Anda di halaman 1dari 20

BAB 1

LAPORAN PENDAHULUAN
1. 1Konsep Dasar ISPA
1.1.1 Definisi
Infeksi saluran pernafasan adalah suatu keadaan dimana saluran pernafasan
(hidung, pharing dan laring) mengalami inflamasi yang menyebabkan terjadinya
obstruksi jalan nafas dan akan menyebabkan retraksi dinding dada pada saat melakukan
pernafasan.
Istilah ISPA mengandung tiga unsur yaitu infeksi, saluran pernapasan dan akut.
Infeksi adalah masuknya kuman atau mikroorganisme ke dalam tubuh manusia dan
berkembang biak sehingga menimbulkan gejala penyakit. Adapun saluran pernapasan
adalah organ dimulai dari hidung sampai alveoli beserta organ adneksa seperti sinus-
sinus, rongga telinga dan pleura. Istilah ISPA secara anatomis mencakup saluran
pernapasan bagian bawah (termasuk jaringan paru-paru) dan organ adneksanya saluran
pernapasan. Sedangkan infeksi akut adalah infeksi yang berlangsung sampai dengan 14
hari. Batas 14 hari diambil untuk menunjukkan proses akut meskipun untuk beberapa
penyakit yang dapat digolongkan ISPA, proses ini dapat berlangsung lebih dari 14 hari
(Depkes RI, 2002) (http://repository.usu.ac.id).
Pengertian ISPA adalah penyakit saluran pernapasan akut dengan perhatian
khusus pada radang paru (pneumonia), dan bukan penyakit telinga dan tenggorokan
(Widoyono, 2008;155).
Secara definisi ISPA berarti timbulnya infeksi di saluran napas yang bersifat akut
(awitan mendadak) yang disebabkan masuknya mikroorganisme (virus, bakteri, jamur).
Secara anatomis penyakit ini dibedakan menjadi ISPA bagian atas ISPA di bagian bawah
(http://id.scribd.com/doc/55295169).

1.1.2 Etiologi
Etiologi ISPA terdiri dari (Widoyono, 2008;156).
1. Bakteri: Diplococcus Pneumoniae, Pneumococcus, Streptococcus Pyogenes,
Staphylococcus Aureus, Haemophilus Influenzae, dan lain-lain.
2. Virus: Influenza, Adenovirus, Sitomegalovirus.
3. Jamur: Aspergilus sp., Candida Albicans, Histoplasma, dan lain-lain.
4. Aspirasi: makanan, asap kendaraan bermotor, BBM (bahan bakar minyak)
biasanya minyak tanah, cairan amnion pada saat lahir, benda asing (biji-
bijian, mainan plastik kecil, dan lain-lain).
1
5
2

Faktor-faktor resiko yang berperan dalam kejadian ISPA adalah sebagai berikut:
1. Faktor host (diri)
1) Usia
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa pada usia muda akan lebih
sering menderita ISPA dari pada usia yang lebih lanjut (Koch et al, 2003).
2) Jenis Kelamin
Meskipun secara keseluruhan di negara yang sedang berkembang
seperti Indonesia masalah ini tidak terlalu diperhatikan, namun banyak
penelitian yang menunjukkan adanya perbedaan prevelensi penyakit ISPA
terhadap jenis kelamin tertentu (Koch et al, 2003).
3) Status Gizi
Interaksi antara infeksi dan Kekurangan Kalori Protein (KKP) telah
lama dikenal, kedua keadaan ini sinergistik, saling mempengaruhi, yang satu
merupakan predisposisi yang lainnya (Tupasi, 1985). Pada KKP, ketahanan
tubuh menurun dan virulensi pathogen lebih kuat sehingga menyebabkan
keseimbangan yang terganggu dan akan terjadi infeksi, sedangkan salah satu
determinan utama dalam mempertahankan keseimbangan tersebut adalah
status gizi.
4) Status Imunisasi
Tupasi (1985) mendapatkan bahwa ketidakpatuhan imunisasi
berhubungan dengan peningkatan penderita ISPA walaupun tidak bermakna.
Hal ini sesuai dengan penelitian lain yang mendapatkan bahwa imunisasi
yang lengkap dapat memberikan peranan yang cukup berarti dalam
mencegah kejadian ISPA (Koch et al, 2003).
5) Pemberian Suplemen Vitamin A
Pemberian vitamin A pada balita sangat berperan untuk masa
pertumbuhannya, daya tahan tubuh dan kesehatan terutama pada
penglihatan, reproduksi, sekresi mukus dan untuk mempertahankan sel
epitel yang mengalami diferensiasi.
2. Faktor lingkungan
1) Rumah
Rumah merupakan stuktur fisik, dimana orang menggunakannya untuk
tempat berlindung yang dilengkapi dengan fasilitas dan pelayanan yang
3

diperlukan, perlengkapan yang berguna untuk kesehatan jasmani, rohani dan


keadaan sosialnya yang baik untuk keluarga dan individu (WHO, 2009).
2) Kepadatan Hunian (Crowded)
Kepadatan hunian seperti luar ruang per orang, jumlah anggota
keluarga, dan masyarakat diduga merupakan faktor risiko untuk ISPA.
Penelitian oleh Koch et al (2003) membuktikan bahwa kepadatan hunian
(crowded) mempengaruhi secara bermakna prevalensi ISPA berat.
3) Status Sosial Ekonomi
Telah diketahui bahwa kepadatan penduduk dan tingkat
sosioekonomi yang rendah mempunyai hubungan yang erat dengan
kesehatan masyarakat. Tetapi status keseluruhan tidak ada hubungan antara
status ekonomi dengan insiden ISPA, akan tetapi didapatkan korelasi yang
bermakna antara kejadian ISPA berat dengan rendahnya status sosioekonomi
(Darmawan,1995).
4) Kebiasaan Merokok
Pada keluarga yang merokok, secara statistik mempunyai
kemungkinan terkena ISPA 2 kali lipat dibandingkan dengan anak dari
keluarga yang tidak merokok. Selain itu dari penelitian lain didapat bahwa
episode ISPA meningkat 2 kali lipat akibat keluarga yang merokok (Koch et
al, 2003).
5) Polusi Udara
Diketahui bahwa penyebab terjadinya ISPA dan penyakit gangguan
pernafasan lain adalah rendahnya kualitas udara didalam rumah ataupun
diluar rumah baik secara biologis, fisik maupun kimia. Hal ini menunjukkan
bahwa polusi udara sangat berpengaruh terhadap terjadinya penyakit ISPA.
Adanya ventilasi rumah yang kurang sempurna dan asap tungku di dalam
rumah seperti yang terjadi di Negara Zimbabwe akan mempermudah
terjadinya ISPA anak (Mishra, 2003).

1.1.3 Patofisiologi
4

Perjalanan klinis penyakit ISPA dimulai dengan berinteraksinya virus dengan


tubuh. Masuknya virus sebagai antigen ke saluran pernafasan menyebabkan silia yang
terdapat pada permukaan saluran nafas bergerak ke atas mendorong virus ke arah faring
atau dengan suatu tangkapan refleks spasmus oleh laring. Jika refleks tersebut gagal
maka virus merusak lapisan epitel dan lapisan mukosa saluran pernafasan (Kending dan
Chernick, 2003).
Iritasi virus pada kedua lapisan tersebut menyebabkan timbulnya batuk kering
(Jeliffe, 1974). Kerusakan stuktur lapisan dinding saluran pernafasan menyebabkan
kenaikan aktifitas kelenjar mukus yang banyak terdapat pada dinding saluran nafas,
sehingga terjadi pengeluaran cairan mukosa yang melebihi noramal. Rangsangan cairan
yang berlebihan tersebut menimbulkan gejala batuk (Kending and Chernick, 1983).
Sehingga pada tahap awal gejala ISPA yang paling menonjol adalah batuk.
Adanya infeksi virus merupakan predisposisi terjadinya infeksi sekunder bakteri.
Akibat infeksi virus tersebut terjadi kerusakan mekanisme mukosiliaris yang merupakan
mekanisme perlindungan pada saluran pernafasan terhadap infeksi bakteri sehingga
memudahkan bakteri-bakteri patogen yang terdapat pada saluran pernafasan atas seperti
streptococcus pneumonia, haemophylus influenza dan staphylococcus menyerang
mukosa yang rusak tersebut (Kending dan Chernick, 1983). Infeksi sekunder bakteri ini
menyebabkan sekresi mukus bertambah banyak dan dapat menyumbat saluran nafas
sehingga timbul sesak nafas dan juga menyebabkan batuk yang produktif. Invasi bakteri
ini dipermudah dengan adanya fakor-faktor seperti kedinginan dan malnutrisi. Suatu
laporan penelitian menyebutkan bahwa dengan adanya suatu serangan infeksi virus pada
saluran nafas dapat menimbulkan gangguan gizi akut pada bayi dan anak (Tyrell, 1980).
Virus yang menyerang saluran nafas atas dapat menyebar ke tempat-tempat yang
lain dalam tubuh, sehingga dapat menyebabkan kejang, demam, dan juga bisa menyebar
ke saluran nafas bawah (Tyrell, 1980). Dampak infeksi sekunder bakteripun bisa
menyerang saluran nafas bawah, sehingga bakteri-bakteri yang biasanya hanya
ditemukan dalam saluran pernafasan atas, sesudah terjadinya infeksi virus, dapat
menginfeksi paru-paru sehingga menyebabkan pneumonia bakteri (Shann, 1985).
Penanganan penyakit saluran pernafasan harus diperhatikan aspek imunologis
saluran nafas terutama dalam hal bahwa sistem imun di saluran nafas yang sebagian
5

besar terdiri dari mukosa, tidak sama dengan sistem imun sistemik pada umumnya.
Sistem imun saluran nafas yang terdiri dari folikel dan jaringan limfoid yang tersebar,
merupakan ciri khas system imun mukosa. Ciri khas berikutnya adalah bahwa IgA
memegang peranan pada saluran nafas atas sedangkan IgG pada saluran nafas bawah.
Diketahui pula bahwa sekretori IgA (sIgA) sangat berperan dalam mempertahankan
integritas mukosa saluran nafas (Siregar, 1994).

1.1.4 Manifestasi Klinik


Penyakit ini biasanya dimanifestasikan dalam bentuk adanya demam, adanya
obstruksi hidung dengan sekret yang encer sampai dengan membuntu saluran
pernafasan, seseorang menjadi gelisah dan susah atau bahkan sama sekali tidak mau
minum (Pincus Catzel & Ian Roberts; 1990; 451).
Tanda dan gejala yang muncul ialah:
1. Demam, Seringkali demam muncul sebagai tanda pertama terjadinya
infeksi. Suhu tubuh bisa mencapai 39,5C-40,5C.
2. Diare (mild transient diare), seringkali terjadi mengiringi infeksi saluran
pernafasan akibat infeksi virus.
3. Abdominal pain, nyeri pada abdomen mungkin disebabkan karena adanya
lymphadenitis mesenteric.
4. Sumbatan pada jalan nafas/ Nasal, pada saluran nafas yang sempit akan
lebih mudah tersumbat oleh karena banyaknya sekret.
5. Batuk, merupakan tanda umum dari tejadinya infeksi saluran pernafasan,
mungkin tanda ini merupakan tanda akut dari terjadinya infeksi saluran
pernafasan.
6. Suara nafas, biasa terdapat wheezing, stridor, crackless, dan tidak
terdapatnya suara pernafasan (Whaley and Wong; 2001; 1419).
1.1.5 Komplikasi
Adapun komplikasinya adalah
1. Meningitis
Radang selaput pelindung sistem atau infeksi pada meningen (selaput pelindung)
yang menyelimuti otak dan saraf tulang belakang.
2. OMA
Otitis Media Akut (OMA) adalah peradangan telinga tengah yang mengenani
sebagian atau seluruh periosteum dan terjadi dalam waktu kurang dari 3 minggu.
3. Mastoiditis
6

Mastoiditis adalah suatu kondisi yang ditandai dengan infeksi tulang mastoid.
4. Kematian
Tubuh tidak mampu dikendalikan/tidak mampu disembuhkan hingga sampai
pada kematian
1.1.6 Pemeriksaan Diagnostik
Pengkajian terutama pada jalan nafas: Fokus utama pada pengkajian pernafasan
ini adalah pola, kedalaman, usaha serta irama dari pernafasan.
1. Pola, cepat (tachynea) atau normal.
2. Kedalaman, nafas normal, dangkal atau terlalu dalam yang biasanya dapat kita
amati melalui pergerakan rongga dada dan pergerakan abdomen.
3. Usaha, kontinyu, terputus-putus, atau tiba-tiba berhenti disertai dengan adanya
bersin.
4. Irama pernafasan, bervariasi tergantung pada pola dan kedalaman pernafasan.
5. Observasi lainya adalah terjadinya infeksi yang biasanya ditandai dengan
peningkatan suhu tubuh, adanya batuk, suara nafas wheezing. Bisa juga didapati
adanya cyanosis, nyeri pada rongga dada dan peningkatan produksi dari sputum.
Pemeriksaan penunjang yang lazim dilakukan adalah :
1) pemeriksaan kultur/ biakan kuman (swab); hasil yang didapatkan adalah biakan
kuman (+) sesuai dengan jenis kuman.
2) Pemeriksaan hitung darah (deferential count); laju endap darah meningkat
disertai dengan adanya leukositosis dan bisa juga disertai dengan adanya
thrombositopenia, dan
3) Pemeriksaan foto thoraks jika diperlukan.

1.1.7 Penatalaksanaan Medis


Menurut Widoyono (2008;158), penatalaksanaan untuk ISPA berdasarkan
klasifikasi golongan umur yaitu.
Beberapa hal yang perlu dilakukan untuk mencegah ISPA adalah:
1. Mengusahakan Agar Mempunyai Gizi Yang Baik
a. makanan harus mengandung gizi cukup yaitu mengandung cukup protein
(zat putih telur), karbohidrat, lemak, vitamin dan mineral.
b. Makanan yang bergizi tidak berarti makanan yang mahal. Protein
misalnya dapat di peroleh dari tempe dan tahu, karbohidrat dari nasi atau
jagung, lemak dari kelapa atau minyak sedangkan vitamin dan mineral
dari sayuran,dan buah-buahan.
2. Menjaga Kebersihan Perorangan Dan Lingkungan
7

Perilaku hidup bersih dan sehat merupakan modal utama bagi


pencegahan penyakit ISPA, sebaliknya perilaku yang tidak
mencerminkan hidup sehat akan menimbulkan berbagai penyakit.
Perilaku ini dapat dilakukan melalui upaya memperhatikan rumah sehat,
desa sehat dan lingkungan sehat (Suyudi, 2002).
3. Pengobatan Segera
Apabila sudah positif terserang ISPA, sebaiknya tidak makan
makanan yang dapat merangsang rasa sakit pada tenggorokan, misalnya
minuman dingin, makanan yang mengandung vetsin atau rasa gurih,
bahan pewarna, pengawet dan makanan yang terlalu manis. Jika
terserang ISPA, harus segera dibawa ke dokter (PD PERSI, 2002).

1. 2 Manajemen Keperawatan ISPA


1.2.1 Pengkajian
1. Riwayat Kesehatan

Keluhan Utama biasanya Klien mengeluh demam, batuk.

2. Riwayat penyakit sekarang

Dua hari sebelumnya klien mengalami demam mendadak, sakit kepala, badan
lemah, nyeri otot dan sendi, nafsu makan menurun, batuk,pilek dan sakit
tenggorokan.

3. Riwayat penyakit dahulu

Klien sebelumnya sudah pernah mengalami penyakit sekarang


8

4. Riwayat penyakit keluarga

Menurut anggota keluarga ada juga yang pernah mengalami sakit seperti
penyakit klien tersebut.

5. Riwayat sosial

Klien mengatakan bahwa klien tinggal di lingkungan yang berdebu dan padat
penduduknya.

6. Pemeriksaan Persistem

1) B1 (Breath)

- Inspeksi

Membran mucosa hidung faring tampak kemerahan Tonsil tanpak


kemerahan dan edema. Tampak batuk tidak produktif. Tidak ada
jaringan parut pada leher. Tidak tampak penggunaan otot- otot
pernapasan tambahan,pernapasan cuping hidung, tachypnea, dan
hiperventilasi

- Palpasi
Adanya demam. Teraba adanya pembesaran kelenjar limfe pada daerah
leher / nyeri tekan pada nodus limfe servikalis. Tidak teraba adanya
pembesaran kelenjar tyroid

- Perkusi
Suara paru normal (resonance)

- Auskultasi
Suara napas vesikuler / tidak terdengar ronchi pada kedua sisi paru

2) B2 (Blood)
9

Pada pasien ISPA pada Kardiovaskuler terjadi Hipertermi atau peningkatan


suhu tubuh.

3) B3 (Brain)

Penginderaan Pupil isokhor, biasanya keluar cairan pada telinga, terjadi


gangguan penciuman.

4) B4 (Bladder)

Perkemihan Tidak ada kelainan

5) B5 (Bowel)

Pencernaan Nafsu makan menurun, porsi makan tidak habis Minum


sedikit, nyeri telan pada tenggorokan.

6) B6 (Bone)

Warna kulit kemerahan.

1.2.2 Diagnosa Keperawatan


1. Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan proses inflamasi pada
saluran pernafasan, adanya secret.
2. Ketidakefektifan bersihan jalan nafas berhubungan dengan obstruksi
mekanik dari jalan nafas oleh sekret, proses inflamasi, peningkatan produksi
secret.
3. Nyeri berhubungan dengan proses inflamasi.
4. Perubahan proses keluarga berhubungan dengan penyakit yang dialami oleh
anak, hospitalisasi pada anak.

1.2.3 Intervensi Keperawatan


DX : 1
Tujuan : Pola nafas kembali efektif dengan
10

Kriteria hasil : Usaha nafas kembali normal dan meningkatnya suplai oksigen
ke paru-paru.
N Intervensi Rasional
o
1. Observasi tanda vital, adanya Sebagai dasar dalam menentukan
cyanosis, serta pola, kedalaman intervensi selanjutnya
dalam pernafasan
2. Berikan posisi yang nyaman Semi fowler dapat meningkatkan
pada pasien ekspansi paru dan memperbaiki
ventilasi
3. Ciptakan dan pertahankan jalan Untuk memperbaiki ventilasi
nafas yang bebas.
4. Anjurkan untuk tidak Agar tidak terjadi aspirasi
memberikan minum selama
periode tachypnea
5. Kolaborasi pemberian oksigen untuk memenuhi kebutuhan
oksigen
6. Kolaborasi pemberian nebulizer Mengencerkan sekret dan
memudahkan pengeluaran sekret
7. Pemberian obat bronchodilator Untuk vasodilatasi saluran
pernapasan

DX : 2
Tujuan : Bebasnya jalan nafas dari hambatan sekret
Kriteria Hasil : Jalan nafas yang bersih dan patent, meningkatnya pengeluaran
sekret, suara napas bersih
No Intervensi Rasional
1. Kaji bersihan jalan napas klien Sebagai indicator dalam
menentukan tindakan
selanjutnya
2. Auskultasi bunyi napas Ronchi menandakan adanya
sekret pada jaan nafas
3. Berikan posisi yang nyaman Mencegah terjadinya aspirasi
sekret (semiprone dan side lying
11

position).
4. Lakukan suction sesuai indikasi Membantu mengeluarkan sekret
5. Anjurkan keluarga untuk membantu mengencerkan dahak
memberikan air minum yang sehingga mudah untuk
hangat dikelurkan
6. Kolaborasi Pemberian Untuk mengencerkan dahak
Ekspectorant
7. Kolaborasi Pemberian antibiotik Mengobati infeksi sehingga
terjadi penurunan produksi
sekret

DX : 3
Tujuan : Nyeri terkontrol atau menghilang
Kriteria Hasil : Nyeri terkontrol ditandai dengan klien melaporkan nyeri
menghilang, ekspresi wajah rileks, klien tidak gelisah.
No Intervensi Rasional
1. Kaji nyeri yang dirasakan klien, Sebagai indicator dalam
perhatikan respon verbal dan menentukan intervensi
nonverbal. selajutnya
2. Anjurkan keluarga memberikan Mengurangi nyeri pada
minum air hangat tenggorokan
3. Berikan lingkungan yang Meningkatkan kenyamanan dan
nyaman meningkatkan istirahat
4. Kolaborasi Pemberian antibiotik Mengobati infeksi
5. Kolaborasi pemberian Memudahkan pengeluaran
Ekspectoran sekret sehingga mengurang rasa
sakit saat batuk

DX : 4
Tujuan : Klien mengalami pengurangan ansietas dan peningkatan melakukan
koping.
12

Kriteria Hasil : Klien mengajukan pertanyaan yang tepat, mendiskusikan kondisi


dan perawatan anak dengan tenang, terlibat secara positif dalam
perawatan anak.
No Intervensi Rasional
1. Kenali kekhawatiran dan Sebagai dasar dalam
kebutuhan orang tua untuk menentukan tindakan
informasi dukungan. selanjutnya
2. Gali perasaan klien dan masalah Mengetahui masalah dan
sekitar hospitalisasi perasaan yang dirasakan oleh
klien. Dapat mengurangi
kecemasan
3. Berikan dukungan sesuai Dukungan yang adekuat
kebutuhan menghasilkan mekanisme
coping yang efektif
4. Anjurkan kepada klien agar Dapat mengurangi rasa cemas
terlibat secara langsung dan aktif karena dapat memantau
dalam perawatan pasien. langsung perkembangan pasien
5. Jelaskan terapi yang diberikan Peningkatan pengetahuan
dan respon pasien terhadap mengembangkan kooperatif dan
terapi yang diberikan. mengurangi kecemasan

1.2.4 Implementasi Keperawatan


Implementasi/pelaksanaan pada diagnosa keperawatan penyakit bursitis
mengacu pada perencanaan yang sudah dibuat. Pelaksanaan rencana tindakan yang telah
ditentukan dengan maksud agar kebutuhan pasien terpenuhi secara optimal. Langkah-
langkah persiapan tindakan keperawatan adalah sebagai berikut.
1) Memahami rencana perawatan yang telah ditentukan.
2) Menyiapkan tenaga atau alat yang diperlukan.
3) Menyiapkan lingkungan yang sesuai dengan tindakan yang dilakukan antara
lain : langkah pelaksanaan, sikap yang meyakinkan, sistematika kerja yang
tepat, pertimbangan hukum dan etika, tanggung jawab dan tanggung gugat,
mencatat semua tindakan keperawatan yang telah ditentukan.

1.2.5 Evaluasi Keperawatan


13

Tahap evaluasi adalah proses penilaian pencapaian tujuan serta pengkajian ulang
yang telah ditentukan. Tujuannya adalah menentukan kemampuan pasien dalam
mencapai tujuan yang telah ditentukan.
Evaluasi adalah pada proses keperawatan dimana taraf keberhasilan dalam
pencapaian tujuan keperawatan dinilai dan kebutuhan untuk memodifikasi tujuan atau
intervensi keperawatan ditetapkan (Brooker, Christine. 2001). Evaluasi yang diharapkan
pada pasien dengan ISPA adalah :
1. Pola nafas kembali efektif ditandai dengan usaha nafas kembali normal dan
meningkatnya suplai oksigen ke paru-paru.
2. Bebasnya jalan nafas dari hambatan sekret ditandai dengan jalan nafas yang
bersih dan patent, meningkatnya pengeluaran sekret, suara napas bersih.
3. Nyeri terkontrol ditandai dengan klien melaporkan nyeri menghilang,
ekspresi wajah rileks, klien tidak gelisah dan rewel.
4. Klien mengalami pengurangan ansietas dan peningkatan melakukan koping
ditandai dengan klien mengajukan pertanyaan yang tepat, mendiskusikan
kondisi dan perawatan dengan tenang.

1.3 Konsep Dasar Anak


1.3.1 Pengertian Anak
Menurut UU RI No. IV th 1979 ttg kesejahteraan anak, disebutkan bahwa anak
adalah seseorang yang belum mencapai umur 21 tahun dan belum menikah Sedangkan
menurut UU RI No. I th 1974 Bab IX ps 42 disebutkan bahwa anak yang sah adalah
yang dilahirkan dalam atau sebagai perkawinan yang sah.
14

Dari kedua pengertian diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa pengertian anak
adalah seseorang yang dilahirkan dalam atau sebagai perkawinan yang sah yang belum
mencapai usia 21 tahun dan belum menikah.

1.3.2 Kedudukan Anak Di Indonesia


Di Indonesia anak dipandang sebagai pewaris keluarga, yaitu penerus keluarga
yang kelak akan melanjutkan nilai nilai dari keluarga serta dianggap sebagai
seseorang yang bisa memberikan perawatan dan perlindungan ketika kedua orang tua
sudah berada pada tahap lanjut usia ( jaminan hari tua ) . Anak masih dianggap sebagai
sumber tenaga murah yang dapat membantu ekonomi keluarga. Keberadaan anak
dididik menjadi pribadi yang mandiri

1.3.3 Filosofi Keperawatan Anak


Perawat dalam memberikan asuhan keperawatan kepada anak harus memahami
bahwa semua asuhan Keperawatan anak harus berpusat pada keluarga ( family center
care ) dan mencegah terjadinya trauma ( atraumatik care )
Family center care ( perawatan berfokus pada keluarga ) merupakan unsur
penting dalam perawatan anak karena anak merupakan bagian dari anggota keluarga,
sehingga kehidupan anak dapat ditentukan oleh lingkungan keluarga., Untuk itu
keperawatan anak harus mengenal keluarga sebagai tempat tinggal atau sebagai
konstanta tetap dalam kehidupan anak yang dapat mempengaruhi status kesehatan anak
Sedangkan maksud dari atraumatic care adalah semua tindakan keperawatan
yang ditujukan kepada anak tidak menimbulkan trauma pada anak dan keluarga dengan
memperhatikan dampak dari setiap tindakan yg diberikan. Prinsip dari atraumatic care
adalah menurunkan dan mencegah dampak perpisahan dari keluarga, meningkatkan
kemampuan orang tua dalam mengontrol perawatan pada anak, mencegah dan
mengurangi cedera ( injury ) dan nyeri ( dampak psikologis ), tidak melakukan
kekerasan pada anak dan modifikasi lingkungan fisik

1.3.4 Prinsip Keperawatan Anak


15

Dalam keperawatan anak, perawat harus mengetahui bahwa prinsip keperawatan


anak adalah :
a. Anak bukan miniatur orang dewasa
b. Anak sebagai individu unik & mempunyai kebutuhan sesuai tahap perkembangan
c. Pelayanan keperawatan anak berorientasi pada pencegahan & peningkatan derajat
kesh, bukan mengobati anak sakit
d. Keperawatan anak merupakan disiplin ilmu kesehatan yang berfokus pada
kesejahteraan anak sehingga perawat bertanggung jawab secara komprehensif dalam
memberikan askep anak
e. Praktik keperawatan anak mencakup kontrak dengan anak & keluarga untuk
mencegah, mengkaji, mengintervensi & meningkatkan kesejahteran dengan
menggunakan proses keperawatan yang sesuai dengan moral ( etik ) & aspek hukum
( legal )
f. Tujuan keperawatan anak & remaja adalah untuk meningkatkan maturasi /
kematangan
g. Berfokus pada pertumbuhan & perkembangan

1.3.5 Paradigma Keperawatan Anak

a. Manusia ( Anak )
Anak baik sebagai individu maupun bagian dari keluarga merupakan salah satu sasaran
dalam pelayanan keperawatan. Untuk dapat memberikan pelayanan keperawatan yang
tepat sesuai dengan masa tumbuh kembangnya, anak di kelompokkan berdasarkan masa
tumbuh kembangnya yaitu
1. Bayi : 0 1 th
2. Toddler : 1 2,5 th
3. Pra Sekolah : 2,5 5 th
4. Sekolah : 5 11 th
5. Remaja : 11 18 th
Terdapat perbedaan dalam memberikan pelayanan keperawatan antara orang
dewasa dan anak sebagai sasarannya. Perbedaan itu dapat dilihat dari struktur fisik,
16

dimana secara fisik anak memiliki organ yang belum matur sepenuhnya. Sebagai contoh
bahwa komposisi tulang pada anak lebih banyak berupa tulang rawan, sedangkan pada
orang dewasa sudah berupa tulang keras.
Proses fisiologis juga mengalami perbedaan, kemampuan anak dalam
membentuk zat penangkal anti peradarangan belum sempurna sehingga daya tahan
tubuhnya masih rentan dan mudah terserang penyakit. Pada aspek kognitif, kemampuan
berfikir anak serta tanggapan terhadap pengalaman masa lalu sangat berbeda dari orang
dewasa, pengalaman yang tidak menyenangkan selama di rawat akan di rekam sebagai
suatu trauma, sehingga pelayanan keperawatan harus meminimalisasi dampak traumatis
anak.

b. Konsep Sehat Sakit


Menurut WHO, sehat adalah keadaan keseimbangan yang sempurna baik fisik,
mental, sosial, dan tidak semata-mata hanya bebas dari penyakit atau cacad. Konsep
sehat & sakit merupakan suatu spektrum yang lebar & setiap waktu kesehatan seseorang
bergeser dalam spektrum sesuai dengan hasil interaksi yang terjadi dengan kekuatan
yang mengganggunya

c. Lingkungan
LIngkungan berpengaruh terhadap terjadinya suatu kondisi sehat maupun sakit serta
status kesehatan. Faktor-faktor lingkungan yang mempengaruhi kesehatan berupa
lingkungan Internal dan lingkungan external . Lingkungan Internal yang mempengaruhi
kesehatan seperti tahap perkembangan, latar belakang intelektual, persepsi terhadap
fungsi fisik, faktor Emosional, dan spiritual. SEdangkan lingkungan external yang
mempengaruhi status kesehatan antara lain keluarga, sosial ekonomi, budaya

d. Keperawatan
Merupakan salah satu bentuk pelayanan kesehatan yang komprehensif meliputi
biologi, psikologis, social dan spiritual yang ditujukan pada individu, keluarga,
masyarakat dan kelompok khusus yang mengutamakan pelayanan promotif, preventif,
kuratif dan rehabilitatif yang diberikan dalam kondisi sehat maupun sakit.
17

Anak sebagai individu maupun salah satu anggota keluarga merupakan sasaran
dalam pelayanan keperawatan Sehingga perawat sebagai pemberi asuhan keperawatan
harus memandang anak sebagai individu yang unik yang memiliki kebutuhan tersendiri
sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangannya.

1.3.6 Peran Perawat Dalam Keperawatan Anak


a. Pemberi perawatan
Merupakan peran utama perawat yaitu memberikan pelayanan keperawatan
kepada individu, keluarga,kelompok atau masyarakat sesuai dengan masalah yang
terjadi mulai dari masalah yang bersifat sederhana sampai yang kompleks. Contoh peran
perawat sebagai pemberi perawatan adalah peran ketika perawat memenuhi kebutuhan
dasar seperti memberi makan, membantu pasien melakukan ambulasi dini.

b. Sebagai Advocat keluarga


Sebagai client advocate, perawat bertanggung jawab untuk memebantu klien dan
keluarga dalam menginterpretasikan informasi dari berbagai pemberi pelayanan daninfo
rmasi yang diperlukan untuk mengambil persetujuan (inform concent) atas tindakan
keperawatan yang diberikan kepadanya. Peran perawat sebagai advocate keluarga dapt
ditunjukkan dengan memberikan penjelasan tentang prosedur operasi yang akan di
lakukan sebelum pasien melakukan operasi.

c. Pendidik
Perawat bertanggung jawab dalam hal pendidikan dan pengajaran ilmu
keperawatan kepada klien, tenaga keperawatan maupun tenaga kesehatan lainya. Salah
satu aspek yang perlu diperhatikan dalam keperawatan adalah aspek pendidikan, karena
perubahan tingkah laku merupakan salah satu sasaran dari pelayanan keperawatan.
Perawat harus bisa berperan sebagai pendidik bagi individu, keluarga, kelompok dan
masyarakat. Memberi penyuluhan kesehatan tentang penanganan diare merupakan salah
satu contoh peran perawat sebagai pendidik ( health educator )
d. Konseling
18

Tugas utama perawat adalah mengidentifikasi perubahan pola interaksi klien


terhadap keadaan sehat sakitnya. Adanya perubahan pola interaksi ini merupakan dasar
dalam perencanaan tindakan keperawatan. Konseling diberikan kepada individu,
keluarga dalam mengintegrasikan pengalaman kesehatan dengan pengalaman masa lalu.
Pemecahan masalah difokuskan pada; masalah keperawatan, mengubah perilaku hidup
sehat (perubahan pola interaksi).
e. Kolaborasi
Dalam hal ini perawat bersama klien, keluarga, team kesehatan lain berupaya
mengidentfikasi pelayanan kesehatan yang diperlukan termasuk tukar pendapat terhadap
pelayanan yang diperlukan klien, pemberian dukungan, paduan keahlian dan
ketrampilan dari berbagai professional pemberi palayanan kesehatan. Sebagai contoh,
perawat berkolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan diet yang tepat pada anak
dengan nefrotik syndrome. Perawat berkolaborasi dengan dokter untuk menentukan
dosis yang tepat untuk memberikan Antibiotik pada anak yang menderita infeksi
f. Peneliti
Seorang perawat diharapkan dapat menjadi pembaharu (innovator) dalam ilmu
keperawatan karena ia memiliki kreativitas, inisiatif, cepat tanggap terhadap rangsangan
dari lingkunganya. Kegiatan ini dapat diperoleh diperoleh melalui penelitian. Penelitian,
pada hakekatnya adalah melakukan evalusai, mengukur kemampuan, menilai, dan
mempertimbangkan sejauh mana efektifitas tindakan yang telah diberikan. Dengan
hasil penelitian, perawat dapat mengerakan orang lain untuk berbuat sesuatu yang
berdasarkan kebutuhan, perkembangan dan aspirasi individu, keluarga, kelompok dan
masyarakat. Oleh karena itu perawat dituntut untuk selalu mengikuti perkembangan
memanfaatkan media massa atau media informasi lain dari berbagai sumber. Selain itu
perawat perlu melakukan penelitian dalam rangka mengembagkan ilmu keperawatan
dan meningkatkan praktek profesi keperawatan.

1.3.7 Lingkup Praktek Keperawatan Anak


Menurut, Gartinah, dkk ( 2000), Lingkup praktek keperawatan anak merupakan
batasan asuhan keperawatan yang diberikan pada klien anak usia 28 hari sampai usia
18 th atau BBL ( Bayi Baru Lahir ) sampai usia 12 th. Sedangkan Sularso (2003)
19

memberikan penjelaskan bahwa asuhan keperawatan anak meliputi tumbang anak


yang mencakup ASAH ( stimulasi mental ), ASIH ( Kasih sayang ), ASUH
( pemenuhan kebutuhan fisik ).

Daftar Pustaka
Prawirohardjo, Sarwono.2008. Ilmu Keperawatan Anak Edisi IV Cet. 1. Jakarta :
Yayasan Bina Pustaka
Salmah, dkk. 2006.Asuhan Keperawatan. Jakarta: EGC
20

Debora, Oda.2011. Proses Keperawatan dan Pemeriksaan Fisik. Jakarta: Salemba


Medika

NANDA International. 2009. Nursing Diagnosis: Definition and Classification 2009-


2011. USA: Willey Blackwell Publication.

Setiadi. 2012. Konsep Penulisan dan Dokumentasi Asuhan Keperawatan; Teori dan
Praktik. Yogyakarta: Graha Ilmu