Anda di halaman 1dari 20

Kamma(bahasa Pali) atau Karma (bahasa Sansekerta) artinya perbuatan.

Kamma atau Karma


adalah suatu perbuatan yang dapat membuahkan hasil, dimana perbuatan baik akan
menghasilkan kebahagiaan dan sebaliknya perbuatan jahat juga akan menghasilkan penderitaan
atau kesedihan bagi pembuatnya.
Semua perbuatan yang dilakukan atau disertai dengan kehendak berbuat (cetena) merupakan
Kamma. Kehendak dapat berarti keinginan, kemauan, kesengajaan atau adannya rencana
berbuat.
Sang Buddha bersabda: O, Bhikkhu! Kehendak berbuat (cetena) itulah yang kami namakan
Kamma. (Anguttara Nikaya III : 415)
Perbuatan yang tidak mengandung unsur kehendak dengan sendirinya tidak tergolong Kamma
yang dapat menimbulkan akibat atau hasil perbuatan:
1. Perbuatan yang netral murni, misalnya duduk, berdiri, berjalan, tidur, melihat dan lain-lain
menurut keadaan yang wajar.
2. Perbuatan-perbuatan yang kelihatan baik atau jahat, namun tidak disertai kehendak.
Misalnya:
1. Waktu berjalan, ada semut yang terinjak mati
2. Tanpa disadari, uangnya jatuh dan dipungut oleh seorang cacat yang amat memerlukan
uang
Semua perbuatan akan menimbulkan akibat dan semua akibat akan menimblkan hasil
perbuatan. Akibat perbuatan disebut kamma-vipaka, dan hasil perbuatan disebut kamma-phala.
Dari segi perbuatan atau salurannya, kamma dibedakan atas:
Mano-kamma = perbuatan pikiran
Vaci-kamma = perbuatan kata-kata
Kaya-kamma = perbuatan badan jasmani
Sedangkan menurut sifatnya, kamma dapat dibagi menjadi dua bagian:
1. Kusala-kamma = perbuatan baik
2. Akusala-kamma = perbuatan jahat
Kusala-kamma berakar dari kusala-mula, 3 akar kebaikan:
Alobha : tidak tamak
Adosa : tidak membenci
Amoha : tidak bodoh
Akusala-kamma berasal dari akusala-mula, 3 akar kejahatan:
Lobha : ketamakan
Dosa : kebencian
Moha : kebodohan
Jadi Hukum Karma adalah hukum perbuatan yang akan menimbulkan akibat dan hasil
perbuatan (kamma-vipaka dan kamma-phala), Hukum kamma bersifat mengikuti setiap
Kamma, mutlak-pasti dan harmonis-adil.
Klasifikasi Kamma:
Kamma menurut fungsinya
Kamma menurut kekuatannya
Kamma menurut waktunya.
PEMBAGIAN KARMA MENURUT FUNGISNYA:
1. Janaka-kamma: Kamma yang berfungsi menyebabkan timbulnya suatu syarat untuk
kelahiran makhluk-makhluk.
Tugas dari Janaka-kamma adalah melahirkan Nama-Rupa:
Janaka-kamma melaksanakan Punarbahava, yaitu kelahiran kembali dari makhluk-makhluk di
31 alam kehidupan (lapisan kesadaran) sebelum mereka mencapai pembebasan Arahat.
2. Upatthambaka-kamma: Kamma yang mendorong terpeliharannya suatu akibat dari suatu
sebab yang telah timbul. Mendorong kusala atau akusala-kamma yang telah terjadi agar tetap
berlaku.
3. Upapilaka-kamma: Kamma yang menekan kamma yang berlawanan agar mencapai
kesetimbangan dan tidak membuahkan hasil. Kamma ini menyelaraskan hubungan antara
kusala-kamma dengan akusala-kamma.
4. Upaghataka-kamma: Kamma yang meniadakan atau menghancurkan suatu akibat yang
telah timbul, dan menyuburkan kamma yang baru. Maksudnya kamma yang baru itu adalah
garuka-kamma, sehingga akibatnya mengatasi semua kamma yang lain.
PEMBAGIAN KAMMA MENURUT KEKUATANNYA:
Garuka Kamma
Adalah kamma yang berat dan bermutu. Akibat dari kamma ini dapt timbul dalm atu kehidupan,
maupun kehidupan berikutnya. Garuka kamma terdiri dari:
a. Akusala-garuka-kamma
b. Kusala-garuka-kamma
Akusala-garuka-kamma
Kamma yang berat terdiri dari 2 kelompok, yaitu:
1. Niyatamicchaditthi, yaitu pandangan yang salah. Maksudnya memandang yang salah
adalah benar dan yang benar diartikan salah. Terdapat 10 pandangan hidup yang salah:
1. Tidak murah hati. Tidak pemaaf atau tidak suka menolong kesukaran orang/makhluk lain.
2. Tidak mengerti faedah berdana. Mengangap bahwa berdana adalah suatu kebodohan yagn
tidak ada hasilnya.
3. Tidak memberikan hadiah pada tamu. Tamu adalah seorang atau sekelompok orang yang
kedatangannya membahagiakan kita atau yang kedatangannya kita harapkan. Memberikan
hadiah pada tamu yang dewasa ini di kota terutama berarti memberikan minuman.
4. Perbuatan baik atau perbuatan jahat dianggap tidak ada hasil atau akibatnya. Seorang yang
yakin perbuatan baik akan membawa hasil tentu berusaha menambah kebaikan pada setiap
kesempatan di manapun ia berada, dan sebaliknya berusaha menghndari perbuatan yang salah
setiap kali akan dilakukan.
5. Tidak percaya pada dunia ini, tidak percaya akan kebenaran Dhamma, hukum-hukum
kesunyataan; yaitu kelompok manusia yang penuih dengan kekecewaan, kebencian, ketamakan,
dan kebodohan.
6. Tidak percaya pada dunia yang akan datang; tidak percaya akan tumimbal lahir, kehidupan
yang akan datang.
7. Tidak mengerti fungsi seorang ibu, dan
8. Tidak mengerti fungsi ayah, menganggap tidak membawa akibat apapun yang dilakukan
pada mereka.
9. Tidak mempercayai adanya makhluk yang mati atau yang dilahirkan kembali.
10. Tidak melakukan disiplin menyendiri (khusus untuk para Buddha/Arahat)
2. Pancanantariya-kamma, yaitu 5 perbuatan durhaka.
1. Membunuh ayah
2. Membunuh ibu
3. Membunuh seorang Arahat
4. Melukai seorang Buddha
5. Memecah belah Sangha
Mereka yang melakukan salah satu dari 5 perbuatan durhaka di atas, setelah meninggal akan
lahir di alam Apaya (duka/rendah), yaitu alam neraka, binatang, setan dan raksasa.
Kusala-garuka-kamma
Adalah perbuatan bermutu, yaitu dengan bermeditasi , hingga mencapai tingkat kesadaran
jhana. Ia akan dilahirkan di alam sorga atau lapisan kesadaran yang tinggi, yang berbentuk atau
tanpa bentuk (16 rupa-bhumi dan 4 arupa-bhumi)
2. Asanna-kamma
Kamma yang dilakukan sebelum saat mati seseorang, baik lahir maupun batin, terutama dengan
pikiran. Misalnya memikirkan perbuatan baik atau jahat yang telah dilakukan di masa lalu. Jadi
mempunyai pikiran yang baik di kala akan meninggal adalah merupakan hal yang penting, yang
akan menentukan bentuk kehidupan berikutnya menjadi lebh baik. Asanna-kamma berlaku
apabila tidak melakukan garuka-kamma.
3. Acinna-kamma atau Bahula-kamma
Apabila seorang dalam hidupnya tidak melakukan garuka-kamma dan di saat akan meninggal
tidak pula melakukan Asanna-kamma, maka yang menentukan corak kelahiran berikutnya
adalah acinna-kamma. Acinna-kamma atau Bahula-kamma adalah kamma kebiasaan, baik
dengan kata-kata, perbuatan maupun pikiran. Walaupun seorang hanya sekali berbuat baik,
namun karena selalu diingat, menimbulkan kebahagiaan hingga menjelang kematiannya, hal ini
akan menyebabkan kelahiran berikutnya mnjadi baik. Demikian juga seorang yang hanya seklain
bernuat jahat, karena selalu diingat menimbulkan kegelisahan hingga akhir hidupnya, sehingga
akan lahir di alam yang tidak baik. Oleh karena itu apabila kita pernah berbuat jahat, maka
perbuatan jahat itu harus dilupakan; demikian pula sebaliknya kalau kita pernah berbuat baik,
perbuatan itu perlu selalu diingat.
4. Katatta-kamma
Bila seorang tidak berbuat Garuka-kamma, Asanna-kamma atau Acinna-kamma, maka yang
menentukan bentuk kehidupan berikutnya adalah katatta-kamma, yaitu kamma yang ringan-
ringan, yang pernah diperbuat dalam hidupnya.
Pencarian Populer :
hukum karma dalam agama buddha
hukum karma agama buddha
karma dalam agama buddha
hukum karma buddha
karma
hukum karma budha
khotbah agama buddha tentang hukum karma
hukum agama buddha
pengertian hukum karma dalam agama buddha
hukum karma menurut agama buddha
karma menurut buddha
arti karma
karma dalam buddha
artikel agama budha
karma dalam ajaran buddha
kata kata hukum karma
kamma dalam agama buddha
pengertian karma dalam agama buddha
hukum karma dalam agama hindu
karma dalam budha
hukum karma agama budha
hukum dalam agama buddha
karma dalam agama budha
hukum karma dalam buddha
pengertian kamma
maksud karma dalam agama hindu
karma budha
Kata mutiara hukum karma
karma agama buddha
arti karma dalam agama buddha

HUKUM KARMA

Disusun oleh : Tanhadi

1.Pengantar

Karma (bhs. Sanskerta) atau Kamma (bhs. Pali) berarti perbuatan atau aksi. Sang
Buddha dalam Angutara Nikaya III : 415 menjelaskan secara jelas arti dari Karma :

" Aku katakan, Kehendak adalah Kamma,karena didahului oleh


kehendak, seseorang lalu bertindak dengan jasmani, ucapan dan
pikiran ".

Sejak dari jaman dahulu kala sampai dengan saat ini Hukum Karma merupakan sebuah
teka-teki bagi kebanyakan masyarakat non-Buddhis, karena mereka lebih mengenal
paham Takdir atau Nasib ketimbang Hukum Karma. Hal ini dapat dimaklumi, karena di-
kitab-kitab suci mereka tidak ada satu katapun yang menyebutkan tentang Hukum
Karma.

Jadi, karma berarti semua jenis kehendak (cetana), perbuatan yang baik maupun
buruk/jahat, yang dilakukan oleh jasmani (kaya), perkataan (vaci) dan pikiran (mano),
yang baik (kusala) maupun yang jahat (akusala).

Karma atau sering disebut sebagai Hukum Karma, merupakan salah satu hukum
universal atau hukum alam yang bekerja berdasarkan prinsip sebab-akibat. Selama
suatu makhluk berkehendak, melakukan karma (perbuatan) sebagai sebab, maka akan
menimbulkan akibat atau hasil.

Sering kita mendengar bahwa suatu kejadian yang tidak diduga sebelumnya dikatakan
sebagai suatu kebetulan saja. Didalam paham Buddhisme tidak mengenal adanya istilah
Kebetulan saja, sebab didunia ini tidak ada sesuatupun yang muncul dari ketidakadaan,
tidak ada sesuatupun yang terjadi begitu saja tanpa ada sebab yang mendahuluinya ,
hal ini telah dijelaskan oleh sang Buddha :

" Dengan adanya ini, terjadilah itu. Dengan timbulnya ini,


timbulah itu.
Dengan tidak adanya ini, maka tidak ada itu.
Dengan lenyapnya ini, maka lenyaplah itu. "

(Khuddhaka Nikaya, Udana 40 )

Mungkin akan timbul suatu pertanyaan dalam diri kita; kalau bukan suatu kebetulan,
apa yang dapat kita jelaskan tentang hal tersebut ?

Menyatakan suatu kebetulan adalah boleh-boleh saja, seperti halnya seorang pria dan
wanita yang saling berjumpa disuatu toko, mereka mengatakan ; "wah....kebetulan
sekali kita bertemu disini...emang kamu mau beli apa ?"..dan bermula dari pertemuan
saat itu, kemudian berlanjut hingga terjalinnya suatu hubungan yang lebih serius dan
dikemudian hari merekapun pada akhirnya memutuskan untuk menikah.

Kejadian tersebut sebenarnya samasekali bukan suatu kebetulan, karena baik si


A maupun si B sejak keluar dari rumahnya masing-masing, sama-sama mempunyai
alasan, rencana, niat maupun tujuan tertentu ke toko tersebut,...disini " ada suatu
proses Sebab - akibat yang sedang terjadi ". Jalinan perasaan yang sangat kuat diantara
mereka pada kehidupan lampaunya adalah salah satu penyebab terjadinya pertemuan
kembali dalam kehidupan saat ini, begitu pula kehidupan kita saat ini menjadi seorang
anak dari ayah dan ibu kita?, disini Hukum Karma bekerja dan dapat diibaratkan seperti
adanya suatu hubungan Hutang-Piutang antara kita dengan orang tua kita.

Hukum karma adalah salah satu bagian dari ajaran Sang Buddha yang sangat penting
dan cukup sulit untuk dipahami oleh kebanyakan orang, namun bagi yang mempercayai
maupun yang tidak mempercayai adanya hukum karma, ia tetap akan menerima hukum
karma yang sifatnya universal ini.

" Tidak ada tempat sembunyi untuk melarikan diri dari hasil
Kamma "
( Dhammapada 127 )

Sebagai umat Buddhis, tentu saja kita harus mengerti dan memahami inti ajaran Sang
Buddha, sebab kalau kita tidak memahaminya, samalah artinya kita ini sebagai umat
Buddha KTP yang tahunya hanya ikut-ikutan ke Vihara dan melakukan ritual-ritual tanpa
mengerti maksud dan manfaatnya.

Untuk itulah saya mencoba merangkum semua pengertian dan pemahaman dari
berbagai sumber yang berkenaan dengan Hukum Karma dan Tumimbal lahir, dimana
kedua ajaran ini sangat erat kaitannya dengan kehidupan kita sehari-hari dan sekaligus
sebagai bahan pengkajian lebih lanjut tentang bagaimana kita sebaiknya berprilaku, baik
yang dilakukan oleh pikiran, ucapan dan perbuatan jasmani.

Tentu saja pengertian dan pemahaman yang ada didalam buku ini belum dapat mewakili
secara menyeluruh Buddha Dhamma, namun semoga saja dapat menambah wawasan
bagi kita untuk lebih mengenal Buddha Dhamma yang agung dan sangat luas ini.

Sabbe satta bhavantu sukhitatta


Semoga semua makhluk berbahagia

Surabaya, 2 Mei 2009


Tanhadi

Karma

"Sesuai dengan benih yang di tabur,


begitulah buah yang akan dipetiknya.
Pembuat kebajikan akan mendapatkan kebaikan,
pembuat kejahatan akan memetik kejahatan pula.
Taburlah biji-biji benih
dan engkau pulalah yang akan merasakan buah dari padanya".
( Samuddaka Sutta; Samyutta Nikaya 11.10 {S 1.227})
Ajaran Sang Buddha tentang Hukum Karma berbeda dengan paham yang
meyakini adanya Takdir Illahi. Hukum Karma berpusat pada suatu perbuatan yang
dilakukan oleh diri sendiri dan hasilnya hanya untuk diri sendiri, tidak ada Si pemberi
hukuman atas perbuatan buruk yang kita lakukan, tidak ada pula si Pemberi pahala atas
perbuatan baik yang kita lakukan, dengan demikian hukum Karma adalah hukum yang
sangat adil, sekaligus dapat menjawab semua pertanyaan-pertanyaan sulit tentang
adanya perbedaan-perbedaan jalan hidup serta fenomena kehidupan yang tampaknya
jauh dari azas Keadilan ini ;

Mengapa seseorang kaya dan berkuasa,sedangkan yang lain miskin dan tertekan ?

Mengapa seseorang sepanjang hidupnya sehat, sementara yang lain sejak lahir telah
sakit dan cenderung sakit-sakitan ?

Mengapa ada yang terlahir dengan anggota tubuh lengkap, sementara ada yang terlahir
dengan cacat, tanpa lengan atau kaki ?

Mengapa seseorang terberkahi rupa yang menawan dan kecerdasan, sedang yang lain
buruk rupa dan dungu ?

Mengapa ada yang buta,tuli, bisu dan idiot, sedang yang lain tidak ?

Mengapa seorang anak terlahir diantara kemelaratan dan kemalangan, namun ada yang
terlahir ditengah kemakmuran dan kesenangan ?

Mengapa seorang anak terlahir dari seorang penjahat, sementara ada yang terlahir dari
orang tua yang mulia dan mengenyam pendidikan moral yang baik ?

Mengapa seseorang seringkali tanpa bersusah payah, sukses dalam seluruh bidang
usahanya, sedangkan yang lain walaupun telah bekerja keras, selalu gagal mewujudkan
rencananya ?

Mengapa seseorang dapat hidup dalam kelimpahan, sedangkan yang lain harus hidup
dalam kemelaratan ?

Mengapa ada yang menikmati panjang usia, namun ada yang meninggal pada awal
kehidupannya, bahkan sebelum sempat dilahirkan ?

Mungkinkah segala perbedaan yang ada pada manusia ini disebabkan oleh faktor
keturunan dan lingkungan ?, kita harus mengakui bahwa semua fenomena fisik-kimiawi
yang diungkapkan oleh para ilmuwan, sebagian adalah sebagai faktor pembantu, tetapi
tidak seluruhnya mutlak bertanggung jawab atas perbedaan-perbedaan besar yang
terdapat di antara individu-individu. Lalu mengapa ada anak kembar yang memiliki
tubuh serupa, mewarisi gen yang sejenis, menikmati kesempatan asuhan yang sama,
seringkali memiliki watak, moral dan kecerdasan yang sangat berbeda ?

Keturunan saja tidak dapat menyebabkan perbedaan-perbedaan yang besar


ini. Sesungguhnya,faktor keturunan lebih masuk akal atas persamaan-persamaan
mereka daripada atas perbedaan-perbedaan. Benih fisik-kimiawi dengan panjangnya
kira-kira sepertiga puluh inci yang diwarisi dari orang tua, hanya menerangkan satu
bagian dari manusia, yaitu dasar fisiknya. Mengenai perbedaan-perbedaan batin,
intelektual dan moral yang jauh lebih kompleks dan halus itu diperlukan penerangan
batin yang lebih dalam. Teori keturunan tidak dapat memberikan suatu jawaban yang
memuaskan tentang lahirnya seorang kriminal dalam sebuah keluarga yang mempunyai
leluhur terhormat atau kelahiran seorang suci atau mulia dalam sebuah keluarga yang
memiliki reputasi jelek dan tentang lahirnya seorang ideot, manusia genius dan guru-
guru besar spiritual.

Menurut agama Buddha, perbedaan-perbedaan ini tidak hanya disebabkan oleh faktor
keturunan dan lingkungan, tetapi juga disebabkan oleh karma kita sendiri, suatu
perbuatan baik atau buruk memiliki akibatnya pada suatu saat, disuatu tempat.

Kebanyakan orang akan mengatakan bahwa semuanya itu adalah merupakan nasib atau
Takdir Illahi..., semua yang terjadi adalah atas rencana dan kehendak
Tuhan.......,Penjelasan-penjelasan seperti itu, pada awalnya memang bisa menghibur,
memberikan ketabahan dan harapan bagi manusia untuk menghadapi kenyataan-
kenyataan pahit dalam hidupnya. Tetapi karena Tuhan dilibatkan dalam penjelasan
tersebut dan digambarkan sebagai ? Sosok Yang Maha Kuasa ? yang memiliki sifat-sifat
seperti manusia; murka, cemburu, menghukum, berjanji, memberikan hadiah dan
sebagainya, akhirnya justeru menimbulkan banyak kerancuan dan gambaran Tuhan jadi
tidak sempurna bahkan membingungkan.

Agama Buddha menyangkal adanya nasib baik atau buruk karena takdir ataupun atas
kehendak dan Rencana Tuhan. Agama Buddha mengajarkan sebab-musabab yang alami
seperti halnya ilmu pengetahuan tentang aksi-reaksi. Dalam ajaran Buddha, apa yang
tampak tidak adil itu dijelaskan dengan dalil Karma ( kamma );

" Semua makhluk adalah pemilik kammanya sendiri, pewaris


kammanya, kammanya adalah kandungan yang melahirkannya,
dengan kammanya dia berhubungan, kammanya adalah
pelindungnya. Apapun kammanya, baik atau buruk, mereka akan
mewarisinya ".

( Majjhima Nikaya III : 135 ).

" Semua makhluk memiliki kammanya sendiri,


mewarisi kammanya sendiri, lahir dari kammanya sendiri,
berhubungan dengan kammanya sendiri,
terlindung oleh kammanya sendiri.
Kammalah yang membuat semua makhluk menjadi berbeda,
hina atau mulia ".

( Majjhima Nikaya 55 )

Hukum Karma terbebas dari gagasan mengenai Penghakiman, Ganjaran, Pahala atau
Penjatuhan Hukuman. Setiap perbuatan yang dilandasi oleh Kehendak, Pikiran, Ucapan
dan Tindakan jasmani, akan membuahkan hasil atau akibat. Perbuatan baik akan
berbuah baik, perbuatan buruk akan berbuah buruk. Ini bukan penjatuhan hukuman
ataupun pahala yang diberikan oleh siapapun atau kekuatan apapun yang menghakimi
perbuatan kita, .... Siapa yang berbuat, dialah yang bertanggung jawab atas
perbuatannya.

Salah pengertian tentang Hukum Karma, ialah anggapan bahwa setiap


perbuatan pasti berakibat, misalnya tindakan negatif, pasti tak terhindarkan/
mutlak akan berbuah negatif.
Memang benar bahwa kita akan memetik buah perbuatan yang kita tanam, kita adalah
produksi (akibat) dari kumulatif perbuatan yang kita lakukan pada kelahiran di waktu
lampau, dan perbuatan yang kita lakukan pada saat ini akan menjadi kumulatif akibat
pada kelahiran berikutnya, Sang Buddha mengajarkan kepada kita bahwa perbedaan-
perbedaan tersebut diatas berhubungan dengan karma kita masing-masing, namun
Sang Buddha tidak menyatakan bahwa segala sesuatu hanya disebabkan oleh
karma saja.

Apabila segala sesuatu hanya disebabkan oleh karma, maka seorang penjahat akan
selamanya menjadi jahat, karena karmanya yang menjadikan dirinya jahat dan orang
yang sakit tidak perlu memeriksakan dirinya ke dokter untuk disembuhkan penyakitnya,
karena bila karmanya memang harus demikian ia pasti akan sembuh dengan sendirinya.

Dalam Abhidharma, Karma hanyalah satu dari 24 kondisi-kondisi kausal (paccaya).


Dengan demikian, maka tidak semua pengalaman yang kita alami berasal dari karma.
Dalam Anguttara Nikaya dijelaskan bahwa seandainya semua pengalaman hidup kita
disebabkan oleh karma lampau, maka seseorang yang menjadi pembunuh, pencuri,
penjahat atau orang tidak bermoral tidak harus bertanggungjawab atas perbuatannya.
Untuk apa mereka berusaha menjauhi perbuatan jahat jika mereka sudah ditakdirkan
menjadi penjahat oleh karmanya.

Sang Buddha menjelaskan hal itu didalam Anguttara Nikaya I : 248 .;

" Bila seseorang mengatakan, bahwa hanya apa yang diperbuat itulah yang akan
diperolehnya, jika hal itu benar, maka menuntut kehidupan suci tidaklah berarti (*1) ,
sebab tak ada kesempatan untuk mengatasi penderitaan.

Tetapi bila seseorang berkata, bahwa bila seseorang berbuat demi apa yang hendak
diperolehnya, lalu itulah yang diperolehnya, maka menuntut kehidupan suci adalah
berarti, karena ada kesempatan untuk menghancurkan penderitaan. Contohnya,....suatu
kejahatan kecil dilakukan seseorang, tindakan itu bisa berbuah pada kehidupan ini atau
samasekali tidak berbuah. Sekarang manusia yang bagaimana, yang walaupun dengan
kejahatan kecil sekalipun tetap akan membawanya ke Neraka ?. (*2)

Seseorang yang tidak berhati-hati dalam mengembangkan tindakan jasmani, pikiran dan
ucapannya, dia tidak mengembangkan kebijaksanaannya, dia seorang yang tidak berarti,
dia tidak mengembangkan dirinya sendiri, hidupnya sempit dan dapat diukur, Perbuatan
kecil saja dapat membawanya ke Neraka.

Lalu sekarang, seseorang yang dengan hati-hati mengembangkan tindakan jasmani,


pikiran dan ucapannya, dia mengembangkan kebijaksanaannya, dia seorang yang
berarti, dia mengembangkan dirinya sendiri, hidupnya tanpa batas dan tidak terukur.
Bagi orang seperti ini, sebuah kejahatan kecil bisa berbuah dikehidupan ini atau tidak
samasekali.

Seandainya seorang menaruh sejumput garam kedalam sebuah cawan kecil, air tersebut
tidak akan bisa diminum, mengapa?, karena cawan itu kecil....
Nah, sekarang, seandainya seorang menaruh sejumput garam ke sungai Gangga, airnya
akan tetap dapat diminum, karena banyaknya air di sungai tersebut ".
Pemahaman Hukum Kamma

Oleh: Benny Pangadian


Ubho puaca ppaca yam macco kurete idha
Tahi tassa sakam hoti dya gacchati
Tacassa anugaham hoti chyva anupyin

Perbuatan apapun yang telah dilakukan oleh seseorang dalam hidup sekarang ini, baik atau
buruk, adalah menjadi miliknya sendiri. Ia harus membawanya kemana saja ia pergi, seperti
bayangan yang selalu mengikuti badannya. (Sagthavagga, Samyutta Nikya)
Kamma (Pli) atau Karma (Sansekerta) artinya "perbuatan".
Agama Buddha memandang hukum kamma sebagai hukum semesta
tentang sebab akibat dan sebagai hukum moral. Dalam aspeknya
sebagai hukum semesta tentang sebab akibat, hukum ini menerangkan
bahwa segala sesuatu yang timbul baik itu berupa jasad organik
maupun non organik, pasti mempunyai sebab; atau dengan kata lain
yakni tiada sesuatu yang timbul tanpa ada sebab sebelumnya. Istilah
kamma' berarti perbuatan / tindakan, suatu perbuatan dilakukan
selalu diawali oleh kehendak (cetana). Jadi apabila ada unsur
kehendak (cetana) maka hukum kamma akan berproses. Kehendak
(cetana) ini dapat melalui pikiran, ucapan dan tindakan jasmani. Hasil
dari perbuatan yang telah dilakukan selalu berada dalam dua sisi,
yaitu sisi baik (phala) atau sisi buruk (vipaka). Apabila kita dapat
menolong seseorang sehingga akan menghasilkan sebuah
persahabatan baru maka perbuatan ini disebut kamma baik (phala)
tetapi bila sebalikanya karena kita sering berdusta sehingga tak ada
seorangpun yang mau bergaul maka ini disebut dengan kamma buruk
(vipaka).
Kamma = Nasip
Secara sekilas pendapat umum mengatakan bahwa Kamma =
Nasip, tetapi apakah benar demikian?, sudah tentu tidak. Perbedaan
antara kamma dan Nasip terletak di sifatnya yakni bahwa sifat dari
kamma dapat diubah sedangkan sifat dari nasip adalah mutlak.
Seseorang yang lahir dalam keluarga miskin (nasip), namun oleh
karena dia seorang pekerja yang ulet serta jujur maka dia mampu
merupah kondisi ekonomi dari miskin menjadi sejahtera (kamma).
Agama Buddha tidak memerima doktrik nasip karena doktrin nasip
akan membuat kita selalu pasrah sehingga keinginan untuk merubah
menuju yang lebih baik berat untuk dilakukan karena bila ada
kejadian yang menimpa kita, maka kita akan berucap " Ini memang
takdir/nasip'ku ", akhirnya timbul rasa putus asa.
Buah semangka berdaun sirih?
Pada suatu hari Donald berpergian dengan sepeda motor,
ditengah perjalanannya dia melihat seorang gadis sedang tergeletak
disamping jalan dengan sebuah sepeda dengan roda ban yang
bengkok disampingnya. Melihat kejadian ini maka Donald
menghentikan sepeda motornya lalu turun dan menuju kearah si gadis
itu. Suasana saat itu masih sepi, melihat situasi ini oleh Donald
bersaha untuk menolongnya, menurut perkiraan Donal bahwa gadis
ini merupakan korban tabrak lari. Ketika ia sedang berusaha
menolong gadis itu maka seketika itu juga datang segerombolan
orang menghampiri Donald, dan diantaranya ada yang mengatakan "
Ini dia yang menabrak Diana, Ayo sikat!". Tak disangka-sangka
segerombolan orang tadi ramai-ramai mengebuki si Donald sampai
babak belur tapi untung dia tidak tewas . Bila kita melihat peristiwa
ini maka keyakinan kita terhadap Hukum Kamma akan sirna, karena
si Donald yang telah melakukan perbuatan baik untuk menolong
Diana malah mendapat bogem,karena seharusnya bila melakukan
sebab yang baik pasti akan merima akibat yang baik pula, tetapi
dalam hal ini bukan akibat yang baik didapat malahan akibat buruk.
Secara sekilas pendapat itu memang tidak salah, namun kita juga
jangan lupa dengan hukum alam, bahwa " Biji semangka bila ditanam
akan berbuah semangka dan tidak mungkin biji semangka memiliki
daun sirih!". Dengan berdasarkan hukum alam ini maka perbuatan
buruk yang dilakukan oleh Donald berbuah setelah dia melakukan
perbuatan baik. Jadi disini bukan karena sebab baik maka menerima
akibat buruk, cuma karma buruk yang lampau berbuah di saat itu dan
bagaimana dengan perbuatan baik yang dilakukannya menolong
Diana?, sudah tentu perbuatan baik itu akan dia terima dengan akibat
yang baik juga. Disaat segerombolan itu seang membogem di Donald
ada sesorang yang mengatakan bahwa, "bukan pemuda ini yang
menabrak Diana!, pemuda ini hanya bermaksud untuk menolong si
Diana, saya yang melihatnya kejadian itu. Akhirnya segerombolan itu
meminta maaf atas kesalahan mereka terhadap Donald. Dan
seminggu setelah peristiwa itu Donald dan Diana menjalin persabatan
dan tiga bulan kemudian mereka menuju kepenghulu untuk menikah.
Kejadian ini sama halnya dengan seorang petani yang memiliki
sawah dan kebun. Hari ini si petani menanam bibit padi disawah yang
telah dia bajak sejak tiga ahri yang lalu. Sore harinya petani itu
pulang, namun sebelum pulang kerumah dia mampir ke kebun yang
telah ditumbuhi oleh pohon pisang dan kebetulan pada hari itu juga
pohon pisang telah siap untuk dipetik buahnya. Maka dengan
gembiranya petani itu memetik buah pisang lalu membawanya
kerumah untuk dibuat kolak pisang. Cerita ini mengatakan bahwa
petani akan menerima padi setelah bibit padi itu berumur tiga bulan
dan batang padi ini berwarna kuning keemasan, dan buah dari pohon
pisang yang dia bawa itu telah dia tanam jauh hari sebelum petani itu
menamam bibit padi. Ini kedengarannya lebih logis dan masuk akal
karena bibit padi yang ditanam bukan berbuah pisag tetapi akan
berbuah padi.

Jadi pendapat yang mengatakan bahwa sudah capek berbuat


baik tetapi malah akibat buruk yang diterima belum tentu benar, yang
benar ialah oleh karena membuat sebab maka akan merima akibat
atau dengan kata lain bila melalukan sebab yang baik maka akan
merima akibat yang baik pula. Ini adalah sifat dari hukum Kamma,
yakni adil, tidak mengasihi, tidak membenci, tidak memandang status
seseorang, dan tidak pernah salah dalam memberikan ganjaran
maupun pahala karena semua itu semata-mata hanyalah Hukum.
Untuk itu kita harus extra hati-hati dalam segala perbuatan baik itu
dilakukan melalui pikiran, ucapan dan perbuatan, karena pada
akhirnya kitalah yang menciptakan hukuman atas diri kita sendiri
( kita mampu membuat dunia ini seperti damai laksana surga atau
menderita bagai berada di Neraka).

3 Macam Kamma
Menurut macamnya Hukum kamma dibagi atas 3 macam:
1. Kamma menurut Fungsi
2. Kamma menurut Kekuatan
3. Kamma menurut Waktu
1. Kamma menurut Fungsi
Disini, kamma dihubungkan dengan peranannya salam menghasilkan
akibat, yang terdiri atas empat macam yaitu:

a.Janaka kamma (kamma penghasil),


Adalah kamma yang berfunsi untuk melahirkan. Tugaskamma ini
adalah menyebabakn terjadinya kelahiran sesuai dengan macam
dan sifatnya. Seseorang dilahirkan kedalam keluarga yang miskin
dan dikeluarga yang kaya ditentukan oleh Janaka kamma.
b.Upatthambhaka kamma (kamma penguat),
Adalah kamma yang berfungsi membantu apa yang dihasilkan oleh
Janaka kamma sesuai dengan macam dan sifatnya. Modi adalah
seorang kakek yang ditetapkan oleh Janaka kamma hanya hidup
selama 70 tahun di dunia, tetapi dalam kehidupan sehari-hari kakek
Modi sering melakukan perbuatan baik seperti sering menolong,
berdana, melaksanakan sila, tekun bermeditasi sehingga umur yang
ditetapkan oleh Janaka kamma selama 70 tahun itu bertambah 20
tahun, akhirnya kakek Modi hidup didunia ini selama 90 tahun.
c.Uppaplika Kamma (kamma pelemah),
Adalah kamma yang berfungsi untuk menandingi pengaruh dari apa
yang telah dihasilkan oleh Janaka kamma, yaitu memperlemah
kekuatannya atau mempersingkat waktu dalam menghasilkan
buahnya. Abud seorang narapidana yang divonis 10 tahun hukuman
penjara, namu dalam kesehariannya dia sering menunjukan tabiat
yang baik, rajin bekerja maka Abud mendapatkan keringan
hukuman 3 tahun sehingga masa hukuman yang ditetapkan selama 10
tahun berubah menjadi 7 tahun saja.
d.Upaghtaka kamma (kamma penghancur),
Adalah kamma yang berfungsi menghancurkan kekuatan dari Janaka
kamma tetapi sifat kamma ini lebih kuat dari pada kamma pelemah.
Susi seorang bintang badminton, dia sering kali juara dalam setiap
kompetisi oleh raga bulu tangkis. Dan oalh raga bulutangkis ini
merupakan karir bagi si Susi. Tetapi pada suatu hari disaat susi
mengendarai mobilnya tiba-tiga mobil Susi ditabrak sebuah truk dari
arah kanan. Akibatnya tangan kiri susi menjadi patah dan setelah
sembuh ternyata tangan Susi menjadi cacat akibat kecelakaan mobil,
sehingga karir susi dalam oleh raga bulu tangkis hancur total!.

2. Kamma menurut Kekuatan.


Di sini, kamma dihubungkan dengan tingat kekuatan dalam
menghasilakn akibat, kamma ini terdiri dari empat macam yaitu:

a.Garuka Kamma,
Adalah kamma yang paling berat di antara semua kamma lainnya,
karena sifatnya yang kuat ini maka kamma ini akan berbuah terlebih
dahulu. Semala kamma ini masih menghasilkan akibatnya, tidak ada
kamma lain yang berkesempatan untuk muncul. Garuka kamma dapat
berupa membunuh Ibu, Ayah, membunuh seorang Arahat, melukai
seorang Buddha dan memecah belah Sangha, membunuh kepala
negara, menghianati negara sendiri, mengacaukan perekonomian
negara termasuk dalam perbuatan yang dikategorikan dalam Garuka
kamma. Akibat dari perbuatan itu sesorang akan lahir secara spontan
di alam neraka Tiracchana Yoni selama 1 kalpa ( 1 kalpa = 1 umur
bumi {4323 juta tahun}).

b.Bahula kamma,
Adalah kamma yang sering dan berulang-ulang dilakukan oleh
seorang, baik melalui jasmani, ucapan dan pikiran sehingga
tertimbun dalam wataknya. Bahula kamma akan menampakan
hasilnya apabila seseorang tidak melakukan Garuka kamma.

c.sanna kamma,
Adalah kamma yang diperbuat oleh seseorang pada saat ia
menghadapi kematian. sanna kamma ini dapat berupa perbuatan
bau yang dilakukan oleh melalui pikiran atau dapat pula berupa
perbuatan-perbuatan apapun yang pernah dia lakukan semasa
hidupnya akan teringat kembali dengan amat jelas disaat
menghadapi kematian. Menurut agama Buddha sanna kamma ini
memegang peranan penting dalam menentukan alam kehidupan
selanjutnya dari orang yang sedang menghadapi kematian.

d.Katatt kamma,
Adalah suatu perbuatan yang hapir tidak didorong oleh kehendak.
Sifat kamma ini adalah mekanis / refleksi dan kekuatannya lemah.
Kamma ini berproses bila ketiga kamma diatas tidak pernah
dilakukan. Katatt kamma dapat dimisalnya seperti tanpa sadar
menggaruk kepala walau kepala tidak gatal, meludah.

3.Kamma menurut Waktu


Disini kamma dihubungkan dengan unsur waktu dalam menghasilkan
akibatnya, yang terdiri atas empat macam yaitu:
a.Dittadhammavedanya kamma,
Adalah kamma yang berakibat/bernuah dalam kehidupan sekarang
ini
b.Uppajjavedanya kamma,
Adalah kamma ayng akibatnya akan dialami dalam kehidupan setelah
kehidupan sekarang ini.
c.Aparparavedanya kamma,
Adalah kamma yang akibatnya akan dialami dalam kehidupan-
kehidupan berikutnya.
d.Ahosi kamma,
Adalah kamma yang tidak memberikan akibat karena jangka
waktunya untuk menghasilkan akibat telah habis atau karena
kamma tu telah menghasilkan akibat secara penuh.
Seorang setelah dijemput oleh kematian harus berpisah dengan
semua orang dan harta kekayaan yang ia cintai. Pada saat itu,
kekayaan, kehormatan atau sahabat-sahabat tidak akan berguna
banginya, walau betapapun dahulu ia mencintai mereka. Juga badan
jasmani yang selama hidup ia anggap sebagai miliknya, harus
berbaring kaku seperti sepotong kayu log diatas tanah. Sekarang
hanya kammanya sendiri, yang baik dan yang buruk benar-benar
menjadi miliknya, yang harus dobawa dan akan selalu mengikutinya
seperti bayangan yang tek pernah terpisahkan dari objeknya. Oleh
karena itu semua orang dianjurkan untuk melakukan segala bentuk
perbuatan baik sebagai bekal kita untuk melakukan perjalanan yang
amat panjang.

Perbuatan baik dapat diwujudkan melalui tiga saluran yaitu:


* melalui perbuatan,
* perkataan (ucapan) dan
* pikiran,
Sehingga seperti yang tercantum didalam kitab Dhammapada,Bab
XIV Buddha Vagga, yang berbunyi:

Sabbappassa akaranam
kusalassapasampad
Sacittapariyodapanam
etam buddna ssanam (183).
Jangan berbuat jahat
tambahahlah kebaikan
sucikan hati dan pikiran
Inilah ajaran para Buddha

Hukum Kamma
oleh Bhikkhu Uttamo

Dalam kegiatan sehari-hari sering didengar istilahKamma (Bhs. Pali) atau karma (Bhs.
Sanskerta). Penggunaan kata Kamma pada umumnya ditujukan untuk menggambarkan hal-hal
yang tidak baik; kamma selalu dihubungkan dengan kamma buruk. Padahal sebetulnya kamma
bukan hanya kamma buruk tetapi juga ada kamma baik. Selain sebagai kamma buruk, konsep
kamma juga sering diidentikkan sebagai satu-satunya penyebab kejadian. Kita menganggap setiap
keadaan buruk selalu disebabkan oleh kamma, semuanya tergantung pada karma. Konsep yang
demikian ini dapat berakibat menurunkan semangat juang atau semangat hidup kita. Padahal
kamma bukan satu-satunya penyebab kejadian, melainkan hanya salah satunya; masih terdapat
banyak faktor yang ikut menentukan dan menyebabkan kamma berbuah. Konsep yang
menganggap bahwa kamma selalu kamma buruk dan sebagai satu-satunya penyebab kejadian ini
dapat dikatakan sebagai suatu pandangan yang salah dan merupakan kelemahan terhadap
penjelasan hukum kamma.

Apakah sesungguhnya kamma itu? Kamma adalah niat untuk melakukan perbuatan. Niat itulah
yang disebut dengan kamma. Perbuatan yang dilakukan dengan pikiran disebut kamma melalui
pikiran; perbuatan yang dilakukan dengan ucapan disebut kamma melalui ucapan; dan perbuatan
yang dilakukan dengan badan disebut kamma melalui badan. Dengan demikian, kamma bisa
berupa kamma baik dan kamma buruk.

Kemudian timbul satu pertanyaan, apakah yang disebut Hukum Kamma? Hukum kamma
sebenarlnya adalah Hukum Sebab dan Akibat. Di dalam Samyutta Nikaya I, 227 dinyatakan:

Sesuai dengan benih yang ditabur, demikian pulalah buah yang dituai. Pembuat kebajikan akan
mendapatkan kebajikan, dan pembuat kejahatan akan menerima kejahatan pula. Tertaburlah
olehmu biji-biji benih, dan engkau pulalah yang akan memetik buah-buah daripadanya.

Kalau kita melihat dengan kacamata duniawi, pernyataan tersebut tampak bertolak belakang
dengan kenyataan yang ada. Kita sering menemukan orang yang banyak melakukan kebajikan
tetapi masih mengalami penderitaan, dan sebaliknya. Mengapa demikian? Apakah hukum kamma-
nya keliru? Sebetulnya tidak keliru. Kalau hukum kamma diumpamakan sebagai sebuah sawah
yang mempunyai tanaman padi dan jagung, di mana tanaman padi dan jagung tersebut
mempunyai usia panen yang berbeda, maka tanaman jagung tentu akan panen terlebih dahulu
daripada tanaman padi. Demikian pula perbuatan baik dan buruk. Kalau kita sudah berbuat baik
tetapi masih menderita, ini disebabkan karena perbuatan baik kita belum saatnya dituai / dipanen.
Dalam hal ini kita memetik buah dari perbuatan buruk terlebih dahulu. Jadi semua itu ada
waktunya, walaupun adakalanya masih bisa dipercepat sampai batas-batas tertentu.

Selanjutnya bagaimanakah kamma kalau dilihat menurut waktunya?


Menurut waktunya, kamma dapat kita bedakan menjadi 4 (empat) kelompok, sebagai berikut:

a). Kamma yang langsung berbuah.


Jenis kamma ini misalnya saja ketika kita mengambil helm milik orang lain, karena helm kita
sendiri telah dicuri seseorang. Supaya tidak ketahuan, kita mengendarai sepeda motor dengan
kecepatan tinggi walaupun lampu lalu lintas berwarna merah. Akhirnya kita ditangkap polisi.
Terpaksa kita harus membayar tilang Rp 15.000,- (padahal harga sebuah helm hanya Rp
10.000,-). Ini adalah salah satu contoh sederhana kamma yang langsung berbuah.

b). Kamma yang berbuah agak lama tetapi masih dalam satu kehidupan. Misalnya orang yang
melakukan meditasi hingga mencapai jhana tertentu, maka setelah meninggal ia akan langsung
terlahir di Alam Brahma.

c). Kamma yang berbuah pada kehidupan-kehidupan yang berikutnya.


Salah satu contoh adalah orang yang sering mendengarkan Dhamma, besar kemungkinan ia akan
terlahir kembali di alam sorga dalam kehidupan-kehidupan yang berikutnya. Mengapa demikian?
Dengan mendengarkan Dhamma, orang tersebut telah melakukan kamma baik karena ia telah
melatih berdana perhatian. Selama mendengarkan Dhamma, ia juga telah memusatkan pikiran,
ucapan serta perbuatannya ke arah kebajikan, apalagi jika ia dapat mengerti serta melaksanakan
Dhamma dalam kehidupan sehari-hari. Kebajikan ini tentunya sangat selaras dengan salah satu isi
kotbah Sang Buddha yang menyatakan bahwa mendengarkan Dhamma pada saat yang sesuai
adalah Berkah Utama.

d). Kamma yang tidak sempat berbuah karena telah kehabisan waktu atau kehilangan kesempatan
untuk berbuah.
Sering orang mengatakan bahwa tercapainya Nibbana (Bhs. Pali) atau Nirvana (Bhs. Sanskerta)
adalah ketika kamma baik dan kamma buruknya telah habis. Padahal kamma itu sangat sulit
untuk dapat habis berbuah karena jumlahnya yang tidak terbatas. Namun, kamma dapat dipotong.
Kita dapat merasakan buah kamma apabila kita masih mempunyai badan dan batin, artinya kita
masih hidup setelah dilahirkan. Apabila kita tidak dilahirkan kembali, maka kesempatan untuk
merasakan buah kamma baik maupun buruk sudah tidak ada lagi. Dengan demikian, ada berbagai
kamma yang tidak sempat berbuah.

Selain menurut waktu, kamma juga dapat dibedakan menurut fungsinya, yaitu:

a). Fungsi kamma yang melahirkan.


Misalnya: Ada orang yang dilahirkan dalam kondisi mempunyai banyak penyakit. Kenapa terjadi
demikian? Sesuai dengan benih yang ditanam, demikian pula buah yang dituainya; mungkin
karena ia telah melakukan penyiksaan di kelahiran yang lampau, maka kini ia terlahir menjadi
orang yang sakit-sakitan.

b). Fungsi kamma yang mendukung.


Jenis kamma ini mendukung fungsi kamma yang melahirkan. Misalnya: Selain ia terlahir di
keluarga yang miskin, dia juga terlahir dalam keadaan cacat. Inilah salah satu contoh kamma yang
mendukung.

c). Fungsi kamma yang mengurangi.


Fungsi kamma yang mengurangi ini berhubungan dengan perbuatan kita yang baik maupun buruk
yang dilakukan dalam kehidupan saat ini. Misalnya: Meskipun seseorang terlahir sebagai orang
yang miskin serta cacat, orang tersebut mungkin saja mempunyai perilaku kemoralan yang baik.

d). Fungsi kamma yang memotong.


Karena perilaku kemoralannya baik, ucapannya serta tingkah lakunya juga baik, maka mungkin
saja ada orang yang simpati kepadanya. Orang tersebut mungkin akan memberinya pekerjaan
yang sesuai dengan keadaannya.
Inilah salah satu contoh kamma yang memotong, artinya bertentangan atau memotong buah
kamma yang sedang berlangsung atau buah kamma yang sedang dialaminya.
Kamma sangat berhubungan dengan perbuatan seseorang saat ini. Segala sesuatu yang
dilakukan pada saat ini akan menentukan buah kamma di masa depan. Dengan demikian, kamma
bukanlah nasib yang tidak bisa diubah. Kamma masih dapat diperbaiki dan diubah dengan
melakukan berbagai kamma atau perbuatan yang lain. Jadi, perbuatan saat inilah yang paling
penting!

Selanjutnya kamma juga dapat dikelompokkan menurut bobotnya yaitu:

a). Bobot kamma super berat.


Kamma super berat yang baik misalnya: orang yang bermeditasi konsentrasi sehingga mencapai
jhana, setelah meninggal dunia, ia akan langsung terlahir kembali di Alam Brahma.
Kamma jenis ini juga bisa terjadi untuk mereka yang telah melatih meditasi pengembangkan
kesadaran sehingga mencapai kebijaksanaan atau mencapai Nibbana. Dengan tercapainya
Nibbana, maka ia sudah tidak akan terlahir kembali di alam manapun juga setelah ia meninggal di
kehidupan ini.
Sedangkan kamma super berat yang buruk ada 5 (lima) perbuatan yaitu membunuh ayah,
membunuh ibu, membunuh seorang Arahat, melukai Sammasambuddha, dan memecah belah
Sangha. Apabila seseorang melakukan salah satu atau lebih dari kelima perbuatan buruk tersebut,
maka setelah meninggal dunia, orang tersebut langsung terlahir di Alam Neraka Avici.

b). Kamma yang berkesan yang muncul pada saat kematian.


Pada saat seseorang akan meninggal dunia, maka pikirannya akan mengingat perbuatan yang
super berat terlebih dahulu. Apabila tidak ada perbuatan super berat yang pernah dilakukan
selama hidupnya, maka pikirannya akan mengingat salah satu perbuatan yang paling berkesan
dalam hidupnya. Misalnya: Ia teringat kesan baik ketika ia mendengarkan Dhamma atau sering
bertemu dengan para bhikkhu. Apabila ia meninggal pada saat mengingat kesan baik tersebut, ia
akan terlahir di alam bahagia. Sebaliknya kalau ia teringat kesan perbuatan yang tidak baik, maka
ia dapat saja terlahir di alam menderita.

Sehubungan dengan jenis kamma yang membangkitkan kesan pada saat seseorang mengalami
proses kematian ini, disebutkan dalam Dhamma bahwa apabila seseorang telah mengunjungi dan
melihat 4 (empat) tempat suci di India yaitu :
1. Tempat Pangeran Siddhattha dilahirkan,
2. Tempat Beliau mencapai kesucian dan menjadi Buddha,
3. Tempat Sang Buddha pertama kali membabarkan Dhamma, serta
4. Tempat Sang Buddha wafat.
Dan, ketika ia akan meninggal, ia dapat mengingat kesan baik saat berkunjung keempat tempat
yang berkesan ini, maka ia akan dapat terlahir di alam bahagia.
Ini pula sebabnya seseorang yang akan meninggal dunia dilakukan upacara pembacaan paritta.
Salah satu tujuan upacara ritual ini adalah untuk membantu orang yang akan meninggal tersebut
mengingat berbagai kesan kebajikan yang telah dilakukannya selama hidup. Dengan demikian, ia
akan mempunyai kondisi untuk terlahir di alam bahagia.

c). Kalau di dalam proses kematian itu tidak ada perbuatan yang berkesan atau tidak sempat
berpikir, misalnya karena ia meninggal dalam keadaan koma atau kecelakaan fatal, maka hal yang
menentukan kelahiran kembalinya adalah perbuatan yang menjadi kebiasaan dalam hidupnya.
Misalnya, orang yang mempunyai kebiasaan bermain musik, apabila pada saat meninggal dunia ia
teringat dengan kebiasaannya itu, maka ia dapat saja terlahir kembali sebagai orang yang
memiliki bakat bermain musik sejak kecil.

d). Bobot kamma yang super ringan atau kecil.


Apabila pada saat kematian, seseorang tidak mempunyai kamma yang super berat, kamma yang
berkesan maupun kamma kebiasaan, maka pada saat itu akan timbul jenis kamma yang super
ringan atau sepele. Misalnya: Pada satu saat, seseorang pernah melihat dan menyingkirkan paku
agar tidak ada orang lain yang terluka karenanya, apabila kamma sederhana yang
membahagiakan ini timbul di saat kematian, ia dapat pula terlahir di alam bahagia.

Dari keterangan di atas, dapatlah dimengerti bahwa kamma walaupun hanya SATU, namun, dari
berbagai sudut pandang, kamma dapat dibagi menjadi tiga kelompok yaitu menurut waktu, fungsi
dan bobotnya. Setiap kelompok terdiri dari empat bagian. Dengan demikian, secara keseluruhan,
SATU kamma yang dimiliki oleh seseorang dapat dimengerti sebagai 12 jenis kamma yang saling
berkaitan menjadi satu kesatuan.

Semoga uraian tentang berbagai jenis kamma ini dapat mendorong para umat serta simpatisan
Buddhis agar selalu mengisi setiap saat dalam hidupnya untuk berbuat, berbicara dan berpikir
yang baik. Kesimpulannya, jadikanlah perbuatan baik sebagai kebiasaan.

Semoga kebahagiaan selalu ada pada Anda.

Semoga semua mahluk berbahagia.

HUKUM KAMMA
1. KAMMA

Kamma(pali) dan Karma(Sansekerta) artinya perbuatan baik atau buruk yang


dilakukan melalui pikiran, ucapan dan perbuatan badan jasmani yang disertai dengan
niat/kemauan (cetana). Suatu perbuatan baru dapat disebut kamma/karma bila dilakukan
dengan niat(cetana), apabila suatu perbuatan yang dilakukan tidak disertai dengan niat
maka tidak disebut dengan kamma/karma. Berkenaan dengan Karma, Sang Buddha
bersabda dalam Kitab Anguttara Nikaya III,415, sbb :

O para bhikkhu, kehendak(cetana) untuk berbuat itulah yang aku namakan karma.
Sesudah berkehendak orang lalu melakukan perbuatan dengan pikiran, ucapan dan badan
jasmani.
Ditinjau dari segi perbuatan, karma dibagi menjadi 3 macam, yaitu :

1. Mano Kamma : perbuatan yang dilakukan oleh pikiran.


2. Vaci Kamma : perbuatan yang dilakukan oleh ucapan
3. Kaya Kamma : perbuatan yang dilakukan oleh badan jasmani.
Diantara ketiga karma diatas yang paling penting adalah mano kamma, karena vaci kamma
dan kaya kamma bersumber pada pikiran(mano).

2. SIFAT KAMMA

Menurut sifatnya karma dibagi menjadi 2 macam, yaitu :

1. Kusala kamma ( perbuatan baik) yang bersumber pada empat sifat luhur/mulia
(Brahma Vihara) yaitu Metta, Karuna, Mudita, Upekkha.
2. Akusala Kamma (perbuatan tidak baik/jahat) yang bersumber pada Lobha, Dosa,
Moha, Irsia.

Sumber dari perbuatan baik dan tidak baik adalah pikiran. Apabila seseorang
melakukan perbuatan jahat maka dapat dihilangkan dengan melaksanakan perbuatan
baik. Metta dapat menghilangkan Dosa(kebencian), karuna dapat menghilangkan
Lobha(keserakahan), sedangkan Moha(kebodohan) dapat dihilangkan dengan
mengembangkan Panna(kebijaksanaan).

3. KAMMA VIPAKA

Kamma Vipaka artinya akibat dari perbuatan. Kamma Vipaka sering disebut
dengan kamma phala(hasil/buah dari perbuatan). Jadi hukum Kamma adalah hukum sebab
akibat dari semua perbuatan yang menghasilkan akibat dan hasil. Apabila kita
melaksanakan karma baik maka akan menerima akibat baik, begitu juga sebaliknya bila
kita melaksanakan karma buruk maka akan menerima hasil yang tidak baik juga.
Sehubungan dengan perbuatan baik ini Sang Buddha bersabda dalam Kitab Dhammapada
183:

Jangan berbuat jahat, Tambahlah kebaikan, Sucikan batin dan pikiran, Inilah ajaran
para Buddha.

Dalam Kitab Samyutta Nikaya I,227 terdapat proses pelaksanaan hukum karma, al:

Sesuai dengan benih yang ditabur,

Begitulah buah yang akan dipetik,


Pembuat kebaikan akan menerima kebaikan,

Pembuat kejahatan akan memetik kejahatan,

Taburlah biji-biji benih dan engkau sendirilah yang akan memetik


buahnya.

Hukum karma merupakan hukum yang bekerja apa adanya, maksudnya suatu
perbuatan yang merupakan sebab pasti menimbulkan akibat. Cobalah kalian renungkan,
mengapa didunia ini ada orang cantik, ganteng, cacat, kaya, miskin, jelek, pengemis, dll
semua ini disebabkan oleh karma kita sendiri.

4. PEMBAGIAN KAMMA

Dalam Kitab Visudhi Magga, bhikkhu Buddhagosa membagi kamma menjadi 3


golongan, yaitu :

1. Kamma menurut waktunya, terdiri dari :

Karma yang memberikan akibat pada kehidupan sekarang (Ditthadhammavedaniya


Kamma)

Karma yang akibatnya akan kita terima pada kehidupan akan datang ( Uppajavedaniya
kamma)

Karma yang akibatnya akan kita terima pada 2 3 kehidupan yang akan datang
( Aparaparavedaniya Kamma)

Karma yang tidak memberikan akibat karena masa waktunya telah habis (Ahosi Kamma)

2. Kamma menurut Fungsinya, terdiri dari :

Kamma penghasil atau menyebabkan kelahiran makhluk (Janaka kamma)

Karma yang berfungsi membantu memperkuat yang dihasilkan janaka kamma


(Upatthambaka Kamma)

Kamma yang berfungsi mengurangi/memperlemah pengaruh janaka kamma (Uppapilaka


kamma)

Kamma pelemah, menghancurkan, melenyapkan janaka kamma (upaghataka kamma)


3. Kamma menurut Kekuatannya, terdiri dari :

Kamma yang paling berat akibatnya karena sifatnya sangat kuat (Garuka Kamma).
Perbuatan yang termasuk Garuka Kamma dan menyebabkan terlahir di neraka Avici
adalah : membunuh ibu kandung, membunuh ayah kandung, membunuh orang suci
(arahat), melukai tubuh seorang Buddha, menyebabkan perpecahan dalam sangha.

Kamma yang sering dilakukan melalui pikiran, ucapan dan perbuatan badan jasmani
sehingga tertimbun dalam watak (Bahula/Acina Kamma).

Kamma yang dibuat sesaat sebelum meninggal ( Asana Kamma)

Kamma yang dilakukan berdasarkan kehendak tertentu ( Kattata Kamma).

http://pak-diyon.blogspot.com/2011/11/hukum-kamma.html

http://www.samaggi-phala.or.id/naskah-dhamma/hukum-kamma/

http://www.wihara.com/forum/artikel-buddhist/3242-hukum-karma.html

http://artikelbuddhist.com/2011/05/hukum-karma.html