Anda di halaman 1dari 19

Nama : M.

Akbar Ardiansyah Hasibuan


NIM : 140702010

JENIS JENIS BATUAN/MINERAL DAN JENIS JENIS TANAH

Siklus Batuan

A. Jenis Batuan

1. Batuan Beku (Igneus Rock)

Batuan beku terbentuk sebagai akibat pembekuan magma


dalam permukaan bumi (dalam batolit), pipa magma/kawah (vent),
sill, dike (retas), dan di atas permukaan bumi (lelehan).

Berdasarkan tempat terjadinya, batuan beku dapat dibagi menjadi 2 (dua) :

1. Batuan beku intrusif (intrusive rocks)

a. Batuan beku dalam (plutonik), terjadi sebagai akibat pembekuan magma yang jauh
di dalam bumi. Batuan ini dicirikan dengan komposisi Kristal berukuran besar/kasar
(faneritik), mudah dibedakan secara mata telanjang (megaskopis). Plutonik diambil
dari nama dewa bangsa Yunani kuno, dewa penguasa bumi. Contoh : granit ,
granodiorit, diorit, sianit, gabro.

1
Nama : M. Akbar Ardiansyah Hasibuan
NIM : 140702010

1. Granit

Granit kebanyakan besar, keras dan kuat, Kepadatan


rata-rata granit adalah 2,75 gr/cm dengan jangkauan antara 1,74 dan
2,80. Kata granit berasal dari bahasa Latin granum. Batuan ini
banyak di temukan di daerah pinggiran pantai dan di pinggiran
sungai besar ataupun di dasar sungai. Batuan ini terbentuk dari pendinginan magma yang
terjadi dengan lambat di bawah permukaan bumi. Dan batuan jeni ini sering dijadikan hiasan
dan bahan bangunan rumah.

2. Granodiorite

Batuan beku dengan ciri-ciri agak asam. Mineral penyusunnya


hampir mirip dengan diorit atau andesit, tetapi ditambah kuarsa dan
alkali felspar, sementara palgioklasnya secara berangsur berubah ke
asam.

3. Diorite
Batuan ini mengandung sedikit Kalsium (soda) plagioklas
feldspar, mineral berwarna terang, dan hornblende berwarna
hitam. batuan diorite tidak mengandung mineral kuarsa atau
sangat sedikit. Terbentuk dari hasil peleburan lantai samudra yang
bersifat mafic pada suatu subduction zone, biasanya diproduksi
pada busur lingkaran volkanis, dan membentuk suatu gunung didalam cordilleran (subduction
sepanjang tepi suatu benua, seperti pada deretan Pegunungan). Dan digunakan sebagai batu
ornamen dinding maupun lantai bangunan gedung dan sebagai bahan bangunan (hiasan).

4. Sianit

Sienit adalah batuan beku dalam sangat asam, dimana alkali felspar
lebih banyak daripada plagioklas.

2
Nama : M. Akbar Ardiansyah Hasibuan
NIM : 140702010

5. Gabro
Berwarna hitam, hijau, dan abu-abu gelap. Struktur batuan ini
adalah massive, tidak terdapat rongga atau lubang udara maupun
retakan-retakan. Batuan ini memeiliki tekstur fanerik karena
mineral-mineralnya dapat dilihat langsung secara kasat mata dan
mineral yang besar menunjukkan bahwa mineral tersebut terbentuk
pada suhu pembekuan yang relatif lambat sehingga bentuk mineralnya besar-besar. terbentuk
dari magma yang membeku di dalam gunung. untuk penghasil pelapis dinding (sebagai
marmer dinding).

b. Batuan beku porfir, terbentuk di sekitar pipa magma/kawah, komposisi kristal


beragam, ada yang besar/kasar, dan sedang (porfiritik). Contoh : granit porfir, riolit
porfir, granodiorit porfir, dasit porfir, diorit porfir, andesit porfir.

1. Granit Porfir

Profir Diarit adalah batuan yang dapat menjadi batuani induk


(Host Rocks), mineralisasi l terbentuk bersama urat kuarsa,
tersebar dan mengisi rekahan/retakan dengan ubahan hidrotermal
propilit, argilit, pilik dan potassik. Ditemukannya mineral
petunjuk epidot, diopsid aktinolit, berasosiasi dengan magnetit
memberi gambaran kearah dugaan bahwa telah terjadi proses pyrometasomatisma yang
menghasilkan mineralisasi skarn.

2. Riolit Porfir

Riolit terbentuk dari pembekuan magma di dalam kerak bumi


yang lazimnya dari letupan gunung berapi. yang terbentuk
daripada pembekuan magma di luar permukaan bumi. Riolit
adalah bersifat asid dan bes. Namun sebenarnya sifat asid
batuan ini bergantung kepada kandungan silika di dalamnya.
Riolit di anggap berasid apabila kandungan silikanya melebihi 66%. Riolit sering
ditemukan berupa lava. Riolit bisa digunakan sebagai bahan baku beton ringan, isolasi

3
Nama : M. Akbar Ardiansyah Hasibuan
NIM : 140702010

bangunan, plesteran, isolator temperatur tinggi/rendah, bahan penggosok, saringan/filter,


bahan pembawa (media) dan campuran makanan ternak.

c. Batuan beku afanitik, tekstur kristal halus. Contoh : andesit, dasit, basal, latit, riolit,
trakit.

1. Andesit
Suatu jenis batuan beku vulkanik dengan komposisi antara
dan tekstur spesifik yang umumnya ditemukan pada
lingkungan subduksi tektonik di wilayah perbatasan lautan
seperti di pantai barat Amerika Selatan atau daerah-daerah
dengan aktivitas vulkanik yang tinggi seperti Indonesia. Nama andesit berasal dari nama
Pegunungan Andes. Batuan bertekstur halus, berwarna abu-abu hijau tetapi sering merah
atau jingga berasal dari lelehan lava gunung merapi yang meletus, dan terbentuk (membeku)
ketika temperatur lava yang meleleh turun antara 900 sampai dengan 1,100 derajat Celsius.
Batuan ini sering digunakan sebagai nisan kuburan, cobek, arca untuk hiasan,dan batu
pembuat candi.

2. Dasit

Batuan ini berwarna abu-abu. Dasit merupakan batuan beku yang termasuk dalam jenis
vulkanik, karena dasit dalam proses pembentukannya mengalami pendinginan magma yang
cepat. Proses terbentuknya dasit pada suhu sekitar 900C 1200C.

2. Batuan beku ekstrusif (extrusive rocks, volcanic rocks). Terbentuk sebagai akibat
magma/lava yang mengalir kepermukaan bumi kemudian mendingin dan membeku

4
Nama : M. Akbar Ardiansyah Hasibuan
NIM : 140702010

dengan cepat, dicirikan dengan komposisi kristal yang sangat halus (amorf).
Contoh : obsidian, batuapung, pitchstone, lava, perlit, felsit, basal.

1. Obsidian

Obsidian terbentuk dari larva permukaan yang mendingin


dengan cepat. Ciri- ciri utama batu ini adalah warna hitam
seperti kaca tidak ada kristal. Dapat digunakan untuk alat
pemotong atau ujung tombak (pada masa purbakala) dan bisa
dijadikan kerajinan.

2. Batu Apung

Batu apung terbentuk dari pendinginan magma yang


mengandung gelembung gas. Ciri-ciri utama batu apung
adalah warna ke abu- abuan berpori-pori, bergelembung,
ringandan terapung di air. Digunakan untuk mengamplas
atau menghaluskan kayu, di bidang industri digunakan
sebagai bahan pengisi (filler), isolator temperatur tinggi dan lain-lain.

3. Basal

Berwarna gelap, berbutir kristal halus; berkomposisi


plagioklas, piroksin dan magnetit, dengan atau tanpa olivin;
dan mengandung SiO2 kurang dari 53% berat. Banyak basalt
mengandung fenokris olivin, plagioklas dan piroksin.
Terbentuk dari pendinginan lava yanng mengandung gas tetapi gasnya telah menguap. Dapat
digunakan sebagai bahan baku dalam industri poles, bahan bangunan/ pondasi bangunan
(gedung, jalan, jembatan, dll).

2. Batuan Sedimen (Sedimentary Rock

Batuan sedimen (endapan) terbentuk sebagai akibat

5
Nama : M. Akbar Ardiansyah Hasibuan
NIM : 140702010

pengendapan material yang berasal dari pecahan, bongkah batuan yang hancur karena
proses alam, kemudian terangkut (tertransportasi) oleh air, angin, es, dan terakumulasi
dalam satu tempat (cekungan), kemudian termampatkan/kompaksi (compacted)
menjadi satu lapisan batuan baru. Batuan sedimen mempunyai ciri berlapis sebagai
akibat terjadinya perulangan pengendapan.

1. Batuan Sedimen Klastik/Detrital/Fragmental

Terbentuk sebagai akibat kompaksi dari material batuan beku, batuan sedimen
lain, dan batuan malihan, dengan ukuran butir beragam. Karena pembentukan tersebut
diakibatkan oleh angin, air, atau es, maka disebut juga batuan sedimen mekanik
(mechanical sediment).

Contoh : batugamping, batupasir, batulempung, breksi, konglomerat, tilit (tillite,


konglomerat/breksi yang terendapkan oleh es), batulanau, arkosa (batupasir felspar),
arenaceous (serpih pasiran), argillaceous (serpih lempungan), carbonaceous (serpih
gampingan).

Ukuran besar butir batuan sedimen klastik diklasifikasikan berdasarkan skala besar butir
Wentworth` sebagai berikut :

Ukuran Nama butir Nama batuan Nama batuan


(mm) (fragmen) (membundar) (menyudut)
Bongkah
> 256 Bongkah Bongkah breksi
konglomerat
Berangkal Berangkal breksi
64-256 Berangkal
konglomerat
Kerakal
4-64 Kerakal Kerakal breksi
konglomerat
Butiran
2-4 Butiran Butiran breksi
konglomerat
Pasir sangat Batupasir sangat
1-2
kasar kasar
1/2-1 Pasir kasar Batupasir kasar
Batupasir sedang
1/4-1/2 Pasir sedang

1/8-1/4 Pasir halus Batupasir halus


Pasir sangat Batupasir sangat
1/16-1/8
halus halus
1/256-1/16 Lanau Batulanau

6
Nama : M. Akbar Ardiansyah Hasibuan
NIM : 140702010

< 256 Lempung Batulempung

1. Batu Gamping
Limestone atau batu gamping adalah batuan sedimen yang
memiliki komposisi mineral utama dari kalsit (CaCO3). Teksturnya
bervariasi antara rapat, afanitis, berbutir kasar, kristalin atau oolit.
Batu gamping dapat terbentuk baik karena hasil dari proses
organisme atau karena proses anorganik.

2. Batu Pasir

Tersusun dari butiran-butiran pasir, warna abu-abu,


kuning, merah Sandstone atau batu pasir terbentuk dari
sementasi dari butiran- butiran pasir yang terbawa oleh aliran
sungai, angin, dan ombak dan akhirnya terakumulasi pada
suatu tempat. Ukuran butiran dari batu pasir ini 1/16
hingga 2 milimeter. Komposisi batuannya bervariasi, tersusun terutama dari kuarsa, feldspar
atau pecahan dari batuan, misalnya basalt, riolit, sabak, serta sedikit klorit dan bijih besi.
Batu pasir umumnya digolongkan menjadi tiga kriteria, yaitu Quartz Sandstone, Arkose, dan
Graywacke. sebagai material di dalam pembuatan gelas/kaca dan sebagai kontruksi
bangunan.

3. Batu Lempung

Coklat, keemasan, coklat, merah, abu-abu. Batu


lempung: kata umum untuk partikel mineral berkerangka
dasar silikat yang berdiameter kurang dari 4 mikrometer.
Lempung mengandung leburan silika dan/atau aluminium
yang halus. Unsur- unsur ini, silikon, oksigen, dan aluminum
adalah unsur yang paling banyak menyusun kerak bumi. Lempung terbentuk dari proses
pelapukan batuan silika oleh asam karbonat dan sebagian dihasilkan dari aktivitas panas

7
Nama : M. Akbar Ardiansyah Hasibuan
NIM : 140702010

bumi. Lempung membentuk gumpalan keras saat kering dan


lengket apabila basah terkena air.

4. Batu Konglomerat

Memiliki ukuran butir 2-256 milimeter dan terdiri atas sejenis atau campuran
rijang, kuarsa, granit, dan lain-lain, hanya saja fragmen yang menyusun batuan ini
umumnya bulat atau agak membulat

5. Breksi

Breksi memiliki butiran-butiran yang bersifat coarse yang


terbentuk dari sementasi fragmen-fragmen yang bersifat kasar
dengan ukuran 2 hingga 256 milimeter. Fragmen-fragmen ini
bersifat runcing dan menyudut. Fragmen-fragmen dari Breksi
biasanya merupakan fragmen yang terkumpul pada bagian dasar lereng yang mengalami
sedimentasi, selain itu fragmen juga dapat berasal dari hasil longsoran yang mengalami
litifikasi. Komposisi dari breksi terdiri dari sejenis atau campuran dari rijang, kuarsa, granit,
kuarsit, batu gamping, dan lain-lain.

6. Batu Serpih

Ciri-cirinya lunak, baunya seperti tanah liat,


butir-butir batuan halus, warna hijau, hitam, kuning,
merah, abu-abu. Terbentuk dari bahan-bahan yang
lepas dan halus karena gaya beratnya menjadi
terpadatkan dan terikat.

2. Batuan Sedimen Organik

Batuan sedimen yang mengandung sisa organisme yang terawetkan (fosil).


Contoh : batugamping gastropoda, batugamping kerang, batugamping amonit,

8
Nama : M. Akbar Ardiansyah Hasibuan
NIM : 140702010

batugamping koral (terumbu), batugamping foram,


batugamping alga (muddy limestones), batubara, radiolarit
(mengandung fosil radiolaria), diatomaceous earth
(mengandung fosil diatome).

1. Batu Gamping Terumbu

Batu Gamping terumbu terbentuk karena aktivitas dari coral atau terumbu
pada perairan yang hangat dan dangkal.

2. Batu Bara

Coal atau batu bara adalah batuan sedimen yang terbentuk dari
kompaksi material yang berasal dari tumbuhan, baik berupa akar,
batang, maupun daun. Teksturnya amorf, berlapis, dan tebal.
Komposisinya berupa humus dan karbon. Warna biasanya coklat
kehitaman dan pecahannya bersifat prismatik.

3. Batuan Sedimen Kimia

Contoh : batugamping kristalin, travertin, tufa (stalaktit dan stalagmit), dolomit,


gipsum, anhidrit, halit (batugaram).

1. Stalaktit dan stalagmit


Kuning, coklat, krem, keemasan, putih. : Air yang larut di
daerah karst akan masuk ke lobang-lobang (doline) kemudian turun
ke gua dan menetes-netes dari atap gua ke dasar gua. Tetesan-
tetesan air yang mengandung kapur yg lama kelamaan kapurnya
membeku dan menumpuk sedikit demi sedikit lalu berubah jadi
batuan kapur yang bentuknya runcing-runcing.

9
Nama : M. Akbar Ardiansyah Hasibuan
NIM : 140702010

2. Gipsum
Gipsum tersusun atas mineral gipsum (CaSO4.H2O).
Sama seperti dengan Saltstone, batuan ini terbentuk
karena kandungan uap air yang ada menguap. Tekstur
dari batuan ini juga berupa kristalin.

3. Batu Garam

Saltstone terdiri dari mineral halite (NaCl) yang


terbentuk karena adanya penguapan yang biasanya
terjadi pada air laut. Tekstur dari batuan ini berbentuk
kristalin.

3. Batuan Malihan/Metamorf (Metamorphic Rock)

Batuan malihan/ubahan (metamorphic, Yunani : meta = berubah, morphe =


bentuk) berasal dari batuan beku atau batuan sedimen yang termalihkan (terubah) di
dalam bumi sebagai akibattekanan dan temperature yang sangat tinggi yang
mengakibatkan perubahan sifat fisik dan kimia dari batuan asal. Contoh : marmer,
malihan dari batugamping kuarsit, malihan dari batupasir kuarsa genes, malihan dari
granit.

Batu Ganes berwarna putih kebau-abuan, terdapat goresan-


goresan yang tersusun dari minera-mineral, mempunyai
bentuk bentuk penjajaran yang tipis dan terlipat pada
lapisan-lapisan, dan terbentuk urat-urat yang tebal yang
terdiri dari butiran-butiran mineral di dalam batuan tersebut.
terbentuk pada saat batuan sedimen atau batuan beku yang
terpendam pada tempat yang dalam mengalami tekanan dan temperatur yang tinggi.

10
Nama : M. Akbar Ardiansyah Hasibuan
NIM : 140702010

Batu Sekis ini terbentuk pada saat batuan sediment atau


batuan beku yang terpendam pada tempat yang dalam
mengalami tekanan dan temperatur yang tinggi. Hampir
dari semua jejak jejak asli batuan (termasuk kandungan
fosil) dan bentuk bentuk struktur lapisan (seperti layering
dan ripple marks) menjadi hilang akibat dari mineral-
mineral mengalami proses migrasi dan rekristalisasi.
Pada batuan ini terbentuk goresan goresan yang tersusun dari mineral mineral seperti
hornblende yang tidak terdapat pada batuan batuan sediment.

Batu Sabak abu-abu kehijau-hijauan dan hitam, dapat


dibelah-belah menjadi lempeng-lempeng tipis. terbentuk bila
batu serpih kena suhu dan tekanan tinggi. Digunakan untuk
papan tulis maupun trotoar dan atap

PENGELOMPOKAN BATUAN MALIHAN / METAMORF

1. Batuan malihan kontak/termal

Terbentuk sebagai akibat adanya terobosan (intrusi) magma, panas yang


ditimbulkan saat terjadi penerobosan mengakibatkan batuan sekelilingnya terubah
menjadi batuan malihan. Zona sentuh antara intrusi magma dengan batuan sekitarnya
disebut daerah pemanggangan (baked zone). Contoh : marmer, kuarsit, hornfel, epidorit.

1. Batu Marmer
Campuran warna berbeda-beda, mempunyai pita-pita warna,
kristal-kristalnya sedang sampai kasar, bila ditetesi asam akan
mengeluarkan bunyi mendesah, keras dan mengkilap jika
dipoles. Marmer adalah batu gamping yang berubah karena
tekanan dan suhu tinggi di dalam kerak bumi. Marmer atau batu
pualam mempunyai permukaan yang mengkilap dengan garis-garis warna lembut melintang
banyak digunakan batu hiasan karena indah dipandang.

11
Nama : M. Akbar Ardiansyah Hasibuan
NIM : 140702010

2. Kuarsit
Warna abu-abu, kekuningan, coklat, merah, sering
berlapis-lapis dan dapat mengandung fosil, lebih keras
dibanding gelas dan terdapat butiran sedang. metamorfose
dari batuan pasir, jika strukturnya tak mengalami perubahan
dan masih menunjukan struktur aslinya. Kuarsit terbentuk
akibat panas yang tinggi sehingga menyebabkan rekristalisasi kwarsa dan felsdpar. dijadikan
sbg kerajinan, konstruksi jalan dan perbaikan.

2. Batuan malihan dinamik/kinetik

Pembentukan batuan malihan sebagai akibat adanya tekanan yang kuat yang
menyebabkan terlipatnya serta terubah satu lapisan batuan. Karena pembentukan batuan
malihan ini meliputi cakupan daerah yang sangat luas maka disebut juga malihan
regional.

JENIS JENIS TANAH

Tanah adalah akumulasi tubuh alam bebas yang menempati sebagian besar permukaan
planet bumi, yang mampu menumbuhkan tanaman, dan memiliki sifat sebagai akibat
pengaruh iklim dan jasad hidup yang bertindak terhadap bahan induk dalam keadaan relief
tertentu selama jangka waktu tertentu pula. Lima faktor yang berpengaruh dalam
pembentukan tanah, yaitu iklim, jasad hidup, bahan induk, relief, dan waktu.

1. Kerikil (gravels) adalah kepingan-kepingan dari batuan


yang kadang-kadang juga mengandung partikel-partikel
mineral quartz, feldspar dan mineral-mineral lain,
Diameter butiran > 5 mm.

2. Pasir Pasir (sand) sebagian besar terdiri dari mineral quartz dan feldspar. Butiran dari
mineral yang lain mungkin juga masih ada pada golongan ini , Diameter butiran 0,0075
5,0 mm.

12
Nama : M. Akbar Ardiansyah Hasibuan
NIM : 140702010

3. Tanah Lanau Lanau (silt)


sebagian besar merupakan
fraksi mikroskopis (berukuran sangat kecil) dari tanah
yang terdiri dari butiran- butiran quartz yang
sangat halus, dan sejumlah partikel-partikel
berbentuk lempengan- lempengan pipih yang
merupakan pecahan dari mineral-mineral mika, Diameter butiran 0,002 0,0075 mm.

4. Tanah Lempung Lempung (clays) sebagian besar


terdiri dari partikel mikroskopis dan submikroskopis
(tidak dapat dilihat dengan jelas bila hanya dengan
mikroskopis biasa) yang berbentuk lempengan-
lempengan pipih dan merupakan partikel-partikel dari
mika. Lempung didefinisikan sebagai golongan
partikel yang berukuran kurang dari 0,002 mm (= 2
mikron).

A. Jenis Jenis Tanah Di Indonesia

1. Organosol atau Tanah Gambut atau Tanah Organik


Jenis tanah ini berasal dari bahan induk organik seperti dari hutan rawa atau rumput
rawa, dengan ciri dan sifat: tidak terjadi diferensiasi horizon secara jelas, ketebalan lebih dari
0,5 meter, warna coklat hingga kehitaman, tekstur debu lempung, tidak berstruktur,
konsistensi tidak lekat-agak lekat, kandungan organik lebih dari 30% untuk tanah tekstur
lempung dan lebih dari 20% untuk tanah tekstur pasir, umumnya bersifat sangat asam (pH
4,0), dan kandungan unsur hara rendah.

2. Aluvial
Jenis tanah ini masih muda, belum mengalami perkembangan, berasal dari bahan
induk aluvium, tekstur beraneka ragam, belum terbentuk struktur, konsistensi dalam keadaan

13
Nama : M. Akbar Ardiansyah Hasibuan
NIM : 140702010

basah lekat, pH bermacam-macam, kesuburan sedang hingga tinggi. Penyebarannya di daerah


dataran aluvial sungai, dataran aluvial pantai dan daerah cekungan (depresi).

3. Regosol

Jenis tanah ini masih muda, belum mengalami diferensiasi horizon, tekstur pasir, struktur
berbukit tunggal, konsistensi lepas-lepas, pH umumnya netral, kesuburan sedang, berasal dari
bahan induk material vulkanik piroklastis atau pasir pantai. Penyebarannya di daerah lereng
vulkanik muda dan di daerah beting pantai dan gumuk-gumuk pasir pantai.

14
Nama : M. Akbar Ardiansyah Hasibuan
NIM : 140702010

4. Litosol
Jenis tanah ini berupa tanah mineral tanpa atau sedikit perkembangan profil, batuan
induknya batuan beku atau batuan sedimen keras, dan kedalaman tanah dangkal (< 30 cm)
bahkan kadang-kadang merupakan singkapan batuan induk (outerop). Tekstur tanah
beranekaragam, dan pada umumnya berpasir, umumnya tidak berstruktur, terdapat kandungan
batu, kerikil, dan kesuburannya bervariasi. Tanah litosol dapat dijumpai pada segala iklim,
umumnya di topografi berbukit, pegunungan, lereng miring sampai curam.

5. Latosol
Tanah ini telah berkembang atau terjadi diferensiasi
horizon, kedalaman dalam, tekstur lempung, struktur remah
hingga gumpal, konsistensi gembur hingga agak teguh, warna
coklat merah hingga kuning. Penyebarannya di daerah
beriklim
basah, curah
hujan lebih
dari 300
1000 meter,
batuan induk
dari tuff,
material
vulkanik, dan
breksi batuan beku intrusi.

6. Grumusol

Jenis tanah ini berupa tanah mineral yang mempunyai


perkembangan profil, agak tebal, tekstur lempung berat,
struktur kersai (granular) di lapisan atas dan gumpal hingga
pejal di lapisan bawah, konsistensi bila basah sangat lekat dan
plastis, bila kering sangat keras dan tanah retak-retak,
umumnya bersifat alkalis, kejenuhan basa, dan kapasitas
absorbsi tinggi, permeabilitas lambat, dan peka erosi. Jenis

15
Nama : M. Akbar Ardiansyah Hasibuan
NIM : 140702010

tanah ini berasal dari batu kapur, mergel, batuan lempung atau tuff vulkanik bersifat basa.
Penyebarannya di daerah iklim sub humid atau sub arid, dengan curah hujan kurang dari 2500
mm/tahun.

7. Pedsolik Merah Kuning

Jenis tanah ini berupa tanah mineral yang telah berkembang, solum (kedalaman)
dalam, tekstur lempung hingga berpasir, struktur gumpal, konsistensi lekat, bersifat agak asam
(pH kurang dari 5,5), kesuburan rendah hingga sedang, warna merah hingga kuning,
kejenuhan basa rendah, dan peka erosi. Tanah ini berasal dari batuan pasir kuarsa, tuff
vulkanik, dan bersifat asam. Tanah ini tersebar di daerah beriklim basah tanpa bulan kering,
dengan curah hujan lebih dari 2500 mm/tahun.

8. Podsol

Jenis tanah ini telah mengalami perkembangan profil, susunan horizon terdiri dari
horizon albic (A2) dan spodic (B2H) yang jelas, tekstur lempung hingga pasir, struktur
gumpal, konsistensi lekat, kandungan pasir kuarsanya tinggi, sangat masam, kesuburan

16
Nama : M. Akbar Ardiansyah Hasibuan
NIM : 140702010

rendah, kapasitas pertukaran kation sangat rendah, peka terhadap erosi, batuan induk batuan
pasir dengan kandungan kuarsanya tinggi, batuan lempung dan tuf vulkan masam. Penyebaran
di daerah beriklim basah, curah hujan lebih dari 2000 mm/tahun tanpa bulan kering, dan
topografi pegunungan. Daerahnya di Kalimantan Tengah, Sumatra Utara, dan Irian Jaya
(Papua).

9. Andosol

Jenis tanah ini berupa tanah mineral yang telah mengalami perkembangan profil,
solum agak tebal, warna agak coklat kekelabuan hingga hitam, kandungan organik tinggi,
tekstur geluh berdebu, struktur remah, konsistensi gembur dan bersifat licin berminyak
(smeary), kadang-kadang berpadas lunak, agak asam, kejenuhan basa tinggi dan daya absorpsi
sedang, kelembaban tinggi, permeabilitas sedang dan peka terhadap erosi. Tanah ini berasal
dari batuan induk abu atau tuff vulkanik.

10. Mediteran Merah Kuning

Jenis tanah ini mempunyai perkembangan profil,


solum sedang hingga dangkal, warna coklat hingga merah,

17
Nama : M. Akbar Ardiansyah Hasibuan
NIM : 140702010

mempunyai horizon B argilik, tekstur geluh hingga lempung,


struktur gumpal bersudut, konsistensi teguh dan lekat bila
basah, pH netral hingga agak basa, kejenuhan basa tinggi,
daya absorbsi sedang, permeabilitas sedang dan peka erosi,
berasal dari batuan kapur keras (limestone) dan tuff vulkanis
bersifat basa. Penyebaran di daerah beriklim sub humid dan
bulan kering nyata dengan curah hujan kurang dari 2500
mm/tahun, di daerah pegunungan lipatan, topografi Karst dan
lereng vulkan ketinggian di bawah 400 m. Khusus tanah
mediteran merah kuning di daerah topografi Karst disebut
terra rossa.

11. Hodmorf Kelabu (gleisol)

Jenis tanah ini perkembangannya lebih dipengaruhi oleh faktor lokal, yaitu topografi
merupakan dataran rendah atau cekungan, hampir selalu tergenang air, solum tanah sedang,
warna kelabu hingga kekuningan, tekstur geluh hingga lempung, struktur berlumpur hingga
masif, konsistensi lekat, bersifat asam (pH 4,5 6,0), dan kandungan bahan organik. Ciri
khas tanah ini adanya lapisan glei kontinu yang berwarna kelabu pucat pada kedalaman
kurang dari 0,5 meter akibat dari profil tanah selalu jenuh air. Penyebaran di daerah beriklim
humid hingga sub humid, dengan curah hujan lebih dari 2000 mm/tahun.

12. Tanah Sawah (paddy soil)

18
Nama : M. Akbar Ardiansyah Hasibuan
NIM : 140702010

Tanah sawah ini diartikan tanah yang karena sudah lama (ratusan tahun)
dipersawahkan memperlihatkan perkembangan profil khas, yang menyimpang dari tanah
aslinya. Penyimpangan antara lain berupa terbentuknya lapisan bajak yang hampir kedap air
disebut padas olah, sedalam 10 15 cm dari muka tanah dan setebal 2 5 cm. Di bawah
lapisan bajak tersebut umumnya terdapat lapisan mangan dan besi, tebalnya bervariasi antara
lain tergantung dari permeabilitas tanah. Lapisan tersebut dapat merupakan lapisan padas
yang tak tembus perakaran, terutama bagi tanaman semusim. Lapisan bajak tersebut nampak
jelas pada tanah latosol, mediteran dan regosol, samar-samar pada tanah aluvial dan
grumusol.

19