Anda di halaman 1dari 16

Sieve analysis adalah penentuan persentase berat butiran agregat yang lolos dari satu

set sieve. Tahap penyelesaian suatu sumur yang menembus formasi lepas (unconsolidated)
tidak sederhana seperti tahap penyelesaian dengan formasi kompak (consolidated) karena
harus mempertimbangkan adanya pasir yang ikut terproduksi bersama fluida produksi.
Seandainya pasir tersebut tidak dikontrol dapat menyebabkan pengikisan dan penyumbatan
pada peralatan produksi. Disamping itu juga menimbulkan penyumbatan pada dasar sumur.

Produksi pasir lepas ini, pada umumnya sensitive terhadap laju produksi. Apabila laju
alirannya rendah, pasir yang ikut terproduksi sedikit dan sebaliknya. Metode yang umum
untuk menanggulangi masalah kepasiran meliputi penggunaan slotted atau screen liner, dan
gravel packing. Metode penanggulangan ini memerlukan pengetahuan tentang distribusi
ukuran pasir agar dapat ditentukan pemilihan ukuran screen dan gravel yang tepat. Formasi
lepas adalah formasi yang tidak memiliki sementasi yang baik, merupakan suatu sistem yang
tidak stabil sehingga daya ikat antar butiran yang ada pada batuan sangat kecil, sedangkan
formasi lepas merupakan formasi yang memiliki sementasi yang baik, merupakan suatu
sistem yag stabil sehingga daya ikat antar butiran pada formasi batuan besar.

Pemilihan besar keseragaman butiran menurut Schwartz yaitu :

C < 3, merupakan pemilahan yang seragam

C > 5, merupakan pemilahan yang jelek

3 < C < 5, merupakan pemilahan yang sedang

Produktivitas Sumur Menurun

Penurunan produktivitas sumur dapat disebabkan oleh beberapa hal, yaitu kondisi
reservoir, kondisi produksi, proses penyumbatan pada tubing, lubang bor dan perforasinya,
atau kerusakan mekanis. Plugging/ penyumbatan pada tubing, lubang bor dan perforasinya
dapat disebabkan oleh pasir, partikel-partikel formasi termasuk batuannya, partikel-partikel
lumpur, endapan paraffin, asphalt, scale atau collapse pada tubing/casing.

Terproduksinya air dalam sumur dapat menimbulkan bermacam-macam masalah,


diantaranya yaitu :

1. Kerusakan peralatan dan fasilitas produksi


2. Penyumbatan aliran fluida produksi dalam pipa alir
Masalah-masalah lain yang sangat mengganggu produktivitas sumur
Analisa Butiran Pasir
Analisa butiran pasir adalah untuk mengetahui distribusi besar butir dari pada formasi
pasir. Tujuan menganalisa butir pasir untuk menentukan metoda-metoda penanggulangan
masalah kepasiran. Contoh pasir yang akan dianalisa butirannya diambil dari side wall atau
convensional coring. Adapun prosedur analisa pasir adalah contoh yang diambil dari side
wall atau convensional coring, ditumbuk agar butirannya terpisah. Kemudian contoh tersebut
ditimbang dan kalau memungkinkan ditentukan kadar lempung, silt pasir. Selanjutnya
dimasukkan ke dalam alat analisa butiran yang mana alat ini tersusun dari beberapa saringan
(sieve) dengan bukaan saringan (sieve opening) berbeda-beda.
Saringan dengan bukaan paling besar diletakkan paling atas dan saringan dengan
bukaan paling kecil ditempatkan paling bawah, dan susunan saringan diletakkan pada
pengguncang (vibrator). Setelah butiran pasir cukup terpisah-pisah untuk setiap saringan,
kemudian masing-masing ditimbang beratnya. Ukuran besar butir pada suatu saringan berada
di antara ukuran saringan di atasnya. Hasil penimbangan kemudian dibuat atau persen berat
versus ukuran butiran.
Untuk mengkumulatifkan persen berat terhadap besar butir (grain size) menentukan
baik-buruknya pemilahan (sorted) diambil perbandingan ukuran butiran pada kumulatif 40 %
terhadap butiran pada kumulatif 90 % berat, secara matematis ditulis :

C = d40/d90

dimana :
1. Pemilihan baik (well sorted) bila C < 3

2. Pemilihan buruk (poar sorted) bila C > 5

Dengan mengetahi sifat-sifat butiran pasir dari analisa saringan (sieve analysis) dapat
dipakai sebagai penuntun untuk memilih sistem penanggulangan kepasiran (sand control).
Sand Consolidation Sand Consolidation dengan menggunakan material plastik. Pemilihan
metoda ini cocok untuk zona produksi yang pendek. Cara pelaksanaannya adalah sebagai
berikut :
a. Clean fluid uniform

b. Menginjeksikan material plastik ke zona produktif

c. Membersihkan pasir yang kotor dengan HF acid mutual solvent. Merupakan teknik
dengan menginjeksikan resin ke dalam formasi, dimana resin tersebut diharapkan
mengikat butir pasir sehingga berfungsi sebagai material penyemen.
Resin Coated Gravelpack

Injeksi dengan menggunakan plastik coated sand dan viscous placement fluid,
biasanya metoda ini dipakai pada zona yang panjangnya medium, dimana pasir telah
diproduksikan dan memperlihatkan gejala caving. Metoda yang digunakan adalah sand
lock, yaitu dengan memasukkan resin pembungkus gravel ke dalam formasi. Resin disini
akan membentuk jaringan batu pasir sintetis yang sangat permeabel.

Gravel Pack

Gravel pack merupakan workover yang terbaik untuk single completion dengan zona
produksi yang panjang. Pelaksanaannya adalah sebagai berikut :

a. Pembersihan perforasi dengan clean fluid sebelum gravel pack dipasang.

b. Penentuan ukuran gravel pack sesuai dengan ukuran butiran pasir formasi

c. Squeeze gravel pack ke dalam lubang perforasi, digunakan water wet gravel jika
digunakan oil placement fluid

d. Produksikan sumur dengan segera setelah packing, aliran produksi dimulai dengan laju
produksi rendah kemudian dilanjutkan dengan kenaikkan laju produksi sedikit demi
sedikit.

Metoda ini merupakan metoda pengontrolan pasir yang paling sederhana dan paling
tua umurnya. Pada prinsipnya, adalah gravel yang ditempatkan pada annulus antara
screen/sloted dengan casing/lubang bor, dimaksudkan agar dapat menahan pasir formasi.
Gravel pack adalah suatu cara untuk menanggulangi kepasiran yang masuk ke dalam sumur
dengan memasang krikil (gravel) di depan formasi produktif dengan cara diijeksikan, yang
mana gravel-gravel itu dapat menahan butiran yang lepas dan berlaku sebagai penyaring.
Pemakaian gravel itu baik untuk formasi yang tebal, seragam (uniform) dan halus.
Keseragaman dan ukuran butiran berhubungan dengan perencanaan ukuran gravel. Selain itu
perencanaan gravel tergantung pula kepada pengalaman seseorang. Dewasa ini para ahli
cenderung untuk memakai gravel berukuran lebih kecil. Di dalam penempatan gravel pack
dipasang saringan. Ukuran saringan tergantung kepada distribusi ukuran gravel yang
digunakan.

Jenis gravel pack pada umumnya dapat dibagi dua, yaitu :


1. Open Hole Gravel Pack (OHGP), yaitu gravel pack yang ditempatkan di antara
saringan dengan dinding bor pada formasi produktif.
2. Inside Gravel Pack (IGP), yaitu gravel pack yang ditempatkan antara casing yang
diperforasi dengan pipa saringan.

Ada beberapa faktor yang perlu dipertimbangkan di dalam perencanaan gravel pack, yaitu :

1. Ukuran gravel pack yang tersedia Gravel pack tersedia dalam beberapa ukuran.
Apabila ukuran gravel hasil perhitungan tidak tersedia, umumnya memakai ukuran
yang lebih kecil. Kadang-kadang memakai ukuran yang lebih besar apabila ukuran
yang lebih kecil tidak tersedia.
2. Angularitas dan Besar Butir Gravel
Permeabilitas dan kompaksi gravel dapat dipengaruhi oleh angularitas dan besar butir.
Suman mengemukakan angularitas secara relatif tidak begitu mempengaruhi terhadap
permeabilitas gravel. Akan tetapi Archie mengemukakan bahwa permeabilitas angular
jauh lebih besar bila dibandingkan dengan permeabilitas yang bundar.
3. Kebasahan Gravel
Minyak kadang-kadang bersifat senyawa polar yang apabila diserap oleh permukaan
gravel, menyebabkan gravel cenderung bersifat basah minyak (oil wet). Oleh karena
itu, jika minyak digunakan sebagai fasa kontinu untuk fluida pembawa dalam
penempatan gravel, material gravel sebaiknya dibasahi dulu dengan air sebelum
dinjeksikan ke dalam sumur.

Prosedur Pemasangan Gravel Pack

Adapun prosedur pemasangan gravel pack di dalam lubag sumur mengikuti urutan-urutan
sebagai berikut :

1. Pembesar lubang pada formasi produktifnya dan bersihkan dengan air garam.
2. Turunkan rangkaian pipa dan injeksikan gravel ke dalam sumur untuk mengisi lubang
tadi dengan tekanan tertentu.
3. Turunkan pipa saringan dengan packer yang dilengkapi pipa pembersih (wash pipe)
untuk membersihkan pasir yang ada di dalam lubang sumur. Biasanya dengan
sirkulasi balik atau dengan sirkulasi biasa.
4. Setelah selesai penurunan pipa saringan pada kedalaman tertentu dudukkan packer,
baru diangkat pipa pembersih.

Screen Design
Pemilihan ukuran screen atau slot liner pada gravel pack completion, dimasukkan
untuk menahan gravel agar tidak ikut terproduksi. Penentuan celah screen dapat dilakukan
dengan beberapa persamaan yang diturunkan oleh:

1. Coberly, dengan koefisien keseragaman 2,5 7,5 sebagai berikut :


W= 2 x d10
2. Wilson, dengan ukuran butir pasir yang lebih seragam, sebagai berikut :
W = d10
3. Wilson, adalah sebagai berikut :
W = d15
4. SCHWARTZ, Coberly, Rogers, bahwa slot adalah :
W = d100

Dalam prakteknya, lebar slot yang sering digunakan adalah sebagai berikut :

0.05 inci W d20

Dimana:
W = lebar screen/slot, inci

d10 = diameter butir pada titik 10 % berat kumulatif, pada kurva distribusi, inci

d15 = diameter pada titik 15 % berat kumulatif, pada kurva distribusi, inci

d20 = diameter butir pada titik 20 % berat kumulatif, pada kurva distribusi, inci

d100 = diameter butir pada titik 100 % berat kumulatif, pada kurva distribusi, inci

Persamaan yang diajukkan Schwartz, Coberly, Rogers akan memberikan hasil yang
memuaskan, terutama apabila masalah-masalah kepasiran djumpai pada formasi-formasi
baru. Ukuran lebar celah 0.05 inci merupakan ukuran minimum yang dapat mencegah
tersumbatnya celah tersebut. Apabila harga d20 lebih kecil dari 0.05 inci, maka perlu
digunakan metoda sand control yang lain.

Dianjurkan, bahwa beberapa jenis screen slot yang digunakan mempunyai sifat antara
lain :

1. Stainless Steel

2. Mempunyai daya tahan yang sangat tinggi terhadap korosi

3. Memberikan kapasitan aliran yang optimum


HIDROMETER

Fungsi Hidrometer adalah untuk mengukur berat jenis atau kepadatan relatif dari
cairan; yaitu, rasio densitas cairan kepadatan air. Biasanya terbuat dari kaca dan terdiri dari
batang silinder dan bola pembobotan dengan merkuri atau tembakan timah untuk
membuatnya mengapung tegak.

Hydrometer sering juga disebut aerometer. Nilai massa jenis suatu zat cai dapat
diketahui dengan membaca skala pada hidrometer yang ditempatkan mengapung pada zat
cair.

Bagian-bagian Hidrometer

Batang Hidrometer Berfungsi untuk pengangan awal sebelum hidrometer


dicelupkan pada cairan, serta sebagai tempat skala hidrometer.

Skala Hidrometer Merupakan ukuran massa jenis cairan yang akan diukur.

Kaca Bohlam Sebagai tempat tertampungnya udara.

Beban Terbuat dari timbal berfungsi untuk memposisikan Hidrometer tegak lurus
dengan permukaan air.

Prinsip Kerja Hidrometer

Hidrometer merupakan sebuah alat ukur besaran turunan yang menjadi salah satu
aplikasi dari hukum archimedes yang digunakan untuk mengukur massa jenis zat cair. Sebuah
benda dalam fluida (zat cair atau gas) mengalami gaya dari semua arah yang dikerjakan oleh
fluida di sekitarnya. Hukum Archimedes menyatakan bahwa sebuah benda yang dicelupkan
ke dalam zat cair akan mendapat gaya ke atas seberat zat cair yang dipindahkan oleh benda
itu.

Prinsip kerja Hidrometer menggunakan Hukum Archimedes. Nilai massa jenis suatu
zat cair dapat diketahui dengan membaca skala pada Hidrometer yang ditempatkan
mengapung pada zat cair.
BATAS BATAS ATTERBERG

Batas Atterberg dikenalkan oleh Albert Atterberg pada th. 1911 dengan maksud untuk
mengklasifikasikan tanah berbutir halus serta memastikan karakter indeks property tanah.
Batas Atterberg mencakup batas cair, batas plastis, serta batas susut.

Tanah yang berbutir halus umumnya mempunyai karakter plastis. Karakter plastis itu
adalah kekuatan tanah sesuaikan pergantian bentuk tanah sesudah bercampur dengan air pada
volume yang tetaplah. Tanah itu bakal berupa cair, plastis, semi padat atau padat bergantung
jumlah air yang bercampur pada tanah itu.

Batas Atterberg memerlihatkan terjadinya bentuk tanah dari benda padat sampai jadi
cairan kental sesuai sama kadar airnya. Dari test batas Atterberg bakal diperoleh parameter
batas cair, batas plastis, batas lengket serta batas kohesi yang disebut kondisi ketekunan
tanah. Batas-batas Atterberg bisa diliat pada gambar tersebut :

1. Batas Cair (Liquid Limit)


Batas cair (LL) adalah kadar air tanah yang untuk nilai-nilai diatasnya, tanah akan
berprilaku sebagai cairan kental (batas antara keadaan cair dan keadaan plastis), yaitu batas
atas dari daerah plastis.
2. Batas Plastis (Plastic Limit)
Batas plastis (PL) adalah kadar air yang untuk nilai-nilai dibawahnya, tanah tidak lagi
berpengaruh sebagai bahan yang plastis. Tanah akan bersifat sebagai bahan yang plastis
dalam kadar air yang berkisar antara LL dan PL. Kisaran ini disebut indeks plastisitas.
3. Indeks Plastisitas (Plasticity Index)

Indeks Plastisitas merupakan interval kadar air, yaitu tanah masih bersifat plastis.
Karena itu, indeks plastis menunjukan sifat keplastisitas tanah. Jika tanah mempunyai
interval kadar air daerah plastis kecil, maka keadaan ini disebut dangan tanah kurus.
Kebalikannya, jka tanah mempunyai interval kadar air daerah plastis besar disebut tanah
gemuk. Nilai indeks plastisitas dapat dihitung dengan persamaan berikut ini :

IP = LL PL

Batasan mengenai indeks plastis, sifat, macam tanah dan kohesi diberikan oleh
Atterberg tabel berikut ini:

4. Batas Susut / Shrinkage Limit (SL)


Kondisi kadar air pada kedudukan antara daerah semi padat dan padat, yaitu
prosentase kadar air dimana pengurangan kadar air selanjutnya tidak mengakibatkan
perubahan volume tanah disebut Batas Susut.
SL = (V0/W0 - 1/Gs) x 100%
Keterangan :
SL = batas susut tanah
V0 = volume benda uji kering
W0 = berat benda uji kering
Gs = berat jenis tanah
5. Kontrol Batas-batas atterberg mencakup :
a. Kontrol Batas Cair (Liquid Limit)
b. Kontrol Batas Plastis (Plastic Limit)
c. Kontrol Batas Susut (Shrinkage Limit)

a. Kontrol Batas Cair (Liquid Limit)

Batas Cair yaitu: kadar air yang mana ketekunan tanah mulai beralih dari kondisi
plastik ke kondisi cair.

Peralatan :

1. Dish cawan porselin dengan diameter 114 mm.

2. Spatula pisau potong dengan panjang 76 mm lebar 19 mm.

3. Liquid Limit Piranti terbagi dalam cawam yang dapat naik turun serta grooving tool.

4. Container Kaleng kecil bertutup.


5. Timbangan Dengan kecermatan 0, 01 gr.

6. Oven Dapat memanaskan hingga 110 5o C.

Bahan :

Tanah lolos saringan No. 30 seberat 200 gr.

Prosedur Kontrol :

1. Masukan tanah kedalam cawan porselin serta berikan air sejumlah 15 20 ml. Aduk
dengan spatula hingga air rata bercampur dengan tanah. Berikan air sedikit-sedikit (1-3 ml),
bila tanah masihlah kurang plastis, lalu aduk lagi dengan spatula hingga rata.

2. Ambillah beberapa tanah yang sudah diaduk rata serta tempatkan pada cawan dari Liquid
limit piranti. Ratakan permukaan tanah dalam cawan itu hingga kedalamannya yang
maksimum yaitu 10 mm. Garuk tanah itu sedikit-sedikit dengan grooving tool hingga pada
akhirnya hingga ke basic cawan serta tanah dalam cawan terbelah dua.

3. Putar liquid limit piranti hingga cawan naik turun sembari dihitung jumlah ketukan yang
berlangsung yang dibutuhkan untuk mempertemukan kembali tanah yang terbelah selama
sekitaran 12, 7 mm.

4. Ambillah contoh tanah di bagian pertemuan ke-2 tanah itu untuk di check kadar airnya
lewat cara seperti berikut :

Timbang berat container atau cawan kosong = A.

Masukan contoh tanah kedalam container serta timbang = B.

Keringkan contoh tanah dalam oven pada temperatur 110o C sepanjang 24 jam lalu
timbang container + tanah kering = C

Kadar air :

Bekas tanah yang ketinggalan dalam cawan masukan kembali kedalam cawan porselin untuk
digabung dengan contoh tanah awal mulanya, serta bersihkan dan keringkan liquid limit
piranti.
Ulangilah prosedur a hingga e hingga didapat data jumlah pukulan pada 10 20, 20 30, 30-
40 serta 40 45. Sebagai catatan kalau bila tanah semakin basah, jumlah pukulan bakal
makin sedikit, demikian juga demikian sebaliknya.

Perhitungan :

Kalkulasi kadar air untuk semasing jumlah pukulan dengan rumus seperti dalam butir iv.

Flow Curve (Kurva Kelelahan)

Buat Flow curve yang disebut jalinan pada kadar air serta jumlah pukulan yang berlangsung.
Kadar air adalah ordinat dengan taraf linier serta jumlah pukulan adalah absis dengan taraf
logaritma. Sambungkan titik-titik yang didapat hingga diperoleh suatau garis lurus, bila tak
dapat ambil satu garis lurus yang mewakili titik-titik yang didapat. Garis ini dimaksud dengan
Flow curve.

Liquid Limit (Batas Cair)

Liquid limit yaitu kadar air yang didapat pada jumlah pukulan 25 kali, yang dapat didapat
dengan pertolongan Flow Curve yang sudah di buat.

b. Kontrol Batas Plastis (Plastic Limit)

Batas Plastis yaitu kadar air yang disebut batas pada konsostensi tanah dalam kondisi semi
plastis serta kondisi plastis.

Peralatan :
Dish cawan porselin dengan diameter 114 mm

Spatula pisau potong dengan panjang 76 mm lebar 19 mm

Plat kaca untuk menggiling benda uji

Container Kaleng kecil bertutup

Timbangan Dengan kecermatan 0, 01 gram

Oven Dapat memanaskan hingga 110 5o C.

Benda Uji

Tanah lolos saringan No. 30 seberat 20 gram

Prosedur Kontrol :

1. Masukan tanah kedalam cawan porselin serta berikan air sedikit-sedikit lalu aduk hingga
rata dengan spatula. Buat tanah jadi cukup plastis hingga gampang dibuat jadi bola.

2. Ambillah tanah plastis itu seberat 8 gr serta bentuk jadi ellipsoida. Lalu giling tanah itu
dengan jari tangan ke plat kaca pelan-pelan hingga diameternya seragam.

3. Saat diameter tanah jadi 3, 2 mm, potong tanah itu jadi 6 8 sisi. Lalu ambillah satu sisi
serta bentuk lagi jadi ellipsoida lalu giling lagi dengan jari diatas kaca hingga diameternya
3, 2 mm. 4.Sesudah diameter tanah jadi 3, 2 mm, desakan penggilingan dikurangi serta
giling selalu dengan diameter tetaplah hingga pada akhirnya bakal berlangsung retak.

5.Ambillah contoh tanah yang retak itu, lalu check kadar airnya lewat cara seperti berikut :

6. Timbang berat cawan kosong = A

7.Masukan contoh tanah kedalam cawan serta timbang = B

8.Keringkan contoh tanah dalam oven pada temperatur 110o C sepanjang 24 jam lalu
timbang cawan + tanah kering = C

Kadar air =D

Perhitungan
Plastic limit (batas plastis) yaitu adalah kadar air dari tanah itu mulai retak saat digiling pada
diameter 3, 2 mm.

Plastic Limit (PL) =

Dengan :

A = Berat cawan kosong

B = Berat cawan + tanah basah

C = Berat cawan + tanah kering

Plasticity Index (PI) yaitu adalah selisih pada Liquid Limit serta Plastic Limit.

Plasticity Index = Liquid Limit Plastic Limit

Bila kontrol tidak berhasil memastikan Liquid Limit atau Plastic Limit, atau harga
Plastic Limit sama atau semakin besar dari harga Liquid Limit, laporkan tanah itu sebagai
Non-Plastis.

c. Kontrol Batas Susut (Shrinkage Limit)

Batas susut yaitu kadar air di mana ketekunan tanah itu ada pada kondisi semi plastis
serta kaku, hingga bila diselenggarakan pengurangan kadar air, tanah itu akan tidak menyusut
volumenya.

Peralatan :

Dish Terbagi dalam 2 cawan porselin dengan diameter 115 mm serta 150 mm.

Spatula pisau potong dengan panjang 76 mm lebar 20 mm

Milk Dish Cawan porselin atau monel yang memiliki basic rata dengan diameter 45 mm
serta tinggi 12, 7 mm.

Straight edge Penggaris besi dengan panjang 100 mm.

Glass Cup Gelas kaca dengan diameter 50 mm serta tinggi 25 mm.

Transparant Plate Plat kaca dengan 3 buah pegangan yang dipakai untuk mencelupkan
tanah ke air raksa.
Gelas ukur Kemampuan 25 ml dengan kecermatan 0, 2 ml.

Timbangan Dengan kecermatan 0, 01 gram

Air raksa cukup untuk isi Glass cup hingga penuh.

Oven Dapat memanaskan hingga 110 5o C.

Benda Uji

Tanah lolos saringan No. 30 seberat 30 gram

Prosedur Kontrol :

Masukan contoh tanah kedalam cawan porselin yang berdiameter 115 mm lalu berikan air
seperlunya serta aduk dengan spatula hingga semuanya pori tanah itu diisi air. Pemberian air
yaitu sedemikian hingga kadar air tanah itu melebihi batas cairnya 10%.

Usap dengan paselin, permukaan samping dalam dari Milk Dish hingga rata. Lalu timbang
Milk Dish kosong (A).

Tuang tanah cair pada butir a. kedalam Milk Dish ini dengan cara pelan-pelan hingga penuh
serta ratakan permukaannya dengan penggaris besi dan bersihkan semuanya tanah yang
melekat di Milk Dish.

Timbang Milk Dish diisi tanah basah ini selekasnya (B), lalu keringkan di hawa hingga
warnanya beralih dari gelap jadi jelas. Setelah itu masukan kedalam oven dengan temperatur
110 5o C.

Sesudah tanah kering (sepanjang 24 jam) timbang Milk Dish diisi tanah kering (C).

Ukur volume tanah kering dengan pertolongan air raksa lewat cara seperti berikut :

Isi glass cup dengan air raksa hingga penuh lalu ratakan permukaan air raksa dengan
glass cup dengan jalan menekannya dengan plat kaca. Untuk menyimpan tumpahan air raksa
di cawan porselin.

Masukan tanah kering ke air raksa serta tekan tanah itu dengan Transparant plate (plat
kaca). Air raksa yang tumpah lalu masukan kedalam gelas ukur, hingga volume yang terbaca
yaitu adalah volume tanah kering (E).
Ukur volume Milk Dish lewat cara mengisinya hingga penuh dengan air raksa, lalu
tuang air raksa itu kedalam gelas ukur. Volume yang terbaca yaitu volume Milk Dish yang
sama juga dengan volume tanah basah (D).

Derajat Kehalusan serbuk (mesh)

Untuk menentukan derajat halus dapat digunakan ayakan dengan nomer tertentu
sesuai dengan yang diinginkan. Nomer ayakan menunjukkan jumlah lubang tiap 1 inchi
( 2,54 cm) dihitung searah dengan panjang kawat. Misalnya ayakan nomer 14 ( mesh 14),
berarti seriap inchi mengandung 14 lubang.

Terkadang derajat kehalusan sebuk yang diinginkan dinyatakan dengan menggunakan


2 nomer ayakan, misalnya serbuk temulawak 10/20, maksudnya adalah serbuk tersebut lolos
dari ayakan nomer 10 dan tidak lolos dari ayakan nomer 20. Pharmacopee Belanda, mengatur
derajat kehalusan serbuk dengan menggunakan ayakan dengan notasi A dan B, misalkan
ayakan B40 maknanya adalah setiap 1 centimeter mengandung jumlah lubang sebanyak 40.

Tabel Perbandingan Ukuran Mesh : Inci : Millimeter : Mikrometer

Mesh Inci Millimeter Mikrometer


3 0.2650 6.730 6730
4 0.1870 4.760 4760
5 0.1570 4.000 4000
6 0.1320 3.360 3360
7 0.1110 2.830 2830
8 0.0937 2.380 2380
10 0.0787 2.000 2000
12 0.0661 1.680 1680
14 0.0555 1.410 1410
16 0.0469 1.190 1190
18 0.0394 1.000 1000
20 0.0331 0.841 841
25 0.0280 0.707 707
28 0.0238 0.700 700
30 0.0232 0.595 595
35 0.0197 0.500 500
40 0.0165 0.420 420
45 0.0138 0.354 354
50 0.0117 0.297 297
60 0.0098 0.250 250
70 0.0083 0.210 210
80 0.0070 0.177 177
100 0.0059 0.149 149
120 0.0049 0.125 125
140 0.0041 0.105 105
170 0.0035 0.088 88
200 0.0029 0.074 74
230 0.0024 0.063 63
270 0.0021 0.053 53
325 0.0017 0.044 44
400 0.0015 0.037 37
550 0.00099 0.025 25
625 0.00079 0.020 20
1200 0.0005 0.012 12
1250 0.000394 0.010 10
2500 0.000197 0.005 5
4800 0.000118 0.003 3
5000 0.000099 0.0025 2.5
12000 0.0000394 0.001 1

Note : 1 mm = 1000 m

Makin besar angka ukuran mesh screen, makin halus material yang bisa terloloskan.
Dari tabel di atas, screen dengan ukuran mesh 12000 mampu menyaring partikel dengan
ukuran 1 m ; bakteri dan kuman yang berukuran di atas 1 mikron mampi disaring
menggunakan filter yang memiliki ukuran mesh 12.000. Pemisahan suspensi dari larutan juga
bisa ditempuh menggunakan proses penyaringan, tentu menggunakan filter yang memiliki
diameter jaring 1 mikrometer.

Proses pasteurisasi susu dilakukan pada suhu 70 0C, dan sterilisasi pada suhu 1000C.
Dengan ditemukannya media penyaring yang mampu menyaring partikel hingga 1
nanometer, maka proses pasteurisasi dan sterilisasi terhadap susu bisa dilakukan melalui
penyaringan, tanpa mendapat perlakuan panas sama sekali.
Industri pemurnian air modern telah menggunakan proses penyaringan untuk
memisahkan mikroba dan virus dari air. Pemisahan senyawa-senyawa /ion-ion terlarut juga
bisa dilakukan. Reverse osmosis merupakan teknik penyaringan modern, yang mampu
menyaring ion-ion yang memiliki diameter lebih kecil dari 1 nanometer.