Anda di halaman 1dari 16

ASUHAN KEPERAWATAN

ANGINA PEKTORIS

Disusun Oleh Kelompok 1 :

Arum Kusuma Wardhani (201402006)


Dhiyah Ayu Romadhoni (201402009)
Eka Evi Yuliana (201402013)
Ella Thalia (201402015)
Harma Yudhaningtyas (201402020)
Prio Pambudi (201402036)
Yoga Afrisandi (201402055)

STIKES BHAKTI HUSADA MULIA MADIUN


TahunAjaran 2014 / 2015
KATA PENGANTAR

Puji syukur senantiasa kami panjatkan kepada Allah SWT atas segala
limpahan rahmat, taufik serta hidayah-Nya sehingga kami dapat menyusun dan
menyelesaikan Asuhan Keperawatan ANGINA PEKTORIS ini tepat pada
waktunya tanpa ada halangan suatu apapun.

Makalah ini kami susun untuk memenuhi tugas yang bertujuan untuk
menambah pengetahuan kami terhadap materi ini. Terwujudnya laporan ini berkat
bimbingan, dorongan serta bantuan dari berbagai pihak, sehingga laporan ini
dapat terselesaikan.

Saya menyadari bahwa penulisan Makalah ini tentunya tidak terlepas dari
segala kekurangan. Oleh karena itu, saran dan kritik yang bersifat membangun
selalu diharapkan demi kebaikan dan kesempurnaan makalah ini.

Madiun, Maret 2015

Penyusun

1
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .....................................................................................i


DAFTAR ISI ...................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ...................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah ..............................................................................1
1.3 Tujuan ................................................................................................1
1.4 Manfaat ..............................................................................................2

BAB II PEMBAHASAN
2.1 Pengertian ..........................................................................................3
2.2 Jenis Angina .......................................................................................3
2.3 Etiologi ..............................................................................................3
2.4 Patofisiologi .......................................................................................4
2.5 Gejala dan Tanda ...............................................................................5
2.6 Pathway .............................................................................................6
2.7 Askep .................................................................................................6

BAB III PENUTUP ........................................................................................13


DAFTAR PUSTAKA .....................................................................................14

2
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Coronary Artery Disease adalah penyakit yang berkaitan dengan kerusakan pada arteri
koroner seperti angina pektoris dan infark miokard. Beberapa ahli juga menyebutnya
dengan istilah Acute Coronary Syndrome (ACS sindrom koroner akut). Pengertian klinis
Angina adalah keadaan iskemia miokard karena kurangnya suplai oksigen ke sel-sel otot
jantung (miokard) yang disebabkan oleh penyumbatan atau penyempitan arteri koroner,
peningkatan beban kerja jantung, dan menurunnya kemampuan darah mengikat oksigen.
Angina pektoris berasal dari bahasa Yunani yang berarti cekikan di dada yaitu
gangguan yang sering terjadi karena atherosclerotic heart disease. Terjadinya serangan
angina menunjukkan adanya iskemia. Iskemia yang terjadi pada angina terbatas pada
durasi serangan dan tidak menyebabkan kerusakan permanen jaringan miokard. Namun,
angina merupakan hal yang mengancam kehidupan dan dapat menyebabkan disritmia
atau berkembang menjadi infark miokard.
1.2 Rumusan Masalah
Apakah pengertian Angina Pektoris ?
Sebutkan jenis-jenis Angina Pektoris ?
Bagaimana etiologi Angina Pektoris ?
Bagaimana patofisiologi Angina Pektoris ?
Apa sajakah gejala dan tanda-tanda Angina Pektoris ?
Bagaimana mekanisme Angina Pektoris ?
Bagaimana pengkajian Angina Pektoris ?
1.3 Tujuan
Tujuan secara umum dari penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui informasi
tentang angina pektoris serta menambah wawasan mahasiswa tentang penyakit Angina
Pektoris
1.4 Manfaat
Adapun manfaat yang dapat kita peroleh dari penulisan ini adalah dapat mempelajari
dan mengetahui lebih dalam lagi tentang Angina Pectoris.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 PENGERTIAN
1
Coronary artery disease adalah penyakit yang berkaitan dengan kerusakan pada
arteri koroner seperti angina pektoris dan infark miokard.Angina pictoris berasal dari
bahasa yunani yang berarti cekikan di dadayaitu gangguan yang sering terjadi karena
atherosclerotic heart disease Pengertian klinis angina adalah keadaan iskemia miokard
karena kurangnya suplay oksigen ke sel otot jantung (miokard ) yang disebabkan oleh
penyumbatan atau penyempitan arteri koroner,peningkatan beban kerja jantung ,Dan
menurunnya kemampuan darah mengikat oksigen .Iskemia yang terjadi terbatas pada
durasi serangan dan tidak mengakibatkan kerusakan permanen pada jaringan miokard .

2.2 JENIS JENIS ANGINA


1) Stable angina menggambarkan nyeri dada yang timbul pada saat peningkatan aktifitas
fisik maupun stres emosional yang ditandai dengan serangan gejala baru dan
stabil,durasi dan intensitas gejala stabil.
2) Unstable Angina berkaitan dengan nyeri dada yang timbul karena aktifitas dengan
derajat yang sulit diramalkan ditandai dengan peningkatan frekuensi serangan dan
intensitas nyerinya.
3) Variant Angina digambarkan sebagai nyeri dada yang biasanya terjadi selama istirahat
atau tidur daripada selama aktivitas.Variant angina disebabkan oleh spasme arteri
koroner

2.3 ETIOLOGI
Penyebab paling umum Coronary Artery Disease (CAD) adalah Aterosklerosis.
Aterosklerosis digolongkan sebagai akumulasi sel-sel otot halus, lemak dan jaringan
konektif disekitar lapisan intima arteri. Suatu plaque (plak) fibrous adalah lesi khas dari
aterosklerosis. Lesi ini dapat bervariasi ukurannya dalam dinding pembuluh darah, yang
dapat mengakibatkan obstruksi aliran darah parsial maupun komplet. Komplikasi lebih
lanjut dari lesi tersebut terdiri atas plak fibrous dengan deposit kalsium, disertai oleh
pembentukan trombus. Obstruksi pada lumen mengurangi atau menghentikan aliran
darah kepada jaringan sekitarnya.
Penyebab lain dari CAD adalah spasme arteri koroner. Penyempitan dari lumen
pembuluh darah terjadi bila serat otot halus dalam dinding pembuluh darah berkontraksi
(vasokontriksi). Spasme arteri koroner dapat menggiring terjadinya iskemik aktual atau
perluasan dari infark miokard.
Penyebab lain di luar aterosklerosis yang dapat mempengaruhi diameter lumen
pembuluh darah koroner dapat berhubungan dengan abnormalitas sirkulasi. Hal ini
2
meliputi hipoperfusi, anemia, hipovolemik, polisitemia, dan masalah-masalah atas
gangguan katup jantung

2.4 PATOFISIOLOGI

Saat istirahat, jantung menggunakan oksigen dalam jumlah yang banyak (75%) dari
aliran darah koroner, lebih besar dari beberapa organ utama lain dalam tubuh. Saat
metabolisme, beban otot kerja jantung dan konsumsi oksigen meningkat sehingga
kebutuhan oksigennya juga berlipat ganda.

Oksigen tambahan disuplai oleh peningkatan aliran darah arteri koroner. Bila aliran
darah koroner tidak dapat memenuhi kebutuhan, maka terjadi ketidakseimbangan antara
suplai dan kebutuhan. Kecuali bila rasio dari suplai seimbang, jaringan otot jantung
menjadi iskemia dan infark. Ada dua zona di area infark yaitu injuri zone dan ischemic
zone. Infark akan terus berkembang bila suplai darah kurang dari kebutuhan miokard.

Luas area infark tergantung pada sirkulasi kolateral, metabolisme anaerobik, dan
peningkatan beban kerja miokard. Sering kali iskemik dan infark berkembang dari
endokardium ke epikardium.

2.5 GEJALA DAN TANDA

1. Stable Angina
Nyeri setelah melakukan kegiatan / mengalami stres psikis / emosi tinggi
Serangan kurang dari 10 menit dan stabil
Pola EKG
a. Fase istirahat : normal
b. Exercise test EKG (treadmill test) : segmen ST depresi, gelombang T inversi
(arrow head) atau datar.
Laboratorium : kadar kardiak iso-enzim normal
Nyeri hilang bila klien beristirahat dan mendapat nitrogliserin (vasolidator)

3
2. Unstable Angina
Nyeri timbul saat istirahat dan melakukan kegiatan
Nyeri lebih hebat dan frekuensi lebih sering
Serangan selama 30 menit atau lebih
Saat serangan disertai sesak napas, mual, muntah, dan diaforesis
Pola EKG : segmen ST depresi saat serangan dan setelah serangan ( muncul
sebagian)
Nyeri hilang bila klien mendapat terapi nitrogliserin, narkotik
(phetidin/morphin), bed rest total, dan bantuan oksigenasi.
3. Variant atau Prinzmetal Angina
Nyeri timbul saat intirahat maupun beraktifitas
Terjadi tanpa aterosklerosis koroner
Kadang disertai distritmia dan konduksi abnormal
EKG : segmen ST elevasi saat serangan, normal bila serangan hilang
Nyeri hilang bila klien mendapat terapi nitrogliserin dan obat antipasme aeteri
Tanda-tanda lain hampir sama sengan Unstable angina

2.6 PATHWAY

- Aterosklerosis Pajanan Latihan Makan


Stress
- Spasme pemb. terhadap fisik makanan
dingin berat

Adrenali Kebutuhan Aliran O2


n O2 jantung turun ke
meningk mensetrikus
Vasokontriksi
pemb. darah

Aliran O2 Aliran O2
arteri ke
coronaria jantung

Jantung Penurunan cardiac


kekurangan output & penurunan
O2 staturasi O2

4
Iskemia otot Hipotensi
jantung ortostatik

Reaksi Kontraksi Menghindari


Nyeri Kelemahan
kompensasi otot jantung komplikasi
takikardia

Sensasi Diperlukan Intolera


Penurunan pengetahuan
berdebar- nsi
debar
Curah tinggi
Jantung aktifita

Kurangnya
pengetahua Kurang
n pengetah
uan

Ansietas

2.7 ASKEP
1. BIODATA
2. Riwayat kesehatan dahulu
a. Riwayat serangan jantung sebelumnya
b. Riwayat penyakit pernafasan kronis
c. Riwayat penyakit hipertensi, DM,dan ginjal
d. Riwayat perokok
e. Diet rutin dan tinggi lemak
3. Riwayat kesehatan keluarga
Adanya riwayat keluarga penyakit jantug (AMI) , DM , hiprtensi , stroke , dan
penyakit pernafasan (asma)
4. Riwayat kesehatan sekarang
a. Faktor pencetus yang paling sering menyebabkan angina adalah kegiatan
fisik , emosi yang berlebihan atau setelah makan .
b. Nyeri dapat timbul mendadak (dapat atau tidak berhubungan dengan
aktivitas)
c. Kwalitas nyeri : sakit dada dirasakan didaerah mid sternal dada anterior ,
substernal prekordial , rasa nyeri tidak jelas tetapi banyak yang

5
mengambarkan sakitnya seperti di tusuk tusuk , di bakar ataupun ditimpa
benda berat / tertekan
d. Penjalaran rasa nyeri ke rahang , leher dan lengan dan jari tangan kiri ,
lokasinya tidak tentu seperti epigstrium , siku rahang ,abdomen , pungung
dan leher .
e. Gejala dan tanda yang menyertai rasa sakit seperti : mual , muntah
keringat dingin , berdebar debar dan sesak nafas .
f. Waktu / lama nyeri : pada angina tidak melebihi 30 menit dan umumnya
masih respon dengan pemberian obat obatan anti angina , sedangkan pada
infrak rasa sakit lebih dari 30 menit tidak hilang dengan pemberian obat
obatan anti angina , biasanya akan hilang dengan pemberian analgesik
(Marylin E .Doenges, 2000)
5. Pemeriksaan fisik
a. Keadaan umum
1) Tekanan darah dapat normal , menigkat ataupun menurun .
2) Heart rate / nadi dapat terjadi bradikardi / takikardi , kuat/ lemah ,
teratur ataupun tidak .
3) Respirasi meningkat .
4) Suhu dapat normal ataupun meningkat.
b. Kepala
1) Pusing , berdenyut selama tidur atau saat terbangun .
2) Tampak perubahan ekspresi wajah seperti meringis , merintih .
3) Terdapat/ tidak nyeri pada rahang
c. Leher
1) Tampak distensi vena jugularis .
2) Terdapat / tidak nyeri pada leher
d. Thorak
1) Bunyi jantung normal atau terdapat bunyi jantung ekstra S3/S4
menunjukkan gagal jantung atau penurunan kontraktilitas, kalau
murmur menunjukkan gangguan katup jantung atau disfungsi otot
papilar, perikarditis.
2) Irama jantung dapat normal / teratur atau tidak.
3) Paru-paru : suara nafas bersih / krekels / mengi / wheezing / ronchi.
4) Terdapat batuk dengan atau tanpa produksi sputum.
5) Terdapat sputum bersih, kental ataupun berwarna merah muda.
e. Abdomen
1) Terdapat nyeri / rasa terbakar epigastrik / ulu hati.
2) Bising khusus normal / menurun.
f. Ekstamitas
1) Ekstremitas dingin dan berkeringat dingin.
2) Terdapat oedema perifet atau oedema umum.
3) Kelemahan atau kelelahan.
4) Pucat atau sianosis, kuku datar , pucat pada membran mukosa dan
bibir.
g. Respon psikologis

6
1) Gelisah / cemas, seperti takut mati, khawatir dengan keluarga, kerja
dan keuangan.
2) Depresi, menarik diri dan kontak mata kurang.
3) Denial, menyangkal dengan sakitnya dan marah.
h. Pemeriksaan diagnostik
1) EKG
a) Monitor EKG terdapat aritmia
b) Rekam EKG lengkap terdapat T inverted / iskemik, segmen
ST elevasi ataupun depresi dan gelombang Q, patologis ini
telah terjadi nekrosis.
2) Thorak Foto
a) Mungkin normal / menunjukkan pembesaran jantung diduga
gagal jantung kongesif.
b) Terdapat stenosis aorta.
c) Penyakit paru lainnya seperti bronchitis / TBC
3) Laboratorium
a) Kolesterol atau trigliserida serum : meningkat menunjukkan
resiko IHD. Dimana meningkatkan kadar kolesterol yang
memicu terbentukknya arosklerosis sebagai penyebab
infark. LDH menigkat dalam waktu dalam waktu 12 24
jam, memuncak dalam 24 - 48 jam. Memakan waktu lama
untuk kembali normal.
b) Enzim jantung dan isoenzim : CK, CK-MB (isoenzim yang
ditemukan pada otot jantung) meningkat antara 4 6 jam,
memuncak dalam waktu 12 -24 jam. Kembali normal dalam
36 48 jam.
c) Elektrolit : ketidakseimbangan dapat mempengaruhi kondisi
dan kontraktilitas, seperti hipokalemia / hiperkalemia.
d) Sel darah putih : leukosit (10.000 20.000) biasanya tampak
pada hari kedua setelah infark, shubungan dengan proses
inflamasi.
e) Analisa gas dalam atau oksimetrinadi : dapat menunjukkan
hipoksia atau proses penyakit paru akut / kronis.
f) Kimia : kemungkinan normal tergantung abnormalitas
fungsi / prefusi organ akut / kronik.

2. Diagnosa Keperawatan

a. Resiko penurunan curah jantung berhubungan dengan penurunan frekuensi


irama,konduksi elktrikal, penurunan preload/peningkatan tahanan tekanan
vaskuler sistemik dan otot infark/kerusakan struktur.
b. Nyeri akut berhubungan dengan iskemik miokard.
7
c. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan berkurangnya curah jantung.
d. Ansietas berhubungan dengan rasa takut akan ancaman kematian yang tiba-tiba.
e. Kurang pengetahuan (kebutuhan) mengenai kondisi, kebutuhan pengobatan
berhubungandengan kurangnya informas.
3. Faktor Intervensi
a) Penurunan curah jantung
Intervensi NIC :
Reduksi perdarahan : membatasi kehilangan volume darah selama
episode perdarahan.
Perawatan jantung : membatasi komplikasi akibat ketidakseimbangan
antara suplai dan kebutuhan oksigan miokard pada pasien yang
mengalami gejala kerusakan fungsi jantung.
Perawatan jantung, akut : membatasi komplikasi untuk pasien yang
sedang mengalami episode ketidak seimbangan antara suplai dan
kebutuhan oksigen miokard yang mengakibatkan kerusakan fungsi
jantung.
Promosi perfusi sereberal : meningkatkan perfusi yang adekuat dan
membatasi komlikasi untuk pasien yang mengalami atau beresko
mengalami ketidakadekuatan perfusi sereberal.
Perawatan sirkulasi : insufisiensi arteri : meningkatkan sirkulasi arteri.
Perawatan sirkulasi : alat bantu mekanis : memberi dukungan
temporer sirkulasi melalui penggunaan alat atau pompa mekanis.
Perawatan sirkulasi : insufisiensi vena : meningkatkan sirkulasi vena.
Perawatan embolus : perifer : membatasi komlikasi untuk pasien yang
mengalami atau beresiko mengalami sumbatan sirkulasi perifer.
Perawatan embolus : paru : membatasi komlikasi untuk pasien yang
mengalami atau beresiko mengalami sumbatan sirkulasi paru.
Regulasi hemodinamik : mengoptimalkan frekuensi jantung, preload,
afterload, dan kontraktilitas.
Pengendalian hemoragi : menurunkan atau meniadakan kehilangan
darah yang cepat dan dalam jumlah banyak.
Terapi intravena (IV) : memberi dan memantau cairan dan obat IV
Pemantauan neurologis : mengumpulkan dan menganalisis data pasien
untuk mencegh atau meminimalkan komplikasi neurologis.
Manejemen syok : jantung : meningkatkan keadekuatan perfusi
jaringan untuk pasien yang mengalami gangguan fungsi pompa
jantung.
Manejemen syok : volume : meningkatkan keadekuatan perfusi
jaringan untuk pasien yang mengalami gangguan volume
intravaskuler berat.

8
Pemantauan tanda vital : mengumpulkan dan menganalisis data
kardiovaskular, pernapasan, dan suhu tubuh untuk menentukan dan
mencegah komplikasi
Hasil NOC :
Tingkat keparahan kehilangan darah : tingkat keparahan perdarahan /
hemoragi internal atau eksternal.
Efektifitas pompa jantung : keadekuatan volume darah yang
diejeksikan dari ventrikel kiri untuk mendukung kekuatan perfusi
sistemik.
Status sirkulsi : tingkat pengaliran darah yang tidak terhambat, satu
arah, dan pada tekanan yang sesuai melalui pembuluh darah besar
aliran sistemik dan pulmonal.
Perfusi jaringan : organ abdomen : keadekuatan aliran darah melewati
pembuluh darah kecil visera abdomen untuk mempertahankan fungsi
organ.
Perfusi jaringan : jantung : keadekuatan aliran darah melewati
vaskulatur koroner untuk mempertahankan fungsi organ jantung.
Perfusi jaringan : serebral : keadekuatan aliran darah melewati
vaskulatur serebral untuk mempertahankan fungsi otak.
Perfusi jaringan : pulmonal : keadekuatan aliran darah melewati
vaskulatur pulmonal untuk memerfusi unit alveoli / kapiler.
Status tanda vital : tingkat suhu, nadi, pernapasan, dan tekanan darah
dalam rentang normal.
b) Nyeri akut berhubungan dengan iskemik miokard.
Intervensi:
Kaji gambaran dan faktor-faktor yang memperburuk nyeri.
Letakkan klien pada istirahat total selama episode angina (24-30 jam
pertama)dengan posisi semi fowler.
Observasi tanda vutal tiap 5 menit setiap serangan angina.
Ajarkan tehnik distraksi dann relaksasi.
Kolaborasi pengobata.
c) Intoleransi aktifitas berhubungan dengan kurangnya curah jantung.
Intervensi NIC:
Terapi aktivitas : memberi anjuran tentang dan bantuan dalam aktifitas
fisik, kognitif, sosial, dan spiritual yang spesifik untuk meningkatkan
rentang, frekuensi atau durasi aktivitas individu (atau kelompok)
Manajemen energi : mengatur penggunaan energi untuk mengatasi
atau mencegah kelelahan dan mengoptimalkan fungsi.

9
Manajemen lingkungan : manipulasi lingkungan sekitar pasien untuk
memperoleh manfaat terapeutik, situasi sensorik, dan kesejahteraan
psikologis.
Terapi latihan fisik : Mobilitas sendi : menggunakan gerakan tubuh
efektif atau pasif untuk mempertahankan atau memperbaiki
fleksibilitas sendi.
Terapi fisik : Pengendalian otot : menggunakan aktifitas atau protokol
latihan yang spesifik untuk meningkatkan atau memulihkan gerakan
tubuh yang terkontrol.
Promosi latihan fisik : Litihan kekuatan : memfasilitasi latihan otot
resistif secara rutin untuk mempertahankan atau menigkatakan
kekuatan otot.
Bantuan pemeliharaan rumah : membantu pasien dan keluarga untuk
menjaga rumah sebagai tempat tinggal yang bersih, aman, dan
menyenangkan.
Manajemen alam dan perasaan : memberi rasa keamanan, stabilisasi,
pemulihan, dan pemeliharaan pasien yang mengalami disfungsi alam
perasaan baik depresi maupun peningkatan alam perasaan.
Bantuan perawatan-diri : membantu individu untuk melakukan AKS.
Bantuan perawatan-diri : AKSI : membantu dan mengarahkan
individu untuk melakukan aktivitas kehidupan sehari-hari istrumental
(AKSI) yang diperlukan untuk berfungsi dirumah atau di komunitas.
Hasil NOC :
Toleransi : respon fisiologis terhadap gerakan yang memakan energi
dalam kehidupan sehari-hari.
Ketahanan : kapasitan untuk menyesuaikan aktivitas.
Penghematan energi : tindakan individu dalam mengelola energi
untuk memuali dan menyesuaikan aktivitas.
Kebugaran fisik : pelaksanaan aktivitas fisik yang penuh vitalitas.
Energi psikomotorik : dorongan dan energi individu untuk
mempertahankan aktivitas hidup sehari-hari, nutrisi, dan keamanan
personal.
Perawatan-diri : Aktivitas kehidupan sehari-hari (AKSI) : kemampuan
untuk melakukan tugas-tugas fisik yang paling dasar dan aktivitas
perawatan pribadi secara mandiri dengan atau tanpa alat bantu.
Perawatan-diri : Aktivitas kehidupan sehari-hari
Instrumentali(AKSI) : kemampuan untuk melakukan aktivitas yang

10
dibutuhkan dalam melakukan fungsional dirumah atau komunitas
secara mandiri dengan atau tanpa alat bantu.
d) Ansietas berhubungan dengan rasa takut akan ancaman kematian yang tiba-
tiba.
Intervensi NIC:
Bimbingan antisipasi : mempersiapkan pasien menghadapi
kemungkinan krisi perkembanga dan atau situasional.
Penurunan ansietas : meminimalkan kekhawatiran, ketakutan,
prasangka atau perasaan yang tidak tenang yang berhubungan dengan
sumber bahaya yang diantisipasi dan tidak jelas.
Teknik menenangkan diri : meredakan kecemasan pada pasien yang
mengalami stress akut.
Peningkatan koping : membantu pasien untuk beradaptasi dengan
persepsi stresor, perubahan, atau ancaman yang menghambat tuntutan
dan peran hidup.
Dukungan emosi : memberikan penerangan, penerimaan, dan bantuan
dukungan selama masa stress.
Hasil NOC :
Tingkat ansietas : keparahan manifestasi kekhawatiran, keteganan
atau perasaan tidak tenang yang muncul dari sumber yang tidak dapat
diidentifikasi.
Pengendalian-diri terhadap ansietas : tindakan personal untuk
menghilangkan atau mengurangi perasaan khawatir, tegang atau
perasaan tidak tenang akibat sumber yang tidak dapat
diidentifikasikan.
Konsentrasi : Kemampuan untuk fokus pada stimulus tertentu.
Koping : Tindakan personal untuk mengatasi stresor yang membebani
sumber-sumber individu.
e) kurang pengetahuan (kebutuhan belajar ) mengenai kondisi koma kebutuhan
pengobatan berhubungan dengan kurangnya informasi.
Intervensi :
Tekankan perlunya mencegah serangan angina.
Dorong untuk menghindari faktor / situasi yang sebagai pencetus
episode angina.
Kaji pentingnya kontrol berat badan, menghentikan kebiasaan
merokok, perubahan diet dan olahraga.
Tunjukkan / dorong klien untuk memantau nadi sendiri selama
aktivitas, hundari tegangan.
Diskusikan langkah yang diambil bila terjadi serangan angina.
Dorong klien untuk mengikuti program yang telah ditentukan.

11
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Dari makalah yang telah dibuat maka dapat disimpulkan bahwa Angina Pektoris
merupakan nyeri dada sementara atau perasaan tertekan didaerah jantung. atau nyeri dada
yang disebabkan oleh tidak adekuatnya aliran oksigen terhadap miokardium. Angina Pektoris
merupakan suatu penyakit berbahaya yang timbul karena penyempitan arteri yang
menyalurkan darah ke otot-otot jantung.

B. Saran

1. Mahasiswa diharapkan lebih memahami konsep dari penyakit angina pektoris sebagai
dasar dalam memberikan asuhan keperawatan yang berkualitas.
2. Mahasiswa harus mampu memberikan pengarahan dan motivasi pada keluarga dengan
klien yang menderita angina pektoris.

12
Daftar Pustaka

Wijaya, Andra Saferi dan Yessie Mariza Putri .2013. Keperawatan Medikal Bedah.
Jakarta. Swann Marton England.
Udjianti, Wajan Juni .2010. Keperawatan Kardiovaskuler. Jakarta . salemba Medika.

13