Anda di halaman 1dari 5

Kopi Untuk Ayah Karya Rain Mayra Ananda

Putri
KOPI UNTUK AYAH
Karya Rain Mayra Ananda Putri

Aku memandang gelas berwarna putih susu berisi kopi yang sedang berputar-putar didalamnya.
Uap panasnya menyapa hidungku. hmm... aku menikmati aromanya, memang benar ini sedap.
Komentarku itu sebenarnya sarat dengan penyesalan. Mengapa aroma kopi ini sangat harum
hingga membuat Ayah begitu menyukainya? Selalu tanya yang sama.

Saat ini aku baru selesai mengaduk satu sendok makan kopi hitam dengan tiga sendok teh gula dan
dua ratus lima puluh mili air panas. Dan seperti biasa, memandangi pusaran airnya didalam gelas
kenang-kenangan dari ibu untuk hadiah pernikahan mereka tiga puluh tahun silam.

Aku terus memandangi kopi itu hingga tenang airnya. Menunggu butiran kopinya mengendap ke
dasar gelas kesayangan ayah, yang sebenarnya mempunyai pasangan. Yaitu gelas minum teh milik
ibu. Yang pecah ketika ibu terjatuh di teras belakang saat selesai membuat teh kesukaannya
sebagai teman membaca majalah Horizon di kursi malas lima tahun silam. Yang kemudian
membawa ibu ke ruang ICU, koma selama beberapa minggu, dan tertidur dengan pulas di
pangkuan Tuhan.

Beberapa saat yang lalu aku melihat jam tua di dinding ruang keluarga, jam itu seusia pernikahan
Ayah dan Ibu, tiga puluh tahun. Jam yang ditengahnya terdapat sepasang cincin emas itu
menunjukkan pukul empat sore. Waktu Ayah minum kopi.

Arsyla! Kopi Ayah sudah siapkah? teriak Ayah dari teras belakang. Bukan bukan, Ayah tidak
membentak. Hanya saja beliau sepertinya tidak sabar ingin meminum kopi hitam satu sendok
makan dengan tiga sendok teh gula dan dua ratus lima puluh mili air panas buatanku.

Ayah seorang pekerja keras. Aku bangga punya beliau yang bisa menyekolahkanku hingga di
bangku kuliah S1 Universitas Diponegoro. Tentunya semua biaya Ayah yang usahakan. Tanpa
beasiswa, tanpa surat keterangan apapun. Karena walaupun kami hidup dalam kesederhanaan,
Ayah merasa sangat mampu.

Pernah suatu waktu aku meminta izin pada Ayah untuk bekerja sebagai kasir di sebuah swalayan
dengan niat meringankan beban Ayah, dengan tegas Ayah melarang. Apa kamu merasa
kekurangan dengan uang yang Ayah beri?

Ayah, Syl hanya tidak ingin terus menyusahkan Ayah. Belaku.


Ayah tidak merasa bahwa kamu ini menyusahkan. Nilai-nilaimu, dan semangat belajarmu itu yang
membuat Ayah selalu berusaha agar dapat selalu memenuhi kebutuhan kuliahmu. Jadi apakah
kamu ingin membuat Ayah... kalimat ayah terhenti begitu melihat wajahku yang tertunduk begitu
dalam hingga daguku nyaris menyentuh dada. bukan Ayah ingin memanjakanmu Arsyla, hanya saja
Ayah ingin selalu tersenyum ketika kamu menggenggam prestasi. Tangan besar Ayah membelai
kepalaku.
Iya Ayah, Syl mengerti. tetapi bolehkah hanya sekedar mengirim cerita atau puisi ke majalah dan
koran? pintaku selanjutnya.
Asal tidak mengganggu kegiatan kuliahmu. Senyum Ayah menandakan telah dinyalakannya lampu
hijau. Kupeluk Ayah yang hanya satu-satunya milikku. Tak ingin rasanya aku kehilangannya sebelum
aku mampu membalas ketulusannya, walau kutahu sampai kapan pun aku tak akan pernah bisa
membayar semua pengorbanan Ayah yang sudah dua puluh tahun menghidupiku.

Titik-titik air berhamburan dari mataku, hingga membasahi kaus putih polos Ayah. Ayah yang
merasakan hangatnya titik-titik air itu segera melepaskan pelukanku, kenapa menangis? tanya
Ayah.

Arsyla sayang Ayah. Tangisku makin menderas.


Ayah cinta Arsyla. Ayah Tersenyum kemudian mencium keningku.

Aku masih memandangi kopi itu dengan mengangkat pegangan cangkirnya. Membawanya hingga
tepat didepan hidungku. Tangan kiri yang masih memegang koran sore Ayah kutekankan di atas
meja makan. Wajah damai Ayah membayang di permukaan airnya yang gelap. Mengapa aroma kopi
ini sangat harum hingga membuat Ayah begitu menyukainya?

Ayah seorang yang tegas dalam masalah pendidikanku. Dan aku mengerti. Tentunya setelah aku
protes mengapa tak ada satu pun lelaki yang diizinkan menjadi kekasihku. apa yang bisa kamu
jaminkan untuk prestasi tetap dipuncak kalau berpacaran dengan tampang gaul mereka? kata Ayah
tegas. Bukan bukan, Ayah tidak membentak. Hanya saja Beliau ingin agar aku tetap menurut
padanya.

Kopi Untuk Ayah Karya Rain Mayra Ananda Putri

Pernah suatu malam aku diantar teman laki-laki. Saat itu menjelang ujian semester ke dua. kalau
besok Ayah lihat kamu diantar laki-laki lagi. Kukawinkan sekalian dengannya. Kata Ayah tegas.
Bukan bukan, Ayah tidak membentak. Hanya saja beliau tidak ingin aku terjerumus dalam pergaulan
bebas.

Tapi kami hanya berteman, Ayah. Belaku. Ayah hanya diam memandangku selama beberapa saat.
Aku tidak berani menatapnya. Kutenggelamkan wajahku begitu dalam hingga daguku nyaris
menyentuh dada. Kemudian Ayah menyodorkan koran yang sedang dibacanya. Aku membaca judul
yang paling besar di halaman pertama, SEORANG MAHASISWI TEWAS DIBUNUH TEMAN
KULIAHNYA, dan kepala berita, Jakarta, seorang mahasiswi tewas dibunuh teman kuliahnya
setelah diperkosa. Menurut penuturan salah seorang teman korban, awalnya gadis asal Tangerang
ini diantar pulang setelah kegiatan di kampus. Ayah mengkhawatirkanku.

Kupandang wajah Ayah yang sudah berkeriput. Ayah tersenyum. Aku memeluknya, maafkan Syl,
Ayah. Bisikku, dan aku tak dapat lagi menahan air mataku.

Kuhirup harumnya kopi sekali lagi sebelum membawanya ke teras belakang. Tempat dimana Ayah
membaca koran sorenya sepulang kerja. Ritual wajibnya. Dulu sewaktu Ibu masih menempati kursi
malas disamping kursi goyang Ayah, mereka berdua kerap berbincang tentang bacaan masing-
masing. Ibu yang membacakan puisi untuk Ayah, dan Ayah yang membacakan berita untuk Ibu.

Kuhadiahkan kemeja cokelat panjang untuk Ayah beserta majalah yang di rubik cerpennya tertera
namaku, Arsyla Wahid Suseno. Tepatnya saat ulang tahunnya yang ke lima puluh tiga, beberapa
hari setelah aku diwisuda, dan satu minggu setelah aku menerima honorku dari majalah. Ini kali
pertama aku memberinya hadiah yang sedikit mempunyai harga setelah dua puluh dua tahun
hidupku bersamanya. Dan setelah selama tujuh tahun terakhir memberinya hadiah-hadiah kecil
yang sampai saat ini masih disimpannya.

Ya, aku telah lulus. Dengan predikat yang Ayah idamkan saat beliau kuliah dulu. Kami berdua
menangis diatas panggung. Suasana riuh tak kunjung reda bahkan setelah kami selesai berpelukan.
Bahagia dan bangga, hanya itu yang tercermin dalam setiap bulir airmatanya. terimakasih anakku,
engkau telah membalasnya. Ucap Ayah.

Terimakasih Ayah, engkau telah berhasil. Balasku.


Tidak tidak, engkau yang berhasil sayang. Ayah bangga padamu.

Aku seperti melihat Ayah di kursi goyangnya(bukan bukan, Ayah bukan hantu). Menengok kearahku
yang sedang membawa secangkir kopi ditangan kiri, dan koran sore di tangan kanan. Kuletakkan
kopi dan koran diatas meja bundar di samping kursi goyang Ayah yang semakin usang.
Kubayangkan Ayah yang tersenyum sambil menikmati uap hangat kopi kesukaannya. Ayah yang
tersenyum menyambutku keluar dari pintu belakang rumah. Ayah yang memandangku dengan
penuh perhatian.

Sendi-sendi dalam kakiku semakin melemah. Aku jatuh terduduk diatas lantai merah yang dingin.
Didepan kursi goyang Ayah yang kosong. Aku tertunduk, menyembunyikan wajahku begitu dalam
hingga daguku nyaris menyentuh dada. Tergugu, sendiri.

Jaga Arsyla baik-baik. Bahagiakan dia. Pesan Ayah pada Arman saat kukenalkan dia pada Ayah
sebulan yang lalu. Tentunya setelah aku diwisuda. Arman, kekasih yang direstui Ayah untuk yang
pertama kalinya. Kekasih yang telah diberi amanat sebelum Ayah meninggal karena serangan
jantung. Satu minggu setelah Arman meminta izin Ayah untuk meminangku.
Ini kopi untuk Ayah. Kopi yang membawa Ayah pada pangkuan Ilahi. Kopi yang harumnya selalu
menghangatkan Ayah. Kopi hitam satu sendok makan dengan gula tiga sendok teh dan dua ratus
lima puluh mili air panas. Mengapa aroma kopi ini sangat harum hingga membuat Ayah begitu
menyukainya? Selalu tanya yang sama.

Aku yang tak bisa meredam tangisku, tergolek diatas lantai hingga Arman datang. Ia langsung
meraih tubuhku dan kemudian memelukku, membiarkanku menangis dipelukannya. Aku
membayangkan pelukan Ayah, walau selamanya tak akan pernah sama.