Anda di halaman 1dari 21

LAPORAN PRAKTIKUM

LABORATORIUM PENGELOLAAN LIMBAH INDUSTRI

MODUL : SEDIMENTASI

PEMBIMBING : Emma Hermawati, Ir. MT

Oleh :

Kelompok : III

Nama : 1. Dahliana Alami NIM. 141424008

2. Desi Bentang Widiyanti NIM. 141424009

3. Dini Oktavianti NIM. 141424010

4. Elis Sri Wahyuni NIM. 141424011

Kelas : 3A- TKPB

PROGRAM STUDI TEKNIK KIMIA PRODUKSI BERSIH

JURUSAN TEKNIK KIMIA

POLITEKNIK NEGERI BANDUNG

2017
BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Air bersih merupakan salah satu kebutuhan yang sangat mendasar bagi manusia
karena itu diperlukan terus menerus dalam kegiatan sehariharinya untuk bertahan hidup.
Sebagian besar sumber air baku dalam penyediaan air bersih di kota kota besar Indonesia
berasal dari air permukaan khususnya air sungai yang mana secara fisik di dalamnya terdapat
angkutan sedimen total/ polutan fisik yang terdiri atas material diskrit seperti kerikil,
pasir,koloid, dan partikelpartikel tersuspensi (total suspended solid) yang menyebabkan
kekeruhan pada badan air, sehingga dalam penurunan total suspended solid tersebut
diperlukan bak pengendap (sedimentasi).
Pengolahan air limbah secara fisik merupakan pengolahan awal (primary treatment)
air limbah sebelum dilakukan pengolahan lanjutan. Pengolahan secara fisik bertujuan untuk
menyisihkan padatan-padatan berukuran besar seperti plastik, kertas, kayu, pasir, koral,
minyak, oli, lemak, dan sebagainya. Pengolahan air limbah secara fisik juga dimaksudkan
untuk melindungi peralatan-peralatan seperti pompa, perpipaan dan proses pengolahan
selanjutnya. Salah satu pengolahan secara fisik adalah sedimentasi.
Sedimentasi adalah proses pemisahan padatan yang terkandung dalam limbah cair
oleh gaya gravitasi. Pada umumnya, proses sedimentasi dilakukan setelah proses koagulasi
dan klokulasi dimana tujuannya adalah untuk memperbesar partikel padatan sehingga
menjadi lebih berat dan dapat tenggelam dalam waktu lebih singkat.
Dalam proses sedimentasi, hanya partikel partikel yang lebih berat dari air yang
dapat terpisah. Misalnya kerikil dan pasir, padatan pada tangki pengendapan primer , biofloc
pada tangki pengendapan sekunder, floc hasil pengolahan secara kimia, dan lumpur ( pada
pengentalan lumpur ) (Totok, 2002). Tetapi partikel yang berukuran kecil hingga beberapa
Angstorm tidak dapat dipengaruhi oleh gravitasi. Untuk itu harus digabung gabungkan dulu
mnejadi partikel yang lebih besar melalui proses koagulasi (Haryoto, 1997).
Kualitas cairan hasil pengendapan umumnya dinyatakan dalam satuan kekeruhan
(turbidity). Semakin kecil nilai kekeruhan, maka cairan tersebut akan semakin jernih dan
begitupun sebaliknya.

1.2. Tujuan Percobaan


1. Menghitung efisiensi pengendapan pada proses sedimentasi

2. Menentukan waktu optimum dan waktu maksimum proses sedimentasi


BAB II

LANDASAN TEORI

2.1. Sedimentasi

Air baku yang digunakan dalam proses pengolahan air umumnya mengandung
total suspended solid yang dapat menyebabkan kekeruhan pada air baku. Kandungan total
suspended solid di dalam air sangat bervariasi, tergantung kualitas air baku tersebut. Nilai
kekeruhan standar maksimal air bersih yaitu 25 NTU (Wardhana, 2001). Pada saat musim
kemarau, kandungan total suspended solid akan menjadi lebih rendah daripada kandungan
total suspended solid pada saat musim hujan.
Salah satu proses yang dapat mengurangi ataupun menghilangkan kekeruhan pada air
baku adalah proses sedimentasi. Sedimentasi merupakan proses pemisahan suspensi padatan
encer menjadi fluida yang lebih jernih dan suspensi yang lebih pekat berdasarkan gaya
gravitasi. Di Dalam pengolahan air, bangunan sedimentasi digunakan untuk memisahkan
partikel padatan atau kotoran yang terflokulasi atau terkoagulasi. Kecepatan pengendapan
partikel yang terdapat dalam air bergantung pada berat jenis, bentuk dan ukuran partikel,
viskositas air dan kecepatan aliran dalam bak pengendapan. (Huisman, 1977).
Sedimentasi bisa dilakukan pada awal maupun pada akhir dari unit sistem
pengolahan. Jika kekeruhan dari influent tinggi sebaiknya dilakukan proses sedimentasi awal
(primary sedimentation) didahului dengan koagulasi dan flokulasi, dengan demikian akan
mengurangi beban pada treatment berikutnya. Sedangkan secondary sedimentation yang
terletak pada akhir treatment gunanya untuk memisahkan dan mengumpulkan lumpur dari
proses sebelumnya (activated sludge, OD, dsb) dimana lumpur yang terkumpul tersebut
dipompakan ke unit pengolahan lumpur tersendiri.

Menurut Kusnaedi (2002) dalam Amrullah (TT), Secara keseluruhan, proses


sedimentasi berfungsi untuk :

a. Mengurangi beban kerja unit filtrasi dan memperpanjang umur pemakaian unit
penyaring selanjutnya.
b. Mengurangi biaya operasi instalasi pengolahan.
c. Memisahkan partikel utuh (discreet) seperti pasir dan juga untuk memisahkan
padatan melayang (suspensi) yang sudah menggumpal.
Faktor-faktor yang mempengaruhi kecepatan sedimentasi, yaitu:
1. Ukuran partikel, bentuk partikel, dan konsentrasi partikel
Semakin besar semakin cepat mengendap dan semakin banyak yang terendapkan.
2. Viskositas cairan
Pengaruh viskositas cairan terhadap kecepatan sedimentasi yaitu dapat
mempercepat proses sedimentasi dengan cara memperlambat cairan supaya
partikel tidak lagi tersuspensi.
3. Temperatur
Bila temperatur turun, laju pengendapan berkurang. Akibatnya waktu tinggal di
dalam kolam sedimentasi menjadi bertambah.

4. Berat jenis partikel


Air yang tidak jernih umumnya mengandung residu. Residu tersebut dapat
dihilangkan dengan proses penyaringan (filtrasi) dan pengendapan (sedimentasi).
Untuk mempercepat proses penghilangan residu tersebut perlu ditambahkan
koagulan. Bahan koagulan yang sering dipakai adalah tawas (alum) atau poly
alumunium chlorida (PAC).

a. Tawas (alum)
Tawas atau Al2(SO4)3.14H2O (Dalam bentuk batuan, serbuk, cairan)
memiliki massa jenis 480 kg/m3, dengan kadar air 11 17 %. Dosis alum
dapat dikurangi dengan cara penurunan kekeruhan air baku, filtrasi langsung
untuk kekeruhan <50 NTU, penambahan polimer, dan penyesuaian pH
optimum (6.0 8.0). Alum dilarutkan dalam air dengan kadar 3 7 % (5 %
rata-rata) untuk pembubuhan. Kadar maksimum aplikasi 12 15%.
Aluminium suflat memerlukan alkalinitas (seperti kalsium bikarbonat) dalam
air agar terbentuk flok :
Al2(SO4)3.18H2O+3Ca(HCO3)2 2Al(OH)3 + CaSO4 + 18H2O +6CO2
CaSO4 + Na2CO3 CaCO3 + Na2SO4

Bila alkalinitas alamnya kurang, perlu dilakukan penambahan Ca(OH)2 :


Al2(SO4)3.18H2O+3Ca(OH)2 2Al(OH)3 + 3CaSO4 + 18H2O

Alternatif lain adalah penambahan NaCO3 yang relatif lebih mahal.


b. Poly Alumunium Chlorida (PAC)
PAC memiliki rumus kimia umum AlnCl(3n-m)(OH)m banyak digunakan
karena memiliki rentang pH yang lebar sesuai nilai n dan m pada rumus
kimianya. PAC yang paling umum dalam pengolahan air adalah
Al12Cl12(OH)24. Senyawa-senyawa modifikasi PAC di antaranya
polyaluminium hydroxidechloride silicate (PACS) dan polyaluminium
hydroxidechloride silicate sulfate (PASS). PAC digunakan untuk
mengurangi kebutuhan akan penyesuaian pH untuk pengolahan, dan
digunakan jika pH badan air penerima lebih tinggi dari 7,5. PAC mengalami
hidrolisis lebih mudah dibandingkan alum, mengeluarkan polihidroksida
yang memiliki rantai molekul panjang dan muatan listrik besar dari larutan
sehingga membantu memaksimalkan gaya fisis dalam proses flokulasi. Pada
air yang memiliki kekeruhan sedang sampai tinggi, PAC memberikan hasil
koagulasi yang lebih baik dibandingkan alum. Pembentukan flok dengan
PAC termasuk cepat dan lumpur yang muncul lebih padat dengan volume
yang lebih kecil dibandingkan dengan alum. Oleh karenanya, PAC
merupakan pengganti alum padat yang efektif dan berguna karena dapat
menghasilkan koagulasi air dengan kekeruhan yang berbeda dengan cepat,
menggenerasi lumpur lebih sedikit, dan meninggalkan lebih sedikit residu
aluminium pada air yang diolah (Malhotra 1994). PAC merupakan koagulan
anorganik yang tersusun dari polimer makromolekul dengan kelebihan
seperti memiliki tingkat adsorpsi yang kuat, mempunyai kekuatan lekat,
tingkat pembentukan flok-flok tinggi walau dengan dosis kecil, memiliki
tingkat sedimentasi yang cepat, cakupan penggunaannya luas, merupakan
agen penjernih air yang memiliki efisiensi tinggi, cepat dalam proses, aman,
dan konsumsinya cukup pada konsentrasi rendah. Keuntungan koagulan
PAC yaitu sangat baik untuk menghilangkan kekeruhan dan warna,
memadatkan dan menghentikan penguraian flok, membutuhkan kebasaan
rendah untuk hidrolisis, sedikit berpengaruh pada pH, menurunkan atau
menghilangkan kebutuhan penggunaan polimer, serta mengurangi dosis
koagulan sebanyak 30-70%. Dalam reaksi hidrolisis PAC, 3 molekul H+
akan terbentuk. Hidrolisis tersebut terjadi pada koagulasi pada pH 5,8-7,5.
Dalam rentang pH ini, warna dan zat koloid disisihkan melalui adsorpsi ke
dalam hidroksida logam hasil hidrolisis yang terbentuk.
c. Penentuan Dosis Koagulan

Dosis koagulan yang dibutuhkan untuk pengolahan air tidak dapat


diperkirakan berdasarkan kekeruhan, tetapi harus ditentukan melalui
percobaan pengolahan yaitu dengan percobaan koagulasi-flokulasi
menggunakan alat Jar-Test. Dosis koagulan yang berlebihan maupun yang
kurang dapat menurunkan efisiensi penyisihan padatan. Selain itu, dosis yang
berlebihan pun dapat menyebabkan nilai kekeruhan meningkat. Jika
kekeruhan dalam air lebih dominan disebabkan oleh lumpur halus atau lumpur
kasar maka kebutuhan akan koagulan hanya sedikit, sedangkan kekeruhan air
yang dominan disebabkan oleh koloid akan membutuhkan koagulan yang
banyak. Dosis koagulan yang berlebihan maupun yang kurang dapat
menurunkan efisiensi penyisihan padatan.

Mekanisme atau proses sedimentasi secara umum adalah sebagai berikut:

a. Pengendapan partikel flokulen berlangsung secara gravitasi.

b. Flok yang dihasilkan pada proses koagulasi-flokulasi mempunyai ukuran yang


makin besar, sehingga kecepatan pengendapannya makin besar.

c. Untuk menghindari pecahnya flok selama proses pengendapan, maka aliran air
dalam bak harus laminer. Untuk tujuan ini, digunakan indikator bilangan
Reynold (NRe) dan bilangan Froud (NFr).

d. Aliran air yang masuk pada inlet diatur sedemikian rupa sehingga tidak
mengganggu pengendapan. Biasanya dipasang diffuser wall atau perforated
baffle untuk meratakan aliran ke bak pengendap dengan kecepatan yang
rendah. Diusahakan agar inlet bak langsung menerima air dari outlet bak
flokulator.

e. Air yang keluar melalui outlet diatur sedemikian rupa, sehingga tidak
mengganggu flok yang telah mengendap. Biasanya dibuat pelimpah (weir)
dengan tinggi air di atas weir yang cukup tipis (1,5cm).
2.2. Proses sedimentasi
Proses Sedimentasi dapat dilakukan dengan tiga macam cara, yaitu :
1) Cara Batch
Cara ini cocok dilakukan untuk skala laboratorium, karena sedimentasi batch paling
mudah dilakukan, pengamatan penurunan ketinggian mudah. Mekanisme
sedimentasi batch pada suatu silinder / tabung bisa dilihat pada gambar berikut :

Gambar 1 . Mekanisme Sedimentasi Batch

Keterangan :
A = cairan bening
B = zona konsentrasi seragam
C = zona ukuran butir tidak seragam
D = zona partikel padat terendapkan
Gambar di atas menunjukkan slurry awal yang memiliki konsentrasi seragam
dengan partikel padatan yang seragam di dalam tabung (zona B). Partikel mulai
mengendap dan diasumsikan mencapai kecepatan maksimum dengan cepat. Zona D yang
terbentuk terdiri dari partikel lebih berat sehingga lebih cepat mengendap. Pada zona
transisi, fluida mengalir ke atas karena tekanan dari zona D. Zona C adalah daerah
dengan distribusi ukuran yang berbeda-beda dan konsentrasi tidak seragam. Zona B
adalah daerah konsentrasi seragam, dengan komsentrasi dan distribusi sama dengan
keadaan awal. Di atas zona B, adalah zona A yang merupakan cairan bening.
Selama sedimentasi berlangsung, tinggi masing-masing zona berubah (gambar 2
b, c, d). Zona A dan D bertambah, sedang zona B berkurang. Akhirnya zona B, C dan
transisi hilang, semua padatan berada di zona D. Saat ini disebut critical settling
point, yaitu saat terbentuknya batas tunggal antara cairan bening dan endapan (Foust,
1980).
2) Cara Semi-Batch
Pada sedimentasi semi-batch , hanya ada cairan keluar saja, atau cairan masuk
saja. Jadi, kemungkinan yang ada bisa berupa slurry yang masuk atau beningan yang
keluar. Mekanisme sedimentasi semi-batch bisa dilihat pada gambar berikut :

Gambar 2. Mekanisme Sedimentasi Semi-Batch


Keterangan :
A = cairan bening
B = zona konsentrasi seragam
C = zona ukuran butir tidak seragam
D = zona partikel padat terendapkan

3) Cara Kontinyu
Pada cara ini, ada cairan slurry yang masuk dan beningan yang dikeluarkan
secara kontinyu. Saat steady state, ketinggian tiap zona akan konstan. Mekanisme
sedimentasi kontinyu bisa dilihat pada gambar berikut :

Gambar 3. Mekanisme Sedimentasi Kontinyu


Keterangan :
A = cairan bening
B = zona konsentrasi seragam
C = zona ukuran butir tidak seragam
D = zona partikel padat terendapkan
Kecepatan sedimentasi didefinisikan sebagai laju pengurangan atau penurunan
ketinggian daerah batas antara slurry (endapan) dan supernatant (beningan) pada suhu
seragam untuk mencegah pergeseran fluida karena konveksi (Brown, 1950).

2.3. Bak Sedimentasi

Bak sedimentasi umumnya dibangun dari bahan beton bertulang dengan bentuk
lingkaran, persegi panjang, atau persegi. Bak sedimentasi tersebut harus disesuaikan
dengan kondisi setempat dan debit air yang diolah. Berikut adalah gambar bak
sedimentasi berbentuk persegi panjang :

Gambar 1. (a) denah, (b) potongan memanjang


Pada bak ini, air mengalir horizontal dari inlet menuju outlet, sementara partikel
mengendap ke bawah.

Bagian-bagian dari bak sedimentasi :


1) Inlet : tempat masuk air ke dalam bak.
2) Zona pengendapan : tempat flok atau partikel mengalami proses pengendapan.
3) Ruang lumpur : tempat lumpur mengumpul sebelum diambil ke luar bak. Kadang
dilengkapi dengan sludge collector atau scrapper.
4) Outlet : tempat dimana air akan meninggalkna bak, biasanya berbentuk pelimpah (weir).

Gambar 2. Bagian-bagian bak sedimentasi


Zona inlet atau struktur influen. Zona inlet mendistribusikan aliran air secara
merata pada sedimentasi dan menyebarkan kecepatan aliran yang baru masuk. Jika dua
fungsi ini dicapai, karakteristik alira hidrolik dari bak akan lebih mendekati kondisi bak
ideal dan menghasilkan efisiensi yang lebih baik. Zona influen didesain secara berbeda
untuk kolam rectangular dan circular. Khusus dalam pengolahan air, bak sedimentasi
rectangular dibangun menjadi satu dengan bak flokulasi. Sebuah baffle atau dinding
memisahkan dua kolam dan sekaligus sebagai inlet bak sedimentasi. Disain dinding
pemisah sangat penting, karena kemampuan bak sedimentasi tergantung pada kulalitas
flok.
Zona pengendapan. Dalam zona ini, air mengalir pelan secara horizontal ke arah
outlet, dalam zona ini terjado proses pengendapan. Lintasan partikel tergantung pada
besarnya kecepatan pengendapan.
Zona lumpur. Dalam zona ini lumpur terakumulasi. Sekali lumpur masuk area ini,
maka ia akan tetap disana.
Zona outlet atau struktur efluen. Seperti zona inlet, zona outlet atau struktur
efluen mempunyai pengaruh besar dalam mempengaruhi pola aliran dan karakteristik
pengendapan flok pada bak sedimentasi. Biasanya weir/pelimpah dan bak penampung
limpahan digunakan untuk mengontrol outlet pada bak sedimnetasi. Selain itu, pelimpah
tipe V-notch atau orifice terendam biasanya juga dipakai. Diantara keduanya, orifice
terendam yang lebih baik karena memiliki kecenderungan pecahnya sisa flok lebih kecil
selama pengaliran dari bak sedimentasi menuju filtrasi.
Selain bagian-bagian utama di atas, sering bak sedimentasi dilekngkapi dengan
settler. Settler dipasang pada zona pengendapan (gambar 3.) dengan tujuan untuk
meningkatkan efisiensi pengendapan.
Gambar 3. Settler pada bak sedimentasi

Adapun macam-macam bangunan Sedimentasi dapat dijelaskan sebagai berikut:

1. Konvensional, merupakan bak Sedimentasi biasa yang pengendapannya secara


gravitasi dan memanfaatkan panjang bak.
2. Menggunakan Plate Settler, untuk meningkatkan efisiensi pengendapan dari bangunan
Sedimentasi terkadang juga digunakan plate settler (TiLed Plate Separator). Plate ini
memiliki kemiringan atau sudut terhadap garis horizontal tertentu (45 60 0) yang
mengakibatkan lumpur tidak menumpuk pada plate, akan tetapi jatuh meluncur ke
bawah, sehingga flok-flok akan lebih mudah dipisahkan. Dan efisiensi pengendapan
partikel flokulen dipengaruhi oleh over flow rate, detention time, dan kedalaman dari
bak pengendap.
Plate settler merupakan keeping pengendap yang dipasang pada settling zone
(zona pengendapan) di bak sedimentasi dengan kemiringan tertentu yang bertujuan
untuk meningkatkan efisiensi dan memperluas bidang pengendapan sehingga proses
fisika dari sedimentasi dapat berlangsung lebih effektif bila tanpa menggunakan plate
settler. Adapun tiga macam aliran yang melalui plate settler yaitu (Hendrick,
2005) :
a. Upflow (aliran keatas), yaitu dimana sludge yang mengendap turun ke
dasar bak melalui plate ketika aliran air mengalir ke atas menuju outlet
zone.
b. Downflow (aliran ke bawah), yaitu dimana sludge yang mengendap turun
ke dasar bak melalui plate bersamaan dengan aliran air yang mengalir ke
bawah.
c. Crossflow (aliran silang), yaitu dimana sludge yang mengendap turun ke
dasar bak, sedangkan aliran air menyilang (crossing) di masingmasing
plate.
Gambar 4. Skema alat sedimentasi Plate Settler

(http://aquariontechnologies.weebly.com/clarifier-lamella.html)

Kelebihan dari plate setter adalah dari kegunaan plate settler itu sendiri.
Adalah untuk meningkatkan efisiensi penurunan dari endapan suspensi (Total
Suspended Solid) dan memperluas bidang pengendapan sehingga proses fisika dari
sedimentasi dapat berlangsung lebih effektif bila tanpa menggunakan plate settler.
Dan lebih efisien untuh penjernihan air, Karena Perairan yang bersih akan
meningkatkan taraf kesehatan warga disekitar perairan tersebut, sehingga
meningkatkan taraf ekonominya.

Plate settler dapat dibuat dari jenis bahan yang tidak mudah berserat, semacam
polythylene, kayu, fiber, baja tipis dan sebagainya. Jenis polyethylene yang banyak
digunakan adalah berupa plastik yang keras dan tebal. Kelebihan kelebihan dari
penggunaan polythylene ini dibandingkan yang lainnya adalah:

a. Mudah dalam perawatannya, karena dari jenis bahan yang ringan dan tidak
berserat.
b. Bahan baku tidak terlalu sulit didapat dipasaran.
c. Lebih lama dapat bertahan untuk tidak dibersihkan karena jenis bahan
bakunya sulit untuk dapat ditumbuhi oleh tanaman sejenis ganggang dan
lemut.
d. Tidak mudah pecah dan relative lebih lama mengalami kerusakkan akibat
adanya penguraian efek mikroba.
Sedangkan kekurangan terletak hanya pada kontruksi atau bentuk alat yang rumit dan
lempeng yang harus dibersihkan secara manual.

Clarifier Lamella adalah tangki yang berfungsi untuk memisahkan lumpur


dengan air hasil pengolahan melalui Lamella Plate. Lamella plate ini disusun secara
vertikal dengan sisi kemiringan 30 derajat untuk menahan partikulat yang terbawa
oleh air. Aliran masuk terdapat di sisi kiri Plate. Sedangkan aliran keluar terdapat
disisi kanan.

Outlet
Inlet

Zona Pengendapan

Ruang Lumpur

Gambar 5. Bak Sedimentasi dengan Plate Lamella di Lab. PLI

3. Menggunakan Tube Settler, fungsinya sama dengan plate settler, hanya modelnya
berbentuktube. Tube settler ini ada yang dipasang secara horizontal maupun vertikal
dengan kemiringan tertentu terhadap garis horizontalnya.
4. Mekanis, bangunan Sedimentasi mekanis m menggunakan scrapper untuk
mempercepat pengendapan flok-flok yang sudah terbentuk ke dalam ruang lumpur
dan sekaligus untuk pembersihannya. Biasanya digunakan untuk instalasi pengolahan
yang besar.

2.4. Faktor-faktor yang dapat meningkatkan efisiensi bak pengendapan


adalah:
a. Luas bidang pengendapan
b. Penggunaan baffle pada bak sedimentasi
c. Mendangkalkan bak
d. Pemasangan plat miring

2.5. Efisiensi Bak Sedimentasi


( Kekeruhan awalKekeruhan akhir )
Efisiensi= 100
Kekeruhan awal

2.6. Tipe Sedimentasi

Klasifikasi sedimentasi didasarkan pada konsentrasi partikel dan kemampuan


partikel untuk berinteraksi. Klasifikasi ini dapat dibagi ke dalam empat tipe
(lihat juga Gambar 2.7), yaitu:
1. Settling tipe I (discrete particle settling): pengendapan partikel diskrit, yaitu
pengendapan yang memerlukan konsentrasi suspended solid yang paling rendah,
sehingga analisisnya menjadi yang paling sederhana. Partikel mengendap
secara individual dan tidak ada interaksi antar-partikel. Contoh aplikasi dari
Discrete settling adalah grit chambers.

2. Settling tipe II (floculant settling): pengendapan partikel flokulen, terjadi


interaksi antar-partikel sehingga ukuran meningkat dan kecepatan pengendapan
bertambah. Floculant settling banyak digunakan pada primary clarifier.
3. Settling tipe III (hindered settling): pengendapan pada lumpur biologis, dimana
gaya antar partikel saling menahan partikel lainnya untuk mengendap.
Konsentrasi partikel adalah tidak terlalu tinggi (cukup) kemudian partikel
bercampur dengan partikel lainnya dan kemudian mereka karam bersama-
sama.
4. Settling tipe IV (compression settling): Pengendapan secara pemampatan.
terjadi pemampatan partikel (kompresi) yang telah mengendap yang terjadi
karena berat partikel.

Gambar 5. Empat tipe sedimentasi


Tipe sedimentasi yang sering ditemui pada proses pengolahan air minum
adalah sedimentasi tipe I dan tipe II. Sedimentasi tipe I dapat ditemui pada
bangunan grit chamber dan prasedimentasi (sedimentasi I). Sedimentasi tipe II
dapat ditemui pada bangunan sedimentasi II. Sedangkan sedimentasi tipe III dan
IV lebih umum digunakan pada pengolahan air buangan.

BAB III
METODOLOGI PERCOBAAN

3.1. Alat dan Bahan

Tabel 1 Alat yang digunakan


Nama Spesifikasi Jumlah
Tangki penampung air - 1
Tangki Koagulasi + Pengaduk - 1
Tangki Flokulasi + Pengaduk - 1
Bak sedimentasi - 1
Turbidity meter - 1
pH meter - 1
Ember - 4
Gelas Ukur 500 ml 1
Gelas Kimia 500 ml 1
Gelas Kimia 25 ml 1
Spatula - 1
Stopwatch - 1

Tabel 2 Bahan yang digunakan


Nama Spesifikasi Jumlah
Air Limbah Industri - 90 L
Tawas - 0.15 gram
BAB III

PROSEDUR KERJA

3.1 Skema Kerja

Persiapan

Perhitungan dosis koagulan

Pembuatan Air Baku

Proses Sedimentasi

pH
Analisis Kekeruhan

Pembersihan tempat kerja

Gambar 3.1 Skema Kerja


a. Persiapan
Mempersiapkan bahan-bahan yang diperlukan sesuai kebutuhan
Menghitung dosis koagulan untuk air baku yang digunakan
b. Membuat larutan air baku
Menyiapkan air keran sebanyak 90 liter dalam tangki umpan
Memasukan padatan bentonit sebanyak 90 gram
Lakukan pengadukan hingga larutan homogen
Memasukan tawas sebanyak 0,15 gram
Lakukan pengadukan kembali selama proses sedimentasi berlangsung
c. Proses Sedimentasi
Mengukur nilai kekeruhan awal (NTU) pada air baku
Memasukan tawas pada air baku
Memasukkan air pada bak sedimentasi
Mengambil sampel tiap 10 menit
Mengukur kekeruhan pada sampel (NTU)

BAB IV
DATA PENGAMATAN

4.1. Data Hasil Praktikum


Koagulan yang ditambahkan :

Luas Lamella Clarifier : m2

Volume alat : m3

Volume Air Umpan : mL

Volume Lar. NaOH : mL

Kekeruhan Awal : NTU

TDS awal : mg/L

pH Cairan setelah ditambah NaOH :

Volume larutan Al2(SO4)nH2O : mL

pH Cairan Umpan :

Volume Larutan Flokulan : mL

pH Cairan setelah ditambahkan flokulan :

Tabel 1. Hasil Pengamatan Kekeruhan

Waktu (menit) Influen(NTU) Effluent(NTU)


0
10
20
30
40
50
60
70
80
90
100

Efisiensi Bak Sedimentasi


( Kekeruhan awalKekeruhan akhir )
Efisiensi= 100
Kekeruhan awal

Tabel 2. Efisiensi Bak Sedimentasi Berdasarkan Nilai Kekeruhan setiap 10 menit

Waktu Influen(NT Effluent(NT Efisiens


(menit) U) U) i (%)
0
10
20
30
40
50
60
70
80
90
100

DAFTAR PUSTAKA

Assyfa.2015.PAM SEDIMENTASI. http://caracararaaa.blogspot.co.id/2015/09/makalah-


pam-sedimentasi.html [Diakses pada 17 Februari 2017]
Budiman, Anton, dkk. 2008. Kinerja Koagulan Poly Alumunium Chloride (PAC) dalam
penjernihan air Sungai Kalimas Surabaya menjadi Air Bersih. http :
http://s3.amazonaws.com/academia.edu.documents/. [Diakses pada 17 Februari
2017]
Euis,Nurul dkk.PENURUNAN KONSENTRASI TOTAL SUSPENDED SOLID PADA
PROSES AIR BERSIH MENGGUNAKAN PLATE SETTLER. Jurnal.Teknik
Lingkungan.Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan.Universitas Pembangunan
Nasional Veteran.Jawa Timur.

Fitri.2013. PLATE SETTLER. http://fitricurhat.blogspot.co.id/2013/06/jawaban-


presentasi.html [Diakses pada 17 Februari 2017]
Hendrasarie, Novirina dan Rini, Titien Setiyo, 2001, Tube Settler Sebagai Alternatif
Penyisihan Kekeruhan Pada Proses Sedimentasi, Jurnal, Jurusan Teknik Lingkungan,
ITS, Surabaya.
Komalasari, Dewi. 2011. Modul I Prasedimentasi dan Sedimentasi 3 & 4.
https://www.academia.edu/7251803/MODUL_I_PRASEDIMENTASI_DAN_SEDIM
ENTASI_3_and_4. [Diakses pada 17 Februari 2017]
Kristijarti, A Prima, dkk. 2013. Laporan Penelitian Penentuan Jenis Koagulan dan Dosis
Optimum untuk Meningkatkan Efisiensi Sedimentasi dalam Instalasi Pengolahan
Air Limbah Pabrik Jamu X. http://journal.unpar.ac.id/index.php/rekayasa/article
/viewFile/231/216. [Diakses pada 17 Februari 2017]
Rahayu, E.S dan Soeswanto, B. 2002. Buku Ajar Pengolahan Air Industri. Jurusan
Teknik Kimia Politeknik Negeri Bandung.
Rosalia, Shinta. 2012. Koagulasi Flokulasi Sedimentasi Filtrasi.
http://shintarosalia.lecture.ub.ac.id/files/2012/03/SRD_koagulasi-flokulasi.pdf
[Diakses pada 17 Februari 2017]
Rosariawari, Firra dan M. Mirwan. TT. Efektivitas PAC dan Tawas untuk Menurunkan
Kekeruhan pada Air Permukaan. https://core.ac.uk/download/pdf/19209805.pdf.
[Diakses pada 17 Februari 2017].
Soeswanto, Bambang. 2010. UTILITAS 1 . Bandung : Jurusan Teknik Kimia
Politeknik Negeri Bandung.
Sumada, Ketut. 2012. Pengolahan Air Limbah Secara Fisik. Jurusan Teknik Kimia UPN
Veteran. Jawa Timur