Anda di halaman 1dari 11

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Perkembangan organisasi gerakan Islam di Indonesia tumbuh dan
berkembang sejak dari negeri ini belum mencapai kemerdekaan secara fisik
sampai pada masa reformasi sekarang ini. Perkembangannya, bahkan, kian
pesat dengan dilakukannya tajdid (pembaharuan) di masing-masing gerakan
Islam tersebut. Salah satu organisasi gerakan Islam itu adalah
Muhammadiyah. Muhammadiyah adalah sebuah organisasi Islam yang besar
di Indonesia.
Bahkan merupakan gerakan kemanusiaan terbesar di dunia di luar
gerakan kemanusiaan yang dilaksanakan oleh gereja, sebagaimana disinyalir
oleh seorang James L. Peacock . Di sebahagian negara di dunia,
Muhammadiyah memiliki kantor cabang internasional (PCIM) seperti PCIM
Kairo-Mesir, PCIM Republik Islam Iran, PCIM KhartoumSudan, PCIM
Belanda, PCIM Jerman, PCIM Inggris, PCIM Libya, PCIM Kuala Lumpur,
PCIM Perancis, PCIM Amerika Serikat, dan PCIM Jepang. PCIM-PCIM
tersebut didirikan dengan berdasarkan pada SK PP Muhammadiyah . Di tanah
air, Muhammadiyah tidak hanya berada di kota-kota besar, tapi telah
merambah sampai ke tingkat kecamatan di seluruh Indonesia, dari mulai
tingkat pusat sampai ke tingkat ranting.
Nama organisasi ini diambil dari nama Nabi Muhammad SAW, sehingga
Muhammadiyah juga dapat dikenal sebagai orang-orang yang menjadi
pengikut Nabi Muhammad SAW. Selain itu Muhammadiyah sebagai gerakan
Islam memiliki cita-cita ideal yang dengan sungguh-sungguh ingin diraih,
yaitu mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. Dengan cita-
cita yang ingin diwujudkan itu, Muhammadiyah memiliki arah yang jelas
dalam gerakannya.
Dalam pembentukannya, Muhammadiyah banyak merefleksikan kepada
perintah-perintah Al Quran, diantaranya dalam QS. Ali Imran ayat 104 yang
berbunyi:

1
Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru
kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang
munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.
Ayat tersebut, menurut para tokoh Muhammadiyah, mengandung isyarat
untuk bergeraknya umat dalam menjalankan dakwah Islam secara
teorganisasi.

B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan Muhammadiyah?
2. Bagaimana sejarah Muhammadiyah?
3. Bagaimana paham keagamaan Muhammadiyah?
4. Siapa saja tokoh-tokoh pendiri Muhammadiyah?
5. Bagaimana struktur pengurus Muhammadiyah?

C. Tujuan
1. Untuk mengetahui definisi dari Muhammadiyah.
2. Untuk mengetahui sejarah Muhammadiyah.
3. Untuk mengetahui paham keagamaan Muhammadiyah.
4. Untuk mengetahui tokoh-tokoh pendiri Muhammadiyah.
5. Untuk mengetahui struktur pengurus Muhammadiyah.

2
BAB II TINJAUAN TEORI

A. Definisi Muhammadiyah
Secara (Etimologis) Muhamadiyah berasal dari kata bahasa Arab
Muhammad, yaitu nama nabi dan rasul Allah yang terkhir. Kemudian
mendapatkan ya nisbiyah, yang artinya menjeniskan. Jadi, Muhamadiyah
berarti umat Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam atau pengikut
Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam, yaitu semua orang Islam yang
mengakui dan meyakini bahwa Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa
sallam adalah hamba dan pesuruh Allah yang terakhir.
Menurut istilah, dapat diberi batasan pengertian bahwa Muhammadiyah
adalah organisasi islam yang didirikan oleh KH Ahmad Dahlam dengan
maksud agar umat islam di Indonesia daam melaksanakan ajaran Islam sesuai
dengan ditintunkan oleh Rasulullah Muhammad SAW.

B. Sejarah Berdirinya Muhammadiyah


Umat Islam sebelum terbentuknya Muhammadiyah masih percaya pada
hal- hal yang mistik, seperti pemberian sesajen pada benda-benda atau tempat
yang dianggap keramat. Bahkan sampai sekarang hal- hal seperti itu masih
ada, seperti yang kita lihat didaerah Lombok, ada seorang yang menganggap
bahwa foto Tuan Guru dapat membantunya terlepas dari nasib buruk. Dan
banyak sekali ajaran-ajaran yang dicampur dengan perbuatan-perbuatan yang
melanggar aturan agama, seperti yang kita lihat di dalam Film Sang Pencerah.
Sebuah keluarga yang memberikan sesajen ke pohon besar, sesajen tersebut
diambil oleh seseorang sehingga keluarga tersebut merasa senang karena
beranggapan bahwa sesajennya telah diterima oleh Allah swt.

Dari cerita diatas dapat dikatakan bahwa agama yang disiarkan pada saat
tersebut masih disisipkan sebuah perbuatan yang secara langsung dilarang
dalam Kitabullah dan Sunnah Rasullullah.

K.H. Ahmad Dahlan sebelum membentuk perkumpulan Muhammadiyah


terlebih dahulu pergi memdalami ilmu agama ke Kota Suci Makkah sekaligus
melaksanakan ibadah haji yang kedua kali pada tahun1903. Setelah
menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci Makkah, Kyai Dahlan mulai

3
menyemaikan benih pembaruan di Tanah Air. Gagasan pembaruan itu
diperoleh Kyai Dahlan setelah berguru kepada ulama-ulama Indonesia yang
bermukim di Mekkah seperti Syeikh Ahmad Khatib dari Minangkabau, Kyai
Nawawi dari Banten, Kyai Mas Abdullah dari Surabaya, dan Kyai Fakih dari
Maskumambang, juga setelah membaca pemikiran-pemikiran para pembaru
Islam seperti Ibnu Taimiyah, Muhammad bin Abdil Wahhab, Jamaluddin Al-
Afghani, Muhammad Abduh, dan Rasyid Ridha. Dengan modal kecerdasan
dirinya serta interaksi selama bermukim di kota suci Mekkah dan bacaan atas
karya- karya para pembaru pemikiran Islam itu telah menanamkan benih ide-
ide pembaruan dalam diri K.H. Ahmad Dahlan. Jadi sekembalinya dari
Mekkah, K.H. Ahmad Dahlan justru membawa ide dan gerakan pembaruan.

Benih kelahiran Muhammadiyah sebagai organisasi untuk


mengaktualisasikan gagasan-gagasannya merupakan hasil interaksi K.H.
Ahmad Dahlan dengan kawan-kawan dari Boedi Oetomo yang tertarik
dengan masalah agama yang diajarkan K.H. Ahmad Dahlan, yakni
R.Budihardjo dan R.Sosrosugondo. Gagasan itu juga merupakan saran dari
salah seorang siswa K.H. Ahmad Dahlan di Kweekscholl Jetis di mana Kyai
mengajar agama pada sekolah tersebut secara ekstrakulikuler, yang sering
datang ke rumah Kyai dan menyarankan agar kegiatan pendidikan yang
dirintis K.H. Ahmad Dahlan tidak diurus oleh Kyai sendiri tetapi oleh suatu
organisasi agar terdapat kesinambungan setelah Kyai wafat. Dalam catatan
Adaby Darban, ahli sejarah dari UGM kelahiran Kauman, nama
Muhammadiyah pada mulanya diusulkan oleh kerabat dan sekaligus
sahabat K.H. Ahmad Dahlan yang bernama Muhammad Sangidu, seorang
Ketib Anom Kraton Yogyakarta dan tokoh pembaruan yang kemudian
menjadi penghulu Kraton Yogyakarta, yang kemudian diputuskan Kyai
Dahlan setelah melalui shalat istikharah (Darban, 2000: 34). Artinya pilihan
untuk mendirikan Muhammadiyah memiliki dimensi spiritualitas yang tinggi
sebagaimana tradisi kyai atau dunia pesantren.

Gagasan untuk mendirikan organisasi Muhammadiyah tersebut selain


untuk mengaktualisasikan pikiran-pikiran pembaruan Kyai Dahlan, menurut

4
Adaby Darban (2000: 13) secara praktis-organisatoris untuk mewadahi dan
memayungi sekolah Madrasah Ibtidaiyah Diniyah Islamiyah, yang
didirikannya pada 1 Desember 1911. Sekolah tersebut merupakan rintisan
lanjutan dari sekolah ( kegiatan K.H. Ahmad Dahlan dalam menjelaskan
ajaran Islam ) yang dikembangkan K.H. Ahmad Dahlan secara informal
dalam memberikan pelajaran yang mengandung ilmu agama Islam dan
pengetahuan umum di beranda rumahnya. Dalam tulisan Djarnawi
Hadikusuma yang didirikan pada tahun 1911 di kampung Kauman
Yogyakarta tersebut, merupakan Sekolah Muhammadiyah, yakni sebuah
sekolah agama yang tidak diselenggarakan di surau seperti pada umumnya
kegiatan umat Islam waktu itu, tetapi bertempat di dalam sebuah gedung
milik ayah K.H. Ahmad Dahlan, dengan menggunakan meja dan papan tulis,
yang mengajarkan agama dengan dengan cara baru, juga diajarkan ilmu-ilmu
umum.

Maka pada tanggal 18 November 1912 Miladiyah bertepatan dengan 8


Dzulhijah 1330 H di Yogyakarta akhirnya didirikanlah sebuah organisasi
yang bernama MUHAMMADIYAH. Organisasi baru ini diajukan
pengesahannya pada tanggal 20 Desember 1912 dengan mengirim Statuten
Muhammadiyah ( Anggaran Dasar Muhammadiyah yang pertama, tahun
1912 ), yang kemudian baru disahkan oleh Gubernur Jenderal Belanda pada
22 Agustus 1914. Dalam Statuten Muhammadiyah yang pertama itu,
tanggal resmi yang diajukan ialah tanggal Miladiyah yaitu 18 November
1912, tidak mencantumkan tanggal Hijriyah. Dalam artikel 1 dinyatakan,
Perhimpunan itu ditentukan buat 29 tahun lamanya, mulai 18 November
1912. Namanya Muhammadiyah dan tempatnya di Yogyakarta. Sedangkan
maksudnya ialah menyebarkan pengajaran agama Nabi Muhammad
Shallalahu Alaihi Wassalam kepada penduduk nusantara di dalam residensi
Yogyakarta, dan memajukan hal agama kepada anggota-anggotanya.

Kelahiran Muhammadiyah sebagaimana digambarkan itu melekat dengan


sikap, pemikiran, dan langkah K.H. Ahmad Dahlan sebagai pendirinya, yang
mampu memadukan paham Islam yang ingin kembali pada Al-Quran dan

5
Sunnah Nabi dengan orientasi tajdid yang membuka pintu ijtihad untuk
kemajuan, sehingga memberi karakter yang khas dari kelahiran dan
perkembangan Muhammadiyah di kemudian hari. K.H. Ahmad Dahlan,
sebagaimana para pembaru Islam lainnya, tetapi dengan ciri- ciri yang khas,
memiliki cita- cita membebaskan umat Islam dari keterbelakangan dan
membangun kehidupan yang berkemajuan melalui tajdid ( pembaruan ) yang
meliputi aspek-aspek tauhid ( aqidah ), ibadah, muamalah, dan pemahaman
terhadap ajaran Islam dan kehidupan umat Islam, dengan mengembalikan
kepada sumbernya yang asli yakni Al-Quran dan Sunnah Nabi yang Shakhih,
dengan membuka ijtihad. Pembaruan Islam yang cukup mendasar dari Kyai
Dahlan dapat dirujuk pada pemahaman dan pengamalan Surat Al-Maun.
Gagasan dan pelajaran tentang Surat Al-Maun merupakan contoh lain yang
paling monumental dari pembaruan yang berorientasi pada amal sosial-
kesejahteraan, yang kemudian melahirkan lembaga Penolong Kesengsaraan
Umum (PKU). karena Islam tidak sekadar menjadi seperangkat ajaran ritual-
ibadah dan hablu min Allah ( hubungan dengan Allah SWT ) semata, tetapi
justru peduli dan terlibat dalam memecahkan masalah-masalah konkret yang
dihadapi manusia. Inilah teologi amal yang khas dari K.H. Ahamad Dahlan
dan awal kehadiran Muhammadiyah, sebagai bentuk dari gagasan dan amal
pembaruan lainnya di negeri ini.

Gagasan pembaharuan Muhammadiyah disebarluaskan oleh K.H. Ahmad


Dahlan dengan mengadakan tabligh ke berbagai kota, disamping juga melalui
relasi-relasi dagang yang dimilikinya. Gagasan ini ternyata mendapatkan
sambutan yang besar dari masyarakat di berbagai kota di Indonesia. Ulama-
ulama dari berbagai daerah lain berdatangan kepadanya untuk menyatakan
dukungan terhadap Muhammadiyah. Muhammadiyah makin lama makin
berkembang hampir di seluruh Indonesia. Oleh karena itu, pada tanggal 7 Mei
1921 Dahlan mengajukan permohonan kepada pemerintah Hindia Belanda
untuk mendirikan cabang-cabang Muhammadiyah di seluruh Indonesia.
Permohonan ini dikabulkan oleh pemerintah Hindia Belanda pada tanggal 2
September 1921.

6
C. Paham Keagamaan Muhammadiyah

Hal-hal yang berkaitan dengan paham agama dalam Muhammadiyah


secara garis besar dan pokok-pokoknya ialah sebagai berikut:

1. Agama, yakni Agama Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad S.A.W.
ialah apa yang diturunkan Allah dalam Alquran dan yang disebut dalam
Sunnah maqbulah, berupa perintah-perintah, larangan-larangan, dan
petunjuk-petunjuk untuk kebaikan manusia di dunia dan akhirat (Kitab
Masalah Lima, Al-Masail Al-Khams tentang al-Din).
2. Muhammadiyah berkeyakinan bahwa Islam adalah Agama Allah yang
diwahyukan kepada para Rasul-Nya sejak Nabi Adam, Nuh, Ibrahim,
Musa, Isa, dan seterusnya sampai kepada Nabi Muhammad S.A.W.,
sebagai hidayah dan rahmat Allah kepada umat manusia sepanjang masa,
dan menjamin kesejahteraan hidup materiil dan spirituil, duniawi dan
ukhrawi (Matan Keyakinan dan Cita-cita Hidup
Muhammadiyah/MKCHM butir ke-2).
3. Muhammadiyah bekerja untuk terlaksananya ajaran-ajaran Islam yang
meliputi bidang-bidang: (a) Aqidah; Muhammadiyah bekerja untuk
tegaknya aqidah Islam yang murni, bersih dari gejala-gejala kemusyrikan,
bidah dan khurafat, tanpa mengabaikan prinsip toleransi menurut ajaran
Islam; (b) Akhlaq; Muhammadiyah bekerja untuk tegaknya nilai-nilai
akhlaq mulia dengan berpedoman kepada ajaran-ajaran Alquran dan
Sunnah Rasul, tidak bersendi kepada nilai-nilai ciptaan manusia; (c)
Ibadah; Muhammadiyah bekerja untuk tegaknya ibadah yang
dituntunkan oleh Rasulullah S.A.W. tanpa tambahan dan perubahan dari
manusia; (d) Muamalah dunyawiyat; Muhammadiyah bekerja untuk
terlaksananya muamalah dunyawiyat (pengolahan dunia dan pembinaan
masyarakat) dengan berdasarkan ajaran Agama serta menjadikan semua
kegiatan dalam bidang ini sebagai ibadah kepada Allah S.W.T. (MKCH,
butir ke-4).
4. Islam adalah agama untuk penyerahan diri semata-mata karena Allah,
agama semua Nabi, agama yang sesuai dengan fitrah manusia, agama yang
menjadi petunjuk bagi manusia, agama yang mengatur hubungan dengan

7
Tuhan dan hubungan manusia dengan sesama, dan agama yang menjadi
rahmat bagi semesta alam. Islam satu-satunya agama yang diridhai Allah
dan agama yang sempurna. (Pedoman Hidup Islami Warga
Muhammadiyah/PHIWM, bab Pandangan Islam Tentang Kehidupan).
5. Bahwa dasar muthlaq untuk berhukum dalam agama Islam adalah Alquran
dan Sunnah. Bahwa di mana perlu dalam menghadapi soal-soal yang telah
terjadi dan sangat dihajatkan untuk diamalkannya, mengenai hal-hal yang
tak bersangkutan dengan ibadah mahdhah padahal untuk alasan atasnya
tiada terdapat nash sharih dalam Alquran dan Sunnahmaqbulah, maka
dipergunakanlah alasan dengan jalan ijtihad dan istinbath dari nash yang
ada melalui persamaan illat, sebagaimana telah dilakukan oleh ulama
salaf dan Khalaf (Kitab Masalah Lima, Al-Masail Al-Khams tentang
Qiyas).
6. Muhammadiyah dalam memaknai tajdid mengandung dua pengertian,
yakni pemurnian (purifikasi) dan pembaruan (dinamisasi) (Keputusan
Munas Tarjih di Malang).
S

D. Tokoh-tokoh pendiri Muhammadiyah

KH A Dahlan memimpin Muhammadiyah dari tahun 1912 hingga tahun


1923 dimana saat itu masih menggunakan sistem permusyawaratan rapat
tahunan. Pada rapat tahun ke 11, Pemimpin Muhammadiyah dipegang oleh
KH Ibrahim yang kemudian memegang Muhammadiyah hingga tahun 1932.
Rapat Tahunan itu sendiri kemudian berubah menjadi Konggres Tahunan
pada tahun 1926 yang di kemudian hari berubah menjadi Muktamar tiga
tahunan dan seperti saat ini Menjadi Muktamar 5 tahunan.
Di samping itu, Muhammadiyah juga mendirikan organisasi untuk kaum
perempuan dengan Nama 'Aisyiyah yang disitulah Istri KH. A. Dahlan,
yakani Nyi Walidah Ahmad Dahlan berperan serta aktif dan sempat juga
menjadi pemimpinnya.
Berikut adalah daftar Pimpinan Muhammadiyah Indonesia sejak
berdirinya sampai sekarang, yang dapat penulis susun sebagai berikut:

8
a) KH Ahmad Dahlan ( 1912 - 1923 )
b) KH Ibrahim ( 1923 1932 )
c) KH Hisyam ( 1932 1936 )
d) KH Mas Mansur ( 1936 1942 )
e) Ki Bagus Hadikusuma ( 1942 1953 )
f) Buya AR Sutan Mansur ( 1953 1959 )
g) H.M. Yunus Anis ( 1959 1962 )
h) KH. Ahmad Badawi ( 1962 1968 )
i) KH. Faqih Usman ( 1968 1971 )
j) KH. AR Fachruddin ( 1971 1990 )
k) KHA. Azhar Basyir, M.A. ( 1990 1995 )
l) Prof. Dr. H. M. Amien Rais ( 1995 2000 )
m) Prof. Dr. H.A. Syafii Ma'arif ( 2000 2005 )
n) Prof. Dr. H. M. Din Syamsuddin ( 2005 sekarang )

9
E. Struktur Organisasi Muhammadiyah

10
11