Anda di halaman 1dari 31

PENERAPAN BAHAN AJAR BENTUK KOMIK UNTUK MENINGKATKAN

HASIL BELAJAR SAINS MATERI POKOK BENDA DAN SIFATNYA BAGI


SISWA KELAS VI SD NEGERI 2 BARUGA
TAHUN AJARAN 2010/2011

SKRIPSI

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Sarjana


Kependidikan pada Program Studi Pendidikan Fisika Jurusan Pendidikan
Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam

OLEH
IRMA MUSTIKA SARI
A1C3 06 007

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN


UNIVERSITAS HALUOLEO
KENDARI
2011

1
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Maju mundurnya suatu bangsa sangat ditentukan oleh tingkat

pendidikan bangsa itu sendiri. Pendidikan merupakan ujung tombak untuk

menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas disegala bidang

kehidupan yang dapat membawa kemajuan dan kesejahteraan bangsa. Salah

satu tahapan pendidikan yang sangat berpengaruh terhadap kualitas pendidikan

adalah pendidikan dasar. Jenjang ini dipandang berperan sebagai peletak dasar

bagi berbagai disiplin ilmu yang akan diperoleh siswa pada jenjang pendidikan

selanjutnya. Salah satu bidang ilmu yang berperan penting dalam usaha

peningkatan penguasaan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi ini adalah

penguasaan mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA).

Pembelajaran sebagai suatu sistem merupakan pengorganisasian

berbagai komponen dalam upaya mentransformasi siswa dari suatu kondisi

yang lebih meningkat secara positif. Di sini yang paling berperan adalah guru

bersama siswa. Siswa dipandang sebagai subjek yang harus diberi kesempatan

untuk berkemampuan mengembangkan dirinya sesuai dengan minat dan

bakatnya. Pembelajaran dipandang sebagai proses komunikasi interaktif antara

guru dan siswa. Untuk mencapai sasaran pembelajaran dibutuhkan banyak

persyaratan dan kesiapan yang matang, baik kesiapan guru sebagai pemicu

pesan, maupun kesiapan siswa sebagai perespon dan pengkontruksi pesan.

2
Persyaratan dan kesiapan ini menyangkut materi, fisik dan psikis. Dalam hal ini

materi meliputi bahan ajar dan medianya.

Pada kurikukulum tingkat satuan pendidikan, standar kompetensi

lulusan telah ditetapkan oleh pemerintah, namun bagaimana untuk

mencapainya dan apa bahan ajar yang digunakan diserahkan sepenuhnya

kepada para pendidik sebagai tenaga profesional. Dalam hal ini, guru dituntut

untuk mempunyai kemampuan mengembangkan bahan ajar sendiri.

Karena pada kenyataannya bahan ajar yang disuguhkan kepada siswa

indonesia adalah teks bacaan yang kurang menarik sehingga siswa kurang

termotivasi. Selain itu terdapat sejumlah materi pelajaran yang seringkali siswa

sulit untuk memahaminya ataupun guru sulit untuk menjelaskannya. Kesulitan

tersebut bisa terjadi karena materi tersebut abstrak dan rumit. sehingga perlu

dikembangkan suatu bahan ajar yang mampu menyajikan materi dengan

penyampaian yang mudah dipahami oleh siswa sekaligus dapat

menggambarkan materi yang abstrak tersebut.

Selain itu ada karakteristik sasaran. Bahan ajar yang dikembangkan

orang lain seringkali tidak cocok untuk siswa kita. Ada sejumlah alasan

ketidakcocokan, misalnya, lingkungan sosial, geografis, budaya, juga

mencakup tahapan perkembangan siswa, kemampuan awal yang telah dikuasai,

minat, dan latar belakang keluarga. Untuk itu, maka bahan ajar yang

dikembangkan sendiri dapat disesuaikan dengan karakteristik siswa sebagai

sasaran.

3
Dari hasil observasi di kelas VI SD Negeri 2 Baruga diperoleh

nilai rata-rata siswa untuk materi pokok Benda dan Sifatnya adalah 6,2 hal ini

belum memenuhi standar ketuntasan belajar minimal yang ditetapkan sekolah

yaitu 6,5. Dalam proses pembelajaran fisika disekolah, guru menggunakan

bahan ajar yang ada selama ini dimana penyajian materinya membuat siswa

kurang memiliki minat dalam membaca materi. Dan akhirnya mengakibatkan

siswa tidak termotivasi dan menganggap fisika sebagai pelajaran yang

sukar dan membosankan.

Salah satu bentuk penyajian materi pelajaran yang dapat digunakan oleh

guru dalam pembelajaran adalah bahan ajar dalam bentuk komik. Komik

merupakan media yang unik dengan menggabungkan teks dan gambar

dalam bentuk yang kreatif. Guru dapat menggunakan komik secara efektif

dalam usaha untuk membangkitkan minat baca, mengembangkan

perbendaharaan kata-kata dan keterampilan. Komik yang dalam

penyajiannya menggunakan bahasa sehari-hari dan dilengkapi gambar yang

menarik memudahkan siswa memahami materi yang dipelajari (Sudjana dan

Rivai, 2001: 69).

Komik dapat dijadikan guru sebagai alternatif pembelajaran yang

menarik dalam upaya membangkitkan minat dan motivasi siswa, serta

pemahaman konsep siswa. Komik adalah suatu bentuk media komunikasi

visual yang mempunyai kekuatan untuk menyampaikan informasi secara

popular dan mudah dimengerti. Hal ini dimungkinkan karena komik

4
memadukan kekuatan gambar dan tulisan, yang dirangkai dalam suatu alur

cerita gambar yang membuat informasi lebih mudah diserap. Teks membuatnya

lebih dimengerti, dan alur membuatnya lebih mudah untuk diikuti dan diingat.

Dalam penelitian ini komik yang digunakan adalah bahan ajar komik

yang dikembangkan oleh Fitria Azhari (2010) yang telah diuji validasi atau

kelayakan untuk digunakan sebagai alternatif bahan ajar dikelas. Modul komik

tersebut telah divalidasi oleh ahli pendidikan, ahli bahasa, dan ahli materi serta

empat orang reviewer dari kalangan guru IPA SD dengan rata-rata persentasi

keefektifan penggunaan modul komik sebagai alternatif bahan ajar siswa 92%

sehingga dinyatakan telah layak untuk diterapkan.

Dari uraian di atas penulis tertarik untuk mengadakan suatu penelitian

dalam bentuk eksperimen pendidikan dengan mengambil judul: Penerapan

Bahan Ajar Bentuk Komik Untuk meningkatkan Hasil Belajar Sains

Materi Pokok Benda dan Sifatnya bagi Siswa Kelas VI SD Negeri 2

Baruga.

B. Batasan Masalah

Untuk menghindari agar permasalahan tidak terlalu meluas dan

menyimpang maka masalah yang diteliti dibatasi pada komik pembelajaran

yang berisi materi pokok Benda dan Sifatnya, contoh soal, dan soal latihan

yang keseluruhannya dikemas dalam bentuk cerita yang beralur.

C. Rumusan Masalah

5
Berdasarkan latar belakang di atas, maka yang menjadi permasalahan

utama dalam penelitian ini adalah apakah penggunaan bahan ajar bentuk komik

dapat memberikan pengaruh terhadap hasil belajar siswa kelas VI SD Negeri 2

Baruga materi pokok Benda dan Sifatnya tahun ajaran 2010/2011? Untuk

menjawab permasalahan utama ini dirumuskan beberapa pertanyaan khusus

sebagai berikut:
1. Bagaimana gambaran hasil belajar siswa kelas kelas kontrol sebelum dan

sesudah pembelajaran materi pokok Benda dan Sifatnya?


2. Bagaimana gambaran hasil belajar siswa kelas kelas eksperimen sebelum

dan sesudah pembelajaran materi pokok Benda dan Sifatnya?


3. Apakah ada perbedaan yang signifikan antara rata-rata hasil pre-test siswa

kelas eksperimen dengan rata-rata hasil pre-test kelas kontrol sebelum

pembelajaran pada materi pokok Benda dan Sifatnya?


4. Apakah rata-rata hasil post-test siswa kelas eksperimen lebih baik secara

signifikan daripada rata-rata hasil post-test siswa kelas kontrol sesudah

pembelajaran pada materi pokok Benda dan Sifatnya?


5. Apakah ada perbedaan yang signifikan dalam hal rata-rata peningkatan gain

hasil belajar antara siswa kelas eksperimen dan kelas kontrol sebelum dan

sesudah pembelajaran pada materi pokok Benda dan Sifatnya?

D. Tujuan Penelitian
Penelitian ini pada dasarnya adalah untuk mengembangkan penggunaan

bahan ajar bentuk komik dengan tujuan :

6
1. Mendapatkan gambaran hasil belajar siswa kelas kontrol sebelum dan

sesudah pembelajaran materi pokok Benda dan Sifatnya


2. Mendapatkan gambaran hasil belajar siswa kelas eksperimen sebelum dan

sesudah pembelajaran materi pokok Benda dan Sifatnya


3. Menunjukkan bahwa ada perbedaan yang signifikan dalam hal rata-rata

hasil pre-test siswa kelas eksperimen dan rata-rata hasil pre-test kelas

kontrol sebelum pembelajaran materi pokok Benda dan Sifatnya.


4. Menentukan bahwa rata-rata hasil post-test siswa kelas eksperimen lebih

baik dibandingkan dengan rata-rata hasil post-test kelas kontrol pada materi

pokok Benda dan Sifatnya


5. Menunjukkan bahwa ada perbedaan yang signifikan dalam hal rata-rata

peningkatan gain hasil belajar antara siswa kelas eksperimen dan kelas

kontrol sebelum dan sesudah pembelajaran pada materi pokok Benda dan

Sifatnya
E. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat sebagai berikut:
1. Manfaat teoritis, yaitu sebagai tambahan khasanah referensi di bidang

pendidikan, khususnya penyajian bahan ajar dalam proses belajar mengajar

di sekolah.
2. Manfaat praktis, yaitu hasil penelitian ini diharapkan mampu memberikan

manfaat untuk guru, siswa, dan sekolah


a. Bagi siswa dapat memberikan kesempatan untuk lebih aktif dan

kreatif dalam kegiatan pembelajaran.


b. Bagi Guru Sebagai masukan untuk memilih bahan ajar yang efektif

dan efisien dalam mengajar mata pelajaran fisika untuk meningkatkan

hasil belajar siswa. Selain itu, sebagai bahan informasi tentang arti

7
pentingnya penggunaan bahan ajar yang sesuai dengan materi untuk

meningkatkan nilai hasil belajar.


c. Bagi sekolah memberikan sumbangan dalam rangka memperbaiki

pembelajaran fisika
d. Bagi Peneliti dapat memperoleh ilmu pengetahuan tentang proses

pembelajaran dari praktek secara langsung dengan menerapkan

teori-teori yang telah didapat dan telaah kepustakaan serta mengetahui

arti pentingnya penggunaan variasi bahan ajar dalam mengajar mata

pelajaran fisika.

F. Definisi Operasional

Untuk menghindari adanya salah pemaknaan dari setiap istilah yang

digunakan dalam penelitian ini, maka secara operasional istilah-istilah tersebut

didefinisikan sebagai berikut :


1. Bahan ajar bentuk komik merupakan komik yang didesain secara khusus

berdasarkan acuan standar kompetensi dan kompetensi dasar sebagai bahan

pembelajaran untuk membelajarkan baik aspek kognitif, afektif, maupun

psikomotorik dengan cerita yang menarik dan ilustrasi yang mendukung

tanpa meninggalkan unsur-unsur dari sebuah komik. sehingga tercipta

lingkungan/suasana yang memungkinkan siswa untuk belajar.


2. Hasil belajar yang dimaksudkan dalam penelitian ini adalah hasil belajar

yang diperoleh dari nilai hasil test sebelum proses belajar mengajar

berlangsung (pre-test) dan test sesudah proses belajar mengajar berlangsung

(post-test ) mata pelajaran Sains IPA siwa kelas VI yang dilakukan pada

kelas eksperimen dan kelas kontrol pada materi pokok Benda dan Sifatnya.

8
3. Peningkatan hasil belajar dalam penelitian ini dimaksudkan nilai rata-rata

gain yakni peningkatan diperoleh dari nilai pre-test dan post-test hasil

belajar baik kelas eksperimen maupun kelas kontrol siswa kelas VI SD

Negeri 2 baruga.

9
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Konsep Belajar
Dalam keseluruhan proses pendidikan di sekolah kegiatan belajar

merupakan kegiatan yang paling pokok. Berarti bahwa berhasil tidaknya

pencapaian tujuan pendidikan banyak tergantung pada bagaimana proses

belajar yang dialami oleh siswa sebagai anak didik.

Jadi apakah belajar itu sebenarnya? Hamalik (2002:84) mengemukakan

bahwa belajar merupakan aspek dari perkembangan yang menunjuk kepada

perubahan (modifikasi) perilaku sebagai hasil dari praktik dan pengalaman.

Banyak definisi yang diberikan tentang belajar oleh beberapa ahli seperti yang

dikutip oleh Adrian (2004) dalam artikelnya adalah sebagai berikut:

1. Robert. M. Gagne (1984) dalam bukunya : The Conditioning of learning

mengemukakan bahwa : Learning is a change in human disposition or

capacity, wich persists over a period time, and wich is not simply

ascribable to process of growth.

Belajar adalah perubahan yang terjadi dalam kemampuan manusia setelah

belajar secara terus menerus, bukan hanya disebabkan oleh proses

pertumbuhan saja. Gagne berkeyakinan, bahwa belajar dipengaruhi oleh

faktor dari luar diri dan faktor dalam diri dan keduanya saling berinteraksi.

Dalam teori psikologi konsep belajar Gagne ini dinamakan perpaduan

antara aliran behaviorisme dan aliran instrumentalisme

10
2. Menurut Spears : Learning is to observe, to read, to imited, to try

something themselves, to listen, to follow direction, dimana pengalaman

itu dapat diperoleh dengan mempergunakan panca indra.


3. Hudgins Cs. (1982) berpendapat Hakekat belajar secara tradisional belajar

dapat didefinisikan sebagai suatu perubahan dalam tingkah laku, yang

mengakibatkan adanya pengalaman.


4. Ngalim Poerwanto, (1992) mengemukakan belajar adalah setiap perubahan

yang relatif menetap dalam tingkah laku, yang terjadi sebagai suatu hasil

dari latihan atau pengalaman.

Dari beberapa definisi belajar di atas dapat disimpulkan bahwa belajar

adalah segenap rangkaian kegiatan atau aktivitas yang dilakukan secara sadar

oleh seseorang dan mengakibatkan perubahan dalam dirinya berupa

penambahan pengetahuan atau kemahiran berdasarkan alat indera dan

pengalamannya. Oleh sebab itu apabila setelah belajar peserta didik tidak ada

perubahan tingkah laku yang positif dalam arti tidak memiliki kecakapan baru

serta wawasan pengetahuannya tidak bertambah maka dapat dikatakan bahwa

seseorang belum sepenuhnya belajar.

Belajar adalah suatu proses yang kompleks yang terjadi pada diri setiap

orang sepanjang hidupnya Belajar dapat terjadi kapan saja dan dimana saja.

Pertanda bahwa seseorang itu telah belajar adalah adanya perubahan tingkah

laku pada diri orang itu yang mungkin disebabkan oleh terjadinya perubahan

pada tingkat pengetahuan, keterampilan, atau sikapnya. Belajar meliputi tidak

hanya mata pelajaran, tetapi juga penguasaan, kebiasaan, persepsi, kesenangan,

11
minat, penyesuaian sosial, bermacam-macam keterampilan, dan cita-cita

(Arsyad, 2003:1).

Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan yang dikemukakan di atas,

Hilgard dan Brower mendefinisikan belajar sebagai perubahan dalam

perbuatan melalui aktivitas, praktek, dan pengalaman.

B. Konsep Mengajar
Kegiatan belajar mengajar merupakan kondisi yang dengan sengaja

diciptakan. Gurulah yang menciptakannnya guna membelajarkan anak didik.

Guru yang mengajar dan anak didik yang belajar. Perpaduan dari kedua unsur

manusiawi ini lahirlah interaksi edukatif dengan memanfaatkan bahan sebagai

mediumnya
Pandangan seorang pendidik tentang mengajar akan mempengaruhi

tindakannya dalam mengajar dan setiap pendidik bisa memiliki pandangan

yang berbeda tentang mengajar. Maka untuk memperoleh pandangan yang

objektif mengenai mengajar perlu dirumuskan secara jelas. Beberapa

pengertian mengenai mengajar yang dikemukakan oleh para ahli (dalam

Hamalik, 2002: 17-19) yaitu sebagai berikut:


Arifin (1978) mendefinisikan bahwa mengajar merupakan " suatu

rangkaian kegiatan penyampaian bahan pelajaran kepada murid agar dapat

menerima, menanggapi, menguasai dan mengembangkan bahan pelajaran itu".


Nasution (1986) berpendapat bahwa mengajar adalah " suatu aktivitas

mengorganisasi atau mengatur lingkungan sebaik-baiknya dan

menghubungkannya dengan anak, sehingga terjadi proses belajar".

12
Tardif (1989) mendefinisikan, mengajar adalah any action performed

by an individual (the teacher) with the intention of facilitating learning in

another individual (the learner). Yang berarti mengajar adalah perbuatan yang

dilakukan seseorang (dalam hal ini pendidik) dengan tujuan membantu atau

memudahkan orang lain (dalam hal ini peserta didik) melakukan kegiatan

belajar.
Menurut Sudjana (1989: 57) ada beberapa hal yang harus menjadi

bahan pertimbangan dalam menentukan metode mengajar yang akan

digunakan, yaitu: (a) tujuan pengajaran yang ingin dicapai, (b) bahan pelajaran

yang akan diajarkan, (c) jenis kegiatan belajar anak didik yang diinginkan.

Selain penggunaan metode-metode pengajaran kegiatan belajar mengajar juga

memerlukan suatu media pembelajaran karena pada proses belajar mengajar

media pengajaran dapat mempertinggi proses dan hasil pengajaran, hal ini

berkenaan dengan taraf berfikir mulai dari berfikir sederhana menuju ke

berfikir kompleks sebab melalui media pengajaran hal-hal yang abstrak dapat

dikonkritkan, dan hal-hal yang kompleks dapat disederhanakan. Kata media itu

sendiri berasal dari bahasa latin medius yang secara harfiah berarti tengah

atau pengantar (Ibrahim dkk, 2001: 16).


Maksud dalam pengertian ini adalah, guru, bahan ajar, dan lingkungan

sekolah merupakan media. Lingkungan belajar yang diatur oleh guru

mencakup tujuan pengajaran, metodologi pengajaran dan penilaian pengajaran.

Unsur-unsur tersebut biasa dikenal dengan komponen-komponen pengajaran.

Tujuan pengajaran adalah rumusan kemampuan yang diharapkan dimiliki para

13
siswa setelah ia menempuh berbagai pengalaman belajarnya (pada akhir

pengajaran). Pada metodologi pengajaran ada dua aspek yang paling menonjol

yakni metode dan media pengajaran sebagai alat bantu mengajar. Pengertian

dari penilaian adalah alat untuk mengukur atau menentukan taraf tercapai

tidaknya tujuan pengajaran.


Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa kedudukan media

pengajaran sebagai alat bantu mengajar ada dalam komponen metodologi,

sebagai salah satu lingkungan belajar yang di atur oleh guru. Ada beberapa

jenis media pengajaran yang biasanya digunakan dalam proses pembelajaran,

salah satunya yaitu media grafis contohnya gambar, foto, grafik, bagan atau

diagram, poster, kartun, atau komik. Penelitian ini menggunakan bahan ajar

dalam bentuk komik yang dipergunakan untuk usaha membangkitkan minat

siswa, memberi motivasi, hasil belajarsiswa akan pelajaran fisika.


C. Pembelajaran Sains di SD
IPA sains membahas tentang gejala-gejala alam yang disusun secara

sistematis yang didasarkan pada hasil percobaan dan pengamatan yang

dilakukan oleh manusia. Hal ini sebagaimana yang dikemukakan oleh Powler

(dalam Wina-putra, 1992:122) bahwa IPA merupakan ilmu yang berhubungan

dengan gejala-gejala alam dan kebendaan yang sistematis yang tersusun secara

teratur, berlaku umum yang berupa kumpulan dari hasil obervasi dan

eksperimen.
Pembelajaran IPA (Sains) sebagai media pengembangan potensi siswa

SD seharusnya didasarkan pada karakteristik psikologis anak; memberikan

kesenangan bermain dan kepuasan intelektual bagi mereka dalam membongkar

14
misteri, seluk beluk dan teka-teki fenomena alam di sekitar dirinya;

mengembangkan potensi saintis yang terdapat dalam dirinya; memperbaiki

konsepsi mereka yang masih keliru tentang fenomena alam; sambil membekali

keterampilan dan membangun konsep-konsep baru yang harus dikuasainya.

Berdasarkan jenjang dan karakteristik perkembangan intelektual anak seusia

siswa SD maka penyajian konsep dan keterampilan dalam pembelajaran IPA

harus dimulai dari nyata (konkrit) ke abstrak; dari mudah ke sukar; dari

sederhana ke rumit, dan dari dekat ke jauh. Dengan kata lain, mulailah dari apa

yang ada pada/di sekitar siswa dan yang dikenal, diminati serta diperlukan

siswa. Secara psikologis, anak usia SD berada dalam dunia bermain. Tugas

guru adalah menciptakan dan mengoptimalkan suasana bermain tersebut dalam

kelas sehingga menjadi media yang efektif untuk membelajarkan siswa dalam

IPA.
Berdasarkan hasil survey dan penelitian oleh Edi (2010) di sejumlah

SD, pembelajaran IPA di sekolah dasar tradisional telah mengalihkan anak dari

pendekatan "global learning" yang menyenangkan dan holistik menjadi

pendekatan kaku, linear, dan verbalistis. Masih sering terjadi, dalam

pembelajaran IPA guru mengharapkan siswa diam dengan sikap duduk tegak

dan bersidekap tangan, dalam deretan bangku-bangku yang berjajar menghadap

ke depan, sementara guru dengan fasih menceramahkan materi IPA


D. Bahan Ajar

Dalam Peraturan Pemerintah No. 19, Bab IV, pasal 19 ayat (1) tahun

2005 (Depdiknas, 2005) menyatakan: Proses pembelajaran pada satuan

15
pendidikan diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan,

menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta

memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian

sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta

didik.

Untuk mewujudkan proses pembelajaran seperti di atas guru harus

membuat perencanaan pembelajaran. Salah satu substansi perencanaan

pembelajaran dalah bahan ajar. Bahan ajar atau teaching-material, terdiri atas

dua kata yaitu teaching atau mengajar dan material atau bahan. Bahan ajar

adalah segala bentuk bahan yang digunakan untuk membantu guru/instruktor

dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar. Bahan yang dimaksud bisa

berupa bahan tertulis maupun bahan tidak tertulis.

Bahan ajar adalah materi yang harus dipelajari siswa sebagai sarana

untuk mencapai standar kompetensi dan kompetensi dasar (Depdiknas, 2003).

Materi pembelajaran (instructional materials) adalah pengetahuan,

keterampilan, dan sikap yang harus diajarkan guru dan dipelajari siswa untuk

mencapai standar kompetensi dan kompetensi dasar. Ada beberapa jenis materi

pelajaran. Jenis-jenis itu adalah fakta, konsep, prinsip, prosedur, dan sikap atau

nilai.
Materi pembelajaran yang termasuk fakta misalnya nama-nama objek,

peristiwa sejarah, lambang, nama tempat, nama orang, dan sebagainya. Materi

pembelajaran yang termasuk konsep misalnya pengertian, definisi, ciri khusus,

16
komponen, dan sebagainya. Materi pembelajaran yang temasuk prinsip

umpamanya dahlil, rumus, adigium, postulat, teorema, atau hubungan

antarkonsep yang menggambarkan jika dan maka, contohnya Jika logam

dipanaskan maka logam akan memuai . Materi pembelajaran yang berupa

prosedur adalah langkah-langkah secara sistematis atau berurutan dalam

mengerjakan tugas. Termasuk di dalamnya cara-cara yang digunakan untuk

melakukan atau menghasilkan sesuatu. Sikap atau nilai merupakan materi

pembelajaran afektif seperti kejujuran, kasih sayang, tolong-menolong,

semangat, dan minat belajar. Dengan bahan ajar memungkinkan siswa dapat

mempelajari suatu kompetensi atau KD secara runtut dan sistematis sehingga

secara akumulatif mampu menguasai semua kompetensi secara utuh dan

terpadu.
Berdasarkan teknologi yang digunakan, bahan ajar dapat

dikelompokkan menjadi empat kategori, yaitu (Ilham: 2009) :

a. Bahan ajar cetak (printed) seperti antara lain handout, buku, modul, lembar

kerja siswa, brosur, leaflet, wallchart, foto/gambar, model/maket.


b. Bahan ajar dengar (audio) seperti kaset, radio, piringan hitam, dan compact

disk audio.
c. Bahan ajar pandang dengar (audio visual) seperti video compact disk,

film.
d. Bahan ajar multimedia interaktif (interactive teaching material) seperti

CAI (Computer Assisted Instruction), compact disk (CD) multimedia

pembelajarn interaktif, dan bahan ajar berbasis web (web based learning

materials).

17
Dalam website Dikmenjur (dalam Ilham, 2009) dikemukakan bahwa

bahan ajar berfungsi sebagai:

a. Pedoman bagi Guru yang akan mengarahkan semua aktivitasnya dalam

proses pembelajaran, sekaligus merupakan substansi kompetensi yang

seharusnya diajarkan kepada siswa.

b. Pedoman bagi Siswa yang akan mengarahkan semua aktivitasnya dalam

proses pembelajaran, sekaligus merupakan substansi kompetensi yang

seharusnya dipelajari/dikuasainya.

c. Alat evaluasi pencapaian/penguasaan hasil pembelajaran.

Pendapat lain menyatakan Bahan ajar merupakan informasi, alat dan

teks yang diperlukan guru/instruktor untuk perencanaan dan penelaahan

implementasi pembelajaran (Anonim).

Bahan ajar memiliki posisi amat penting dalam pembelajaran. Posisinya

adalah sebagai representasi (wakil) dari penjelasan guru di depan kelas.

Keterangan-keterangan guru, uraian-uraian yang harus disampaikan guru, dan

informasi yang harus disajikan guru dihimpun di dalam bahan ajar. Jika

memang masih harus menjelaskan, guru hanya menjelaskan hal-hal yang

kurang atau tidak dipahami peserta didik dari bahan ajar. Artinya, bahan ajar

memberikan informasi lengkap kepada peserta didik tentang hal-hal yang

18
berhubungan dengan pembelajaran seperti cara belajar, materi ajar, tugas-tugas

yang akan dikerjakan, dan pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawab.

Pada sisi lain, bahan ajar berkedudukan sebagai alat atau sarana untuk

mencapai standar kompetensi dan kompetensi dasar. Oleh karena itu,

penyusunan bahan ajar hendaklah berpedoman kepada standar kompetensi

(SK) dan kompetensi dasar (KD). Bahan ajar yang disusun bukan

mempedomani SK dan KD, tentulah tidak akan memberikan banyak manfaat

kepada peserta didik.

Bahan ajar juga merupakan wujud pelayanan satuan pendidikan

terhadap peserta didik. Pelayanan individual dapat terjadi dengan bahan ajar.

Peserta didik berhadapan dengan bahan yang terdokumentasi. Ia berurusan

dengan informasi yang konsisten (taat asas). Peserta yang cepat belajar, akan

dapat mengoptimalkan kemampuannya dengan mempelajari bahan ajar. Peserta

didik yang lambat belajar, akan dapat mempelajari bahan ajarnya berulang-

ulang. Dengan demikian, optimalisasi pelayanan belajar terhadap peserta didik

dapat terjadi dengan bahan ajar.

Jadi, Bahan ajar sekurang-kurangnya menempati tiga posisi penting.

Ketiga posisi itu adalah sebagai representasi sajian guru, sebagai sarana

pencapaian standar kompetensi dan kompetensi dasar, dan sebagai

pengoptimalan pelayanan terhadap peserta didik. Penggunaan bahan ajar di

19
kelas diasumsikan dapat mewujudukan proses pembelajaran yang diacu oleh

stndar nasional pendidikan.

Bahan ajar dikatakan baik ketika telah memenuhi kriteria Komponen

kelayakan isi mencakup, antara lain: Kesesuaian dengan SK, KD Kesesuaian

dengan perkembangan anak, Kesesuaian dengan kebutuhan bahan ajar

Kebenaran substansi materi pembelajaran, Manfaat untuk penambahan

wawasan, Kesesuaian dengan nilai moral, dan nilai-nilai sosial. Komponen

Kebahasaan antara lain mencakup: Keterbacaan, Kejelasan informasi,

Kesesuaian dengan kaidah Bahasa Indonesia yang baik dan benar, Pemanfaatan

bahasa secara efektif dan efisien (jelas dan singkat). Komponen Penyajian

antara lain mencakup: Kejelasan tujuan (indikator) yang ingin dicapai, Urutan

sajian, Pemberian motivasi, daya tarik, Interaksi (pemberian stimulus dan

respond) kelengkapan informasi. Komponen Kegrafikan antara lain mencakup:

Penggunaan font; jenis dan ukuran, Layout atau tata letak, Ilustrasi, gambar,

foto, Desain tampilan.

20
E. Komik sebagai bahan ajar

Ketertarikan manusia akan sastra berlangsung dari masa ke masa. Sastra

sebagai salah satu kebutuhan umat manusia akan terus berkembang dengan

berbagai model dan bentuknya. Termasuk kategori sastra yang populer di masa

modern ini adalah komik. Ketertarikan masyarakat terhadap komik, khususnya

anak-anak menggambarkan bagaimana jenis sastra yang satu ini seakan mampu

mengobati dahaga imajinasi pembacanya.

Menurut Eisner dalam Ajidarama (2002: 5) komik adalah tatanan

gambar dan balon kata yang berurutan dalam sebuah komik, Will Eisner juga

mendefinisikan eknis dan struktur komik sebagai sequential art yaitu susunan

gambar dan kata-kata untuk menceritakan sesuatu atau mendramatisasi suatu

ide.

Menurut McCloud dalam bukunya Understanding Comic (2001: 137),

komik adalah gambar-gambar serta lambang-lambang lain yang

terjungtaposisi /bersebelahan dalam turutan tertentu.

Penggunaan komik sebagai bahan pembelajaran di sekolah sangat

potensial. Aspek visual merupakan salah satu yang ditawarkan oleh komik.

Berbeda dengan televisi yang lebih memaksa mata dan telinga, komik

mendorong kita untuk mengoptimalkan mata untuk mencermati panel-panel

21
dan teks yang disertakan karena kebanyakan orang merupakan pembelajar

visual yang mengasosiasikan kepingan informasi dengan imaji tertentu (Ascott

2006). Jadi, komik dapat dipakai untuk menolong dalam pembelajaran pada

hampir seluruh topik.

Menurut Tiedt dalam Ajidarma (2002: 8) secara umum buku bergambar

(komik) terdiri atas paduan kata-kata (bahasa) dan gambar. Bahasa dalam

komik kebanyakan berisi berupa kalimat langsung. Fungsi bahasanya tidak

hanya untuk menjelaskan, melengkapkan, atau memperdalam pengertian

teksnya. Dibandingkan dengan kisah gambar, disini bahasa dan gambarnya

secara langsung saling terpadukan. Isi ceritanya disajikan melalui penataan

gambar-gambar tunggal dalam suatu urutan dan berhubungan dengan tema-

tema yang universal sehingga anak-anak dapat memahaminya.

Komik menjadi pilihan karena adanya kecenderungan banyak siswa

lebih menyenangi bacaan hiburan seperti komik dibandingkan dengan

menggunakan waktu mereka untuk belajar atau mengerjakan tugas rumah.

Sebagai medium instruksional edukatif, bahan ajar dalam bentuk komik

mempunyai sifat yang sederhana, jelas, dan mudah. Komik diterbitkan dalam

tujuan komersil dan edukatif. Selain menarik perhatian siswa, komik memuat

serangkaian urut-urutan gambar yang akan mempermudah siswa dalam

memahami pelajaran. Sudjana dan Rivai (2002: 68), menyatakan bahwa

22
peranan pokok dari komik dalam pengajaran adalah kemampuannya dalam

menciptakan minat para siswa. Penggunaan komik sebagai bahan ajar

sebaiknya dipadu dengan metode mengajar, sehingga komik akan menjadi alat

dan bahan pengajaran yang efektif. Serentetan urutan gambar yang ada, komik

dapat menjadi pelajaran yang efektif dimana siswa akan tertarik untuk

membacanya tanpa harus dibujuk.

Komik merupakan media, media penyampaian ide, gagasan dan bahkan

kebebasan berpikir. Isi pesan dari komik itu lah yang menjadi kunci. Bentuk

komik yang berupa gambar dan tulisan dapat memudahkan siswa dalam

memahami konsep-konsep dasar fisika.

Dalam rangka memanfaatkan komik sebagai bahan pembelajaran

disekolah guru harus menggunakan motivasi potensial dari buku-buku komik,

tetapi jangan berhenti hanya sampai di situ saja. Sekali minat telah

dibangkitkan, cerita bergambar harus dilengkapi oleh materi bacaan, gambar

tetap model (foto), percakapan serta berbagai kegiatan kreatif.

F. Kelebihan dan Kekurangan Penggunaan Bahan Ajar komik

Sebagai salah satu media visual, komik tentunya memiliki kelebihan

tersendiri jika dimanfaatkan dalam kegiatan belajar mengajar. Kelebihan komik

dalam kegiatan belajar mengajar menurut Trimo (1997: 22), dinyatakan :

23
a. Komik menambah pembendaharaan kata-kata pembacanya

b. Mempermudah anak didik menangkap hal-hal atau rumusan yang abstrak;

c. Dapat mengembangkan minat baca anak dan salah satu bidang studi yang

lain;

d. Seluruh jalan cerita komik pada menuju satu hal yakni kebaikan atau studi

yang lain;

Menurut Yang (2003) terdapat 5 Keunggulan penggunaan komik dalam

kegiatan pembelajaran yaitu :

Memotivasi. Sejauh ini, kemampuan komik untuk memotivasi siswa

dalam proses pendidikan merupakan hal yang paling sering disebut. Anak-anak

memiliki daya ketertarikan yang alami terhadap komik. Dengan menggunakan

komik dalam pembelajaran di ruang kelas, pendidik dapat memperoleh

keuntungan dari kekuatan motivasi komik yang fantastik.

Para siswa yang mengikuti kelas "KOMIK SAINS" di Kakalio (2002),

menyatakan komik memberikan motivasi yang cukup bagi mereka untuk

memahami contoh kasus yang terdapat dalam pengantar fisika dan

memudahkan siswa dalam melaksanakan kegiatan serta lebih menghemat

waktu.

24
Gambar. Komik, berisikan ikon-ikon dan gambar-gambar lain, yang

merupakan dasar media visual. Gambar dan kata-kata bersama-sama

menanggung beban dalam merangkai cerita. Komik dapat menggambarkan

wajah manusia pada setiap subyek yang menghasilkan kemesraan, hubungan

emosi antara murid dan karakter yang diceritakan komik.

Perantara/ penengah. Komik dapat menjadi perantara disiplin ilmu

dan konsep yang sulit dipahami siswa.

Terkenal. Anak-anak abad 21 ini, berkembang dalam budaya yang

populer. dengan memasukkan budaya popular dalam kurikulum, guru dapat

menghilangkan perbedaaan situasi yang dialami siswa di dalam sekolah dengan

di luar sekolah. Para guru dapat memperkenalkan budaya popular dalam kelas

mereka secara lebih mudah dan efektif dengan menggunakan komik. Komik

telah menjadi bagian yang vital dari budaya popular pada abad ini.

Selain memiliki beberapa keunggulan komik sebagai bahan ajar juga

memiliki beberapa kelemahan. Menurut Hurlock (2000: 45-46) beberapa

kelemahan Educational Comic adalah sebagai berikut :

1) Komik mengalihkan perhatian anak dari bacaan lain yang lebih berguna;

2) Karena gambar menerangkan cerita, anak yang kurang mampu membaca

tidak berusaha membaca teks;

25
3) Terdapat sedikit atau bahkan tidak ada kemajuan pengalaman membaca

dalam komik;

4) Lukisan, cerita, dan bahasa komik kebanyakan bermutu rendah;

5) Komik menghambat anak melakukan bentuk bermain lainnya;

6) Dengan menggambarkan perilaku antisosial, komik mendorong

timbulnya agresivitas dan kenakalan remaja;

7) Komik menjadikan kehidupan sebenarnya membosankan dan tidak

menarik; dan

8) Komik menimbulkan stereotipe terhadap orang-orang dan ini mendorong

timbulnya prasangka.

Dengan demikian, buku-buku komik selain berfungsi sebagai media

hiburan, juga dapat dipergunakan secara efektif dalam upaya membangkitkan

minat baca, mengembangkan perbendaharaan kata-kata dan keterampilan

membaca serta dapat dijadikan media efektif untuk mencapai tujuan

pembelajaran. Untuk pembelajaran di sekolah tentu dipilih komik yang dapat

mendidik, dapat menimbulkan gairah belajar pada anak-anak, komik yang lucu,

dan komik yang dikenal oleh anak-anak dan disesuaikan dengan dunianya.

G. Hasil Belajar

26
Hasil belajar merupakan suatu puncak proses belajar. Hasil belajar
tersebut terjadi terutama berkat evaluasi guru. Hasil belajar dapat berupa
dampak pengajaran dan dampak pengiring. Kedua dampak tersebut bermanfaat
bagi guru dan siswa Menurut Woordworth (dalam Ismihyani :2000), hasil
belajar merupakan perubahan tingkah laku sebagai akibat dari proses belajar.
Woordworth juga mengatakan bahwa hasil belajar adalah kemampuan aktual
yang diukur secara langsung. Hasil pengukuran belajar inilah akhirnya akan
mengetahui seberapa jauh tujuan pendidikan dan pengajaran yang telah
dicapai.
(Winkel dalam Ismihyani :2000), Bloom merumuskan hasil belajar
sebagai perubahan tingkah laku yang meliputi domain (ranah) kognitif, ranah
afektif dan ranah psikomotorik dimana dalam ranah kognitif , hasil belajar
tersusun dalam enam tingkatan. Enam tingkatan tersebut ialah, (1) Pengetahuan
atau ingatan, (2) Pemahaman,(3) Penerapan, (4) Sintesis, (5) Analisis dan (6)
Evaluasi. Adapun ranah psikomotorik terdiri dari lima tingkatan yaitu,
1) Peniruan (menirukan gerak), 2) Penggunaan (menggunakan konsep untuk
melakukan gerak), 3) Ketepatan (melakukan gerak dengan benar),
4) Perangkaian (melakukan beberapa gerakan sekaligus dengan benar),
5) Naturalisasi (melakukan gerak secara wajar). Sedangkan ranah afektif
terdiri dari lima tingkatan yaitu, 1) Pengenalan (ingin menerima, sadar akan
adanya sesuatu), 2) Merespon (aktif berpartisipasi), 3) Penghargaan (menerima
nilai-nilai, setia pada nilai-nilai tertentu), 4) Pengorganisasian (menghubung-
hubungkan nilai-nilai yang dipercaya) dan 5) Pengamalan (menjadikan nilai-
nilai sebagai bagian dari pola hidup).
Hasil belajar adalah sesuatu yang diperoleh setelah melakukan kegiatan
belajar dan menjadi indikator keberhasilan seorang siswa dalam mengikuti
pembelajaran. Hasil belajar ditandai adanya suatu perubahan dalam diri siswa.
Oleh karena itu, setiap perubahan dari individu yang diperoleh melalui belajar
merupakan hasil belajar. Menurut Usman dan Setiawati (1995: 4), bahwa
seseorang yang telah mengalami proses belajar akan mengalami perubahan
tingkah laku baik dalam aspek pengetahuannya maupun keterampilan. Jadi
jelaslah bahwa belajar menghasilkan perubahan dalam diri seseorang sebagai
hasil dari belajar atau prestasi dari belajarnya itu.
Hasil belajar adalah perubahan yang terjadi pada diri individu yang
belajar, bukan saja perubahan mengenai pengetahuan tetapi kemampuan untuk

27
membentuk kecakapan kebiasaan sikap, pengertian penguasaan dan
penghargaan dalam diri individu yang belajar. Hasil belajar merupakan suatu
hasil belajar yang dicapai oleh siswa setelah pembelajaran dalam selang waktu
tertentu, yang diukur dengan menggunakan alat evaluasi tertentu.
Arikunto (1990:133) menyatakan bahwa, hasil belajar adalah hasil akhir
setelah mengalami proses belajar, perubahan itu tampak dalam perbuatan yang
dapat diamati dan dapat diukur. Nasution (1995: 25) mengemukakan bahwa,
hasil adalah suatu perubahan pada diri individu. Perubahan yang dimaksud
tidak halnya perubahan pengetahuan, tetapi juga meliputi perubahan
kecakapan, sikap, pengertian, dan penghargaan diri pada individu tersebut.
Nana Sudjana (2004: 22) Menyatakan bahwa hasil belajar dibagi
menjadi tiga macam hasil belajar yaitu : (a). Keterampilan dan kebiasaan;
(b). Pengetahuan dan pengertian; (c). Sikap dan cita-cita, yang masing-masing
golongan dapat diisi dengan bahan yang ada pada kurikulum sekolah. Faktor-
faktor yang mempengaruhi hasil belajar yaitu :
1. Faktor Internal (dari dalam individu yang belajar).
Faktor yang mempengaruhi kegiatan belajar ini lebih ditekankan
pada faktor dari dalam individu yang belajar. Adapun faktor yang
mempengaruhi kegiatan tersebut adalah faktor psikologis, antara lain yaitu
motivasi, perhatian, pengamatan, tanggapan dan lain sebagainya.
2. Faktor Eksternal (dari luar individu yang belajar).
Pencapaian tujuan belajar perlu diciptakan adanya sistem
lingkungan belajar yang kondusif. Hal ini akan berkaitan dengan faktor
dari luar siswa. Adapun faktor yang mempengaruhi adalah mendapatkan
pengetahuan, penanaman konsep dan keterampilan, dan pembentukan
sikap.
Menurut Purwanto (1990 :3), evaluasi dalam pendidikan adalah
penafsiran atau penilaian terhadap pertumbuhan dan perkembangan siswa
menuju kearah tujuan-tujuan dan nilai-nilai yang ditetapkan dalam
kurikulum dimana hasil penilaian ini pada dasarnya adalah hasil belajar
yang diukur dan merupakan umpan balik untuk mengetahui sampai
dimana proses belajar mengajar yang telah dilaksanakan.
H. Penelitian yang Relevan

28
Penelitian yang dilakukan oleh Fuad Muttaqin, (2009) dengan judul

Pengembangan Komik Pembelajaran Sebagai Alternatif Media Pembelajaran

Sains kelas III di SDN 2 Galadag Kabupaten Banyuwangi pokok bahasan

makhluk hidup, dengan sub pokok bahasan cir-ciri makhluk hidup. Diperoleh hasil

bahwa untuk rata-rata kelas pada post-test mencapai nilai 70, yaitu lebih tinggi

dari nilai rata-rata pre-test yaitu 55. Sedangkan hasil uji coba lapangan untuk rata-

rata kelas pada post-test mencapai nilai 82,5 lebih tinggi dari nilai rata-rata pre-

test yaitu 68,5.

Penelitian yang dilakukan oleh Nur Mariyanah, (2005), dengan judul

Efektivitas Media Komik dengan Media Gambar dalam Pembelajaran Geografi

Pokok Bahasan Perhubungan dan Pengangkutan. (Studi Eksperimen Pada Siswa

Kelas II SMPN I Pegandon Kabupaten Kendal). Diperoleh hasil yaitu hasil

belajar menggunakan media komik lebih baik dibandingkan dengan hasil belajar

siswa yang menggunakan media gambar, media komik lebih efektif untuk

mencapai prestasi belajar geografi dibandingkan dengan media gambar pada

siswa kelas II SMP N I Pegandon Kendal.

Penelitian yang dilakukan oleh Widya Prindani, (2009). Dengan judul

Uji Coba Komik Fisika Berjudul Bunyi Karya Istianah Qudsi FT sebagai Media

Pembelajaran IPA SMP Kelas VIII (Penelitian Eksperimen Semu Pada siswa

Kelas VIII SMP Negeri 1 Kraksaan Probolinggo). Diperoleh hasil yaitu komik

Fisika berjudul Bunyi efektif sebagai media pembelajaran Fisika kelas VIII

SMPN 1 Kraksaan Probolinggo.

29
I. Hipotesis penelitian

Berdasarkan kajian teori, maka hipotesis dalam penelitian eksperimen ini

secara umum dirumuskan sebagai berikut :

1. Hipotesis pertama : tidak ada perbedaan yang signifikan dalam hal rata-rata

hasil pre-test siswa kelas eksperimen dengan rata-rata hasil pre-test siswa kelas

kontrol sebelum pembelajaran pada materi pokok benda dan sifatnya


Secara statistik dirumuskan :
H0 : 1 = 2 lawan H1 : 1 2
2. Hipotesis kedua : rata-rata hasil post-test siswa kelas eksperimen lebih baik

dari rata-rata hasil post-test siswa kelas kontrol


Secara statistik dirumuskan :
H : lawan H : >
0 1 2 1 1 2

Dengan :
H0 = Tidak ada perbedaan yang signifikan dalam hal rata-rata hasil post-

test siswa kelas eksperimen dengan rata-rata hasil pos-test siswa

kelas kontrol

H1 = Rata-rata hasil post-test siswa kelas eksperimen lebih baik dari rata-

rata hasil post-test siswa kelas kontrol

1 = Rata-rata hasil post-test siswa kelas eksperimen


2 = Rata-rata hasil post-test siswa kelas kontrol
3. Hipotesis ketiga : gain hasil belajar siswa kelas eksperimen lebih baik

dibandingkan gain hasil belajar siswa kelas kontrol


Secara statistik dirumuskan :
H : lawan H : >
0 1 2 1 1 2

Dengan :
H0 = Tidak ada perbedaan yang signifikan antara gain hasil belajar siswa

kelas eksperimen dan gain hasil belajar siswa pada kelas kontrol

30
H1 = Gain hasil nelajar siswa pada kelas eksperimen lebih baik dibandingkan

gain hasil belajar siswa pada kelas kontrol

1 = Rata-rata gain hasil belajar siswa kelas eksperimen


2 = Rata-rata gain hasil belajar siswa kelas kontrol

31