Anda di halaman 1dari 26

PEMILIHAN KARYA TULIS MAHASISWA BERPRESTASI

PROGRAM SARJANA

PENGELOLAAN KEKAYAAN ALAM INDONESIA UNTUK


MEMINIMALKAN IMPORT BAHAN PANGAN

Oleh :

ANA KHOLIFATUNNISA KHAQQUL QIROM

21121093

SEKOLAH TINGGI FARMASI BANDUNG

BANDUNG

2015
LEMBAR PENGESAHAN

Pengelolaan Kekayaan Alam Indonesia Untuk Mengurangi Import Bahan Pangan

Karya tulis ini telah diterima pada hari .................... tanggal..................

Disetujui oleh:

Mengetahui

WK III Bidang Kemahasiswaan Dosen Pembimbing

(Deden Indra Dinata M.Si, Apt.)

NIK. 20101011
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT., karena berkat


rahmat dan hidayah-Nya penulis telah mampu menyelesaikan karya tulis berjudul
Pengelolaan Kekayaan Alam Indonesia Untuk Mengurangi Import Bahan
Pangan. Karya tulis ini disusun sebagai persyaratan pemilihan karya tulis
mahasiswa berprestasi program sarjana.

Indonesia merupakan negara agraris dan memiliki kekayaan alam yang


sangat melimpah, tanah yang subur sehingga banyak tanaman yang dapat tumbuh
dengan baik ditanah indonesia. Kelebihan dalam hal kekayaan alam ini sama
sekali belum dioptimalkan sebaik mungkin yang seharusnya indonesia tidak
kekurangan dalam hal bahan pangan pokok tetapi indonesia masih mengimport
bahan baku pangan dari negara lain. Maka dalam hal pengembangan sumber
kekayaan alam haruslah diperbaiki sehingga dapat mengurangi import bahan baku
dan dapat mencukupi kebutuhan bahan pangan pokok masyarakat. Pada kurun
waktu terakhir ini masyarakat mempunyai kesulitan dalam pemenuhan kebutuhan
pangan dikarenakan harga beras yang melambung tinggi, sehingga banyak
masyarakat yang tidak sanggup untuk membeli bahan pokok. Maka sudah
seharusnya kita bersama membenahi sistem Kedaulatan Pangan di indonesia agar
setiap orang dapat terpenuhi kecukupan pangan.

Penulis menyadari bahwa selama penulisan karya tulis ini penulis


mendapat bantuan dari berbagai pihak. Oleh sebab itu, penulis mengucapkan
terima kasih kepada:

1. Dosen pembimbing yang telah membantu selama penyelesaian


makalah ini.
2. Bagaian kemahasiswaan kampus sekolah tinggi farmasi bandung.
3. Rekan-rekan yang telah memotivasi penulis untuk penyusunan karya
tulis ini.
4. Semua pihak yang tidak dapat saya sebutkan satu per satu.

Semoga Allah swt memberikan balasan yang berlipat ganda.

Karya tulis ini bukanlah karya yang sempurna karena masih memiliki
banyak kekurangan, baik dalam hal ini maupun sistematika dan tehnik
penulisannya. Oleh sebab itu penulis sangat mengharapkan saran dan kritik yang

i
membangun demi kesempurnaan karya tulis ini. Akhirnya semoga karya tulis ini
bisa memberikan manfaat bagi penulis dan bagi pembaca. Amin.

Bandung, 27 Maret 2015 penulis

ii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL

LEMBAR PENGESAHAN

KATA PENGANTAR ......................................................................................... i

DAFTAR ISI ........................................................................................................ iii

DAFTAR LAMPIRAN ........................................................................................ iv

RINGKASAN ....................................................................................................... v

BAB 1 PENDAHULUAN ................................................................................... 1

1.1 Latar Belakang ................................................................................... 1


1.2 Rumusan Masalah.............................................................................. 2
1.3 Tujuan dan Manfaat ........................................................................... 2

BAB II TELAAH PUSTAKA ............................................................................. 4

2.1 Kedaulatan pangan ............................................................................ 4


2.2 Problematika pangan di Indonesia .................................................... 5

BAB III ANALISIS DAN SINTESIS ................................................................ 8

3.1 Analisis Problematika Pangan .......................................................... 8


3.2 Gagasan Masalah ............................................................................... 12
3.2.1 Gagasan yang sudah ada ................................................ 12
3.2.2 Gagasan kreatif ............................................................... 14

BAB IV SIMPULAN .......................................................................................... 17

DAFTAR PUSTAKA ......................................................................................... 19

iii
DAFTAR LAMPIRAN

Gambar1. Prinsip Dasar Kedaulatan Pangan ...................................................... 5

Tabel 1. Produksi dan Konsumsi Beras Nasional, 2005-2011 .......................... 11

Grafik1. Luas Area Sawah di Indonesia, Vietnam, Thailand, and Australia. .. 13

iv
SUMMARY

Every people in the country deserve the rightful of food, that is appropriate
in food souvereignty as stated in UUD 1945. The state must run food souvereignty
and seek fulfillment of food for the population. But in reality many people who do
not get right to food. That is because aspect of food scarcity and high prices of
basic foodstuff. Indonesian is an agricultural country and have many natural
wealth, unfortunately it has not been optimized. The problematic when the
population increases thereby increasing the amount of basic material needs. While
the domestic producers have not been able to meet these needs, resulting in the
trend of imports of foodstuf.

The biggest problematic is constraints of production where agricultural land


in indonesia is not proportional to the number of residents, and crop seed price are
expensive. Seed crops in indonesia is still dominated by foreign corporations such
us Monsanto, Dupont, Syngento, and Charorn Pohphand.

Ideas used to solve this problem other than to improve the system of food
sovereignty such usprocurement of food self-sufficiency, open of state subsidies
for farmers. Technological development factor is more important for provide
considerable crop seeds. Tissue culture technology in one methode that can be
applied to obtain a superior plant seeds and quality. Unfortunately, this
technology has not been applied in indonesia.

v
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Bahan pangan merupakan salah satu faktor terpenting dalam hidup setiap
manusia. Dengan makanan manusia dapat tercukupi kebutuhan gizi, tercukupi
kebutuhan energi, dan dengan makanan yang sehat, aman, dan berkualitas
juga dapat memperbaiki taraf kesehatan dimasyarakat sehingga angka
penyakit dan kematian dapat menurun. Oleh karena itu setiap masyarakat
dalam suatu negara berhak untuk mendapatkan hak pangan sesuai dengan
kedaulatan pangan seperti yang tertera di UUD 1945. Negara wajib
menjalankan kedaulatan pangan (hak rakyat atas pangan1) dan
mengupayakan terpenuhinya kebutuhan pangan bagi penduduk. Kewajiban
dimaksud mencakup kewajiban menjamin ketersediaan, keterjangkauan, dan
pemenuhan konsumsi pangan yang cukup, aman, bermutu, dan bergizi
seimbang2. Untuk bisa melaksanakan kewajiban tersebut secara efektif, maka
Negara wajib menguasai sumber daya alam untuk digunakan sebesar-
besarnya bagi kemakmuran rakyat (UUD 1945 pasal 33 ayat 3).
Indonesia merupakan negara agraris dan memiliki iklim yang cocok
untuk bercocok tanam tetapi pada kenyataannya indonesia sampai saat ini
masih mengimport bahan-bahan makanan pokok dan belum ada
penanggulangan lebih lanjut lagi tentang lahan garapan pertanian di negeri
sendiri. Selain lahan garapan pertanian adanya fluktuasi musim tiap tahun
juga mempengaruhi produksi padi. Musim paceklik dapat menyebabkan
berkurangnya peoduksi padi yang dapat menimbulkan gejolak harga dan
sosial masyarakat sehingga dibutuhkan suatu inovasi dan teknologi untuk
memperbaiki kekurangan tersebut. Daerah sebagai sentra produsen beras
sebagian besar ada di pulau Jawa, Sulawesi selatan dan Nusa Tenggara Barat.
Daerah lainnya justru mengalami minus sehingga membutuhkan pasokan dari
daerah produsen beras. Dikarenakan tingginya kebutuhan masyarakat

1
terhadap bahan pokok pangan dan tidak mencukupinya produksi bahan pokok
pangan dalam negeri maka terjadilah trend import bahan pangan.

1.2 RUMUSAN MASALAH


1. Apakah seluruh lapisan masyarakat sudah dapat memenuhi kebutuhan
pangan harian?
2. Apakah kesejahteraan para petani indonesia sudah terjamin oleh negara?
3. Mengapa indonesia perlu import pangan?
4. Apakah prinsip dasar dari kedaulatan pangan sudah benar-benar
diterapkan diindonesia?
5. Bagaimana upaya yang perlu dilakukan untuk memperbaiki pengelolaan
kekayaan alam indonesia?

1.3 URAIAN GAGASAN


Naiknya harga beras saat ini membuat masyarakat kesulitan dalam
pemenuhan kebutuhan bahan pangan pokok sehingga banyak masyarakat
mengkonsumsi nasi aking yang sama sekali tidak ada kandungan gizinya
apabila kondisi ini berlangsung terus menerus bukan tidak mungkin akan
terjadi kondisi gizi buruk dimasyarakat indonesia. Sehingga perlu adanya
suatu upaya untuk memenuhi kebutuhan pokok itu sehingga masyarakat dapat
tercukupi kebutuhannya.
Ada beberapa upaya yang dapat dilakukan diantaranya perluasan lahan
pertanian di Indonesia. Fakta yang ada saat ini menunjukkan bahwa areal
sawah di Indonesia tidak terlalu luas dibandingkan yang dimiliki negara lain
yaitu hanya seluas 8 juta hektar kalah dibanding thailand yang memiliki areal
sawah sebesar 9 juta hektar. Jadi potensi sawah di indonesia belum di
optimalkan dengan baik. Selain perluasan lahan garapan pertanian pemerintah
juga harus membuka jalan state subsidies bagi para petani. Untuk
menciptakan kedaulatan pangan, pemerintah harus memproteksi para
petaninya. Teknologi pertanian juga harus diterapkan dalam pengelolaan
lahan pertanian sehingga dengan teknologi yang ada dapat menimalkan

2
kegagalan produksi misalnya pembuatan irigasi yang mendukung bagi lahan
agar tidak terjadi kekurangan air ataupun lahan yang kebanjiran mengingat
musim hujan curahnya cukup tinggi di indonesia, pemilihan jenis tanaman
yang bisa ditanam di masing-masing daerah lahan pertanian. Selain itu sistem
kultur jaringan diindonesia juga harus sudah mulai diterapkan dan
diperbaharui agar dapat membuat benih tanaman yang lebih unggul dan dapat
diperoleh dalam waktu yang singkat.

1.4 TUJUAN DAN MANFAAT


1. Tujuan
a. Mengetahui seberapa jauh negara Indonesia dapat mencukupi
kebutuhan pangan pokok masyarakatnya.
b. Dapat mengetahui problematika pangan Indonesia
c. Mencari metode yang dapat digunakan untuk memperbaiki sistem
pertanian diIndonesia.
2. Manfaat
a. Sadar akan permasalahan dalam sektor kecukupan pangan di
Indonesia.
b. Membantu dalam memberikan gagasan tentang solusi masalah
kedaulatan pangan di Indonesia.

3
BAB II
TELAAH PUSTAKA

2.1 KEDAULATAN PANGAN

Pangan merupakan kebutuhan dasar manusia yang paling hakiki bagi


penduduk suatu Negara. Karena itu, sejak berdirinya Negara Republik Indonesia,
UUD 1945 telah mengamanatkan bahwa Negara wajib menjalankan kedaulatan
pangan (hak rakyat atas pangan1) dan mengupayakan terpenuhinya kebutuhan
pangan bagi penduduk. Kewajiban dimaksud mencakup kewajiban menjamin
ketersediaan, keterjangkauan, dan pemenuhan konsumsi pangan yang cukup,
aman, bermutu, dan bergizi seimbang2. Untuk bisa melaksanakan kewajiban
tersebut secara efektif, maka Negara wajib menguasai sumber daya alam untuk
digunakan sebesar-besarnya bagi kemakmuran rakyat (UUD 1945 pasal 33 ayat
3).
Makna kedaulatan pangan menurut berbagai sumber yaitu:
Kedaulatan pangan (food sovereignty) diartikan sebagai pemenuhan hak
atas pangan yang berkualitas gizi baik dan sesuai secara budaya, diproduksi
dengan sistem pertanian yang berkelanjutan dan ramah lingkungan (Henry
Saragih, 2011).
Kedaulatan pangan adalah hak setiap bangsa dan setiap rakyat untuk
memproduksi pangan secara mandiri dan hak untuk menetapkan sistem
pertanian, peternakan, dan perikanan tanpa adanya subordinasi dari kekuatan
pasar internasional (SPI, 2013).
Kedaulatan pangan juga merupakan pemenuhan hak manusia untuk
menentukan sistem pertanian dan pangannya sendiri yang lebih menekankan pada
pertanian berbasis agri-cultureberdasarkan pada prinsip keluarga atau
solidaritas- dan bukan pertanian berbasiskan agri-business berdasarkan pada
profit semata. Negara mempunyai otoritas serta kapasitas untuk
mengkonsolidasikan berbagai macam sumber daya ekonomi dan politik yang
tersedia demi kepentingan pemenuhan hak atas pangan (Taufiqul Mujib, 2011).

4
Gambar 1. Prinsip dasar kedaulatan pangan
2.2 PROBLEMATIKA PANGAN DI INDONESIA
Pangan memiliki peran sangat penting yang dapat mempengaruhi kondisi
sosial, ekonomi, dan politik negara tersebut. Banyak negara yang mampu berubah
menjadi negara maju karena kemajuan sektor pertaniannya, sebut saja China,
Jerman, Australia, dan New Zealand. Negara harus dapat mencukupi kebutuhan
pangan seluruh rakyat dalam negara tersebut. Pada kenyataannya saat ini negara
Indonesia belum dapat mencukupi kebutuhan pangan rakyatnya. Jumlah
penduduk yang meningkat sehingga meningkatkan jumlah kebutuhan bahan
pokok tersebut sementara produsen bahan pokok dari negara sendiri belum
mampu dalam mencukupi kebutuhan tersebut. Sehingga indonesia harus
mengimport bahan pokok pangan dari negara lain.
Pasokan pangan masyarakat di tanah air masih dipenuhi dengan mengimport
dari negara lain seperti Thailand, Vietnam, bahkan Madagaskar. Sebut saja ubi
kayu, pemerintah lewat para petani lokalnya ternyata belum bisa memenuhi
kebutuhan pangan tersebut. Terbukti kurun Januari-Juni 2013, pemerintah masih
mengimport sekitar 100.798 ribu kg ubi kayu. Sementara komoditas pangan yang

5
paling banyak di impor adalah gula tebu dan jagung dengan volume impor
masing-masing sebesar 1,85 miliar dan 1,29 miliar kg.
Indonesia belum mengoptimalkan ekonomi pangan yang memiliki potensi
sangat besar. Terdapat tiga argumen untuk mengatakan bahwa potensi di sektor
pangan bisa diandalkan menjadi penyangga kekuatan utama ekonomi Indonesia.
Pertama, dari sisi sumber daya alam (SDA), Indonesia memperoleh
keberuntungan sebagai Negara agraris. Tata letak wilayah Indonesia yang persis
berada di garis katulistiwa memiliki iklim tropis dengan dua musim, yaitu di
wilayah bagian selatan banyak kemarau dan di wilayah bagian utara banyak
hujan. Kondisi iklim dan musim yang demikian memungkinkan sebagian besar
jenis tanaman dan hewan ternak bisa tumbuh dan berkembang dengan baik. Selain
itu, setiap wilayah di Indonesia memiliki keunggulan sumber daya masing-masing
yang bisa menjadi penyangga pangan bagi semua penduduk Indonesia. Kebutuhan
daging sapi nasional bisa disuplai dari daerah Nusa Tenggara. Kebutuhan beras
nasional bisa disuplai oleh beberapa daerah di Jawa dan Sulawesi Selatan.
Kebutuhan hortikultura dan gula nasional bisa disuplai oleh beberapa daerah di
Sulawesi, Jawa dan Sumatera. Sementara wilayah Sulawesi, Maluku dan Papua
sangat potensial menjadi penyangga stok ikan dan hasil-hasil laut nasional.
Kedua, lebih dari 50 persen penduduk Indonesia memilih usaha tani sebagai
mata pencaharian pokoknya. BPS melaporkan bahwa jumlah Rumah Tangga
Usaha Tani (RTUT) pada tahun 2013 sebanyak 26,13 juta RT (Suryamin, Kepala
BPS, DetikFinance, 2013). Artinya, apabila masing-masing RTUT memiliki 3
anak saja, maka jumlah penduduk yang bekerja pada sektor usaha tani mencapai
sekitar 130,6 juta orang atau sekitar 56,8 persen (asumsi jumlah penduduk
Indonesia sebanyak 230 juta orang).
Ketiga, dari sisi potensi SDM, Indonesia memiliki banyak sarjana pertanian
yang dapat diandalkan untuk meningkatkan produksi hasil-hasil pertanian
sehingga masalah suplai pangan bisa diatasi dengan baik. Data Ditjen Dikti
Kementerian Pendidikan Nasional, yang dirilis PISPI menunjukkan bahwa lulusan
sarjana pertanian termasuk didalamnya sarjana peternakan dan perikanan
Indonesia mencapai sekitar 3,32 persen dari seluruh lulusan sarjana di Indonesia

6
(Salman Dianda Anwar, Wakil Ketua Umum 2012). Dengan demikian, jumlah
sarjana pertanian di seluruh Indonesia mencapai sekitar 300 ribu orang lebih. Bila
negara memberikan perhatian yang signifikan kepada para ahli pertanian ini,
misalnya penciptaan kondisi atau iklim usaha yang menjanjikan keuntungan dan
memberikan insentif bagi para peneliti dan penyuluh pertanian, maka
produktivitas hasil-hasil pertanian akan meningkat dan Indonesia akan menjadi
salah satu negara yang tidak saja mampu memberi makan kepada semua
rakyatnya, tetapi juga mampu memberi makan kepada sebagian penduduk dunia.
Impor pangan dalam jumlah yang besar juga telah memperburuk neraca
perdangan dan membuat Indonesia semakin bergantung pada pangan impor. Pada
tahun 2011, nilai impor pangan Indonesia sudah mencapai sekitar US$20,6 miliar,
suatu jumlah yang tidak kecil untuk ukuran Indonesia yang merupakan Negara
agraris. Sementara dari sisi neraca perdagangan, kecuali neraca pangan
perkebunan yang masih surplus, neraca perdagangan pangan lainnya mengalami
defisit. Tanpa melakukan revitalisasi peran Negara di sektor pertanian dan
pangan, masalah ini akan semakin sulit diatasi.

7
BAB III
ANALISIS DAN SINTESIS

3.1 ANALISIS PROBLEMATIKA PANGAN

Problematika yang ada saat ini tentang kedaulatan pangan adalah negara
belum bisa mencukupi kebutuhan masyarakatnya sendiri sehingga import bahan
pangan menjadi salah satu cara dalam pemenuhannya. Permasalahan dalam hal
bahan pangan saat ini adalah kenaikan harga beras yang signifikan hal tersebut
perbengaruh terhadap daya beli masyarakat sehingga banyak masyarakat terutama
dikalangan menengah kebawah kesulitan untuk membeli beras. Penyaluran beras
Bulog pun belum tepat sasaran sehingga banyak masyarakat yang tidak dapat
mencukupi kebutuhan bahan pangan pokok sehingga kedaulatan pangan belum
tercapai sepenuhnya. Berdasarkan studi litelatur yang telah diperoleh dari
berbagai sumber Ada beberapa faktor yang terindikasi sebagai penyebab performa
sektor pertanian di Indonesia masih belum berkembang sesuai yang diharapkan,
yaitu antara lain:
1. Kendala produksi
Kementerian Pertanian sering merilis data bahwa setiap tahun terdapat
sekitar 110.000 hektare lahan pertanian yang beralih fungsi menjadi lahan non-
pertanian. Jumlah sawah baru yang dicetak pemerintah (dengan dukungan dana
APBN) hanya mencapai 20.000 hingga 40.000 hektare per tahun, tidak sebanding
dengan lahan sawah yang terkonversi. Akibatnya, produksi pangan semakin
terbatas dibandingkan dengan permintaan yang terus meningkat. Beberapa produk
pangan strategis seperti beras, kedelai, bawang merah, cabai, daging sapi, dan
buah-buahan segar semakin langka di pasaran. Di sisi lain, permintaan masyarakat
terus bertambah seiring dengan penambahan jumlah penduduk. Akibatnya,
daerah-daerah yang semestinya menjadi penyangga pangan nasional, ternyata kini
mengalami defisit pangan sehingga harus mendatangkan pangan dari Daerah atau
Negara lain. Dalam beberapa tahun terakhir ini, impor pangan dipakai sebagai
solusi rutin untuk mengatasi defisit pangan, yang tentunya menghabiskan banyak

8
devisa negara. Langkah pemerintah untuk membolehkan impor beberapa
komoditas pangan strategis juga telah menurunkan motivasi para petani untuk
berproduksi karena harga jual pangan impor lebih rendah dari harga jual di tingkat
petani. Biaya produksi petani kian meningkat karena mahalnya sewa lahan dan
benih pangan hibrida yang dihasilkan oleh korporasi asing dari AS, Jepang, dan
Thailand.
2. Terbatasnya Tenaga Penyuluh Pertanian
Program satu desa-satu penyuluh yang telah dicanangkan pemerintah
merupakan program yang kredibel. Namun, hingga saat ini program itu tidak
berjalan efektif. Satu desa satu penyuluh masih sulit sekali diwujudkan. Menurut
Menteri Pertanian, Suswono (2013), saat ini jumlah penyuluh pertanian hanya
sebanyak 48 ribu orang, terdiri dari 27 ribu pegawai negeri sipil (PNS) dan 21
ribu tenaga honorer lapangan (THL), sementara di seluruh Indonesia terdapat 70
ribu desa. Padahal para sarjana yang bergerak disektor pertanian cukup banyak
tetapi kebanyakan dari mereka tidak tertarik dalam bidang pertanian.Paling tidak
terdapat empat kemungkinan faktor yang menyebabkan masalah ini muncul.
Pertama, insentif yang disediakan pemerintah mungkin saja memadai tetapi
salah sasaran. Kedua, insentif yang disediakan pemerintah kurang memadai
sehingga tidak menstimulasi para ahli pertanian bekerja di sektor pertanian.
Ketiga, potensi penghasilan tinggi ditawarkan oleh sektor manufaktur dan sektor
lembaga keuangan seperti perbankan, asuransi dan pasar modal. Keempat, para
sarjana pertanian ini tidak diberi bekal ilmu-ilmu enterpreneurship yang memadai
pada saat mereka menduduki bangku kuliah.
3. Mahalnya harga benih
Peran korporasi pangan semakin menguasai ekonomi pangan Indonesia
semenjak pemerintah membentang karpet merah bagi korporasi pangan,
khususnya asing. Korporasi pangan milik asing, sudah merambat dari produksi ke
perbenihan. Benih, yang mestinya bisa dibuat sendiri oleh petani Indonesia dan
korporasi domestik, kini sudah dikuasai korporasi asing selama kurang lebih 10
tahun terakhir. IGJ (International Global Jastice) melaporkan bahwa empat
perusahaan asing, yaitu Monsanto, Dupont, Syngenta, dan Charoen Pokphand,

9
telah mengusai penjualan dan produksi benih di Indonesia. (Chris J. Peterson,
Country Lead Monsanto Indonesia, kabarbisnis.com, 29 April 2013).
PT SHS (Sang Hyang Seri), sebuah BUMN yang bergerak dalam bidang
perbenihan memiliki peran yang relatif kecil dalam pasar benih hibrida. Benih
padi hibrida yang dihasilkan BUMN ini hanya mampu mensuplai sekitar 35
persen dari total kebutuhan beni hibrida nasional sekitar 10 ribu ton. BUMN ini
hanya mampu memasok 2 persen dari kebutuhan nasional sekitar 7 ribu ton.
Dengan kata lain, lebih dari 90 persen benih pangan hibrida dikuasai korporasi
asing, baik yang diproduksi di dalam negeri maupun didatangkan dari negara lain
(impor). Peluang asing di bidang perbenihan terbuka lebar setelah pemerintah
mengeluarkan Undang-undang nomor 25 Tahun 2007 tentang Penaman Modal.
Peranan perusahaan asing juga meningkat setelah pemerintah menerbitkan UU
No.12 Tahun 1992 Tentang Sistem Budi Daya Tanaman, yang antara lain
melarang petani melakukan pembudidayaan benih.
Kehadiran dua UU ini jelas-jelas mengancam keberadaan para petani kecil
yang semestinya harus dilindungi oleh pemerintah. Petani harus membeli benih
dari korporasi (BUMN dan Swasta asing) yang harganya sangat mahal. Tetapi
kemudian Mahkamah Konstitusi (MK) menetapkan bahwa kalimat
perseorangan pada pasal 9 UU No.12 Tahun 1992 tidak memiliki kekuatan
hukum sehingga petani boleh melakukan pemuliaan tanaman tanpa harus
memperoleh izin dari pemerintah.
4. Subsidi pangan masih belum efektif
Setiap tahun Pemerintah mengalokasikan anggaran subsidi (antara lain
pangan, benih, pupuk, dan kredit tani). Tujuannya untuk mendorong peningkatan
produksi pangan, mengurangi impor pangan, meringankan biaya produksi petani,
serta mengupayakan terwujudnya swasembada pangan. Pemerintah juga
memberikan bantuan beras (subsidi) kepada golongan rakyat miskin untuk
memenuhi hak dan pemenuhan kebutuhan pangan rakyat. Subsidi yang bersifat
rutin adalah pangan, pupuk, benih, bunga kredit pinjaman. Sementara jenis subsidi
lain seperti kedelai dan minyak goreng, tidak bersifat rutin atau dialokasikan
sesuai kondisi tertentu. Dari total subsidi pertanian sekitar Rp41,9 triliun, sekitar

10
Rp34,1 triliun diantaranya atau sekitar 81,31 persen adalah subsidi pangan dan
subsidi pupuk.
Data pada Tabel 2 menunjukan bahwa dalam kurun waktu 2005-2010,
produksi beras memang meningkat, akan tetapi peningkatan tersebut masih berada
di bawah tingkat konsumsinya, sehingga kekurangannya terpaksa harus diimpor.
Dengan demikian, sasaran kebijakan subsidi untuk mengurangi impor beras dapat
dinilai kurang efektif.
Tabel-1. Produksi dan Konsumsi Beras Nasional, 2005-2011

5. Ketergantungan Pangan Impor kian Meningkat


Ada dugaan bahwa pengaruh globalisasi dengan ideologi neoliberalisme
telah memaksakan petani dan Negara membuat pilihan yang tidak nyaman dan
saling bertentangan. Pakar ekonomi pertanian, Francis Wahono (2011), menilai
bahwa pilihan kebijakan dan praktik pemerintah banyak yang melantarkan rakyat,
termasuk petani. Harga pangan yang diserahkan kepada mekanisme pasar
membuat Indonesia kurang giat mendorong produksi dan sebaliknya semakin
bergantung pada pangan impor. Fakta memang menunjukkan bahwa pada tahun
2011, pemerintah mengizinkan impor beras sebanyak 1,57 juta ton dengan nilai
Rp7,04 triliun. Pemerintah juga mengizinkan impor kedelai sebanyak 2,08 juta
ton untuk memenuhi 71 persen kebutuhan dalam negeri. Selain beras dan kedelai,
pemerintah juga memberi izin impor jagung sebanyak 3,5 juta ton dan sepanjang
tahun 2012, Indonesia juga mendatangkan singkong sebanyak 6.399 ton dengan
nilai US$2,6 juta,16. Meningkatnya trend impor pangan ini telah membuat neraca
perdagangan tanamam pangan mengalami defisit dan meningkat dari US$1,07
miliar pada tahun 2009 menjadi US$6,43 miliar pada tahun 2011.

11
6. Petani sulit mengakses sumber-sumber pembiayaan murah
Salah satu persoalan yang dihadapi petani (terutama petani tanaman pangan,
peternak dan nelayan) adalah akses terhadap permodalan. Dari sisi prudential,
tentu perbankan akan lebih nyaman untuk memberikan pinjaman kepada usaha
perkebunan, yang umumnya dikelola oleh perkebunan besar di bawah manajemen
korporasi, baik BUMN maupun swasta, baik nasional maupun asing. Sementara
sebagian besar petani memiliki usaha yang mungkin saja feasible, akan tetapi non-
bankable atau sebaliknya, sehingga pemerintah harus mencari cara untuk
mengakseskan mereka ke lembaga keuangan, baik perbankan maupun non-
perbankan.
7. Peran Bulog (Badan Urusan Logistik) masih lemah
Sejak IMF (International Monetary Fund), status Bulog diubah dari LKND
(Lembaga Kementerian Non-Departemen) menjadi BUMN dengan status badan
hukum Perum (Perusahaan Umum). Mulai saat itu, Bulog (atas permintaan IMF)
dilarang mengendalikan harga pangan, kecuali beras. Mulai saat itu juga,
pemerintah melepas kontrol stok maupun harga sejumlah produk pangan strategis,
seperti daging, jagung, kedelai, susu, bawang merah, hortikultura, dll. Proteksi
pemerintah terhadap masuknya bahan-bahan pangan ini dari negara lain (impor)
juga semakin berkurang. Dampaknya adalah sering terjadi kelangkaan pangan dan
gejolak harga pangan yang sering kali membuat panik masyarakat.

3.2 GAGASAN MASALAH


3.2.1 Gagasan yang sudah ada
Terdapat beberapa gagasan yang dapat digunakan untuk menyelesaikan
problematika tersebut diantaranya:
1. Reformasi agraria
Pemerintah punya beberapa pilihan strategi untuk menjamin
ketersediaan dan kecukupan pangan bagi penduduk Indonesia. Pertama,
strategi ketahanan pangan (food security). Kedua, strategi swasembada
pangan. Fakta yang ada saat ini menunjukan bahwa areal sawah di
Indonesia tidak terlalu luas dibandingkan dengan yang dimiliki negara

12
lain, yaitu hanya seluas 8 juta hektar, kalah dibandingkan dengan
Thailand yang memiliki areal sawah sekitar 9 juta hektar. Berikut grafik
perbandingan luas area sawah indonesia dan negara lain.

Jadi, potensi sawah di Indonesia belum dapat dioptimalkan dengan baik.


Bila tidak ada upaya pencetakan sawah baru, maka Indonesia bisa
mengalami defisit beras sepanjang tahun mengingat jumlah
penduduknya yang sangat banyak dan terus bertambah dari tahun ke
tahun.
2. Membuka jalan agri-culture atau state subsidies bagi petani
Di negara-negara maju seperti USA, EU, Jepang, Australia, New
Zealand dan Kanada, pemerintah memproteksi perdagangannya dan
memberikan subsidi yang cukup besar untuk produksi pangan mereka.
Untuk meciptakan kedaulatan pangan, pemerintah harus memproteksi
petaninya. Apabila ingin berpihak kepada rakyat, maka tidak ada kata
lain kecuali berpihak kepada petani. Untuk itu, jalan yang harus dipilih
adalah jalan agri-culture atau state subsidies.
3. Utamakan strategi swasembada pangan
Misi ketahanan pangan (food security) dalam kebijakan pangan dunia
yang dijalankan PBB tahun 1971 adalah untuk membebaskan penduduk
dari krisis produksi atau supply makanan pokok. Konsep ketahanan
pangan (food security) ini tidak mensyaratkan pemerintah di suatu
Negara untuk mewujudkan swasembada pangan. Akibatnya,

13
implementasi konsep ketahanan pangan membuka jalan bagi impor
pangan. Impor pangan menjadi kebijakan yang rasional bila suatu
negara yang memang tidak mampu memproduksi pangan sendiri, baik
karena lemahnya daya dukung SDA maupun karena bencana alam yang
dalam waktu singkat sulit menghasilkan pangan sesuai kebutuhan.
Indonesia mungkin ada pada kondisi di mana ketahanan pangan lemah
akibat belum swasembada pangan. Karena itu, pemerintah
membolehkan impor beberapa komoditas pangan untuk memperkuat
ketahanan pangan. Sampai kapan kebijakan ini bertahan, tergantung
pada sejauhmana pemerintah bisa meningkatkan level swasembada
pangan untuk sejumlah komoditas pangan strategis seperti beras, jagung,
kedelai, hortikultura, daging sapi, dan gula.
3.2.2 Gagasan Kreatif

Pengembangan Teknologi Pertanian

Dalam menangani problematika kedaulatan pangan selain


memperbaiki sistem kedaulatan itu sendiri hal lain yang harus diterapkan
dan dirubah adalah teknologi. Sudah seharusnya pengembangan teknologi
dalam bidang pertanian lebih diperhatikan menurut Direktur Jenderal
Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam (PHKA) Indonesia memiliki
lahan kritis dengan luas 40 hektar. Lahan kritis adalah lahan yang telah
mengalami kerusakan secara fisik, kimia, dan biologis atau lahan yang
tidak mempunyai nilai ekonomis. Untuk merehabilitasi lahan kritis
diperlukan upaya ekstra agar tanaman dapat tumbuh baik dan mempunyai
daya tahan yang kuat. Teknologi untuk merehabilitasi lahan antara lain
penerapan teknologi konservasi tanah dan air, perbaikan sifat fisik dan
kimia tanah dengan aplikasi pupuk organik atau dengan mikroba tanah,
serta penyediaan bibit berkualitas dalam skala opersional.
Untuk mencukupi kebutuhan bibit tanaman dapat menggunakan
metoda kultur jaringan. Kultur jaringan adalah suatu metode untuk
mengisolasi bagian dari tanaman seperti protoplasma, sel, jaringan, organ

14
serta menumbuhkannya dalam kondisi aseptik sehingga bagian-bagian
tersebut dapat memperbanyak diri dan beregenerasi menjadi tanaman utuh
kembali. Pemanfaatan teknologi kultur jaringan untuk tujuan perbanyakan
bibit telah diaplikasikan pada berbagai tanaman tahunan antara lain jati,
ekaliptus, dan akasia. Perbanyakan tanaman melalui kultur jaringan sangat
berbeda dibandingkan dengan perbanyakan secara konvensional karena
perbanyakan melalui kultur jaringan memungkinkan perbanyakan tanaman
dalam skala besar dengan waktu yang relatif lebih cepat. Selain itu teknik
perbanyakan dengan kultur jaringan mempunyai beberapa keunggulan
dibandingkan cara tradisional.
Cara budidaya tanaman secara kultur jaringan:
a. Budidayanya dimulai dengan sedikit bahan tanaman (eksplan), kemudian
dimultiplikasi menjadi sejumlah tunas. Ini berarti hanya diperlukan sedikit
bahan untuk penggandaan sejumlah besar tanaman.
b. Perbanyakan ini menggunakan pendekatan lingkungan yang aseptik, bebas
dari patogen sehingga merupakan awal seleksi bahan tanaman yang bebas
dari penyakit.
c. Meningkatkan efektivitas perbanyakan klonal pada tanaman yang hampir
punah dan sulit perbanyakan vegetatifnya.
d. Produktivitas perbanyakan klonal dengan kultur jaringan dapat dilakukan
sepanjang tahun tanpa tergantung pada kondisi perubahan iklim.
e. Hanya memerlukan areal yang tidak begitu luas untuk keperluan propagasi
dan pengelolaan stok tanaman.
Adapun kelemahan teknik perbanyakan dengan kultur jaringan antara
lain adalah relatif lebih mahal dan membutuhkan sumberdaya manusia
terdidik.
Keberhasilan kegiatan kultur jaringan akan lebih baik jika materi
tanaman yang digunakan adalah materi unggul yang diperoleh dari hasil
pemuliaan. Dengan kultur jaringan maka materi unggul tersebut dengan
cepat dapat diperbanyak menjadi individu-individu baru yang sifat
genetiknya sama dengan pohon tetua.

15
Penggunaan bibit yang berkualitas dalam skala operasional, persiapan
lahan yang dapat memperbaiki sifat fisik dan kimia tanah, penanaman
serta pemeliharaan yang intensif dapat meningkatkan keberhasilan
tanaman dalam merehabilitasi lahan kritis tersebut.
Metode kultur jaringan memang efektif dalam pemenuhan kebutuhan
bibit dan mendapatkan sifat bahan pangan yang lebih unggul tetapi
sayangnya metode kultur jaringan masih belum terlalu banyak diterapkan
di indonesia. Pemerintah seharusnya juga harus memberikan dukungan
terhadap pengembangan teknologi pertanian agar dengan diterapkannya
teknologi baru dalam pengembangan pangan dapat memenuhi kebutuhan
pokok masyarakat sehingga dihaarapkan dapat menekan import bahan
pangan.

16
BAB IV
SIMPULAN

SIMPULAN
1. Indonesia saat ini belum dapat mencukupi kebutuhan pokok
masyarakatnya sendiri, dikarenakan tingginya kebutuhan masyarakat
terhadap bahan pokok pangan dan tidak mencukupinya produksi bahan
pokok pangan dalam negeri maka terjadilah trend import bahan pangan.
2. Indonesia merupakan negara dengan kekayaan alam yang melimpah,
tanah yang subur dan iklim yang sangat cocok untuk pertumbuhan
tanaman tetapi sayangnya potensi ini belum dioptimalkan. Dalam proses
produksi bahan pangan pokok sendiri indonesia belum dapat mencukupi
kebutuhan rakyatnya sehingga terjadilah trend import, subsidi pada sektor
pertanian yang belum tepat sasaran, mahalnya harga benih, serta
terbatasnya tenaga penyuluh pertanian. Padahal sektor pertanian sangat
menjanjikan karena apabila indonesia menguasai sektor pertanian bukan
tidak mungkin sistem perekonomia negara pun akan membaik. Sehingga
untuk meciptakan kedaulatan pangan, pemerintah harus memproteksi
petaninya. Apabila ingin berpihak kepada rakyat, maka tidak ada kata lain
kecuali berpihak kepada petani.
3. Ada berbagai gagasan yang sudah ada dari berbagai sumber. Gagasan
untuk memperbaiki kedaulatan pangan di indonesia dengan memperbaiki
sistemnya diantaranya reformasi agraria dan swasembada pangan. Tetapi
selain memperbaiki dalam hal penataan ulang sistem yang baik, teknologi
dalam sektor pertanian juga harus diperbaharui. Pada kurun waktu saat ini
benih tanaman dikuasai oleh asing, padahal indonesia memiliki banyak
pelajar yang terlatih dan terdidik untuk mengembangan suatu teknologi
untuk mendapatkan benih tanaman yang unggul salah satunya adalah
dengan kultur jaringananya kultur jaringan dapat mencukupi kebutuhan
benih tanaman dengan cepat dan jumlah yang banyak. Tetapi sayangnya

17
pemerinta kurang mendukung adanya pengembangan teknologi baru
dalam sektor ini.

18
DAFTAR PUSTAKA

Ika, syahrir.2014. Kedaulatan Pangan dan Kecukupan Pangan. Rubrik


edukasi fiskal.
Franciss. 2011. Ekonomi Politik Pangan. Penerbit Bina desa cindebooks.
Jakarta.
Undang-Undang RI no.7 tahun 1996 tentang pangan.
Gunawan, L.W. 1987. Teknik Kultur Jaringan Tumbuhan. PAU
Bioteknologi IPB. Bogor.
Nursyamsi, 2010. Teknik Kultur Jaringan Sebagai Alternatif Perbanyakan
Tanaman Untuk Mendukung Rehabilitasi Lahan. Balai Penelitian
Kehutanan Makassar.

19