Anda di halaman 1dari 16

REFLEKSI KASUS

LETAK SUNGSANG

Disusun Untuk Memenuhi sebagian Syarat dalam Mengikuti Program


Pendidikan Profesi Bagian Obstetri dan Ginekologi

Diajukan Kepada :

dr. Adi Pramono, Sp. OG

Disusun Oleh :

Herti Sakinah

20090310004

BAGIAN OBSTETRI DAN GINEKOLOGI


RUMAH SAKIT BUDI RAHAYU MAGELANG
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA
2014
HALAMAN PENGESAHAN

Telah dipresentasikan refleksi kasus dengan judul

Letak Sungsang

Tanggal: 2014

Disusun Oleh :

Herti Sakinah

20090310004

Menyetujui

Dokter Pembimbing/Penguji

dr. Adi Pramono, Sp. OG


REFLEKSI KASUS

A. PENGALAMAN
Wanita hamil datang rujukan bidang dengan G1P0A0 usia 19 tahun
hamil 41 minggu 3 hari, janin tunggal, hidup, intaruterin, letak sungasang
punggung, punggung kiri. Ketuban pecah jam 18.00 tanggal 27 Maret
2014. kenceng-kenceng terasa sering, air ketuban mengalir, ada lendir
darah, gerakan janin masih ada. Hari pertama haid terakhir 10 Juni 2013.
Hari perkiraan lahir 17 Maret 2014. Pasien masuk RSB Budirahayu
tanggal 27 Maret 2014.

B.MASALAH YANG DIKAJI


1. Apakah yang dimaksud dengan letak sungsang?
2. Bagaimanakah penanganannya?

C. ANALISIS
Letak Sungsang
a. Pengertian
Letak sungsang merupakan keadaan dimana janin terletak
memanjang dengan kepala di fundus uteri dan bokong berada di
bagian bawah kavum uteri (Prawirohardjo, 2008, p.606).

b. Klasifikasi letak sungsang


1) Presentasi bokong murni (frank breech)
Yaitu letak sungsang dimana kedua kaki terangkat ke atas
sehingga ujung kaki setinggi bahu atau kepala janin.
2) Presentasi bokong kaki sempurna (complete breech)
Yaitu letak sungsang dimana kedua kaki dan tangan menyilang
sempurna dan di samping bokong dapat diraba kedua kaki.
3) Presentasi bokong kaki tidak sempurna (incomplete breech)
Yaitu letak sungsang dimana hanya satu kaki di samping bokong,
sedangkan kaki yang lain terangkat ke atas. (Kasdu, 2005, p.28)

c. Diagnosis
Diagnosis letak sungsang yaitu pada pemeriksaan luar kepala
tidak teraba di bagian bawah uterus melainkan teraba di fundus uteri.
Kadang-kadang bokong janin teraba bulat dan dapat memberi kesan
seolah-olah kepala, tetapi bokong tidak dapat digerakkan semudah
kepala. Seringkali wanita tersebut menyatakan bahwa kehamilannya
terasa lain daripada yang terdahulu, karena terasa penuh di bagian
atas dan gerakan terasa lebih banyak di bagian bawah. Denyut
jantung janin pada umumnya ditemukan setinggi atau sedikit lebih
tinggi daripada umbilicus. Apabila diagnosis letak sungsang dengan
pemeriksaan luar tidak dapat dibuat, karena misalnya dinding perut
tebal, uterus mudah berkontraksi atau banyaknya air ketuban, maka
diagnosis ditegakkan berdasarkan pemeriksaan dalam. Apabila masih
ada keragu-raguan, harus dipertimbangkan untuk melakukan
pemeriksaan ultrasonografik. Setelah ketuban pecah, dapat diraba
lebih jelas adanya bokong yang ditandai dengan adanya sacrum,
kedua tuber ossis iskii, dan anus. Bila dapat diraba kaki, maka harus
dibedakan dengan tangan. Pada kaki terdapat tumit, sedangkan pada
tangan ditemukan ibu jari yang letaknya tidak sejajar dengan jari-jari
lain dan panjang jari kurang lebih sama dengan panjang telapak
tangan. Pada persalinan lama, bokong janin mengalami edema,
sehingga kadang-kadang sulit untuk membedakan bokong dengan
muka. Pemeriksaan yang teliti dapat membedakan antara bokong
dengan muka karena jari yang akan dimasukkan ke dalam anus
mengalami rintangan otot, sedangkan jari yang dimasukkan ke dalam
mulut akan meraba tulang rahang dan alveola tanpa ada hambatan.
Pada presentasi bokong kaki sempurna, kedua kaki dapat diraba di
samping bokong, sedangkan pada presentasi bokong kaki tidak
sempurna, hanya teraba satu kaki di samping bokong (Prawirohardjo,
2008, pp.609-611).

d. Etiologi
Letak janin dalam uterus bergantung pada proses adaptasi janin
terhadap ruangan didalam uterus. Pada kehamilan sampai kurang
lebih 32 minggu, jumlah air ketuban relative lebih banyak, sehingga
memungkinkan janin bergerak dengan leluasa. Dengan demikian janin
dapat menempatkan diri dalam presentasi kepala, letak sungsang,
ataupun letak lintang. Pada kehamilan triwulan terakhir janin tumbuh
dengan cepat dan jumlah air ketuban relative berkurang. Karena
bokong dengan kedua tungkai yang terlipat lebih besar daripada
kepala, maka bokong dipaksa menempati ruang yang lebih luas di
fundus uteri, sedangkan kepala berada dalam ruangan yang lebih kecil
di segmen bawah uterus. Dengan demikian dapat dimengerti mengapa
pada kehamilan belum cukup bulan, frekuensi letak sungsang lebih
tinggi, sedangkan pada kehamilan cukup bulan, janin sebagian besar
ditemukan dalam presentasi kepala. Faktor-faktor lain yang
memegang peranan dalam terjadinya letak sungsang diantaranya
adalah multiparitas, hamil kembar, hidramnion, hidrosefalus, plasenta
previa, dan panggul sempit. Kadang-kadang letak sungsang
disebabkan karena kelainan uterus dan kelainan bentuk uterus.
Plasenta yang terletak di daerah kornu fundus uteri dapat pula
menyebabkan letak sungsang karena plasenta mengurangi luas
ruangan di daerah fundus (Prawirohardjo, 2008, p.611).

e. Cara persalinan letak sungsang :


1) Pervaginam
Persalinan letak sungsang dengan pervaginam mempunyai
syarat yang harus dipenuhi yaitu pembukaan benar-benar lengkap,
kulit ketuban sudah pecah, his adekuat dan tafsiran berat badan
janin < 3600 gram. Terdapat situasi-situasi tertentu yang membuat
persalinan pervaginam tidak dapat dihindarkan yaitu ibu memilih
persalinan pervaginam,direncanakan bedah sesar tetapi terjadi
proses persalinan yang sedemikian cepat, persalinan terjadi di
fasilitas yang tidak memungkinkan dilakukan bedah sesar,
presentasi bokong yang tidak terdiagnosis hingga kala II dan
kelahiran janin kedua pada kehamilan kembar. Persalinan
pervaginam tidak dilakukan apabila didapatkan kontra indikasi
persalinan pervaginam bagi ibu dan janin, presentasi kaki,
hiperekstensi kepala janin dan berat bayi > 3600 gram, tidak
adanya informed consent, dan tidak adanya petugas yang
berpengalaman dalam melakukan pertolongan persalinan
(Prawirohardjo, 2008, p.593).

a) Persalinan spontan (spontaneous breech)


Yaitu janin dilahirkan dengan kekuatan dan tenaga ibu
sendiri (cara bracht). Pada persalinan spontan bracht ada 3
tahapan yaitu tahapan pertama yaitu fase lambat, fase cepat, dan
fase lambat.
Berikut ini prosedur melahirkan secara bracht :
(1) Ibu dalam posisi litotomi, sedang penolong berdiri di depan
vulva.
(2) Saat bokong membuka vulva, dilakukan episiotomi. Segera
setelah bokong lahir, bokong dicengkram secara bracht
yaitu kedua ibu jari penolong sejajar sumbu panjang paha
sedangkan jari-jari lain memegang panggul.
(3) Pada waktu tali pusat lahir dan tampak teregang, segera
kendorkan tali pusat tersebut.
(4) Penolong melakukan hiperlordosis pada badan janin dengan
cara punggung janin didekatkan ke perut ibu. Penolong
hanya mengikuti gerakan ini tanpa melakukan tarikan.
(5) Dengan gerakan hiperlordosis ini berturut-turut lahir pusar,
perut, bahu dan lengan, dagu, mulut dan akhirnya seluruh
kepala.
b) Manual aid
Yaitu janin dilahirkan sebagian dengan tenaga dan
kekuatan ibu dan sebagian lagi dengan tenaga penolong. Padda
persalinan dengan cara manual aid ada tiga tahapan yaitu :
tahap pertama lahirnya bokong ssmpai pusar yangdilahirkan
dengan kekuatan ibu sendiri, tahap kedua lahirnya bahu dan
lengan yang memakai tenaga penolong dengan cara klasik,
Mueller, lovset. Dan tahap ketiga lahirnya kepala dengan
memakai cara mauriceau dan forceps piper.
Berikut ini cara melahirkan bahu dan lengan pada letak
sungsang dengan cara klasik:
1. Kedua kaki janin dipegang dengan tangan kanan penolong pada
pergelangan kakinya dan dielevasi ke atas sejauh mungkin
sehingga perut janin mendekati perut ibu.
2. Bersamaan dengan itu tangan kiri penolong dimasukkan ke
dalam jalan lahir dengan jari telunjuk menelusuri bahu janin
sampai pada fossa cubiti kemudianlengan bawah dilahirkan
dengan gerakan seolah-olah lengan bawah mengusap muka
janin.
3. Untuk melahirkan lengan depan, pegangan pada pergelangan
kaki janin diganti dengan tangan kanan penolong dan ditarik
curam ke bawah sehingga punggung janin mendekatti
punggung ibu. Dengan cara yang sama dapat dilahirkan.
Berikut ini melahirkan bahu dan lengan pada letak sungsang
dengan cara Mueller:
1. Badan janin dipegang secara femuro-pelvis dan sambil
dilakukan traksi curam ke bawah sejauh mungkin sampai bahu
depan di bawah simfisis dan lengan depan dilahirkan dengan
mengait lengan dibawahnya.
2. Setelah bahu dan lengan depan lahir, maka badan janiin
yang masih dipegang secra femuro-pelvis ditarik ke atas
sampai bahu belakang lahir.
Berikut ini melahirkan bahu dan lengan dengan cara lovset :
1. Badan janin dipegang secara femuropelvis dan sambil
dilakukan traksi curam ke bawah badan janin diputar setengah
lingkaran, sehingga bahu belakang menjadi bahu depan.
2. Sambil melakukan traksi, badan janin diputar kembali kea rah
yang berlawanan setengah lingkaran demikian seterusnya
bolak balik sehingga bahu belakang tampak dibawah simfisis
dan lengan dapat dilahirkan.
Berikut ini melahirkan kepala dengan cara mauriceau :
(1) Tangan penolong yang sesuai dengan muka janin dimasukkan
ke dalam jalan lahir.
(2) Jari tengah dimasukkan ke dalam mulut dan jari telunjuk serta
jari ke empat mencengkeram fossa canina sedangkan jari yang
lain mencengkeram leher.
(3) Badan anak diletakkan di atas lengan bawah penolong seolah-
olah janin menunggang kuda. Jari telunjuk dan jari ke tiga
penolong mencengkeram leher janin dari arah punggung.
(4) Kedua tangan penolong menarik kepala janin curam ke bawah
sambil seorang asisten melakukan fundal pressure.
(5) Saat suboksiput tampak di bawah simfisis, kepala janin
dielevasi ke atas dengan suboksiput sebagai hipomoklion
sehingga berturut-turut lahir dagu, mulut, hidung, mata, dahi,
ubun-ubun besar dan akhirnya seluruh kepala.

c) Ekstraksi sungsang
Yaitu janin dilahirkan seluruhnya dengan memakai tenaga
penolong. Ekstraksi sungsang dilakukan jika ada indikasi dan
memenuhi syarat untuk mengakhiri persalinan serta tidak ada
kontra indikasi. Indikasi ekstraksi sungsang yaitu gawat janin,
tali pusat menumbung, persalinan macet.
Cara ekstraksi kaki :
(1) Bila kaki masih terdapat di dalam vagina, tangan operator
yang berada pada posisi yang sama dengan os sacrum
dimasukkan dalam vagina untuk menelusuri bokong, paha
sampai lutut guna mengadakan abduksi paha janin
sehingga kaki janin keluar. Selama melakukan tindakan
ini, fundus uteri ditahan oleh tangan operator yang lain.
(2) Bila satu atau dua kaki sudah berada di luar vulva, maka
dipegang dengan dua tangan operator pada betis dengan
kedua ibu jari berada punggung betis. Lakukan traksi ke
bawah. Setelah lutut dan sebagian paha keluar, pegangan
dialihkan pada paha dengan kedua ibu jari pada punggung
paha.
(3) Dilakukan traksi ke bawah lagi (operator jongkok) dengan
tujuan menyesuaikan arah traksi dengan sumbu panggul
ibu.
Cara ekstraksi bokong :
(1) Lakukan periksa dalam vagina untuk memastikan titik
penunjuk (os sacrum).
(2) Jari telunjuk tangan operator yang berhadapan dengan os
sacrum dikaitkan pada lipat paha depan janin. Kemudian
dilakukan ekstraksi curam ke bawah
(3) Bila trokanter depan sudah berada di bawah simfisis, jari
telunjuk tangan operator yang lain dipasang pada lipat
paha belakang untuk membantu traksi sehingga bokong
berada di luar vulva.
(4) Arah ekstraksi berubah ke atas untuk mengeluarkan
trokanter belakang.
(5) Ekstraksi kemudian mengikuti putaran paksi dalam.
(6) Bila pusat sudah berada di luar vulva, dikendorkan.
(7) Ekstraksi diteruskan dengan cara menempatkan kedua
tangan pada bokong janin dengan kedua ibu jari berada di
atas sacrum dan jari-jari kedua tangan berada di atas lipat
paha janin.
(8) Ekstraksi dilakukan dengan punggung janin di depan,
kemudian mengikuti putaran paksi dalam bahu, salah satu
bahu akan ke depan.
(9) Setelah ujung tulang belikat terlihat dilakukan periksa
dalam vagina untuk menentukan letak lengan janin,
apakah tetap berada di depan dada, menjungkit atau di
belakang tengkuk. Pada ekstraksi bokong sampai tulang
belikat sering diperlukan bantuan dorongan kristeller.
2) Perabdominam
Memperhatikan komplikasi persalinan letak sungsang
melalui pervaginam, maka sebagian besar pertolongan persalinan
letak sungsang dilakukan dengan seksio sesarea. Pada saat ini
seksio sesarea menduduki tempat yang sangat penting dalam
menghadapi persalinan letak sungsang. Seksio sesarea
direkomendasikan pada presentasi kaki ganda dan panggul sempit
(Prawirohardjo, 2008, p.622).
Seksio sesarea bisa dipertimbangkan pada keadaan ibu
yang primi tua, riwayat persalinan yang jelek, riwayat kematian
perinatal, curiga panggul sempit, ada indikasi janin untuk
mengakhiri persalinan (hipertensi, KPD >12 jam, fetal distress),
kontraksi uterus tidak adekuat, ingin steril, dan bekas SC.
Sedangkan seksio sesarea bias dipertimbangkan pada bayi yang
prematuritas >26 minggu dalam fase aktif atau perlu dilahirkan,
IUGR berat, nilai social janin tinggi, hiperekstensi kepala,
presentasi kaki, dan janin >3500 gram (janin besar) (Cunningham,
2005, p.568).

f. Komplikasi persalinan letak sungsang


1) Komplikasi pada ibu
a) Perdarahan
b) Robekan jalan lahir
c) Infeksi
2) Komplikasi pada bayi
a) Asfiksia bayi, dapat disebabkan oleh :
(1) Kemacetan persalinan kepala (aspirasi air ketuban-lendir)
(2) Perdarahan atau edema jaringan otak
(3) Kerusakan medula oblongata
(4) Kerusakan persendian tulang leher
(5) kematian bayi karena asfiksia berat.
b) Trauma persalinan
(1) Dislokasi-fraktur persendian, tulang ekstremitas
(2) Kerusakan alat vital : limpa, hati, paru-paru atau jantung
(3) Dislokasi fraktur persendian tulang leher : fraktur tulang dasar
kepala ; fraktur tulang kepala ; kerusakan pada mata, hidung
atau telinga ; kerusakan pada jaringan otak.
c) Infeksi, dapat terjadi karena :
(1) Persalinan berlangsung lama
(2) Ketuban pecah pada pembukaan kecil
(3) Manipulasi dengan pemeriksaan dalam

D. DOKUMENTASI

1. IDENTITAS PASIEN
Nama : Ny.Lia
Umur : 19 tahun
Pendidikan : SMA
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
Nama Suami : Tn. Nanang
Umur : 20 tahun
Pendidikan : SMP
Pekerjaan : Petani
Status perkawinan : Kawin
Agama : Islam
Alamat : Sidoperno 2/2, Wuwuharjo, Kajoran.
Tanggal masuk : 27 Maret 2014 pukul 20.00 WIB

2. ANAMNESA

a. Keluhan utama :
Letak janin sungsang

b. Riwayat Penyakit Sekarang :


Wanita hamil datang rujukan bidang dengan G1P0A0 usia
19 tahun hamil 41 minggu 3 hari, janin tunggal, hidup,
intaruterin, letak sungasang punggung, punggung kiri. Ketuban
pecah jam 18.00 tanggal 27 Maret 2014. kenceng-kenceng
terasa sering, air ketuban mengalir, ada lendir darah, gerakan
janin masih ada. Hari pertama haid terakhir 10 Juni 2013. Hari
perkiraan lahir 17 Maret 2014. Pasien masuk RSB Budirahayu
tanggal 27 Maret 2014.

c. Riwayat Penyakit Dahulu

Riwayat hipertensi : disangkal


Riwayat DM : disangkal
Riwayat asma : disangkal
Riwayat jantung : disangkal

d. Riwayat Penyakit Keluarga


Tidak ada anggota keluarga yang menderita penyakit asma,
gemelli, kejiwaan, hipertensi dan diabetes mellitus.

e. Riwayat Haid
Menarche : 12 tahun
Siklus : Teratur, 30 hari
Jumlah : 2-3 Pembalut / hari
Lamanya : 7 hari
Disertai rasa sakit : Tidak
HPHT : 10-06-2013
f. Riwayat Perkawinan
Menikah 1 kali, dengan suami sekarang sudah 1 tahun.

g. Riwayat Obstetri

No Keadaan kehamilan, Umur Keadaan Tempat


persalinan, Keguguran, sekarang anak perawatan
dan nifas

1. Hamil ini

Riwayat operasi : Tidak ada


Riwayat Kehamilan Sekarang: ANC dibidan sebanyak 5 kali
HPL : 17-03-2014
Riwayat Keluarga Berencana : Tidak ada

3. PEMERIKSAAN FISIK
A. Pemeriksaan Umum
Keadaan Umum : Baik
Kesadaran : Compos Mentis
Vital Sign : T : 120/70 R : 20 x/menit
N : 84 x/menit S : 36,5C
Mata : Konjungtiva tidak anemis
Sklera tidak ikterik
Thoraks : Cor /Pulmo dalam batas normal
Abdomen : supel, bising usus (+), nyeri tekan (-).
Ekstremitas : Edema (-/-)

4. PEMERIKSAAN GINEKOLOGIK
1. Pemeriksaan Luar
Inspeksi: Tampak perut membuncit, dengan striae gravidarum (+).
Palpasi : Leopold I: teraba 1 bagian besar, bulat, keras.
Leopold II: Kiri: teraba bagian datar, keras, agak
melengkung.
Kanan: teraba bagian-bagian kecil
Leopold III: teraba 1 bagian besar, bulat, lunak.
Leopold IV: Divergen
Letak janin: presentasi bokong
TFU 31 cm
DJJ; 130 x/menit
HIS: +, sering
2. Pemeriksaan Dalam :
Vaginal Toucher : pembukaan 5 cm, kulit ketuban (-), effacement
50%, bagian bawah bokong trun di hodge 1, Lendir darah (+), air
ketuban mengalir.

5. DIAGNOSIS
G1P0A0, Usia Ibu 19 Tahun, Hamil 41 minggu 3 hari
Janin I hidup intrauterine
Letak sungsang, punggung kiri
Inpartu kala 1
Ketuban pecah 2 jam (jam 18.00)
6. SIKAP
Pemeriksaan lab darah rutin
Lapor dr. Iskandar
- CITO SC dr.Sapar Sp.OG acc
- Informed concent
- Konsul anestesi
- Pasang DC
- Skeren
- Usaha Darah 1 kolf WB
- Injeksi ampicillin 1 gram, skin tes (-)
- Puasakan
DAFTAR PUSTAKA

1. Prawirohardjo, Sarwono. 2008. Ilmu Kebidanan. PT Bina Pustaka Sarwono


Prawirohardjo: Jakarta.

2. Cunningham, F. Gary et all. 2005. Obstetri Williams Edisi 21 Vol.1. EGC;


Jakarta.

3. LLwellin-Jones, Derek. 2001. Dasar-dasar Obstetric dan Ginekologi Edisi


6. Hipokrates; Jakarta.