Anda di halaman 1dari 26

BAB 2.

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Speed Bump (Pembatas kecepatan kendaraan )


Speed Bump (Pembatas kecepatan kendaraan) adalah bagian jalan yang
ditinggikan berupa tambahan aspal atau semen yang dipasang melintang di jalan
untuk pertanda memperlambat laju kendaraan. Fungsinya agar meningkatkan
keselamatan bagi pengguna jalan. Gambar Speed bump (Pembatas kecepatan
kendaraan) ditunjukkan pada gambar 2.1.

(a) (b)

(c)
Gambar 2.1 Berbagai variasi speed bump :
(a) Speed bump karet garis serong kuning, (b) Speed bump karet garis serong putih
(c)Speed bump biasa
(Sumber: id.wikipedia.org/wiki/Polisi_tidur)
Speed Bump tersebut juga harus diberi garis serong dengan cat putih agar
terlihat jelas oleh para pengendara yang hendak melintas. Untuk meningkatkan
keselamatan dan kesehatan bagi pengguna jalan ketinggianya diatur dan apabila
melalui jalan yang akan dilengkapi dengan rambu-rambu pemberitahuan terlebih
dahulu mengenai adanya speed bump, khususnya pada malam hari, maka speed
bump dilengkapi dengan marka jalan dengan garis serong berwarna putih atau
kuning yang kontras sebagai pertanda.
Speed bump akan bermanfaat jika ditempatkan dan di design sesuai dengan
aturan misalkan di jalan lingkungan pemukiman, jalan lokal yang mempunyai
kelas jalan IIIC, dan yang ketiga adalah pada jalan-jalan yang sedang dilakukan
pekerjaan konstruksi. kemudian untuk aturannya ketinggian maksimumnya tidak
boleh lebih dari 15 cm, juga kemiringannya 15%. Jika dibuat sesuai dengan
kondisi diatas maka akan bermanfaat. Speed bump yang tidak sesuai standar
bukan hanya merusak kendaraan, tapi juga membahayakan si pengendara. Tinggi
dan sudut kemiringan yang tidak sesuai mengakibatkan beban kejut dan
goncangan kendaraan yang terlalu besar. Gambar 2.2 menunjukkan desain standar
Speed bump (Pembatas kecepatan kendaraan) yang sesuai ketentuan pemerintah.

Gambar 2.2 Desain standar Speed bump (Pembatas kecepatan kendaraan)


(Sumber: id.wikipedia.org/wiki/Polisi_tidur)

2.2 Macam-macam Polisi Tidur


1. Speed hump

Speed hump adalah bulatan atau gundukan yang dibuat berpotongan atau
melintang dengan jalan yanag bertujuan untuk mengurangi laju kendaraan.
Panjang dari speed humps menyesuaikan lebar jalan. Profil dari speed hump bisa
melingkar, parabola atau sinusoidal. Speed hump dibuat meruncing pada akhir tepi
jalan (kerb) untuk memungkinkan drainase tanpa hambatan. Speed hump tepat
untuk area yang menginginkan kecepatan rendah, serta cara yang masuk akal
untuk mengurangi kecepatan, kebisingan serta polusi udara. Gambar Speed hump
ditunjukkan pada gambar 2.3.

Gambar 2.3 Speed hump


(Sumber: id.wikipedia.org/wiki/Polisi_tidur)
a. Keuntungan
1) Relative murah
2) Sepeda mudah untuk melintasinya
3) Efektif untuk mengurangi kecepatan kendaraan
b. Kerugian
1) Dapat menyebabkan pengemudi berkendara dengan kasar dan
menyebabkan sakit untuk orang dengan cacat tulang tertentu
2) Memaksa kendaraan besar, kendaraan darurat (ambulan) dan kendaraan
dengan suspense kaku melambatkan kecepatannya
3) Meningkatkan polusi dan kebisingan
4) Estetika kurang

2. Speed table
Speed table hamper serupa dengan speed hump, hanya untuk speed table
gundukan-gundukannya lebih datar yang bagian atasnya sering dibangun dengan
batu bata atau bahan bertekstur lainnya. Speed table juga lebih lebar daripada
speed hump. Desain bidang datar speed table memberikan kesempatan
pengendara untuk mempunyai kecepatan lebih tinggi daripada saat mereka
melewati speed hump. Batu bata atau bahan bertekstur lain memperbaiki
penampilan speed table, menarik perhatian mereka, dan dapat meningkatkan
keselamatan dan mengurangi kecepatan. Speed table baik untuk area yang
menginginkan kecepatan rendah namun agak mulus untuk kendaraan besar.
Gambar Speed table ditunjukkan pada gambar 2.4.

Gambar 2.4 Speed table


(Sumber: id.wikipedia.org/wiki/Polisi_tidur)
a. Keuntungan
1) Lebih mulus/lembut untuk kendaraan besar (truk, bus) daripada speed
hump
2) Efektif untuk mengurangi kecepatan, dengan permukaan lebih luas
daripada speed hump
b. Kerugian
1) Estetikanya kurang apabila tidak menggunakan material bertekstur baik
2) Jika menggunakan material bertekstur baik akan mahal
3) Meningkatkan polusi dan kebisingan

3. Raised Crosswalk
Raised crosswalk adalah speed table yang dilengkapi dengan marka
zebracross yang bertujuan untuk meningkatkan keselamatan pejalan kaki saat
menyeberang jalan. Atau dengan kata lain, raised crosswalk adalah zebracross
yang permukaannya ditinggikan dari jalan.
Raised crosswalk baik untuk lokasi dimana disediakan fasilitas
penyeberangan untuk pejalan kaki yang sering terjadi pengendara yang sembrono
dan kendaraan dengan kecepatan tinggi. Gambar Raised crosswalk ditunjukkan
pada gambar 2.5.
Gambar 2.5 Raised crosswalk
(Sumber: id.wikipedia.org/wiki/Polisi_tidur)
a. Keuntungan
1) Meningkatkan keselamatan untuk kendaraan dan pejalan kaki
2) Jika didesain dengan baik, akan menambah estetika
3) Efektif mengurangi kecepatan kendaraan

b. Kerugian
1) Jika menggunakan material bertekstur akan mahal
2) Akan berimbas pada tertutupnya drainase
3) Meningkatkan kebisingan dan polusi

4. Raised intersection
Raised intersection adalah meninggikan permukaan jalan di persimpangan.
Biasanya bahan yang digunakan adalah batu bata atau material bertekstur
lainnya. Mereka biasanya menaikkan ke tingkat trotoar, atau sedikit di
bawah untuk memberikan "bibir" yang terdeteksi oleh tunanetra.
Dengan memodifikasi tingkat persimpangan, penyeberangan yang lebih
mudah dirasakan oleh pengendara menjadi wilayah pejalan kaki. Raised
intersection baikuntuk persimpangan dengan aktivitas pejalan kaki yang cukup
besar, dan daerah-daerah dimana tindakan lalu lintas menenangkan lainnya akan
diterima karena mereka jarang mengambil ruang parkir. Gambar Raised
intersection ditunjukkan pada gambar 2.6.
Gambar 2.6 Raised intersection
(Sumber: id.wikipedia.org/wiki/Polisi_tidur)
a. Keuntungan
1) Meningkatkan keselamatan pejalan kaki dan kendaraan
2) Jika didesain dengan baik, dapat menambah estetika
3) Dapat melambatkan 2 jalan sekaligus
b. Kerugian
1) Mahal karena menggunakan bahan material bertekstur baik
2) Berimbas pada tertutupnya drainase
3) Kurang efektif untuk mengurangi kecepatan daripada speed hup, speed
table ataupun raised crosswalk.

5. Textured pavement
Textured pavement adalah menggunakan paving sebagai pengganti aspal
untuk permukaan jalan. Hal ini dimaksudkan agar kondisi permukaan tidak rata.
Paving dapat digunakan di seluruh persimpangan atau penyeberangan pejalan
kaki. Textured pavement juga sering digunakan di seluruh sepanjang blok jalan.
Textured pavement baik digunakan untuk jalan yang volume pejalan kakinya
padatdat kebisingan bukan menjadi perhatian utama. Gambar Textured pavement
ditunjukkan pada gambar 2.7.

Gambar 2.7 Textured pavement


(Sumber: id.wikipedia.org/wiki/Polisi_tidur)
a. Keuntungan
1) Dapat mengurangi kecepatan kendaraan yang melintas
2) Dapat menghasilkan estetika yang indah apabila didesain dengan baik
3) Apabila ditempatkan pada persimpangan, dapat engurangi kecepatan di 2
jalan sekaligus
b. Kerugian
1) Umumnya mahal karena material yang digunakan
2) Apabila digunakan di crosswalk, akan menyulitkan kendaraan untuk
melintasinya

2.3 Cara Kerja Speed Bump (Polisi Tidur) Energy Harvester


Speed bump (polisi tidur) energy harvester dirancang dan dibuat dengan
menggunakan penggerak Generator. Prinsip kerja Speed bump (polisi tidur)
energy harvester yang pertama kali yaitu kendaraan melewati gundukan (polisi
tidur) bersamaan dengan itu gundukan yang terkena gaya akan menekan kebawah
yang dapat memutar crank kemudian dilanjutkan ke transmisi one way yang akan
memutar generator dan menghasilkan energi listrik yang digunakan untuk
mencharger aki. Dari aki tersebut bisa digunakan untuk lampu penerang jalan
atau bisa digunakan untuk lampu lalu lintas.

2.4 Perancangan Kerangka


2.4.1 Perencanaan Batang Beban Terpusat
Rangka dirancang untuk mendukung beban dalam bentuk tertentu dan yang
terpenting dalam hampir semua kasus hanya mengalami deformasi jika
mengalami pembebanan. Semua struktur teknik atau unsur struktural mengalami
gaya eksternal atau pembebanan. Hal ini akan mengakibatkan gaya eksternal lain
atau reaksi pada titik pendukung strukturnya (Todd, 1980).
Semua gaya yang bekerja pada benda dianggap bekerja pada titik benda
tersebut, dan jika gaya-gaya ini tidak seimbang. Oleh karena itu agar sebuah
sistem gaya dalam keseimbangan resultan semua gaya dan resultan semua momen
terhadap suatu titik = 0, persyaratan yang harus dipenuhi adalah : Fy = 0, Fx =
0, dan M = 0 (Tood, 1984).
a. Perencanaan batang konstruksi penyangga poros pada rangka.

F1 F2
A B

a b c
RA RB
Gambar 2.8 Analisis gaya batang beban terpusat

Syarat keseimbangan
Fy = 0 (gaya lintang arah sumbu y)
Fx = 0 (gaya lintang arah sumbu x)
My = 0 (momen lentur arah sumbu y)
Mx = 0 (momen lentur arah sumbu x)

a. Gaya reaksi pada tumpuan R


Apabila gaya (F) terjadi pada batang konstruksi A dan B dengan tumpuan
sederhana (beban terpusat), maka gaya reaksi pada tumpuan RA dan RB sama
dengan F.
Selanjutnya melakukan perancangan dengan tahap-tahap sebagai berikut:
1) Menentukan beban (F) yang dialami rangka
2) Menentukan gaya aksi-reaksi pada tumpuan A dan B
MA= 0
-RB . (a+b+c) + F2 . (a+b) + F1 . (a) = 0.(2.1)
MB= 0
RA . (a+b+c) F1 . (b+c) F2 . (c) = 0 .........(2.2)
3) Menentukan bidang gaya lintang (F)
Potongan I dengan 0 x c
Pot I
B

FI
x
RB
Gambar 2.9 Potongan I bidang geser
F=0
FI = RB........(2.3)
Potongan II dengan 0 x b

Pot II F2
B

FII x c
Rb
Gambar 2.10 Potongan II bidang geser
F=0
FII = RB- F2.... (2.4)
Potongan III dengan 0 x a
F1 F2
Pot III

FIII x b c
Rb
Gambar 2.11 Potongan III bidang geser
F= 0
FII = RB - F1 - F2......(2.5)
4) Menentukan bidang momen (M)
Potongan I dengan 0 x c
Pot I

B
MI
x
Rb
Gambar 2.12 Potongan I bidang momen

M= 0
MI = Rb . x ....(2.6)
Potongan II dengan 0 x b

Pot II F2

B
MII
x c
Rb
Gambar 2.13 Potongan II bidang momen

M= 0
MII = Rb . (c+x) F2 . x ...(2.7)
Potongan III dengan 0 x a
F1 F2
Pot III

B
MIII
x b c
Rb
Gambar 2.14 Potongan III bidang momen

M=0
MIII = Rb . (b+c+x) F2 (b+x) F1 . x ...(2.8)

F1 F2
A B

X1 X2 X3
RA RB

0
Gambar 2.15 Diagram bidang geser dan bidang momen
5) Menentukan tegangan lentur (bending)
=M . y / I .........

(2.9)
Dengan:
= Tegangan lentur yang terjadi pada batang (kg.mm2)
M = Momen lentur yang dialami pada batang (kg.mm2)
y = Jarak serat terjauh pada sumbu batang (mm)
I = Momen inersia (mm4)

M M

RA RB
Gambar 2.16 Tegangan lentur

6) Menentukan momen inersia (profil siku sama kaki)


b

I
d

II
d

b
Gambar 2.17 Profil siku sama kaki
Tabel 2.1 Penentuan garis normal
i Ai ( b . h ) yi Ai . yi
1 b. (d-d) 0,5 . d A1 . y1
2 b . d 0,5 . d A2 . y2
Ai Ai . yi

y = Ai . yi / Ai...

(2.10)

Tabel 2.2 Perhitungan Inersia


i yi Ai . yi2 Ii
1 y1- y A1 . y12 (b. (d-d)3)/12
2 y2 - y A2 . y22 (b.d3)/12
yi Ai . yi2 Ii

Itot = Ai . yi2 + Ii..(2.11)


Dengan:
b = Lebar bidang (mm)
d = Tinggi bidang (mm)
A = Luas bidang (mm2)

yi = Tinggi bidang tengah (mm)


y = Garis normal (mm)

= Massa benda (kg)


Ii = Momen inersia (mm4)
Itot = Momen inersia total (mm4)
7) Perhitungan dan pengecekan pada rangka
Untuk mengetahui apakah rangka yang digunakan kuat atau tidaknya rangka
maka diperlukan perhitungan pengecekan tegangan yang terjadi pada rangka;
M max
max = . C(x , y)
I tot

(2.12)
Syarat max < izin

Dengan:
max = Tegangan normal maksimal pada rangka (kg.mm2)
M max = Momen lentur maksimal (kg.mm2)
I tot = Momen inersia total (mm4)
C(x , y) = Setengah panjang benda kerja yang mendapat beban

ke garis normal (mm)

2.5 Perancangan Pengelasan


Pengelasan adalah salah satu cara untuk menyambung dua buah benda
logam dengan cara kedua benda tersebut dipanaskan.
2.5.1 Metode Pengelasan
Berdasarkan klasifikasi ini pengelasan dapat dibagi dalam tiga kelas utama
yaitu:
a. Pengelasan tekan yaitu cara pengelasan yang sambungannya dipanaskan dan
kemudian ditekan hingga menjadi satu;
b. Pengelasan cair yaitu ruangan yang hendak disambung (kampuh) diisi
dengan suatu bahan cair, sehingga dengan waktu yang sama tepi bagian
yang berbatasan mencair. Kalor yang dibutuhkan dapat dibangkitkan
dengan cara kimia atau listrik;
c. Pematrian yaitu cara pengelasan yang sambungannya diikat dan disatukan
dengan menggunakan paduan logam yang mempunyai titik cair rendah.
Dalam cara ini logam induk turut mencair.

2.5.2 Kampuh Las


Agar perlakuan las dapat memperoleh kampuh yang baik dengan pelekatan
atau pelelehan yang baik terhadap benda kerja dilas maka sebaiknya:
a. Pelat dengan ketebalan 2,5 mm dapat diletakkan tumpuk satu terhadap
yang lain dan disambung dengan satu sisi;
b. Pelat dengan ketebalan 2,5 mm dapat dilas dengan diberi ruang antara 1-5
mm dan las dua sisi sebaiknya terlabih dahulu diberi tepi miring pada pelat
dengan jalan mengetam atau mengefrais atau dapat juga menggunakan
dengan pembakar potong (proses persiapan tepi).

2.5.3 Mampu Las


Tidak semua bahan yang mampu untuk dilas dan dapat dihandalkan serta
dapat dibuat dengan tujuan yang dikehendaki, baik dari segi kekuatan maupun
ketangguhan. Beberapa faktor penting untuk mengetahui bahan yang dapat dan
mampu dilas:
a. Sifat fisik dan sifat kimia bahan untuk bagian hendak dilas termasuk
prasejarahnya (cara pengelasan, metode pemberian bentuk, dan perlakuan
panas);
b. Tebal bagian yang hendak disambung, dimensi dan kekuatan konstruksi
yang hendak dibuat;
c. Teknologi metode las yaitu sifat dan susunan elektroda, urutan pengelasan,
perlakuan panas yaitu sebelum dan setelah pengelasan serta temperature
pada waktu pengelasan dilakukan.
2.5.4 Perhitungan Kekuatan Las
Sambungan las dengan menggunakan las pada konstruksi rangka banyak
mengalami tegangan terutama tegangan lentur dan tegangan geser. Oleh karena itu
perlu adanya perhitungan pada daerah sambungan yang dirasa kritis, sehingga
diperoleh konstruksi rangka yang kuat untuk mengetahui tegangan maksimum
yang terjadi pada rangka adalah sebagai berikut (Niemen, 1999):
y
b
x
1
X
Y1
x
h
y Permukaan
1
y2
C(x,y)

d
Permukaan
2
x
2
h

Gambar 2.18 Bentuk penampang lasan

a. Menentukan gaya yang terjadi pada lasan


F=W . g .(2.13)

Dengan:
F = Gaya (N)
W = Beban (kg)
g = Gaya gravitasi (m/det2)

b. Momen lentur
M b=F . y ..

(2.14)
Dengan :
M b = Momen lentur (N.mm)

F = Gaya (N)
= panjang benda yang mendapatkan beban kegaris normal (mm)

c. Menentukan tegangan normal dalam kampuh


Mb
= .
I tot

C(x , y) ........

(2.15)
Dengan :
= Tegangan normal (N/mm2)
M b = Momen lentur (N.mm)

I tot = Momen inersia (mm4)

C(x , y) = Setengah panjang benda kerja yang mendapat

beban ke garis normal (mm)


d. Menentukan tegangan geser dalam kampuh
F
'=
A ...

(2.16)
Dengan :
' = Tegangan geser dalam kampuh (N/mm2)

F = Gaya (F)
A = Luas penampang kampuh (mm2)

e. Menentukan tegangan resultan

2 2
v = ( ' ) +[1,8 ( ' ) ] .(2.17)

Dengan :
v = Tegangan resultan (N/mm2)

' = Tegangan geser dalam kampuh (N/mm2)

f. Pengujian persyaratan kekuatan las


v' < '

....................(2.18)

Dengan :
v' = Tegangan resultan (N/mm2)
' = Tegangan normal (N/mm2)
2.6 Pemilihan Baut dan Mur
Bentuk ulir dapat terjadi bila sebuah lembaran berbentuk segi tiga digulung
pada sebuah silinder, seperti diperlihatkan dalam Gambar 2.20 dalam pemakaian.
Ulir selalu bekerja dalam pasangan ulir luar dan ulir dalam, seperti dalam gambar
2.21 ulir pengikat umumnya mempunyai profil segitiga sama kaki. Jarak antara
satu puncak dengan puncak berikutnya dari profil ulir tersebut jarak bagi.

Gambar 2.19 Profil Ulir Pengikat (Sumber: Sularso dan Suga, 1997)

Ulir disebut tunggal atau satu jalan bila hanya ada satu jalur yang melilit
silinder dan disebut dua atau tiga jalan bila ada dua atau tiga jalur. Jarak antara
puncak-puncak yang berbeda satu putaran dari suatu jalur disebut kisar.

Gambar 2.20 Jenis-jenis jalur ulir (Sumber: Sularso dan Suga, 1997)
Ulir juga dapat berupa ulir kanan dan ulir kiri, ulir kanan bergerak maju
bila diputar searah jarum jam dan ulir bergerak maju bila diputar berlawanan arah
jarum jam. Pada umunya ulir kanan lebih banyak dipakai.
Gambar 2.21 Ulir kanan dan ulir kiri (Sumber: Sularso dan Suga, 1997)

Dalam perancangan rangka speed bump (polisi tidur) ini digunakan ulir
standart metris kasar karena pada konstruksi rangka alat ini tidak diperlukan ulir
dengan ketelitian yang tinggi.

Gambar 2.22 Ulir standart (Sumber: Sularso dan Suga, 1997)

Baut dan mur dibagi menjadi baut penjepit, baut untuk pemakaian khusus,
sekrup mesin, sekrup penetap, sekrup pengetap dan mur. Dalam perancangan
polisi tidur (speed bump) hanya digunakan baut penjepit berbentuk baut tembus
untuk menjepit dua bagian melalui lubang tembus yang diletakkan dengan sebuah
mur.
Gambar
2.23 Jenis-jenis baut pengikat (Sumber: Sularso dan Suga, 1997)

Baut dan mur adalah elemen pengikat yang sangat penting untuk
menyatukan rangka. Pemilihan baut dan mur harus dilakukan secara cermat untuk
mendapatkan ukuran yang sesuai.

2.6.1 Perancangan Pehitungan Baut dan Mur


a. Menentukan besarnya beban maksimum yang diterima oleh masing-masing

baut dan mur. Dengan faktor koreksi ( f c ) = 1,2 2,0 untuk perhitungan

terhadap deformasi (Sularso, 1997).


W max =W 0 . f c .....(2.19)

Dengan :
W0 = Beban (N)

fc = Faktor koreksi

b. Menentukan jenis bahan baut dan mur

Tegangan tarik yang diizinkan ( a ) :


b
a =
S f ...

(2.20)

Tegangan geser yang diizinkan ( a ) :

a = 0,5 . a .......

(2.21)
Dengan :
a = Beban (N)

Sf = Faktor koreksi

b = Kekuatan tarik (N/mm2)

a = Tegangan geser yang diizinkan (N/mm2)

b. Dengan mengetahui besar beban maksimum dan besar tegangan yang

diizinkan pada baut, maka diameter ini ( D ) baut dapat dihitung dengan

menggunakan rumus:

d
2W
a
atau
4W
. a 0,64 ...

(2.22)
Dengan :
d = Diameter yang diperlukan (mm)
W = Beban rencana (N)
a = Kekuatan tarik bahan yang diizinkan (N/mm2)

d. Ulir baut dan mur dipilih ulir metris ukuran standart dengan dimensi sebagai
berikut:
1) D = Diamater luar ulir dalam (mm)
2) p = Jarak bagi (mm)

3) d 1 = Diameter inti (mm)


4) d 2 = Diameter efektif ulir dalam (mm)

5) H 1 = Tinggi kaitan (mm)


e. Menentukan jumlah dan tinggi ulir yang diperlukan
W
Z
. d2 . H 1 . qa .......

.(2.23)
Dengan :
Z = Jumlah ulir yang diperlukan
d2 = Diameter efektif ulir dalam (mm)

H1 = Tinggi kaitan (mm)

qa = Tekanan permukaan yang diizinkan (N/mm2)

f. Jumlah ulir yang diperlukan untuk panjang H dalam mm adalah


H ( 0,81,0 ) . d ......(2.24)

g. Jumlah ulir yang dipakai adalah


H
Z'=
p .....

(2.25)
h. Tegangan geser akar ulir baut adalah
W
b =
. d 1 . k . p . z ' ....

....(2.26)
Dengan :
b = Tegangan geser akan ulir baut (N/mm2)

k = Konstanta ulir metris 0,84

i. Tegangan geser akar ulir mur adalah


W
n =
. D. j . p . z ..
'

..........(2.27)
Dengan :
n = Tegangan geser akan ulir dalam (N/mm2)

D = Diameter ulir dalam

j = Konstanta jenis ulir metris 0,75

j. Persyaratan kelayakan dari baut dan mur yang direncanakan


b qa ..........(2.28)

n qa ..............(2.29)

Dimana perancangan baut dan mur dapat diterima apabila harga b dan

n ( ) lebih kecil dari q a .

2.7 Proses Manufaktur


Dalam perancangan rangka, langkah yang dibutuhkan adalah proses
manufaktur yaitu proses perakitan dan permesinan. Proses perakitan adalah
merupakan proses kerja yang akan dikerjakan dengan menggunakan alat yaitu
meliputi:

2.7.1 Pengukuran
Pengukuran merupakan membandingkan besaran yang akan diukur dengan
sautu ukuran pembandingan yang telah tertera. Macam-macam alat ukur panjang
yang sederhana yaitu:
a. Mistar baja
b. Jangka
c. Meteran sabuk

Gambar 2.24 Mistar baja (Sumber: Pekerjaan Dasar Teknik Otomotif 1, 2013)
2.7.2 Penggoresan
Penggoresan yaitu proses penandaan dengan cara membuat gambar atau
menggaris pada benda kerja yang akan dikerjakan dengan menggunakan alat
penggores ataupun kapur untuk benda kerja yang permukaannya kasar.

Gambar 2.25 Penggores (Sumber: Pekerjaan Dasar Teknik Otomotif 1, 2013)

2.7.3 Penitik
Penitik adalah merupakan proses pemberian tanda dengan membuat tanda
titik pada benda kerja yang akan dibuat lubang dengan bor, biasanya sudut
puncaknya dibuat 60.

Gambar 2.26 Penitik (Sumber: Pekerjaan Dasar Teknik Otomotif 1, 2013)


2.7.4 Gergaji Tangan
Tujuan dari penggunaan gergaji ini adalah untuk memotong, pemotongan
benda kerja dan untuk penggergajian alur serta celah-celah dalam benda kerja.
Secara umum gergaji tangan terdiri dari pemegang gergaji, bingkai gergaji, daun
gergaji, baut dan mur pengencang.
Gambar 2.27 Gergaji tangan (Sumber: Pekerjaan Dasar Teknik Otomotif 1, 2013)

2.7.5 Gerinda
Penggerindaan yaitu proses menggerinda suatu benda dengan tujuan untuk
mendapatkan hasil benda kerja yang permukaannya rata atau bisa juga digunakan
dengan tujuan untuk memotong suatu benda kerja.

2.28 Gerinda (Sumber: Bosch, 2016)

2.7.6 Toolset
Toolset merupakan sejumlah peralatan perkakas di lapangan untuk
membantu proses pengerjaan pembuatan suatu produk benda kerja. Toolset
biasanya berisi tang, obeng dan + serta yang lainnya.
Gambar 2.29 Toolset (Sumber: Apollo, 2016)

2.8 Proses Permesinan


2.8.1 Pengeboran
Mesin bor termasuk mesin perkakas dengan gerak utama berputar, fungsi
pokok mesin ini adalah untuk membuat lubang yang silindris pada benda kerja
dengan mempergunakan mata bor sebagai alatnya.
Perhitungan pada proses pengeboran yaitu:
a. Menentukan kecepatan potong (mm/menit)
. D .n
V c=
1000 ..............

(2.30)
b. Kecepatan pemakanan (mm/menit)
V f =s .n ...........

(2.31)
c. Jarak bebas bor (mm)
A=2. ( 0,3 ) . D ..............

(2.32)
d. Jarak pengeboran keseluruhan (mm)
L=t +l 1+ A .............(2.34)
e. Waktu pengeboran (menit)
L
Tm= + Setting pahat .................(2.35)
Vf

Dengan:
Vc = Kecepatan potong (m/menit)
D = Diameter mata bor (mm)
n = Putaran bor (rpm)

Vf = Kecepatan pemakanan (mm/menit)


s = Gerak pemakanan (mm/rpm)

A = Jarak bebas bor (mm)


L = Jarak pengeboran keseluruhan (mm)

t = Tebal benda kerja yang akan dibor (mm)


l1 = Jarak lebih pengeboran (mm)

Tm = Waktu proses pengeboran (menit)

2.8.2 Penggerindaan
Penggerindaan adalah suatu proses untuk mengasah benda kerja untuk
membuat permukaan benda kerja menjadi lebih rata, merapikan hasil pemotongan,
merapikan hasil las, membentuk lengkungan pada benda kerja yang bersudut
dengan menggunakan mesin gerinda. Secara umum mesin gerinda terdiri dari
motor listrik, mata gerinda, poros dan perlengkapan pendukung lainnya.

Gambar 2.30 Penggerindaan benda kerja (Sumber: Paryanto, 2002)