Anda di halaman 1dari 15

REGENERASI DAN PIGMENTASI PADA SIRIP KAUDAL IKAN

GATUL (Poecilia sp.)

I Kade Karisma Gita Ardana


Program Studi S1 Biologi, Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu
Pengetahuan Alam,
Universitas Negeri Malang
Jl. Semarang No. 5, Malang, Indonesia
Pendahuluan

Regenerasi merupakan hal kompleks yang umum terjadi pada suatu individu
makhluk hidup. kemampuan sel dalam membelah untuk memperbaiki jaringan,
kemampuan genetis untuk mengatuur pmbelahan sel tersebut, dan reaksi-reaksi
signaling dan juga biokimia menjadi factor utama yang penting dalam proses
regenasi makluk hidup. kemampuan regenerasi merupakan sebuah factor yang
menyebabkan beberapa spesies dapat bertahan dari kepunahan. Tidak seperti
benda abiotik makhluk hidup dapat memperbaiki kembali jaringannya yang terluka.
Misalnya seperti jari tangan yang teriris. Akan membahayakan jika jari tangan
tersebut akan terus menganga dan mengeluarkan darah karena tubuh memiliki
kemampuan untuk memperbaiki dirinya dengan proses kompleks yang rumit dimana
hingga saat ini peneliti masih mengembangkan penelitannya.
Ikan memiliki kemampuan regenerasi yang sangat baik. Beberapa ikan dapat
meregenerasi jantung (Jopling et al, 2010), ginjal (Renate R, 2001), dan struktur lain
seperti sirip (fin) caudal. Sirip kaudal atau sirip ekor merupakan sirip yang berada
pada bagian ujung posterior tubuh ikan, dimana sirip ini memiliki fungsi sebagai
penyeimbang, dan gerakan renang yang aktif juga cepat (George. V. L, 2000).
Sebagai sirip dengan fungsi yang sangat penting ikan berkemampuan untuk
meregenerasi sirip kaudalnya dalam waktu yang cukup singkat. Kemampuan ikan ini
dapat dijadikan sebagai model dalam proses regenerasi dalam tubuh suatu individu.
Selain kecepatan regenerasinya kenampakan yang sangat unik dan juga perbedaan
pattern dari sirip sebelumnya dapat dijadikan suatu acuan pertumbuhan dari jaringan
hidup yang mengalami gangguan dan proses regenerasi.
Ikan Oscar (Astronotus ocellatus) merupakan ikan yang biasa ditemui di
pedagang ikan hias. Ikan dengan warna orannye dan garis hitam terang yang
berukulan kecil ini memiliki pola tubuh yang sangat unik untuk penelitian proses
regenerasi. Ikan ini uumum hidup di perairan tawar yang jeriih dan terbebas polusi.
Ikan gatul (poecilia sp.) merupakan ikan air tawar yang sering ditemui dikehidupan
sehari-hari. Kemampuannya untuk hidup di tempat yang cukup ekstrem seperti air
dengan polusi dan juga genangan kecil yang sempit juga menjadikan ikan ini sagat
menarik untuk dijadikan bahan penelitian. Ikan dari family poeciliidae ini dikenal
memiliki corak yang menarik pada ikan jantannya sementara pada ikan betina hanya
berwara kelabu mengkilat (Verena. A. Kotler, 2016). Corak yang menarik ini
disebabkan oleh adanya berbagai pigmen seperti carotenoid untuk warna oranye (G.
R. Kolluru dkk, 2006 ; S. K. Gupta dkk, 2007), hitam dari melanofor, oranye
kekuningan dari xantofor, merah dari erytrofore, iridiofor untuk pemantulan cahaya
(Verena. A. Kotler, 2013), dan eumeialin untuk pigmen yang digunakan untuk
menyerap cahaya (Verena. A. Kotler, 2016). Keberagaman warna, corak, dan juga
kekuatan ikan gatul untuk hidup dalam lingkungan ekstrem membuat penelitian
regenerasi sirip kaudal sangat menarik untuk dilakukan sehingga dalam penelitian ini
ditujukan untuk mengetahui proses regenerasi sirip kaudal ikan gatul dan proses
pigmentasi yang terjadi pada tahap regenerasi tersebut.

Material dan Metode

Jenis pennelitian yang dilakukan merupakan penelitian eksperimental


laboratories yang meneliti tentang proses regenerasi pada sirip kaudal ikan gatul
(Poecilia sp.). penelitian ini dilakukan pada tanggal 13 bulan Oktober sampai dngan
tannggal 4 bulan November Tahun 2016 di laboratorium Kultur Jaringan Hewan
biologi FMIPA Universitas Negeri Malang. Metode yang dilakukan dalam penelitian
regenerasi ini adalah metode pengamatan langsung pada proses pertumbuhan
jaringan baru pada ujung sirip kaudal ikan gatul yang telah dipotong. Ikan gatul
diambil dari sungai di Universitas Negeri Malang yang kondisi sanitasi yang sangat
buruk. Diketahui dari tingkat kejernihan air, zat terlarut, komponen biologis, warna,
dan bau.
Ikan Oscar (Puntius tetrazona) didapatkan dengan cara membeli ke sebuah
pasar ikan hias yang terdapat di sekitaran kota Malang sementara Ikan gatul
didapatkan dari proses penankapan. Proses penangkapan ikan dilakukan dengan
jring ikan berukuran 20 30 cm. penangkapan dilakukan sekitar pukul 12 siang.
Baik ikan Oscar dan ikan gatul hassil tangkapan masing-masing dimasukkan
kedalam aquarium dengan ukuran 15 15 cm dengan jumlah ikan sebanyak 3 ekor /
aquarium untuk Oscar dan 6 ekor/ aquarium untuk gatul. Air yang digunakan dalam
akuarium merupakan air jernih yang didapatkan dari PDAM kota malang yang
berada di Universitas Negeri Malang. Akuraium diberi Hydrilla verticilata sebagai
komponen ekosistem, aerator yang terpantau, dan juga pergantiann air yang teratur.
Ikan diberi pakan organic berupa pellet ukuran kecil dengan jumlah 10 butir / hari.
Ikan diletakkan di tempat yang teduh serta terhindar cahaya matahari langsung
namun masih terdapat sumber cahaya dimana Hydrilla verticilata masih dapat
melakukan fotosintesis sehingga tidak hanya bersaing dalam respirasi namu juga
memberikan oksigen ke air.
Pengamatan regenerasi dilakukan setelah ikan ditangkap. Ikan diletakkan
diatas cawan petri yang alasnya merupakan kertas millimeter. Dipastikan air dalam
cawan mencukupi untuk menghindari kematian pada ikan. ikan diletakkan dengan
posisi tertidur dan diukur panjang sirip kaudal dari pangkal badan. Diamati juga
dengan menggunakan microscope stereo bentuk awal pattern dari sirip kaudal ikan.
Proses pemotongan dilakukan secepat mungkin menggunakan scalpel stanless baru
yang tajam. Pemotongan dilakukan melintang terjadap jejari sirip dengan panjang
setengah dari panjang keseluruhan sirip. Pemotonngan dilakukan hati-hati dan teliti.
Hasil pemotongan diukur kembali dengan acuan yang sama yaitu pangkal sirip ekor.
Setelah diukur ikan sesegera mungkin diamati kembali pada hasil pemotongann dan
dilepaskan kembali ke dalam akuarium. Selluruh ikan dberi peerlakuan yang sama
da variable konntrolnya merupakan pola ikan awal yang telah diamati. Teknik
pengumpulan data pada penelitian ini adalah denngan mengukur panjang
perkembangan regenerasi jaringan baru pada ujung pemotongan, pengaatan proses
yang terjadi secara morfologi seperti pigmentasi dan pembentukan jejari sirip lemah.

Hasil dan Pembahasan

Proses Penyembuhan Luka dan Regenerasi


Pada ikan Oscar tidak didappati data karena ikan mati saat proses
regenerasi. Pada ikan gatul didapatkan data dimana sirip kaudal ikan gatul yang
telaah dipotong menunjukkan adanya pola pennyembuhan luka pada pengamatan 2
hari setelah pemotonganl. Hal ini ditunjukkan dengan adanya gumpalan darah pada
ujung awal regenerasi (Gambar.1. A). Adanya perkembangan dari bastema yang
diinisiasi dari munculnya tonjolan pada ujung batas pemotongan (Gambar. 1. A).
Perkambangan jejari sirip lemah juga mulai berkembang seiring dengan
perkembangan jarngan ikat yang berada diantara kediua jejari tersebut (Gambar. 1.
A dan B). Tahap selanjutnya adalah mulai dikembangkannya pelat-pelat tulang
rawan seiring dengan pemanjangan blastema sehingga pembentukan jejari sirip
lemah mulai memanjang dan munculnya percabangan jejari(Gambar. 1. C dan D).
hal ini nampak sekitar setelah 3 6 Hari pemotongan. Percabangan jejari ini juga
diikuti dengan pemanjanngan berupa jaringan ikat membentuk membrane diantara 2
jejari lemah pada 7 11 hari pemotongan (Gambar. 1. D F).

Setelah proses pennyembuhan luka dengan dibentuknya pulau konjungtif


dan jaringan penyembuhan setelah 2 5 hari pemotongan (Gambar. 2. A dan B),
dimulainya pembentukan inisisasi tonjolan epidermal cap pada ujung batas
pemotongan (Gambar. 2. A), Perkembangan dari jaringan konjungtif (Gambar. 2. A
dan B), dan juga perkembangan blastema pada hari ke 4 5 (Gambar. 2. B) .
Penguatan jejari sirip lemah ditandai dengan perkembangan sel-sel jaringan tulang
rawan setelah 6 9 Hari pemotongan (Gambar. 3. A) ditandai dengan mulai
nampak jelasnya jejari sirip dengan segmentum yang mulai juga terbentuk (Gambar.
3. A dan B). Semakin lama adanya proses mineralisasi dan penguatan tulang rawan
menyebabkan bentukan jejari lemah semakin kuat dengan membrane antar jejari
lemah yang juga ikut berkembang setelah 9 Hari pemotongan. (Gambar. 3. B). hal
ini menandai proses pemanjangan telah mencapai tahap akhir dimana panjang sirip
regenerasi mulai mencapai panjang sirip sebelumnya (sebelum dipotong) (Gambar.
3. B).

Proses Pigmentasi

Proses pigentasi mulai terjadi pada 8 12 hari pemotongan. Pada sirip


regenerasi mulai nampak adanya migrasi xanthopore kearah jejari lemah di hari ke 8
9 (Gambar. 4. A) dapat dilihat warna orannye kekuningan yang mulai nampak di
sirip baru regenerasi. Pigmentasi ini terus berlanjut hingga migrasi xanthopore
A B
mencapai titik yang lebih jauh dari sirip baru regenerasi (Gambar. 4. B). Proses
pigmentasi selanjutnya adalah dimulainya migrasi melanophore kearah sirip kaudal
regenerasi (Gambar. 4. B) yang mulai menyebar kearah membrane dan juga jejari
sirip (Gambar. 4. B).

C D

*
*

E F
Gambar. 1. Menunjukkan regenerasi umum dari sirip kaudal ika gatul (Poecilia
(Poecilia sp.) dari
pengamatan langsung mikroskop stereo perbesaran ( 4 2.5 ). Gambar A dan B
Menunujukkan adanya upaya penyembuhan
pe luka dengan bentukan epidermal cap (Panah
Hitam) dan munculya jaringan penyembuhan luka (Panah merah) dari batasan pemotongan
(Panah Biru). Gambar C dan D mulai adanya pembentukan jejari lemah dengan
percabangan (Tanda Bintang) dan membrane antara jejari (Panah Putih).. Percabangan
nampak jelas pada gambar C. Gambar E menunjukkan perkembangan lanjutan dari
regennerasi dimana jejari sirip lemah belum menunjukkan diferensiasi (Panah Hijau).
Menunnjukkan mulai ai adannya migrasi dari xanthopore kearah bagian regenerasi (Panah
Oranye). Gambar F menunjukkan adaannya perkembangan lanjutan dan proses pigmentasi.

A B

C
D

Gambar. 2. Menunjukkan proses penyembuhan luka awal dan pembentukan blastema dari
sirip kaudal ikan gatul (Poecilia
Poecilia sp.) setelah 2 5 hari pemotongan dengan pengamatan
langsung mikroskop stereo perbesaran ( ). ) Gambar A menunjukkan adanya pembentukan
blastema awal (Panah hitam) dan juga epidermal cap (Panah biru). Gambar B menunjukkan
adanya pembentukan lebih lanjut dimana jaringan konjungtif mulai berkembag (Panah Hijau).
Pembentukan blastema lebih jauh (Panah Kuning) dan mulai adanya inisiasi pemanjangan
jejari sirip (Tanda Bintang Hitam). Gambar C dan D merupakan gambar rujukan
dariperkembangan sirip kaudal ikan Cyprinus carpio. Gambar C menunjukkan
perkembangan 1 hari pemotongan dengan adanya Epidermal cap (E). gambar D
menunjukkan adanya Blastema (B) dengann perkembangan setelah 4 hari (Bckelmann. P.
K et al, 2009).
A

Gambar. 3. Menunjukkan regenerasi lanjutan dari sirip kaudal ikan gatul (Poecilia sp.)
dengan penngamatan langsung mikroskop stereo perbesaran (4 x 2.5 ). Gambar A
memperlihatkan jejari sirip lemah yang mulai terlihat (Panah Hitam), Jaringan membrane
antar jejari yang juga seiringan berkembang (Panah Merah), namun masih berlanjutnya
perkembangan inisiasi blastema (Panah Kuning). Gambar B menunjukkan perbesaran digital
yang lebih tinggi. Dapat terlihat batasan pemotonngan (Tanda Bintang), Perkembangan jejari
sirip tulang rawan (Panah Hijau), dan jaringan membrane antar jejari sirip (Panah Biru).
Penebalan pada jejari sirip tulang rawan mulau nampak (Panah Ungu), segmen-segmen
jejari sirip juga terlihat (Panah Coklat).

Gambar. 4. Menunjukkan proses perkembangan lanjutan berupa pigmentasi awal dari sirip
kaudal ikan gatul (Poecilia sp) dengan pengamatan langsung perbesaran (4 x 2.5 ). Gambar
A memperlihatkan adanya migrasi xanthopore kearah sirip kaudal baru diantara jejari lemah
(Panah Hitam). Gambar B menunjukkan mulai adanya melanohore pada sirip regenerasi
baru (Panah Biru).
A

Gambar. 5. Merupakan gambar rujukan dari regenerasi ikan Osteichthyes. Gambar A


menunjukkan regenerasi sirip kaudal ikan zebra pada suhu ruang (Catherine.
(Catherine. P.& A.
Jazwnska, 2014 ). Gambar B menunjukkan regenerasi rsirip kaudal pada ikan Grass carp
setelah 30 - 42 hari
ri pasca pemotongan. Gambar A dan B menunjukkan bagiann tidak lazim
yang teregenerasi sementara pada gambar C dan D tidak menunjukkan adanya regenerasi.
Ga,bar H L menunjukkan proses regenerasi. Gambar M dan N juga menunjukkan hal yang
sama. Gambar O dan P menunjukkan regenerasi pada tempat tidak lazim semetara Q T
tidak menunjukkan adanya regenerasi (Shao
( et al, 2009).
Gambar. 6. Gambar rujukan literatuur Menunjukkan proses regenerasi dengan induksi
factor. Gambar A dengan manipulasi signaling BMP (Smith et al, 2006).
). Gambar B struktur
pembentukan tulang jejari lemah dengan pemotongan berulang ulang (Ana.
(Ana. S. A et al, 2011
2011).
Dan gambar C merupakan regenerasi dari ikan long-fin mutant (.J. Geraudiel et al, 1995).
Tabel. 1. Perbandingan Panjang
Pan Ekor Ikan Pasca Proses Regenerasi

Panjang ekor pada pengamatan ke- (cm)


IKAN 1 2 3 4 5
17/10 20/10 24/10 27/10 3/11
Gatul I 0,3 0,6 0,8 0,9 Ikan mati
Gatul II 0,5 0,6 0,7 0,8 1
Gatul III 0,5 0,6 0,9 1 Ikan mati
Gatul IV 0,7 I k a n m a t i
Gatul V 0,3 0,7 I k a n m a t i
Gatul VI 0,5 0,6 0,7 0,8 1,1
Oscar I 0,4 I k a n m a t i
Oscar II 0,4 I k a n m a t i
Oscar III 0,4 I k a n m a t i

Diskusi

Proses awal regenerasi dimulai dengan proses penyembuhan luka. Proses


pennyembuhan luka ini melibatkan dibentuknya epidermal cap dimana epidermal
cap ini memiliki fungsi sebagai penutup luka (Bckelmann. P. K et al, 2009) selain itu
regenerasi juga dimulai dengan adanya migrasi dari makrofag dan neutrofil untuk
menghindari inflamasi pada daerah pemotongan (Anusree. P, 2011). Pada hari ke 2
3 perkembangan dari epidermal cap akan membentuk penebalan khusus dimana
didalamnya terbentuk jaringan konjungtif (Gambar: 1. A. B, 2. A. B) Jaringan
konjungtif ini merupakan jaringan yang berfungsi sebagai pengisi. Pada hari ke 3 4
bentukan blastema mulai terlihat (Gambar : 1. B D, 2. B). Blastema merupakan
diferensiasi jaringan dewasa yang membentk suatu masa jarngan baru (neoblast)
yang belum terdiferensiasi (Philip. A. N, 2001; Bernhard. E et al, 2009) . Blastema
akan terdifereensiasi menjadi bagian bagian khsusus yang diperlukan untuk
proses perkembangan selanjutnya seperti epidermal cell untuk pembentukan
epidermis, endothelial cell untuk pembentukan vasculature, dan osteblast dan
scleroblast untuk pembentukan matriks tulang (Jennifer. S et al, 2015).
Pembentukan blastema menandakan bahwa tipe regenerasi sirip kaudal ikan
merupakan termasuk regenerasi epimorfik (Shao et al, 2009).
Pada hari ke 4 5 dari regenerasi blastema mulai akan jelas terlihat
memanjang (Gambar : 1. D, 3. A) hal ini akan seiringan dengan diferensiasi dari
blastema menjadi jaringan khusus (Bckelmann. P. K et al, 2009). Perkembangan
lanjutan dari blastema ini akan seiringan dengan penguatan matriks tulang dari
diferensiasi sel (Shao et al, 2009). Pembentukan scleroblast dari jaringan konjungtif
akan berfungsi sebagai pembentuk matriks tulang pada ikan (Unsoed, 2010).
Pembentukan scleroblast ini dan juga mineralisasinya untuk membentuk matriks
tulang diinduksi oleh signaling dari BMP (A. Smith et al, 2006). Matriks bentukan
scleroblast (Gambar : 1. C F, 3. A. B) memperlihatkan bentukan matriks jejari
tulang rawan pada sirip kaudal. Jejari lemah ini dibentuk dari proses mineralisasi
scleroblast dan osteoblast menjadi matriks tulang (A. Smith et al, 2006). Seiringan
dengan pembentukan jejari sirip lemah juga terjadi pembentukan membran anntar
selaput jejari lemah yang terbentuk dari jaringan mesenkim dan epidermis
(Gambar : 1. C F, 3. A. B).
Proses pigmentasi (Gambar : 1 E. F, 4 A. B) melipatkan migrasi pigmen
warna hitam dari melanofor dan xanthofor (Verena. A. Kotler, 2013). Sebenarnya
proses pigmentasi telah dimulai terleebih dahulu sebelum xantofor bermigrasi pada
hari ke 8 10 (Gambar 4. A). Pada penelitian ini proses pigmentasi juga belum
terlalu dapat diamati karena penelitian telah dihentikan sebelum kompleks pigmen
telah sepenuhnya mencapai sirip regenerasi. Proses regenerasi sendiri diinduksi
oleh berbagai signaling dan gen (A. Smith et al, 2006; Catherine. P.& A. Jazwnska,
2014). Diantaranya adalah gen kcnk5b yang mempengaruhi proses kalsifikasi
(Perathoner et al, 2014), gen Cx43 yang mempengaruhi pembentukan gap junction
untuk aliran transport (Hoptak-Solga et al, 2007), dan sema3d yang merupakan
precursor skeletal dari blastema (Ton dan Iovine, 2012). Signaling Wnt/- Catenin
akan mempengaruhi diferensiasi dari blastema untuk menjadi kulit sementara
FGF20a menginduksi pembentukan blastema seiring dengan msxb. Signaling ini
akan mempengaruhi pembentukan dengan cara pemotongan terus menerus pada
sirip kaudal pasca regenerasi total (Ana. S. A et al, 2011). Proses ini akan
mempengaruhi regenerasi dari tahap ke tahap hingga panjang dari sirip (Tabel. 1)
kembali atau kurang dari panjang sirip kaudal sebelum dipotong.

Kesimpulan

Proses regenerasi merupakan proses umum yang terjadi pada suatu individu
makhluk hidup.
Proses regenerasi sirip kaudal ikan gatul (Poecilia sp.) dimulai dengan masa
penyembuhan Migrasi Makrofag dan Leukosit pembentukan epidermal
cap Pembentukan jaringan konjungtif Pembentukan Blastema yang
dipengaruhi proses signaling seperti FGF20a dan msxb dan gen seperti
sema3d Diferensiasi menjadi sel-sel spesifik yang dipengaruhi proses
signaling seperti Wnt /- Catenin Mineralisasi pada jaringan tulang
pigmentasi.
Mengapa penelitian tentang proses regenerasi penting?
Jawab :
Proses regenerasi merupakan proses yang sangat kompleks dan luar
biasa. Suatu individu makhluk hidup dengan sel yang telah terdiferensiasi
menjadi sel dewasa dapat membentuk suatu jaringan baru yang dapat
menjadi suatu jaringan germ. Dalam kasus ini betapa keajaiban dan
anugerah mengambil peranan yang sangat penting. Bagaimana suatu proses
yang rumit dan begitu kompleks dapat terjadi. Upaya penyembuhan dan
bahkan pembentukan individu baru membuktikan betapa bersyukur sangat
penting untuk dilakukan.
Daftar Pustaka

A. Smith., F. Avaron., D. Guay., B.K. Padhi., M.A. Akimenko. Inhibition of BMP


Signaling During Zebrafish Fin Regeneration Disrupts Fin Growth and
Scleroblast Differentiation and Function. 2006. Developmental Biology. 299.
Pp. 438454.

Ana. S. A., Bartholoma. U. Grotek., A. Jacinto., Gilbert. W., Leonor. S. The


Regenerative Capacity of the Zebrafish Caudal Fin Is Not Affected by
Repeated Amputations, PLoS One. 2011. Vol : 6(7). e22820.
DOI :10.1371/journal.pone.0022820.

Anusree. P., Saradamba. A.,T. Ailor. N., Desai. I., Suresh. B., Caudal Fin
Regeneration is Regula Ted By Cox-2 Induced PGE2 in Teleost Fish Poecilia
Latipinna. Journal of Cell and Tissue Research. ISSN: 0974 0910.
9227612311. Pp. 2795 2782.

Bckelmann. P. K., Ochandio, BS., Bechara. I. J., Histological Study of The


Dynamics in Epidermis Regeneration of the Carp Tail Fin (Cyprinus carpio,
Linnaeus, 1758). Journal of Brazil Biology. 2010. Vol 70 (1). Pp. 217-223.

Bernhard. E., Robert . G., Michael. W. H., Katharina. T. Nimeth ., Zbigniew. A., The
Caudal Regeneration Blastema is an Accumulation of Rapidly Proliferating
Stem Cells in the Flatworm Macrostomum lignano. BMC Developmental
Biology. 2009. DOI :10.1186/1471-213X-9-41. Pp. 1 15.

Catherine. P., A. Jazwinska. The Art of Fin regeneration in Zebrafish. Regeneration.


2015. DOI : 10.1002/reg2.33. Pp. 72 83.

G. R. Kolluru., N. C. Ruiz., N. Del. C., E. Dunlop., G. F. Grether., The Effects of


Carotenoid And Food Intake On Caudal Fin Regeneration In Male Guppies.
Journal of Fish Biology. 2006. Vol : 6(8). Pp. 1002-1012. DOI:10.1111.
J.1095-8649. 2006. 00976.

George. V. Lauder. Function of Caudal Fin During Locomotion in Fishes : Kinematics


Flow Visualizations and Evolutionary Patterns. 2000. American Zoology. Vol
40. Pp. 101-121.
Hoptak-Solga, A.D., Klein, K.A., De Rosa, A.M., White, T.W., Iovine, M.K. Zebrafish
Short Fin Mutations in Connexin 43 Lead to Aberrant Gap Junctional
Intercellular Communication. FEBS letters. 581(17), 32973302.
DOI :10.1016/j.febslet.2007.06.030.

Jennifer. S., Mimi. C. Sammarco., Lindsay. A. D., Paula. P. Schanes., Ling. Y., K.
Muneoka the Mammalian Blastema Regeneration at Our Fingertips.
Regeneration. 2015. 10.1002.reg2.36. Pp. 93 105.

Jopling. C., Sleep. E., Raya. M., Marti. M., Raya. A., Izpisa. B., Zebrafish Heart
Regeneration Occurs By Cardiomyocyte Dedifferentiation And Proliferation.
Nature .2010. 464:606 - 609.

J. Geraudiel., Marie. J. M., Annie. B., Patrizia. F., Caudal Fin Regeneration in Wild
Type And Long-Fin Mutant Zebrafish is Affected by Retinoic Acid.
International Journal of Developmental Biology. 1995. 024-6282/95/503.00.
Pp. 373 382.

Perathoner, S., Daane, J.M., Henrion, U., Seebohm, G., Higdon, C.W., Johnson,
S.L., et al. Bioelectric Signaling Regulates Size in Zebrafish Fins. PLoS
Genetics. 2014. 10(1), e1004080. doi:10.1371/journal.pgen.1004080.

Phillip. A. N., Alejandro. S. A. Regeneration in Planaria. Encyclopedia of Life


Sciences. 2001. NPG. Pp 1-7.

Renate Reimschuessel. A Fish Model of Renal Regeneration and Development.


Regeneration and Development. 2001. Vol : 42(4).

S. K. Gupta., A. K. Jha., A. K. Pal., G. Venkateshwarlu. Use of Natural Carotenoids


for Pigmentation in Fishes. Natural Product Radiance. 2007. Vol : 6(1). Pp.
46-49.

Shao. J., X. Qian., C. Xia. Zhang., Zenglu. X. Fin Regeneration From Tail Segment
With Musculature, Endoskeleton, and Scales. Journal Of Experimental
Zoology. 2009. DOI: 10.1002/jez.b.21295. Pp. 1 8.
Ton, Q.V., Iovine, M.K. Semaphorin3d Mediates Cx43 - Dependent Phenotypes
During Fin Regeneration. Developmental Biology. 2012. 366(2), 195203.
doi:10.1016\ J.ydbio.2012.03.020.

UNSOED. 2010. Regenerasi Sirip Kaudal Ikan Nila (Osteochilus hasselti). 2010.
Surabaya : Unsoed.

Verena. A. Kottler., Iris. K., Matthias. F. Tenmeyer., Hisashi. H., Detlef. W., Christine.
D., Multiple Pigment Cell Types Contribute to the Black Blue and Orange
Ornaments of Male Guppies (Poecilia reticulata). 2016. Plos One. Volume 9
(1). Pp. 1-10. e85647. DOI : 10.1371.

Verena. A. Kottler., Andrey. F., Detlef. W., Christine. D., Pigment Pattern Formation
in the Guppy (Poecilia reticulate) Involves the Kita and Csf1ra Receptor
Tyrosine Kinases. Genetics. 2013. Vol. 194. DOI :
10.1534/genetics.113.151738. Pp. 631646.