapi tidak dapat ditarik dengan cek, bilyet giro, dan/atau alat
lainnya yang dipersamakan dengan itu. Sumber dana yang berasal dari tabungan
mempunyai biaya yang lebih tinggi dibanding dengan giro. Umumnya sasaran tabungan
adalah nasabah perorangan.
Walaupun dari sisi biaya lebih tinggi dibanding dengan giro, tetapi dari segi
pengendapan dananya relatif lebih stabil dibanding dengan simpanan masyarakat
berupa giro.
Untuk menghimpun dana berupa tabungan berbagai upaya dapat dilakukan
oleh suatu bank, misalnya dengan memberikan kemudahan saat penarikannya melalui
ATM yang ditempatkan apda tempat tempat strategis di mana nasabah penabung
membutuhkan uangnya dapat mengambil dengan mudah, seperti di tempat tempat
perbelanjaan, toko swalayan, hotel, bandara atau tenpat tempat yang dianggap
strategis lainnya.
Selain itu juga untuk menarik penabung, bank dapat memberikan daya tarik
lainnya seperti undian, memberikan suku bunga yang menarik, misalnya bunga
dihitung secara harian.

Simpanan Berjangka
Simpanan berjangka dapat berupa Deposito Berjangka, Sertifikat Deposito dan
Deposito On Call yang penarikannya hanya dapat dilakukan menurut suatu jangka
waktu tertentu sesuai dengan perjanjian antara pihak ketiga dengan bank.
Deposito Berjangka disebut juga Time Deposits adalah simpanan yang
penarikannya hanya dapat dilakukan pada waktu tertentu berdasarkan perjanjian
nasabah penyimpan dengan bank. Dengan demikian pada hakekatnya jenis simpanan
ini tidak dapat dicairkan sebelum jatuh tempo.

22
Ditinjau dari segia biaya sumber dana yang berasal dari jenis simpanan ini
pada umunya memiliki biaya tertinggi dibanding dengan sumber dana lainnya seperti
Giro dan Tabungan.
Jangka waktu Deposito Berjangka terdiri dari 1 bulan, 3 bulan, 6 bulan, 12
bulan dan 24 bulan. Tinggi rendahnya suku bunga tergantung pada jangka waktu
deposito tersebut.

Kewajiban Kewajiban Lainnya


Kewajiban lainnya adalah semua sumber dana yang berasal dari pihak ketiga atau
kewajiban bank kepada pihak ketiga, selain kewajiban berupa simpanan tersebut di
atas. Yang termasuk dalam kelompok ini di antaranya adalah semua kewajiban kepada
pihak ketiga, selain Giro, Tabungan, dan Simpanan Berjangka, yang terdiri dari :
a. Kewajiban Segera Yang Dapat Dibayar
Kewajiban segera yang dpaat dibayar adalah semua kewajiban rupian yang dapat
ditagih oleh pemiliknya dan harus segera dibayar, misalnya transfer masuk yang
belum dibayar, hasil inkaso keluar yang belum dibayar dan semua kewajiban bank
kepada Pemerintah Pusat seperti Pajak Penghasilan (PPh), Pajak Bumi dan
Bangunan (PBB) serta kewajiban Pajak Lainnya di mana bank yang bersangkutan
bertindak sebagai Wajib Pungut Pajak (WAPU) yang harus segera disetorkan ke
Kas Negara.
b. Surat Berharga Yang Diterbitkan
Dalam pembahasan struktur sumber dana pada umumnya dikelompokkan menjadi
tiga kelompok, yaitu pertama, Sumber Dana Pihak Ketiga berupa giro, tabungan
dan simpanan berjangka serta kewajiban segera lainnya, kedua, Sumber Dana
Pihak Kedua yang berasal dari Pasar Uang dan Pasar Modal, ketiga, Sumber Dana
Pihak Pertama yang berasal dari Pemilik berupa Setoran Modal, Laba Yang
Ditahan, laba Tahun Berjalan dan Cadangan Umum yang dibentuk oleh Bank
sebagai Modal Inti ditambah dengan Modal Pelengkap yang antara lain adalah
Revaluasi Aset.
Khusus untuk perhitumgan komponen Dana Pihak Ketiga yang berkaitan dengan
perhitungan besarnya Giro wajib Minimum (GWM) yang harus dipelihara oleh
Bank, maka semua surat pengakuan Utang Jangka Pendek dan Jangka Panjang
dalam rupiah yang diterbitkan oleh Bank kepada pihak ketiga bikan bank, seperti
Surat Berharga Pasar Uang (SBPU) dan Obligasi termasuk dalam kelompok Dana
Pihak Ketiga untuk perhitungan besarnya GWN yang harus dipelihara oleh bank.
23
c. Pinjaman Yang Diterima
Yang masuk dalam kelompok ini adalah pinjaman yang diterima dalam rupiah dari
pihak ketiga bukan bank berupa pinjaman subordinasi, dana kelolaan dan pinjaman
pinjaman lainnya yang diterima oleh bank.
d. Setoran Jaminan
Untuk dapat melakukan transaksi seperti pembukaan L/C (Letter of Credit) Impor,
biasa dikenal dengan Istilah Setoran Jaminan Impor atau Surat Kredit Berdokumen
Dalam Negeri (SKBDN), pihak bank mewajibkan Nasabahnya untuk menyetor
sejumlah uang tertentu sebagai jaminan atas pembukaan L/C atau SKBDN tersebut
hal ini dimaksudkan dalam rangka prinsip kehati hatian (prudential banking),
sehingga pada saat nasabah setor maka setoran ini merupak sumber dana murah
bagi bank yang bersangkutan.
Jadi yang dimasukkan dalam rekening ini adalah semua setoran pihak ketiga
kepada bank unutk keperluan suatu transaksi seperti tersebut di atas, termasuk
penerbitan bank garansi untuk kepentingan nasabah dalam rangka penanganan atau
pengerjaan suatu proyek.
2.4.2. Dana Tidak Berbiaya
Hampir sebagian besar sumber dana memiliki beban biaya yang harus ditanggung oleh
terutama dana yang berasal dari Dana Pihak Ketiga dan Dana Pihak Kedua, sehingga
dapat dikatakan tidak ada dana yang tanpa biaya bagi suatu bank. Namun jika ditelaah
lebih mendalam terdapat beberapa jenis dana yang tidak mengandung unsur biaya,
seperti :
Modal Yang Disetor (Modal Saham)
Agio Saham
Laba Tahun Berjalan
Laba Yang Ditahan
Cadangan Umum
Cadangan Tujuan Lainnya
Deposito Berjangka yang telah jatuh tempo dan belum dicairkan oleh nasabah
Transfer Masuk yang belum dibayar
Hasil Inkaso Keluar yang belum dibayar
Utang Pajak kepada Pemerintah Pusat, asalkan tidak lewat waktu (terlambat) pada
saat membayarnya.

Dana dana tersebut di atas pada umumnya tidak mengandung unsur biaya dalam arti
bank harus membayar sejumlah uang tertentu sebagai biaya bunga. Semakin besar
junlah dana dana ini maka akan semakin mempertinggi Return On Assets (ROA) dan
24
Return On Equity (ROE) bagi suatu bank. Bagi bank bank yang sudah go public
untuk memperkuat posisi permodalannya dapat menerbitkan saham baru unutk
ditawarkan melalui bursa, baik penawaran secara terbatas maupun kepada masyarakat
luas.

2.5. FAKTOR YANG MEMENGARUHI SEMBER DANA BANK


Setiap manajemen bank harus memahami sepenuhnya bahwa terdapat beberapa faktor
yang dapat memengaruhi jumlah sumber yang dapat dihimpun atau dipertahankan oleh
banknya, hal ini penting mengingat persaingan antarbank yang semakin tajam dari hari
ke hari, sehingga faktor faktor yang dapat memengaruhi sumber dana bank juga dapat
berubah sejalan dengan perubahan teknologi dan informasi yang dapat ditawarkan oleh
suatu bank.
Faktor faktor yang dapat memengaruhi penghimpunan dana suatu bank
diantaranya adalah sebagai berikut :
a. Tingkat kepercayaan masyarakat terhadap bank dimana ia menyimpan uang
b. Tingkat suku bunga yang ditawarkan
c. Fasilitas yang ditawarkan oleh bank
d. Kemudahan pelayanan, seperti tersedianya ATM, mudah melakukan akses untuk
melihat saldo simpanannya setiap saat yang besangkutan membutuhkan.
e. Jarak atau lokasi dimana kantor bank melakukan operasi (mudah ditempuh atau
tidak).
f. Anggapan terhadap risiko atas bank yang bersangkutan, jika nasabah merasa aman
maka kecenderungannya nasabah tidak akan mengambil atau menarik uangnya bila
tidak diperlukan, tidak demikian sebaliknya.
g. Sikap Pejabat atau Karyawan bank yang bersangkutan, disini perlu diingat bahwa
perlakuan terhadap setiap nasabahnya hendaknya sangat menarik, supel dan ramah
serta mudah untuk membantu menyelesaikan permasalahan dengan transaksi yang
dilakukannya.

Mengenai penekanan butir mana yang dianggap sangat penting dari beberapa
faktor tersebut di atas, hal ini adalah sangat kondisional, misalnya dalam kondisi normal
di mana setiap orang merasa nyaman menyimpan uangnya di bank, maka suku bunga
menjadi daya tarik tersendiri bagi nasabah untuk menyimpan uangnya di bank tersebut,
tetapi bila kondisi di mana banyak bank yang ditutup atau dilikuidasi, maka sukunya
tidak lagi menjadi ukuran bagi suatu bank untuk menarik nasabah, tetapi rasa aman untuk
menyimpan uang di bank adalah lebih utama. Demikian pula dengan faktor faktor yang
25
lainnya akan saling kait mengait di mana yang satu dengan yang lainnya tidak dapat
dipisahkan.

2.6. PERHITUNGAN BIAYA DANA


Biaya dana atau sering disebut dengan Cost of Fund (Dahlan Siamat, 1993 : 114) adalah
biaya yang harus dikeluarkan oleh bank untuk setiap rupiah dana yang dihimpunnya dari
berbagai sumber sebelum dikurangi dengan likuiditas wajib (reserve requirement).
Tinggi rendahnya biaya dana bagi setiap bank sangat beragam tergantung dari struktur
dana yang dapat dihimpun oleh bank tersebut.
Dalam kondisi dimana pesaing natar bank yang semakin tajam, ditambah
dengan semakin transparannya informasi yang bisa didapat oleh semua pihak, baik
nasabah, bank pesaing maupun lembaga lembaga lainnya yang berhubungan dengan
bank, maka dalam kondisi seperti ini manajemen bank dituntut untuk setiap saat dapat
mengetahui pergerakan biaya atas dana dana yang dihimpunnya. Hal ini penting agar
terdapat keseimbangan atara biaya dana yang menjadi beban bank dengan tingkat
keuntungan yang diharapkan oleh suatu bank.
Berdasarkan pada kondisi tersebut maka perhitungan biaya dana atau Cost of
Fund menjadi sangat penting karena pada akhirnya hal ini akan sangat terkait dengan
perhitungan biaya dana yang dipinjamkan kepada masyarakat dalam bentuk Loan atau
kredit, biasa disebut dengan Cost of Loanable Funds. Besarnya Legal Sattutory Reserved
Requirment (LRR) atau Giro Wajib Minimum (GWM) yang ditetapkan oleh Bank
Sentral akan sangat berpengaruh terhadap cost of funds yang akan dihitung oleh suatu
bank, selain itu juga bank harus memperhatikan besarnya kas minimum yang harus
dipelihara untuk kepentingtan likuiditasnya, besar kecilnya Kas yang ahrus dipelihara
oleh suatu bank juga akan berpengaruh langsung pada penentuan besarnya Cost of
Funds. Dan pada akhirnya akan memengaruhi pricing atas dana yang akan dipinjamkan
dalam bentuk Kredit kepada para nasabah bank yang bersangkutan.
Tinggi rendahnya Biaya Dana atau Cost of Fund akan sangat dipengaruhi oleh
beberapa hal, yaitu :
a. Legal Statutory Reserved Requirment (LRR) atai Giro wajib Minimum (GWM)
b. Besarnya Kas yang harus dipelihara oleh bank
c. Tingkat Bunga
d. Struktur Dana yang dihimpun
e. Tempat bank beroperasi
f. Kinerja bank

26
Untuk menghitung besarnya Biaya Dana atau Cost of Funds terdapat beberapa
konsep yang dianut oleh setiap bank, diantaranya adalah sebagai berikut :
a. Weighted Average Cos of Funds Method (WACOF) atau Metode Biaya Dana Rata
Rata Tertimbang
b. Historical Average Cost of Funds Method atau Metode Biaya Dana Rata Rata
Historis.
c. Marginal Cost of Funds Method atau Metode Biaya Dana Marginal.

Weighted Average Cos of Funds Method (WACOF)


Konsep biaya dana ini banyak digunakan oleh sebagian besar bank bank komersial, hal
ini disebabkan oleh perhitungan biaya dana dengan metode ini dapat menggambarkan
biaya dana yang dihimpun oleh suatu bank secara keseluruhan, sehingga menghasilkan
perhitungan biaya dana yang representatif dari struktur sumber dana yang dapat
dihimpun oleh suatu bank. Hal ini disebabkan karena dalam perhitungan biaya dana ini
dilakukan pendekatan dengan terlebih dahulu memperhatikan komposisi serta peran
masing masing sumber dana secara proporsional.
Berdasarkan pada data data yang dijadikan sebagai dasar perhitungan biaya
dana maka metode perhitungan ini dapat langsung menentukan besarnya biaya dana yang
menjadi beban bank yang bersangkutan. Dengan memperhitungkan besarnya Giro Wajib
Minimum dan Kas minimun yang dibutuhkan oleh bank, Giro Wajib Minimum ditambah
Kas Minimum akan menghasilkan besarnya Reserve Requirement yang harus dipelihara
oleh suatu bank. Perhitungan biaya dana dengan menggunakan metode rata rata
tertimbang dapat dilakukan dengan menjumlahkan seluruh dana berbiaya yang dihimpun,
kemudian membuat share atau komposisi dana dengan pembobitan dalam persentase
(%), tingkat bunga masing masing sumber dana, besarnya Reserve Requirement (RR)
yang terdiri atas Giro Wajib Minimum dan Kas Minimum, berdasarkan besarnya RR
hitung Biaya Bunga Efektif yang ditanggung.
Sebagai contoh perhitungan Cos of Funds atas dasar metode rata rata
tertimbang adalah sebagai berikut :
Bank Megah memiliki sumber dana pihak ketiga dengan komposisi dan tingkat
bunga masing masing sebagai berikut (dalam milyar rupiah) :
Giro 4.000 5%
Tabungan 15.000 12 %

27
Deposito Berjangka 45.000 13 %
Sert. Deposito 2.500 13 %
Kewajiban Segera 4.500 7%
Lainnya
Berdasarkan data data tersebut dihitung :
a. Weighted Average Cos of Funds (WACOF), jika ditetapkan Giro Wajib Minimum
(GWM) sebesar 5 % dan Cash Ratio sebesar 1 %
b. Hitung Base Lending Rate (BLR) Bank Megah, jika diketahui :
Margin ditetapkan sebesar 2 %
PPh 35 % (diperhitungkan dari Margin)
Biaya Overhead 2,00 %
Riskl premium 1,5 %
Perhitungan besarnya Weighted Average Cos of Funds (WACOF) sebagai berikut :
(dalam milyar rupiah)
No Source of Funds Amount Share Interest RR Interest Cost of
(%) Rate (%) (%) Effektive Contribution
1 Giro 4.000 5,65 5% 6 5,32 0,32
2 Tabungan 15.000 21,13 12% 6 12,77 1.70
3 Deposito Berjangka 45.000 63,38 13% 6 13,83 8,77
4 Sertifikat Deposito 2.500 3,52 13% 6 13,83 0,49
5 Kewajiban Segera
Lainnya 4.500 6,34 7% 6 7,45 0,47

Jumlah 71.000 100,00 12,73

Cara perhitungan biaya dana atas dasar metode rata rata tertimbang tersebut di atas
adalah menggunakan langkah langkah sebagai berikut :
Pertama, jumlahkan Total dana berbiaya yaitu sebesar Rp. 71.000,00
Keuda, buatkan bobot masing masing sumber dana dalam persentase, misalnya Dana
Giro Rp. 4.000,00 memiliki bobot (share) sebesar 5,63% dari Total Dana, yaitu Rp.
4.000 : Rp. 71.000 x 100 % = 5,63 %. Demikian pula dengan Tabungan, Deposito
Berjangka, Sertifikat Deposito dan Kewajiban Segera Lainnya dapat dilakukan
pembobotan dengan menggunakan cara yang sama dengan Giro.
Ketiga, hitung biaya bunga efektif, caranya dengan memperhitungkan RR, RR sebagai
angka pengurang dari 100, misalnya Giro dengan bunga 5% berarti bunga efektifnya
28
adalah 5% : (100% - 6%) = 5,32%. Dalam perhitungan RR sebesar 6%, terdiri dari
GWM 5% ditambah Kas Minimum 1%. Demikian pula menghitung bunga efektif
sumber dana lainnya bisa dilakukan dengan cara yang sama.
Keempat, perhitungan kontribusi biaya bunga, caranya adalah kalikan antara bobot
(share) masing masing sumber dana dengan biaya bunga efektif, contohnya Giro
sebesar 0,30 % dihitung dari 5,63 % x 5,32%. Perhitungan kontribusi biaya bunga
sumber dana lainnya, d apat dilakukan dengan cara yang sama seperti Giro.
Kelima, jumlahkan kontribusi biaya bunga setiap sumber dana, akan menghasilkan total
sebesar 17,73%, ini berarti bahwa Cost of Funds atas dana yang dihimpun berdasarkan
metode rata rata tertimbang menghasilkan Cost of Funds sebesar 12,73%. Berdasarkan
Cost of Funds ini maka manajemen bank dapat menentukan atau menghitung besarnya
Dasar Bunga Kredit atau Base Lending Rate dengan memperhitungkan margin atau
spread yang diharapkan, biaya overhead, premium risk dan Pajak Penghasilan (PPh).
Ari perhitungan di atas, maka besarnya base lending rate dapat dihitung sebagai berikut :
Cost of Loanable Funds 12,73 %
Margin/Spread 2,00 %
COLF + Margin 14,73 %
PPh 35 % X Margin (2%) 0,70 %
Biaya Overhead 2,00 %
Risk/Premium 1,50 %
Base Lending Rate 18,93 %

Dalam pelaksanaan penetapan suku bunga kredit tersebut manajemen dapat


membuat kabijakan baik menurunkan atau menaikkannya, dengan pertimbangan tertentu
bisa diturunkan, dlam kondisi lainnya suku bunga kredit tersebut juga bisa dinaikan, hal
ini biasanya dikaitkan dengan hubungan baik dan kredibilitas antara debitur dengan
manajemen bank.
2.7 PERATURAN BANK INDONESIA TERKAIT DENGAN SUMBER DANA BANK
Adapun peraturan-peraturan yang terkait dengan sumber dana bank itu adalah:
UU No. 10 Tahun 1998 pasal 1 ayat 5 yang berbunyi Simpanan adalah dana yang
dipercayakan masyarakat kepada bank berdasarkan perjanjian penyimpanan dana
dalam bentuk giro, deposito, sertifikat deposito, tabungan dan atau bentuk lain yang
dipersamakan dengan itu

29
UU No. 10 Tahun 1998 pasal 1 ayat 6 yang berbunyi Giro adalah simpanan yang
penarikannya dilakukan setiap saat dengan menggunakan bilyet giro, sarana
pemerintah pembayaran lain atau dengan pemindahbukuan
UU No. 10 Tahun 1998 pasal 1 ayat 7 yang berbunyi Deposito adalah simpanan
yang penarikannya hanya dapat dilakukan pada waktu tertentu berdasarkan perjanjian
Nasabah Penyimpanan deposito bank
UU No. 10 Tahun 1998 pasal 1 ayat 8 yang berbunyi Sertifikat deposito adalah
simpanan dalam sertifikat deposito yang sertifikat bukti penyimpanannya
dipindahtangankan.
UU No. 10 Tahun 1998 pasal 1 ayat 9 yang berbunyi Tabungan adalah simpanan
yang penarikannya hanya dapat dilakukan menurut syarat tertentu disepakati, tapi
tidak dapat ditarik dengan cek giro dan atau alat lainnya yang dipersamakan dengan
itu.
Peraturan Bank Indonesia Nomor 15/12/PBI/2013 tanggal 12 Desember 2013 tentang
Kewajiban Penyediaan Modal Minimum Bank Umum.
Peraturan Bank Indonesia Nomor 15/7/PBI/2013 tentang Perubahan Kedua atas
Peraturan Bank Indonesia Nomor 12/19/PBI/2010 tentang Giro Wajib Minimum Bank
Umum Pada Bank Indonesia dalam Rupiah dan Valuta Asing.

30
BAB III
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
Manajemen pasiva adalah usaha untuk mendapatkan dana untuk memenuhi
kebutuhan operasional bank, baik melalui penghimpunan dana pihak ketiga
(masyarakat), dana pihak kedua yang dihimpun mellaui pasar uang atau pasar modal
maupun yang berasal dari Pihak Pertama (pemilik) melalui Pasar Modal.
Modal merupakan sumber dana pihak pertama, yaitu sejumlah dana yang
diinvestasikan oleh Pemilik untuk pendirian suatu bank. Sumber Dana Pihak Kedua
adalah sumber dana bank yang diperoleh melalui Pasar Uang Antarbank dan melalui
Pasar Modal dengan cara menerbitkan obligasi atau surat berharga jangka panjang
lainnya. Dana yang berasal dari masyarakat biasa disebut dengan sumber dana pihak
ketiga (DPK).
Faktor faktor yang dapat memengaruhi penghimpunan dana suatu bank
diantaranya adalah tingkat kepercayaan masyarakat terhadap bank dimana ia menyimpan
uang, tingkat suku bunga yang ditawarkan, fasilitas yang ditawarkan oleh bank
kemudahan pelayanan, seperti tersedianya ATM, jarak atau lokasi dimana kantor bank
melakukan operasi (mudah ditempuh atau tidak), anggapan terhadap risiko atas bank
yang bersangkutan, dan sikap pejabat atau karyawan bank yang bersangkutan.
Biaya dana atau sering disebut dengan Cost of Fund adalah biaya yang harus
dikeluarkan oleh bank untuk setiap rupiah dana yang dihimpunnya dari berbagai sumber
sebelum dikurangi dengan likuiditas wajib (reserve requirement).

31
DAFTAR PUSTAKA

Riyadi, Slamet. 2006. Banking Asset and Liability, edisi ketiga. Jakarta : Fakultas
Ekonomi Universitas Indonesia.
www.ojk.go.id
Undang-Undang No. 10 Tahun 1998

32