Anda di halaman 1dari 6

Pemeriksaan subyektif setidaknya ada 7 hal yakni identitas pasien, keluhan utama, present

illnes, riwayat medik, riwayat dental, riwayat keluarga dan riwayat sosial.

a. Identitas pasien diperlukan sebagai pasca tindakan dapat pula sebagai data mortem (dental
forensic), data identitas pasien meliputi :

1. Nama lengkap panggilan 5. Status pernikahan


2. Tempat dan tanggal lahir 6. pekerjaan
3. Alamat tinggal 7. Pendidikan kewarganegaraan
4. Golongan darah 8. No. Telfon pasien

b. Keluhan utama (Chief Complaint CC)


Berkaitan dengan keluhan oleh pasien datang kedokter gigi keluhan utama pasien akan
berpengaruh terhadap pertimbangan dokter dalam menentukan tindakan yang akan
dilakuhkan kepada pasien. Contoh rasa sakit ataupun ngilu rasa tidak nyaman,
pembengkakan, perdarahan, halitosis, rasa malu karena penampilan.

c. Present illness (Present Illness PI)


Mengetahui keluhan utama saja tidak cukup, maka perlu dilakuhkan pengembangan masalah
yang ada dalam keluhan utama dan lain - lain. Mencari tahu kapan pasien merasakan sakit/
rasa tidak nyaman sejak pertama kali terasa, apakah bersifat berselang atau terus menerus,
dilihat apakah terlalu pasien merasakan sakit, dilihat faktor pemicunya contoh lokasi, faktor
pemicu, karakter, keparahan, penyebaran.

d. Riwayat medik (medikal history/ PMH)


Apakah pasien pernah rawat inap dirumah sakit karena dengan gejala umum demam,
penurunan berat badan serta gejala umum lainnya. Perawatan bedah, radiologi, alergi obat
dan makanan, anestesi, dan rawat inap dirumah sakit karena penyakit riwayat umum. Jika
pasien pernah rawat inap.
e. Riwayat dental (Post Medical History PDH)
Apakah pasien pernah datang kedokter gigi karena akan mempengaruhi seseorang dokter gigi
dalam meninjau tindakan perawatan pada pasien yaitu pasien rutin kedokter gigi apa tidak,
sikap pasien datang kedokter gigi saat dilakuhkan perawatan, keluhan gigi pasien, perawatan
restorasi, dll. Jika pasien pernah datang kedokter gigi.

f. Riwayat keluarga (Famili History FH)


Ini berkaitan dengan problem herediter yang berkaitan dengan riwayat penyakit keluarga,
seperti ayah ibu pernah rawat inap dirumah sakit, ayah ibu pernah berkunjung kedokter gigi
memeriksakan keluhan.

g. Riwayat sosial (Sosial History SH)


Riwayat sosial yang dapat dipertimbangkan
1. Apakah pasien masih memiliki keluarga
2. Keadaan sosial ekonomi pasien
3. Pasien pergi kekeluar negeri
4. Riwayat seksual pasien
5. Kebiasaan merokok, minum alkohol, pengguna obat-obatan
6. Informasi tentang diet makan pasien

Anamnesis adalah riwayat yang lalu dari suatu penyakit atau kelainan
berdasarkan ingatan penderita pada waktu dilakukan wawancara dan pemeriksaan
medik/ dental. Ditinjau dari cara penyampaian cerita, dikenal dua macam
anamnesis. Pada Auto Anamnesis, cerita mengenai keadaan penyakit disampaikan
sendiri oleh pasien . Disamping itu terdapat keadaan dimana cerita mengenai
penyakit ini tidak disampaikan oleh pasien yang bersangkutan, melainkan melalui
bantuan orang lain. Keadaan seperti ini dijumpai umpanya pada pasien bisu, ada
kesulitan bahasa, penderita yang mengalami kecelakaan atau pada anak-anak kecil.
Cara ini disebut Allo Anamnesis (Haryanto, dkk., 1991)
Dari segi inisiatif penyampaian cerita, dikenal pula anamnesis pasif dimana
pasien sendirianlah yang menceritakan keadaannya kepada si pemeriksa.
Sebaliknya, pada anamnesis aktif penderita perlu dibantu pertanyaan-pertanyaan
dalam menyampaikan ceritanya (Haryanto, dkk., 1991)
Menurut Haryanto, dkk. pada saat Anamnesis, biasanya ditanyakan hal-hal
berikut:
1. Nama penderita
2. Alamat
3. Pekerjaan
4. Jenis kelamin
Secara jelas sebetulnya tidak terdapat karakteristik konkrit yang berlaku
untul pria dan wanita. Namun demikian wanita pada umunya cenderung lebih
memperhatikan faktor estetik dibanding laki-laki, sedangkan laki-laki lebih
mementingkan rasa enak/nyaman.

Tujuan Anamnesa
Dengan mempelajari manfaat anamnesa dapat mengembangkan
pemahaman mengenai masalah medis pasien membuat diagnosis banding.
Walaupun telah banyak kemajuan dalam pemeriksaan diagnostik modern, namun
anamnesis masih sangat diperlukan untuk mendapatkan diagnosis yang akurat.
Akan teatapi, proses ini juga memungkinkan dokter untuk mengenal pasiennya (dan
begitu pula sebaiknya) serta memahami masalah medis dalam konteks kepribadian
dan latar sosial pasien (Kariyoso, 2003)
Menurut Kariyoso, tujuan anamnesa dapat dibagi sebagai beritkut:
1. Memperoleh data atau informasi tentang permasalahan yang sedang dialami atau
dirasakan oleh pasien. Apabila anamnesis dilakukan dengan cermat maka infomasi
yang didapatkan akan sangat berharga bagi penegakan diagnosis, bahkan tidak
jarang hanya dari anamnesis saja. Seorang dokter sudah dapat menegakkan
diagnosis (Kariyoso, 2003)
2. Untuk membangun yang baik antara seorang dokter dan pasiennya. Umumnya
seorang pasien yang baru pertama kalinya bertemu dengan dokternya akan merasa
canggung, tidak nyaman dan takut, sehingga cenderung tertutup. Tugas seorang
dokterlah untuk mencairkan hubungan tersebut (Kariyoso, 2003)
3. Pemeriksaan anamnesis adalah pintu pembuka atau jembatan untuk membangun
hubungan dokter dan paseinnya sehingga dapat mengembangkan keterbukaan dan
kerja sama dari pasien untuk tahap-tahap pemeriksaan selanjutnya (Kariyoso, 2003)

Teknik Anamnesa
Komunikasi dokter kepada pasien dalam satu kesempatan tentunya tidak
dapat menuntaskan semua upaya untuk memberikan informasi, melakukan edukasi
atau memotivasi pasien dalam rangka menyelesaikan masalah kesehatannya.Jika
tanpa penggalian informasi yang akurat, dokter dapat terjerumus ke dalam sesi
penyampaian informasi (termasuk nasihat, sugesti atau motivasi dan konseling)
secara prematur,akibatnya pasien tidak melakukan sesuai anjuran dokter
(Margawati dkk, 2006).
Sesi penggalian informasi dimulai dengan mengenali alasan kedatangan
pasien, dimana belum tentu keluhan utama secara medis.Pasien menceritakan
keluhan atau apa yang dirasakan sesuai sudut pandangnya. Pasien berada pada
posisi sebagai orang yang paling tahu tentang dirinya karena mengalaminya sendiri
(Margawati dkk, 2006).
Sesi ini akan berhasil apabila dokter mampu menjadi pendengar yang aktif.
Pendengar yang aktif adalah fasilitator yang baik sehingga pasien dapat
mengungkapkan kepentingan, harapan, kecemasannya secara terbuka dan jujur. Hal
ini akan membantu dokter dalam menggali riwayat kesehatannya yang merupakan
data-data penting untuk menegakkan diagnosis untuk itu diperlukan Pengetahuan
dan keterampilanmenggali informasi dari pasien yang memerlukan teknik
anamnesis dalam menyelesaikan masalah pasien tersebut (Margawati dkk, 2006).

Teknik Penggalian Riwayat Penyakit

Berikut beberapa tekhnik yang dapat dilakukan dokter saat pasien datang:

Menyilakan masuk dan mengucapkan salam.


Memanggil/menyapa pasien dengan namanya.

Menciptakan suasana yang nyaman (isyarat bahwa punya cukup waktu,


menganggap penting informasi yang akan diberikan, menghindari tampak
lelah).

Memperkenalkan diri, menjelaskan tugas/perannya (apakah dokter umum,


spesialis, dokter keluarga, dokter paliatif, konsultan gizi, konsultan tumbuh
kembang, dan lain lain)

Menanyakan, apakah ada yang dikhawatirkannya (Margawati dkk, 2006)

Contoh Pertanyaan-pertanyaan terbuka yang dapat ditanyakan

Menurut Anda nyeri tersebut tersebut kadang-kadang atau sering ketika


makan atau minum sesuatu? (Margawati dkk, 2006)

Bagaimana gusi anda dapat berdarah dan apa yang anda rasakan, dapat
diceritakan lebih jauh?

Contoh pertanyaan tertutup yang merupakan inti dari anamnesis

Dibagian gigi mana anda merasakan nyeri tersebut?

Sampai di bagian gigi mana hal tersebut dirasakan?

Bagaimana karakteristik dari nyerinya, berdenyut-denyut?

Nyeri? Amat nyeri? Sampai tidak dapat melakukan kegiatan sehari-hari?

Berapa lama nyeri berlangsung? Sebentar? Berjam-jam? Berhari-hari?

Setiap waktu tertentu nyeri tersebut dirasakan? Berulang-ulang? Tidak tentu?

Apa yang membuatnya lega?

Apa yang membuatnya kumat? Saat istirahat? Ketika kerja? Sewaktu minum
obat tertentu?
dll (Margawati dkk, 2006).

Dengan kemampuan mengerti harapan, kepentingan, kecemasan, dan


kebutuhan pasien, maka pasien tidak memerlukan waktu lebih lama daripada
komunikasi berdasarkan kepentingan dokter untuk menegakkan diagnosis.
Komunikasi efektif diharapkan dapat mengatasi kendala yang ditimbulkan oleh
kedua pihak, pasien dan dokter. Opini yang menyatakan bahwa mengembangkan
komunikasi dengan pasien hanya akan menyita waktu dokter, tampaknya harus
diluruskan (Margawati dkk, 2006).

Sebenarnya bila dokter dapat membangun hubungan komunikasi yang


efektif dengan pasiennya, banyak hal-hal negatif dapat dihindari. Dokter dapat
mengetahui dengan baik kondisi pasien dan keluarganya dan pasien pun percaya
sepenuhnya kepada dokter. Kondisi ini amat berpengaruh pada proses
penyembuhan pasien selanjutnya.Pasien merasa tenang dan aman ditangani oleh
dokter sehingga akan patuh menjalankan petunjuk dan nasihat dokter karena yakin
bahwa semua yang dilakukan adalah untuk kepentingan dirinya. Pasien percaya
bahwa dokter tersebut dapat membantu menyelesaikan masalah kesehatannya
(Margawati dkk, 2006).

Di dalam proses komunikasi dokter kepada pasien, sikap profesional ini


penting untuk membangun rasa nyaman, aman, dan percaya pada dokter, yang
merupakan landasan bagi berlangsungnya komunikasi secara efektif. Sikap
profesional ini hendaknya dijalin terus-menerus sejak awal konsultasi, selama proses
konsultasi berlangsung, dan di akhir konsultasi (Margawati dkk, 2006).
.Jenis Anamnesis Ada 2 jenis anamnesis yang umum dilakukan, yakni
Autoanamnesis danAlloanamnesis atau Heteroanamnesis. Pada umumnya
anamnesis dilakukan dengantehnik autoanamnesis yaitu anamnesis yang
dilakukan langsung terhadap pasiennya.Pasien sendirilah yang menjawab
semua pertanyaan dokter dan menceritakan permasalahannya. Ini adalah
cara anamnesis terbaik karena pasien sendirilah yang paling tepat untuk
menceritakan apa yang sesungguhnya dia rasakan.Meskipun demikian
dalam prakteknya tidak selalu autoanamnesis dapat dilakukan.Pada
pasien yang tidak sadar, sangat lemah atau sangat sakit untuk
menjawab pertanyaan, atau pada pasien anak-anak, maka perlu
orang lain untuk menceritakan permasalahnnya. Anamnesis yang didapat
dari informasi orag lain ini disebutAlloanamnesis atau Heteroanamnesis.
Tidak jarang dalam praktek sehari-harianamnesis dilakukan bersama-
sama auto dan alloanamnesis.