Anda di halaman 1dari 7

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang masalah

Pada hakekatnya, pembangunan adalah usaha pengubahan

lingkungan dengan mengurangi resiko lingkungan atau dan memperbesar

manfaat lingkungan. Dan manusia sebagai makhluk yang paling mampu

mengarahkan dan mewujudkannya. Interaksi antara manusia dengan

lingkungan hidupnya menjadi bagian penting kebudayaan manusia yang

mengandung nilai-nilai tertentu. Dengan demikian pengelolaan lingkungan

juga merupakan bagian kebudayaan manusia. Keserasian merupakan

unsur pokok dalam kebudayaan kita. Kita diajari untuk hidup serasi

dengan alam sekitar kita, dengan sesama manusia dan dengan Tuhan

Yang Maha Esa.

Dalam undang-Undang No. 32 Tahun 2009 tentang ketentuan

pokok pengelolaan lingkungan hidup merupakan cerminan komitmen

bangsa Indonesia sebagai bagian integral dari bangsa-bangsa lainnya

didunia untuk turut mengelola lingkungan hidup secara lestari, terpadu

dan berkelanjutan. Pada Bab I Ketentuan umum Pasal 1, butir 1

disebutkan bahwa :

Lingkungan Hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda,

daya, keadaan dan mahluk hidup termasuk manusia dan


2

perilakunya yang mempengaruhi kelangsungan perikehidupan dan

kesejahteraan manusia serta mahluk hidup lain.

Berdasarkan rumusan tersebut diatas tampak bahwa salah satu

komponen penting dalam lingkungan hidup adalah manusia dan

perilakunya, Karena pada hakekatnya hampir sebagian besar masalah

lingkungan ditimbulkan oleh perilaku manusia. Manusia mempengaruhi

dan dipengaruhi oleh lingkungan. Karenanya masalah lingkungan harus

ditangani secara mendasar serta ditumbuh kembangkan dengan tetap

memperhatikan kebutuhan generasi sekarang dan generasi akan datang.

Yang dimaksud dengan generasi yang akan datang adalah generasi

muda (remaja).

Masalah utama lingkungan hidup sebagaimana dikemukakan

munadjat Danusaputro (Siahaan, 1987:43) terdiri dari empat P, yaitu

Poverty (Kemiskinan), Population (Kependudukan), Pollution (Polusi) dan

Policy (Kebijaksanaan). Dan bila dikaji lebih jauh, masalah tersebut

bertumpu pada Behavior (Perilaku). Sehingga sangat menarik untuk

meneliti hubungan perilaku manusia dengan lingkungannya. Berbagai

studi terhadap masalah lingkungan baik ditinjau dari penyebab, dampak

serta upaya penanggulangannya. Namun masalah perilaku remaja yang

negatif terhadap lingkungan fisik khususnya di daerah perkotaan

cenderung luput dari pengamatan. Karena kemungkinan hal tersebut

dianggap sepele dan tidak berdampak langsung terhadap perikehidupan


3

dan kesejahteraan manusia. Salah satu contoh adalah perilaku anti

lingkungan. Perilaku anti lingkungan tersebut selain berdampak pada

kerusakan lingkungan fisik dan buatan juga berdampak terhadap estetika

dan kebersihan kota.

Lahirnya perilaku anti lingkungan siswa secara umum disebabkan

oleh dua faktor yaitu, faktor internal atau faktor yang ada dalam diri

individu setiap orang atau siswa, dan faktor eksternal atau faktor yang ada

di luar individu siswa. Faktor internal diantaranya adalah Konsep diri, yang

diartikan sebagai pandangan sikap seseorang terhadap dirinya sendiri.

Konsep diri seseorang erat hubungannya dengan gambaran dirinya, citra

dirinya, penerimaan, harga dirinya, penilaian dan karya dirinya. Kegagalan

dalam melakukan persepsi secara positif terhadap diri sendiri dapat

mengakibatkan individu memberikan persepsi diri yang salah sehingga

seorang remaja / peserta didik dapat menunjukkan tingkah laku yang

bersifat negatif dan pada akhirnya menunjukkan perilaku anti lingkungan.

Faktor eksternal salah satunya adalah lingkungan keluarga,

khususnya bagaimana hubungan atau interaksi yang terjalin antara anak

dan orang tua. Sangatlah penting untuk menanamkan nilai dan sikap

kepekaan terhadap lingkungan pada remaja sejak dini dan semuanya

harus dimulai dari lingkungan keluarga. Usaha mengembangkan

kesadaran lingkungan para remaja/pemuda tidak hanya penting untuk


4

kelestarian alam dan lingkungan hidup itu sendiri tetapi juga pembinaan

pribadi dan sikap hidup mereka.

Perilaku anti lingkungan siswa pada dasarnya lahir dari ekspresi

sikap kenakalan yang muncul dari kalangannya. Secara fonomenologis

gejala kenakalan timbul dalam masa pubertas, di mana jiwa dalam

keadaan labil, sehingga mudah terseret oleh lingkungan. Seseorang anak

tidak tiba-tiba menjadi nakal, tetapi menjadi nakal karena beberapa saat

setelah dibentuk oleh lingkungan yang terdiri dari keluarga, sekolah, dan

masyarakat

Berdasarkan kenyataan yang ada hampir dapat kita temui di semua

tempat khususnya di jakarta, hasil tindakan pengrusakan akibat tindakan

anti lingkungan ini, seperti rusaknya fasilitas umum seperti telepon umum,

pagar pembatas jalan, papan reklame, coret-coretan atau grafiti pada

tembok dan pagar, juga di sekolah seperti mencoret-coret bangku

sekolah, merusak dan mencoret buku dari perpustakaan sekolah,

mencorat-coret pakaian saat kelulusan dan lain sebagainya, yang

dilakukan oleh para remaja atau peserta didik. sehingga perlu mendapat

perhatian untuk mengkaji penyebab tindakan pengrusakan tersebut

khususnya terkait faktor dari lingkungan keluarga dan konsep diri dari

individu atau siswa itu sendiri.

Menyadari hal tersebut di atas, selayaknya jika permasalahan ini

dikaji lebih mendalam melalui suatu penelitian terhadap variabel-variabel


5

yang dapat memberikan kontribusi yang berarti, dengan melakukan

penelitian di salah satu SMA di jakarta yaitu siswa SMA Negeri 77 Jakarta

Timur, maka penelitian ini diberi judul, Hubungan Antara Persepsi

Interaksi Keluarga dan Konsep diri dengan Perilaku anti lingkungan

siswa. Studi Korelasional Terhadap siswa SMA Negeri 77 Jakarta

Tahun 2014.

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan didepan,

bahwa ada beberapa faktor yang terkait dengan perilaku anti lingkungan

siswa yaitu faktor interaksi keluarga dan konsep diri, namun tidak

menutup kemungkinan masih ada faktor- faktor lain di luar dari faktor yang

telah dikemukakan tersebut.

Berdasarkan uraian tersebut diatas, maka masalah dalam

penelitian ini diidentifikasikan sebagai berikut:

1 Adanya perilaku anti lingkungan yang dilakukan oleh siswa

2 Persepsi Interaksi Keluarga berpengaruh pada perilaku anti

lingkungan.

3 Masih banyak siswa yang gagal dalam melakukan persepsi secara

positif terhadap diri sendiri sehingga siswa dapat menunjukkan

tingkah laku yang bersifat menyerang dan pada akhirnya

menunjukkan perilaku anti lingkungan.


6

4 Masih banyak jejak-jejak aksi perilaku anti lingkungan terhadap

fasilitas umum yang terus merajalela terutama yang dilakukan oleh

para remaja atau peserta didik

C. Pembatasan Masalah

Penelitian ini dilakukan pada siswa SMA Negeri 77 Jakarta Pusat.

Semua permasalahan yang telah diidentifikasikan diatas penting untuk

diteliti, namun berhubung luasnya ruang lingkup permasalahan dan

keterbatasan waktu, tenaga dan kemampuan maka penelitian ini dibatasi

pada beberapa faktor yang berhubungan dengan Persepsi Interaksi

Keluarga sebagai variabel bebas (X1) dan Konsep diri sebagai variabel

bebas (X2) dengan perilaku anti lingkungan siswa sebagai variabel terikat

(Y).

D. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah, identifikasi masalah dan

pembatasan masalah, maka dapat dirumuskan masalah sebagai berikut :

1. Apakah terdapat hubungan Persepsi Interaksi Keluarga dengan

perilaku anti lingkungan siswa?

2. Apakah terdapat hubungan konsep diri dengan perilaku anti

lingkungan siswa?
7

3. Apakah terdapat hubungan antara Persepsi Interaksi Keluarga dan

konsep diri secara bersama-sama dengan perilaku anti lingkungan

siswa?

E. Kegunaan Hasil Penelitian

Hasil penelitian ini, diharapkan dapat memberikan masukan yang

bermanfaat bagi:

1. Manfaat Teoritis

Secara teoritis penelitian ini diharapkan bisa menambah wawasan,

pemahaman serta khasanah keilmuan terutama yang berkaitan

dengan Persepsi Interaksi Keluarga dan konsep diri dengan perilaku

anti lingkungan siswa. Di samping itu pula bisa menjadi referensi bagi

penelitian yang relevan.

2. Manfaat Praktis

a. Bagi mahasiswa, hasil penelitian ini dapat memberikan

pengetahuan sejauh mana korelasi konsep diri dan Persepsi

Interaksi Keluarga dengan perilaku anti lingkungan siswa.

b. Bagi peneliti selanjutnya, hasil penelitian ini dapat digunakan

sebagai informasi untuk mengembangkan ilmu pengetahuan pada

umumnya dan pada bidang psikologi dan lingkungan pada

khususnya.