Anda di halaman 1dari 8

PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA

JUDUL PROGRAM
MARBELS HI-GREEN (MALL BERBASIS LINGKUNGAN SIDOARJO
DENGAN SISTEM HIDROPONIK)
BIDANG KEGIATAN:
PKM-ARTIKEL ILMIAH

Diusulkan oleh:
Larasati Hening Putri 16020304068 Angkatan 2016
Agnes Lintang Kauripan 16030204082 Angkatan 2016
Sausan Dina Abidah 16030204087 Angkatan 2016
Dihin Puspita Wardhani 16030204091 Angkatan 2016
Maria Ulfa 16030204097 Angkatan 2016

UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA


SURABAYA
2017
JUDUL PKM

Larasati Hening Putri


Agnes Lintang Kauripan
Sausan Dina Abidah
Dihin Puspita Wardhani
Maria Ulfa
Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam

ABSTRAK

Kearifan lokal merupakan bagian nyata dari bentuk implementasi etika


lingkungan yang dilakukan oleh suatu kelompok lokal di suatu daerah tertentu.
Salah satu implementasi kearifan lokal di Jawa Timur, khususnya di daerah
Sidoarjo adalah Lelang Bandeng Kawak yang sekarang dikenal dengan Festival
Bandeng Kawak. Kegiatan tersebut merupakan kearifan lokal yang memiliki nilai
budaya yang diajarkan secara turun-temurun agar budaya petambak bandeng tetap
lestari dan menjadi ikon Kabupaten Sidoarjo.
PENDAHULUAN

Kearifan lokal merupakan bagian nyata dari bentuk implementasi etika


lingkungan yang dilakukan oleh suatu kelompok lokal di suatu daerah tertentu.
Kearifan lokal memiliki hubungan yang erat dengan kebudayaan tradisional pada
suatu daerah yang mengandung suatu pandangan dan aturan agar masyarakat
memiliki pedoman dalam berperilaku yang sesuai dengan norma masyarakat
sehari-hari. Kearifan lokal yang diajarkan secara turun-temurun merupakan
kebudayaan yang patut dijaga, masing-masing wilayah memiliki kebudayaan
sebagai ciri khasnya dan terdapat kearifan lokal yang terkandung di dalamnya.

Pembentukan dan perkembangan budaya sangat mempengaruhi jati diri


bangsa, kesatuan masyarakat berperan serta dalam pembentukkannya. Menurut
Edi Sedyawati (2010: 328), menjelaskan di dalam masing-masing kesatuan
kemasyarakatan yang membentuk bangsa, baik yang berskala kecil ataupun besar,
terjadi proses-proses pembentukan dan perkembangan budaya yang berfungsi
sebagai jati diri bangsa tersebut. Indonesia merupakan negara yang sangat luas
dan dikenal sebagai negara yang multikultur. Keadaan Indonesia sebagai negara
yang multikultur menyebabkan Indonesia rentan akan konflik antar daerah. Setiap
daerah di Indonesia memiliki ciri khas budaya masing-masing yang patut untuk
dikembangkan dan dijaga keberadaannya sebagai identitas bangsa agar tetap
dikenal oleh generasi muda. Koentjaraningrat (M. Munandar Soelaeman, 2007:
62) mengatakan bahwa kebudayaan nasional Indonesia berfungsi sebagai pemberi
identitas kepada sebagian warga dari suatu nasional, merupakan kontinyuitas
sejarah dari jaman kejayaan bangsa Indonesia di masa yang lampau sampai
kebudayaan nasional masa kini.

Masyarakat memiliki peranan penting dalam pembentukan budaya agar


terus terjaga kelestariannya. Selo Soemardjan dan Soelaeman Soemardi dalam
buku Soerjono Soekanto (2007: 151), merumuskan kebudayaan sebagai hasil
karya, rasa, dan cipta masyarakat. Karya masyarakat menghasilkan teknologi dan
kebudayaan kebendaan atau kebudayaan jasmaniah (material culture) yang
diperlukan oleh manusia untuk menguasai alam sekitarnya agar kekuatan serta
hasilnya dapat diabdikan untuk keperluan masyarakat.

Salah satu contoh kearifan lokal di Jawa Timur, khususunya di daerah


Sidoarjo adalah Lelang Bandeng Kawak. Lelang Bandeng Kawak merupakan
salah satu bentuk kearifan lokal yang memiliki nilai budaya yang tetap dijaga agar
budaya petambak bandeng tetap lestari dan menjadi ikon Kabupaten Sidoarjo,
selain udang. Namun seiring dengan perkembangan zaman dan modernisasi
kebudayaan, lelang bandeng tetap dipertahankan, meski konsepnya kini dirubah
menjadi Festival Bandeng Kawak.
Adapun tujuan dari pembuatan PKM AI yaitu: a) Menambah ilmu dan
pengetahuan mengenai kearifan lokal yang ada di daerah khususnya Kabupaten
Sidoarjo, b) Diharapkan dapat menjadi referensi sehingga dapat digunakan
sebagai acuan dan pedoman dalam menambah pengetahuan mengenai kearifan
lokal di daerah setempat, c) Sebagai motivasi untuk masyarakat Sidoarjo agar
tetap menjaga dan melestarikan budaya Lelang Bandeng Kawak.

METODE

HASIL DAN PEMBAHASAN

Berdasarkan metode observasi, diperoleh hasil bahwa Sidoarjo merupakan


salah satu kabupaten yang mempunyai potensi untuk budidaya tambak yaitu
sebesar 32, 17% dari luas wilayah tambak di Propinsi Jawa Timur. Sedangkan
berdasarkan laporan Dinas Statistik Propinsi Jawa Timur (2003), Sidoarjo
merupakan salah satu pusat tambak di Jawa Timur dan lebih dari 60% tambak di
wilayah Sidoarjo adalah tambak ikan bandeng (Abidin, 2010). Di sektor
perikanan, Kabupaten Sidoarjo mengandalkan udang dan bandeng sebagai sebagai
komoditas unggulan yang yang dijadikan maskot Sidoarjo.

Optimalisasi Tambak Bandeng Berbasis Kearifan Lokal

Pengoptimalan budidaya tambak salah satunya yaitu dengan adanya


sebuah program pemerintah Sidoarjo yang berlangsung sejak tahun 1962, biasa
disebut dengan Lelang Bandeng yang saat ini berganti nama menjadi Festival
Bandeng Kawak dapat meningkatkan ekonomi dan semangat pera petani tambak
di wilayah Sidoarjo dalam memajukan hasil tambaknya. Hal tersebut dapat
dibuktikan dengan antusias para petani dalam melelang hasil tambak bandengnya
serta data hasil bandeng Sidoarjo yang relatif naik.

Dari total produksi budidaya tambak di Kabupaten Sidoarjo, produksi


komoditas bandeng mencapai sekitar 70 %-nya. Jumlah petani tambak Sidoarjo
mencapai 3.227 orang dengan total luas lahan tambak 15.530 hektare. Desa-desa
di Sidoarjo yang banyak terdapat tambak bandeng antara lain: Desa Banjar
Kemuning (APS), Desa Kalanganyar, Desa Segoro Tamak dan Desa Gesik
Semanggi. Total produksi bandeng tahun 2009 mencapai 16,03 ribu ton atau naik
1,13% dibanding tahun sebelumnya. Di tahun 2010, produksi ikan bandeng juga
meningkat meski terjadi anomali cuaca. Produksi bandeng daerah Sidoarjo pada
tahun 2010 meningkat menjadi 19.839 ton.

Festival Bandeng Kawak


Salah satu kearifan lokal khas Sidoarjo adalah Festival Bandeng Kawak
dilaksanakan untuk memperingati hari Maulid Nabi Muhammad SAW yang
digelar setiap tahun. Untuk mengikuti Festival Bandeng Kawak, petani tambak
harus memelihara dengan perlakuan khusus agar bandeng kawakan dalam kurun
waktu 5-10 tahun bisa bertahan dan mencapai berat maksimal yang diinginkan
(sebesar 7 kg sampai 10 kg per ekor), serta keamanannya juga dijaga karena
memeliharanya di tengah area pertambakan. Setelah bandeng mencapai berat
maksimal yang diinginkan, petani membawa bandeng-bandengnya ke lelang
bandeng tahunan kota Sidoarjo.

Tradisi lelang bandeng digelar di Alun-alun Sidoarjo yang diadakan oleh


Pemerintah Kabupaten Sidoarjo. Dalam tradisi lelang bandeng, biasanya pada
sore hari bandeng para warga dikirab keliling Sidoarjo dan malamnya bandeng
tersebut akan dilelang. Baik pihak masyarakat, pemerintah, atau perusahaan
berhak untuk memberikan penawaran. Hasil lelang diumumkan pada pukul 24.00
WIB. Dalam lelang bandeng itu, penawar tertinggi berhak mendapatkan bandeng
yang terberat Penawar tertinggi kedua, ketiga dan keempat juga berhak memiliki
bandeng yang diperebutkan serta piala dan tropi. Uang hasil lelang biasanya
digunakan untuk kegiatan sosial dan peningkatan kesejahteraan petani bandeng
sendiri.
Berikut adalah tabel data tentang luas tambak pertahun dan hasil panen dari ikan
bandeng menurut (BPS, 2002; Ikanmania, 2008):

Tahun Luas (Ha) Produksi (Ton)

1993 432156 355

1994 469839 346

1995 486611 361

1996 492879 404

1997 500468 370

1998 499818 354

1999 523818 413

2000 551778 430

2001 n.a 455

2002 n.a 472

Produk Hasil Penerapan Kearifan Lokal

Pengolahan bandeng yang selama ini dilakukan agar aman dikonsumsi


adalah dengan mengolahnya menjadi bandeng presto atau terkenal dengan
bandeng duri lunak. Bandeng presto dihasilkan dengan cara
memasak bandeng pada suhu tinggidalam jangka waktu yang lama. Terdapat
kelemahan dari bandeng presto ini, yaitu adanya
kemungkinan berkurangnya gizi makanan yang terkandung
pada bandeng akibat pengola-han yang dilakukan pada suhu tinggi, serta
dapat berpotensi menimbulkan rasa bosan jika mengkonsumsi bandeng presto ini
dalam jangka waktu yang lama.

Oleh karena itu, sebagai salah satu variasi makanan dengan menggunakan
bandeng ini dan juga memperhatikan kendala banyaknya duri pada bandeng, maka
dikembangkan usaha penghilangan tulang/duri bandeng yang menghasilkan
produk yang disebut bandeng tanpa duri yang disebut Batari, merupakan produk
alternatif bagi penggemar ikan yang ingin mendapatkan bandeng segar yang
terbebas dari duri halus. Bandeng tanpa duri merupakan salah satu produk andalan
yang dihasilkan oleh Akademi Perikanan Sidoarjo (APS). Sebagai salah satu
lembaga pendidikan tinggi kedinasan yang diselenggarakan Kementerian
Kelautan dan Perikanan, Akademi Perikanan Sidoarjo (APS) dituntut mampu
meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia melalui pendidikan dan pelatihan.
Dalam mengemban tugas dan fungsinya tersebut, salah satu teknologi
sederhana/keterampilan yang telah dikembangkan APS adalah cabut duri bandeng
yang menghasilkan Batari. Teknologi sederhana ini terus
berkembang di wilayah Sidoarjo, sebagai wujud pengabdian masyarakat yang
mampu memberikan multiplier effect. Dari berkembangnya produk Batari,
berkembangnya jasa pencabut duri di sekitar daerah Sidoarjo. Pencabut duri
bandeng mendapat bayaran yang cukup sehingga bisa memberikan tambahan
penghasilan. Dengan jam kerja mulai pukul 09.00-16.00, seorang pekerja atau
siswa APS Sidoarjo dapat me-nyeleskan 30 kg bandeng atau 100 ekor. Upah
tenaga kerja cabut duri di TPI Sidoarjo Rp 2.500 perekor sedangkan di luar TPI
hanya Rp 1.000 per ekor.

KESIMPULAN

Salah satu kearifan lokal khas Sidoarjo adalah Festival Bandeng Kawak
dilaksanakan untuk memperingati hari Maulid Nabi Muhammad SAW yang
digelar setiap tahun. Beberapa bandeng ukuran besar dilelang dalam festival ini.
Dan hasil lelangnya digunakan untuk kesejahteraan petani bandeng dan kegiatan
sosial. Sebagai masyarakat sidoarjo, terdapat berbagai tantangan untuk terus
menjaga kearifan lokal ini. Kesadaran masyarakat akan pengetahuan kearifan
lokal serta upaya-upaya konservasi yang dilakukan dalam mengelola sumber daya
alam hayati akan memberikan mamfaat yang terus menerus untuk menghadapi
tantangan dalam konteks kearifan lokal di masa mendatang.

DAFTAR PUSTAKA

Abidin, Z.S., 2010, Kebijakan Publik. Jakarta: Yayasan Pancur Siwah.

Edi Sedyawati. 2010. Budaya Indonesia : Kajian Arkeologi, Seni, dan Sejarah.
Jakarta : Rajawali Pers.

M. Munandar Soelaeman. 2007. Ilmu Budaya Dasar. Bandung: PT. Refika


Aditama.

Soekanto, Soerjono. 1982. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta : PT. Raja Grafindo
Persada