Anda di halaman 1dari 28

TUGAS REFERAT

ANESTESI UMUM

Oleh :
Kenny Adhitya (G99152057)

Pembimbing :
Ardana Tri Ariamto., dr., Sp.An., M.Si.Med

KEPANITERAAN KLINIK ILMU ANESTESIOLOGI


FAKULTAS KEDOKTERAN UNS/RSUD DR MOEWARDI
SURAKARTA
2016

BAB I
PENDAHULUAN

Anestesi umum adalah suatu tindakan yang membuat pasien tidak sadar

selama prosedur medis, sehingga pasien tidak merasakan atau mengingat apa pun

yang terjadi. Anestesi umum biasanya dihasilkan oleh kombinasi obat intravena

dan gas yang dihirup (anestesi). "Tidur" pasien yang mengalami anestesi umum

berbeda dari tidur seperti biasa. Otak yang dibius tidak merespon sinyal rasa sakit

atau manipulasi bedah.

Praktek anestesi umum juga termasuk mengendalikan pernapasan pasien

dan memantau fungsi vital tubuh pasien selama prosedur anestesi berlangsung.

Anestesi umum diberikan oleh dokter yang terlatih khusus, yang disebut ahli

anestesi, ataupun bisa juga dilakukan oleh perawat anestesi yang berkompeten.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Kesadaran

Anestesi umum adalah suatu kondisi reversibel yang ditimbulkan pada

pemberian obat sehingga seseorang tidak sadar, amnesia, analgesia dan

akinesia dengan kondisi sistem otonomik, kardiovaskular, respirasi dan

termoregulasi yang stabil. Anestesi memungkinkan pasien untuk mentoleransi

prosedur bedah yang akan menimbulkan sakit yang tak tertahankan,

mempotensiasi eksaserbasi fisiologis yang ekstrim, dan menghasilkan

kenangan yang tidak menyenangkan.

Salah satu komponen penting pada kondisi anestesi umum adalah

ketidaksadaran. Menurut Hudetz (2006) kesadaran merupakan suatu kondisi

dimana seseorang menyadari dirinya dan lingkungan sekitarnya. Sedangkan

penelitian oleh bagian neurologi menyebutkan bahwa kesadaran itu terbagi

menjadi 2 yaitu bangun(wakefulness) dan terjaga (awareness). Seseorang dapat

menggunakan sistem sensorimotornya tanpa tersinkronisasi dengan kontrol

kesadaran oleh lobus pre-frontalis, hal ini yang menjadi dasar perbedaan antara

bangun dan terjaga.

B. Kinerja Saraf
Sistem pada otak dan segala aktivitas fungsionalnya yang berkaitan

dengan kondisi sadar disebut dengan Neural Correlate of Consciousness

(NCC). Menurut Hameroff (2006), secara teori kesadaran dapat muncul pada

jaringan corticocortical dan thalamocortical dan dapat muncul juga pada batang

otak dan sistem limbik. PET Scans dan MRI menunjukkan adanya

pengurangan metabolik dan aktivitas aliran darah pada batang otak, thalamus,

dan beberapa regio di korteks yang disebabkan oleh induksi anestesi.

Sedangkan analisis EEG pada induksi anestesi menunjukkan adanya transisi

tiba-tiba kurang dari 20ms yang menginterupsi sinkronisasi antara regio

frontalis dan posterior cortical.

Obat anestesi menginduksi ketidaksadaran dengan cara mengganggu

proses cognitive binding. Kesadaran merupakan suatu keadaan yang dihasilkan

oleh kinerja dari sistem kognitif otak. Sistem tersebut didasari oleh 3

mekanisme penting, yaitu konvergensi, penyusunan (assemble) dan

sinkronisasi. Konvergensi merupakan suatu proses integrasi lower-order-

neuron dengan higher order area pada otak. Sedangkan penyusunan (assemble)

dan sinkronisasi merupakan integrasi antar area otak untuk menimbulkan

persepsi yang beraneka ragam pada otak. Terganggunya salah satu mekanisme

di atas dapat menyebabkan seseorang menjadi tidak sadar.

C. Pilhan cara anestesi


1. Umur

a. Bayi dan anak paling baik dengan anestesi umum


b. Pada orang dewasa untuk tindakan singkat dan hanya dipermudahkan

dilakukan dengan anestesi local atau umum

2. Status fisik
a. Riwayat penyakit dan anestesia terdahulu. Untuk mengetahui apakah

pernah dioperasi dan anestesi. Dengan itu dapat mengetahui apakah

ada komplikasi anestesia dan pasca bedah.


b. Gangguan fungsi kardiorespirasi berat sedapat mungkin dihindari

penggunaan anestesia umum.


c. Pasien gelisah, tidak kooperatif, disorientasi dengan gangguan jiwa

sebaikmya dilakukan dengan anestesia umum.


d. Pasien obesitas, bila disertai leher pendek dan besar, sering timbul

gangguan sumbatan jalan napas atas sesudah dilakukan induksi

anestesia. Pilihan anestesia adalah regional, spinal, atau anestesi

umum endotrakeal.
e. Posisi seperti miring, tungkurap, duduk, atau litotomi memerlukan

anestesi umum endotrakea untuk menjamin ventilasi selama

pembedahan.demikian juga pembedahan yang berlangsung lama.

3. Keterampilan dan kebutuhan dokter pembedah


a. Memilih obat dan teknik anestesi juga disesuaikan dengan

keterampilan dan kebutuhan dokter bedah antara lain teknik hipotensif

untuk mengurangi perdarahan, relaksasi otot pada laparotomi,

pemakaian adrenalin pada bedah plastik dan lain-lain.


4. Keterampilan dan pengalaman dokter anestesiologi
5. Keinginan pasien
6. Bahaya kebakaran dan ledakan
a. Pemakaian obat anestesia yang tidak terbakar dan tidak eksplosif

adalah pilah utama pada pembedahan dengan alat elektrokauter.

D. Faktor-faktor yang mempengaruhi anestesi umum

1. Faktor respirasi
Pada setiap inspirasi sejumlah zat anestesika akan masuk ke dalam paru-

paru (alveolus). Dalam alveolus akan dicapai suatu tekanan parsial

tertentu. Kemudian zat anestesika akan berdifusi melalui membrane

alveolus. Epitel alveolus bukan penghambat disfusi zat anestesika,

sehingga tekanan parsial dalam alveolus sama dengan tekanan parsial

dalam arteri pulmonarsi. Hal- hal yang mempengaruhi hal tersebut adalah:
a. Konsentrasi zat anestesika yang dihirup/ diinhalasi; makin tinggi

konsentrasinya, makin cepat naik tekanan parsial zat anestesika dalam

alveolus.
b. Ventilasi alveolus; makin tinggi ventilasi alveolus, makin cepat

meningginya tekanan parsial alveolus dan keadaan sebaliknya pada

hipoventilasi.

2. Faktor sirkulasi
a. Perubahan tekanan parsial zat anestesika yang jenuh dalam

alveolus dan darah vena. Dalam sirkulasi, sebagian zat anestesika

diserap jaringan dan sebagian kembali melalui vena.


b. Koefisien partisi darah/ gas yaitu rasio konsentrasi zat anestesika

dalam darah terhadap konsentrasi dalam gas setelah keduanya

dalam keadaan seimbang.


c. Aliran darah, yaitu aliran darah paru dan curah jantung. Makin

banyak aliran darah yang melalui paru makin banyak zat anestesika
yang diambil dari alveolus, konsentrasi alveolus turun sehingga

induksi lambat dan makin lama waktu yang dibutuhkan untuk

mencapai tingkat anesthesia yang adekuat.

3. Faktor jaringan
a. Perbedaan tekanan parsial obat anestesika antara darah arteri dan

jaringan.
b. Koefisien partisi jaringan/darah: kira-kira 1,0 untuk sebagian besar

zat anestesika, kecuali halotan.


c. Aliran darah terdapat dalam 4 kelompok jaringan:
1.) Jaringan kaya pembuluh darah (JKPD) : otak, jantung, hepar,

ginjal. Organ-organ ini menerima 70-75% curah jantung hingga

tekanan parsial zat anestesika ini meninggi dengan cepat dalam

organ-organ ini. Otak menerima 14% curah jantung.


2.) Kelompok intermediate : otot skelet dan kulit.
3.) Lemak : jaringan lemak
4.) Jaringan sedikit pembuluh darah (JSPD) : relative tidak ada

aliran darah : ligament dan tendon.

4. Faktor zat anestesika


Bermacam-macam zat anestesika mempunyai potensi yang

berbeda-beda. Untuk menentukan derajata potensi ini dikenal adanya

MAC (minimal alveolar concentration atau konsentrasi alveolar minimal)

yaitu konsentrasi terendah zat anestesika dalam udara alveolus yang

mampu mencegah terjadinya tanggapan (respon) terhadap rangsang rasa

sakit. Makin rendah nilai MAC, makin tinggi potensi zat anestesika

tersebut.

E. Tahapan Tindakan Anestesi Umum


1. Penilaian dan persiapan pra anestesia
Persiapan prabedah yang kurang memadai merupakan faktor

terjadinya kecelakaan dalam anestesia. Sebelum pasien dibedah sebaiknya

dilakukan kunjungan pasien terlebih dahulu sehingga pada waktu pasien

dibedah pasien dalam keadaan bugar. Tujuan dari kunjungan tersebut adalah

untuk mengurangi angka kesakitan operasi, mengurangi biaya operasi dan

meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan.

2. Penilaian pra bedah


a. Anamnesis

Riwayat tentang apakah pasien pernah mendapat anestesia

sebelumnya sangatlah penting untuk mengetahui apakah ada hal-hal

yang perlu mendapat perhatian khusus,misalnya alergi, mual-muntah,

nyeri otot, gatal-gatal atau sesak nafas pasca bedah, sehingga dapat

dirancang anestesia berikutnya dengan lebih baik. Beberapa penelitit

menganjurkan obat yang kiranya menimbulkan masalah dimasa

lampau sebaiknya jangan digunakan ulang, misalnya halotan jangan

digunakan ulang dalam waktu tiga bulan, suksinilkolin yang

menimbulkan apnoe berkepanjangan juga jangan diulang. Kebiasaan

merokok sebaiknya dihentikan 1-2 hari sebelumnya

b. Pemeriksaan fisik

Pemeriksaan gigi-geligi, tindakan buka mulut, lidah relatif besar

sangat penting untuk diketahui apakah akan menyulitkan tindakan


laringoskopi intubasi. Leher pendek dan kaku juga akan menyulitkan

laringoskopi intubasi.

Pemeriksaan rutin secara sistemik tentang keadaan umum tentu

tidak boleh dilewatkan seperti inspeksi, palpasi, perkusi dan auskultasi

semua system organ tubuh pasien.

c. Pemeriksaan laboratorium

Uji laboratorium hendaknya atas indikasi yang tepat sesuai

dengan dugaan penyakit yang sedang dicurigai. Pemeriksaan yang

dilakukan meliputi pemeriksaan darah kecil (Hb, lekosit, masa

perdarahan dan masa pembekuan) dan urinalisis. Pada usia pasien

diatas 50 tahun ada anjuran pemeriksaan EKG dan foto thoraks.

d. Kebugaran untuk anestesia

Pembedahan elektif boleh ditunda tanpa batas waktu untuk

menyiapkan agar pasien dalam keadaan bugar, sebaliknya pada operasi

sito penundaan yang tidak perlu harus dihindari.

e. Klasifikasi status fisik

Klasifikasi yang lazim digunakan untuk menilai kebugaran fisik

seseorang adalah yang berasal dari The American Society of

Anesthesiologists (ASA). Klasifikasi fisik ini bukan alat prakiraan


resiko anestesia, karena dampak samping anestesia tidak dapat

dipisahkan dari dampak samping pembedahan.

Kelas I : Pasien sehat organik, fisiologik, psikiatrik, biokimia.

Kelas II : Pasien dengan penyakit sistemik ringan atau sedang.

Kelas III : Pasien dengan penyakit sistemik berat, sehingga aktivitas

rutin terbatas.

Kelas IV : Pasien dengan penyakit sistemik berat tak dapat

melakukan aktivitas rutin dan penyakitnya merupakan ancaman

kehidupannya setiap saat.

Kelas V : Pasien sekarat yang diperkirakan dengan atau tanpa

pembedahan hidupnya tidak akan lebih dari 24 jam.

Kelas VI : Pasien dengan mati batang otak dan sudah direncanakan

untuk pendonoran organ

f. Masukan oral

Refleks laring mengalami penurunan selama anestesia.

Regurgitasi isi lambung dan kotoran yang terdapat dalam jalan napas

merupakan risiko utama pada pasien-pasien yang menjalani anestesia.

Untuk meminimalkan risiko tersebut, semua pasien yang dijadwalkan

untuk operasi elektif dengan anestesia harus dipantangkan dari

masukan oral (puasa) selamaperiode tertentu sebelum induksi

anestesia.
Pada pasien dewasa umumnya puasa 6-8 jam, anak kecil 4-6 jam

dan pada bayi 3-4 jam. Makanan tak berlemak diperbolehkan 5 jam

sebeluminduksi anestesia. Minuman bening, air putih teh manis

sampai 3 jam dan untuk keperluan minumobat air putih dalam jumlah

terbatas boleh 1 jam sebelum induksi anestesia.

3. Premedikasi

Sebelum pasien diberi obat anestesia, langkah selanjutnya adalah

dilakukan premedikasi yaitu pemberian obat sebelum induksi anestesia

diberi dengan tujuan untuk melancarkan induksi, rumatan dan bangun

dari anestesi diantaranya:

a. Menimbulkan rasa nyaman bagi pasien


b. Memudahkan atau memperlancar induksi dengan pemberian

hipnotik sedative atau narkotik


c. Mengurangi jumlah obat-obat anestesi
d. Menekan refleks-refleks yang tidak diinginkan (muntah/liur)
e. Mengurangi sekresi kelenjar saliva dan lambung dengan

pemberian antikolinergik atropine, primperan, rantin, H2

antagonis
f. Mengurangi rasa sakit

4. Waktu dan cara pemberian premedikasi:

Pemberian obat secara subkutan tidak akan efektif dalam1 jam,

secara intramuscular minimum harus ditunggu 40 menit. Pada kasus yang

sangat darurat dengan waktu tindakan pembedahan yang tidak pasti obat-

obat dapat diberikan secara intravena. Obat akan sangat efektif sebelum
induksi. Bila pembedahan belum dimulai dalam waktu 1 jam dianjurkan

pemberian premedikasi intramuscular, subkutan tidak dianjurkan. Semua

obat premedikasi bila diberikan secara intravena dapat menyebabkan

sedikit hipotensi kecuali atropine dan hiosin. Hal ini dapat dikurangi

dengan pemberian secara perlahan-lahan dan diencerkan. Obat-obat yang

sering digunakan antara lain :

a. Analgesik narkotik
1.) Petidin ( amp 2cc = 100 mg), dosis 1-2 mg/kgBB
2.) Morfin ( amp 2cc = 10 mg), dosis 0,1 mg/kgBB
3.) Fentanyl ( fl 10cc = 500 mg), dosis 1-3gr/kgBB
b. Analgesik non narkotik
1.) Ponstan
2,) Tramol
3.) Toradon
c. Hipnotik
1.) Ketamin ( fl 10cc = 100 mg), dosis 1-2 mg/kgBB
2.) Pentotal (amp 1cc = 1000 mg), dosis 4-6 mg/kgBB
d. Sedatif
1.) Diazepam/valium/stesolid ( amp 2cc = 10mg), dosis 0,1

mg/kgBB
2.) Midazolam/dormicum (amp 5cc/3cc = 15 mg),dosis

0,1mg/kgBB
3.) Propofol/recofol/diprivan (amp 20cc = 200 mg), dosis 2,5

mg/kgBB
4.) Dehydrobenzperidon/DBP (amp 2cc = 5 mg), dosis 0,1

mg/kgBB
e. Anti emetic
1.) Sulfas atropine (anti kolinergik) (amp 1cc = 0,25 mg),dosis

0,001 mg/kgBB
2.) Narfoz, rantin, primperan.

F. Induksi Anastesi
Induksi anestesi dimulai dengan pemberian obat hipnotis seperti

barbiturat atau etomidate yang bekerja pada reseptor GABA dan menyebabkan

sedasi pada pasien yang ditandai dengan tertutup nya kelopak mata dan tenang.

Dosis kemudian ditambah perlahan hingga pasien masuk ke dalam status

paradoxical excitation yang ditandai dengan gerakan defensif, berbicara yang

tidak nyambung, euphoria/dysphoria. Ketika agen hipnotik ditambahkan lagi,

dalam waktu 10-15 detik pola respirasi ireguler akan terbentuk dan menjadi

apnea. Saat ini ventilasi menggunakan sungkup muka dimulai untuk

memberikan bantuan nafas. Ketika pasien tidak sadar, gerakan bola mata akan

berhenti, reflex kornea hilang tetapi refleks pupil masih ada. Pada induksi,

tekanan darah dapat bertambah maupun berkurang, akan tetapi laju jantung

meningkat. Opioid/benzodiazepine sebelum atau saat induksi dapat diberikan

untuk mengurangi laju jantung dan vasopressor dapat diberikan untuk

mempertahankan tekanan darah. Di akhir induksi, muscle relaxant dapat

diberikan dengan terpasangnya intubasi. Untuk persiapan induksi anestesi

diperlukan beberapa alat yang disingkat menjadi STATICS:

S : Scope Stetoskop untuk mendengarkan suara paru dan jantung.

Laringo-Scope, pilih bilah atau daun (blade) yang sesuai dengan usia

pasien. Lampu harus cukup terang.

T : Tube Pipa trakea.pilih sesuai usia. Usia < 5 tahun tanpa balon (cuffed)

dan > 5 tahun dengan balon (cuffed).

A : Airway Pipa mulut faring (Guedel, orotracheal airway) atau pipa

hidung-faring (naso-tracheal airway). Pipa ini untuk menahan lidah saat


pasien tidak sadar untuk menjaga supaya lidah tidak menyumbat jalan

napas.

T : Tape Plester untuk fiksasi pipa supaya tidak terdorong atau

tercabut.

I : Introducer Mandrin atau stilet dari kawat dibungkus plastic (kabel) yang

mudah dibengkokan untuk pemandu supaya pipa trakea mudah

dimasukkan.

C : Connector Penyambung antara pipa dan peralatan anestesia

S : Suction penyedot lender, ludah danlain-lainnya.

1. Induksi intravena
Paling banyak dikerjakan dan digemari. Induksi intravena dikerjakan

dengan hati-hati, perlahan-lahan, lembut dan terkendali. Obat induksi bolus

disuntikan dalam kecepatan antara 30-60 detik. Selama induksi anestesi,

pernapasan pasien, nadi dan tekanan darah harsu diawasi dan selalu

diberikan oksigen. Dikerjakan pada pasien yang kooperatif.


a. Obat-obat induksi intravena:
1.) Tiopental (pentotal, tiopenton)
Dikemas dengan sediaan amp 500 mg atau 1000 mg

sebelum digunakan dilarutkan dalam akuades steril sampai

kepekatan 2,5% ( 1ml = 25mg) hanya boleh digunakan untuk

intravena dengan dosis 3-7 mg/kg disuntikan perlahan-lahan

dihabiskan dalam 30-60 detik.Bergantung dosis dan kecepatan

suntikan tiopental akan menyebabkan pasien berada dalam keadaan

sedasi, hypnosis, anestesia atau depresi napas. Tiopental

menurunkan aliran darah otak, tekanan likuor, tekanan intracranial


dan diguda dapat melindungi otak akibat kekurangan O2 . Dosis

rendah bersifat anti-analgesi.

2.) Propofol (diprivan, recofol)


Dikemas dalam cairan emulsi lemak berwarna putih susu

bersifat isotonic dengan kepekatan 1% (1ml = 1o mg). suntikan

intravena sering menyebabkan nyeri, sehingga beberapa detik

sebelumnya dapat diberikan lidokain 1-2 mg/kg intravena.


Dosis bolus untuk induksi 2-2,5 mg/kg, dosis rumatan

untuk anestesia intravena total 4-12 mg/kg/jam dan dosis sedasi

untuk perawatan intensif 0.2 mg/kg. pengenceran hanya boleh

dengan dekstrosa 5%. Tidak dianjurkan untuk anak < 3 tahun dan

pada wanita hamil.

3.) Ketamin (ketalar)


Kurang digemari karena sering menimbulkan takikardia,

hipertensi, hipersalivasi, nyeri kepala, pasca anestesia dapat

menimbulkan mual-muntah, pandangan kabur dan mimpi buruk.

Sebelum pemberian sebaiknya diberikan sedasi midazolam

(dormikum) atau diazepam (valium) dengan dosis0,1 mg/kg

intravena dan untuk mengurangi salvias diberikan sulfas atropin

0,01 mg/kg.
Dosis bolus 1-2 mg/kg dan untuk intramuscular 3-10 mg.

ketamin dikemas dalam cairan bening kepekatan 1% (1ml = 10mg),

5% (1 ml = 50 mg), 10% ( 1ml = 100 mg).

4.) Opioid (morfin, petidin, fentanil, sufentanil)


Diberikan dosis tinggi. Tidak menggaggu kardiovaskular,

sehingga banyak digunakan untuk induksi pasien dengan kelainan


jantung. Untuk anestesia opioid digunakan fentanil dosis 20-50

mg/kg dilanjutkan dosis rumatan 0,3-1 mg/kg/menit.

2. Induksi intramuscular
Sampai sekarang hanya ketamin (ketalar) yang dapat diberikan secara

intramuskulardengan dosis 5-7 mg/kgBB dan setelah 3-5 menit pasien

tidur.

3. Induksi inhalasi
a. N2O (gas gelak, laughing gas, nitrous oxide, dinitrogen

monoksida) berbentuk gas, tak berwarna, bau manis, tak iritasi,

tak terbakar dan beratnya 1,5 kali berat udara. Pemberian harus

disertai O2 minimal 25%. Bersifat anastetik lemah, analgesinya

kuat, sehingga sering digunakan untuk mengurangi nyeri menjelang

persalinan. Pada anestesi inhalasi jarang digunakan sendirian, tapi

dikombinasi dengan salah satu cairan anastetik lain seperti halotan.


b. Halotan (fluotan)
Sebagai induksi juga untuk laringoskop intubasi, asalkan

anestesinya cukup dalam, stabil dan sebelum tindakan diberikan

analgesi semprot lidokain 4% atau 10% sekitar faring laring.


Kelebihan dosis menyebabkan depresi napas, menurunnya tonus

simpatis, terjadi hipotensi, bradikardi, vasodilatasi perifer, depresi

vasomotor, depresi miokard, dan inhibisi refleks baroreseptor.

Merupakan analgesi lemah, anestesi kuat. Halotan menghambat

pelepasan insulin sehingga mininggikan kadar gula darah.

c. Enfluran (etran, aliran)


Efek depresi napas lebih kuat dibanding halotan dan

enfluran lebih iritatif disbanding halotan. Depresi terhadap


sirkulasi lebih kuat dibanding halotan, tetapi lebih jarang

menimbulkan aritmia. Efek relaksasi terhadap otot lurik lebih baik

disbanding halotan.

d. Isofluran (foran, aeran)


Meninggikan aliran darah otak dan tekanan intracranial.

Peninggian aliran darah otak dan tekanan intracranial dapat

dikurangi dengan teknik anestesi hiperventilasi, sehingga isofluran

banyak digunakan untuk bedah otak.


Efek terhadap depresi jantung dan curah jantung minimal,

sehingga digemari untuk anestesi teknik hipotensi dan banyak

digunakan pada pasien dengan gangguan koroner.

e. Desfluran (suprane)
Sangat mudah menguap. Potensinya rendah (MAC 6.0%),

bersifat simpatomimetik menyebabkan takikardi dan hipertensi.

Efek depresi napasnya seperti isofluran dan etran. Merangsang

jalan napas atas sehingga tidak digunakan untuk induksi anestesi.

f. Sevofluran (ultane)
Induksi dan pulih dari anestesi lebih cepat dibandingkan

isofluran. Baunya tidak menyengat dan tidak merangsang jalan

napas, sehingga digemari untuk induksi anestesi inhalasi disamping

halotan.

4. Induksi per rectal;


Cara ini hanya untuk anak atau bayi menggunakan thiopental atau

midazolam.

5. Induksi mencuri
Dilakukan pada anak atau bayi yang sedang tidur. Induksi inhalasi

biasa hanya sungkup muka tidak kita tempelkan pada muka pasien, tetapi

kita berikan jarak beberapa sentimeter, sampai pasien tertidur baru

sungkup muka kita tempelkan.

6. Pelumpuh otot nondepolarisasi Tracurium 20 mg (Antracurium)


Berikatan dengan reseptor nikotinik-kolinergik, tetapi tidak

menyebabkna depolarisasi, hanya menghalangi asetilkolin

menempatinya, sehingga asetilkolin tidak dapat bekerja. Pemberian dosis

awal 0,5-0,6 mg/kgBB, dosis rumatan 0,1 mg/kgBB, durasi selama 20-45

menit, kecepatan efek kerjanya -2 menit. Tanda-tanda kekurangan

pelumpuh otot yaitu cegukan (hiccup), dinding perut kaku, ada tahanan

pada inflasi paru.

G. Rumatan Anestesi (Maintainance)

Kombinasi antara agen hipnotik dan agen inhalasi, opioids, muscle

relaxant, sedatif dan obat kardiovaskular dapat diberikan pada periode

maintainance. Bila level anstesi kurang adekuat, maka laju jantung dan

tekanan darah dapat meningkat secara dramatis, diikuti dengan respirasi,

kembalinya tonus otot, pasien bergerak dan perubahan pada EEG, hal ini

merupakan tanda gawat bagi seorang anestesiologis. Untuk periode

maintainance dapat dibagi menjadi 4 fase yaitu:

1. Fase 1 : keadaan anestesi umum ringan yang ditandai dengan

penurunan EEG beta dan bertambahnya EEG alpha dan delta


2. Fase 2 : penurunan aktivitas beta dan meningkatnya alfa dan

delta

3. Fase 3 : stadium anestesi dalam dimana pada EEG ditandai

dengan periode datar diikuti dengan aktivitas alfa dan beta, pada fase ini

operasi dapat dilakukan

4. Fase 4 : anestes yang sangat dalam

Rumatan anestesi mengacu pada trias anestesi yaitu tidur ringan

(hypnosis) sekedar tidak sadar, analgesia cukup, diusahakan agar pasien

selama dibedah tidak menimbulkan nyeri dan relaksasi otot lurik yang

cukup.

Rumatan intravena biasanya menggunakan opioid dosis tinggi,

fentanil 10-50 g/kgBB. Dosis tinggi opioid menyebabkan pasien tidur

dengan analgesia cukup, sehingga tinggal memberikan relaksasi pelumpuh

otot. Rumatan intravena dapat juga menggunakan opioid dosis biasa, tetapi

pasien ditidurkan dengan infuse propofol 4-12 mg/kgBB/jam. Bedah lama

dengan anestesi total intravena, pelumpuh otot dan ventilator. Untuk

mengembangkan paru digunakan inhalasi dengan udara + O2 atau N2O +

O2.

Rumatan inhalasi biasanya menggunakan campuran N2O dan O2

dengan perbandingan 3:1 ditambah halotan 0,5-2 vol% atau enfluran 2-4%

atau isofluran 2-4 vol% atau sevofluran 2-4% bergantung apakah pasien

bernapas spontan, dibantu atau dikendalikan.


H. Emergence
Pasien dapat dibangunkan kembali dengan cara mengurangi atau

memberhentikan agen anestesi dan pemberian agen reversal dan agen

stimulan otak. Setelah dilakukan prosedur di atas pasien akan bangun

perlahan dengan 3 fase. fase 1 ditandai dengan kembalinya pernafasan

reguler dan meningkatnya akitivitas alfa dan beta EEG. Pada Fase 2, laju

jantung meningkat, kembalinya respon otonomik yang terdiri dari respon

nyeri, salivasi, menangis, menenlan, tersedak dan batuk. Kemudian diikuti

dengan kembalinya tonus otot, postur defensif dan extubasi dapat terjadi

pada fase ini. Pada fase 3, pasien akan membuka mata, dan merespon

perintah suara. Hal ini menunjukkan kembalinya fungsi korteks otak.

I. Tatalaksana Jalan Napas


Hubungan jalan napas dan dunia luar melalui 2 jalan yani hidung

lanjut ke nasopharynx dan mulut yang berlanjut ke oropharynx.


Hidung dan mulut dibagian depan dipisahkan oleh palatum durum

dan palatum molle dan dibagian belakang bersatu di hipofaring.

Hipofaring menuju esophagus dan laring dipisahkan oleh epiglotis menuju

ke trakea. Laring terdiri dari tulang rawan tiroid, krikoid, epiglotis dan

sepasang aritenoid, kornikulata dan kuneiform.

1. Manuver tripel jalan napas

Terdiri dari:

a. Kepala ekstensi pada sendi atlanto-oksipital


b. Mandibula didorong ke depan pada kedua angulus mandibula
c. Mulut dibuka
Dengan maneuver ini diharapkan lidah terangkat dan jalan napas

bebas, sehingga gas atau udara lancer masuk ke trakea lewat hidung

atau mulut.

2. Jalan napas faring

Jika maneuver tripel kurang berhasil, maka dapat dipasang jalan

napas mulut-faring lewat mulut (oro-pharyngeal airway) atau jalan

napas lewat hidung (naso-pharyngeal airway).


3. Sungkup muka
Mengantar udara / gas anestesi dari alat resusitasi atau system

anestesi ke jalan napas pasien. Bentuknya dibuat sedemikian rupa

sehingga ketika digunakan untuk bernapas spontan atau dengan tekanan

positif tidak bocor dan gas masuk semua ke trakea lewat mulut atau

hidung.

4. Sungkup laring (Laryngeal mask)


Merupakan alat jalan napas berbentuk sendok terdiri dari pipa

besar berlubang dengan ujung menyerupai sendok yang pinggirnya

dapat dikembang-kempiskan seperti balon pada pipa trakea. Tangkai

LMA dapat berupa pipa kerasdari polivinil atau lembek dengan spiral

untuk menjaga supaya tetap paten.


Dikenal 2 macam sungkup laring:
a. Sungkup laring standar dengan satu pipa napas
b. Sungkup laring dengan dua pipa yaitu satu pipa napas standar dan

lainnya pipa tambahan yang ujung distalnya berhubungan dengan

esophagus.

5. Pipa trakea (endotracheal tube)


Mengantar gas anestesi langsung ke dalam trakea dan biasanya

dibuat dari bahan standar polivinil-klorida. Pipa trakea dapat dimasukan


melalui mulut (orotracheal tube) atau melalui hidung (nasotracheal

tube).

6. Laringoskopi dan intubasi


Fungsi laring ialah mencegah bedan asing masuk paru.

Laringoskop merupakan alat yang digunakan untuk melihat laring

secara langsung supaya kita dapat memasukkan pipa trakea dengan baik

dan benar. Secara garis besar dikenal dua macam laringoskop:


a. Bilah, daun (blade) lurus (Macintosh) untuk bayi-anak-dewasa
b. Bilah lengkung (Miller, Magill) untuk anak besar-dewasa.

Klasifikasi tampakan faring pada saat membuka mulut terbuka

maksimal dan lidah dijulurkan maksimal menurut Mallapati dibagi

menjadi 4 gradasi.

Gradasi Pilar faring Uvula Palatum Molle


1 + + +
2 - + +
3 - - +
4 - - -

7. Indikasi intubasi trakea

Intubasi trakea ialah tindakan memasukkan pipa trakea ke dalam

trakea melalui rima glottis, sehingga ujung distalnya berada kira-kira

dipertengahan trakea antara pita suara dan bifurkasio trakea. Indikasi

sangat bervariasi dan umumnya digolongkan sebagai berikut:

a. Menjaga patensi jalan napas oleh sebab apapun


Kelainan anatomi, bedah kasus, bedah posisi khusus,

pembersihan sekret jalan napas, dan lain-lainnya


b. Mempermudah ventilasi positif dan oksginenasi
Misalnya saat resusitasi, memungkinkan penggunaan relaksan

dengan efisien, ventilasi jangka panjang.


c. Pencegahan terhadap aspirasi dan regurgitasi

8. Kesulitan intubasi

a. Leher pendek berotot


b. Mandibula menonjol
c. Maksila/gigi depan menonjol
d. Uvula tak terlihat
e. Gerak sendi temporo-mandibular terbatas
f. Gerak vertebra servikal terbatas

9. Komplikasi intubasi

a. Selama intubasi
1.) Trauma gigi geligi
2.) Laserasi bibir, gusi, laring
3.) Merangsang saraf simpatis
4.) Intubasi bronkus
5.) Intubasi esophagus
6.) Aspirasi
7.) Spasme bronkus

b. Setelah ekstubasi
1.) Spasme laring
2.) Aspirasi
3.) Gangguan fonasi
4.) Edema glottis-subglotis
5.) Infeksi laring, faring, trakea

10. Ekstubasi

a. Ekstubasi ditunda sampai pasien benar-benar sadar, jika:


1.) Intubasi kembali akan menimbulkan kesulitan
2.) Pasca ekstubasi ada risiko aspirasi
b. Ekstubasi dikerjakan pada umumnya pada anestesi sudah ringan

dengan catatan tak akan terjadi spasme laring.

c. Sebelum ekstubasi bersihkan rongga mulut laring faring dari sekret

dan cairan lainnya.

J. Komplikasi Anestesi Umum

Komplikasi (penyulit) kadang-kadang datangnya tidak diduga

meskipun tindakan anestesi sudah dilaksanakan dengan baik. Komplikasi

dapat dicetuskan oleh tindakan anestesia sendiri atau kondisi pasien.

Penyulit dapat timbul pada waktu pembedahan ata u kemudian segera

ataupun belakangan setelah pembedahan (lebih dari 12 jam).

1. Komplikasi Kardiovaskular

a. Hipotensi : tekanan systole kurang dari 70mmHg atau turun

25% dari sebelumnya.


b. Hipertensi : umumnya tekanan darah dapat meningkat pada

periode induksi dan pemulihan anestesia. Komplikasi ini dapat

membahayakan khususnya pada penyakit jantung, karena

jantung akan bekerja keras dengan kebutuhan O2 miokard

yang meningkat, bila tak tercukupi dapat timbul iskemia atau

infark miokard. Namun bila hipertensi karena tidak adekuat

dapat dihilangkan dengan menambah dosis anestetika.


c. Aritmia Jantung : anestesi ringan yang disertai maniplasi

operasi dapat merangsang saraf simpatiks, dapat menyebabkan

aritmia. Bradikardia yang terjadi dapat diobati dengan atropin


d. Payah Jantung : mungkin terjadi bila pasien mendapat cairan

IV berlebihan.

2. Komplikasi Respirasi

a. Obstruksi jalan nafas


b. Batuk
c. Cekukan (hiccup
d. Intubasi endobronkia
e. Apnoe
f. Atelektasis
g. Pneumotorax
h. Muntah dan regurgitas

2. Komplikasi Mata

Laserasi kornea, menekan bola mata terlalu kuat

3. Komplikasi Neurologi

Konvulsi, terlambat sadar, cedera saraf tepi (perifer)

4. Perubahan Cairan Tubuh

Hipovolemia, Hipervolemia

5. Komplikasi Lain-Lain
Menggigil, gelisah setelah anestesi, mimpi buruk, sadar selama

operasi, kenaikan suhu tubuh.

DAFTAR PUSTAKA

Brown EN, Lydic R, Schiff ND (2010). General Anesthesia, Sleep, and Coma.

The New England Journal of Medicine; 363

Duarte R, McNeill A, Drummond G, Tiplady B (2008). Comparison of The

Sedative, Cognitive anda Analgesic Effect of Nitrous Oxide, sevoflurane

and Ethanol. British Journal of Anesthesia, 100(2).

Emery NB, Purdon PL, Christa JVD (2011). General Anesthesia and Altered

States of Arousal: A systems Neuroscience Analysis. Annual Review of

Neuroscience, Wol.34:601-628

Komatsu R, Turan AM, Orhan M, McGuire J, Radke OC, Apfel CC (2007)

General Anesthesia : systematic review. The Association of Anaesthesia of

Great Britain and Ireland, pp1266-1280

Mashour GA, Forman SA, Campagna JA (2005). Mechanism of General

Anesthesia: from Molecules to Mind. Best Practice and Research Clinical

Anaesthesiology, 19(3).

Mayo Clinic (2014). General Anesthesia

http://emedicine.medscape.com/article/1271543-overview. [Diakses

tanggal 25 September 2016]

Mergeay M, Verster A, Van AD, Vercauteren M (2015) Editorial Regional Versus

General Anesthesia. Acta Anaesth.Belg., 2015,66,1-9


Ori C, Dalsasso M, Freo U (2006) A General Anesthetic Agent. A Review in its

use in and out the clnical settings. Anesthesia, Pain, Intensive Care and

Emergency Medicine-APICE:Milano, Italy 2006

Press CD (2015). General Anesthesia.

http://emedicine.medscape.com/article/1271543-overview [Diakses

tanggal 25 September 2016]

Yaacoub S (2015). General Anesthesia : A Literature Review-Induction,

Mechanism, agents and Effects. Eastern Michigan University