Anda di halaman 1dari 15

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Penyakit Demam Berdarah Dengue masih merupakan salah satu masalah


kesehatan masyarakat yang utama di Indonesia. Jumlah penderita dan luas
daerah penyebarannya semakin bertambah seiring dengan meningkat nya
mobilitas dan kepadatan penduduk.
Demam berdarah adalah penyakit yang terdapat pada anak remaja dan
orang dewasa, dengan tandatanda klinis demam, nyeri otot atau nyeri sendi
yang disertai leucopenia dengan atau tanpa ruan atau rash dan limfadenopati,
sakit kepala yang hebat, nyeri pada gerakan bola mata, rasa mengecap yang
terganggu, trombositopenia ringan dan bintik perdarahan (ptekie) spontan.
(Hendarwanto dr, 1996 ).
Demam berdarah dengue adalah penyakit yang disebabkan oleh virus
dengue sejenis virus yang tergolong arbovirus dan masuk kedalam tubuh
penderita melalui gigitan nyamuk aedes aegyti betina. ( SKP. Effendy.
Christantie. Perawatan Pasien DHF. Jakarta : EGC. 1995 : Hal. 1 ).
Penyakit DBD disebabkan oleh Virus dengue sejenis arbovirus, Virus ini
tergolong dalam family Flavividae dan dikenal ada 4 serotif, Dengue 1 dan 2
ditemukan di Irian ketika berlangsungnya perang dunia ke II, sedangkan
dengue 3 dan 4 ditemukan pada saat wabah di Filipina tahun 1953-1954.
Virus dengue berbentuk batang, bersifat termoragil, sensitif terhadap in
aktivitas oleh diatiter dan natrium diaksikolat stabil pada suhu 70 derajat
Celcius.
Factor penyebab DBD yang lain adalah factor kebudayaan masyarakat itu
sendiri, seperti lingkungan yang buruk, prilaku masyarakat tidak sehat,
prilaku di rumah pada siang hari, dan mobilitas penduduk. Mobilitas
penduduk memegang peranan paling besar dalam penularan virus dengue.
DBD adalah penyakit menular yang di sebabkan oleh virus dengue dan
ditularkan melalui gigitan nyamuk (google, 2011).
Biasanya nyamuk mengigit manusia di lingkungan luar rumah seperti
lapangan berumput, semak-semak, tempat yang banyak tetumbuhan,
pekarangan rumah, lingkungan sekolah, dan tempat-tempat umum. Hanya
sedikit masyarakat yang menjawab bahwa nyamuk mengigit di dalam rumah,
di dalam gedung sekolah dan tempat-tempat yang dekat dengan air.
Masyarakat kesulitan untuk mencegah penularan demam berdarah karena
tidak dapat memperkirakan dengan pasti kapan dan dimana pastinya terkena
gigitan nyamauk (Wilayah kerja puskesmas 1, Denpasar;2006).
Penyakit ini di tunjukan dengan munculnya demam secara tiba-tiba, di
sertai sakit kepala berat, sakit pada sendi dan otot (myalgia dan arthralgia)
dan mempunyai ciri-ciri bintik merah terang, dan biasanya muncul dulu pada
bagian bawah badan dan menyebar hingga menyelimuti hampir seluruh
tubuh. Selain itu, radang perut bisa juga muncul dengan kombinasi sakit di
perut, rasa mual, muntah atau diare (google 2011).
"Pasien yang terinfeksi DBD akan nampak dan ketahuan gejalanya setelah
1 Minggu mendapat gigitan nyamuk penyebab demam berdarah".
Tindakan antisipasi akan dilakukan setelah adanya laporan dari Puskesmas
yang mendapati banyaknya pasien penderita demam berdarah. Kemudian
akan menurunkan Tim Epidemologi pengamatan penyakit. Tim Pengamat
akan menyurvey sekeliling lingkungan rumah pasien DBD sejauh radius 100
meter.
"Jika dalam radius 100 meter tersebut ditemukan 3 orang penderita DBD
maka akan dilakukan gerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk dan Abatisasi,
bilamana perlu pengasapan atau fogging".
Terkait dengan adanya penyebaran DBD tersebut, Dinas Kesehatan telah
melakukan pelatihan terhadap 50 orang juru pemantau ditiap wilayah yang
terdampak endemis untuk melakukan penyuluhan dan bimbingan ke
masyarakat. Selain itu, sebagai antisipasi pencegahan sarang nyamuk, Dinkes
juga telah membagikan Abate kepada warga yang dimaksudkan untuk
mematikan jentik-jentik nyamuk.
"Yang akan datang, akan di usulkan pembentukan Tim Kabupaten, Tim
Kecamatan dan Tim Desa untuk melakukan aksi pembersihan lingkungan
yang melibatkan para warga".
Demam Berdarah Dengue ( DBD ) banyak ditemukan didaerah tropis dan
sub-tropis. Data dari seluruh dunia menunjukan asia menempati urutan
pertama dalam jumlah penderita DBD setiap tahunnya ( google, 2010 )
Sementara itu, terhitung sejak tahun 1968 hingga tahun 2009, World
Health Organization (WHO) mencatat Negara Indonesia sebagai Negara
dengan kasus DBD tertinggi di asia tenggara (KEMENKES RI, 2010).
Kejadian luar biasa terakhir tercatat pada tahun 2006 yakni terdapat 80.837
kasus DBD di Indonesia dengan jumlah korban meninggal sebanyak 1099
orang, dan merupakan angka tertinggi di kawasan asia tenggara. Pada tahun
2007 tercatat kasus DBD sebesar 8019 orang (sampai 31 januari 2007). Pada
tahun 2007 terjadi peningkatan insiden DBD dan kejadian luar biasa di Aceh,
Sumatera Utara, Lampung, Kalimantan Barat, Gorontalo, Bali, Jawa Timur,
Jawa Barat, Jakarta dan Banten (DEPKES RI, Sungkar DKK,2010).
Di Indonesia pertama kali di temukan di kota Surabaya (1968) dimana
sebanyak 58 orang terinfeksi dan 24 orang diantara nya meninggal dunia
(angka kematian:41,3%). Dan sejak itu, penyakit itu menyebar luas ke seluruh
Indonesia (Google 2010).
Jumlah kasus demam berdarah dengue (DBD) di Kalsel dalam dua bulan
mencapai 1396 kasus. Jumlah ini merupakan yang tertinggi sejak 2006.
Padahal baru dua bulan tapi angkanya sudah lebih tinggi dari tahun-tahun
sebelumnya, kata Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kalsel Dr Achmad
Rudiansjah, kemarin.
Data Dinas Kesehatan Provinsi Kalsel menyebutkan, pada 2006, jumlah
kasus DBD hanya 463 dengan 7 orang meninggal. Pada 2007, jumlah kasus
meningkat drastis menjadi 1321 kasus dengan 16 orang meninggal.
Pada 2008, jumlah kasus menurun jadi 730 kasus dengan 12 meninggal.
Tahun berikutnya yakni 2009, jumlah kasus kembali meningkat menjadi 1072
kasus dan pada tahun 2010 naik lagi menjadi 1104 kasus dengan 33
meninggal.
Angka korban meninggal tahun 2010 adalah yang tertinggi sejak 2006 hingga
2014.
Tahun 2011 jumlah kasus turun drastis menjadi hanya 400 kasus dengan 7
orang meninggal. Tahun 2012, 872 kasus terjadi dengan 17 orang meninggal.
Tahun 2013 jumlah kasus mencapai 1080 dengan 11 orang meninggal. Pada
2014, jumlah kasus turun menjadi 828 kasus dengan 17 meninggal.
Sementara 2015 baru dalam waktu sebulan saja kasus sudah mencapai 1386
kasus dengan jumlah korban 14 orang meninggal.
Korban meninggal paling banyak di Januari, pada Februari sampai
pertengahan ini baru 265 kasus dan 1 orang meninggal, papar Rudi.
Mengenai status kejadian luar biasa (KLB), Rudi menjelaskan sejumlah
kabupaten memang menyatakan DBD sebagai KLB. Namun untuk provinsi
Kalsel tidak menyatakan DBD sebagai KLB.
Sekretaris Daerah Provinsi Kalsel Muhammad Arsyadi berharap masalah
DBD segera bisa ditanggulangi. Tak hanya pemerintah yang aktif, Arsyadi
menilai juga perlu masyarakat untuk menjaga lingkungan agar tidak menjadi
sarang nyamuk. Selain itu perlu kesadaran masyarakat untuk datang ke
fasilitas kesehatan.
Di Tanah Bumbu, jumlah pasien yang terinfeksi DBD sebanyak 54 orang,
jauh lebih sedikit dari Kabupaten lain yang rata-rata berkisar diatas 100
orang.
Data pasien yang positif terinfeksi DBD di Puskesmas Satui 25 orang,
Puskesmas Pagatan 8 orang, Puskesmas Batulicin 7 orang, Rumah Sakit
Darul Azhar 6 orang, Puskesmas Simpang Empat 4 orang, Puskesmas
Batulicin 1 Blok A 2 orang dan Puskesmas Karang Bintang 2 orang.
Dari jumlah pasien yang mendapat perawatan, sebanyak 54 orang tersebut
positif terinfeksi DBD, sedangkan yang lainnya hanyalah suspeck karena
belum terlihat bintik merah dikulit dan trombosit darahnya tidak terlalu turun.

1.2 Rumusan Masalah


1.2.1 Pengertian Demam Berdarah Dengue
1.2.2 Etiologi Demam Berdarah Dengue
1.2.3 Patofisiologi Demam Berdarah Dengue
1.2.4 Tanda dan gejala Demam Berdarah Dengue
1.2.5 Pemeriksaan penunjang Demam Berdarah Dengue
1.2.6 Penatalaksanaan Demam Berdarah Dengue.

1.3 Tujuan
1.3.1 Tujuan Umum
Untuk mengetahui penyakir Demam Berdarah Dengue, dapat
memberikan Asuhan Keperawatan pada klien dengan kasus penyakit
ini, serta untuk menyelesaikan tugas mata kuliah Antropologi.
1.3.2 Tujuan Khusus
1.3.2.1 Agar mahasiswa dapat memahami pengertian dari Demam
Berdarah Dengue.
1.3.2.2 Agar mahasiswa dapat mengetahui penyebab Demam
Berdarah Dengue
1.3.2.3 Agar mahasiswa dapat mengetahui dan memahami proses
terjadinya Demam Berdarah Dengue
1.3.2.4 Agar mahasiswa dapat mengerti bagaimana tanda dan gejala
Demam Berdarah Dengue
1.3.2.5 Agar mahasiswa dapat mengetahui pemeriksaan penunjang
pada penyakit Demam Berdarah Dengue
1.3.2.6 Agar mahasiswa dapat memberikan penatalaksanaan pada
penyakit Demam Berdarah Dengue

1.4 Manfaat
1.4.1 Bagi Penulis
Tugas ini merupakan media penerapan ilmu pengetahuan yang
telah didapatkan dalam teori, dan juga diharapkan penulisan ini dapat
menambah wawasan, pengetahuan dan pengalaman baru bagi penulis
khususnya dalam penatalaksanaan asuhan keperwatan pada pasien
Demam Berdarah Dengue.
1.4.2 Bagi Pengembangan Ilmu Pengetahuan
Tugas ini diharapkan dapat digunakan sebagai penunjang dalam
referensi ilmu dan dapat menambah wawasan pustaka tentang
penatalaksanaan asuhan kepearawatan pada pasien dengan Demam
Berdarah Dengue yang dapat digunakan oleh mahasiswa-mahasiswa
lain.
BAB II
TINJAUAN TEORITIS

2.1 Definisi
2.1.1 Demam berdarah adalah penyakit yang terdapat pada anak remaja
dan orang dewasa, dengan tandantanda klinis demam, nyeri otot
atau nyeri sendi yang disertai leucopenia dengan atau tanpa ruan
atau rash dan limfadenopati, sakit kepala yang hebat, nyeri pada
gerakan bola mata, rasa mengecap yang terganggu,
trombositopenia ringan dan bintik perdarahan (ptekie) spontan
(hendarwanto dr, 1996).
2.1.2 Demam berdarah adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh virus
dengue (arbovirus) yang masuk ke dalam tubuh melalui gigitan
nyamuk aedes aegypti ( SKP. Suryadi dan SKP. Rita Yuliani, 2000 )
2.1.3 Demam berdarah adalah penyakit yang disebabkan oleh virus
dengue sejenis virus yang tergolong arboviurs dan masuk kedalam
tubh penderita melalui gigitan nyamuk aedes aegyti betina. ( SKP.
Effendy. Christantie. Perawatan Pasien DHF. Jakarta : EGC. 1995 :
Hal. 1 ).

2.2 Etiologi
Demam berdarah adalah penyakit yang disebabkan oleh virus
Dengue yang ditularkan oleh nyamuk Aedes Aegypty yang menyerang
atau menggigit pada siang hari. Nyamuk Aedes Aegypty tidak senang pada
hal-hal yang kotor dan hanya dapat berkembang biak pada air yang bersih.
Jadi, penyebab penyakit DBD ialah Virus dengue sejenis arbovirus.
Virus dengue ini tergolong dalam family Flavividae dan dikenal ada 4
serotif, Dengue 1 dan 2 ditemukan di Irian ketika berlangsungnya perang
dunia ke II, sedangkan dengue 3 dan 4 ditemukan pada saat wabah di
Filipina tahun 1953-1954. Virus dengue berbentuk batang, bersifat
termoragil.

Ciri-ciri nyamuk Aedes Aegypty antara lain :


Badannya kecil berwarna hitam dan belang putih
Menggigit pada siang hari
Badannya datar pada saat hinggap
Jarak terbangnya kurang dari 100 meter
Suka pada tempat yang gelap dan bersih.

2.3 Patofisiologi
Virus akan masuk ke dalam tubuh melalui gigitan nyamuk aedes
aegypty dan kemudian akan bereaksi dengan antibody dan terbentuklah
kompleks virus-antibody. Dalam sirkulasi akan mengaktivasi system
komplemen. Akibat aktivasi C3 dan C5 akan dilepas C3a dan C5a,dua
peptida yang berdaya untuk melepaskan histamine dan merupakan
mediator kuat sebagai factor meningkatnya permeabilitas dinding
pembuluh darah dan menghilangkan plasma melalui endotel dinding itu.
Terjadinya trobositopenia, menurunnya fungsi trombosit dan
menurunnya faktor koagulasi (protombin dan fibrinogen) merupakan
factor penyebab terjadinya perdarahan hebat , terutama perdarahan saluran
gastrointestinal pada DHF. Yang menentukan beratnya penyakit adalah
meningginya permeabilitas dinding pembuluh darah, menurunnya volume
plasma, terjadinya hipotensi, trombositopenia dan diathesis hemorrhagic,
renjatan terjadi secara akut.
Nilai hematokrit meningkat bersamaan dengan hilangnya plasma
melalui endotel dinding pembuluh darah. Dan dengan hilangnya plasma
klien mengalami hipovolemik. Apabila tidak diatasi bisa terjadi anoxia
jaringan, acidosis metabolic dan kematian.

2.4 Tanda dan gejala


Demam tinggi selama 5 7 hari.
Mual, muntah, tidak ada nafsu makan, diare, konstipasi.
Perdarahan terutama perdarahan bawah kulit, ptechie, echymosis,
hematoma.
Epistaksis, hematemisis, melena, hematuri.
Nyeri otot, tulang sendi, abdoment, dan ulu hati.
Sakit kepala.
Pembengkakan sekitar mata.
Pembesaran hati, limpa, dan kelenjar getah bening.
Tanda-tanda renjatan (sianosis, kulit lembab dan dingin, tekanan
darah menurun, gelisah, capillary refill lebih dari dua detik, nadi
cepat dan lemah.
Derajat berat DBD secara klinis dibagai Sbb:

Derajat I (ringan), terdapat demam mendadak selama 2-7 hari


disertai gejala klinis lain dengan manifestasi perdarahan
teringan, yaitu uji turniket positif
Derajat II (sedang), ditemukan pula perdarahan kulit dan
manifestasi perdarahan lain.
Derajat III, ditemukan tanda-tanda dini renjatan.
Derajat IV, terdapat DSS dengan nadi dan tekanan darah yang
tak terukur. Diagnosis klinis disokong dengan pemerikasaan
serologi.

2.5 Pemeriksaan penunjang


Darah
Trombosit menurun
HB meningkat lebih 20 %
HT meningkat lebih 20 %
Leukosit menurun pada hari ke 2 dan ke 3
Protein darah rendah
Ureum PH bisa meningkat
NA dan CL rendah.
Serology : HI (hemaglutination inhibition test).
Rontgen thorax : Efusi pleura.
Uji test tourniket (+)

2.6 Penatalaksanaan medis


Tirah baring
Pemberian makanan lunak
Pemberian cairan melalui infuse
Pemberian cairan intra vena (biasanya ringer lactat, nacl)
ringer lactate merupakan cairan intra vena yang paling sering
digunakan , mengandung Na + 130 mEq/liter , K+ 4 mEq/liter,
korekter basa 28 mEq/liter , Cl 109 mEq/liter dan Ca = 3 mEq/liter.
Pemberian obat-obatan : antibiotic, antipiretik
Anti konvulsi jika terjadi kejang
Monitor tanda-tanda vital (Tekanan Darah, Suhu, Nadi, RR)
Monitor adanya tanda-tanda renjatan
Monitor tanda-tanda perdarahan lebih lanjut
Periksa HB,HT, dan Trombosit setiap hari.
BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN TRANSKULTURAL NURSING

3.1 Pengkajian
3.1.1 Identitas
DHF merupakan penyakit daerah tropis yang sering menyebabkan
kematian anak, remaja dan dewasa (Effendy, 1995).
3.1.2 Keluhan Utama
Pasien mengeluh panas, sakit kepala, lemah, nyeri ulu hati, mual
dan nafsu makan menurun.
P : Penyebab penyakit karena infeksi dengue
Faktor yang memperberat bila klien tidak segera dibawa kerumah
sakit usaha dapa dilakukan ; membawa klien ke rumah sakit karena
pada kasus ini memerlukan pengawasan kemungkinan terjadi syok
atau perdarahan yang dapat mengancam jiwa.
Q : Yang sering dirasakan klien, selain demam terdapat nyeri, pegal
pegal, nyeri anggota badan.
R : Selain demam, nyeri angota badan seprti punggung, sakit
kepala dan perut / hepar juga mengalami pembesaran
S : Penyakit DBD bila cepat mendapatkan pengobatan tidak jatuh
pada syok, namun bila tidak berakibat fatal.
T : Demam mendadak timbul dari hari 1 7
3.1.3 Riwayat penyakit sekarang
Riwayat kesehatan menunjukkan adanya sakit kepala, nyeri otot,
pegal seluruh tubuh, sakit pada waktu menelan, lemah, panas,
mual, dan nafsu makan menurun
3.1.4 Riwayat penyakit terdahulu
Tidak ada penyakit yang diderita secara spesifik.
3.1.5 Riwayat penyakit keluarga
Riwayat adanya penyakit DHF pada anggota keluarga yang lain
sangat menentukan, karena penyakit DHF adalah penyakit yang
bisa ditularkan melalui gigitan nyamuk aides aigepty.

3.1.6 Riwayat Kesehatan Lingkungan


Biasanya lingkungan kurang bersih, banyak genangan air bersih
seperti kaleng bekas, ban bekas, tempat air minum burung yang
jarang diganti airnya, bak mandi jarang dibersihkan.
3.1.7 Pengkajian Per Sistem
- Sistem Pernapasan
Sesak, perdarahan melalui hidung, pernapasan dangkal,
epistaksis, pergerakan dada simetris, perkusi sonor, pada
auskultasi terdengar ronchi, krakles.
- Sistem Persyarafan
Pada grade III pasien gelisah dan terjadi penurunan
kesadaran serta pada grade IV dapat terjadi DSS Sistem
Cardiovaskuler, Pada grade I dapat terjadi hemokonsentrasi,
uji tourniquet positif, trombositipeni, pada grade III dapat
terjadi kegagalan sirkulasi, nadi cepat, lemah, hipotensi,
sianosis sekitar mulut, hidung dan jari-jari, pada grade IV
nadi tidak teraba dan tekanan darah tak dapat diukur.
- Sistem Pencernaan
Selaput mukosa kering, kesulitan menelan, nyeri tekan pada
epigastrik, pembesarn limpa, pembesaran hati, abdomen
teregang, penurunan nafsu makan, mual, muntah, nyeri saat
menelan, dapat hematemesis, melena. Sistem perkemihan.
Produksi urine menurun, kadang kurang dari 30 cc/jam,
akan mengungkapkan nyeri sat kencing, kencing berwarna
merah.
- Sistem Integumen.
Terjadi peningkatan suhu tubuh, kulit kering, pada grade I
terdapat positif pada uji tourniquet, terjadi pethike, pada
grade III dapat terjadi perdarahan spontan pada kulit.

3.2 Diagnosa keperawatan


3.2.1 Hipertermia berhubungan dengan proses infeksi virus
Tujuan : Suhu tubuh klien normal (36-37 C) dan bebas dari
Demam
Intervensi :
- Observasi tanda-tanda vital tiap 3 jam
Rasional : Infeksi dapat mempengaruhi tanda-tanda vital
sehingga tanda-tanda vital setiap saat dapat berubah
- Anjurkan klien untuk banyak minum 1.5-2 liter/hari
Rasional : Peningkatan suhu badan dapat mengakibatkan
penguapan tubuh meningkat sehingga perlu diimbangi
asupan cairan yang banyak.
- Berikan kompres hangat
Rasional : Membantu menurunkan suhu tubuh dengan
dilatasi pembuluh darah
- Penatalaksanaan pemberian cairan intravena
Rasional : Pemberian cairan intravena sangat penting
untuk penurunan suhu tubuh.
- Penatalaksanaan pemberian obat analgetik
- Rasional : Mempercepat penurunan suhu tubuh
3.2.2 Pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan
dengan mual, muntah, anoreksia
Tujuan : Kebutuhan nutrisi klien terpenuhi
Intervensi :
- Anjurkan kepada klien untuk memakan makanan yang
lunak
Rasional : Membantu mengurangi keletihan klien
mengunyah makanan dan meningkatkan asupan
nutrisi klien
- Beri makanan dalam porsi kecil tapi sering
Rasional : Menghindari rangsangan klien mual,muntah
dan dapat memenuhi kebutuhan nutrisinya.
- Timbang BB tiap hari
Rasional : Mengetahui pertumbuhan klien sebagai indikasi
untuk mengetahui kebutuhan nutrisinya.
- Berikan pilihan makanan yang disukai klien
Rasional : Untuk meningkatkan nafsu makan klien
3.2.3 Kekurangan volume cairan dan elektrolit berhubungan dengan
peningkatan permeabilitas membran
Tujuan : Klien tidak mengalami defisit volume cairan
Intervensi :
- Kaji TTV klien
Rasional : Sebagai indikator untuk mengetahui denagan
cepat penyimpangan dari keadaan normalnya
- Anjurkan klien minum banyak 1.5-2 liter/hari
Rasional : Asupan cairan sangat diperlukan untuk
menambah volume cairan tubuh
- Observasi tanda dan gejala dehidrasi
Rasional : Mengetahui penyebab kurangnya volume
cairan,jika keluaran urine < 25 ml/jam maka klien syok
- Penatalaksanaan pemberian cairan intravena
Rasional : Pemberian cairan intravena sangat penting
untuk menggantikan cairan yang hilang.
3.2.4 Konstipasi berhubungan dengan kurangnya pemasukan diet
Tujuan : Peristaltik aktif, mempertahankan pola eliminasi
biasa
Intervensi :
- Auskultasi peristaltik usus, perhatikan distensi abdomen,
adanya mual, muntah.
Rasional : indikator adanya perbaikan intestinal,
mempengaruhi pilihan intervensi
- Bantu pasien untuk duduk di tepi tempat tidur dan berjalan
Rasional : Ambulasi dini membantu merangsang fungsi
intestinal dan mengembalikan peristaltik.
- Dorong pemasukan cairan yang adekuat
Rasional : Meningkatkan pelunakan feces,dapat
membantu merangsang peristaltik.
- Penatalaksanaan pemberian obat pelunak feces,laksatif
sesuai instruksi
Rasional : Meningkatkan pembentukan/passage pelunak
feces
3.2.5 Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kondisi tubuh yang
lemah
Tujuan : Klien mampu mandiri dan kebutuhan terpenuhi
Intervensi :
- Kaji kemampuan keluhan pasien
Rasional : Untuk mengidentifikasi masalah pasien
- Kaji hal yang tidak atau mampu dilakukan klien
Rasional : Untuk mengetahui tingkat ketergantungan klien
dalam memenuhi kebutuhannya.
- Letakkan barang-barang di tempat yang mudah dijangkau
oleh klien
Rasional : Untuk membantu klien memenuhi
kebutuhannya sendiri tanpa bantuan orang lain.

3.3 Implementasi Keperawatan


Pelaksanaan tindakan keperawatan pada klien dengan DBD
disesuaikan dengan intervensi yang direncanakan.

3.4 Evaluasi
Adapun sasaran evaluasi pada pasien DBD sebagai berikut :
- Suhu tubuh normal (36-37),klien bebas dari demam
- Klien mengatakan rasa nyeri hilang atau berkurang
- Kebutuhan nutrisi klien terpenuhi,klien mampu
menghabiskan makanan sesuai dengan porsi yang
diberikan atau dibutuhkan
- Keseimbangan cairan akan tetap terjaga dan kebutuhan
cairan klien terpenuhi
- Aktivitas klien sehari-hari terpenuhi
- Infeksi dan perdarahan tidak terjadi
- Kecemasan klien berkurang dan mendengarkan penjelasan
dari perawat tentang proses penyakitnya.
BAB IV

PENUTUP

4. 1 PENUTUP
Demam berdarah adalah penyakit yang terdapat pada anak remaja
dan orang dewasa, dengan tandantanda klinis demam, nyeri otot atau
nyeri sendi yang disertai leucopenia dengan atau tanpa ruan atau rash dan
limfadenopati, sakit kepala yang hebat, nyeri pada gerakan bola mata, rasa
mengecap yang terganggu, trombositopenia ringan dan bintik perdarahan
(ptekie) spontan.
Dengue Haemorhagic Fever (DHF) adalah virus Dengue yang
ditularkan oleh nyamuk Aedes Aegypty yang menyerang atau menggigit
pada siang hari. Nyamuk Aedes Aegypty tidak senang pada hal-hal yang
kotordan hanya dapat berkembang biak pada air yang bersih.

4. 2 Saran
4.2.1 Penulis berharap semoga penyusunan makalah tentang Askep pada
anak/bayi dengan DBD ini dapat memberikan ilmu dan
pengetahuan dalam bidang pendidikan dan praktik keperawatan.
Dan juga dengan makalah ini dapat menjadi acuan untuk tindakan
proses keperawatan.
4.2.2 Dengan Makalah ini semoga para pembaca dapat mengambil
manfaat dari pengetahuan tentang penyakit DBD. Kita sebagai
tenaga kesehatan harus mampu dan memahami konsep dan segala
sesuatu dan bagaimana kita merawat dan mengobati pasien dengan
penderita DBD.
4.2.3 Selain itu kita harus mencegah agar penyakit DBD tidak menyebar
atau menjangkit kita dan masyarakat sekitar dengan cara menjaga
kebersihan lingkungan