Anda di halaman 1dari 72

PENDEKATAN PSIKOSOSIAL NIFAS DAN PENGGELOLAAN

PERUBAHAN PSIKOLOGI

OLEH Kelompok 3b :
FEBRY MUTIARIAMI DAHLAN 1520332003
ASTARI SETO 1520332011
TIMMY LARASATI 1520332023
FANI SINTIA RAHMI 1520332031

PROGRAM MAGISTER ILMU KEBIDANAN


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS ANDALAS
PADANG
2016
KATA PENGANTAR

Puji sukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan

rahmat serta hidayahnya kepada penulis dapat menyelesaikan Makalah yang berjudul

Pendekatan Psikososial Nifas Dan Penggelolaan Perubahan Psikologi.

Dalam proses penyusunan makalah ini penulis banyak mendapatkan

bimbingan, arahan dan masukan dari berbagai pihak yang diberikan secara langsung

maupun secara tidak langsung sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini

tepat pada waktunya.

Pada kesempatan ini tak lupa penulis mengucapkan terima kasih kepada:

1. Ulvi Mariati, S.Kp, M.Kes atas bimbingan sebagai dosen pengampu dari mata

kuliah Psikososial Kebidanan ini.

2. Teman-teman S2 Kebidanan Fakultas Kedokteran Universitas Andalas, atas

dukungan dan semangatnya.

Akhirnya penulis mengaharapkan kritik dan saran yang dapat menjadikan

Makalah ini menjadi lebih baik dan dapat bermanfaat bagi kita semua.

Padang, April 2016

Penulis

DAFTAR ISI
Halaman

KATA PENGANTAR................................................................................ i
DAFTAR ISI.............................................................................................. ii
DAFTAR LAMPIRAN............................................................................. iii

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang.......................................................................... 1

1.2 Tujuan....................................................................................... 4

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Adaptasi Psikososial Nifas dan Pengelolaan Perubahan Fisiologi...... 5

2.1.1 Defenisi Adaptasi........................................................... 5

2.2.2 Tahapan Masa Nifas....................................................... 5

2.2 Adaptasi Psikologi Masa Nifas............................................................. 6

2.3 Tahapan Masa Nifas.................................................................. 7

2.4 Adaptasi Psikologi Ibu Nifas................................................................ 7

2.5 Perubahan Hormonal dalam masa Post Partum.................................... 10

2.5.1 Endokrinologi Laktasi.................................................................. 10

2.5.2 Perubahan Hormonal yang memicu Depresi Post Partum........... 16

2.6 Post Partum Blues................................................................................. 18

2.6.1 Post Partum Blues........................................................................ 18

2.6.2 Depresi Berat............................................................................... 23

2.6.3 Psikosis Post Partum.................................................................... 23

2.6.4 Pendekatan yang dilakukan bidan................................................ 25

2.6.5 Kesedihan dan Duka Cita............................................................. 26

BAB III PEMBAHASAN JURNAL


3.1 Jurnal 1....................................................................................... 33

3.2 Jurnal 2....................................................................................... 36

BAB IV PENUTUP

4.1 Kesimpulan............................................................................... 39

4.2 Saran......................................................................................... 40

DAFTAR PUSTAKA

DAFTAR LAMPIRAN
LAMPIRAN 1 : DEPRESI POST PARTUM DI KINSHASA, REPUBLIK
DEMOKRATIK KONGO : VALIDASI KONSEP
MENGGUNAKAN CAMPURAN - METODE
PENDEKATAN LINTAS - BUDAYA

LAMPIRAN 2 : EFEKTIFITAS KUNJUNGAN NIFAS TERHADAP


PENGURANGAN KETIDAKNYAMANAN FISIK
YANG TERJADI PADA IBU SELAMA MASA NIFAS

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

Masa nifas merupakan masa yang dilalui oleh setiap wanita setelah

melahirkan. Pada masa tersebut dapat terjadi komplikasi persalinan baik secara

langsung maupun tidak langsung. Masa nifas ini berlangsung sejak plasenta

lahir sampai dengan 6 minggu setelah kelahiran atau 42 hari setelah kelahiran.

Kunjungan selama nifas sering dianggap tidak penting oleh tenaga kesehatan

karena sudah merasa baik dan selanjutnya berjalan dengan lancar. Konsep

early ambulation dalam masa postpartum merupakan hal yang perlu

diperhatikan karena terjadi perubahan hormonal. Pada masa ini ibu

membutuhkan petunjuk dan nasihat dari bidan sehingga proses adaptasi setelah

melahirkan berlangsung dengan baik.

Jika ditinjau dari penyebab kematian ibu, infeksi merupakan penyebab

kematian terbanyak nomor dua setelah perdarahan sehingga sangat tepat jika

tenaga kesehatan memberikan perhatian yang tinggi pada masa ini. Cakupan

kunjungan ibu nifas pada tahun 2009 adalah 71,54%, sementara target cakupan

kunjungan ibu nifas pada tahun 2015 adalah 90%. Berdasarkan data dari profil

kesehatan tahun 2009 cakupan kunjungan masa nifas di Jawa Tengah yaitu 73,

38%. Cakupan pelayanan nifas adalah pelayanan kepada ibu dan neonatal pada

masa 6 jam sampai dengan 42 hari pasca persalinan sesuai standar. Pelayanan

nifas sesuai standar adalah pelayanan kepada ibu nifas sedikitnya tiga kali,

pada enam jam pasca persalinan sampai dengan hari ketiga, pada minggu

kedua, dan pada minggu keenam termasuk pemberian vitamin A dua kali serta

persiapan dan ataupenggunaan alat kontrasepsi setelah persalinan.


Bidan memegang peranan penting dalam upaya pemerintah untuk

meningkatkan kesehatan dan pengertian masyarakat melalui konsep promotif,

preventif, kuratif dan rehabilitatif. Dalam standar pelayanan kebidanan, bidan

memberikan pelayanan bagi ibu pada masa nifas melalui kunjungan rumah

pada hari ketiga, minggu kedua dan minggu keenam setelah persalinan untuk

membantu proses pemulihan ibu dan bayi melalui penanganan tali pusat yang

benar, penemuan dini, penanganan atau rujukan komplikasi yang mungkin

terjadi pada masa nifas, serta memberikan penjelasan tentang kesehatan

secara umum, personal hygiene, nutrisi, perawatan bayi baru lahir, pemberian

asi, imunisasi dan keluaga berencana.

Dari bukti-bukti terkait bidang profesi, jelas bagi kita bahwa asuhan

postpartum, sebagaimana aspek lain dalam layanan maternitas kurang

dievaluasi dan diteliti, diberikan dengan cara yang sering kali tidak tepat dan

terbagi-bagi serta memiliki fokus manajerial yang tidak teratur yang

menghambat penggunaan sumbersumber secara efisien. Sebuah sistematic

review mengidentifikasi ritual umum lintas budaya terkait dengan periode

postpartum dan bukti untuk efek positif atau negatif terhadap kesehatan mental

ibu yang hasilnya berupa tema umum yang ada diseluruh budaya mencakup

dukungan yang terorganisir, periode istirahat, pembatasan aktivitas, praktek

kebersihan, diet, perawatan bayi dan praktek untuk mempromosikan kesehatan.

Pentingnya tenaga kesehatan untuk menyadari praktek-praktek budaya umum

dan konsekuensi yang dirasakan karena tidak mengamati mereka.

Hasil penelitian Elvina M pada tahun 2011 di Medan tentang skor

kualitas hidup postpartum berdasarkan faktor demografi ibu menyebutkan


bahwa terdapat perbedaan yang bermakna berdasarkan masalah klinis yang

menyertai dan jenis persalinan. Jenis persalinan mempunyai hubungan yang

bermakna terhadap skorkualitas hidup.

Beberapa penulis berpendapat dalam minggu pertama setelah

melahirkan, banyak wanita yang menunjukan gejala-gejala psikiatrik, terutama

gejala depresi diri ringan sampai berat serta gejala-gejala neonatus traumatic,

antara lain rasa takut yang berlebihan dalam masa hamil struktur perorangan

yang tidak normal sebelumnya, riwayat psikiatrik abnormal, riwayat

perkawinan abnormal, riwayat obstetrik (kandungan) abnormal, riwayat

kelahiran mati atau kelahiran cacat, dan riwayat penyakit lainya.

Biasanya penderita akan sembuh kembali tanpa ada atau dengan

pengobatan. Meskipun demikian, kadang diperlukan terapi oleh ahli penyakit

jiwa. Sering pula kelainan-kelainan psikiatrik ini berulang setelah persalinan

berikutnya. Hal yang perlu diperhatikan yaitu adaptasi psikososial pada masa

pasca persalinan. Bagi keluarga muda, pasca persalinan adalah awal keluarga

baru sehingga keluarga perlu beradptasi dengan peran barunya. Tanggung

jawab keluarga bertambah dengan hadirnya bayi yang barui lahir. Dorongan

serta perhatian anggota keluarga lainya merupakan dukungan positif bagi ibu.

1.2 Tujuan

Tujuan materi ini adalah agar mahasiswa:

1. Mengetahui proses adaptasi psikologis ibu pada masa nifas

2. Mengetahui adaptasi psikologis saat post partum blues

3. Mengetahui cara mengatasi kesedihan dan duka cita pada masa nifas
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Adaptasi Psikososial Nifas dan pengelolaan perubahan fisiologi

2.1.1 Defenisi Adaptasi

Ada beberapa pengertian tentang mekanisme penyesuaian diri anatara lain :

a. Menurut Soeharto heerd Jan (1987), Adaptasi atau penyesuain diri

adalah usaha atau prilaku yang tujuannya mengatasi kesulitan dan

hambatan

b. Menurut W.A. Gerungan, (1996)

Adaptasi adalah mengubah diri sesuai keadaan lingkungan, tetapi juga

mengubah lingkungan sesuai keadaan atau keinginan diri.

Jadi, adaptasi adalah suatu perubahan yang menyertai individu dalam

merespon terhadap perubahan yang ada dilingkungan dan dapat

mempengaruhi keutuhan tubuh baik secara fisiologis maupun psikologis

yang akan menghasilkan prilaku adaptif.

2.1.2 Definisi Psikososial

Istilah psikososial dalam kaitannya dengan perkembangan manusia

berarti bahwa tahap-tahap kehidupan seseorang dari lahir sampai mati

dibentuk oleh pengaruh-pengaruh social yang berinteraksi dengan suatu

organisme yang menjadi matang secara fisik dan psikologis. Perkembangan

psikososial juga bias diartikan berhubugan dengan perubahan-perubahan

perasaan atau emosi dan kepribadian serta perubahan dalam bagaimana

individu berhubungan dengan orang lain.

Psikososial adalah setiap perubahan dalam kehidupan individu, baik

yang bersifat psikologik maupun social yang mempunyai pengaruh timbal


nbalik akibat terjadinya perubahan social atau gejolak social dalmm

masyarakat yang dapat menimbulkan gangguan jiwa (Depkes, 2011)

2.2 Pengertian Masa Nifas

Masa nifas disebut juga masa postpartum adalah masa atau waktu

sejak bayi dilahirkan dan plasenta keluar lepas dalam rahim, sampai 6 minggu

berikutnya, disertai dengan pulihnya kembali organ-organ yang berkaitan

dengan kandungan, yang mengalami perubahan seperti perlukaan dan lain

sebagainya berkaitan saat melahirkan (Suherni, 2008, p.1)

Masa nifas dimulai setelah kelahiran plasenta dan berakhir ketika alat-

alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil. Masa nifas

berlangsung selama kira-kira 6 minggu (Saifuddin, 2006,p.122). Pada masa ini

terjadi perubahan-perubahan , yaitu:

1) Perubahan fisik
2) Involusi uterus dan pengeluaran lokhea
3) Laktasi atau pengeluaran air susu ibu
4) Perubahan sistem tubuh lainnya
5) Perubahan psikologi

2.3 Tahapan masa nifas

Adapun tahapan masa nifas adalah :

1) Puerperium dini: Masa pemulihan, yakni saat-saat ibu diperbolehkan

berdiri dan berjalan-jalan.


2) Puerperium intermedial : Masa pemulihan menyeluruh dari organ -

organ genital, kira-kira antara 6-8 minggu.


3) Remote puerperium : Waktu yang diperlukan untuk pulih dan sehat

sempurna terutama apabila ibu selama hamil atau bersalin mempunyai

komplikasi.
Sebagai catatan, waktu untuk sehat sempurna bisa cepat bila kondisi

sehat prima, atau bisa juga berminggu-minggu, bulanan, bahkan tahunan, bila

ada gangguan-gangguan kesehatan lainnya (Suherni,2008, p.2)

2.4 Adaptasi Psikologis Ibu Nifas

Masa nifas merupakan masa yang paling kritis dalam kehidupan ibu

maupun bayi, diperkirakan bahwa 60% kematian ibu akibat kehamilan terjadi

setelah persalinan, dan 50% kematian masa nifas terjadi dalam 24 jam pertama.

Dalam memberikan pelayanan pada masa nifas, bidan menggunakan asuhan

yang berupa memantau keadaan fisik, psikologis, spiritual, kesejahteraan sosial

ibu/keluarga, memberikan pendidikan dan penyuluhan secara terus menerus.

Dengan pemantauan dan asuhan yang dilakukan pada ibu dan bayi pada masa

nifas diharapkan dapat mencegah atau bahkan menurunkan Angka Kematian

Ibu dan Angka Kematian Bayi.

Perubahan psikologis mempunyai peranan yang sangat penting. Pada

masa ini, ibu nifas menjadi sangat sensitive, sehingga diperlukan pengertian

dari keluarga-keluarga terdekat. Peran bidan sangat penting dalam hal memberi

pegarahan pada keluarga tentang kondisi ibu serta pendekatan psikologis yang

dilakukan bidan pada ibu nifas agar tidak terjadi perubahan psikologis yang

patologis.

Setelah proses kelahiran tanggung jawab keluarga bertambah dengan

hadirnya bayi yang baru lahir, dorongan serta perhatian anggota keluarga

lainnya merupakan dukungan positif bagi ibu. Dalam menjalani adaptasi

setelah melahirkan, ibu akan melalui fase-fase sebagai berikut :


1. Fase Taking In

Fase ini merupakan fase ketergantungan yang berlangsung dari hari

pertama sampai hari kedua setelah melahirkan. Pada saat ini fokus perhatian

ibu terutama pada bayinya sendiri. Pengalaman selama proses persalinan sering

berulang diceritakannya. Kelelahannya membuat ibu perlu cukup istirahat

untuk mencegah gejala kurang tidur, seperti mudah tersinggung. Hal ini

membuat ibu cenderung menjadi pasif terhadap lingkungannya.

Oleh karena itu kondisi ini perlu dipahami dengan menjaga

komunikasi yang baik. Pada fase ini, perlu diperhatikan pemberian ekstra

makanan untuk proses pemulihannya, disamping nafsu makan ibu yang

memang sedang meningkat.

2. Fase Taking hold

Fase ini berlangsung antara 3-10 hari setelah melahirkan. Pada fase

taking hold, ibu merasa khawatir akan ketidakmampuan dan rasa tanggung

jawabnya dalam merawat bayi. Selain itu perasaan yang sangat sensitive

sehingga mudah tersinggung jika komunikasinya kurang hati-hati. Oleh karena

itu ibu memerlukan dukungan karena sat ini merupakan kesempatan yang baik

untuk menerima berbagai penyuluhan dalam merawat diri dan bayinya

sehingga tumbuh rasa percaya diri.

3. Fase Letting Go

Fase ini merupakan fase menerima tanggung jawab akan peran

barunya yang berlangsung 10 hari setelah melahirkan. Ibu sudah mulai


menyesuaikan diri dengan ketergantungan bayinya. Keinginan untuk merawat

diri dan bayinya meningkat pada fase ini.

Banyak ketakutan dan kekhawatiran pada ibu yang baru melahirkan

terjadi akibat persoalan yang sederhana dan dapat diatasi dengan mudah atau

sebenarnya dapat dicegah oleh staf keperawatan, pengunjung dan suami, bidan

dapat mengantisipasi hal-hal yang bias menimbulkan stress psikologis. Dengan

bertemu dan mengenal suami serta keluarga ibu, bidan akan memiliki

pandangan yang lebih mendalam terhadap setiap permasalahan yang

mendasarinya.

Fase-fase adaptasi ibu nifas yaitu taking in, taking hold dan letting go

yang merupakan perubahan perasaan sebagai respon alami terhadap rasa lelah

yang dirasakan dan akan kembali secara perlahan setelah ibu dapat

menyesuaikan diri dengan peran barunya dan tumbuh kembali pada keadaan

normal.

Walaupun perubahan-perubahan terjadi sedemikian rupa, ibu

sebaiknya tetap menjalani ikatan batin dengan bayinya sejak awal. Sejak dalam

kandungan bayi hanya mengenal ibu yang memberinya rasa aman dan nyaman

sehingga stress yang dialaminya tidak bertambah berat.

2.5. Perubahan Hormonal Dalam Masa Postpartum

2.5.1 Endokrinologi Laktasi

Dengan terjadinya pelahiran, terjadi penurunan yang tiba-tiba

kadarhormon progesteron dan estrogen. Penurunan ini menghentikan

pengaruh penghambatan progesterone terhadap produksi -laktalbumin oleh


reticulum endoplasma kasar. Peningkatan -laktalbumin menstimulasi lactose

sintase untuk meningkatkan laktosa susu. Terhentinya progesteron

menyebabkan efek prolaktin tidak terhambat terhadap stimulasi produksi -

laktalbumin.

Intensitas dan lama menyusui selanjutnya dikontrol, terutama oleh

stimulus menyusui yang berulang. Prolaktin penting untuk laktasi. Meskipun

kadar prolaktin plasma menurun setelah pelahiran ke kadar yang lebih rendah

daripada saat hamil, namun setiap bayi mengisap akan meningkatkan kadar

prolaktin. Stimulus dari payudara membatasi pelepasan dopamine dan

selanjutnya menginduksi peningkatan sekresi prolaktin sementara.

Neurohipofisis menyekresikan oksitosin secara pulsatil, yang

menstimulasi pengeluaran ASI dari payudara dengan menyebabkan kontraksi

sel mioepitel di alveolus dan duktus kecil. Letting down atau ejeksi susu

merupakan refleks yang dimulai terutama oleh pengisapan yang menstimulasi

neurohipofisis untuk melepaskan oksitosin. Refleks letting down dapat

ditimbulkan oleh tangisan bayi dan dapat dihambat oleh kecemasan ibu atau

stress. (Cunggingham FG, dkk, 2013).

1) Sumbu Hipotalamus Pituitary Adrenaly ( HPA AXIS)

HPA AXIS adalah bagian utama dari sistem Neuroendokrin (Saraf

pada hormon) yang mengontrol reaksi terhadap stress dan memiliki

fungsi penting dalam mengatur berbagai proses tubuh seperti pencernaan,

sistem kekebalan tubuh, suasana hati, emosi, seksualitas, dan


penyimpanan penggunaan energi. Sumbu HPA juga terlibat dalam

gangguan kecemasan, gangguan bipolar, pasca-traumatic stress disorder,

depresi klinis, kelelahan dan sindrom iritasi usus besar.

2) Elemen-elemen penting dari sumbu HPA adalah:

Paraventrikular dari hipotalamus, yang berisi neuron

neuroendokrin yang mensintesis dan mengeluarkan vasopresin serta

corticotropin-releasing hormon (CRH). Secara khusus, CRH dan

vasopresin merangsang sekresi hormon adenokortikotropik (ACTH).

ACTH pada gilirannya bekerja pada adrenal korteks yang menghasilkan

hormon glukokortikoid (terutama kortisol pada manusia) dengan stimulasi

ACTH. CRH dan vasopresin yang dilepaskan dari terminal saraf

neurosecretory di eminensia median, diangkut ke hipofisis anterior

melalui sistem pembuluh darah portal dari tangkai hypophyseal.

CRH dan vasopresin bertindak sinergis untuk merangsang

sekresi ACTH yang tersimpan dari sel corticotrope. ACTH diangkut oleh

darah ke korteks adrenal kelenjar adrenal, di mana ia cepat merangsang

biosintesis kortikosteroid dari kolesterol. Kortisol memiliki efek pada

banyak jaringan dalam tubuh, termasuk pada otak. Di otak, kortisol

bekerja pada dua jenis reseptor reseptor mineralokortikoid dan reseptor

glukokortikoid, dan ini diungkapkan oleh berbagai jenis neuron. Salah

satu target penting dari glukokortikoid adalah hippocampus, yang

merupakan pusat pengendali utama dari sumbu HPA.

Pelepasan CRH dari hipotalamus dipengaruhi oleh stres, dengan

tingkat kortisol darah dan oleh siklus tidur / bangun. Pada individu sehat,
kortisol meningkat pesat setelah bangun tidur yang hingga mencapai

puncaknya dalam waktu 30-45 menit. Ini kemudian secara bertahap

mengurang sepanjang hari dan naik lagi pada sore hari. Tingkat cortisol

kemudian sangat rendah pada larut malam. Sebuah siklus normal rata

kortisol sirkadian telah dikaitkan dengan sindrom kelelahan kronis,

insomnia, dan kelelahan .

Koneksi anatomis antara amigdala, hipokampus, dan hipotalamus

memfasilitasi aktivasi dari sumbu HPA. Informasi sensorik tiba di aspek

lateral amigdala diproses dan disampaikan ke inti pusat, yang proyek ke

beberapa bagian otak yang terlibat dalam respon terhadap rasa takut.

Pada hipotalamus, ketakutan-sinyal impuls mengaktifkan kedua sistem

saraf simpatik dan sistem modulasi dari sumbu HPA.

Peningkatan produksi kortisol menengahi reaksi alarm stres,

memfasilitasi fase adaptif dari sindrom adaptasi umum di mana reaksi

alarm ditekan, memungkinkan tubuh untuk mencoba penanggulangan.

Glukokortikoid memiliki fungsi penting, termasuk modulasi

reaksi stres, tetapi bila berlebihan dapat merusak. Kekurangan dari

hippocampus dapat mengurangi sumber daya memori yang tersedia

untuk membantu tubuh merumuskan reaksi yang tepat terhadap stres.

Sumbu HPA terlibat dalam neurobiologi gangguan mood dan

penyakit fungsional, termasuk gangguan kecemasan, gangguan bipolar,

pasca-traumatic stress disorder, depresi klinis, kelelahan, sindrom

kelelahan kronis dan sindrom iritasi usus besar.


Penelitian eksperimental telah menyelidiki berbagai jenis stres,

dan efek mereka pada aksis HPA dalam situasi yang berbeda. Perbedaan

sering dibuat antara stres sosial dan stres fisik, namun kedua jenis

tetap mengaktifkan aksis HPA, meskipun melalui jalur yang berbeda.

Beberapa neurotransmiter penting dalam mengatur sumbu HPA, terutama

dopamin, serotonin dan norepinefrin (noradrenalin).

Secara ringkas, perubahan hormon dalam masa nifas sebagai berikut:

a. Oksitosin

Oksitosin disekresikan dari kelenjar otak bagian belakang. Selama

tahap kala III persalinan, hormon oksitosin berperan dalam pelepasan

plasenta dan mempertahankan kontraksi, sehingga mencegah pendarahan.

Isapan bayi dapat meransang produksi ASI dan sekresi oksitosin yang dapat

membantu uterus kembali kebentuk normal.

b. Prolaktin

Menurunnya kadar estrogen menimbulkan terangsangnya kelenjar

pituitari bagian belakang untuk mengeluarkan prolaktin. Hormon ini berperan

dalam pembesaran payudara untuk meransang produksi susu. Pada wanita

yang menyusui bayinya, kadar prolaktin tetap tinggi dan pada permulaan ada

rangsangan folikel dalam ovarium yang ditekan. Pada wanita yang tidak

menyusui tingkat sirkulasi prolaktin menurun dalam 14 sampai 21 hari

setelah persalinan, sehingga merangsang klenjar bawah depan otak yang

mengontrol ovarium kearah permulan pola produksi estrogen dan progesteron

yang normal, pertumbuhan folikel ovulasi, dan menstruasi.


c. Estrogen dan Progesteron

Selama hamil volume darah normal meningkat walaupun

mekanismenya secara penuh belum dimengerti. Diperkirakan bahwa tingkat

estrogen yang tinggi memperbesar hormon antidiuretik yang meningkatkan

volume darah. Disamping itu, progesteron mempengaruhi otot halus yang

mengurangi perangsangan dan peningkatan pembuluh darah yang sangat

mempengaruhi saluran kemih, ginjal, usus, dinding vena, dasar panggul,

perineum dan vulva, serta vagina.

d. Hormon plasenta

Hormon plasenta menurun dengan cepat setelah persalinan. Human

chorionic gonadotropin (HCG) menurun dengan cepat dan menetap sampai

10% dalam 3 jam hingga hari ke 7 postpartum dan sebagai omset pemenuhan

mammae pada hari ke 3 postpatum. Penuruan hormone human plecenta

lactogen (Hpl), estrogen dan kortiosol, serta placenta enzyme insulinasi

memballik efek diabetogenik kehamilan, sehingga kadar gula darah menurun

secara yang bermakna pada pasa puerperium. Kadar estrogen dan

progesterone menurun secara mencolok setelah plasenta keluar, kadar

terendahnya di capai kira-kira satu minggu pacapartum. Penurunan kadar

ekstrogen berkaitan dengan pembekakan payuudara dan dieresis ekstraseluler

berlebih yang terakumulasi selam masa hamil. Pada wanita yang tidak

melahirkan tidak menyusui kadar ekstrogen mulai meningkat pada minggu ke

2 setelah melahirkan dan lebih tinggi dari pada wanita yang menyusui pada

postpartum hari ke 17

e. Hormon Hipofisis dan Fungsi Ovarium


Waktu mulainya ovulasi dan menstruasi pada wanita menyusui dan

tidak menyusui berbeda. Kadar proklatin serum yang tinggi pada wanita

menyusui tampaknya berperan dalam menekan opulasi karena kadar hormone

FSH terbukti sama pada wanita menyusui dan tidak menyusui, di simpulkan

ovarium tidak berespon terhadap stimulasi FSH ketika kadar prolaktin

meningkat. Kadar prolaktin meningkat secara pogresif sepanjang masa hamil.

Pada wanita menyusui kadar prolaktin tetap meningkat sampai minggu ke 6

setelah melahirkan. Kadar prolaktin serum dipengaruhi oleh kekerapan

menyusui, lama setiap kali menyusui dan banyak makanan tambahan yang

diberikan. Untuk wanita yang menyusui dan tidak menyusui akan

mempengaruhi lamnya ia mendapatkan menstruasi. Sering kali menstruasi

pertama itu bersifat anovulasi yang dikarenakan rendahnya kadar estrogen

dan progesteron. Di antara wanita laktasi sekitar 15 % memperoleh

menstruasi selama 6 minggu dan 45% setelah 12 minggu dan 90% setelah 24

minggu. Untuk wanita laktasi 80% menstruasi pertama anovulasi dan untuk

wanita yang tidak laktasi 50% siklus pertama anovulasi

2.5.2 Perubahan Hormonal Yang Memicu Depresi Post Partum

Selama kehamilan, tingkat hormon estrogen dan progesteron

meningkat tajam. Namun, dalam waktu sekitar 24 jam setelah melahirkan,

tingkat kedua hormon tersebut kembali normal dengan cepat. Penurunan

kadar hormon tiroid pasca melahirkan juga menjadi faktor terjadinya depresi

postpartum. Rendahnya tingkat hormon tiroid umum dikaitkan dengan gejala

depresi.
Selain itu, ada juga hipotesis yang mengatakan bahwa penurunan

kadar insulin pasca melahirkan memiliki peran dalam memicu depresi

postpartum. Tepat sebelum proses melahirkan, kadar insulin mencapai

puncaknya dan kemudian dengan cepat kembali normal setelah kelahiran

bayi.

Hasil beberapa penelitian menunjukkan bahwa insulin memengaruhi

sekresi serotonin yang diyakini terlibat dalam pengaturan suasana

hati.Diperkirakan bahwa penurunan cepat kadar insulin ketika melahirkan,

entah bagaimana caranya mempengaruhi pelepasan serotonin sehingga

menyebabkan depresi.

Timbulnya depresi dihubungkan dengan peran beberapa

neurotransmiter aminergik. Neurotransmiter yang paling banyak diteliti ialah

serotonin. Konduksi impuls dapat terganggu apabila terjadi kelebihan atau

kekurangan neurotransmiter di celah sinaps atau adanya gangguan sensitivitas

pada reseptor neurotransmiter tersebut di post sinaps sistem saraf pusat.

Pada depresi telah di identifikasi 2 sub tipe reseptor utama serotonin

yaitu reseptor 5HTIA dan 5HT2A. Kedua reseptor inilah yang terlibat dalam

mekanisme biokimiawi depresi dan memberikan respon pada semua

golongan anti depresan.

Pada penelitian dibuktikan bahwa terjadinya depresi disebabkan

karena menurunnya pelepasan dan transmisi serotonin (menurunnya

kemampuan neurotransmisi serotogenik).


Beberapa peneliti menemukan bahwa selain serotonin terdapat pula

sejumlah neurotransmiter lain yang berperan pada timbulnya depresi yaitu

norepinefrin, asetilkolin dan dopamin. Sehingga depresi terjadi jika terdapat

defisiensi relatif satu atau beberapa neurotransmiter aminergik pada sinaps

neuron di otak, terutama pada sistem limbik. Oleh karena itu teori biokimia

depresi dapat diterangkan sebagai berikut :

1. Menurunnya pelepasan dan transport serotonin atau menurunnya

kemampuan neurotransmisi serotogenik.

2. Menurunnya pelepasan atau produksi epinefrin, terganggunya regulasi

aktivitas norepinefrin dan meningkatnya aktivitas alfa 2 adrenoreseptor

presinaptik.

3. Menurunnya aktivitas dopamin.

4. Meningkatnya aktivitas asetilkolin.

2.6 Post Partum Blues

2.6.1 Post partum blues

Ada kalanya ibu mengalami perasaan sedih yang berkaitan dengan

bayinya. Keadaan ini disebut baby blues, yang disebabkan oleh perubahan

perasaan yang dialami ibu saat hamil sehingga sulit menerima kehadiran

bayinya. Perubahan perasaan ini merupakan respon alami terhadap rasa lelah

yang dirasakan. Selain itu, juga karena semua perubahan fisik dan emosional

selama beberapa bulan kehamilan.


Disini hormon memainkan peranan utama dalam hal bagaimana ibu bereaksi

terhadap situasi yang berbeda. Setelah melahirkan dan lepasnya plasenta dari

dinding rahim, tubuh ibu mengalami perubahan besar dalam jumlah hormone

sehingga membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri.

Disamping perubahan fisik, hadirnya seorang bayi dapat membuat

perbedaan besar pada kehidupan ibu dalam hubungannya dengan suami,

orang tua, maupun anggota keluarga lain. Perubahan ini akan kembali secara

perlahan setelah ibu dapat menyesuaikan diri dengan peranan barunya dan

tumbuh kembali dalam keadaan normal.

Post partum blues ini dialami 80% wanita setelah bersalin yaitu

merupakan semacam perasaan sedih atau uring-uringan yang melanda ibu dan

timbul dalam jangka waktu dua hari sampai dua minggu pasca persalinan.

Etiologi : berbagai perubahan yang terjadi

dalam tubuh wanita selama kehamilan dan

perubahan cara hidupnya sesudah

mempunyai bayi, perubahan hormonal,

adanya perasaan kehilangan secara fisik

sesudah melahirkan yang menjurus pada

suatu perasaan sedih.

Pospartum blues adalah keadaan dimana ibu merasa sedih berkaitan

dengan bayinya disebut baby blues. Penyebabnya antara lain: perubahan

perasaan saat hamil, perubahan fisik dan emosional. Perubahan yang ibu alami

akan kembali secara perlahan setelah beradaptasi dengan peran barunya.

a. Gejala baby blues antara lain:


1. Menangis

2. Perubahan perasaan

3. Cemas

4. Kesepian

5. Khawatir dengan bayinya

6. Penurunan libido

7. Kurang percaya diri

b. Hal-hal yang disarankan pada ibu adalah sebagai berikut:

1. Minta bantuan suami atau keluarga jika ibu ingin istirahat

2. Beritahu suami tentang apa yang dirasakan oleh ibu

3. Buang rasa cemas dan khawatir akan kemampuan merawat bayi

4. Meluangkan waktu dan cari hiburan untuk diri sendiri, Ibu

merasakan kesedihan karena kebebasan, otonomi, interaksi sosial,

kurang kemandirian.

Hal ini akan mengakibatkandepresi pasca persalinan (depresi postpartum).

Depresi masa nifas merupakan gangguan afeksi yang sering terjadi pada

masa nifas, dan tampak dalam minggu pertama pasca persalinan.

Insiden depresi post partum sekitar 10-15 persen. Post partum blues disebut

juga maternity blues atau sindrom ibu baru. Keadaan ini merupakan hal yang

serius, sehingga ibu memerlukan dukungan dan banyak istirahat.

Adapun gejala dari depresi post partum adalah.


1) Sering menangis

2) Sulit tidur

3) Nafsu makan hilang

4) Gelisah

5) Perasaan tidak berdaya atau hilang control

6) Cemas atau kurang perhatian pada bayi

7) Tidak menyukai atau takut menyentuh bayi

8) Pikiran menakutkan mengenai bayi

9) Kurang perhatian terhadap penampilan dirinya sendiri

10) Perasaan bersalah dan putus harapan (hopeless)

11) Penurunan atau peningkatan berat badan

12) Gejala fisik, seperti sulit bernafas atau perasaan berdebar-debar

c. Beberapa faktor predisposisi terjadinya depresi postpartum adalah sebagai

berikut.

1. Perubahan hormonalyangcepat(yaitu hormon prolaktin, steroid, proges

teron dan estrogen

2. Masalah medis dalam kehamilan (PIH,diabetes melitus, disfungsi

tiroid)

a) Karakter pribadi (harga diri, ketidakdewasaan)

b) Marital dysfunction atau ketidakmampuan membina

hubungan dengan orang lain

c) Riwayat depresi, penyakit mental dan alkoholik


d) Unwanted pregnancy

e) Terisolasi

f) Kelemahan, gangguan tidur, ketakutan terhadap masalah

keuangan keluarga, kelahiran anakdengan kecacatan/penyakit

Jika ibu mengalami gejala-gejala di atas, maka segeralah memberitahu

suami, bidan atau dokter.Penyakit ini dapat disembuhkan dengan obat-

obatan atau konsultasi dengan psikiater. Perawatan di rumah sakit akan

diperlukan apabila ibu mengalami depresi berkepanjangan.

d. Beberapa intervensi yang dapat membantu ibu terhindar dari depresi post

partum antara lain:

1) Pelajari diri sendiri

2) Tidur dan makan yang cukup

3) Olahraga

4) Hindari perubahan hidup sebelum atau sesudah melahirkan

5) Beritahukan perasaan Anda

6) Dukungan keluarga dan orang lain

7) Persiapan diri yang baik

8) Lakukan pekerjaan rumah tangga

9) Dukungan emosional

10) Dukungan kelompok depresi post partum

11) Bersikap tulus ikhlas dalam menerima peran barunya


2.6.2 Depresi Berat

a. Pengertian

Depresi berat disebut juga dengan sindrom depresif non psikotik

pada kehamilan sampai beberapa minggu/bulan setelah kelahiran.

1) Gejala-gejala depresi berat antara lain:

a) Perubahan mood

b) Gangguan tidur dan pola makan

c) Perubahan mental dan libido

d) Pobhia, ketakutan menyakiti diri sendiri atau bayinya

2) Penatalaksanaan depresi berat adalah sebagai berikut:

a) Dukungan keluarga dan sekitar

b) Terapi psikologis

c) Kolaborasi dengan dokter

d) Perawatan rumah sakit

e) Hindari rooming in dengan bayinya

2.6.3 Psikosis Post Partum

Insiden psikosis post partum sekitar 1-2 per 1000 kelahiran. Rekurensi dalam

masa kehamilan 20-30 persen. Gejala psikosis post partum muncul beberapa

hari sampai 4-6 minggu post partum.

a. Faktor penyebab psikosis post partum antara lain:

1) Riwayat keluarga penderita psikiatri


2) Riwayat ibu menderita psikiatri

3) Masalah keluarga dan perkawinan

b. Gejala psikosis post partum sebagai berikut:\

1) Gaya bicara keras

2) Menarik diri dari pergaulan

3) Cepat marah

4) Gangguan tidur

c. Penatalaksanaan psikosis post partum adalah:

1) Pemberian anti depresan

2) Berhenti menyusui

3) Perawatan di rumah sakit

d. Penyebab yang menonjol adalah :

1) Kekecewaan emosional yang mengikuti rasa puas dan takut yang

dialami kebanyakan wanita selama kehamilan dan persalinan.

2) Rasa sakit pada masa nifas

3) Kelelahan karena kurang tidur selama persalinan

4) Kecemasan ketidakmampuan merawat bayi setelah pulang dari

rumah sakit

5) Rasa takut tidak menarik lagi bagi suami.


e. Gejala-gejalanya antara lain :

Sangat emosional, sedih, khawatir, kurang percaya diri, mudah

tersinggung, merasa hilang semangat, menangis tanpa sebab jelas,

kurang merasa menerima bayi yang baru dilahirkan, sangat kelelahan,

harga diri rendah, tidak sabaran, terlalu sensitive, mudah marah dan

gelisah.

2.6.4 Pendekatan yang dapat dilakukan seorang bidan :

a. Menciptakan ikatan antara bayi dan ibu sedini mungkin

b. Memberikan penjelasan pada ibu, suami dan keluarga bahwa hal ini

merupakan suatu hal yang umum dan akan hilang sendiri dalam dua

minggu setelah melahirkan.

c. Simpati, memberikan bantuan dalam merawat bayi dan dorongan pada

ibu agar tumbuh rasa percaya diri

d. Memberikan bantuan dalam merawat bayi

e. Menganjurkan agar beristirahat yang cukup dan makan makanan yang

bergizi. Post partum blues ini apabila tidak ditangani secara tepat

dapat menjadi lebih buruk atau lebih berat, post partum yang lebih

berat disebut post partum depresi (PPD) yang melanda sekitar 10%

ibu baru.

Gejala-gejalanya : sulit tidur bahkan saat bayi telah tidur, nafsu makan

hilang, perasaan tidak berdaya atau kehilangan control, terlalu cemas atau tidak

perhatian sama sekali pada bayi, tidak menyukai atau takut menyentuh bayi,

pikiran yang menakutkan mengenai bayi, sedikit atau tidak ada perhatian

terhadap penampilan pribadi, gejala fisik seperti banyak wanita sulit bernafas
atau perasaan berdebar-debar. Jika ditemukan sejak dini penyakit ini dapat

disembuhkan dengan obat-obatan dan konsultasi dengan psikiater, jika depresi

yang ibu alami berkepanjangan mungkin ibu perlu perawatan dirumah sakit.

Oleh karena itu penting sekali bagi seorang bidan untuk mengetahui gejala dan

tanda dari post partum blues sehingga dapat mengambil tindakan mana yang

dapat diatasi dan mana yang memerlukan rujukan kepada yang lebih ahli dalam

bidang psikologi.

2.6.5 Kesedihan Dan Dukacita

Berduka yang paling besar adalah

disebabkan karena kematian bayi meskipun

kematian terjadi saat kehamilan. Bidan harus

memahami psikologis ibu dan ayah untuk

membantu mereka melalui pasca berduka dengan

cara yang sehat. Berduka adalah

respon psikologis terhadap kehilangan. Proses berduka terdiri dari tahap atau fase

identifikasi respon tersebut. Tugas berduka, istilah ini diciptakan oleh Lidermann,

menunjukkan tugas bergerak melalui tahapproses berduka dalam menentukan

hubungan baru yang signifikan. Berduka adalah proses normal, dan

tugas berduka penting agar berduka tetap normal. Kegagalan untuk melakukan

tugas berduka, biasanya disebabkan keinginan untuk menghindari nyeri yang sangat

berat dan stress serta ekspresi yang penuh emosi. Seringkali menyebabkan

reaksi berduka abnormal atau patologis.

Tahap-tahap berduka:
a) Syok

Merupakan respon awal individu terhadap kehilangan.

Manifestasi perilaku dan perasaan meliputi: penyangkalan, ketidakpercayaan,

putus asa, ketakutan, ansietas, rasa bersalah, kekosongan, kesendirian, kesepian,

isolasi, mati rasa, intoversi (memikirkan dirinya sendiri) tidak rasional,

bermusuhan, kebencian, kegetiran, kewaspadaan akut, kurang inisiatif, tindakan

mekanis, mengasingkan diri, berkhianat, frustasi, memberontak dan kurang

konsentrasi.

Manifestasi klinis:

a. Gel distress somatik yang berlangsung selama 20-60 menit

b. Menghela nafas panjang

c. Penurunan berat badan

d. Anoreksia, tidur tidak tenang, keletihan, dan gelisah

e. Penampilan kurus dan tampak lesu

f. Rasa penuh di tenggorokan, tersedak, nafas pendek, nyeri dada, gemetaran

internal

g. Kelemahan umum dan kelemahan tertentu pada tungkai

b) Berduka

Ada penderitaan, fase realitas. Penerimaan terhadap fakta kehilangan

dan upaya terhadap realitas yang harus ia lakukan terjadi selama periode ini.

Contohnya orang yang berduka menyesuaikan diri dengan lingkungan tanpa


ada orang yang disayangi atau menerima fakta adanya pembuatan penyesuaian

yang diperlukan dalam kehidupan dan membuat perencanaan karena adanya

deformitas. Nyeri karena kehilangan dirasakan secara menyeluruh dalam

realitas yang memanjang dan dalam ingatan setiap hari, setiap saat dan

peristiwa yang mengingatkan. Ekspresi emosi yang penuh penting

untuk resolusi yang sehat. Menangis adalah salah satu bentuk pelepasan yang

umum. Selain masa ini, kehidupan orang yang berduka terus berlanjut. Saat

individu terus, melanjutkan tugas berduka. Dominasi kehilangan secara

bertahap menjadi ansietas terhadap masa depan.

c) Resolusi

Fase menentukan hubungan baru yang bermakna. Selama periode ini

seseorang yang berdukamenerima kehilangan, penyesuaian telah komplet dan

individu kembali pada fungsinya secara penuh. Kemajuan ini berasal dari

penanaman kembali emosi seseorang pada hubungan lain yang bermakna.

Manifestasi perilaku reaksi berduka abnormal atau patologis meliputi:

a. Menghindari dan distorsi pernyataan emosi berduka normal

b. Depresi agitasi, kondisi psikosomatik, mengalami gejala penyakit

menular atau terakhir yang diderita orang yang meninggal

c. Aktivitas yang merusak keberadaan sosial ekonomi individu

d. Mengalami kehilangan pola interaksi sosial

e. Tanggung jawab utama bidan dalam peristiwa kehilangan adalah

membagi informasi tersebut dengan orang tua. Bidan juga harus


mendorong dan menciptakan lingkungan yang aman untuk

pengungkapan emosi berduka. Jika kehilangan terjadi pada

awal kehamilan. Bidan dapat dipanggil untuk berpartisipasi dalam

perawatan.

d) Kemurungan Masa Nifas

Kemurunganmasa nifas disebabkan perubahan dalam tu

buh selama kehamilan, persalinan dannifas. Kemurungan

dalam masa nifas merupakan hal yang umum, perasaan-

perasaan demikian akan hilang dalam dua minggu

setelah melahirkan.

Tanda-tanda dan gejala kemurungan masanifas antara

lain: emosional, cemas, sedih, khawatir, mudah tersinggung,

cemas, hilang semangat, mudah marah, sedih tanpa sebab,

sering menangis. Etiologi: perubahan yang terjadi

dalam kehamilan, perubahan cara

hidup, perubahan hormonal.

Kemurungan dapat menjadi semakin parah

akibat ketidaknyamanan jasmani, rasa letih, stress, maupun

kecemasan.

Penatalaksanaan: bicarakan apa yang dialami ibu, temani ibu,

beri kesempatan ibu untukbertanya, berikan dorongan ibu


untuk merawat bayinya, biarkan ibu bersama dengan

bayinya, gunakan obat bila perlu.

Kemurungan dapat menjadi semakin parah oleh adanya

ketidaknyamanan jasmani, rasa letih, stress, atau kecemasan yang tidak

diharapkan karena adanya ketegangan dalam keluarga atau adanya cara

penanganan yang tidak peka oleh para petugas.

Penatalaksanaan secara tradisional dan kebidanan (mungkin saja

sama) bagi adanya kemurungan pada masa nifas. Berikan kesempatan luas

pada ibu yang baru untuk bertanya, bicarakan apa yang terjadi selama proses

persalinan dan biarkan ibu mengungkapkan apa yang dirisaukanya. Biarkan

bayi bersama ibunya, dan berikan dukungan atau dorongan pada ibu untuk

merawat bayinya.

Ibu yang mempunyai resiko tinggi yang mempunyai reaksi

psikologis lebih parah daripada kemurungan masa nifas adalah Ibu yang rasa

percaya dirinya rendah, ibu yang tidak mempunyai jaringan dukungan, ibu

yang bayinya meninggal atau menyandang masalah. Tanta-tanda dan gejala

ibu yang mengalami atau mempunyai reaksi psikologis yang lebih parah

daripadakemutungan masa nifas dan bagaimana penatalaksanaan

kebidananya?

Tanda-tanda dan gejala: Tidak bisa tidur atau tidak bernafsu makan,

merasa ia tidak dapat merawat dirinya sendiri atau bayinya, berfikir untuk

menciderai dirinya sendiri atau bayinya, dan seolah mendengar suara-suara

atau tidak dapat berfikir secara jernih, perilakunya aneh, kehilangan sentuhan
atau hubungan dengan kenyataan, halusinasi atau khayalan, dan menyangkal

bahwa bayi yang dilahirkan bukan anaknya.

Penatalaksanaan: Banyak perempuan dibawah depresi yang biasa

menanggapi atau dipengaruhi oleh dorongan atau bujukan dan dukungan fisik

yang diberikan oleh bidan atau anggota keluarganya. Bila seorang ibu tidak

bereaksi positif terhadap dorongan atau dukungan yang diberikan atau ia tetap

menunjukan perilaku aneh (mendengar suara-suara, berada diluar kenyataan,

halusinasi atau berkhayal, dan menolak bayinya) atau ia berfikir untuk

menciderai dirinya sendiri atau bayinya, ia harus dirujuk kepada seorang ahli

yang mampu menangani masalah psikologis. Ia mungkin memerlukan

pengobatan khusus untuk membantu mengatasi keaadaanya.

Terciptanya Ikatan Ibu Dan Bayi

Menciptakan terjadinya ikatan ibu dan bayi dalam jam pertama setelah

kelahiran adalah dengan cara mendorong pasangan untuk memegang dan

memeriksa bayinya, memberi komentar positif tentang bayinya, meletakan

bayinya disamping ibunya. Berikan privasi pada pasangan tersebut untuk

sendiri saja bersama bayinya kemudian redupkan lampu ruangan agar bayi

membuka matanya. Tangguhkan perawatan yang tidak begitu penting sampai

sesudah pasangan orangtua bayi, dapat berinteraksi dengan bayinya selama

masih dalam keadaan bangun.

Perilaku normal orang tua untuk menyentuh bayinya ketika mereka

pertama kali melihat bayinya yaitu dengan meraba atau menyentuh anggota

badab bayi dengan telapak tangan dan menggendongnya dilengan dan


memposisikanya sedemikian rupa sehingga matanya bertatapan langsung

dengan mata bayi.

BAB III
PEMBAHASAN JURNAL

3.1 Jurnal I : Depresi post-partum di Kinshasa , Republik Demokratik Kongo


: Validasi konsep menggunakan campuran - metode pendekatan lintas - budaya

Pada peelitian ini peneliti menemukan bahwa masalah seperti depresi pada

wanita di masa post-partum adalah membangun konseptual valid di Kinshasa dan

bahwa perempuan menyadari masalah ini dan menganggapnya sebagai halangan

penting bagi kesejahteraan mereka sendiri serta untuk anak-anak mereka . Peneliti

mampu untuk mengembangkan dan menguji validitas instrumen Barat dalam

lingkungan sumber daya rendah dan menemukan bahwa pengujian tersebut

diperlukan untuk menghasilkan instrumen yang akurat untuk konteks lokal .

Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan apakah sindrom depresi

post-partum ada di antara ibu-ibu di Kinshasa, Republik Demokratik Kongo, dengan

mengadaptasi dan memvalidasi instrumen skrining standar. metode Menggunakan

teknik wawancara kualitatif, Peneliti mewawancarai sampel kenyamanan dari 80

perempuan yang tinggal di sebuah komunitas pinggiran kota besar untuk lebih

memahami konsepsi lokal penyakit mental. Peneliti menggunakan informasi ini


untuk menyesuaikan dua pemeriksa depresi standar, Edinburgh Post-partum

Depression Scale dan Hopkins Gejala Checklist. Dalam sebuah studi kuantitatif

berikutnya, Peneliti mengidentifikasi lain 133 wanita dengan dan tanpa sindrom

depresi lokal dan menggunakan informasi ini untuk memvalidasi instrumen skrining

yang disesuaikan. Hasil Berdasarkan data kualitatif, Peneliti menemukan sindrom

lokal yang mendekati model Barat depresi besar. Para wanita yang kami wawancarai,

wakil dari penduduk lokal, dianggap ini sindrom penting di antara ibu-ibu yang baru

karena negatif mempengaruhi perempuan dan anak-anak mereka. Perempuan (n =

41) diidentifikasi sebagai menderita sindrom ini memiliki skor depresi keparahan

statistik signifikan lebih tinggi pada kedua pemeriksa diadaptasi dari wanita

diidentifikasi sebagai tidak memiliki sindrom ini (n = 20; P <0,0001). kesimpulan

Ketika tidak jelas atau tidak diketahui jika model Barat psikopatologi yang tepat

untuk digunakan dalam konteks lokal, model ini harus divalidasi untuk memastikan

penerapan lintas-budaya. Menggunakan pendekatan campuran-metode kami

menemukan sindrom lokal yang mirip dengan depresi dan instrumen divalidasi untuk

menyaring gangguan ini. Karena pentingnya kesehatan mental terganggu dalam

mengembangkan dunia popu-lations menjadi diakui, metode yang dijelaskan dalam

laporan ini akan berguna lebih luas.

3.2 JURNAL II : EFEKTIFITAS KUNJUNGAN NIFAS TERHADAP

PENGURANGAN KETIDAKNYAMANAN FISIK YANG TERJADI PADA

IBU SELAMA MASA NIFAS

Proses kehamilan dan persalinan adalah proses yang fisiologis dialami oleh

hampir semua wanita, begitu pula masa nifas. Dalam masa nifas ini tidak sedikit ibu
yang mengalami problem kesehatan seperti nyeri, bengkak pada kaki,

ketidakmampuan menyusui, dan nutrisi. Budaya dan mitos yang kadang kurang

menguntungkan kesehatan ibu di masa nifas masih menjadi problema. Kegagalan

dalam fase ini memungkinkan ibu tidak memiliki kemampuan dalam mengasuh diri

dan bayinya. Oleh karena itu, pemerintah mengupayakannya melalui kunjungan

nifas, diharapkan dari kunjungan ini terdeteksi problema kesehatan yang dialami

oleh ibu selama masa nifas. Cakupan pelayanan nifas pada tahun 2009 mengalami

penurunan. Bidan mempunyai peran yang sangat penting dalam masa ini melalui

pendidikan kesehatan, monitoring, dan deteksi dini bahaya nifas. Berbagai kendala

yang dihadapi oleh bidan pada kunjuungan nifas adalah waktu untuk mengunjungi

pasien, rasio bidan yang tidak sesuai dengan jumlah pasien yang dilayani, letak

geografis dan sarana transportasi yang kurang mendukung.

Efektivitas asuhan masa nifas merupakan evaluasi efektifitas asuhan

didasarkan pada harapan pasien yang diidentifikasi saat merencanakan asuhan

kebidanan. Bidan dapat merasa cukup yakin bahwa asuhan yang diberikan cukup

efektif, jika hasil akhir beriku init dapat dicapai, diantaranya adalah

1) Ibu postpartum mengalami pemulihan fisiologis tanpa komplikasi

2) Ibu postpartum menyebutkan pengetahuan dasar yang akurat mengenai

cara menyusui

3) Ibu postpartum mendemonstrasikan perawatan yang tepat untuk diri dan

bayinya

4) Ibu berinteraksi positif terhadap satu sama lain (bayi dan anggota keluarga

yang lain)

Ketidaknyamanan fisik dalam masa nifas


Terdapat beberapa ketidaknyamanan pada masa nifas. Meskipun dianggap

normal, ketidaknyamanan tersebut dapat menyebabkan distres fisik yang bermakna.

1. Nyeri setelah melahirkan

2. Keringat berlebih

3. Pembesaran payudara

4. Nyeri perineum

5. Konstipasi

6. Hemoroid

Asuhan kebidanan pada masa nifas diberikan untuk meningkatkan

kesejahteraan fisik dan psikologis ibu. Monitoring ibu nifas terbukti

berhubungan dengan kejadian morbiditas nifas karena dapat memonitor

keluhan atau kejadian morbiditas ibu sehingga dengan monitoring ibu yang

baik dapat dideteksi morbiditas ibu lebih banyak. Kunjungan nifas minimal

dilakukan sebanyak empat kali untuk menilai keadaan ibu dan bayi baru lahir

dan untuk mencegah, mendeteksi dan menangani masalah-masalah yang

terjadi. Distribusi kunjungan dilakukan pada enam sampai delapan jam setelah

melahirkan, hari ke enam postpartum, minggu kedua postpartum, dan enam

minggu postpartum.

Kunjungan postpartum mempunyai keuntungan bagi bidan agar dapat

merencanakan konseling kesehatan sedangkan keterbatasan kunjungan terletak

pada biaya, jumlah bidan dan keamanan saat berkunjung ke rumah ibu.

Efektifitas asuhan masa nifas dapat diukur dari proses pemulihan fisiologis ibu,

pengetahuan dasar tentang tehnik menyusui yang dimiliki oleh ibu,

kemampuan ibu dalam melakukan perawatan yang tepat untuk diri juga
bayinya, dan kemampuan ibu untuk berinteraksi terhadap bayi serta anggota

keluarganya.

Pada masa nifas terjadi perubahan fisiologis pada uterus, lokia, vagina

dan perineum, payudara, sistem gastrointestinal, sistem renal, sistem

hematologi, penurunan berat badan, tanda-tanda vital, dan dinding abdomen.

Ibu nifas membutuhan nutrisi, proses eliminasi, personal higiene, ambulasi,

aktivitas seksual, istirahat dan latihan/senam nifas agar masa nifas berlangsung

baik.

Sebanyak 76% wanita mengalami sedikitnya satu masalah kesehatan

delapan minggu setelah melahirkan. Selama masa nifas ibu dapat mengalami

rasa tidak nyaman seperti nyeri setelah melahirkan, keringat berlebih,

pembengkakan payudara, konstipasi, hemoroid dan nyeri perineum.


BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan

Hal-hal yang dapat membantu ibu dalam beradaptasi pada masa nifas adalah sebagai

berikut. :

1. Fungsi menjadi orang tua. Respon dan dukungan dari keluarga. Riwayat dan

pengalaman kehamilan serta persalinan. Harapan, keinginan dan inspirasi saat

hamil dan melahirkan.

2. Fase-fase yang akan dialami oleh ibu pada masa nifas antara lain: Fase Taking In

Fase ini merupakan merupakan periode ketergantungan. Pada saat ini fokus

perhatian ibu terutama pada bayinya sendiri. Fase Taking Hold.Fase ini adalah

periode yang berlangsung antara 3 10 hari pascapersalinan. Dalam fase ini,

secara bergantian muncul kebutuhan untuk mendapat perawatan dan penerimaan

dari orang lain dan keinginan untuk bisa melakukan segala sesuatu secara mandiri.

Fase Letting Go. Pada fase ini, ibu dan keluarganya bergerak maju sebagai suatu

sistem dengan para nggota saling berinteraksi.

1. Gangguan Psikologis Ibu Dalam Masa Nifas Depresi pascapersalinan (Post

Partum Blues).

2. Cara Mengatasi Gangguan Psikologis Ibu Dalam Masa Nifas Depresi

pascapersalinan (Post Partum Blues) Mempersiapkan persalinan dengan


lebih baik dengan cara pendekatan terapeutik dengan cara peningkata

support mental/dukungan keluarga.

3. Berikan dukungan emosional kepada ibu dan jangan mengabaikan ibu bila

terlihat sedang sedih.

4. Menyarankan pada ibu untuk beristirahat dengan baik dan berolahraga yang

ringan.

5. Hendaknya anggota keluarga harus lebih memperhatikan kondisi dan

keadaan ibu.

6. Sarankan kepada pasien untuk istirahat cukup dan mengkonsumsi makanan

dengan gizi yang seimbang.

4.2 SARAN

Diharapkan makalah ini dapat menjadi informasi dan referensi dalam

meningkatkan kualitas pelayanan kebidanan pada masa nifas, terutama dalam hal

pencegahan masalah psikososial.


DAFTAR PUSTAKA

Ambarwati, 2008. Asuhan Kebidanan Nifas. Yogyakarta: Mitra Cendikia. (hlm: 87-
96).

Irhami. 2010. Proses Adaptasi Psikologis Ibu Masa Nifas. zikra-


myblog.blogspot.com/2010/06/zikra-proses-adaptasi-psikologis-
ibu.html Diunduh 25 September 2013 Pukul 12.45 PM

Saleha, 2009. Asuhan Kebidanan Pada Masa Nifas. Jakarta: Salemba Medika (hlm:
63-69).

Suherni, 2007. Perawatan Masa Nifas. Yogyakarta: Fitramaya. (hlm: 85-100).


The_wie. 2009. Proses Adaptasi Psikologis Ibu Dalam
Masa Nifas.the2w.blogspot.com/2009/10/proses-adaptasi-psikologis-
ibu-dalam.html Diunduh 23 Septemeber 2013 Pukul 13.30 PM

Walsh, Linda. V. 2003. Buku Ajar Kebidanan Komunitas. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC.
LAMPIRAN 1
(Jurnal 1)
JURNAL 1

Tropical Medicine and International Health doi:10.1111/j.1365-3156.2008.02160.x

volume 13 no 12 pp 15341542 december 2008

Depresi post-partum di Kinshasa , Republik Demokratik Kongo : Validasi konsep menggunakan campuran - metode
pendekatan lintas - budaya

1 2 3 4 5
Judith K. Bass , Robert W. Ryder , Marie-Christine Lammers , Thibaut N. Mukaba and Paul A. Bolton

1 Department of Mental Health, Johns Hopkins Bloomberg School of Public Health, Baltimore, MD, USA 2
Department of Medicine, University of California, San Diego, CA, USA

3 Centre for Ethnopsychology and Psychoanalysis, Port Gentil, Gabon

4 Health programs, United States Agency for International Development (USAID), Democratic Republic of Congo
5 Department of International Health, Johns Hopkins Bloomberg School of Public Health, Baltimore, MD, USA

ABSTRAK Tujuan Ringkasan Untuk menentukan apakah sindrom depresi post-partum ada di antara ibu-ibu di
Kinshasa, Republik Demokratik Kongo, dengan mengadaptasi dan memvalidasi instrumen skrining
standar. metode Menggunakan teknik wawancara kualitatif, kami mewawancarai sampel kenyamanan
dari 80 perempuan yang tinggal di sebuah komunitas pinggiran kota besar untuk lebih memahami
konsepsi lokal penyakit mental. Kami menggunakan informasi ini untuk menyesuaikan dua pemeriksa
depresi standar, Edinburgh Post-partum Depression Scale dan Hopkins Gejala Checklist. Dalam
sebuah studi kuantitatif berikutnya, kami mengidentifikasi lain 133 wanita dengan dan tanpa sindrom
depresi lokal dan menggunakan informasi ini untuk memvalidasi instrumen skrining yang disesuaikan.
Hasil Berdasarkan data kualitatif, kami menemukan sindrom lokal yang mendekati model Barat
depresi besar. Para wanita yang kami wawancarai, wakil dari penduduk lokal, dianggap ini sindrom
penting di antara ibu-ibu yang baru karena negatif mempengaruhi perempuan dan anak-anak mereka.
Perempuan (n = 41) diidentifikasi sebagai menderita sindrom ini memiliki skor depresi keparahan
statistik signifikan lebih tinggi pada kedua pemeriksa diadaptasi dari wanita diidentifikasi sebagai
tidak memiliki sindrom ini (n = 20; P <0,0001). kesimpulan Ketika tidak jelas atau tidak diketahui jika
model Barat psikopatologi yang tepat untuk digunakan dalam konteks lokal, model ini harus divalidasi
untuk memastikan penerapan lintas-budaya. Menggunakan pendekatan campuran-metode kami
menemukan sindrom lokal yang mirip dengan depresi dan instrumen divalidasi untuk menyaring
gangguan ini. Karena pentingnya kesehatan mental terganggu dalam mengembangkan dunia popu-
lations menjadi diakui, metode yang dijelaskan dalam laporan ini akan berguna lebih luas.

kata kunci Republik Demokratik Kongo, kesehatan mental, ibu, validitas

Pengantar layanan gawat darurat (Field et al 1990;. Stein et al.


1991; Flynn et al. 2004). Penelitian dari negara-negara
Depresi ibu negatif mempengaruhi baik ibu berkembang menunjukkan bahwa depresi perinatal
dan anak-anaknya (Dybdahl 2001; Anoop et al 2004;. kontribusi untuk penyakit bayi dan gangguan
Patel et al 2004.). Penelitian dari negara-negara Barat pertumbuhan (Black et al 2007;. Patel et al 2004;.
menunjukkan bahwa depresi ibu terkait dengan ikatan Rahman et al, 2002.). Sebagai tingkat kematian perinatal
miskin antara ibu dan anak, hilang janji pediatrik, miss- dan bayi di banyak negara berkembang negara yang
ing diperlukan vaksinasi, dan lebih sering menggunakan tinggi, ibu kesejahteraan sangat penting dalam
mempromosikan kelangsungan hidup anak. Apa yang metode wawancara
tidak jelas dari studi ini adalah penerapan dan utilitas
dari definisi Western standar depresi dengan Menggunakan teknik yang dijelaskan di
pengalaman perinatal perempuan dari budaya non-Barat. tempat lain ( Wilk & Bolton 2002; . Murray et al 2006) ,
Menyadari pengaruh budaya pada bawah-berdiri dan kami mewawancarai sampel kenyamanan dari 80 ibu
ekspresi penyakit mental merupakan bagian integral dari yang telah melahirkan seorang anak yang tinggal dalam
melakukan penelitian dan pemrograman berlaku untuk 2 tahun sebelumnya . Wanita-wanita ini adalah antar -
gangguan mental di negara berkembang (Bass et al. dilihat menggunakan Listing Gratis , metode yang
2007). Kami menyajikan proses multi-metode untuk menghasilkan daftar jawaban dalam menanggapi
memvalidasi keberadaan sindrom depresi pasca- pertanyaan utama tunggal ( Bernard 2005) . Setiap
melahirkan, gangguan sebelumnya tidak belajar di responden diminta dua gratis daftar pertanyaan : ' ? Apa
kalangan perempuan di Republik Demokratik Kongo. masalah utama wanita dengan bayi kurang dari 1 tahun
Untuk melakukan hal ini, kami mengembangkan alat usia ' dan ' Apa masalah utama wanita yang
penilaian kesehatan mental lokal valid dan reliabel mempengaruhi bayi dan anak-anak mereka ?
menggunakan pendekatan tim riset kami sebelumnya
telah digunakan di tempat lain di Afrika ( Bolton 2001a , Pertanyaan pertama yang dihasilkan daftar
b ; Wilk & Bolton 2002; . Murray et al 2006) . Kami masalah yang dihadapi ibu di tahun pertama post-
menjelaskan hasil eksplorasi kualitatif awal persepsi partum; kedua dihasilkan daftar masalah yang wanita-
Kongo pada keberadaan dan sifat dari post- partum wanita berpikir memiliki dampak langsung pada anak-
depresi seperti syn - syndrome lokal dan penggunaan anak mereka yang baru lahir. Untuk pertanyaan kedua,
data tersebut untuk beradaptasi alat penilaian . Kami responden diminta untuk merespon dengan masalah
kemudian menjelaskan evaluasi kuantitatif dari akurasi yang disebutkan sebelumnya serta menambahkan
dan validitas alat penilaian ( Gambar 1 ) dilakukan oleh masalah baru. Seiring dengan nama masalah dalam
pasang pewawancara dengan seorang wanita wawancara bahasa setempat, responden diminta untuk penjelasan
dan lainnya merekam tanggapan verbatim . Pada akhir singkat dari setiap masalah. Nama-nama masalah,
setiap hari pewawancara menerjemahkan wawancara bersama dengan singkat Pemaparan-tions, tercatat
dari Lingala ke dalam bahasa Prancis . Kata-kata dan verbatim di Lingala.
konsep-konsep yang sulit untuk menerjemahkan dibahas
antara pewawancara , dengan konsensus mengemudi Empat pertanyaan tambahan ditanya dari
terjemahan final. Semua wawancara oleh staf studi , masing-masing responden untuk menghasilkan daftar
termasuk seorang dokter Kongo fasih berbahasa kegiatan ibu dengan bayi yang baru lahir diharapkan
Prancis , Lingala dan Inggris untuk terlibat dalam Setiap pertanyaan yang
berhubungan dengan domain yang berbeda. Merawat
Metode diri, keluarga, bayi yang baru lahir, dan berpartisipasi
dalam kegiatan masyarakat. Data ini kemudian
Pengaturan dan pewawancara digunakan untuk menghasilkan pertanyaan untuk
menilai gangguan fungsional.
Penelitian dilakukan di daerah tangkapan air dari salah
satu klinik bersalin terbesar di Kinshasa , Kingasani Setelah daftar bebas masalah yang lengkap,
( populasi 2,5 juta ) . The Kingasani Klinik Bersalin responden diminta untuk memberikan informasi tentang
melakukan sekitar 9000 pengiriman per tahun dengan individu dari siapa perempuan mencari bantuan dalam
sekitar 90 % dari wanita-wanita yang mencari perawatan menyelesaikan masalah yang potensial berkaitan dengan
ante - natal ( umumnya pada akhir trimester kedua atau kesehatan mental (didefinisikan dalam penelitian ini
ketiga ) di klinik . Sepuluh perempuan Kongo sebagai masalah yang terkait dengan pemikiran,
pewawancara dilatih oleh penulis ( JB dan ML ) dalam perasaan, atau hubungan). Masalah ini digunakan untuk
metode wawancara kualitatif dan kuantitatif digunakan mengidentifikasi Key Infor-mants (KIS) untuk lebih
untuk penelitian ini . Semua pewawancara bilingual mendalam wawancara. Empat belas KIS diidentifikasi,
dalam bahasa lokal Lingala dan Perancis . yang terdiri dari pengobat tradisional, menteri, pendeta,
konselor pernikahan, dan wanita yang lebih tua lokal,
disebut sebagai 'mamas.' KI ini wawancara
mengumpulkan informasi rinci tentang masalah
studi kualitatif kesehatan mental pilih diidentifikasi dalam daftar gratis,
termasuk penyebab yang dirasakan, co -occurring gejala tanda-tanda tambahan dan gejala dari sindrom lokal
dan cara di mana orang-orang lokal mengobati masalah yang belum menjadi bagian dari pemeriksa tersebut
ini. Daripada melakukan wawancara mendalam untuk (Tabel 2 meliputi semua item kesehatan mental dalam
semua masalah yang teridentifikasi, hanya mereka yang instrumen) . Responden diminta untuk menunjukkan
diidentifikasi sebagai associ-diciptakan dengan seberapa sering mereka alami setiap gejala dalam 2
kesehatan mental dan khususnya yang berkaitan dengan minggu sebelumnya berdasarkan skala Likert 4-titik
periode perinatal dieksplorasi. Pilihan ini dibuat dalam mulai dari '0' menunjukkan 'tidak sama sekali' untuk '3'
diskusi dengan pewawancara dan staf studi akrab menunjukkan 'sangat sering. "Setelah uji coba dari
dengan penduduk dan kesehatan mental mereka. instrumen, dua item dijatuhkan karena kesulitan
Sepuluh KIS diwawancarai dua kali, karena mereka responden memahami gejala dalam konteks lokal. Ini
memiliki informasi lebih dari yang bisa ditangkap dalam adalah dua item bernada positif yang diambil dari
sebuah wawancara 1 jam tunggal EPDS, 'Anda telah mampu tertawa ketika sesuatu yang
lucu' dan 'Anda telah melihat ke depan untuk masa
analisis data kualitatif depan dengan kenikmatan. "Komponen kesehatan
mental akhir kuesioner termasuk 23 pertanyaan.
Masalah gratis daftar data kemudian dikonsolidasikan
ke dalam daftar ringkasan untuk setiap pertanyaan yang Gangguan psikologis didefinisikan baik oleh
termasuk berapa banyak responden melaporkan setiap kehadiran tanda dan gejala dan oleh gangguan dalam
masalah , peringkat dalam urutan penurunan jumlah satu atau lebih domain fungsi sehari-hari. Untuk menilai
responden . Daftar ini memberikan gambaran dari disfungsi kami mengembangkan skala gangguan
masalah utama , termasuk masalah kesehatan mental , fungsional berdasarkan pada empat daftar gratis yang
dari perspektif responden . Mendalam KI data tentang dieksplorasi konsep lokal kegiatan rutin bagi ibu dengan
masalah kesehatan mental yang dipilih dianalisis untuk bayi yang baru lahir (Bolton & Tang 2002). Satu set 12
mengidentifikasi istilah sindrom dan tanda-tanda dan kegiatan yang dipilih dari daftar gratis ditambahkan ke
gejala yang berhubungan dengan sindrom ini . Sindrom kuesioner sebagai ukuran gangguan fungsional (Tabel
yang dihasilkan dibandingkan di wawancara KI untuk 3). Item ini dipilih dari antara tugas-tugas sering
konsistensi disebutkan di empat domain (merawat diri, keluarga,
bayi yang baru lahir dan masyarakat) dilaporkan dalam
studi kuantitatif daftar gratis dan dikonfirmasi sebagai penting selama
diskusi dengan kis. Responden diminta untuk
pemilihan instrumen dan adaptasi menunjukkan berapa banyak kesulitan mereka telah
terlibat dalam setiap kegiatan dalam dua minggu
Berdasarkan hasil studi kualitatif kami merasa kami sebelumnya, dengan tanggapan yang diberikan pada
telah mengidentifikasi masalah seperti depresi yang skala Likert 5 poin mulai dari '0' untuk 'tidak ada
signifikan dari sudut pandang respondents2. Kami kesulitan sama semua ' ke ' 4 ' untuk' begitu banyak sulit
meninjau screeners standar dan post-partum depresi yang sering tidak dapat melakukan tugas . 'A skor
untuk mengidentifikasi orang-orang yang paling dekat disfungsi dihasilkan untuk setiap wanita dengan
tercermin deskripsi lokal dan sebelumnya telah menjumlahkan skor untuk setiap item , dengan skor
digunakan lintas-budaya. Kami memilih untuk yang lebih tinggi menunjukkan penurunan keseluruhan
mengadaptasi Edinburgh Post-partum Depression Scale yang lebih besar .
(EPDS) (Cox et al. 1987) dan Hopkins Gejala Checklist
depres-sion bagian (HSCL-D) (Derogatis et al. 1974). validasi instrumen
Adaptasi dari screeners ini termasuk terjemahan
menggunakan terminologi data kualitatif yang terbaik Reliabilitas dan validitas dari screeners diadaptasi dinilai
tercermin item dalam screeners. Dalam beberapa kasus dalam studi kuantitatif singkat. Untuk menilai keandalan
di mana screeners termasuk konsep tidak tercermin instrumen, skor Cronbach alpha (Cronbach 1951) dan
dalam data kualitatif, kami menggunakan metode korelasi tes-tes ulang yang Analy-sed. Kedua konvergen
penerjemahan / kembali terjemahan standar. Tanda dan dan diskriminan validitas dari skala diselidiki. Untuk
gejala dalam deskripsi sindrom lokal yang bukan bagian mengevaluasi validitas konvergen, kami
dari screeners ditambahkan ke kuesioner sebagai membandingkan skor keparahan depresi dengan tingkat
pertanyaan tambahan. Final pertanyaan-Naire termasuk keparahan disfungsi. Besar, korelasi yang signifikan
semua item dari HSCL-D dan EPDS bersama dengan secara statistik antara langkah-langkah depresi
keparahan dan kerusakan func-nasional akan menjadi Hasil studi kualitatif
bukti untuk validitas konvergen.
Dua puluh dua masalah yang disebutkan oleh
Untuk mengevaluasi validitas diskriminan, kami lebih dari satu responden dalam menanggapi pertama
membandingkan diidentifikasi secara lokal 'kasus' dari gratis daftar pertanyaan tentang masalah ibu dengan
sindrom depresi lokal dengan 'non-kasus.' Hipotesis bayi muda. Demikian pula 19 masalah yang disebutkan
kami adalah bahwa skor depresi keparahan akan mampu oleh lebih dari satu responden dalam menanggapi
membedakan antara kelompok-kelompok ini dengan pertanyaan kedua tentang masalah ibu telah yang
menjadi signifikan lebih besar di antara 'kasus' mempengaruhi anak-anak mereka (Tabel 1). Tanggapan
dibandingkan ' non-kasus '. Akhirnya, kami melakukan yang Repre-mengirim cara yang berbeda dari yang
sensitivitas dan spesifik-ity analisis menggunakan kurva menyatakan konsep yang sama, menurut pewawancara
penerima operasi untuk menguji kinerja screeners yang bekerja dengan data dalam bahasa lokal, dikelompokkan
berbeda. bersama-sama. Misalnya, 'khawatir, siksaan dari pikiran
dan kurangnya perdamaian' yang dikelompokkan
pemilihan sampel bersama sebagai cara yang berbeda responden
menggambarkan tekanan mental. Masalah-masalah ini
Untuk mengidentifikasi 'kasus' dan 'non- sering orang-gaimana disebutkan di respon baik daftar
kasus' kami mengandalkan identifica-tion dan 'diagnosis' pertanyaan gratis. Jadi kami menyimpulkan bahwa
oleh lokal non-profesional, mengingat kurangnya kelompok ini masalah mendefinisikan tekanan mental
standar emas yang tepat untuk mengevaluasi penyakit tampaknya menjadi masalah kesehatan mental yang
mental yang spesifik di antara populasi penelitian paling menonjol yang dialami oleh ibu-ibu yang baru
(Bolton 2001b). Kami meminta KIS dari studi kualitatif, saja melahirkan dan karena itu menjadi fokus dari
yang telah diidentifikasi oleh perempuan di masyarakat (wawancara KI. Dalam perjalanan dari wawancara KI,
sebagai pengetahuan tentang masalah seperti depresi 10 dari 14 KIS disebut gejala ini tertekan sebagai bagian
lokal, untuk menghasilkan daftar nama dan informasi dari sindrom lokal tunggal mereka digambarkan dengan
kontak dari wanita dengan bayi baru lahir (live- nama Maladi ya Souci (di Lingala, bahasa lokal). gejala
kelahiran saja) yang mereka merasa yang saat ini yang dilaporkan Maladi ya Souci, diterjemahkan sebagai
menderita lokal dijelaskan syn-syndrome depresi. KIS sindrom khawatir, ditunjukkan pada kolom pertama dari
juga diminta untuk membuat daftar wanita dengan bayi Tabel 2. Hanya mereka gejala yang dilaporkan oleh
baru lahir yang mereka percaya tidak memiliki masalah lebih dari satu KI termasuk dalam daftar.
ini. Proses ini menghasilkan daftar total 140 perempuan,
dari mana kita memberi setiap pewawancara subset dari Sebuah tinjauan Manual Diagnostik dan
perempuan untuk mewawancarai, dibagi oleh lokasi Statistik Gangguan Mental (DSM)-IV menunjukkan
tempat tinggal dan dilucuti dari informasi yang bahwa diagnosis yang paling dekat berhubungan dengan
menunjukkan dirinya KI melaporkan statusnya sindrom lokal ini adalah gangguan depresi mayor
gangguan. Pewawancara diberikan kuesioner lengkap, (MDD) (American Psychiatric Association 1994), baik
termasuk diadaptasi HSCL dan EPDS screeners itu, sebagai MDD dan sindrom setempat mencakup gejala
gejala lokal dan pertanyaan tentang berfungsi. Pada kesedihan, lekas marah, nafsu makan reduc-tion,
akhir wawancara kami juga meminta para responden gangguan tidur, keluhan somatik, kelelahan dan
apakah mereka pikir mereka menderita sindrom depresi kelelahan, kesulitan memori dan ide bunuh diri.
lokal didefinisikan. Untuk analisis, 'caseness' Beberapa gejala lokal tampak ekspresi marah, termasuk
didefinisikan berdasarkan kesepakatan antara KI dan kemarahan dan berkelahi / berselisih dengan orang lain
responden apakah mereka berdua telah mengidentifikasi tanpa alasan. gejala kecemasan juga bagian dari sindrom
responden sebagai memiliki sindrom lokal. The Institu- lokal, termasuk gelisah / gelisah hati, khawatir dan
tional Ulasan Dewan University of North Carolina dan kurangnya perdamaian. Hal ini konsisten dengan temuan
Komite Etika Penelitian di University of Kinshasa di populasi Barat di mana depresi dan kecemasan gejala
menyetujui penelitian ini. umum co-terjadi, khususnya dalam diagnosis depresi
post-partum (Cox et al 1982;. Kumar & Robson 1984;
Wenzel et al, 2001.)

Hasil Hasil studi validasi


Seratus tiga puluh tiga perempuan diberikan menderita dari itu dan diidentifikasi sebagai ' non -
kuesioner lengkap, 91 di antaranya telah diidentifikasi- kasus ' . Membandingkan skor keseluruhan gejala antara
fied oleh KIS sebagai menderita Maladi ya Souci dan 42 dua kelompok ini , rata-rata untuk kasus-kasus , 34,9
tidak (tujuh wanita diidentifikasi oleh KIS tidak poin ( SE 1.8 ) , dan non - kasus , 16,9 poin ( SE 2.4 ) ,
ditemukan). skor alpha cron-bach ini dihasilkan secara yang substan - tially dan statistik berbeda nyata ( P <
terpisah untuk skala kesehatan dan fungsi mental. Skor 0,0001 ) . Pola ini diadakan untuk semua skor skala
alpha untuk 15-item HSCL, versi delapan item yang depresi ( Tabel 5 ) .
screener EPDS, dan 14-item screener setempat 0,86,
0,76 dan 0,88 masing-masing. Sebagai indikasi
konsistensi, nilai alpha Cronbach harus setidaknya 0,7 *Problems are those mentioned by two or more respondents and are
dan idealnya lebih besar dari 0,8 (Nunnaly 1978). Alpha listed in decreasing order of frequency mentioned.
untuk skala dengan semua 23 gejala kesehatan mental
Table 1 Problems of new mothers identi-fied from the free list
adalah 0,92, yang tidak meningkat penghapusan setiap interviews conducted with mothers with young babies (n = 80)
2008
gejala individu, merupakan indikasi bahwa semua item
mengukur konstruk dasar yang sama. Skor alpha untuk Blackwell Publishing Ltd
skala terdiri dari 12 item fungsi adalah 0,75, yang hanya
sedikit ditingkatkan dengan penghapusan satu fungsi
tugas (bekerja di kebun). Sebagai evaluasi keandalan
tes-tes ulang, sampel acak dari 33 perempuan itu Local* EPDS* HSC
kembali diwawancarai oleh pewawancara yang sama
dalam waktu 3-hari dari penilaian pertama. Korelasi
antara skor skala dari wawancara pertama dan re- 1. Able to laugh when something is funny** X
wawancara adalah: 0.59 (P <0,001), 0,53 (P = 0,003),
2. Look forward to the future with enjoyment** X
dan 0,42 (P = 0,02), untuk HSCL, EPDS dan jumlah
skor masing-masing, menunjukkan keandalan yang 3. Restless agitated heart X
memadai.
4. Low in energy fatigued tired X X

Seperti sindrom seperti depresi diketahui 5. Blame yourself for problems that werent X X
memiliki efek yang signifikan pada fungsi (Simon your fault
2003), validitas konvergen dievaluasi dengan hubungan
antara peningkatan keparahan sindrom dan disfungsi 6. Cry easily X X X
tinggi. Korelasi antara 23-item Total skala gejala dan 7. Loss of sexual interest or pleasure X
skala disfungsi 12-item adalah 0,34 (P = 0,0001). Untuk
menyelidiki hubungan lebih lanjut, kami menghasilkan 8. Poor appetite loss of weight X X
kategori diskrit disfungsi menggunakan skor skala 9. Difficulty falling asleep and sleeping X X X
fungsi (0, 1-4, 5-7, 8 + poin) dan dibandingkan depresi
keparahan seluruh kelompok. Kategori-kategori ini 10. Hopeless about the future X
dipilih berdasarkan distribusi skor gangguan fungsional, 11. Sad lack happiness X X X
dengan sekitar 50% memiliki skor 4 atau kurang, 25%
antara 5 dan 7, dan skor pelaporan 25% dari 8 atau 12. Lonely X

lebih. Tabel 4 menyajikan perbandingan skor keparahan 13. Thoughts of ending your life X X X
rata-rata untuk semua tiga skala depresi di ini ordinal
14. Feeling of being trapped or caught X
kate-Ries. Peningkatan konsisten dalam skor depresi
keparahan dengan masing-masing peningkatan 15. Worrying too much about things X X X
inkremental dalam disfungsi memberikan bukti
16, No interest in things that you used to be X
tambahan dari validitas konvergen untuk mea-sures ini.
Sebagai uji validitas diskriminan, kami membandingkan interested in
berarti skor sindrom keparahan antara 'kasus' dan 'non-
17. Feel everything is an effort overwhelmed X X
kasus' sindrom depresi lokal. Dari 91 wanita yang
sindrom dan diidentifikasi sebagai ' kasus ' . Dari 42 18. Feel worthless X
wanita diidentifikasi oleh KIS tidak memiliki sindrom
19. Scared or panicky for no reason X
lokal 20 ( 48 % ) self- diidentifikasi sebagai tidak
20. Angry X Helping others

21. Lack of peace X


Working gardens
22. Tormented X

23. Self-pity X Visit the sick

24. Stomach pains X


Prepare meals
25. Disputing arguing for no reason X

Take care of the home


Table 2 Signs and symptoms included in the assessment of post-
partum depression-like problems
Washing clothes

telah diidentifikasi oleh KIS sebagai menderita Maladi


ya Souci , 41 ( 45 % ) mengidentifikasi diri sebagai Taking care of ones body
memiliki
Taking care of ones hair braids
Tabel 6 menyajikan hasil dari sensitivitas dan spesi -
ficity analisis . Daerah di bawah kurva untuk mendeteksi Bathing in hot water
sindrom depresi seperti lokal berkisar 0,83-0,87 ,
tergantung pada skala yang digunakan . Skor cut - off
Washing the diapers
yang optimal untuk setiap skala dimaksimalkan
sensitivitas lokal dan spesifisitas , yang semuanya
berada di 80 % atau lebih besar , kecuali untuk Washing the new baby
spesifisitas EPDS cut - off

Diskusi *Activities were selected from the frequently mentioned tasks for
caring for self, family, the new baby and participating in the
community. Only activities mentioned by two or more respondents are
Dengan menggunakan penelitian kualitatif dan included.
kuantitatif strat - strategi- kami mampu memvalidasi
keberadaan sindrom depresi seperti post- partum di
kalangan perempuan di bagian Afrika . Dari studi Kesamaan karakteristik tes di timbangan (Tabel 6) tidak
kualitatif , beberapa informan lokal menggambarkan memberikan alasan berbasis statistik untuk memilih
sebuah sindrom lokal , Maladi ya Souci , yang salah satu screener atas yang lain. The HSCL, yang
mencakup semua kategori gejala diagnostik untuk menangkap berbagai konstruk barat depresi dan relatif
episode DSM - IV didefinisikan gangguan depresi singkat (15 pertanyaan) dapat digunakan untuk tujuan
mayor . Sebagai penelitian difokuskan pada wanita skrining, atau total skala gejala dapat digunakan karena
dalam periode pasca - partum , kami menyimpulkan mencakup baik gejala standar depresi serta gejala
bahwa ini adalah bukti yang cukup mendukung relevan dengan konteks lokal.
keberadaan sindrom depresi post-partum seperti pada
populasi ini . Dari studi kuantitatif , menggunakan versi Biasanya pengujian validitas dilakukan dengan kriteria
lokal diadaptasi dari pemeriksa depresi standar dan wawancara klinis terstruktur oleh profes-sional
diagnosis lokal Maladi ya Souci sebagai titik compar - kesehatan mental, seperti yang telah dilakukan dengan
Ison , kami juga mampu membangun kehandalan lokal EPDS di Turki (Aydin et al 2004.); Cina (Hawley &
dan validitas untuk kedua konsep sindrom lokal dan Gale 1998); Chile (Jadresic et al 1995.); Afrika Selatan
disesuaikan screeners (Lawrie et al 1998.); dan Nigeria (Uwakwe & Okonkwo
2003). Ada dua isu dalam menggunakan pendekatan ini
Table 3 Activities and tasks of new mothers identified from the free
list interviews conducted with mothers with young babies* di seluruh budaya. Pertama, yang terlatih dan dokter
berpengalaman secara lokal mungkin sedikit atau tidak
tersedia di beberapa daerah miskin sumber daya. Kedua,
Commerce baik instrumen dan penilaian klinisi didasarkan pada
model Barat penyakit mental. Asosiasi
Psikiater di Afrika telah menyimpulkan bahwa depresi Kurangnya perjanjian lengkap pada nama untuk
pada orang Afrika 'menyajikan kekhasan tertentu yang sindrom ini tidak terduga. Patel dan rekan
cenderung untuk menghalangi identifikasi' (Uwakwe & membahas masalah umum mendefinisikan depresi
Okonkwo 2003). Dengan demikian, mengandalkan di negara-negara berkembang bila tidak ada setara
penilaian klinis berdasarkan tradisi kedokteran Barat
langsung ada untuk kata 'depresi'. Sering kali, salah
mungkin tidak cukup untuk memastikan bahwa alat
satu gejala utama digunakan untuk mendefinisikan
ukur-ment adalah lokal valid. Seperti yang kita tidak
bergantung pada wawancara klinis standar, kita tidak sindrom, seperti 'terlalu banyak berpikir' di
bisa menyimpulkan bahwa kita telah divalidasi Zimbabwe, atau 'saraf' di beberapa bagian Amerika
sebenarnya DSM-IV didefinisikan sindrom depresi Latin (Patel et al. 2001). Gejala yang paling sering
besar. Sebaliknya, menggunakan pendekatan alternatif, disebutkan dalam studi kualitatif adalah gejala
kami mampu belajar tentang konsep-konsep lokal khawatir, sehingga tidak mengherankan bahwa
penting dari penyakit mental menggunakan metode sindrom itu sendiri didefinisikan oleh gejala ini.
kualitatif dan kemudian menyesuaikan instrumen yang Sementara semua KIS tidak mengidentifikasi
paling sesuai konsep-konsep ini. Dengan menggunakan sindrom dengan nama ini, mereka semua mengakui
pendekatan ini meningkatkan validitas isi dari instrumen
bahwa penduduk setempat akan memahami nama
dan karena itu meningkatkan kemungkinan bahwa
ini sebagai ENCOM-melewati semua gejala
instrumen akan terbukti lebih akurat. Kami sebelumnya
berhasil menggunakan pendekatan ini dalam studi didefinisikan dalam sindrom. Oleh karena itu
depresi di Uganda dan Rwanda (Bolton et al, 2002, Maladi ya Souci adalah nama sindrom dipilih
2004;. Wilk & Bolton 2002) dan di antara orang dewasa untuk menggambarkan sindrom lokal depresi pada
trauma yang terkena dampak di Indonesia (Bass et al populasi perempuan di Kinshasa.
2006.).

keterbatasan studi

Kesimpulan
Sementara satu kekuatan ini pendekatan ' lokal yang
berfokus ' adalah kemampuan untuk mengidentifikasi
terminologi dan deskripsi sindrom lokal yang tepat , Kami menemukan bahwa masalah seperti depresi
metode ini berpotensi membatasi kemampuan kita untuk pada wanita di masa post-partum adalah
melakukan studi perbandingan lintas - budaya . membangun konseptual valid di Kinshasa dan
Beradaptasi instrumen untuk setiap hasil konteks lokal bahwa perempuan menyadari masalah ini dan
di screeners berbeda sedang dikembangkan bahkan menganggapnya sebagai halangan penting bagi
ketika mereka didasarkan pada screener awal yang sama mereka sendiri kesejahteraan serta untuk anak-anak
. Dalam konteks yang berbeda adaptasi mungkin kecil mereka . Kami mampu untuk mengembangkan dan
atau besar , sehingga kemungkinan berkurang menguji validitas instrumen Barat dalam
komparabilitas seluruh populasi . keterbatasan tambahan
lingkungan sumber daya rendah dan menemukan
dari pendekatan ini termasuk mengandalkan sejumlah
bahwa pengujian tersebut diperlukan untuk
kecil KIS untuk mendefinisikan sindrom dan pada
kurangnya perjanjian lengkap pada nama yang menghasilkan instrumen yang akurat untuk konteks
digunakan untuk menggambarkan sindrom. Meskipun lokal . Temuan kami di sini , dan di lingkungan
hanya 14 KIS digunakan untuk menghasilkan informasi sumber daya rendah lainnya , menunjukkan bahwa
spesifik sindrom dalam penelitian ini , ini termasuk adaptasi lokal dan validasi dimungkinkan dan
berbagai informan - menteri , dukun , konselor dibenarkan .
pernikahan dan lokal ' bijaksana ' perempuan -

References

di antaranya ada kesepakatan umum tentang


deskripsi Maladi ya Souci.
American Psychiatric Association (1994) Diagnostic and Statistical
Manual of Mental Disorders (DSM-IV), 4th Edn. American Anoop S, Saravanan B, Joseph A, Cherian A & Jacob KS (2004)
Psychiatric Association, Washington DC. Maternal depression and low maternal intelligence as risk fac-tors
for malnutrition in children: a community based case-con-

2008 Blackwell Publishing Ltd 1541


Tropical Medicine and International Health volume 13 no 12 pp 15341542 december 2008
J. K. Bass et al. Post-partum depression in Kinshasa

trol study from South India. Archives of Disease in Childhood

89, 325329.

Aydin N, Inandi T, Yigit A & Hodoglugil NN (2004) Valida-tion of the Turkish version of the Edinburgh Postnatal
Depression Scale among women within their first postpartum year. Social Psychiatry and Psychiatric Epidemiology
39, 483486.

Bass J, Bobo M, Poudyal B, Suplido M & Bolton P (2006) Qualitative assessment of violence affected populations in
Jakarta, Indonesia. A Report for USAID Indonesia and International Catholic Migration Commission.

Bass JK, Bolton PA & Murray LK (2007) Comment: do not forget culture when studying mental health. Lancet 370, 918
919.

Bernard HR (2006) Research Methods in Cultural Anthropology, 4th Edn. Altamira Press, Walnut Creek, CA.

Black MM, Baqui AH, Zaman K et al. (2007) Depressive symp-toms among rural Bangladeshi mothers: implications for
infant development. Journal of Child Psychology and Psychiatry and

Allied Disciplines 48, 764772.

Bolton P (2001a) Local perceptions of the mental health effects of the Rwandan genocide. Journal of Nervous and
Mental Disease

189, 243248.

Bolton P (2001b) Cross-cultural validity and reliability testing of a standard psychiatric assessment instrument without a
gold stan-dard. Journal of Nervous and Mental Disease 189, 238242.

Bolton P & Tang AM (2002) An alternative approach to cross-cultural function assessment. Social Psychiatry and
Psychiatric Epidemiology 37, 537543.

Bolton P, Neugebauer R & Ndogoni L (2002) Prevalence of depression in rural Rwanda based on symptom and functional
criteria. Journal of Nervous and Mental Disease 190, 631 637.

Bolton P, Wilk CM & Ndogoni L (2004) Assessment of depression prevalence in rural Uganda using symptom and function
criteria.

Social Psychiatry and Psychiatric Epidemiology 39, 442447. Cox JL, Connor Y & Kendell RE (1982) Prospective
study of the psychiatric disorders of childbirth. British Journal of Psychiatry

140, 111117.

Cox JL, Holden JM & Sagovsky R (1987) Detection of postnatal depression. Development of the 10-item Edinburgh
Postnatal Depression Scale. British Journal of Psychiatry 150, 782786. Cronbach LJ (1951) Coefficient alpha and the
internal structure of

tests. Psychometrika 16, 297334.

Derogatis LR, Lipman RS, Rickels K, Uhlenhuth EH & Covi L (1974) The hopkins symptom checklist (HSCL): a self-
report symptom inventory. Behavioral Science 19, 115.

Dybdahl R (2001) Children and mothers in war: an outcome study of a psychosocial intervention program. Child
Development 72, 12141230.

Field T, Healy B, Goldstein S & Guthertz M (1990) Behavior-state matching and synchrony in mother-infant interactions
of non-

depressed versus depressed dyads. Developmental Psychology 26, 714.

Flynn HA, Davis M, Marcus SM, Cunningham R & Blow FC (2004) Rates of maternal depression in pediatric emergency
department and relationship to child service utilization. General Hospital Psychiatry 26, 316322.

Hawley C & Gale T (1998) Validity of the Chinese version of the Edinburgh Postnatal Depression Scale. British Journal of
Psychiatry 173, 271.

Jadresic E, Araya R & Jara C (1995) Validation of the Edinburgh Postnatal Depression Scale (EPDS) in Chilean postpartum
women. Journal of Psychosomatic Obstetrics and Gynaecology

16, 187191.
Kumar R & Robson KM (1984) A prospective study of emotional disorders in childbearing women. British Journal of
Psychiatry 144, 3547.

Lawrie TA, Hofmeyr GJ, de Jager M & Berk M (1998) Validation of the Edinburgh Postnatal Depression Scale on a cohort
of South African women. South African Medical Journal 88, 13401344.

Murray LK, Haworth A, Semrau K et al. (2006) Violence and abuse among HIV-infected women and their children in
Zam-bia: a qualitative study. Journal of Nervous and Mental Disease

194, 610615.

Nunnaly J (1978) Psychometric theory. McGraw-Hill, New York. Patel V, Abas M, Broadhead J, Todd C & Reeler A
(2001)

Depression in developing countries: lessons from Zimbabwe. BMJ 322, 482484.

Patel V, Rahman A, Jacob KS & Hughes M (2004) Effect of maternal mental health on infant growth in low income coun-
tries: new evidence from South Asia. BMJ 328, 820823.

Rahman A, Harrington R & Bunn J (2002) Can maternal depression increase infant risk of illness and growth impairment in
developing countries? Child: Care, Health and Development

28, 5156.

Simon GE (2003) Social and economic burden of mood disorders.

Biological Psychiatry 54, 208215.

Stein A, Gath DH, Bucher J, Bond A, Day A & Cooper PJ (1991) The relationship between post-natal depression and
mother-child interaction. British Journal of Psychiatry 158, 4652.

Uwakwe R & Okonkwo JE (2003) Affective (depressive) mor-bidity in puerperal Nigerian women: validation of the
Edin-burgh Postnatal Depression Scale. Acta Psychiatrica Scandinavica 107, 251259.

Wenzel A, Gorman LL, OHara MW et al. (2001) The occurrence of panic and obsessive compulsive symptoms in women
with postpartum dysphoria: a prospective study. Archives of Womens Mental Health 4, 512.

Wilk CM & Bolton P (2002) Local perceptions of the mental health effects of the Uganda acquired immunodeficiency
syn-drome epidemic. Journal of Nervous and Mental Disease 190, 394397.

Corresponding Author Judith K. Bass, Applied Mental Health Research Group (AMHR), Department of Mental Health,
Johns Hopkins Bloomberg School of Public Health, 624 N. Broadway, Baltimore, MD 21205, USA. Tel.: +1 410 502 9840;
Fax: +1 410 955 9088; E-mail: jbass@jhsph.ed
LAMPIRAN 2
(Jurnal 2)

EFEKTIFITAS KUNJUNGAN NIFAS TERHADAP


PENGURANGAN KETIDAKNYAMANAN FISIK YANG
TERJADI PADA IBU SELAMA MASA NIFAS

Islami - Staf pengajar STIKES Muhammadiyah Kudus

Noveri Aisyaroh - Staff Pengajar Prodi D-III Kebidanan FIK Unissula

Abstrak

Proses kehamilan dan persalinan adalah proses yang fisiologis dialami oleh
hampir semua wanita, begitu pula masa nifas. Dalam masa nifas ini tidak sedikit ibu yang
mengalami problem kesehatan seperti nyeri, bengkak pada kaki, ketidakmampuan
menyusui, dan nutrisi. Budaya dan mitos yang kadang kurang menguntungkan kesehatan
ibu di masa nifas masih menjadi problema. Kegagalan dalam fase ini memungkinkan ibu
tidak memiliki kemampuan dalam mengasuh diri dan bayinya. Oleh karena itu,
pemerintah mengupayakannya melalui kunjungan nifas, diharapkan dari kunjungan ini
terdeteksi problema kesehatan yang dialami oleh ibu selama masa nifas. Cakupan
pelayanan nifas pada tahun 2009 mengalami penurunan. Bidan mempunyai peran yang
sangat penting dalam masa ini melalui pendidikan kesehatan, monitoring, dan deteksi dini
bahaya nifas. Berbagai kendala yang dihadapi oleh bidan pada kunjuungan nifas adalah
waktu untuk mengunjungi pasien, rasio bidan yang tidak sesuai dengan jumlah pasien
yang dilayani, letak geografis dan sarana transportasi yang kurang mendukung.

Kata kunci: masa nifas, ketidaknyamanan, kunjungan nifas

...............................................................................................................................

Pendahuluan

Masa nifas merupakan masa yang dilalui oleh setiap wanita setelah melahirkan.
Pada masa tersebut dapat terjadi komplikasi persalinan baik secara langsung
maupun tidak langsung. Masa nifas ini berlangsung sejak plasenta lahir sampai
dengan 6 minggu setelah kelahiran atau 42 hari setelah kelahiran. Kunjungan
selama nifas sering dianggap tidak penting oleh tenaga kesehatan karena sudah
merasa baik dan selanjutnya berjalan dengan lancar. Konsep early ambulation
dalam masa postpartum merupakan hal yang perlu diperhatikan karena terjadi
perubahan hormonal. Pada masa ini ibu membutuhkan petunjuk dan nasihat dari
bidan sehingga proses adaptasi setelah melahirkan berlangsung dengan baik.
2

Masa nifas ini merupakan masa yang cukup penting bagi tenaga kesehatan
khususnya bidan untuk selalu melakukan pemantauan karena pelaksanaan yang
kurang maksimal dapat menyebaban ibu mengalami berbagai masalah, bahkan
dapat berlanjut pada komplikasi masa nifas seperti sepsis puerperalis. Jika
ditinjau dari penyebab kematian ibu, infeksi merupakan penyebab kematian
terbanyak nomor dua setelah perdarahan sehingga sangat tepat jika tenaga
1
kesehatan memberikan perhatian yang tinggi pada masa ini.

Cakupan kunjungan ibu nifas pada tahun 2009 adalah 71,54%, sementara target
cakupan kunjungan ibu nifas pada tahun 2015 adalah 90%. Berdasarkan data dari
profil kesehatan tahun 2009 cakupan kunjungan masa nifas di Jawa Tengah yaitu
73, 38%.

Cakupan pelayanan nifas adalah pelayanan kepada ibu dan neonatal pada masa 6
jam sampai dengan 42 hari pasca persalinan sesuai standar. Pelayanan nifas sesuai
standar adalah pelayanan kepada ibu nifas sedikitnya tiga kali, pada enam jam
pasca persalinan sampai dengan hari ketiga, pada minggu kedua, dan pada minggu
keenam termasuk pemberian vitamin A dua kali serta persiapan dan atau
3
penggunaan alat kontrasepsi setelah persalinan.

Bidan memegang peranan penting dalam upaya pemerintah untuk meningkatkan


kesehatan dan pengertian masyarakat melalui konsep promotif, preventif, kuratif
dan rehabilitatif. Dalam standar pelayanan kebidanan, bidan memberikan
pelayanan bagi ibu pada masa nifas melalui kunjungan rumah pada hari ketiga,
minggu kedua dan minggu keenam setelah persalinan untuk membantu proses
pemulihan ibu dan bayi melalui penanganan tali pusat yang benar, penemuan dini,
penanganan atau rujukan komplikasi yang mungkin terjadi pada masa nifas, serta
memberikan penjelasan tentang kesehatan secara umum, personal hygiene, nutrisi,
perawatan bayi baru lahir, pemberian asi, imunisasi dan keluaga berencana.
Dari bukti-bukti terkait bidang profesi, jelas bagi kita bahwa asuhan postpartum,
sebagaimana aspek lain dalam layanan maternitas kurang dievaluasi dan diteliti,
diberikan dengan cara yang sering kali tidak tepat dan terbagi-bagi serta memiliki
fokus manajerial yang tidak teratur yang menghambat penggunaan sumber-
4
sumber secara efisien.

Sebuah sistematic review mengidentifikasi ritual umum lintas budaya terkait


dengan periode postpartum dan bukti untuk efek positif atau negatif terhadap
kesehatan mental ibu yang hasilnya berupa tema umum yang ada diseluruh
budaya mencakup dukungan yang terorganisir, periode istirahat, pembatasan
aktivitas, praktek kebersihan, diet, perawatan bayi dan praktek untuk
mempromosikan kesehatan. Pentingnya tenaga kesehatan untuk menyadari
praktek-praktek budaya umum dan konsekuensi yang dirasakan karena tidak
5
mengamati mereka.

Hasil penelitian Elvina M pada tahun 2011 di Medan tentang skor kualitas hidup
postpartum berdasarkan faktor demografi ibu menyebutkan bahwa terdapat
3

perbedaan yang bermakna berdasarkan masalah klinis yang menyertai dan jenis
persalinan. Jenis persalinan mempunyai hubungan yang bermakna terhadap skor
kualitas hidup.

Sustini F, Andajani S, Marsudiningsih A, meneliti tentang Pengaruh pendidikan


kesehatan, monitoring dan perawatan ibu pascapersalinan terhadap kejadian
morbiditas nifas di kabupaten Sidoarjo dan Lamongan Jawa Timur yang hasilnya
berupa monitoring ibu nifas terbukti berhubungan dengan kejadian morbiditas
nifas karena dapat memonitor keluhan atau kejadian morbiditas ibu sehingga
dengan monitoring ibu yang baik dapat dideteksi morbiditas ibu lebih banyak.
Kurangnya monitoring ibu selama masa nifas berdampak pada kemungkinan tidak
tercatatnya morbiditas ibu. Perawatan ibu masa nifas terbukti berhubungan dengan
risiko terjadinya morbiditas nifas. Pelaksanaan perawatan yang kurang baik dapat
meningkatkan risiko terjadinya morbiditas nifas, seperti perawatan payudara
untuk mencegah mastitis, membersihkan diri menggunakan sabun setelah buang
air kecil dan buang air besar dapat mencegah infeksi genitalia
Osman H, Chaaya M, Zein LE, Naassan G, Wick L, dalam penelitian yang
berjudul What do first time mother worry about? A study of usage patterns and
content of call made to a postpartum support telephone hotline menyebutkan
bahwa tingkat pemanfaatan layanan dukungan telepon hotline untuk postpartum
tertinggi adalah pada empat minggu pertama dalam masa postpartum. Sebagian
besar pertanyaan-pertanyaan yang ditanyakan berhubungan dengan ASI,
perawatan rutin bayi baru lahir dan pengelolaan bayi rewel.

Steven L.C, Michael A.B, Garry A.D, Jane E, Laura M, Janet A.M, et al dalam
penelitian pada tahun 2005 yang berjudul Emergency department use during the
postpartum period : implication for current management of the puerperium
mengemukakan bahwa dari 222,084 wanita yang melahirkan sebanyak 10,751
datang ke unit gawat darurat dalam 42 hari setelah melahirkan. 58% pasien
menunjukkan kondisi yang berhubungan dengan kehamilan; 42% pasien
menunjukkan kondisi yang tidak berhubungan dengan kehamilan. Kesimpulannya
adalah bahwa penjadwalan dan isi pendidikan tradisional dan kunjungan
postpartum kurang cocok untuk mencegah morbiditas postpartum.

EFEKTIFITAS KUNJUNGAN MASA NIFAS

Definisi masa nifas


Masa nifas adalah masa yang dimulai setelah plasenta keluar dan berakhir ketika
alat-alat kandungan kembali seperti keadaan semula (sebelum hamil). Masa nifas
1
berlangsung kira-kira 6 minggu. Periode postpartum adalah masa dari kelahiran
plasenta dan selaput janin (menandakan akhir periode intrapartum) hingga
7
kembalinya traktus reproduksi wanita pada kondisi tidak hamil.
4

Definisi asuhan masa nifas

Asuhan masa nifas adalah proses pengambilan keputusan dan tindakan yang
dilakukan bidan pada masa nifas sesuai dengan wewenang dan ruang lingkup
6
praktiknya berdasarkan ilmu dan kiat kebidanan.
Di dalam standar kompetensi bidan dijelaskan bahwa bidan memberikan asuhan
pada ibu nifas dan menyusui yang bermutu tinggi dan tanggap terhadap budaya
setempat. Asuhan masa nifas difokuskan pada upaya pencegahan infeksi dan
4
menuntut bidan untuk memberikan asuhan kebidanan tingkat tinggi.

Tujuan asuhan masa nifas


1
Asuhan yang diberikan kepada ibu bertujuan untuk :

K. Meningkatkan kesejahteraan fisik dan psikologis bagi ibu dan bayi

L. Pencegahan, diagnosis dini dan pengobatan komplikasi pada ibu


M. Merujuk ibu ke tenaga ahli bilamana perlu
N. Mendukung dan memperkuat keyakinan ibu serta memungkinkan ibu untuk
mampu melaksanakan perannya dalam situasi keluarga
O. Imunisasi ibu terhadap tetanus
P. Mendorong pelaksanaan metode yang sehat tentang pemberian makan anak,
serta peningkatan pengembangan hubungan yang baik antara ibu dan anak

Peran dan tanggung jawab bidan dalam asuhan masa nifas

1
Peran dan tanggung jawab bidan dalam masa nifas, antara lain :

1) Teman terdekat sekaligus pendamping ibu nifas dalam menghadapai saat-saat


kritis masa nifas

2) Pendidikan dalam usaha pemberian pendidikan kesehatan terhadap ibu dan


keluarga
3) Pelaksana asuhan kepada kepada pasien dalam hal tindakan perawatan,
pemantauan, penanganan masalah, rujukan dan deteksi dini komplikasi masa
nifas
Pada asuhan masa nifas secara spesifik bidan mempunyai tanggung jawab sebagai
7
berikut :

1) Melakukan evaluasi kontinu dan penatalaksanaan perawatan kesejahteraan


wanita

2) Memberikan bantuan pemulihan dari ketidaknyamanan fisik


3) Memberikan bantuan dalam menyusui
4) Memfasilitasi pelaksanaan peran sebagai orang tua
5) Melakukan pengkajian bayi selama kunjungan rumah
6) Memberikan pedoman antisipasi dan instruksi
7) Melakukan penapisan kontinu untuk komplikasi puerperium
5

Materi asuhan
Materi asuhan kebidanan masa nifas terdiri dari pemantauan, pemeriksaan antara
lain mengukur suhu tubuh dan denyut nadi wanita, mencatat tekanan darah,
memeriksa payudara, mengkaji involusi uteri, memantau lokia dan jka perlu
memeriksa perineum wanita tersebut. Salah satu sasaran yang ingin dicapai dari
pemantauan dan pemeriksaan kebidanan adalah mendeteksi masalah kesehatan
postpartum. Alexander et al (1997) melakukan studi prospektif dengan meneliti
apakah pengkajian involusi uteri yang dilakukan oleh bidan dapat digunakan
untuk memprediksi masalah perdarahan pervaginam. Bukti yang diperoleh
menunjukkan bahwa observasi ini memang bisa memprediksi wanita mana yang
4
akan mengalami masalah tersebut setelah dipulangkan dari asuhan kebidanan.
Pemberian pendidikan kesehatan kepada ibu dan keluarganya sangat bermanfaat
bagi kesadaran mereka untuk melakukan monitoring kesehatan ibu dan perawatan
kesehatan ibu. Pelaksanaan pendidikan nifas tidak terbukti berhubungan dengan
terjadinya morbiditas nifas, hal ini dapat dipahami karena pengaruh langsung dari
pendidikan adalah peningkatan pengetahuan dan kesadaran untuk melakukan
sesuatu yang sesuai dengan yang diajarkan atau disuluhkan. Monitoring ibu nifas
terbukti berhubungan dengan kejadian morbiditas nifas karena dapat memonitor
keluhan atau kejadian morbiditas ibu sehingga dengan monitoring ibu yang baik
dapat dideteksi morbiditas ibu lebih banyak. Kurangnya monitoring ibu selama
masa nifas berdampak pada kemungkinan tidak tercatatnya morbiditas ibu.
Perawatan ibu masa nifas terbukti berhubungan dengan risiko terjadinya
morbiditas nifas. Pelaksanaan perawatan yang kurang baik dapat meningkatkan
risiko terjadinya morbiditas nifas, seperti perawatan payudara untuk mencegah
mastitis, membersihkan diri menggunakan sabun setelah buang air kecil dan
8
buang air besar dapat mencegah infeksi genitalia.

Selama beberapa hari setelah kelahiran, kemampuan ibu baru untuk secara
aktif menyerap informasi akibat fokus yang intens pada bayinya yang baru lahir.
Studi orang Israel menemukan bahwa ibu kehilangan kemampuan kognitif
sementara pada periode masa nifas dini. Semuanya menunjukkan bahwa
pendidikan kesehatan awal harus difokuskan pada esensinya. Pendidikan
kesehatan terutama harus bertarget pada perawatan diri termasuk mencuci tangan,
higiene, menghilangkan ketidaknyamanan yang umum terjadi dan mengenali
tanda-tanda bahaya seperti demam, nyeri, perdarahan banyak, pusing, sakit kepala
mendadak, perubahan visual dan neyri epigastrium. Juga termasuk inisiasi
7
menyusui, perawatan perineum dan latihan Kegel.

Program dan kebijakan teknis

Kunjungan nifas
Kunjungan rumah pada masa nifas dilakukan sebagai suatu tindakan untuk
pemeriksaan postpartum lanjutan. Kunjungan rumah direncanakan untuk
bekerjasama dengan keluarga dan dijadwalkan berdasarkan kebutuhan. Pada
program terdahulu, kunjungan bisa dilakukan sejak 24 jam setelah pulang. Jarang
sekali suatu kunjungan rumah ditunda sampai hari ketiga setelah pulang ke rumah.
6

Kunjungan berikutnya direncanakan sepanjang minggu pertama jika diperlukan.


Kunjungan masa nifas dilakukan sedikitnya empat kali untuk menilai status ibu
dan status bayi baru lahir juga mencegah, mendeteksi, dan menangani masalah-
9
masalah yang terjadi.

Berdasarkan program dan kebijakan teknis kunjungan nifas minimal dilakukan


sebanyak empat kali untuk menilai keadaan ibu dan bayi baru lahir dan untuk
mencegah, mendeteksi dan menangani masalah-masalah yang terjadi. Jadual
9,10
kunjungan tersebut adalah sebagai berikut (tabel 1)

Tabel 2 .1 Program Kunjungan Nifas

Kunjungan Waktu Tujuan


Mencegah perdarahan masa nifas karena
Pertama 6-8 jam persalinan a. atonia

uteri

b. Mendeteksi dan merawat penyebab lain,

perdarahan, rujuk bila perdarahan berlanjut

Memberikan konseling pada ibu atau salah


c. satu
anggota keluarga bagaimana mencegah

perdarahan masa nifas karena atonia uteri

Pemberian ASI
d. awal
e. Melakukan hubungan antara ibu dan bayi baru

lahir
Menjaga bayi tetap sehat dengan cara
f. mencegah

hipotermi

Memastikan involusi uterus berjalan


Kedua 6 hari setelah a. normal,

uterus berkontraksi, fundus di bawah


persalinan umbilikus,

tidak ada perdarahan abnormal dan tidak ada


bau

Menilai adanya tanda-tanda demam, infeksi


b. atau
perdarahan
abnormal

Memastikan ibu mendapat cukup


c. makanan,

cairan dan istirahat


d. Memastikan ibu menyusui dengan baik dan
tidak

memperlihatkan tanda-tanda
penyulit

Memberikan konseling pada ibu


e. mengenai

asuhan pada bayi, tali pusat, menjaga bayi


tetap
hangat dan perawatan bayi sehari-
hari

Memastikan involusi uterus berjalan


Ketiga 2 minggu setelah a. normal,

uterus berkontraksi, fundus di bawah


persalinan umbilkus,

tidak ada perdarahan abnormal dan tidak ada


bau

Menilai adanya tanda-tanda demam, infeksi


b. atau

perdarahan
abnormal

Memastikan ibu mendapat cukup


c. makanan,
cairan dan istirahat

d. Memastikan ibu menyusui dengan baik dan


tidak

memperlihatkan tanda-tanda
penyulit

Memberikan konseling pada ibu


e. mengenai

asuhan pada bayi, tali pusat, menjaga bayi


tetap

hangat dan perawatan bayi sehari-


hari

Menanyakan pada ibu tentang penyulit-


Keempat 6 minggu setelah a. penyulit

persalinan yang dialami atau bayinya


b. Memberikan konseling Keluarga berencana

secara
dini

Menganjurka
c. n ibu membawa bayinya ke

Jimenez dan Newton (1979) mentabulasi informasi lintas-budaya dari 202


masyarakat dari wilayah geografik internasional yang berbeda-beda. Setelah
melahirkan, sebagian besar masyarakat tidak membatasi aktifitas kerja ibu dan
sekitar separuhnya mengaharapkan ibu kembali melaksanakan tugasnya secara
penuh dalam waktu dua minggu. Sejak tahun 1969, wanita nifas di Parkland
Hospital telah dibuatkan jadual kunjungan untuk pemeriksaan lanjutan pada
minggu ketiga postpartum. Hal ini terbukti cukup memuaskan baik untuk
menemukan kelainan-kelainan pada masa nifas lanjut dan untuk mulai menerapkan
11
salah satu metode kontrasepsi.

Keuntungan dan keterbatasan kunjungan nifas

Kunjungan rumah postpartum memiliki keuntungan yang sangat jelas karena


membuat bidan dapat melihat dan berinteraksi dengan anggota keluarga di dalam
lingkungan yang alami dan aman. Bidan mampu mengkaji kecukupan sumber yang
ada di rumah, demikian pula keamanan di rumah dan di lingkungan sekitar. Kedua
data tersebut bermanfaat untuk merencanakan pengajaran atau konseling kesehatan.
Kunjungan rumah lebih mudah dilakukan untuk mengidentifikasi penyesuaian fisik
dan psikologis yang rumit. Selain keuntungan, kunjungan rumah postpartum juga
9
memiliki keterbatasan yang masih sering dijumpai, yaitu sebagai berikut :

1) Besarnya biaya untuk mengunjungi pasien yang jaraknya jauh

2) Terbatasnya jumlah bidan dalam memberi pelayanan kebidanan


3) Kekhawatiran tentang keamanan untuk mendatangi pasien di daerah tertentu

Efektivitas asuhan masa nifas :

Evaluasi efektifitas asuhan didasarkan pada harapan pasien yang diidentifikasi saat
merencanakan asuhan kebidanan. Bidan dapat merasa cukup yakin bahawa asuhan
yang diberikan cukup efektif, jika hasil akhir beriku init dapat dicapai, diantaranya
9
adalah
1) Ibu postpartum mengalami pemulihan fisiologis tanpa komplikasi

2) Ibu postpartum menyebutkan pengetahuan dasar yang akurat mengenai cara


menyusui
3) Ibu postpartum mendemonstrasikan perawatan yang tepat untuk diri dan
bayinya
4) Ibu berinteraksi positif terhadap satu sama lain (bayi dan anggota keluarga
yang lain)

Morbiditas postpartum
Hingga saat ini sedikit riset sistematis tentang morbiditas setelah melahirkan,
kecuali kasus depresi postpartum. MacArthur et al di Birmingham (1991) pertama
kali mendokumentasikan morbiditas fisik pada masa nifas dalam skala besar, yang
sebagian besar tidak dilaporkan kepada tenaga kesehatan dan terus berlanjut setelah
berakhirnya layanan maternitas rutin pada minggu keenam. Studi yang dilakukan
terhadap 11.000 wanita ini mengidentifikasi penyebaran morbiditas yang dmulai
setelah persalinan. sebanyak 47% wanita melaporkan mengalami satu masalah atau
lebih dari 25 masalah kesehatan yang terdaftar yang muncul pertama kali setelah
melahirkan dan berlangsung lebih dari enam minggu. Hal ini menunjukkan bahwa
hanya sedikit wanita yang melaporkan masalah kesehatan ini kepada dokter
4
mereka. Glazner et al (1995), dalam sebuah studi acak selama satu tahun di
Grampian, Scotlandia, menemukan bahwa 76% wanita mengalami sedikitnya satu
masalah kesehatan delapan minggu setelah melahirkan. Studi Bick & MacArthur
(1995) di Birmingham, yang memeriksa keparahan dan dampak morbiditas masa
nifas, menemukan bahwa walaupun beberapa masalah kesehatan bersifat ringan
atau hanya kadang-kadang muncul, banyak wanita menderita gejalanya setiap hari
dan hal ini menimbulkan dampak signifikan pada berbagai aspek kehidupan
4
wanita.

Ketidaknyamanan fisik dalam masa nifas

Terdapat beberapa ketidaknyamanan pada masa nifas. Meskipun dianggap normal,


ketidaknyamanan tersebut dapat menyebabkan distres fisik yang bermakna.

1) Nyeri setelah melahirkan

Nyeri setelah melahirkan disebabkan oleh kontraksi dan relaksasi uterus


yang berurutan yang terjadi secara terus menerus. Nyeri ini lebih umum
terjadi pada paritas tinggi dan pada wanita menyusui. Alasan nyeri yang lebih
berat pada wanita dengan paritas tinggi adalah penurunan tonus otot uterus
secara bersamaan, menyebabkan relaksasi intermiten. Berbeda pada wanita
primipara yang tonus ototnya masih kuat dan uterus tetap berkontraksi tanpa
relaksasi intermiten. Pada wanita menyusui, isapan bayi menstimulasi
produksi oksitosin oleh hipofise posterior. Pelepasan oksitosin tidak hanya
memicu refleks let down (pengeluaran ASI) pada payudara, tetapi juga
menyebabkan kontraksi uterus. Nyeri setelah melahirkan akan hilang jika
uterus tetap berkontraksi dengan baik saat kandung kemih kosong. Kandung
kemih yang penuh mengubah posisi uterus ke atas, menyebabkan relaksasi
7
dan kontraksi uterus lebih nyeri.
2) Keringat berlebih

Wanita postpartum mengeluarkan keringat berlebihan karena tubuh


menggunakan rute ini dan diuresis untuk mengeluarkan kelebihan cairan
interstisial yang disebabkan oleh peningkatan normal cairan intraselular
selama kehamilan. Cara menguranginya sangat sederhana yaitu dengan
7
membuat kulit tetap bersih dan kering.

3) Pembesaran payudara
Diperkirakan bahwa pembesaran payudara disebabkan oleh kombinasi
akumulasi dan stasis air susu serta peningkatan vaskularitas dan kongesti.
Kombinasi ini mengakibatkan kongesti lebih lanjut karena stasis limfatik.
dan vena. Hal ini terjadi saat pasokan air susu meningkat, pada sekitar hari
ketiga postpartum baik pada ibu menyusui maupun tidak menyusui dan
7
berakhir sekitar 24 hingga 48 jam.

4) Nyeri perineum
Beberapa tindakan dapat mengurangi ketidaknyamanan atau nyeri
akibat laserasi atau luka episiotomi dan jahitan laserasi atau episiotomi
7,11
tersebut. Sebelum tindakan dilakukan, penting untuk memeriksa
perineum untuk menyingkirkan komplikasi seperti hematoma. Pemeriksaan
ini juga mengindikasikan tindakan lanjutan apa yang mungkin paling
7
efektif.

5) Konstipasi
Rasa takut dapat menghambat fungsi bowel jika wanita takut bahwa hal
tersebut dapat merobek jahitan atau akibat nyeri yang disebabkan oleh
ingatannya tentang tekanan bowel pada saat persalinan. Konstipasi lebih
lanjut mungkin diperberat dengan longgarnya abdomen dan oleh
7
ketidaknyamanan jahitan robekan perineum derajat tiga atau empat.

6) Hemoroid
Jika wanita mengalami hemoroid, mungkin mereka sangat merasakan
nyeri selama beberapa hari. Hemoroid yang terjadi selama masa kehamilan
dapat menimbulkan traumatis dan menjadi lebih edema selama kala dua
7
persalinan.

Tehnik pemulihan dari ketidaknyamanan fisik dalam masa nifas

1) Nyeri setelah melahirkan


Beberapa wanita merasa nyerinya cukup berkurang dengan mengubah posisi
tubuhnya menjadi telungkup dengan meletakkan bantal atau gulungan selimut
di bawah abdomen. Kompresi uterus yang konstan pada posisi ini dapat
mengurangi kram secara signifikan. Analgesia efektif bagi sebagian besar
7
wanita yang kontraksinya sangat nyeri, seperti tylenol, ibuprofen.
2) Keringat berlebih

Keringat berlebihan selama masa nifas dapat dikurangi dengan cara menjaga
kulit tetap bersih, kering dan menjaga hidrasi yaitu minum segelas air setiap
7
satu jam pada kondisi tidak tidur.

3) Pembesaran payudara
7
Bagi ibu yang tidak menyusui :

(1) Tindakan untuk mengatasi nyeri bergantung pada apakah ibu menyusui
atau tidak. Bagi ibu yang tidak menyusui, tindakan ini ditujukan untuk
pemulihan ketidaknyamanan dan penghentian laktasi.

(2) Menggunakan BH yang menyangga payudara


(3) Kompres es yang ditujukan untuk membatasi aliran darah dan
menghambat produksi air susu
(4) Penggunaan analgesik
(5) Memberikan dukungan pada ibu bahwa ini adalah masalah sementara

7
Bagi ibu yang menyusui :

(1) Kompres hangat

(2) Menyusui secara sering


(3) Penggunaan analgesik ringan

4) Nyeri perineum
7:
Teknik pengurangan nyeri perineum pada nifas yaitu

(1) Kompres kantong es bermanfaat untuk menguarngi pembengkakan dan


membuat perineum nyaman pada periode segera setelah melahirkan. Es harus
selalu dikompreskan pada laserasi derajat tiga atau empat, dan jika ada edema
perineum. Manfaat optimal dicapai dengan kompres dingin selama 30 menit.

(2) Anestesi topikal sesuai kebutuhan, contoh dari anestesi ini adalah sprai
Darmoplast, salep Nupercaine, salep nulpacaine. Jika menggunakan salep
wanita harus diajarkan untuk mencuci tangan sebelum mengoleskannya. Salep
dioleskan selama beberapa hari postpartum selama periode penyembuhan akut
baik karena jahitan atau jika ada hemoroid.
(3) Rendam duduk dua sampai tiga kali sehari dengan menggunakan air dingin.
Nyeri postpartum hilang dengan penggunaan rendam duduk dingin termasuk
penurunan respon pada ujung saraf dan juga fase konstriksi lokal, yang
mengurangi pembengkakan dan spasme otot. Modifikasi dari tindakan ini
adalah dengan mengalirkan air hangat di atas perineum.

(4) Kompres witch hazel dapat mengurangi edema dan merupakan analgesik.
Kompres ini dibuat dengan mencampur witch hazel di atas beberapa kassa
berukuran 4 x 4 dalam mangkuk atau baskom kecil, peras kassa hingga air
tidak menetes, tetapi tetap basah, lipat sekali dan letakkan di atas perineum.
(5) Cincin karet, penggunaan cincin karet mendapat kritik karena kemungkinan
mengganggu sirkulasi. Akan tetapi penggunaan yang benar dapat memberikan
pemulihan yang aman jika terjadi penekanan akibat posisi di area perineum.
Cincin karet sebaiknya digembungkan secukupnya untuk menghilangkan
tekanan tersebut. Cincin karet harus besar dan diposisikan sedemikian rupa
sehingga tidak ada titik tekanan di area panggul.
(6) Latihan Kegel bertujuan menghilangkan ketidaknyamanan dan nyeri yang
dialami wanita ketika duduk atau hendak berbaring dan bangun dari tempat
tidur. Latihan Kegel akan meningkatkan sirkulasi ke area perineum sehingga
meningkatkan penyembuhan. Latihan ini juga dapat mengembalikan tonus otot
panggul. Tindakan ini merupakan salah satu tindakan yang paling bermanfaat
dan seringkali menghasilkan akibat yang dramatis dalam memfasilitasi
kemudahan pergerakan dan membuat wanita lebih nyaman. Pada wanita yang
mendapat episiotomi, latihan Kegel ini dapat memberi efek berlawanan
sehingga dapat mengakibatkan nyeri.
(7) Konstipasi
Masalah kontipasi dapat dikurangi dengan mengkonsumsi makanan tinggi serat
dan tambahan asupan cairan. Penggunaan laksatif pada wanita yang mengalami
7
laserasi derajat tiga atau empat dapat membantu mencegah wanita mengejan.

(8) Hemoroid
7
Untuk mengurangi masalah ini dapat dilakukan dengan cara :

(1) Kantong es

(2) Rendam duduk es

SIMPULAN
Pengambilan keputusan dan tindakan diperlukan oleh bidan dalam memberikan
asuhan masa nifas sesuai dengan wewenang dan ruang lingkup praktiknya
berdasarkan ilmu dan kiat kebidanan. Asuhan kebidanan pada masa nifas diberikan
untuk meningkatkan kesejahteraan fisik dan psikologis ibu.
Monitoring ibu nifas terbukti berhubungan dengan kejadian morbiditas nifas karena
dapat memonitor keluhan atau kejadian morbiditas ibu sehingga dengan monitoring
ibu yang baik dapat dideteksi morbiditas ibu lebih banyak. Kunjungan nifas
minimal dilakukan sebanyak empat kali untuk menilai keadaan ibu dan bayi baru
lahir dan untuk mencegah, mendeteksi dan menangani masalah-masalah yang
terjadi. Distribusi kunjungan dilakukan pada enam sampai delapan jam setelah
melahirkan, hari ke enam postpartum, minggu kedua postpartum, dan enam
minggu postpartum. Kunjungan postpartum mempunyai keuntungan bagi bidan
agar dapat merencanakan konseling kesehatan sedangkan keterbatasan kunjungan
terletak pada biaya, jumlah bidan dan keamanan saat berkunjung ke rumah ibu.

Efektifitas asuhan masa nifas dapat diukur dari proses pemulihan fisiologis ibu,
pengetahuan dasar tentang tehnik menyusui yang dimiliki oleh ibu, kemampuan ibu
dalam melakukan perawatan yang tepat untuk diri juga bayinya, dan kemampuan
ibu untuk berinteraksi terhadap bayi serta anggota keluarganya. Pada masa nifas
terjadi perubahan fisiologis pada uterus, lokia, vagina dan perineum, payudara,
sistem gastrointestinal, sistem renal, sistem hematologi, penurunan berat badan,
tanda-tanda vital, dan dinding abdomen.
Ibu nifas membutuhan nutrisi, proses eliminasi, personal higiene, ambulasi,
aktivitas seksual, istirahat dan latihan/senam nifas agar masa nifas berlangsung
baik. Sebanyak 76% wanita mengalami sedikitnya satu masalah kesehatan delapan
minggu setelah melahirkan. Selama masa nifas ibu dapat mengalami rasa tidak
nyaman seperti nyeri setelah melahirkan, keringat berlebih, pembengkakan
payudara, konstipasi, hemoroid dan nyeri perineum
DAFTAR PUSTAKA

1. Sulistyawati A. Buku ajar asuhan kebidanan pada ibu nifas. Yogyakarta: Andi
Offset; 2009. hlm. 16; 74-86.

2. Kemenkes RI. Profil kesehatan Indonesia. Jakarta: Kementrian Kesehatan


Republik Indonesia; 2009. hlm. 67.

3. Dinkes. Standar pelayanan minimal bidang kesehatan. Semarang: Dinas


Kesehatan Propinsi Jawa Tengah; 2009. hlm. 22-24, 31-32.

4. Alexander J, Roth C, Levy V. Praktik kebidanan: riset dan isu. Alih bahasa
Devi Yulianti. Jakarta: EGC; 2007. hlm. 227-247.

5. Sophie Grioradis. Cindylee D. Kenneth F. et al. Postpartum cultural practices:


a systematic review of the evidence. BMC [abstract]. 2008 [diunduh 10 April
2011]; 10.1186 tersedia di http://www.annals-general-psychiatry.com

6. Kemenkes RI. Standar kompetensi bidan. Jakarta: Departemen Kesehatan


Republik Indonesia; 2007.

7. Varney H, Kriebs Jan M, Gegor LC. Buku ajar asuhan kebidanan edisi 4 (2).
Jakarta: EGC; 2008. hlm.957-980.

8. Sustini F, Andajani S, Marsudiningsih A. Pengaruh pendidikan kesehatan,


monitoring dan perawatan ibu pascapersalinan terhadap kejadian morbiditas
nifas di kabupaten Sidoarjo dan Lamongan Jawa Timur. Bul Penel Kesehatan.
2003. [diunduh 15 Mei 2011]; no 2 (31): hlm: 72-82. Tersedia dari
http://www.litbang.depkes.go.id

9. Saleha S. Asuhan kebidanan pada masa nifas. Jakarta: Salemba medika; 2009.
hlm.1-7,53-62, 71-76, 79-80.

10. Saifuddin AB. Buku panduan praktis pelayanan kesehatan maternal dan
neonatal. Jakarta: YBP-SP; 2005. hlm. N23.

11. William. Obstetri william. Jakarta: EGC; 2007.


12. Osman H, Chaaya M, Zein LE, Naassan G, Wick L. What do first time
mother worry about? A study of usage patterns and content of call made to a
postpartum support telephone hotline. BMC Public Health. 2010 [diunduh 7
13. Griffin RW. Manajemen. Jakarta: Erlangga; 2004. hlm. 88-89.