Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN TUTORIAL

BLOK 5 MODUL 3 PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN GIGI

KELOMPOK 2

Tutor : Drg. Rahmi khairani aulia

Ketua : Nazifa khairunnisa

Sekretaris meja : ulfa rizalni

Sekretaris papan : M.iqbal

Anggota :

Elsa febri hanesty

Rahma fuaddiah

Atika rahmayeni

Hanifa safira

Almira ulfa harda

Putri amelia

Aisya dalvi

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI


UNIVERSITAS ANDALAS

2017

MODUL 3

Pertumbuhan dan perkembangan gigi

Skenario 3 :

Gigi NN... aneh

Ny X (28 th) membawa anaknya NN (7 th) ke drg karena melihat ada kelainan pada
bentuk giginya, 1 buah gigi depan atas NN yang baru tumbuh bentuknya tidak seperti gigi
depan tapi bentuknya runcing sehingga Ny X merasa cemas.

Setelah melakukan pemeriksaan drg menjelaskan bahwa gigi NN terdapat gigi


mesiodens. Dari hasil pemeriksaan diketahui juga gigi molar NN banyak yang karies
sehingga dokter gigi menyarankan dilakukan perawatan untuk mencegah terjadinya gangguan
erupsi gigi permanen. Karena gangguan erupsi akan menyebabkan gangguan pertumbuhan
dan perkembangan oklusi rahang. Dokter gigi menyarankan agara NN lebih banyak
mengkonsumsi makana yang baik untuk kesehatan giginya. Mendengarkan perjelasan drg,
Ny X merasa tenang.

Bagaimana saudara menjelasakan yang dialami NN ?

Langkah Seven Jumps :

1. Mengklarifikasi terminologi yang tidak diketahui dan mendefinisikan hal hal yang
dapat menimbulkan kesalahan interprestasi
2. Menentukan masalah
3. Menganalisa masalah melalui brain storming dengan menggunakan prior knowledge
4. Membuat skema atau diagram dari komponen komponen permasalahan dan mencari
korelasi dan interasi antar masing-masing komponen untuk membuat solusi secara
terintegrasi
5. Memformulasikan tujuan pembelajaran/learning objevtives
6. Mengumpulkan informasi di perpustakaan,internet,dan lain-lain
7. Sintesa dan uji informasi yang telah diperoleh
Uraian:

A.TERMINOLOGI

1. mesiodens kelainan dimana jumlah gigi lebih dari jumlah normal dan mempunyai
morfologi dan bentuk yang tidak normal gigi yang tumbuh diantara insisivus sentral dan
lateral

2. oklusi pertemuan antara gigi maxilla dan mandibula

3. karies gigi berlubang

B.RUMUSAN MASALAH

1. apa faktor yang mempengaruhi tumbang gigi ?

2. apa penyebab gigi mesiodens ?

3. bagaimana bentuk dari gigi mesiodens ?

4. bagaimana penangan gigi mesiodens ?

5. apa hal yang terjadi jika gigi mesiodens tidak ditangani ?

6. kenapa gigi molar banyak karies ?

7. apa hubungan gigi berlubang dengan erupsi ?

8. apa hubugan gigi susu karies degan gigi permanen ?

9. apa kelainan tumbang gigi ?

10. apa makanan yang baik untuk kesehatan gigi ?

C. ANALISIS MASALAH

1. faktor yang mempengaruhi

Sistemik Sistemik : tumer syndrome


Penghambat : down syndrome
Lokal : gigi yang menyimpang ,space tidak ada ,tumor,menekan muskular
Hormonal : GH,PTH,TH
Usia
Genetik : clett of lip/palate,hiperdontia
Nutrisi : kekurangan kalsium,kekurangan m.d ,oklusi terhambat
Jenis kelamin : pr lemah
Bad habbit

2. penyebab gigi mesiodens


Alafisme : mengikuti primitif dens
Hipergenesis : cabang palatal dirangsang untuk menjadi gigi
Hereditas : keturunan dari gen mutasi,adanya syndrome
Dikotonii : gigi normal
Lingkungan : pertumbuhan tens menerus dari enamel
Hiperaktifitas : dari lamina gigi

3. bentuk gigi mesiodens

Tipe conical ( kerucut ) : paling seing ditemukan ,rotasi dari gigi dirawat dengan
ekstrasi dan orthodonti
Tipe tuberculate ( silinder ) :( mirip gigi )

4. penangan gigi mesiodens

Tergantung tipe dan posisi gigi


Pencabutan awal : sebelum terbentuk akar digigi dengan ekstraksi
Pencabutan lambat dilakukan karena menghambat pertumbuhan gigi lain untuk
orthodonti : alat lepasan dengan tingers pmint

5. yang terjadi jika gigi mesiodens tidak ditangani

Kegagalan pertumhuan gigi


Crowding
Pembentukan kista
Pertumbuhan dirongga hidung

6. kenapa gigi molar banyak karies

Karena posisi yang disebabkan oleg gigi mesiodens


Adanya asam
Oral hygiene dari NN yang buruk

7. GIGI DESIDUI

8. GIGI DESIDUI

9. kelainan tumbang gigi

Anadontia : tidak ada bonik


Supernumerary teeth
Gigi molar dan permanen molar
Dens imfaginatur
Kelainan jumlah : supernumerary teeth,anadontia,
Kelainan bentuk : fenameloma , fusi , akar pendek , dilasorasi,inkrosis,kista tumbuh
dipaling belakang

10. makana yang baik untuk kesehatan gigi


Keju : kalsium,phospatik untuk menyeimbangkan ph
Kentang : banyak mengandumg vitamin A untuk pembentukan enamel
Kiwi,pepaya : vitamin A
Apel : sikat gigi alami
Air putih : menghilangkan sisa makanan
Karbohidrat ,protein dan vitamin B dalam kadar yang pas
Tidak boleh hipo / hiper : ex vitamin A kecacatan

E. TUJUAN PEMBELAJARAN
1. mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan tentang faktor yang mempengaruhi
tumbuh kembang gigi

2. mahaiswa mampu memahami dan menjelaskan tentang perkembangan oklusi dan relasi
rahang

3. mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan tentang kelainan pertumbuhan dan


perkembangan gigi

4. mahasiswa mampu memahami dan menjelasakan tentang pencegahan dan pewatan


tumbuh kembang gigi

F. MENGUMPULKAN INFORMASI DI PERPUSTAKAAN,INTERNET DAN LAIN-


LAIN

1). faktor yang mempengaruhi tumbuh kembang

Benih gigi mulai dibentuk sejak janin berusia 7 minggu dan berasal dari lapisan
ektodermal serta mesodermal. Lapisan ektodermal berfungsi membentuk email dan
odontoblast, sedangkan mesodermal membentuk dentin, pulpa, semen, membran periodontal,
dan tulang alveolar. Pertumbuhan dan perkembangan gigi dibagi dalam tiga tahap, yaitu
perkembangan, kalsifikasi, dan erupsi

Tahap perkembangan adalah sebagai berikut:

1. Inisiasi (bud stage)


Merupakan permulaan terbentuknya benih gigi dari epitel mulut. Sel-sel tertentu pada
lapisan basal dari epitel mulut berproliferasi lebih cepat daripada sel sekitarnya. Hasilnya
adalah lapisan epitel yang menebal di regio bukal lengkung gigi

2. Proliferasi (cap stage)

Lapisan sel-sel mesenkim yang berada pada lapisan dalam mengalami proliferasi, memadat,
dan bervaskularisasi membentuk papila gigi yang kemudian membentuk dentin dan pulpa
pada tahap ini. Sel-sel mesenkim yang berada di sekeliling organ gigi dan papila gigi
memadat dan fibrous, disebut kantong gigi yang akan menjadi sementum, membran
periodontal, dan tulang alveolar. (20,23,25,26)

2. Histodiferensiasi (bell stage)


Terjadi diferensiasi seluler pada tahap ini. Sel-sel epitel email dalam (inner email
epithelium) menjadi semakin panjang dan silindris, disebut sebagai ameloblas yang akan
berdiferensiasi menjadi email dan sel-sel bagian tepi dari papila gigi menjadi odontoblas
yang akan berdiferensiasi menjadi dentin. (20,23,25,26) Gambar 2. A - Inisiasi (bud
stage), B - Proliferasi (cap A B C Universitas Sumatera Utara
3. Morfodiferensiasi
Sel pembentuk gigi tersusun sedemikian rupa dan dipersiapkan untuk menghasilkan
bentuk dan ukuran gigi selanjutnya. Proses ini terjadi sebelum deposisi matriks dimulai.
Morfologi gigi dapat ditentukan bila epitel email bagian dalam tersusun sedemikian rupa
sehingga batas antara epitel email dan odontoblas merupakan gambaran dentinoenamel
junction yang akan terbentuk. Dentinoenamel junction mempunyai sifat khusus yaitu
bertindak sebagai pola pembentuk setiap macam gigi. Terdapat deposit email dan matriks
dentin pada daerah tempat sel-sel ameloblas dan odontoblas yang akan menyempurnakan
gigi sesuai dengan bentuk dan ukurannya. (20,23,25,26)
4. Aposisi
Terjadi pembentukan matriks keras gigi baik pada email, dentin, dan sementum. Matriks
email terbentuk dari sel-sel ameloblas yang bergerak ke arah tepi dan telah terjadi proses
kalsifikasi sekitar 25%-30%

2). perkembangan oklusi dan relasi rahang

Periode sebelum erupsi gigi sulung


Pada waktu bayi dilahirkan, antara rahang atas dan rahang bawah hanya terlihat adanya
gumpad ( ruangan di antara gusi-gusinya )0 disebut interalveolar. Jarak antara gumpad atas
dan bawah biasanya 6-8 mm. Dalam arah antero posterior gumpad atas lebih ke anterior
sebesar 2,7 mm pada laki-laki dan 2,5 mm pada wanita.

Periode gigi susu


a. Perkembangan normal
Gigi geligi susu mulai bererupsi pada usia 6 bulan, normalnya sudah beroklusi seluruhnya
pada usia 3 tahun. Umur 3-6 tahun peningkatan terhadap lebar interkanina, dimana terbentuk
space,abrasi oklusal,rahang bawah bengkak ke depan sehingga terbentuk edge to edge.
b. Perkembangan idealnya
- Gigi yang pertama erupsi dan membentuk kontak oklusal adalah gigi insisivus yang
idealnya menduduki posisi oklusal. Posisi yang ideal untuk gigi insisivus susu lebih vertical
daripada gigi insisivus tetap dengan overbite incisal yang lebih dalam. Gigi insisivus bawah
pada kondisi ini akan berkontak dengan daerah singulum dari insisivus atas pada oklusi
sentrik.

- Setelah gigi m1 susu akan bererupsi sampai ke kontak oklusi. Pada situasi ini, akan
membuat kontak oklusal sehingga molar bawahsedikitlebih ke depan dalam hubungan dalam
molar atas.
- Gigi kaninus juga akan menyusul bererupsi ke kontak oklusi. Pada situais ideal, akan ada
celah di sebelah mesial dari C atas dan di sebelah distal C bawah, tempat kearah mana gigi C
antagonis berintegrasi.

- Gigi terakhir bererupsi ke hubungan oklusi gigi geligi susu adalah molar 2 susu. Gigi ini
bererupsi sedikit renggang dari m1, namun celah ini dengan cepat akan menutup melalui
pergerakan m2 ke depan.

Periode gigi permanen


a.Perkembangan normal:
- Gigi I permanen lebih besar dari gigi I desidui dan proklinasi ruang diperoleh dari
pertumbuhan lebar intercanina.

- Gigi C, P1, P2 permanen menggantikan gigi C, M1, M2 decidui yang mengakibatkan


adanya leeway space

- Molar permanen bergeser ke depan untuk menduduki lee way space, dimana M atas
terhadap M bawah.

b.Perkembangan ideal:
Ada 3 tahap:
-Erupsi dari M1 dan I1 permanen.
Insisivus tetap akan bererupsi sedikit lebih proklinasi daripada insisivus susu dan karena itu
membentuk overbite insisal yang lebih kecil bila gigi-gigi tersebut berkontak oklusal.
Proklinasi ini juga berperan dalammenambah ukuran lengkung rahang. M1 tetap pada
mulanya beroklusi pada posisi dimana permukaan distal dari molar atas berada pada bidang
vertical yang sama dengan permukaan distal molar bawah. Dengan lepasnya gigi m2 susu,
gigi M1 tetap bawah akan bergeser kedepanlebih jauh daripada M1 atas tetapsehingga
permukaan distal molar pertama bawah tetap sedikit lebih anterior dari molar atas dan tonjol
antero bukal dari molar atas akan beroklusi dengan groove mesiobukal dari molar bawah.

-Erupsi dari kaninus, premolar dan molar ke2.


a. Gigi premolar 1 akan beroklusi sedemikian rupa sehingga lereng distal dari permukaan P
bawah beroklusi dengan lereng mesialdari permukaan oklusal P atas.

b. Gigi P2 selanjutnya akan bererupsi ke hubungan yang sama dan pada kira-kira waktu yang
sama.

c. Gigi C atas akan bererupsi ke hubungan oklusi sehingga ujung tonjolnya berada pada
bidang vertical yang sama dengan permukaan distal caninus bawah.

d. M2 akan bererupsike oklusi yang sama seperti molar pertama. M2 atas akan bertumbuh
tinggi pada prosecus alveolaris tepat di bawah dasar antrum maxilla. Sedangkan M2 bawah
biasanya berkembang pada posisi tegak lurus atau sedikit miring ke mesial.

-Erupsi gigi M3.


Gigi molar ke3 berkembang pada posisi yang sama seperti M2 dengan M3 atas berkembang
lebih tinggi, di bawah sudut postero inferior dari antrum maxilla. Biasanya dengan sedikit
inklinasi distal. M3 bawah mempunyai jalur erupsi yang lebih pendek daripada M3 atas, pada
awalnya menduduki posisi lebih vertical atau dengan sedikit inklinasi ke mesial.

Foster membagi dalam 3 tahap perkembangan pada periode gigi tetap:


Tahap erupsi M1 dan I1 terjadi pada umur antara 6-8 tahun. Terjadi pergantian gigi I dan
penambahan M!.pada umur 6,5 tahun ketika I sentral atas erupsi akan terlihat space pada
garis median prosesus alveolaris, kadang-kadang insisivus permanen terlihat crowding pada
saat erupsi dan insisivus lateral berimpitan ( overlap ) dengan gigi caninus susu.

Tahap erupsi C, P, M2 pada umur antara 10-13 tahun. Pada tahap ini, bila m susu bawah
sudah
diganti oleh P permanen, sedangkan m susu atas belum, maka akan terdapat penambahan
besar overbite dan bila sebaliknya maka kontak gigi terlihat edge.

Tahap erupsi M3, yang berguna untuk penyesuaian oklusi (oclusal adjustment).

3). kelainan pertumbuhan dan perkembangan gigi ( anomali )

a. Berdasarkan Bentuk Gigi


Germinasi: kelainan gigi yang terjadi karena satu benih gigi terbagi dua pada
proses invaginasi, sehingga terbentuk dua gigi yang tidak sempurna.
Fusi: penyatuan sebagian atau seluruh dua benih gigi selama pertumbuhan.
Hutchinson teeth: bentuk gigi abnormal pada sifilis congenital, yaitu bentuk
seperti obeng pada insisivus,peg shape pada kaninus, dan mulberry pada
molar satu.
Odontoma: pembentukan abnormal jaringan gigi karena gangguan pada lamina
dental atau folikel akibat trauma atau infeksi.
Enameloma: suatu endapan email kecil di sekitar apical dentin akibat pertautan
sementum dan email seperti mutiara.
Hipersementosis: sementum yang berlebihan di sekitar akar gigi karena kelainan
local atau sistemik.
Dilaserasi: penyimpangan pertumbuhan gigi sehingga hubungan aksial antara
mahkota dan akar berubah.
Konkresens: salah satu bentuk fusi yang terjadi setelah akar terbentuk sempurna,
sehingga penyatuan hanya terjadi pada sementum akar gigi.
Dens in dente: gigi yang terbentuk dalam gigi, biasanya mengenai gigi insisisvus
lateral dan sentral.
Taurodontia: pelebaran ruang pulpa dengan karakteristik seperti tanduk sapi.
Diskrorasi: ekstrinsik (stain), intrinsic (karena tempat tinggal penyakit yang
diderita), kuning dan coklat (tetracycline, lahir premature, amelogenesis
imperfecta, dentinogenesis imperfecta), biru (erytroblastosis foetalis).
b. Berdasarkan Variasi dan ukuran Gigi
Mikrodontia
Macrodontia: true macrodontia (pada penderita gigantisme)dan false
macrodontia (pada gigi I dan C).

c. Berdasarkan Erupsi gigi


Premature ( terlalu cepat/terlambat)
Ektopik ( di luar posisi normal )
Impaksi ( terjepit ).
Neonatal teeth: tumbuhnya gigi susu pada saat bayi baru lahir.

d. Berdasarkan Jumlah Gigi


Supernumerary teeth: brntuk gigi tambahan antara dua gigi dengan bentuk dan
ukuran tidak normal.
Anodontia: tidak berkembangnya sebagian/seluruh gigi.
Preciduous dentition: lahir dengan struktur mirip gigi erupsi waktu lahir karena
penandukan epitel di atas g

4). pencegahan dan perawatan tumbuh kembang gigi

Resiko dan Keuntungan Perawatan Ortodontik

Mengidentifikasi keuntungan keuntungan potensial dari perawatan adalah suatu hal dasar

yang penting bagi operator. Perawatan tidak boleh dilakukan bila tidak ada keuntungan yang

jelas untuk pasien. Perawatan ortodonsi bukanlah tanpa resiko tercatat dengan jelas masalah

masalah seperti dekalsifikasi email, resorpsi akar dan cedera wajah traumatic karena

headgear. Keadaan ini harus diimbangi dengan keuntungan keuntungan yang diperoleh dari

perawatan. Bahkan ini menjadi lebih penting jika jaminan hasil akhir yang stabil tidak dapat

diberikan. Analisa resiko atau keuntungan dari masing masing kasus harus dibahas dengan

baik dengan pasien dan orang tua sebelum memulai perawatan. 5

Keuntungan perawatan Ortodontik

Gigi gigi yang susunannya baik lebih mudah dijaga kebersihannya dan banyak pasien yang

kepercayaan dirinya meningkat karena senyum dan penampilan gigi geligi yang menarik.

Perawatan ortodontik yang telah di sarankan dapat member keuntungan dalam hal
penampilan wajah dan gigi geligi serta dalam mempertahankan kesehatan gigi dan mulut

yang baik.

Tingkatan Perawatan Ortodontik

Perawatan ortodontik mempunyai tingkatan perawatan, di antaranya tergantung pada

usia si penderita yang akan di rawat. Tahapan tersebut meliputi :

1.Perawatan Pencegahan

Batasan :

a Ilmu ortodonti pencegahan adalah ilmu yang mempelajari segala

macam usaha untuk mencegah terjadinya kelainan oklusi

(maloklusi)
b Ilmu ortodonti pencegahan merupakan bagian dari ilmu kedokteran

gigi pencegahan (preventif dentistry)


c Berbeda dengan cabang ilmu kedokteran gigi yang lain yang

memerlukan perawatan singkat, ortodonti pencegahan memerlukan

perawatan yang lama, terus menerus mengikuti waktu pertumbuhan

dan perkembangan dentofasial.


d Ortodonti pencegahan berarti tindakan yang dinamis, terus menerus

dan disiplin bagi dokter gigi dan pasiennya.

Tujuan mempelajari ortodonti pencegahan adalah untuk

mempertahankan oklusi normal.

1 Perawatan Interseptif
Perawatan ortodonti interseptif adalah suatu prosedur ortodontik yang

dilakukan pada maloklusi yang baru atau sedang dalam proses terjadi

dengan tujuan memperbaiki ke arah oklusi normal. Beda antara

ortodonti preventif dengan ortodonti interseptif adalah pada waktu


tindakan dilakukan. Ortodonti preventif dilakukan apabila diperkirakan

ada keadaan yang akan menyebabkan terjadinya suatu maloklusi

sedang ortodonti Interseptif adalah suatu tindakan yang harus segera

dilakukan karena terdapat suatu gejala atau proses terjadi maloklusi

walau dalam tingkatan yang ringan sehingga maloklusi dapat dihindari

atau tidak berkembang.


Macam-macam perawatan ortodonti interseptif :
a Penyesuaian atau koreksi disharmoni oklusal
b Perawatan crossbite anterior pada mixed dentition
c Perawatan diastema anterior
d Perawatan kebiasaan jelek (bad habbit)
e Latihan otot (myofunctional therapic)
f Pencabutan seri (serial ectraction)
2 Perawatan Kuratif
Perawatan ini merupakan tingkat perawatan ortodontik untuk

menghilangkan kelainan gigi geligi yang telah berkembang yang telah

menyebabkan keluhan secara estetik maupun fungsi yang melibatkan

maloklusi klas I, klas II, dan klas III.7


Pertimbangan Waktu Perawatan Ortodonti
1 Kelompok Umur
Umur kronologis dan atau umur psikologis dapat dikaitkan dengan

proses tumbuh kembang, sehingga dapat di pakai sebagai bahan

pertimbangan
2 Kematangan Tulang
Faktor kematangan tulang dentokraniofasial memiliki ciri bahwa pada

keadaan ini terdapat kemampuan yang baik dalam interaksi secara

biomekanis selama pemakaian alat ortodonti


3 Tingkat Keparahan Kasus
Sudah jelas ada di temukan kelainan pertumbuhan dentokraniofasial

(malposisi atau maloklusi) yang parah pada anak masa gigi decidui

atau bercampur. Jika tidak segera dilakukan koreksi, maka akan

semakin parah dan kelainan tersebut bahkan dapat membahayakan.

Setiap kasus yang dirawat akan menghasilkan respon keberhasilan


yang berbeda-beda. Semakin parah kasus yang dihadapi, hendaknya

semakin dini perawatan harus dilakukan tetapi memerlukan waktu

perawatan yang lama.


4 Akselerasi Pertumbuhan
Pada masa akselerasi sering terjadi ketidakoperatifan dan kemunduran

proses adaptasi tumbuh kembang terhadap kekuatan mekanis, maka

perlu ada penundaan waktu perawatan. Tetapi ada yang berpendapat

bahwa perawatan ortodonti lebih baik dilakukan pada masa pubertas

atau masa akselerasi sekitar umur 12-15 tahun, karena respon jaringan

cukup baik.
5 Interaksi Dalam Rongga Mulut
Sebelum melakukan intervensi (kekuatan ortodonti) perlu diketahui

adanya interaksi kekuatan antara gigi geligi, tulang alveolus, tulang

wajah dan muskuler dalam fungsinya. Perawatan ortodonti dalam masa

tumbuh kembang, perlu dipertimbangkan adanya interaksi komponen-

komponen dentokraniofasial secara substansial. Maloklusi gigi geligi

akan menghasilkan hambatan atau gangguan terhadap proses tumbuh

kembang rahang dan fungsi otot rongga mulut.


6 Jenis Kelamin
Proses pertumbuhan dan perkembangan dipengaruhi oleh keadaan

hormon pertumbuhan, fisik psikis dan lingkungan, keadaan ini

menyebabkan adanya perbedaan interaksi pada anak laki-laki dan

perempuan.
7 Erupsi Gigi Geligi
Erupsi gigi tetap (pengganti) sering mengalami gangguan karena

adanya kerusakan atau kehilangan gigi molar desidui terlalu awal.

Keadaan ini akan mengakibatkan terjadinya malposisi (miringnya gigi

tetangga atau elongasi gigi antagonis), maloklusi dan traumatic pada

temporomandibularis joint (TMJ). Urutan erupsi yang tidak selaras dan


seimbang akan berpengaruh terhadap derajat keparahan malposisi atau

maloklusi.
8 Periode Gigi Geligi
Periode atau masa gigi geligi decidui, bercampur dan tetap sering

menunjukkan adanya perbedaan tingkat keparahan maloklusi. Ada

kemungkinan kelainan dentokraniofasial anak yang terjadi pada masa

gigi decidui, bercampur atau tetap dapat bersifat sementara dan tidak

diperlukan perawatan atau dapat bersifat tetap dan memerlukan

perawatan secara dini. Dalam ketiga periode gigi geligi tersebut, dapat

dilakukan tahap perawatan preventif, interseptif atau kuratif ortodonti

dan kombinasi.8