Anda di halaman 1dari 8

UJIAN MATA KULIAH ENDOKRINOLOGI REPRODUKSI

RESUME
CYTOGENETICS IN REPRODUCTION

OLEH :
DESSY ELVIRA
1520332001

DOSEN PEMBIMBING
dr. Dovy Djanas, SpOG (K)

PROGRAM MAGISTER ILMU KEBIDANAN


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ANDALAS PADANG
TAHUN 2016

RESUME CYTOGENETICS

Sitogenetika atau genetika sel berasal dari kata sitologi (ilmu tentang sel) dan
genetika, sehingga sitogenetika dapat diibaratkan gabungan antara sitologi dan genetika
Ilmu pengetahuan genetika dasar mempelajari karakter atau sifat makhluk hidup secara
kualitatif beserta pewarisannya ($uryq, 1995). Oleh karena itu ilmu sitogenetika dapat
digunakan untuk mempelajari dan meogatralisis pewarisan sifat, Pewarisan sifat makhluk
hfdup dibawa oleh gen yang terdapat didalam kromosom. Kromosom diketahui menjadi
tempat utama dari materi genetik yaitu DNA dan RNA. Bentuk kromosom, struktur
kromosom, serta evolusi kromosom, menjadi dasar ilmu sitogenetika. Ilmu Sitogcnetika
juga mempel4iari berbagai maeam kelainan kromosom muncul pada makhluk hidup
(Suryo, 1995).
Kromosom manusia berjunlah 23 pasang mengandung ribuan gen yang merupakan
suatu rantai pendek dari DNA yang membawa kode informasi genetik tertenJu dan
spesifik. Selama pemtelahan sel baik mitosis mauput! mgiosis, dapat terjadi kesalahan
yang menimbulkan kelainan kromosom. Kelainan yang terjadi dapat berupa kelainan
jumlah maupun struktur yang dapat terjadi baik pada kromosom autosom maupun
kromosom seks. Kerusakan pada kromosom merupakan indikator pgnting adanya
kerusakan pada DNA dan ketidakstabilan genom. Kerusakan pada kromosom akan
menyebabkan kelainan kromosom yang merupakan perbedaan jumlah atau struktur
kromosom dari keadaan normal. Kelainan jumlah kromosom dapat berupa hilang atau
bertambahnya satu kromosom, misalnya, trisomi, triploidi, kelainan struktur dapat terjadi
dikarnakan delesi, duplikasi, translokasi, inversi, dan ring. Selain kelainan struktur dan
jumlah.
Kelainan kromosom ini dapat diturunkan dari orang tua ataupun terjadi sggara dan
berkontribusi besar terhadap terjadinya cacat lahir pada bayi. Kelainan kromasom
menjadi salah satu masalah yang menjadi perhatian pelik dan para ilmuwan pada saat ini.
Berbagai mutasi yang terjadi pada kromosom menyebabkan banyaknya cacat bawaan
yang terlihat dan menjadi masalah yalrg tidak dimengerti oleh masyarakat. Kelainan
kromosom dapat dianalisis dengan melihat kariotipe kromosom. Kariotipe kromosom
merupakan gambaran lengkap dari kromosom pada tahap metafase dari suatu sel yang
tersusun secara teratur dan merupakan pasanganpasangan dari sel diploid yang normal
(Alresn4 2009)
Metode yang digunakan untuk melihat kariotipe kromosom atau gambaran kromosom
adalah kariotyping. Karyotyping adalah analisis yang menggunakan mikroskop untuk
menyusun kariotipe kromosom yang dapat digunakan untuk memeriksa jumlah abnormal
kromosom.
Analisis kromosom ( Sitogenetika ) dalam kaitannya dengan diagnosis penyakit telah
diperkenalkan di negara modern yang sejak 1960-an . Selanjutnya , deteksi molekuler
( genetika molekuler ) telah diterapkan di klinik sejak 1980-an . Seiring dengan kemajuan
teknik molekuler diagnosis penyakit genetik banyak dapat dibentuk . Analisis molekuler
dapat difasilitasi untuk memprediksi dan memperkirakan risiko penyakit berkembang.
Sitogenetika masih merupakan alat yang berguna dan berlaku dalam diagnosis penyakit
genetika terutama di Indonesia di mana genetika laboratorium sangat sedikit tersedia
bersama negara . Molekul genetik laboratorium harus dikembangkan di berbagai kota
besar di negara itu sebagai diagnosis molekuler saat ini adalah permintaan yang tinggi .

Analisis Sitogenetika dan Fluoresence In Situ Hybridization (FISH)


Berdasarkan penelitian-penelitian biologi molekuler yang berkembang pesat di
negara-negara maju telah ditunjukkan bahwa hampir semua patofisiologi penyakit
berbasis pada perubahan struktur asam nukleat (DNA) yang diwariskan maupun akibat
tekanan lingkungan seperti infeksi virus. Bila perubahan terjadi pada bagian yang cukup
luas dari gen-gen (>4Mb) maka ini dapat teridentifikasi pada tingkat kromosomal dengan
menggunakan mikroskop cahaya. Bila perubahan itu sangat kecil bahkan hanya 1 bp
(base pair) maka hanya dapat diidentifikasi secara molekuler.
Sitogenetika adalah pemeriksaan bahan genetik pada tingkat sel (kromosom), yang
dapat diperiksa dengan mikroskop cahaya. Pemeriksaan sitogenetika berperan untuk
mendeteksi adanya kelainan bahan genetik yang diturunkan (herediter) maupun yang
terjadi secara spontan (de novo) dan kelainan kromosom yang didapat (acquired) akibat
adanya proses di dalam tubuh, seperti pada keganasan.
Sitogenetika molekuler atau yang biasa disebut dengan Fluoresence In Situ Hybridization
(FISH) adalah suatu visualisasi dari lokus atau gen atau sekuens DNA pada kromosom
tertentu dengan menggunakan teknik biokimia yang dinamis dari hibridisasi in situ.
Sebetulnya tehnik ini sudah dimulai sejak tahun 1960-an dengan hibridisasi DNA probe
bermuatan radioaktif. Kemudian berkembang menjadi hibridisasi in situ non isotop yang
lebih murah dan aman. FISH adalah suatu bentuk hibridisasi insitu pada kromosom,
dimana probe asam nukleat dilabel dengan inkorporasi bahan fluorophore yaitu grup
bahan kimia yang berpendar ketika dipapar dengan iradiasi ultraviolet. Hibridisasi dengan
probe warna pada DNA ini dapat dilakukan secara simultan untuk beberapa macam probe
(lokus). Deteksi warna dilakukan dengan mikroskop fluoresen yang menggunakan filter
khusus dan ditayangkan serta direkam pada perangkat lunak komputer.

Analisis Molekuler
Pengertian tentang DNA dan replikasinya merupakan dasar penting untuk diagnosis
secara molekuler. Polymerase Chain Reaction (PCR) yang dapat mengamplifikasi DNA
dan Restriction Fragment Length Polymorphism (RFLP) yang dapat memotong DNA
pada sekuens dari lokus tertentu merupakan tehnik yang sering dipakai untuk diagnosis
molekuler dalam klinik. Polymerase Chain Reaction (PCR) yaitu suatu proses
penggandaan atau amplifikasi DNA didalam laboratorium dengan menggunakan primer
yaitu 2 oligonukleotida sintetis yang berlawanan lokasinya (5 dan 3) pada masing-
masing pasangan lembar tunggal DNA (single strand DNA) dan dikatalisasi dengan
ensim DNA polymerase. Suatu sekuens DNA tertentu baik itu sekuens dari fungsional
gen dalam tubuh manusia, maupun suatu polimorfisme DNA pada kromosom tertentu
atau bahkan sekuens DNA dari bakteri tertentu dapat diidentifikasi keberadaannya
didalam tubuh manusia dengan melakukan penggandaan panjangnya sekuens rantai DNA
tersebut.
Adanya polimorfisme pada DNA berguna untuk menentukan lokus dari gen, untuk
mencari factor-faktor yang mempengaruhi timbulnya penyakit dan bahkan berguna pada
bidang Kedokteran Kehakiman misalnya pada paternity test (tes untuk menentukan
keayahan). Polimorfisme pada sekuens DNA manusia dapat dideteksi dengan Restriction
Fragment Length Polymorphysm (RFLP) yaitu dengan mencerna DNA dengan ensim
restriksi yang mempunyai recognition site tertentu. Variasi fragmen restriksi yang
dihasilkan dapat terjadi secara netral (alami dan tidak patologis) atau akibat adanya
mutasi noktah dan insersi/delesi yang akan mengurangi atau menambah restriction
endonuclease recognition sites

Aplikasi Pemeriksaan Dari Kromosom ke DNA


Sindrom penyakit genetik
Sindrom Prader Willi (sindrom PW) dengan gejala klinik obesitas, hipogonadisme
dan gangguan kognitif, gen yang mutasi pada lokus yang cukup besar sehingga dapat
diidentifikasi secara mikroskopis (kromosomal). Sindrom PW dan sindrom Angelman
(gangguan kognitif dengan wajah dismorfik) mempunyai gejala klinik yang berbeda
tetapi secara sitogenetik mempunyai kelainan kromosom yang sama yaitu adanya delesi
lengan panjang kromsom 15 (15q1.2). Sebelum ditemukannya tehnik molekuler patologis
kedua sindrom ini sulit dijelaskan. Analisis molekuler membuktikan bahwa delesi pada
kedua sindrom ini memang pada lokus yang sama tetapi berbeda asalnya yaitu delesi alel
paternal (berasal dari ayah) pada sindrom Prader Willi dan delesi alel maternal (berasal
dari ibu) pada sindrom Angelman.
Sindrom fragile-X merupakan penyebab utama retardasi mental yang diwariskan
secara X-linked. Gejala klinik yang khas pada penderita sindrom fragile-X laki-laki selain
retardasi mental adalah testis membesar, telinga menggantung dan menonjol, dagu dan
jidat memanjang serta gejala psikoneurologik lainnya seperti mata juling dan hiperaktif.
Secara sitogenetik penyakit ini ditandai oleh adanya kerapuhan (fragile) yang tampak
seperti patahan di ujung akhir lengan panjang kromosom X. Pada tingkat molekuler
kelainan pada sindrom fragile-X adalah adanya perluasan jumlah trinukleotida DNA
CGG repeat pada promoter gen FMR1. Pada pengulangan CGG gen Fragile X Mental
Retardation-1 (FMR1) terdapat interupsi AGG pada setiap 9-10 repeat yang diduga
berpengaruh terhadap stabilitas gen. Hilangnya interupsi AGG pada gen FMR1 mungkin
dapat menyebabkan gen tidak stabil dan terjadi perluasan pengulangan CGG.

Endokrinologi
Dalam bidang Endokrinologi, gangguan hormonal misalnya pada ambigous genitalia
(Congenital Adrenal Hyperplasia, Androgen Insensivity Syndrome dan Androgen
Insensivity Syndrome), penyakit tiroid dan penyakit metabolik seperti diabetes mellitus
dapat dipastikan diagnosisnya serta untuk memprediksi kemungkinan timbulnya penyakit
pada anggota keluarganya yang tampak sehat dengan analisis DNA (molekuler).
Pada ambigous genitalia, dahulu diagnosis dengan identifikasi kromatin seks dari
hapusan pipi, bahkan identifikasi drumstick dari hapusan darah tepi. Pemeriksaan ini
seyogyanya sudah tidak dilakukan lagi karena banyak kelemahannya. Analisis kromosom
menjadi pilihan berikutnya, namun banyak kasus-kasus ambigous genitalia yang hanya
dapat didiagnosis jenis kelaminnya tetapi tidak dapat didiagnosis kelainannya. Pada
Androgen Insensivity Syndrome (AIS)/sindrom resistensi androgen atau Testicular
Feminization Syndrome disebabkan tidak atau kurang tanggapnya reseptor androgen atau
sel target terhadap rangsangan testosteron dan dehidrotestoteron (DHT). AIS dapat terjadi
dalam bentuk complete (CAIS) atau incomplete / partial (PAIS). Penyakit ini diturunkan
secara X-linked (melalui jalur ibu) dengan kariotip penderita 46,XY. . Kelainan molekuler
yang terbanyak pada AIS adalah terdapat mutasi satu basa pada AR gen (lokasinya pada
kromosom Xq11-12) yaitu perubahan asam amino arginin (CGC) menjadi histidine
(CAC) pada gen AR (androgen receptor). Diagnosis genetik dini pada AIS sangat penting
untuk menentukan jenis kelamin penderita dan penanganan agar tidak terjadi problem
sosial dibelakang kali. Analisis kromosom hanya untuk menentukan jenis kelaminnya,
diagnosis tepat harus secara molekuler.
Congenital Adrenal Hyperplasia (CAH) merupakan penyebab terbanyak kasus
interseksual, terjadi maskulinisasi individu dengan genetik wanita (46,XX) dan kelainan
ini diturunkan secara autosomal resesif. CAH dapat disebabkan antara lain oleh adanya
defek pada enzim 21-hidroksilase (21-OH), 11-hidroksilase (11-OH) dan 3-
hidroksisteroid dehidrogenase. Defisiensi enzim ini mungkin disebabkan oleh delesi,
konversi atau mutasi noktah (point mutation) gen ini. Dengan analisis DNA (RFLP)
mutasi pada gen CYP21A dan CYP21B dapat dideteksi. Diagnosis dan konseling
genetika sangat penting karena CAH merupakan penyakit yang dapat diobati asalkan
ditangani sedini mungkin.

Keganasan
Keganasan yang berkaitan dengan kelainan genetik baik kromosomal maupun
molekuler juga sudah banyak dilaporkan misalnya pada keganasan kolon dan payudara.
Dengan berkembangnya teknik-teknik baru ini, aplikasi sitogenetika dan genetika
molekuler dalam klinik menjadi semakin luas. Dalam bidang Hematologi, deteksi
kromosom Philadelphia yang merupakan indikator diagnosis dan prognosis pada
leukemia dapat diperiksa secara kromosomal maupun molekuler.
Perubahan struktur kromosom dan proto onkogen dapat menimbulkan keganasan
contohnya pada translokasi (kromosom 9 dan 22) yang menyebabkan fusi gen ABL (pada
kromosom 9) dengan BCR (pada kromosom 22) yang memacu terjadinya leukemia
mielositik maupun limfositik. Akibat translokasi tersebut secara mikroskopik
(kromosomal) dapat diidentifikasi adanya pemendekan lengan panjang kromosom 22
yang dikenal dengan kromosom Philadelphia (Ph). Setelah ditemukannya teknik-teknik
molekuler maka dapat dibedakan 2 macam titik patahan yang berbeda pada kromosom 22
yaitu diantara ekson 1-2 pada leukemia limfositik akut dan diantara ekson 10-11 pada
leukemia mieloid kronik. Perbedaan 2 titik patahan ini menyebabkan 2 jenis fusi gen
(chimeric gen) yang menghasilkan produk protein yang berbeda dan gejala klinis yang
berbeda pada kedua jenis leukemia tersebut. Pemeriksaan sitogenetika pada keganasan
hematologik membantu memastikan diagnosis, menentukan prognosis dan menentukan
penatalaksanaan terapi. Misalnya ditemukannya kromosom Ph pada leukemia mieloid
kronik merupakan indikator prognosis dan respon terhadap terapi yang lebih baik,
sebaliknya ditemukannya kromosom Ph pada leukemia limfositik akut merupakan
indikator yang kurang baik. Di negara-negara maju dimana faktor biaya tidak merupakan
masalah besar, sekarang untuk diagnosis leukemia para dokter dan ahli laboratorium lebih
menyukai dengan teknik-teknik molekuler atau FISH karena lebih cepat dan tepat.
Namun di Indonesia sitogenetika masih cukup akurat dan terjangkau biayanya asal
dikerjakan oleh ahli sitogenetika yang berpengalaman.

Kerentanan Genetik
Penyakit genetik yang diwariskan, penyakit-penyakit gangguan metabolisme,
penyakit degeneratif, keganasan dan bahkan adanya organisme tertentu didalam tubuh
penyebab infeksi yang dahulu tidak dapat didiagnosis secara mikroskopis sekarang dapat
didiagnosis secara molekuler. Mengapa hanya individu tertentu yang dapat menderita
suatu penyakit, misalnya pada perokok berat, mengapa ada yang menderita keganasan
paru dan ada yang tidak; pada penyakit infeksi seperti meningitis dan demam berdarah
ada yang mengalami komplikasi sepsis dan perdarahan, namun ada pula yang tetap
bertahan tanpa komplikasi tersebut. Kerentanan terhadap timbulnya suatu penyakit pada
seseorang akhir-akhir ini juga mulai diteliti secara molekuler.
Lokus-lokus tertentu yang berhubungan dengan penyakit kardiovaskuler sekarang
juga sudah banyak diidentifikasi seperti pada familial hypercholesterolaemia, sindrom
marfan dan kardiomiopati. Diagnosis yang tepat pada penyakit infeksi sekarang
dipermudah dengan identifikasi organisme secara molekuler misalnya pada virus
hepatitis, Salmonella typhi, Mycobacterium tuberculosa dan virus HIV. Beberapa faktor
risiko timbulnya penyakit dan kerentanan terhadap penyakit tertentu juga sudah banyak
dilaporkan misalnya polimorfisme gen TNF dan gen plasminogen aktivator inhibitor-1
pada beberapa penyakit infeksi atau sepsis, penyempitan pembuluh darah pada
hiperhomosisteinemia yang dikaitkan dengan mutasi gen Methyl Tetra Hydro Folate
Reductase (MTHFR) dan gen elastic yang berkaitan dengan penyakit jantung koroner.
Pemeriksaan pada tingkat kromosomal dan DNA dapat membantu untuk mendeteksi
penyebab penyakit tertentu, diagnosis yang lebih tepat dan cepat, membantu menentukan
prognosis, pencegahan penyakit, mengetahui kerentanan seseorang terhadap penyakit
atau mengetahui adanya faktor-faktor risiko untuk timbulnya suatu penyakit, dan
belakangan ini, untuk penerapan teknik-teknik pengobatan secara kimiawi
(pharmacogenetics) maupun terapi gen (gene therapy).