Anda di halaman 1dari 5

RINGKASAN

GENERALISASI SEJARAH

OLEH

DINDA AMELIA

1401505009

ILMU SEJARAH

FAKULTAS SASTRA DAN BUDAYA

UNIVERSITAS UDAYANA

2014
BAB 9

Generalisasi Sejarah

Generalisasi, dalam bahasa latin generalis memiliki arti umum yang adalah pekerjaan
penyimpulan dari yang khusus kepada yang umum. Generalisasi yang tersedia dapat menjadi
bahan dasar penelitian bila sifatnya sederhana, sudah dibuktikan oleh penelitian sebelumnya, dan
merupakan accepted history. Generalisasi itu dapat digunakan sebagai hipotesis deskriptif, yaitu
sebagai dugaan sementara yang biasanya hanya berupa generalisasi konseptual, meskipun begitu
pemakaian generalisasi yang bagaimanapun sederhananya harus dibatasi supaya sejarah tetap
empiris. Generalisasi sejarah yang sebenarnya adalah hasil penelitian. Namun sejarah adalah
ilmu yang menekankan keunikan, jadi semua penelitian tidak bleh hanya didasarkan pada asumsi
umum. Generalisasi atau simpulan (kesimpulan umum) memang sangat perlu dalam sejarah,
sebab sejarah adalah ilmu.

Generalisasi sejarah dapat berarti spesifikasi atau bahkan anti-generalisasi bagi ilmu lain.

Tujuan Generalisasi
1. Saintifikasi. Semua ilmu menarik kesimpulan umum. Keajegan menjadi tumpuan dalam
generalisasi. Generalisasi sejarah sering dipakai untuk mengecek teori yang lebih luas.
Teori di tingkat makro sering kali berbeda dengan generalisasi sejarah di tingkat mikro.
2. Simplifikasi. Simplifikasi diperlukan supaya sejarawan dapat melakukan analisis.
Penyederhanaan yang ditentukan lewat dpembacaan itu akan menuntun sejarawan
mencari data, melakukan kritik sumber, interpretasi, dan penulisan.

Macam-Macam Generalisasi
a. Generalisasi konseptual
Disebut dengan generalisasi konseptual karena berupa konsep yang menggambarkan fakta.
Contohnya penggunaan kata revolusi, bukannya pemogokan, pemberontakan dan ontran-ontran.
Konsep tersebut dapat diambil dari berbagai macam ilmu contohnya ilmu sosial. Pada ilmu
sosial ada istilah patron-klien dipakai orang untuk menjawab pertanyaan mengapa sama-sama
Islamnya, desa-desa di Jawa Barat ada yang mengikuti Kartosuwiryo dan ada yang tidak.
Konsep-konsep itu tidak harus diambil dari ilmu lain, sejarah juga punya hak untuk membuat
konsep, contohnya konsep renaisans.
b. Generalisasi Personal
Merupakan cara berpikir yang menyamakan bagian dengan keseluruhan atau pars pro toto.
Dengan kata lain yaitu mengidentikkan sesuatu dengan sesuatu. Contohnya kemerdekaan
Indonesia dengan Soekarno-Hatta dan Orde Baru dengan Presiden Soeharto. Tentu saja itu tidak
terlalu salah, hanya saja itu berarti kita meniadakan peran orang-orang lain.
Dalam ilmu sejarah, mengidentikkan peristiwa dengan peranan seorang pahlawan disebut
dengan teori pahlawan dalam sejarah atau hero worship. Untuk mengurangi pemujaan pada
pahlawan, dalam ilmu sejarah dikenal istilah kekuatan sosial atau social force yang mengatakan
bahwa setiap perubahan sejarah disebabkan oleh perubahan sosial
c. Generalisasi Tematik
Biasanya judul buku sama dengan topik buku. Seperti buku A Little Commonwealth:
Family Life in Plymouth Colony, yang menceritakan budaya puritan pada sejarah Amerika.
Buku Mahatma Gandhi, An Autobiography: Or My Experiments with Truth, menceritakan seperti
judulnya, yaitu percobaan Gandhi untuk menyatakan kebenaran.
Demikian juga buku yang ditulis orang mengenai Presiden Soeharto, O.G. Roeder, Anak Desa,
yang melukiskan bahwa pada hakikatnya presiden itu ialah anak desa. Biografi itu ternyata tidak
jauh dari kenyataan. Seolah-olah judul biografi itu membuat kesimpulan umum tentang
psikologi Pak Harto.
d. Generalisasi Spatial
Kita sering membuat generalisasi tentang tempat. Contohnya tentang kota-kota di Selat
Maduraseperti disertasi F.A. Sotjipto, Kota-kota Pantai di Sekitar Selat Madura. Tempat yang
dihubungkan oleh sungai, laut, dan lembah dapat menjadi satuan geografis mempunyai ciri-ciri
sama. Ciri-ciri itu tidak perlu sama; bahkan mungkin bertentangan, tetapi jadi satuan geografis.
Atau seperti Korea, Jepang, dan Cina kita menyebutnya dengan Asia Timur serta Asia Tenggara
untuk Negara-negara ASEAN dan Filipina. Sejarah suatu kota juga merupakan generalisasi
spatial.
e. Generalisasi Periodik
Apabila membuat periodisasi, kita pasti membuat kesimpulan umum mengenai sebuah
periode. Penyebuatan sebuah periode tentu saja tergantung pada sudut pandang orang dan
tergantung jenis sejarah yang ditulis. Contohnya Sejarawan Indonesia menyebut zaman sesudah
Zaman Islam dengan Zaman Kolonial, sedangkan sejarawan lain menyebutnya dengan De Gama
Period, sementara itu sejarawan Belanda merasa cukup dengan sebutan ekspansi Eropa. Itu
semua dengan alasan masing-masing.
f. Generalisasi Sosial
Bila kita melukiskan suatu kelompok sosial dalam pikiran kita sudah timbul generalisasi.
Contohnya pemakaian kata petani. Dalam bahasa Inggris ada perbedaan antara peasant dengan
farmer. Peasant biasa diterjemahkan dengan petani, sedangkan farmer dapat diterjemahkan
dengan pengusaha-tani. Sedangkan petani di Indonesia pada abad ke-19, yaitu di dua kerajaan
Jawa, Surakarta dan Yogyakarta tidak dapat dibayangkan tanpa masyarakat bangsawan dan
budaya keraton yang didukungnya.
Generalisasi itu kita perlukan asal diikuti dengan spesifikasi. Sejarah adalah ilmu yang sekaligus
melakukan generalisasi dan spesifikasi. Diharapkan tulisan sejarawan akan berimbang.
g. Generalisasi Kausal
Generalisasi tentang sebab musabab kesinambungan, perkembangan, pengulangan, dan
perubahan sejarah. Contohnya pada tingkat individual, adanya sebab-sebab orang berubah, hal
ini tidak lepas dari generalisasi kausal yaitu keluarga, desa, satuan di atas desa, negara,
masyarakat, budaya dan sejarah.
Bila orang memastikan hanya satu saja yang menyebabkan, itu disebut determinisme.
Determinisme bersifat filisofis ada dua, yaitu:
1. Idealisme, yang menggerakkan sejarah ialah ide
2. Materialisme, yang menggerakkan sejarah ialah materi
Namun, yang terlupakan oleh determinisme ialah faktor manusia. Generalisasi sejarah selalu
bersifat aposteriori, yaitu sesudah pengamatan.
h. Generalisasi Kultural
Merupakan kesimpulan umum yang dihasilkan berdasarkan kultural masyarakat. Para
pelaku sejarah sendiri kadang-kadang melakukan generalisasi kultural. Kita juga dapat
melakukan penelitian sejarah berdasar atas generalisasi kultural daerah hukum adat yang
dibuat oleh Van Vollenhoven dan Ter Haar.
i. Generalisasi Sistematik
Adanya kesimpulan umum mengenai suatu sistem dalam sejarah. Contohnya dalam sejarah
ekonomi, hubungan antara Afrika, Amerika, dan Eropa sebelum Perang Saudara dapat
digambarkan sebagai sebuah system. Afrika mengirim tenaga (budak) ke Amerika, Amerika
mengirim bahan mentah (kapas) ke Eropa dan Eropa (Inggris) mengirim barang jadi (tekstil) ke
Afrika.
j. Generalisasi Struktural
Kesimpulan umum yang dihasilkan berdasarkan pembelajaran atau penelitian terhadap
susunan atau struktur dari makhluk hidup maupun benda mati. Misalnya, generalisasi struktural
tentang orang Indonesia yang dibuat oleh orang asing. Prediksi-prediksi atau dugaan yang
muncul di dalam masyarakat disebabkan oleh structure of events, susunan peristiwa, sudah
diketahui. Contohnya banyak orang bisa menduga apa yang akan dikerjakan Amerika di Irak
dan di Haiti pada 1994.