Anda di halaman 1dari 2

Fisiologi jantung

Jantung merupakan suatu organ muskuler berongga yang terdiri dari 4


ruang. Ruang tersebut adalah atrium cordis dextrum et sinistrum dan ventriculus
cordis dextrum et sinistrum. Diantara atrium dan ventrikel terdapat suatu katup
yhang bernama katup atrioventricularis. Sedangkan ventrikel yang bertugas untuk
memompa darah juga harus melewati sebuah katup, ventrikel kiri memompa
darah ke aorta dengan melewati katup aorta, sedangkan ventrikel kanan memompa
darah ke pulmo melalui katup pulmonalis.

Untuk melaksanakan fungsi nya sebagai organ pemompa darah, jantung


tersusun oleh 2 jenis sel, yaitu sel kontraktil dan sel otoritmik. Sel kontraktil
membentuk 99% otot jantung dan 1 % sisanya disusun oleh sel otoritmik. Sel
otoritmik merupakan sel otot jantung yang tidak memiliki membran potensial
istirahat sehingga sel ini terus tereksitasi, oleh sebab itu sel otoritmik ini yang
memberikan potensial aksi utama bagi jantung. Sel otoritmik kemudian
meneruskan ke sel kontraktil sehingga jantung bisa berkontraksi untuk
menjalankan fungsi utamanya sebagai organ pemompa darah.

Sel otoritmik tidak diberi rangsang apapun oleh sel saraf sehingga ia
bekerja secara otomatis dan terus memberi potensial aksi terhadap otot jantung.
Pembentukan potensial aksi memiliki 3 fase, yaitu fase awal, fase naik dan fase
turun. Fase awal diawali dengan penurunan efflux K+ dan disertai kebocoran Na+
ke dalam sel. Karena terjadi kebocoran Na+ ke dalam sel maka keadaan diluar sel
menjadi (-) sehingga terjadi lah depolarisasi dan bergeser menuju ambang. Pada
fase naik, suatu saluran Ca2+ transien terbuka dan membawa Ca2+ masuk ke
dalam sel yang terus mendepolarisasi sel dan membawanya ke ambang. Setelah
mencapai ambang saluran Ca2+ bertipe L membawa Ca2+ masuk dengan cepat
dan membentuk suato potensial aksi. Fase turun disebabkan oleh efflux K+ yang
menyebabkan membran kembali menjadi (+).

Sel kontraktil berbeda dengan sel otoritmik, sel kontraktil selalu berada
dalam potensial membran istirahat sehingga dia tidak akan bekerja tanpa adanya
suatu rangsangan. Setelah sel kontaktil mendapat rangsangan potensial sel
kontraktil memulai aktivitas nya untuk berkontraksi. Untuk berkontraksi sel
kontraktil memiliki 3 fase yaitu fase naik, fase datar dan fase turun. Fase awal
dimulai oleh karena potensial aksi yang didapat dari sel otoritmik memicu saluran
Na+ berpintu voltase terbuka, dengan cepat membran langsung berada pada
potensial +30mV dan langsung mengalami depolarisasi. Fase datar adalah fase
pada jantung dimana keadaan depolarisasi tetap dipertahankan, hal ini disebabkan
oleh adanya saluran Ca2+ tipe L yang terbuka dan menyebabkan Ca2+ masuk ke
sel dengan lambat dan diikuti dengan menutupnya saluran K+. Fase ini sangat
penting karena pada fase ini sel kontraktil tidak dapat diberi rangsangan potensial
oleh siapapun karena jantung memerlukan waktu untuk pengisian darah dari
atrium menuju ventrikel. Periode ini terjadi inaktivasi saluran Na+ sehingga tidak
memungkinkan ion Na+ masuk kedalam sel. Periode atau fase datar ini disebut
periode refrakter, secara normal besarnya 250mdet. Fase turun diawali dengan
membukanya saluran K+ yang menyebabkan efflux K+ dan mengembalikan
membran ke potensial istirahatnya dan siap untuk mendapatkan rangsangan
selanjutnya.

SUMBER

Sherwood, Lauralee, 2011, Fisiologi Manusia Dari Sel ke Sistem Ed.6,


Jakarta:EGC