Anda di halaman 1dari 22

REFERAT

KEHAMILAN DENGAN HEPATITIS

Oleh:
Ria Arisandi, S.Ked

Pembimbing:
dr. Marzuqi, Sp.OG

KEPANITERAAN KLINIK OBSTETRI DAN GINEKOLOGI


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS LAMPUNG
RSUD Dr. H. ABDUL MOELOEK PROVINSI LAMPUNG
2017
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT, karena atas berkat, rahmat, dan karunianya
sehingganya Penulis dapat menyelesaikan Referat ini dengan baik yang berjudul Kehamilan
dengan Hepatitis.

Referat ini berisikan informasi mengenai Kehamilan dengan Hepatitis yang membahas tentang
definisi, epidemiologi, etiologi, patogenesis, manifestasi klinis, diagnosis, dan penatalaksanaan,.
Diharapkan referat ini dapat memberikan pengetahuan kepada kita semua tentang Kehamilan
dengan Hepatitis.

Penulis sampaikan terima kasih kepada dr. Marzuqi, Sp.OG yang telah membimbing dan
membantu penulis dalam penyelesaikan referat ini, sehingga referat ini dapat selesai dengan
baik.Tak ada gading yang tak retak, Penulis menyadari bahwa referat ini jauh dari sempurna,
oleh karena itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu Penulis
harapkan demi kesempurnaan referat ini. Semoga refrat yang sederhana ini dapat bermanfaat dan
berguna bagi kita.

Bandar Lampung, 25 Maret 2017

Penulis
DAFTAR ISI

Halaman
BAB I. PENDAHULUAN................................................................................................. 4
BAB II TINJAUAN PUSTAKA.......................................................................................... 6
2.1 Definisi................................................................................................................. 6
2.2 Epidemiologi.......................................................................................................... 6
2.3 Etiologi dan Faktor risiko........................................................................................... 7
2.5 Manifestasi klinis..................................................................................................... 9
2.6 Diagnosa............................................................................................................. 10
2.7 Pengaruh terhadap kehamilan.................................................................................... 11
2.8 Penatalaksanaan.................................................................................................... 15
III. KESIMPULAN........................................................................................................ 20
IV. DAFTAR PUSTAKA................................................................................................. 22
BAB I. PENDAHULUAN

Hepatitis merupakan penyakit hepar yang paling sering mengenai wanita hamil. Hepatitis dapat
disebabkan oleh virus, obat-obatan dan bahan kimia toksik dengan gejala klinis yang hampir
sama. Hepatitis virus merupakan komplikasi yang mengenai 0,2 % dari seluruh kehamilan.
Kejadian abortus, IUFD dan persalinan preterm merupakan komplikasi yang paling sering terjadi
pada wanita hamil dengan infeksi hepatitis. Hepatitis pada kehamilan dapat terjadi secara akut
dan kronik. 1 Hepatitis akut adalah penyakit hati yang berlangsung kurang dari 6 bulan dan
kebetulan terjadi saat kehamilan, misalnya hepatitis virus akut. Hepatitis kronik adalah penyakit
hati yang berlangsung lebih dari 6 bulan dan mendahului kehamilan, misalnya hepatitis virus
kronik, sirosis, atau varises esophagus.2

Hepatitis virus akut merupakan urutan pertama dari berbagai penyakit hati di seluruh dunia.
Hepatitis virus akut bertanggung jawab atas kematian 1-2 juta kematian setiap tahunnya. 3
Hepatitis virus akut merupakan infeksi sistemik yang dominan menyerang hati. Hampir semua
kasus hepatitis virus akut disebabkan oleh salah satu dari lima jenis virus berikut: virus hepatitis
A (HAV), virus hepatitis B (HBV), virus hepatitis C (HCV), virus hepatitis D (HDV) yang
disebakan agen delta terkait hepatitis B dan virus hepatitis E (HEV). Infeksi virus hepatitis yang
sering menimbulkan masalah yang berhubungan dengan kehamilan adalah, virus hepatitis B
(VHB) dan Virus Hepatitis E (VHE). Penularan HAV dan HEV dapat melalui fecal-oral
sedangkan HBV, HCV serta HDV dapat ditularkan melalui darah. Selama fase akut, penyakit-
penyakit ini serupa, dan virus-virus itu sendiri tidak hepatotoksik, tetapi respon imun terhadap
merekalah yang menyebabkan nekrosis hepatoseluler. Kematian pada hepatitis virus akut dapat
disebakan oleh nekrosis hepatic fulminant. Sekitar separuh pasien dengan penyakit fulminant
mengidap hepatitis B, dan ko-infeksi oleh agen delta sering terjadi. 2

Infeksi hepatitis akut pada kehamilan bisa mengakibatkan hepatitis fulminant yang dapat
menimbulkan mortalitas yang tinggi pada bayi dan ibu. Pada ibu dapat menimbulkan abortus dan
perdarahan pascapersalinan karena adanya gangguan pembekuan darah akibat gangguan fungsi
hati. Pada bayi masalah serius tidak akan terjadi pada masa neonates, tetapi pada masa dewasa.
Jika terjadi penularan secara vertikal HBV, 60-90 % akan menjadi kronik dan 30 % kemungkinan
menderita kanker hati atau sirosis hati sekitar 40 tahun kemudian. 4 Infeksi virus hepatitis E
(HEV) sering berat pada wanita hamil dengan angka mortalitas ibu 30 %.(4) Infeksi HEV pada
wanita hamil dapat ditularkan pada janinya secara vertikal.
Hepatitis B dan C sejauh ini adalah penyulit tersering hepatitis kronik. Hepatitis B kronik
didefinisikan sebagai presistensi HBV lebih dari 6 bulan. 3 Hepatitis B kronik merupakan
masalah kesehatan besar terutama di Asia dimana terdapat sedikitnya 75 % dari seluruhnya 300
juta individu HbsAg positif menetap di seluruh dunia. Indonesia merupakan negara dengan
endemisitas HBV tertinggi kedua di South East Asian Region setelah Myanmar. 5 Sebagian besar
kehamilan dengan hepatitis B kronik tidak memperlihatkan gejala atau hanya kelainan hati
ringan. Penularan secara vertical sebesar 95 % terjadi pada masa perinatal (saat persalinan) dan 5
% saat intra uterine. Beberapa faktor prediposisi penularan vertikal HBV antara lain titer DNA
HBV tinggi pada ibu, terjadinya infeki akut pada kehamilan trimester ketiga, persalinan lama dan
mutasi. Pada infeksi HCV sebagian besar kasus menjadi hepatitis kronik yang membawa pasien
menjadi sirosis hati dan kanker hati. Hampir 80 % wanita seropositif HCV akan mengalami
hepatitis kronis. Penularan HCV paling utama melalui darah dan cairan tubuh, penularan melalui
perinatal sangat kecil. Penularan vertical pada ibu-janin lebih mudah terjadi pada ibu dengan
viremia. Pencegahan penularan vertikal hepatitis B dan C penting untuk dilakukan karena hal
tersebut dapat mencegah terjadinya kanker hati secara primer dan dapat meningkatkan sumber
daya manusia di masa yang akan datang. 4
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi

Hepatitis didefinisikan sebagai peradangan sel-sel hati yang dapat disebabkan oleh infeksi
(virus, bakteri, parasit), obat-obatan, komsumsi alkohol, lemak yang berlebih dan penyakit
autoimun. Kehamilan dengan hepatitis adalah kehamilan dengan disertai gejala akut hepatitis
atau kehamilan dengan riwayat hepatitis kronik sebelumnya. Infeksi pada hepatitis paling
sering disebabkan oleh virus, diantaranya : HAV, HBV, HCV, HDV, dan HEV. Infeksi virus
hepatitis dapat terjadi secara akut dan kronik. Hampir semua jenis virus hepatitis dapat
menyebabkan infeksi akut, sedangkan HBV dan HCV dapat berkembang menjadi kronik,
sirosis hingga kanker hati. Virus-virus hepatitis dibedakan dari virus-virus lain yang juga
dapat menyebabkan peradangan pada hati oleh karena sifat hepatotropik virus-virus golongan
ini.Petanda adanya kerusakan hati (hepatocellular necrosis) adalah meningkatnya
transaminase dalam serum terutama peningkatan alanin aminotransferase (ALT) yang
umumnya berkorelasi baik dengan beratnya nekrosis pada sel-sel hati.1-3

2.2 Epidemiologi

Secara global, virus hepatitis merupakan penyebab utama viremia yang persisten. Mengutip
data Riskesdas tahun 2007, Menkes menyebutkan prevalensi Nasional Hepatitis klinis
sebesar 0,6% (rentang 0,2% 1,9%), sementara di 13 provinsi tercatat mempunyai prevalensi
di atas angka nasional dan yang tertinggi ada di Provinsi Sulawesi Tengah dan Nusa
Tenggara Timur.6 Di Indonesia berdasarkan data yang berasal dari rumah sakit, hepatitis A
masih merupakan bagian terbesar dari kasus-kasus hepatitis akut yang dirawat yaitu berkisar
39,8-68,3%. Transmisi perinatal belom pernah dilaporkan, namun walaupun begitu,
pemberian immunoglobulin pada wanita hamil dengan infeksi HAV diperlukan untuk
mencegah horizontal transmisi saat persalinan. 6-8

Sedangkan HBV merupakan jenis hepatitis yang berbahaya. Jenis hepatitis ini merupakan
jenis yang paling mudah menular dibanding jenis hepatitis yang lain. Berdasarkan data WHO
2008, viru hepatitis B merupakan pembunuh No.10 di dunia. Diperkirakan bahwa saat ini di
dunia kira-kira 350 juta orang pengidap HBsAg dan 220 juta (78%) diantarnya adalah orang
ASIA termasuk Indonesia. Selain itu di Indonesia infeksi virus hepatitis B terjadi pada bayi
dan anak, diperkirakan 25%-45% adalah karena infeksi perinatal. Hal ini berarti bahwa
Indonesia termasuk daerah endemis hepatitis B. Transmisi HBV dapat melalui parenteral dan
pada wanita hamil, HBV dapat ditransmisikan secara perinatal dari ibu ke bayinya. Sekitar 1
dalam setiap 500-1000 wanita hamil telah hepatitis saat dia melahirkan. Wanita hamil lebih
mungkin terinfeksi tetapi tidak menunjukkan tanda-tanda.6,8,9
HCV ditransmisikan secara parenteral (intravena, transfuse darah) dan vertikal. Risiko
transmisi HCV secara sexual lebih rendah daripada risiko transmisi HBV dan >50% individu
yang terinfeksi HCV akan menjadi kronik carrier dan 75% asimptomatik. Diperkirakan virus
hepatitis C telah menyerang lebih dari 170 juta orang di seluruh dunia.Tidak seperti hepatitis
A dan B, hingga saat ini hepatitis C belum ada vaksinnya.6,8,9

Infeksi HDV tersebar diseluruh dunia dan memiliki prevalensi tertinggi di Mediterania,
Timur Tengah, Asia Tengah, dan Africa timur. Transmisi HDV secara parenteral (obat
intravena dan cairan tubuh), termasuk juga secara vertikal (perinatal). Angka kronisitas dari
HDV adalah 1-3% dan 70-80% untuk HDV koinfeksi dengan HBV. Infeksi akut HDV
meningkatkan insiden kegagalan hepatic fulminan dan angka mortalitas sebesar 2-20%.
Insiden ko-infeksi VHB-VHD diIndonesia sekitar 2,7%.10,11

Penyebaran Hepatitis E biasanya terjadi pada Negara berkembang. Sama seperti infeksi HAV,
infeksi HEV juga hanya menyebabkan infeksi akut. Angka mortalitas dari infeksi HEV
adalah 1%, dapat meningkat sampai >20% pada wanita hamil yang terinfeksi HEV,
khususnya pada umur kehamilan tua angka mortalitas semakin bertambah. Transmisi HEV
dapat terjadi secara vertikal (perinatal). Insiden infeksi VHE yang terjadi, empat puluh dua
persen wanita hamil yang terinfeksi virus hepatitis memiliki luaran janin yang buruk. Di
antara mereka, 6% persen ibu memiliki kematian intrauterus dan semua dari mereka
terinfeksi VHE. Sedangkan 5,3% dan 30.8% dari wanita hamil memiliki kematian dan bayi
berat lahir rendah. Enam puluh persen ibu yang telah kehilangan neonatus mereka terinfeksi
VHB dan 41,3% dari ibu-ibu yang memiliki berat bayi lahir rendah mengalami infeksi VHE.
Infeksi VHE adalah penyebab kematian 25% pada wanita hamil yang terinfeksi pada
trisemester III.11,12
2.3 Etiologi dan Faktor risiko

Secara umum, agen penyebab hepatitis virus diklasifikasikan menjadi dua grup hepatitis
berdasarkan transmisi secara enterik dan transmisi melalui darah.3

2.3.1 Transmisi secara enterik


Virus yang dapat ditransmisikan melalui enterik terdiri atas HAV dan HEV. Virus
tersebut memiliki karakteristik yang sama yaitu : virus tanpa selubung, tahan pada
cairan empedu, ditemukan di tinja, tidak dihubungkan dengan penyakit hati kronik dan
tidak terjadi viremia berkepanjangan atau kondisi karier intestinal.

a. Hepatitis A
Hepatitis A disebakan oleh HAV. Virus hepatitis A adalah virus RNA yang digolongkan
dalam picornaviridae, subklasifikasi sebagai hepatovirus. Diameter 27-28 nm dengan
bentuk kubus simetris.

Sumber penularannya melalui fecal oral, sumber penularan umumnya terjadi karena
pencemaran air minum, makanan yang tidak dimasak, makanan yang tercemar, sanitasi
buruk, dan personal hygiene yang rendah.

b. Hepatitis E
Hepatitis E disebabkan oleh HEV yang merupakan virus RNA yang diklasifikasikan
pada family yang berbeda yaitu pada virus yang menyerupai hepatitis E yang diameter
27-34 nm. Penularan melalui fecal oral seperti hepatitis A.

2.3.2 Transmisi melalui darah

Virus hepatitis yang ditransmisikan dalam darah memiliki karakteristik : virus dengan
selubung (envelope), rusak bila terpajan dengan empedu/ deterjen, tidak terdapat dalam
tinja, dihubungkan dengan penyakit hati kronik dan dihubungkan dengan viremia yang
presisten.

a. Hepatitis B
Hepatitis B disebabkan oleh HBV. Virus hepatitis B adalah virus DNA yang termasuk
dalam hepatotropik, Hepadnaviridae. Inti HBV mengandung, ds DNA partial dan
protein polymerase DNA, antigen hepatitis B core (HbcAg), antigen hepatitis e
(HbeAg). Selubung lipoprotein HBV mengandung: antigen permukaan hepatitis B
(HBsAg), Lipid minor dan HbsAg.

Penularan secara vertical sebesar 95 % terjadi pada masa perinatal (saat persalinan) dan
5 % saat intra uterine. Penularan secara horizontal terjadi melalui tranfusi darah, jarum
suntik yang tercemar, pisau cukur, tattoo dan transplantasi organ.

b. Hepatitis D
Hepatitis D disebabkan oleh HDV.Virus Hepatitis D (HDV) adalah virus RNA tidak
lengkap yang memerlukan bantuan dari HBV untuk ekspresinya. Virus Hepatitis D
memeliki bentuk sferis dengan diameter 27-35 nm, diselubungi oleh lapisan lipoprotein
HBV (HbsAg). Virus hepatitis D memerlukan HBsAg untuk replikasi. HDV adalah
virus yang paling jarang ditemukan dan paling berbahaya. HDV terdiri atas dua tipe,
yaitu: Superinfeksi, dimana pada awalnya terdapat infeksi HBV kemudian baru
terinfeksi HDV dan Ko-infeksi; HBV dan HDV yang menginfeksi bersama-sama.

c. Hepatitis C
Hepatitis C disebabkan oleh HCV. Virus Hepatitis C merupakan virus RNA untai
tunggal dengan selubung glikoprotein yang masuk dalam Flaviviridae, genus
hepacivirus.

Penularan hepatitis C melalui darah dan cairan tubuh, penularan masa perinatal sangat
kecil, melalui jarum suntik (IDUs dan tattoo), transplantasi organ, kecelakaan kerja dan
hubungan seks dapat menularkan tapi sangat kecil.

2.5 Manifestasi klinis


a. Hepatitis virus akut 3
1. Fase inkubasi
Merupakan waktu antara masuknya virus dan timbulnya gejala atau ikterus.
Fase ini berbeda-beda untuk tiap virus hepatitis.

Infeksi
Agen Tipe Transmisi Inkubasi (hari)
kronik
RNA
Hepatitis A Enterik 15-49 No
Enterovirus
Parenteral, intim
Hepatitis B DNA 28 160 Yes
kontak, intra uterin
Parenteral, intim
Hepatitis C RNA 15 160 Yes
kontak, intra uterin
Parenteral, intim
Hepatitis D RNA 30 50 Yes
kontak, intra uterin
Hepatitis E RNA Enterik 15 65 No

2. Fase prodromal (pra-ikterik)


Fase diantara munculnya keluhan-keluhan pertama sampai munculnya ikterus.
Gejalanya diantaranya malaise umum, myalgia, atralgia, mudah Lelah, gejala
saluran napas, anoreksia, mual dan muntah. Demam dan nyeri abdomen
menetap di kuadran kanan atas atau epigastrium.
3. Fase ikterik
Ikterik muncul setelah 5-10 hari, tetapi dapat juga muncul bersamaan dengan
munculnya gejala.
4. Fase konvalasen
Diikuti dengan menghilangnya keluhan-keluhan lain dan ikterik, tetapi
hepatomegali dan abnormalitas fungsi hati tetap ada.
b. Hepatitis kronis 3
Pada banyak kasus asimtomatis dan tes faal hati yang normal. Pada sebagian
ditemukan hepatosplenomegaly dan tanda-tanda penyakit hati yang kronis,
misalnya eritema palmaris dan spider nevi, dan peningkatan ALT.

Manifestasi klinis hepatitis B kronis, diklasifikasikan:


1. Hepatitis B kronik yang masih aktif

HBsAg positif dengan DNA HBV lebih dari 10 5 kopi/ml didapatkan kenaikan
ALT yang menetap atau intermiten. Pada pasien ditemukan tanda tanda
penyakit hati kronik.

2. Carrier HBV inactive


HBsAg positif dengan DNA HBV yang rendah kurang dari 10 5 kopi/ml dan
ALT yang normal dan tidak didapatkan keluhan.

2.6 Diagnosa
1. Demam tinggi yang menetap hingga 2 minggu yang kemudian diikuti dengan
ikterus. Demam ringan lebih sering terjadi pada hepatitis A.13
2. Disertai pula dengan mual dan muntah, pusing, nafsu makan menurun, kelemahan
umum, defisit cairan, diare.
3. Pada pemeriksaan fisik ditemui nyeri epigastric dan hepatomegali
4. Hasil laboratorium menunjukan reaksi imunologik terhadap antigen virus
hepatitis.13
2.7 Pengaruh terhadap kehamilan

a. Hepatitis A

Infeksi HAV dalam kehamilan tidak banyak dibicarakan karena kasusnya yang
jarang dan tidak menimbulkan infeksi pada janin. Belum ditemukan bukti bahwa
infeksi HAV bersifat teratogenik. Resiko penularan pada janin tampaknya nol dan
pada bayi baru lahir cukup kecil Tetapi resiko kelahiran preterm cukup meningkat
untuk kehamilan yang dipersulit hepatitis A. Wanita hamil yang baru saja kontak
dengan penderita infeksi VHA harus mendapatkan terapi profilaksis dengan
gamma globulin 1 ml.1

b. Hepatitis C
Transmisi perinatal HCV pada prinsipnya terjadi pada wanita yang mempunyai
titer RNA-HCV yang tinggi atau adanya ko-infeksi dengan HIV. Oleh karena
belum ada imunoprofilaksis untuk HCV, maka tidak ada vaksinasi atau
imunoglobulin yang dapat diberikan pada bayi baru lahir untuk mencegah
penularan infeksi HCV. Sampai saat ini belum ada penelitian yang mendukung
HCV dapat ditularkan melalui ASI. Sebagian besar wanita hamil pada usia 20-40
tahun dimana insidens infeksi virus hepatitis C meningkat sangat cepat. Seorang
wanita dengan faktor resiko terhadap infeksi HCV sebaiknya diskreening untuk
HCV sebelum dan selama kehamilan. Resiko wanita hamil menularkan HCV
kepada bayi baru lahirnya telah dihubungkan dengan level kuantitatif RNA dalam
darahnya dan juga ko-infeksi dengan HIV. 14

c. Hepatitis E
Infeksi HVE banyak ditemukan pada negara berkembang. Infeksi HVE dalam
kehamilan sangat serius dan sering menimbulkan akibat yang fatal. Angka
kematian ibu berkisar 10-20 % karena kerusakan hepar atau karena gejala
sekunder seperti dehidrasi atau malnutrisi. Wanita hamil yang mendapatkan
infeksi HVE pada trimester III sering berakibat fatal dengan angka mortalitas ibu
sekitar 30 %. Ibu hamil mempunyai resiko yang lebih tinggi menderita hepatitis E
dan biasanya dengan gejala yang berat karena berhubungan dengan status
imunnya yang rendah. Jika seorang ibu menderita infeksi akut HVE, janin
biasanya dipengaruhi dan tidak ada karier kronik untuk infeksi HVE. Virus
Hepatitis E dapat ditransmisi secara vertikel dari ibu kejanin dan bertanggung
jawab terhadap mortalitas dan morbiditas janin. Infeksi HVE pada neonatal
dihubungkan dengan komplikasi hepatitis anikterik, hipoglikemia, hipotermia,
dan kematian neonatal. Infeksi HVE yang dihubungkan dengan hepatitis fulminan
jarang terjadi kecuali infeksi terjadi pada waktu hamil dengan angka kematian
rata-rata 20 % dan sangat tinggi pada trimester III dengan angka kematian janin
sekitar 20 %.(15)
d. Hepatitis B

Dilaporkan 10-20 % ibu hamil dengan HBsAg positif yang tidak mendapatkan
imunoprofilaksis menularkan virus pada neonatusnya dan 90 % wanita hamil
dengan seropositif untuk HBsAg dan HBeAg menularkan virus secara vertikal
kepada janinnya dengan insiden 10 % pada trimester I dan 80-90% pada
trimester III. Adapun faktor predisposisi terjadinya transmisi vertikal adalah:16

1. Titer DNA HVB yang tinggi

2. Terjadinya infeksi akut pada trimester III

3. Pada partus memanjang yaitu lebih dari 9 jam16

Sedangkan 90 % janin yang terinfeksi akan menjadi kronis dan mempunyai


risiko kematian akibat sirosis atau kanker hati sebesar 15-25 % pada usia dewasa
nantinya. Infeksi VHB tidak menunjukkan efek teratogenik tapi mengakibatkan
insiden Berat Badan Lahir Rendah ( BBLR ) dan Prematuritas yang lebih tinggi
diantara ibu hamil yang terkena infeksi akut selama kehamilan. Dalam suatu studi
pada infeksi hepatitis akut pada ibu hamil (tipe B atau non B) menunjukkan tidak
ada pengaruh terhadap kejadian malformasi kongenital, lahir mati atau stillbirth,
abortus, ataupun malnutrisi intrauterine. Pada wanita dengan karier VHB tidak
akan mempengaruhi janinnya, tapi bayi dapat terinfeksi pada saat persalinan (baik
pervaginam maupun perabdominal) atau melalui ASI atau kontak dengan karier
pada tahun pertama dan kedua kehidupannya.Pada bayi yang tidak divaksinasi
dengan ibu karier mempunyai kesempatan sampai 40 % terinfeksi HVB selama
18 bulan pertama kehidupannya dan sampai 40% menjadi karier jangka panjang
dengan risiko sirosis dan kanker hepar dikemudian harinya. (17)

Ibu hamil yang karier VHB dianjurkan untuk memberikan bayinya Imunoglobulin
Hepatitis B (HBIg) sesegera mungkin setelah lahir dalam waktu 12 jam sebelum
disusui untuk pertama kalinya dan sebaiknya vaksinasi VHB diberikan dalam 7
hari setelah lahir. Imunoglobulin merupakan produk darah yang diambil dari
darah donor yang memberikan imunitas sementara terhadap VHB sampai
vaksinasi VHB memberikan efek. Vaksin hepatitis B kedua diberikan sekitar 1
bulan kemudian dan vaksinasi ketiga setelah 6 bulan dari vaksinasi pertama.17

Tes hepatitis B terhadap HBsAg dianjurkan pada semua wanita hamil pada saat
kunjungan antenatal pertama atau pada wanita yang akan melahirkan tapi belum
pernah diperiksa HbsAg-nya. Lebih dari 90 % wanita ditemukan HbsAg positif
pada skreening rutin yang menjadi karier HBV. Tetapi pemeriksaan rutin wanita
hamil tua untuk skreening tidak dianjurkan kecuali pada kasus-kasus tertentu
seperti pernah menderita hepatitis akut, riwayat tereksposure dengan hepatitis,
atau mempunyai kebiasaan yang berisiko tinggi untuk tertular seperti
penyalahgunaan obat-obatan parenteral selama hamil, maka test HbsAg dapat
dilakukan pada trimester III kehamilan. HbsAg yang positif tanpa IgM anti HBc
menunjukkan infeksi kronis sehingga bayinya harus mendapat HBIg dan vaksin
VHB.17

Seorang ibu dikatakan mengidap atau menderita hepatitis B kronik apabila:


Bila ibu mengidap HBsAg positif untuk jangka waktu lebih dari 6 bulan dan
tetap positif selama masa kehamilan dan melahirkan.
Bila status HbsAg positif tidak disertai dengan peningkatan SGOT/PT maka,
status ibu adalah pengidap hepatitis B.
Bila disertai dengan peningkatan SGOT/PT pada lebih dari 3 kali pemeriksaan
dengan interval pemeriksaan setiap 2-3 bulan, maka status ibu adalah
penderita hepatitis B kronik.
Status HbsAg positif tersebut dapat disertai dengan atau tanpa HBeAg positif.
(16)

1. Patogenesis
Infeksi virus HBV biasanya ditularkan melalui perkutaneus atau mukosa yang
terpapar dengan darah yang terinfeksi dan berbagai cairan tubuh lainnya,
termasuk saliva, darah menstruasi, cairan vagina, dan cairan mani. 16Menurut teori,
ada tiga rute yang mungkin untuk transmisi HBV dari ibu yang terinfeksi
kepadabayinya15:
1 Transmisi transplasental dalam rahim.
a Melewati barrier plasenta: darah ibu yang mengandung HbeAg positif dapat
melewati plasenta yang dapat diinduksi oleh kontraksi uterus selama kehamilan
dan gangguan barrier plasenta (seperti persalinan prematur atau abortus
spontan).
b Penelitian lain juga menyebutkan bahwa HBV-DNA ada pada oosit wanita
yang terinfeksi dan sperma dari pria yang terinfeksi.Oleh karena itu, janin
dapat terinfeksi HBV sejak konsepsi jika salah satu pasangan terinfeksi HBV.
c Kemungkinan lain transmisi intrauterin selain melalui darah ibu adalah melalui
sekret vagina yang mengandung virus.(1)
2 Transmisi saat melahirkan.
Transmisi HBV dari ibu ke janin saat persalinan dipercaya karena akibat dari
terpaparnya janin dengan sekret serviks dan darah yang terinfeksi saat
persalinan.(1)
3 Transmisi postnatal selama perawatan atau melalui ASI.
Infeksi HBV dapat terjadi postnatal, bukan hanya karena transmisi dari ibu ke
bayi namun dapat pula antar anggota keluarga yang terinfeksi ke bayi. Selain
itu,meskipun HBV-DNA ada pada ASI ibu yang terinfeksi, menyusui bayi
mereka bukan merupakan resiko tambahan untuk transmisi HBV asalkan sudah
diberikan imunoprofilaksis atau imunisasi sesaat setelah lahir dan diberikan
sesuai jadwal. Tidak perlu menunda menyusui hingga bayi tersebut divaksin
lengkap sesuai usia.(1,15

2. Laboratorium(11)

Hepatitis B surface antigen Mendeteksi protein pada permukaan virus


(HBsAg) hepatitis B. Jika hasilnya positif,
mengindikasikan bahwa orang tersebut
terinfeksi virus hepatitis B(akut ataukronis).
Hepatitis B e-antigen Menggambarkan replikasi dari virus
(HBeAg) hepatitis B. Beberapa pasien bisa saja tidak
terdeteksi memiliki HBeAg tapi
positifterinfeksi virus ini.
Hepatitis B surface antibody Menggambarkan imunitas atau kekebalan
(Anti HBs) tubuh seseorang terhadap HBsAg, baik
karena infeksi yang dialami atau karena
vaksinasi.
Hepatitis B e antibody Menunjukkan imunitas seseorang yang
(Anti HBe) berespon terhadap virus yang bereplikasi.
Hepatitis B core antibody Menggambarkan sudah terinfeksi hepatitis
(Anti HBC) B.
Bisa terdapat IgG dan/atau IgM. IgM
menggambarkan infeksi akut dan dapat
menghilang jika infeksi sudah lama. Anti-
HBc (total) menggambarkan infeksi yang
akut, kronis atau sudah pernah terinfeksi
sebelumnya.
Hepatitis B virus DNA load Mengukur jumlah virus dalam darah dan
(HBV DNA) sebagai indikator seberapa aktifnya virus
tersebut bereplikasi.

2.8 Penatalaksanaan

a. Terapi khusus hepatitis :13


1. Rawat inap dan tirah baring
2. Isolasi pasien, lakukan pmeriksaan serologic
3. Diet rendah lemak, tinggi karbohidrat dan protein
4. Berikan vitamin K, dan kurkuma rhizome
5. Evaluasi profil biofisik atau kondisi janin
6. Penatalaksanaan neonatal
7. Upayakan partus pervaginam

b. Penatalaksanaan kehamilan dengan hepatitis B


1 Pada saat kehamilan
Profilaksis pada wanita hamil yang telah tereksposure dan rentan terinfeksi adalah
sebagai berikut:
a. Ketika kontak seksual dengan penderita hepatitis B terjadi dalam 14 hari

Berikan vaksin HBV kedalam musculus deltoideus. Tersedia 2 monovalen vaksin HBV
untuk imunisasi pre-post eksposure yaitu Recombivax HB dan Engerix-B. Dosis HBIg
yang diberikan 0,06 ml/kgBB IM pada lengan kontralateral.
Untuk profilaksis setelah tereksposure melalui perkutan atau luka mukosa, dosis kedua
HBIg dapat diberikan 1 bulan kemudian.

b. Ketika tereksposure dengan penderita kronis HBV

Pada kontak seksual, jarum suntik dan kontak nonseksual dalam rumah dengan penderita
kronis HBV dapat diberikan profilaksis post eksposure dengan vaksin hepatitis B dengan
dosis tunggal.(12)

Wanita hamil dengan carrier HBV dianjurkan memperhatikan hal-hal sebagai berikut:

Tidak mengkonsumsi alkohol dan obat-obatan hepatotoksik seperti asetaminophen


Jangan mendonorkan darah, organ tubuh, jaringan tubuh lain atau semen
Tidak memakai bersama alat-alat yang dapat terkontaminasi darah seperti sikat gigi, alat
cukur dan sebagainya.
Memberikan informasi pada ahli anak, kebidanan dan laboratorium bahwa dirinya
penderita hepatitis B carrier.
Pastikan bayinya mendapatkan HBIg saat lahir, vaksin hepatitis B dalam 1 minggu
setelah lahir, 1 bulan dan 6 bulan kemudian.(12)
Beberapa obat antiviral Hepatitis B yang direkomendasikan pada ibu hamil menurut
American Association for the Study of Liver Disease Practice Guidelines Committee ditampilkan
pada tabel berikut.
Tabel 2.1 Pengobatan Hepatitis B pada kehamilan(12)
2 Pada Saat Persalinan

Persalinan pengidap VHB tanpa infeksi akut tidak berbeda dengan penanganan
persalinan umumnya.(13)

Pada infeksi akut VHB dan adanya hepatitis fulminan persalinan pervaginam usahakan
dengan trauma sekecil mungkin dan rawat bersama dengan spesialis penyakit dalam
(spesialis hepatologi). Gejala hepatitis fulminan antara lain sangat ikterik, nyeri perut
kanan atas, kesadaran menurun, dan hasil pemeriksaan urin; warna seperti teh pekat,
urobilin dan bilirubin positif, pada pemeriksaan darah selain urobilin dan bilirubin positif,
SGOT dan SGPT sangat tinggi biasanya diatas 1000.
Pada ibu hamil dengan Viral Load tinggi dapat dipertimbangkan pemberian HBIG atau
lamivudin pada 1 2 bulan sebelum persalinan. Mengenai hal ini masih ada beberapa
pendapat yang menyatakan lamivudin tidak ada pengaruh pada bayi, tetapi ada yang
masih mengkhawatirkan pengaruh teratogenik obat tersebut.
Persalinan sebaiknya jangan dibiarkan berlangsung lama, khususnya pada ibu dengan
HbsAg positif. Wong menyatakan persalinan berlangsung lebih dari 9 jam, sedangkan
Surya menyatakan persalinan berlangsung lebih dar 16 jam, sudah meningkatkan
kemungkinan penularan VHB intrauterin. Persalinan pada ibu hamil dengan titer VHB
tinggi (3,5 pg/ml) atau HbsAg positif, lebih baik seksio sesarea. Demikian juga jika
persalinan yang lebih dari 16 jam pada pasien pengidap HbsAg positif.(13)

3 Pada Masa Nifas

Menyusui bayi tidak merupakan masalah. Pada penelitian telah dibuktikan bahwa
penularan melalui saluran cerna membutuhkan titer virus yang jauh lebih tinggi dari
penularan parenteral.(13)
4
Pada Neonatus

Indonesia masih merupakan negara endemis tinggi untuk Hepatitis B, di dalam


populasi, angka prevalensi berkisar 7-10%. Pada ibu hamil yang menderita Hepatitis B,
transmisi vertikal dari ibu ke bayinya sangat mungkin terjadi, apalagi dengan hasil
pemeriksaan darah HbsAg positif untuk jangka waktu 6 bulan, atau tetap positif selama
kehamilan dan pada saat proses persalinan, maka risiko mendapat infeksi hepatitis kronis
pada bayinya sebesar 80 sampai 95%. Perlu adanya komunikasi aktif antara ibu, dengan
dokter kandungan, dokter anak, atau dengan bidan penolong agar memanajemen terhadap
BBL dapat segera dimulai. (14)
Penanganan secara multidisipliner antara dokter spesialis penyakit dalam,
spesialis kebidanan & kandungan dan spesialis anak. Satu minggu sebelum taksiran
partus, dokter spesialis anak mengusahakan vaksin hepatitis B rekombinan dan
imunoglobulin hepatitis B. Pada saat partus, dokter spesialis anak ikut mendampingi,
apabila ibu hamil ingin persalinan diltolong bidan, hendaknya bidan diberitahukan
masalah ibu tersebut, agar bidan dapat juga memberikan imunisasi yang diperlukan.Ibu
yang menderita hepatitis akut atau test serologis HBsAg positif, dapat menularkan
hepatitis B pada bayinya. (14)

Berikan dosis awal Vaksin Hepatitis B (VHB) 0,5 ml segera setelah lahir, seyogyanya
dalam 12 jam sesudah lahir disusul dosis ke-2, dan ke-3 sesuai dengan jadwal imunisasi
hepatitis.
Bila tersedia pada saat yang sama beri Imunoglobulin Hepatitis B 200 IU IM (0,5 ml)
disuntikkan pada paha yang lainnya, dalam waktu 24 jam sesudah lahir (sebaiknya dalam
waktu 12 jam setelah bayi lahir).
Mengingat mahalnya harga immunoglobulin hepatitis B, maka bila orang tua tidak
mempunyai biaya, dilandaskan pada beberapa penelitian, pembelian HBIg tersebut tidak
dipaksakan.Dengan catatan, imunisai aktif hepatitis B tetap diberikan secepatnya.
Yakinkan ibu untuk tetap menyusui dengan ASI, apabila vaksin diatas sudah diberikan
(Rekomendasi CDC), tapi apabila ada luka pada puting susu dan ibu mengalami Hepatitis
Akut, sebaiknya tidak diberikan ASI. (14)

Tatalaksana khusus sesudah periode perinatal :

a. Dilakukan pemeriksaan anti HBs dan HBsAg berkala pada usia 7 bulan (satu bulan setelah
penyuntikan vaksin hepatitis B ketiga) 1, 3, 5 tahun dan selanjutnya setiap 1 tahun.

1 Bila pada usia 7 bulan tersebut anti HBs positif, dilakukan pemeriksaan ulang anti HBs
dan HBsAg pada usia 1, 3, 5 dan 10 tahun.
2 Bila anti HBs dan HBsAg negatif, diberikan satu kali tambahan dosis vaksinasi dan satu
bulan kemudian diulang pemeriksaan anti HBs. Bila anti HBs positif, dilakukan
pemeriksaan yang sama pada usia 1, 3, dan 5 tahun seperti pada butir a.
3
Bila pasca vaksinasi tambahan tersebut anti HBs dan HBsAg tetap negatif, bayi
dinyatakan sebagai non responders dan memerlukan pemeriksaan lanjutan yang tidak
akan dibahas pada makalah ini karena terlalu teknis.
4 Bila pada usia 7 bulan anti HBs negatif dan HBsAg positif, dilakukan pemeriksaan
HBsAg ulangan 6 bulan kemudian. Bila masih positif, dianggap sebagai hepatitis kronis
dan dilakukan pemeriksaan SGOT/PT, USG hati, alfa feto protein, dan HBsAg, idealnya
disertai dengan pemeriksaan VHB-DNA setiap 1-2 tahun.
b Bila HBsAg positif selama 6 bulan, dilakukan pemeriksaan SGOT/PT setiap 2-3 bulan. Bila
SGOT/PT meningkat pada lebih dari 2 kali pemeriksaan dengan interval waktu 2-3 bulan,
pertimbangkan terapi anti virus. (20,21)
III. KESIMPULAN

1. Hepatitis didefinisikan sebagai peradangan sel-sel hati yang dapat disebabkan oleh
infeksi (virus, bakteri, parasit), obat-obatan, komsumsi alkohol, lemak yang berlebih dan
penyakit autoimun
2. Infeksi pada hepatitis paling sering disebabkan oleh virus, diantaranya : HAV, HBV,
HCV, HDV, dan HEV. Infeksi virus hepatitis dapat terjadi secara akut dan kronik. Hampir
semua jenis virus hepatitis dapat menyebabkan infeksi akut, sedangkan HBV dan HCV
dapat berkembang menjadi kronik,
3. Manifestasi klinis hepatitis akut dibagi menjadi 4 fase: fase prodromal, fase preikterik,
fase ikterik dan konvalesens. Sedangkan, hepatitis kronik sering asimtomatis.
4. Diagnosa hepatitis meliputi demam lebih dari 2 minggu, gejala gejala hepatitis fase
preikterik, nyeri kuadran kanan atas , hepatomegaly-splenomegali, dan pemeriksaan
serologi.
5. Hepatitis virus dapat menimbulkan permasalahan pada kehamilan terutama melalui
penularan vertical ibu-janin.
6. Penularan vertikal hepatitis B sangat tinggi dan dapat menyebabkan persalinan preterm
dan BBLR.
7. Ibu hamil dengan HBsAg positif yang tidak mendapatkan imunoprofilaksis menularkan
virus pada neonatusnya dan 90 % wanita hamil dengan seropositif untuk HBsAg dan
HBeAg menularkan virus secara vertikal.
8. Penatalaksanaan pada wanita hamil dengan hepatitis dibagi menajdi, Pada saat
kehamilan, persalinan, masa nifas dan masa neonatus.
IV. DAFTAR PUSTAKA

1. Putu Surya IG. Infeksi Virus Heptitis Pada Kehamilan. Ilmu Kedokteran Fetomaternal.
Ed.perdana. Himpunan Kedokteran Fetomaternal POGI.2004
2. Cunningham FG, Gant NF, Leveno KJ, Gilstrap LC. GastroIntestinal Disorders. Viral
hepatitis. Williams Obstetric. 23rd Ed. Mc.Graw Hill Publishing Division New York, 2010
3. Prawirohardjo, S. Ilmu Kebidanan. 2016. Jakarta : PT Bina Pustakan Sarwono
Prawirohardjo.
4. Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I, Simadibrata M, Setiahati S. Buku Ajar Ilmu Penyakit
dalam. 2009. Jakarta: Internal Publishing
5. Kemeterian Kesehatan RI. Situasi dan Analisis Hepatitis A. 2014. Jakarta : Pusat data dan
Informasa Kemenkes RI
6. Fuqueroa DR, Sanchez FL, Benavides CME. Viral Hepatitis During Pregnancy.
Rew.Gastroenterol Mex.1994;59(3):246-253. diakses dari http://www. Pub.Med.gov.
7. Duff P. Hepatitis in Pregnancy. Seminar Perinatologi.1998;22(4):277-83. diakses dari
http://www. Pub.Med.gov.
8. Pearlman MD, Tintinalli JE, Dyne PL. Infections and Infectious Eksposure in Pregnancy.
Viral Hepatitis. Obstetric and Gynecologic Emergencies. Mc Graw Hill Publishing
Division. New York 2004: 233-235.
9. National Centre For Infectious Disease. Hepatitis A Virus. Division of Viral Hepatitis.
Last update July 9,2003. diakses dari http://www. CDC.com.
10. MMWR. Appendix. Hepatitis A dan B Vaccines. January 24, 2003;34-36. diakses dari
http://www. MMWRq@CDC.gov.

11. Shukla, S. Sebuah Studi Prospektif di Viral Hepatitis Akut dalam Kehamilan;
Seroprevalence, and Fetomaternal Outcome of 100 cases Prevalensi, dan Hasil
Fetomaternal dari 100 kasus . 2011 [cited 31 Agustus 2012]. Available at:
http://jbstonline.com
12. Harnawatiaj. Hepatitis. Maret 2008 [cited at 25 Agustus 2012]. Available at:
http://harnawatiaj.wordpress.com/2008/03/20/hepatitis
13. Sarwono abu
14. Recomendation For Prevention and Control of Hepatitis C Virus (HCV) Infection and
HCV-Related Chronic Disease. CDC, Oct 16,1998/41 (RR 19);1-39. Diakses dari
http://www.mmwrq @ cdc.gov.
15. Family medicine Resource. Hepatitis E in Pregnancy. diakses dari http://www. Family
Practice Note Book.com

16. Indarso F. Penatalaksanaan Bayi Baru Lahir yang Bermasalah. Surabaya; 2011.
17. Guidelines for the Prevention, Care and Treatment ofPersons with Chronic Hepatitis B
Infection. World Health Organization. 2015.
18. Gerberding JL, Snider DE, Popovic T. A Comprehensive Immunization Strategy to
Eliminate Transmission of Hepatitis B Virus Infection in the United States. Cent. Dis.
Control Prev. 2005;54
19. Prawirohardjo S. Ilmu Kebidanan. Jakarta: Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo; 2014.
p. 906 907
20. Shiffman ML. Management of Acute Hepatitis B. Clin. Liver Dis. 2010;14:7591
21. World Health Organization. Hepatitis B. 2002;2.