Anda di halaman 1dari 38

MAKALAH PERSEPSI SENSORI

Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Ca. Nasofaring

Disusun oleh :

1.Siska Septiana Handayani 131411123071


2.Wahyu Nofitasari 131411123073
3.Didin Andri 131411123075
4.Yanuar Aga Nugraha 131411123077
5.Fatih Haris Maulana 131411123079
6. Dady Zharfan Hanif 131411123081
7. Fatma Risda Hidayanti 131411123083
8. Nunik Khurrotul Ain 131411123085
Kelompok 6 / Kelas AJ 1

PROGRAM STUDI S1 PENDIDIKAN NERS


FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS AIRLANGGA
SURABAYA
2014
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kanker merupakan suatu penyakit yang ditakuti dan dapat menyerang semua organ tubuh
manusia. Demikian pula dengan organ nasofaring yang terletak diatas faring/tenggorokan.
Carsinoma nasofaring merupakan salah satu keganasan tersering dibidang ilmu penyakit telinga,
hidung, tenggorok, kepala dan leher (THT-KL) yang banyak ditemukan di Indonesia.
Carsinoma nasofaring adalah tumor ganas yang berasal dari epitel yang melapisi nasofaring
(Utama Hendra, 2013).

Carsinoma nasofaring merupakan tumor ganas yang paling banyak dijumpai di antara
tumor ganas THT di Indonesia, dimana karsinoma nasofaring termasuk dalam lima besar tumor
ganas, sedangkan daerah kepala dan leher menduduki tempat pertama . Penelitian dibeberapa
rumah sakit menunjukan bahwa carsinoma nasofaring menempati urutan pertama keganasan
kepala dan leher (jurnal hasil penelitian CDK 187.vol.38 no 6/Agustus-September 2011).

Tumor ini berasal dari fossa rosenmuller pada nasofaring yang merupakan daerah
transisional dimana epitel kuboid berubah menjadi skuamosa. Sampai saat ini belum jelas
bagaimana mulai tumbuhnya kanker nasofaring. Apabila carsinoma nasofaring tidak segera
diatasi maka sel kanker dapat menyebar dan berkembang ke bagian mata, telinga, kelenjar leher,
dan otak. Pemahaman dan penanganan carsinoma nasofaring melalui asuhan keperawatan
tentunya menjadi keharusan dan dilaksanakan secara berkesinambungan untuk mencapai
pelayanan kesehatan yang berkualitas.

1.2 Perumusan masalah

Bagaimana konsep dan pendekatan proses keperawatan pada kasus kanker nasofaring?
1.3 Tujuan

1.3.1 Tujuan umum

Menjelaskan asuhan keperawatan pasien dengan kanker nasofaring

1.3.2 Tujuan Khusus

a. Menjelaskan konsep dasar penyakit kanker nasofaring yang meliputi :


1. Review anatomi fisiologi nasofaring
2. Pengertian kanker nasofaring
3. Etiologi kanker nasofaring
4. Manifestasi klinis kanker nasofaring
5. Patofisiologi kanker nasofaring
6. Klasifikasi kanker nasofaring
7. Pemeriksaan diagnostik pada kanker nasofaring
8. Penatalaksanaan medis kanker nasofaring
9. Komplikasi kanker nasofaring
10. Prognosis kanker nasofaring
11. Perawatan paliatif kanker nasofaring
12. Pencegahan kanker nasofaring
b. Mampu membuat asuhan keperawatan klien kanker nasofaring yang meliputi :
1. Pengkajian
2. Analisa data
3. Diagnosa Keperawatan
4. Intervensi
5. Evaluasi

1.4 Manfaat
Dengan adanya makalah ini, diharapkan pembaca mampu memahami dan
membuat asuhan keperawatan pada klien dengan kanker nasofaring, serta mampu
mengimplementasikannya dalam proses keperawatan.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 CA. NASOFARING

2.1.1 Anatomi Fisiologis

Nasofaring terletak diantara basis cranial dan palatum mole, menghubungkan

rongga hidung dan orofaring. Rongga nasofaring menyerupai sebuah kunus yang

tidak beraturan, diameter atas - bawah dan kiri kanan masing masing sekitar 3 cm
dan diameter depan belakang 2-3 cm, dapat dibagi menjadi dinding anterior, superior,

posterior, inferior dan 2 dinding lateral yang simetri bilateral (Utama Hendra, 2013).

Dinding superior posterior bersambung dan miring membentuk lengkungan,

diantara kedua dinding tidak terdapat batas anatomis yang jelas, maka secara klinis

juga disebut sebagai dinding supero-posterior, hingga taraf palatum mole. Lapisan

submukosa area itu kaya akan jaringan limfatik membentuk tonsil faring, dimasa anak

hyperplasia nyata membentuk adenoid. Dinding posterior setinggi vertebra servikal

1,2, kedua sisinya adalah batas posterior resesus faring.

Nasofaring adalah bagian posterior rongga nasal yang membuka ke arah rongga

nasal melalui dua naris internal .

1. Dua tuba eustachius (auditorik) menghubungkan nasofaring dengan telinga

tengah. Tuba ini berfungsi untuk menyetarakan tekanan udara pada kedua sisi

gendang telinga.

2. Amandel (adenoid) faring adalah penumpukan jaringan limfatik yang terletak di

dekat naris internal. Pembesaran adenoid dapat menghambat aliran udara.

Nasofaring merupakan rongga dengan dinding kaku di atas, belakang dan lateral.

Ke depan berhubungan dengan rongga hidung melalui kanan sehingga sumbatan

hidung merupakan gangguan yang sering timbul. Demikian juga penyebaran

tumor ke lateral akan menyumbat muara tuba eustachius dan akan mengganggu

pendengaran serta menimbulkan cairan di telinga tengah. Ke arah belakang

dinding melengkung ke atas dan ke depan dan terletak di bawah korpus os

sphenoid dan bagian basilar dari os oksipital. Nekrosis akibat penekanan mungkin

timbul di tempat-tempat tersebut. Di belakang atas torus tubarius terdapat resesus


faring atau fosa rosenmuleri dan tepat di ujung atas posteriornya terletak foramen

laserum.

Tumor dapat menjalar kearah intracranial dalam dua arah, masing-masing

menimbulkan gejala-gejala neurologic yang khas. Perluasan langsung melalui

foramen laserum ke sinus kavernosus dan fosa kranii media menyebabkan

gangguan saraf otak III, IV, VI dan kadang-kadang II. Sebaliknya, penyebaran ke

kelanjar faring lateral dan sekitar selubung karotis/ jugularis pada ruang

retreparotis akan menyebabkan kerusakan saraf otak ke IX, X, XI dan XII. Saraf

otak ke VII dan VIII biasanya jarang terkena (Utama Hendra, 2013).

Gambar 1. Anatomi nasofaring

Area nasofaring sangat kaya akan saluran limfatik, terutama drainase ke kelenjar

limfe faringeal posterior paravertebral servikal (disebut juga kelenjar limfe rouviere,

sebagai kelenjar limfe terminal pertama drainase kanker nasofaring), kemudian

masuk ke kelenjar limfe kelompok profunda servikal.

Pembagian daerah nasofaring yaitu :


1. Dinding posterosuperior: daerah setinggi batas palatum durum dan mole sampai

dasar tengkorak.

2. Dinding lateral: termasuk fosa resenmuleri.

3. Dinding inferior: terdiri atas permukaan superior palatum mole.

2.1.2 Pengertian

Carsinoma nasofaring adalah tumor ganas yang berasal dari epitel yang melapisi

nasofaring (Utama Hendra, 2013).

Carsinoma nasofaring adalah tumor yang berasal dari sel-sel epitel yang menutupi

permukaan nasofaring (Arima, 2006).

Carsinoma nasofaring adalah tumor ganas yang tumbuh di daerah nasofaring dengan

predileksi di fosa Rossenmuller dan atap nasofaring. Karsinoma nasofaring

merupakan tumor ganas di daerah kepala dan leher yang terbanyak ditemukan di

Indonesia. (Adham & Roezin, 2007).

2.1.3 Etiologi

Terjadinya kanker nasofaring mungkin multifactorial, proses karsinogenesisnya

mencakup banyak tahap. Faktor yang mungkin terkait timbulnya kanker nasofaring

menurut Utama Hendra (2013) adalah:


1. Kerentanan genetik
Walaupun kanker nasofaring tidak termasuk tumor genetik, tapi kerentanan

terhadap kanker nasofaring pada kelompok masyarakat tertentu relatif menonjol

dan memiliki fenomena agresi familial. Analisis korelasi menunjukkan gen HLA

(Human Leukocyte Antigen) dan gen pengode enzim sitokrom p4502E (CYP2E1)

kemungkinan adalah gen kerentanan terhadap kanker nasofaring, mereka

berkaitan dengan timbulnya sebagian besar kanker nasofaring. Penelitian

menunjukkan bahwa kromosom pasien Ca nasofaring menunjukkan

ketidakstabilan, sehingga lebih rentan terhadap serangan berbagai faktor

berbahaya dari lingkungan dan timbul penyakit.


2. Virus EB
Metode imunologi membuktikan virus EB membawa antigen spesifik seperti

antigen kapsid virus (VCA), antigen membran (MA), antigen dini (EA), antigen

nuklir (EBNA), dan lain-lain. Virus EB memiliki kaitan erat dengan kanker

nasofaring, alasannya adalah:


a. Di dalam serum pasien kanker nasofaring ditemukan antibody terkait virus EB

dengan frekuensi positif maupun rata-rata titer geometriknya jelas lebih tinggi

dibandingkan orang normal dan penderita kanker jenis lain, dan titernya

berkaitan positif dengan beban tumor. Selain itu, titer antibody dapat menurun

bertahap sesuai pulihnya kondisi pasien dan kembali meningkat bila

penyakitnya rekuren atau memburuk.


b. Di dalam sel kanker nasofaring dapat dideteksi zat pertanda virus EB seperti

DNA virus dan EBNA


c. Epitel nasofaring di luar tubuh bila diinfeksi dengan galur sel mengandung

virus EB, ditemukan epitel yang terinfeksi tersebut tumbuh lebih cepat,

gambaran pembelahan inti juga banyak.


d. Dilaporkan virus EB di bawah pengaruh zat karsinogen tertentu, dapat

menimbulkan karsinoma tak berdiferensiasi pada jaringan mukosa nasofaring

fetus manusia.
Meskipun demikian, dewasa ini masih belum ada model hewan bagi timbulnya

kanker nasofaring oleh virus EB, belum dapat menganggap virus EB sebagai

etiologi kanker nasofaring. Oleh sebab itu, dalam pathogenesis kanker nasofaring,

virus EB sangat mungkin berefek karsinogenesis hanya bila terdapat pra kondisi

faktor genetik dan lingkungan tertentu.


3. Faktor Lingkungan
Faktor lingkungan yang berpengaruh adalah iritasi oleh bahan kimia, asap sejenis

kayu tertentu, kebiasaan memasak dengan bahan atau bumbu tertentu, dan

kebiasaan makan makanan terlalu panas yang dapat merangsang selaput mukosa.

Terdapat hubungan antar kadar nikel dalam air minum dan makanan dengan

mortalitas karsinoma nasofaring, sedang hubungan dengan keganasan lain tidak

jelas. Kebiasaan penduduk Eskimo memakan makanan yang diawetkan (daging

dan ikan) terutama pada musim dingin meyebabkan tingginya kejadian karsinoma

ini.

2.1.4 Patofisiologi

Munculnya carsinoma nasofaring berupa keganasan tumor yang berasal

dari sel-sel epitel yang menutupi permukaan permukaan nasofaring. Tumbuhnya

tumor dimulai pada salah satu dinding nasofaring yang kemudiaan menginfiltrasi

kelenjar dan jaringan disekitarnya. Lokasi yang paling sering menjadi awal

terbentuknya carsinoma nasofaring yakni pada fosa rosenmuler. Penyebaran ke


jaringan dan kelenjar limfe dan sekitarnya terjadi secara perlahan seperti layaknya

metastase lesi carsinoma lainnya.

Gambar 2. Letak karsinoma nasofaring

Penyebaran/metastase carsinoma nasofaring antara lain :

1) Penyebaran keatas
Tumor meluas ke intra kranial menjalar sepanjang faso medialis melalui

foramen laserum kemudian ke sinus kavemosus dan fosa kranii

anterior.Dengan demikian saraf saraf cranial anterior (N I N VI) juga

mengalami kerusakan yang disebut syndrom petrosfenoid yang ditandai

dengan diplopia dan neuralgia trigeminal.


2) Penyebaran ke belakang
Metastase ke belakang secara ekstra cranial menembus fasio pharingo

basilaris sepanjang fosa posterior termasuk didalamnya foramen spinosum

dan foramen ovale yang dilewati nervus cranial IX XII yang disebut

perjalanan retroparotidian yang mengakibatkan kerusakan group posterior

dan saraf otak N VII N XII. Ditandai dengan munculnya :


- Trismus
- Horner sindrom
- Afonia akibat paralisis pita suara
- Gangguan menelan
3) Penyebaran ke kelenjar getah bening
Metastase ke kelenjar getah bening merupakan salah satu penyebab utama

sulit menghentikan proses metastase suatu carsinoma. Metastase

carsinoma nasofaring ke kelenjar getah bening mudah terjadi akibat

banyaknya stoma kelenjar getah bening pada lapisan sub mukosa

nasofaring. Melalui nodus limfatik yang terletak dilateral serofaringeal

yang disebut nodus rouvier .


Pertumbuhan sel tumor yang tidak terkontrol pada kelenjar getah bening

ini mengakibatkan pembesaran berupa benjolan pada leher bagian

samping. Perkembangan sel tumor ini menembus kelenjar getah bening

dan mengenai otot dibawahnya. Kelenjar ini akan melekat pada otot dan

sulit digerakan yang disebut limfadenopati (Utama Hendra, 2013).

2.1.5 Klasifikasi

Sebagian besar tumor ganas nasofaring 95 % adalah KNF, dan sisanya merupakan

adenokarsinoma, limfoma, sarcoma, neuroblastoma dan melanoma. Klasifikasi

kanker nasofaring menurut WHO tahun 1978, ada 3 jenis bentuk histology (Saputra,

2006):

1. Karsinoma sel skuamosa berkeratinisasi, terdapat jembatan interseluler dan

keratin, dapat dilihat dengan mikroskop cahaya.

2. Karsinoma nonkeratinisasi, pada pemeriksaan dengan mikroskop cahaya terdapat

tanda diferensiasi, tetapi tidak ada diferensiasi skuamosa.


3. Karsinoma tidak berdiferensiasi, sel mempunyai inti vesikuler, nucleolus yang

menonjol dan dinding sel tidak tegas, tumor tampak lebih berbentuk sinsitium

daripada bentuk susunan batu bata.

Stadium
Untuk penentuan stadium dipakai sistem TNN menurut UICC 2002 dalam Roezin &

Adham (2007) :

Stadium Tumor Pembesaran Kelenjar getah Metastasis sel


bening kanker
Stadium 0 Tidak ada pembesaran Tidak ada
metastasis
Stadium 1 Tumor terbatas di Tidak ada pembesaran Tidak ada
nasofaring metastasis
Stadium Perluasan tumor ke Tidak ada pembesaran Tidak ada
2A orofaring dan atau metastasis
rongga hidung Tanpa
perluasan ke parafaring
Stadium 1. Tumor terbatas di 1. Metastase kelenjar 1. Tidak ada
2B nasofaring getah bening unilateral metastasis
dengan ukuran terbesar
kurang atau sama
dengan 6cm, diatas
fossa supraklavikula
2. Perluasan ke 2. Metastase kelenjar 2. Tidak ada
orofaring dan atau getah bening unilateral metastasis
rongga hidung dengan ukuran terbesar
tanpa perluasan ke kurang atau sama
parafaring dengan 6cm, diatas
fossa supraklavikula
3. Disertai perluasan 3. Metastase kelenjar 3. Tidak ada
ke parafaring getah bening unilateral metastasis
dengan ukuran terbesar
kurang atau sama
dengan 6cm, diatas
fossa supraklavikula
Stadium 1. Tumor terbatas di 1. Metastase kelenjar 1. Tidak ada
III nasofaring getah bening bilateral, metastasis
dengan ukuran terbesar
kurang atau sama
dengan 6cm, diatas
fossa supraklavikula.
2. Perluasan tumor ke 2. Metastase kelenjar 2. Tidak ada
orofaring dan di getah bening bilateral, metastasis
parafaring dengan ukuran terbesar
kurang atau sama
dengan 6cm, diatas
fossa supraklavikula.
3. Tumor menginfasi 3. Metastase kelenjar 3. Tidak ada
struktur tulang dan getah bening bilateral, metastasis
atau sinus paranasal dengan ukuran terbesar
kurang atau sama
dengan 6cm, diatas
fossa supraklavikula.
Stadium Tumor dengan Metastase kelenjar getah Tidak ada
IVA perluasan intracranial bening bilateral, dengan metastasis
dan atau terdapat ukuran terbesar kurang
keterlibatan saraf atau sama dengan 6cm,
kranial, fossa diatas fossa supraklavikula.
infratemporalhipofarin
g orbita atau ruang
masticator.
Stadium Tumor dengan Metastase kelenjar getah Tidak ada
IVB perluasan intracranial bening bilateral, dengan metastasis
dan atau terdapat ukuran lebih dari 6cm,
keterlibatan saraf didalam fossa
kranial, fossa supraklavikula.
infratemporalhipofarin
g orbita atau ruang
masticator.
Stadium Tumor dengan Metastase kelenjar getah Terdapat
IV C perluasan intracranial bening bilateral, dengan metastase yang
dan atau terdapat ukuran lebih dari 6cm, meluas
keterlibatan saraf didalam fossa
kranial, fossa supraklavikula.
infratemporalhipofarin
g orbita atau ruang
masticator.
2.1.6 Manifestasi Klinik

Gejala dan tanda yang sering ditemukan pada kanker nasofaring menurut Utama

Hendra (2013) adalah:

(1) Epistaksis: Sekitar 70% pasien mengalami gejala ini, di antaranya 23,2%

pasien dating berobat dnegan gejala awal ini. Sewaktu menghisap dengan

kuat secret dari rongga hidung atau nasofaring, bagian dorsal palatum

mole bergesekan dengan permukaan tumor, sehingga pembuluh darah di

permukaan tumor robek dan menimbulkan epistaksis. Yang ringan timbul

epistaksis, yang berat dapat timbul hemoragi nasal massif


(2) Hidung tersumbat: Sering hanya sebelah dan secara progresif bertambah

hebat yang disebabkan tumor menyumbat lubang hidung posterior, insiden

sekitar 48%
(3) Tinitus dan pendengaran menurun: masing-masing menempati 51,5-62,5%

dan 50%. Penyebabnya adalah tumor di resesus faringeus dan dinding

lateral nasofaring menginfiltrasi, menekan tuba eustaki, menyebabkan

tekanan negative di dalam kavum timpani, hingga terjadi otitis media

transudatif. Bagi pasien dengan gejala ringan, tindakan dilatasi tuba

eustaki dapat meredakan sementara. Menurunnya kemampuan

pendengaran karena hambatan konduksi, umumnya disertai rasa penuh di

telinga.
(4) Sefalgia: Menempati 57,2-68,6%, kekhasannya adalah nyeri kontinu di

regio temporoparietal ata oksipital satu sisi. Ini sering disebabkan desakan

tumor, infiltrasi saraf kranial atau os basis kranial, juga mungkin karena
infeksi lokal atau iritasi pembuluh darah yang menyebabkan sefalgia

reflektif.
(5) Rudapaksa saraf kranial: Kanker nasofaring menginfiltrasi dan

ekspansidirek ke superior, dapat mendestruksi tulang basis kranial, atau

melalui saluran atau celah alami kranial masuk ke area petrosfenoid dari

fosa media intracranial (termasuk foramen sfenotik, apeks petrosus os

temporal, foramen ovale dan area sinus spongiosus), membuat saraf

kranial III, IV, V (radiks 1, 2) dan VI rudapaksa, manifestasinya berupa

ptosis wajah bagian atas, paralisis otot mata, neuralgia trigeminal atau

nyeri area temporal akibat iritasi meningen (sindroma fisura sfenoidal),

bila terdapat juga rudapaksa saraf krania lI, disebut sindroma apeks orbital

atau petrosfenoid. Ketika kanker nasofaring meluas hingga area posterior

prosesus stiloideus dari celah parafaring, atau metastasis kelenjar limfe

parafaring menekan, menginfiltrasi lebih ke dalam, dapat mengenai saraf

kranial IX, X, XI, XII dan saraf simpatis leher


(6) Pembesaran kelenjar limfe leher: Sekitar 40% pasien datang dengan gejala

pertama pembesaran kelenjar limfe leher, pada waktu diagnosis

ditegakkan, sekitar 60-80% sudah terdapat metastasis kelenjar limfe leher.

Lokasi tipikal metastasisnya adalah kelenjar limfe kelompok profunda

superior koli, tapi karena kelompok kelenjar limfe tersebut permukaannya

tertutup otot sternocleidomastoid, dan benjolan tidak nyeri, maka pada

mulanya sulit diketahui


(7) Gejala metastasis jauh: Karena 95% lebih sel kanker nasofaring

berdiferensiasi buruk, dengan derajat keganasan tinggi, waktu diagnosis

ditegakkan, 4,2% kasus sudah menderita metastasis jauh. Dari kasus yang
wafat setelah radioterapi, angka metastasis jauh mencapai 45,5%. Lokasi

metastasis paling sering ke tulang, paru, hati. Metastasis tulang tersering

ke pelvis, vertebra, iga dan keempat ekstremitas. Manifestasi metastasis

tulang adalah nyeri kontinu dan nyeri tekan setempat, lokasinya tetap,

tidak berubah-ubah dan secara bertahap bertambah hebat. Metastasis hati,

paru, dapat sangat tersembunyi, kadang hanya ditemukan ketika dilakukan

tindak lanjut rutin dengan rontgen toraks, pemeriksaan hati dengan CT

atau USG.

2.1.7 Pemeriksaan penunjang

1. Pemeriksaan radiologik konvensional

Pada pemeriksaan radiologik konvensional foto tengkorak potongan

antero-posterior, lateral dan posisi Waters tampak massa jaringan lunak di

daerah nasofaring. Pada foto dasar tengkorak ditemukan destruksi atau erosi

tulang di daerah fosa serebri media.

2. Pemeriksaan CT
Membantu diagnosis, memastikan luas lesi, penetapan stadium secara

akurat, secara tepat menetapkan zona target terapi, merancang medan

radiasi, memonitor kondisi remisi pasca terapi dan pemeriksaan tindak

lanjut.
3. Pemeriksaan MRI

MRI memiliki resolusi yang baik terhadap jaringan lunak, dapat serentak

membuat potongan melintang, sagital, koronal, sehingga lebih baik dari CT.

MRI selain dengan jelas memperlihatkan lapisan struktur nasofaring dan


luas lesi, juga dapat secara lebih dini menunjukkan infiltrasi ke tulang.

Dalam membedakan fibrosis pasca radioterapi dan rekurensi tumor.

4. PET ( Positron Emission Tomography)


Disebut juga pencitraan biokimia molekuler metabolic in vivo.

Menggunakan pencitraaan biologis metabolism glukosa dari zat kontras 18

FDG dan pencitraan anatomis dari CT yang dipadukan hingga mandapatkan

gambar PET-CT. membantu penentuan area target biologis kanker

nasofaring, meningkatkan akurasi radioterapi, sehingga efektivitas

meningkat dan rudapaksa radiasi terhadap jaringan normal berkurang.


5. Pemeriksaan serologi virus EB
Dewasa ini, parameter rutin yang diperiksa untuk penapisan kanker

nasofaring adalah VCA-IgA, EA-IgA, EBV-DNAseAb. Hasil positif pada

kanker nasofaring berkaitan dengan kadar perubahan antibody tersebut.


Yang dianggap resiko tinggi KNF:
a. Titer antibody VCA-IgA 1:80
b. Dari pemeriksaan VCA-IgA, EA-IgA, EBV-DNAseAb dua diantara

tiga indicator tersebut positif


c. Dari tiga indicator pemeriksaan diatas, salah satu menunjukkan titer

yang tinggi kontinu dan terus meningkat.

Yang perlu ditekankan adalah perubahan serologi virus EB dapat

menunjukkan reaksi positif 4-46 bulan sebelum di diagnosis kanker

ditegakkan,tetapi harus diperhatikan juga hasil positif semu.

6. Pemeriksaan darah tepi, fungsi hati, ginjal dll.


Dapat mendeteksi kemungkinan adanya metastase jauh. Pemeriksaan

serum darah untuk mengukur kadar Ig A anti VCA, anti EA dan lain-lain

terhadap virus Epstein-Barr dapat dilakukan untuk memamstikan adanya


tumor, mendeteksi kekambuhan atau mendeteksi secara dini (Roezin &

Adham, 2007).

Diagnosis pasti ditegakkan dengan melakukan biopsi nasofaring.

Biopsi dapat dilakukan dengan 2 cara (Roezin & Adham, 2007):

1. Mengambil biopsi daru hidung yaitu mengambil jaringan tumor

tanpa melihat dengan jelas tumornya. Cunam biopsi dimasukkan

melalui rongga hidung menyelususri konka inferior terus ke

belakang dan diarahkan ke lateral.


2. Mengambil biopsi dari rongga mulut. Cara ini dilakukan dengan

bantuan 2 buah kateter nelaton yang masing-masing dimasukkan

melalui hidung, lalu dikeluarkan melalui mulut sehingga dapat

menarik palatum mole ke depan. Kemudian dengan kaca tenggorok

dilihat daerah nasofaring. Setelah terlihat massa tumor dengan jelas

dilakukan biopsi yang terarah.

2.1.8 Penatalaksanaan

Stadium 1 : Radioterapi

Stadium 2 dan 3 : Kemoradiasi

Stadium 4 dengan pembesaran kelenjar getah bening kurang dari 6 cm :

Kemoradiasi

Stadium 4 dengan pembesaran kelenjar getah bening lebih dari 6 cm :

Kemoterapi dosis penuh dilanjutkan kemoradiasi

a. Radioterapi
Radioterapi masih tetap merupakan modalitas terapi primer untuk

kanker nasofaring regional yang membesar. Ini disebabkan lokasi

nasofaring berdekatan dengan struktur yang penting, serta sifat infiltrasi

kanker nasofaring, sehingga pembedahan sulit dilakukan. Selain itu

kanker nasofaring memiliki sensitivitas tinggi terhadap radiasi maupun

kemoterapi dibandingkan kanker kepala dan leher lainnya.

Dosis radiasi untuk tumor primer diberikan 65-75 Gy dan pada

kelenjar leher 65-70 Gy. Dosis untuk terapi profilaksis pada leher dengan

kelenjar negatif adalah 50-60 Gy. Dosis radiasi perfraksi yang diberikan

adalah 200 cGy DT (dosis tumor) diberikan 5 kali seminggu untuk tumor

primer maupun kelenjar. Setelah itu radiasi dilanjutkan untuk tumor

primer sehingga dosis total adalah 6000-7000cGy.

Ada 2 cara utama pemberian radioterapi, yaitu

1) Radiasi eksterna / teleterapi

Sumber sinar berupa aparat sinar-X atau radioisotop yang ditempatkan

di luar tubuh. Sinar diarahkan ke tumor yang akan diberi radiasi.

Radiasi ini ditujukan pada kanker primer di daerah nasofaring dan

ruang parafaringeal serta pada daerah aliran getah bening leher atas

dan bawah serta klavikula.

2) Radiasi interna / brakiterapi


Sumber radiasi dimasukkan ke dalam rongga nasofaring pada tempat

tumor berada atau berdekatan dengan tumor guna memberikan dosis

maksimal pada tumor primer tetapi tidak menimbulkan cedera yang

serius pada jaringan sehat di sekitarnya. Terapi ini diberikan pada

kasus yang telah memperoleh dosis radiasi eksterna maksimum tetapi

masih dijumpai sisa jaringan kanker atau pada kasus kambuh lokal.

Setelah diberikan terapi radiasi, maka dilakukan evaluasi berupa

respon terhadap radiasi. Respon dinilai dari pengecilan kelenjar getah

bening leher dan pengecilan tumor primer di nasofaring. Penilaian

respon radiasi berdasarkan kriteria WHO, yaitu :

1) Complete Response : menghilangkan seluruh kelenjar getah

bening yang besar

2) Partial Response : pengecilan kelenjar getah bening sampai 50%

atau lebih

3) No Change : ukuran kelenjar getah bening yang menetap

4) Progressive disease : ukuran kelenjar getah bening membesar

25% atau lebih

Radioterapi memegang peranan penting pada perawatan kanker

nasofaring. Daerah yang diradiasi melibatkan keseluruhan nasofaring

dan kelenjar getah bening pada leher. Tidak dapat dihindari, daerah

yang diradiasi juga melibatkan rongga mulut, maksila, mandibula,

dan kelenjar saliva. Bagaimanapun, radioterapi ini memberikan


manfaat pada jaringan, tetapi juga memiliki efek samping yang tidak

dapat dihindarkan (Utama Hendra, 2013).

b. Kemoterapi

Pemberian kemoterapi pada kanker nasofaring diindikasikan

pada kasus penyebaran ke kelenjar getah bening leher, metastasis

jauh dan kasus-kasus residif. Kemoterapi dapat diberikan sebelum

(neoadjuvan), selama (concurrent) atau setelah (adjuvan) pemberian

kemoterapi.

Dasar pemberian kemoterapi neoadjuvan/ induksi kemoterapi

dengan radioterapi ada 2. Pertama: reduksi sitotoksik tumor primer

dan kelenjar dapat meningkatkan kontrol lokoregional. Kedua:

eradikasi mirometastase sistemik pada stadium dini dapat

mengurangi relaps metastasis jauh. Pemberian kemoterapi saat siklus

radioterapi (concominant) menawarkan potensi sensitivitas tumor

terhadap radiasi dan juga kemungkinan eradikasi mikrometastase.

Akan tetapi juga menawarkan peningkatan resiko toksisitas. Tujuan

kemoterapi adjuvan yang diberikan setelah radioterapi adalah untuk

mengurangi tingginya tingkat kegagalan terhadap metastase jauh.

Adapun efek samping dari kemoterapi antara lain : efek toksix

pada sumsum tulang dan dapat mengakibatkan neutropenia,

trombositopenia, anemia, infeksi telinga tengah, sinusitis, faringitis,

diare, perdarahan ulkus gastrointestinal(melena, hematemesis),


stomatitis, mual muntah, alopesia, sterilitas(kemandulan sementara

atau permanen) (Utama Hendra, 2013).

c. Pembedahan

Pembedahan hanya sedikit berperan dalam penatalaksanaan

kanker nasofaring. Terbatas diseksi leher radikal untuk mengontrol

kelenjar yang radioresisten dan metastase leher setelah radioterapi,

pada pasien tertentu pembedahan penyelamatan (salvage treatment)

dilakukan pada kasus rekurensi di nasofaring atau kelenjar leher

tanpa metastase jauh. Populasi yang rentan sebelum infeksi virus

Epstein Barr untuk mencegah terjadinya kanker nasofaring.

Pembedahan diseksi leher radikal dilakukan jika masih ada sisa

kelenjar paska radiasi atau adanya kekambuhan kelenjar, dengan

syarat bahwa tumor primer sudah dinyatakan hilang yang dibuktikan

dengan pemeriksaan radiologik dan serologik, serta tidak

ditemukannya metastasis jauh (Utama Hendra, 2013).

2.1.9 Komplikasi Penatalaksanaan

Komplikasi akut yang dapat terjadi adalah:

1. Mukositis : Mukositis oral merupakan inflamasi pada mukosa mulut berupa eritema

dan adanya ulser yang biasanya ditemukan pada pasien yang mendapatkan terapi

kanker. Biasanya pasien mengeluhkan rasa sakit pada mulutnya dan dapat

mempengaruhi nutrisi serta kualitas hidup pasien.


2. Kandidiasis : Pasien radioterapi sangat mudah terjadi infeksi opurtunistik berupa

kandidiasis oral yang disebabkan oleh jamur yaitu Candida albicans. Infeksi kandida

ditemukan sebanyak 17-29% pada pasien yang menerima radioterapi.

3. Dysgeusia adalah respon awal berupa hilangnya rasa pengecapan, dimana salah

satunya dapat disebabkan oleh terapi radiasi.

4. Xerostomia : Xerostomia atau mulut kering dikeluhkan sebanyak 80% pasien yang

menerima radioterapi. Xerostomia juga dikeluhkan sampai radioterapi telah selesai

dengan rata-rata 251 hari setelah radioterapi. Bahkan tetap dikeluhkan setelah 12-18

bulan setelah radioterapi tergantung pada dosis yang diterima kelenjar saliva dan

volume jaringan kelenjar yang menerima radiasi.

Komplikasi kronis adalah:

1. Karies gigi : Karies gigi dapat terjadi akibat paparan radiasi atau yang sering disebut

dengan karies radiasi adalah bentuk yang paling destruktif dari karies gigi, dimana

mempunyai onset dan progresi yang cepat. Karies gigi biasanya terbentuk dan

berkembang pada 3-6 bulan setelah terapi radiasi dan mengalami kerusakan yang

lengkap pada semua gigi pada periode 3-5 tahun.

2. Osteoradionekrosis : Osteoradionekrosis (ORN) merupakan efek kronis yang penting

pada radioterapi. Osteoradionekrosis adalah nekrose iskemik tulang yang disebabkan

oleh radiasi yang menyebabkan rasa sakit karena kehilangan banyak struktur tulang.

3. Nekrose pada jaringan lunak : Komplikasi oral kronis lain yang dapat terjadi adalah

nekrose pada jaringan lunak, dimana 95% kasus dari osteoradionekrosis berhubungan

dengan nekrose pada jaringan lunak. Nekrose jaringan lunak didefinisikan sebagai
ulser yang terdapat pada jaringan yang terradiasi, tanpa adanya proses keganasan

(maligna). Evaluasi secara teratur penting dilakukan sampai nekrose berkurang,

karena tidak ada kemungkinan terjadinya kekambuhan. Timbulnya nekrose pada

jaringan lunak ini berhubungan dengan dosis, waktu, dan volume kelenjar yang

terradiasi.

2.1.10 Prognosis

Dari laporan terbaru Dickson menemukan rasio karsinoma nasofaring selama

5 tahun dari 1969 sampai 1973, Dickson membuat pengamatan sebagai berikut

(Saputra, 2006):

1. Karsinoma sel skuamosa tanpa pertandukan mempunyai prognosis lebih baik

dibandingkan dengan karsinoma sel skuamosa dengan pertandukan.


2. Angka bertahan hidup jika tumor terbatas pada nasofaring dengan atau tanpa

kelenjar, angka bertahan hidup meningkat sampai 45%.


3. Pasien-pasien yang disinar dengan 6000 rads atau lebih dapat bertahan hidup

5 tahun tanpa melihat stadium. Biopsi eksisional kelenjar praradiasi secara

pasti memberikan angka bertahan hidup yang lebih buruk.

2.1.11 Perawatan paliatif

Perhatian pertama harus diberikan pada pasien dengan pengobatan

radiasi. Mulut terasa kering karena kerusakan kelenjar liur mayor maupun

minor sewaktu penyinaran. Tidak banyak yang dapat dilakukan selain

menasehati pasien untuk makan dengan banyak kuah, membawa minuman

kemanapun pergi dan mencoba memakan dan mengunyah bahan yang rasa

asam sehingga merangsang keluarnya air liur. Gangguan lain adalah mukositis
rongga mulut karena jamur, rasa kaku di daerah leher karena fibrosis jaringan

akibat penyinaran, sakit kepala, kehilangan nafsu makan dan kadang muntah

atau rasa mual.

Kesulitan yang timbul pada perawatan pasien pasca pengobatan

lengkap dimana tumor tetap ada (residu) atau kambuh kembali (residif). Dapat

pula timbul metastasis jauh pasca pengobatan seperti ke tulang, paru, hati,

otak. Pada kedua keadaan tersebut diatas tidak banyak tindakan medis yang

dapat diberikan selain pengobatan simtomatis untuk meningkatkan kualitas

hidup pasien. Perawatan paliatif diindikasikan langsung terhadap

pengurangan rasa nyeri, mengontrol gejaladan memperpanjang usia. Radiasi

sangat efektif untuk mengurangi nyeri akibat metastasis tulang. Pasien

akhirnya meninggal akibat keadaan umum yang buruk, perdarahan dari

hidung dan nasofaring yang tidak dapat dihentikan dan terganggunya fungsi

alat-alat vital akibat metastasis tumor (Roezin & Adham, 2007).

2.1.12 Pencegahan

Pemberian vaksinasi pada penduduk yang bertempat tinggal di daerah

dengan resiko tinggi. Memindahkan penduduk dari daerah dengan resiko

tinggi ke tempat lainnya. Penerangan akan kebiasaan hidup yang salah,

mengubah cara memasak makanan untuk mencegah akibat yang timbul dari

bahan-bahan yang berbahaya, penyuluhan mengenai lingkungan hidup yang

tidak sehat, meningkatkan keadaan sosial ekonomi dan berbagai hal yabg
berkaitan dengan kemungkinan-kemungkinan faktor pnyebab. Melakukan tes

serologik Ig-A anti VCA dan IgA anti EA secara masal di masa yang akan

datang bermanfaat dalam menemukan karsinoma nasofaring secara lebih

tinggi (Roezin & Adham, 2007).

2.1.13 Konsep Asuhan Keperawatan


A. Pengkajian
a. Identitas

Nama, jenis kelamin, umur, alamat, pendidikan, pekerjaan, suku/bangsa,

status perkawinan.

b. Keluhan Utama

Adanya rasa penuh pada telinga sampai tuli konduksi dan pembesaran

kelenjar getah bening pada leher.


c. Riwayat Penyakit Sekarang

Adanya rasa penuh pada telinga sampai tuli konduksi, pembesaran kelenjar

getah bening pada leher, sumbatan pada hidung, pilek, epistaksis, diplopia,

paresis, enoftalmus dan ptosis.

d. Riwayat Penyakit Dahulu

Otitis media serosa, mengkonsumsi ikan asin, asap rokok, kekurangan

vitamin C dan vitamin A.

e. Pemeriksaan fisik.

1) Breathing

Respirasi meningkat, sesak napas, produksi sekret kental meningkat,dan

epistaksis.

2) Blood

Takikardia, Hipertensi (nyeri hebat)

3) Brain

Pusing, nyeri

Telinga: rasa penuh pada telinga sampai tuli konduksi, nyeri telinga, tinitus.

Hidung: sumbatan hidung, produksi sekret meningkat, epistaksis

Mata: miosis, enoftalmus, ptosis, juling dan diplopia.

4) Bladder

Biasanya dalam batas normal

5) Bowel

Disfagia, Nafsu makan turun, BB turun.

6) Bone
Pada muskuloskeletal kadang-kadang terjadi metastase dari Ca Nasofaring.

B. Analisa Data

No. Analisa Data Etiologi Problem


1.1. DS : - Metastase pada Bersihan jalan nafas
DO : Respirasi meningkat, sesak
rongga hidung dan tidak efektif
napas, produksi sekret kental
sinus paranasalis
meningkat

Peningkatan
produksi secret

Bersihan jalan nafas


tidak efektif

2.2. DS : - Metastase sel Nyeri akut


DO :
kanker ke kelenjar
P : nyeri karena proses penyakit
Q : nyeri seperti terbakar getah bening
R : nyeri di sekitar nasofaring
melalui aliran
S : skala 6
T : nyeri saat menelan

Pertumbuhan sel
kanker di kelenjar
getah bening

Kelenjar melekat
pada otot dan sulit
di gerakkan
Nyeri

3.3. DS : - Metastase Ca pada Ketidakseimbangan


DO : terjadi penurunan BB,
foramen jugulare nutrisi kurang dari
terlihat pasien kesakitan saat
kebutuhan tubuh
menelan

Menekan saraf IX

Kesukaran menelan

Ketidakseimbangan
nutrisi kurang dari
kebutuhan tubuh
4.4. DS : - Metastase Ca pada Resiko cidera
DO : terdapat miosis, enoftalmus,
foramen laserum
ptosis, juling dan diplopia

Menekan saraf III,


IV, V dan VI

Kerusakan fungsi
sensori penglihatan

Resiko cidera
5.5. DS : - Konsumsi ikan asin Defisiensi
DO : Pasien tampak bingung dan
berlebihan, asap pengetahuan
tidak mengerti akan penyakit
rokok, kebiasaan
yang dialaminya
makan yang panas

Karsinogenik

Proses penyakit
C. Diagnosa Keperawatan

Diagnosa keperawatan yang muncul pada pasien kanker nasofaring antara lain :

a. Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan obstruksi jalan napas

b. Nyeri akut berhubungan dengan agen injury fisik

c. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan

kesukaran menelan.

d. Risiko cedera berhubungan dengan penurunan fungsi penglihatan.

e. Defisiensi pengetahuan berhubungan dengan proses penyakit

D. Intervensi Keperawatan

1. Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan obstruksi jalan nafas

Tujuan: setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan jalan napas efektif

NOC : Respiratory status : Ventilation

Kriteria Hasil :

Mendemonstrasikan batuk efektif dan suara nafas yang bersih, tidak ada
sianosis dan dyspneu (mampu mengeluarkan sputum, mampu bernafas dengan
mudah, tidak ada pursed lips)
Menunjukkan jalan nafas yang paten (klien tidak merasa tercekik, irama nafas,
frekuensi pernafasan dalam rentang normal, tidak ada suara nafas abnormal)
Mampu mengidentifikasikan dan mencegah factor yang dapat menghambat
jalan nafas
NIC : Airway Management
Buka jalan nafas, guanakan teknik chin lift atau jaw thrust bila perlu
Posisikan pasien untuk memaksimalkan ventilasi
Identifikasi pasien perlunya pemasangan alat jalan nafas buatan
Lakukan fisioterapi dada jika perlu
Keluarkan sekret dengan batuk atau suction
Auskultasi suara nafas, catat adanya suara tambahan
Berikan bronkodilator bila perlu
Berikan pelembab udara Kassa basah NaCl Lembab

2. Nyeri akut berhubungan dengan agen injury fisik

Tujuan: setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan nyeri klien berkurang


atau hilang

NOC : Pain Control

Kriteria Hasil :

Mampu mengontrol nyeri (tahu penyebab nyeri, mampu menggunakan tehnik


nonfarmakologi untuk mengurangi nyeri, mencari bantuan)
Melaporkan bahwa nyeri berkurang dengan menggunakan manajemen nyeri
Mampu mengenali nyeri (skala, intensitas, frekuensi dan tanda nyeri)
Menyatakan rasa nyaman setelah nyeri berkurang
Tanda vital dalam rentang normal
NIC : Pain Management

Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif termasuk lokasi, karakteristik,


durasi, frekuensi, kualitas dan faktor presipitasi
Observasi reaksi nonverbal dari ketidaknyamanan
Gunakan teknik komunikasi terapeutik untuk mengetahui pengalaman nyeri
pasien
Kaji kultur yang mempengaruhi respon nyeri
Evaluasi pengalaman nyeri masa lampau
Evaluasi bersama pasien dan tim kesehatan lain tentang ketidakefektifan kontrol
nyeri masa lampau
Bantu pasien dan keluarga untuk mencari dan menemukan dukungan
Kontrol lingkungan yang dapat mempengaruhi nyeri seperti suhu ruangan,
pencahayaan dan kebisingan
Kurangi faktor presipitasi nyeri
Pilih dan lakukan penanganan nyeri (farmakologi, non farmakologi dan inter
personal)
Ajarkan tentang teknik non farmakologi
Berikan analgetik untuk mengurangi nyeri
Tingkatkan istirahat

3. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan kesukaran


menelan

Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan kebutuhan nutrisi klien


dapat terpenuhi

NOC : Nutritional Status : food and Fluid Intake

Kriteria Hasil :

Adanya peningkatan berat badan sesuai dengan tujuan


Berat badan ideal sesuai dengan tinggi badan
Mampu mengidentifikasi kebutuhan nutrisi
Tidak ada tanda tanda malnutrisi
NIC : Nutrition Management

Kaji adanya alergi makanan


Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan jumlah kalori dan nutrisi yang
dibutuhkan pasien.
Anjurkan pasien untuk meningkatkan intake Fe
Anjurkan pasien untuk meningkatkan protein dan vitamin C
Berikan substansi gula
Yakinkan diet yang dimakan mengandung tinggi serat untuk mencegah konstipasi
Berikan makanan yang terpilih ( sudah dikonsultasikan dengan ahli gizi)
Ajarkan pasien bagaimana membuat catatan makanan harian.
Monitor jumlah nutrisi dan kandungan kalori
Berikan informasi tentang kebutuhan nutrisi
Kaji kemampuan pasien untuk mendapatkan nutrisi yang dibutuhkan

4. Risiko cedera berhubungan dengan penurunan fungsi penglihatan.


Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan klien tidak mengalami cidera
Kriteria hasil :
Kontrol resiko
Perilaku keamanan (pencegahan jatuh)
NIC : Pencegahan jatuh
Identifikasi deficit kognitif atau fisik pasien yang berpotensi untuk jatuh
Identifikasi karakteristik lingkungan yang meningkatkan potensi jatuh (seperti lantai
yang licin)
Monitor gaya, keseimbangan, keseimbangan berjalan dan kelemahan daya ambulasi
Berikan peralatan yang menunjang (seperti alat bantu jalan) untuk mengokohkan
jalan
Pertahankan pengunaan alat bantu jalan
Tempatkan benda-bnda disekitar klien untuk mudah dijangkau
Instruksikan pada pasien untuk meminta bantuan dengan menggunakan gerakan

5. Defisiensi pengetahuan berhubungan dengan proses penyakit


NOC : Knowledge : disease process

Kriteria Hasil :

Pasien dan keluarga menyatakan pemahaman tentang penyakit, kondisi, prognosis dan
program pengobatan
Pasien dan keluarga mampu melaksanakan prosedur yang dijelaskan secara
benar
Pasien dan keluarga mampu menjelaskan kembali apa yang dijelaskan
perawat/tim kesehatan lainnya
NIC :Teaching : disease Process

Berikan penilaian tentang tingkat pengetahuan pasien tentang proses penyakit yang
spesifik
Jelaskan patofisiologi dari penyakit dan bagaimana hal ini berhubungan dengan
anatomi dan fisiologi, dengan cara yang tepat.
Gambarkan tanda dan gejala yang biasa muncul pada penyakit, dengan cara yang
tepat
Gambarkan proses penyakit, dengan cara yang tepat
Identifikasi kemungkinan penyebab, dengna cara yang tepat
Sediakan informasi pada pasien tentang kondisi, dengan cara yang tepat
Diskusikan perubahan gaya hidup yang mungkin diperlukan untuk mencegah
komplikasi
Diskusikan pilihan terapi atau penanganan
Instruksikan pasien mengenai tanda dan gejala untuk melaporkan pada pemberi
perawatan kesehatan, dengan cara yang tepat

E. Evaluasi

1. Jalan napas kembali efektif

2. Rasa nyeri berkurang

3. Kebutuhan nutrisi sudah terpenuhi

4. Tidak terjadi cidera

5. Pengetahuan pasien tentang penyakit bertambah


BAB III
PENUTUP

2.2 Kesimpulan
Nasofaring terletak diantara basis cranial dan palatum mole, menghubungkan
rongga hidung dan orofaring. Salah satu penyakit yang dapat ditemukan di nasofaring
yaitu kanker/carsinoma nasofaring. Carsinoma nasofaring adalah tumor ganas yang
tumbuh di daerah nasofaring . Carsinoma nasofaring merupakan tumor ganas di
daerah kepala dan leher yang terbanyak ditemukan di Indonesia. Sampai saat ini
penyebabnya tidak diketahui pasti namun virus EB sangatnya berpengaruh terhadap
pembentukan carsinoma nasofaring ini. Pengobatan yang dilakukan bisa dengan
radioterapi maupun kemoterapi tergantung metastase carsinoma nasofaring tersebut.

2.3 Saran
Pada kasus carsinoma nasofaring diperlukan cara deteksi dini terkait kasus
tersebut karena tidak ada tanda gejala yang spesifik agar dapat diberikan
penatalaksaan medis maupun non medis yang tepat, sehingga dapat memperpanjang
harapan hidup penderita. Selain itu perlu diberikan informasi terkait carsinoma
nasofaring agar mereka dapat dengan cepat ditangani dan mencegah metastase ke
bagian tubuh yang lain.

WOC Ca. Nasofaring

Epstein Barr Virus Konsumsi ikan asin Asap rokok Factor Herediter
berlebih

Menetap di Mengandung Perubahan genetik


nasofaring nitrosamine

Kerusakan DNA (kromosom Karsinogenik Kerusakan DNA (kromosom


abnormal) abnormal)

Mutasi genetik Translokasi kromosom

Ca nasofaring Menstimulasi sel Sifat kanker di


abnormal yang tidak turunkan pada anak
terkontrol

Menyumbatan tuba Metastase pada Metastase sel Metastase Ca pada Metastase Ca pada
eustachius rongga hidung dan kanker ke KGB foramen laserum foramen jugulare
sinus paranasalis melalui aliran

Ketidakseimbangan Pertumbuhan Menekan saraf III, IV, Menekan saraf IX


antara tekanan telinga Inflamasi, epistaksis, sel kanker di V dan VI
tengah dengan KGB
hidung tersumbat
tekanan atmosfir Kerusakan fungsi Kesukaran
Kelenjar sensori menelan
melekat pengllihatan
pada otot
dan sulit di
gerakkan
Bersihan
Peningkatan tekanan
jalan napas
membran timpani
tidak efektif
Risiko Ketidakseimbang
Penurunan kemampuan Cedera an nutrisi kurang
pendengaran dari kebutuhan
Nyeri
tubuh

DAFTAR PUSTAKA

Arima.2006. Diagnosis dan tatalaksana sepuluh jenis kanker terbanyak di Indonesia. EGC :
Jakarta.

Carpenito, Lynda Juall. (2000). Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Edisi 8. EGC : Jakarta.

Roezin Arvid dan Adham Marlinda.2007. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung

Tenggorok Kepala dan Leher. Edisi 6, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia :

Jakarta.

NIC NOC 2012

Saputra. 2006. Bedah Onkologi Diagnostik dan Terapi. Sagung Seto : Jakarta.

Utama Hendra.2013.Buku Ajar Ilmu Onkologi. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia :

Jakarta.

Reviu Artikel Internasional Journal of Oto Laringology vol 2011 / 638058 Penulis Niken Resti

Utami,bagian ilmu penyakit THT,RSUD Temanggung, JawaTengah