Anda di halaman 1dari 20

DESAIN PENGEMBANGAN

KURIKULUM INTEGRATIF

MAKALAH
Disusun dan Diajukan Guna Memenuhi Tugas Perkuliahan
Mata Kuliah : Desain dan Pengembangan Kurikulum
Dosen Pengampu : Dr. Ahsan Hasbullah, M.Pd.
Semester, Program Studi : 1 MPI B

Disusun Oleh :
Nama Mahasiswa NIM

1. Oky Ahmad Wahab 161765101


9
2. Setiono 161765102
3

PROGRAM STUDI MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM


PASCASARJANA
ISNTITUT AGAMA ISLAM NEGERI PURWOKERTO
2016
I. ABSTRAK
Makalah Desain Pengembangan Kurikulum Integratif
membahas tentang. Pengertian, landasan, karakteristik
desain pengembangan, kelebihan dan kelemahan, serta
langkah-langkah pengembangan kurikulum integratif.
Kurikulum integratif merupakan amanat Undang-undang.
Pendidikan nasional semestinya tidak memisahkan berbagai
unsur vitalnya, yaitu secara integratif pendidikan nasional
seharusnya menjawab berbagai tantangan kehidupan peserta
didik kini dan mendatang. Pendidikan seharusnya tidak
sekedar menjawab persoalan fisik-jasmaniyah, tetapi secara
integratif menjawab pula persoalan psikis-ruhaniyah.
Meski demikian, ada problem serius dalam sistem
pendidikan nasional. Diantaranya adalah fenomena pergaulan
bebas di kalangan pelajar, terlibat narkotika, dan perilaku
sarkasme/kekerasan. Hal ini menunjukkan terjadinya
mismatch antara sistem pendidikan nasional dengan upaya
membentuk manusia indonesia yang berkepribadian dan
berakhlak mulia sebagaimana dicita-citakan dalam tujuan
pendidikan nasional Pasal 2 UU No. 20 tahun 2003 dan juga,
hasil pendidikan yang bertujuan untuk menciptakan manusia
yang beriman dan bertakwa serta menguasai ilmu
pengetahuan dan teknologi masih jauh dari kenyataan.

II. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Kurikulum sebagai alat untuk mencapai tujuan
pendidikan mempunyai peran yang sangat vital, untuk itu
pengembangannya pun perlu di utamakan.
Pengembangan kurikulum merupakan suatu proses
perencanaan kurikulum agar menghasilkan rencana
kurikulum yang luas dan spesifik. Selanjutnya desain

1
kurikulum merupakan bagian dari proses pengembangan
kurikulum. Keduanya sangat berkaitan erat dalam proses
perubahan dan pengembangan kurikulum.
Perubahan dan pengembangan kurikulum
menunjukkan bahwa sistem pendidikan itu dinamis. Jika
sistem pendidikan tidak ingin terjebak dalam stagnasi,
semangat perubahan perlu terus dilakukan dan
merupakan suatu keniscayaan. Kita berharap perubahan
dan pengembangan kurikulum integratif tak hanya
perampingan semata, tetapi juga harus mampu menjawab
tantangan perubahan dan perkembangan zaman.
Pengembangan kurikulum integratif merupakan bagian
dari strategi meningkatkan capaian pendidikan. Disamping
kurikulum, masih terdapat sejumlah faktor pendukung
lainnya, diantaranya: lama Peserta didik bersekolah, lama
Peserta didik tinggal disekolah, pembelajaran Peserta didik
aktif berbasis kompetensi, sumber belajar, dan peranan
guru sebagai ujung tombak pelaksana pendidikan.
Kurikulum sebagai sistem sekaligus sebagai alat untuk
mencapai tujuan pendidikan menjadi hal yang sangat
urgent dan mutlak ada dalam sebuah program pendidikan.
Kurikulum tidak cukup hanya dengan memuat kompetensi-
kompetensi anak didik saja melainakn kurikulum juga
harus bisa sinergi dengan seluruh aspek kehidupan
manusia. Inilah pentingnya kurikulum integratif sebagai
sebuah sistem pembelajaran yang besifat terpadu baik itu
antar muatan-muatannya maupun dengan realitas
kebutuhan hidup manusia. Di satu sisi sebuah sistem akan
bisa berhasil guna apabila sistem tersebut terencana,
tersusun dan teraplikasikan dengan baik dan benar. Hal ini

2
berarti desain sebuah kurikulum akan juga menentukan
apakah kurikulum itu akan dapat terlaksana dan
mengantarkan pada tujuan pendidikan atau terpaksa
gagal dan perlu didesain kembali. Oleh karena hal
tersebut, maka penulis mencoba menelaah dan
menyajikan mengenai Desain Pengembangan Kurikulum
Integratif melalui tulisan makalah ini.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang penulis
tuliskan pada bagian pendahuluan ini, maka rumusan
masalah yang akan penulis coba uraikan ialah sebagai
berikut :
1. Apa pengertian desain pengembangan kurikulum
integratif?
2. Apa landasan pengembangan kurikulum integratif?
3. Bagaimana karakteristik desain pengembangan
kurikulum integratif?
4. Apa saja kelebihan dan kekurangan implementasi
kurikulum integratif?
5. Bagaimana langkah-langkah pengembangan kurikulum
integratif?
C. Tujuan Pembahasan
1. Untuk mengetahui pengertian desain pengembangan
kurikulum integratif.
2. Untuk mengetahui apa saja landasan pengembangan
kurikulum integratif.
3. Untuk memahami karakteristik desain pengembangan
kurikulum integratif.
4. Untuk memahami kelebihan dan kekurangan
implementasi kurikulum integratif.
5. Untuk mengetahui langkah-langkah pengembangan
kurikulum integratif.

III.PEMBAHASAN
A. Pengertian Desain Pengembangan Kurikulum Integratif

3
Menurut Dakir (2004), kurikulum adalah suatu program
pendidikan yang berisikan berbagai bahan ajar dan
pengalaman belajar yang diprogramkan, direncanakan dan
dirancangkan secara sistemik atas dasar norma-norma
yang berlaku yang dijadikan pedoman dalam proses
pembelajaran bagi tenaga kependidikan dan peserta didik
untuk mencapai tujuan pendidikan.1
Sedikit berbeda dengan rumusan Dakir diatas, dalam
Undang-undang Sisdiknas tahun 2003 disebutkan bahwa
kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan
mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang
digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan
pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.
Jika ditelaah, konsep dan rumusan kurikulum dalam
Undang-undang Sisdiknas secara integratif telah
menggabungkan aspek spiritual, akhlak mulia, kecerdasan
akal, life skill dan nasionalisme. Artinya, secara konsep
kurikulum yang dirumuskan dalam sistem pendidikan
nasional merupakan kurikulum yang integratif dan
menyeluruh. Dan berdasar ini pula maka semestinya tidak
ada masalah pada outcome dan peserta didik selama
mereka menempuh pendidikan.
Namun jika faktanya masih terdapat masalah yang
terjadi berarti ada faktor lain yang menjadi penyebabnya.
Jika konsepnya benar maka bisa jadi masalahnya terdapat
dalam tataran praksis. Artinya, dalam pelaksanaan
kurikulum terdapat kesalahan sehingga hasilnya tidak
seperti yang diharapkan.

1 Dakir, Perencanaan Dan Pengembangan Kurikulum, (Jakarta: Rineka


Cipta, 2004), Hlm. 3.

4
Meski konsep kurikulum dalam sistem pendidikan
nasional sudah sangat menyeluruh dan integratif, diskusi
dan konsep kurikulum integratif tetap muncul ke
permukaan. Sesungguhnya apa sih yang dimaksud dengan
kurikulum integratif?
Dalam istilah yang lebih sempit, kurikulum integratif
lebih disebut dengan pendekatan pembelajaran terpadu.
Istilah ini berasal dari integrated teaching dan learning
atau integrated curriculum approach. Pendekatan
terintegrasi dalam pembelajaran sudah lama dikenalkan
oleh John Dewey. Pendekatan ini dimaksudkan sebagai
upaya untuk mengintegrasikan tiga hal yaitu
perkembangan, pertumbuhan dan kemampuan
pengetahuan Peserta didik. Disebutkan bahwa
pembelajaran terpadu adalah pendekatan untuk
mengembangkan kemampuan nalar dalam pembentukan
pengetahuan berdasarkan interaksi dengan lingkungan
dan pengalaman dalam kehidupannya. Sehubungan
dengan itu, pendekatan pembelajaran terpadu membantu
anak untuk belajar menghubungkan apa yang telah
dipelajarinya dengan baru mereka pelajari.
Ada beberapa istilah yang digunakan untuk menyebut
pendekatan pembelajaran terpadu, yaitu: integrated
teaching and learning, integrated curriculum approach, a
coherent curiculum approach, holistic approach dan
integrative learning serta tematik.
Konsep dasarnya pendekatan pembelajaran terpadu
tersebut sejalan dengan pengertian pembelajaran tematik
integratif dalam Kurikulum 2013. Hanya saja,
pembelajaran tematik integratif dalam Kurikulum 2013

5
merupakan pendekatan pembelajaran yang
mengintegrasikan berbagai kompetensi dari beberapa
mata pelajaran ke dalam sebuah tema.
Adanya tema ini bukan hanya bertujuan dalam kontek
penguasaan terhadap konsep-konsep dalam suatu mata
pelajaran tertentu, melainkan pula keterkaitannya dengan
konsep dari mata pelajaran yang lainnya. Dengan
demikian maka sesudah mengikuti pembelajaran
berdasarkan tema tertentu peserta didik akan mampu
menguasai kompetensi dari masing-masing mata
pelajaran yang diintegrasikan.
Pembelajaran tematik juga dapat diartikan sebagai pola
pembelajaran mengintegrasikan pengetahuan,
keterampilan, kemahiran, nilai dan sikap pembelajaran
dengan menggunakan tema.
Fred Percival dan Henry Ellington dalam bukunya
Oemar Hamalik (2009) mengemukakan bahwa desain
kurikulum adalah pengembangan proses perencanaan,
validasi, implementasi, dan evaluasi kurikulum. Desain
kurikulum dapat didefinisikan sebagai rencana atau
susunan dari unsur-unsur kurikulum yang terdiri atas
tujuan, isi, pengalaman belajar, dan evaluasi.2
Dengan demikian Desain Pengembangan Kurikulum
Integratif adalah rencana atau susunan dari unsur-unsur
kurikulum yang terpadu.
1. Para pengembang kurikulum telah mengkonstruksi
kurikulum menurut dasar-dasar pengkategorian berikut:
a. Subject-centered design, yaitu desain yang berpusat
pada mata pelajaran.

2 Oemar Hamalik, Dasar-Dasar Pengembangan Kurikulum, (Bandung:


PT. Remaja Rosdakarya, 2009, cet. Ketiga), Hlm. 183 192.

6
b. Learner-centered design, yaitu desain yang berpusat
pada pembelajar.
c. Problem-centered design, yaitu desain yang
berpusat pada permasalahan.
2. Adapun jenis-jenis kurikulum, antara lain :
a. Separated Subject Curriculum
Kurikulum ini dipahami sebagai kurikulum mata
pelajaran yang terpisah satu sama lainnya. Ini
berarti kurikulumnya kurang mempunyai keterkaitan
dengan mata pelajaran lainnya.
b. Correlated Curriculum
Dalam kurikulum ini, sejumlah mata pelajaran
dihubungkan antara yang satu dengan yang lainnya.
Sehingga ruang lingkup bahan yang tercakup
semakin luas.
c. Broad Fields Curriculum
Adalah usaha meningkatkan kurikulum dengan
meng-kombinasikan beberapa mata pelajaran.
d. Integrated Curriculum
Menururt Nasution, (2012), integrasi berasal dari
kata integer yang berarti unit. Dengan integrasi
dimaksud perpaduan, koordinasi, harmonisasi,
kebulatan keseluruhan. Integrated curriculum
meniadakan batas-batas antara berbagai
matapelajaran dan menyajikan bahan pelajaran
dalam bentuk unit atau keseluruhan. Dengan
kebulatan bahan pelajaran diharapkan mampu
membentuk kepribadian murid yang integral, selaras
dengan kehidupan sekitarnya, apa yang diajarkan di
sekolah disesuaikan dengan kehidupan anak di luar

7
sekolah.3 Kurikulum jenis ini membuka kesempatan
yang lebih banyak untuk melakukan kerja kelompok
bersama masyarakat dan lingkungan sebagai
sumber belajar.
Menurut Dakir, (2004), integrated curriculum
adalah kurikulum yang pelaksanaannya disusun
secara menyeluruh untuk membahas suatu pokok
masalah tertentu. Pembahasan tersebut dapat
dengan cara menggunakan berbagai matapelajaran
yang relevan dalam suatu bidang studi atau antar
bidang studi. Topic pembahasan ditentukan secara
demokratis antara peserta didik dengan guru.4
3. Prinsip-prinsip penyusunan kurikulum
Ada prinsip-prinsip yang harus diperhatikan dalam
penyusunan kurikulum dengan mengacu kepada UU
Sisdiknas sesuai dengan jenjang pendidikan dalam
kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia. Hal-hal
prinsip tersebut adalah:
a. Peningkatan iman dan takwa,
b. Peningkatan akhlak mulia,
c. Peningkatan potensi, kecerdasan, dan minat peserta
didik,
d. Keragaman potensi daerah dan lingkungan,
e. Tuntutan pembangunan daerah dan nasional,
f. Tuntutan dunia kerja,
g. Perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan
seni,
h. Agama,
i. Dinamika perkembangan global, dan
j. Persatuan nasional dan nilai-nilai kebangsaan.

3 S. Nasution, Kurikulum dan Pengajaran, (Jakarta, Sinar Grafika Offest,


2012), Hlm. 195-196.

4 Dakir, Perencanaan Dan Pengembangan Kurikulum.., Hlm. 1.

8
k. Kondisi sosial budaya masyarakat
l. Kesetaraan gender
m. Karakteristik dan keunggulan satuan pendidikan
B. Karakterisitik Pengembangan Kurikulum Integratif
1. Kurikulum integratif memuat empat kompetensi inti
yang mencakup kompetensi inti : spiritual, sosial,
pengetahuan, dan keterampilan.
2. Berorientasi pada kebutuhan kompetensi masa depan
seperti berkomunikasi, berpikir kritis dan kreatif.
3. Peningkatan potensi, kecerdasan dan minat sesuai
dengan perkembangan dan kemampuan peserta didik.
4. Terdapat keragaman potensi dan karakteristik daerah.
5. Terintegrasi dengan tuntutan pembangunan daerah dan
pembangunan nasional serta tuntutan dunia kerja.
6. Memunculkan karakteristik/keunggulan satuan
pendidikan.
7. Membuka kesempatan yang lebih banyak untuk
melakukan kerja kelompok bersama masyarakat dan
lingkungan sebagai sumber belajar.
C. Landasan Pijakan Pengembangan Kurikulum Integratif.
Kurikulum integratif melandaskan diri pada landasan
filosofis, psikologis, yuridis, alasan empiris dan teoritis
ilmiah.
1. Landasan Filosofis.
a. Aliran progresivisme yang memandang proses
pembelajaran perlu ditekankan pada pembentukan
kreatifitas, pemberian sejumlah kegiatan, suasana
yang alamiah (natural), dan memperhatikan
pengalaman Peserta didik.
b. Aliran konstruktivisme yang melihat pengalaman
langsung Peserta didik (direct experiences) sebagai
kunci dalam pembelajaran. Menurut aliran ini,
pengetahuan adalah hasil konstruksi atau bentukan
manusia. Manusia mengkonstruksi pengetahuannya
melalui interaksi dengan obyek, fenomena,

9
pengalaman dan lingkungannya. Pengetahuan tidak
dapat ditransfer begitu saja dari seorang guru
kepada anak, tetapi harus diinterpretasikan sendiri
oleh masing-masing Peserta didik. Pengetahuan
bukan sesuatu yang sudah jadi, melainkan suatu
proses yang berkembang terus menerus. Keaktifan
Peserta didik yang diwujudkan oleh rasa ingin
tahunya sangat berperan dalam perkembangan
pengetahuannya.
c. Aliran humanisme yang melihat Peserta didik dari
segi kekhasannya, potensinya, dan motivasi yang
dimilikinya.
2. Landasan psikologis, dalam pembelajaran tematik
terutama berkaitan dengan psikologi perkembangan
peserta didik dan psikologi belajar.
3. Landasan yuridis, yaitu UU No. 23 Tahun 2002 tentang
Perlindungan Anak yang menyatakan bahwa setiap
anak berhak memperoleh pendidikan dan pengajaran
dalam rangka pengembangan pribadinya dan tingkat
kecerdasannya sesuai dengan minat dan bakatnya
(pasal 9) dan UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem
Pendidikan Nasional menyatakan bahwa setiap peserta
didik pada setiap satuan pendidikan berhak
mendapatkan pelayanan pendidikan sesuai dengan
bakat, minat, dan kemampuannya.
4. Alasan Empirik, karena pada hakekatnya pengalaman
hidup ini sifatnya kompleks dan terpadu, artinya
menyangkut berbagai aspek yang saling terkait.
Misalnya pergi belanja ke pasar, merupakan kegiatan
kompleksitas pengalaman hidup yang tidak hanya
bersifat sosial (berhubungan dengan orang lain),
ekonomi (memenuhi kebutuhan rumah tangga), tetapi

10
juga matematika (terkait dengan hitung menghitung)
dan biologi (berkaitan dengan sayur-sayuran dan lauk
pauk yang akan dibeli) dan yang lainnya.
5. Alasan Teoritis Ilmiah, karena keadaan dan
permasalahan dalam kehidupan terus berkembang
sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi.
D. Kelebihan dan Kekurangan Implementasi Kurikulum
Integratif.
1. Keunggulan.
a. Bagi guru:
1) Mendorong guru untuk lebih mengembangkan
kreatifitas.
2) Memberikan peluang bagi guru untuk
mengembangkan situasi pembelajaran yang utuh,
menyeluruh, dinamis dan bermakna sesuai
dengan keinginan dan kemampuan guru maupun
kebutuhan dan kesiapan Peserta didik.
3) Mempermudah guru dalam memotivasi peserta
didik untuk mengenal, menerima, menyerap, dan
memahami keterkaitan atau hubungan antara
konsep, pengetahuan, nilai atau tindakan yang
terdapat dalam beberapa pokok bahasan atau
bidang studi.
4) Menghemat waktu, tenaga dan sarana serta
biaya pembelajaran, disamping itu juga
menyederhanakan langkah-langkah
pembelajaran.
b. Bagi peserta didik:
1) Peserta didik mudah memusatkan perhatian pada
suatu tema tertentu.
2) Mampu mempelajari pengetahuan dan
mengembangkan berbagai kompetensi dasar
antar mata pelajaran.

11
3) Pemahaman terhadap materi pelajaran lebih
mendalam dan berkesan.
4) Budi pekerti dan moral Peserta didik dapat
ditumbuh-kembangkan dengan mengangkat
sejumlah nilai budi pekerti sesuai dengan situasi
dan kondisi.
5) Kompetensi dasar dapat dikembangkan lebih baik
dengan mengkaitkan mata pelajaran lain dengan
pengalaman pribadi Peserta didik.
6) Lebih merasakan manfaat dan makna belajar
karena materi disajikan dalam konteks tema yang
jelas.
7) Lebih bergairah belajar karena dapat
berkomunikasi dalam situasi nyata, untuk
mengembangkan suatu kemampuan dalam satu
mata pelajaran sekaligus mempelajari
matapelajaran lain.
8) Mengembangkan kompetensi berbahasa lebih
baik dengan mengkaitkan berbagai mata
pelajaran lain dengan pengalaman pribadi
Peserta didik.
2. Kelemahan.
a. Dalam penyusunannya, tipe ini memerlukan banyak
tim antar bidang studi yang saling sinkron dan
mufakat.
b. Menuntut peran guru yang memiliki pengetahuan
dan wawasan luas, kreatifitas tinggi, keterampilan,
kepercayaan diri dan etos akademik yang tinggi, dan
berani untuk mengemas dan mengembangkan
materi.
c. Dalam pengembangan kreatifitas akademik,
menuntut kemampuan belajar siswa yang baik
dalam aspek intelegensi.

12
d. Memerlukan sarana dan sumber informasi yang
cukup banyak dan berguna untuk mengembangkan
wawasan dan pengetahuan yang diperlukan.
e. Memerlukan sistem penilaian dan pengukuran
( obyek, indikator, dan prosedur ) yang terpadu.
f. Sama sekali tidak mengutamakan salah satu atau
lebih mata pelajaran dalam proses pembelajarannya.
g. Dalam penerapannya, sulit menerapkan tipe ini
secara penuh.
Konsep dan kurikulum pendidikan nasional sebaik
apapun menjadi tidak berarti jika tidak dibarengi dengan
implementasi dalam tataran konkrit. Implemantasi
diartikan sebagai Out something into effect atau
penerapan sesuatu yang memberikan efek. 5 Implementasi
kurikulum dapat diaktualisasikan dalam bentuk
pembelajaran dan pendidikan.
Sehebat dan seunggul apapun sebuah kurikulum
tidak boleh berhenti hanya pada tataran konsep dan
idealisme. Kurikulum harus dilaksanakan oleh semua pihak
dalam bentuk konkrit sehingga memberikan efek positif
bagi peserta didik.
E. Langkah-langkah Pengembangan Kurikulum Integratif
1. Mengidentifikasikan misi institusi dan kebutuhan para
pengguna pendidikan. Langkah pertama yang paling
penting adalah untuk memahami misi dari institusi
dimana kurikulum itu dibuat. Misalnya misi dari fakultas
pendidikan adalah untuk melatih para calon pendidik
agar dapat memberikan pelayanan pendidikan kepada
masyarakat. Sebagai konsekuensinya, pengembang
kurikulum harus mengetahui dan mengerti kebutuhan

5 Wahyudin, Manajemen Kurikulum, (Bandung: Remaja Rosda Karya,


2014), Hlm. 93.

13
dari para pengguna kurikulum tersebut (Peserta didik,
pengajar, administrator pendidikan, badan profesional,
pemerintah, dsb) yang dapat menentukan tipe profil
lulusan yang diinginkan oleh fakultas, antara lain: (1)
menguasai dasar-dasar metode pengajaran, (2)
mempunyai kompetensi pendidikan yang tinggi, (3)
memiliki kemampuan analisis yang kritis, (4) mampu
mengembangkan kemampuan diri, (5) memiliki
keahlian berkomunikasi yang baik, (5) memiliki rasa
empati dan etika yang baik.
2. Penilaian kebutuhan pembelajar. Langkah ini sering
terabaikan oleh pengembang kurikulum. Begitu ada
Peserta didik yang potensial, pengembang kurikulum
harus bisa mengetahui sampai dimana titik
kemampuan maupun kelemahan Peserta didik-Peserta
didiknya tersebut. Untuk itulah diperlukan data
karakteristik Peserta didik secara perorangan.
Karakteristik Peserta didik yang perlu diketahui
mencakup kompetensi awal pembelajar, kemampuan
untuk memenuhi standar yang telah ditentukan oleh
institusi, tujuan dan prioritas individu, latar belakang
personal dan alasan pembelajar memasuki institusi,
sikap mengenai disiplin, dan asumsi awal pembelajar
mengenai program studi.
3. Menetapkan tujuan kurikulum. Langkah ini sangat
penting karena menentukan filosofi instruksional dan
menentukan metode pembelajaran yang paling efektif.
Selain itu tujuan pembelajaran juga dapat digunakan
untuk menentukan desain dan pemilihan prosedur dan
instrument penilaian. Karena tujuan yang jelas dan
tersusun dengan baik sangat penting untuk

14
menentukan fokus dari kurikulum yang akan dibuat,
pembuat kurikulum harus dilatih dengan baik untuk
membuat tujuan instruksional.
4. Pemilihan strategi pendidikan. Pemilihan strategi
pendidikan harus didasarkan pada tiga prinsip utama.
Yang pertama, metode pendidikan harus sejalan
dengan tujuan pendidikan. Kedua, penggunaan
beragam metode pendidikan lebih baik, daripada hanya
satu metode saja, karena kurikulum harus menjawab
tantangan akan keragaman tipe belajar Peserta didik
dan tujuan pendidikan yang berbeda-beda. Yang
terakhir, pengembang kurikulum harus memastikan
bahwa kurikulum tersebut sesuai dengan materi
pelajaran dan kompetensi pengajar.
5. Implementasi kurikulum yang baru. Mendesain sebuah
kurikulum adalah hal yang amat menarik dan dan
penuh daya kreatif dalam pengembangan kurikulum.
Akan tetapi tujuan utamanya bukan untuk mendesain
kurikulum yang paling ideal dan paling baik, akan tetapi
bagaimana keberhasilan penerapannya dalam praktek
pendidikan. Kondisi dan syarat keberhasilan penerapan
kurikulum meliputi keikutsertaan administrator
pendidikan dalam proses implementasi kurikulum dan
alokasi sumber daya yang cukup. Sebelum menerapkan
sebuah kurikulum yang baru, pengembang kurikulum
harus mendapatkan dukungan yang kuat dari pimpinan
institusi yang berwenang. Setelah tahap pertama dari
implementasi kurikulum yang baru tersebut dilakukan,
harus dilakukan penilaian formal untuk mengontrol
proses implementasi kurikulum dan untuk menetapkan

15
hubungan antara tujuan institusional, pembelajaran,
dan kurikulum.
6. Evaluasi dan umpan balik untuk memperbaiki
kurikulum. Meskipun evaluasi merupakan langkah akhir
dari pelaksanaan kurikulum, akan tetapi bukan berarti
ini merupakan tindakan akhir. Data hasil evaluasi yang
telah dikumpulkan harus digunakan sebagai kriteria
untuk menyesuaikan kurikulum tersebut dengan tujuan
program studi atau misi dari institusi. Kurikulum harus
dievaluasi, dan diperbaiki, dan dilakukan inovasi-inovasi
yang bervariatif karena kurikulum bukanlah suatu
sistem yang statis. Umpan balik dari pengajar dan
peserta didik perlu dipertimbangkan secara terus
menerus untuk meningkatkan hasil belajar Peserta
didik.
Pada kesimpulannya, kurikulum merupakan suatu
rencana akademik yang merupakan rancangan
pelaksanaan dimana: (a) tujuan dan hasil dari
kurikulum dijabarkan secara jelas, (b) proses untuk
mencapai tujuan tersebut teridentifikasi dengan baik,
(c) kurikulum merupakan alat untuk menilai
keberhasilan pendidikan, (d) ulasan sistematik dan
perbaikan termasuk di dalamnya.

IV.PENUTUP
A. KESIMPULAN
1. Kurikulum integratif merupakan amanat Undang-
undang
2. Terdapat dua wilayah dalam penggunaan istilah
kurikulum integratif
a. Dalam tataran konsep, kurikulum integratif
merupakan acuan pelaksanaan pendidikan yang
mengintegrasikan aspek kognitif, afektif dan

16
psikomotorik yang rumusannya termaktub dalam
Undang-Undang Nmor 20 Tahun 2003 Tentang
Sistem Pendidkan Nasional
b. Dalam tataran implementatif, yaitu sebuah
pendekatan pembelajaran terpadu yang
mengintegrasikan beberapa tema, kompetensi,
proses pembelajaran dan mata pelajaran yang saling
terkait.
3. Pengembangan sebuah kurikulum hendaknya jangan
hanya berhenti pada wilayah konsep dan idealisme,
tetapi harus dilanjutkan dalam tataran implementasi
agar memberikan efek positif bagi peserta didik dan
dilanjutkan dengan evaluasi kurikulum serta umpan
balik untuk merevisi dan terus memperbaiki ataupun
meminimalisir kekurangan-kekurangan sebuah
kurikulum.
B. SARAN-SARAN
Pembahasan makalah ini masih sangat jauh dari
sempurna dan masih bersifat umum, dalam arti belum
dapat memberikan penjelasan gamblang tentang materi
yang dibahas, namun semoga hal ini justru akan menjadi
pemicu kita untuk dapat lebih semangat dan giat menggali
pengetahuan kita. Semoga tulisan ini akan dapat
menambah sedikit pengetahuan kita dan khususnya bagi
kami sebagai penulis makalah ini. Besar harapan kami
agar para pembaca yang budiman, kita selaku insan
pendidikan marilah terus kita mengkaji dan
mengembangkan pengetahuan kompetensi kita, agar kita
bisa mengemban amanat sebagai seorang pendidik dan
pengajar yang kompeten dan berhasil. Demikianlah
penulisan makalah ini. Penulis sangat menyadari begitu
banyak kekurangan yang terdapat pada makalah ini, untuk

17
itu kritik dan saran yang membangun dari para pembaca
sekalian sangat penulis harapkan untuk dapat menambah
dan merevisi pengetahuan penulis yang masih sangat
terbatas ini.

DAFTAR PUSTAKA

Dakir. 2004. Perencanaan Dan Pengembangan Kurikulum,


Jakarta: Rineka Cipta.
Hamalik, Oemar. 2009. Dasar-Dasar Pengembangan Kurikulum.
Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Mardijah,
https://www.academia.edu/8140909/Makalah_Desain_dan_P
engemba ngan_Kurikulum. Dikutip pada Hari Minggu, 2
Oktober 2016 Pukul 13.20 WIB.
Nasution, S.. 2012. Kurikulum dan Pengajaran. Jakarta: Sinar
Grafika Offest.
Reksoatmojo, Tedjo Narsoyo. 2010. Pengembangan Kurikulum
Pendidikan : Teknologi dan Kejuruan. Bandung: PT. Refika
Aditama.
Sodikin. https://www.scribd.com/doc/297035970/Urgensi-
Pengembangan-Kuriku lum-Integratif. Dikutip pada Hari
Minggu, 2 Oktober 2016 Pukul 13.15 WIB.
Sukmadinata, Nana Syaodih. 2013. Pengembangan Kurikulum :
Teori dan Praktek. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Wahyudin. 2014. Manajemen Kurikulum. Bandung: Remaja Rosda
Karya.
Zainiyati, Husniyatus Salamah.
http://download.portalgaruda.org/article.php?
article=299049&val=5943&title=Desain

18
%20Pengembangan%20Kurikulum%20Integratif. Dikutip
pada Hari Minggu, 2 Oktober 2016 Pukul 13.30 WIB.

19