Anda di halaman 1dari 14

PENGELOLAAN BAHAN KIMIA

Untuk memenuhi Tugas Matakuliah


Teknik Laboratorium yang Dibina
Oleh Ibu Amy Tenzer dan Ibu Frida Kunti Setowati

Disusun oleh:
AINUN SAYYIDAH ZAKIYAH (150342601320)
FERNI LIA AGUSTINA (150342601904)
MAGHFIROH GESTY MAHARANI (150342600207)
RAUDHATUR FATIHA (150342600367)
SUCI PUSPITA SARI (150342600110)

Kelompok : 4
Offering G
Biologi 2015

The Learning University


Universitas Negeri Malang
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Jurusan Biologi
September 2015

1
KATA PENGANTAR

Dengan mengucap puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan
rahmat, taufik, hidayah, serta inayah-Nya, sehingga makalah yang berjudul Pengelolaan Bahan
Kimia dapat terselesaikan walaupun masih jauh dari kesempurnaan.

Dalam penyusunan makalah ini, tentunya tidak akan terselesaikan tanpa bantuan dan
bimbingan dari berbagai pihak. Untuk itu, penulis tak lupa menyampaikan rasa terimakasih yang
sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah membantu dalam penulisan makalah ini. Penulis
hanya dapat mengucap terima kasih yang sebesar-besarnya dan semoga jasa-jasa baik yang telah
dilakukan diberi imbalan yang layak oleh Tuhan YME.

Tiada gading yang tak retak, itulah hal yang pantas penulis ucapkan dalam penyusunan
makalah yang masih jauh dari kesempurnaan ini. Oleh karena itu, kritik dan saran yang bersifat
membangun sangat kami harapkan demi kesempurnaan makalah penulis di masa mendatang.

Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi para pembaca khususnya dan dunia pendidikan
pada umumnya. Aamiin.

Malang, 7 September 2015

Penulis

2
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN SAMPUL.........................................................................................1
DAFTAR ISI..........................................................................................................3

I PENDAHULUAN
II PEMBAHASAN
2.1 Pembelian Bahan Kimia......................................................................4
2.2 Sumber Kerusakan Bahan Kimia.........................................................4
2.3 Pemeliharaan dan Penyimpanan Bahan Kimia....................................6
2.4 Sifat Bahan Kimia dan Cara Pengelolaannya......................................10
2.5 Cara Penyimpanan Bahan Kimia.........................................................13
2.6 Penanganan Bahan Kimia Sisa............................................................14

III PENUTUP .......................................................................................................15

Daftar Pustaka.......................................................................................................16

4
PENGELOLAAN BAHAN KIMIA
1. PENDAHULUAN
Laboratorium tnerupakan salah satu sarana vang penting dalarn proses belajar
mengajar. Sebagai tempat belajar atau sumber belajar, laboratorium harus
mempunyai sifat nyarnan dan aman. Laboratoriurn bersifat nyaman dalam arti
segala kebutuhan atau keperluan untuk rnelakukan kegiatan telah tersedia di
tempat yang semestinva atau mudah diakses bila akan digunakan. Sedangkan
laboratorium bersifat aman artinva segala penyimpanan material berbahaya dan
kegiatan berbahaya telah dipersiapkan kemanannya. Bahan kimia merupakan materi
belajar yang harus ada dalam laboratorium kimia. Pada dasarnya semua bahan kirnia
itu racun. Namun dengan pengelolaan bahan kimia yang benar dan tepat, tingkat
bahaya sebagai bahan beracun dapat ditanggulangi atau dikurangi. Untuk itu
dibutuhkan suatu pengelolaan bahan kimia yang benar dan tepat.
Kegiatan pengelolaan bahan di laboratorium rneliputi beberapa tahapan atau
langkah,yaitu : pengemasan dan penempatan, pengelompokan menurut jenis bahan-
administrasi dan pencatatan penggunaan bahan.

2. PEMBAHASAN
2.1 Pembelian Bahan Kimia
Pengelolaan bahan kimia yang dapat dilakukan pertamakali dalam suatu
laboratorium tentunya adalah pada saat pembelian barang atau bahan kimia tersebut.
Berikut adalah beberapa hal yang dapat di lakukan untuk mengelola bahan kimia pada
saat pembelian bahan.
1. Hitung dengan seksama jumlah yang dibutuhkan agar tidak sisa terlalu banyak,
sehingga bila disimpan dapat melampaui batas kedaluwarsa.
2. Tulis dengan teliti spesifikasi dan batas kedaluwarsanya, bahan jangan diterima bila
tidak sesuai dengan spesifikasi yang diperlukan.
3. Jangan diterima bila kemasan reagen sudah rusak.

2.2 Sumber-Sumber Kerusakan Bahan Kimia


Sumber-sumber kerusakan yang disebabkan keberadaan bahan-bahan kimia di dalam
lingkungannya dapat digolongkan menjadi tujuh golongan, yaitu sebagai berikut:

1. Udara
Bahan-bahan kimia yang sifatnya higroskopis harus disimpan di dalam botol
yang dapat ditutup rapat. Bahan-bahan kimia semacam ini jika menyimpannya tidak
benar, maka akan berair, bahkan dapat berubah menjadi larutan. Bahan-bahan yang
mudah dioksidasi, dengan adanya oksigen di udara akan mengalami oksidasi.

6
Misalnya bahan kimia Kristal besi(II) sulfat yang berwarna hijau muda, akan segera
berubah menjadi besi(III) sulfat kristal berwarna coklat muda. Hal itu terjadi bila
botol tempat penyimpanan tidak segera ditutup atau tidak rapat menutupnya.
2. Cairan: air, asam, basa, cairan lainnya
Bahan-bahan kimia harus disimpan dalam tempat yang kering. Apalagi bahan
kimia yang reaktif terhadap air. Logam-logam seperti Na, K, dan Ca bereaksi
dengan air menghasilkan gas H2 yang langsung terbakar oleh panas reaksi yang
terbentuk. Zat-zat lain yang bereaksi dengan air secara hebat, seperti asam sulfat
pekat, logam halide anhidrat, oksida non logam halide harus dijauhkan dari air atau
disimpan dalam ruangan yang kering dan bebas kebocoran di waktu hujan.
Kebakaran akibat zat-zat di atas tak dapat Dipadamkan dengan penyiraman air.
Cairan yang bersifat asam mempunyai daya merusak lebih hebat dari air. Asam
yang sifatnya gas gas, misalnya asam klorida lebih ganas lagi. Sebab bersama udara
akan mudah berpindah dari tempat asalnya. Cara yang paling baik adalah dengan
mengisolir asam itu sendiri, misalnya menempatkan botol asam yang tertutup rapat
dan ditempatkan dalam lemari khusus, atau di lemari asam.
3. Panas atau temperatur
Pengaruh temperatur akan menyebabkan reaksi atau perubahan kimia terjadi,
dan juga mempercepat reaksi. Panas yang cukup tinggi dapat memacu terjadinya
reaksi oksidasi. Keadaan temperatur yang terlalu rendah juga mempunyai akibat
yang serupa.
4. Mekanik
Bahan-bahan kimia yang harus dahindarkan dari benturan maupun tekanan
yang besar adalah bahan kimia yang mudah meledak, seperti ammonium nitrat,
nitrogliserin, trinitrotoluene (TNT).
5. Sinar
Sinar, terutama sinar ultra violet (UV) sangat mempengaruhi bahan-bahan
kimia. Sebagai contoh larutan kalium permanganat, apabila terkena sinar UV akan
mengalami reduksi, sehingga akan merubah sifat larutan itu. Oleh karena itu untuk
menyimpan larutan kalium permanganat dianjurkan menggunakan botol yang
berwarna coklat. Kristal perak nitrat juga akan rusak jika terkena sinar UV, oleh
sebab itu dalam penyimpanan harus dihindarkan dari pengaruh sinar UV.
Dianjurkan juga untuk memasang tirai-tirai pada jendela laboratorium untuk
menghindari sinar matahi berlebih masuk ke dalam ruangan dan merusak bahan-
bahan kimia yang ada.

8
6. Api
Untuk menghindari terjadinya kebakaran ialah menyimpan bahan-bahan yang
mudah terbakar di tempat yang dingin, sehingga tidak mudah naik temperaturnya
dan tidak mudah berubah menjadi uap yang mencapai titik bakarnya.
7. Sifat bahan kimia itu sendiri
Bahan-bahan kimia mempunyai sifat khasnya masing-masing. Misalnya asam
sangat mudah bereaksi dengan basa. Reaksi-reaksi kimia dapat berjalan dari yang
sangat lambat hingga ke yang spontan. Reaksi yang spontan biasanya menimbulkan
panas yang tinggi dan api. Ledakan dapat terjadi bila reaksi terjadi pada ruang yang
tertutup. Contoh reaksi spontan: asam sulfat pekat yang diteteskan pada campuran
kalium klorat padat dan gula pasir seketika akan terjadi api. Demikian juga kalau
kristal kalium permanganate ditetesi dengan gliserin.

2.3 Pemeliharaan dan Penyimpanan Bahan Kimia


Mengingat bahwa sering terjadi kebakaran, ledakan, atau bocornya bahan-bahan
kimia beracun dalam gudang, maka dalam penyimpanan bahan-bahan kimia selain
memperhatikan ketujuh sumber-sumber kerusakan di atas juga perlu diperhatikan faktor
lain, yaitu:
Interaksi bahan kimia dengan wadahnya., bahan kimia dapat berinteraksi dengan
wadahnya dan dapat mengakibatkan kebocoran.
Kemungkinan interaksi antar bahan dapat menimbulkan ledakan, kebakaran, atau
timbulnya gas beracun
Dengan mempertimbangkan faktor-faktor di atas beberapa syarat penyimpanan bahan
secara singkat adalah sebagai berikut:

1. Bahan beracun
Banyak bahan-bahan kimia yang beracun. Yang paling keras dan sering dijumpai
di laboratorium sekolah antara lain: sublimate (HgCl2), persenyawaan sianida, arsen,
gas karbon monoksida (CO) dari aliran gas. Syarat penyimpanan :
ruangan dingin dan berventilasi
jauh dari bahaya kebakaran
dipisahkan dari bahan-bahan yang mungkin bereaksi
kran dari saluran gas harus tetap dalam keadaan tertutup rapat jika tidak
sedang dipergunakan
disediakan alat pelindung diri, pakaian kerja, masker, dan sarung tangan

2. Bahan korosif

10
Contoh bahan korosif, misalnya asam-asam, anhidrida asam, dan alkali. Bahan
ini dapat merusak wadah dan bereaksi dengan zat-zat beracun. Syarat penyimpanan:
ruangan dingin dan berventilasi
wadah tertutup dan beretiket
dipisahkan dari zat-zat beracun.

3. Bahan mudah terbakar


Banyak bahan-bahan kimia yang dapat terbakar sendiri, terbakar jika kena
udara, kena benda panas, kena api, atau jika bercampur dengan bahan kimia lain.
Fosfor (P) putih,fosfin (PH3), alkil logam, boran (BH3) misalnya akan terbakar
sendiri jika kena udara. Pipa air, tabung gelas yang panas akan menyalakan karbon
disulfide (CS2). Bunga api dapat menyalakan bermacam-macam gas. Dari segi
mudahnya terbakar, cairan organic dapat dibagi menjadi 3 golongan:
a) Cairan yang terbakar di bawah temperatur -4C, misalnya karbon disulfida
(CS), eter (CHOCH), benzena, aseton.
b) Cairan yang dapat terbakar pada temperatur antara -4C, - 21C, misalnya
etanol, methanol.
c) Cairan yang dapat terbakar pada temperatur 21C 93,5C, misalnya kerosin
(minyak lampu), terpentin, naftalena, minyak baker.
Syarat penyimpanan:
- Temperatur dingin dan berventilasi
- Jauhkan dari sumber api atau panas, terutama loncatan api listrik dan bara rokok
- Tersedia alat pemadam kebakaran

4. Bahan mudah meledak


Contoh bahan kimia mudah meledak antara lain: ammonium nitrat,
nitrogliserin, TNT.
Syarat penyimpanan:
- Ruangan dingin dan berventilasi
- Jauhkan dari panas dan api
- Hindarkan dari gesekan atau tumbukan mekanis
Banyak reaksi eksoterm antara gas-gas dan serbuk zat-zat padat yang dapat
meledak dengan dahsyat. Kecepatan reaksi zat-zat seperti ini sangat tergantung pada
komposisi dan bentuk dari campurannya. Kombinasi zat-zat yang sering meledak di
laboratorium pada waktu melakukan percobaan misalnya:
- Natrium (Na) atau kalium (K) dengan air
- Ammonium nitrat, serbuk seng dengan air
- Kalium nitrat dengan natrium asetat
- Nitrat dengan eter
- Peroksida dengan magnesium (Mg), seng (Zn) atau aluminium (Al)
- Klorat dengan asam sulfat
- Asam nitrat dengan seng (Zn), magnesium atau logam lain
- Halogen dengan amoniak

12
- Merkuri oksida (hgo) dengan sulfur (S)
- Fosfor (P) dengan asam nitrat, suatu nitrat atau klorat

5. Bahan Oksidator
Contoh: perklorat, permanganat, peroksida organik
Syarat penyimpanan :
- Temperatur ruangan dingin dan berventilasi
- jauhkan dari sumber api dan panas, termasuk loncatan api listrik dan bara rokok
- jauhkan dari bahan-bahan cairan mudah terbakar atau reduktor

6. Bahan Reaktif Terhadap Air


Contoh: natrium, hidrida, karbit, nitrida.
Syarat penyimpanan:
- Temperatur ruangan dingin, kering, dan berventilasi
- Jauh dari sumber nyala api atau panas
- Bangunan kedap air
- Disediakan pemadam kebakaran tanpa air

7. Bahan Reaktif Terhadap Asam


Zat-zat tersebut kebanyakan dengan asam menghasilkan gas yang mudah
terbakar atau beracun, contoh: natrium, hidrida, sianida.
Syarat penyimpanan:
- ruangan dingin dan berventilasi
- jauhkan dari sumber api, panas, dan asam
- ruangan penyimpan perlu didesain agar tidak memungkinkan terbentuk kantong-
kantong hidrogen
- disediakan alat pelindung diri seperti kacamata, sarung tangan, pakaian kerja

8. Gas bertekanan
Contoh: gas N, asetilen, H, dan Cl dalam tabung silinder.
Syarat penyimpanan:
- disimpan dalam keadaan tegak berdiri dan terikat
- ruangan dingin dan tidak terkena langsung sinar matahari
- jauh dari api dan panas
- jauh dari bahan korosif yang dapat merusak kran dan katub-katub
Faktor lain yang perlu dipertimbangkan dalam proses penyimpanan adalah
lamanya waktu pentimpanan untuk zat-zat tertentu. Eter, paraffin cair, dan olefin
akan membentuk peroksida jika kontak dengan udara dan cahaya. Semakin lama
disimpan akan semakin besar jumlah peroksida. Isopropil eter, etil eter, dioksan, dan
tetrahidrofuran adalah zat yang sering menimbulkan bahaya akibat terbentuknya
peroksida dalam penyimpanan. Zat sejenis eter tidak boleh disimpan melebihi satu
tahun, kecuali ditambah inhibitor. Eter yang telah dibuka harus dihabiskan selama
enam bulan.

14
2.4 Sifat Bahan Kimia dan Cara Pengelolaannya
Berdasarkan sifat kimianya, bahan-bahan kimia digolongkan menjadi :
1. Bahan Kimia yang Mudah Terbakar
Dapat berwujud gas, cairan yang mudah menguap, atau bahan padat yang
dalam bentuk debu yang dapat meledak atau terbakar jika tercampur atau
terdispersi dengan udara.
Bahan-bahan kimia yang mudah terbakar dapat berupa :
a. Pelarut dan pereaksi organic seperti : asetaldehida, aseton, benzene,
karbondisulfida, eter, toulen, dan lain-lain
b. Bahan anorganik seperti : fosfor kuning, akan terbakar bila berhubungan
dengan udara. Logam K dan Na akan terbakar jika kontak dengan air. Simpan
didalam minyak paraffin.
c. Gas seperti asetilen, metana, hydrogen, butane, dan lain-lain.
Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam menangani bahan kimia
yang mudah terbakar, agar keselamatan dan keamanan tetap terjaga yaitu :
a. Bahan kimia tersebut tidak boleh dipanaskan secara langsung atau
disimpan pada permukaan yang panas. Jika ingin memanaskan gunakan
penangas air.
b. Simpan bahan di tempat yang ventilasinya baik.
c. Di laboratorium, sediakan dalam jumlah yang minimum
d. Sediakan alat pemadam kebakaran. Bila terjadi kebakaran dengan api
kecil gunakan kain basah atau pasir, tapi bila api besar gunakan alat
pemadam.
e. Jangan menyimpan cairan mudah terbakar dekat dengan bahan
pengoksidasi atau bahan korosif.
f. Bahan padat mudah terbakar simpan di tempat sejuk, jauhkan dari
sumber panas, bahan lembab dan air, bahan pengoksidasi atau asam.
g. Control semua bahan secara periodic.

2. Bahan Pengoksidasi (Oksidator)


Bahan ini dapat menimbulkan reaksi eksotermis yang dahsyat jika kontak
langsung dengan bahan lain, khususnya dengan bahan mudah terbakar. Ada dua
kelompok bahan pengoksidasi, yaitu anorganik dan organik.
Bahan pengoksidasi anorganik hanya menimbulkan bahaya api atau kebakaran.
Akan tetapi karena kemampuannya bergabung dengan oksigen dan juga tidak
tahan panas, maka bahan-bahan tersebut menjadi semakin berbahaya pada suhu
tinggi. Reaksi yang dahsyat dapat terjadi jika bahan bercampur atau

16
terkontaminasi oleh bahan yang mudah terbakar seperti kayu, kertas, serbuk
logam, dan belerang.

3. Bahan Kimia yang Mudah Meledak


Senyawa kimia yang dapat menimbulkan ledakan antara lain golongan
senyawa nitrat dan klorat. Hal-hal yang dapat menyebabkan ledakan adalah :
a. Karena adanya pelarut mudah terbakar. Cairan mudah menguap dan
mudah terbakar, jika dicampur dengan udara dengan proporsi yang besar
dapat menimbulkan ledakan. Oleh karena itu pada penyimpanan botol
berisi bahan mudah meledak sisakan ruang berisi udara sedikit saja (1/8-
nya)
b. Karena ada gas-gas yang mudah terbakar yang tersulut oleh api.

Ledakan yang mungkin ditimbulkan oleh bahan-bahan mudah meledak dapat


dicegah dengan cara :

a. Melakukan percobaan di tempat terbuka atau dalam lemari asam.


b. Jika ragu tentang sifat bahan kimia, gunakanlah dalam jumlah yang
sedikit dalam melakukan percobaan.
c. Lakukan percobaan dengan menggunakan peralatan sesuai dengan
fungsinya. Selain itu untuk keamanan, lakukan pengamatan dengan
menggunakan pelindung seperti masker atau kacamata.

4. Bahan yang Bersifat Korosif


Bahan korosif merupakan salah satu bahan yang dapat merusak dan
mengakibatkan cacat permanen pada jaringan yang terkena bahan korosif.
Bersentuhannya kulit dengan bahan-bahan korosif umumnya disadari, sehingga
kurang begitu berbahaya bila dibandingkan dengan racun yang terisap. Gunakan
selalu pelindung atau sarung tangan , jas lab dan kaca mata. Jika bersentuhan
dengan kulit, cucilah segera dengan menggunakan sabun dan air.

5. Bahan Beracun (Toksik)


Untuk menghindari masuknya bahan-bahan beracun ke dalam tubuh, ada
beberapa hal yang dapat kita lakukan, yaitu :
a. Untuk menghindari melalui mulut :
Hindarkan makan, minum atau merokok saat bekerja
Cuci tangan dan keringkan sebelum meninggalkan laboratorium
Hati-hati jika menggunakan pipet hisap.
b. Untuk menghindari racun melalui kulit :

18
Cegah kontak langsung bahan kimia dengan kulit
Jika perlu gunakan sarung tangan untuk menangani bahan-bahan
kimia
Cuci tangan dengan sabun dan air dengan segera.
c. Untuk menhindari racun melalui pernafasan :
Jangan membau suatu bahan kimia tertentu secara langsung,
cukup dikibas dengan tangan kearah hidung.
Cari sumber bau yang kemungkinan dapat mengakibatkan
keracunan, kemudian segera singkirkan dan menghindarkan ke
tempat yang lebih segar udaranya.
Untuk pengamanan saat bekerja dengan bahan-bahan beracun, maka
sebaiknya :
a. Gunakan bahan sambil hidung ditutup atau di tempat yang berventilasi
baik
b. Gunakan pelindung seperti sarung tangan dan jas laboratorium
c. Botol harus selalu meiliki label dan disimpan dalam almari yang
terkunci.
d. Cuci tangan sampai bersih sebelum meninggalkan laboratorium, tidak
boleh membau senyawa kimia secara langsung dan tidak boleh makan di
laboratorium.

2.5 Cara Penyimpanan Bahan Kimia


Penyimpanan bahan kimia secara umum dapat di bagi menjadi dua cara yaitu :
1. Secara alphabet, botol-botol disimpan berdasarkan urutan huruf secara alphabet.
2. Berdasarkan golongan. Botol-botol bahan disusun berdasarkan klasifikasi
system periodik.
Berikut ini adalah contoh bahan kimia, sifatnya dan cara penyimpannanya :
1. Air kapur : simpan dalam botol tertutup gabus
2. Alcohol : sangat higroskopis dan mudah terbakar, simpan dalam botol dan
ditutup yang rapat.
3. Ammonium asetat : sangat higroskopis dan akan menjadi asam serta melepaskan
gas NH jika terkena udara. Simpan dalam botol tertutup baik.
4. Ammonium hidroksida : mudah melepaskan gas NH simpan dalam botol gelas
bertutup baik di tempat sejuk.
5. Ammonium karbonat : akan mengkristal jika terkena udara dan melepaskan gas
NH dan gas karbon dioksida. Simpan dalam botol tertutup baik dan di tempat
sejuk.

20
6. Ammonium molibdat : larutannya tidak boleh disimpan lama karena akan
membentuk endapan. Simpan dalam botol yang berwarna gelap.
7. Aniline : berupa cairan tidak berwarna dan segera berubah menjadi kuning
kecoklatan jika terkena cahaya. Simpan dalam botol berwarna gelap. Hati-hati
karena uapnya beracun.
8. Asam benzoate : dipengaruhi oleh cahaya, karena itu simpan dalam botol
berwarna gelap dan bertutup baik.
9. Aseton : mudah menguap dan mudah terbakar, disimpan di tempat sejuk dengan
botol bertutup baik.
10. Gliserin : bersifat higroskopis, simpan dalam botol bertutup baik.

2.6 Penanganan Bahan Kimia Sisa


1. Pengenceran
Bahan bahan yang larut dalam air seperti garam-garam dan larutan dapat
dibuang dengan cara mengalirkan air yang banyak. Bahan organic yang tidak dapat
bercampur dengan air harus dikumpulkan dalam botol berlabel dan jangan dibuang
di sistem saluran pembuangan air.

2. Perlakuan kimiawi
Beberapa bahan yang dapat dihancurkan melalui reaksi kimia, sebagian dapat
dinetralisir dan selanjutnya diencerkan sebelum dibuang. Garam- garam, khususnya
air raksa dan cadmium dapat diendapkan dan endapannya dibuang jika mungkin.
Air raksa merupakan unsur yang sangat beracun, oleh karena itu memerlukan
perhatian khusus.

3. Pengumpulan
Sisa logam ditempatkan pada tempat terpisah, hal ini untuk digunakan
kembali dalm percobaan atau dalam dipergunakan kembali (daur ulang).

3. Penguburan
Sisa bahan kimia, tidak diperkenankan untuk dikubur, karena nantinya dapat
mencemari persediaan air.

22
4. Lemari uap
Gas gas yang tidak berbahaya dilepaskan ke atmosfer melalui lemari uap.
Gas gas yang beracun seperti klorin dan nitrogen dioksida (NO2) yang dapat
dibuang melalui lemari uap dengan system ventilasi.

Sisa buangan laboratorium selalu menjadi masalah bagi sekolah. Percobaan


harus dirancang agar menggunakan sedikit bahan beracun dan perlu perhatian sebelum
dilakukan pembuangan

3. PENUTUP
Laboraorium haruslah merupakan tempat yang aman bagi para penggunanya. Dalam
hal ini seorang laboran memegang peranan penting dalam menciptakan suatu laboratorium
yang aman. Dengan pengetahuan yang cukup tentang sifat-sifat bahan kimia yang ada di
laboratorium seorang laboran dapat mengetahui bagaimana cara menangani bahan kimia
tersebut, termasuk bagaimana cara menyimpan dengan baik dan aman. Memang bukan
hanya faktor bahan kimia yang menyebabkan keadaan tidak aman, factor lain seperti
ventilasi ruangan, almari asam, atau sistem pengaman gas tidak bekerja dengan baik
keadaan akan menjadi lebih tidak aman. Pengetahuan tentang kegunaan alat, perawatan dan
pemeliharaan alat juga penting untuk menjaga keawetan alat. Memang diperlukan suatu
kerjasama dari berbagai pihak, baik dari para (maha)siswa, guru, dosen sebagai pengawas.
Dalam melakukan praktikum (maha)siswa juga dituntut untuk berhati-hati, tidak
menganggap remeh setiap kemungkinan bahaya yang ditimbulkan. Peran guru/dosen
sebagai pengawas juga penting. Prosedur dan cara kerja perlu diberikan secara jelas dan
sempurna sebelum dikerjakan oleh para (maha)siswa dan laboran. Dengan kerjasama yang
sinergis dari berbagai pihak maka akan tercipta laboratorium kimia yang aman dan nyaman
bagi semua orang yang menggunakannya.

24
DAFTAR PUSTAKA
1. Budimarwanti, M.Si. Pengelolaan Alat dan Bahan di Laboratorium Kimia.
2. Koesmadji W. Drs., M.Sc., Yusuf H.A., Drs., Bambang S., Drs., M.Si., dan Riandi, Drs.,
M.Sc. 2000. Teknik Laboratorium. Jurusan Biologi FMIPA UPI.
3. Sutrisno, Dr. 2004. Petunjuk Umum Bekerja di Laboratorium.Jurusan Kimia FMIPA
Universitas Negeri Malang.

26