Anda di halaman 1dari 35

BAGIAN I

TINJAUAN MATA KULIAH

A. DESKRIPSI MATA KULIAH


Mata kuliah Pengauditan 2 merupakan mata kuliah wajib bagi mahasiswa akuntansi. Mata
kuliah ini memberikan wawasan dan pemahaman mengenai berbagai pokok pembahasan yang
mencakup : audit siklus pendapatan : pengujian pengendalian; pengauditan siklus penjualan dan
pengumpulan piutang, audit siklus pendapatan : pengujian substantif; pengujian pengendalian
siklus pendapatan dan pengujian substantif transaksi, audit siklus pengeluaran : pengujian
pengendalian audit siklus pembelian dan pembayaran, audit siklus pengeluaran substantif;
penyelesaian pengujian dalam siklus pembelian dan pembayaran, pengujian subtantif transaksi,
audit siklus produksi; audit siklus persediaan dan pergudangan, audi siklus jasa personalia; audit
siklus pengujian dan personalia, audit siklus investasi, adit siklus pembiayaan, audit saldo kas;
audit kas dan instrumen keuangan, penyelesaian audit dan tanggungjawab pasca audit;
penyelesaian audit, penyusunan laporan audit atas laporan keuangan yang telah diaudit, jasa-jasa
lain akuntan dan pelaporannya, BAPEPAM dan akuntan publik.

B. KEGUNAAN MATA KULIAH


Dengan mempelajari mata kuliah pengauditan 2, mahasiswa dapat menguasai kompetensi
khusus, yaitu mampu melaksanakan proses pengauditan dan penyusunan laporan auditan suatu
entitassecara professional dan berstandar internasional.
Selain itu mahasiswa diharapkan memiliki kompetensi pendukung, diantaranya sebagai
berikut :
1. Mampu melaksanakan dan menetapkan proses pengauditan berdasarkan siklus akuntansi
perusahaan;
2. Mampu melaksanakan dan memahami pengauditan berbasis resiko (ISA);
3. Mampu menilai, mendeteksi dan merespon resiko kecurangan yang terjadi;
4. Mampu menggunakan pengetahuan akuntansi dan komputerisasi dalam melaksanakan
audit.

Pengauditan 2 | Audit Saldo Kas 1


Serta mahasiswa juga diharapkan memiliki kompetensi lainnya, yaitu sebagai berikut :
1. Mampu membuat prosedur audit atas siklus akuntansi;
2. Mampu memahami struktur pengendalian intern perusahaan;
3. Mampu membuat perencanaan audit, menilai resiko pengendalian, dan cara-cara
pengambilan sampel atas bukti yang diperiksa;
4. Mampu menggunakan pengetahuan akuntansi dan komputerisasi;
5. Mampu untuk bekerjasama, baik sebagai pimpinan maupun sebagai anggota kelompok.

C. SASARAN BELAJAR
Menyiapkan tenaga auditor yang siap pakai dan professional yang berstandar internasional dan
memiliki keterampilan pada level manajerial dan operasional dalam bidang pengauditan yang
memiliki kemampuan :
1. Melaksanakan pengauditan siklus atas penjualan dan pengumpulan piutang;
2. Melaksanakan sampling audit untuk pengendalian substantif transaksi;
3. Merancang penyelesaian pengujian dalam siklus penjualan dan piutang;
4. Melaksanakan pengauditan siklus pembelian dan pembayaran;
5. Melaksanakan penyelesaian pengujian dalam siklus pembelian dan pembayaran;
6. Melaksanakan pengauditan siklus persediaan dan pergudangan;
7. Melaksanakan pengauditan siklus penggajian dan personalia;
8. Melaksanakan pengauditan siklus investasi pendanaan;
9. Melaksanakan pengauditan kas dan instrument keuangan lainnya;
10. Menyelesaikan audit dan laporan keuangan.

PERTEMUAN SASARAN PEMBELAJARAN


1 Memahami GBRP dan kerangka konseptual auditing II
a. Mampu memahami sifat pendapatan.
b. Mampu memahami aktivitas pengendalian transaksi
penjualan kredit.
c. Mampu memahami aktivitas pengendalian transaksi
2
penerimaan kas.
d. Mampu memahami aktivitas pengendalian.
e. Mampu memahami transaksi penyesuaian penjualan.
a. Mampu memahami pengujian substantif atau piutang usaha;
3
b. Mampu memahami penentuan risiko deteksi.
c. Mampu memahami perancangan pengujian substantif.
d. Mampu memahami prosedur awal dan prosedur analitis
e. Mampu memahami pengujian rincian transaksi

Pengauditan 2 | Audit Saldo Kas 2


f. Mampu memahami pengujian rincian saldo
a. Mampu memahami sifat siklus pengeluaran.
b. Mampu memahami komponen pengendalian intern.
c. Mampu memahami aktivitas pengendalian transaksi
4 pembelian.
d. Mampu memahami aktivitas pengendalian transaksi
pengeluara kas.
a. Mampu memahami pengujian substansi atas saldo utang
usaha
b. Mampu memahami penetuan risiko deteksi.
c. Mampu memahami perancangan pengujian subtansi.
5 d. Mampu memahami prosedur awal.
e. Mampu memahami prosedur analitis.
f. Mampu memahami pengujian rincian transaksi.
g. Mampu memahami pengujian rincian saldo.
a. Mampu memahami sifat siklus produksi.
b. Mampu memahami aktivitas pengendalian transaksi
6. pabrikasi.
c. Mampu memahami pengujian substansi atas saldo persediaan.
a. Mampu memahami sifat siklus jasa personalia.
b. Mampu memahami tujuan audit jasa personalia.
c. Mampu memahami aktivitas pengendalian transaksi
7 penggajian.
d. Mampu memahami pengujian substansi atas saldo gaji dan
upah.
Mid Semester
8
a. Mampu memahami sifat siklus investasi.
b. Mampu memahami tujuan audit siklus investasi.
c. Mampu memahami pertimbangan perencanaan audit.
d. Mampu memahami pengujian substanstif atas saldo utang
9
jangka panjang.
e. Mampu memahami pengujian substantif atas saldo ekuitas
pemegang saham.
a. Mampu memahami sifat siklus pembiayaan.
10.
b. Mampu memahami tujuan audit siklus pembiayaan.
c. Mampu memahami pengujian substantif atas saldo utang
jangka panjang.
d. Mampu memahami pengujian substantif atas saldo ekuitas

Pengauditan 2 | Audit Saldo Kas 3


pemegang saham.
a. Mampu memahami sifat siklus kas.
b. Mampu memahami tujuan audit kas.
c. Mampu memahami penyusunan program audit kas.
d. Mampu memahami penerapan prosedur audit.
11 e. Mampu memahami pengujian saldo kas sebelum tanggal
neraca.
f. Mampu memahami pengujian saldo kas setelah tanggal
neraca.
a. Mampu memahami menyelesaikan pekerjaan lapangan.
b. Mampu memahami mengevaluasi temuan.
12 c. Mampu memahami komunikasi dengan klien.
d. Mampu memahami tanggung jawab setelah audit.
a. Mampu memahami standar pelaporan.
b. Mampu memahami laporan auditor
c. Mampu memahami laporan standar.
13 d. Mampu memahami penyimpangan dari laporan standar.
e. Pengaruh situasi yang menyebabkan penyimpangan dari
laporan standar.
a. Mampu memahami penerimaan dan pelaksanaan penugasan
atestasi.
b. Mampu memahami standar atestasi.
c. Mampu memahami penugasan yang dilaksanakan menurut
14
standar atestasi.
d. Mampu memahami penugasan yang dilaksanakan menurut
standar atestasi.
a. Mampu memahami struktur BAPEPAM.
b. Mampu memahami komponen BAPEPAM dan pasar modal.
c. Mampu memahami kualifikasi dan registrasi akuntan publik
di BAPEPAM.
15 d. Mampu memahami keterkaitan BAPEPAM dengan auditor
independen.
e. Mampu memahami tanggung jawab akuntan publik terhadap
BAPEPAM
Final Test
16

Pengauditan 2 | Audit Saldo Kas 4


BAGIAN II
PENDAHULUAN
AUDIT SIKLUS PEMBIAYAAN

A. SASARAN PEMBELAJARAN

Pengauditan 2 | Audit Saldo Kas 5


Setelah mempelajari materi tentang audit investasi, maka mahasiswa diharapkan mampu
untuk :
1. Mampu memahami sifat siklus kas.
2. Mampu memahami tujuan audit kas.
3. Mampu memahami penyusunan program audit kas.
4. Mampu memahami penerapan prosedur audit.
5. Mampu memahami pengujian saldo kas sebelum tanggal neraca.
6. Mampu memahami pengujian saldo kas setelah tanggal neraca.

B. RUANG LINGKUP BAHAN MODUL


Modul ini membahas tentang audit saldo kas mengenai sifat siklus kas, tujuan audit kas,
penyusunan program audit kas, penerapan prosedur audit, pengujian saldo kas sebelum
tanggal neraca, dan pengujian saldo kas setelah tanggal neraca.

C. MANFAAT MEMPELAJARI MODUL


Manfaat yang diperoleh mahasiswa setelah mempelajari modul ini adalah sebagai berikut :
1. Dapat menjelaskan sifat siklus kas.
2. Dapat menjelaskan tujuan audit kas.
3. Dapat menjelaskan penyusunan program audit kas.
4. Dapat menjelaskan penerapan prosedur audit.
5. Dapat menjelaskan pengujian saldo kas sebelum tanggal neraca.
6. Dapat menjelaskan pengujian saldo kas setelah tanggal neraca.

D. URUTAN PEMBAHASAN
1. Sifat siklus kas.
2. Tujuan audit kas.
3. Penyusunan program audit kas.
4. Penerapan prosedur audit.
5. Pengujian saldo kas sebelum tanggal neraca.
6. Pengujian saldo kas setelah tanggal neraca.

Pengauditan 2 | Audit Saldo Kas 6


BAGIAN III
MATERI PEMBELAJARAN

A. SIFAT SIKLUS KAS

Pengauditan 2 | Audit Saldo Kas 7


Saldo kas meliputi penerimaan ditangan yang belum disetor, kas di bank, pada rekening
giro umum dan rekening tabungan, serta akun impres seperi kas kecil dan rekening di
bank untuk gaji. Ini merupakan kas yang diperlukan untuk melunasi kewajiban serta
membayar gaji, dan kebanyakan entitas akan memindahkan kelebihan kas ke beberapa
bentuk investasi yang menghilangkan bunga. Saldo-saldo tertentu, seperti sertifikat
deposito, dan pelunasan obligasi, saldo mata uang luar negeri tertentu, dana kun-akun lain
yang mempunyai pembatasan dalan penggunaannya yang lazimnya harus di klasifikasi
investasi.

HUBUNGAN SALDO KAS DENGAN SIKLUS TRANSAKSI


Lima siklus transaksi berkaitan dengan saldokas umum,seperti dalam Gambar 18-4.
Kelima siklus itu adalah pendapatan, pengeluaran, pembiayaan investasi, dan jasa
personalia. Siklus produksi tidak mempunyaitransaksi yang berkaiytan langsung dengan
kas. Perhatikan bahwa siklus pembiayaan dan siklus investasi keduanya dapatmenaikkan
dan menurunkan kas. Bagi banyak entitas, volume transaksi siklus pendapatan dan
pengeluaran dapat berjumlah besar, demikian juga dengan siklus personalia. Volume
serta ukuran masing-masing transaksi dalam sklus pembiayaan dan investasi sangat
bervariasi dari suatu entitas ke yang lainnya dan dapat juga sangat berbeda dari tahun ke
tahun untuk suatu entitas.

Siklus Pendapatan Siklus Pengeluaran


Penjualan Pembelian
Penjualan Pembelian
Tunai Tunai
Siklus Pembiayaan Siklus Investasi
Piutang Usaha
Hutang Obligasi Hutang Usaha
Investasi
Menarik Menerbitkan Penerimaan Kas Pembayaran
Membeli Menjual
obligasi obligasi kredit Siklus Siklus kreditsekuritas sekuritas
Modal Saham Pendapatan pengeluaran Pendapatan bunga dan dividen
Menarik Menerbitkan SiklusJasa
Siklus Personalia
Siklus Penerimaan
saham saham pembiayaan pembiayaan
Hutang upah pabrik bunga dan
Membeli Membayar
Siklus Siklus dividen
Treasury stock karyawan
investasi investasi Pabrik dan peralatan
Hutang bunga dan dividen Piutang Usaha Membeli
Siklus jasa
Membayar Membayar aktiva tetap
personalia
Bunga dan Otorisasi pajak
dividen

Pengauditan 2 | Audit Saldo Kas 8


B. TUJUAN AUDIT SIKLUS KAS
Karena (1) pertimbangan pengendalian internal berkenaan dengan berbagai kelompok
transaksi yang mempengaruhi kas dan (2) tujuan audit atas kelompok transaksi yang
bertalian dengan transaksi itu. Dengan demikian, Gambar 18-5 hanya mencakup tujuan
audit saldo akun untuk kas.

Gambar 18-5 Tujuan Audit Spesifik untuk Saldo Akun

Kategori Asersi Tujuan Audit atas Saldo Akun


Keberadaan atau keterjadian Saldo yang dicatat pada tanggal neraca (EO1)
Kelangkapan Saldo kas yang dicatat mencakup pengaruh dari
semua transaksi kas yang telah terjadi (C1)
Transfer kas akhir tahun diantara bank telah dicatat
pada periode yang tepat (C2)
Hak dan Kewajiban Entitas mempunyai hak legal atas semua saldo kas
yang diperlihatkan pada tanggal neraca (RO1)
Penilaian atau Alokasi Saldo kas yang dicatat dapat direalisasi pada jumlah
yang dinyatakan di neraca dan sesuai dengan
schedule pendukung (VA1)
Penyajian dan Pengungkapan Saldo kas telah diidentifikasi dan diklasifikasikan
dengan tepat dalam neraca(P1)
Lini kredit, jaminan pinjaman, perjanjian saldo
kompensasi, dan pembatasan lain padanya atas kas
telah diungkapkan dengan tepat (P2)

C. PENYUSUNAN PROGRAM AUDIT KAS


KAS DI BANK DAN SIKLUS TRANSAKSI
Dalam audit atas kas, auditor harus membedakan antara verifikasi rekonsiliasi saldo
laporan bank oleh klien dengan saldo buku besar, dan verifikasi bahwa pencatatan kas

Pengauditan 2 | Audit Saldo Kas 9


dalam buku besar merefleksikan dengan benar seluruh transaksi kas yang terjadi
sepanjang tahun. Verifikasi rekonsiliasi klien ke akun saldo bank dan buku besar lebih
mudah, tetapi bagian terpenting dalam total audit dalam perusahaan adalah adanya
verifikasi bahwa pencatatan transaksi kas dilakukan dengan benar. Misalnya, setiap salah
saji berikut ini menghasilkan kesalahan dalam pembayaran atau menyebabkan kesalahan
dalam penerimaan kas, tetapi tak satupun dapat ditemukan dalam audit atas rekonsiliasi
bank :

Kesalahan dalam menagih konsumen


Pencurian kas dengan menghambat pembayaran kas dari konsumen sebelumnya
dicatat, dengan akun dianggap sebagai piutang tak tertagih
Duplikasi pembayaran faktur vendor
Pembayaran tidak benar atas biaya pribadi pejabat perusahaan
Pembayaran atas bahan baku yang tidak pernah diterima
Pembayaran atas karyawan lebih besar daripada jam kerja aktualnya
Pembayaran atas bunga pada pihak luar jumlahnya lebih besar dibandingkan tingkat
bunga sebenarnya.

Seluruh jenis salah saji biasanya ditemukan sebagai bagian dari pengujian atas
rekonsiliasi bank. Hal ini meliputi :
Kesalahan dalam memasukkan cek yang tidak dicairkan didalam daftar cek beredar,
meskipun telah dicatat dalam jurnal pengeluaran kas
Kas yang diterima dari klien masih dalam perjalanan pada tanggal neraca, tetapi sudah
dicatat dalam penerimaan kas pada tahun berjalan
Setoran dicatat sebagai penerimaan kas mendekati akhir tahun, disetorkan pada bank
dibulan yang sama, dan dimasukan dalam rekonsiliasi bank sebagai setoran dalam
perjalanan
Pembayaran atas weswl bayar didebet langsung dari saldo bank oleh bank, tetapi tidak
dimasukkan dalam catatan klien.

JENIS-JENIS AKUN KAS UMUM


Sebelum membahas mengenai pengujian klien atas rekonsiliasi bank klien, akan dibahas
terlebih dahulu tentang jenis akun kas yang digunakan oleh banyak perusahaan karena

Pengauditan 2 | Audit Saldo Kas 10


pendekatan yang digunakan akan berbeda pada setiap akunnya. Berikut adalah jenis-jenis
dari akun kas :
Akun Kas Umum
Akun kas umum adalah titik fokus bagi banyak perusahaan karena semestinya seluruh
penerimaan kas dan pengeluaran kas mengalir melalui akun ini. Misalnya, pengeluaran
dalam siklus akusisi dan pembayaran biasanya dibayar melalui akun kas umum, dan
penerimaan kas dalam siklus penjualan dan penagihan juga disetorkan ke dalam akun
tersebut.

Akun Impres
Pada umumnya banyak perusahaan yang mengunakan akun impres. Misalnya,
membuat akun penggajian impres terpisah untuk meningkatkan pengendalian internal
pembayaran gaji. Saldo tetap, misalkan Rp. 5.000.000,- dibuat dalam akun bank
penggajian. Segera sebelum setiap periode pembayaran, suatu cek atas transfer elektronik
ditarik pada akun kas umum untuk menyetorkan total jumlah penggajian bersih ke akun
penggajian. Setelah cek untuk gaji dilakukan pada akun penggajian impres, akun bank
seharusnya memiliki saldo Rp. 5.000.000,-. Satu-satunya setoran ke dalam akun adalah
untuk penggajian mingguan dan semi bulanan dan satu-satunya pengeluaran adalah
pembayaran cek kepada karyawan.
Terdapat jenis akun impres lain yang terdiri atas satu akun bank untuk penerimaan dan
pengeluaran. Perusahaan bisa saja memilikin akun ini untuk setiap divisi berbeda.
Seluruh penerimaan disetorkan ke dalam akun impres dan totalnya dipindahkan ke akun
umum secara periodik. Akun pengeluaran dibentuk berbasis impres, tetapi dengan cara
yang berbeda dengan akun pengajian impres.

Akun Bank Cabang


Akun bank cabang berguna untuk membangun relasi dengan bank dalam komunitas
lokal dan memungkinkan sentralisasi operasional pada tingkat cabang. Dalam beberapa
perusahaan, penyetoran dan pengeluaran untuk setiap cabang dibuat dalam akun yang
berbeda, dan kelebihan kas secara periodik dikirimkan ke akun bank umum pada kantor
pusat. Akun cabang dalam ini seperti akun umum, tetapi pada tingkat cabang.

Dana Kas Kecil Impres

Pengauditan 2 | Audit Saldo Kas 11


Dana kas kecil impres bukan merupakan akun bank, tetapi hampir sama dengan kas
pada bank. Kun kas kecil biasanya merupakan akun kas yang simpel untuk keperluan
biaya yang mendadak. Akun ini digunakan untuk pengeluaran kas berjumlah kecil yang
lebih mudah dibayarkan jika menggunakan uang tunai dibandingkan dengan cek atau
untuk memudahkan karyawan dalam mencairkan cek gaji atau pribadi.

Setara Kas
Perusahaan ini biasanya menginvestasikan kelebihan akumulasi kas dalam bagian
tertentu dalam suatu siklus, dimana kas tersebut akan diperlukan dalam waktu dekat dan
bisa disebut setara kas yang sangat likuid. Setara kas meliputi deposito berjangka,
sertifikat deposito, dan dana pasar uang. Setara kas bisa sangat material dan dimasukan
dalam laporan keuangan sebagai keuangan dari akun kas jika merupakan investasi jangka
pendek yang siap dikonversikan menjadi kas dalam jumlah yang pasti, dan tidak dapat
dirisiko signifikan atas perubahan nilai dari perubahan tingkat bunga. Sekuritas yang
dapat diperdagangkan dan investasi berbunga dengan jangka waktu yang lebih panjang
bukan merupakan setara kas.

AUDIT ATAS KAS UMUM


Pada pengujian saldo akhir tahun dalam akun kas umum, auditor harus
mengakumulasikan bukti yang cukup memadai untuk mengevaluasi apakah kas,
sebagaimana dinyatakan dalam neraca, dinyatakan dan diungkapkan dengan wajar sesuai
lima dari keenam tujuan audit-terkait saldo untuk seluruh pengujian perincian saldo
(keberadaan, kelengkapan, akurasi , pisah batas, dan kecocokan perincian). Hak atas kas
umum, klasifikasinya dalam neraca, dan nilai realisasi kas tidak dapat diaplikasikan.
Metodologi untuk kas pada akhir tahun sama dengan saldo akun neraca lainya.

Mengidentifikasi Risiko Bisnis Klien Yang mempengaruhi Kas (Tahap I)


Banyak perusahaan yang tidak memiliki risiko bisnis yang cukup signifikan dalam
memengaruhi saldo kas. Risiko bisnis klien dapat muncul dari kebijakan menajemen kas
yang tidak memadai atau penanganan dana yang dilakukan pihak luar.
Risiko bisnis klien lebih banyak muncul dari setara kas dan jenis investasi lainya.
Beberapa perusahaan yang menyediakan jasa keuangan mengalami kerugian besar akibat
aktivitas perdagangan oleh perorangan yang disembunyikan dengan salah menyajikan
saldo investasi dan kas. Auditor harus memahami risiko dari kebijakan dan strategi
Pengauditan 2 | Audit Saldo Kas 12
investasi klien, sama halnya dengan pengendalian manajemen yang dapat memperburuk
risiko tersebut.

Menetapkan Salah Saji yang Dapat Diterima dan Menilai Risiko Bawaan (Tahap I)
Saldo kas tidak material dalam kebanyakan audit, tetapi transaksi kas yang
memengaruhi saldo ini sifatnya hampir selalu sangat material. Oleh karena itu, sering
muncul potensi salah saji material dalam kas.
Oleh karena kas lebih mudah dicuri dibandingkan aset lainya, terdapat risiko bawaan
cukup tinggi untuk tujuan keberadaan, kelengkapan dan akurasi. Tujuan ini biasanya akan
berfokus pada audit saldo kas. Risiko bawaan relatif kecil untuk tujuan lainya.
Menilai Risiko Pengendalian (Tahap I)
Pengendalian internal atas saldo kas akhir tahun dalam akun umum dapat dibagi
menjadi dua kategori, yaitu:
1. Pengendalian atau siklus transaksi yang memengaruhi pencatatan penerimaan kas dan
pengeluaran kas.
2. Rekonsiliasi bank independen
Pada bab ini, kita membahas pengendalian yang memengaruhi pencatatan transaksi
kas, yang penting dalam penelitian dan pengendalian untuk kas. Misalnya dalam siklus
akuisisi, pengendalian utama meliputi pengendalian pembagian tugas yang memadai
antara penandatangan cek dan fungsi utang dagang,penandatanganan cek hanya
dilakukan oleh personel yang berwenang, menggunakan cek yang bernomor urut yang
dicetak pada kertas khusus, adanya telaah yang saksama atas dokumen pendukung
sebelum cek ditandatangani oleh personel yang berwenang, dan verifikasi internal yang
memadai. Jika penegendalian yang memengaruhi kas terkait transaksi beroperasi efektif,
maka risiko pengendalian berkurang sebagaimana pengujian audit untuk rekonsiliasi bank
akhir tahun.
Pengendalian yang penting atas saldo akhir kas adalah rekonsiliasi bank secara
bulanan dari akun bank umum berbasis waktu oleh personel yang independen dari pihak
yang menangani atau mencatat transaksi kas. Jika suatu perusahaan melakukan
rekonsiliasi bank dengan memakan waktu lama, maka nilai pengendalian akan turun dan
memengaruhi penilaian auditor atau risiko pengendalian kas. Rekonsiliasi membantu
mencatat akuntansi agar mencerminkan saldo kas yang lama antar saldo kas aktual di
bank setelah mempertimbangkan transaksi-transaksi yang memerlukan rekonsiliasi.
Lebih penting lagi, verifikasi atas transaksi penerimaan dan pengeluaran kas dapat
Pengauditan 2 | Audit Saldo Kas 13
dilakukan dalam rekonsiliasi yang independen. Jika laporan bank diterima dalam keadaan
tertutup oleh pihak yang merekonsiliasi dan pengendalian fisik dilakukan atas laporan
bank tersebut sampai rekonsiliasi diselesaikan, maka cek dibatalkan, duplikat slip setoran,
dokumen lain yang termasuk dalam laporan bank dapat diperiksa tanpa perlu khawatir
akan diganti, dihapus atau ditambahkan. Rekonsiliasi bank dilakukan dengan hati-hati
oleh pihak klien dengan melakukan tindakan berikut ini:
Membandingkan cek yang dibatalkan dengan catatan pengeluaran kas atas
tanggal, dibayarkan kepada siapa, dan berapa jumlahnya.
Memeriksa tanda tangan, personel otorisasi, dan pembatalan atas cek
dibatalkan.
Membandingkan setoran ke bank dengan tanggal, pembeli, dan jumlah pada
pencatatan setoran kas.
Memeriksa urutan nomer pada cek dan memeriksa jika ada yang hilang.
Merekonsiliasi seluruh bagian yang menyebabkan perbedaan antara saldo buku
dengan saldo bank dan memeriksa kewajaranya dalam bisnis klien.
Merekonsiliasi total debet pada laporan bank dengan total catatan pengeluaran
kas.
Merekonsiliasi total kredit pada laporan bank dengan total catatan penerimaan
kas.
Menindaklanjuti cek beredar dan peringatan penghentian pembayaran.
Banyak paket peranti lunak akuntansi yang menyediakan rekonsiliasi bank sebagai
bagian dari prosedur bulanan. Meskipun peranti lunak mengurangi tindakan klerikal
dalam melakukan rekonsiliasi bank, pihak yang menyiapkan harus tetap melakukan
banyak prosedur pada daftar di atas. Pengendalian atas rekonsiliasi bank dilakukan pada
saat personel yang kompoten menelaah rekonsiliasi bank sesegera mungkin setelah
selesai.

Mendesain dan Melakukan Pengujian Pengendalian dan Pengujian Substansif Atas


Transaksi (Tahap II)
Oleh karena saldo kas dipengaruhi oleh seluruh siklus, kecuali persediaan dan
pergudangan, maka sejumlah besar transaksi akun memengaruhi kas. Dalam bab-bab
sebelumnya, telah membahas secara terperinci mengenai pengujian pengendalian dan

Pengauditan 2 | Audit Saldo Kas 14


pegujian substansif yang memadai untuk audit setiap siklus. Misalnya, pengendalian atas
penerimaan kas. Transaksi kas diaudit melalui pengujian siklus transaksi tersebut.

Mendesain dan Melakukan Prosedur Analitis (Tahap III)


Dalam audit, rekonsiliasi bank pada akhir tahun di audit secara luas. Dengan
menggunakan prosedur analitis, pengujian atas kewajaran saldo kas tidak terlalu penting
dibandingkan area audit lainya.
Auditor biasanya membandingkan saldo akhir pada rekonsiliasi bank, setoran dalam
perjalanan, cek beredar, dan jenis rekonsiliasi lainya dengan rekonsiliasi yang dilakukan
pada tahun-tahun sebelumnya. Auditor juga membandingkan saldo akhir kas dengan
saldo bulan-bulan sebelumnya. Prosedur analtis ini dapat ditemukan salah saji pada kas.

Mendesaian Pengujian Perincian Saldo Kas (Tahap III)


Titik awal verifikasi saldo dalam akun bank umum adalah dengan mendapatkan
rekonsiliasi bank dari klien dengan memasukkan dokumentasi auditor. Untuk mengaudit
kas dibank, auditor melakukan verifikasi apakah rekonsiliasi bank yang diterima klien
sudah benar. Tujuan audit-terkait saldo dan pengujian perincian saldo dalam audit kas
yang paling penting adalah keberadaan, kelengkapan, dan akurasi, oleh karena itu harus
diperhatikan. Auditor juga melakukan pengujian yang berhubungan dengan keempat
tujuan penyajian dan pengungkapan, seperti menelaah hasil pertemuan dewan direksi dan
penyajian utang untuk menentukan apakah ada restriksi atas kas yang harus diugkapkan.
Dalam area audit lainya, prosedur audit aktual bergantung pada materialitas dan risiko
dalam kas yang sudah diidentifikasi auditor pada audit di bagian lainya.
Ketiga prosedur ini harus ditambahkan dalam pembahasan permintaan konfirmasi
bank sangat penting dan kompleks: laporan bank atas pisah batas dan pengujian
rekonsiliasi bank.

Permintaan atas Konfirmasi Bank


Meskipun tidak disyaratkan oleh standar audit, auditor biasanya meminta konfirmasi
dari setiap bank atau institusi keuangan lainnya yang berbisnis dengan klien, kecuali jika
terdapat sejumlah besar akun yang tidak aktif. Jika bank tidak menjawab permintaan
konfrimasi, maka auditor perlu mengirimkan permintaan kedua atau meminta klien
berkomunikasi dengan bank untuk meminta mereka melengkapi dan mengembalikan
konfirmasi kepada auditor, agar memudahkan auditor maupun pihak bank yang diminta
Pengauditan 2 | Audit Saldo Kas 15
mengisi konfirmasi, di Amerika Serikat, AICPA menyetujui penggunaan formulir bank
standar.
Pentingnya konfirmasi bank dalam audit lebih dari sekedar verifikasi saldo kas aktual.
Bank mengonfirmasi informasi pinjaman dan saldo bank dalm formulir yang sama.
Infromasi pada wesel bayar pada bank, hipotek, dan utang lainnya biasanya memasukkan
jumlah dan tanggal pinjaman, tanggal jatuh tempo pinjaman, tingkat bunga, dan adanya
jaminan.
Bank tidak bertanggung jawab untuk mencari untuk mencari pencatatan atas saldo
bank atau pinjaman selain yang dimasukkan dalam formulir dari klien KAP. Laporan di
bagian bawah formulir meminta bank menginformasikan kepada KAP semua pinjaman
yang tidak dimasukkan dalam konfirmasi dari bank yang memiliki informasi tersebut.
Dampak dari tanggung jawab yang terbatas ini dalah untuk mensyaratkan auditor agar
memenuhi tujuan kelngkapan atas saldo dan utang bank yang tidak tercatat dengan cara
lain. Sama halnya, bank tidak perlu menginformasikan kepada auditor mengenai
persyaratan kredit, persyaratan saldo kompensasi, atau kewajiban kontinjen ketika
kewajiban dijaminkan. Jika auditor menginginkan konfirmasi tas jenis informasi ini,
maka mereka harus mendapatkan konfirmasi yang terpisah dari institusi keuangan yang
dapat menjawab pertanyaan tersebut.
Setelah auditor menerima konfirmasi bank secara lengkap, saldo dalam akun bank
yang dikonfirmasi oleh bank garus ditelusuri ke saldo yang disebutkan dalam konfirmasi
bank. Sama halnya dengan informasi lain, dalam konfirmasi, juga garus ditelusuri ke
skedul audit lainnya. Jika konfirmasi bank tidak sesuai dengan skedul audit, maka auditor
harus memeriksa selisihnya.

Permintaan atas Laporan Bank Pisah Batas


Laporan bank atas pisah batas adalah laporan bank pada periode tertentu dan
pembatalan cek terkait, duplikan slip setoran, dan dokumen lain yang termasuk dalam
laporan bank, dikirimkan oleh bank ke kantor KAP. Tujuan dari laporan bank atas pisah
batas adalah untuk memberikan verifikasi bagian yang direkonsiliasi pada rekonsiliasi
bank klien di akhir tahun dengan bukti yang tidak dapat diakses ke klien. Untuk
memenuhi tujuan ini, auditor meminta klien agar bank mengirimkan laporan langsung
kepada auditor dalam waktu 7 samoai 10 hari setelah tanggal neraca.
Banyak auditor melakukan verifikasi periode laporan bank jika laporan pisah batas
tidak diterima langsung dari pihak bank. Tujuan adalah untuk menguji apakah karyawan
Pengauditan 2 | Audit Saldo Kas 16
klien tidak memasukkan, menambahkan, atau menggantikan dokumen sesuai dengan
laporan. Pengujian ini jelas dilakukan untuk salah saji yang disengaja. Auditor melakukan
verifikasi berikut ini dalam bulan setelah tanggal neraca:
Memeriksa saldo seluruh cek yang dibatalkan, memo debet, setoran, dan memo kredit.
Melakukan verifikasi saldo laporan bank saat penjumlahan dilakukan.
Menelaah bagian dari penjumlahan untuk memastikan sudah dibatalkan oleh bank
pada periode yang tepat dan tidak ada penghapusan atau penggantian.

Pengujian Rekonsiliasi Bank


Rekonsiliasi bank yang dilakukan dengan benar oleh pihak independen merupakan
pengendalian internal penting atas kas. Auditor menguji rekonsiliasi bank untuk
menentukan apakah pihak klien sudah menyiapkan rekonsiliasi denga gati-hati dan
melakukan verifikasi apakah saldo bank yang dicatat klien sama jumlahnya dengan kas di
bank, kecuali bila ada setoran dalam perjalanan, cek beredar, dan jenis rekonsiliasi
lainnya.
Dalam verifikasi rekonsiliasi, auditor menggunakan informasi dalam laporan bank atas
pisah batas untuk melakukan verifikasi kewajaran rekonsiliasi. Verifikasi auditor dalam
rekonsiliasi meliputi beberapa prosedur:
Melakukan verifikasi bahwa rekonsiliasi bank klien akurat secara matematis.
Menelusuri saldo konfirmasi bank dan atau saldo awal pada laporan pisah batas ke
saldo per bank pada rekonsiliasi bank utnuk memastikan jumlahnya sama.
Menelusuri cek yang ditulis dan dicatat sebelum akhir tahun dan dimasukkan ke
laporan bank atas pisah batas ke daftar cek beredar pada rekonsiliasi bank dan juga
jurnal pengeluaran kas dalam periode neraca atau periode sebelumnya. Seluruh cek
yang dikliring bank setelah tanggal neraca dan dimasukkan dalam jurnal pengeluaran
kas harus dimasukkan dalam daftar cek beredar. Jika cek dimasukkan dalam jurnal
pengeluaran kas, maka seharusanya dianggap cek beredar karena tidak dikliring di
bank sebelum tanggal neraca, maka tidak boleh dimasukkan dalam rekonsiliasi bank.
Memeriksa seluruh cek yang jumlahnya besar dan termasuk dalam daftar cek beredar
yang belum dikliring oleh bank pada laporan pisah batas. Langkah pertama dalam
pemeriksaan ini harus dilakukan dengan menelusuri jumlah yang belum dikliring
dalam jurnal pengeluaran kas. Alasan mengapa cek belum diuangkan, harus dibahas
dengan klien, dan jika auditor khawatir telah terjadi kecurangan, maka vendor yang

Pengauditan 2 | Audit Saldo Kas 17


termasuk dalam saldo utang dagang harus dikonfirmasi untuk menentukan apakah
vendor tersebut sudah mengakui penerimaan kas dalam pecatatannya. Ditambah lagi,
cek yang dibatalkan perlu diperiksa sebelum tanggal terakhir audit jika memang ada.
Menerima kas yang tidak disetorkan ke bank di akhir tahun harus ditelusuri ke laporan
pisah batas untuk memastikan bahwa kas tersebut disetorkan segera di awal tahun
berikutnya.
Memperhatikan jenis rekonsiliasi lain ke laporan bank dan rekonsiliasi bank. Hal ini
meliputi biaya jasa bank, kesalahan dan pembetulan bank, dan transaksi tak tercatat
yang didebet atau dikredit langsung ke akun bank oleh pihak bank. Jenis rekonsiliasi
ini perlu di investigasi untuk memastikan sudah diperlukan dengan benar oleh klien.

PROSEDUR BERORIENTASI KECURANGAN


Kecurangan atas saldo kas umum ini terjadi karena tidak memadainya pemisahan
tugas antara pemegang kas dan pencatatn transaksi kas dalam pencatatan akuntansi dan
kurangnya rekonsiliasi bank bulanan yang independen. Prosedur yang harus dilakukan
auditor untuk menemukan kecurangan atas penerimaan kas meliputi, mempertimbangkan
sifat dari kurangnya pengendalian internal, jenis kecurangan yang dapat terjadi dari
kekurangan tersebut, potensi materialitas kecurangan, konfirmasi piutang dagang,
pengujian yang dilakukan untuk menemukan pencurian uang, penelaahan aktivitas akun
kas atas transaksi yang tidak lazim, pemeriksaan persetujuan dan dokumen pendukung
untuk piutang tidak tertagih dan retur dan cadangan penjualan, serta prosedur audit yang
palin efektif untuk menemukan kecurangan. Prosedur untuk menemukan kecurangan
berikut langsung terkait dengan saldo kas akhir tahun;

Perluasan Pengujian atas Rekonsiliasi Bank


Jika rekonsiliasi bank dapat dengan sengaja salah saji, maka perlu dilakukan perluasan
pengujian atas rekonsiliasi bank akhir tahun. Prosedur yang dilakukan auditor :
1. Memulai rekonsiliasi bank untuk bulan/tahun tertanggal, dan membandingkan
seluruh bagian rekonsiliasi dengan cek yang dibatalkan dan dokumen lainnya dalam
laporan bank tertanggal.
2. Membandingkan sisa cek yang dibatalkan dan slip setoran dalam laporan bank
tertanggal dengan jurnal pengeluaran dan penerimaan kas bulan/tahun tertanggal.
Pengauditan 2 | Audit Saldo Kas 18
3. Menelusuri seluruh bagian yang tidak jelas dalam rekonsiliasi bank dan jurnal
penerimaan dan pengeluaran kas ke rekonsiliasi bank klien untuk memastikan semua
sudah dimasukkan.
4. Melakukan verifikasi seluruh bagian rekonsiliasi dalam rekonsiliasi bank dari jurnal
untuk rekonsiliasi bank tertanggal yang belum dikliring ke bank.

Pembuktian Kas
Auditor menggunakan pembuktian kas untuk menentkan apakah,
Seluruh penerimaan kas yang tercatat telah disetorkan.
Seluruh setoran ke bank dicatat dalam pencatatan akuntansi
Seluruh pengeluaran kas dibayarkan oleh bank
Seluruh jumlah yang dibayarkan oleh bank sudah dicatat.
Pembuktian kas meliputi empat rekonsiliasi berikut ini :

1. Rekonsiliasi saldo pada laporan bank dengan saldo buku besar pada awal
periodepembuktian kas.
2. Rekonsiliasi penerimaan kas yang disetorkan ke bank dengan penerimaan yang
tercatat dalam jurnal penerimaan kas pada periode tertentu.
3. Rekonsiliasi cek yang dibatalkan di kliring bank dengan yang dicatatdalam jurnal
pengeluaran kas untuk periode tertentu.
4. Rekonsiliasi saldo laporan bank dengan saldo buku besar pada akhir periode
pembuktian kas.
Saat melakukan pembuktian kas, auditor menggabungkanpengujian susbtantif atas
transaksi dan pengujian perincian saldo. Pembuktian kas merupakan metode yang sangat
baik dalam membandingkan pencatatan penerimaan dan pengeluaran kas dengan akun
bank dan rekonsiliasi bank.

Pengujian Transfer Antarbank


Ada beberapa hal yang perlu diaudit atas jadwal transfer antarbank, yaitu sebagai
berikut :
Keakuratan informasi pada jadwal transfer antarbank harus diverifikasi. Auditor
harus mempertimbangkan informasi pengeluaran dan penerimaan pada skedul ke
pencatatan pengeluaran dan penerimaan kas untuk memastikan akurasinya.

Pengauditan 2 | Audit Saldo Kas 19


Transfer antarbank harus dicatat, baik di bank penerima maupun bank pengirim.
Asumsikan terdapat Rp 10.000.000 dipindahkan dari bank A ke bank B, tetapi hanya
pengeluarannya yang dicatat, maka ini adalah bukti pencurian uang yang ditutupi.
Tanggal pencatatan pengeluaran dan penerimaan untuk setiap transfer harus
dilakukan di tahun fiskal yang sama. Jika penerimaan kas dicatat pada tahun fiskal
berjalan dan pengeluaran kas dicatat setelah tanggal neraca, maka hal tersebut bisa
saja dilakukan untuk menutupi berkurangnya kas.
Pengeluaran pada skedul transfer antarbank harus dimasukkan atau
dikeluarkandengan benar dari rekonsiliasi bank akhir tahun sebagai cek beredar.
Dalam akun kas umum harus dimasukkan sebagai cek beredar pada transfer
rekonsiliasi bank. Kurang saji cek beredar pada rekonsiliasi bank mengindikasikan
adanya kemungkinan kiting.
Skedul tranfer antarbank harus dimasukkan atau dikeluarkan dengan benar dari
rekonsiliasi bank akhir tahun sebagai setoran dalam perjalanan. Untuk akun
tabungan dan penggajian harus mengindikasikan setoran dalam perjalanan untuk
transfer rekonsiliasi bank. Lebih saji atas setoran dalam perjalanan pada rekonsiliasi
bank mengindikasikan adanya kemungkinan kiting.
Meskipun pengujian audit atas transfer antarbank biasanya dimaksudkan untuk
menemukan kecurangan, tindakan ini juga bisa dilakukan banyak transfer antarbank
tanpa memerhatikan pengendalian internal. Bila ada kemungkinan kiting, maka dapat
mengakibatkan salah perhitungan antara kas dan utang dagang.

AUDIT ATAS AKUN BANK PENGGAJIAN IMPRES


Pengujian atas rekonsiliasi bank untuk penggajian tidak akan memakan waktu jika
terdapat akun impres untuk penggajian dan rekonsiliasi independen atas akun bank,
seperti yang dijelaskan pada akun umum. Biasanya, bagian yang direkonsiliasi adalah cek
beredar. Cek beredar tersebut akan langsung jelas ketika cek diterbitkan. Dalam
pengujian saldo akun bank untuk penggajian, auditor harus mendapatkan rekonsiliasi
bank, konfirmasi bank, dan laporan bank atas pisah batas. Prosedur rekonsiliasi sama
dengan kas umum, kecuali pengujian pada cek beredar yang biasanya terbatas untuk
pengujian kewajarannya. Biasanya, diperlukan perluasan prosedur bila pengendalian
tidak memadai atau jika akun bank tidak direkonsiliasi dengan saldo kas impres pada
buku besar.

Pengauditan 2 | Audit Saldo Kas 20


AUDIT ATAS KAS KECIL IMPRES
Kas kecil adalah akun yang unik. Meskipun jumlahnya tidak material, banyak auditor
melakukan verifikasi kas kecil karena terdapat potensi kecurangan dan klien
mengharapkan auditor memeriksa akun tersebut meski jumlahnya tidak material.

Pengendalian Internal atas Kas Kecil


Pengendalian internal yang paling penting dalam kas kecil adalah penggunaan dan
impres yang merupakan tanggung jawab perorangan. Dana untuk kas kecil tidak dapat
digabungkan dengan penerimaan lainnya, dan dana harus disimpan terpisah dari aktivitas
lainnya. Pembatasan juga harus dilakukan atas pengeluaran dari kas kecil, sama halnya
dengan jumlah total dana. Jenis pengeluaran yang dilakukan dari transaksi kas kecil harus
jelas didefinisikan sesuai kebijakan perusahaan.
Saat pengeluaran kas dilakukan dari kas kecil, pengendalian internal yang memadai
mensyaratkan adanya tanda tangan personel yang berwenang pada formulir kas kecil
yang bernomor urut. Total dari kas aktual dan cek dananya, ditambah total formulir kas
kecil yang disebut dalam buku besar. Perhitungan mendadak secara periodik dan
rekonsiliasi dana kas kecil harus dilakukan oleh auditor internal atau personel lain yang
berwenang.
Saat saldo kas kecil tinggal sedikit, cek dari akun kas umum harus dibuat untuk
mengisi kas kecil. Cek harus ditulis dengan jumlah yang sama dengan voucher bernomor
urut yang dijadikan bukti pengeluaran aktual sebelumnya. Voucher ini harus diverifikasi
oleh petugas utang dagang dan dibatalkan agar tidak digunakan kembali.

Pengujian Audit atas Kas Kecil


Penekanan dilakukan pada verifikasi kas kecil atas pengujian transaksi kas kecil
dibandingkan saldi akhir tahun. Bahkan jika dana kas kecil jumlahnya kecil, terdapat
potensi kecurangan transaksi jika dana sering dikeluarkan atau digunakan.
Dalam pengujian kas kecil, auditor pertama kali harus menentukan prosedur klien
dalam menangani dana. Hal ini dilakukan dengan mendiskusikan pengendalian internal
bersama pemegang kas kecil dan memeriksa dokumen atas beberapa transaksi. Saat hasil
penilaian risiko pengendalian adalah rendah dan hanya sedikit pengeluaran dilakukan
selama tahun berjalan, biasanya auditor tidak melakukan pengujian lebih lanjut karena
tidak material. Ketika auditor menguji kas kecil, dua prosedur utamanya adalah
Pengauditan 2 | Audit Saldo Kas 21
menghitung saldo kas kecil dan melanjutkan dengan pengujian terperinci atas satu atau
dua transaksi pengeluaran. Prosedur utama harus meliputi:
Menjumlahkan voucher pendukung kas kecil yang menunjukkan jumlah pengeluaran
Memperhatikan urutan voucher kas kecil
Memeriksa otorisasi dan pembatalan voucher kas kecil
Memeriksa kewajaran dokumen pendukung, biasanya terdiri atas gulungan register
kas, faktur, dan bukti penerimaan.
Pengujian kas kecil dapat dilakukan sewaktu-waktu selama tahun berjalan, tetapi agar
memudahkan, biasanya dilakukan pada tanggal interim. Jika saldo dana kas kecil
diperkirakan material, hal ini jarang terjadi, maka saldo tersebut harus diperhitungkan
pada akhir tahun. Pengeluaran yang belum diganti harus diperiksa sebagai bagian dari
penentuan apakah biaya yang belum tercatat jumlahnya material.

D. PENERAPAN PROSEDUR AUDIT


PERTIMBANGAN PERENCANAAN AUDIT
Materialitas
Bagi kebanyakan entitas, bagian dari aktiva lancar atau total aktiva pada suatu titik waktu
yang disajikan oleh saldo kas adalah sangat kecil, dan seringkali tidak material. Akan
tetapi, jika dikaitkan dengan transaksi dalam lima siklus transaksi yang mempengaruhi
kas, jumlah kas yang mengalir melalui akun-akun selama suatu periode waktu benar-
benar dapat sangat material. Dalam kenyataannya, volume transaksi yang mempengaruhi
kas biasanya lebih besar daripada untuk setiap akun lainnya dalam laporan keuangan.

Risiko Inheren
Volume transaksi yang tinggi dapat menimbulkan tingkat risiko inheren yang signifikan
untuk asersi saldo kas tertentu, terutama keberadaan dan keterjadian serta kelengkapan.
Selain itu, sifat saldo kas juga membuatnya mudah untuk dicuri karena berbagai jens
bentuk kecurangan yang melibatkan kas telah terbukti. Akan tetapi, berbeda dengan
piutang atau persediaan, risiko yang berkenaan dengan asersi hak dan kewajiban,
penilaian dana tau alokasi, dan penyajian serta pengungkapan untuk kas bersifat minimal
karena tidak adanya kerumitan yang melibatkan hak, pengukuran akuntansi, estimasi, dan
pengungkapan.

Risiko Prosedur Analitis

Pengauditan 2 | Audit Saldo Kas 22


Saldo kas dipengaruhi secara signifikan oleh keputusan dan strategi operasi, investasi,
serta pembiayaan manajemen. Akibatnya, dalam beberapa audit atas saldo ini mungkin
tidak diharapkan untuk memperlihatkan hubungan yang stabil atau dapat diprediksi
dengan data keuangan atau operasi masa berjalaan atau historis. Perusahaan yang dikelola
dengan baik secara teratur dapat menegembangkan anggaran kas, yang memproyeksikan
(1) Penerimaan kas berdasarkan penagihan piutang yang dipartisipasi,
(2) Pengeluaran kas untuk kebutuhan operasi, dan
(3) Aktivitas investasi serta pembiayaan.
Prosedur analitis yang efektif mencakup pembandingan saldo kas dengan peramalan atau
anggaran, atau dengan kebijakanperusahaan mengenai saldo kas minimum dan investasi
atas kelebihan kas. Biasanya lebih efektif bagi perusahaan untuk membandingkan saldo
kas dengan anggaran dan kebijakan perusahaan karena masing-masing kebutuhan kas
dari berbagai entitas seringkali unik. Apabila pengharapan yang layak dirumuskan dan
datanya sesuai dengan pengharapan itu, maka bukti analitis dapat dipandang memberikan
sejumlah kepastian mengenai asersi eksistensi atau keberadaan atau keterjadian,
kelengkapan, dan penilaian atau alokasi untuk saldo kas.

Risiko Pengendalian
Pengendalian internal yang berkaitan dengan penerimaan kas dan penerimaan kas dan
pengeluaran kas telah dibahas sebelumnya. Unsur-unsur pengendalian internal dalam
lingkungn pengendalian, penilaian risiko, informasi dan komunikasi, prosedur
pengendalian serta pemantauan , termasuk pembahasan tentang dokumen dan catatan
penting serta fungsi dan pengendalian yang umum. Karena rawannya saldo kas terhadap
pencurian, maka banyak auditor akan mengevaluasi secara cermat pengendalian internal
atas kas, dan memastikan bahwa setiap kondisi dapat dilaporkan telah dikomunikasikan
dengan jelas kepada manajemen.

PENGUJIAN SUBSTANTIF ATAS SALDO KAS


MENENTUKAN RISIKO DETEKSI
Beberapa pemilik perusahaan kecil menginginkan agar auditor secara cermat mengaudit
kas guna memberikannya kepastian tentang keabsahan saldo kas. Akibatnya, auditor akan
pendekatan substantif yang terutama menekankan pada pengujian rincian, sekalipun
model risikoaudit dapat menyatakan bahwa pendekatan semacam itu tidak diperlukan
karena prosedur analitis atau pengendalian internal sudah efektif. Sementara itu, klien
lainnya mungkin mengandalkan pada CFO, atau departemen audit internal, untuk
menelaah atau mengaudit saldo kas berdasarkan apa yang diperlukan untuk
mengeluarkan suatu pendapat mengenai kewajaran penyajian laporan keuangan..

Pengauditan 2 | Audit Saldo Kas 23


Risiko inheren biasanya tinggi karena kerawanankas terhadap penyalahgunaan yang
telah dibahas dibab sebelumnya.efektivitas prosedur analitis seringkali tergantung pada
prosedur yang ditempuh entitas untuk mengembangkan anggaran atau peramalan kasyang
akurat. Metodologi untuk menggabungkan penilaian risiko pengendalian atas asersi
kelompok transaksi yang telah dijelaskanpada Bab 10 dapat digunakan dalam
menentukan penilaian risikopengendalian untuk asersi saldo kas. Model risiko audit atau
matriks risiko kemudian dapat digunakan, sebagaimana yang diilustrasikan dalam
Gambar 8-2, untuk menetukan tingkat risiko deteksi yang dapat diterima atas setiap asersi
saldo kas.

MERANCANG PENGUJIAN SUBSTANTIF


Sutau daftar pengujian substantif yang mungkin dilaksanakan untuk mencapai tujuan
audit spesifik atas saldo kas disajikandalam Gambar 18-6. Daftar ini disusun menurut
kerangka kerja umum untuk mengembangkan program audit bagi pengujian substantif
yang telah dijelaskan pada Bab 11, dan yang telah dan hal itu digunakan dalam setiap bab
yang membahas tentang siklus. Perhatikan bahwa beberapa dari pengujian ini berlaku
untuk lebih dari satu tujuan audit, dan setiap tujuan didukung oleh berbagai pengujian
yang mungkin. Tidak semua pengujian dapat dilaksanakan dalam setiap audit. Setiap
pengujian itu akan dijelaskan dalam bagian berikut, termasuk komentar tentang kapan
pengujian tertentu dapat diabaikan dan bagaimana beberapa pengujian dapat disesuaikan
berdasarkan faktor-faktor risiko yang berlaku.

Prosedur Awal
Sebelum membahas pengujian yang terinci atas saldo kas, auditor harus memastikan
bahwa dia telah memperoleh pemahaman tentang bisnis entitas dan pentingnya saldo kas
entitas tersebut.
Titik awal untuk mengverifikasi saldo kas adalah menelusuri saldo awal periode
berjalan ke saldo akhir yang telah diaudit dalam kertas kerja tahun sebelumnya (apabila
dapat diterapkan). Berikutnya, aktivitas selama periode berjalan dalam akun buku besar
kas harus dikaji-ulang menyangkut setiap ayat jurnal signifikan yang bersifat tidak biasa
atau jumlah yang memerlukan penyelidikan khusus. Di samping itu, setiap skedul yang
dibuat oleh klien yang menunjukkan ikhtisar penrimaan bank juga harus diperoleh.
Ketepatan matematis dari setiap skedul itu harus ditentukan dan kecocokannya dengan
saldo kas yang berkaitan dalam buku besar juga harus diperiksa.Pengujian ini
memberikan bukti tentang asersi penilaian atau alokasi.

Prosedur Analitis
Pengauditan 2 | Audit Saldo Kas 24
seperti telah dibahas sebelumnya, efektivitas prosedur analitis secara signifikan bervariasi
dari satu klien ke klien lainnya. Efektivitas prosedur analitis yang telah dibahas
sebelumnya ini dapat mengurangi jumlah bukti yang diperlukan dari pengujian
substantive lainnya dibandingkan dengan yang dibutuhkan apabila datanya tidak sesuai
dengan pengharapan yang dikembangkan dari anggaran atau peramlan kas, atau
kebijakan perusahaan mengenai investasi kelebihan kas.

E. PENGUJIAN SALDO KAS SEBELUM TANGGAL NERACA DAN


SESUDAH TANGGAL NERACA

Pengujian Rincian Transaksi


Beberapa pengujian substantif atas rincian transaksi melibatkan penelusuran dan
vouching transaksi penerimaan kas serta pengeluaran kas yang biasanya dilakukan
bersamaan dengan pengujian pengendalian sebagai pengujian bertujuan ganda. Bukti
yang diperoleh dari pengujian tersebut harus digabungkan dengan bukti dari prosedur
dalam menarik kesimpulan mengenai kewajaran penyajian saldo kas.

Melaksanakan pengujian pisah batas-kas


Pisah-batas yang tepat atas penerimaan dan pengeluaran kas pada akhir tahun sangat
penting bagi kelayakan laporan kas pada tanggal neraca. Dua pengujian pisah-batas kas
telah dilaksanakan : (1) pengujian pisah-batas penerimaan kas, dan (2) pengujian pisah-
batas pengeluaran kas. Penggunaan laporan pisah-batas bank, juga berguna dalam
menentukan apakah pisah-batas kas yang tepat telah dilakukan
Pengujian pisah-batas kas terutama ditunjukan pada asersi laporan keuangan, yaitu
eksistensi atau kejadian dan kelengkapan.

Menelusuri transfer bank


Banyak entitas membuka akun-akun (rekening) pada lebih dari satu bank. Sebuah
perusahaan yang memiliki banyak akun bank dapat melakukan transfer uang yang
diotorisasi di antara akun-akun bank itu. Sebagai contoh, uang dapat ditransfer dari akun
bank umum ke akun bank untuk penggajian atas cek gaji yang akan dibagikan pada hari
pembayaran. Apabila terjadi transfer bank, maka beberapa hari (dikenal dengan periode
mengambang) umumnya akan berlalu sebelum cek itu dikliring di bank pada waktu
ditarik. Jadi setoran kas per catatan bank akan lebih saji selama periode ini, karena cek itu

Pengauditan 2 | Audit Saldo Kas 25


akan termasuk dalam saldo bank yang menerima setoran dan belum akan dikurangkan
dari bank yang ceknya ditarik. Transfer bank juga dapat menimbulkan salah saji saldo
bank per pembukuan jika pengeluaran dan penerimaan tidak dicatat pada periode
akuntansi yang sama.
Secara sengaja mencatat transfer bank sebagai setoran di bank penerima dan tidak
menunjukkan pengurangan dari akun bank tempat transfer cek ditarik merupakan suatu
penyimpangan yang dikenal sebagai kiting. Kiting juga dapat digunakan untuk
menyembunyikan kekurangan kas atau kelebihan kas di bank pada tanggal laporan.
Seorang auditor memerlukan bukti tentang keabsahan transfer bank atau, sebaliknya,
dapat terjadi salah saji. Bukti ini diperoleh dengan menyiapkan skedul transfer bank
(bank transfer schedule) data yang akan dicantumkan pada skedul itu diperoleh dari
analisis atas ayat jurnal kas per pembukuan dan laporan bank serta pisahbatas bank yang
berlaku. Skedul itu mencantumkan semua transfer cek yang diterbitkan pada atau
mendekati akhir tahun fiskal klien. Dan menunjukkan tanggal cek itu dicatat oleh klien
serta bank.

Gambar 18-7 Skedul Transfer Bank


Tanggal
Akun Bank Tanggal Pengeluaran
No Jumlah Penerimaan
Cek Cek Per Per
Dari Untuk Per Buku Per Bank
Buku Bank
4100 Umum Gaji $50.000 31/12 3/1 31/12 2/1
Cabang
4275 Umum $10.000 31/12 4/1 2/1 2/1
#1
Cabang
4280 Umum $20.000 2/1 2/1 31/12 31/12
#2
B403 Umum Umum $5.000 2/1 3/1 3/1 31/12

Jika kita mengasumsikan bahwa semua cek tertinggal dan diterbitkan pada tanggal 31
desember, maka cek No. 4100 pada tabel9.2 telah ditangani dengan benar karena kedua
ayat jurnal pembukuan perusahaan telah dibuat pada bulan desember dan kedua ayat
jurnal pembukuan bank terjadi pada bulan januari. Cek ini akan tercantum sebagai cek
yang beredar ketika merekonsiliasi akun bank umum per 31 desember dan sebagai
setoran dalam perjalanan ketika merekonsiliasi akun bank gaji. Cek No. 4275
menggambarkan transfer cek dalam perjalanan pada tanggal penutupan. Kas per
pembukuan kurang saji sebesar $10.000 karena cek itu telah dikurangkan dari saldo per

Pengauditan 2 | Audit Saldo Kas 26


pembukuan oleh penerbitnya pada bulan desember, tetapi belum ditambahkan ke akun
cabang #1 per pembukuan oleh penyetor sampai bulan januari. Jadi, suatu ayat jurnal
penyesuaian akan diperlukan pada tanggal 31 desember untuk menaikkan saldo cabang
per pembukuan.
Cek nomor 4280 dan B403 menggambvarkan kemungkinan kiting karena cek-cek bulan
desember ini belum dicatat sebagai pengeluaran per pembukuan sampai bulan januari,
sekalipun telah disetorkan ke bank penerimaan pada bulan desember. Cek no 4280
menimbulkan lebih saji kas di bank sebesar $20.000 karena penerimaan per pembukuan
terjadi dalam bulaln desember, dan pengurangan yang sepadan belum dilakukan sampai
bulan januari. Cek no. B403 dapat menggambarkan suatu upaya untuk menyembunyikan
kekurangan ksa karena setoran bank yang terjadi pada bulan desember dianggap
memungkinkan untuk merekonsiliasi saldo bank serta pembukuan, sementara semua ayat
jurnal lainnya dibuat pada bulan januari.
Kiting bisa terjadi apabila kelemahan dalam pengendalian internal memungkinkan
seseorang untuk menerbitkan dan mencatat cek-cek (misalnya pemisahan tugas yang
kurang tepat), atau ada kolusi di antara orang-orang yang bertanggung jawab atas kedua
fungsi itu. Selain menelusuri transfer banmk, kiting juga dapat dideteksi dengan (1)
mendapatkan dan menggunakan laporan pisah-batas bank (seperti yang dibahas pada
bagian terakhir) karena cek yang dikiting dan dikliring pada bulan januari akan tidak
tampak pada daftar cek yang beredar untuk bulan desember dan (2) melaksanakan
pengujian pisah-batas kas karena cek terakhir yang diterbitkan pada bulan desember tidak
akan dicatat dalam register cek.
Penelusuran transfer bank akan memberikan bukti yang dapat diandalkan mengenai asersi
eksistensi dan kelengkapan.

Pengujian Rincian Saldo


Ada lima pengujian substantif yang bisa digunakan untuk saldo kas dalam kategori ini.
Setiap pengujian ini akan diuraikan dalam bagian berikut.
Menghitung kas di tangan
Penerimaan kas yang belum disetor dan uang kembalian biasanya dipandang sebagai las
di tangan. Untuk melaksanakan perhitungan kas secara tepat, auditor harus:
Mengendalikan semua instrumen kas dan yang dapat dinegosiasikan yang ditahan
oleh klien sampai semua uang telah dihitung.

Pengauditan 2 | Audit Saldo Kas 27


Meminta agar petugas kas hadir sepanjang perhitungan itu.
Mendapatkan tanda terima yang ditandatangani dari petugas pada waktu
mengembalikan uang kepada klien.
Memastikan bahwa semua cek yang belum disetor dapat dibayarkan kepada klien,
baik secara langsung atau melalui endorsemen.
Pengendalian atas semua dana uang dirancang untuk mencegah transfer uang yang telah
dihitung ke uang yang belum dihitung oleh klien. Penyegelan uang dan penggunaan staf
auditor tambahan seringkali diperlukan apabila kas disimpan pada banyak
lokasi.Pengamanan yang menyangkut pengawasan kas dilakukan untuk meminimkan
kemungkinan, dalam hal terjadinya kekurangan, klien mengklaim bahwa semua kas
adalah utuh pada saat diserahkan kepada auditor untuk dihitung.
Pengujian ini memberikan bukti tentang masing-masing asersi laporan keuangan
kecuali penyajian dan pengungkapan. Di sini perlu diperhatikan bahwa bukti tentang hak
bersifat lemah karena pengawasan dana, seperti dana kas kecil, mungkin telah
menambahkan uang dari kantung sendiri untuk menutup kekurangan.

Mengkonfirmasi saldo kas dan pinjaman di bank


Merupakan hal yang biasa bagi auditor untuk mendapatkan konfirmasi bank
mengenai saldo kas dan pinjaman di bank pada tanggal neraca. Formulir ini dikembalikan
dan disetujui bersama oleh american bankers association, AICPA, dan bank
administration institute: (1) saldo setoran. (2) saldo pinjaman, dan (3) akun (rekening)
setoran atau pinjaman lainnya yang mungkin menarik perhatian pajabat bank yang
berwenang.
Permintaan konfirmasi disiapkan rangkap dua dan ditandatangani oleh
penandatangan cek yang berwenang dari klien. Kedua salinan itu lalu dikirim ke bank,
dan aslinya dikembalikan kepada auditor. Untuk memastikan kompetensi bukti dari
prosedur ini, auditor secara pribadi harus mengirimkan permintaan ini dalam amplop
dengan alamat pengendalian sendiri dan jawabannya harus dikembalikan langsung ke
auditor oleh bank.Permintaan konfirmasi bank harus dikirimkan langsung ke bank di
mana klien mempunyai suatu akun, termasuk yang saldonya nol pada akhir tahun.
Konfirmasi setoran kas terutama memberikan bukti mengenai dua asersi berikut
berkenaan dengan kas di bank: (1) keberadaan atau keterjadian karena ada pemberitahuan
tertulis bahwa saldo itu ada, serta (2) hak dan kewajiban karena saldo itu adalah atas

Pengauditan 2 | Audit Saldo Kas 28


nama klien. Jawaban dari bank juga memberikan sejumlah bukti untuk dua asersi
lainnya.Jawaban ini menyumbangkan pada asersi penilaian atau alokasi untuk kas di bank
dimana saldo yang konfirmasi digunakan untuk memperoleh saldo kas yang benar pada
tanggal neraca.Lebih lanjut, hal itu juga menyumbang pada asersi kelengkapan, tetapi
secara keseluruhan tidak dapat diandalkan karena para responden tidak diharuskan untuk
mencari catatan bank mengenai saldo setoran dan pinjaman yang tidak tercantum dalam
formulir permintaan konfirmasi.
Konfirmasi saldo pinjaman terutama memberikan bukti untuk tiga asersi berikut:
(1) keberadaan atau keterjadiaan karena ada pemberitahuan tertulis bahwa terdapat saldo
pinjaman, (2) hak dan kewajiban karena pinjaman merupakan hutang bagi klien, dan (3)
penilain atau alokasi karena jawabannya menunjukkan jumlah saldo pinjaman. Pengujian
ini menyumbang pada asersi kelengkapan dengan cara yang sama seperti pada konfirmasi
saldo setoran.

Mengkonfirmasi perjanjian lainnya dengan bank


Perjanjian lainnya dengan bank meliputi hal-hal seperti lini kredit, saldo kompensasi, dan
kewajiban kontijensi.Perjanjian untuk menetapkan lini kredit dengan bank mungkin
mengharuskan peminjaman mempertahankan saldo kas di bank.Jumlahnya dapat berupa
persentase yang disetujui dari jumlah dolar yang ditetapkan.Jumlah minimum yang
disyaratkan dikenal sebagai saldo kompensasi (compensanting blance).Suatu kewajiban
kontijen mungkin ada apabila klien menjadi penjamin atas pinjaman yang diberikan oleh
bank kepada pihak ketiga.

Melakukan scan, mereview atau menyiapakan rekonsiliasi bank


Apabila tingkat risiko deteksi yang dapat diterima tinggi.Auditor dapat menscan
rekonsiliasi bank yang disiapkan klien dan memverifikasi ketepatan matematis dari
rekonsiliasi itu.Jika risiko deteksi sedang, maka auditor dapat menelaah rekonsiliasi bank
klien. Penelaahan itu lazimnya akan mencakup:
Membandingkan saldo akhir bank dengan saldo yang dikonfirmasi pada formulir
konfirmasi bank.
Memverifikasi keabsahan setoran dalam perjalanan dan cek-cek yang beredar.
Menetapkan ketepatan matematis dari rekonsiliasi itu.

Pengauditan 2 | Audit Saldo Kas 29


Memvouching pos-pos yang direkonsiliasi seperti beban, kredit, dan kesalahan bank
ke dokumentasi pendukung.
Jika risiko deteksi rendah, maka auditor dapat menyiapakan rekonsiliasi bank
dengan menggunakan bank di tempat klien.Jika risiko deteksi sangat rendah atau auditor
mencurigai kemungkinan adanya salah saji yang material, maka auditor dapat
memperoleh laporan bank akhir tahun langsung dari bank dan menyiapakan rekonsiliasi
bank.Untuk melakukan hal itu, auditor harus meminta klien untuk memberi tahu bank
agar mengirimkan laporan bank dan data yang menyertainya (cek yang dibayar, memo
debet, dan lain-lainnya) langsung ke auditor. Prosedur ini akan memcegah klien
melakukan perubahan data untuk menutupi setiap salah saji yang ada.
Bukti yang diberikan oleh rekonsiliasi bank umumnya belum mencukupi untuk
memverifikasi saldo kas di bank karena adanya ketidakpastian berkenaan dengan dua pos
rekonsiliasi yang paling penting: (1) setoran dalam perjalanan dan (2) cek yang beredar.
Bukti tersebut hanya dapat diperoleh dengan menelusuri pos-pos ini ke laporan bank
dalam periode akuntansi berikutnya. Prosedur untuk mendapatkan laporan pisah-batas
bank dirancang, sebagian untuk tujuan ini. Apabila laporan pisah batas mengesahkan pos-
pos ini dan pos rekonsiliasi lainnya, maka rekonsiliasi bank yang diandalkan auditor
dapat dipertinggi secara signifikan.
Scanning, pengujian, atau penyiapan rekonsiliasi bank menetapkan saldo kas di
bank yang benar pada tanggal neraca.Jadi, hal itu merupakan sumber bukti utama untuk
asersi penilaian atau alokasi.Pengujian ini juga memberikan bukti untuk asersi
keberadaan atau keterjadian, kelengkapan, dan hak serta kewajiban.

Mendapatkan dan menggunakan laporan pisah-batas bank


Laporan pisah batas bank adalah suatu laporan bank pada tanggal sesudah tanggal
neraca. Tanggal ini harus berada pada titik waktu yang akan memungkinkan sebagian
besar cek yang beredar pada akhir tahun sudah dikliring di bank
Setelah menerima laporan pisah-batas, beserta cek-cek yang dibatalkan dan memo bank
terlampir, auditor harus :
Menelusuri semua cek tertanggal tahun lalu ke cek-cek yang beredar yang tercantum
pada rekonsiliasi bank
Menelusuri setoran dalam perjalanan pada rekonsiliasi bank ke setoran pada laporan
pisah-batas

Pengauditan 2 | Audit Saldo Kas 30


Melakukan scan atas laporan pisah-batas dan data terlampir untuk hal-hal yang tidak
biasa.
Hal pertama yang dapat menunjukkan suatu penyimpangan yang dikenal dengan kiting,
yang telah dijelaskan dalam halaman 278: sementara hal yang terakhir mungkin
diakibatkan oleh penundaan dalam 1) pengeposan cek oleh klien, 2) penyetoran cek itu
oleh yang dibayar (payee), dan 3) pemrosesan cek oleh bank. Auditor harus menyelidiki
setiap situasi yang tidak biasa.
Apabila pengaruh agregat dari cek yang belum dikliring bersifat material, maka hal ini
dapat ini dapat menunjukkan suatu penyimpangan yang dikenal dengan windowa
dressing, yaitu suatu upaya yang disengaja untuk melebihsajikan solvensi jangka pendek
perusahaan.
Penelusuran setoran dalam perjalanan ke laporan pisah-batas biasanya merupakan hal
yang relative sederhana karena setoran pertama pada laporan pisah-batas harus
merupakan setoran dalam perjalanan yang diperlihatkan pada rekonsiliasi.Jika tidak
demikian halnya, maka auditor harus menentukan situasi yang mendasari kesenjangan
waktu dari bendaharawan dan mendukung penjelasannya.
Dalam melakukan scan atas laporan pisah-batas untuk pos-pos tidak biasa, auditor harus
waspada terhadap pos-pos seperti debet dan kredit bank yang tidak tercatat serta
kesalahan dan koreksi bank.
Karena dalam kenyataannya laporan pisah-batas diperoleh langsung oleh auditor dari
sumber independen di luar organisasi klien, maka hal itu memberikan informasi
pendukung dengan kompetensi yang tinggi tentang keabsakan rekonsiliasi bank akhir
tahun dan asersi eksistensi atau kejadian, kelengkapan, hak dan kewajiban, serta penilaian
atau alokasi untuk kas di bank.

Pengauditan 2 | Audit Saldo Kas 31


BAGIAN IV
PENUTUP

A. RANGKUMAN
Saldo kas meliputi penerimaan ditangan yang belum disetor, kas di bank, pada
rekening giro umum dan rekening tabungan, serta akun impres seperi kas kecil dan
rekening di bank untuk gaji. Ini merupakan kas yang diperlukan untuk melunasi
kewajiban serta membayar gaji, dan kebanyakan entitas akan memindahkan kelebihan
kas ke beberapa bentuk investasi yang menghilangkan bunga. Saldo-saldo tertentu,
seperti sertifikat deposito, dan pelunasan obligasi, saldo mata uang luar negeri tertentu,
dana kun-akun lain yang mempunyai pembatasan dalan penggunaannya yang lazimnya
harus di klasifikasi investasi.
Karena (1) pertimbangan pengendalian internal berkenaan dengan berbagai
kelompok transaksi yang mempengaruhi kas dan (2) tujuan audt atas kelompok transaksi
yang bertalian dengan transaksi itu.

B. LATIHAN
1. Apa yang dimaksud dengan kitting ? Prosedur apa yang dapat digunakan
olehauditor untuk mendeteksi kitting ?
2. Apa tindakan antisipasi yang harus diambil auditor dalam menghitung kas dui
tangan ?
3. Apakah yang dimaksud dengan saldo kompensasi ?

C. TES FORMATIF
1. Jika risiko deteksi sedang, maka auditor dapat menelaah rekonsiliasi bank klien.
Apakah penelaan tersebut ?
2. Apa yang harus dilakukan auditor setelah menerima laporan pisah-batas, besertacek-
cek yang dibatalkan dan memo bank terlampir?
3. Konfirmasi saldo pinjamaan memberikan bukti untuk tiga asersi. Apakah asersi
tersebut ?
4. Untuk mrlakukan perhitungan kas secara tepat. Apa yang harus dilakukan auditor ?
Pengauditan 2 | Audit Saldo Kas 32
D. KUNCI JAWABAN TES FORMATIF

1. Penelaahan itu lazimnya akan mencakup:

Membandingkan saldo akhir bank dengan saldo yang dikonfirmasi pada


formulir konfirmasi bank.

Memverifikasi keabsahan setoran dalam perjalanan dan cek-cek yang beredar.

Menetapkan ketepatan matematis dari rekonsiliasi itu.

Memvouching pos-pos yang direkonsiliasi seperti beban, kredit, dan kesalahan


bank ke dokumentasi pendukung.

2. Setelah menerima laporan pisah-batas, beserta cek-cek yang dibatalkan dan memo
bank terlampir, auditor harus :
Menelusuri semua cek tertanggal tahun lalu ke cek-cek yang beredar yang
tercantum pada rekonsiliasi bank
Menelusuri setoran dalam perjalanan pada rekonsiliasi bank ke setoran pada
laporan pisah-batas
Melakukan scan atas laporan pisah-batas dan data terlampir untuk hal-hal yang
tidak biasa.

3. Konfirmasi saldo pinjaman terutama memberikan bukti untuk tiga asersi berikut: (1)
keberadaan atau keterjadiaan karena ada pemberitahuan tertulis bahwa terdapat saldo
pinjaman, (2) hak dan kewajiban karena pinjaman merupakan hutang bagi klien, dan
(3) penilain atau alokasi karena jawabannya menunjukkan jumlah saldo pinjaman.
Pengujian ini menyumbang pada asersi kelengkapan dengan cara yang sama seperti
pada konfirmasi saldo setoran.

4. Penerimaan kas yang belum disetor dan uang kembalian biasanya dipandang sebagai
las di tangan. Untuk melaksanakan perhitungan kas secara tepat, auditor harus:
Mengendalikan semua instrumen kas dan yang dapat dinegosiasikan yang
ditahan oleh klien sampai semua uang telah dihitung.
Meminta agar petugas kas hadir sepanjang perhitungan itu.

Pengauditan 2 | Audit Saldo Kas 33


Mendapatkan tanda terima yang ditandatangani dari petugas pada waktu
mengembalikan uang kepada klien.
Memastikan bahwa semua cek yang belum disetor dapat dibayarkan kepada
klien, baik secara langsung atau melalui endorsemen.

E. UMPAN BALIK
Tes Formatif = (Jumlah jawaban benar : 4)
Latihan = (Jumlah jawaban benar : 4)
Tingkat Penguasaan Materi = (Tes Formatif + Soal Latihan / 2) X 100%
Arti tingkat penguasaan yang diperoleh adalah :
Baik sekali = 90 100 %
Baik = 80 89 %
Cukup = 70 79 %
Kurang = 0 69 %

Pengauditan 2 | Audit Saldo Kas 34


DAFTAR PUSTAKA

Boynton, William C., Johnson, Raymond N., dan Kell, Walter G. 2003. Modern Auditing(Eds. Ke
7, jilid 2).Jakarta: Erlangga.

Jusup, Al. Haryono.2014. Auditing (Pengauditan Berbasis ISA.Yogyakarta:Sekolah Tinggi Ilmu


Ekonomi.

https://ikarosalia.wordpress.com/2012/06/04/audit-saldo-kas/ (Ditelusuri tanggal 5April 2017)

http://www.materiakuntansi.com/contoh-program-audit-kas/ (Ditelusuri tanggal 5April 2017)

Pengauditan 2 | Audit Saldo Kas 35